• Tidak ada hasil yang ditemukan

Landscape and Lifescape Consultant

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Landscape and Lifescape Consultant"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1

Term Of Reference

Landscape and Lifescape Consultant

A. Pengantar

Peraturan Presiden No. 13 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera mengamanatkan dibentuknya 5 (lima) koridor ekosistem dalam rangka perlindungan alur migrasi satwa atau biota laut, yang menghubungkan antarkawasan konservasi, yang selanjutnya disebut sebagai Koridor RIMBA. Pengelolaan di Koridor RIMBA harus merefleksikan upaya perlindungan keanekaragaman hayati dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kawasan hutan lindung yang ditargetkan seluas 40% dari total pulau Sumatera. Berangkat dari Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera tersebut, WWF Indonesia mengembangkan Program RIMBA yang merupakan inisiatif pengelolaan ekosistem berbasis tata ruang yang mengintegrasikan dan memperkuat konektivitas hutan dan ekosistem melalui investasi dan modal alam (natural capital), konservasi keanekaragaman hayati dan pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) melalui skema Pembangunan Ekonomi Hijau. Program RIMBA ini bersifat jangka panjang dan membutuhkan kerjasama multipihak. Dengan diawalinya project WWF MCAI RIMBA yang mengambil lokasi di Koridor RIMBA (Riau, Sumatera Barat, Jambi) sebagai implementasi konsep tata ruang berbasis ekosistem.

Salah satu bagiannya meliputi SM Rimbang Baling National, HL Bukit Batabuh dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Bagian ini terletak di Provinsi Riau, Jambi dan Sumatera Barat. Intervensi yang dilakukan di wilayah ini akan berlangsung di perbatasan Kabupaten Kuantan Singingi dan Kampar (Provinsi Riau), Dharmasraya (Sumatera Barat) dan Tebo (provinsi Jambi). Berdasarkan survei yang dilakukan oleh tim lapangan WWF, area Cluster I adalah wilayah penting bagi konservasi harimau sumatera (panthera tigris sumatrae) dan Gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus). Mengkonsolidasikan konektivitas habitat hutan antara Rimbang Baling, Bukit Batabuh dan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh sangat diperlukan, baik untuk keanekaragaman hayati dan kesejahteraan masyarakat setempat. Proyek Koridor RIMBA dilaksanakan melalui pengelolaan sumber daya alam di bentang alam koridor. Secara umum, proyek ini bertujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati dan meningkatkan stok karbon di seluruh bentang alam kritis yang berada di wilayah Sumatera dengan meningkatkan konektivitas ekosistem hutan melalui pengembangan ekonomi hijau. Dengan demikian, mata pencaharian masyarakat akan dapat ditingkatkan (melalui penciptaan pendapatan, peningkatan akses terhadap sumber daya alam dan mengurangi kerentanan), praktik bisnis yang berkelanjutan dengan memperhatikan tiga pilar utama pembangunan berkelanjutan yaitu sosial masyarakat, ekonomi dan lingkungan untuk mendukung peningkatan ekonomi berbasis masyarakat dan tata kelola yang baik.

Peneltian ini fokus pada area intervensi 1 di perbatasan provinsi Riau, Sumbar, dan Jambi dengan fokus peningkatan komoditas karet dan kelapa sawit sekaligus mempertahankan kondisi habitat spesies. Khususnya dilakukan di wilayah Dharmasraya (Sumatera Barat) dan Kuantan Singingi (Riau). Daerah terakhir disebutkan ini akan dilakukan penelitian jika pihak MCA Indonesia dapat mempercepat kerjanya dalam melakukan MoU dengan Provinsi Riau dan 5 (lima) kabupaten yang menjadi targetnya.

(2)

2

Tujuan utama dari kegiatan penelitian ini adalah menganalisis dan memahami interaksi para pihak pengelola utama lanskap dan penerima manfaat ekosistem, baik di tingkat pemerintah, swasta dan tingkat rumah tangga. Analisis para pihak ini dimaksudkan untuk memahami kepentingan mereka, relasi kekuasaan dan persepsi terhadap koridor serta arah pembangunan hijau. Hasil analisis ini dapat menunjukkan komunikasi, hubungan dan relasi kekuasaan antara para pemangku kepentingan. Hasil analisis ini digunakan untuk merumuskan strategi pelaksanaan proyek. Hal ini khususnya penting untuk menentukan siapa yang harus terlibat, di mana dan pelaksanaan proyek. Penekanan khusus pada diferensiasi sosial dalam rumah tangga dan individu (laki-laki dan perempuan).

