Vol I, No : 10 Januari 2014
39 RELATIONSHIP BETWEEN CHARACTERISTICS OF MOTHERS AND EATI NG PATTERNS TO THE GROWTH AND DEVELOPMENT OF INFANTS AT
PANGKALAN SUSU DISTRICT LANGKAT REGENCY Nurhikmah Panjaitan : e-mail : [email protected]
ABSTRACT
Infancy (0-12 months) is a critical time of development. This time is marked by rapid growth and development physically and mentally. If during this time, infants do not get exclusive breastfeeding and adequate nutrition and a good pattern of care, it can cause interference in the growth and development of the infants. At the Langkat Regency it was found that the coverage of exclusive breastfeeding was only 20%, infants with under identify category inadequate was 28%, and worse identification 5%. The objective of this research is to analyze the relationship between the characteristics of mothers and eating patterns to the growth and development of infants at the Pangkalan Susu District, Langkat Regency 2012. The type of research was cross-sectional approach with sample of 100 mothers who have babies. The characteristics of data collection are mothers and eating patterns by interview using questionnaires and observation. The data was analyzed univariate, bivariate, ultivariate with Logistic Regression Test. The results showed that the variables that significantly influence on growth development was collected by infants are age, education, employment, knowledge, number of children, income, about of food, meal frequency, the first time of breastfeeding, the first time the provision of MP ASI. Dominant variables affecting the growth development of infants is knowledge (OR 26.950).It was suggested to the Langkat area government to address the problem of infants’ development and growth on an ongoing basis, and to do monitoring through efforts to empower women and families as well as to increase knowledge of mothers about infants’ growth and development through health education.
Keyword(s) : Mother characteristics, Eating pattern, Infants development and growth
Vol I, No : 10 Januari 2014
40 ABSTRAK
Masa bayi ( 0-12 bulan ) merupakan masa perkembangan yang kritis. Masa ini ditandai dengan tumbuh kembang yang cepat baik fisik maupun mentalnya. Apabila pada masa ini bayi tidak mendapatkan ASI Eksklusif dan gizi yang cukup serta pola asuh yang baik, dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangn pada bayi . Di Kabupaten Langkat kecamatan Pangkalan Susu ditemukan cakupan ASI Eksklusif hanya 20% status gizi bayi kategori kurang 28% dan kategori buruk 5%, Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan karakteristik ibu dan pola asuh makan terhadap tumbuh kembang bayi di kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat Tahun 2012. Jenis penelitian yang digunakan pendekatan cross sectional dengan sampel sebanyak 100 orang ibu yang memiliki bayi. Pengumpulan data karakteristik ibu , pola asuh makan dan tumbuh kembang dilakukan dengan wawancara, pengukuran antropometri dan observasi bayi dengan menggunakan kuesioner pra skrining perkembangan. Data yang di analisis dengan univariat, bivariat dan multivariate. Setelah dilakukan dengan Uji Regresi Logistik. menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan perkembangan bayi adalah umur, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, jumlah anak, pendapatan, jenis makanan, frekuensi makan, waktu pertama pemberian ASI, waktu pertama pemberian MP ASI. Variabel yang berpengaruh dominan terhadap pertumbuhan perkembangan pertumbuhan perkembangan bayi adalah pengetahuan (OR 26,950). Disarankan supaya adanya kebijakan pemerintah daerah Kabupaten Langkat untuk mengatasi masalah pertumbuhan perkembangan bayi secara berkesinambungan, dan melakukan pemantauan melalui upaya pemberdayaan wanita dan keluarga serta peningkatan pengetahuan ibu mengenai tumbuh kembang bayi melalui penyuluhan kesehatan.
Vol I, No : 10 Januari 2014
41 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keberhasilan dan kualitas pembangunan kesehatan suatu negara dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM). Menurut laporan United National Development Programme (UNDP) 2010, Indeks IPM dan IKM Bangsa Indonesia totalnya 0,728 dan ditempatkan pada urutan ke 107 dari 177 negara. IPM di lihat dari kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), karena itu penting bagi pemerintah untuk memperhatikan pembangunan SDM. Untuk membentuk SDM yang berkualitas perlu didukung dengan kecukupan gizi untuk menjamin kesehatannya. Kecukupan gizi manusia diperlukan sejak dari janin dalam kandungan melalui peran ibu dan pola asuh yang baik hingga lanjut usia pada masa bayi untuk proses pertumbuhan dan perkembangannya membutuhkan suplai makanan dan gizi dalam jumah yang cukup dan memadai. Anak bayi merupakan salah satu golongan penduduk yang rawan terhadap masalah gizi. Pada masa bayi apabila mengalami kekurangan gizi dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang secara fisik, mental, social dan intelektual yang sifatnya menetap dan terus dibawa sampai anak menjadi dewasa. Secara lebih spesifik, kekurangan gizi dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan badan, lebih penting lagi keterlambatan perkembangan otak, dan dapat pula terjadi penurunan atau rendahnya daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi (Depkes RI, 2005).
Menurut Krisnatuti (2006), salah satu akibat kekurangan gizi yang sulit dipulihkan adalah terjadinya penurunan kecerdasan. Suatu penelitian dilakukan dengan cara membandingkan kecerdasan bayi kekurangan gizi (yang telah mengalami pemulihan) dengan bayi normal. Hasilnya menunjukkan bahwa bayi yang pernah mengalami kekurangan gizi mempunyai nilai tes intelegensi lebih rendah dibandingkan bayi normal yang kebutuhan gizinya tercukupi. Masa pertumbuhan bayi berumur 0-6 tahun membutuhkan asupan gizi yang diperoleh melalui pemberian ASI eksklusif. Analisi situasi kondisi ibu dan anak yang menyangkut upaya peningkatan pemberian air susu ibu hingga kini masih belum menunjukkan kondisi yang menggembirakan. Depkes (2005) menyatakan gangguan pertumbuhan pada awal masa kehidupan bayi antara lain disebabkan karena: kekurangan gizi sejak bayi, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) terlalu dini atau terlalu lambat, MP-ASI tidak cukup mengandung energy dan zat gizi mikro terutama mineral besi dan seng, perawatan bayi yang kurang memadai dan yang tidak kalah pentingnya adalah ibu tidak berhasil memberi ASI eksklusif kepada bayinya. Meski pemberian ASI ternyata menghemat pengeluaran, pelaksanaan dilapangan masih rendah. Dari hasil survey demografi kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003, bayi yang diberi ASI enam bulan sebanyak 55,1%. Sedangkan bayi yang diberi ASI enam bulan sebanyak 39,5%. Jumlah pemberian ASI eksklusif pada bayi di bawah usia dua bulan hanya mencakup
Vol I, No, 10 Januari 2014
42 64% dari total bayi yang ada. Persentase
tersebut menurun seiring dengan bertambahnya usia bayi berjumlah 46% pada bayi usia 2-3 bulan dari 14% pada bayi usia 4-5 bulan. Pemberian susu formula dan pemberian makanan tambahan terlalu dini pada bayi di bawah dua bulan berjumlah 13%.
