• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabel 2 Kebutuhan Unsur Hara Tanaman Selada NO NAMA UNSUR KONSENTRASI (ppm)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tabel 2 Kebutuhan Unsur Hara Tanaman Selada NO NAMA UNSUR KONSENTRASI (ppm)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Selada (Lactucca sativa.L)

Selada adalah tanaman setahun polimorf (memiliki banyak bentuk) khususnya daun. Daun selada berjumlah banyak dan berposisi duduk (sessile), tersusun berbentuk spiral dalam roset padat. Bentuk yang berbeda-beda sangat beragam warna dan tekstur. Daun tidak berambut, mulus, berkeriput (savoy), atau kusut berlipat. Warna beragam mulai dari hijau muda hingga hijau tua. Kultivar tertentu berwarna merah atau ungu. Daun bagian dalam pada kultivar yang tidak membentuk kepala cenderung berwarna lebih cerah sedang pada kultivar yang membentuk kepala lebih pucat. Tanaman berakar tunggang dalam diiringi penebalan dan perkembangan ekstensif akar lateral yang kebanyakan horizontal. Sistem perakaran dangkal dan kecil sehingga memerlukan pasokan hara mudah terjangkau (Rubatzky & Yamaguchi 1998). Dalam taksonomi tumbuhan, tanaman selada diklasifikasikan dalam:

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Class : Dicotyledonae Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Lactuca

Spesies : Lactuca sativa (Grubben & Sukprakarn, 1994)

Grubben & Sukprakarn (1994) mengatakan bahwa selada dikelompokkan dalam lima macam tipe yaitu selada kepala renyah dan kepala mentega (Lactucca sativa var. capitata), cos atau romain (Lactucca sativa var. longifolia), daun longgar atau loose leaf (Lactucca sativa var. crispa), batang (Lactucca sativa var. asparagina) dan latin (Lactucca sativa). Selada kultivar Grand Rapids termasuk dalam tipe loose leaf. Selada jenis ini memiliki helaian daun lepas dan pada tepian berombak atau bergerigi, berwarna hijau atau merah dan tidak membentuk krop. Selada ini berumur genjah dan toleran terhadap kondisi dingin, dipanen hanya helaian daun saja sehingga selada ini dapat dipanen beberapa kali.

(2)

Sejumlah besar selada diproduksi dalam bangunan pelindung seperti rumah kaca. Pada suhu dan lingkungan pertumbuhan terkendali maka peluang produksi di luar musim meningkat. Selada kualitas baik dihasilkan pada batas suhu pertumbuhan awal bibit sekitar 130C pada malam hari dan 160C siang hari

(Rubatzky & Yamaguchi 1998). Nurfinayati (2004) menyebutkan bahwa suhu tinggi selama pertumbuhan selada menyebabkan kelayuan sementara pada siang hari akibat meningkatnya transpirasi, selain itu suhu mempengaruhi kelarutan gas di dalam air.

Selada hidroponik tumbuh optimal pada pH sekitar 6.0 sampai 6.5 (Resh 1999). Percobaan dilakukan Nurfinayati (2004) pada pH tinggi mencapai 7.9 menyebabkan menurunnya pertumbuhan dan produksi tanaman, yaitu diameter batang dan bobot dipasarkan per tanaman.

Umumnya kualitas selada dibagi ke dalam dau kategori yaitu: (1) sifat yang mudah diamati (fisik) meliputi penampilan, warna, kerenyahan, keseragaman ukuran, bobot, tekstur dan rasa; (2) sifat kurang teramati (kimia) meliputi aroma dan nilai gizi (Ware 1980).

Waktu panen selada berbeda tergantung varietas dan kondisi cuaca (Nurfinayati 2004). Umumnya waktu panen berkisar 35 hari sampai 45 hari setelah pindah tanam. Menunda panen untuk mencapai bobot tanaman lebih tinggi menjadi kurang menguntungkan dan lebih menguntungkan apabila memulai penanaman baru (Rubatzky & Yamaguchi 1999).

Unsur Hara

Unsur hara tanaman adalah bahan-bahan yang diserap oleh tanaman yang berisi satu atau lebih unsur esensial yang dibutuhkan tanaman (Jansen 1997). Pada sistem pertanian hidroponik pemakaian hara mineral diberikan dalam bentuk pupuk cair, hal ini dilakukan agar unsur hara terdapat dalam hara mineral mudah untuk diserap oleh tanaman. Dermawati (2006) telah membuktikan bahwa hara mineral organik dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun untuk tanaman pakchoy secara hidroponik sistem NFT.