Lalu dilanjutkan dengan menganalisis penggunaan sumber daya alam, akses dan kontrol secara sosial dan individu. Analisis ini dimaksudkan untuk memahami akses pemangku kepentingan untuk lanskap, penggunaan khusus dari lanskap oleh pemangku kepentingan dan kegiatan mereka saat ini dalam lanskap. Hasil analisis ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi pengembangan koridor di lanskap dan membangun strategi menuju arah pembangunan alternatif yang didasarkan pada perencanaan tata ruang yang berkelanjutan.

Mencapai tujuan tersebut, maka WWF Indonesia memerlukan para profesional untuk menunjang penelitian di wilayah Kluster I, saat ini masih terfokus di Dharmasraya. Para profesional itu akan direkrut dengan skema konsultan perorangan untuk membantu Program RIMBA dalam melaksanakan Landscape and Lifescape Analysis di wilayah Kluster I.

Dalam melakukan kegiatan penelitian ini, WWF Indonesia bermaksud merekrut 3 (tiga) peneliti dengan posisi sebagai berikut;

1. Team Leader (1 orang)

2. Expert on Social Economic and Environment (1 orang) 3. Expert on Forest Ecological (1 orang)

HRD akan mereview lamaran yang masuk dan hanya kandidat terbaik yang akan diinterview.

B. Lingkup Pekerjaan

1. Team Leader A. Lingkup Pekerjaan

- Team Leader bertanggung jawab dalam mengatur dan mengelola tim survei, baik dalam pengumpulan data lapangan dan pelaporan.

- Merancang rencana survei, metodologi dan instrumen survei

- Bekerja sama dengan Manajer WWF Kluster I dan staf terkait dalam persiapan survei lapangan.

- Untuk mengawasi proses pengumpulan data dan pelaporan untuk menjamin tujuan Assessment landscape and Lifescape dicapai.

- Menyajikan hasil Assessment Landscape and Lifescape untuk WWF Jakarta dan Jambi.

B. Outputs

- Dokumen laporan Assessment Landscape and Lifescape di cluster 1, terdiri dari: analisis lanskap, kualitatif dan kuantitatif, dan rekomendasi untuk program intervensi RIMBA Corridor.

(3)

3

C. Time line

- July sampai minggu ke 3 August 2016 D. Qualifications, skill and experience required

- Memiliki gelar minimum Master di Sosial, Lingkungan, Ekonomi atau disiplin ilmu yang berkaitan.

- Pengalaman minimum 10 tahun dalam melakukan studi tentang pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan masyarakat.

- Fasih dalam berbahasa Inggris baik dalam berbicara maupun tulisan - Bersedia melakukan perjalanan dan tinggal dilokasi survei.

- Memiliki pengetahuan tentang sosioanthropological masyarakat di desa desa intervensi

2.

Expert on Social Economic and Environment

A. Lingkup Pekerjaan

- Bersama dengan Team Leader dalam membuat rencana survei, metodologi dan instrumen survei sosial untuk penilaian Lifescape, serta teknik sampling yang tepat. - Melatih enumerator dalam melakukan survei di lapangan dan melakukan demo

untuk uji coba dalam melakukan survei.

- Mensupervisi enumerator dalam melakukan survei dan pengisian ke dalam form survei.

- Untuk melakukan analisis statistik data survei dan menyerahkan kepada Tim Leader - Penulisan pelaporan data kualitatif yang dikumpulkan dari lapangan

B. Time line

- July sampai minggu ke 2 August 2016. C. Qualifications, skill and experience required

- Memiliki gelar Master di Sosial, Ekonomi atau disiplin ilmu yang berkaitan.

- Pengalaman minimum 5 tahun dalam melakukan studi sosial kuantitatif dan analisa statistik tentang pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan masyarakat. - Mempunyai kemampuan yang baik dalam menganalisa data menggunakan SPSS - Bersedia melakukan perjalanan dan tinggal dilokasi survei.

3. Expert on Forest Ecological A. Scope of work

- Bersama Team Leader untuk merancang rencana penelitian, metodologi dan instrumen dalam survei Lifescape.

- Untuk melakukan pengumpulan data baik data sekunder atau data kualitatif primer dari lapangan berdasarkan pedoman pengumpulan data.

