Jogie Suaduon – Organisasi Dan Manajemen Pendidikan Nasional Dalam Lembaga Pendidikan Islam Page 1 ORGANISASI DAN MANAJEMEN PENDIDIKAN
NASIONAL DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM Jogie Suaduon, Lias Hasibuan, Kasful Anwar
UIN Sultan Thaha Saefuddin Jambi [email protected]
ABSTRAK
Secara sederhana organisasi memiliki tiga unsur, yaitu ada orang ada kerjasama dan ada tujuan bersama. Tiga unsur organisasi itu tidak berdiri sendiri-sendiri, akan tetepi saling
terkait atau saling berhubungan sehingga merupakan suatu kesatuan yang utuh. Manajemen
Pendidikan untuk saat ini merupakan hal yang harus diprioritaskan untuk kelangsungan Pendidikan sehingga menghasilkan keluaran yang diinginkan. Kenyataan yang ada, saat ini banyak institusi Pendidikan yang belum memiliki manajemen yang bagus dalam pengelolaan pendidikannya. Manajemen yang digunakan masih konvensional, sehingga kurang bisa menjawab tantangan zaman dan terkesan tertinggal dari modernitas. Oleh karena itu, Manajemen Pendidikan dalam perkembangannya memerlukan apa yang dikenal dengan Good
Management Practice untuk pengelolaanya. Tetapi pada praktiknya, Good Management Practice dalam Pendidikan masih merupakan suatu yang ekslusif. Banyak penyelenggara
Pendidikan yang beranggapan bahwa manajemen Pendidikan bukanlah suatu hal yang penting, karena kesalahan persepsi yang menganggap bahwa domain manajemen adalah bisnis.
1. PENDAHULUAN
Manusia merupakan makhluk sosial dan hal ini mendorong manusia membentuk organisasi untuk mewujudkan cita-citanya. Organisasi muncul ketika manusia itu berkumpul dua orang atau lebih. Unsur pokok dalam organisasi adalah individu. Tanpa individu organisasi tidak akan pernah ada. Tiap individu dalam organisasi mempunyai kebutuhan. Untuk membuat individu mau bekerjasama, organisasi harus mempunyai imbalan yang menarik, dan sebaliknya individu harus memberikan sumbangan terhadap tercapainya tujuan organisasi. Manusia selalu mempunyai aktivitas dan tingkah laku yang merupakan hasil proses psikologis, dengan kemampuan menggunakan pilihan-pilihan dan bertanggungjawab terhadap kehidupan sosialnya. Dalam mempelajari tingkah laku manusia, perlu dipelajari aspek psiklogisnya, misalnya persepsi (cara pandang), belajar (proses perubahan tingkah laku) dan motivasi (dorongan untuk mencapai tujuan).
Organisasi dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan organisasi, yaitu kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Teori organisasi adalah disiplin ilmu yang mempelajari struktur dan desain organisasi. Teori organisasi menunjuk aspek-aspek deskriptif maupun perspektif dari disiplin ilmu tersebut. [ 1 ]Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
Secara sederhana organisasi memiliki tiga unsur, yaitu ada orang ada kerjasama dan ada tujuan bersama. Tiga unsur organisasi itu tidak berdiri sendiri-sendiri, akan tetepi saling terkait atau saling berhubungan sehingga merupakan suatu kesatuan yang utuh. Adapun unsur-unsur organisasi secara terperinci adalah :
a) Man (Orang – orang)
Man (orang-orang), dalam kehidupan organisasi atau ketatalembagaan sering disebut dengan istilah pegawai atau personel terdiri dari semua anggota atau warga organisasi, yang menurut fungsi dan tingkatannya terdiri dari unsur warga organisasi yang menurut fungsi dan tingkatannya teridiri dari unsur pimpinan (administrator) sebagai unsur pimpinan tertinggi dalam organisasi, para manager yang memimpin suatu unit satuan
kerja sesuai dengan fungsinya masing-masing dan para pekerja (non
management/workers). Semua itu secara bersama-sama merupakan kekuatan manusiawi (man power) organisasi.
b) Kerja Sama
Kerjasama merupakan suatu perbuatan bantu-membantu akan suatu
pekerjaan/perbuatan/aktivitas yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, semua anggota atau semua warga yang menurut tingkatan-tingkatannya dibedakan menjadi administrator, manager, dan pekerja (workers), secara bersama-sama merupakan kekuatan manusiawi (man power) organisasi.
