• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Kelasa: Kelebat Bahasa dan Sastra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Kelasa: Kelebat Bahasa dan Sastra"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122 | 104

Jurnal Kelasa: Kelebat Bahasa dan Sastra

http://kelasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/kelasa

p-ISSN : 1907-7165 e-ISSN: 2721-4672

REPRESENTASI TANGGUNG JAWAB SEORANG LAKI-LAKI PADA FILM BERSERI BERJUDUL OH! MY SWEET LIAR!

The Representation of A Man`s Responsibility on the Movie Oh! My Sweet Liar!

Indrya Mulyaningsih

IAIN Syekh Nurjati, Cirebon, Indonesia [email protected]

Abstrak

Semakin mudahnya mengakses dan melihat film, penonton harus pandai memilih film yang baik dan mendidik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna tanggung jawab seorang laki-laki yang terdapat pada film drama komedi Oh! My Sweet Liar! Penelitian deskriptif ini dilakukan dari November 2020 sampai Februari 2021. Data diperoleh melalui tangkapan layar dari film. Dokumentasi tersebut dianalisis dengan menggunakan pendekatan semiotika dari Roland Barthes. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi teori dan sumber data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab seorang laki-laki tidak hanya sebagai anak, tetapi juga suami, menantu, ayah, dan pemimpin daerah. Hal ini menunjukkan bahwa sekalipun seorang laki-laki memiliki cita-cita untuk dapat hidup sendiri, keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari keluarga dan masyarakat.

Kata-kata kunci: makna tanggung jawab; Oh! My Sweet Liar!; semiotika Roland

Barthes

Abstract

The easier it is to access and view films, the audience must choose excellent and educational films. This study aims to analyze the meaning of a man's responsibility in the comedy-drama Oh! My Sweet Liar! This descriptive study was conducted from November 2020 to February 2021. The data were obtained through screenshots from the film and analyzed using Roland Barthes' semiotic approach. The validity of the data was done by triangulating the theory and data sources. The results showed that a man's responsibility was not only as a child but also as a husband, son-in-law, father, and regional leaders. This movie indicates that even if a man has aspirations to live alone, his existence cannot be separated from his family and society.

Keywords: Oh! My Sweet Liar; semiotics of Ronald Barthes; the value of responsibility Naskah Diterima Tanggal 7 Maret 2021—Direvisi Akhir Tanggal 14 April 2021—Disetujui Tanggal 19 April 2021

(2)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122

| 105

PENDAHULUAN

Selama Pandemi Covid-19, masyarakat diminta untuk tidak bepergian sehingga sebagian besar aktivitas justru dilakukan di rumah. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan selama di rumah adalah dengan menonton film. Film merupakan hasil karya seni yang memadukan berbagai unsur, baik audio maupun visual (Ardianto, Komala, & Karlinah, 2014). Film dapat menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat atau penonton (Imron, 2003). Selain itu, film dapat menggambarkan keadaan atau fenomena yang terjadi di masyarakat (Oktavianus, 2015). Film dapat memberi pengalaman kognitif dan afektif (Smithikrai, Longthong, & Peijsel, 2015). Fakta inilah yang justru mendukung betapa efektifnya sebuah film sebagai penyampai pesan. Saat ini, internet memberi fasilitas dalam kemudahan mengakses dan melihat film. Supaya penikmat tidak mendapat pengaruh buruk, film hendaknya mengandung pesan yang baik. Pesan yang dimaksud dapat diwujudkan melalui nilai-nilai yang terdapat pada film tersebut (Manesah, Minawati, & Nursyirwan, 2018). Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian terhadap film agar penonton tidak salah dalam memahami pesan yang diperoleh.

Salah satu film itu berjudul Oh! My Sweet Liar! atau dalam bahasa Mandarin Tou

Xin Hua Shi. Ini merupakan film serial yang berjenis sejarah, komedi, dan romantis.

Film ini berjenis sejarah karena latar film adalah pada masa kerajaan, sekitar 10.000 SM. Hal ini dapat diketahui dari satu-satunya alat transportasi berupa kuda. Film ini berjenis komedi karena beberapa adegan cenderung lucu. Berjenis romantis karena berkisah pada percintaan beberapa pasang laki-laki dan perempuan. Film berseri di televisi ini berasal dari Cina yang ditayangkan sejak 16 September 2020 dalam 29 episode. Film ini menarik untuk diteliti karena adanya kemiripan ajaran Islam dengan yang dilakukan oleh Li Hong Bin sebagai pemeran utama. Adapun ajaran yang dimaksud adalah tentang tanggung jawab seorang anak laki-laki, baik kepada orang tua, keluarga, maupun saudara.

Penelitian Irawan & Az-Zahra (2020) menyimpulkan bahwa pesan dapat disampaikan melalui benda-benda yang digunakan dalam film Beauty and The Beast. Dengan menggunakan kajian semiotika, tanda yang ditemukan berupa bunga mawar, baik merah yang dimaknai keinginan maupun putih yang dimaknai ketulusan. Penelitian (Iqbal, 2018) menyimpulkan bahwa terdapat nilai tanggung jawab sebagai suami pada film Bukaan 8. Temuan ini berdasarkan penanda, penanda denotatif, penanda konotasi,

(3)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122 | 106

dan tindakan yang terdapat pada film tersebut. Penelitian Zurcher, Webb, & Robinson (2018) menunjukkan bahwa dari 85 film animasi Disney tergambar struktur dan interaksi keluarga yang positif.

Berbagai penelitian tentang analisis semiotika dari Ronald Barthes sudah banyak dilakukan, tetapi belum banyak yang menerapkannya pada film Oh! My Sweet Liar! atau dalam bahasa Mandarin Tou Xin Hua Shi. Keistimewaan penelitian ini karena mengkaji film serial yang memiliki 29 episode. Selama ini, penelitian banyak dilakukan pada film dan bukan film berseri.