Penanaman selada secara hidroponik memerlukan unsur hara dalam konsentrasi yang akurat. Dalam pemakaian hara mineral organik harus

(3)

memperhatikan unsur hara diperlukan tanaman. Menurut Adam et al. (1995) untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik, tanaman harus dipenuhi kebutuhan unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S) dan unsur mikro (Mn, Mo, B, Fe, Cl, Cu) dengan cukup (Tabel 2).

Tabel 2 Kebutuhan Unsur Hara Tanaman Selada

NO NAMA UNSUR KONSENTRASI (ppm)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kalium (K) Kalsium (Ca) Nitrogen (N) Magnesium (Mg) Fosfor (P) Besi (Fe) Mangan (Mn) Boron (B) Seng (Zn) Kopper Molibdenum (Mo) 200 175 160 50 45 5 0.8 0,3 0,1 0,07 0,003

Sumber: Chalcheedas, Conductivity of Nutrient Simplified

Pada dasarnya budidaya hidroponik lebih memfokuskan pada pengaturan komposisi larutan hara sesuai kebutuhan tanaman. Tanaman memperoleh unsur hara larutan garam mineral yang langsung diberikan ke akar tanaman, sehingga tanaman lebih memfokuskan energi untuk pertumbuhan tidak digunakan untuk kompetisi memperoleh unsur hara (Pranis 1998). Sebagaimana telah kita ketahui bersama penggunaan hara mineral organik pada pertanian dilahan media tanah dapat memberikan tambahan organik, hara, memperbaiki sifat tanah dan mengembalikan unsur hara yang terangkut tanaman hasil panen (Nugroho et al. 1999).

Hara mineral anorganik AB Mix adalah hara mineral hidroponik lengkap yang mengandung semua unsur hara makro dan hara mikro yang diperlukan oleh tanaman dan diformulasikan sesuai kebutuhan. Berdasarkan hasil penelitian Izzati (2006) hara mineral AB Mix dapat mengkatkan hasil bobot panen selada yang lebih baik dari jumlah daun dan tinggi tanaman jika dibanding dengan hara mineral anorganik hyponex dan saprodap pada hidroponik sistem agregat dengan media sekam.

(4)

Dalam budidaya hidroponik semua unsur esensial diberikan pada tanaman dengan cara mencampur unsur hara kedalam air sehingga menjadi suatu larutan hara. Menurut Turon dan Perez (1999) dalam pembuatan larutan hara untuk budidaya hidroponik yang utama adalah konsentrasi tepat dan mengandung semua unsur dibutuhkan. Formulasi larutan diberikan tergantung jenis tanaman, tahap pertumbuhan, musim, serta keadaan iklim seperti suhu, kelembaban dan cahaya (Resh 1999).

Hidroponik Sistem NFT

Hidroponik berasal dari kata Hydroponos terdiri dari dua kata yaitu Hydro artinya air dan ponos artinya bekerja dengan air, sehingga hydroponik dapat diartikan sebagai kegiatan budidaya tanaman pertanian dengan menggunakan air sebagai media tanam utama (Nicholls 1996). Hidroponik merupakan metode menumbuhkan tanaman dalam larutan hara (air yang mengandung pupuk) dengan memakai media inert seperti pasir, vermiekulite, rockwoll, perlite dan sawdust sebagai penunjang mekanik (Jansen 1997). Di Amerika pada awal tahun 1900, kata hidroponik digunakan untuk menggambarkan sebuah metode budidaya tanaman dengan akar menggantung di dalam wadah air yang mengandung nutrisi (Smith 1999).

Pada dasarnya budidaya hidroponik lebih memfokuskan pada pengaturan komposisi larutan hara hara sesuai kebutuhan tanaman. Tanaman memperoleh unsur hara larutan garam mineral yang langsung diberikan ke akar tanaman, sehingga tanaman lebih memfokuskan energi untuk pertumbuhan tidak digunakan untuk kompetisi memperoleh unsur hara (Pranis 1998).

