I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Komoditas tanaman pangan memiliki peranan pokok sebagai pemenuh kebutuhan pangan. Padi merupakan tulang punggung pembangunan subsektor tanaman pangan, dan berperan penting terhadap pencapaian ketahanan pangan. Padi juga memberikan kontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional (Damardjati, 2006; Dirjen Tanaman Pangan, 2008; Sembiring dan Abdulrahman, 2008).
Berdasarkan agroekosistem dan kesesuaian lahannya, tanaman padi mempunyai potensi dan peluang yang besar untuk dikembangkan di Provinsi Bengkulu. Provinsi Bengkulu memiliki lahan sawah seluas 99.905 ha dengan produksi dan produktivitas yang masih rendah, yang berturut-turut adalah 406.117 ton dan 4,06 t/ha. Peluang untuk meningkatkan produksi padi di Provinsi Bengkulu masih terbuka melalui intensifikasi dan efisiensi penggunaan lahan. Intensifikasi dilakukan dengan penerapan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) padi sawah.
SL-PTT adalah program strategis Kemtan untuk mencapai swasembada beras lestari dan bahkan menjadi ekportir beras pada tahun 2020. Teknologi yang disusun dengan PTT bersifat spesifik lokasi dan mempertimbangkan keragaman sumberdaya, iklim, jenis tanah, sosial-ekonomi-budaya masyarakat, serta menjaga kelestarian lingkungan.
Pendampingan merupakan salah satu aspek penting dalam mensukseskan program SL-PTT. Pendampingan yang holistik, bersinergi, terkoordinir, terfokus dan terukur sangat diharapkan oleh semua pihak dalam mengakselerasi pencapaian dari sasaran yang telah ditetapkan.
1.2 Tujuan
Tujuan pendampingan SL PTT pada tahun 2010 adalah:
1. Mendampingi minimal 60% dari unit LL yang ada di Provinsi Bengkulu (965 unit) .
2 Meningkatkan kordinasi dan keterpaduan pelaksanaan peningkatan produksi melalui kegiatan SL-PTT antara pusat, provinsi dan kabupaten.
3. Mempecepat penerapan komponen teknologi SL PTT oleh petani sehingga dapat meningkatkan ketrampilan dalam mengelola usahatani mereka.
2 II. TINJAUAN PUSAKA
Padi merupakan tulang punggung pembangunan subsektor tanaman pangan, dan berperan penting terhadap pencapaian ketahanan pangan. Padi juga memberikan kontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional (Damardjati, 2006; Dirjen Tanaman Pangan, 2008; Sembiring dan Abdulrahman, 2008).
Senjang hasil (yield gap) antara hasil penelitian dengan hasil riel di tingkat petani sangat tinggi yaitu lebih dari 40%. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa produktivitas padi sawah di Bengkulu dapat mencapai 6,5 -7,5 t/ha, sedangkan produktivitas yang dicapai petani baru berkisar antara 4 – 5,5 t/ha. Rata-rata produktivitas padi di Provinsi Bengkulu baru mencapai 3,84 t/ha, sedangkan secara nasional sudah mencapai 4,97 t/ha (BPS Provinsi Bengkulu, 2009; Dirjen Tanaman Pangan, 2010a).
Salah satu cara untuk mengurangi senjang hasil adalah dengan menerapkan teknologi yang spesifik lokasi dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT). PTT adalah suatu pendekatan inovatif dan dinamis dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan petani melalui perakitan komponen teknologi secara partisipatif bersama petani (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009). Dengan pendekatan ini diharapkan selain produksi padi naik, biaya produksi optimal, produknya berdaya saing dan lingkungan tetap terpelihara sehingga bisa berkelanjutan.
PTT dilaksanakan berdasarkan 5 (lima) prinsip utama, yaitu:
(1) Partisipatif. Petani berperan aktif dalam penentuan teknologi sesuai kondisi setempat serta meningkatkan kemampuan melalui pembelajaran di laboratorium lapangan.
(2) Spesifik lokasi. Memperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan sosial budaya, dan ekonomi petani setempat.
(3) Terpadu. Sumberdaya tanaman, tanah dan air dikelola dengan baik secara terpadu
(4) Sinergis atau serasi. Pemanfaatan teknologi terbaik memperhatikan keterkaitan antar komponen teknologi yang saling mendukung.
(5) Dinamis. Penerapan teknologi selalu disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan Iptek serta kondisi sosial ekonomi setempat.
3 SL-PTT adalah bentuk sekolah yang seluruh proses belajar – mengajarnya di lakukan di lapangan dan di tempat-tempat lain yang berdekatan dengan lahan belajar, tidak terikat ruang kelas. Sekolah lapang (SL) menjadi tempat pendidikan nonformal bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan utamanya dalam mengenali potensi, penyusunan rencana usahatani, mengatasi permasalahan. Melalui SL petani diharapkan mampu mengambil keputusan untuk menerapkan teknologi yang sesuai dengan kondisi sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan. Dengan demikian usahataninya lebih efisien, produktivitas tinggi dan berkelanjutan. Pendekatan SL-PTT berfungsi sebagai pusat belajar pengambilan keputusan para petani/kelompok tani, sekaligus tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan, pembinaan manajemen kelompok serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya.
SL-PTT merupakan salah satu cara untuk mengenalkan inovasi teknologi spesifik lokasi secara partisipatif kepada masyarakat tani. Melalui kegiatan SL-PTT diharapkan terjadi perbaikan pemahaman petani dan kelompok tani mengenai pentingnya penerapan inovasi teknologi dengan benar untuk meningkatkan produktivitas, produksi dan pendapatan usahataninya.
Dalam pelaksanaan SL-PTT terdapat dua komponen teknologi, yaitu komponen dasar dan komponen ilihan. Komponen teknologi dasar yaitu teknologi yang sangat dianjurkan untuk diterapkan di semua lokasi padi sawah. Komponen teknologi ini terdiri dari atas:
(1) Varietas unggul baru, inbrida atau hibrida (2) Benih bermutu dan berlabel
(3) Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami ke sawah atau dalam bentuk kompos.
(4) Pengaturan populasi tanaman secara optimum
(5) Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah
(6) Pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman) dengan pendekatan PHT (Pengendalian Hama Terpadu).
Komponen teknologi pilihan yaitu teknologi yang disesuaikan dengan kondisi, kemauan dan kemampuan petani setempat. Teknologi ini terdiri atas:
4 (1) Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam
(2) Penggunaan bibit muda (< 21 hari) (3) Tanam bibit 1 – 3 batang per rumpun (4) Pengairan secara efektif dan efisien (5) Penyiangan dengan landak atau gasrok
(6) Panen tepat waktu dan gabah segera dirontok.
Falsafah SL-PTT menunjukkan bahwa agar teknologi yang diintroduksikan dapat diterima, diadopsi dan didifusikan secara luas, maka peran dari seluruh panca indra haruslah dioptimalkan. Falsafah dari SL PTT adalah sebagai berikut:
Mendengar, Saya Lupa Melihat, Saya Ingat
Melakukan, Saya Faham
Menemukan Sendiri, Saya Kuasai
Falsafah di atas menunjukkan bahwa proses pembelajaran bagi petani haruslah dilakukan secara sistematis, lengkap, sederhana/aplikatif, dan partisipatif dengan mengoptimalkan kinerja dari panca indra. Learning by doing secara partisipatif merupakan metode pembelajaran yang tepat, karena petani tidak hanya mendengar ataupun melihat, tetapi lebih ditekankan untuk mampu melaksanakan, mengevaluasi/membuat penilaian (menemukan), menentukan pilihan, mengadopsi, dan mendifusikan teknologi yang spesifik lokasi. Di sini nampak adanya bentuk pemberdayaan petani. Dengan cara ini diharapkan petani lebih kreatif dan inovatif yang dapat berperan seperti halnya seorang peneliti dan penyuluh.
Petani akan menerima dan mengadopsi inovasi teknologi dengan syarat teknologi yang diintroduksikan secara ekonomis menguntungkan dan secara teknis dapat dilaksanakan serta tidak bertentangan dengan sosial budaya masyarakat setempat. Proses pembelajaran bagi petani haruslah dilakukan secara sistematis, lengkap, sederhana/aplikatif, dan partisipatif dengan mengoptimalkan kinerja dari panca indra. Learning by doing secara partisipatif merupakan metode pembelajaran yang tepat, karena petani tidak hanya mendengar ataupun melihat, tetapi lebih ditekankan untuk mampu melaksanakan, mengevaluasi/membuat penilaian (menemukan), menentukan pilihan, mengadopsi, dan mendifusikan teknologi yang spesifik lokasi. Dengan cara ini diharapkan petani lebih kreatif dan inovatif yang dapat berperan seperti halnya seorang peneliti dan penyuluh.
5 Melalui kegiatan SL-PTT diharapkan terjadi perbaikan pemahaman petani dan kelompok tani mengenai pentingnya penerapan inovasi teknologi dengan benar untuk meningkatkan produksi dan pendapatan usahataninya. Salah satu cara untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan petani adalah melalui pertemuan kelompok. Pertemuan kelompok dilaksanakan oleh pelaksana SL-PTT dan tempat pertemuan juga berada di lokasi SL-PTT. Peserta pertemuan adalah petani peserta dipandu oleh pemandu lapangan. Pertemuan – pertemuan dalam SL-PTT diharapkan 8 kali pertemuan, oleh karena itu perlu dijawalkan secara periodik dengan kesepakatan petani peserta sehingga tidak mengganggu waktu petani (Dirjen Tanaman Pangan, 2010).
6
III. PROSEDUR
3.1 Waktu dan Tempat
Pendampingan dimulai dari persiapan hingga pengumpulan data dan pelaporan, yaitu dari bulan Januari sampai dengan Desember 2010. Pendampingan SL-PTT dilakukan di 10 kabupaten/kota yaitu: Mukomuko, Lebong, Bengkulu Utara, Rejang Lebong, Kepahyang, Bengkulu Tengah, Kota Bengkulu, Seluma, Bengkulu Selatan dan Kaur.
