• Tidak ada hasil yang ditemukan

11. TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "11. TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

11. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian W ilayah dan Pembangunan W ilayah

Wilayah merupakan suatu nodal atau polarisasi yang terdiri atas satuan- satuan homogen, seperti kota dan desa yang secara fbngsional saling terkait (Sukirno, 1976). Atas dasar pengertian tersebut, wilayah diklasifikasikan menjadi tiga tipe wilayah yaitu, (1) wilayah formal, (2) wilayah fbngsional, dan (3) wilayah perencanaan. Wilayah formal diartikan sebagai bagian dari permukaan bumi atau wilayah geografis yang seragam menurut kriteria tertentu. Pada awalnya digunakan keseragarnan fisik (t opografi, iklim dan vegetasi), kemudian berkembang menjadi kriteria sosial dan politik. Sedangkan wilayah fbngsional diartikan sebagai wilayah geografis yang memperlihatkan suatu koherensi fbngsional tertentu, sementara wilayah perencanaan merupakan kombinasi antara wilayah formal dan wilayah fbngsional.

Selanjutnya Glasson (1977) menyatakan bahwa wilayah perencanaan tersebut antara lain haruslah cukup besar untuk mengambil keputusan-keputusan investasi berskala ekonomi dan harus mampu mernasok industrinya sendiri dengan tenaga kerja yang diperlukan. Di samping itu, sekurang-kurangnya harus mempunyai satu titik pertumbuhan dengan menggunakan suatu cara pendekatan perencanaan pembangunan dimana masyarakat mempunyai kesadaran bersama terhadap semua persoalan yang dihadapi. Dengan demikian, pembangunan atau pengembangan wilayah dalarn arti sempit dapat diturunkan dari pengertian regional development,

(2)

sedangkan dalarn arti luas dikembangkan dari pengertian regional planning yang lebih menekankan analisisnya pada aspek-aspek tataruang, tataguna lahan dan perencanaan.

Menurut Sandy (1982) bahwa perubahan wilayah sebagai pelaksanaan pembangunan nasional di suatu wilayah harus disesuaikan dengan potensi dan prioritas yang terdapat di daerah tersebut. Potensi itu sendiri tidak hanya terbatas pada potensi fisik namun mencakup potensi sosial, ekonomi dan budaya. Pengertian tersebut di atas akan lebih terarah jika dihubungkan dengan pendapat Tjokroamidjojo (1981) yang menyatakan bahwa pembangunan wilayah merupakan usaha yang diarahkan untuk mengurangi perkembangan yang tidak merata antar daerah yang dapat menimbulkan kejadian yang disebut backwash-effect. Kejadian tersebut akan muncul dengan ditandai memusatnya kesempatan kerja dan modal pada tempat- tempat dimulainya pembangunan yang menyebabkan wilayah-wilayah sekitarnya justru menjadi mundur dan terbelakang. Sebaliknya, kejadian yang menguntungkan menurut Tjokroamidjojo (1 98 1) adalah te rjadinya spread-effect, yaitu kejadian yang menunjukkan adanya perluasan aktivitas dari pusat pembangunan ekonomi ke wilayah-wilayah lain.

Menurut Todaro (1983), keberhasilan pembangunan suatu negara harus didasarkan pada empat kriteria yaitu (1) pendayagunaan tenaga kerja, (2) pengurangan tingkat kerniskinan, (3) kebijakan untuk distribusi pendapatan, dan (4) peningkatan produktivitas tenaga kerja. Ke empat kriteria tersebut harus berjalm

(3)

terlihat adanya perubahan struktur masyarakat, keuntungan untuk seluruh masyarakat melalui distribusi pendapatan, pertumbuhan ekonomi yang cepat dan efisiensi.

2.2. Pengertian Perencanaan Ekonomi

Perencanaan adalah bagian dari satu tkngsi manajemen, yakni fUngsi mengatur dan mengorganisir orang dan kegiatan yang dilaksanakan. Fungsi ini mutlak terdapat pada suatu organisasi formal maupun organisasi bukan formal. Perencanaan juga meliputi aspek masa depan (Mangiri, 2000). Dalam prakteknya, dibedakan menurut skala jangkauan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Oleh karena itu suatu perencanaan akan selalu berkesinambungan dan bertahap serta saling berkait antara satu tahap dengan tahapan lainnya. Istilah hit and I . I I ~ I atau lnemukul sambil berlari adalah istilah yang cocok untuk perencanaan yang berkesinambungan. Hit yang berarti memukul adalah menyusun suatu perencanaan yang tepat untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi.

