STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 1 BAB I
P E N D A H U L U A N
1.1. Latar Belakang
Kota Manokwari terletak di bagian Kepala Burung Pulau Papua, memiliki topografi dataran rendah, perbukitan serta pegunungan yang kaya akan potensi sumber daya alam, gunung, lembah, pantai dan keanekaragaman hayati merupakan bagian dari panorama dan kekayaan nan indah menawan dan tidak ternilai harganya sebagai obyek dan daya tarik wisata. Secara geografis Kota ini terletak antara 0015 Lintang Utara dan 3025 Lintang Selatan dan terbentang dari 132035 sampai 134045 Bujur Timur dan luas wilayah Kota Manokwari adalah 14.250,94 km2 dengan batas di sebelah Utara: Samudera Pasifik, sebelah Timur Kota Teluk Wondama, sebelah Selatan Kota Teluk Bintuni, dan sebelah Barat Kota Sorong dan Sorong Selatan. Jumlah penduduk Kota Manokwari sekitar 238.133 jiwa tersebar di 29 Distrik, 9 Kelurahan dan 208 kampung.
Etimologi Manokwari berasal dari Bahasa Biak Numfor yang berarti "Kampung Tua", dikenal sebagai kota Bersejarah dan tempat dimulainya peradaban di Tanah Papua karena pada tanggal 5 Februari 1855 Injil diberitakan pertama kali di tanah ini oleh dua Missionaris berkebangsaan Jerman yaitu Carel Willem Ottow dan Johann Gotlob Geisller. Dalam Lembaran Sejarah, Manokwari juga tercatat sebagai kota pemerintahan tertua di tanah Papua, Pada Tanggal 8 November 1989 adalah hari jadinya. Penetapan ini ditandai dengan pelantikan JJ. Van Oosterszee sebagai Controler Afdeling Noord Nieuw Guinea yang berkedudukan di Manokwari oleh Residen Ternate, Van Horst atas nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan sejak itu aktivitas pemerintahan dan kemasyarakatan di kota ini dimulai. Tahun 1999 Manokwari ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Irian Jaya Barat (Sekarang Papua Barat), penduduk asli Kota Manokwari terdiri dari beberapa suku seperti Suku Sough, Suku Karon, Suku Hatam, Suku Meyah dan Suku Wamesa, Suku-suku ini mempunyai budaya yang unik dan berbeda satu sama lain. Walaupun begitu kebudayaan penduduk asli tetap terpelihara dan terjaga. Ada pula objek- objek wisata seperti Pegunungan Arfak, Pantai Pasir Putih, Pantai Amban, Danau Anggi, Hutan Wisata Gunung Meja dan tugu di Pulau Mansinam. Selain itu jaga Kota Manokwari memiliki beberapa obyek dan daya tarik wisata budaya berupa hasil kerajinan, upacara tradisional, tari tradisional, dan tari kreasi; semua ini masih
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 2 menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat di Kota Manokwari. Sejumlah sanggar seni atau kelompok masyarakat di kampung-kampung tetap produktif menghasilkan karya seni berupa ukiran, pahatan, anyaman dan lukisan. Sementara grup tari menggelar upacara adat dan tari tradisional serta tari kreasi yang dikemas menjadi suatu produk wisata atraktif untuk dipertunjukkan kepada para tamu atau wisatawan yang berkunjung ke kota Manokwari.
Perkembangan Kota Manokwari yang semakin maju bisa dilihat dari Sumber daya alam (SDA) dan juga sarana prasarana yang disediakan oleh pemerintah daerah, tetapi masih banyak dibutuhkan peningkatan aksesibilitas pelayanan di kawasan perkotaan maupun daerah terisolir, misalnyaperkembangan pada sektor fasilitas umum, sektor bangunan,sector pertanian,sektor trasportasi daratdan lain- lain. Sektor – sektor ini yang masih menjadi kendala perkembangan di kota dan Kota Manokwari.
1.2. Perumusan Masalah
Kota Manokwariadalah ibukota dari Kota Manokwari. Beberapa permasalahan yang terkait erat dengan Kota Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan dan hipotesa awal antara lain sebagai berikut:
Sektor Pertanian
o Untuk lahan pertanian di wilayah Distrik Manokwari Barat dan Distrik Manokwari Timur sudah sangat jarang terlihat akibat dari pembangunan Sektor Industri, Sektor Perdagangan, Perhotelan dan Restoran dikarenakan dua Distrik ini terletak di tengah – tengah kota dan menjadi pusat pembangunan kota Manokwari.
Sektor Listrik dan Air Bersih
o Kurangnya kesadaran masyarakat dalam berpartisipasi untuk pembayaran rekening listrik.
o Coret - coretan pada gardo – gardo listrik akibat tangan – tangan jail
o Kurangnya kesadaran masyarakat dalam berpartisipasi untuk pembayaran air PDAM.
o Pencemaran air akibat dari pembuangan limbah sampah rumah tangga dan industri.
Sektor Industri
hampir semua Industri yang ada berada di Distrik Manokwari Barat baik dari jenis industri dari kulit, industri dari kayu, industri dari logam/logam mulia, industri anyaman, industri gerabah/keramik, industri dari kain/tenun serta industri makanan dan minuman. Sedangkan untuk Distrik Manokwari Utara
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 3 tidak terdapat satupun industri kecil dan kerajinan. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan selain di Distrik Manokwari Barat dikembangkan berbagai industri kecil sejenis.
Sektor Perdagangan, Perhotelan dan Restoran
o Kurangnya perhatian pemerintah daerah menyangkut dengan perbaikan sarana dan prasaran pasar sebagai tempat jual-beli barang.
Sektor Jasa
o Untuk sektor ini Kota Manokwarimemiliki banyak sekali objek – objek wisata yang bisa menjadi daya tarik wisatawan, namun banyak sekali fasilitas – fasilitas pendukung yang kurang memadai.
Sektor Fasilitas Umum
o Masih jarang tersedianya tempat pengumpulan sampah (TPS) ditiap - tiap pemukiman warga masyarakat
o Banyak sekali drainase yang kurang terawat dan mengalami penyumbatan berupa tanah timbunan atau penumpukan sampah plastik botol vit.
Sektor Bangunan
o Pembangunan sering terhambat akibat permasalahan tanah adat suku asli o Masih terdapat beberapa bangunan penduduk yang tidak layak huni.
Sektor Keuangan, Sewa Bangunan dan Jasa Perusahaan
o Untuk sektor ini, Kurangnya kantor cabang Bank pembantu untuk Distrik Manokwari utara dan Manokwari selatan.
o Penduduk umumnya masih kurang memanfaatkan kegiatan perbankan. o Fasilitas ATM yang masih jarang terlihat di beberapa Distrik yang jahu dari
perkotaan.
Sektor Transportasi dan Komunikasi
o Belum adanya rehabilitasi pengaspalan jalan padadaerah terisolir o Kurang tersedianya sarana angkutan umum roda empat (taksi) kota
o Kurangnya penambahan pemancar jaringan telkomunikasih pada tiap Distrik yang jahu dari pemukiman kota.
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 4 1.3. Tujuan dan Sasaran
Sebagaimana rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan dilakukannya Studio Perencanaan Kota ini adalah :
1.3.1. Tujuan
Mengidentifikasi masalah dan potensi yang ada di Kota Manokwari.
Memajukan setiap sektor yang berfungsi sebagai indikator pengembangan kota
Mengembangkan potensi Sumber Daya Alam yang ada
1.3.2. Sasaran
Agar pemerintah lebih meningkatkan pengembangan atau pemanfaatan sumber daya yang tersedia
Terciptanya penggunaan ruang kota yang serasi dengan lingkungan, melalui cara pengaturan fasilitas kebutuhan lingkungan dan pemerataan pembangunan.
Agar pemerintah perlu melakukan perbaikan dan penyedian sarana dan prasarana yang terdapat di kota Manokwari.
1.4. Ruang Lingkup Studi
1.4.1. Ruang Lingkup Wilayah kota
Wilayah studi Kota Manokwari merupakan salah satu wilayah Kota di Provinsi Papua Barat yang terletak di bagian kepala burung Pulau Papua. Kota Manokwari secara geografis terletak pada 132º35’ - 134º45’ BT dan 0º15’ - 3º25’ LS, dengan luas wilayah Kota Manokwari adalah 22.199,37 km2,
dengan Jumlah penduduk Kota Manokwari sekitar 105,930 jiwa tersebar di 4 distrik dan , 20 kelurahaan.
.Batas wilayah Kota Manokwari adalah: o Sebelah Utara ; Distrik Masni o Sebelah Selatan : Distrik Warrikmare o Sebelah Barat : Distrik Prafi o Sebelah Timur : Samudera Pasifik
Kota Manokwari secara umum termasuk daerah beriklim tropika humida dengan curah hujan berkisar antara 2.500 – 3.000 mm per tahun. Curah hujan rata-rata per tahun adalah 110 mm (dengan rata-rata-rata-rata hari hujan perbulan adalah 16 hari). Curah hujan tertinggi menurut stasiun pencatat Meteorologi Rendani terjadi pada bulan Maret (mencapai 337 mm), sedangkan curah hujan terendah terjadi
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 5 pada bulan Agustus (mencapai 11 mm). Hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret (mencapai 21 hari), sedangkan hari hujan terendah terjadi pada bulan April, Mei dan Oktober (yang mencapai 13 hari).