3.2 Bahan
Benih padi varietas INPARI 1, INPARI 3, INPARI 4, INPARI 6, INPARI 10, INPARI 13, dan Silugonggo.
Benih padi gogo 4 varietas yang tersedia di BB Padi Sukamandi (Limboto, Towuti, Situ Patenggang, Situ Bagendit).
Bahan informasi yang berupa buku saku dan juknis. BWD, PUTK dan PUTS.
Pupuk an organik (urea dan PONSKA). Pupuk organik (kompos/pupuk kandang). Insektisida, rodentisida dan herbisida. Papan merk demplot di 10 kabupaten/kota. Papan merk varietas.
Karung.
3.3 Ruang Lingkup
Pendampingan yang dilakukan oleh BPTP Bengkulu meliputi kegiatan koordinasi dan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia (SDM) baik untuk pemandu lapang di tingkat kabupaten/kecamatan dan juga kepada petani. Bentuk peningkatan SDM dilakukan secara teori dan praktek ataupun kombinasi dari keduanya. Kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan peningkatan SDM (petani dan petugas) diantaranya adalah pelatihan/apresiasi, pelatihan PL II dan III (sebagai narasumber), pencetakan dan pendistribusian bahan
7 informasi teknologi yang berupa buku saku dan Juknis, demonstrasi plot varietas unggul baru (VUB) dan display VUB.
Kegiatan pendampingan ini adalah kombinasi dari pendekatan top down dan buttom up, yang bersifat partisipatif. Top down karena kegiatan ini merupakan program nasional, di mana setiap daerah mendapatkan bagian atau jatah sesuai dengan potensi wilayahnya masing – masing. Luasan atau unit SL-PTT telah ditetapkan quotanya dari pusat. Daerah, dalam hal ini Pemkab, melalui Dinas Pertaniannya menentukan kelompok tani yang layak untuk mendapatkan program SL PTT. Dalam hal ini pihak pusat tidak melakukan intervensi dan menyerahkan sepenuhnya kepada daerah, sehingga penentuan poktan untuk SL PTT dengan pendekatan buttom up.
Lima prinsip utama dalam penerapan PTT adalah terpadu, sinergis, spesifik lokasi, dinamis, dan partisipatif. PTT padi sawah menerapkan komponen teknologi dasar dan pilihan. Teknologi dasar adalah teknologi yang sangat dianjurkan untuk diterapkan disemua lokasi padi sawah (Ditjen Tanaman Pangan, 2010). Teknologi ini ini terdiri atas:
1. Varietas unggul baru, inhibrida atau hibrida 2. Benih bermutu dan berlabel
3. Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami kesawah atau dalam bentuk kompos.
4. Pengaturan populasi tanaman secara optimum.
5. Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah. 6. Pengendalian OPT dengan pendekatan PHT.
Teknologi pilihan adalah teknologi yang disesuaikan dengan kondisi, kemauan dan kemampuan petani setempat. Teknologi ini terdiri atas:
1. Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam. 2. Penggunaan bibit muda (<21 hari).
3. Tanam bibit 1 – 3 batang per rumpun. 4. Pengairan secara efektif dan efisien. 5. Penyiangan dengan landak atau gasrok. 6. Panen tepat waktu dan gabah segera dirontok.
8 3.4 Tahapan Pelaksanaan
3.4.1 Penentuan Jumlah Unit Pendampingan
Secara garis besarnya pendampingan dilakukan dalam 2 cara yaitu pendampingan secara tidak langsung dan pendampingan secara langsung. Pendampingan secara tidak langsung dilakukan melalui pelatihan/apresiasi serta penerbitan bahan informasi teknologi dalam rangka meningkatkan kapasitas SDM dari petugas dan petani pelaksana SL PTT. Pendampingan secara langsung dilakukan melalui demplot dan display VUB. Dalam demplot diterapkan PTT secara penuh, dimana komponen teknologi disusun oleh BPTP Bengkulu.
Pada tahun 2010, pendampingan SL-PTT dilakukan pada 10 kabupaten/kota yang melaksanakan SL PTT padi dan jagung. Ada 1608 unit LL padi dan jagung yang terdistribusi di seluruh Provinsi dengan perincian sebagai berikut: padi inhibrida 1.200 unit, padi hibrida 150 unit, padi lahan kering 120 unit, dan jagung hibrida 138 unit. Dari data ini diketahui bahwa ada 965 unit LL (60%) yang di dampingi oleh BPTP Bengkulu. Pendampingan utama dilakukan melalui kegiatan apresiasi, pelatihan dan pendistribusian bahan informasi. Pendampingan dilaksanakan secara proporsional sesuai dengan jumlah unit SL-PTT di setiap kabupaten/kota (Lampiran 1).
Setelah daftar calon petani calon lokasi (CPCL) diperoleh, baik untuk tingkat provinsi maupun kabupaten, maka LO segera melakukan koordinasi. LO bersama dengan Dinas pertanian kabupaten dan BP4K menentukan 60% lokasi LL yang akan didampingi (Tabel 3). Kriteria dari lokasi LL yang akan didampingi diantaranya adalah: lokasinya strategis dan mudah dijangkau, petaninya kooperatif, serta kondusif kondisi sosial budayanya. Setelah lokasi pendampingan ditentukan, maka LO segera mencari informasi ke Tim Teknis SL PTT kabupaten untuk mengetahui jadwal dan perencanaan pelaksanaan SL PTT. Jadwal yang perlu diketahui adalah jadwal pelaksanaan Pelatihan Pemandu Lapang (PL II dan PL), jadwal tanam, dan jadwal pertemuan kelompok.
Penyebarluasan VUB dilakukan melalui uji adaptasi pada lahan seluas 0,25 - 0,50 ha di luar lokasi SL, sesuai dengan keputusan Dinas Pertanian Kabupaten dan Provinsi Bengkulu. BPTP hanya menyalurkan benih tanpa saprodi lainnya (pupuk dan pestisida) guna penyebarluasan varietas unggul baru yang mempunyai produktivitas tinggi.
Dinas Pertanian Provinsi dan kabupaten/kota sepakat bahwa pendampingan untuk disply VUB yang dilaksanakan oleh BPTP berada di luar lokasi LL dan bahkan di luar lokasi SL, dengan alasan untuk tertib administrasi dan disesuaikan dengan Pedoman pelaksanaan.
9 3.4.2 Pembentukan Tim Inti Pelaksana SL- PTT BPTP Bengkulu
Tim ini disusun dengan keanggotaan yang kompeten (koordinator program, penanggung jawab kegiatan SL-PTT, peneliti/penyuluh), karena tim ini mempunyai tugas yang cukup penting dalam pelaksanaan SL PTT. Tugas dari tim ini diantaranya adalah:
1. Merancang, mengarahkan dan mengendalikan pelaksanaan SL-PTT.
2. Menyusun panduan teknis pelaksanaan SL-PTT spesifik lokasi dengan inovasi baru yang spesifik lokasi.
3. Melakukan koordinasi pelaksanaan SL-PTT di tingkat provinsi dan pusat.
4. Membantu mekanisme kelancaran distribusi benih dari BB padi ke lokasi demoplot.
3.4.3 Penunjukan LO
LO ditunjuk oleh Kepala Balai berdasarkan kompetensi dan dedikasi dari staf. Tugas LO cukup berat karena dituntut untuk mampu berkoordinasi, bernegosiasi, dan berargumentasi serta menguasai teknologi budidaya padi baik secara teoritis maupun praktis. BPTP Bengkulu menugaskan peneliti/penyuluh sebagai tenaga penghubung di tiap kabupaten atau kota di seluruh Provinsi Bengkulu. LO ini diharapkan juga masuk dalam Tim Teknis SL-PTT Kabupaten. Hal ini dimaksudkan agar ada koordinasi yang terpadu antara BPTP dan kabupaten, sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan SL PTT dapat diinformasikan dengan cepat. Tugas LO diantaranya adalah:
Membuat demplot PTT dengan luasan 0.25 hektar di luar SL pada 1 - 2 titik (unit) per kabupaten. Demplot berisikan (a) keragaan berbagai varietas unggul baru dan (b) Komponen teknologi PTT secara lengkap.
Sebagai narasumber untuk teknologi PTT (padi dan jagung). Mengumpulkan data sebagai bahan laporan pendampingan.
Membantu kelancaran distribusi benih dari BB Padi ke lokasi-lokasi yang berdekatan/berdampingan dengan lokasi SL-PTT dan demplot.
3.4.4 Kegiatan Utama Pendampingan
10 Pada tahun 2010 didampingi 60% dari total unit SL PTT padi dan jagung (965 unit). Di sekitar lokasi SL PTT dilakukan display VUB yaitu INPARI 1, INPARI 3, INPARI 4, INPARI 6, INPARI 10, INPARI 13 dan Silugonggo dengan luas 0,25 - 0,5 ha . Pada tiap unit dibagikan 5 VUB, masing-masing varietas sebanyak 1 kg. Varietas yang diujiadaptasikan berasal dari BB Padi Sukamandi. BPTP Bengkulu hanya menyalurkan bantuan 7 VUB yang berasal dari BB Padi, sedangkan upah dan saprodi lainnya disiapkan secara mandiri oleh petani. Hal yang sama dilakukan juga untuk padi lahan kering.
Demplot dan display varietas untuk padi hibrida dan jagung tidak dapat direalisasikan karena keterlambatan dan ketersediaan benih dari Balit Komoditas. Keragaman musim tanam, perubahan waktu tanam antar kabupaten juga mempunyai andil yang besar terhadap pencapaian kinerja pendampingan.