LANDASAN TEORI

Film dimaknai sebagai karya seni dan budaya yang dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi secara umum (Russel III & Waters, 2013). Pembuatan film mengikuti kaidah sinematografi, berupa gerak, cahaya, dan gambar atau tulisan (Riwu & Pujiati, 2018). Unsur naratif film, meliputi: latar, karakter, alur, konflik, dan tema. Kelima unsur ini turut mempengaruhi pesan baik yang akan disampaikan. Sebagai media artistik yang kompleks, film berfungsi untuk: 1) memberi informasi, 2) menghibur, 3) memengaruhi, 4) membimbing, dan 5) mengkritik. Film dapat mengejawantahkan nilai humaniora dengan menampilkan perpaduan antara manusia dan karakternya, waktu, serta ruang dalam berbagai peristiwa sebagai cerimanan pengalaman dan perkembangan adab dan budaya.

Setiap film memiliki fungsi untuk tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor (Lv, Guo, & Li, 2017). Artinya, penonton diharapkan mendapatkan pesan setelah melihat film. Pesan merujuk pada nilai-nilai baik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Film turut memengaruhi nilai-nilai di masyarakat karena mengandung berbagai unsur, seperti: lembaga sosial, kebudayaan, kelompok sosial, kekuasaan, stratifikasi sosial, dan wewenang (Fauziyyah & Irman, 2019). Adapun yang dimaksud nilai adalah berkaitan dengan prinsip atau keyakinan seseorang, baik secara pribadi maupun sosial (Wijaya, 2019).

Salah satu nilai itu adalah nilai karakter tanggung jawab. Tanggung jawab merujuk pada kesadaran terhadap hak dan kewajiban. Jenis tanggung jawab berupa: kepada diri sendiri, kepada masyarakat, dan kepada Tuhan (Fontaine, 2013). Adapun hal yang terkait tanggung jawab, meliputi: tugas, hukum, kontrak, janji, pembagian kerja,

(4)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122

| 107

kewajiban dalam hubungan, prinsip etis universal, ketetapan agama, keadaan untuk dipertanggungjawabkan, ketekunan, tujuan yang ingin diraih, pandangan positif ke depan, bijaksana, hal yang masuk akal, pengaturan waktu, pengaturan sumber daya, kerja tim, kemandirian keuangan, dan motivasi diri (Voegtlin, 2016). Aspek tanggung jawab berupa kesadaran, kecintaan, dan keberanian.

Untuk mengetahui makna yang terdapat pada film dapat menggunakan kajian semiotika (Mudjiono, 2011). Semiotika berfungsi untuk mengkaji secara ilmiah tanda dalam kehidupan, baik verbal maupun nonverbal (Ratna, 2012). Komponen semiotika, meliputi: tanda (penanda/petanda), aksis (sintagma/sistem), tingkatan tanda (denotasi/konotasi), dan relasi tanda (metafora/metonimi) (Piliang, 2003). Tanda berkaitan dengan arti dan proses penyusunan isyarat (Halik, 2012). Adapun kajian semiotika dari Roland Barthes berfokus pada tanda denotasi dan konotasi (Barthes, 2007). Tanda denotasi merujuk pada makna yang terbuka atau apa adanya. Tanda konotasi merujuk pada makna yang tertutup atau tidak secara langsung, seperti pada gambar berikut.

Gambar 1. Metode Analisis Semiotika Roland Barthes

METODE PENELITIAN

Penelitian ini berjenis kualitatif deskriptif karena bertujuan memahami fenomena yang dialami tokoh utama pada film Oh! My Sweet Liar!, baik berupa tutur kata, persepsi maupun tindakan atau perilaku. Fenomena tersebut kemudian dideskripsikan dalam bentuk kata-kata (Mahsun, 2005). Penelitian ini dilakukan dari November 2020 sampai Februari 2021. Adapun pendekatan yang digunakan adalah semiotika dari Roland Barthes. Sumber data berupa film Oh! My Sweet Liar! yang terdiri atas 29 seri. Setiap

Makna Denotatif

Makna Konotatif

(5)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122 | 108

seri memiliki durasi 50 menit. Data penelitian berasal dari seluruh seri berupa tangkapan layar yang diambil dari film Oh! My Sweet Liar! Tangkapan layar yang memuat potongan gambar (Wiratno, 2018). Instrumen penelitian menggunakan dokumentasi yang bersumber dari film.

Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan: 1) menyimak dan mengamati film, 2) mengambil tangkapan layar pada bagian film yang dianggap mewakili, 3) mengumpulkan dan mengelompokkan berdasarkan makna yang dikandung. Instrumen penelitian menggunakan dokumentasi yang bersumber dari film (Mahsun, 2005). Keabsahan data mendasarkan pada triangulasi teori dan sumber data. Triangulasi teori dilakukan dengan memastikan pendekatan semiotika dari Roland Barthes (Barthes, 2007). Triangulasi sumber data dengan memastikan bahwa tangkapan layar yang diambil bersumber dari film Oh! My Sweet Liar! Analisis data menggunakan analisis isi dengan pendekatan semiotika. Adapun cara kerjanya dengan: 1) mengidentifikasi tanda denotasi yang terdapat pada tangkapan layar, 2) mengklasifikasi berdasarkan penanda dan petanda, 3) mengidentifikasi tanda konotasi, 4) memberi interpretasi data, serta 5) menyimpulkan hasil interpretasi yang sudah dilakukan (Barthes, 2007).

PEMBAHASAN

Film ini menggunakan bahasa Mandarin yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Berikut ini tangkapan layar berupa adegan yang dianggap mewakili makna tanggung jawab pada film. Sumber tangkapan layar dan beberapa terjemahan dalam bahasa Inggris disertakan sebagai data.

