Memanfaatkan Bahan Pangan
Liar untuk Atasi Kerawanan
Pangan
UNAIR NEWS – Pada bulan Juni tahun 2016 lalu, The Economist
Intelligence Unit (EIU) merilis Indeks Ketahanan Pangan Global (Global Food Security Index atau GFSI). Dalam indeks tersebut diperlihatkan posisi negara-negara di dunia berdasarkan kebijakan pangan yang diterapkan di 113 negara di dunia. Indonesia menduduki peringkat ke-71, setelah sebelumnya menempati posisi ke-76 pada tahun 2014 dan 2015.
Ada tiga aspek utama yang digunakan dalam penilaian GFSI yaitu keterjangkauan, ketersediaan, serta kualitas dan keamanan. Pada poin keterjangkauan, Indonesia mendapat naik dari 46,8 ke 50,3. Pada poin ketersediaan meningkat dari 51,2 ke 54,1. Sementara pada aspek kualitas dan keamanan naik dari 41,9 ke 42. Nilai indeks yang meningkat itu membuat kebijakan pangan Indonesia masuk dalam “biggest changes” menurut EIU.
Meski berbagai kebijakan pangan telah diterapkan pemerintah, tak berarti Indonesia lepas dari prediksi rawan pangan. Tahun 2015 lalu, sebanyak 15 persen dari 398 kabupaten di Indonesia dinilai rentan akan kerawanan pangan menurut World Food Programme.
Ahli gizi pangan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Dr. Ir. Annis Catur Adi, M.Si., berpendapat bahwa masalah ketahanan pangan bisa diatasi. Salah satunya, adalah dengan memanfaatkan bahan pangan berupa tanaman liar dan hewan.
“Menurut FAO (Food Agricultural Organization), pangan liar merupakan sumber vitamin, mineral dan zat gizi lain yang penting, yang dapat melengkapi makanan pokok kelompok rawan gizi, seperti anak-anak dan orang tua,” tutur Annis.
Bukan tanpa alasan pernyataan Organisasi Pangan Dunia diamini oleh Annis. Sebab, bahan pangan liar bisa dengan mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Pernyataan Annis itu didasarkan pada hasil riset yang ia lakukan bersama timnya pada tahun 2014. Annis mengambil data tersebut di wilayah Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan.
Di Kecamatan Blega, Bangkalan, Annis setidaknya menemukan 37 jenis bahan pangan dari tanaman liar. Rinciannya adalah 16 spesies pada kelompok sayur-sayuran, 14 pada kelompok buah-buahan, dan 7 pada kelompok umbi-umbian.
Pada kelompok sayur-sayuran, di antaranya ada sayuran kecipir, blunthas, daun katuk, bayam alas, bletah, blincong, dan sembukan. Pada kelompok buah-buahan, di antaranya ada rambusa, mundu, kelapa, sirsak, bengkuang, dan sanek. Sedangkan, pada kelompok umbi-umbian, di antaranya ada gadung, sobeg, talas, obih, jarud, kaburan, dan larbe.
Keuntungannya, masyarakat tak perlu khawatir dengan ketersediaan bahan pangan dari tanaman liar ini. Memang, tak semua jenis tanaman liar selalu tersedia sepanjang tahun. Ada beberapa spesies tanaman yang selalu tumbuh sepanjang tahun, ada yang hanya tergantung musim kemarau dan hujan.
Namun, masa tumbuhnya tanaman liar tersebut saling melengkapi. Sehingga, masyarakat bisa terus mencukupi kebutuhan dapurnya selama waktu.
Contohnya, pada kelompok sayur-sayuran. Tanaman bayam alas, kondur, sembukan, dan rakarah, tidak tumbuh pada musim kemarau. Tetapi, ada tumbuhan kecipir, klandingan, blunthas, daun katuk, dan merongkih yang tumbuh sepanjang tahun.
Berbeda lagi dengan kelompok buah-buahan. Buah kenitu, mengkudu, sirsak, bengkuang, tidak akan bisa diharapkan tumbuh pada musim hujan. Namun, masyarakat masih bisa mengkonsumsi buah srikaya, kedundung, rambusa, dan pisang pada musim hujan.
