51 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dengan pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning dilaksanakan pada tanggal 3 Januari 2016 sampai dengan tanggal 16 Januari 2016 bertempat di SMP Negeri 2 Blora. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII, sedangkan sampelnya diambil secara acak yaitu kelas VIII A sebagai kelompok eksperimen dan kelas VIII B sebagai kelompok kontrol.
Pembelajaran pada kelompok eksperimen dilaksanakan oleh peneliti mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun berdasarkan pendekatan pembelajaran yang digunakan. Selain itu, RPP juga telah divalidasi oleh dosen Jurusan Pendidikan Matematika. Penelitian diawali dengan pemberian pretest pada kedua kelas berupa soal pilihan ganda.
52
Gambar 1. Siswa saat mengerjakan pretest
Setelah siswa melaksanakan pretest seperti yang telah ditunjukkan pada Gambar 1, dilanjutkan dengan pemberian perlakuan pada kelompok eksperimen berupa pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning dan pada kelompok kontrol berupa pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Selama proses pembelajaran berlangsung, dilakukan observasi oleh dua orang yaitu guru pelajaran matematika dan satu orang rekan peneliti. Dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning terdapat kegiatan diskusi kelompok dengan bimbingan yang diberikan oleh peneliti sendiri yang berperan sebagai guru di kelas. Kegiatan tersebut seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2 dan Gambar 3. Lembar observasi digunakan untuk mengevaluasi setiap proses pembelajaran yang dilakukan.
53
Gambar 2. Siswa melakukan diskusi kelompok untuk menyelesaikan LKS
Gambar 3. Guru membimbing kegiatan diskusi yang sedang berlangsung Di akhir penelitian dilakukan posttest yang terdiri dari soal pilihan ganda untuk mengetahui keefektifan kedua pendekatan pembelajaran. Posttest dilakukan pada kedua kelompok, baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Kegiatan posttest dilakukan untuk mengetahui
54
hasil akhir yang didapat oleh kedua kelompok setelah masing-masing kelompok diberi perlakuan yang berbeda. Pelaksanaan posttest yang telah dilakukan dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Siswa saat mengerjakan posttest
Dari awal sampai akhir proses pembelajaran, pada kelompok eksperimen diterapkan perlakuan berupa pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning dapat berjalan sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat sebelumnya. Proses pembelajaran diawali dengan pembukaan, penyampaian informasi materi pembelajaran, penyampaian indikator, apersepsi, penyajian permasalahan dalam Lembar Kerja Siswa (LKS), diskusi kelompok, presentasi hasil diskusi masing- masing kelompok, tanya jawab oleh siswa kelompok lain, pengambilan simpulan hasil diskusi kelompok, pemberian tambahan latihan soal secara mandiri kepada siswa dan penutup.
55 2. Deskripsi Data
Dalam penelitian yang telah dilakukan, data yang diperoleh terdiri dari nilai pretest dan nilai posttest prestasi belajar siswa. Kedua data tersebut diperoleh dari dua kelas, yaitu kelas eksperimen yang diterapkan pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning dan kelas kontrol yang diterapakan pendekatan saintifik.
a. Data Prestasi Belajar Siswa
Data prestasi belajar siswa terdiri dari pretest dan posttest. Kedua data ini didapatkan dari dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen mendapatkan perlakuan pembelajaran saintifik berbasis Problem Based Learning, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan perlakuan pembelajaran saintifik. Data pretest didapatkan sebelum kedua kelompok mendapatkan perlakuan, sedangkan data posttest didapatkan setelah kedua kelompok mendapatkan perlakuan masing-masing. Data prestasi belajar siswa pada kedua kelompok dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Data Prestasi Belajar Siswa Skor
Eksperimen Kontrol Pretest Posttest Pretest Posttest
56
Skor Maksimal Ideal 100 100 100 100
Maksimal 70 100 75 100
Minimal 20 65 20 60
Rata-rata 42,43 84,57 48,47 80,56
Variansi 199,076 110,840 152,599 78,254 Simpangan Baku 14,109 10,528 12,353 8,846
Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan rata-rata nilai pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol secara signifikan yang memiliki selisih sebesar 6,04. Kemudian untuk nilai posttest, kelompok eksperimen mengalami kenaikan yang lebih tinggi dibanding kelompok kontrol, sehingga kelompok eksperimen memiliki rata-rata nilai posttest yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nilai posttest kelompok kontrol.
