• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DATA PERANCANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III DATA PERANCANGAN"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

DATA PERANCANGAN

3.1 Sejarah Kota Jakarta

Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai. Pengetahuan awal mengenai Jakarta terkumpul sedikit melalui berbagai prasasti yang ditemukan di kawasan bandar tersebut. Keterangan mengenai kota Jakarta sampai dengan awal kedatangan para penjelajah Eropa dapat dikatakan sangat sedikit.

Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bernama Kalapa, yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda, beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dekat dengan kota Bogor sekarang. Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa. Fatahillah mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Orang-orang Belanda datang pada akhir abad ke-16 dan kemudian menguasai Jayakarta.

Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lilngkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden.

(2)

Semangat nasionalisme Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal abad ke-20.

Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu itu Sumpah Pemuda berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan : Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia diubah lagi menjadi Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun 1949. Pada saat itu juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Hal ini mendorong laju pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintah dan kedutaan negara sahabat. Perkembangan yang cepat memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan kota Jakarta. Sejak tahun 1966, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis merupakan sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan terkemuka pada abad ke-21.

Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran.22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956).

4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia.

1 April 1905 berubah nama menjadi ‘Gemeente Batavia’.

8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.

8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi. September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.

(3)

20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan. Pre Federal berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.

24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praj’a Jakarta.

18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja Djakarta Raya.

Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.

31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.

Tahun1999, melalaui uu no 34 tahun 1999 tentang pemerintah provinsi daerah khusus ibukota negara republik Indonesia Jakarta, sebutan pemerintah daerah berubah menjadi pemerintah provinsi dki Jakarta, dengan otoniminya tetap berada ditingkat provinsi dan bukan pada wilyah kota, selain itu wiolyah dki Jakarta dibagi menjadi 6 ( 5 wilayah kotamadya dan satu kabupaten administrative kepulauan seribu).

3.1.1 Tempat menarik di Jakarta

Data Perancangan Photobook ini penulis ambil dari beberapa segi yang ada di Jakarta, seperti terdiri dari 2. Yaitu Tradisi dan Urban:

Tradisi :  Budaya  Kesenian  Sejarah Urban/lifestyle :  Hiburan  Tempat rekreasi  Shoping centre  Event

(4)

Dari tempat tersebut di kelompokkan menjadi beberapa bagian yaitu : a. Budaya : setu babakan

b. Wisata : Dufan, Taman Mini, Ragunan, Taman Suropati c. Shoping centre : Grand Indonesia

d. Event : event nasional dan Internasional

3.2 Data Fotografi

3.2.1 Sejarah Fotografi

Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu "photos" : Cahaya dan "Grafo" : Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.

Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).

Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (exposure).

Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semula digunakan berkembang menjadi Digital ISO.

(5)

Menurut sejarah, fotografi sudah muncul jauh-jauh sebelum masehi. Dalam buku The History of Photography karya Alma Davenport, terbitan University of New Mexico Press tahun 1991, disebutkan bahwa pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM). Dijelaskan jika seorang pria yang bernama Mo Ti menemukan sebuah fenomena ketika dinding ruangan yang gelap terdapat pinhole atau semacam lubang kecil. Dari lubang kecil tersebut akan tereflesikan pemandangan luar secara terbalik. Fenomena ini dikenal dengan fenomena camera obsura yang menjadi kamera yang pertama kali dipakai untuk menggambar dan memotret.

Secara artian fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Fotografi biasanya mengunakan kamera. Dari dulu hingga hari ini, perkembangan kamera sudah mengalami perkembangan yang pesat. Mulai dari zaman kamera obsura hingga zaman digital yang berkembang hari ini.

Foto Heliografi adalah alat pertama kali yang ditemukan dalam dunai fotografi. Tahun, 1826, Joseph Nicephore yang pertama kali menemukan foto heliografi. William Henry Fox Talbot menemukan proses positif/negatif yang disebut Tabotype. Tidak ketinggalan juga Andre Adolphe Eugene Disderi memperkenalkan rotating camera yang dapat merekam delapan citra berbeda dalam satu film. Setelah hasilnya dicetak di atas kertas albumen, citra tersebut dipotong menjadi delapan bagian terpisah dan direkatkan pada lembaran kartu. Kartu ini menjadi inspirasi penyebutan visiting card. Lantas tahun 1902, Arthur Korn membuat teknologi phototelegraphy yang mengubah citra menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui kabel.