Run

yang berarti berlari adalah upaya menemu-kenali masalah baru yang muncul sejalan dengan waktu, kemudian memecahkannya lagi dengan perencanaan berikutnya. Masalah baru ini muncul karena belum mampu diakomodasikan dalam perencanaan yang lama, atau mungkin juga timbul sebagai dampak ketidakberhasiian perencanaan yang lama. Akibatnya timbullah perencanaan yang berkesinambungan tanpa akhir.

Menurut Jhingan (1999), belum ada kata sepakat diantara para ahli ekonomi mengenai pengertian istilah perencanaan ekonomi. Dalam kepustakaan ekonomi istilah tersebut dipergunakan sangat lentur dan sering dikelirukan dengan komunisme, sosialisme atau pembangunan ekonorni. Setiap bentuk campur tangan

(4)

pemerintah ddam urusan ekonomi ditafsirkan juga sebagai perencanaan. Perencanaan adalah teknik atau cara untuk mencapai tujuan dalam mewujudkan maksud dan sasaran tertentu yang telah ditentukan sebelumnya dan telah dirumuskan dengan baik oleh Badan Perencanaan Pusat. Tujuan tersebut mungkin untuk mencapai sasaran sosial, politik atau militer. Karena itu persoalannya bukan antara rencana dan tidak ada rencana, tetapi persoalannya adalah antara berbagai macam rencana.

Lewis cftrlarn Jhingan (1999) menunjukkan enam pengertian perencanaan yang dapat dipakai dalam kepustakaan ekonomi yaitu (1) banyak sekali kepustakaan yang hanya menghubungkan istilah itu dengan penentuan letak geografis faktor, bangunan tempat tinggal, bioskop dan semacamnya, (2) hanya berarti memutuskan uang apa yang akan dipergunakan pemerintah di masa depan, seandainya ia mempunyai uang yang dapat dibelanjakan, (3) ekonomi berencana adalah ekonorni dimana masing-masing satuan produksi (perusahaan) hanya memakai sumber manusia, bahan dan peralatan yang dialokasikan kesana melalui kuota dan menjual produknya semata-mata kepada orang atau perusahaan yang ditunjukkan oleh pemerintah pusat, (4) kadangkala berarti setiap penentuan sasaran produksi oleh pemerintah, apakah itu untuk perusahaan negara atau perusahaan swasta. Sebagian besar pemerintah menerapkan jenis perencanaan walau hanya secara sporadis atau untuk satu atau dua industri atau jasa saja yang dianggap penting, (5) di sini sasaran ditetapkan untuk perekonomian secara keseluruhan dengan rnaksud untuk mengalokasikan semua buruh, devisa, bahan mentah dan sumber lainnya negara ke

(5)

berbagai bidang perekonomian, dan (6) kadang-kadang dipakai untuk menggambarkan sarana yang dipergunakan pemerintah untuk memaksakan sasaran- sasaran yang ditetapkan sebelumnya kepada perusahaan swasta.

Menurut Dalton &lam Jhingan (1999), perencanaan ekonomi dalarn pengertian yang paling luas adalah pengaturan dengan sengnja oleh orang yang benvenang mengenai sumber-sumber kegiatan ekonomi ke arah tujuan yang ditetapkan.

Selanjutnya Lewis dalam Jhingan (1999) mengartikan perencanaan ekonomi sebagai suatu rencana pengorganisasian perekonomian di mana pabrik, perusahaan, dan industri yang terpisah-pisah dianggap sebagai unit-unit terpadu dari satu sistem tunggal dalam rangka memanfaatkan sumber yang tersedia untukmencapai kepuasan maksimum kebutuhan rakyat dalam waktu yang telah ditentukan.

2.3. Prinsip Pertumbuhan Ekonomi

Hulu (1992) menyatakan bahwa untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang setinggi-tingginya diperlukan pembangunan industri. Khusus bagi negara- negara berkembang yang umumnya miskin pembangunan Industri, karena keahlian tidak ada dibidang itu maka salah satu cara yang ditempuh untuk memacu pembangunannya addah dengan mengimpor berbagai barang modal untuk pembangunan industri.