- Untuk mengawasi pelaksanaan survei sosial yang dilakukan oleh enumerator lokal. - Bersama sama enumerator dalam meng-input, mem-filter dan reporting

(4)

4

B. Outputs

- Laporan data kualitatif dan kuantitatif masyarakat di cluster 3. C. Time line

- July sampai minggu ke 2 August 2016 D. Qualifications, skill and experience required

- Memiliki gelar Sarjana di Sosial, Ekonomi atau disiplin ilmu yang berkaitan.

- Pengalaman minimum 5 tahun dalam melakukan studi sosial kuantitatif tentang pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan masyarakat.

- Memiliki pengetahuan tentang sosioanthropological masyarakat di desa desa intervensi

- Dapat bekerja dalam team

- Bersedia di tempatkan di lokasi survei selama minimum 15 hari.

Kualifikasi Konsultan

1. Memiliki pemahaman dan penguasaan yang baik mengenai konteks sosial, ekonomi dan lingkungan yang dibutuhkan dalam melakukan kajian Lifescape.

2. Memiliki kemampuan untuk melakukan analisis sosial, ekonomi dan lingkungan secara deskriptif serta langkah pemecahan masalah yang tepat sesuai dengan kerangka kerja dan output yang diinginkan.

3. Bagi team leader, memiliki pengalaman dalam melakukan supervisi tim kerja.

4. Memiliki kemampuan untuk membuat laporan secara komprehensif sesuai dengan output yang ingin dicapai.

5. Dapat bekerja dalam Tim maupun bekerja individu. 6. Memiliki kemampuan komunikasi yang cukup baik.

7. Memiliki akses terhadap data dan informasi yang dibutuhkan dalam kajian lifescape 8. Secara detil susunan pelaksana LLA adalah:

- Team Leader (1 orang/maks 35 hari)

- Expert on Social Economic and Environment ((1 orang/maks 20 hari) - Expert on Forest Ecological (1 orang/maks 20 hari)

- Local surveyor Field Researcher from Local surveyor (10 orang, maks 20 hari)

Lokasi

Melakukan analisis landscape and lifescape di Kluster I dengan fokus wilayah Kabupaten Dharmasraya di Sumatera Barat.

I. Kecamatan Timpeh terdiri dari Nagari :

1. Timpeh 2. Tabek

3. Panyubarangan

II. Kecamatan Padang Laweh terdiri dari Nagari :

1. Sopan Jaya 2. Muaro Sopan

(5)

5

1. Siguntur 2. Padang laweh

IV. Kecamatan Pulau Punjung terdiri dari Nagari :

1. Tebing Tinggi

Deskripsi Kegiatan

Melakukan Assessment terkait; 1. Analisis Penerima manfaat.

a. Mengidentifikasi kelompok penerima manfaat yang ditargetkan: pendapatan rumah tangga.

b. Penilaian terhadap, tingkat pendidikan (pengetahuan, keterampilan), akses informasi, kesadaran. Kendala akan dinilai dari analisis kebijakan (kesehatan, pendidikan, aspek ekonomi), analisis rantai pasar, analisis kesempatan kerja.

c. Menggambarkan hubungan kelembagaan, kendala dan peluang. Kajian peran dan hubungan antar lembaga di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten. Penilaian dilakukan dengan menggunakan diagram Venn dan pemetaan sosial.

d. Kendala dan peluang dari hubungan akan dianalisis secara deskriptif.

Hal hal diatas dapat dilihat secara lebih mendalam melalui matriks dibawah ini

KOMPONEN OBYEK

Persepsi Masyarakat  Persepsi terhadap kawasan hutan

 Persepsi terntang wilayah desa

 Persepsi terhadap pemerintah

 Persepsi terhadap perusahaan pengelola hutan

 Persepsi terhadap LSM

 Persepsi terhadap masyarakat desa sekitar dan pendatang

Visi / cita-cita  Visi tentang ruang penghidupan

 Visi tentang perubahan cara dan gaya hidup

 Desa ke depan yang dicita-citakan seperti apa

Jaminan hidup  Seberapa penting legitimasi ruang dalam menopang kehidupan masyarakat desa

 Sumberdaya alam yang menjadi jaminan hidup (sumber pemenuhan kebutuhan)