Rendahnya pemberian ASI eksklusif di keluarga menjadi salah satu pemicu rendahnya status gizi bayi hingga pada akhirnya bayi mengalami masalah gizi buruk. Pada tahun 2005 di Indonesia dari 5 juta anak balita terdapat (27,5%) mengalami kekurangan gizi, yang terdiri dari 3,6 juta (29,2%) gizi kurang, dan 1,5 juta anak mengalami gizi buruk (8,3%). (Soekitman, 2005)
Masa pertumbuhan bayi berumur 6-12 bulan membutuhkan asupan gizi tidak hanya cukup dengan ASI saja, karena produksi ASI pada saat itu semakin berkurang sedangkan kebutuhan gizi bayi semakin meningkat seiring bertambahnya umur dan berat badan oleh karena itu bayi harus mendapat makanan pendamping selain ASI (MP-ASI) untuk menutupi kekurangan zat-zat gizi yang terkandung di adalam ASI. Pengetahuan masyarakat yang rendah tentang jenis dan cara mengolah makanan bayi dapat mengakibatkan terjadinya kekurangan gizi pada bayi. (Krisnatuti, 2006)
Gizi kurang dan gizi buruk terjadi hampir disemua kabupaten dan kota. Gizi kurang dan gizi buruk saat ini masih terdapat 110 kabupaten/kota dari 440 kabupaten/kota di Indonesia dengan prevalensi di atas 30% (berat badan menurut umur). (Depkes RI, 2005) Pengasuhan merupakan kebutuhan dasar anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Pada masa bayi,anak masih benar-benar tergantung pada perawatan dan pengasuhan oleh ibunya. Pengasuhan kesehatan dan
makanan pada tahun pertama kehidupan sangatlah penting untuk perkembangan anak. Pola pengasuhan bayi tidak sama bentuknya disetiap keluarga. Hal ini dipengaruhi oleh factor-faktor yang mendukungnya antara lain: latar belakang pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status gizi ibu, jumlah anak dalam keluarga dan sebagainya. Perbedaan karakteristik ibu yang mengakibatkan berbedanya pola pengasuhan akan berpengaruh pada status gizi anak. Beberapa penelitian berkesimpulan bahwa status pendidikan seorang ibu sangat menentukan kualitas pengasuhannya. Ibu yang berpendidikan tinggi dalam mengasuh anak tentunya akan berbeda dengan ibu yang berpendidikan rendah. (Supomo,1990) Menurut Masdiarti (2000), yang meneliti Pola Pengasuhan dan status gizi anak balita di Kecamatan Hamparan Perak, memperlihatkan hasilnya bahwa anak yang berstatus gizi baik lebih banyak ditemukan pada ibu tidak bekerja (43,24%) dibandingkan dengan ibu yang bekerja (40,54%).
Sedangkan menurut Sihombing (2005), yang meneliti Pola Pengasuhan dan status gizi Balita di Kecamatan Medan Sunggal memperlihatkan hasil bahwa, semakin tua umur ibu dan semakin tinggi pendidikan ibu, ibu tidak bekerja maka pola pengasuhannya semakin baik.
Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Daerah tahun 2009, di Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat dari jumlah balita 630 orang terdapat status gizi buruk 31 orang (5%) dan status gizi kurang 178 orang (28%). Cakupan ASI eksklusif hanya 20% sedangkan cakupan kunjungan bayi yang ke Puskesmas/Posyandu hanya 40% . Dari latar belakang tersebut , peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh factor-faktor yang berhubungan dengan pertumbuhan
Vol I, No, 10 Januari 2014
43 dan perkembangan bayi di Kecamatan
Pangkalan Susu Kabupaten Langkat. Pertanyaan Penelitian
Bagaimanakah hubungan karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, pengetahuan, pendapatan keluarga) dan pola asuh makan (jenis makanan, frekuensi makan, waktu pertama pemberian ASI, waktu pertama pemberian MP-ASI) terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi di Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan penelitian cross sectional. dengan tujuan untuk melihat hubungan karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, pengetahuan, pendapatan keluarga) dan pola asuh makan (jenis makanan, frekuensi makan, waktu pertama pemberian ASI, waktu pertama pemberian MP-ASI) terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Populasi penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki anak bayi berusia 3-12 bulan dan bertempat tinggal di Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat berjumlah 980 orang .Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dengan caraproportional dan accidental, besar sampel diambil dengan menggunakan rumus yang dikemukakan Slovin dalam Riduwan ( 2006)
𝑛 = N
1 + N ( d!)
Keterangan : N = Besar Populasi, yaitu sebanyak 980 orang
n = Besar Sampel
d = Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (d=10% atau 0,1)
Dengan perhitungan sebagai berikut:
𝑛 = 980
1 + 980 (0,1! )
𝑛 = 980 10,8
n = 90,7 = 100 sampel (ibu ya mempunyai bayi umur 3-12 bulan) Berdasarkan perhitungan di atas, maka jumlah sampel adalah 100 ibu yang mempunyai bayi (3-12 bulan) yang tersebar di 12 Kelurahan/Desa di Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat. Perhitungan proporsi jumlah sampel disetiap unit analisis (kelurahan), sehingga jumlah sampel di setiap Kelurahan/Desa adalah sebagai berikut: Tabel 4.1 Perhitungan Jumlah Sampel Penelitian di 12 Kelurahan/Desa di Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat N o Kelurahan/ Desa Jumlah ibu yang memiliki bayi/popula si (0-12 bulan) Ju m lah Sa m pel 1 Bukit Jengkol 168 18 2 Alur Campedak 102 11 3 Sengai Meran 69 7 4 Pulau Kampai 92 9 5 Pulau Sembilan 79 8 6 Limau Mungkur 70 7 7 Pulau Tengah 96 10 8 Perapen 53 5 9 Pulau Condong Kampung 66 7 10 Serang Jaya Hilir 54 5 11 Pulau Siata 88 9 12 Perkampunga n Damar Condong 43 4
Vol I, No, 10 Januari 2014
44
Total 980 100
Analisis data kuantitatif dilakukan dengan mengunakan analisis univariat dilakukan untuk melihat karakteristik dari setiap variabel atau memberikan gambaran yang ada. Hasil dari analisis ini nantinya berupa distribusi dari variabel independen (variabel bebas) karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak, pengetahuan, pendapatan keluarga) dan pola asuh makan (jenis makanan, frekuensi makan, waktu pertama pemberian ASI, waktu pertama pemberian MP-ASI). Demikian juga dengan variabel dependen (variabel terikat) yaitu pertumbuhan dan perkembangan bayi. Analisa bivariat dilakukan dengan menggunakan uji Pearson product moment dan analisa multivariat yang digunakan adalah uji regresi logistik ganda.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini bagi kedalam beberapa sub pokok bahasan yaitu analisa univariat, bivariat, dan multivariat.
Analisis Univariat
Hasil analisis univariat Karakteristik ibu diperoleh data : umur responden sebagian besar berumur muda ( ≤ 34 tahun ) yaitu lebih dari ½ jumlah responden. Pendidikan responden dengan pendidikan rendah yaitu sebanyak lebih dari ½ jumlah responden. responden dengan bekerja sebanyak ¾ jumlah responden. jumlah anak responden sebagian besar keluarga besar yaitu lebih dari 3/2 jumlah responden. pengetahuan responden yang kurang yaitu lebih dari 3/2 jumlah responden. pendapatan keluarga responden sebagian besar pendapatan rendah yaitu lebih dari ½ jumlah
responden. Dari Pola makan bayi di peroleh data : jenis makanan bayi dengan tidak lengkap lebih dari 2/5 jumlah responden. Frekuensi makan bayi sebagian besar tidak baik yaitu lebih dari ½ jumlah responden. Waktu pemberian ASI sebagian besar tidak segera setelah lahir yaitu lebih dari ½ jumlah responden.
waktu pertama pemberian MP ASI sebagian besar tidak baik yaitu lebih dari ½ jumlah responden. Hasil penelitian terhadap pertumbuhan bayi berdasarkan status gizi diperoleh bahwa sebagian besar pertumbuhan bayi tidak normal lebih dari ½ jumlah respondendengan status gizi kurang. perkembangan bayi menurut KPSP diperoleh bahwa sebagian besar perkembangan bayi tidak normal lebih dari ½ dari jumlah responden.