Sebagai daerah tropis seperti halnya dengan daerah lain di Indonesia, wilayah Kota Manokwarimempunyai topografis daerah pantai, dataran rendah hingga perbukitan. Kota Manokwarimenurut pencatatan Stasiun Meteorologi dan Geofisika Rendani memiliki tingkat kelembaban udara relatif tinggi yang berkisar antara 80 - 86% dengan rata-rata kelembaban udara 83%. Kelembaban udara tertinggi terjadi pada bulan Februari dan kelembaban udara terendah pada bulan Agustus. Penyinaran matahari di wilayah ini adalah 59,67%, sedangkan tekanan udara rata-rata adalah 1007,9 mb. Rata-rata kecepatan angin pertahun sebesar 8 knot.
Secara umum kondisi geologi Kota Manokwarididominasi oleh batuan sedimen liat berlempung, dan batuan endapan Tersier. Formasibatuanterdiri atas batuansedimenbatukapur, pasir, lanau, dan batuan pluton. Struktur geologi memilikisesarnaik, sesarturun, dan lipatan yang umumnyaberada di wilayah dataran tinggi dan lembah-lembah. Batuan di KotaManokwari merupakan endapan batuan sedimen berumur Tersier yang sangattua, telahterkonsolidasisempurna, dan telahmengalamiberbagaiperistiwatektonik, sehinggabersifatkompak. Batuan tersebut mempunyai kemampuan terbatas untuk menyimpan dan meneruskan aliran air tanah, ataudinyatakansebagai impermeable sampaisemi permeable yang tidak berperan sebagai akuifer air tanah yang baik, kecuali pada lapisan yang relatifsangat tipis di bagian atas di dekatpermukaan yang lebih gembur dan mampumenyimpan dan meneruskan air tanahkarenatelahmengalamipelapukan. Namun jika batuan sedimen kompak tersebut oleh proses tektonik terkekarkan secara intensif, maka dapat berperan sebagai akuifer air tanah yang produktif.
Geologi daerah Manokwari terdiri dari batuan sedimen Pra-Tersier berupa batuan sedimenklastik, karbonat, plutonik (granit), batuan vulkanik berupa aliran lava, aglomerat, breksi, tufa dan lahar serta batuan metamorfik. Batuan sedimen tersier terdiri dari batuan sedimen klastik, vulkanik dan karbonat. Batuan Kuarter terdiri endapanpantai, endapansungai, endapanlimpas banjir. Berdasarkan tataan fisiografi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung (1992). Morfologi wilayah daerah kajian dapat dibagi menjadi 3 satuan, yaitu pegunungan struktur, perbukitan rendah dan dataran. Satuan perbukitan merupakan wilayah terluas luas daerah dan berketinggian 200 m dpl. Satuan ini disusun oleh batuan gunung api, batuan sedimen klastik, karbonat, batuan terobosan, batuan malihan.
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 6 Derajat pelapukan pada satuan ini cukup tinggi, ditunjukkan oleh tanah pelapukan yang setempat mencapai hampir di seluruh daerah kajian. Satuan perbukitan rendah tersebar di bagian tengah daerah kajian terutama disusun oleh batuan sedimen klastik dan batuan vulkanik. Satuan dataran yang disusun oleh aluvium sebarannya di sepanjang aliran sungai besar dan pantai. Setempat satuan ini menempati daerah pinggiran pantai yang sempit. Satuan ini dibentuk oleh pasir, lumpur, dan lempung.
Berkaitan dengan kondisi hidrologi, air permukaan di Kota Manokwaritercerminkan dari kondisi sitem sungai. Sistem sungai yang ada di Kota Manokwariantara lain meliputi: Sistem Sungai Pami, Sistem Sungai Rendani, Sistem Sungai Sowi, Sistem Sungai Andai, Sistem Sungai Maripi, danSistem Sungai Maruni. Berdasarkan penelitian sebelumnya di daerah pantai yang mempunyai akuifer produktif dan luas penyebarannya, mempunyai debit kurangdari 5 liter/detik (Direktorat Geologi Tata Lingkungan). Air tanah di daerah kajian sangat tergantung dari kondisi geologi dan morfologinya. Berdasarkan hal tersebut dari produktifitas akuifernya, daerah kajian dapat dibedakan menjadi 2 (dua) satuan, yaitu:
(a) satuan dengan akuifer produktif sedang keterusan sedang-rendah (beragam), dijumpai pada batuan tersier; dan
(b) satuan langka airtanah, keterusan umumnya rendah-sangat rendah, setempat air tanah dalam jumlah terbatas dapat diperoleh terutama pada daerah lembah atau zona pelapukan batuan.
Jenis tanah
jenis tanah di kota Manokwari menurut lembaga penelitian tanah adalah alluvial, mediteran, grey brown podsolik, complex of soils, red yellow podsolik, organosol,danlatosol. Secaraumum, jenistanah yang terdapat di Kota Manokwarimempunyai sifat asam, yaitu nilai pH lebih dari 8. Jenis tanah berkorelasi positif terhadap kedalaman efektif tanah. Kedalaman efektif tanah adalah batas kedalaman yang dapat ditembus oleh akar tanaman untuk menyerap unsur hara. Semakin dalam lapisan tanah maka semakin besar pula kemungkinan tumbuhnya tanaman keras, sebaliknya bila tingkat kedalaman efektif tanah amat dangkal, maka hanya tanaman yang memiliki perakaran dangkal saja yang dapat tumbuh. Wilayah Kota Manokwarisecara umum mempunyai kedalaman efektif tanah > 25 cm. Adanya kendala kedalaman efektif tanah ini menyebabkan hanya beberapa jenis tanaman (terutama tanaman musiman) yang dapat tumbuh dengan
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 7 baik. Pengolahan dan pemupukan lahan sangat diperlukan untuk mengintensifkan pengolahan pertanian.
1.4.2. Lingkup Substansi
Kajian mengenai lingkup substansi dalam studio perencanaan kota adalah menganalisa setiap potensi yang di miliki dalam sektor sosial ekonomi yang berada di Kota Manokwari.
1.5. Metodelogi
1.5.1. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang di terapkan pada pelaksanaan Studio Perencanaan Kota Manokwari adalah Metode pengumpulan data sekunder dan pengumpulan data melalui survey primer dengan melakukan observasi dan dokumentasi.
1. Survey Sekunder
Survey sekunder atau survey data instansional berupa pengumpulan data dari instansi-instansi. Hasilnya adalah uraian fakta dan informasi baik dalam bentuk data angka, buku, atau peta mengenai keadaan daerah studi, serta rencana dan kebijakan pembangunan.
2. Survey Primer
Selain itu survey primer yang dilakukan adalah pengamatan/observasi terhadap kegiatan setiap sektor di Kota Manokwari. Kompilasi data merupakan proses memilah data yang akan di analisa dan di bahas pada bab berikutnya. Diharapkan data yang sudah ada dapat menghasilkan suatu gambaran informasi yang lebih optimal.
1.5.2. Metode Pengolahan Data
Dalam metode pengolahan data ini akan dianalisa data-data yang dikumpulkan secara langsung dilapangan. Analisa ini menggunakan dua metode yaitu :
1. Metode Analisa Kualitatif
Metode ini digunakan untuk menganalisis data yang berbentuk non numeric. Penggunaan metode ini lebih bersifat deskriptif dengan memberikan gambaran dan penjelasan mengenai wilayah studi, asumsi atau anggapan dan perkiraan tertentu yang didasari pada suatu kondisi tertentu, kompratif yaitu dengan cara membandingkan berbagai masalah
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 8 serta keadaan yang ditemui di lapangan dan berbagai sektor yang berkaitan dan analisis kondisi menurut standar umum yang berlaku. 2. Metode Analisa Kuantitatif
Metode ini merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis data yang terkaji dalam bentuk angka dan dapat diukur atau dihitung. Metode ini juga dapat digunakan dalam perhitungan disektor kependudukan. Metode Analisa Kuantitaif ini meliputi kajian tentang:
i. Laju pertumbuhan penduduk, ii. Proyeksi penduduk dan iii. Kepadatan penduduk iv. LQ (Location Questients)
i. Laju Pertumbuhan Penduduk
Adapun untuk menghitung laju pertumbuhan penduduk menggunakan rumus sebagai berikut:
LJPx =
100
%
1 1x
JP
JP
JP
x x y Dimana :LJPx = Laju pertumbuhan penduduk pada tahun tertentu n Jpy = Jumlah penduduk tahun pada tahun ini
JPx-1 = Jumlah penduduk 1 tahun sebelumnya (tahun lalu)
ii. Proyeksi Penduduk
Untuk menganalisa penduduk dalam jangka waktu 10 tahun mendatang sesuai perolehan data, digunakan Metode Ekstrapolasi/Trend atau bunga berganda. Metode Ekstrapolasi cenderung melihat pertumbuhan penduduk dimasa lalu dan melanjutkan kecenderungan tersebut dimasa yang akan datang sebagai proyeksi. Metode Ekstrapolasi mengasumsikan laju pertumbuhan penduduk masa lalu akan berlanjut dimasa yang akan datang. Metode ini dapat di bagi dua, yaitu teknik grafik dan metode trend. Cara yang paling mudah dalam teknik ekstrapolasi adalah dengan teknik grafik. Dalam teknik grafik, perkembangan penduduk di masa lampau digambarkan dalam sebuah susunan koordinat salib. Jumlah penduduk untuk setiap kurun waktu (misalnya per tahun) dinyatakan dalam sebuah titik pada bidang koordinat salib. Susunan titik-titik tersebut
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 9 dapat dipandang sebagai suatu garis (lurus atau lengkung) dan arah garis tersebut diteruskan ke masa yang akan datang sebagai proyeksi. Teknik grafik ini sebetulnya tidak untuk meramalkan jumlah penduduk melainkan hanya melihat arah kecenderungannya saja. Metode Trend adalah metode meramalkan pertumbuhan penduduk dengan sebagai berikut:
Pt = Po ( 1 + r )ⁿ Dimana :
Pt = Jumlah penduduk pada tahun tertentu Po = Jumlah penduduk pada tahun dasar r = angka pertumbuhan penduduk
n = Periode proyeksi /jangka waktu dalam tahun
iii. Kepadatan Penduduk
Untuk mengetahui kepadatan penduduk rumus yang digunakan sebagai berikut:
Kepadatan penduduk =
iv. LQ (Location Quotient)
Teknik analisis loqation quotient (LQ) merupakan cara permulaan untuk mengetahui kemampuan suatu daerah dalam sektor kegiatan tertentu. Cara ini tidak atau belum memberikan kesimpulan akhir. Kesimpulan yang diperoleh merupakan kesimpulan sementara yang masih harus dikaji dan ditilik kembali melalui teknik analisis lain yang dapat menjawab apakah kesimpulan sementara diatas terbukti kebenarannya. Satuan yang digunakan sebagai ukuran untuk menghasilkan koefisien dapat menggunakan satuan : jumlah buruh, atau hasil produksi atau satuan lainnya yang dapat digunakan sebagai kriteria. Perbandingan relatif ini dinyatakan secara matematika sebagai berikut :
LQi = Si/N = Si/S
S/N = Ni/N Menyeluruh Secara Wilayah Luas Penduduk Jumlah
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 10 Dimana:
Si = Jumlah buruh industri di daerah yang diselidiki.
