P
EMBERDAYAAN MASYARAKATB
ERBASISS
EKOLAHM
ELALUIP
EMBENTUKANP
OSP
EMBERDAYAANK
ELUARGA(P
OSDAYA)
DID
ESAJ
ATIROKEK
ECAMATANJ
ATINANGORK
ABUPATENS
UMEDANG1
Yurika Permanasari,
2Onoy Rohaeni
1,2Program Studi Matematika, Fakultas MIPA, Jl. Purnawarman 63 Bandung e-mail: 1 [email protected], [email protected]
Abstrak.
Posdaya dikembangkan sebagai salah satu sarana meningkatkan kualitas terpadu hidup masyarakat melalui penguatan fungsi keluarga secara terpadu. Posdaya bisa dikembangkan sebagai wadah pelayanan keluarga secara terpadu, utamanya pelayanan kesehatan, pendidikan, wirausaha, dan pengembangan lingkungan yang memudahkan keluarga berkembang secara mandiri. Langkah awal pembentukan posdaya dilakukan melalui sosialisasi posdaya dengan pendekatan nonformal kepada tokoh masyarakat maupun formal dengan pemda setempat. Untuk memulai program posdaya terlebih dahulu dilaksanakan pelatihan kader posdaya. Pengurus posdaya melaksanakan musyawarah rutin, untuk kemudian melaksanakan program-program yang telah direncanakan, mengadakan konsultasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan program. Monitoring dilakukan oleh tim maupun pihak yang bekerjasama. Dalam kegiatan ini, pihak sekolah dilibatkan sebagai tokoh masyarakat yang turut memantau kegiatan yang dilaksanakan Posdaya. Melalui kegiatan Pos Pemberdayaan Keluarga, diharapkan peran perempuan terutama ibu-ibu rumah tangga dapat dioptimalkan, dengan senantiasa dapat terus menggali ide-ide kreatif baru untuk pengembangan kewirausahaan.Kata kunci: Posdaya, Wirausaha keluarga, Pelatihan keterampilan, Pemberdayaan Keluarga
1.
Pendahuluan
Pembangunan pada dasarnya adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang
tanpa akhir. ” Development is not a static concept. It is continuously changing“.Artinya
juga bisa dikatakan bahwa pembangunan itu sebagai “never ending goal”(Rahmaddin
MY,2009). Proses pembangunan sebenarnya adalah merupakan suatu perubahan sosial
budaya. Pembangunan tergantung dari suatu innerwill, proses emansipasi diri, dan suatu
partisipasi kreatif dalam proses pembangunan hanya menjadi mungkin karena proses
pendewasaan.
Pembangunan merupakan hasil dari sebuah dialog antara aspirasi publik dengan
potensi kolektif bangsa. Pembangunan berdasarkan kepercayaan adalah pembangunan
berpola pemberdayaan seluruh rakyat, khususnya rakyat kecil, terlebih lagi mereka
merupakan bagian terbesar dari masyarakat Indonesia yang selama ini belum tersentuh
secara optimal. Menurut Ahmad Heryawan (Heryawan, 2009) menyatakan bahwa
manusia merupakan unsur terpenting dalam proses pembangunan, karena itu maju
mundurnya suatu bangsa sangat bergantung pada kualitas SDM bangsa tersebut dalam
mengatasi setiap perubahan lingkungan yang terus berkembang.
Umat Islam di Indonesia yang merupakan kelompok mayoritas, ternyata masih
belum mampu menampilkan peran yang optimal, dalam membangun ilmu pengetahuan,
teknologi dan mengembangkan kehidupan perekonomian masyarakat bangsa yang
menjadikan ajaran Islam rahmatan lil alamin. ”Community development” atau sering
disebut juga ”pemberdayaan masyarakat” menampilkan persyaratan yang antara lain
pentingnya ”pendidikan” (dengan berbagai bentuk dan metodanya) sebagai pondasi
dasar membangun suatu masyarakat. Islam memberdayakan (empowering) masyarakat
menuju suatu tatanan masyarakat madani (hubungan yang harmonis antara masyarakat
dan negara). Karena itu Unisba sebagai salah satu lembaga keislaman yang bergerak
dibidang pendidikan merasa perlu secara serius meningkatkan kapasitas pengelolaan
pendidikan umat Islam dalam seluruh aspek kehidupannya.