Analisis Bivariat
Berdasarkan analisis uji chi-square. hubungan antara umur ibu dengan pertumbuhan perkembangan bayi diperoleh bahwa responden dengan umur muda berpeluang 48% terhadap pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal sedangkan umur tua mempunyai peluang 19% terhadap pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal.Hasil uji statistik didapatkan p value= 0,000 berarti ada hubungan yang bermakna dengan OR 3,535 berarti responden yang berumur muda mempunyai peluang dengan pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal 3,5 kali dibandingkan responden berumur tua. analisis hubungan antara pendidikan ibu dengan pertumbuhan perkembangan bayi diperoleh bahwa responden dengan pendidikan rendah berpeluang 85,5% terhadap pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal sedangkan pendidikan
Vol I, No, 10 Januari 2014
45 tinggi mempunyai peluang 44,4%
terhadap pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal. Hasil uji statistik didapatkan p value= 0,000 berarti ada hubungan yang bermakna dengan OR 3,819 berarti responden yang berpendidikan rendah mempunyai peluang dengan pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal 4 kali dibandingkan responden berpendidikan tinggi. analisis hubungan antara pekerjaan ibu dengan pertumbuhan perkembangan bayi diperoleh bahwa responden yang bekerja berpeluang 88,9% terhadap pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal sedangkan tidakb ekerja mempun yai peluang 62,2% terhadap pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal. Hasil uji statistik didapatkan p value= 0,057 berarti ada hubungan yang bermakna dengan OR 3,402 berarti responden yang bekerja mempunyai peluang dengan pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal 3 kali dibandingkan responden tidak bekerja. analisis hubungan antara jumlah anak dengan pertumbuhan perkembangan bayi diperoleh bahwa responden dengan keluarga besar berpeluang 82,5% terhadap pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal sedangkan responden dengan keluarga kecil mempunyai peluang 42,5% terhadap pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal.Hasil uji statistik didapatkan p value= 0,000 berarti ada hubungan yang bermakna dengan OR 3,405 berarti responden yang keluarga besar mempunyai peluang dengan pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal 3 kali dibandingkan responden dengan keluarga kecil. analisis hubungan antara pengetahuan responden dengan pertumbuhan perkembangan bayi diperoleh bahwa responden dengan pengetahuan kurang berpeluang 95,1% terhadap
pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal sedangkan responden dengan pengetahuan baik mempunyai peluang 47,5% terhadap pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal. Hasil uji statistik didapatkan p value= 0,000 berarti ada hubungan yang bermakna dengan OR 10,771 berarti responden yang pengetahuan kurang mempunyai peluang dengan pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal 11 kali dibandingkan responden dengan pengetahuan baik. analisis hubungan antara pendapatan rendah dengan pertumbuhan perkembangan bayi diperoleh bahwa responden dengan pendapatan rendah berpeluang 88,9% terhadap pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal sedangkan responden dengan pendapatan tinggi mempunyai peluang 41,3% terhadap pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal. Hasil uji statistik didapatkan p value= 0,000 berarti ada hubungan yang bermakna dengan OR 5,283 berarti responden yang pendapatan rendah mempunyai peluang dengan pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal 5 kali dibandingkan responden dengan pendapatan tinggi. analisis hubungan antara jenis makanan dengan pertumbuhan perkembangan bayi, diperoleh bahwa ada sebanyak 86,4% dari jumlah responden yang jenis makanan tidak lengkap dengan pertumbuhan perkembangan tidak normal. Hasil uji hubungan antara jenis makanan dengan pertumbuhan perkembangan bayi diperoleh hasil uji statistik p value= 0,001 berarti ada hubungan yang bermakna dengan OR 3,536 berarti bahwa responden yang jenis makanan tidak lengkap mempunyai kemungkinan dengan pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal sebesar 3 kali dibandingkan responden dengan jenis makanan lengkap. Analisis hubungan antara frekuensi mak
Vol I, No, 10 Januari 2014
46 an dengan pertumbuhan perkembangan
bayi diperoleh bahwa 80,8% dari jumlah responden yang frekuensi makan tidak baik mempunyai bayi dengan pertumbuhan perkembangan tidak normal. Hasil uji hubungan antara pendapatan dengan pertumbuhan perkem bangan bayi diperoleh hasil uji statistik p value= 0,005 berarti ada hubungan yang bermakna dengan OR 2,492 berarti bahwa responden yang berpendapatan rendah mempunyai kemungkinan dengan pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal 2,4 kali dibandingkan responden frekuensi makan baik. analisis hubungan antara waktu pemberian ASI dengan pertumbuhan perkembangan bayi diperoleh bahwa ada sebanyak 86,4 responden dengan waktu pemberian ASI tidak segera dengan pertumbuhan perkembangan tidak normal. Hasil uji statistik p value= 0,000 berarti ada hubungan yang bermakna dengan OR 4,497 berarti bahwa responden yang waktu pemberian ASI tidak segera mempunyai kemungkinan dengan pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal sebanyak 4,5 kali dibandingkan responden waktu pemberian ASI segera. analisis hubungan antara waktu pemberian MP ASI dengan pertumbuhan perkembangan bayi diperoleh bahwa ada sebanyak 80,7% dari jumlah responden yang waktu pemberian MP ASI tidak baik mempunyai bayi dengan pertumbuhan perkembangan tidak normal
Hasil uji statistik p value= 0,002 berarti ada hubungan yang bermakna dengan OR 2,651 berarti bahwa responden yang pemberian MP ASI tidak baik mempunyai kemungkinan dengan pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal sebesar 3 kali dibandingkan responden dengan pemberian MP ASI baik.
Analisis Multivariat
Hasil analisis regresi logistik ganda, dari seluruh variabel yang mempunyai hubungan yang signifikan dengan pertumbuhan perkembangan bayi dengan nilai P < alpha ( 0,05 ). Pada variabel pekerjaan ibu ( p = 0,020 ), pengetahuan ( p = 0,001 ), pendapatan ( p = 0,034 ), waktu Mp ASI (p = 0.008) . Variabel yang paling dominan berhubungan dengan pertumbuhan perkembangan bayi adalah variabel pengetahuan dengan OR 26,950 artinya responden yang berpengetahuan rendah mempunyai peluang 27 kali dengan pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal, setelah dikontrol oleh pekerjaan, pendapatan dan waktu pemberian MP ASI
PEMBAHASAN
Pada penelitian ini yang digunakan untuk mengukur Untuk memantau pertumbuhan bayi diperoleh melalui pengukuran berat badan menurut umur sesuai Standar WHO-NCHS (Depkes, 2005) dan perkembangan di ukur dari Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Hasil analisis ke enamkarakteristik ibu adalah sebagai berikut:
Hubungan umur terhadap tumbuh kembang bayi
Hasil uji hubungan menunjukkan bahwa umur ibu ada hubungan dengan pertumbuhan perkembangan bayi dengan nilai p value = 0,000 dan OR 3,535 hal ini sejalan dengan teori model intoleransi tumbuh kembang anak oleh Unicef dan Jhonson ( 1992 ).