Wire-Photos digunakan luas di daratan Eropa pada tahun 1910 dan transmisi antarbenua

dimulai sejak 1922. Sedangkan penggunaan Vest Pocket Kodak menggunakan 127 film ditemukan pada tahun 1912. Sedangkan negatif film pertama kali ditemukan oleh John Hendri Fox Talbot dari inggris. Negatif film tersebut di buat selama 40 detik dibawah terik matahari.

Selanjutnya, dunia fotografi seakan mendapat angin. Tahun 1920, Yasujiro Niwa menemukan peralatan untuk transmisi phototelegraphic melalui gelombang radio. Tiga tahun setelah itu, Doc Harold Edgerton menemukan xenon flash lamp dan

(6)

strobe photography. Sedangkan tayangan berwarna Tayangan berwarna pertama dari Technicolor bertajuk Flowers and Trees dibuat oleh Disney pada tahun 1932. Sedangkan tahun 1936, Ihagee membuat Ihagee Kine Exakta 1. Kamera SLR 35mm yang pertama. Agfacolor membuat print film modern yang pertama dengan materi warna positif/negatif ditemukan tiga tahun berikutnya.

Kamera pun mengalami pekembangan teknologi. Citra digital ditemukan baru tahun 1957. Citra digital ini ditemukan oleh Russell Kirsh dengan menggunakan komputer. Sedangkan, AGFA memperkenalkan kamera otomatis yang pertama, Optima pada tahun 1959. Bahkan hingga sekarang, jenis kamera pun sudah banyak yang ditemukan. Hingga hari ini, jenis kamera pun beragam, mulai dari merek, kualitas pengambilan gambar, hasil dengan berbagai merek dan bentuk. Tinggal pilih saja, sesuai dengan saku dan kebutuhan. Bahkan juga sekarang kita sering mengenal kamera dengan jenis digital dan analog.

Perbedaannya, kamera digital merekam dengan piksel sedangkan kamera analog merekam dengan film negatif berwarna, slide film negatif dan slide hitam putih. Perbedaan lainnya adalah kamera analog sudah hampir mampu menangkap seluruh warna yang dipantulkan oleh matahari dan kamera analog juga cukup sensitive. Sedangkan kamera digital belum mampu menangkap semua warna yang dipantulkan oleh matahari namun warna yang dihasilkan lebih kontras. Kamera digital juga kurang sensitif.

(7)

3.2.2 Peralatan Fotografi

Peralatan-peralatan di hasilkan untuk saling mendukung dalam menghasilkan foto yang baik.

1. Kamera

Gambar 3. 1 Camera DSLR canon 60D

Kata photography berasal dari kata photo yang berarti cahaya dan graph yang berarti gambar. Jadi photography bisa diartikan

menggambar/melukisdengancahaya.

Jenis-jenis kamera

a) Kamera film, sekarang juga disebut dengan kamera analog oleh beberapa orang.

(8)

Format film

Sebelum kita melangkah ke jenis-jenis kamera film ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu berbagai macam format/ukuran film.

1. APS, Advanced Photography System. Format kecil dengan ukuran film 16x24mm, dikemas dalam cartridge. Meski format ini tergolong baru, namun tidak populer. Toko yang menjual film jenis ini susah dicari di Indonesia

2. Format 135. Dikenal juga dengan film 35mm. Mempunyai ukuran 24x36mm, dikemas dalam bentuk cartridge berisi 20 atau 36 frame. Format ini adalah format yang paling populer, banyak kita temui di sekitar kita

3. Medium format 4. Large format

Jenis Film

1. Film B/W, film negatif hitam putih

2. Film negatif warna. Paling populer, sering kita pakai

3. Film positif, biasa juga disebut slide. Lebih mahal dan rawan

overexposure. Meski demikian warna-warna yang dihasilkan lebih bagus karena dapat menangkap rentang kontras yang lebih luas