Dari data simpangan baku atau standar deviasi, dapat diketahui bahwa kedua kelompok memiliki keragaman yang cukup tinggi terhadap rata-rata nilai masing-masing. Hal ini dapat diketahui baik dari nilai pretest maupun nilai posttest kedua kelompok yang menunjukkan adanya keberagaman yang hampir sama. Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui pula bahwa kedua kelompok mengalami penurunan nilai simpangan baku atau standar deviasi setelah diberi perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan mampu menurunkan tingkat keberagaman nilai.
57 3. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini terdiri dari pengujian hipotesis yang berkaitan dengan keefektifan pembelajaran matematika dengan pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning maupun pendekatan saintifik ditinjau dari prestasi belajar siswa. Jika kedua pembelajaran ini masing- masing efektif terhadap aspek yang diukur maka dilakukan uji lanjut dengan hipotesis mengenai perbedaan keefektifan. Jika hipotesis ini menunjukkan ada perbedaan maka dilannjutkan lagi dengan uji perbandingan.
a. Uji Asumsi
Asumsi normalitas dan homogenitas dari data yang diperoleh untuk prestasi belajar siswa harus dipenuhi sebelum melakukan pengujian hipotesis. Hasil yang diperoleh sebelum perlakuan berupa skor awal pretest serta perlakuan berupa skor akhir posttest baik untuk kelompok eksperimen mauupun kelompok kontrol. Dari data tersebut akan dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas.
1) Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dari kedua kelas berdistribusi normal atau tidak. Selain itu, uji normalitas juga dilakukan untuk menentukan statistik yang akan digunakan dalam mengolah data, apakah menggunakan statistik parametrik atau non parametrik. Uji normalitas dilakukan terhadap
58
nilai pretest dan posttest prestasi belajar siswa. Hipotesis uji normalitas adalah sebagai berikut.
H0 : data berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1 : data berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal Hasil uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Data Hasil Uji Normalitas Kelompok Data
Uji Normalitas
α Hasil Sig. Interpretasi
Eksperimen Pretest 0,081 H0 diterima 0,05 Normal
Posttest 0,076 H0 diterima 0,05 Normal
Kontrol Pretest 0,079 H0 diterima 0,05 Normal
Posttest 0,066 H0 diterima 0,05 Normal
Berdasarkan Tabel 7, dapat diketahui bahwa nilai signifikansi untuk masing- masing data lebih dari α (0,05), maka H0 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa data berdistribusi normal. Hasil uji normalitas selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.3 dan Lampiran 4.4.
2) Uji Homogenitas
Uji homogenitas dimaksudkan untuk menguji kesamaan varians masing-masing variabel secara terpisah. Untuk menguji kesamaan varians pretest untuk masing-masing variabel digunakan uji Lavene’s. Uji homogenitas dilakukan pada nilai pretest prestasi belajar. Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut.
59
H0 : kelompok data berasal dari populasi yang memiliki varians homogen
H1 : kelompok data berasal dari populasi yang memiliki varians tidak homogen
Hasil uji homogenitas dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Data Hasil Uji Homogenitas Data Uji Homogenitas α Hasil Sig. Interpretasi Pretest Prestasi Belajar Siswa 0,304 H0 diterima 0,05 Homogen Posttest Prestasi Belajar Siswa 0,414 H0 diterima 0,05 Homogen
Berdasarkan Tabel 8, didapatkan signifikansi untuk kedua data lebih dari α (0,05), maka H0 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa kedua kelas bersifat homogen. Hasil uji homogenitas pretest prestasi belajar siswa selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4.5
Setelah dilakukan uji asumsi selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Kriteria keefektifan dalam pengujian hipotesis adalah pembelajaran dikatakan efektif apabila rata-rata skor posttest siswa minimal mencapai KKM, yaitu 77. Pengujian hipotesis yang dilakukan adalah sebagai berikut.