Hubungan pendidikan terhadap tumbuh kembang bayi
Hasil penelitian terlihat bahwa pertumbuhan perkembangan bayi yang tergolong tidak normal lebih banyak
Vol I, No, 10 Januari 2014
47 pada ibu yang pendidikan rendah yaitu
85,5%. Dari hasil uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan antara pendidikan ibu dengan pertumbuhan perkembangan bayi dengan nilai p = 0,000 dengan OR 3,819 ini sesuai dengan teori factor penyebab gizi kurang yang oleh Unicef (1999),sejalan dengan pendapat Sudiyanto dan Sekartini (2005), bahwa status kesehatan seseorang dipengaruhi oleh status pendidikannya untuk menentukan kualitas pengasuhannya. Pendidikan ibu yang rendah serta corak asuh yang miskin akan stimulasi mental juga masih sering dijumpai. Semua hal tersebut sering menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak, terutama pada usia balita.
Hubungan Pekerjaan dengan tumbuh kembang bayi
Hasil penelitian terlihat bahwa pertumbuhan bayi yang tergolong tidak normal lebih banyak pada ibu yang bekerja yaitu 62,2%. Dari hasil uji chi-square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan pertumbuhan perkembangan bayi dengan nilai p sebesar = 0,057 dengan OR 3,402 karena tidak ada hubungan maka tidak sesuai dengan teori factor penyebab gizi kurang yang oleh Unicef (1999).
Di lapangan ditemukan kebanyakan ibu bekerja sebagai petani. Dalam kondisi bekerja ibu sering kali melibatkan orang lain untuk mengurus anaknya selagi ia bekerja di ladang. Anak yang diasuh orang lain selain orang tuanya sering kali mengalami masalah salah satunya pertumbuhan yang tidak normal karena sering kali orang lain kurang perduli mengenai pemberian makan anak menyebabkan kebutuhan gizinya kurang memadai sehingga pertumbuhannya terganggu,
sesuai dengan pendapat Yuneita (2005) bahwa jumlah ibu pekerja yang asinya masih cukup pada usia bayi 6 bulan, lebih sedikit dibandingkan ibu yang tidak bekerja dengan demikian pertumbuhan bayi lebih banyak gizi kurang (60%) dibandingkan gizi baik (49%).
Hubungan Jumlah Anak dengan tumbuh kembang bayi.
Hasil penelitian terlihat bahwa jumlah anak yang tergolong pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal lebih banyak pada ibu yang memiliki keluarga besar yaitu 82,5%. Dari hasil uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan antara jumlah anak dengan pertumbuhan perkembangan bayi dengan nilai p sebesar = 0,000 dan nilai OR 3,405 secara teori hal ini sejalan dengan teori Unicef (1999), sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Zeitlin, et al (1990) bahwa bayi yang mempunyai saudara kandung dengan jumlah sedikit, status gizinya dan pertumbuhannya lebih baik dibandingkan dengan bayi yang mempunyai saudara kandung dalam jumlah yang lebih banyak. Semakin banyak saudara kandung maka perhatian ibu kepada bayi semakin berkurang karena ibu bukan saja hanya mengurus bayinya melainkan juga harus mengurus anaknya yang lain dan juga mengerjakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga maka bebannya akan bertambah sehingga perhatian ibu untuk bayinya semakin berkurang. Menyebabkan pertumbuhan bayi menjadi tidak optimal.
Hubungan Pengetahuan dengan tumbuh kembang bayi
Hasil penelitian terlihat bahwa pertumbuhan bayi yang tergolong tidak normal lebih banyak pada ibu yang pengetahuannya kurang yaitu 95,1%. Dari hasil uji chi-square menunjukkan
Vol I, No, 10 Januari 2014
48 bahwa ada hubungan antara pengetahuan
dengan pertumbuhan bayi dengan nilai p sebesar = 0,000 dengan nilai OR 10,771 hal ini sejalan dengan teori model intoleransi tumbuh kembang anak oleh Unicef dan jhonson ( 1992 ), sejalan penelitian Zeitlin, et al (2009) bahwa anak yang pertumbuhannya tidak normal lebih banyak ditemukan pada ibu yang memiliki pengetahuan kurang 61,2% dibandingkan dengan ibu yang memiliki pengetahuan baik (35,8%).
Hubungan Pendapatan Keluarga dengan tumbuh kembang bayi.
Uji chi-square menunjukkan bahwa pendapatan keluarga berhubungan dengan pertumbuhan bayi dengan nilai p value = 0,000. Hal ini sejalan dengan teori model intoleransi tumbuh kembang anak oleh Unicef dan jhonson ( 1992 ). Nursalam (2005) yang mengatakan pertumbuhan perkembangan bayi tidak terlalu berpengaruh dengan pendapatan keluarga. Apabila keluarga dengan pendapatan rendah mampu mengelola makanan yang bergizi dengan bahan yang sederhana dan murah maka pertumbuhan perkembangan bayi akan menjadi baik.
Hubungan pola makan ; Jenis makanan dengan tumbuh kembang bayi.
Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa pertumbuhan
perkembangan bayi
yang tergolong pertumbuhan perkemban gan tidak normal lebih banyak pada jenis makanan yang tergolong tidak lengkap yaitu 86,4%. Dari hasil uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan antara jenis makanan dengan pertumbuhan bayi dengan nilai p sebesar = 0,001 dengan nilai OR3,536 sesuai dengan model intoleransi tumbuh kembang anak oleh Unicef dan jhonson ( 1992 ).
Hasil penelitian ini juga sesuai dengan pendapat KeMenKes RI (2006) bahwa seorang anak akan tumbuh dengan sehat dan normal dipengaruhi oleh pemberian gizi yang cukup dan seimbang dengan kebutuhan tubuhnya sehingga daya tahan tubuhnya baik serta terhindar dari penyakit. Sebaiknya bila dalam keadaan gizi tidak seimbang, pertumbuhan seorang anak akan terganggu dalam waktu singkat sering terjadi pada perubahan berat badan sebagai akibat menurunnya nafsu makan, sakit diare dan infeksi saluran pernapasan atau karena kurang cukupnya makanan yang dikonsumsi.
Hubungan pola makan; frekuensi makan dengan tumbuh kembang bayi. Di lapangan ditemukan beberapa ibu-ibu memberikan makanan kepada bayinya dengan frekuensi makan (waktu pemberian) tidak sesuai dengan kebutuhan bayi seperti bayi usia 0-6 bulan ASI diberikan sesuka anak, usia 6-12 bulan sari buah/buah-buahan jangan diberikan 1 x seminggu sedangkan pemberian nasi tim/bubur saring/makanan biasa diberikan 2 x sehari (pagi dan sore) dengan demikian menyebabkan bayi kekurangan asupan gizi sehingga pertumbuhannya terganggu.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Sulastri (2002) bahwa pertumbuhan bayi yang tergolong tidak normal lebih banyak pada frekuensi makan yang tergolong tidak baik (60,1%) dibandingkan dengan frekuensi makan baik (30,7%).
Hubungan pola makan; waktu ASI dengan tumbuh kembang.
Hasil penelitian terlihat bahwa pola asuh makan menurut waktu pertama kali pemberian ASI ternyata perkembangan bayi yang tergolong baik lebih banyak
Vol I, No, 10 Januari 2014
49 pada bayi yang tidak segera disusui
setelah melahirkan yaitu 86,4%. Dari hasil uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan antara waktu pertama kali pemberian ASI terhadap pertumbuhan perkembangan bayi dengan p = 0,000 dan OR 4,497 secara teori hal ini sejalan dengan teori Unicef (1999).
Hal ini sesuai dengan pendapat Winarno (1990) bahwa ASI merupakan makanan bayi pada saat 0-6 bulan, karena ASI adalah makanan pokok yang terbaik bagi bayi, bila ibu dan bayi sehat, ASI secepatnya diberikan. Dengan pemberian ASI maka kebutuhan gizi bayi akan terpenuhi dan membantu proses perkembangan bayi secara optimal.