“Kami membuat kalender musiman tanaman pangan liar. Harapannya, masyarakat bisa memiliki alternatif dan memanfaatkan tanaman pangan liar sehingga tidak khawatir kehabisan karena selama ini, mereka hanya bergantung pada bahan-bahan makanan yang dijual,” tutur Annis.
“Kami ingin mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa ada banyak bahan pangan yang ada di sekitar kita yang bisa dimanfaatkan tanpa harus membeli,” tutur penulis penelitian berjudul “Underutilized Food Plants in Food Insecure Area of Bangkalan District and the Potential Role of Local Religious Leader for Promoting the Consumption” itu.
Potensi
Bahan pangan dari tanaman liar ini memiliki kandungan gizi yang tak bisa dipandang sebelah mata. Buktinya, daun, tunas, buah, umbi dari ketiga kelompok sayur-sayuran itu mengandung zat gizi atau bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Pada jenis umbi-umbian liar, masyarakat bisa memanfaatkannya sebagai makanan pelengkap pokok yang menyumbang zat-zat makro, terutama potensi sumber energi dan karbohidrat yang cukup besar setelah beras.
Annis mengakui, kandungan gizi pangan liar belum banyak yang terdokumentasikan. Oleh karena itu, melalui penelitian yang ia lakukan selama dua tahun ini, ia melakukan eksplorasi informasi dengan melibatkan masyarakat setempat, dinas terkait, dan kelompok tani.
Setelah dokumentasi kandungan gizi terkumpul, pihaknya memilah mana pangan liar yang ‘layak’ untuk lebih diangkat dan dikenalkan kepada masyarakat. Sebelum itu, ia juga membuat olahan-olahan dari tanaman liar sesuai selera masyarakat. Misalnya, membuat mi berbumbu dan kue kering berbahan daun kelor. Tujuannya, tak lain untuk membuat masyarakat tertarik memanfaatkan bahan pangan liar di kehidupan sehari-hari.
beberapa sekolah dasar untuk menguji makanan yang telah ia olah. Hasilnya, anak-anak sekolah dasar menyukai rasa dari makanan yang mereka buat seperti mi remas dan makanan ringan dari daun kelor.
“Kami pilih mana yang lebih potensial dari unsur gizinya, bioaktifnya dan kemudahan pengolahan, dan mana yang berpotensi untuk dibudidayakan secara massal. Dari umbi, contohnya suweg dan kentang hitam. Dari daun-daunan ada kelor. Perbedaan umbi kentang hitam dan suweg dengan pangan berbeda antara kentang hitam dan kentang biasa, namun dari sisi bioaktif kentang hitam lebih tinggi,” imbuh Annis.
Saat ini, Annis dan timnya berupaya merealisasikan impiannya untuk menjadikan bahan pangan liar sebagai bahan pangan utama, khususnya di daerah rawan pangan. Demi mematangkan tujuan tersebut, ia sedang menyiapkan bukti-bukti ilmiah untuk didiseminasikan kepada pemerintah setempat. Manfaatnya, untuk mempercepat perbaikan gizi di daerah rawan pangan, termasuk wilayah Madura. (*)
Penulis: Defrina Sukma S. Editor: Rio F. Rachman
FPK Gelar Lomba Jurnalistik
Internal
UNAIR NEWS – Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) mengadakan
lomba jurnalistik di internal mahasiswa. Event ini merupakan program lanjutan dari acara pelatihan jurnalistik penulisan berita dan fotografi yang digelar di sana pada Selasa sore, 2 Mei 2017, di ruang C-401 gedung FPK.
Salah satu dosen FPK yang menjadi penanggung jawab kegiatan Annur Ahadi Abdillah mengutarakan, baik pelatihan jurnalistik maupun lomba jurnalistik bertujuan untuk memupuk semangat dan soft skill mahasiswa di bidang tulis menulis. Mereka juga dilatih untuk dapat berkomunikasi melalui tulisan. Dalam kegiatan ini, pihak fakultas menggandeng Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR.