60 3) Uji Hipotesis
Setelah hasil uji normalitas dan uji homogenitas menunjukkan bahwa kedua kelas berdistribusi normal dan homogen. Kemudian dilanjutkan dengan uji perbedaan kemampuan awal untuk menentukan penggunaan uji hipotesis. Data yang digunakan adalah data pretest.
Uji perbedaan rata-rata antara kedua kelompok bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata atau tidak. Uji ini digunakan apabila asumsi normalitas dan homogenitas telah terpenuhi. Kedua asumsi ini telah terpenuhi untuk data yang diperoleh dari hasil pengukuran prestasi belajar sebagaimana telah diuraikan sebelumnya.
Karena asumsi-asumsi tersebut telah terpenuhi, maka analisis data dilakukan dengan menerapkan statistik dengan hipotesis untuk variabel prestasi belajar sebagai berikut.
H0 : µ𝑒 = µ𝑘 : Tidak terdapat perbedaan rata-rata skor
pretest antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
H1 : µ𝑒 ≠ µ𝑘 : Terdapat perbedaan rata-rata skor pretest antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Kriteria keputusan hipotesis tersebut adalah H0 ditolak jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05.
61
Pengujian hipotesis menggunakan uji perbedaan rata-rata (Independent Sample Test) dilakukan menggunakan bantuan Software SPSS 17. Hasil analisis dengan Independent Sample Test sebelum perlakuan dapat dilihat pada Tabel 9 berikut.
Tabel 9. Hasil Uji Perbedaan Rata-rata antara Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Sebelum Perlakuan
Variabel Kelompok Rata-rata Sig.
Prestasi belajar Eksperimen 42,43
0,059
Kontrol 48,47
Berdasarkan perhitungan dengan bantuan Software SPSS 17 diperoleh signifikansi 0,059 (lebih dari 0,05) untuk variabel prestasi belajar. Ini menunjukkan H0 diterima, artinya tidak terdapat perbedaan rata-rata kemampuan awal antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol terhadap prestasi belajar.
Analisis Keefektifan Pendekatan Saintifik ditinjau dari Prestasi Belajar Siswa.
1) Pengujian Hipotesis Pertama
Uji hipotesis pertama adalah untuk menguji keefektifan pendekatan saintifik ditinjau dari prestasi belajar siswa. Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut. Dalam hal ini pendekatan saintifik dikatakan efektif jika rata-rata skor posttest siswa minimal mencapai KKM, yaitu 77. Namun dalam merumuskan hipotesis dipilih skor 76,9 sebagai µ0 (nilai yang dihipotesiskan), hal ini dilakukan supaya mendapat bentuk atau rumusan hipotesis statistik
62
yang memenuhi tujuan dari pengujian hipotesis penelitian, yaitu menolak H0, sehingga hipotesis statistik dirumuskan sebagai berikut.
H0 : µ1 ≤ 76,9 : (Pendekatan saintifik tidak efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa)
H0 : µ1 > 76,9 : (Pendekatan saintifik efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa)
Hasil uji One-Sample T Test dengan bantuan software SPSS untuk prestasi belajar siswa disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Hasil uji One-Sample T Test keefektifan pendekatan saintifik ditinjau dari prestasi belajar
Kelompok Variabel t df Sig.
Pendekatan Saintifik Prestasi belajar 2,412 35 0,021
Berdasarkan Tabel 10, menunjukkan bahwa signifikansi hasil uji One-Sample T Test yang diperoleh bahwa kelompok pendekatan saintifik untuk variabel prestasi belajar sebesar 0,021. Signifikansi aspek prestasi belajar tersebut kurang dari 0,05. Ini menunjukkan bahwa pendekatan saintifik efektif terhadap prestasi belajar siswa. Uji hipotesis selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.6.