Hubungan pola makan;waktu pertama pemberian Makan Pendamping ASI
Di lapangan bayi yang berusia 0-4 bulan sudah mendapat makanan pendamping selain ASI tetapi pemberiannya masih dalam porsi sedikit (3 sendok) diberikan pada sore hari saja. Keadaan tersebut masih dapat diterima tubuh bayi karena bayi sehat tersebut pada umumnya sehat sehingga ia dapat berkembang dengan baik. Tetapi keadaan ini akan berdampak pada masa pertumbuhan bayi karena pada umumnya usus bayi belum mampu mencerna makanan selain ASI pada usia 0-4 bulan dan akan berpengaruh terhadap kesehatan bayi.
Hal ini sesuai dengan penelitian oleh para pakar menunjukkan bahwa gangguan pertumbuhan pada awal masa kehidupan bayi akan menghambat perkembangan bayi antara lain disebabkan karena kekurangan gizi sejak bayi, pemberian MP-ASI terlalu dini, MP-ASI tidak memadai, perawatan bayi yang kurang memadai. (Depkes RI, 2005)
KESIMPULAN
Hasil penelitian yang dilakukan pada 100 responden tentang hubungan karakteristik ibu dan pola makan terhadap tumbuh kembang bayi, didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Umur
Responden yang berumur muda memiliki peluang 48,0% terhadap pertumbuhan perkembangan tidak normal dengan proporsi 57,0% maka umur muda mempunyai dampak cukup besar terhadap pertumbuhan perkembangan bayi yang tidak normal. 2. Pendidikan
Responde pendidikan rendah memiliki peluang 85,5% terhadap pertumbuhan perkembangan tidak normal dengan proporsi 55,0% maka pendidikan mempunyai dampak besar terhadap pertumbuhan per kembang bayi yang tidak normal.
3. Pekerjaan
Responden yang bekerja memiliki peluang 88,9% terhadap pertumbuhan perkembangan tidak normal dengan proporsi 55,0% maka pekerjaan mempunyai dampak besar terhadap pertumbuhan per kembang bayi yang tidak normal.
4. Jumlah anak
Responden dengan keluarga besar memiliki peluang 82,5% terhadap pertumbuhan perkembangan tidak normal dengan proporsi 63,0% maka keluarga besar mempunyai dampak besar terhadap pertumbuhan perkembang bayi yang tidak normal.
5. Pengetahuan.
Responden dengan pengetahuan kurang memiliki peluang 95,1% terhadap pertumbuhan perkembangan tidak normal dengan proporsi 41,0% maka pengetahuan mempunyai dampak cukup besar terhadap pertumbuhan perkembang bayi yang tidak normal.
Vol I, No, 10 Januari 2014
50 6.Pendapatan Keluarga.
Responden dengan pendapatan rendah memiliki peluang 88,9% terhadap pertumbuhan perkembangan tidak normal dengan proporsi 54,0% maka pendapatan rendah mempunyai dampak besar terhadap pertumbuhan perkembang bayi yang tidak normal.
7.Jenis Makanan.
Responden dengan jenis makanan bayi yang tidak lengkap memiliki peluang 86,4% terhadap pertumbuhan perkembangan tidak normal dengan proporsi 44,0% maka jenis makanan bayi yang tidak lengkap mempunyai dampak cukup besar terhadap pertumbuhan perkembangan bayi yang tidak normal.
8.Frekuensi Makan
Responden dengan frekuensi makan bayi yang tidak baik memiliki peluang 80,8% terhadap pertumbuhan perkembangan tidak normal dengan proporsi 52,0% maka frekuensi makan bayi yang tidak baik mempunyai dampak besar terhadap pertumbuhan perkembangan bayi yang tidak normal.
9.Waktu Pemberian ASI.
Responden dengan pemberian ASI yang tidak segera memiliki peluang 86,4% terhadap pertumbuhan perkembangan tidak normal dengan proporsi 59,0% maka pemberian ASI yang tidak segera mempunyai dampak besar terhadap pertumbuhan perkembangan bayi yang tidak normal.
10.Waktu Pemberian MP ASI
Responden dengan pemberian MP ASI yang tidak baik memiliki peluang 80,7% dengan proporsi 57,0% maka pemberian MP ASI yang tidak baik mempunyai dampak besar terhadap pertumbuuhan perkembangan bayi tidak normal.
11.Variabel yang paling dominan berhubungan dengan pertumbuhan perkembangan bayi adalah
variabel pengetahuan dengan OR 26,950 artinya responden yang berpengetahuan rendah mempunyai peluang 27 kali dengan pertumbuhan perkembangan bayi tidak normal, setelah dikontrol oleh pekerjaan , waktu pemberian MP ASI dan pendapatan.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas maka saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut:
1. Petugas nakes supaya memberikan dukungan kepada ibu dengan mengadakan penyuluhan dan menjelaskan pentingkan ASI dan MP ASI
untuk pertumbuhan
perkembangan bayi .
2. Perlu membuat sistem penyuluhan yang lebih baik sehingga mudah dipahami oleh ibu-ibu sehingga para ibu mempunyai pemahaman yang sama tentang pertumbuhan perkembangan bayi.
3. Masyarakat /ibu yang mempunyai bayi
Pada masyarakat khususnya ibu yang memiliki bayi , agar memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan bayi dengan memberikan ASI segera setelah dilahirkan dan memberikan MP ASI setelah bayi berumur ≥ 6 bulan.
DAFAR PUSTAKA
Baliwati, F.Y, Khomsan, A, Dwi Riani, M.C. 2004. Pengantar Pangan dan Gizi ; Penebar Swadaya, Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2004. Statistik Rakyat ; Rakyat : Jakarta.
Depkes RI. 2005. Pusat Penelitian Perkembangan Gizi dan Makanan, Badan Penelitian dan Perkembangan Kesehatan : Bogor.
Vol I, No, 10 Januari 2014
51 __________. 2005. Pedoman Deteksi
Dini Tubuh Kembang Balita :Jakarta. __________. 2006. Pedoman Umum Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) Lokal : Jakarta. Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat. 2010. Profil Kesehatan Kabupaten Langkat.
Dinas Kesehatan Propinsi Sumatra Utara. 2010. Profil kesehatan Sumatra Utara.
Hadi, H. 2005. Beban Ganda Masalah Gizi dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Pembangunana Kesehatan Nasional. UGM : Yogyakarta.
Khomsan, A.2005. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta.
Krisnatuti, D. 2006. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI. Puspa Swara : Jakarta.
Kartini. 2006. Pola Makanan di Indonesia, PT. Rineka Cipta : Jakarta. Mardiarti, E. 2000. Gambaran Status Gizi Anak Balita di Tinjau dari Pola Pengsuhan Pada Ibu Bekerja dan Ibu Bukan Pekerjaan. Skripsi Universitas Sumatra Utara : Medan. tanggal 17 Pebruari 2012.
Notoatmodjo, S. 2000. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku. FKM-UI :Jakarta.
Nursalam, dkk. 2005. Asuhan keperawatan Bayi dan Anak. Salemba Medika : Jakarta.
Roesli, U. 2004. ASI Eksklusuf. Trubus Agriwidya : Jakarta.
Ramirez,L. M. 2006. Mengapa Anak dengan Visi. Penerbit PT Bhuana Ilmu Popular : Jakarta.
Riyadi, 2009, Asuhan Keperawatan Pada Anak. Graha Ilmu, Yokyakarta. Supariasa, I.D.N, dkk. 2002. Penilaian Status Gizi. EGC : Jakarta.