Sinopsis Film Oh! My Sweet Liar!

Film ini merupakan drama berseri yang diadaptasi dari novel Wangfei Bukpao 王妃不靠谱 karya Wan Xia. Berawal dari seorang gadis bernama Xiong Xiruo yang pandai melukis dan memiliki nama samaran Peri Bahagia. Suatu hari diminta oleh temannya yang bernama A Shuang untuk menggambar peta Empat Arhat di rumah keluarga Li. Peta Arhat menunjukkan harta karun keluarga Li yang merupakan bangsawan sekaligus bupati Yunyao. Demi mendapatkan uang 2000 tael, Xiong Xiruo masuk ke rumah Keluarga Li dan menyamar sebagai pelayan Li Hong Bin, yaitu putra tertua keluarga ini. Demi menyelamatkan diri, Xiong Xiruo terpaksa mengaku hamil atas perbuatan Li Hong Bin. Hal ini dijadikan alasan oleh Li Hong Bin untuk menolak

(6)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122

| 109

perjodohan dengan Song Qin yang putri Keluarga Song. Li Hong Bin memilih menerima tuduhan telah menghamili dan bertanggung jawab terhadap anak yang dikandung Xiong Xiruo. Sebelum Keluarga Song mengajukan lamaran secara resmi, Li Hong Bin meminta kepada orang tuanya untuk menikahkannya dengan Xiong Xiruo. Jadi, dapat dikatakan bahwa pernikahan ini didasari karena terpaksa. Berbagai masalah muncul setelah pernikahan ini, tetapi berakhir dengan bahagia.

Adapun nilai karakter tanggung jawab yang terdapat pada film drama komedi Oh!

My Sweet Liar!, meliputi sebagai: anak, suami, menantu, anak, dan pemimpin daerah.

Tanggung Jawab sebagai Anak

Gambar 2 berasal dari episode 18 menit ke-16:22. Adegan ini terjadi ketika Li Hong Bin mendapat tugas dari orang tuanya untuk menjamu Song Zhi perwakilan Keluarga Song. Kedatangan Song Zhi untuk membahas perjodohan Song Qin dengan Li Hong Bin. Pada adegan ini terjadi perseteruan antara keduanya. Song Zhi penasaran dengan istri Li Hong Bin. Walaupun Li Hong Bin tidak menyukai Keluarga Song, tetapi tetap mau menjamu. Ketidaksukaan Li Hong Bin ditunjukkan dengan memilih menikahi perempuan lain daripada dengan Keluarga Song. Kebencian ini ditambah dengan penghinaan Song Zhi kepada Xiong Xiruo.

Gambar 2. Li Hong Bin Menjamu Keluarga Song

Jika dianalisis dengan menggunakan model semiotika dari Ronald Barthes, adegan pada Gambar 2 dapat dirinci seperti pada Tabel 1. Analisis yang dimaksud memiliki empat komponen, yakni penanda, petanda, makna denotatif, dan makna konotatif. Keempat komponen ini saling melengkapi dan terkait.

(7)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122 | 110

Tabel 1. Model Analisis Semiotika pada Penyambutan Tamu Ekspresi (Penanda)

- Hidangan - Para penari

Isi (Petanda)

- Meja yang penuh dengan makan dan minuman

- Para penari yang sedang menari

Makna Denotatif

- Berbagai makanan dan minuman dihidangkan untuk menjamu tamu - Meja dan kursi ditata dengan rapi

- Para penari menari untuk menghibur tamu

Makna Konotatif

- Hidangan menunjukkan kebaikan tuan rumah dalam memperlakukan tamu

- Tuan rumah dan tamu duduk berhadapan sebagai tanda kesejajaran dan penghormatan

- Hiburan menunjukkan kesiapan tuan rumah dalam menyambut tamu

Pada Gambar 2 terdapat petikan dialog yang diucapkan oleh Song Zhi, yakni:

you’re in Li’s manor. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti “kamu adalah

bangsawan dari Keluarga Li”. Melalui pernyataan ini, Song Zhi ingin mengatakan kepada Li Honghin bahwa dia bagian dari Keluarga Li yang seorang bangsawan. Adapun maksud pernyataan Song Zhi ini adalah bahwasannya Li Hong Bin yang anak keturunan bangsawan seharusnya menikah dengan perempuan yang sederajat, yakni yang sama-sama bangsawan. Hal ini disampaikan oleh Song Zhi karena Li Hong Bin tidak mau menikahi adiknya, tetapi malah menikah dengan perempuan bekas pelayan. Dalam hal ini, Song Zhi merasa tersinggung dan kecewa dengan sikap Li Hong Bin. Meski diperlakukan dan dikata-katai tidak baik, Li Hong Bin tetap sabar.

(8)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122

| 111

Perilaku Li Hong Bin menunjukkan makna tanggung jawab, terutama kepada orang tua. Hal ini sejalan dengan ajaran Konfuisius berupa Hsiou yang berarti bakti seorang anak kepada orang tua (Arifin, 2013), Sebagai anak tertua Keluarga Li, Li Hong Bin merasa bertanggung jawab untuk menjaga kehormatan atau citra keluarga. Citra ini perlu dijaga untuk menjaga nama baik keluarga (Hadi, 2014). Hal yang dapat membangun citra baik adalah dengan menyambut, menjamu tamu, bertutur kata dan bersikap baik serta sopan. Hal ini ditunjukkan Li Hong Bin dengan tetap duduk dan bersikap sopan walaupun Song Zhi terus saja berkata dan bersikap kasar, terutama kepada istrinya.

