• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL MATEMAR: Manajemen dan Teknologi Maritim

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL MATEMAR: Manajemen dan Teknologi Maritim"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Manajemen dan Teknologi Maritim

http://e-jurnal.amanjaya.ac.id/index.php/matemar

SERAGAM TARUNA DAN MITOS L’ESPRIT DE

CORPS: KAJIAN KEKUASAAN MELALUI

PERSPEKTIF SEMIOLOGI STRUKTURAL DI

DALAM LINGKUNGAN SIVITAS AKADEMIKA

AMAN JAYA

Desiana E. Pramesti 1*

1,2Akademi Maritim Nasional Jakarta Raya (AMAN JAYA)

*e-mail koresponden: [email protected]

Abstrak

Apa yang Anda pikirkan manakala melihat seseorang menggunakan seragam dinas, tanda pengenal dan atribut berkarakter militer ?. Perasaan aman, bangga, atau takut bisa jadi mewakili apa yang Anda rasakan. Tentunya perlu dicermati dari penggunaan simbol-simbol berkarakter militer tersebut apakah digunakan oleh individu di dalam organisasi militer atau organisasi sipil. Penggunaan satu jenis pakaian khususnya seragam militer maupun seragam berkarakter militer, merepresentasikan entitas sosial tertentu yang beroperasi di dalam sistem birokrasi tertentu juga. Seragam serta atribut kelengkapannya bukan sekedar tanda namun fenomena tersebut mewakili mitos l’esprit de corps yaitu suatu sistem tanda yang mengkonstitusi cara-cara berpakaian, kekuasaan, dan praktik sosial kebudayaan yang berinteraksi dengan situasi globalisasi. Kajian ini bertujuan mengungkap fenomena penggunaan seragam berkarakter militer dikaitkan dengan mitos l’esprit de corps di dalam institusi sipil yaitu kelompok taruna dan taruni pada Akademi Maritim Nasional Jakarta Raya (AMAN JAYA). Penelitian kualitatif dalam paradigma kritis dan perspektif semiologi struktural menjadi pilihan metodologi yang digunakan untuk membongkar mitos. Penerapan metodologi demikian dimaksudkan untuk dapat menguraikan secara kritis konstelasi kekuatan yang terjadi dalam proses produksi dan reproduksi makna di balik mitos l’esprit de corps yang direpresentasikan melalui seragam berkarakter militer di dalam institusi pendidikan kemaritiman. Karena mitos tidak lain merupakan satu bentuk wacana yang dengan sengaja dikontruksikan untuk menghasilkan efek kekuasaan. Hasil penelitian menyimpulkan penggunaan seragam menjadi salah satu bentuk strategi kuasa yang dibangun oleh setiap anggota sivitas akademika AMAN JAYA. Strategi kuasa dibentuk melalui internalisasi jiwa korsa atau l’esprit de corps yang diciptakan dan dipelihara oleh setiap anggotanya karena diyakini menjadi sumber integrasi organisasi dan menjadi sumber penguatan dalam menghadapi perubahahan zaman.

Kata kunci: Seragam, tanda, mitos l’esprit de corps, jiwa korsa, dan kekuasaan.

Abstract

What do you think of when you see someone using an official uniform, an identifier and an attribute of a military character? Feelings of security, pride, or fear may represent what you feel. Of course, it should be noted from the use of these military characteristic symbols whether used by individuals within military organizations or civil organizations. The use of one type of

(2)

clothing, especially military uniform and military character uniform, represents a certain social entity operating within a particular bureaucratic system as well. The uniform and attribute of the completeness is not merely a sign but the phenomenon represents the myth l'esprit de corps is a sign system that constitutes the ways of dressing, power, and social social practice that interact with the globalization situation. This study aims to reveal the phenomenon of the use of military-type uniforms associated with the myth of l'esprit de corps in civil institutions namely cadets at the National Maritime Academy of Jakarta Raya (AMAN JAYA). Qualitative research in the critical paradigm and structural semiology perspective becomes the methodological choice used to dismantle the myth. The application of such a methodology is intended to elaborate critically the constellation of forces occurring in the process of production and the reproduction of the meaning behind the myth of I’esprit de corps represented by military character uniforms in Maritime Education Institutions. Because myth is nothing but a form of discourse deliberately constructed to produce a power effect.The result of the research concludes that uniform usage is one form of power strategy developed by every member of AMAN JAYA Academic community. Power strategy is formed through the internalization of “korsa soul” or l'esprit de corps created and maintained by each member because it is believed to be a source of organizational integration and a source of strengthening in the face of changing times.