Jenis-jenis kamera Film

1. Pocket/compact. Kamera saku. Populer bagi orang awam, sederhana dan mudah dioperasikan. Menggunakan film format 35mm

2. Rangefinder. Kamera pencari jarak. Kecil, sekilas mirip dengan kamera saku. Bedanya, kamera ini mempunyai mekanisme fokusing (karenanya disebut rangefinder). Umumnya menggunakan film format 35mm

3. SLR, Single Lens Reflex. Kamera refleks lensa tunggal. Populer di kalangan profesional, amatir dan hobiis. Umumnya mempunyai lensa yang dapat diganti. Menggunakan film format 35mm. Disebut juga kamera sistem

(9)

menggunakan format medium

5. Viewfinder. Biasanya menggunakan format medium

Kamera manual dan kamera otomatis. Kamera-kamera SLR terbaru umumnya sudah dilengkapi sistem autofokus dan autoexposure namun masih dapat dioperasikan secara manual.

b ) Kamera digital

Menggunakan sensor digital sebagai pengganti film

1. Consumer. Kamera saku, murah, mudah pemakaiannya. Lensa tak dapat diganti. Sebagian besar hanya punya mode full-otomatis. Just point and shoot. Beberapa, seperti Canon seri A, memiliki mode manual. 2. Prosumer. Kamera SLR-like, harga menengah. Lensa tak dapat diganti. Shooting Mode manual dan auto

(10)

2. Lensa

Gambar 3.2 Lensa kit dan Tele kamera SLR

Lensa Kamera

mata dari kamera, secara umum menentukan kualitas foto yang dihasilkan lensa memiliki 2 properties penting yaitu panjang fokal dan aperture maksimum.

Field of View (FOV)

tiap lensa memiliki FOV yang lebarnya tergantung dari panjang fokalnya dan luas film/sensor yang digunakan.

Field of View Crop

sering disebut secara salah kaprah dengan focal length multiplier. Hampir semua kamera digital memiliki ukuran sensor yang lebih kecil daripada film 35mm, maka pada field of view kamera digital lebih kecil dari pada

(11)

kamera 35mm. Misal lensa 50 mm pada Nikon D70 memiliki FOV yang sama dengan lensa 75mm pada kamera film 35mm (FOV crop factor 1.5x)

Jenis-jenis Lensa

a. berdasarkan prime-vario

1. Fixed focal/Prime, memiliki panjang fokal tetap, misal Fujinon 35mm F/3.5 memiliki panjang fokal 35 mm. Lensa prime kurang fleksibel, namun kualitasnya lebih tinggi daripada lensa zoom pada harga yang sama 2. Zoom/Vario, memiliki panjang fokal yang dapat diubah, misal Canon EF-S 18-55mm F/3.5-5.6 memiliki panjang fokal yang dapat diubah dari 18 mm sampai 55 mm. Fleksibel karena panjang fokalnya yang dapat diatur

b. berdasarkan panjang focal

1. Wide, lensa dengan FOV lebar, panjang fokal 35 mm atau kurang. Biasanya digunakan untuk memotret pemandangan dan gedung 2. Normal, panjang fokal sekitar 50 mm. Lensa serbaguna, cepat dan harganya murah

3. Tele, lensa dengan FOV sempit, panjang fokal 70mm atau lebih. Untuk memotret dari jarak jauh

c. berdasarkan aperture maksimumnya

1. Cepat, memiliki aperture maksimum yang lebar 2. Lambat, memiliki aperture maksimum sempit

d. lensa-lensa khusus

1. Lensa Makro, digunakan untuk memotret dari jarak dekat 2. Lensa Tilt and Shift, bisa dibengkokan

Ketentuan lensa lebar/tele (berdasarkan panjang focal) di atas berlaku untuk kamera film 35mm. Lensa Nikkor 50 mm menjadi lensa normal

(12)

pada kamera film 35mm, tapi menjadi lensa tele jika digunakan pada kamera digital Nikon D70. Pada Nikon D70 FOV Nikkor 50 mm setara dengan FOV lensa 75 mm pada kamera film 35mm

3. Peralatan Bantu Lain Peralatan bantu lain

- Tripod , diperlukan untuk pemotretan dengan kecepatan lambat. Pada kecepatan lambat, menghindari goyangan kamera jika dipegang dengan tangan (handheld). Secara umum kecepatan minimal handhel adalah 1/focal.