Selain dengan menjamu, sambutan yang Li Hong Bin lakukan dalam menyambut tamu adalah dengan memberi hiburan. Hiburan itu berupa kompetisi atau tepatnya permainan memasukkan anak panah. Seperti pada Gambar 3. Bagi Li Hong Bin, permainan ini sangat sepele. Namun demi menyenangkan hati orang tua dan pamannya, Li Hong Bin rela mengikuti permainan ini. Bahkan Li Hong Bin rela mengalah demi membantu pamannya karena ingin mendapat perhatian dari adik tamu orang tuanya.

Tabel 2. Model Analisis Semiotika pada Permainan Penyambutan Tamu Ekspresi (Penanda)

- Halaman - Tangga - Anak panah

Isi (Petanda)

- Tanah lapang yang luas

- Jalan untuk menuju ke tempat yang lebih tinggi

- Keterampilan

Makna Denotatif

- Terdapat tanah yang luas dan lapang sebagai halaman sebuah rumah - Anak tangga sebagai jalan untuk menuju rumah

- Anak panah sebagai tanda para penghuni rumah tersebut memiliki keterampilan dan ketelitian serta kewaspadaan

Makna Konotatif

- Sebuah arena untuk mengadu ketangguhan antara tuan rumah dengan tamu

- Walaupun halamannya luas, tetapi tetap ada pembatas antara tuan rumah dan tamu - Salah satu yang dilakukan untuk menguji ketangguhan tuan rumah adalah dengan

permainan sebuah keterampilan

Tabel 2 menunjukkan bahwa seorang tamu harus dihormati. Seorang bangsawan atau pejabat yang memiliki kekuasaan sekali pun, tetap harus memperlakukan tamunya dengan baik. Salah satu bentuk perlakuan baik ini adalah dengan melakukan permainan kompetisi. Li Hong Bin harus berada jauh dari kedua orang tuanya. Justru tamulah yang

(9)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122 | 112

posisinya berdekatan dengan kedua orang tuanya. Tuan rumah diminta untuk mengalah agar tamu menang. Hal ini semata-mata untuk hormati dan menghargai tamu.

Cara memuliakan dengan menyambut dengan wajah senang, bertutur kata yang baik, dan menghidangkan makanan (Afifah, 2018) dan hiburan berupa tari-tarian dan permainan. Perlakuan yang baik kepada tamu akan sangat berdampak pada kemudian hari (Saputri, 2019). Selain itu, perlakuan baik juga dapat menjaga tali persaudaraan atau pertemanan yang sudah terjalin. Sebagai orang yang bertanggung jawab, Li Hong Bin menyadari itu dan tetap bersikap baik kepada Song Zhi.

Tanggung Jawab sebagai Suami

Nilai karakter yang dimiliki selanjutnya adalah tanggung jawab sebagai suami, seperti pada Gambar 4 yang diambil pada epidose 2 menit ke-16:46. Pertama kali Xiong Xiruo masuk ke rumah Keluarga Li adalah untuk menggambar peta harta karun keluarga tersebut. Caranya yakni dengan menyamar menjadi pelayan. Saat itu, ada lowongan untuk menjadi pelayan pribadi Li Hong Bin dan Xiong Xiruo terpilih. Suatu hari, Xiong Xiruo membius lalu menggambar tubuh Li Hong Bin dalam keadaan tanpa busana. Hal ini dilakukan karena menurut Xiong Xiruo, peta empat Arhat adalah empat laki-laki di Keluarga Li dalam keadaan tanpa busana. Karena takut dihukum, Xiong Xiruo mengaku dihamili oleh Li Hong Bin.

Gambar 4. Li Hong Bin Menyelamatkan Xiong Xiruo

Suatu hari, datang surat yang mengabarkan bahwa Keluarga Song akan berkunjung untuk menjodohkan Song Qin dengan Li Hong Bin. Karena tidak menyukai

(10)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122

| 113

Song Qin, Li Hong Bin menolak rencana itu dan memilih menikahi Xiong Xiruo. Walaupun pernikahan dilakukan karena terpaksa, tetapi Li Hong Bin berusaha memperlakukan istrinya dengan baik. Sebagai bentuk tanggung jawab, Li Hong Bin menjaga Xiong Xiruo dengan cara menjadikannya pelayan pribadi. Li Hong Bin meminta agar kejadian ini tidak diketahui oleh siapa pun, termasuk orang tuanya. Walaupun dipekerjakan sebagai pelayan pribadi, Li Hong Bin sangat memperhatikan kondisi Xiong Xiruo, terutama bayi yang dikandungnya.

Berikut analisis semiotika berdasarkan Gambar 3.

Tabel 3. Model Analisis Semiotika pada Penyelamatan Xiong Xiruo Ekspresi (Penanda) - Lampu - Digendong - Dai Ru Ren Isi (Petanda) - Malam hari - Perhatian

- Orang yang menyayangi Li Hong Bin dan membenci Xiong Xiruo

Makna Denotatif

- Ada sebuah peristiwa di malam hari

- Li Hong Bin memperhatikan istrinya dengan cara menggendongnya.

- Peristiwa itu diketahui secara langsung oleh Dai Ru Ren, sepupu Li Hong Bin

Makna Konotatif

- Xiong Xiruo telah melakukan kesalahan - Li Hong Bin tetap membela istrinya

- Li Hong Bin ingin menunjukkan kepada Dai Ru Ren bahwa dia mencintai istrinya

Meskipun tidak mengenal dan tidak mencintai Xiong Xiruo, tetapi Li Hong Bin harus bertanggung jawab terhadap anak yang ada di perut Xiong Xiruo. Hal itu ditunjukkan kepada Dai Ru Ren, sepupu yang mencintai Li Hong Bin. Walaupun belum menikah secara resmi, Li Hong Bin ingin memberi tahu sepupunya bahwa dia mencintai istrinya. Maka dalam keadaan apa pun, Li Hong Bin akan membantu dan melindungi Xiong Xiruo. Sebagai suami, Li Hong Bin ingin menjaga istri dan melindungi anak yang ada di kandungannya (Nelli, 2017).