Keywords: Uniforms, signs, the myth of the l'esprit de corps, the soul of korsa, and power. PENDAHULUAN

Penelitian berikut berpijak pada fenomena penggunaan seragam berkarakter militer oleh taruna dan taruni (taruna/i) selaku peserta didik di dalam institusi pendidikan vokasi atau program diploma kemaritiman. Penggunaan seragam demikian membedakannya dengan peserta didik lain pada jenjang pendidikan akademik program sarjana. Penanda pertama yang dapat dikenali adalah dengan dipergunakannya seragam khusus berupa PDH (Pakaian Dinas Harian), PDUK (Pakaian Dinas Upacara Kebesaran), PDL (Pakaian Dinas Lapangan), PDP (Pakaian Dinas Praktek), dan PDK (Pakaian Dinas Khusus) serta atribut yang melengkapi tampilan seragam taruna/i secara keseluruhan. Penggunaan seragam serupa juga diterapkan PTK (Perguruan Tinggi Kedinasan) seperti STTD (Sekolah Tinggi Transportasi Darat), STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia), STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran), IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), dan AMKG (Akademi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika). Penanda kedua adalah, diterapkannya masa dasar pembinaan mental (madabintal) yang diberikan kepada calon taruna/i (catar/i). Muatan dari kegiatan madabintal adalah pembinaan fisik, mental, dan moral melalui kegiatan pelmidas (peraturan militer dasar) berupa; PBB (peraturan baris-berbaris), PPM (peraturan penghormatan milter), TUM (tata upacara militer), PDT (peraturan disiplin taruna), olahraga militer, senam kesegaran jasmani, dan long

march. Selain itu, sosialisasi berupa penanaman Nilai-Nilai Pancasila, pengenalan kode etik

ketarunaan, dan tata krama taruna (etika pergaulan taruna) turut pula diberikan selama proses madabintal.

(3)

yaitu, (1) jurusan nautika; program studi dengan kompetensi mempersiapkan perwira jaga navigasi laut, pengendalian kapal, penanganan dan pengaturan muatan kapal, (2) jurusan teknika; program studi yang mempersiapkan perwira dengan kompetensi keahlian mesin kapal dan, (3) jurusan Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga dan Kepelabuhan (KPN) atau Ketatalaksanaan Angkutan Laut dan Kepelabuhanan (KALK); mendidik perwira dengan kompetensi keahlian di bidang manajemen pelayaran, logistik, pergudangan, ekspor impor, transportasi laut, charter, keselamatan kerja dan pemasaran jasa pelayaran serta usaha kepelabuhan.

Penerapan sistem pendidikan semi militer menjadi ciri khas pendidikan tinggi pada program vokasi pelayaran niaga dan kepelabuhan yang mengarahkan peserta didik untuk siap bekerja di sektor transportasi laut dan pendukungnya. Pendidikan yang mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter mental dengan model militeristik menjadi kebutuhan mendasar. Selainnya menerapkan kurikulum berbasis kompetensi yang mengikuti persyaratan nasional yaitu Peraturan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia serta kurikulum profesi standar IMO (International Maritime Organization) dan STCW (Standard Training, Certification, and

Watchkeeping for Seafers) 78 diamandemen tahun 2010 yang dalam kaitannya memenuhi

kebutuhan pasar kerja di bidang kemaritiman di dalam dan luar negeri. Diterapkannya pendidikan semi militer diisyaratkan dengan pekerjaan beresiko tinggi yang membutuhkan nilai-nilai militansi yaitu mampu bertahan dalam situasi dan kondisi sulit serta dapat membawa diri mencapai batasan kemampuan yang tentunya sangat diperlukan untuk menghadapi situasi alam maupun mengendalikan dan mengatur interaksi antar sesama awak kapal sehingga perjalanan kapal sesuai harapan.