Sihombing, S.E. 2005. Pola Pengasuhan dan Status Gizi Balita di Tinjau dari Karakteristik Ibu. Skripsi Universitas Sumatera Utara : Medan.
Simanjuntak. 2003. ASI Eksklusif di Kelurahan Sidomulyo Kecamatan Besitang, Langkat.
Sulastri. 2002. Pola Asuh Makan dan Pertumbuhan Bayi di Kecamatan Medan Selayang.
Sinambela. 2005. Pola Pengasuhan terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Balita di Kecamatan Medan Belawan, Skripsi Universitas Sumatera Utara, Medan. Umar, H. 2003. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta.
WHO. 2004. Pemberian Makanan Tambahan. Penerbit Buku Kedokteran. EGC : Jakarta.
Yuneita. 2005. Prilaku Ibu dan Pemberian ASI dan Tumbang Bayi di Daerah KIM.
Yasril, Kasjono H. S. 2009. Analisis Multivariat untuk Penelitian Kesehatan. Mitra Cendikia : Yogyakarta.
Riyadi, 2009, asuhan Keperawatan pada anak
Vol I, No, 10 Januari 2014
53 PENGARUH PENGETAHUAN, SIKAP PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DAN KONDISI RUMAH TERHADAP PENCEGAHAN PENULARAN
TUBERKULOSIS DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS DESA LAMA KABUPATEN LANGKAT
Nur Hasanah: E-mail: [email protected] ABSTRACT
Tuberculosis is an infectious disease caused by the bacteria directly tuberculosis ( Mycobacterium tuberculosis ) , and estimated about a third of the world population has been infected by Mycobacterium tuberculosis , the WHO said 22 countries with the burden of tuberculosis ( TB ) in the world's highest 50 % of them come from countries Africa and Asia , and the Americas ( Brazil ) , assuming the prevalence of acid-fast bacilli ( AFB ) ( + ) in Indonesia is estimated to patients was 130 per 100,000 population , based on data from The District health Kabupaten Langkat , desa lama health center ranks first pulmonary TB disease , in in 2011 , there were 91 cases ( AFB ( ( + ) , in 2012 increased to 138 cases with ( BTA ) ( + ) . 's type is analytical study using a cross-sectional study design that aims to find pengaruh.pengetahuan , attitude TB pulmonary and housing conditions on the prevention of transmission of TB . research was carried out in the region of the Old Village district health centers Langkat , the population was all patients with pulmonary TB 138 people with a sample of 43 respondents . The results showed that there is a relationship between the knowledge of TB transmission precautions obtained p value = 0.000 with OR = 25.667 , attitudes precautions obtained with p value = 0.001 means that there is a meaningful relationship between gesture with OR = 12.824 , residential density with precautions can p value = 0.041 with OR = 5.417 , extensive ventilation with pulmonary TB transmission precautions obtained p value = 0.042 with OR = 4.622 , dominant variable effect on the prevention of pulmonary TB transmission is the attitude with p = 0.043 with OR = 11.494. For the
Vol I, No, 10 Januari 2014
54 Department of Health in collaboration with health centers in an effort to improve the quality of care specifically about the health status of pulmonaryTB disease . Keywords: Knowledge, Attitudes, housing conditions, pulmonary TB Transmission Prevention
ABSTRAK
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis), dan di perkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis, WHO menyatakan 22 negara dengan beban Tuberculosis (TB) tertinggi di dunia 50%-nya berasal dari Negara-negara Afrika dan Asia serta Amerika (Brasil), asumsi prevalensi Basil Tahan Asam (BTA) (+) di Indonesia diperkirakan penderita adalah 130 per 100.000 penduduk, berdasarkan data dari Dinas kesehatan Kabupaten Langkat, puskesmas Desa Lama menempati urutan pertama penderita penyakit TB paru, di tahun 2011 tercatat ada 91 kasus (BTA( (+), pada tahun 2012 meningkat menjadi 138 kasus dengan (BTA) (+). Jenis Penelitian ini bersifat Analitik dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional yang bertujuan mengetahui pengaruh.pengetahuan, sikap penderita TB paru dan kondisi rumah terhadap pencegahan penularan TB. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja puskesmas Desa Lama kabupaten Langkat, populasi adalah seluruh penderita TB paru sebanyak 138 orang dengan sampel sebanyak 43 orang responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh antara pengetahuan dengan tindakan pencegahan penularan TB Paru didapatkan nilai p value = 0,000 dengan OR= 25,667, sikap dengan tindakan pencegahan didapatkan nilai p value = 0,001 berarti ada pengaruh yang bermakna antara sikap dengan OR = 12,824, kepadatan hunian dengan tindakan pencegahan di dapat nilai p value = 0,041 dengan OR = 5,417, luas ventilasi dengan tindakan pencegahan penularan TB Paru didapatkan nilai p value = 0,042 dengan OR = 4,622, variabel yang dominan berpengaruh terhadap pencegahan penularan TB paru adalah sikap dengan nilai p = 0,043 dengan OR = 11,494. UntukDinas kesehatan bekerjasama dengan puskesmas dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan derajat kesehatan secara khusus mengenai penyakit TB Paru.
Kata kunici: Pengetahuan, Sikap, Kondisi rumah, Pencegahan Penularan TB paru
Vol I, No, 10 Januari 2014
Vol I, No, 10 Januari 2014
56 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penyakit menuar adalah penyakit yang ditularkan melalui berbagai media, penyakit jenis ini merupakan masalah kesehatan yang besar di hampir semua Negara berkembang karena angka kesakitan dan kematiannya yang relative tinggi dalam waktu yang relatife singkat, penyakit menular umumnya bersifat akut (mendadak) dan meyerang semua lapisan masyarakat, penyakit ini masih diprioritaskan mengingat sifat menularnya yang disebabkan wabah dan menimbulkan kerugian yang besar (Widoyono, 2005).
World Healthorganization (WHO) pada tahun 1993 menyatakan penyakit tuberkulosis paru merupakan kedaruratan global yang harus diatasi bersama oleh seluruh Negara-Negara di dunia (Kusnoputranto, 2011).
Diperkirakan sekitar sspertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis, setiap tahun terjadi sekitar 9 juta penderita baru tuberculosis paru dengan kematian 3 juta orang (Kusnoputranto, 2011).
World Healthorganization (WHO) menyatakan 22 negara dengan beban Tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia 50%-nya berasal dari Negara-negara Afrika dan Asia serta Amerika (Brasil), hampir semua Negara ASEAN masuk dalam kategori 22 Negara tersebut kecuali Singapura dan Malaysia. Di duga kasus Tuberkulosis (TB) di Indonesia diperkirakan penderita TB adalah 130 per 100.000 penduduk (Widoyono, 2005).
Menurut teori Green & Kauter dalam penelitian Wahyuni (2008), faktor pengetahuan, sikap dan perilaku mempunyai pengaruh besar terhadap status kesehatan individu maupun masyarakat dan berperan penting dalam menentukan keberhasilan suatu program penanggulangan penyakit dan pencegahan penularannya termasuk penyakit Tuberkulosis (TB).
Menurut Ahmadi, (2011), hubungan interaktif antara komunitas dengan lingkungan dalam suatu wilayah, dipengaruhi oleh determinan perubahan-perubahan global, diketahui pula bahwa hubungan interaksi manusia dengan berbagai komponen lingkungan tersebut sangat bervariatif, kompleks sifatnya, semua tergantung perilaku atau behavioral aspeknya.
Berdasarkan laporan tahunan Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat pada tahun 2011 kasus Basil Tahan Asam (BTA) (+) sebayak 1.263 orang,vdan pada tahun 2013 terjadi peningkatan kasus Basil tahana Asam (BTA) (+) sebanyak1.481 oarang.