Pada tahun 2008 LPPM Unisba bekerja sama dengan Yayasan Damandiri dan
P2SDM IPB, telah melaksanakan kegiatan Pengembangan SDM melalui Pola
Kemitraan di Kabupaten Sumedang. Pada kegiatan tersebut LPPM Unisba membina
SMA binaan. Berdasarkan hasil konsultasi dengan Disdik Kabupaten Sumedang,
direkomendasikan SMA Darul Fatwa di Desa Jatiroke sebagai SMA binaan LPPM
Unisba. Pada tahun 2009 kerja sama dengan Yayasan Damandiri dan P2SDM Unisba
berlanjut, dengan tema Pengembangan SDM melalui Pembentukan Posdaya di
Kabupaten Sumedang. Pembentukan Posdaya dengan pendekatan berbasis sekolah,
yaitu guru-guru dari SMA binaan diikutsertakan dalam pembentukan Posdaya. Dari
kegiatan tersebut telah terbentuk Posdaya “Kenari” dengan beberapa kegiatan yang
mendapat respon positif dari masyarakat. Pada tahun 2011 Pengabdian Kepada
Masyarakat LPPM Unisba kembali memilih Desa Jatiroke untuk membentuk dua
Posdaya baru di dua RW yang berbeda. Sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dan
tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya pada tahun 2012 ini kami memilih Desa Jatiroke
sebagai lokasi pengabdian di 2 RW terakhir yang masih belum terbentuk POSDAYA.
Desa Jatiroke dipilih menjadi tempat dilaksanakannya PKM, karena termasuk salah satu
tertinggal di Kecamatan Jatinangor (Data Kecamatan). Penduduk Jatiroke sebanyak
5331 jiwa dengan 5 RW, dan 30 RT. Khalayak sasaran adalah keluarga di Desa
Jatiroke, utamanya keluarga kurang mampu dengan anak-anak dibawah usia 15 tahun,
keluarga yang isterinya sedang mengandung, keluarga dengan remaja dibawah usia 25
tahun dan keluarga yang berusia lanjut.
Sesuai dengan tema PKM ini yaitu: ”pemberdayaan masyarakat berbasis
sekolah”, seluruh kegiatan pengabdian dipusatkan di sekolah yang dimiliki desa
Jatiroke. Sekolah dianggap sebagai tempat menimba ilmu, baik bagi siswa didiknya
maupun masyarakat sekitar. Di daerah ini guru masih dianggap sebagai subjek yang
patut digugu dan ditiru, sehingga guru-guru selain sebagai pendidik siswa sekolah juga
merupakan tokoh masyarakat yang dapat dijadikan sumber pengetahuan dan tempat
bertanya masyarakat setempat.
Adapun sekolah yang dipilih sebagai tempat pengabdian adalah SMA Darul
Fatwa yang terletak di RW 4. Selain karena sekolah ini berada di lingkungan desa
Jatiroke, SMA Darul Fatwa juga mempunyai fasilitas pendidikan yang memadai karena
telah sering mendapatkan hibah untuk peningkatan sarana prasarana. Oleh karena itu,
tim PKM dapat menggunakan sarana prasarana sekolah untuk kegiatan pelatihan ibu-ibu
rumah tangga dengan melibatkan guru-guru setempat sebagai pendamping.
Sumber daya manusia merupakan modal yang sangat penting dalam melakukan
pemberdayaan masyarakat. Dampak pemberdayaan masyarakat adalah kemandirian
masyarakat dalam mengatasi permasalahan mereka melalui prakarsa dan kreatifitas
untuk meningkatkan kualitas hidup.
Tentunya
membutuhkan
masyarakat
yang
mempunyai
pengetahuan,
peningkatan kapasitas sumber daya manusia ini adalah masyarakat pedesaan dan
institusi kelembagaan sebagai wadah mereka berorganisasi.