S = Jumlah buruh seluruhnya di daerah yang diselidiki.
Ni = Jumlah buruh industri di daerah yang lebih luas.
N = Jumlah seluruh buruh di daerah yang lebih luas.
Struktur penulisan LQ memberikan beberapa nilai sebagai berikut:
LQ > 1, atau LQ = 1, LQ < 1.
Dengan kata lain LQ memberikan indikasi sebagai berikut:
LQ > 1, menyatakan sub daerah bersangkutan mempunyai potensi ekspor dalam kegiatan tertentu.
LQ < 1, menunjukan sub daerah bersangkutan mempunyai kecenderungan mengimpor dari sub daerah/daerah lain. LQ = 1, memperlihatkan daerah yang bersangkutan telah
mencukui dalam kegiatan tertentu (seimbang).
1.5.3. Instrumen penelitian
Merupakan alat atau faktor-faktor yang mendukung dalam survey ini, meliputi: 1. Keamanan
Sebagai faktor penunjang kelancaran penelitian, keamanan sangat penting dalam mendukung target/waktu yang telah ditetapkan.
2. Aksesibilitas
Adalah penunjang pergerakan ketempat penelitian, sama peranannya dengan faktor keamanan. Jika aksesibilitas ke lokasi penelitian mengalami permasalahan maka akan mengganggu lancarnya penelitian.
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 11 3. Dana
Merupakan faktor utama dalam pelaksanaan penelitian. Dana menjadi penghambat utama jika dana yang tersedia tidak memenuhi kebutuhan.
4. Waktu
Melakukan suatu penelitian memerlukan waktu yang cukup lama untuk memperoleh kelengkapan data. Biasanya dalam melakukan penelitian, waktu disesuaikan dengan permasalahan yang diteliti.
1.6. Tahapan Pelaksanaan 1.6.1. Tahapan Persiapan
Beberapa kegiatan dalam tahap persiapan survey antara lain:Persiapan teknis survey, berupa penentuan wilayah studi, survay awal, identifikasi permasalahan, penentuan tujuan, melakukan kajian literaratur, surat-surat perizinan, serta persiapan peralatan lainnya yang diperlukan untuk kepentingan pengumpulan data.
1.6.2. Tahapan Pelaksanaan Survei
Tahap ini di lakukan untuk memperoleh data yang di sesuaikan dengan kebutuhan sebagai input dalam proses analisa yang wujudnya dapat di lakukan baik melalui survey primer maupun sekunder. Dalam pelaksanaannya data yang berasal dari kedua bentuk survey ini saling mendukung sehingga data yang di peroleh semakin akurat.
a) Survey Primer
Survey primer merupakan proses pengambilan data yang di lakukan langsung di lapangan,dengan cara melakukan :
Observasi visual,di lakukan dengan cara meninjau langsung di lapangan terhadap kondisi fisik lapangan yang berhubungan dengan lokasi dan kondisi suatu objek, misalkan : Peta fasilitas, kondisi fasilitas, kondisi jalan, jaringan listrik, drainase dan lain sebagainya.
Kuisioner,di lakukan dengan cara memberikan pertanyaan baik lisan maupun tertulis mengenai suatu masalah yang akan di ajukan kepada sejumlah sumber yang dapat di percaya dari masyarakat di wilayah studi sebagai responden.
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 12 b) Survey Sekunder
Merupakan proses pengambilan data yang di peroleh dari literatur-literatur yang di kumpulkan maupun yang di peroleh dari instansi terkait atau pihak tertentu seperti : Kantor desa atau kampung, kantor Distrik, kantor lurah, BPS, badan meteorologi dan geofisika, LSM, dll. Data tersebut dapat berupa data statistik, laporan dan dokumen lainnya. Adapun data-data yang di maksud antara lain :
Data Penduduk
- Jumlah penduduk dan kepadatan - perkembangan penduduk
- komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin - komposisi penduduk menurut agama
- komposisi penduduk menurut mata pencaharian
Data perekonomian - Perkebunan
- Pertanian tanaman pangan - Perdaganganpa
- dll
Data fasilitas dan Utilitas - Fasilitas Pendidikan - Fasilitas Kesehatan - Fasilitas Peribadatan - Fasilitas pemukiman - Fasilitas Perdagangan - Fasilitas Air bersih
- Fasilitas Elektikal (Listrik) - Fasilitas Telekomunikasi
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 13 1.6.3. Tahap Penyusunan Laporan Fakta dan Analisa
Tahapan yang dilakukan setelah tim melakukan survey dilapangan. Pengumpulan data guna penyusunan laporan fakta yang merupakan tahapan yang dilakukan untuk menampilkan fakta yang ada yang berhubungan dengan objek yang sedang diamati. Sehingga dari data yang sudah terkumpul kemudian dikaji guna mendapatkan suatu output berupa informasi yang diperlukan untuk menunjang studi yang sedang di kaji. Untuk menganalisis data digunakan beberapa metode analisis sebagai alat bantu sehingga data tersebut memiliki keterkaitan atau berhubungan satu sama lain.
1.6.4. Tahap Penyusunan Laporan Rencana
Tahap ini merupakan tahap akhir dari studio perencanaan kota, yang kemudian di presentasikan. Tahap ini juga berisi tentang hasil dari analisis beserta alur prosesnya yang dituangkan dalam bentuk tertulis yang bersifat deskriptif, objektif, dan kompherensif. Jika perlu juga maka dapat diadakan evaluasi terhadap hasil analisis agar hasil laporan akhir dapat optimal.
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 14 1.7. Organisasi Pelaksana
Adapun organisasi pelaksana pada proses pengambilan data di Kota Manokwari, Kota Manokwari dan pengolaan laporan ini antara lain sebagai berikut
STRUKTUR KEPANITIAAN STUDIO PERENCANAAN KOTA 2013
PENANGGUNG JAWAB : JOKO PURCAHYONO, M.MT DOSEN PENGASUH : Y.L MARNALA SITORUS, MT
KETUA : IRWAN F. KASIMAT
SEKRETARIS : APNER. ROTKOKAY
BENDAHARA : DEMIANUS. WODIOK
KORD. DATA : ALBERTH. KRENAK
KORD. KONSUMSI : RUDOLOF . MANDACAN KORD. PERLENGKAPAN : YUSAK K. KAMBUAYA KORD. SURVEY : PENIUS. UNBEY
KORD. TRANSPORTASI : MARSHAL L.RESUBUN ANGGOTA STUDIO
PERENCANAAN KOTA MANOKWARI Tahun 2013 NIXON WALLY PAULUS HALUK MAXIMILIANUS MAGADIN KOSTANTINUS DEMOTEKAIIIiiiiIi ELIFAS RUMBOBO KRISTON WANGGAI DORSIUS KOMBO BARNABAS AIRBARU AGUS SAMBERI ELIFAS RUMBOBO ANDY KARET
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 2 BAB II
KARAKTERISTIK KOTA MANOKWARI
2.1. KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN
2.1.1. Kebijaksanaan Pembangunan Wilayah Papua Barat
Pemerintah melalui UU No. 45 tahun 1999 tentang Pemekaran Propinsi Papua Barat telah menetapkan Kota Manokwari sebagai Ibukota Propinsi Papua Barat. Kebijaksanaan ini berdampak kepada pertumbuhan fisik, sosial dan ekonomi Kota Manokwari yang telah berkembang dengan cepat. Hal Ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi, meluasnya kawasan terbangun terutama kawasan jasa komersial, perdagangan, dan sebagainya. Peningkatan potensi internal dan eksternal, menjadikan Kota Manokwari sebagai pusat pengembangan dan pertumbuhan bagi daerah-daerah di sekitarnya maupun pusat pertumbuhan dan pengembangan Papua Barat. Selain itu kota manokwari yang memiliki letak strategis yang dibatasi dengan laut dan juga kawasan hutan yang masih terjaga keasriannya, serta budaya masyarakat yang masih kental,membuat kota manokwari memiliki ciri khas tersendiri. hal ini menjadi pendukung untuk menumbuh kembangkan sumber daya manusia dalam hal pemanfaatan sumberdaya alam yang ada untuk peningkatan pembangunan kota manokwari serta memajukan kesejahteraan masyarakat. Agar terwujud masyarakat yang sejahtra dan memiliki daya saing, maka didukung pula dengan peningkatan dibidang pendidikan,dan kesehatan melalui penyediaan sarana dan prasarana publik.