Pararel dengan pendekatan yang dipergunakan di dalam penelitian ini yaitu paradigma kritis yang menerapkan kerangka semiologi, maka tujuan dilakukannya penelitian adalah, mengungkapkan bagaimana penggunaan seragam oleh Taruna AMAN JAYA dapat mengidentifikasi jiwa korsa dan bagaimana jiwa korsa dikontruksikan oleh Keluarga Besar AMAN JAYA. Dalam upayanya mengungkapkan permasalahan penelitian dalam kerangka teori kritis maka penelitian ini akan menggunakan metode penelitian partisipatip (participatory

observation). Dengan asumsi, paradigma kritik berupaya menempatkan interaksi antara peneliti

dengan realitas yang diamati yang selalu dijembatani nilai-nilai subyektifitas. Sehingga dibutuhkan wawancara mendalam (depth interview) dengan individu yang memahami permasalahan penelitian di dalam lokasi penelitian dalam kaitannya menemukan nilai-nilai yang telah dimediasikan ke khalayak luas. Sedangkan dari sudut pandang metodologi

(4)

paradigma kritis, data dikelola merujuk pada pengumpulan data yang multilevel (multi-level

analysis). Maksud dari penerapan teknik penelitian demikian diartikan untuk menemukan

kesepahaman makna secara emansipatoris tentunya dengan memperhatikan makna di balik wacana mitos l’esprit de corps serta dengan turut memperhatikan makna dalam tingkatan konteks maupun sosiokulturalnya.

METODE PENELITIAN

Definisi tentang mitos dalam konteks kajian ini rujukannya pada pemikiran Barthes yang mendefinisikan mitos sebagai sistem semiologis tingkat kedua atau metabahasa yang berisi tanda (gabungan total antara ide atau objek ‘denotasi’ dan ujaran ‘konotasi’) pada sistem pertama dan menjadi penanda pada sistem kedua [3]. Barthes menegaskan bahwa mitos merupakan sistem komunikasi dan mitos adalah sebuah pesan yang perlu dibaca (ditafsirkan) melalui dua sistem pemaknaan karena pada umumnya perilaku komunikasi dari setiap individu selalu mengembangkan pemakaian tanda ke dua arah. Yaitu, secara denotasi sebagai proses pemaknaan deskriptif dan tanda ini mengandung makna yang dikenal secara umum. Sementara konotasi dijelaskan sebagai nilai ekspresif yang muncul dari kekuatan kumulatif pemakai tanda sesuai dengan keinginannya atau mengikuti konvensi baru masyarakatnya. Di bawah melalui Gambar 1 ditampilkan model pemikiran Barthes mengenai mitos.

Pada Gambar 1 diperlihatkan sistem semiologi yang menunjukkan pola tiga dimensi yaitu signifier (penanda), signified (petanda), dan sign (tanda). Semiologi dapat menunjukkan bahasa (ide, objek) dapat menjadi mitos (wacana atau tipe wicara) melalui sistem penandaan yang dibangun dari penanda, petanda, dan tanda. Pada sistem tanda tingkat pertama (sistem primer); merupakan ide atau objek yang diidentifikasi sebagai tanda denotatif yang terbangun melalui penanda dan petanda – contoh, minuman anggur adalah minuman beralkohol yang

(5)

memabukkan. Pada sistem tanda tingkat kedua (sistem skunder); kesatuan dari penanda dan petanda menghasilkan tanda konotasi – contoh, minuman anggur memperoleh tanda baru yang bermuatan konotasi sebagai minuman totem yang berkonotasi “ke-Prancis-an” (Frenchness). Mitos adalah sebagai makna yang dihasilkan dari serangkaian rantai semiologis tanda primer atau denotasi dengan dan tanda sekunder atau konotasi. Suatu tanda dapat menjadi mitos melalui proses sejarah pembentukannya dan kemudian menjadi ideologi. Contoh, minuman anggur bukan sekedar minuman beralkohol melainkan minuman yang dirasakan sebagai pemameran kesenangan. Bukan sekedar “obat pekasih” melainkan tindakan mengkonsumsi minuman yang berefek jangka panjang dalam kehidupan sosial Masyarakat Prancis dan ketika seseorang meminum anggur maka akan dikonotasikan “bergaya ke-Prancis-an” [3].