 Skenario degradasi jaminan hidup

 Aspek yang menguatkan dan melemahkan jaminan hidup

 Situasi krisis dan strategi mengahadapi situasi krisis

Legitimasi  Bentuk legitimasi pengelolaan ruang dan sumberdaya alam

 Bentuk legitimasi struktur kepemimpinan

 Bentuk legitimasi atas hak kepemilikan sumberdaya alam

 Aspek yang menguatkan dan melemahkan legitimasi pengelolaan ruang, struktur

kepemimpinan, dan hak atas kepemilikan sumberdaya alam

 Bentuk perjuangan untuk meneguhkan legitimasi pengelolaan ruang, struktur

kepemimpinan, dan hak atas kepemilikan sumberdaya alam

Aspirasi  Model komunikasi politik

 Sarana dan media komunikasi politik

 Saluran komunikasi politik

(6)

6

KOMPONEN OBYEK

 Instansi pemerintah mitra dan aspek yang dikerjasamakan

 Perusahaan mitra dan aspek yang dikerjasamakan

 Masyarakat desa mitra dan aspek yang dikerjasamakan

 Pola aviliasi yang terbangun dengan mitra (NGO’s, instansi pemerintah,

perusahaan, dan masyarakat desa Sarana infrastruktur

penunjang aktivitas politik

 Syarat administrasi (KTP, KK, dan keterlibatan dalam partai politik)

 Keberadaan balai pertemuan

 Rumusan gagasan peletakan fondasi pengaturan ruang dan arah perubahaan

kehidupan social (perencanaan pengelolaan ruang dan peningkatan taraf hidup)

Produksi  Nilai produksi aktivitas mata pencaharian utama dan sampingan

 Nilai produksi aktivitas mata pencaharian bercocok tanam

 Nilai produksi aktivitas industri berbasis bahan baku hasil hutan dan sumberdaya

alam non hutan

Distribusi  Sistem pemasaran hasil produksi

 Jaringan pemasaran hasil produksi

 Peran toke dalam pemasaran hasil produksi

Konsumsi  Alokasi hasil produksi untuk konsumsi

 Nilai hasil produksi yang dikonsumsi

 Pergeseran pola konsumsi

Taraf kesejahteraan  Sumber dan nilai penerimaan rumah tangga

 Alokasi dan nilai pengeluaran rumah tangga

 Kemampuan menabung

 Indikator kesejahteraan yang menjadi rujukan masyarakat desa

Sarana infrastruktur penunjang aktivitas ekonomi  Modal produksi  Skill  Teknologi

 Pasar hasil produksi

Pendidikan  Pendidikan dalam pandangan masyarakat desa

 Sarana pendidikan untuk masyarakat desa

 Model pendidikan bagi bagi masyarakat desa (formal dan alternatif)

 Kemampuan baca-tulis

 Faktor penghambat dalam memperoleh pendidikan yang layak

Kesehatan  Jenis penyakit yang sering diderita

 Sistem pengobatan tradisional

 Dukungan penanganan masalah kesehatan bagi masyarakat desa

 Kekayaan hasil hutan untuk bahan pengobatan

 Pandangan masyarakat desa tentang sistem pengobatan medis

Organisasi Sosial  Karakteristik organisasi sosial formal (jenis, tugas pokok dan fungsi, dan manfaat

keberadaannya bagi masyarakat desa)

 Karakteristik organisasi sosial informal (jenis, tugas pokok dan fungsi, dan

manfaat keberadaannya bagi masyarakat desa)

Struktur Sosial  Fondasi yang membangun struktur sosial

 Diferensisasi sosial (vertikal dan horizontal)

 Kelas dan faktor dominasi dalam struktur sosial

(7)

7

KOMPONEN OBYEK

 Dimensi kekuasaan dan kewenangan dalam sistem kepemimpinan masyarakat

desa

 Tugas pokok dan fungsi pemimpin dan tokoh

 Aspek yang menguatkan dan melemahkan sistem kepemimpinan di desa

Lembaga Sosial  Sistem tenurial

 Sistem kekerabatan dan pola pewarisan

 Hukum-hukum adat yang berkenaan dengan pengolaan sumberdaya alam

 Hukum-hukum adat yang berkenaan dengan pengaturan kehidupan sosial

 Jenis-jenis sanksi atas pelanggaran hukum adat

 Eksistensi hukum adat

 Tugas pokok dan fungsi pemangku adat

 Aspek yang menguatkan dan melemahkan hukum adat

Kelompok Sosial  Fondasi yang membangun kelompok sosial

 Makna kelompok bagi masyarakat desa

 Fungsi keluarga dalam kehidupan bermasyarakat

Jaringan Sosial  Pola hubungan sosial internal masyarakat desa

 Pola hubungan sosial masyarakat desa dengan masyarakat desa lainnya

 Pola hubungan sosial masyarakat desa dengan pihak luar (NGO’s, pemerintah,

dan perusahaan)