c) Tujuan Bersama
Tujuan merupakan arah atau sasaran yang dicapai. Tujuan menggambarkan tentang apa yang akan dicapai atau yang diharapkan. Tujuan merupakan titik akhir tentang apa yang harus dikerjakan. Tujuan juga menggambarkan tentang apa yang harus dicapai melalui prosedur, program, pola (network), kebijakan (policy), strategi, anggaran (budgeting), dan peraturan-peraturan (regulation) yang telah ditetapkan.
d) Peralatan
Unsur yang keempat adalah peralatan atau equipments yang terdiri dari semua sarana, berupa materi, uang, dan barang modal lainnya (tanah, gedung/bangunan/kantor). e) Lingkungan (Environment)
Faktor lingkungan misalnya keadaan sosial, budaya, ekonomi, kekayaan alam dan teknologi. Termasuk dalam unsur lingkungan, antara lain : (a) Kondisi atau situasi yang secara langsung maupun secara tidak langsung berpengaruh terhadap daya gerak kehidupan organisasi, karena kondisi atau situasi akan selalu mengalami perubahan; (b) Tempat atau lokasi, sangat erat hubungannya dengan masalah komunikasi dan tranportasi yang harus dilakukan oleh organisasi; (c) Wilayah operasi yang dijadiakan sasaran kegiatan organisasi.
f) Kekayaan Alam
Kekayaan alam yang termasuk dalam kekayaan alam ini misalnya keadaan iklim, udara, air, cuaca (geografi, hidrografi, geologi, klimatologi), flora dan fauna.
Penjaminan Mutu Pendidikan
Sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional
Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerapkan penjaminan mutu pendidikan di satuan pendidikan dasar dan menengah.
[2] Tujuan penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah adalah untuk memastikan penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah oleh satuan pendidikan di Indonesia berjalan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.
Mutu pendidikan dasar dan menengah adalah tingkat kesesuaian antara penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) pada satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dan/atau program keahlian. Mutu pendidikan di satuan pendidikan tidak akan meningkat tanpa diiringi dengan penjaminan mutu pendidikan oleh satuan pendidikan. Penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah adalah suatu mekanisme yang sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk memastikan bahwa seluruh proses penyelenggaraan pendidikan telah sesuai dengan standar mutu dan aturan yang ditetapkan. Untuk dapat melakukan penjaminan mutu pendidikan dengan baik diperlukan adanya sistem penjaminan mutu pendidikan.
Sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah terdiri atas dua komponen yaitu Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME).
1) Sistem Penjaminan Mutu Internal
Adalah sistem penjaminan mutu yang dilaksanakan dalam satuan pendidikan dan dijalankan oleh seluruh komponen satuan pendidikan;
2) Sistem Penjaminan Mutu Eksternal
Yaitu sistem penjaminan mutu yang dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, lembaga akreditasi dan lembaga standarisasi pendidikan;
Dalam implementasinya sistem penjaminan mutu pendidikan dasar dan menengah ditunjang oleh Sistem Informasi Penjaminan Mutu pendidikan dasar dan menengah, seperti terlihat pada Gambar 1
Gambar 1 Sistem Penjaminan Mutu Dasar & Menengah
Acuan utama sistem penjaminan mutu Pendidikan dasar dan menengah adalah Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP adalah standar minimal yang ditetapkan pemerintah dalam bidang pendidikan yang harus dipenuhi oleh satuan pendidikan dan semua pemangku kepentingan dalam mengelola dan menyelenggarakan pendidikan. Standar Nasional Pendidikan terdiri atas:
1. Standar Kompetensi Lulusan 2. Standar Isi
3. Standar Proses 4. Standar Penilaian
5. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan 6. Standar Pengelolaan
7. Standar Sarana dan Prasarana 8. Standar Pembiayaan
Kedelapan standar pendidikan tersebut membentuk rangkaian input, proses, dan output. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan output dalam SNP. SKL akan mencapai skor yang tinggi apabila input terpenuhi sepenuhnya dan proses berjalan dengan baik. Gambar 2 menggambarkan hubungan standar-standar dalam SNP.
Gambar 2 Hubungan antar standar dalam SNP
[3]Tujuan akhir dari sistem penjaminan mutu pendidikan adalah terwujudnya budaya mutu (quality culture) dalam dunia pendidikan. Budaya mutu, terutama mutu akademik, mencitrakan dunia pendidikan sebagai arena yang memiliki nilai tinggi baik moral maupun sosial. Budaya mutu pada satuan pendidikan ini memastikan seluruh proses manajemen maupun pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Dengan demikian sekolah yang menyenangkan dan menghasilkan anak yang berkarakter dan cerdas baik spiritual, intelektual, emosional, sosial, dan kinestetis dapat diwujudkan.