Sebagai metode analisis, semiologi struktural dapat diterapkan untuk membaca gejala mitos karena metodenya dapat menjadi model untuk membongkar bekerjanya ideologi dalam

text, talk, act, dan artifact. Pada konteks kajian ini, pengungkapan ideologi dari mitos l’esprit de corps di dalam kelompok sosial Taruna/i di AMAN JAYA perlu dibaca sebagai gejala

kontemporer. Gejala kontemporer tersebut secara umum berkembang di tengah-tengah kehidupan Masyarakat Indonesia, sama halnya dengan mitos hasthabrata, nasionalisme, toleransi antar umat beragama, putra daerah, multikulturalisme, kesetaraan gender, hak azasi manusia, patriotisme, gotong royong, demokrasi, dan sebagainya. Pelibatan bahasa atau tanda

l’esprit de corps di dalam pengelolaan sistem pendidikan vokasi di institusi tersebut tentunya

bukan tanpa alasan.

Internalisasi l’esprit de corps dikontruksikan melalui kegiatan akademik intrakurikuler sebagai kegiatan reguler yang wajib diikuti Taruna/i AMAN JAYA mengacu kurikulum yang berlaku dan kegiatan ekstrakurikuler sebagai kegiatan akademik yang tidak reguler, tidak diatur secara langsung serta tidak terjadwal. L’esprit de corps bukan serupa sihir dan mantra yang berisikan ujaran bertuah yang mengandung pesona dan kekuatan gaib sehingga keberadaannya lepas dari sistem sosial yang menjadi arena penyampaiannya. Namun, mitos tersebut melekat dalam seluruh proses sosial dan kebudayaan dari sivitas akademika melingkupi senat akademik, taruna, senat taruna, alumni, ketua penyantun, dan terutamanya organ perguruan tinggi dari unsur pimpinan hingga bagian unsur penunjang kegiatan akademik. Melalui bahasa tertentu dan itu adalah mitos keseluruhan proses dari wicara mistis diproduksi, direproduksi, dan saling dibagi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

(6)

Kampus AMAN JAYA yang diikuti oleh mahasiswa baru atau catar/i. Istilah madabintal atau masa dasar pembinaan dan mental diberlangsungkan selama satu minggu yang wajib diikuti seluruh catar/i. Adapun tujuan dari madabintal adalah memperkenalkan sistem ketarunaan yang berlaku di dalam lingkungan kampus. Pembinaan mental yang beroperasi melalui sistem ketarunaan dimaksudkan, “membentuk Manusia Indonesia seutuhnya yang cakap, terampil, berbudi luhur, rendah hati, berani atas kebenaran sebagai sifat khas Pelaut Indonesia”. Madabintal menjadi proses awal orientasi sistem ketarunaan yang ditutup dengan pembaretan sebagai ritual pengukuhan dan penerimaan catar/i sebagai taruna/i untuk menjadi bagian dari Keluarga Besar AMAN JAYA. Dengan demikian, madabintal menjadi internalisasi awal

l’esprit de corps yang terintegrasi dengan keseluruhan aspek peningkatan mutu akademik

peserta didik yaitu kegiatan proses belajar diampu dosen fungsional, proses pendidikan keahlian yang ditangani praktisi sesuai mata pelatihan dan proses pengembangan karakter dilaksanakan oleh pasuhtar. Berpedoman pada seragam taruna sebagai corpus penelitian, lantas peneliti mengkategori seragam taruna sebagai bentuk wacana artifact yang mendasari fenomena l’esprit de corps. Berikut, melalui Gambar 2 ditampilkan rumusan model semiologi di dalam penelitian ini mengacu pada Model Semiologi Roland Barthes.

Mengikuti prosedur Model Semiologi Roland Barthes, pemaknaan seragam taruna dirinci ke dalam dua sistem penandaan bertingkat yaitu; pada sistem tanda tingkat pertama atau primer terdapat bahasa yang memuat dua komponen expression (bentuk) tentang citra visual dari artifact berupa “seragam taruna” dan contenu (isi) dari citra visual tersebut dimaknai

(7)

sebagai “seragam taruna digunakan taruna/i sebagai anggota dari Keluarga Besar AMAN JAYA”. Pada tingkat kedua sebagai sistem sekunder, memuat makna kesatuan dari expression dan contenu yang menghasilkan tanda konotasi berupa “seragam taruna digunakan selama proses pembinaan mental dalam sistem ketarunaan”. Interaksi antara sistem primer dan sekunder menghasilkan mitos, yaitu penggunaan seragam bukan sebatas penyeragaman identitas secara fisik namun memuat makna penyeragaman cara berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam koridor jiwa korsa.