Pertanyaan Penelitian
Apakah ada pengaruh pengetahuan, sikap penderita tuberkulosis paru dan kondisi rumah terhadap pencegahan penularan tuberkulosis paru diwilayah kerja Puskesmas Desa Lama Kabupaten Langkat tahun 2013.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini bersifat Analitik dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Dalam penelitian ini menggambarkan korelasi tentang pengaruh pengetahuan dan sikap penderita TB paru dan kondisi rumah terhadap pencegahan penularan TB paru di wilayah kerja puskesmas Desa Lama Kabupaten langkat.
Populasi penelitian ini adalah seluruh penderita TB paru yang bertempat tinggal diwilayah kerja Puskesmas Desa Lama kabupaten Langkat sebanyak 138 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan secara acak (simple random sampling).
Vol I, No, 10 Januari 2014
57 Analisis univariat akan menggambarkan karakteristik masing-masing variabel yang diteliti. Analisis bivariat untuk melihat ada tidaknya pengaruh antara variabel dependen (pengetahuan, sikap, kepadatan hunian dan luas ventilasi rumah) dan variabel dependen (tindakan pencegahan penularan TB paru ) dengan menggunakan ujistatistik dengan chi-squre dan analisa multivariat digunakan analisis regresi logistic ganda model prediksi.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian ini bagi kedalam beberapa sub pokok bahasan yaitu deskripsi lokasi penelitian, analisa univariat, bivariat, dan multivariat.
Deskripsi Lokasi Penelitian
Wilayah kerja puskesmas Desa Lama terletak diantara 402’26’’ dan 3046’05’’ lintang utara serta antara 97051’ dan 98018’ bujur timur , jumlah penduduk adalah sebesar 47214 jiwa, dengan jumlah penduduk usia non produktip sebanyak 20339 jiwa terhadap jumlah penduduk usia produktip sebanyak 32161 jiwa.
Analisis Univariat
Hasil analisis univariatumur responden mayoritas 41-50 tahun sebanyak 41,9%, mayoritas bekerja sebanyak 60,5%, mayoritas jenis kelamin laki-laki 69,8%, pengetahuan penderita TB paru memiliki pengetahuan baik 39,5%, responden yang memiliki sikap negative sebanyak 48,8%, kepadatan hunian yang tidak memiliki syarat sebanyak 37,2%, luas ventilasi rumah yang tidak memiliki syarat sebanyak 48,8%.
Analisis Bivariat
Berdasarkan analisis bivariat didapatkan uji statistik pengaruh pengetahuan dengan tindakan pencegahan penularan TB paru didapatkan nilai p value = 0,000. Hasil uji statistik pengaruh sikap dengan tindakan pencegahan penularan TB paru didapatkan nilai p value = 0,001. Uji statistik pengaruh kepadatan hunian dengan tindakan pencegahan penularan TB paru didapat nilai p value = 0,041. Pengaruh luas ventilasi dengan tindakan pencegahan penularan TB paru didapat nilai p value = 0,042.
Analisis Multivariat
Analisis multivariate digunakan
Analisis regresi logistic ganda model prediksi. Dari hasil analisis ada 2 variabel yang p valuenya > 0.05 yaitu kepadatan hunian (0,173), luas ventilasi (0,055). Hasil akhir kedua variabel mempunyai pengaruh yang siqnifikan dengan tindakan pencegahan penularan TB paru dengan nilai alpha (0,05), pada pengetahuan (p=0,030), sikap (p=0,043). Variabel yang paling dominan berpengaruh adalah variable yang mempunyai nilai OR yang paling tinggi. Sehingga varibel yang paling dominan berpengaruh dengan tindakan pencegahan penularan TB Paru adalah Sikap dengan OR 11,494 artinya penderita TB paru yang mempunyai sikap positif mempunyai peluang 11 kali melakukan tindakan pencegahan penularan TB Paru, setelah dikontrol dengan pengetahuan
Vol I, No, 10 Januari 2014
58 PEMBAHASAN
Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini mempunyai keterbatasan antara lain dalah desain yang digunakan adalah rancangan potong lintang (cross sectional) dengan metode survei.
Pengaruh Pengetahuan dengan Tindakan Pencegahan Penularan TB Paru
Hasil uji statistik pengaruh pengetahuan dengan tindakan pencegahan penularan TB paru secara statistik didapatkan nilai p value = 0,00 berarti ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan tindakan pencegahan penularan TB paru. OR= 25,667 artinya responden yang berpengetahuan baik baik mempunyai kemungkinan mempunyai kemungkinan melakukan tindakan pencegahan penularan TB paru 25 kali dibandingkan responden yang berpengetahuan kurang. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Tonny (2008) diperoleh hasil analisis Chi Square dimana nilai p value < 0,05 (0,000) dari nilai OR sebesar 2,5 artinya ada hubungan yang siqnifikan antara pengetahuan dengan potensi penularan tuberkulosis paru.
Pengaruh Sikap Dengan Tindakan Pencegahan Penularan TB Paru
Pengaruh sikap dengan tindakan pencegahan penularan TB paru secara statistik didapatkan nilai p value = 0,001 berarti ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan tindakan pencegahan penularan TB paru. OR + 12,824 yang artinya responden yang bersikap positif mempunyai peluang melakukan tindakan pencegahan penularan TB paru 12 kali dibandingkan responden yang bersikap negatif.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Wahyuni (2008) diperoleh hasil analisis uji statistic didapatkan ada pengaruh atau hubungan yang signifikan antara sikap dengan pencegahan penularan penyakit TB paru (P value = 0,000).
Pengaruh Kepadatan Hunian Dengan Tindakan Pencegahan Penularan TB Paru
Pengaruh kepadatan hunian dengan tindakan pencegahan penularan TB paru secara statistik didapatkan nilai p value = 0,041berarti ada pengaruh yang bermakna antara kepadatan hunian dengan tindakan pencegahan penularan TB paru. OR = 5,417 yang artinya kepadatan hunian yang memenuhi syarat mempunyai peluang pencegahan penularan TB paru 5 kali dibandingkan kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat.
Hasil penelitian ini juga didukung oleh Ruswanto (2010) dengan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa nilai ρ = 0,003 dan OR = 3,101 dengan CI 95% = 1,440<OR<6,681 sehingga bermakna karena nilai ρ < 0,05 dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kepadatan penghuni dalam rumah merupakan faktor risiko terhadap kejadian tuberkulosis paru.
Pengaruh Luas Ventilasi Dengan Tindakan Pencegahan Penularan TB Paru
Pengaruh antara luas ventilasi dengan tindakan pencegahan penularan TB paru secara statistik didapatkan nilai p value = 0,042 berarti ada hubungan yang bermakna antara luas ventilasi dengan tindakan pencegahan penularan TB Paru. OR = 4,622 yang artinya responden yang mempunyai luas ventilasi yang memenuhi syarat mempunyai peluang pencegahan penularan TB Paru 4kali dibandingkan responden yang mempunyai luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat.
Vol I, No, 10 Januari 2014
59 Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Tobing (2008) dengan hasil analisis Chi square di dapat nilai p value = 0,037 ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang siqnifikan antara ventilasi dengan potensi penularan TB paru.
