• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAKIKAT BISNIS.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HAKIKAT BISNIS.docx"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

GAMBARAN UMUM PROFESI BISNIS GAMBARAN UMUM PROFESI BISNIS

1. Hakikat Bisnis 1. Hakikat Bisnis

Bisnis pada hakikatnya adalah organisasi yang bekerja di tengah-tengah Bisnis pada hakikatnya adalah organisasi yang bekerja di tengah-tengah masyarakat atau merupakan sebuah komunitas yang berada di tengah-tengah masyarakat atau merupakan sebuah komunitas yang berada di tengah-tengah komunitas lainnya. Bisnis mempunyai peran penting dalam

komunitas lainnya. Bisnis mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia, mulaikehidupan manusia, mulai dari jaman pra sejarah, abad pertengahan, era merkantilisme, fisiokrat, klasik, sampai dari jaman pra sejarah, abad pertengahan, era merkantilisme, fisiokrat, klasik, sampai  jaman

 jaman moderen moderen sekarang sekarang ini. ini. Bisnis Bisnis merupakan merupakan realita realita yang yang sangat sangat kompleks.kompleks. Kompleksitas bisnis berkaitan langsung dengan komplesitas masyarakat. Menurut Kompleksitas bisnis berkaitan langsung dengan komplesitas masyarakat. Menurut Bertens bisnis sebagai kegiatan sosial pada hakikatnya dapat dipandang dari 3 sudut Bertens bisnis sebagai kegiatan sosial pada hakikatnya dapat dipandang dari 3 sudut yang berbeda, yaitu sudut pandang ekonomi, moral, dan

yang berbeda, yaitu sudut pandang ekonomi, moral, dan hukum.hukum. Sudut Pandang Ekonomi

Sudut Pandang Ekonomi

Bisnis adalah salah satu kegiatan ekonomis. Yang terjadi dalam kegiatan ini Bisnis adalah salah satu kegiatan ekonomis. Yang terjadi dalam kegiatan ini adalah tukar-menukar, memproduksi-memasarkan, bekerja-memperkerjakan dan adalah tukar-menukar, memproduksi-memasarkan, bekerja-memperkerjakan dan interaksi manusiawi lainnya dengan maksud memperoleh untung.

interaksi manusiawi lainnya dengan maksud memperoleh untung.

Dipandang dari sudut ekonomis, bisnis yang baik adalah bisnis yang Dipandang dari sudut ekonomis, bisnis yang baik adalah bisnis yang membawa banyak untung. Oleh karena itu dapatlah dimengerti apabila pertimbangan membawa banyak untung. Oleh karena itu dapatlah dimengerti apabila pertimbangan ekonomis menjadi satu-satunya alasan dalam berbagai pengambilan keputusan bisnis ekonomis menjadi satu-satunya alasan dalam berbagai pengambilan keputusan bisnis Sudut Pandang Moral

Sudut Pandang Moral

Mengejar keuntungan adalah hal yang sangat wajar, asalkan tidak merugikan Mengejar keuntungan adalah hal yang sangat wajar, asalkan tidak merugikan  pihak

 pihak lain. lain. Kepentingan Kepentingan dan dan hak hak orang orang lain lain harus harus diperhatikan diperhatikan demi demi kepentingankepentingan  bisnis itu sendiri.

 bisnis itu sendiri.

Dari sudut pandang moral, bisnis yang baik bukan saja bisnis yang Dari sudut pandang moral, bisnis yang baik bukan saja bisnis yang menguntungkan, melainkan juga bisnis yang baik secara moral. Perilaku yang baik menguntungkan, melainkan juga bisnis yang baik secara moral. Perilaku yang baik dalam bisnis merupakan perilaku yang sesuai dengan norma-norma moral.

dalam bisnis merupakan perilaku yang sesuai dengan norma-norma moral. Sudut Pandang Hukum

Sudut Pandang Hukum

Dalam praktek hukum, banyak masalah yang timbul dari kegiatan bisnis. Jika perilaku Dalam praktek hukum, banyak masalah yang timbul dari kegiatan bisnis. Jika perilaku  bisnis itu legal, maka

(2)

 berlaku. Bisnis yang baik berarti bisnis yang patuh pada hukum. Namun, sikap bisnis  belum terjamin etis, bila hanya dbatasi pada hukum saja.