Koordinasi antar institusi
Koordinasi ke pusat dan provinsi banyak dilakukan oleh Tim Teknis SL PTT, sedangkan koordinasi ke daerah/kabupaten/kecamatan banyak dilakukan oleh LO. Hal ini tidak mutlak dan tidak menutup kemungkinan untuk melakukan koordinasi secara bersamaan antara Tim Teknis dengan LO.
Peran BPTP cukup penting dan strategis dalam pendampingan SL-PTT. BPTP banyak mendapatkan dukungan dari UK/UPT di lingkup Badan Litbang Pertanian (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009). Tim Tingkat Provinsi terdiri dari beberapa instansi, dengan saran Kadistan sebagai ketua, BPTP sebagai Sekretaris dan Bakorluh sebagai Wakil Ketua dan anggotanya dinas/instansi terkait mengikuti struktur organisasi PUAP. Kepala BPTP sebagai sekretaris dalam teknis operasionalnya dibantu oleh Tim Teknis SL-PTT dari BPTP. Tim Pendamping SL-PTT tingkat Kabupaten terdiri dari Kepala Dinas Pertanian Kabupaten, Bappeluh, POPT, PL-II dan LO. Tim Pendamping SL-PTT di tingkat kecamatan adalah POPT, Koordinator penyuluh, KCD/KPK, dan PPL.
Di Bengkulu Tim Teknis SL PTT di tingkat Provinsi dan Kabupaten belum terwujud. Hal ini juga menyebabkan kendala dalam koordinasi antar institusi. BPTP Bengkulu sudah memberikan informasi dan advokasi tentang pentingnya Tim Teknis, tetapi belum mendapatkan respon yang positif.
11 Kegiatan SL PTT diintegrasikan dan disinergikan dengan kegiatan PUAP agar lebih produktif dan efisien (Gambar 3.1). Sebagian besar LO juga akan bertindak sebagai korwil PUAP di kabupaten yang sama. Selain dengan program PUAP, kegiatan SL PTT juga dipadukan dan disinergikan dengan kegiatan diseminasi dari BPTP Bengkulu (visitor display dan gelar teknologi).
Gambar 3.1 Mekanisme Pendampingan SL-PTT
Penyediaan informasi teknologi, bahan, dan alat pendukung
Pendekatan SL-PTT berfungsi sebagai pusat belajar pengambilan keputusan para petani/kelompok tani, sekaligus tempat tukar menukar informasi dan pengalaman lapangan, pembinaan manajemen kelompok serta sebagai percontohan bagi kawasan lainnya. Informasi teknologi, bahan, dan alat pendukung SL-PTT untuk penyuluh maupun petani harus disiapkan dengan baik. Pemahaman yang benar terhadap SL-PTT akan menimbulkan persepsi yang positif baik dari petugas maupun petani pelaksana. Bahan informasi diantaranya adalah buku panduan pelaksanaan SL-PTT, buku saku, poster, dan leaflet (bersinergi dengan kegiatan visitor display). Bahan dan alat pendukung lainnya adalah BWD, PUTS, pupuk, pestisida, dan benih.
12 Demontrasi plot PTT
Demonstrasi plot PTT padi BPTP Bengkulu dilakukan pada lahan seluas 0,50 ha pada tiap kabupaten/kota. Demplot VUB dilaksanakan di luar lokasi SL untuk menguji paket teknologi lengkap PTT. Lahan demoplot yang luasnya 0,50 ha itu dianggap sebagai super imposed oleh BPTP, sekaligus sebagai media pembuktian teknologi PTT yang sebenarnya (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009). Perlakuan yang diterapkan sepenuhnya memenuhi kaidah-kaidah PTT Padi sawah (Tabel 3.1).
Tabel 3.1 Teknologi PTT Padi sawah untuk Demplot VUB di Provinsi Bengkulu.
KOMPONEN TEKNOLOGI KETERANGAN
1. Varietas Unggul Baru 2. Benih bermutu dan berlabel 3. Pemberian bahan organik
4. Pengaturan populasi tanaman secara optimum.
5. Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah.
6. Pengendalian OPT 7. Pengolahan tanah 8. Penggunaan bibit muda 9. Penggunaan bibit/lubang
10. Pengairan secara efektif dan efisien 11. Penyiangan 12. Panen - INPARI 1,3, 4, 6, 10, 13 dan Silugonggo. - Label ungu/biru - 2 ton/ha
- Dengan sistem legowo 4:1 dengan jarak tanam 20x20x10 cm.
- PONSKA 300 kg/ha dan Urea 200 kg/ha.
* 150 kg/ha PONSKA diberikan pada umur 7 HST, dan 150 kg/ha diberikan pada umur 21 -25 HST. * 50 kg/ha urea diberikan pada umur 21 – 25 HST
dan 150 kg/ha diberikan pada umur 45 HST. - Dengan pendekatan PHT
- Sempurna - Umur < 21 hari - 1-3 bibit
- Intermitten/berselang-seling - Secara manual atau khemis - Tepat waktu dan segera di rontok
Lahan SL yang luasnya 24 ha bisa dijadikan lahan perluasan inovasi teknologi yang dikembangkan dalam LL dan lahan demoplot. Penyelenggaraan pendampingan di SL dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan. Pengamatan hasil panen dilakukan secara ubinan untuk tiap varietas dengan ukuran 5 - 6 m2 tergantung dari jarak tanam. Ubinan diambil di lokasi LL, luar LL di dalam SL dan pada lahan petani yang bukan peserta SL. Hasil gabah ditimbang dalam bentuk kering panen. Kegiatan usahatani yang bersifat teknis maupun non teknis dalam pelaksanaan SL-PTT dicatat.
13 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tahapan pelaksanaan yang telah dilaksanakan adalah: penentuan jumlah unit pendampingan; pembentukan Tim Inti Pelaksana SL-PTT BPTP Bengkulu; penunjukan LO dan pelaksanaan kegiatan utama pendampingan. Kegiatan utama pendampingan meliputi: koordinasi antar institusi; Nara sumber dalam pelatihan (PL II dan PL), sosialisasi dan apresiasi; penyediaan dan distribusi bahan informasi teknologi, bahan (termasuk benih VUB dan pendukung lainnya); dan demplot VUB.
4.1.1 Penentuan jumlah unit pendampingan
Pada tahun 2010, pendampingan SL-PTT dilakukan pada 10 kabupaten/kota yang melaksanakan SL PTT padi dan jagung. Ada 1608 unit LL padi dan jagung yang terdistribusi di seluruh Provinsi dengan perincian sebagai berikut: padi inhibrida 1.200 unit, padi hibrida 150 unit, padi lahan kering 120 unit, dan jagung hibrida 138 unit. Dari data ini diketahui bahwa ada 965 unit LL (60%) yang di dampingi oleh BPTP Bengkulu. Pendampingan utama dilakukan melalui kegiatan apresiasi, pelatihan dan pendistribusian bahan informasi. Pendampingan dilaksanakan secara proporsional sesuai dengan jumlah unit SL-PTT di setiap kabupaten/kota.
4.1.2 Pembentukan Tim SL PTT dan LO
Tim SL PTT dan LO dibentuk untuk meningkatkan peran BPTP dalam pendampingan. Tim disusun dengan keanggotaan yang kompeten (koordinator program, penanggung jawab kegiatan SL-PTT, peneliti/penyuluh), karena tim ini mempunyai tugas yang cukup penting dalam pelaksanaan SL PTT (Tabel 4.1).
14 Tabel 4.1. Tim teknis dan LO SL PTT BPTP Bengkulu tahun 2010.
NO KABUPATEN LO
LO dan Anggota Tim SL- PTT
TIM SL-PTTNAMA NO. HP NAMA NO
1. Seluma Ir. Eddy Makruf 0815 390 3294 Dr. Wahyu Wibawa MP. 0857 64689228 2. Kapahyang Ir. Sri Suryani MR. M.Agr. 0811 73 8710 Dr. Umi Pudji Astuti, MP 0815 1640953 3. Bengkulu Tengah Ir. Ahmad Damiri, MSi 0816 393 870 Ir. Eddy Makruf 0815 390 3294 4. Kaur Drs. Afrizon 0815 390 4222 Ir. Sri Suryani MR. MAgr. 0811 73 8710 5. Rejang Lebong Ir. Miswarti 0813 7761 9114 Ir. Ahmad Damiri, MSi 0816 393 870 6. Bengkulu Utara Yong Farmanta, SP. 0815 39 823238 Drs. Afrizon 0815 390 4222 7. Lebong Zul Efendi, SPt 0813 6763 7489 Ir. Miswarti 0813 7761 9114 8. Muko muko Harwi Kusnadi, SPt 0818 0272 8676 Yong Farmanta, SP. 0815 39 823238 9. Bengkulu Selatan Yartiwi SP. 0852 6759 6155 Zul Efendi, SPt 0813 6763 7489 10. Kota Bengkulu Lina Ivanti STP 0852 1445 7344 Harwi Kusnadi, SPt 0818 0272 8676 Yartiwi SP. 0852 6759 6155 Lina Ivanti STP 0852 1445 7344 Marzan 0852 67738806 Basuni Asnawi 0815 39230714 Hendri Suyanto 0813 73565674 4.1.3 Pelaksanaan Kegiatan Utama Pendampingan
Koordinasi antar institusi
Koordinasi ke Pusat salah satunya adalah dengan penyedia benih padi, yaitu BB padi Sukamandi. Telah dilakukan komunikasi yang intensif agar benih dapat dikirim pada bulan Mei 2010, karena berdasarkan jadwal ada yang sudah mulai tanam pada bulan Mei. Pada Tanggal 25 April 2010, telah dikirimkan 3.600 kg benih padi yang terdiri atas 7 varietas yaitu: Inpari 1 (716 kg), Inpari 3 (738 kg), Inpari 4 (706 kg) , Inpari 6 (325 kg), Inpari 10 (355 kg), Inpari 13 (40 kg) dan Silugonggo (720 kg). Benih tersebut untuk pendampingan pada 720 unit SL-PTT padi inhibrida yang tersebar di 10 kab/kota di Provinsi Bengkulu (Lampiran 2). Benih padi gogo juga telah diterima sebanyak 526 kg. Benih padi gogo berasal dari Kebun Percobaan Taman Bogo yang dikirimkan pada bulan November 2010.