Analisis Keefektifan Pendekatan Saintifik Berbasis Problem Based Learning ditinjau dari Prestasi Belajar Siswa.
2) Pengujian Hipotesis Kedua
Uji hipotesis kedua adalah untuk menguji keefektifan pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning ditinjau dari prestasi belajar siswa.
63
Hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut. Dalam hal ini pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning dikatakan efektif jika rata-rata skor posttest siswa minimal mencapai KKM, yaitu 77. Namun dalam merumuskan hipotesis dipilih skor 76,9 sebagai µ0 (nilai yang dihipotesiskan), hal ini dilakukan supaya mendapat bentuk atau rumusan hipotesis statistik yang memenuhi tujuan dari pengujian hipotesis penelitian, yaitu menolak H0, sehingga hipotesis statistik dirumuskan sebagai berikut.
H0 : µ1 ≤ 76,9 : (Pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning tidak efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa)
H0 : µ1 > 76,9 : (Pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa) Hasil uji One-Sample T Test dengan bantuan software SPSS untuk prestasi belajar siswa disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Hasil uji One-Sample T Test keefektifan pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning ditinjau dari prestasi belajar
Kelompok Variabel t df Sig.
Pendekatan Saintifik berbasis Problem Based Learning
Prestasi belajar 4,255 34 0,000
Berdasarkan Tabel 11, menunjukkan bahwa signifikansi hasil uji One-Sample T Test yang diperoleh bahwa kelompok pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning untuk variabel prestasi belajar sebesar 0,000. Signifikansi aspek prestasi belajar tersebut kurang dari 0,05. Ini menunjukkan bahwa pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning efektif
64
terhadap prestasi belajar siswa. Uji hipotesis selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.6.
Analisis perbandingan Keefektifan Pendekatan Saintifik berbasis Problem
Based Learning dan Pembelajaran Saintifik ditinjau dari Prestasi Belajar
Siswa.
3) Pengujian Hipotesis Ketiga
Hasil uji hipotesis pada rumusan masalah yang pertama diperoleh bahwa pendekatan saintifik efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil uji hipotesis kedua diperoleh bahwa pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa. Sehingga dilanjutkan pengujian hipotesis ketiga, yaitu untuk menjawab manakah yang lebih efektif antara pendekatan saintifik dan pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning ditinjau dari prestasi belajar siswa. Hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut.
Setelah data tes menunjukkan data berdistribusi normal dan homogen, langkah selanjutnya adalah uji perbedaan rata-rata skor gain prestasi belajar siswa. Data yang dianalisis adalah data skor gain yang diperoleh dari perbandingan antara selisih nilai posttest dan pretest. Karena asumsi-asumsi yang menjadi prasyarat telah terpenuhi, maka analisis data dilanjutkan dengan pengujian beda rata-rata skor gain prestasi belajar siswa.
Pada penelitian ini kelompok yang dibandingkan adalah kelompok dengan pendekatan saintifik dan kelompok dengan pendekatan saintifik
65
berbasis Problem Based Learning. Hipotesis yang digunakan untuk uji beda rata-rata prestasi belajar adalah sebagai berikut.
H0 : µ𝑒 = µ𝑘 : Tidak terdapat perbedaan rata-rata skor posttest antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. H1 : µ𝑒 ≠ µ𝑘 : Terdapat perbedaan rata-rata skor posttest antara
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Kriteria keputusan hipotesis yaitu H0 ditolak jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05.
Pengujian hipotesis menggunakan uji perbedaan rata-rata (Independent Sample Test) yang dilakukan dengan bantuan software SPSS 17. Hasil analisis dengan Independent Sample Test setelah perlakuan disajikan pada tabel 12 berikut.
Tabel 12. Hasil Uji Perbedaan Rata-rata antara Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Setelah Perlakuan
Variabel Kelompok Rata-rata Sig.