2. Karakteristik Profesi Bisnis

Profesi dirumuskan sebagai pekerjaan yang dilakukan untuk nafkah hidup dengan menggunakan keahlian dan ketrampilan. Di bisnis moderen ini mensyaratkan dan mengharuskan para pelaku bisnis menjadi orang profesional. Semakin tajam  persaingan, semakin di tuntut sikap profesianal untuk menjaga citra bisnis yang baik. Orang-orang yang profesional selalu berarti orang-orang yang berkomitmen tinggi, serius menggeluti pekerjaanya, bertanggung jawab atas pekerjaanya agar tidak merugikan orang lain.

Menurut Keraf suatu profesi yang diperlukan dan dihargai mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1. Memiliki pengetahuan, keahlian, dan ketrampilan khusus yang ia peroleh melalui pendidikan dan pengalaman yang membentuk profesinya, yang membedakanya dengan orang lainnya. Barang atau jasa yang bermutu dan dengan harga yang kompetitif hanya dapat dihasilkan oleh profesionalisme. 2. Terdapat kaidah dan standar moral. Pada setiap profesi selalu ada peraturan

yang menentukan bagaimana profesi itu dijalankan. Peraturan yang biasa disebut kode etik ini sekaligus menunjukan tanggung jawab profesional dalam melakukan pekerjaan, seperti kode etik dokter, wartawan pengacara, akuntan, dan sebagainya. Untuk menjaga kemurnian dan ketepatan pelaksanaan kode etik ini, dibentuklah organisasi profesi. Organisasi profesi ini berkewajiban menjaga nama baik organisasi, melakukan sanksi kepada anggota yang melanggar kode etik profesi.

3. Seseorang perlu memiliki ijin khusus atau lisensi untuk bisa menjalankan suatu profesi. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi profesi tersebut dari orang-orang yang tidak profesional. Tergantung dari jenis profesi, setelah

(3)

4. Memberikan pelayanan pada masyarakat. Keuntungan harus dibayar sebagai akibat logis dari pelayanan kepada masyarakat, bahkan keikutsertaan dalam menyejahterakan masyarakat, adalah citra perusahaan yang baik.

3. Pergeseran Pradigmaa Dari Shareholders/Stockholders  keStakeholders 

Shareholder   atau Stockholders  paradigm merupakan sebuah paradigma dimana Chief Excutive Officer   (CEO) berorientasi pada kepentingan pemegang saham. Pihak manajemen sebagai pemegang mandat berusaha memperoleh keuntungan sebesar-besarnya untuk menyenangkan dan meningkatkan kemakmuran  pemegang saham. Seakan-akan pihak pemegang saham merupakan pihak yang paling  berpengaruh bagi kelangsungan hidup perusahaan. Orientasi seperti ini mengakibatkan evaluasi yang dilakukan atas pengelolaan bisnisnya dilihat dari aspek finansial. Prestasi manajemen hanya dilihat dari kemampuannya menghasilkan laba. Hal ini mendorong manajemen untuk menghalalkan segala cara untuk mengejar keuntungan. Tindakan demikian mengakibatkan adanya pihak-pihak lain yang dirugikan.

Pradigma Shareholders  kemudian mengalami pergeseran, karena pada kenyataanya manajemen dihadapkan pada banyak kepentingan yang pengaruhnya  perlu diperhitungkan secara seksama. Bagaimanapun juga dalam bisnis muncul

kesadaran bahwa dalam usaha meraih laba, selain shareholders, wajib juga diperhatikan kepentingan pihak-pihak lain yang terkena dampak bisnis. Pihak  berkepentingan (Stakeholders) adalah individu atau kelompok yang dapat dipengaruhi atau mempengaruhi tindakan, keputusan, praktek, dan tujuan organisasi bisnis. Perusahaan berdiri di tengah-tengah lingkungan. Lingkungan merupakan satu-satunya alasan mengapa bisnis itu ada.