“Kalau bisa menulis dengan baik, prestasi dan berita-berita menarik di fakultas dapat tersiar dengan bagus di tengah khalayak,” urai dia saat diwawancara Selasa (29/5), beberapa saat setelah rekap nilai lomba rampung dilakukan.
Pelatihan jurnalistik yang digelar bisa diaplikasikan secara langsung di platform online yang sudah dimiliki fakultas. Nantinya, para mahasiswa dapat menulis di sana apapun yang mereka anggap penting dan bagus. Dengan demikian, sense of
belonging mahasiswa terhadap kampusnya dapat lebih terasah.
Ditambahkan Hadi, kadang kala, ada banyak berita menarik di fakultas. Namun, karena kurangnya semangat dan kemampuan untuk mengemasnya, informasi itu terlewat begitu saja. Melalui dua event yang digelar secara berurutan ini, mahasiswa diharapkan lebih termotivasi untuk berekspresi di ranah kepenulisan dan fotografi.
Adapun pemenang lomba jurnalistik, yang merupakan hasil akumulasi nilai penulisan berita dan fotografi, adalah Monica P, Naufal Shofwan Winandi, Tisa Ayu, Fatimatus Azuhro, Ardiani Putri Rahayu, dan Riza N A. Mereka masing-masing mendapat hadiah menarik dari fakultas.
Salah satu peserta pelatihan dan lomba bernama Zulkifli Ghazali menuturkan, dirinya senang mendapat wawasan baru di dunia tulis-menulis. “Mudah-mudahan bisa langsung praktek secara rutin. Ini juga bekal pengetahuan selain wawasan akademik yang saya dapatkan sehari-hari,” kata dia. (*)
FKG-RS Mata Undaan Kembangkan
Pembuatan Mata Palsu
UNAIR NEWS – Dalam rangka meningkatkan mutu belajar mengajar
dan pengembangan pembuatan mata palsu, pimpinan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga dan Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya melaksanakan penandatanganan nota kesepakatan Memorandum of Agreement (MoA). Penandatanganan MoA dilakukan oleh Dekan FKG UNAIR Dr. R. Darmawan Setijanto, drg., M.Kes dan Dr. Soejarno, SP.M (K) pelaksana tugas RS. Mata Undaan Surabaya, Senin (29/5) di ruang sidang dekan FKG UNAIR.
Penandatanganan MoA disaksikan oleh dekanat FKG, 13 Ketua Departemen, 10 KPS dan Wakil Direktur pelayanan RS. Mata Undaan Surabaya Dr. Soejarno, SP.M (K). Dalam sambutannya, Soejarno mengatakan bahwa terjalinnya kerjasama ini agar dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang selama ini dialami oleh pihak RS. Mata Undaan Surabaya.
“Kami sangat berharap nantinya pengembangan protase (bahan) pembuatan mata palsu bisa lebih baik, karena selama ini kami menggunakan bahan akrilik,” jelasnya. “Sehingga ketika dipasangkan ke bagian tubuh lama-kelamaan akan mengalami iritasi,” imbuhnya.
Senada dengan hal itu, Darmawan mengatakan bahwa selain untuk meningkatkan mutu belajar mengajar di FKG UNAIR, kerjasama ini juga merupakan bentuk pengembangan pada bidang spesialis yakni pengembangan pembuatan mata palsu.
“Di FKG UNAIR itu ada Departemen Prostodonsia yang ada hubungannya dengan pembuatan mata palsu, gigi palsu atau yang lainnya dan juga menjadi salah satu syarat mahasiswa FKG lulus
adalah membuat mata palsu,” terangnya.
Darmawan juga berharap bahwa dari bentuk akhir kerjasama ini adalah pelayanan pada masyarakat secara maksimal.
“Saya berharap kerja sama ini nantinya juga bermanfaat dimasyarakat,” tandasnya.
Penulis: Akhmad janni Editor: Nuri Hermawan