Merujuk kepada Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, maka pembangunan kota Manokwari ditata dalam dua arahan pembangunan, yaitu: penataan kawasan lindung dan/atau kawasan konservasi, dan penataan kawasan budidaya. Penataan kawasan lindung dan atau kawasan konservasi dalam rangka menjaga keseimbangan lingkungan hidup perlu menjadi perhatian utama dalam membangun dan mengembangkan Kota Manokwari. Penekanan ini sangat penting oleh karena kota Manokwari memiliki kawasan hutan Wosi-Rendani sebagai hutan lindung serta kawasan hutan Gunung Meja sebagai hutan wisata nasional. Selain itu, terdapat hutan dengan pepohonan yang
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 3 cukup rapat di bagian barat dan selatan kota yang perlu dikendalikan pemanfaatannya sebagai kawasan resapan air.
Kawasan lain yang perlu diperhatikan adalah kawasan pantai dan pulau. Kota Manokwari memiliki garis pantai yang panjang demikian juga terdapat pulau Mansinan yang memiliki riwayat historis yang perlu dipertahankan. Untuk itu perlu penataan yang intensif sehingga terhindar dari eksploitasi yang berlebihan. Hutan tanaman mangrove perlu ditingkatkan, khususnya di lahan-lahan pantai yang kritis.
Penataan kawasan budidaya sudah mendapat perhatian yang memadai sejak dilakukan penyusunan Rencana Induk Kota (RIK), RUTRK, dan RDTRK, dan juga di dalam hasil revisi Rencana Umum Tata Ruang Kota Manokwari. Namun demikian, dinamika pembangunan kota yang telah berkembang pesat pasca peningkatan status kota Manokwari sebagai ibukota Propinsi Papua Barat (Irjabar) perlu ditindaklanjuti dengan rencana tata ruang kota yang mewadahi semua kegiatan budidaya masyarakat yang meliputi kawasan Cipta, Karya, Marga, Suka dan Penyempurna. Kawasan Cipta adalah kawasan terbangun untuk perumahan dan permukiman dimana masyarakat kota Manokwari melakukan kegiatan bertempat tinggal, beribadah, menimba ilmu, dan kegiatan permukiman lainnya.Kegiatan Karya adalah penyediaan fasilitas dimana masyarakat akan bekerja, berusaha untuk meningkatkan taraf social ekonominya, yaitu antara lain tempat bekerja (perkantoran), tempat berusaha (kawasan perdagangan, meliputi pasar, petokoan, kios dan kegiatan usaha lainnya. Tempat prosessing dan produksi barang kebutuhan untuk konsumsi dan diperdagangkan, dalam hal ini kawasan industri kecil, sedang dan berat, serta kegiatan usaha lainnya.
Kegiatan Marga adalah kegiatan yang memberi pelayanan umum kepada masyarakat kota serta fasilitas kenyamanan dan pengamanan kota meliputi penyediaan transportasi (darat, laut dan udara), penyediaan sarana drainase, pengelolaan dan pengendali erosi, banjir dan abrasi. Pengelolaan sampah, sanitasi dan air buangan, penyediaan energi, air bersih dan sarana telekomunikasi, Termasuk juga penyediaan sarana bagi pencegahan dan penanganan bahaya kebakaran
Kawasan Suka adalah fasilitas yang disediakan untuk kegiatan rekreasi, olah raga dan kawasan terbuka hijau yang memberi kesenangan dan kenyamanan, seperti taman-taman kota, kawasan rekreasi gunung, pantai dan pulau. Termasuk dalam kegiatan suka adalah kegiatan budaya/seni, organisasi masyarakat dan
lain-STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 4 lain kegiatan yang membutuhkan penyediaan sarana prasarana untuk kepentingan pelestarian budaya (museum) dan pementasan seni (gedung pertunjukan dan atau gedung serbaguna).
Kegiatan Penyempurna adalah fasilitas yang disediakan guna memperoleh manfaat yang lebih baik dan lebih lengkap, termasuk penyediaan assesoeis kota seperti lampu-lampu jalan, lampu-lampu taman, lampu pengatur lalu lintas, shelter (tempat menunggu bus/angkutan kotam tempat pejalan kaki (pedestrian), Pos ronda/pos jaga, dan lain sebagainya.
2.1.2. Kebijaksanaan Pembangunan Kota/Regional
Dalam membangun dan mengembangkan Kota Manokwari ada dua sasaran pokok, yaitu bagi pengembangan Kota Manokwari sendiri dan pengembangan wilayah yang ada di sekitarnya. Kebijaksanaan pengembangan kota yang tercantum dalam Tujuan pengembangan Kota Manokwari ditinjau dari segi kepentingan kota, antara lain untuk:
(a) Menciptakan pola tata ruang yang terencana secara optimal; (b) meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat;
(c) memberikan pelayanan umum bagi masyarakat; (d) meningkatkan pendapatan asli daerah/PAD;
(e) meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemanfaatan ruang;
(f) meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyebaran fasilitas dan utilitas secara tepat dan merata sesuai kebutuhan masyarakat;
(g) menjaga kualitas lingkungan untuk mempertahankan keseimbangan lingkungan dan cadangan air bersih; dan
(h) mengembangkan Kota Manokwari dalam upaya melayani kebutuhan penduduk dan memacu pertumbuhan wilayah yang ada di sekitarnya. Sehubungan dengan hai tersebut, pembangunan Kota Manokwari
ditujukan untuk:
(a) meningkatkan kemampuan pelayanan Kota Manokwari sebagai pusat pengembangan (Central Business District) Kota Manokwari dan Propinsi Papua Barat;
(b) meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan penduduk kota Manokwari, penduduk yang bermukim di sekitar Kota Manokwari atau penduduk kecamatan di sekitarnya serta penduduk Kota Manokwari pada umumnya, sebagai multiplier effect pembangunan kota Manokwari;
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 5 (c) meningkatkan pelayanan sosial bagi penduduk Kota Manokwari dan
sekitarnya; dan
(d) memacu pertumbuhan ekonomi wilayah belakang (hinterland) Kota Manokwari, khususnya Kota Manokwari
2.1.3. Kebijaksanaan Dasar Pengembangan Tata Ruang
Konsep tata ruang Kota Manokwari pada dasarnya bertujuan untuk memenuhi stujuan pembangunan kota serta fungsi dan peranan kota, Dalam hal ini konsep tata ruang Kota Manokwari dibagi dalam dua kelompok, yaitu konsep makro dan konsep mikro.
(a) Konsep Tata Ruang Makro
Konsep tata ruang makro ditekankan keterkaitan unsur-unsur Kota Manokwari dengan wilayah luar kota, yang diuraikan berikut ini.
Pengembangan pelabuhan laut Kota Manokwari sebagai sarana pergantian moda transport (terutama untuk penumpang dan barang dengan volume besar tetapi dengan waktu perjalanan cukup panjang) dan wilayah pelayanan Kota Manokwari ke luar dan sebaliknya, sekaligus sebagai pelabuhan ekspor-impor.
Pengembangan pelabuhan/bandar udara Kota Manokwari sebagai sarana pergantian moda transport (terutama untuk penumpang dan barang dengan waktu perjalanan cukup singkat tetapi dengan volume kecil) dan wilayah pelayanan Kota Manokwari keluar dan sebaliknya, maupun dalam wilayah Kota.
Pengembangan transportasi darat yang mampu meningkatkan hubungan Kota Manokwari dengan wilayah yang ada di sekitarnya.
Pengembangan pusat perdagangan eceran regional untuk komoditi perdagangan barang-barang kebutuhan sekunder dan tersier.
Pengembangan kawasan wisata alam dan budaya, sejarah, pendidikan untuk kebutuhan rekreasi dan pendidikan bagi penduduk Kota Manokwari dan daerah sekitarnya serta bagi rekreasi pencinta alam.
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 6 (b) Konsep Tata Ruang Mikro
Konsep tata ruang mikro ditekankan pada keterkaitan antar unsur-unsur yang ada di dalam wilayah Kota Manokwari, seperti diuraikan berikut ini.
Pengembangan pusat-pusat Bagian Wilayah Kota (BWK) di luar kawasan pusat kota dengan tujuan menyebarkan dan menjalankan fungsi pelayanan ke bagian wilayah kota.
Pengembangan sistem jaringan transportasi untuk menghubungkan pusat-pusat BWK.
Pengembangan kawasan industri terutama industri kecil/ ringan dan industri hasil pertanian ke arah selatan kota serta ke lokasi dekat sumber bahan baku.