Prestasi belajar
Eksperimen 84,57
0,001
Kontrol 80,56
Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 12, nilai signifikansi uji perbedaan rata-rata untuk variabel prestasi belajar adalah 0,001 ini menunjukkan bahwa H0 ditolak, artinya terdapat perbedaan rata-rata antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol terhadap prestasi belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemampuan akhir kedua kelompok pada aspek prestasi belajar berbeda.
66
Setelah uji prasyarat dan uji perbedaan rata-rata terpenuhi, maka dilanjutkan uji hipotesis untuk rumusan masalah ketiga yaitu menentukan metode pembelajaran mana yang lebih efektif antara pendekatan saintifik dan kelompok dengan pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning ditinjau dari prestasi belajar siswa. Adapun hipotesis untuk rumusan masalah ketiga adalah sebagai berikut.
H0 : µ1 ≤ µ2 : Pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning tidak lebih efektif atau sama dengan pendekatan saintifik ditinjau dari prestasi belajar matematika siswa.
H1 : µ1 > µ2 : Pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning lebih efektif daripada pendekatan saintifik ditinjau dari prestasi belajar matematika siswa. Kriteria keputusan hipotesis yaitu H0 ditolak jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05. Hasil analisis dengan Independent Sample Test setelah perlakuan disajikan pada Tabel 13 berikut.
Tabel 13. Data Hasil Uji Perbandingan Rata-rata antara Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Data Signifikansi α Hasil
Skor akhir prestasi belajar siswa
0,001 0,05 H0 ditolak
Berdasarkan Tabel 13, menunjukkan bahwa signifikansi hasil uji Independent Sample Test yang diperoleh bahwa kelompok pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning untuk variabel prestasi belajar
67
sebesar 0,001. Signifikansi aspek prestasi belajar tersebut kurang dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak. Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning lebih efektif dibandingkan pendekatan saintifik ditinjau dari prestasi belajar siswa. Uji hipotesis selengkapnya dapat dilihat pada 4.6.
B. Pembahasan
1. Keefektifan Pendekatan Saintifik Ditinjau dari Prestasi Belajar Siswa
Pendekatan saintifik merupakan aspek yang sangat penting dalam kurikulum 2013 yang digunakan sekarang. Meskipun ada beberapa sekolah yang sudah tidak menggunakan kurikulum 2013, namun pendekatan saintifik sendiri memiliki karakteristik yang cocok untuk diterapkan dalam suatu metode pembelajaran. Pendekatan saintifik bukanlah suatu metode pembelajaran, akan tetapi lebih berperan dalam langkah-langkah proses pembelajaran yang di dalamnya bisa juga dipadukan dengan metode-metode pembelajaran. Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengisyaratkan tentang perlunya proses pembelajaran yang dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan saintifik. Upaya penerapan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran ini sering disebut-sebut sebagai ciri khas dan menjadi kekuatan tersendiri dari keberadaan Kurikulum 2013.
Secara teoritis pengertian pendekatan saintifik dan langkah-langkahnya telah dibahas pada Bab II. Langkah-langkah dengan
68
pendekatan saintifik dalam penelitian ini sudah berjalan sesuai dengan langkah-langkah yang ada dalam teori. Selain itu berdasarkan teori-teori yang sudah dikemukakan oleh beberapa ahli pada Bab II peneliti menyimpulkan bahwa pendekatan saintifik juga memiliki beberapa kelebihan-kelebihan, yaitu :
1) Mengajarkan siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran 2) Pembelajaran berpusat pada siswa
3) Meningkatkan cara berpikir kritis pada siswa 4) Meningkatkan kemampuan intelek siswa
Data yang dianalisis adalah data hasil posttest. Berdasarkan hasil analisis deskripsi posttest diperoleh bahwa pada kelompok kontrol diperoleh skor minimal 60, skor maksimal 100, dan rata-ratanya 80,56. Berdasarkan uji asumsi analisis posttest yang telah dilakukan, kelas berdistribusi normal dan mempunyai varian yang sama (homogen). Pada tahap selanjutnya, berdasarkan hasil uji One-Sample T Test dengan bantuan software SPSS menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,021 < 0,05 sehingga H0 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa dalam pembelajaran aljabar. Kesimpulan ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ermawati yang menunjukkan bahwa pendekatan saintifik memiliki pengaruh yang signifikan ke arah positif terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika kelas VII di SMP N 1 Margahayu.