Seperti telah diketahui bersama bahwa tugas suami adalah sebagai kepala keluarga. Kepala keluarga berkewajiban menjaga keluarga, yaitu istri dan anak. Kepala keluarga hendaknya menyediakan sandang, pangan, dan papan bagi keluarga. Dalam hal ini, Li Hong Bin telah menyediakan rumah lengkap dengan pelayan untuk tempat tinggal istrinya. Selama 24 jam telah disiapkan pelayan untuk melayani semua kebutuhan Xiong Xiruo, mulai dari pekerjaan yang sederhana sampai yang kompleks.

(11)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122 | 114

Kepala keluarga juga berperan sebagai mitra istri, baik dalam keadaan susah maupun senang; baik dalam waktu luang maupun sempit (Putri & Lestari, 2015). Suami juga berperan sebagai pelindung dan membimbing istri agar selalu berada di jalan yang benar. Suami hendaknya juga membantu meringankan beban istri, baik dalam urusan rumah maupun dalam membimbing anak. Semula Li Hong Bin selalu memberi tugas yang berat kepada Xiong Xiruo, tetapi seiring berjalannya waktu Li Hong Bin mulai menyadari tugasnya sebagai pelindung istri dan anaknya. Pernikahan yang dijalani Li Hong Bin akhirnya mampu memberikan kebahagiaan, bukan hanya kepada dirinya sendiri, tetapi juga istri, orang tua, dan orang-orang di sekitarnya. Sebagai suami merupakan berkah yang harus disyukuri (Atabik & Mudhiiah, 2014). Demikian pun yang dirasakan Li Hong Bin setelah menikah dengan Xiong Xiruo.

Tanggung Jawab sebagai Menantu

Gambar 5 diambil dari episode 15 menit ke-28:38 yang menunjukkan tanggung jawab sebagai menantu. Adegan ini menggambarkan ketika Ibu Xiong Xiruo diundang dan dijamu ke kediaman Keluarga Li. Sebenarnya Xiong Xiruo adalah anak angkat. Asal usulnya memang tidak jelas, tetapi terdapat giok putih digendongannya ketika pertama kali ditemukan. Giok tersebut sebagai penanda bahwa bayi tersebut adalah putri raja yang hilang ketika raja melakukan perjalanan dalam rangka inspeksi.

Ibu angkat Xiong Xiruo merupakan induk semang sebuah tempat hiburan di Yunyao. Namun demikian, Xiong Xiruo dibesarkan dengan baik dan terjaga kehormatannya. Ini adalah kali pertama Ibu Xiong Xiruo berkunjung ke rumah Keluarga Li dan diperlakukan dengan tidak baik, terutama oleh orang-orang yang tidak suka pada Xiong Xiruo. Dengan sabar, Li Hong Bin dan Xiong Xiruo berusaha menjaga perasaan, baik Keluarga Li maupun ibu angkatnya.

(12)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122

| 115

Gambar 5. Li Hong Bin Menjamu Mertuanya

Berikut ini petikan dialog pada Gambar 4 menunjukkan adegan ketika Keluarga Li menjamu Ibu Mertua Li Hong Bin. Have some more. Terjemahan dalam bahasa Indonesia menjadi ‘beri lagi’. Kalimat ini disampaikan oleh Li Jingrui, yaitu paman Li Hong Bin. Li Jingrui seolah-olah berusaha bersikap baik, tetapi sebenarnya sedang berusaha untuk menjebak Xiong Xiruo. Adapun maksud dari pernyataan ini adalah bahwa Ibu Xiong Xiruo diminta untuk makan dan minum sebanyak-banyaknya. Makanan yang dimaksud adalah makanan khas daerah asal Ibu Xiong Xiruo yang justru dapat membuat perut sakit. Minuman yang dimaksud adalah arak yang dapat menyebabkan mabuk.

Tabel 4. Model Analisis Semiotika pada Penyambutan Mertua Ekspresi (Penanda)

- Makanan

- Duduk melingkar - Penari

Isi (Petanda)

- Meja yang dipenuhi makanan dan minuman

- Seluruh anggota Keluarga Li duduk bersama menghadap satu meja

- Para penari sedang menari sambil diiringi musik

Makna Denotatif

- Berbagai menu makanan dihidangkan di atas meja

- Seluruh anggota Keluarga Li hadir ikut menemani dan menjamu mertua Li Hong Bin - Para penari menari untuk menghibur mertua Li Hong Bin

Makna Konotatif

- Untuk memuliakan mertua, Keluarga Li mengajak makan bersama

- Makanan yang disiapkan merupakan makanan khas dari asal mertua Li Bong Hin - Mereka duduk bersama melingkari meja karena keluarga Li tidak mempermasalahkan

status sosial Ibu Angkat Xiong Xiruo

(13)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122 | 116

Li Hong Bin sebagai menantu berusaha melindungi mertuanya dari maksud tidak baik dari paman dan sepupunya. Adapun cara melindunginya adalah dengan ikut memakan makanan yang sudah disediakan walaupun sebenarnya makanan tersebut tidak disukai. Harapannya, semakin cepat makanan itu habis, maka semakin cepat selesai pula acara makan bersama itu. Selama ini, Li Hong Bin tidak pernah minum arak. Pada acara jamuan ini, Li Hong Bin minum beberapa gelas demi membantu mertuanya agar minuman segera habis dan acara segera selesai.

Sepupu dan paman Li Hong Bin sengaja membuat mabuk dan malu mertuanya. Semakin lama perjamuan itu, maka mertuanya akan semakin dipermalukan karena dianggap dari orang yang tidak satu kelas, yakni bangsawan. Sepupu dan paman Li Hong Bin mencurigai bahwa orang tua Xiong Xiruo bukan dari kalangan bangsawan, tetapi rakyat jelata. Bahkan dari taman hiburan. Hal ini ingin dibongkar dengan cara membuat mertua Li Hong Bin mabuk. Jika sudah mabuk diharapkan akan muncul sifat aslinya.