Pembatasan pertumbuhan industri polutif yang menyebar di kawasan pemukiman dan mengarahkannya ke bagian selatan.
Pengembangan kawasan perumahan secara vertikal di kawasan-kawasan yang layak secara teknis serta peremajaan dan peningkatan kualitas fisik bangunan dan lingkungan.
Pengembangan kawasan wisata laut/pantai Pasir Putih dan Pantai Amban, Pulau Mansinam serta pengembangan wisata kawasan air Danau Kabori di wilayah bagian selatan kota.
Pengembangan kawasan pusat pemerintahan, jasa komersial, perdagangan di pusat kota.
Penataan kawasan pantai Teluk Sawaibu untuk mencegah pencemaran dan rusaknya lingkungan.
Penataan kawasan pelabuhan laut di Teluk Sawaibu karena kedudukannya yang strategis.
Pemanfaatan ruang secara optimal dan terencana di kawasan efektif pengembangan perkotaan yang diarahkan untuk dapat mengakomodasikan berbagai kegiatan fungsional kota.
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 7 Strategi Penataan Ruang Kota
Untuk lebih mengoptimalkan dan mengatur pemanfaatan ruang Kota Manokwari diperlukan strategi pembagian wilayah kota dalam beberapa Bagian Wilayah Kota (BWK). Pembagian ini berperan untuk hal-hal berikut ini.
(a) Meningkatkan peranannya sebagai ibukota Provinsi Papua Barat, maka saat ini Kota Manokwari diarahkan untuk berperan sebagai pusat pemerintahan Provinsi Papua Barat. Dengan demikian Kota Manokwari harus dapat diarahkan dapat mencukupi kebutuhan aktivitas dan volume kegiatan yang berskala provinsi. (b) Ditinjau dari konstelasi regional yang lebih luas, Kota Manokwari mempunyai
kedudukan dans peranan sebagai titik simpul penerima sekaligus penjalar pertumbuhan dan perkembangan wilayah dibelakangnya.
(c) Melihat alur kegiatan yang saat ini berjalan, maka peranan Kota Manokwari sangat sesuai sebagai pusat-pusat perdagangan dan jasa, industri, pemerintahan baik itu Pemerintahan Provinsi maupun Pemerintahan Kota.
Pada RUTRK sebelumnya, Kota Manokwari dibagi menjadi empat BWK yaitu BWK A, B, C dan D. Setiap BWK tersebut diharapkan berfungsi sebagai berikut ini.
(a) BWK A diarahkan untuk fungsi kegiatan pemerintahan, perdagangan, pelayanan sosial budaya, kegiatan pelabuhan dan perumahan. BWK A dapat diidentifikasikan sebagai kawasan pusat kota.
(b) BWK B difungsikan sebagai kawasan pendidikan, perguruan tinggi dan kegiatan penelitian dan permukiman.
(c) BWK C difungsikan sebagai kawasan pendidikan, perdagangan dan permukiman. (d) BWK D ditetapkan untuk fungsi pusat kegiatan pelayanan ekonomi regional dan
pusat perkantoran Pemerintahan Provinsi Papua Barat maupun pemerintahan Kota Manokwari, perhubungan, permukiman, TPU dan TPA.
Berdasarkan fakta dan analisis maka pembangunan di masing-masing kawasan tidak berjalan dengan efektip. BWK A tumbuh terlalu dominant (terlalu kuat) sehingga mematikan peran dan potensi BWK lain khususnya BWK C. Selain itu pada tahun 2002, Pemeriintah Kota Manokwari telah melakukan pemekaran Distrik Manokwari menjadi empat Kecamatan yang terdiri dari kurang lebih 96 kelurahan/desa. Sebagaimana maksud dan tujuan pembagian BWK yaitu untuk mendekatkan pelayanan fasilitas ke pada masyarakat, maka ke depan dama RUTK Manokwari 2005-2915, diusulkan untuk memekarkan BWK menjadi lima BWK, dalam hal ini memecah BWK C menjadi dua BWK, yaitu BWK C dan E. BWK C yang semula berpusat di Amban karena tidak efektip
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 8 (secara geografis masyarakat Kelurahan Wosi dan Manokwari Barat tidak dapat memanfaatkan fasilitas yang ditempatkan di pusat BWK C).
Selanjutnya pembagian Bagian Wilayah Kota (BWK) untuk RUTRK 2005-2015 beserta arahan peran/fungsinya masing-masing adalah sebagai berikut.
(a) BWK A berfungsi utamanya adalah kegiatan perdagangan, pelabuhan laut, pelayanan sosial budaya dan perumahan. BWK A merupakan kawasan pusat kota (central business District) Manokwari
(b) BWK B berfungsi utamanya adalah kawasan pendidikan perguruan tinggi dan kegiatan penelitian, kawasan resapan air (hutan lindung), kawasan rekreasi dan permukiman.
(c) BWK C berfungsi utamanya adalah sebagai pusat pelayanan jasa dan perdagangan.tingkat regional (pasar pusat dan terminal pusat di Wosi), kawasan perumahan dan pertanian/perkebunan terbatas.
(d) BWK D ditetapkan untuk fungsi pusat kegiatan pelayanan regional, pusat perkantoran Pemerintahan Provinsi Papua Barat dan juga perkantoran pemerintah Kota Manokwari, kawasan perhubungan udara, permukiman baru, kawasan industri, TPU dan TPA.
(e) BWK E difungsikan sebagai kawasan perumahan, pusat pertanaman hortikultura dan lahan perkebunan terbatas, kawasan rekreasi .pertanian, kawasan penyanggah dan konservasi, serta kawasan pendidikan.
Jika dikaitkan dengan rencana pengelolaan persampahan Kota Manokwari diarahkan melalui kebijakan sebagai berikut:
(a) pembangunan dan atau perluasan TPA;
(b) penambahan jumlah TPS dan perluasan jangkauan pelayanan;
(c) pengembangan usaha daur ulang sampah, kertas, dan plastik (sampah kering); (d) sistem pengelolaan TPA yang dikembangkan adalah sanitary landfill;
(e) peningkatan kesadaran (peran serta) masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan;
(f) pengefektifan fungsi pemulung dengan membangkitkan kegiatan daur ulang sampah menjadi produk-produk yang berdaya guna;
(g) penambahan sarana pengangkutan dan petugas persampahan;
(h) pengomposan sampah-sampah organik dan pembangunan fasilitas tempat pemisahan jenis sampah organik dan anorganik yang dilakukan oleh masyarakat mulai dari rumah-rumah sampai tempat-tempat umum, dimana pemerintah menyediakan sarana tong sampah untuk memilah-milah sampah tersebut;
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 9 (i) re-design tempat/lahan pembuangan akhir yang ada untuk mencegah akibat yang
ditimbulkan ke depan; dan
(j) pemerintah mengeluarkan aturan-aturan yang diperlukan dan yang lebih tegas mengenai pembuangan sampah ini, antara lain memberikan denda kepada pihak yang membuang sampah sembarangan, sistem retribusi sampah, tarif pengelolaan. Secara Umum struktur tata ruang kawasan di wilayah prencanaan dapat dikemukakan sebagai berikut ini.
(a) Pola tata ruang kawasan bertumpu pada kegiatan kawasan yang dominan (perkantoran pemerintah, perumahan, perdagangan-jasa, industri dan wisata). Ruang kawasan strategis kanan kiri jalan menjadi kerangka utama kawasan yang akan “ditawarkan” kepada investor dan juga berperan sebagai nadi perekonomian kawasan.
(b) Fungsi kegiatan wilayah perencanaan terdiri dari dua jenis, yakni fungsi primer dan fungsi sekunder. Bila fungsi sekunder memberikan pelayanan terutama bagi internal kebutuhan kawasan, maka fungsi primer mempunyai orientasi pelayanan eksternal melayani wilayah regional. Fungsi primer yang melayani wilayah regional didukung oleh keberadaan pusat pemerintahan skala Kota, pusat pemerintahan skala provinsi, jalan arteri, Bandara Rendani, pelabuhan regional, perkantoran regional dan jalan regional.
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 10 2.2. Gambaran Umum Kota Manokwari
2.2.1. Kondisi Fisik 2.2.1.1. Kondisi Geografis
Kota Manokwarimerupakan salah satu wilayah di Provinsi Papua Barat yang terletak di bagian kepala burung Pulau Papua. Kota Manokwarisecara geografis terletak pada 132º35’ - 134º45’ BT dan 0º15’ - 3º25’ LS dengan luas 14.44850 km2, dengan ibukota Kota terletak di Kota Manokwari. Batas wilayah Kota Manokwari adalah:
sebelah utara : Samudra Pasifik; sebelah selatan : Kota Teluk Bintuni; sebelah barat : Kota Sorong Selatan; dan sebelah timur : Kota Teluk Wondama.
Posisi geografis tersebut sangat strategis oleh karena berada pada lintas pergerakan barat-timur Pulau Papua dan perairan laut yang berbatasan merupakan jalur transportasi internasional. Pengembangan sarana dan prasarana Kota Manokwari ke depan dapat memanfaatkan peluang dari letak posisi yang strategis secara geografis ini.
Secara administrasi Kota Manokwarimeliputi wilayah Distrik yang berada khususnya Di kota manokwari.