Membawa tripod saat hunting bisa merepotkan. Untuk keperluan hunting biasanya tripod yang dibawa adalah tripod yang ringan dan kecil.

- Monopod , mirip tripod, kaki satu. Lebih mudah dibawa. Hanya dapat menghilangkan goyangan vertikal saja.

- Flash/blitz/lampu kilat , untuk menerangai obyek dalam kondisi gelap - Filter , untuk menyaring cahaya yang masuk. Ada banyak jenisnya : UV, menyaring cahaya UV agar tidak terjadi hazy pada foto2 landscape, sering digunakan untuk melindungi lensa dari debu.

PL/CPL (Polarizer/Circular Polarizar) untuk mengurangi bayangan pada permukaan non logam. Bisa juga untuk menambah kontras langit

3.2.3 Tinjauan Fotografi

1. Exposure

jumlah cahaya yang masuk ke kamera, tergantung dari aperture dan kecepatan.

- Aperture/diafragma . Makin besar aperture makin banyak cahaya yang masuk. Aperture dinyatakan dengan angka angka antara lain sebagai berikut: f/1,4 f/2 f/3,5 f/5.6 f/8. semakin besar angkanya (f number), aperture makin kecil aperturenya

- Shutter speed/kecepatan rana . Makin cepat, makin sedikit cahaya yang masuk

(13)

- ISO , menyatakan sensitivitas sensor/film. Makin tinggi ISOnya maka jumlah cahaya yang dibutuhkan makin sedikit. Film ISO 100 memerlukan jumlah cahaya 2 kali film ISO 200

Contoh: kombinasi diafragma f/5.6 kec. 1/500 pada ISO 100 setara dengan diafragma f/8 kec 1/500 atau f/5.6 kec. 1/1000 pada ISO 200.

Exposure meter , pengukur cahaya. Hampir tiap kamera modern memiliki pengukur cahaya internal. Selain itu juga tersedia pengukur cahaya eksternal

Exposure metering ( sering disingkat dengan metering ) adalah metode pengukuran cahaya

1. Average metering , mengukur cahaya rata-rata seluruh frame 2. Center-weighted average metering , mengukur cahaya rata-rata dengan titik berat bagian tengah

3. Matrix/Evaluative metering , Mengukur cahaya di berbagai bagian dari frame, untuk kemudian dikalkulasi dengan metode-metode otomatis tertentu

4. Spot metering , mengukur cahaya hanya pada bagian kecil di tengah frame saja

Exposure compensation, 18% grey . Exposure meter selalu mengukur cahaya dan menhasilkan pengukuran sehingga terang foto yang dihasilkan berkisar pada 18% grey. Jadi kalau kita membidik sebidang kain putih dan menggunakan seting exposure sebagaimana yang ditunjukan oleh meter, maka kain putih tersebut akan menjadi abu-abu dalam foto. Untuk mengatasi hal tersebut kita harus melakukan exposure compensation. Exposure kita tambah sehingga kain menjadi putih.

Under exposured = foto terlalu gelap karena kurang exposure Over exposured = foto terlalu terang karena kelebihan exposure

(14)

Naik 1 stop, artinya exposure dinaikkan menjadi 2 kali. Naik 2 stop, artinya exposure dinaikkan menjadi 4 kali. Turun 1 stop exposure diturunkan menjadi 1/2 kali. Turun 2 stop exposure diturunkan menjadi 1/4 kali.

Kenaikan 1 stop pada aperture sebagai berikut: f/22; f/16; f/11; f/8; f/5,6; f/4; f/2,8; f/2.

Beda f number tiap stop adalah 0,7 kali (1/ akar2).

Kenaikan 1 stop pada kec. Rana sebagai berikut: 1/2000; 1/1000; 1/500; 1/250; 1/125; 1/60; 1/30; 1/15; 1/8; 1/4; 1/2; 1.

Beda speed tiap stop adalah 2 kali 2. DOF

DOF , Depth of Field, kedalaman medan. DOF adalah daerah tajam di sekitar fokus.