Koordinasi dengan pusat telah dilaksanakan beberapa kali pada bulan Februari dan Maret 2010. Pada tanggal 3-5 Februari 2010 dilakukan pertemuan dan sinkronisasi pelaksanaan program dan kegiatan tanaman pangan tahun 2010 di Dirjen Tanaman Pangan Jakarta. Selanjutnya dilaksanakan Rakor persiapan pendampingan SL-PTT di Puslitbangtan tanggal 11-12 Maret 2010. Hasil dari pertemuan diantaranya terbitnya surat dari Dirjen Tanaman Pangan tertanggal 24 Maret 2010 tentang pendampingan Badan Litbang Pertanian di Lokasi SL PTT tahun 2010. Adapun isi surat tersebut adalah:
1). Alternatif penentuan lokasi untuk uji adaptasi varietas/display varietas sebagai berikut: a. Uji adaptasi VUB menjadi bagian dari LL seluas 1 ha; b. Uji adaptasi VUB merupakan
15 tambahan dari LL, sehingga luas LL menjadi 1,25 ha untuk padi dan jagung, dengan konsekwensi perlu ada tambahan sarana produksi; c. Uji adaptasi VUB dilakukan berdampingan dengan LL atau di luar LL tetapi masih dalam kawasan SL PTT; d. Uji adaptasi VUB ditempatkan di lokasi lain berdasarkan kesepakatan antara Dinas Pertanian Tanaman pangan Kabupaten/kota dan BPTP Bengkulu.
2. Benih yang dihasilkan dari uji adaptasi VUB tersebut selanjutnya dapat digunakan oleh kelompoktani yang bersangkutan untuk pertanaman musim selanjutnya.
3. Pendampingan peneliti dari BPTP difokuskan dilokasi LL di dalam SL PTT.
4. Pendampingan akan dilakukan oleh para peneliti BPTP pada areal seluas 60% dari luas areal SLPTT.
Koordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi dan kabupaten dilaksanakan dengan intensif, khususnya untuk validasi data CPCL, jadwal tanam, dan data penyuluh pendamping (Lampiran 3 dan 4). Koordinasi telah dilaksanakan di 10 kabupaten dan kota. Pada koordinasi ini disampaikan tentang peran BPTP dalam pendampingan SL-PTT. Dalam pendampingan ini tidak hanya melakukan apresiasi/pelatihan tetapi juga menyediakan media informasi tercetak dalam rangka meningkatkan kapasitas penyuluh. Hal ini dilakukan karena banyak dikeluhkan bahwa pemahaman penyuluh terhadap SL PTT masih kurang.
Penyediaan Informasi Teknologi, Alat dan Bahan Pendukung
Informasi teknologi sangat diperlukan dalam peningkatan kapasitas (pengetahuan dan ketrampilan) bagi penyuluh dan petani. Hasil umpan balik kebutuhan teknologi menunjukkan bahwa penyuluh memerlukan informasi yang up to date sebagai bahan penyuluhan kepada masyarakat tani. Sering ditemui penyuluh kurang memahami filosafi Program SL PTT.
Bahan informasi yang dicetak diantaranya adalah Petunjuk Teknis SL PTT (300 eksemplar) dan Buku saku mendukung program SL PTT (900 eksemplar). Buku Panduan Teknologi, leaflet dan poster dalam mendukung program SL PTT juga dicetak melalui kegiatan visitor display. Bahan informasi ditulis oleh anggota tim SL PTT dan Tim Inti Pelaksana SL PTT BPTP Bengkulu. Buku saku berisi tentang filosopi SL PTT dan penjelasan tentang 12 komponen PTT yang ditulis secara ringkas disertai dengan gambar agar lebih mudah dipahami. Buku saku dicetak untuk meningkatkan kapasitas penyuluh dalam mengawal dan membina petani SL PTT.
16 Alat dan bahan pendukung dalam pendampingan SL PTT diantaranya adalah benih padi, sarana produksi (pupuk dan pestisida), PUTS, PUTK dan PUP, papan merk demplot, papan merk varietas. Perangkat uji tanah dan pupuk diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dan penyuluh dalam menentukan dosis pupuk. Untuk keperluan tersebut telah dibeli 2 PUTS, 2 PUTK, dan 1 PUP dari BBSDLP Bogor. Benih yang dapat disediakan adalah benih padi sawah 3.600 kg dan benih padi Gogo 526 kg. Benih padi hibrida dan jagung tidak dapat direalisasikan karena kurang tepatnya ketersediaan Benih dari Balit komoditas dan ketidakpastian CPCL serta jadual tanam di Kabupaten dan kota.
Narasumber pada Sosialisasi, Pelatihan dan Apresiasi SL PTT
Sosialisasi SL PTT. Sosialisasi dilakukan sebagai tindak lanjut dari koordinasi persiapan pelaksanaan Program SL PTT yang dilaksanakan pada bulan Maret 2010 di Puslitbangtan. Salah satu hasil koordinasi adalah adanya alternatif untuk pelaksanaan Display VUB oleh Badan Litbang Pertanian dilaksanakan di lokasi LL.
Sosialisasi pendampingan SL PTT telah dilaksanakan di Kabupaten Kaur, Bengkulu Selatan, Seluma, Kota Bengkulu dan Bengkulu Tengah (Lampiran 5). Semula Kabupaten/Kota bisa menerima/sepakat agar uji adaptasi varietas berada di dalam LL, sehingga ada pembinaan yang intensif dan tersedia alternatif varietas untuk pengembangan selanjutnya.
Pada tanggal 19 -20 Mei 2010 dilakukan pertemuan seluruh Dinas pertanian Kabupaten yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Provinsi Bengkulu, yang salah satu agendanya adalah menentukan lokasi display varietas yang dilaksanakan oleh Badan Litbang Pertanian. Dalam pertemuan ini disepakati bahwa uji adaptasi yang akan dilaksanakan oleh BPTP berada di luar lokasi SL. Aspek teknis dan administrasi menjadi alasan dari pelaksanaan uji adaptasi VUB berada di luar lokasi LL. Dalam lokasi SL dan LL benih telah disediakan oleh PT SHS maupun PT Pertani, sehingga jika ada pembagian benih lagi dari BPTP Bengkulu, tentu ada kelebihan benih. Alasan lain adalah adanya ketidaksesuaian antara rencana dengan pedoman pelaksanaan SLPTT tahun 2010.
Dengan kesepakatan ini tentu sangat berpengaruh terhadap kesiapan BPTP Bengkulu dalam pelaksanaannya. Badan Litbang pertanian melalui BPTP sudah merancang agar display VUB dapat dilaksanakan di dalam LL. Dengan melakukan display VUB di luar kawasan SL berarti merubah skenario dan strategi pelaksanaan SL PTT.
17 Pelatihan dan Apresiasi. Kegiatan yang telah dilaksanakan di daerah atau kabupaten diantaranya adalah sebagai nara sumber PL II dan PL III di Kabupaten Lebong, Rejang Lebong, Bengkulu Selatan, Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah, Kaur, Kota Bengkulu, Seluma, serta Kabupaten Kepahiang. Berbagai materi telah disiapkan oleh tim SL PTT untuk memenuhi permintaan Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten sebagai Nara sumber pada SL PTT padi, Jagung dan Kacang tanah. Pelatihan dapat bersifat teoritis dan praktis atau kombinasi dari keduanya. Materi dan narasumber yang telah disampaikan pada PL II, PL III dan pelatihan lainnya di tampilkan pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Materi dan nara sumber dalam mendukung pelaksanaan SL PTT di Kabupaten/kota.
NO NAMA WAKTU MATERI PENYELENGGARA
1. Ir. Miswarti 11 Mei 2010 7 Agustus 2010
PTT padi dan SRI SL PTT Padi sawah SL PTT Kacang Tanah
BP3K Kec. Sukaraja Kab. Seluma
BPK Kec. Air Besi Kab. Bengkulu Utara 2. Ir. Eddy Makruf
Dr. Wahyu Wibawa 21 Mei 2010 30 Juni 2010
SL-PTT Kacang tanah
Pemahaman dan implementasi SL-PTT jagung hibrida
Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP)
Dinas Pertanian Kab. Seluma (Pelaksanaan di BPP Sukaraja) Dinas Pertanian Kabupaten Seluma (Pelaksanaan di BPP Mas Mambang) PL III
3. Yartiwi, SP 25 Mei 2010 Aplikasi usahatani melalui
pendekatan SL PTT Dinas Pertanian Kab. Bengkulu Selatan 4. Ir. A. Damiri, MSi 29 Juni 2010
6 Juli 2010
7 Agustus 2010
- Pemupukan spesifik lokasi padi sawah.
- Praktek pengambilan contoh tanah
- Praktek penggunaan BWD - Budidaya kacang tanah
- Praktek pengambilan sampel tanah - Praktek penggunaan PUTK
- SL PTT padi sawah dan kacang tanah
- Budidaya kacang tanah
Dinas Pertanian Benteng (PL III)
Dinas Pertanian Kab. Bengkulu Tengah (PL III) BPP Air Besi Dinas Pertanian Bengkulu Utara (PL III). 5. Drs. Afrizon
Yahumri SP 9 Agustus 2010 - Demo pembuatan kompos jerami dengan menggunakan aktivator tricoderma
- Demo pembuatan MOL dengan bahan dasar keong Mas
- KPK Tanjung kemuning
18 6. Yong Farmanta, SP 20 Juni 2010 - SL PTT untuk peningkatan
produktivitas dan produksi padi di Bengkulu Utara
Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Bengkulu Utara (PL III)
7. Dr. Wahyu Wibawa 21 Mei 2010
30 Mei 2010 - SL PTT kacang tanah - Implementasi teknologi SL-PTT kacang tanah. - SL PTT padi - SL PTT Padi Dinas Pertanian Kabupaten Seluma (PL III)
Dinas Pertanian Kab. Bengkulu Selatan. Dinas Pertanian Kab. Kaur.