Tabel 2.1
Luas Kota Manokwari Menurut Distrik
NO
Distrik
LUAS
(km)
Persentase
(%)
1
Manokwari Selatan
542,07
34,82
2
Manokwari Barat
237,24
15,24
3
Manokwari Timur
154,84
9,95
4
Manokwari Utara
622,79
40,00
jumlah
1.556,94
100
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 11 2.2.1.2. Topografis
Kota Manokwari mempunyai topografis daerah pantai, dataran rendah hingga perbukitan. Kota Manokwarimenurut pencatatan Stasiun Meteorologi dan Geofisika Rendani memiliki tingkat kelembaban udara relatif tinggi yang berkisar antara 80 - 86% dengan rata-rata kelembaban udara 83.
Untuk jenis tanah Jenis tanah di Kota Manokwari menurut lembaga penelitian tanah adalah alluvial, mediteran, grey brown podsolik, complex of soils, red yellow podsolik, organosol, dan latosol. Secara umum, jenis tanah yang terdapat di Kota Manokwarimempunyai sifat asam, yaitu nilai pH lebih dari 8. Jenis tanah berkorelasi positif terhadap kedalaman efektif tanah. Kedalaman efektif tanah adalah batas kedalaman yang dapat ditembus oleh akar tanaman untuk menyerap unsur hara. Semakin dalam lapisan tanah maka semakin besar pula kemungkinan tumbuhnya tanaman keras, sebaliknya bila tingkat kedalaman efektif tanah amat dangkal, maka hanya tanaman yang memiliki perakaran dangkal saja yang dapat tumbuh. Wilayah Kota Manokwarisecara umum mempunyai kedalaman efektif tanah > 25 cm. Adanya kendala kedalaman efektif tanah ini menyebabkan hanya beberapa jenis tanaman (terutama tanaman musiman) yang dapat tumbuh dengan baik. Pengolahan dan pemupukan lahan sangat diperlukan untuk mengintensifkan pengolahan pertanian.
2.2.1.3. Hidrologi
Berkaitan dengan kondisi hidrologi, air permukaan di Kota Manokwaritercerminkan dari kondisi sistem sungai. Sistem sungai yang ada di Kota Manokwari antara lain meliputi: Sistem Sungai Pami, Sistem Sungai Rendani, Sistem Sungai Sowi, Sistem Sungai Andai, Sistem Sungai Maripi, dan Sistem Sungai Maruni. Berdasarkan penelitian sebelumnya di daerah pantai yang mempunya i akuifer produktif dan luas penyebarannya, mempunyai debit kurang dari 5 liter/N Air tanah di daerah kajian sangat tergantung dari kondisi geologi dan morfologinya. Berdasarkan hal tersebut dari produktifitas akuifernya, daerah kajian dapat dibedakan menjadi dua (satuan), yaitu :
(a) satuan dengan akuifer produktif sedang keterusan sedang-rendah (beragam), dijumpai pada batuan tersier; dan
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 12 (b) satuan langka airtanah, keterusan umumnya rendah-sangat rendah, setempat
air tanah dalam jumlah terbatas dapat diperoleh terutama pada daerah lembah atau zona pelapukan batuan.s
2.2.1.4. Iklim
Perubahan iklim yang terjadi diseluruh dunia juga banyak mempengaruhi cuaca di kota manokwari. Badan meteorology dan geofisika (BMG) Rendani manokwari mencatat curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu mencapai 371 mm. hari hujan tertinggi pada bulan Mei-Juni.
Table 2.2
Jumlah curah hujan dan kelembaban udara
Bulan
banyaknya
Dalam Derajat Celcius kelembaban udara (%)
curah hujan hari hujan maksimum minimum
januari
165.4
19
33.5
23
83
februari
80.3
19
33.2
23.2
85
maret
238.7
20
33.2
22.7
87
april
128.5
21
33.2
23
86
mei
401
24
33
23
86
juni
307.7
24
33.8
23
88
juli
216.2
17
32.6
22
89
agustus
251.7
22
32.4
21.3
86
september
172.4
19
32.8
22.8
86
oktober
142.5
19
33.1
21.4
85
november
204.9
21
33.6
22.8
83
desember
371.2
21
34
23.2
85
Sumber :Badan Meteorology klimatologi Dan Geofisika Kota Manokwari tahun 2012.
2.2.2. Kependudukan
2.2.2.1. Perkembangan Penduduk
Suatu wilayah kependudukan dalam suatu daerah perencanaan dapat dilihat dari laju pertumbuhan penduduk ,untuk merasakan suatu pembangunan yang nyata disuatu wilayah itu.pesatnya pertumbuhan penduduk Kota Manokwari tidak bisa dilepas dari semakin strategisnya manokwari baik secara ekonomi maupun politis. Jumlah penduduk Kota Manokwari pada tahun 2012 berjumlah 194.948 .dari jumlah penduduk tersebut 102,719 jiwa merupakan pria sedangkan penduduk wanita adalah 92,229 jiwa. Kota Manokwari terlihat memiliki
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 13 peningkatan yang cukup pesat begitu pula pada Distrik. Hal ini disebabkan pemekaran wilayah provinsi yang menjadikan Kota Manokwari sebagai
ibukota provinsi. Pada tabel dibawah terlihat bahwa penduduk di Kota Manokwari terkosentrasi pada daerah kota yaitu Distrik manokwari barat.
Table 2.3
Luas Wilayah Kota, Rumah Tangga, Penduduk dan Kepadatan Dirinci menurut Distrik, Pertengahan tahun 2011
Regency Area, Household, Population and Density In Manokwari Regency by District, mid 2011
Sumber : BPS Kota Manokwari Tahun 2012
2.2.2.2. Struktur penduduk
Kota Manokwarimemiliki jumlah penduduk yang berkisar sampai 194.948 jiwa, dengan komposisi 102,719 jiwa laki-laki, sedangkan wanita 92,229 jiwa.untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel berikut :
Tabel 2.4
Penduduk Kota Manokwari menurut Jenis Kelamin per Distrik Pertengahan tahun 2011
Population In Manokwari Regency by Sex and District mid 2011
Sumber : badan pusat statistik kabpate Manokwari tahun 2012 No
Distrik Luas
Area (km2)
Jumlah
Penduduk Rumah tangga
Kepadatan penduduk 1 Manokwari Barat 237,24 80,606 17,761 340 2 Manokwari Timur 154,84 9,298 1,611 60 3 Manokwari Utara 622,79 2,312 565 4 4 Manokwari Selatan 542,07 13,714 3,327 25 Jumlah 1.556,94 1o5,930 23,268 429 No Distrik Luas Area (km2)
Jenis kelamin Jumlah Total Laki-laki Perempuan 18 Manokwari Barat 237,24 43,393 37,213 80,606 19 Manokwari Timur 154,84 4,802 4,496 9,298 20 Manokwari Utara 622,79 1,208 1,104 2,312 21 Manokwari Selatan 542,07 7,380 6,334 13,714
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 14 Tabel 2.5
Banyaknya Penduduk Kota Manokwari Dirinci Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin pertengahan tahun 2011 Kelompok umur Jumlah penduduk Jumlah total Laki-laki perempuan 0 - 4 11,676 11,676 22,585 5 - 9 11,129 11,129 21,680 10 - 14 10,224 10,224 19,664 15 - 19 9,418 9,418 18,371 20 - 24 11,327 11,327 21,577 25 - 29 11,032 11,032 21,131 30 - 34 9,873 9,873 18,451 35 - 39 7,511 7,511 14,018 40 - 44 6,642 6,642 12,111 45 - 49 4,795 4,795 8,870 50 - 54 3,438 3,438 6,327 55 - 59 2.306 2.306 4,160 60 - 64 1.564 1.564 2,829 65 - 69 901 901 1,582 70 - 74 497 497 889 75+ 386 386 703 Jumlah total 102,719 92,229 194,948
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 15 2.2.3. Sosial Ekonomi
2.2.3.1. Perekonomian Daerah
Produk Domestik Regional Bruto Kota Manokwari maengalami kenaikan sebesar 548,477.10 dibandingkan tahun sebelumnya. Besarnya peningkatan ini menunjukkan bahwa adanya produktifitas yang meningkat dari sector – sector ekonomi. Kontribusi terbesar datang melalui sector pertanian dengan 25,81%.
Tabel 2.6
Gross Regional Domestic Product Of Manokwari Regency At Current Price By Industrial Origin,
2010 – 2011 (Jutaan Rupiah)
NO Lapangan usaha 2010 2011
(1) (2) (3)
1 Pertanian / Agriculture 813,451.41 861,601.21 2 Pertambangan dan Penggalian
Minning and Quarryng 55,163.23 70,859.62
3 Industri / Industries 91,644.37 99,723.72 4 Listrik dan Air Bersih
Electricity and Water Supply 25,788.71 28,337.07
5 Bangunan / Contruction 585,746.66 706,034.88 6 Perdagangan Hotel dan Restoran
Trading, Hotels and Restaurant 447,150.85 528,029.97
7
Pengangkutan dan Komunikasi
Transportation and Communication
278,156.93 310,023.50
8 Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan 155,436.20 184,562.35
9 Jasa - jasa / Service 494,139.76 548,477.10
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Manokwari Tahun 2012 Tabel 2.7
Laporan Realisasi APBD Kota Manokwari tahun 2011
Sumber BPS Kota Manokwari 2012.
URAIAN NILAI A. PENDAPATAN B. BELANJA DAERAH C. PEMBIAYAAN 864,735,611,742 799,990,368,457 58,826,254,249 JUMLAH 1,723,552,234,448
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 16 2.2.3.2. Sektor-Sektor Unggulan
Sektor Perdagangan.