Khusus untuk impor barang dapat dibedakan menjadi dua fungsi yaitu barang modal dan barang untuk konsumsi. Impor barang untuk konsumsi sangat

(6)

besar pengaruh negatifhya terhadap pendapatan nasional dibandingkan dengan barang modal. Barang modal seperti mesin-mesin yang diperlukan untuk kepentingan industri pengolahan merupakan salah satu strategi untuk mengurang kecenderungan impor barang jadi keluaran industri manufdctur dari luar negeri.

Mengimpor barang modal untuk keperluan industri, seperti mesin-mesin, memerlukan prinsip pokok untuk melaksanakannya. Prinsip-prinsip tersebut adalah :

1. Modal yang diimpor harus sesuai dengan tahap-tahap pembangunan yang telah dicapai oleh negara-negara berkembang bersangkutan. Prinsip ini berpedoman pada teori yang menyatakan bahwa dalam upaya pembangunan suatu negara diperlukan adanya beberapa tahapan (Jinghan, 1990) yang meliputi :

a. Masyarakat tradisional (traditional sociefy) b. Prasyarat lepas landas (preconditionsfor take-ofl

c. Lepas landas dengan pertumbuhan tinggi yang ditentukan oleh faktor-faktor dalam negeri (take-oflinto self sustaining grawth).

d. Perekonomian menuju kemantapan (the drive to muturityl

e. Zaman konsumsi yang tinggi secara menyeluruh (age of mass consumption)

2. Barang modal yang diimpor diutamakan bagi industri yang memiliki kaitan yang banyak terhadap industri-industri lainnya di dalarn negeri. Untuk prinsip ini, dikatakan oleh Salvatore (1977) bahwa apabila akan membangun sektor industri dengan kendala modal sebaiknya dimulai dengan industri dasar yang dapat dijadikan sebagai industri pernimpin bagi sektor-sektor lain. Syarat-syarat untuk menjadi industri pemimpin adalah yang merniliki kaitan ke muka Cfoward

(7)

linkages) dan ke belakang (backwurd linkages) yang tinggi. Anjuran demikian ini menjelaskan bahwa untuk memulai pembangunan industri bukan berarti hams berpedoman pada tahapan pembangunan, sebagaimana disebutkan di atas, melainkan dimulai dari industri basis yang umurnnya dianggap sebagai awal industri yang dialami oleh negara-negara maju.

3. Barang modal yang diimpor dapat merlunjang ekspor pada suatu masa tertentu di masa mendatang. Untuk prinsip ini dianjurkan bahwa tujuan dari impor adalah hams berorientasi pada ekspor. Hal demikian ini adalah untuk menjaga kejenuhan permintaan dalam negeri, sehingga dapat dilakukan perluasan produksi untuk kepentingan permintaan ekspor. Proses untuk mencapai prinsip ke 3 ini diperlukan waktu yang cukup lama, sehingga diperlukan adanya modifikasi prinsip maupun strategi yang harus ditempuh. Untuk melakukan perubahan strategi maka hams ditempuh melalui prinsip pembangunan industri yang diperkirakan memberikan permintaan yang cerah di pasaran dunia. Apabila kebijakan pembangunan lebih mengutamakan peningkatan pendapatan yang cepat, rnaka

hd

demikian menjadikan investasi akan terlalu banyak diiakukan di wilayah-wilayah yang sudah maju. Sebagai akibatnya maka untuk wilayah- wilayah yang sudah maju akan semakin maju, sedangkan daerah-daerah lain yang

relatif masih terkebelakang makin sukar untuk berkembang (Kadariah, 1978). Dalam perencanaan pembangunan regional terdapat beberapa teknik analisis regional yang dapat dipergunakan untuk menentukan atau memilih aktivitas ekonomi yang dikembangkan dalam suatu daerah atau menentukan lokasi yang

(8)

sesuai dengan aktivitas ekonomi. Teknik-teknik yang dirnaksud ini antara lain Basis Ekonomi, Multiplier Regional, Model Gravitasi, Analisis Titik Pertumbuhan dan Analisis Input-Output (Richardson, 1972).