Teori Tanda Model Barthes disebut juga sebagai model dikotomis yang meninjau segi pemakaian tanda dengan melihat hubungan penanda (expression; ungkapan, lambang) dan petanda (contenu; isi). Relasi antara penanda dengan petanda dikatakan Barthes tidak hanya terjadi satu kali namun berlanjut. Misalnya saja, E1-R1-C1 yang merupakan hubungan dalam sistem primer akan mengalami perluasan ke arah sistem sekunder yang mengandung relasi baru yaitu E2-R2-C2 dan bisa jadi akan terus berlanjut. Sistem sekunder yang berorientasi pada

exspression adalah perluasan segi ungkapan sedangkan contenu-nya tidak mengalami

perubahan. Barthes menyebut keadaan tersebut sebagai metabahasa atau mitos. Sedangkan sistem sekunder yang berorientasi pada contenu adalah perluasan dari segi petanda dengan segi penandanya tidak mengalami perubahan dan gejala tersebut disebut konotasi.

Dalam konteks penelitian ini, relasi penanda dan petanda dalam sistem primer yang berorientasi pada expression ditandai sebagai “seragam taruna digunakan taruna/i sebagai anggota Keluarga Besar AMAN JAYA” dan mengalami perluasan ke arah sistem sekunder yang mengalami relasi baru yaitu “seragam taruna digunakan taruna/i yang mengidentifikasi jiwa korsa”. Sedangkan relasi penanda dan petanda dalam sistem sekunder yang berorientasi pada contenu adalah artifact berupa seragam taruna dapat diperluas ke arah contenu ketika taruna/i memberikan makna baru terhadap penggunaan seragam dikaitkan dengan internalisasi jiwa korsa.

Istilah l’esprit de corps atau esprit de corps atau jiwa korsa dipopulerkan pertama kali oleh ahli perang asal Prancis, Napoleon Bonaparte. Kosa kata tersebut memuat arti semangat kelompok dalam rangka meningkatkan rasa memiliki organisasi [9]. Dalam situasi peperangan,

l’esprit de corps diperlukan hadir dalam setiap sanubari perwira untuk saling membantu,

menjaga, melindungi, dan membela kehormatan kelompoknya. Dalam konteks peperangan,

l’esprit de corps yang tinggi dibutuhkan yang mendasari terjalinnya kerjasama yang

terorganisasi baik. The military mind dengan kesadaran l’esprit de corps yang kuat dalam praksisnya tidak terbatas berlaku dalam dunia militer namun mengejawantah dalam institusi non militer. Karena setiap organisasi dapat dipastikan memiliki karakter korporasi berupa

(8)

l’esprit de corps yang merupakan kesadaran jiwa korsa atau perasaan kesatuan dan kecintaan

terhadap organisasi sekaligus yang menandai identitas in goups yang membedakannya dengan

out group.

Jiwa korsa identik dengan patriotisme. Artinya nilai-nilai budaya tersebut tidak hadir dalam ruang hampa karena keberadaannya terbentuk sejalan dengan sejarah penciptaan teks tersebut di dalam lingkungan Sivitas Akademika AMAN JAYA yang tetap dipelihara dan dipertahankan berkait dengan realitas dunia yang rentan perubahan dan tantangan [13]. Sebagai sesuatu yang tidak hadir secara taken for granted, jiwa korsa adalah tanda yang muncul dari rantai pemaknaan tanda yang telah dibangun oleh rantai pemaknaan sebelumnya. Artinya, jiwa korsa ataupun mitos-mitos sejenis yang berkembang di dalam masyarakat merupakan wacana yang dikontruksikan melalui berbagai media yang dijadikan sebagai sarana kelompok dominan untuk dapat mengkontrol kelompok yang tidak dominan. Dalam pandangan tersebut, wacana jangan dipahami sebagai sesuatu yang netral dan berlangsung alamiah karena setiap wacana selalu terkandung ideologi untuk mendominasi dan berebut pengaruh [6]. Dalam penelitian yang berpedoman pada paradigma kritis, penelitian ini memusatkan perhatian pada konsep metabahasa untuk dapat membaca konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna dari mitos jiwa korsa. Pertanyaan yang diajukan jika demikian berkisar pada soal-soal, siapa yang mengkontrol media? Kenapa media dikontrol? Keuntungan apa yang bisa diperoleh dari pengkontrolan tersebut? dan kelompok mana yang tidak dominan dan menjadi objek pengkontrolan?