Ssektor ini merupakan salah satu sector yang mendukung pertumbuhan kota secara ekonomi. Pusat perdagangan skala regional meliputi : pasar regional, pasar grosir atau pasar induk, pusat perbelanjaan, ruko, show room, elektronik, sandang/pakaian, minimarket/supermaket, perbengkelan, toko bangunan, toko mebel/interior, restouran atau rumah makan dan sejenisnya.
Sektor Jasa.
Pusat jasa skala Kota, meliputi perbankan (kantor cabang), fasilitas bank untuk pengkreditan rakyat (bpr), pengembangan koperasi kud, bengkel mobil dan sepeda motor, elektronik, salon, wartel, foto copy, money changer, pegadaian, jasa pengiriman dan jasa umum lainnya.
Pusat jasa pemerintahan umum yang merupakan pusat pelayanan skala regional maupun provinsi papua barat berada di sekitar arfai.
Sektor pariwisata.
Pengembangan kawasan pariwisata Teluk Sawaibu yang membawa banyak dampak secara tidak langsung (multiplier effect) bagi perkembangan perekonomian di wilayah perkotaan.
2.2.4. Transportasi. 2.2.4.1. Transportasi Darat
Jaringan jalan di Kota Manokwarisaat ini terbagi menjadi beberapa fungsi, yaitu jalan arteri primer, kolektor primer, kolektor sekunder, lokal dan lingkungan. Pengelompokan jalan berdasarkan fungsi tersebut merujuk pada UU No 38 tahun 2004 dan PP No 34 tahun 2006 tentang jalan.
(a) Jaringan Jalan Arteri, yaitu tipe jaringan yang menampung lalu-lintas perjalanan jarak jauh dengan kecepatan rata-rata tinggi, jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.
(b) Jaringan jalan Kolektor, yaitu tipe untuk menampung lalu-lintas dari dan ke pusat-pusat kegiatan daerah kota, kecepatan sedang, jumlah jalan masuk dibatasi.
(c) Jaringan Jalan Lokal, yaitu tipe jaringan jalan untuk menampung lalu lintas antar blok/jarak dekat, kecepatan rendah, jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
(d) Jaringan Jalan Lingkungan, yaitu tipe jaringan jalan yang melayani angkutan lingkungan, jarak dekat, kecepatan rendah.
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 17 Sementara yang dimaksud dari:
(a) Jaringan Jalan Primer, yaitu sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan; dan
(b) Jaringan Jalan Sekunder, yaitu sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan.
Sebagian besar jalan tersebut sudah beraspal. Semakin memadai jaringan jalan yang tersedia, maka akan berpengaruh terhadap kelancaran transportasi angkutan sampah. Termasuk di dalamnya adalah lebar badan jalan, sempadan pagar dan sempadan bangunan akan berpengaruh terhadap kelancaran lalu lintas di jalan.
Gambar 2.1. Kenampakan Jalan Trikora Wosi dan Jalan Yos Sudarso
Kota Manokwaridilewati Jalan Arteri Manokwari, yang mempunyai klas primer, berfungsi untuk arus kendaraan berat dan arus kendaraan pribadi. Jalan tersebut juga terbebani oleh lalu-lintas lokal yang melayani pergerakan antar pusat kegiatan di Kota Manokwari, hal ini terjadi karena kurangnya jalan yang sejajar dengan jalan arteri tersebut.
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 18 Tabel 2.8 nama dan fungsi jalan eksisting
Nama Jalan Lebar sBadan Jalan (m) Fungsi Jalan Lebar Drainase (m) Lebar Trotoar (m) Sempadan Pagar (m) Sempadan Bangunan(m) Jl Jend Sudirman 6,2 KP 0,8 (2) 1,4 (2) 6,3 11,3 Jl Merdeka 7 KP 0,7 (2) 1,2 (2) 11,1 13,8 Jl Yogyakarta 7 Lokal 0,7 (2) - 7 9 Jl Siliwangi 10 KP 0,7 (2) 1,5 (1) 7,5 14,5 Jl Bhayangkara 7,5 KP 0,6 (2) - 5,3 12,3
sJl Pantai Pasir Putih 7,5 KP 0,5 (1) - 4,75 9,75
Jl Brawijaya 6 Lokal - - 7 10
Jl Gunung Salju (lampu merah
s/d pertigaan Jl Merapi) 8 KssP 0,7 (2) 1,5 (1) 11,5 18,5 Jl Gunung Salju (pertigaan Jl
Merapi s/d kaw UNIPA ) 15 KP - - 9,5 11,5
Jl Yos Sudarso 15 AP 0,5 (2) - 9,5 14 Jl Trikora 15 AP 0,5 (2) - 10,5 12,5 Jl Trikora Wosi 18 AP 0,5 (1) - 12,25 17,25 Jl Pasir 8,5 Lokal 0,7 (2) - 8,5 15,5 Jl Trikora Tamanria 11 KS 0,8 (1) - 13,5 17,5 Jl Esau Sesa 7 AP 0,8 (2) - 8,7 11,7 Jl Trikora Sowi 7 AP 0,6 (1) - 4,5 6,5 Jl Pertanian 6,5 Lokal 0,6 (2) - 5,5 8,25 Jl Pahlawan 15 KS 0,8 (2) 1,5 (2) 11,2 17,2 Jl S. Condro-negoro 10,5 KP 0,8 (1) - 5,9 7,9 Jl Percetakan Negara 11 KS 1 (2) - 8,5 12,5
Jl Karya Abri 7 Lokal 0,8 (2) - 5 8
Jl Ekonomi 6 Lokal - - 5,5 10,5
Jl Merapi 7 Lokal 0,7 (2) - 8 14
Jl Wirsi 3,5 Lingk 0,35 (1) - 2,75 4,75
Jl Simponi Rindu 2,5 Lingk 0,35 (2) - 2 4
Jl Durian 3,5 Lingk - - 3 5
Jl Nenas 3,5 Lingk - - 3 5
Jl Toba 4,6 Lingk 0,5 (2) - 7 9
Kampung Makasar 4,5 Lingk 0,35 (1) - 2,5 3
Kampung Jawa 4 Lingk 0,35 (1) - 3 4
Kampung Ambon 6 Lingk 0,8 (2) - 4,8 6,8
Jl Litban Anggori 7 KP - - 8,5 13,5
Jl Wosi Dalam 6,5 Lokal 0,5 (1) - 5 7
Jl Wajib Senyum 4 Lokal 0,5 (1) - 3 8
Jl Swaven 7 Lokal - - 7,5 12,5
Jl AMD 3,5 Lingk 0,35 (2) - 2,2 4
Sumber: Hasil Survei, 23 Juli – 29 Juli 2009
Keterangan: *S empadan pagar dan sempadan bangunan dihitung dari as jalan
Jalan-jalan Kota yang disamping menjadi penghubung di dalam wilayah perencanaan antar Distrik yaitu Manokwari Barat, Manokwari Timur, Manokwari Selatan dan Manokwari Utara. Jalan-jalan Kota juga menjadi penghubung antara
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 19 Distrik dalam kota dengan Distrik luar kota. Geometri jalan mengandung pengertian tentang Ruang Manfaat Jalan (RUMAJA), Ruang Milik Jalan (RUMIJA) dan Ruang Pengawasan Jalan (RUWASJA), sebagaimana tersebut dalam UU No. 38 Tahun 2004 tentang jalan dan PP No. 34 Tahun 2006. Sebagian besar geometri jalan yang ada di wilayah perencanaan belum sepenuhnya memenuhi kriteria jalan, baik mengenai sempadan pagar maupun sempadan bangunannya. Jalan-jalan Kota perlu adanya peningkatan / perbaikan konstruksi untuk mengantisipasi perkembangan kegiatan dan ruang yang terjadi.
Berdasarkan hasil survei lapangan, menunjukkan bahwa klas jalan yang telah ditetapkan di Kota Manokwari, baik sebagai jalan arteri, kolektor, maupun lokal sebagian telah sesuai dengan standar yang berlaku, meskipun nilai LHR-nya masih sedikit kurang mendekati standar tersebut.
2.2.4.2. Transportasi Udara
Pengembangan sistem jaringan udara direncanakan antara lain Bandara Nasional, Bandara Regional dan Bandara Lokal. Bandara Nasional memiliki skala pelayanan regional dan nasional hingga ke wilayah luar Kota Manokwari, bandara regional yang juga berfungsi sebagai pendorong perkembangan wilayah memiliki skala pelayanan regional yaitu mencakup beberapa Distrik atau wilayah pengembangan. Sedangkan bandara lokal direncanakan selain sebagai alternatif perangkutan juga untuk mengantisipasi adanya aktifitas-aktifitas insidental misalnya pengangkutan bahan pokok mengingat jangkauan wilayah yang masih relatif sulit untuk dilalui dengan jalur darat. Rencana dan arah pengembangan sistem jaringan prasarana transportasi udara adalah sebagai berikut;
1. Pengembangan Bandara Nasional Rendani di Distrik Manokwari Selatan 2. Peningkatan bandara lokal yang sudah ada diantaranya : Bandara Perintis
(Isim, Ambarbaken, dan Senopi serta Testega) dan Bandara Regional (Kebar dan Anggi).