Kedalaman medan dipengaruhi oleh besar aperture, panjang fokal, dan jarak ke obyek.

1. Aperture, semakin besar aperture (f number makin kecil) maka DOF akan makin dangkal/sempit

2. Panjang fokal (riil), semakin panjang fokal, DOF makin dangkal/sempit

3. Jarak ke obyek, semakin dekat jarak ke obyek maka DOF makin dangkal/sempit

Pemilihan DOF

- Jika DOF sempit, FG dan BG akan blur. DOF sempit

digunakan jika kita ingin mengisolasi/menonjolkan obyek dari lingkungan sekitarnya misalnya pada foto-foto portrait atau foto bunga.

- Jika DOF lebar, FG dan BG tampak lebih tajam. DOF lebar digunakan jika kita menginginkan hampir seluruh bagian pada

(15)

foto nampak tajam, seperti pada foto landscape atau foto jurnalistik.

3. Shooting Mode

Mode auto , mode point and shoot, tinggal bidik dan jepret 1. Full auto, kamera yang menentukan semua parameter 2. Portrait, kamera menggunakan aperture terbesar untuk menyempitkan DOF

3. Landscape, kamera menggunakan aperture terkecil 4. Nightscene, menggunakan kecepatan lambat dan flash untuk menangkap obyek dan BG sekaligus

5. Fast shuter speed 6. Slow shutter speed 4. Creative Zone

1.P, program AE. Mirip dengan mode auto dengan kontrol lebih. Dengan mode ini kita bisa mengontrol exposure compensation, ISO, metering mode, Auto/manual fokus, white balance, flash on/off, dan continues shooting. 2. Tv, shutter speed priority AE. Kita menetukan speed, kamera akan menghitung aperture yang tepat

3. Av, aperture priority AE. Kita menentukan aperture, kamera mengatur speed

4. M, manual exposure. Kita yang menentukan aperture dan speed secara manual

5. Komposisi dan angle

Komposisi adalah penempatan obyek dalam frame foto Angle adalah sudut pemotretan, dari bawah, atas, atau sejajar

Komposisi dan angle lebih menyangkut ke seni dari fotografi. Faktor selera fotografer sangat besar pengaruhnya.

(16)

3.2.4 Daftar Istilah Fotografi

Angle of View : sudut pandang dalam pengambilan objek foto

Aperture : Bukaan diagfragma alat yang mengatur seberapa besar cahaya yang mausk kedalam kamera di Lensa.

Available light : Cahaya yang ada

Auto Focus : Focus otomatis, focus lensa yang bekerja otomatis dalam waktu yang relative cepat tergantung dati lensa dan konsisi pencahayaan. Back focus : focus di belakang objek

Back Light : pencahayaan yang berasal dari belakang objek foto

Battery Grip : attachment tambahan yang dipasang di base camera berisi batre bias berupa batre bawaan camera atau batre AA (perlu tambahan lagi) Blitz/Speedlight/Flash : alat bantu dalam pemotretan yang memancarkan sinar secara cepat untuk member pencahayaan ke objek.

Bracketing :Menaikan atau menurunkan ukuran pencahayaan pada pemotretan untuk memperoleh pencahayaan yang tepat.

Bokeh : bidang blur/out of focus hasil dari depth of filed

Bounce : efek pencahayaan terhadap objek foto dari speedlight yang di pantulkan atas/samping/bawah.

Bulb : sarana pada pengukuran shutter speed yang dapat diatur sendiri sesuai dengan keinginan memotret (tulisna bulb biasanya muncul bila lebih dari 30detik)

CA atau Chromatic Abberation : Istilah CA ini kalau di fotografi dihubungkan dengan warna biru ke ungu-unguan di sekitar suatu objek. CA disebabkan

(17)

oleh lensa yang punya refractive index yang berbeda di setiap light wavelength.

CCD : Charges coupled Diode. Sensor yang kebanyakan digunakan pada kamera digital.

CMOS : complementary Metal Oxide Semiconductor. Sirkuit yang sering di gunakan pada chip elektronik dan juga sensor image.

Colourmeter : alat untuk mengukur atau menghitung temperateur warna Croping : memotong bagian atau sisi tertentu dari bidang foto.