2.4. Analisis dan Model Tabe: Input-Output 2.4.1. Pendekatan

Analisis Input-Output untuk pertarna kalinya dikembangkan oleh Wassily Leontief pada tahun 1930 yang didasarkan pada pendekatan bahwa hubungan interdependensi antara suatu sektor dengan sektor lainnya dalam perekonomian adalah sedemikian rupa sehingga dapat dinyatakan dalarn rangkaian persamaan linier. Sedangkan keadaan struktur perekonornian terlihat pada besarnya nilai-nilai ketergantungan antarsektortersebut (Luthan, 1975).

Menurut Leontief ( l966), tujuan utama dari model Input-Output adalah untuk menjelaskan besarnya arus antarindustri atau antarsektor sehubungan dengan tingkat produksi masing-masing sektor. Untuk itu diperlukan beberapa asumsi dasar yaitu :

1. Tiap komoditas (kelompok komoditas) dihasilkan oleh suatu industri atau sektor produksi saja.

2. Input yang dibeli atau digunakan oleh tiap sektor merupakan suatu fbngsi linier dari tingkat output sektor bersangkutan.

3. Efek total dari pelaksanaan berbagai tipe produksi merupakan jumlah masing- masing sektor secara terpisah. Hal yang dernikian ini juga disebut sebagai asumsi

(9)

Fungsi utama dari model Input-Output Leontief adalah dapat memberikan dasar bagi eksplorasi empiris di dalam wahana interaksi interindustri. Model ini memberikan kerangka yang konsisten dalam pengumpulan data, walaupun dalarn pengujian asumsinya masih menunjukkan formulasi teoritis yang komplek. Model- model komplek seperti ini dibutuhkan data yang banyak dengan tetap menggunakan prinsip dasar model analisis interindustri.

Lebih lanjut Glasson (1977) menyatakan model Input-Output dapat digunakan untuk meramalkan pengaruh Pengganda Output, Pengganda Pendapatan dan Pengamh Pengganda Tenaga Keja bag setiap sektor ekonomi suatu wilayah. Apabila suatu target telah ditetapkan, rnisalnya rnaksimalisasi pendapatan wilayah atau tenaga keja, maka analisis Input-Output dapat d i g u n a h untuk menentukan sektor-sektor yang perlu mendapat injeksi investasi.

2.4.2. Model Tabel

Miernyk (1969) menyatakan bahwa pada dasarnya sistem analisis Leonitief merupakan Tabel Transaksi Input-Output, yang penyusunannya mempunyai fleksibilitas pengklasifikasian penentuan sektor-sektor dalam Tabel Input-Output tersebut. Sektor Industri ataupun sektor-sektor lainnya dapat dipecahkan ke suatu tingkat detail sesuai dengan yang diinginkan dalam batas data yang tersedia. Demikian juga untuk sektor-sektor pembayaran (payment sectors) atau komponen Pennintaan Akhir (Final Demanq') dapat dipecahkan ke dalam sektor yang diinginkan.

(10)

Sehubungan dengan ketentuan teoritis, 0' Connor, R. dan Henry (1 975)

menyatakan bahwa Tabel Input-Output hams disusun berdasarkan perlakuan Impor secara kompetitif dan berdasarkan perlakuan Impor secara non-kompetitif Tabel Input-Output yang disusun berdasarkan perlakuan Impor secara kompetitif', nilai impor dimasukkan ke dalam kolom khusus dengan tanda negatif dan ditempatkan di sebelah kanan dari kuadran Permintaan Akhir. Disamping itu, dalarn Tabel ini, arus transaksi antar industri dalam Tabel terdiri atas komoditi, baik yang berasal dari sumber domestik maupun yang berasal dari impor.

Tabel yang disusun berdasarkan impor secara non-kompetitif, maka nilai Impor tersebut ditempatkan dalam baris tersendiri di dalam lcuadran Input Primer. Selain dari dua model Tabel Input-Output di atas, Miernyk (1969) mengenalkan model yang lain lagi yaitu model statis, model regional dan model interegional. Pada Tabel Input-Output model statis disusun berdasarkan data yang terjadi pada saat tertentu sehingga koefisien-koefisien yang diperoleh juga bersifat disusun untuk tujuan analisis suatu daerah tertentu dan penyusunannya didasarkan pada data daerah yang bersangkutan. Untuk model interregional, Tabel Input-Output disusun untuk tujuan analisis antar daerah. Oleh karena untuk kepentingan antar daerah, maka dalam penyusunannya hams didasarkan pada pengelompokkan sektor-sektor kegiatan ekonorni menurut daerah. Hal dernikian dirnaksudkan untuk dapat melihat hubungan transaksi baik antarsektormaupun antar daerah.