Menjadi pertimbangan dalam pemberdayaan masyarakat, ketika menghadapi
persoalan kapasitas sumberdaya manusia masyarakat pedesaan yang rata-rata
pendidikan formalnya terbatas. Tentunya perlu dipilih metode dan media pendidikan
yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat. Untuk itu, perlu dikembangkan
metode pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat
pedesaan. Kunci dari metode pendidikan bagi masyarakat pedesaan adalah proses
penyadaran melalui penumbuhan kepercayaan diri, menumbuhkan rasa membutuhkan
pada diri masyarakat untuk memperbaiki kualitas hidup. Sehingga, PKM ini memiliki
tujuan untuk pengembangan bidang ekonomi/kewirausahaan yaitu, meningkatnya jenis
usaha yang dimiliki oleh keluarga pra sejahtera dengan pemberian pelatihan
keterampilan usaha dan terbentuknya unit usaha rumah tangga.
2.
Roadmap PKM
Hasil kegiatan PKM tahun 2009 - 2010 adalah telah dikembangkan satu buah
Posdaya yaitu Posdaya Kenari di Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor Kabupaten
Sumedang. Adapun kegiatan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Bidang Pendidikan
Bidang pendidikan difokuskan pada PAUD. Program dari PAUD ini telah
dilaksanakan kegiatan yaitu mengadakan pelatihan bagi Kader Tutor PAUD se
kecamatan Jatinangor.
b. Bidang Kesehatan
Bidang kesehatan difokuskan pada Posyandu Balita dan telah memberi bantuan
berupa sarana dan prasarana berupa Mebeuler (meja dan kursi); Timbangan Bayi;
Makanan tambahan rutin tiap bulan sekali. Pada bidang kesehatan, yaitu Posyandu
telah mendapat penghargaan posyandu percontohan se-kabupaten Sumedang dan
mendapat penghargaan terbaik.
c. Bidang Ekonomi
Bidang ekonomi difokuskan pada pembuatan makanan ringan yaitu, produk kue-kue
kering yang pemasarannya di sekitar desa jatiroke dan melayani katering apabila ada
kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di sekitar desa Jatiroke.
d. Bidang Lingkungan
Untuk bidang lingkungan, kegiatan yang telah dilaksanakan adalah mengikuti lomba
lingkungan sehat yang diadakan oleh pemerintah kabupaten Sumedang.
PKM pada tahun 2011 dilaksanakan pada periode Januari – Juni 2011
merupakan kelanjutan dari PKM tahun 2009-2010, yaitu perluasan dengan
pembentukan dua buah Posdaya baru di RW I dan RW IV di desa Jatiroke. PKM tahun
2012 dilaksanakan Januari – Agustus 2012 masih merupakan lanjutan dari PKM
sebelumnya dengan penambahan pembentukan Posdaya di RW 2 dan RW 3 desa
Jatiroke. Posdaya Kenari yang sudah dibentuk sebelumnya dijadikan sebagai Posdaya
percontohan bagi posdaya baru.
Setelah PKM ini selesai, perlu dilakukan membangun jejaring usaha produktif
Posdaya untuk lebih memacu pertumbuhan usaha ekonomi masyarakat, melakukan
pembelajaran pengurus/kader Posdaya melalui kegiatan studi banding ke posdaya lain,
perlunya pendampingan oleh mahasiswa dalam bentuk kegiatan KKN Tematik Posdaya.
3.
Pembentukan Posdaya
Langkah awal pembentukan posdaya dilakukan melalui sosialisasi posdaya
dengan pendekatan nonformal kepada tokoh masyarakat dan pemda setempat.
Kemudian dilanjutkan dengan pendataan potensi desa. Dari hasil pendatan dan diskusi
dengan tokoh masyarakat dan kelurahan, dilaksanakan Lokakarya Mini sekaligus
dengan pembentukan posdaya.
Setelah pengurus Posdaya terbentuk, dilaksanakankan musyawarah pengurus dan kader
untuk menyusun program kerja posdaya Bidang Ekonomi/Kewirausahaan yang
meliputi:
-
Menentukan jenis usaha yang ingin dirintis
-
Pelatihan keterampilan usaha bagi Ibu Rumah Tangga dengan mendatangkan
tenaga ahli dibidangnya.
-
Pembentukan Unit Usaha Rumah Tangga dengan bantuan modal bergulir.