Kondisi eksisting Bandar Udara Rendani, saat ini masih dalam tahap pengembangan lebih lanjut untuk perluasan terminal tunggu dan terminal kedatangan. Secara fisik gedung yang ada terbilang Sudah cukup memadai fasilitasnya, dan pada saat ini sedang dalam tahap pengembangan.
Sampai saat ini, pesawat terbesar yang bisa mendarat di Bandar Udara Rendani Manokwari adalah jenis Boeing 737-200, kemudian juga pesawat jenis Fokker
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 20 100 serta pesawat perintis. Hal ini terkait dengan panjang Landasan Pacu atau Runway di bandara tersebut yang belum memungkinkan pesawat yang lebih besar untuk bisa mendarat. Jika dilihat pertumbuhan volume penumpang dan kargo dari tahun ke tahun yang mengalami kenaikan, Akibat positif dari pengembangan bandara adalah semakin terbukanya akses ke Manokwari baik nasional maupun internasional. Hal tersebut akan semakin membuka peluang para investor untuk menanamkan modalnya. Hasil akhirnya adalah semakin pesatnya pertumbuhan ekonomi di Manokwari dan sekitarnya. Pada saat ini maskapai yang melayani rute dari dan ke Manokwari adalah Merpati Nusantara, Batavia Air dan Express Air serta perintis. Berdasarkan data-data yang ada yaitu dari BPS maupun dari Rencana Induk Bandar Udara Rendani, perkembangan volume penumpang adalah seperti tabel berikut : Pada saat ini maskapai yang melayani rute dari dan ke Manokwari adalah Merpati Nusantara, Batavia Air dan Express Air serta perintis. Berdasarkan data-data yang ada yaitu dari BPS maupun dari Rencana Induk Bandar Udara Rendani, perkembangan volume penumpang adalah seperti tabel berikut :
Tabel 2.10
Penumpang dan Frekuensi Pesawat di Bandara Rendani Tahun 2012
No. Jenis Data Jumlah
a. Pesawat Berangkat 3.869 b. Pesawat Datang 3.833 c. Penumpang Berangkat 138.877 d. Penumpang Datang 130.243 e. Penumpang Transit 48.605 f. Bongkar Barang 437.951 g. Muat Barang 387.030
Sumber: Data BPS Manokwari Dalam Angka Tahun 2011
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 21 2.2.4.3. Transportasi Laut.
Kondisi eksisting pelabuhan di Manokwari, pada saat ini sudah ada beberapa pelabuhan laut dengan beberapa kegunaan:
1) Pelabuhan campuran, lokasinya ada di Distrik Manokwari Timur 2) Pelabuhan militer, lokasinya ada di Sowi dekat perbatasan Anday 3) Pelabuhan minyak, lokasinya ada di Sanggeng
4) Pelabuhan semen, lokasinya ada di Maruni Distrik Manokwari Selatan
Rencana Pengembangan sistem dan jaringan transportasi laut didasarkan pada berkembangnya bidang sosial dan ekonomi penduduk di wilayah perencanaan, sehingga kebutuhan akan sandang, pangan dan berbagai fasilitas lainnya meningkat. Hasil bumi maupun industri di wilayah yang bersangkutan yang terus meningkat perlu pemasaran keluar daerah. Maka diperlukan sarana dan prasarana keluar masuk barang dari dan ke daerah yang bersangkutan dalam hal ini adalah pelabuhan laut.
Berdasarkan data BPS tahun 2011, barang yang dibongkar dan dimuat serta penumpang yang naik turun seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 2.11
Jumlah Bongkar Muat Barang dan Penumpang di Pelabuhan Manokwari Dalam 1 Tahun (2012)
No. Aktifitas Volume
1. Bongkar barang 266.807.494
2. Muat barang 56.291.774
3. Kunjungan kapal 1.254 kali 4. Penumpang turun 112.293 orang 5. Penumpang naik 104.572 orang Sumber: Data BPS Manokwari dalam Angka Tahun 2012.
Muat barang dapat menggambarkan seberapa besar sumberdaya di Kota Manokwariyang mampu di ekspor keluar daerah. Bila dilihat bongkar barang memiliki nilai yang jauh lebih besar. Kebutuan di Kota Manokwarimasih banyak dipenuhi oleh barang dari luar daerah. h di kaKunjungan kapal ke Kota Manokwarimengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kota Manokwaridiharapkan mampu terus meningkatkan promosi daerah, sehingga semakin banyak penduduk dalam maupun luar negeri yang menikmati Kota Manokwari. Kunjungan kapal dan orang mampu memberikan manfaat dengan kemajuan dalam bidang sosial ekonomi.
Gambar 2.3 kondisi eksisting pelabuhan di Kota Manokwari
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 22 2.2.5. Sarana Dan Prasarana.
2.2.5.1. Prasarana Dasar 2.2.5.1.1. Air Bersih.
Jaringan air bersih di Kota Manokwari terdiri penggunaan Sumur Bor dan Jaringan Pipa yang berasal dari dinas PDAM.
Khusus untuk penggunaan air tanah di Kota Manokwari, dibutuhkan penanganan lebih lanjut karena air tanah masih memiliki zat kapur yang cukup tinggi.
2.2.5.1.2. Jaringan Listrik
Pusat produksi dan suplai listrik di Kota Manokwari bertempat di PLTD Sanggeng. Dengan menggunakan 10 unit pembangkit tenaga listrik yang memprduksi sekitar 82,381,260 kwh,yang terjual sebesar 74,183,403 kwh dan harga jual sebesar Rp.9,705,583,700,-. Daerah yang dilayani meliputi Distrik manokwari barat, Distrik manokwari timur, Distrik manokwari utara, dan Distrik manokwari selatan.
Tabel 2.12
Banyaknya tenaga listrik yang di produksi, terjual dan jumlah penjualan tahun 2011. Banyaknya Kwh Produksi terjual dialirkan 82,381,260 74,183,403 82,381,260
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 23 Tabel 2.13
Banyaknya unit pembangkit tenaga listrik, kapasitas terpasang, kemampuan mesin, dan beban puncak tahun 2012.
Lokasi Banyaknya unit Kapasitas terpasang (KW) Kemampuan mesin (KW) Beban maksimum (KW) Sanggeng 10 25,304 17,960 14,000 Sidey 2 200 165 118 Ransiki 4 280 235 222 Oransbari 3 450 370 225 Warkapi 1 20 18 16 Mansinam 1 20 18 17 Igor - - - - Nuni 1 40 30 18 Siwi 1 40 35 12 Jumlah 23 26,358 18,831 14,628
Sumber : BPS Kota Manokwari Tahun 2011.
Tabel 2.14
Banyaknya pelanggan, KWH terpasang,dan jumlah gardu tahun 2011 Lokasi Banyaknya pelanggan KW terpasang Jumlah gardu Sanggeng 23,897 39,745,935 179 Sidey 558 373,350 4 Ransiki 537 456,150 7 OransbarI 72 522,100 5 Warkapi 64 49,150 - Mansinam - 48,200 - Igor 117 - - Nuni 92 91,850 3 Siwi 809 59,800 - Jumlah 26,148 41,346,935 198
STUDIO PERENCANAAN KOTA MANOKWARI 24 2.2.5.1.3. Jaringan Telekomunikasi.
Terbentuknya pembangunan suatu perkotaan tidak lepas dari akses telekomunikasi yang menjadi salah satu kebutuhan manussia akan media informasi.untuk itu di Kota Manokwarisendiri dilakukan pembangunan kantor Pos sebanyak 1 buah. Selain itu terdapat 1 buah kantor telekomunikasi yang berlokasi di Distrik maanokwari barat yang melayani daerah manokwari timur, manokwari utara, dan manokwari selatan.
2.2.5.1.4. Jaringan Drainase.
Pengembangan drainase bertujuan untuk mengalirkan air hujan sedemikian rupa sehingga tidak lagi menimbulkan bahaya (banjir) atau gangguan lingkungan (genangan air). Sedangkan sasaran jangka panjangnya adalah untuk menetapkan suatu jaringan drainase yang terpadu, yang praktis dioperasikan dan dipelihara, mengurangi bahaya banjir dan genangan air, menjaga/menciptakan kondisi lingkungan yang baik.Rencana bentuk sistem drainase berupa: saluran drainase, sumur peresapan air hujan (SPAH), dan kolam retensi. Rencana saluran drainase sebagian besar mengikuti jaringan jalan yang ada, rencana SPAH tersebar mengikuti distribusi permukiman, sedangkan rencana kolam retensi menggunakan kolam/dam eksisting. Kolam retensi berfungsi sebagai penampung sementara dari limpasan (over land flow) di sekitarnya. Masalah yang sering muncul dalam jaringan drainase adalah adanya genangan atau run-off (aliran permukaan). Air hujan tidak dapat tertampung atau masuk ke saluran drainase karena terhambat oleh sedimen ataupun sampah. Rencana penanggulangan genangan air hujan dilakukan dengan pemeliharaan dan perbaikan saluran yang sudah ada, peningkatan saluran yang sudah ada antara lain dengan: pembuatan pasangan batu pada saluran tersebut sehingga lebih kuat dan kapasitasnya lebih besar, serta pembuatan saluran baru. Dengan demikian diharapkan akan dapat mengatasi luapan dan genangan-genangan walaupun hanya pada waktu hujan saja. Di Kota Manokwarisendiri sudH Memiliki saluran drainase yang sudah cukup memadai. Hal yang perlu di tingkatkan di situ adalah mengenai masalah perawatan dan pemeliharaan.