Menurut Harjadi (1989) terdapat empat metode hidroponik yaitu hidroponik kultur pasir, sistem terbuka agregat, sistem hidroponik terapung (THST) dan sistem selaput hara (NFT). Pada sistem hidroponik kultur pasir, pasir bertindak sebagai media tumbuh permanen dan pada sistem terbuka agregat, bibit dipindahkan ke wadah yang diisi dengan substrat inert dan disiram larutan hara. Menurut Susila (2003) pada sistem hidroponik terapung tanaman diletakkan pada panel stryofoam yang mengapung pada kolam hara dengan ukuran dan volume larutan besar sehingga dapat menekan fluktuasi larutan hara.

(5)

Metode selaput hara atau NFT banyak digunakan secara komersial sebagai budidaya tanaman secara hidroponik. Teknik ini pertama kali dikembangkan di Inggris oleh Cooper pada akhir tahun 1970. Tanaman diletakkan secara teratur di sepanjang talang, sebagian akar terendam pada aliran hara dangkal yang mengalir lambat, sedang sebagian akar lain mampu melakukan pertukaran udara dengan lingkungan sekitar. Larutan hara yang mengalir sangat tipis, ketebalannya hanya 3 mm (Resh 1999).

Menurut Resh (1999) budidaya hidroponik memiliki kelebihan dibanding budidaya konvensional di atas tanah. Kelebihan tersebut antara lain :

1. Hara tanaman homogen dan dapat dikendalikan.

2. Tidak dibatasi ketersediaan unsur hara oleh tanah, sehingga memungkinkan penambahan populasi per unit area.

3. Tidak memerlukan pengolahan tanah dan penanganan masalah gulma.

4. Penggunaan hara minerallebih efisien karena diberikan seragam pada semua tanaman.

5. Media tanam lebih permanen, dapat digunakan jangka waktu lama. 6. Hama dan penyakit cenderung berkurang.

Faktor yang Menentukan Keberhasilan Teknik Hidroponik

Keberhasilan dalam budidaya tanaman dengan menggunakan sistem hidroponik NFT ditentukan oleh derajat kemasaman, konsentrasi hara (EC) dan frekuensi penyiraman.

Derajat Kemasaman (pH) Larutan Hara

Menurut Diatloff (1999) Pandus hydrogenii (potential hydrogen) kepanjangan dari pH yaitu nilai (dari 1 sampai 14) yang menunjukkan asam atau basa suatu larutan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan asal Belanda Sorensen pada tahun 1909 untuk menjelaskan konsentrasi ion-ion hidrogen yang berukuran sangat kecil. Kemasaman larutan (pH) mempengaruhi pertumbuhan tanaman dengan dua cara yaitu mempengaruhi persediaan hara dan mempengaruhi penyerapan hara oleh akar tanaman.

(6)

Nilai rata-rata tertinggi tersedia semua hara penting tanaman berada pada pH kisaran 5.4 sampai 6.0 untuk media tanpa tanah. Rendahnya pH menyebabkan peningkatan kandungan Fe, Mg, dan Al terlarut, selain itu ketersediaan Ca, Mg, S, dan Mo menurun. Pada pH tinggi sebaliknya menyebabkan penurunan P, Fe, Mg, Zn, Cu, dan B (Nelson 1998). Soepardi (1983) menambahkan pH merupakan hal yang harus diperhatikan karena berhubungan dengan Ca dan Mg dipertukarkan, kelarutan alumunium dan unsur mikro dan ketersediaan fosfor.

Pada budidaya tanaman secara hidroponik, larutan hara dipertahankan pada kisaran pH 5.5-6.5 dengan menambahkan larutan asam atau basa (Adam et al. 1995). Mengingat pentingnya pH bagi ketersediaan bagi tanaman hidroponik, maka pH larutan hara perlu senantiasa dijaga agar tidak keluar dari kisaran yang dibutuhkan tanaman (Subiyanto 2000). Pada Lampiran 4 kisaran pH untuk hara mineral organik Nd dan hara mineral anorganik AB Mix cukup stabil sehingga proses penyerapan kandungan nurisi dalam hara mineral tersebut mencukupi. Nilai pH larutan hara mudah berubah seiring dengan ketidakseimbangan antara kation dan anion yang diserap oleh tanaman (Harjadi 1989).