Menantu adalah sebutan untuk status sebagai anak yang diperoleh melalui pernikahan. Artinya, setelah menikah maka seseorang memiliki dua ibu dan dua ayah. Komunikasi dengan kedua orang tua, baik kandung maupun mertua harus selalu dijaga. Komunikasi yang baik antar-anggota keluarga dapat menciptakan keharmonisan (Marwa, 2019). Dalam hal ini, Li Hong Bin juga melakukan itu. Sebagai menantu, Li Hong Bin berusaha untuk menjaga dan membantu mertuanya agar tidak dipermalukan oleh Li Jingrui dan Dai Ru Ren, yakni paman dan sepupunya.

Tanggung Jawab sebagai Orang Tua

Nilai karakter tanggung jawab sebagai orang tua salah satunya terdapat pada Gambar 6 dengan sumber episode 29 menit ke-40:50. Adegan ini menggambarkan ketika Li Hong Bin dan anaknya sedang jalan-jalan kemudian melintasi penjual bakpao. Anaknya ingin sekali makan bakpao tersebut, tetapi tidak memiliki uang. Akhirnya, penjual bakpao memberi secara cuma-cuma. Mengetahui hal tersebut, Li Hong Bin meminta maaf kepada penjual bakpao dan memberi uang untuk membayar bakpao yang telah dimakan oleh anaknya.

(14)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122

| 117

Gambar 6. Li Hong Bin Membayar Bakpo

Hal ini dapat diketahui dari petikan dialog yang diucapkan anak Li Hong Bin kepadanya. I was wrong, Dad. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi

‘saya telah melakukan kesalahan, Ayah’. Pernyataan ini disampaikan ketika anak

tersebut menyadari bahwa ayahnya mengetahui kenakalan yang telah dilakukan. Seharusnya, bakpao itu dibeli dan bukan diberikan secara gratis. Maka anak itu meminta maaf kepada ayahnya dengan pernyataan tersebut.

Tabel 5. Model Analisis Semiotika pada Pendidikan anak Ekspresi (Penanda)

- Anak

- Penjual bakpao - Di pinggir jalan

Isi (Petanda)

- Seorang anak yang ingin bakpao - Penjual bakpao yang memberi bakpao - Kejadian di pinggir jalan

Makna Denotatif

- Seorang anak yang sangat ingin memakan bakpao

- Penjual merasa kasihan dan memberi anak itu satu bakpao

- Kejadian terjadi di pinggir jalan saat Li Hong Bin dan anaknya jalan-jalan

Makna Konotatif

- Seorang anak yang sebenarnya adalah anak orang berada meminta kepada penjual bakpao yang belum tentu keadaan ekonominya lebih baik dari anak atau orang tua anak tersebut

- Penjual bakpao tidak melihat asal-usul anak tersebut, tetapi karena kasihan maka anak tersebut diberi satu bakpao.

- Dalam perjalanan hidup, ada masa lelah dan perlu waktu beristirahat. Dalam perjalanan hidup, ada masa lapar dan perlu waktu untuk makan. Dalam perjalanan hidup, ada masa untuk berbagi.

(15)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122 | 118

Salah satu kewajiban seorang ayah adalah memenuhi kebutuhan anaknya. Salah satu kebutuhan itu adalah makanan. Seorang ayah wajib memberi nafkah kepada anak dan istrinya (Subaidi, 2014). Demikian halnya ketika sedang bepergian dan anak merasa lapar, maka seorang ayah juga berkewajiban melakukan hal yang sama. Kewajiban ini ditunjukkan dengan seorang ayah yang membelikan bakpao untuk anaknya. Walaupun semula penjual bakpao memberi secara gratis, tetapi Li Hong Bin tidak mau. Dia tetap memberikan uang sebagai alat untuk membayar bakpao yang sudah dimakan oleh anaknya (Sulistio, 2016).

Tanggung jawab lainnya adalah memberi pendidikan yang baik (Fahimah, 2019). Dalam hal ini, Li Hong Bin memberi pendidikan dengan tidak membiarkan anaknya meminta belas kasihan dari penjual bakpao. Artinya, jika dia tidak membayar bakpao yang dimakan, anaknya tentu saja akan berpikir bahwa jika menginginkan sesuatu dapat dilakukan dengan mendapatkan secara gratis dan belas kasihan. Selain itu, Li Hong Bin juga tidak mau merugikan penjual bakpao tersebut. Dengan memberi gratis, bisa jadi penjual bakpao tidak mendapatkan laba sehingga akan merugikan usahanya atau dagangannya. Pendidikan yang baik adalah dengan memberi contoh (Afrilia, 2020). Pada adegan ini, Li Hong Bin memberi contoh kepada anaknya untuk berbuat baik pada orang lain.

Tanggung Jawab sebagai Pemimpin Daerah

Episode 29 menit ke-06:21 yang ditunjukkan pada Gambar 7 menggambarkan pengorbanan yang dilakukan Li Hong Bin demi menyelamatkan wilayahnya. Dalam cerita ini digambarkan Yunyao merupakan daerah yang memiliki tambang besi terbesar. Para leluhur Keluarga Li telah memiliki peta tambang besi ini secara turun-temurun. Song Zhi yang serakah berusaha memiliki peta tersebut dengan cara menyandera istri Li Hong Bin. Sesuai perjanjian, Li Hong Bin membawa sendiri peta tersebut. Setelah peta diterima olah Song Zhi, Li Hong Bin dan Xiong Xiruo diserang.