Pendidikan Islam
[4] KI Hajar Dewantara menyatakan : “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya”.
Muhamad Natsir menulis: “Yang dinamakan Pendidikan, ialah satu pimpinan jasmani dan rohani yang menuju kepada kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan dengan arti sesungguhnya.
Didalam Islam terdapat tiga istilah Pendidikan yaitu tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Istilah Tarbiyah berakar pada tiga kata. Pertama, raba yarbu, yang berarti bertambah atau tumbuh. Kedua, kata rabia yarba, yang berarti tumbuh dan berkembang. Ketiga, kata raba yarubbu, yang berarti memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga, dan memelihara. Firman Allah
3 PEDOMAN UMUM SPMP.
SWT dalam surat Al-Israa’ [17]: 24 yang mendukung istilah tarbiyah antara lain terdapat pada ayat dibawah ini:
َج اَمُهَل ْضِفْخا َو : ا ًريِغَص ىِناَيَّب َر اَمَك اَمُهْمَح ْرا ِِّب َّر لُق َو ِةَمْح َّرلا َنِم ِِّلُّذلا َحاَن
٢٤
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
Secara lebih spesifik, M. Yusuf al-Qurdlowi memberikan pengertian Pendidikan Islam sebagai berikut: “Pendidikan Islam adalah Pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya; rohani dan jasmaninya; akhlak dan keterampilannya, karena itu, Pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya”.
Pendidikan Islam sekarang ini dihadapkan pada tantangan kehidupan manusia modern. Dengan demikian, Pendidikan Islam harus diarahkan pada kebutuhan perubahan masyarakat modern.
[5]Perencanaan dalam Lembaga Pendidikan Islam tidak hanya memenuhi target tujuan Pendidikan Islam dalam jangka tertentu, tetapi perencanaan Pendidikan Islam diarahkan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan demikian, Manajemen Pendidikan Islam hendaknya diawali dengan perencanaan yang jelas dan matang. Dengan adanya perencanaan yang matang, diharapkan Manajemen Pendidikan Islam akan berjalan dengan baik. Perencanaan dalam Manajemen Pendidikan Islam akan berjalan dengan baik jika memerhatikan Langkah-langkah perencanaan, seperti menetukan tujuan, meneliti masalah, menentukan tahapan-tahapan, merumuskan cara menyelesaikan masalah, menetukan siapa yang akan bertanggung jawab melaksanakan, dan mengidentifikasi kemungkinan resiko yang akan dihadapi, mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan dan berusaha melakukan perubahan setelah dilakukan evaluasi.
Dalam perencanaan terdapat penentuan-penentuan berikut: 1. Bentuk atau jenis kegiatan yang akan dilaksanakan;
2. Prosedur pelaksanaan kegiatan;
3. Kebijakan yang dijadikan landasan kegiatan; 4. Arah dan tujuan yang hendak dicapai; 5 ABDULLAH, MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM.
5. Personal yang melaksanakan rencana; 6. Waktu pelaksanaan rencana;
7. Anggaran biaya yang dibutuhkan.
Dalam ajaran Islam, manajemen dipandang sebagai perwujudan amal saleh yang harus bertitik tolak dari niat baik. Niat baik tersebut akan memunculkan motivasi aktivitas untuk mencapai hasil yang optimal demi kesejahteraan Bersama. Ada empat landasan untuk mengembangkan manajemen menurut pandangan Islam, yaitu kebenaran, kejujuran, keterbukaan, dan keahlian.
Islam menetapkan bahwa manjemen merupakan aktivitas yang berlandaskan nilai-nilai keadilan, yang merupakan perbuatan pimpinan yang tidak menyakiti atau menzalimi bawahan. Bentuk penganiyaan yang dimaksudkan adalah mengurangi atau tidak memberikan hak bawahan dan memaksa bawahan untuk bekerja melebihi ketentuan. Apabila seorang manajer mengharuskan bawahannya bekerja melampui waktu yang ditentukan, telah menzalimi bawahannya. Hak ini sangat ditentang oleh Islam.
Dalam Islam, unsur kejujuran dan kepercayaan sangat penting diterapkan dalam manajemen. Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang sangat terpercaya dalam menjalankan manajemen bisnisnya. Manajemen yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW menempatkan manusia sebagai postulatnya atau fokusnya, bukan sebagai faktor produksi yang hanya diperas tenaganya untuk mengejar target produksi.
