Berita Resmi Statistik No. 06/08/Th. V, 5 Agustus 2016 1 No. 06/08/Th. VI, 5 Agustus 2016
I
NDEKS
T
ENDENSI
K
ONSUMEN
T
RIWULAN
II-2016
TRIWULAN II-2016 ITK SEBESAR 104,65
1.
Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan II-2016
Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Sulawesi Tengggara pada Triwulan II-2016 sebesar 104,65, artinya kondisi ekonomi konsumen meningkat dari triwulan sebelumnya. Tingkat optimisme
A. Penjelasan Umum
Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi terkini yang dihasilkan Badan Pusat Statistik melalui Survei Tendensi Konsumen (STK). ITK merupakan indeks yang menggambarkan kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan dan perkiraan triwulan mendatang menurut pendapat konsumen sebagai pelaku konsumsi.
Jumlah sampel STK pada Triwulan II-2016 sebanyak 14.021 rumah tangga di seluruh provinsi di Indonesia. Di Sulawesi Tenggara sendiri sampel STK berjumlah 180 rumah tangga. Responden STK mulai Triwulan I-2016 dipilih pada strata blok sensus kategori sedang dan tinggi berdasarkan "wealth index" dan merupakan subsampel dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) khusus di daerah perkotaan. Pemilihan sampel dilakukan secara panel antar-triwulan untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai perubahan persepsi konsumen antar-waktu. Pada saat yang sama juga dilakukan penyempurnaan kuesioner dan cara penghitungan indeksnya.
B. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan II-2016
Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Sulawesi Tengggara pada Triwulan II-2016 sebesar 104,65,
artinya kondisi ekonomi konsumen meningkat dari triwulan sebelumnya. Tingkat optimisme masyarakat juga lebih tinggi (optimis) dibandingkan dengan Triwulan I-2016 (nilai indeks sebesar 100,57).
Meningkatnya kondisi ekonomi konsumen terutama didorong oleh meningkatnya pendapatan
rumah tangga, daya beli masyarakat yang terjaga, serta naiknya volume/frekuensi konsumsi rumah tangga terhadap barang dan jasa.
C. Perkiraan Ekonomi Konsumen Triwulan III-2016
Nilai ITK Sulawesi Tengggara pada Triwulan III-2016 oleh masyarakat diperkirakan mencapai
109,26, artinya kondisi ekonomi konsumen oleh masyarakat diperkirakan akan semakin membaik. Tingkat optimisme konsumen diperkirakan lebih tinggi dibandingkan Triwulan II-2016 (nilai ITK sebesar 104,65).
Perbaikan kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan III-2016 diperkirakan terjadi karena adanya
2 Berita Resmi Statistik No. 06/08/Th. V, 5 Agustus 2016
masyarakat pada Triwulan II-2016 juga meningkat, ditandai dengan peningkatan nilai ITK sebesar 4,08 poin dari Triwulan I-2016 (nilai indeks sebesar 100,57) (lihat Tabel 1).
Tabel 1
Indeks Tendensi Konsumen Menurut Variabel Pembentuknya, Triwulan I-2016 danTriwulan II-2016
Variabel Pembentuk Triwulan I-2016 Triwulan II-2016
(1) (2) (3)
Pendapatan rumah tangga kini 99,88 102,21
Pengaruh inflasi terhadap total pengeluaran rumah tangga 99,47 108,43 Volume/frekuensi konsumsi barang dan jasa rumah tangga 103,59 105,66
Indeks Tendensi Konsumen 100,57 104,65
Meningkatnya kondisi ekonomi konsumen terutama didorong oleh adanya faktor musiman, dengan masuknya bulan Ramadhan di triwulan II yang berpengaruh pada peningkatan konsumsi dan peningkatan pendapatan. Pendapatan rumah tangga meningkat (nilai indeks 102,21), dipengaruhi oleh penerimaan gaji ke-13 dan THR bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)/TNI/Polri dan karyawan swasta.