Analisis Multivariat perilaku Pencegahan Penularan TB Paru
Dari proses analisis yang telah dilakukan ada 2 variabel yang mempunyai pengaruh signifikan dengan tindakan pencegahan penularan TB Paru dengan nilai p < alpha (0,05). Pada pengetahuan (p=0,030), sikap (p=0,043). Variabel yang paling dominan berpengaruh adalah variable yang mempunyai nilai OR yang paling tinggi. Sehingga varibel yang paling dominan berpengaruh dengan tindakan pencegahan penularan TB Paru adalah sikap dengan OR 11,494 artinya penderita TB paru yang mempunyai sikap positif mempunyai peluang 11 kali melakukan tindakan pencegahan penularan TB paru, setelah dikontrol dengan pengetahaun.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh pengetahuan, sikap penderita tuberkulosis paru dan kondisi rumah terhadap pencegahan penularan tuberkulosis maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Ada pengaruh yang bermakna antara pengetahuan dengan tindakan pencegahan penularan TB paru, dengan nilai p value 0,000 dengan OR = 25,667
2. Ada pengaruh yang bermakna antara sikap dengan tindakan pencegahan penularan TB paru, dengan nilai p value 0,001 dengan OR = 12,824
3. Ada pengaruh yang bermakna antara kepadatan hunian dengan tindakan pencegahan penularan TB paru, dengan nilai p value 0,041 dengan OR = 5,417.
4. Ada pengaruh yang bermakna antara luas ventilasi dengan tindakan pencegahan penularannTB paru, dengan nilai p value 0,042 dengan OR = 4,622
5. Variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap pencegahan penularan TB paru adalah sikap dengan nilai p= 0,043 dan nilai OR = 11,494
SARAN
Berdasarkan hasil penelitianmaka peneliti mempunyai beberapa saran yaitu sebagai berikut: 1. Bagi Dinas Kesehatan bekerjasama dengan puskesmas dalam upaya untuk meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan secara khusus mengenai penyakit TB Paru.
2. Bagi Puskesmas meningkatkan kapasitas petugas kesehatan untuk pembinaan masyarakat khususnya mengenai TB paru oleh petugas kesehatan.
3. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melanjutkan penelitian ini dan menganalisis lebih dalam pada variabel yang berbeda dalam pencegahan penularan TB paru.
4. Bagi Institusi Pendidikan hasil penelitian ini bisa menjadi referensi dan pembanding bagi peneliti selanjutnya dalam menganalisis variabel yang berbeda dalam pencegahan TB paru.
5. Bagi Masayarakat upaya peningkatan pengetahuan dan sikap masyarakat tentang pencegahan dan penanggulangan penyakit TB paru melalui penyuluhan-penyuluhan.
Vol I, No, 10 Januari 2014
60 DAFAR RUJUKAN
Achmadi Umar, F, 2011. Dasar-dasar Penyakit Berbasis Lingkungan, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Alamsyah & Muliawati, 2013. Pilar Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Yogyakarta : Nuha Medika
Arikunto, 2010. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek, jakarta : Rineka cipta Badan Pusat Statistik Kabupaten Langkat. 2012. Kabupaten Langkat dalam angka.
Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. 2009. Indikator kesejahteraan rakyat tahun 2009 dan analisis data pengangguran semester 1 tahun 2010 provinsi sumatera utara
Chin James, 2000. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Edisi 17 Crofton, Horner, Miller, 2002. Tuberkulosis Klinis, Jakarta: widya Medika
Dahlan M Sopiyudin, 2009. Besar Sampel dan cara pengambilan Sampel dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Edisi 2. Jakarta: Salemba medika
Danusantoso Halim, 2000. Ilmu Penyakit Paru, Jakarta: Hipokrates
Dewi & Wawan. 2011. Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.
Djojodibroto Darmanto, 2012. Respirologi Respiratory Medicine. Jakarta : EGC
Fitriani, E. 2012. Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru. Unnes Journal of Public Health, 1 (2), 2-7.
Hudoyo Ahmat, 2008. Tuberkulosis Mudah Diobati, Jakarta: Fakultas kedokteran Universitas Indonesia.
Handini, M. C., 2012. Metodologi Penelitian Untuk Pemula. Jakarta: Fip Press
Isgiyanto Awal, 2009. Teknik Pengambilan Sampel Pada Penelitian non-eksperimen. Jogjakarta : Mitra Cendikia Press.
Kemenkes RI. 2011. Pedoman Nasional pengendalian Tuberkulosis. Kepmenkes RI 2012. Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.
Kusnoputranto, H., & Versitaria, H. 2011. Tuberkulosis Paru diPalembang, Sumatera Utara. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 5(5), 234-240.
Mahastuti, A., & Adnani, H. 2006. Hubungan kondisi rumah dengan penyakit TBC paru di wilayah kerja puskesmas karangmojo 11 kabupaten gunungkidul tahun 2003-2006. Jurnal Kesehatan Surya Medika Yogyakarta.http://skripsistikes.files.wordpress.com diakses Maret 2013.
Manalu, H. S. P. 2010. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Tb paru dan upaya penanggulangannya. Jurnal Ekonomi Kesehatan, 9 (4), 1340-1346.http://ejournal.litbang.depkes.go.id diakses Maret 2013.
Manalu, H. S. P., & Friskarini, K. 2010. Peran dan perilaku tenaga kesehatan terhadap program Tb paru. Jurnal Ekonomi kesehatan, 9 (4), 1320-1323. http://ejournal.litbang.depkes.go.id diakses Maret 2013.
Moha. 2012. Pengaruh Kondisi Fisik Rumah Terhadap Kejadian Penyakit TB Paru di Desa Pinolosian wilayah Kerja Puskesmas Pinolasian Kecamatan Pinolasian Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.http://search.babylon.com. Diakses 25 April 2014.
Vol I, No, 10 Januari 2014
61 ____________. 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu & Seni. Jakarta: Rineka Cipta.
Riduwan. 2010. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Ruswanto, 2010. Analisis Spasial Sebaran Kasus Tuberkulosis Paru Ditinjau dari Faktor Lingkungan Dalam dan Luar Rumah diKabupaten Pekalongan, Tesis UniversitasdiPonegoro,Semarang.https://seach.yahoo.com/search?p=jurnal+analisis+spasial+seb aran+kasus+tuberkulosis.
Sutiningsih, D., Wuryanto, M. A,. Pertiwi, R. N. 2012. Hubungan Antara Karakteristik Individu, Praktik Hygiene dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Tuberkulosis di Kecamatan Semarang Utara. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1 (2), 435-445.http://portalgaruda.org/download_article diakses Maret 2013.
Tobing, 2008. Pengaruh Perilaku Penderita TB Paru dan Kondisi Rumah Terhadap Pencegahan Potensi Penularan TB paru pada Kelurga di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2008.Tesis Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara.http://repository.usu.ac.id.
Untu,M, dkk. 2013. Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Dengan Tindakan Hidup Sehat Pasien TB Paru di Poliklinik Paru RSUP Prof DR.R. D Kandou Manado. Jurnal keperawatan, 1(1). http://www.google.com/url?q. Diakses 23 April 2014.
Umar Husein 2011. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Edisi 2. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada.
Wahyuni. 2008. Determinan Perilaku Masyarakat dalam Pencegahan Penularan Penyakit TBC Diwilayah Kerja Puskesmas Bendosari. Gaster 4 (1), 178-183.
Widoyono, 2005. Penyakit Tropis Epidemiologi Penularan pencegahan & Pemberantasannya, Jakarta : Erlangga.http://www.google.com/url?q diakses Maret 2013.
Widya, N. E., dkk. 2012. Kemandirian Masyarakat Dalam Perilaku Pencegahan Penularan Penyakit TB Paru. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 15 (2), 162-169.http://ejournal,litbang.depkes.go.id/index.pho/hrs/article/viewFile diakses Maret 2013. Yoannes, 2008. Penyakit & Cara Pencegahannya. Yogyakarta : Kanisius