Konduktivitas Listrik (EC)

Konduktivitas listrik (EC, Electrical Conductivity) dikenal sebagai faktor konduktivitas (CF, Conductivity Factor) atau daya hantar listrik (DHL) yaitu pengukur kadar garam dalam larutan hara. Konduktivitas listrik memberi indikasi mengenai hara yang terkandung pada larutan dan yang diserap oleh akar. Larutan kaya hara akan mempunyai konduktivitas listrik yang lebih besar dari pada larutan yang mempunyai sedikit ion garam. Nilai EC tergantung dari jenis ion yang terkandung di dalam larutan hara, konsentrasi ion, dan suhu larutan (Morgan 2000).

Menurut Hermawan (2004) perlakuan EC memberi respon berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman, pertambahan jumlah daun /minggu, bobot basah per tanaman, hasil /kelompok, bobot basah akar dan bobot kering pada akar salada. Salada varietas Bellona dan Paris cos island menggunakan sistem NFT pada kisaran EC 1,5-5,0 mS-1/cm berpengaruh kecil terhadap bobot basah dan meningkatkan bobot kering akar seiring dengan peningkatan taraf EC.

(7)

Satuan pengukuran internasional (SI) konduktivitas adalah Siemens. Satuan tersebut diambil dari nama Ernest Siemens yaitu seorang ilmuwan dan industrialis Jerman pada abad ke-19, sehingga simbol untuk konduktivitas adalah S. Pengukuran konduktivitas didasarkan pada jumlah ion yang melayang diantara dua elektroda pada jarak tertentu. Konduktivitas sering dinyatakan dalam dS/m, mS/cm atau µS/cm (Chalcheedas 1998).

Perubahan EC larutan hara berbanding lurus dengan banyak unsur hara terkandung dalam larutan hara. Semakin banyak unsur hara yang terkandung dalam larutan hara maka semakin tinggi nilai EC, yang berarti bahwa kemampuan larutan hara tersebut untuk mengantarkan ion listrik ke akar tanaman semakin tinggi (Permatasari 2001). Chalcheedas (1998) menambahkan bahwa konduktivitas mengukur jumlah total partikel bermuatan listrik dalam larutan, namun tidak dapat membedakan antara satu ion dengan ion lain sehingga konduktivitas tidak dapat mendeteksi ketidakseimbangan hara dalam suatu larutan. Nilai EC semakin menurun dengan bertambahnya umur tanaman karena terjadi penyerapan unsur hara (Roan 1998).

Fertigasi/Penyiraman

Fertigasi adalah singkatan dari fertilizer (pemupukan) dan irrigation (pengairan), suatu sistem pemupukan dan pengairan yang diberikan secara bersamaan atau dikenal dengan istilah penyiraman. Tanaman Hidroponik dalam sistem NFT sangat tergantung pada aliran air yang mengalir pada talang sebagai media tanam. Jika pasokan air terhambat atau berkurang maka pertumbuhan dan produksi tanaman berkurang. Berdasarkan hasil penelitian Dermawati (2006) menyatakan bahwa produksi tanaman pakchoy menunjukkan hasil yang berbeda pada setiap perlakuan frekuensi penyiraman, frekuensi penyiraman 5 menit menunjukkan hasil yang lebih baik dari frekuensi penyiraman 10 menit.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa, pemberian larutan unsur hara berupa nutrisi anorganik (AB mix) pada tanaman selada merah yang ditanam

Penelitian Respons Pertumbuhan Tanaman Mentimun (Cucumis sativus) Terhadap Pemberian Unsur Hara Fermentasi Buah Pepaya (Carica papaya) telah dilakukan di Workshop

Unsur hara yang diserap oleh tanaman dari dalam tanah terdiri atas 13.

2007 menyatakan Hal ini disebabkan PGPR dapat memenuhi kebutuhan unsur hara yang cukup terhadap hasil tanaman selada.PGPR dapat meningkatkan kualitas pertumbuhan

Asam humat bermanfaat dalam melonggarkan tanah, membantu transfer unsur hara dari dalam tanah ke tanaman, dan meningkatkan retensi kadar air, serta merangsang pertumbuhan

Dengan demikian unsur hara tersebut dapat kemungkinan diserap oleh akar-akar tanaman karena sudah jelas air sangat diperlukan untuk melarutkan unsur-unsur hara atau zat

Defisiensi unsur hara, atau kata lain kekurangan unsur hara, bisa menyebabkan pertumbuhan tanaman yg tidak normal dapat disebabkan oleh adanya defisiensi satu atau lebih unsur

Berdasarkan analisis ragam pada Tabel 4, konsentrasi larutan hara tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan jumlah daun tanaman akar wangi pada umur 48