Pendekatan Stakeholders berusaha memberikan kesadaran bahwa bisnis harus dijalankan sedemikian rupa agar hak dan kepentingan semua pihak terkait yang  berkepentingan dengan suatu kegiatan bisnis dijamin, diperhatikan, dan dihargai.

(4)

Pada umumnya Stakeholders dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu :

1. Kelompok Primer, terdiri dari pemilik modal atau saham (shareholders), kreditur, pegawai, pemasok, konsumen, penyalur, dan pesaing atau rekanan. 2. Kelompok Sekunder, terdiri dari pemerintah setempat, pemerintah asing,

kelompok sosial, media masa, kelompok pendukung, masyarakat pada umumnya, dan masyarakat setempat.

4. Tanggung Jawab Moral dan Sosial Bisnis

Ada beberapa pandangan tentang tanggung jawab moral bisnis. John Kenneth Galbraith berpendapat bahwa bisnis adalah korporasi impersonal yang bertujuan untuk memperoleh laba. Sebagai institusi impersonal atau pribadi yang artifisial,  bisnis tdak mempunyai nurani, sehingga tidak bertanggung jawab secara moral. Dengan kata lain, bisnis adalah institusi yang tidak berkaitan dengan moralitas yang  bertujuan meningkatkan pemenuhan kepentingan pihak-pihak yang terlibat, dan melalui kekuatan pasar, kesejahteraan masyarakat pun akan meningkat. Ini berarti  pandangan mereka tergolong utilitariasme karena bisnis memberikan yang terbaik

untuk sebagian besar anggota masyarakat.

Yang bertentangan dengan pandangan diatas adalah Kenneth Googpatern dan John Metthews yang mengatakan bahwa bisnis adalah analog dengan individu, yang mempunyai kehendak, nurani, tujuan dan strategi. Oleh karena itu, bisnis bukan saja secara hukum dan moral bertanggung jawab terhadap tindakannya, tetapi juga tanggung jawab sosial yaitu untuk menjadi warga negara yang baik.

Menurut Milton Friedman, tanggung jawab sosial bisnis adalah memanfaatkan sumber daya yang ada untk mencapai laba dengan cara-cara yang sesuai dengan aturan permainan dalam persaingan bebas tanpa penipuan dan kecurangan.

Keith Davis sebagaiman dikutip oleh weiss menyatakan lima kewajiban yang harus dilakukan oleh bisnis profesional agar dapat bertanggung jawab secara sosial,

(5)

2. Bisnis harus bekerja sebagai sistem terbuka dua arah dengan penerimaan masuk secara terbuka dari masyarakat dan pemajanan yang terbuka tentang operasinya kepada publik.

3. Biaya sosial maupun manfaat dari suatu aktivitas, produk atau jasa harus dikalkulasi dan dipertimbangkan secara cermat agar dapat mengambil keputusan apakah kegiatan itu perlu dilanjutkan atau tidak.

4. Biaya sosial dari setiap aktivitas, produk, atau jasa harus diperhitungkan ke dalam harga, sehingga konsumen atau pengguna membayar atas dampak kosumsinya terhadap masyarakat.

5. Lembaga bisnis ibarat warganegara yang mempunya tanggung jawab atas keterlibatan sosial sesuai dengan kompetensinya dimana terdapat kebutuhan sosial yang penting.

Setiap korporasi yang mengikat diri terhadap manajemen mutu sesungguhnya menyetujui adanya tanggung jawab moral. Tanggung jawab moral yang utama menurut Pratley ada tiga, yaitu; (1) menghasilkan barang-barang, kepuasan konsumen, dan keamanan pemakaian; (2) kepedulian terhadap lingkungan, baik dilihat dari sudut masukan maupun keluaran, pembuangan limbah yang aman. Serta mengurangi penipisan sumber daya alam; (3) standar minimal kondisi kerja dan sistem pengupahan serta jaminan sosial. Ketiganya merupakan tanggung jawab minimum.

5. Kode Etik Perusahaan

Kode etik menyangkut apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam  pelaksanaan suatu profesi. Kode etik berbagai profesi sudah dikenal ada sejak lama.