69
2. Keefektifan Pendekatan Saintifik berbasis Problem Based Learning Ditinjau dari Prestasi Belajar Siswa
Penerapan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran menuntut adanya perubahan pengaturan dan bentuk pembelajaran tersendiri yang berbeda dengan pembelajaran konvensional. Beberapa metode pembelajaran yang dipandang sejalan dengan prinsip-prinsip pendekatan saintifik, antara lain metode :
1) Problem Based Learning 2) Project Based Learning 3) Inquiry
4) Group Investigation
Dalam hal ini peneliti memilih metode Problem Based Learning karena secara teori memiliki beberapa kelebihan dibandingkan metode-metode yang lain. Kelebihan-kelebihan metode Problem Based Learning antara lain :
a) Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
b) Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk memahami isi pelajaran.
c) Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d) Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis.
70
e) Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana menstansfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
f) Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
Data yang dianalisis adalah data hasil posttest dari kedua kelas. Berdasarkan hasil analisis deskripsi posttest diperoleh bahwa pada kelompok eksperimen diperoleh skor minimal 65, skor maksimal 100, dan rata- ratanya 84,57. Pada kelompok kontrol diperoleh skor minimal 60, skor maksimal 100, dan rata-ratanya 80,56. Berdasarkan uji asumsi analisis posttest yang telah dilakukan, kedua kelas berdistribusi normal dan mempunyai varian yang sama (homogen). Pada tahap selanjutnya, berdasarkan hasil uji One-Sample T Test dengan bantuan software SPSS menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 sehingga H0 ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa dalam pembelajaran aljabar. Kesimpulan ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Soleh Uzain yang menunjukkan bahwa pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa SMP PGRI Semanu pada pokok bahasan Aritmetika Sosial.
71
3. Perbandingan Keefektifan antara Pendekatan Saintifik berbasis
Problem Based Learning dan Pendekatan Saintifik ditinjau dari
Prestasi Belajar Siswa
Uji selanjutnya yang dilakukan adalah uji untuk mengetahui manakah yang lebih efektif antara pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning dan pendekatan saintifik efektif ditinjau dari prestasi belajar siswa dalam pembelajaran materi aljabar. Hasil analisis yang digunakan adalah nilai skor gain dari posttest dan pretest. Skor gain yang telah diperoleh, terlebih dahulu diuji beda rata-ratanya dengan bantuan software SPSS. Dari pengujian, didapatkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,05 sehingga H0 ditolak. Berdasarkan hal ini, maka ada perbedaan rata-rata skor gain antara kelompok dengan pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning dan kelompok dengan pendekatan saintifik sehingga perlu dilakukan uji lanjutan. Berdasarkan uji lanjutan, rata-rata skor gain kelompok eksperimen lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning lebih efektif daripada pendekatan saintifik ditinjau dari prestasi belajar siswa dalam pembelajaran materi aljabar.
C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian eksperimen yang dilakukan oleh peneliti di kelas VIII A dan VIII B SMP Negeri 2 Blora mengenai efektivitas pendekatan saintifik berbasis Problem Based Learning (PBL) pada Pembelajaran Matematika ditinjau dari
72
Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Pada Materi Operasi Bentuk Aljabar memiliki beberapa keterbatasan antara lain :
a. Waktu penelitian yang singkat. Pada penelitian ini pembelajaran kedua kelas hanya berlangsung dalam lima pertemuan pada masing-masing kelas, yaitu dua pertemuan untuk pretest dan posttest serta tiga pertemuan untuk pembelajaran.
b. Pelaksanaan penenlitian hanya diterapkan pada satu pokok bahasan sehingga dalam meneliti dan mengamati perbandingan prestasi belajar kelas VIII A yang digunakan sebagai kelompok eksperimen dan kelas VIII B yang digunakan sebagai kelompok kontrol dirasa belum tercapai secara optimal.