Jiwa korsa dalam konteks penelitian ini, dikontruksikan melalui keseluruhan aspek penyelenggaraan pendidikan tinggi di dalam lingkungan AMAN JAYA yang ditujukan kepada setiap peserta didik untuk menghasilkan standar kompetensi lulusan program diploma tiga nautika, teknika, dan KPN. Kompetensi kelulusan dikelola melalui proses pembelajaran yang dilaksanakan melalui kegiatan intrakurikuler secara sistematis dan terstruktur melalui berbagai mata kuliah dan dengan beban belajar yang terukur. Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler memuat konten pengembangan penalaran keilmuan, pengembangan minat, dan kegemaran peningkatan kesejahteraan taruna. Proses pembelajaran yang mengacu pada kurikulum pendidikan tinggi tersebut terintegrasi dengan sistem ketarunaan yaitu “membentuk Manusia Indonesia seutuhnya yang cakap, terampil, berbudi luhur, rendah hati, berani atas kebenaran sebagai sifat khas Pelaut Indonesia”. Jiwa korsa tampaknya menjadi sistem nilai yang mengikat keyakinan setiap anggota dari Keluarga AMAN JAYA. Dalam konteks penelitian ini, pembacaan dan penafsiran jiwa korsa ditujukan kepada subyek penelitian utama yaitu kelompok taruna/i sebagai objek pengkontruksian mitos l’esprit de corps. Dikatakan William

(9)

A. Cohen, Mayjen (Purn) Angkatan Udara A.S. – l’esprit de corps dapat tumbuh dari dalam maupun luar kelompok. Proses internalisasinya dapat diberlangsungkan melalui pendidikan dan pelatihan yang dimediasi melalui saluran komunikasi [5].

Penelitian yang beroperasi pada paradigma kritis, memerlukan penerapan analisis secara multilevel dalam kaitannya menganalisis wacana jiwa korsa beserta konteks dan historisnya. Uraian analisis pada level mikro yaitu uraian yang memusatkan pada penggunaan Seragam Taruna AMAN JAYA oleh Taruna AMAN JAYA sebagai bagian dari Keluarga Besar AMAN JAYA. Penggunaan seragam tersebut tidak hanya dimaksudkan sebagai identitas penyeragaman dalam soal praktik berbusana namun memuat maksud adanya praktik kekuasaan yang dikontruksikan melalui proses pembinaaan mental yang wajib diikuti taruna melalui praktik-praktik belajar, pendidikan, dan pengembangan karakter taruna yang beroperasi dalam sistem ketarunaan. Keseluruhan sistem ketarunaan tersebut diikat dengan nilai-nilai kebudayaan berupa jiwa korsa. Level meso; analisis pada level meso mengkaji kognisi sosial budaya individu-individu selaku produsen maupun konsumen teks jiwa korsa. L’esprit de corps diistilahkan oleh informan sebagai jiwa korsa yang dianggap sebagai bagian dari tradisi khas di dalam Lingkungan AMAN JAYA. Dalam makna denotasi, jiwa korsa diartikan sebagai kebersamaan, perasaan saling memiliki, kerelaan untuk saling berbagi, senasib sepenanggungan, dan setia kawan. Pada faktanya, jiwa korsa dimaknai beragam oleh setiap informan namun secara global jiwa korsa memuat makna konotasi sebagai kecintaan terhadap Organisasi AMAN JAYA. Sebagai bagian dari wacana, jiwa korsa merupakan unit bahasa yang dengan sengaja dihadirkan dalam hubungannya dengan kekuasaan. Dalam setiap proses belajar, proses pendidikan, dan proses pengembangan karakter digunakan l’esprit de corps atau jiwa korsa sebagai pesan yang dikontruksikan oleh kelompok dominan yang dalam hal ini dosen fungsional, dosen praktisi, pasuhtar, dan terutamanya adalah unsur pimpinan di dalam Organ Perguruan Tinggi AMAN JAYA kepada setiap peserta didik. Makna dasar dari jiwa korsa adalah “rasa cinta” yang dimaknai kognisi penghasil teks jiwa korsa sebagai “kewajiban yang harus dimiliki” setiap taruna untuk mengikuti setiap proses belajar, proses pendidikan, dan proses pengembangan karakter hingga keseluruhan taruna dapat memperoleh capaian pembelajaran lulusan di setiap program studi. Praktik-praktik kekuasaan wujudnya diperlihatkan dalam kegiatan intrakurukuler dengan cara memotivasi taruna tentang arti pentingnya menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan secara umum dan penguasaan keterampilan di bidang keahlian masing-masing. Adapun dalam konteks kegiatan intrakurikuler, pasuhtar maupun taruna senior menguatkan issue yang sama dengan penekanan kepada taruna tertentu yang dianggap kurang/tidak serius mengikuti pembelajaran di kelas