Sumpah Hipocrates dapat dipandang sebagai kode etik tertua dalam bidang kedokteran yang masih digunakan hingga saat ini. Dalam jaman moderen saat ini terdapat banyak profesi yang sudah memiliki kode etik. Salah satu fenomena terbaru adalah mencuatnya kode etik khusus untuk perusahaan pada tahun 1970-an akibat terjadinya skandal korupsi dikalangan pebisnis. Perkembangannya dimulai di Amerika kemudian Inggris dan berkembang ke negara-negara Eropa lainnya. Di Indonesia hanya perusahaan-perusahaan internasioanl yang beroprasi di Indonesia yang diketahui telah memiliki kode etik perusahaan.

(6)

Kode etik perusahaan menurut Patrict Murphy dibedakan dalam tiga macam, yaitu: 1. Value Statement (Pernyataan Nilai)

Pernyataan nilai dibuat singkat saja dan melukiskan apa yang dilihat oleh perusahaan sebagai misinya dan mengandung nilai-nilai yang dijunjung tinggi perusahaan. Banyak pernyataan nilai yang menegaskan bahwa perusahaan ingin beroprasi secara etis dan menggaris bawahi pentingnya integritas, kerja tim, kredibilitas, dan keterbukaan dalam komunikasi.

2. Corporate Credo (Kredo Perusahaan)

Kredo perusahaan biasanya merumuskan tanggung jawab terhadap para stakeholder. Dibandingkan pernyataan nilai, kredo perusahaan biasanya lebih panjang dan meliputi  beberapa alenia.

3. Code Of Conduct/Code Of Ethical Conduct (kode etik)

Kode etik menyangkut kebiasaan etis perusahaan berhungan dengan kesulitan yang  bisa timbul seperti konflik kepentingan, hubungan dengan pesaing dan pemasok,

sumbangan kepada pihak lain, dan sebagainya. Kode etik biasanya lebih panjang dari kredo dan bisa sampai 50-an halaman.

Dalam pembahasan ini kode etik perusahaan dimaksudkan pernyataan etik  pada umumnya tanpa memperhatikan penggolongan yang dibuat oleh Patrick

Murphy.

Setiap perusahaan berusaha memiliki kode etik. Manfaat kode etik bagi perusahaan yaitu :

1. Kode etik dapat meningkatkan kredibilitas suatu perusahaan, karena etika telah dijadikan sebagai corporate culture.

2. Kode etik dapat membantu menghilangkan kawasan abu-abu di bidang etika. 3. Kode etik dapat menjelaskan bagaimana perusahaan menilai tanggung jawab

(7)

Kode etik seringkali menunjukan sikap optimis yang berlebihan sehingga diragukan kemampuannya untuk memecahkan persoalan etis dalam perusahaan. Kritik yang disampaikan terkait kode etik perusahaan adalah :

1. Kode etik sering hanya menjadi slogan belaka.

2. Kode etik dirumuskan terlalu umum dan tetap memerlukan keputusan  pimpinan dalam berbagai persoalan etis.

3. Jarang ada penegakan kode etik dengan memberi sangsi untuk pelanggaran. Untuk mengatasi kekuarangan tersebut, suatu kode etik hendaknya :

1. Dirumuskan berdasarkan semua pihak dalam organisasi sehingga dapat  berfungsi dengan baik.

2. Tidak memuat hal-hal yang tidak berguna dam dampak nyata. 3. Direvisi sewaktu-waktu agar sesuai dengan perkembangan jaman. 4. Ditegakan dengan seperangkat sangsi agar terselesaikan dengan baik.

(8)

KASUS

JALAN PITAS MENUJU LABA Kamis, 2 februari 2006

BALIKPAPAN – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kalimantan Timur telah menyidik 19 kasus penggunaan bahan makanan berbahaya yang beredar di masyarakat, khususnya formalin, bahan pengawet mayat.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 berkas telah dinyatakan lengkap dan sempurna atau P-21, tujuh perkara telah diputus pengadilan dan sisanya sedang menunggu  pemeriksaan bekas oleh kejaksaan.