1.1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah dalam makalah ini adalah “Bagaimanakah Hubungan antara Organisasi dan Manajemen Pendidikan Nasional dalam Lembaga Pendidikan Islam?”
1.2. Tujuan Penulisan
Secara umum tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Organisasi dan Manajemen Pendidikan Nasional dalam Lembaga Pendidikan Islam.
2. KAJIAN TEORI 2.1. Teori Organisasi
Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang berbeda. Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisa organisasi (organization analysis).
[6]Organisasi berasal dari kata Organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat. Definisi organisasi telah banyak dikemukan oleh para ahli baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa diantaranya sebagai berikut :
Tabel 1 Definisi Organisasi
Referensi Definisi
Stoner
Mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di
bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.
James D. Mooney Mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap
perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama. Chester I. Bernard
Dalam bukunya “The Executive Function”
berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Stephen P. Robbins
Menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
Malayu S.P Hasibuan Mengatakan organisasi ialah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari sekelompok yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu.
Organisasi hanya merupakan alat dan wadah saja.
Masih banyak lagi pendapat para ahli tentang organisasi. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka secara garis besar pengertian dan definisi organisasi adalah diartikan sebagai suatu kelompok terdiri atas 2 atau lebih orang yang saling bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu secara bersama. Organisasi merupakan wadah atau tempat berkumpulnya
orang dengan sistematis, terpimpin, terkendala, terencana, rasional dalam memanfaatkan
segala sumber daya baik metode, material, lingkungan dan uang serta sarana dan prasaranan, dan lain sebagainya dimana digunakan secara efisien dan efektif untuk bisa mencapai tujuan organisasi.
Studi tentang organisasi sudah dipelajari sejak lama dan senantiasa berkembang sesuai dengan keadaan jaman. Beberapa teori organisasi yang penting adalah:
1) Teori Organisasi Klasik
Teori ini biasa disebut dengan “Teori Tradisional” ataudisebut juga “Teori Mesin”. Berkembang mulai 1800-an (abad 19). Dalam teori ini organisasi digambarkan sebuah lembaga yang tersentralisasi dan tugas-tugasnya terspesialisasi serta memberikan
petunjuk mekanistik struktural yang kaku tidak mengandung kreatifitas. Dikatakan teori
mesin karena organisasi ini menganggap manusia bagaikan sebuah onderdil yang setiap saat bisa dipasang dan digonta-ganti sesuai kehendak pemimpin. Definisi Organisasi menurut Teori Klasik: Organisasi merupakan struktur hubungan, kekuasaan-kekuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatankegiatan, komunikasi dan faktor-faktor lain apabila orang bekerjasama.
2) Teori Organisasi Neo-Klasik
Teori neo-klasik menitik beratkan pada pemikiran tentang pentingnya aspek psikologis dan sosial manusia (karyawan) sebagai individu maupun kelompok kerja. Pendekatan yang menekankan aspek manusia inilah yang kemudian dikenal secara umum pada dasawarsa awal tahun 1900-an, yaitu pendekatan perilaku (behavioral approach) atau pendekatan hubungan kerja kemanusiaan (human relation approach). Behavioral approach atau human relation approach pada mulanya terdiri dari para peneliti dari disiplin Psikologi, Psikologi sosial dan Sosiologi. Para peneliti tersebut berusaha memahami perilaku manusia dalam organisasi dengan menerapkan cara atau metode ilmiah, terutama mengenai mengapa dan bagaimana orang memiliki perilaku yang tertentu dalam suatu situasi organisasi tertentu pula.
3) Teori Organisasi Modern
Secara umum, para ahli teori organisasi pada masa itu melihat organisasi dari dua sudut pandang. Pertama, sudut pandang yang melihat organisasi sebagai satu kesatuan unit yang memiliki suatu tujuan. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang dianut oleh para ahli teori klasik dan neo klasik, yang melihat melihat organisasi sebagai satu kesatuan atau suatu unit yang memiliki suatu tujuan, oleh karena itu pendekatan ini
seringkali juga disebut dengan pendekatan goalistik. Pendekatan ini memusatkan
perhatiannya pada pembagian kerja dalam pencapaian tujuan organisasi, prosedur prosedur kerja yang ditetapkan untuk mencapai tujuan itu dan sebagainya.