Dengan adanya peningkatan pendapatan, daya beli masyarakat cukup terjaga. Harga kebutuhan masyarakat selama Triwulan II-2016 juga relatif stabil, yang ditandai dengan tingkat inflasi yang rendah selama April sampai dengan Juni 2016. Dengan begitu, pengeluaran rumah tangga selama Triwulan II-2016 cenderung tidak terpengaruh inflasi (nilai indeks 108,43). Terlebih adanya faktor musiman yang mendorong peningkatan konsumsi masyarakat.
Volume/frekuensi konsumsi barang dan jasa rumah tangga tercatat meningkat dari triwulan sebelumnya (nilai indeks 105,66). Adanya faktor penggerak seperti bulan Ramadhan dan persiapan lebaran, libur sekolah, serta penerimaan THR pada pertengahan bulan Juni meningkatkan konsumsi rumah tangga. Pengeluaran untuk konsumsi makanan, pakaian, komunikasi, pendidikan, transportasi, dan perawatan kesehatan/salon mengalami peningkatan dari triwulan sebelumnya. Peningkatan ini secara umum meningkatkan volume/frekuensi konsumsi barang dan jasa rumah tangga meskipun pengeluaran rekreasi dan akomodasi lebih rendah dari triwulan sebelumnya.
2.
Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan III-2016
Nilai ITK Sulawesi Tenggara pada Triwulan III-2016 diperkirakan sebesar 109,26, artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan semakin membaik. Tingkat optimisme konsumen juga diperkirakan meningkat, yang ditunjukkan dengan lebih tingginya perkiraan nilai indeks pada Triwulan III-2016 dibandingkan Triwulan II-2016 (nilai ITK diperkirakan naik 4,61 poin).
Perkiraan membaiknya kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan III-2016 didorong oleh perkiraan peningkatan pendapatan rumah tangga mendatang (nilai indeks sebesar 115,78). Ekspektasi kenaikan pendapatan rumah tangga didorong oleh adanya aktivitas ekonomi di semua sektor yang mulai meningkat dengan adanya liburan sekolah, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, serta tahun ajaran baru. Variabel rencana pembelian barang tahan lama, rekreasi, dan pesta/hajatan oleh masyarakat diperkirakan menurun (nilai indeks sebesar 97,84). Meskipun pada triwulan III nanti masih ada liburan sekolah, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, dan juga tahun ajaran baru, tetapi tampaknya sebagian
Berita Resmi Statistik No. 06/08/Th. V, 5 Agustus 2016 3
besar masyarakat merasa pada triwulan III bukan saat yang tepat untuk membeli perhiasan, melakukan rekreasi, atau mengadakan pesta/hajatan.
Tabel 2
Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen Menurut Variabel Pembentuknya, Triwulan III-2016
Variabel Pembentuk Triwulan III-2016
(1) (2)
Perkiraan pendapatan rumah tangga mendatang 115,78
Rencana Pembelian Barang Tahan Lama, Rekreasi, dan Pesta/Hajatan 97,84
Indeks Tendensi Konsumen 109,26
3.
Perbandingan Regional
Peningkatan kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan II-2016 terjadi di seluruh provinsi di Sulawesi, ditandai oleh nilai ITK masing-masing provinsi yang lebih besar dari 100 (lihat Gambar 1). Provinsi yang memiliki nilai ITK tertinggi di Sulawesi adalah Sulawesi Barat yang mencapai 110,20. Sedangkan nilai ITK terendah dimiliki oleh Provinsi Sulawesi Utara, yaitu sebesar 102,14. Nilai ITK Sulawesi Tenggara secara regional tercatat terendah ke dua setelah Sulawesi Utara. Nilai ITK Sulawesi Tenggara juga lebih rendah dari rata-rata nasional.