(16)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122

| 119

Gambar 7. Li Hong Bin Menyelamatkan Wilayahnya

Dalam perjalanan pulang ke ibukota, peta yang dibawa Song Zhi mengeluarkan asap dan terbakar. Song Zhi kembali ke tempat Li Hong Bin dan Xiong Xiruo, tetapi dia justru dikepung dan ditangkap oleh anak buah Li Hong Bin. Song Zhi dibawa ke kediaman Keluarga Li dan digugat dengan tuduhan berlapis. Namun demikian, peta tambang besi Yunyao telah terbakar dan musnah.

Tabel 6. Model Analisis Semiotika Penyelamatan Peta Tambang Besi Ekspresi (Penanda) - Pengawal musuh - Li Hong Bin - Xing Xiruo - Song Zhi - A Shuang Isi (Petanda)

- Pengawal musuh bersenjata - Li Hong Bin tidak bersenjata - Xing Xiruo dikawal dengan pedang - Song Zhi menantang

- A Shuang menghunus belati

Makna Denotatif

- Xing Xiruo menjadi tawanan dan disandera oleh Song Zhi dan A Shuang - Li Hong Bin datang sendiri tanpa pengawalan dan tanpa senjata

- Pengawal musuh bersenjata mengepung Li Hong Bin

Makna Konotatif

- Li Hong Bin merelakan diri dan hidupnya demi menyelamatkan Xing Xiruo dan tambang besi yang ada di wilayahnya

Sudah jamak diketahui bahwa salah satu tugas pemimpin adalah menjaga persatuan, kesatuan, dan keamanan wilayahnya. Pemimpin suatu daerah lebih banyak berinteraksi dengan daerah atau wilayahnya sehingga berperan sangat strategis dalam pengelolaan lingkungan atau sumber daya alam (SDA) (Toly, 2017). Ketika terdapat musuh yang berusaha merebut atau menguasai sumber daya alam yang ada wilayahnya,

(17)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122 | 120

tentu saja seorang pemimpin harus dapat melindungi wilayahnya. Jangan sampai SDA itu jatuh dan dimonopoli oleh individu. SDA hendaknya diolah untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama (Sulistio, 2016). Pengelolaan SDA hendaknya tetap memperhatikan keseimbangan alam. Artinya, jika SDA dikelola oleh individu maka akan menimbulkan kesengsaraan bagi para penduduk di wilayah tersebut. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus berjuang agar SDA yang ada di wilayahnya tidak jatuh ke orang atau pihak yang salah.

PENUTUP

Belajar dapat dilakukan dari berbagai media. Salah satunya adalah film Oh! My

Sweet Liar! Berdasarkan analisis, film ini memiliki ajaran tanggung jawab yang dapat

menjadi pelajaran bagi penonton. Adapun tanggung jawab yang dimaksud, meliputi sebagai: anak, suami, menantu, ayah, dan pemimpin daerah. Seorang individu memang tidak dapat hidup seorang diri. Individu pasti memerlukan individu lain. Film ini memberi gambaran kepada penonton bahwa seorang individu memiliki tanggung jawab yang beragam dan kompleks. Selain itu, film ini juga dapat memberi gambaran terkait budaya di China. Keterbatasan waktu menjadikan penelitian ini hanya berfokus pada satu aspek. Ke depan, film ini dapat digali lebih dalam lagi dari berbagai aspek.

DAFTAR PUSTAKA

Afifah, M. (2018). Pendidikan Akhlak Masyarakat Perspektif Hadist. AL-IMAN: Jurnal

Keislaman Dan Kemasyarakatan, 2(2), 266–281.

Afrilia, F. R. (2020). Analisis Nilai Karakter Dalam Film Nussa dan Rara Karya Aditya Triantoro. Caruban: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Dasar, 3(2), 130. https://doi.org/10.33603/caruban.v3i2.3065

Ardianto E, Komala L, & K. S. (2014). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Arifin, Y. Y. (2013). Lima Sikap Moral dalam Paham Konfusianisme dan Penerapannya di Kehidupan Sehari-hari. Bahasa Dan Budaya China, 4(2), 59–68.

Atabik, A., & Mudhiiah, K. (2014). Pernikahan dan Hikmahnya Perspektif Hukum Islam. Yudisia, 5(2), 293–294.

Barthes, R. (2007). Petualangan Semiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fahimah, I. (2019). Kewajiban Orang Tua terhadap Anak dalam Perspektif Islam. Hawa,

1(1). https://doi.org/10.29300/hawapsga.v1i1.2228

Fauziyyah, N., & Irman, I. (2019). Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Istinarah: Riset Keagamaan, Sosial Dan

Budaya, 1(1), 69. https://doi.org/10.31958/istinarah.v1i1.1522

(18)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122

| 121

Bottom Line ? National Louis University. International Journal of Business and

Social Science, 4(4), 110–119. Retrieved from www.ijbssnet.com

Hadi, W. (2014). Peranan Front Desk Agent dalam Membentuk Citra Positif di Dunia Perhotelan. Jurnal Khasanah Ilmu, V(2), 1–12.

Halik, A. (2012). Tradisi Semiotika Dalam Teori dan Komunikasi. Makassar: Alauddin University Press.

Iqbal, M. (2018). Representasi Nilai Tnaggung Jawab Kepala Keluarga (Analisis

Semiotika Film Bukaan 8 Karya Angga Dwimas Sasongko. Universitas

Muhammadiyah Sumatera Utara.

Irawan, Y., & Az-zahra, N. H. (2020). Makna Bunga Mawar pada Film Beauty and The Beast dalam Bingkai Teori Semiotik Roland Barthes. Kelasa, 15(1), 1–14.