(11)

2.5. Peranan Analisis Input-Output

Menurut Miemyk (1969), bahwa penggunaan analisis Input-Output pada dasarnya ditujukan untuk berbagai keperluan, diantaranya adalah untuk mengetahui :

2.5.1. Struktur Perekonomian

Tabel Input-Output secara simultan menggambarkan hubungan permintaan dan penawaran pada tingkat keseimbangan. Dimana dalam kondisi struktur perekonornian yang seimbang ini maka baik interaksi rnaupun interdependensi antar segenap struktur ekonomi bisa diketahui pola dan kecenderungan perkembangannya. 2.5.2. Peramalan Ekonomi

Hubungan antara permintaan Akhir dengan tingkat Output terdapat hubungan yang bersifat linier. Atas dasar hubungan yang demikian ini, dengan melalui perlakuan (menentukan nilai permintaan Akhir sedemikian rupa sesuai dengan nilai yang diprediksi akan terjadi di masa mendatang), maka akan dapat dilihat pengaruhnya terhadap tingkat Output (pertumbuhan ekonomi) di masa yang akan datang.

Sehubungan dengan perarnalan ekonomi, Stone (1966) menyatakan bahwa dengan melalui metode RAS terhadap Tabel Input-Output maka inforrnasi perekonomian dimasa mendatang dapat diketahui. RAS tersebut diartikan sebagai suatu perkalian antara R sebagai pengali pengganti yang beroperasi di sepanjang baris, A sebagai matriks koefisien input antara dan S sebagai pengali fabrikasi yang beroperasi di sepanjang kolom.

(12)

2.5.3. Akibat Dari Permintaan Akhir

Melalui proses pengolahan data maka dari Tabel Input-Output dapat dihasilkan berbagai jenis nilai koefisien, yang masing-masing mempunyai kngsi analisis sesuai dengan aspek perekonomian yang dikaji. Atas dasar fbngsi-fbngsinya tersebut maka melalui Tabel Input-Output dapat diketahui dampak dari suatu injeksi investasi, seperti halnya terhadap pendapatan, periyerapan tenaga kerja, keterkaitan antar sektor, kepekaan sektoral, multiplier dan sebagainya.

2.5.4. Kelayakan dan Kepekaan Sektord

Tabel Input-Output juga dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan ekonomi pengembangan sektoral sekaligus derajat kepekaan sektoral. Oleh karena itu maka dapat diketahui pula mengenai sektor yang secara nyata mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian wilayah.

2.6. Analisis Input-Output

Melalui mekanisme perhitungan rumus-rumus yang berlaku di dalamnya maka Tabel Input-Output dapat digunakan untuk mengetahui gambaran perekonomian suatu wilayah sesuai dengan aspek kepentingan analisis. Aspek-aspek yang mempunyai hngsi dan kedudukan penting di dalam analisis perekonornian suatu wilayah di antaranya adalah :

2.6.1. Efek Pengganda

Telah dinyatakan oleh Kadariah (1978) bahwa peningkatan aktivitas pernimpin sektor (leading sektor) ekonomi di suatu daerah pada masa berikutnya akan berpengaruh terhadap meningkatnya arus pendapatan ke daerah tersebut,

(13)

meningkatkan konsumsi, meningkatkan perrnintaan barang dan jasa sektor-sektor lain yang pada akhirnya akan meningkatkan pula aktivitas sektor-sektor lain yang belum sempat menjadi pemirnpin sehor. Demikian pula bahwa apabila tejadi mekanisme yang sebaliknya maka akan terjadi pengaruh yang sebaliknya pula.