4) Teori Organisasi Contingency
Teori Contingency dibangun atas dasar kaidah - kaidah yang dikembangkan oleh pendekatan sistem. Teori Contingency melihat teori organisasi sudah seharusnya berlandaskan pada konsep sistem yang terbuka (open system concept). Ini merupakan pandangan yang berbeda dari pandangan para ahli teori klasik yang melihat organisasi merupakan suatu sistem yang tertutup. Inti dari Teori Contingency ini pada dasarnya terletak pada pandangannya dalam melihat hubungan antar organisasi dan hubungan antara organisasi dengan lingkungannya. Menurut teori ini, hubungan antara satu organisasi
dengan lainnya maupun dengan lingkungannya secara keseluruhan, sangat tergantung pada situasi (depens on the situations). Pandangan yang demikian menuntut baik para ahli teori organisasi maupun para praktisi atau manajer untuk lebih mengembangkan kemampuan beradaptasi, lebih luwes dan lebih sederhana dalam proses pengambilan keputusan yang dibuatnya. Teori Contingency ini menolak prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh para ahli teori klasik dan menggantinya dengan pandangan yang lebih adaptif dalam memahami organisasi.
Penulis menggunakan Teori Organisasi dikarenakan penulisan makalah ini mengkaji berdasarkan pada suatu konsep bahwa setiap karyawan adalah manusia bukan mesin dan bukan semata menjadi sumber daya bisnis, karyawan memiliki nilai yang dapat ditingkatkan melalui investasi. Kebijakan Organisasi harus sesuai dengan dukungan Visi dan Misi Organisasi, Core Value dan juga Tujuan organisasi.
2.2. Manajemen Pendidikan Nasional
[7]Tantangan globalisasi yang melanda setiap bangsa memerlukan penyikapan yang
bijak. Bangsa Indonesia sebagai bagian dari bangsa yang akan menerima konsekuensi tantang global tersebut, mengahadapinya dengan mempersiapkan sistem pendidikan yang terintegrasi. Sistem Pendidikan yang mampu menghadapi tantangan globalisasi memerlukan satu pengelolaan yang serius. Manajemen Pendidikan Nasional menjadi salah satu alternatif dalam megatasi persoalan pendidikan nasional yang amat strategis dan komplek. Manajemen pendidikan nasional pada hakekatnya merupakan keterpaduan dari proses dan sistem manajemen pendidikan secara menyeluruh dalam mencapai tujuan pendidikan dan pembangunan nasional. Kebijakan pemerintah dan bergai upaya diusulkan oleh para ahli dalam mengatasi persoalan manajemen pendidikan nasional. Penyelenggaraan pendidikan dasar dilihat dari berbagai aspek, politik, teknis edukatif, budaya dan profesional, tampak dengan jelas bahwa masalah manajemen pendidikan dasar bukan merupakan masalah kecil dantidak dapat diletakan dalam dikotomi sederhana: sentralistik vs desentralistik. Sistem manajemen pendidikan yang sentralistis telah terbukti tidak membawa kemajuan yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya. Bahkan dalam kasus-kasus tertehtu, manajemen yang sentralistis telah menyebabkan terjadinya pemandulan kreatifitas pada satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Untuk mengatasi terjadinya stagnasi di bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru dibidang pendidikan.
Tujuan dari Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) pada organisasi Pendidikan secara umum mengajak seluruh warga sekolah untuk menciptakan daya saing melakukan perbaikan mutu pendidikan secara berkesinambungan dengan bertumpu pada kepuasan pelanggan, namun keberhasilan dan kegagalan implementasi SPMI sangat tergantung dari komitmen warga sekolah terhadap organisasi.
Pendidikan termasuk produk jasa, dan pendidikan selalu ada standar yang dirumuskan bersama oleh masyarakat dan diusulkan pada pemerintah untuk ditetapkan menjadi Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, atau paling tidak Peraturan Daerah. Dalam Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 dan direvisi menjadi PP Nomor 13 Tahun 2015, ditetapkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia diukur dengan delapan standar, yakni standar isi, standar proses; standar kompetensi lulusan; standar pendidik dan tenaga kependidikan;
standar sarana dan prasarana; standar pengelolaan; standar pembiayaan; dan standar penilaian pendidikan.
Mutu menciptakan lingkungan baik pendidikan, orang tua, pejabat pemerintah, wakil masyarakat, dan pebisnis, untuk bekerja sama guna memberi peluang dan harapan masa depan peserta didik. Setiap orang mengaharapkan bahkan menuntut mutu dari orang lain, sebaliknya orang lain juga selalu mengharapkan dan menuntut mutu dari diri kita. Ini artinya, mutu bukanlah suatu yang baru, karena mutu adalah naluri manusia. Mutu secara esensial di gunakan untuk menunjukan kepada suatu penilaian atau penghargaan yang di berikan atau di kenakan kepada barang (produk) dan/jasa (service) tertentu, berdasarkan pertimbangan obyektif atas bobot dan kinerjanya. Mutu adalah suatu cara dalam mengelola suatu organisasi yang bersifat komprehensif dan trintegrasi yang di arahkan dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggan.