(10)

teori. Level makro; analisis pada level ini memusatkan perhatian pada struktur sosial budaya dari Warga Kampus AMAN JAYA. Penyelenggaraan pendidikan tinggi di dalam lingkungan kampus ditujukan kepada taruna sebagai peserta didik yang terdaftar dan belajar di AMAN JAYA. Kegiatan belajar, pendidikan, dan pengembangan karakter taruna mengacu pada Kurikulum Pendidikan Tinggi, Kurikulum Program Studi Kepelautan, dan kurikulum tiga program studi merujuk pada level KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia). Penerapan standarisasi demikian dimaksudkan dalam rangka pemenuhan capaian pembelajaran kelulusan. Analisis pada level makro secara khusus menafsirkan makna standarisasi bukan dari sisi teknis penyelenggaraan pendidikan tinggi akan tetapi berfokus pada sisi kebudayaannya. Penerapan standarisasi kurikulum merupakan bagian dari pembentukan budaya mandiri, kreatif, inovatif, dan kemampuan bersaing bagi taruna sebagai calon perwira dalam pekerjaannya di bidang pelayaran niaga dan kepelabuhan.

KESIMPULAN

Dalam konteks penelitian ini, kekuasaan hadir di dalam institusi pendidikan yang memiliki otoritas kekuasaan berupa diciplinary power yang berfungsi mengkontrol mekanisme normalisasi perilaku setiap taruna. Melalui sistem ketarunaan, tubuh dinormalisasi melalui; (1) kerapihan seragam dan kelengkapan dari atribut seragam, pangkasan rambut yang sama, postur tubuh yang baik dan sikap tubuh yang siap menerima pendisiplinan, (2) pengaturan waktu program formal pelajaran (intrakurikuler) maupun program informal (ekstrakurikuler), dan (3) aturan menyapa di antara taruna senior dengan taruna yunior maupun dengan staf karyawan, dosen, dan alumni. Keseluruhan mekanisme tersebut berlangsung dalam normalisasi dan juga strategi kuasa yang dikemas melalui jiwa korsa sebagai suatu kontruksi yang dibangun dan dipelihara penyelenggara pendidikan yang menjadi sumber integrasi organisasi. Sebagai suatu kontruksi, jiwa korsa keberadaannya harus dipelihara karena diyakini oleh setiap anggota organisasi dapat menjadi sumber penguatan dalam menghadapi perubahahan zaman. Globalisasi adalah fakta yang tidak bisa dihindari dan dalam konteks pendidikan kemaritiman, kehadiran globalisasi berimplikasi pada dibuatnya pengaturan baru melalui penerapan kurikulum berbasis kompetensi yang mengikuti persyaratan nasional maupun internasional sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai tenaga pelaut atau bahari yang terampil dan tangguh. Berinteraksi dengan hal tersebut, jiwa korsa analog wicara mistis yang memiliki landasan historis. Keberadaannya dibentuk dari bahan-bahan yang telah ada sebelumnya agar cocok untuk komunikasi (Barthes, 2015: 154).

(11)

DAFTAR PUSTAKA

[1] Barker, Chris. Cultural Studies: Theory and Practise, Terjemahan Nurhadi, Cetakan Pertama, Kreasi Wacana, Yogjakarta, 2004.

[2] Barthes, Roland. Elemen-Elemen Semiologis, Terjemahan Kahfie Nazaruddin, Cetakan 1, Jala Sutra, Yogjakarta, 2014.