2.6.2. Efisiensi Teknis

Mengingat bahwa sistem perekonomian makro suatu daerah pada dasarnya juga merupakan suatu aktivitas produksi atau aktivitas ekonomi maka sehubungan dengan tersedianya faktor produksi yang terbatas, perlu dikaji mengenai kemampuan efisiensi ekonominya. Aktivitas perekonomian suatu daerah dikategorikan sebagai aktivitas produksi yang efisien apabila dalam menghasilkan output daerahnya marnpu menciptakan proporsi Nilai Tambah Bruto (NTB) yang iebih besar dari pada kebutuhan Input Antara.

Sebaliknya bahwa apabila proporsi NTB yang diciptakannya lebih kecil dari pada proporsi Input Antara yang dibutuhkan, maka ha1 demikian berarti menunjukkan kemampuan produksi daerah yang bersangkutan tidak efisien. Hal demikian ini pada dasarnya juga menunjukkan bahwa aktivitas produksi daerah yang bersangkutan terlalu menggantungkan pada faktor sumberdaya lingkungan setempat dari pada mementingkan pertumbuhan ekonomi.

2.6.3. Keterkaitan Antar Sektor Ekonomi

Pada dasarnya upaya pembangunan ekonomi setiap daerah merupakan upaya menghidupkan segenap sektor perekonomian sebagai satu kesatuan, tetapi menjadi persoalan adalah bagaimana tingkat keterkaitan antar sektornya rnasing

(14)

masing, karena tidak semua sektor dalam suatu daerah perekonomian mempunyai nilai keterkaitan antarsektor yang sama.

Di dalam pembangunan ekonomi, suatu program dikategorikan efektif apabila injeksi investasi yang dilakukan lebih cenderung ditujukan kepada sektor sektor yang mempunyai derajat keterkaitan yang tinggi. Karena ha1 dernikian pada dasarnya menunjukkan bahwa nilai keterkaitan antara sektor suatu sistem perekonomian daerah yang tinggi, juga menunjukkan kemampuan di dalam menciptakan kekokohan ekonomi daerah. Mengingat kondisi yang demikian ini berarti mempunyai kedudukan interaksi antarsektoryang kondusif

2.6.4. Derajat Per~ycbarar~ Antar Sektor

Injeksi investasi akan menghasilkan nilai tambah (value added) yang tinggi apabila sasaran injeksi tersebut diarahkan pada sektor yang mampu menarik sektor-sektor lainnya untuk meningkatkan outputnya, yang dalam hubungan analisis Input-Output disebut sebagai sektor yang mempunyai nilai Backward Spread tinggi. Di sarnping mampu menarik, maka suatu sektor dalarn perkembangannya mampu

menciptakan kepekaan terhadap perkembangan sektor-sektor lainnya.

Suatu sektor dapat dikategorikan sebagai sektor yang peka terhadap pertumbuhan perekonomian apabila sektor tersebut mampu mendorong perkembangan sektor-sektor lainnya dalam meningkatkan outputnya, yang dalam analisis Input-Output disebut sektor yang mempunyai nilai Forward Spread tinggi.

Referensi

Dokumen terkait

Simbol Input-Output adalah simbol yang dipakai untuk menyatakan jenis peralatan yang digunakan sebagai media input atau output (Tosin, 1994). Tabel 2.4

Jaringan lapis banyak terdiri dari satu lapisan input, satu lapisan output dan satu atau lebih hidden layer yang terletak diantara lapisan input dan lapisan output seperti yang

Ada beberapa konsep dalam pendekatan analisis jejaring sosial, selain menggambarkan pola yang terbentuk dari hubungan antara simpul, node atau aktor, analisis jejaring sosial juga

Fungsi produksi adalah suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara hasil produksi ( output ) maksimum yang dapat dihasilkan dari suatu ramuan faktor- faktor produksi (input)

Terdapat tiga faktor yang menyebabkan efisiensi, yaitu jika dengan input yang sama menghasilkan output yang lebih besar, dengan input yang lebih kecil menghasilkan output yang

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan software Excel 2019 dan model pendekatan analisis input-output serta analisis turunannya seperti analisis multiplier

Arduino uno merupakan board berbasis mikrokontroler pada Atmega328 yang mana mempunyai 14 digital input / output pin (dimana 6 pin dapat digunakan sebagai output PWM), 6

Efendi (2011) menyebutkan Metode DEA adalah perbandingan data input output dari suatu organisasi data DMU dengan data input output lainnya pada DMU yang