Lv, Y., Guo, R., & Li, X. (2017). A Study on American Individualistic Values from the Movie The Pursuit of Happiness, 123(Icesame), 473–477. https://doi.org/10.2991/icesame-17.2017.103

Mahsun. (2005). Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Manesah, D., Minawati, R., & Nursyirwan. (2018). Analisis Pesan Moral dalam Film Jangan Baca Pancasila Karya Rafdi Akbar. Jurnal Proporsi, 3(2), 176–187.

Marwa, M. (2019). Startegic Family Therapy untuk Mengubah Pola Komunikasi pada Keluarga. Jurnal Bimbingan Dan Konseling Terapan, 03(01), 25–37.

Mudjiono, Y. (2011). Kajian Semiotika dalam Film. Jurnal Ilmu Komunikasi, 1(1), 125– 138.

Nelli, J. (2017). Analisis Tentang Kewajiban Nafkah Keluarga dalam Pemberlakuan Harta Bersama. Al-Istinbath : Jurnal Hukum Islam, 2(1), 29–46. https://doi.org/10.29240/jhi.v2i1.195

Oktavianus, H. (2015). Penerimaan Penonton Terhadap Praktek Eksorsis Di Dalam Film Conjuring. E-Komunikasi, 3(2), 12. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/79600-ID-none.pdf

Piliang, Y. A. (2003). Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Putri, D. P. K., & Lestari, S. (2015). Pembagian Peran dalam Rumah Tangga pada Pasangan Suami Istri Jawa. Jurnal Penelitian Humaniora, 16(1), 72–85.

Ratna, N. K. (2012). Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Riwu, A., & Pujiati, T. (2018). Analisis Semiotika Roland Barthes pada Film 3 Dara.

Deiksis, 10(03), 212. https://doi.org/10.30998/deiksis.v10i03.2809

Russel III, W. B., & Waters, S. (2013). “Reel” Character Education: Using Citizenship.

Chilhood Educationducation, 89(5), 303–309.

https://doi.org/10.1080/00094056.2013.830901

Saputri, I. (2019). Konsep Penafsiran Hadits Memuliakan Tamu Terhadap Perilaku Masyarakat di Kecamatan Besulutu Kabupaten Konawe. Jurnal Ushuludin Adab

Dan Dakwah, 1(2), 102–130. https://doi.org/10.5281/zenodo.3541393

Smithikrai, C., Longthong, N., & Peijsel, C. (2015). Effect of using movies to enhance personal responsibility of university students. Asian Social Science, 11(5), 1–9. https://doi.org/10.5539/ass.v11n5p1

Subaidi. (2014). Konsep Nafkah Menurut Hukum Perkawinan Islam. Isti’dal: Jurnal

Studi Hukum Islam, 1(2), 157–169.

Sulistio, Z. S. (2016). Pesan-Pesan Moral Orang Tua Etnis Tionghoa dalam Mendidik Anaknya. Komunikasi KAREBA, 5(2), 458–476.

(19)

Indrya Mulyaningsih

©2021, Kelasa, 16 (1), 104 – 122 | 122

Toly, S. R. (2017). The Effect of Environmental Leadership and Head Of Villages’ Knowledge About Conservation On Their Ability In Managing Environment.

IJEEM - Indonesian Journal of Environmental Education and Management, 2(2),

1–20. https://doi.org/10.21009/ijeem.022.01

Voegtlin, C. (2016). What does it mean to be responsible? Addressing the missing responsibility dimension in ethical leadership research. Leadership, 12(5), 581– 608. https://doi.org/10.1177/1742715015578936

Wijaya, D. (2019). Nilai Pendidikan Karakter dalam Film Hayya. Prosiding Seminar

Nasional Bulan Bahasa (Semiba), 72–77.

Wiratno, T. (2018). Pengantar Ringkas Linguistik Sistemik Fungsional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Zurcher, J. D., Webb, S. M., & Robinson, T. (2018). The portrayal of families across generations in Disney animated films. Social Sciences, 7(3).

Gambar

Gambar 1. Metode Analisis Semiotika Roland Barthes
Gambar  2  berasal  dari  episode  18  menit  ke-16:22.  Adegan  ini  terjadi  ketika  Li  Hong  Bin  mendapat  tugas  dari  orang  tuanya  untuk  menjamu  Song  Zhi  perwakilan  Keluarga Song
Tabel 1. Model Analisis Semiotika pada Penyambutan Tamu  Ekspresi (Penanda)
Gambar 4. Li Hong Bin Menyelamatkan Xiong Xiruo
+4

Referensi

Dokumen terkait

Teori semoitika Roland Barthes yang merupakan pengembangan dari Teori Semiotika Ferdinand De Saussure mempunyai dua tahap pemaknaan yaitu makna denotasi, atau makna sebenarnya

Sehingga penerapan teori semiotika khususnya semiotika Roland Barthes akan sangat berguna dalam penelitian terhadap iklan televisi Gulaku versi lemon ini, karena pengkajian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa teori relevan, yaitu: Komunikasi Massa, Semiotika, Semiotika Roland Barthes, Film Sebagai Media Komunikasi Massa,

Dimana dengan pemaknaan dua tahap denotasi konotasi yang digunakan oleh Roland Barthes dalam teori semiotiknya, Roland Barthes menelusuri makna dengan pendekatan

“Ruang Hati” karya Band Ungu akan lakukan dengan analisis data menggunakan teknik analisis semiotika Roland Barthes. Barthes menggembangkan semiotika menjadi dua tingkat

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis semiotika menggunakan teori dari Roland Barthes (Nawiroh, 2015:98-112) di mana peneliti akan

Pendekatan Kritis, disertai dengan analisis semiotika Roland Barthes Metode pengkajian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif Konstruktivis Hasil Penelitian Hasil

Setelah semua data berhasil dikumpulkan, teori semiotika Roland Barthes akan digunakan untuk mencari makna dari tanda-tanda unik yang cukup mencolok yang terdapat pada visual tiap