[3] Barthes, Roland. Mitologi, Terjemahan Nurhadi dan A. Sihabul Millah, Cetakan Keenam, Kreasi Wacana, Yogjakarta, 2015.

[4] Bertens, K., Filsafat Barat Kontemporer. Edisi Revisi dan Perluasan, Cetakan Keempat, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2006.

[5] Cohen, William, A. The New Art of Leader, Terjemahan Didik Prayitno, Cetakan Pertama, Tangga Pustaka, Jakarta, 2011.

[6] Eriyanto. Analisis Wacana Kritis: Pengantar Analisis Teks Media, Cetakan Kedua, LkiS Yogyakarta, Yogjakarta, 2003.

[7] Kurniawan. Semiologi Roland Barthes, Cetakan Pertama, IndonesiaTera, Magelang, 2001.

[8] Littlejohn, Stephen W. dan Foss A. Karen. Theories of Human Communication, Terjemahan Teori Komunikasi, Ed. Mohammad Yusuf Hamdan, Salemba Humanika, Jakarta, 2009.

[9] Hardjito, Dydiet. Teori Organisasi dan Teknik Pengorganisasian, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997.

[10] Hartoko, Dicki dan B. Rahmanto. Pemandu di Dunia Sastra, Kanisius, Yogjakarta, 1986.

[11] Hoed, Benny H. Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya; Ferdinand de Saussure,

Roland Barthes, Julia Kristeva, Jacques Derrida, Charles Sanders Peirce, Marcel Danesi dan Paul Perron, dll, Edisi Pertama, Komunitas Bambu, Depok, 2014.

[12] Langer, Sussane. Philosophy in a New Key, Harvard University Press, Cambridge MA, 1942.

[13] Saifuddin, Achmad Fedyani. Catatan Reflektif Antropologi Sosialbudaya, Cetakan I, Institut Antropologi Indonesia, Jakarta, 2011.

[14] Sobur, Alex. Semiotika Komunikasi, Cetakan Pertama, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2004.

[15] West, Richard dan Turner, Lynn H. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan

Aplikasi, Edisi 3, Salemba Humanika, Jakarta, 2008.

[16] Hamad, Ibnu. 2007. Lebih Dekat dengan Analisis Wacana. Mediator Jurnal, Jurnal Komunikasi, 2007, Vol. 8, No. 2. Web 25 Februari 2017.

[17] Masduki, Anang. 2015. Mitos dan Hiperrealitas Komunikasi Politik (Studi Iklan Pemilu

Jusuf Kalla-Wiranto Versi Humble dan Mampu). INFORMASI Kajian Ilmu

Referensi

Dokumen terkait

Sebagaimana zonasi dari fungsi atenuasi Youngs et al, 1997, zonasi yang dihasilkan fungsi atenuasi Megawati et al, 2008, kota Banda Aceh juga dapat dibagi dalam tiga zona bahaya

Jadi, dapat disimpulkan bahwa analisis data pada hasil belajar siswa kelas X IPA 5 SMAN 1 Puri Mojokerto dalam pembelajaran menyusun kalimat sederhana bahasa

Adapun perubahan nilai kadar protein daging giling ikan gabus dengan penambahan larutan kitosan selama penyimpanan dapat dilihat pada Gambar 1.. Kadar protein daging

3. Lakukan pemeriksaan kadar gula sewaktu dengan glucose stick. Hal ini harus dilakukan secepatnya, karena hipoglikemia merupakan kasus yang dapat ditangani secara cepat

Seleksi uji aktivitas fiksasi nitrogen pada 19 isolat yang berhasil diremajakan pada medium NMS tanpa mengandung unsur N menunjukkan bahwa isolat BGM 1, BGM 3,

Organisasi Proyek Matriks adalah organisasi proyek murni yang melekat pada divisi fungsional pada organisasi induk sehingga pada dasarnya menggabungkan kelebihan

Penghargaan publik merupakan penghargaan terhadap profesi tertentu, maka publik akan memberikan imbalan yang pantas terhadap layanan profesional yang diterimanya. Bagi guru,

Perbandingan konsentrasi nitrat tereduksi, nitrit terakumulasi, amonium dan estimasi gas N 2 O yang dihasilkan dari setiap isolat pada kondisi saturasi udara berbeda setelah