 Model hubungan patron and client yang ada di desa

Infrastruktur Pendukung Aktivitas Sosial

 Rumah hunian yang layak menurut ukuran masyarakat desa

 Balairung

 Tempat peribadatan

Sistem Peralatan Hidup  Konsep rumah bagi masyarakat desa

 Konsep pakaian dalam kaitannya dengan identitas diri/kelompok

 Jenis-jenis teknologi yang digunakan dalam aktivitas produksi

 Peralatan rumah tangga

 Proses adopsi teknologi modern

Sistem Mata Pencaharian

 Sistem mata pencaharian berburu dan meramu

 Sistem mata pencaharian bercocok tanam

 Sistem mata pencaharian industri berbahan baku hasil hutan dan non hutan

Sistem Kemasyarakatan  Sistem pengendalian sosial

 Sistem penanganan masalah dan konflik sosial

 Mekanisme persidangan adat

 Posisi putusan-putusan adat dalam pandangan masyarakat desa

Sistem Pengetahuan  Komponen pengetahuan terkait dengan hutan

 Komponen pengetahuan terkait dengan aktivitas mata pencaharian (perubahan

musim dan cuaca)

 Komponen pengetahuan terkait dengan hak dan kewajiban sebagai warga negara

2. Analisis Stakeholder

- Siapa stakeholder kunci dari bentang alam dan sumber daya alam. - Apa kepentingan mereka.

- Bagaimana mereka berinteraksi.

- Bagaimana mereka berinteraksi dengan landscape.

(8)

8

- Apakah ada potensi konflik atau ketidakadilan dalam mengakses sumber daya alam? Disertai dengan kegiatan yang diusulkan.

- Apakah ada bias sektoral dalam pemanfaatan sumber daya alam. (Misal: pertambangan, kehutanan, karet, kelapa sawit, cokelat)

- Apakah ada transparansi dalam alokasi izin penggunaan sumber daya. 3. Konteks Pembangunan

- Assessed dan list semua kegiatan yang terkait dengan Green Prosperity dan Non-Green Prosperity yang berpotensi mempengaruhi program dan aktivitas Landscape – Lifescape.

- Jelaskan dampak yang akan terjadi yang terkait dalam pelaksanaan program dan aktivitas Landscape – Lifescape.

4. Analisis Risiko

- Mengidentifikasi resiko resiko yang akan timbul dalam pelaksanaan program dan akan berdampak pada program (internal dan eksternal).

- Mengidentifikasi strategi mitigasi dan orang atau pihak yang bertanggung jawab untuk mengurangi dan memantau strategi tersebut.

A. Metodologi

Pengumpulan data sosial ekonomi sebagai pemetaan dan rekomendasi desain dilakukan dengan menggunakan kuesioner sejumlah 500 buah dengan target waktu 20 hari. Daerah sasaran kajian ini meliputi desa-desa yang diperkirakan berinteraksi dengan Koridor RIMBA yang status administratifnya diakui oleh pemerintah daerah setempat, maupun kelompok-kelompok pemukiman yang terdapat secara berkelompok di daerah sasaran.

Kajianini dilakukan melalui beberapa tahapan dengan menerapkan metode dan teknik pengumpulan data untuk masing-masing tahapannya, yaitu:

Tahap I. Pengumpulan data sekunder yang berkaitan dengan situasi dan kondisi komunitas yang secara bersamaan dilakukan pengumpulan data tentang keadaan demografis, peta wilayah, potensi sumber daya, keadaan ekonomi perdesaan, tingkat kemiskinan, kategori dan intervensi pembangunan yang pernah dilakukan terkait dengan program pemerintah daerah maupun keberadaan perusahan yang melakukan akumulasi kapital di sekitar kawasan hutan ini. Data sekunder dikumpulkan melalui laporan terdahulu, lembaga dan instansi terkait serta berbagai dokumen yang relevan.