Dinas Pertanian Rejang Lebong 8. Ir. SS. Rambe MAgr 25 Mei 2010
11 Juni 2010 16 Juni 2010 30 Juni 2010 27 Juli 2010
3-4 Agust 2010
- Pemupukan padi spesifik lokasi - Pemupukan padi an jagung spesifik lokasi.
- Teknologi budidaya kacang tanah - KKP jagung Hibrida
- Varietas unggul dan budidaya jagung
- Pengelolaan hara spesifik lokasi - Pengelolaan hara spesifik lokasi - Varietas unggul dan budidaya tanaman padi. - Dinas Pertanian Provinsi (PL II). - Dinas Pertanian Kepahiang (PL III). - Dinas Pertanian Lebong - Dinas Pertanian Seluma. - Dinas Pertanian Provinsi (PL II) - Dinas Pertanian dan peternakan Kota.
Untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan dari penyuluh dan petani maka dilakukan apresiasi SL PTT di 10 Kabupaten/kota. Apresiasi ini diikuti oleh petani dan penyuluh yang jumlahnya mencapai 800 orang. Apresiasi dilaksanakan pada bulan Oktober – November 2010. Tempat penyelenggaraan juga bervariasi, tetapi utamanya adalah di BP4K dan BPP (Lampiran 6).
19 Distribusi benih dan demplot VUB.
Distibusi benih telah dilakukan di 10 kabupaten/Kota. Benih yang telah dikirimkan ke Dinas Pertanian kabupaten/kota, BPP maupun kelompok tani berjumlah 3.600 kg. Rincian distribusi benih per kabupaten adalah sebagai berikut: Kabupaten Bengkulu Selatan 364 kg, Kabupaten Kaur 240 kg, Kepahyang 163 kg, Bengkulu Tengah 500 kg, Lebong 380 kg, Seluma 687 kg, Bengkulu Utara 620 kg, Rejang Lebong 222 kg, Mukomuko 108 kg, dan Kota Bengkulu 316 kg. Jadwal pertanaman untuk SL PTT mengalami penundaan baik disebabkan oleh faktor teknis/non teknis.
Keterbatasan sumberdaya dan sumber dana menyebabkan kesulitan untuk memantau perkembangan dan hasil dari display varietas. Apalagi pelaksanaannya berada di luar kawasan SL PTT. Kurang harmonisnya Dinas dengan institusi penyuluhan juga menjadi masalah tersendiri dalam pengumpulan data dan informasi dari display varietas.
Demontrasi plot telah dilaksanakan di 10 Kabupaten/Kota. Dalam demplot ini digunakan komponen teknologi yang sama untuk seluruh lokasi. Seluruh komponen teknologi SL PTT diterapkan untuk mengetahui potensi hasil dari masing-masing VUB yang diintroduksikan. Untuk pemupukan digunakan pupuk PONSKA dan urea serta kompos dengan dosis masing-masing 300 kg, 200 kg dan 2000 kg/ha. Pupuk kompos diberikan pada saat tanam, sedangkan pupuk anorganik diberikan 3 kali berdasarkan kebutuhan serta pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Saprodi yang diperlukan (pupuk dan pestisida) disediakan oleh BPTP Bengkulu.
Hasil demplot menunjukkan bahwa demplot dengan komponen teknologi SL PTT dapat meningkatkan produktivitas secara sangat nyata. Produktivitas rata-rata dari demplot VUB adalah sebagai berikut: INPARI 1, 5,53 t GKP/ha; INPARI 3 6,84 t GKP /ha, INPARI 4, 6,88 t GKP/ha, INPARI 6, 6,7 t GKP/ha; INPARI 13, 7,5 t GKP/ha; dan Silugonggo 5,8 t GKP/ha.
Secara umum petani dan petugas (PPL) pada tiap lokasi demplot sepakat bahwa varietas yang adaptif dan berpotensi untuk dikembangkan adalah varietas INPARI 3, 4, dan 13. Produktivitas yang tinggi menjadi indikator utama bagi petani dan penyuluh dalam menilai adaptasi VUB yang diintroduksikan (Lampiran 7). Varietas Silugonggo dan INPARI 1 kurang diminati karena produktivitasnya yang relatif rendah (5,53 – 5,8 kg GKP/ha). Rendahnya produktivitas dari 2 VUB tersebut dikarenakan umurnya yang relatif lebih genjah, sehingga intensitas serangan hama (walang sangit dan burung) sangat tinggi.
20 4.2 Pembahasan
4.2.1 Penentuan Jumlah Unit Pendampingan
Jumlah unit pendampingan sangat banyak (965 unit) yang terdiri atas SL PTT padi sawah, padi hibrida, padi gogo, dan jagung yang tersebar di 10 Kabupaten dan Kota. Jumlah unit pendampingan ditentukan berdasarkan data CPCL dari Kabupaten/kota dan Provinsi. Menentukan jumlah unit pendampingan tidaklah sulit, karena formulanya sudah jelas yaitu 60% dari unit SL PTT yang dilaksanakan di Provinsi Bengkulu. Menentukan 60% lokasi pendampingan justru yang cukup sulit dan banyak menyita waktu dan tenaga. Hal ini disebabkan karena CPCL yang disusun oleh Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten sangat dinamis dan sering berubah.
Kecepatan penyusunan CPCL pada masing-masing kabupaten dan kota juga bervariasi, ada yang cepat, tetapi sebaliknya ada yang sangat lambat. Perubahan tidak hanya pada pada lokasi/kelompok pelaksana tetapi juga jadwal tanamnya. Kondisi ini juga menjadi hambatan tersendiri bagi kinerja tim SL PTT di BPTP Bengkulu. Permasalahan lambatnya CPCL di Kabupaten dan kota disiasati dengan mengintensifkan koordinasi antara BPTP Bengkulu, yang dalam hal ini diwakili oleh LO, dengan Dinas pertanian Kabupaten.
Tuntutan kinerja dan permintaan data dari pusat terkadang tidak sesuai dengan kondisi riel di lapangan. Sebagai contoh adalah bahwa fokus pengawalan para peneliti dan penyuluh BPTP berada di lokasi LL, tetapi kenyataannya di Bengkulu display dan demplot VUB tidak boleh di kawasan SL PTT. Jumlah (persentase) pendampingan dengan berpedoman pada jumlah unit SL sangat sulit untuk direalisasikan. Hal ini berkaitan dengan kompleksitas koordinasi, keterbatasan SDM dan biaya. Keberhasilan dari pengkajian, penelitian, maupun pendampingan mempunyai hubungan yang erat dengan ketersediaan SDM (jumlah dan kualitas), buged, dan waktu. Ketiga faktor tersebut harus bersinergi, karena kurang optimal di salah satu faktor saja sudah sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kinerja kegiatan. Untuk itu perlu dikaji ulang tentang penetapan sasaran pendampingan (%). Hal ini harus disesuaikan dengan keberadaan SDM, kondisi wilayah, sosial budaya, sarana/fasilitas dan ketersediaan anggaran di masing-masing BPTP.
21 4.2.2 Pembentukan Tim Inti Pelaksana dan Penunjukan LO
Tim inti dibentuk oleh Kepala Balai dan di tuangkan dalam bentuk SK Balai. Anggota Tim cukup kompeten dari berbagai disiplin ilmu yaitu agronomi, ilmu tanah, dan ekonomi pertanian. Tim ini cukup banyak memberikan masukan dan saran untuk pelaksanaan SL PTT. Tim ini cukup banyak perannya dalam koordinasi, sosialisasi, apresiasi, nara sumber pelatihan serta dalam penulisan buku panduan maupun buku saku SL PTT.
Tim SL PTT terdiri atas 15 orang dengan berbagai disiplin ilmu (agronomi, ilmu tanah, dan ekonomi pertanian). Anggota tim tidak seluruhnya mempunyai latar belakang di bidang ilmu pertanian (tanaman pangan/produksi tanaman), diantaranya mempunyai disiplin ilmu peternakan, ekonomi pertanian dan paska panen. Hal ini dikarenakan ketersediaan SDM yang terbatas. Namun hal ini bukanlah menjadi masalah, karena pengetahuan dan keterampilan dari anggota tim dapat ditingkatkan dengan cepat. Untuk meningkatkan kapasitas dari anggota tim, maka dilakukan pertemuan rutin untuk saling bertukar pengalaman terutama kaitannya dengan komponen teknologi PTT padi dan jagung. Selain itu juga dilakukan diskusi-diskusi dalam pemecahan permasalahan yang berkaitan dengan kegiatan pendampingan.
Sepuluh LO ditunjuk oleh Kepala Balai untuk dapat memperlancar koordinasi, pengumpulan data dan informasi dari Kabupaten dan Kota. Tidak semua LO mempunyai latar belakang pendidikan agronomi maupun tanah, sebagian dari LO mempunyai latar belakang pendidikan peternakan dan paska panen. Penunjukan LO diluar bidang ilmunya, semata-mata dilakukan karena adanya keterbatasan SDM di BPTP Bengkulu. Permasalahan ini dapat diatasi dengan memperbanyak pertemuan untuk berbagi pengetahuan antar sesama anggota tim pendampingan.
Jumlah LO disesuaikan dengan jumlah kabupaten yang melaksanakan kegiatan SL PTT. Di Bengkulu, seluruh kabupaten/kota melaksanaan kegiatan PTT, sehingga jumlah LO ada 10. LO mempunyai posisi dan peran yang cukup penting dalam kelancaran pelaksanaan kegiatan pendampingan. LO bertugas untuk berkoordinasi dan juga mengumpulkan data-data yang diperlukan dalam kegiatan pendampingan. Data yang perlu diambil diantaranya adalah data CPCL, jadwal tanam, data dasar seperti varietas, produktivitas, dan existing teknologi sebelum pelaksanaan SL PTT. LO dan tim SL PTT dibentuk untuk meningkatkan peran BPTP Bengkulu dalam pendampingan.