Hal ini diungkap oleh Wahyudin, seksi penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) BPOM wilayah kerja Kalimantan Timur, Rabu (1/2) kemarin. Pernyataan tersebut diungkapkan Wahyudin dalam rapat koordinasi criminal justice system (CJS) di Mapolda Kaltim jalan Syarifuddin Yoes 99 Balikpapan.

Menurut Wahyudin, sebagian kasus yang ia tangani saat ini adalah masalah makanan berformalin.

“Dari 19 perkara yang kami temukan dan kami sidik, diantaranya adalah kasus makanan yang mengandung formalin dan sejenisnya yakni boraks maupun bahan pengawet yang membahayakan kesehatan,” ungkap Wahyudin.

Karena banyaknya kasus-kasus tersebut, ia meminta agar aparat terkait mendukung kebijakan yang dilakukan BPOM sebagai pihak yang berwenang mengawasi  peredaran obat dan makanan. Bahan berbahaya dalam makanan itu ditemukan di

Samarinda, Balikpapan, Tanah Grogot dan Bontang.

Ia menambahkan, beberapa hambatan yang dihadapi BPOM saat ini antara lain tidak memiliki akes informasi secara langsung untuk memonitor jalannya penyidikan sampai tingkat pengadilan. Meski demikian, Wahyudin mengaku sangat  berterimakasih dengan dukungan pihak- pihak terkait. “Hanya satu hal yang masih

mengusik kami, yakni untuk kasus di Bontang. Ada beberapa kasus disana yang statusnya tidak jelas sampai sekarang masih P-19 atau sudah P-21 sebab waktu saya

(9)

Wahyudin menambahkan, tahun 2006 ini pihaknya akan lebih represif dalam melakukan penyidikan kepada pelaku usaha yang menggunakan bahan-bahan  berbahaya. “Kami akan lebih represif, karena berdasarkan hasil kajian ilmiah,  penggunaan formalin dan semacamnya membahayakan kesehatan masyarakat,” tegas Wahyudin. Seluruh laporan hasil penyidikan dan proses hukum kasus tersebut,--menurut Wahyudin, telah dan akan dilaporkan ke Jakarta.

Sementara itu Kapolda Kaltim Iren Pol DPM Sitompul SH menyatakan kepolisian telah menyiapkan bantuan kepada BPOM untuk terus melakukan sosialisasi sekaligus mengusut peredaran formalin dalam makanan. “Kita siap dengan bantuan personil, teknis dan taktis berupa peralatan dan laboratorium,” jawab jenderal bintang dua ini. (sumber:http://www.balikpapan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id =947&Itemid=48)

(10)

DAFTAR PUSTAKA

Sutrisna Dewi. 2011. Etika Bisnis Konsep Dasar Implementasi dan Kas us. Penerbit:Unversitas Udayana Press. Bali.

Rindjin, Ketut. 2004. Etika Bisnis dan Implementasinya. Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

http://www.balikpapan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=947&It emid=48

Referensi

Dokumen terkait

• Dorongan tanggung jawab sosial • Etika bisnis.. • Bentuk tanggung jawab

bisnis dan etika tidak harus dipandang sebagai dua hal yang bertentangan sebab,. bisnis yang merupakan simbol dari urusan duniawi juga dianggap sebagai

Dalam ekonomi Islam, bisnis dan etika tidak harus dipandang sebagai dua hal yang4. bertentangan, sebab bisnis yang merupakan simbol dari urusan duniawi juga

pengungkapan sosial memberikan keuntungan bisnis karena perusahaan melakukan “hal yang benar” dan alsan ini mungkin dipandang sebagai motivasi utama. 3) Keyakinan

Program Studi : Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pembimbing : Salwendri, S.Sos, M.Si.. Kegiatan bisnis baik di bidang jasa atau barang

Komunikasi Bisnis adalah komunikasi yang digunakan dalam dunia bisnis yang mencakup berbagai macam jenis dan bentuk komunikasi untuk mencapai tujuan

Dalam ilmu ekonomi , bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba.. Secara historis kata

KORESPONDENSI