Depth of Field : lebar bidang focus, ruang tajam boleh dikata sebuah ruang di depan kamera, dimana objek yang berbeda didalamnya mempunyai ketajaman tertentu.

Exposure : hasil pengaturan bukaan diagfragma dan shutter speed yang menentukan pencahayaan objek.

Emulsi Film (SLR): lapisan bahan pada film yang peka terhadap cahaya. Fill in : melunakkan bayangan pada objek foto.

Film : media untuk merekam gambar yang terdiri atas sebuah lapisan tipis yang mengandung emulsi peka di atas lapisan yang fleksibel.

Filter : terbuat dari system optic yang di pasang pada bagian depan lensa. Fish eye lens : lensa sudut lebar dengan ukuran 16mm ke bawah.

Fluorite : bahan yang bias digunakan untuk menjadi lensa karena memiliki karakterikstik disperse cahaya yang sangat rendah (efek pelangi) ajdi di gunakan sebagai elemen low dispersion lens di kebanyakan lensa canon seri L.

Focus : titik tempat pertemuan cahaya melalui lensa ketajaman lensa melalui view finder.

(18)

Front light : pencahayaan dari depan Grainy : butiran lapisan emulsi film.

Huigh key : cara memotret yang mana kebanyakan putih atau bercahaya pada image

Hot shoe : tempat buat connect external blitz

ISO : Internatioanl Standart Organization standart umum yang digunakan untuk ukuran kepekaan terhadap cahaya.

Lightmeter : alat yang berfungsi untuk mengukur pencahayaan yang di perlukan untuk pemotretan.

Low-key : teknik pemotretan yang kebalikan dari high key sehingga didominasikan oleh warna hitam.

Medium format camera : kamera yang pada prinsipnya sama dengan SLR Cuma menggunakaan film yang berbeda 120mm.

Monopod : Penyangga 1 kaki untuk kamera

Motordrive(SLR) : alat yang berfungsi untuk menggulung film

Noise : bintik-bintik warna yang tidak beraturan karena sensor sebuah kamera digital di set high ISO.

Shutter speed : pengaturan kecepatan tutup jendela kamera dalam menangkap pencahayaan yang masuk.

Over exposure : pemotretan dengan cahaya yang berlebihan sehingga menimbulkan efek terlalu terang.

Red eye : efek titik merah pada mata objek karena pantulan lampu kilat. Reflector : alat bantu pada pemotretan yang berfungsi memantulkan cahaya. Self timer : alat hitung mundur yang tersedia di kamera.

(19)

Side light : pencahayaan yang berasal dari samping objek foto

SLR : Single Lens Reflex. Kamera yang menggunakan cermin putar untuk memantulkan objek pada view finder.

Still Life : pemotretan benda tak bergerak

Stop : ukuran menaikan atau menurunkan bukan aperture atau shutter speed dari nilai normal.

TLR : Twins Lensa Reflex. Reflex lensa kembar pembidikan dilakukan secara vertical pada bagian atas lensa dna tidak langsung ke lensa utama. Tripod : penyangga 3 kaki untuk kamera.

Under Exposure : Image kurang Cahaya View Finder : jendelan bidik

Wide lens : lensa sudut lebar 3.3 Data Desain

3.3.1 Tiga langkah Pertama dalam proses mendesain

Tiga langkah pertama dalam proses mendesain atau membuat karya desain dengan memakai beberapa software desain grafis seperti Photoshop dan illustrator dapat melalui tiga tahapan berikut :

1. Mengetahui jenis Desain yang akan di buat

Maksudnya adalah bias membayangkan cara pengaturan objek untuk sebuah desain sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi desain tersebit. Misalnya desain cover Photobook. Sebelum kita mendesain kita harus membayangkan desain sebuah cover photobook, bukan desain poster yang berbeda aplikasi.

(20)

2. Mengetahui objek yang harus dipakai

Setelah tahu langkah pertama, kita juga harus tahu objek apa saja umumnya terdapar dalam sebuah proyek desain . misalnya cover Photobook, objek yang biasanya terdapat dalam sebuah cover adalah :

 Judul / cover Photobook  Ilustrasi / gambar utama/foto

 Ilustrasi tambahan sebagai penghias  logo

 Objek lain yang di minta oleh klien

Hanya ada 4 macam kategori objek utama dalam desain yaitu gambar, teks, warna dan ukuran.