Penulis menggunakan Teori Manajemen Pendidikan Nasional dikarenakan penulisan makalah ini mengkaji berdasarkan pada suatu konsep bahwa Standar Mutu Pendidikan merupakan indikator dalam menilai tercapainya tujuan organisasi dalam hal ini adalah sekolah model yang ada di Provinsi Kepuluan Riau.
2.3. Lembaga Pendidikan Islam
Permasalahan yang utama di dalam lembaga pendidikan di Indonesia adalah masih seputar rendahnya kualitas, relevansi, efisiensi dan produktivitas serta efektivitas. Penyebabnya adalah ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan yang belum memadai baik secara kuantitas maupun kualitas, dan kesejahteraan pendidik yang belum memadai.
Di antara yang menjadi faktor penghambatnya dalam proses peningkatan mutu sumber daya manusia di lembaga pendidikan antara lain adalah:
a) Kepemimpinan dan Manajemen
Kunci kesuksesan dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh pemimpin dan manajerial pemimpin. Jika pemimpin tidak mampu mengatur dan tidak mempunyai keahlian dan pengalaman dalam memimpin maka akan mengalami kemunduran dan tertinggal dengan Lembaga Pendidikan lainnya.
b) Mutu Tenaga Pendidik
Mutu Tenaga Pendidik yang menjadi hal utama peningkatan mutu sumber daya manusia tersebut. Komitmen tenaga Pendidik dalam mengajar menjadi hal utama untuk tujuan
tersebut, mengingat banyak tenaga pendidik yang tidak komitmen dalam mengajar untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas pembelajaran.
c) Kurangnya sarana dan prasarana
Kurangnya sarana dan prasarana pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja (workshop), pusat sumber belajar (PSB) dan perlengkapan pembelajaran sangat menghambat tumbuhnya lembaga pendidikan yang profesional. Hal ini terutama berkaitan dengan kemampuan pemerintah untuk melengkapinya yang masih kurang. Di samping itu, walaupun pemerintah sudah melengkapi buku pedoman dan buku-buku paket namun dalam pemanfaatannya masih kurang. Beberapa kasus menunjukkan
banyak buku-buku paket belum didayagunakan secara optimal untuk kepentingan
pembelajaran, baik guru maupun oleh peserta didik yang berdampak pada kesiapan dalam menghadapi ujian.
d) Kompensasi
Kompensasi dapat diartikan sebagai honor atau gaji yang sesuai atau layak, sebab jika tenaga pendidik dan tenaga kependidikan tidak diberi penghargaan atau reward berupa gaji yang sesuai maka kegiatan proses belajar mengajar dan proses pelayanan Pendidikan akan terkendala dan mengalami kesulitan.
e) Peningkatan Mutu
Belum ada kemauan bagi lembaga pendidikan atau pendidik sendiri bahkan peserta didik untuk berusaha meningkatkan mutu atau kualitas dari hasil pembelajaran atau pendidikan.
Sumber daya manusia (SDM) adalah salah satu faktor yang sangat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi, baik institusi maupun perusahaan. SDM juga merupakan kunci yang menentukan perkembangan perusahaan. Pada hakikatnya, SDM berupa manusia yang dipekerjakan di sebuah organisasi sebagai penggerak untuk mencapai tujuan organisasi itu.
[ 8]Dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang islami, lembaga
pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas Pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu dengan didukung sarana prasarana, kemauan untuk meningkatkan mutu pendidikan, adanya kompensasi yang sesuai, 8 Dacholfany, “Inisiasi Strategi Manajemen Lembaga Pendidikan Islam Dalam Meningkatkan Mutu Sumber Daya Manusia Islami Di Indonesia Dalam Menghadapi Era Globalisasi.” Hal. 12-13
serta manajemen dan kepemimpinan lembaga pendidikan tersebut. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pemerintah, pengelola lembaga pendidikan, tenaga pendidik dan kependidikan serta peserta didik berupaya mewujudkan tujuan, visi dan misi tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk itu lembaga pendidikan seyogyanya merevitalisasi peran lembaga pendidikan supaya mampu berperan secara optimal dalam mewujudkan manajemen sumber daya manusia (MSDM) dengan cara pengembangan, melakukan fungsi manajemen, perencanaan, pengadaan staf sumber daya manusia dengan memberikan penilaian prestasi kerja dan kompensasi serta terpenuhinya sarana prasarana dengan melakukan pelatihan dan pengembangan serta pembinaan hubungan kerja yang efektif untuk kemajuan dan perkembangan lembaga pendidikan, dengan harapan prosedur, pengelolaan baik tenaga pendidik mapun tenaga kependidikan (karyawan) secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuan, visi dan misi lembaga Pendidikan tersebut.