22 Upaya untuk memasukkan LO sebagai Tim Teknis SL PTT Kabupaten belum dapat direalisasikan. Hal ini disebabkan Tim Teknis SL PTT di tingkat Kabupaten dan Provinsi belum terbentuk. BPTP Bengkulu sudah berupaya untuk memberikan advokasi kepada Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten, namun belum mendapatkan respon yang positif. Kondisi ini juga menjadi masalah dalam meningkatkan kinerja dan koordinasi dari LO. Apapun kondisinya LO tetap didorong untuk berkoordinasi dan menjalankan tugasnya secara optimal.
Mempertimbangkan jumlah penyuluh lapangan yang tersedia, perlu dipelajari dan dirumuskan luas satu unit SL-PTT yang ideal untuk setiap komoditas. Pelaksanaan SL-PTT padi yang sudah dilaksanakan selama tiga tahun ini (2008- 2010) juga memerlukan evaluasi apakah perlu dimodifikasi dalam pelaksanaannya sehingga bisa meningkatkan kemandirian petani.
4.2.3 Kegiatan Utama Pendampingan Koordinasi antar institusi
Persamaan persepsi tentang filosopi pelaksanaan SL PTT dari tingkat pusat hingga daerah perlu ditingkatkan. Pada saat ini persepsi tentang pelaksanaan SL PTT belum sama, sehingga menimbulkan tafsiran, kebijaksanaan dan implementasi yang beragam. Untuk meningkatkan pemahaman dan menyamakan persepsi, maka BPTP Bengkulu berinisiatif untuk melakukan sosialisasi program strategis kementerian pertanian (PUAP, SLPTT, PSDS dan pengembangan kawasan agribisnis hortkultura). Salah satu hasil dari pertemuan di Bogor pada tanggal 11 -12 Maret 2010 adalah Lokasi uji adaptasi VUB dapat dilakukan di lokasi LL sehingga total luas LL menjadi 1,25 ha atau tetap 1 ha sedangkan benih BLBU yang tersedia untuk LL sebanyak 0,25 ha ditambahkan ke lokasi di luar LL, dalam SL-PTT yang sama. Berkaitan dengan hal tersebut, Ditjentan mengirimkan surat kedinas-dinas di tiap provinsi yang berisi tentang alternatif penempatan uji adaptasi VUB oleh BPTP.
Secara umum dapat dinyatakan bahwa hasil koordinasi dan raker di tingkat pusat belum seluruhnya dapat diimplementasikan dan dioperasikan dengan baik di tingkat lapangan. Di tingkat lapangan banyak ditemukan permasalahan-permasalahan yang spesifik dan komplek. Hal ini berdampak juga terhadap kinerja pendampingan SL PTT yang dilakukan oleh BPTP Bengkulu.
23 Penyediaan Informasi Teknologi, Alat dan Bahan Pendukung
Ketersediaan bahan informasi, alat dan bahan pendukung kegiatan pendampingan SL PTT sangat penting. Bahan informasi diperlukan oleh penyuluh maupun petani dalam rangka meningkatkan dan mempercepat pemahaman tentang SL PTT. Pemahaman yang benar dapat memotivasi penyuluh dan petani untuk melaksanakan SL PTT dengan baik dan benar. Harapan selanjutnya adalah terjadinya adopsi dan difusi inovasi pertanian.
Bahan informasi dan alat serta saprodi lainnya harus tepat waktu agar sasaran kegiatan dapat dicapai. Menyiapkan bahan khususnya benih VUB tepat waktu sangat penting, namun permasalahannya cukup komplek. Permasalahan yang sering terjadi adalah terjadinya perubahan jadwal tanam, dan musim tanam antar wilayah (kecamatan dan kabupaten) sangat beragam. Masa berlakunya label terbatas, hal ini juga merupakan permasalahn tersendiri dalam penyiapan benih. Jika benih terlambat maka, petani tidak mau menunggu dan tetap menggunakan benih asalan. Sebaliknya jika benihnya terlalu awal pengirimannya juga repot, karena benihnya akan expired dan daya kecambah/mutunya menurun.
Benih padi untuk lahan sawah irigasi telah sampai pada tanggal 25 April 2010, untuk antisipasi penanaman pada bulan Mei 2010. Benih dikirim sudah cukup awal, namun demikian sudah ada 2 kabupaten yaitu Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko yang terlebih dahulu menyebar benih, yaitu di awal bulan April. Disisi lain kabupaten lainnya baru mulai tanam pada bulan Juli 2010. Rentang waktu yang luas juga menjadi persoalan yang serius.
Benih padi hibrida dan Jagung tidak dapat direalisasikan karena CPCL dan jadwal tanam yang belum jelas. Hal ini di perparah oleh belum tersediannya benih padi hibrida dan jagung hibrida dari balit komoditas. Ketersediaan benih yang tidak tepat sangat mengganggu kinerja pendampingan.
Sosialisasi, pelatihan dan apresiasi pendampingan SL PTT
Sosialisasi. Sosialisasi SL PTT dilaksanakan sebagai tindak lanjut rakor di Bogor. Sosialisasi dilakukan pada bulan April – Mei 2010 di Kabupaten Kaur, Bengkulu Selatan Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah, Seluma dan Kota Bengkulu. BPTP Bengkulu berharap uji/display varietas berada di dalam LL atau setidaknya di dalam lokasi SL PTT. Semula Kabupaten Kaur, Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, dan Seluma sudah sepakat (pada acara sosialisasi SL PTT yang dilakukan oleh BPTP Bengkulu) untuk menempatkan uji VUB di lokasi LL, tetapi kondisinya jadi berubah setelah dilakukan pertemuan dengan Dinas pertanian Provinsi pada tanggal 19 dan 20 Mei 2010. Seluruh Dinas
24 Pertanian Kabupaten di seluruh Provinsi Bengkulu sepakat bahwa display VUB oleh BPTP/Badan Litbang Pertanian dilaksanakan di luar kawasan SL PTT.
Guna mempertahankan capaian swasembada beras dan jagung serta menuju swasembada kedelai dan meningkatkan produksi kacang tanah, upaya peningkatan produksi melalui Sekolah Lapang PTT pelaksanaannya perlu terus disempurnakan dengan lebih memberdayakan LL sebagai lokasi inovasi teknologi baru dan penyuluh lapangan untuk meningkatkan adopsi teknologi spesifik lokasi. Fokus pendampingan atau pengawalan SL-PTT sesuai penugasan Kepala Badan Litbang Pertanian adalah : (a) membantu daerah dalam penerapan teknologi spesifik lokasi, (b) membantu pemecahan masalah penerapan teknologi spesifik lokasi, (c) memperkenalkan teknologi baru (varietas unggul baru) dan (d) menyediakan narasumber teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa pendampingan oleh BPTP akan lebih efektif dan mengenai sasaran jika pelaksanaan display VUB berada di dalam unit LL atau minimal di dalam kawasan SL. Pada kenyataannya, di Bengkulu pelaksanaan display varietas oleh BPTP tidak berada di dalam kawasan SL PTT. Dalam kondisi seperti ini berarti masing-masing institusi bekerja sendiri-sendiri, sehingga sinergisme program belum berjalan secara optimal.
Di daerah masih banyak keraguan dalam menterjemahkan dan menelaah isi dari petunjuk pelaksanaan ataupun panduan pelaksanaan SL PTT. Sebagai contoh adalah luas kawasan dalam 1 unit SL PTT padi sawah ditetapkan 25 ha, sedangkan pada kondisi normal, untuk wilayah Bengkulu, kebanyakan tiap kelompok tani hanya mempunyai luasan yang kurang dari 25 ha. Untuk itu diharapkan agar dalam penyusunan petunjuk pelaksanaan lebih fleksibel, sehingga angka/kuantitatifnya dinyatakan dalam bentuk kisaran/range, misalnya 20 - 25 ha. Hal ini dimaksudkan agar data yang disampaikan benar-benar valid dan tidak direkayasa. Tidaklah mungkin dalam satu kelompok mempunyai hamparan yang sama/seragam secara keseluruhan yaitu 25 ha.
Nara sumber pelatihan. Pendampingan yang dilakukan oleh BPTP Bengkulu meliputi kegiatan koordinasi dan peningkatan kapasitas sumberdaya manusia (SDM) baik untuk pemandu lapang di tingkat kabupaten/kecamatan dan juga kepada petani. Bentuk peningkatan SDM dilakukan secara teori dan praktek ataupun kombinasi dari keduanya. Kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan peningkatan SDM (petani dan petugas) diantaranya adalah pelatihan/apresiasi, pelatihan PL II dan III (sebagai narasumber), pencetakan dan pendistribusian bahan informasi teknologi yang berupa buku saku, panduan
25 teknologi SL PTT Padi, dan leaflet SL PTT padi, demonstrasi plot varietas unggul baru (VUB) dan display VUB. Bahan atau materi baik yang dipresentasikan/disampaikan secara langsung maupun melalui media cetak disesuaikan dengan kebutuhan penyuluh/pemandu lapangan dan petani. Bahan yang disampaikan harus dapat memberikan pencerahan baik dari aspek budidaya, paska panen maupun kelembagaan. Adapun permasalahan yang dihadapi dalam penerapan PTT padi dan jagung diantaranya adalah:
1. Penerapan paket teknologi budidaya yang dilaksanakan belum sesuai spesifik lokasi. 2. Varietas yang digunakan hanya berdasarkan keinginan/kebiasaan petani.
3. Petani sudah merasa puas atas produksi yang dihasilkan melalui SL-PTT padahal produksi tersebut masih bisa ditingkatkan karena masih ada komponen teknologi yang belum diterapkan.