Gambar 1
Indeks Tendensi Konsumen (ITK) di Pulau Sulawesi dan Nasional, Triwulan II-2016 dan Perkiraan Triwulan III-2016
Pada Triwulan III-2016, kondisi ekonomi konsumen di seluruh provinsi di Pulau Sulawesi diperkirakan semakin membaik (perkiraan nilai ITK lebih dari 100). Tingkat optimisme konsumen pada provinsi di Pulau Sulawesi juga diperkirakan meningkat, yang masing-masing ditunjukkan dengan perkiraan nilai ITK Triwulan III-2016 yang lebih tinggi daripada nilai ITK Triwulan II-2016, kecuali pada Provinsi Sulawesi Barat yang tingkat optimisme triwulan III lebih rendah dari triwulan II. Nilai ITK Sulawesi Tenggara diperkirakan berada pada urutan kelima, lebih tinggi dari Sulawesi Utara dengan perkiraan nilai ITK sebesar 108,62. Perbandingan nilai ITK Triwulan II-2016 dan Perkiraan nilai ITK Triwulan III-2016 seluruh Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.
102, 14075 105, 33940 106, 83479 104, 64523 109, 53172 110, 20388 107, 92560 109 117 114 109 117 110 109 90 95 100 105 110 115 120 Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Nasional Triw. II-2016 Perkiraan Triw. III-2016
4 Berita Resmi Statistik No. 06/08/Th. V, 5 Agustus 2016 Tabel 3
Indeks Tendensi Konsumen1) Seluruh Indonesia
Triwulan I-2016 sampai dengan Triwulan III-2016
Provinsi ITK Triwulan I-2016 ITK Triwulan II-2016 ITK Triwulan III-20162)
(1) (2) (3) (4) 1. Aceh 100,99 113,04 105,72 2. Sumatera Utara 100,55 105,65 104,69 3. Sumatera Barat 101,85 109,04 105,19 4. R i a u 95,99 109,81 103,87 5. J a m b i 100,53 106,97 100,43 6. Sumatera Selatan 96,44 108,05 105,47 7. Bengkulu 100,57 106,01 111,55 8. Lampung 101,55 106,42 106,17
9. Kep. Bangka Belitung 94,71 104,74 111,54
10. Kep. R i a u 101,56 113,34 103,59 11. DKI Jakarta 105,20 110,71 112,75 12. Jawa Barat 104,03 107,28 107,70 13. Jawa Tengah 100,28 106,66 110,09 14. D.I. Yogyakarta 107,96 108,98 117,30 15. JawaTimur 105,38 108,42 111,19 16. Banten 105,25 109,97 110,23 17. B a l i 108,40 108,78 109,00
18. Nusa Tenggara Barat 108,20 107,50 109,41
19. Nusa Tenggara Timur 98,15 103,87 108,43
20. Kalimantan Barat 104,15 105,80 103,34 21. Kalimantan Tengah 103,04 106,22 107,39 22. Kalimantan Selatan 99,34 103,00 111,52 23. Kalimantan Timur 102,40 112,69 106,67 24. Sulawesi Utara 96,08 102,14 108,62 25. Sulawesi Tengah 107,58 105,34 116,79 26. Sulawesi Selatan 101,91 106,83 114,12 27. Sulawesi Tenggara 100,57 104,65 109,26 28. Gorontalo 101,14 109,53 116,77 29. Sulawesi Barat 105,58 110,20 109,96 30. Maluku 109,96 113,17 115,37 31. Maluku Utara 100,45 109,30 103,87 32. Papua Barat 98,53 107,81 111,32 33. Papua 99,78 109,20 114,53 Nasional 102,89 107,93 109,26 Keterangan: 1)
ITK berkisar antara 0 sampai dengan 200, dengan indikasi sebagai berikut:
a. Nilai ITK < 100, menunjukkan bahwa kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan menurun dibanding triwulan sebelumnya.
b. Nilai ITK = 100, menunjukkan bahwa kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan tidak mengalami perubahan (stagnan) dibanding triwulan sebelumnya.
c. Nilai ITK > 100, menunjukkan bahwa kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan meningkat dibanding triwulan sebelumnya.
Berita Resmi Statistik No. 06/08/Th. V, 5 Agustus 2016 5
BPS PROV. SULAWESI TENGGARA
Informasi lebih lanjut hubungi:
Wa Zalima, S.Si
Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Telepon: 0401-3121751