-
Pemasaran Hasil Kegiatan Life Skill Ibu Rumah Tangga: Mengikut sertakan hasil
life skill dalam penyelenggaraan pameran dan bazaar.
-
Untuk memulai program posdaya terlebih dahulu dilaksanakan pelatihan kader
posdaya. Pengurus posdaya melaksanakan musyawarah rutin, untuk kemudian
melaksanakan program-program yang telah direncanakan, mengadakan konsultasi
dengan berbagai pihak yang terkait dengan program. Monitoring dilakukan oleh tim
maupun pihak sekolah yang bekerjasama. Untuk mengetahui keberhasilan program
yang telah dilaksanakan, dilakukan monitoring dan evaluasi. Evaluasi di ukur
berdasarkan indikator yang telah ditetapkan antara lain:
i.
Jenis keterampilan yang dimiliki keluarga pra sejahtera
ii.
Jenis kelompok usaha bersama ekonomi kecil
Adapun alur kegiatan dalam teknis pelaksanaan pengabdian ini adalah sebagai
berikut :
Sosialisasi
Formal dan Non Formal pada Tokoh Masyarakat dan Desa
Pendataan
Lokakarya Mini
4.
Hasil dan Pembahasan
Posdaya dibentuk di dua RW, yaitu RW 02 dan RW 03 sesuai dengan SK
Kepala Desa Jatiroke No.141/IV/SK-06/DS/2012 tentang Penetapan Pengurus
POSDAYA Desa Jatiroke Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang Tahun 2012.
Setelah pengurus Posdaya terbentuk, pengurus dan kader melaksanakan musyawarah
untuk menyusun program kerja posdaya Bidang Ekonomi/Kewirausahaan yaitu :
- Menetukan keterampilan yang akan dilaksanakan adalah sulam pita dan kue kering
- Mengadakan pelatihan keterampilan usaha bagi Ibu Rumah Tangga dengan
mendatangkan tenaga ahli dibidangnya.
- Pembentukan Unit Usaha Rumah Tangga dengan bantuan modal bergulir.
- Pemasaran Hasil Kegiatan Life Skill Ibu Rumah Tangga: Mengikut sertakan hasil
life skill dalam penyelenggaraan pameran dan bazaar.
Pelatihan keterampilan membuat sulam pita diikuti oleh kader-kader dari
Posdaya RW 02 (Kenari 2) dan 03 (Kenari 03) yang telah terbentuk, dengan instruktur
pelatihan yang ahli dalam pembuatan kerajinan tangan tersebut. Instruktur tersebut juga
mempunyai home industri barang produk sulam pita, sehingga dapat menampung hasil
produk anggota posdaya untuk membatu memsarkan dengan ketentuan-ketentuan yang
berlaku. Beberapa kader posdaya sebelumnya (kenari 1 dan kenari 2) mendapat
beberapa order untuk sulam pita dari beberapa perusahaan kerudung dan mukena. Hal
ini lah yang menjadi pendorong anggota posdaya kenari 2 dan kenari 3 menentukan
jenis pelatihan sulam pita. Pelatihan kue kering diberikan oleh ketua kader
masing-masing Posdaya RW 02 dan RW 03 yang telah memiliki keterampilan dan bermaksud
membaginya dengan kader-kader yang lain.
Pada saat pemberian pelatihan keterampilan membuat kerajinan sulam pita dan
cireng isi, diberikan juga dana operasional dan bantuan modal bergulir untuk setiap
Posdaya. Dana operasional digunakan untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan Posdaya
seperti pertemuan-pertemuan dan kegiatan kader lainnya. Sedangkan bantuan modal
bergulir dimanfaatkan oleh kader Posdaya sebagai modal awal untuk produksi dan
pemasaran. Pemasaran kue-kue kering (kemasan kantong plastik)tersebut sebagaian
besar sudah punya tempat-tempat tersendiri, seperti kantin sekolah, kantin
madrasah/pesantern setempat dan lain-lain. Bahkan pemasaran kue Nastar, Keju, Putri
Salju dan Kue Semprit (kemasan toples) sudah dipasarkan di mall JATOS.
Pelaksanaan Program
Monitoring