4. Kemampuan keuangan petani yang tidak sama, sehingga penerapan teknologinya bervariasi antara petani.
5. Pengetahuan dan keterampilan para penyuluh dalam pemanduan SL-PTT masih lemah. Pemahaman terhadap PTT di dilingkup penyuluh masih kurang.
6. Jumlah kelompoktani relatif banyak sedangkan petugas pembina/pendamping relatif terbatas.
7. Pemahaman tentang maksud dan tujuan SL-PTT oleh aparat tingkat kabupaten/kecamatan masih perlu ditingkatkan.
Untuk meningkatkan pengetahuan dan pemanduan penyuluh dalam pemanduan SL PTT maka dilakukan apresiasi dan juga pendistribusian buku panduan SL PTT padi, buku saku, dan leaflet yang berkaitan dengan SL PTT. Buku panduan memuat komponen teknologi PTT secara lengkap dan detail, sedangkan buku saku mengulas komponen teknologi PTT padi sawah secara praktis.
Dalam kegiatan apresiasi dijelaskan tentang filosofi, prinsip dasar, dan komponen teknologi PTT. Disamping itu juga diajarkan tentang cara pengambilan sample untuk pengamatan komponen pertumbuhan, komponen hasil dan cara pengubinan. Hal ini dilakukan agar pengetahuan dan ketrampilan para penyuluh dilapangan dapat di upgrade melalui pembelajaran yang bersifat teori, praktek, maupun gabungan antara keduanya. Dalam kegiatan ini juga dijelaskan komponen hasil yang harus dikumpulkan. Data sangat penting perannya dan tidak boleh diabaikan agar laporan dapat disusun dengan baik.
26 Distribusi, display dan demplot VUB
Salah satu tujuan dari display varietas adalah untuk memperkenalkan dan sekaligus menyebarluaskan VUB release terbaru produk Badan Litbang Pertanian (BB Padi Sukamandi) dalam upaya untuk mengurangi dominansi dari varietas IR 64 dan Ciherang. Varietas yang didisplay adalah Inpari 1, 3, 4, 6, 10, 13 serta Silugonggo.
Idealnya display varietas berada di lokasi LL, sehingga masing-masing varietas mendapatkan perlakuan yang sama dan diharapkan dapat menampilkan potensi hasil yang maksimum. Hasil kajian menunjukkan bahwa petani akan mengadopsi teknologi jika mereka dapat melihat dan mendapatkan bukti secara langsung bahwa teknologi yag diintroduksikan mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh petani. Teknologi akan diterima oleh petani jika teknologi itu secara ekonomis menguntungkan, secara teknis dapat dilaksanakan, dan tidak bertentangan dengan sosial budaya masyarakat tani setempat.
Hasil dari display varietas tidak dapat dibandingkan secara fair (adil) terhadap hasil yang dicapai pada lokasi LL. Hal ini dikarenakan display varietas dilaksanakan oleh petani di luar SL, yang tentu saja input produksi yang diberikan sebatas kemampuan petani. Idealnya display varietas berada di dalam lokasi LL, sehingga peserta SL PTT dapat melihat dan membandingkan VUB release terbaru dengan varietas yang mereka tanam di kawasan SL. Jika ternyata ada VUB release terbaru yang memberikan produktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan varietas yang ditanam oleh kebanyakan petani, maka ada harapan VUB release terbaru diadopsi secara luas oleh petani.
Distribusi dan pelaksanaan demplot agak lambat karena berbagai alasan teknis dan non teknis. Banyak lokasi yang pelaksanaannya dimusim tanam ke dua, karena petani sudah tanam pertama pada bulan April/Mei.
Hasil demplot VUB dari berbagai Kabupaten menunjukkan bahwa produktivitas dari VUB yang diintroduksikan cukup beragam, mulai dari 3 – 8 t GKP/ha. Secara umum petani memilih varietas berdasarkan ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit serta produktivitasnya. Varietas INPARI 1 dan Silugonggo kurang diminati oleh petani karena rentan terhadap serangan hama dan penyakit serta produktivitasnya yang relatif rendah. Petani di Bengkulu umumnya berminat terhadap varietas INPARI 3, 4 dan Inpari 13.
27 V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Pendampingan secara langsung (kegiatan lapangan) baru mencapai 83 % dan masih perlu dioptimalkan, sedangkan pendampingan secara tidak langsung (sosialisasi, bahan informasi, pelatihan dan apresiasi) sudah optimal.
2. Koordinasi antar institusi di pusat dan daerah cukup intensif tetapi belum ada sinergi pada tingkat implementasi.
3. Penggunaan VUB (INPARI 3, 4, dan 13), penanaman bibit muda dan pengaturan populasi tanaman merupakan komponen teknologi yang cepat diadopsi oleh petani.
4. Pendekatan PTT dengan varietas INPARI 3, 4 dan 13 mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani pada kisaran 25 - 40%.
5. INPARI 3, 4 dan 13 mempunyai produktivitas yang tinggi (7 – 8 t GKP/ha) dan berpotensii untuk dikembangkan di Bengkulu dalam upaya menggeser dominansi varietas IR 64 dan Ciherang.
5.2 Saran
1. Koordinasi dan persamaan persepsi tentang filosofi pelaksanaan SL PTT dari tingkat pusat hingga daerah perlu ditingkatkan agar tidak menimbulkan tafsiran, kebijaksanaan dan implementasi yang beragam.
2. Pelaksanaan SL-PTT padi perlu dievaluasi dan dimodifikasi dalam pelaksanaannya sehingga bisa meningkatkan kemandirian petani.
3. Kegiatan SL PTT dilaksanakan secara terintegrasi dan bersinergi dari semua pihak pelaksana SL PTT dari tingkat Pusat sampai ke daerah.
4. Diperlukan analisis dampak dari pelaksanaan program SL PTT dalam peningkatan produktivitas, produksi dan pendapatan petani.
5. Mekanisme dan strategi pendampingan SL PTT perlu diperbaiki agar tujuan dan sasaran pendampingan tercapai sesuai dengan target yang direncanakan.
28 VI. KINERJA HASIL
SL-PTT adalah program strategis Kemtan untuk mencapai swasembada beras lestari dan bahkan menjadi ekportir beras pada tahun 2020. Pendampingan merupakan salah satu aspek penting dalam mensukseskan program SL-PTT. Pendampingan yang holistik, bersinergi, terkoordinir, terfokus dan terukur sangat diharapkan oleh semua pihak dalam mengakselerasi pencapaian dari sasaran yang telah ditetapkan.
Pencapaian dari pendampingan SL-PTT diantaranya adalah: 1) Introduksi dan distribusi 6 VUB padi sawah sejumlah 3.600 kg ke 10 Kabupaten/Kota di Provinsi Bengkulu dan 526 Kg VUB padi lahan kering. 2) Menjadi Nara sumber dalam pelatihan PL II ditingkat Provinsi Bengkulu dan pelatihan PL III di 10 kabupaten/kota. 3) Melaksanakan apresiasi SL PTT bagi penyuluh dan petani SL PTT untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan (800 Orang). 4) Pelaksanaan demplot VUB dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani secara nyata (> 15%). 5) Ditemukan VUB (INPARI 4 dan INPARI 13) yang mempunyai adaptasi yang baik (produktivitas 6 – 8 t GKP/ha) dan diminati oleh petani di Bengkulu.
Pendampingan secara langsung (display VUB) belum optimal dan diperlukan strategi baru untuk mencapai target yang telah ditentukan. Lemahnya koordinasi antar stakeholders pelaksana, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan dana, serta lokasi pelaksanaan (di luar hamparan/lokasi SL PTT) menjadi faktor penghambat pencapaian target yang telah ditetapkan. Agar pendampingan lebih efektif dan efisien serta optimal maka untuk perbaikannya disarankan hal-hal sebagai berikut: 1) Kegiatan SL PTT dilaksanakan secara terintegrasi dan bersinergi dari semua pihak pelaksana SL PTT dari tingkat Pusat sampai ke daerah; 2) Diperlukan analisis dampak dari pelaksanaan program SL PTT dalam peningkatan produktivitas, produksi dan pendapatan petani; 3) Mekanisme dan strategi pendampingan SL PTT perlu diperbaiki agar tujuan dan sasaran pendampingan tercapai sesuai dengan target yang direncanakan.
29 DAFTAR PUSTAKA
Badan Litbang Pertanian. 2005. Kumpulan Teknologi Unggulan pendukung PRIMA TANI. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. 75 p.
Balasubramaniam V., Rajendran, R., Ravi, V dan Las, I. 2006. Integrated Crop Management (ICM): Field Evaluation and Lesson Learn. In Rice Industry, Culture, and Environment. ICCR, ICFORD, IAARD. Jakarta.
BPS Provinsi Bengkulu. 2007. Provinsi Bengkulu dalam Angka. Bappeda dan BPS Provinsi Bengkulu. Bengkulu 402 p.
Damardjati, J.S. 2006. Learning from Indonesian Experiences in Achieve Rice Self Sufficientcy. In Rice Industry, Culture, and Environment. ICCR, ICFORD, IAARD. Jakarta.
Ditjen Tanaman Pangan. 2008. Pedoman Umum: Peningkatan Produksi dan Produktivitas Padi, Jagung, dan Kedelai melalui pelaksanaan SL-PTT. Ditjen Tanaman Pangan. Jakarta. 72 p.
Ditjen Tanaman Pangan. 2010. Pedoman Pelaksanaan: SL-PTT Padi, Jagung, Kedelai dan Kacang tanah. Ditjen Tanaman Pangan. Jakarta. 123 p.
Fagi A.M. 2006. Penelitian Padi Menuju Revolusi Hijau Lestari. Balai Penelitian Padi, sukamandi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian, Jakarta. 68 Hal.