Untuk menciptakan Sumberdaya manusia yang berkeunggulan, harus melalui 3 pendekatan yakni; a) Manajemen harus dapat menjelaskan proses Human Capital yang berkaitan dengan tujuan organisasi; b) Manajemen harus mampu membuat dan menjelaskan ukuran dan disiplin dalam proses mencapai tujuan; c) Menjadikan pengalaman organisasi sebagai bahan rujukan dalam membuat keputusan Human Capital yang dinamis dan progresif.
[9]Berikut adalah gambar proses Human Capital Management
Gambar 3 Elements of Human Capital Model
Penulis menggunakan Teori Human Capital dalam Lembaga Pendidikan Islam dikarenakan lembaga Pendidikan Islam di masa ini menghadapi persaingan, mau tidak mau dibutuhkan kesiapan untuk menghadapi persaingan tersebut. Salah satu yang menjadi perhatian penting setiap lembaga Pendidikan ialah bersaing dalam hal penerapan maupun penggunaan manajemen yang tepat. Adanya manajemen Human Capital yang berdaya guna dalam lembaga Pendidikan maka pekerjaan pengelolaan yang berat dan sulit akan dapat diselesaikan dengan baik serta tujuan yang diinginkan tercapai dalam hal ini adalah pada sekolah model yang ada di Provinsi Kepulauan Riau.
3. PEMBAHASAN
Human capital (modal manusia) adalah unsur yang sangat penting di dalam organisasi. Manusia dengan segala kemampuannya jika dikerahkan secara keseluruhan akan menghasilkan kinerja yang luar biasa. Lengnick Hall & Cynthia A. (2003: 3) menyatakan “human capital is the know, how, skill and capabilities of individual in organization. Human
capital reflect the competencies people bring to their work”. Artinya bahwa modal manusia
merupakan bagaimana mengetahui keterampilan dan kemampuan individu dalam organisasi. Modal manusia mencerminkan kompetensi seseorang dalam bekerja. Pengertian tersebut terlihat bahwa human capital merupakan faktor penting dalam organisasi, karena dapat memberikan sumbangan besar bagi kemajuan dan perkembangan organisasi.
Dalam prakteknya, perubahan paradigma terkait dengan Human Capital sebagai aset yang berharga dalam setiap lembaga belum sepenuhnya dipahami oleh para pimpinan organisasi, apalagi organisasi nirlaba seperti sekolah terutama di jenjang dasar dan menengah. Organisasi tidak akan pernah memastikan bahwa program pengembangan SDM (HRM development program) yang diimplementasikan dapat meningkatkan kompetensi para SDM dari tahun ke tahun dan memiliki korelasi dengan keberhasilan organisasi.
Sistem Pendidikan Nasional adalah keseluruhan komponen Pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan Pendidikan nasional. Sistem Pendidikan pada dasarnya bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia
seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, Kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan yang tinggi. Oleh karena itu Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan harus bisa diterapkan disetiap satuan Pendidikan agar seluruh warga sekolah mampu menciptakan daya saing dalam melakukan perbaikan mutu pendidikan secara berkesinambungan dengan bertumpu pada kepuasan seluruh pemangku kepentingan.
Penyusunan perencanaan dalam LPI tidak dilakukan hanya untuk mencapai tujuan dunia, tetapi harus melampaui batas-batas target kehidupan duniawi. Untuk itu diperlukan perencanaan pengelolaan LPI yang meliputi:
a. Penentuan prioritas agar pelaksanaan Pendidikan berjalan efektif, prioritas kebutuhan agar melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam proses Pendidikan, masyarakat, bahkan murid;
b. Penetapan tujuan sebagai garis pengarahan dan sebagai evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil Pendidikan;
c. Formulasi prosedur sebagai tahap-tahap rencana Pendidikan d. Penyerahan tanggung jawab kepada individu dan kelompok kerja.