Tahap II. Pengumpulan data primer tentang struktur sosial, kehidupan sosial budaya, pola mata pencaharian, seluk beluk aktivitas ekonomi menurut jenis-jenis usaha perdesaan, konflik antar para pemangku kepentingan dan strategi survival keluarga perdesaan di sekitar hutan, kondisi demografis kelompok-kelompok sosial, organisasi sosial, pola kepemimpinan dan pengaruh elit di masyarakat, jenis kepemilikan dan penguasaan lahan masyarakat dalam dan sekitar area, sumber-sumber pendapatan, nilai ekonomi dan pemanfaatan pendapatan. Serta status legal lahan sekitar lokasi proyek.

Data dikumpulkan dengan metode pengamatan langsung (direct observation), wawancara mendalam (depth interview) dan dilakukan diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) melalui kunjungan lapangan dan transek ke desa-desa sasaran. Target terdiri dari pemimpin formal, pemimpin informal dan warga petani di setiap desa-desa sasaran penelitian yang dikunjungi telah menjadi informan kunci dalam kajian ini. Pada tahap ini juga

(9)

9

dilakukan verifikasi data sekunder dan temuan-temuan data primer awal secara langsung dengan pemerintah (dinas/instansi terkait di tingkat provinsi dan kabupaten yang mewilayahi kawasan), peneliti dari perguruan tinggi setempat, praktisi NGO dan kelompok masyarakat. Tahap III. Melakukan crosscheck melalui diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion/FGD) bersama para pihak (multi-steakholders/actors).

Tahap IV. Analisa dan sintesa; Menganalisis semua persoalan sosial dan mengembangkan intervensi-intervensi sosial dalam logframe program yang kompatibel.

Tahap V. Pembuatan laporan, antara lain laporan kemajuan (Interim Report), laporan sementara (Draft Report), dan laporan akhir (Final Report). Ditulis dalam 2 (dua) bahasa yaitu Indonesia dan Inggris. Dokumentasi visual kegiatan.

Deliverable:

Deliverable kegiatan riset ini adalah Laporan Lifescape Analysis termasuk lampiran dokumen pendukung seperti:

1. Catatan hasil pertemuan/FGD/ interview narasumber terkait 2. Kuisioner

3. Dokumentasi berupa foto, peta, video, dll 4. Data-data pendukung lainnya

Reporting responsibility:

Konsultan akan melaporkan dan memberikan hasil capaian kepada Team Leader, Implementing Project Coordinator dan Project Manager Cluster 1

Jangka Pembayaran:

Metode pembayaran dilakukan 3 tahap:

1. Tahap 1 : 30 % saat tandatangan Kontrak 2. Tahap 2 : 40 % saat memberikan Draft Laporan 3. Tahap 3 : 30 % saat memberikan Laporan Final

B. Budget

Semua pembiayaan akan di lakukan oleh WWF

C. Waktu Pelaksanaan

Activities Juli Agustus

I

II

III

IV

I

II

III

IV

Life-scape

Persiapan dan pembuatan kuisioner

Pembentukan team Enumerator

Dharmasraya

(10)

10

Pengumpulan data qualitative oleh

enumerator

Data tabulasi dan analysis

Penulisan laporan

D. Supporting documents required:

1. Copy of ID / KTP 2. Copy of NPWP

3. Bank Information (name written, bank account, bank address, SWIFT code – for US payment).

4. Email address 5. Phone number 6. CV’s

Referensi

Dokumen terkait

yang dimaksud dengan urusan agama, misalnya menetapkan hari libur keagamaan yang berlaku secara nasional, memberikan pengakuan terhadap keberadaan suatu agama, menetapkan

proses pembelajaran berjalan lambat. Solusi: Berusaha memberikan pelajaran dengan metode mengajar yang menyenangkan sehingga siswa tidak merasa bosan dan lebih tertarik

yang menyangkut hubungan antara kategori usia menopause dengan

 Meningkatkan pengembangan material kedokteran gigi yang berasal dari bahan alami dalam mengatasi inflamasi pulpa reversibel. 1.4.2

Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh dari sebuah program modul pendidikan yang fokus pada 4 aspek (1. Siswa membuat, melakukan, menerapkan cara

Pengetahuan yang baik dan perlu yaitu yang manfaat untuk keperluan lahir dan batin dalam hidup bersama”.

- Bahwa benar barang-barang yang diamankan waktu penangkapan tersebut adalah buah kelapa sawit sebanyak 200 janjang, 1(satu) unit mobil pik up merk Mitsubishi warna putih

Dari hasil yang didapat untuk elektrolit padat LTAP pada variasi temperatur 600ºC memiliki nilai konduktivitas listrik yang paling tinggi.. Semakin besar nilai konduktivitas