Kustiyanto. 2001. Kriteria seleksi untuk sifat toleran cekaman lingkungan biotik dan abiotik. Makalah Penelitian dan Koordinasi pemuliaan Partisipatif (Shuttle Breeding) dan Uji Multilokasi. Sukamandi.
Puslitbangtan, 2009. Petunjuk Pelaksanaan Pendampingan SL-PTT. Kerjasama Puslitbangtan, BBP2TP, BPTP Jawa Barat dan BPTP Bali. 20 p.
Rubiyo, Suprapto, dan Aan Drajat. 2005. Evluasi beberapa galur harapan padi sawah di Bali. Buletin Plasma Nutfah. Vol 11. No 1:6-10.
Sembiring, H. dan Abdulrahman, H. 2008. Filosofi dan Dinamika Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah. BB Penelitian Padi sawah. Sukamandi.
Simatupang, P., 2001. Anatomi Masalah Produksi Beras Nasional dan Upaya Mengatasinya. Prosiding Perspektif Pembangunan Pertanian dan Kehutanan Tahun 2001 Ke Depan. Buku I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Balitbangtan. Hal. 119-146.
30 Lampiran 1. Lokasi pelaksanaan SL-PTT padi dan jagung di Provinsi Bengkulu tahun 2010.
No. Kabupaten/Kota Padi inhibrida Padi hibrida Padi Lahan kering Jagung Hibrida Luas
(ha) Sasaran (Unit) Luas (ha) Sasaran (Unit) Luas (ha) Sasaran (Unit) Luas (ha) Sasaran (Unit)
1 Bengkulu Selatan 3.900 156 100 10 - - - - 2 Bengkulu Utara 5.000 200 300 30 1.000 40 300 20 3 Rejang Lebong 4.000 160 300 30 500 20 600 40 4 Kaur 2.600 104 - - 500 20 - - 5 Seluma 5.500 220 300 30 - - 495 33 6 Muko muko 3.200 128 - - 1.000 40 375 25 7 Lebong 2.800 112 200 20 - - - - 8 Kepahiang 1.500 60 - - - - 300 20 9 Bengkulu Tengah 1.000 40 - - - - 10 Kota Bengkulu 500 20 300 30 - - - - Jumlah 30.000 1.200 1.500 150 3.000 120 2.070 138
31 Lampiran 2. Sebaran pendampingan SL PTT padi dan jagung (60%, 965 unit) tahun 2010.
Unit pendampingan
No. Kabupaten / Kota Padi Non Hibrida Hibrida Padi Padi Gogo Jagung
1. Bengkulu Utara 120 15 25 11 2. Bengkulu Selatan 93 10 0 0 3. Rejang Lebong 96 15 27 24 4. Kaur 62 0 20 0 5. Seluma 132 0 0 28 6. Mukomuko 77 0 0 20 7. Lebong 67 20 0 0 8. Kepahyang 36 0 0 0 9. Bengkulu 24 0 0 0 10. Kota Bengkulu 13 30 0 0 Jumlah 720 90 72 83
32 Lampiran 3. Data CPCL SL PTT Padi dan Jagung di Provinsi Bengkulu.
a. Padi Inhibrida
No Kabupaten/Kota Kecamatan Desa Varietas Nama Kelompok
Tani
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 BENGKULU UTARA Air Besi 1 Tj Agung IR-64 1 Harapan Maju I
BENGKULU UTARA Air Besi IR-64 2 Harapan Maju II
BENGKULU UTARA Air Besi IR-64 3 Seta Budi
BENGKULU UTARA Air Besi IR-64 4 Banyu Palik
BENGKULU UTARA Air Besi IR-64 5 Air Kotok
BENGKULU UTARA Air Besi IR-64 6 Bina Karya
BENGKULU UTARA Air Besi IR-64 7 Setia Bersama
BENGKULU UTARA Air Besi 2 Tl Pungguk Ciherang 8 Pajar Subur
BENGKULU UTARA Air Besi Ciherang 9 Pungguk Hijau
BENGKULU UTARA Air Besi 3 Kertapati Ciherang 10 Harapan Maju
BENGKULU UTARA Air Besi 4 Penyangkak Ciherang 11 Serumpun
BENGKULU UTARA Air Besi 5 Tl Lembak Ciherang 12 Tl Sari Rejeki
BENGKULU UTARA Air Besi Ciherang 13 Liring Indah
BENGKULU UTARA Air Besi 6 Kota Agung Ciherang 14 Harapan Maju I
BENGKULU UTARA Air Besi 7 Tj Karet Ciherang 15 Air Buan
BENGKULU UTARA Air Besi 8 Tl Renah Ciherang 16 Bina Tani
BENGKULU UTARA Kerkap 1 Air Baus II Semeru 17 Sri Kencana
BENGKULU UTARA Kerkap IR-64 18 Karya Mukti II
BENGKULU UTARA Kerkap 2 Batu Raja Kol IR-64 19 Sri Rejeki
BENGKULU UTARA Kerkap 3 Penyangkak Ciherang 20 Pematang Sari
BENGKULU UTARA Kerkap 4 Air Bani Ciherang 21 Sri Rahayu
BENGKULU UTARA Kerkap 5 Sumber Rejo Ciliwung 22 Cinta Tani
BENGKULU UTARA Kerkap IR-64 23 Dwi Karya I
BENGKULU UTARA Kerkap Ciliwung 24 Dwi Karya II
BENGKULU UTARA Kerkap 6 Alun II IR-64 25 Cinta Sepakat
33
BENGKULU UTARA Kerkap IR-64 27 Batu Agung
BENGKULU UTARA Kerkap IR-64 28 Sama Makmur
BENGKULU UTARA Kerkap IR-64 29 Suka Damai
BENGKULU UTARA Kerkap 8 Pd Bendar Ciliwung 30 Telaga Biru
BENGKULU UTARA Kerkap IR-64 31 Renah Nakai
BENGKULU UTARA Kerkap 9 Batu Roro Ciliwung 32 Sumber Makmur II
BENGKULU UTARA Kerkap IR-64 33 Karya Tani Makmur
BENGKULU UTARA Kerkap 10 Air Baus I IR-64 34 Harapan jaya
BENGKULU UTARA Kerkap 11 Tl Rendah Ciliwung 35 Maju Bersama
BENGKULU UTARA Kerkap 12 Lb Duarian IR-64 36 Durian Serumpun
BENGKULU UTARA Batik Nau 1 Samban Jaya Ciherang 37 Anugrah
BENGKULU UTARA Batik Nau Ciherang 38 Sejahtera
BENGKULU UTARA Batik Nau Ciherang 39 Sari Bukit
BENGKULU UTARA Padang Jaya 1 Marga Sakti IR-64 40 Harapan Maju
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 41 Sri Rejeki II
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 42 Dwi Tunggal
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 43 Rukun Tani I
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 44 Setia Usaha
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 45 Sido Rukun
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 46 Karya Tani A
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 47 Harapan
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 48 Gemah Ripah
BENGKULU UTARA Padang Jaya 2 Tambak Rejo IR-64 49 Sumber Makmur
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 50 Mina Utama
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 51 Ciung Wanara
BENGKULU UTARA Padang Jaya 3 Tj Harapan IR-64 52 Sinar Mulya
BENGKULU UTARA Padang Jaya 4 Padang Jaya IR-64 53 Rukun Tani
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 54 Sumber Tani
BENGKULU UTARA Padang Jaya 5 Arga Mulya IR-64 55 Rukun Jaya II
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 56 Rukun Jaya IV B
BENGKULU UTARA Padang Jaya 6 Sido Mukti IR-64 57 Kuripan
34
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 59 Rukun Jaya I
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 60 Mekar Jaya
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 61 Utama I
BENGKULU UTARA Padang Jaya IR-64 62 Sumber Rejeki
BENGKULU UTARA Padang Jaya 7 Tanah Hitam IR-64 63 Sido Makmur
BENGKULU UTARA Giri Mulya 1 Suka Makmur IR 48 64 Ngudi Lestari
BENGKULU UTARA Giri Mulya IR 48 65 Maju I
BENGKULU UTARA Arga Makmur 1 Sido Urip 66 Panca Usaha III A
BENGKULU UTARA Arga Makmur 67 Panca Usaha III B
BENGKULU UTARA Arga Makmur 68 Panca Usaha I C
BENGKULU UTARA Arga Makmur 69 Panca Usaha I A
BENGKULU UTARA Arga Makmur 70 Ikhtiar Harapan
BENGKULU UTARA Arga Makmur 71 Panca Usaha II
BENGKULU UTARA Arga Makmur 72 Karya Mandiri
BENGKULU UTARA Arga Makmur 73 Panca Usaha I B
BENGKULU UTARA Arga Makmur 2 Gunung Selan 74 Bina Usaha
BENGKULU UTARA Arga Makmur 75 Talang Tetanggo
BENGKULU UTARA Arga Makmur 76 Harapan Maj
BENGKULU UTARA Arga Makmur 3 Sumber Agung 77 Puspa Sari
BENGKULU UTARA Arga Makmur 78 Tri Sepakat
BENGKULU UTARA Arga Makmur 79 Sri Begawat I
BENGKULU UTARA Arga Makmur 80 Tirta Utama
BENGKULU UTARA Arga Makmur 4 Arga Makmur 81 Tanjung Nokal
BENGKULU UTARA Arga Makmur 5 Kubuk Saung 82 Standar Jaya II
BENGKULU UTARA Arga Makmur 6 Tj Raman 83 Harapan Jauwa
BENGKULU UTARA Arga Makmur 84 Harapan
BENGKULU UTARA Arga Makmur 7 Aunung Agung 85 Harapan Makmur
BENGKULU UTARA Arga Makmur 8 Karang Anyar II 86 Tunas Jaya
BENGKULU UTARA Arga Makmur 9 Karang Anyar 87 Sumber Harapan
BENGKULU UTARA Arga Makmur 10 Sidodadi 88 Tirto Tidaknbenih
BENGKULU UTARA Arga Makmur 89 Sinar Baru