3. Menentukan kesan dan gaya tampilan desain

Setelah 2 langkah di atas terpenuhi, kita harus menentukan gaya yang di pakai dalam desain kita. Misalnya Resmi, elegant, sporty dan lainnya.

Kesan gaya tampilan desain biasanya muncul dari warna-warna yang di pakai, jenis huruf/font, penggunaan tipografi gaya penataan onjek yang kita gunakan. Sebagian besar kesan yang akan muncul tergantung dari gambar ilustrasi yang kita pakai.

3.3.2 Tata letak layout

Layout atau tata letak adalah suatu kegiatan menyusun naskah, periklanan gambar, dan informasi agar dapat memenuhi criteria yang diinginkan. Layout berkaitan dengan pengaturan huruf dan visual pada permukaan dua dimensi agar seluruh informasi dapat di baca jelas dna menarik. Dalam mendesain layout posisi elemen pada halaman hubungan antara elemen satu dan yang lain seperti ukuran, warna, kontras nilai, tekstur dan bentuk serta hikarki visual harus di pertimbangkan.

(21)

3.4 Data Cetak

3.4.1 Tinjauan Proses Produksi

Setelah proses desain selesai akan dibahas tentang proses cetak yang di kerjakan dengan menggunakan mesin cetak offset, untuk menjadi sebuah produk cetak yang sempurna, maka aneka macam barang percetakaam memerlukan beberapa proses produksi yang harus di lewati. Banyak atau tidaknya proses tersebut tentu saja sangat tergantung dari sederhana atau tidaknya barang-barang cetak yang akan dibuat.

3.4.2 contoh bahan kertas dan penjelasannya

1. HVS

Adalah singkatan dari houtvrij schrijfpapier yang berarti kertas bebas serat kayu. Kertas ini termasuk jenis uncoated yang permukaannya tidak dilapisi sehingga bersifat kasar dengan daya serap yang kuat. Permukaanya yang tidak rata menyebabkan hasil cetak yang tidak mengkilap.

Sering digunakan untuk Mencetak Kop Surat, Amplop, Nota dan kebutuhan kantor lainnya serta Buku, Majalah dan Buletin. Gramasi yang sering digunakan mulai dari 60, gram, 70 gram, 80 gram sampai pada 100 gram.

2.Art Paper

Lebih dikenal dengan kertas dengan permukaan licin dan mengkilap di kedua sisinya, atau sering disebut dengan Coated Paper. Kertas jenis ini tidak cocok digunakan untuk keperluan tulis menulis karena sifat permukaannya yang licin tadi yang dilapisi (coated) dengan daya serap yang lebih lambat sehingga tinta pulpen agak sulit mengering.

Kertas jenis ini biasa digunakan untuk Cetak Brosur, Flyer, Leaflet, Annual Report, Cover Buku, Cover Majalah dan Kalender. Gramatur mulai dari 100 – 150 garam, lebih dari 150 gram disebut Art Carton (190 gram, 210 gram, 230 gram sampai 400 gram).

(22)

3.Matte Paper

Kertas jenis ini sama dengan Art Paper yaitu jenis kertas Coated, kertas berlapis tapi dengan lapis yang tidak mengkilap. Biasa digunakan sama seperti kertas Art Paper dengan berbagai gramatur.

4.Kertas Samson (Recycle)

Merupakan kertas daur ulang, berwarna Coklat biasa disebut juga kertas kraft linear yang sering digunakan untuk kebutuhan Cetak Mencetak Shopping Bag (Paper Bag), Packaging/Pembungkus, Cover Buku, Cover Nota/Bon, dan lain-lain. Gramatur mulai 125 gram – 250 gram.

5.Duplex

Kertas Karton dengan ketebalan minimal gramatur 250 gram – 400 gram, bentuk permukaan atas coated mengkilap/licin berwarna putih sehingga bisa dilakukan pencetakan pada bagian ini dan bagian balikannya warna abu-abu atau kecoklat-coklatan dan tidak bisa dilakukan pencetakan pada bagian ini.