Tabel 2 Operasionalisasi HCM & Kesuksesan Organisasi
Tolok ukur keberhasilan tercapainya Program Human Capital terhadap Kinerja lembaga / Organisasi (sekolah) adalah sebagai berikut :
a. Komitmen manajemen dan kepemimpinan (management commitment and leadership)
b. Perbaikan yang berkelanjutan (continuous improvement)
c. Berorientasi pada kepuasan pengguna layanan secara menyeluruh (total customer statisfaction)
d. Keterlibatan aktif pendidik dan tenaga kependidikan (employee involvement) e. Pelatihan (training)
f. Komunikasi (communication) g. Kerjasama (teamwork)
Manajemen Kinerja berorientasi pada tujuan yang diarahkan untuk memastikan bahwa proses keorganisasian pada tempatnya untuk memaksimalkan produktivitas para karyawan, tim dan akhirnya organisasi.
4. KESIMPULAN
Kemajuan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh mutu SDM masyarakat bangsa tersebut. Mutu SDM tergantung pada tingkat Pendidikan masing-masing individu pembentuk bangsa. Pendidikan yang visioner, memiliki misi yang jelas akan menghasilkan keluaran yang bermutu. Dari sanalah pentingnya manajemen dalam Pendidikan diterapkan.
Manajemen Pendidikan untuk saat ini merupakan hal yang harus diprioritaskan untuk kelangsungan Pendidikan sehingga menghasilkan keluaran yang diinginkan. Kenyataan yang ada, saat ini banyak institusi Pendidikan yang belum memiliki manajeman yang bagus dalam pengelolaan pendidikannya. Manajemen yang digunakan masih konvensional, sehingga kurang bisa menjawab tantangan zaman dan terkesan tertinggal dari modernitas.
Pada akhirnya untuk menjawab permasalahan dan pertanyaan penulisan makalah ini, penulis dapat menyimpulkan hubungan antara Organisasi dan Manajemen Pendidikan Nasional dalam Lembaga Pendidikan Islam yakni: Penjaminan Mutu Pendidikan melalui Organisasi Tim Penjamin Mutu merupakan alternatif dalam pengelolaan Manajemen Pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreativitas sekolah.
[ 10 ]Beberapa Indikator yang menunjukkan karakter mutu sesuai dengan Prinsip Pengelolaan Mutu antara lain :
1. Perhatian harus ditekankan kepada proses dengan terus-menerus mengumandangkan peningkatan mutu.
2. Mutu harus ditentukan oleh pengguna jasa sekolah.
3. Prestasi harus diperoleh melalui pemahaman Visi bukan dengan pemaksaan aturan.
4. Sekolah harus menghasilkan murid yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap arif bijaksana, karakter dan memiliki kematangan emosional.
Sebuah Lembaga Pendidikan akan selalu berkaitan dengan Organisasi yang berfungsi sebagai penggerak terhadap tercapainya tujuan dari Visi dan Misi baik kebutuhan dari Sistem Pendidikan Nasional secara umum maupun lembaga Pendidikan Islam Khususnya. Dimana tujuan terakhir Pendidikan Islam adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat Individual, Masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
1. ABDULLAH, BOEDI. MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM. 3rd ed. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2019.
2. Aisyah. “Strategi Dan Upaya Menghadapi Tantangan Globalisasi Melalui Pendidikan.”
Nuansa 10, no. 2 (2017): 100–107. ejournal.iainbengkulu.ac.id.
3. Ambarwati, Arie. Perilaku Dan Teori Organisasi. Media Nusa Creative, 2018. https://doi.org/10.1111/j.1469-0691.2011.03558.x/pdf.
4. Dacholfany, M Ihsan. “Inisiasi Strategi Manajemen Lembaga Pendidikan Islam Dalam Meningkatkan Mutu Sumber Daya Manusia Islami Di Indonesia Dalam Menghadapi Era Globalisasi.” At-Tajdid : Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran Islam 1, no. 01 (2017): 1– 13. https://doi.org/10.24127/att.v1i01.330.
5. Lantip Diat Prasojo, Amirul Mukminin, Fitri Nur Mahmudah. MANAJEMEN STRATEGI
HUMAN CAPITAL DALAM PENDIDIKAN. UNY Press. Vol. 1, 2017.
6. PEDOMAN UMUM SPMP. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Kemendikbud, 2017.
7. Permendikbud Nomor 28 Tahun 2016. “Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar Dan Menengah.” Kemendikbud, 2016.
8. Zainal, Veithzal Rivai. ISLAMIC EDUCATION MANAGEMENT: DARI TEORI KE