Biasa digunakan untuk Kemasan Produk dan Kemasan Makanan (Box Nasi), Kemasan Souvenir dan Gift.

6.Kertas Fancy

Jenis kertas merupakan bagian dari Jenis Kertas yang paling Mewah, Eksklusif dan Elegan. Dengan harga yang premium kertas fancy biasa digunakan untuk kebutuhan Cetak Mencetak berbagai Kartu, mulai dari Kartu Nama Eksklusif, Kartu Undangan Pernikahan dan Invitation Card formal untuk perusahaan-perusahaan, Kartu Ucapan Terima Kasih, Cover Buku dan Cover Majalah Eksklusif.

Setting computer : format yang akan di buat pada barang cetakan ukuran, naskah , serta desain grafisnya ditentukan disini dan biasanya di akhiri dengan print di kertas HVS, kertas kalkir atau film repro.

(23)

Contoh untuk ukuran majalah :

Spesifikasi : contoh ukuran atau dimensi majalah :

21x27,5 cm

23,5 x 30 cm

Contoh jenis kertas

Cover Majalah : Art Carton 150gr Art Carton 190gr Art Carton 210gr Art Carton 290gr Art Carton 310gr Art Carton 360gr

Isi halaman Majalah :

Kertas HVS 70gr

Kertas HVS 80gr

Kertas HVS 100gr

Art paper 100gr

(24)

3.4.3 Proses Cetak

Plat cetak beserta bahan kertas yang telah siap pada proses pra cetak tadi lalu di pasang di mesin cetak dan ditempatkan di posisinya masing-masing berdasarkan fungsinya. Plat cetak di pasang pada tempat mendatar di bawah roll tersebut. Dna tintapun di pesiapkan pula pada tempatnmya.

Setelah plat cetak, bahan kertas dna tinta siap atau terpasang makan mesinpun di jalankan dna terjadilah proses cetak. Peralatan grafika yang digunakan dikenal dengan istilah mesin printing/cetak.

3.4.4 proses finishing

 proses potong atau serit kertas dnegan tujuan untuk membagi beberapa kertas hasil cetak tadi menjadi beberapa bagian, atau bias juga hanya sekedar untuk merapihkan kertas.

 Foil, membubuhi kertas dnegan tulisan atau gambar mengkilat seperti warna emas, perak, biru merah dsb.

 Emobosses, menghiasi kertas cetak dengan tulisan atau gambar dimana hiasan tersebut terbentuk kertas yang timbul atau tenggelam akibat matres

 Proses laminating gloss/doff.spot UV dsb

 Pon’s memotong kertas menjasi bentuk-bentuk tertentu akibat potongan pisau mesin pons.

 Lem, untuk menyambungkan atau menyatukan kertas cetakan misal amplop

Gambar

Gambar 3. 1 Camera DSLR canon 60D
Gambar 3.2 Lensa kit dan Tele kamera SLR

Referensi

Dokumen terkait

(kronologis). 15 Tema perancangan yang diangkat berbeda dengan Karanganyar Music Centre yang akan mengangkat tema batik khas Kabupaten Karanganyar,. selain itu perbedaan

Oleh sebab itu maka Harun Nasution mencoba untuk menghidupkan kembali teologi rasional zaman klasik pada umat Islam di Indonesia, yang dimulai dengan peranannya di IAIN

Tujuan metode kausal ini adalah untuk menentukan hubungan antar faktor (input dan output dari suatu sistem) dan menggunakan hubungan tersebut untuk meramal

PENGGUNA AKUN TWITTER TENTANG CYBERBULLY (Studi Resepsi Pada Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2010 Atas Kasus Pernyataan

Kadang- kadang limbah cair masih mengandung bahan yang tidak dapat diolah oleh mikroorganisme yang ada dalam tanah atau saluran pembuangan, seperti senyawa kimia yang

Dengan lengkapnya fasilitas yang disediakan didalam Google Translate, selain sebagai mesin penerjemah yang biasa digunakan untuk menterjemahkan sebuah teks dari suatu

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan

Hasil di atas sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Ika Nugraha (2010: 84) dimana dalam penelitian tersebut menyatakan bahwa terdapat perbedaan pengaruh