Hubungan Industrial:
Kasus dan Perspektif
Perbandingan antar Negara
Mukhlis Yunus | Muhammad Bahtiar Abdillah | R. Marsha Aulia Hakim
| Devi Melisa Damiri | Fithriya Zahra | Risna Resnawaty|
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 1
BAB I
IMPLEMENTASI HUBUNGAN INDUSTRIAL : PANCASILA DI INDONESIA DAN KOLEKTIF DI CINA
1. PENDAHULUAN
Dalam ketenagakerjaan terdapat hubungan yang saling membutuhkan dan saling mengisi satu sama lain antara pekerja dan pengusaha. Hubungan industrial merupakan interaksi antara pekerja, pengusaha, serikat pekerja maupun pemerintah mengenai hal-‐hal yang berhubungan dengan ketenagakerjaan. Pemeliharaan hubungan antara pekerja, serikat pekerja dan pengusaha dalam lingkup hubungan industrial sangat diperlukan untuk mencegah konflik yang dapat menimbulkan ketidakharmonisan hubungan kerja. Masalah hubungan kerja antara pekerja dengan pengusaha merupakan cikal bakal berkembangnya bidang hubungan industrial di Indonesia yang terbentuk berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Hubungan industrial di Indonesia berkaitan dengan hubungan diantara semua pihak yang terlibat dalam hubungan kerja di suatu perusahaan. Hubungan industrial yang berkembang di Indonesia berpedoman kepada nilai-‐nilai Pancasila dalam menjalankan aktivitas di lingkup industrial.
Awal tahun 1920 hubungan industrial diakui sebagai bidang penelitian independen. Susetiawan
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 2
(2000)1 Indonesia menganut asas hubungan industrial
Pancasila yang merupakan prinsip dasar dalam pelaksanaan hubungan hukum ketenagakerjaan.
Trihastuti (2013)2 mengatakan tercapainya hubungan
industrial yang harmonis harus terus menerus dibangun
mengingat dampaknya yang luas terhadap
pembangunan ekonomi negara. Dengan demikian hubungan industrial yang digunakan di negara Indonesia menganut nilai-‐nilai Pancasila. Penerapan hubungan industrial memiliki konsep yang berbeda-‐beda dalam setiap negara, seperti di negara Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Jepang, dan beberapa negara lainnya menerapkan hubungan industrial yang bersifat kapitalistik. Negara Cina sebagai negara sosialis mengadopsi praktek hubungan industrial kolektif, Shen
& Benson (2008)3 memaparkan “Sejak tahun 1978,
ketika China memulai reformasi ekonomi yang berorientasi pada pasar dan pembukaan perdagangan dengan negara-‐negara Barat, insiden pelanggaran hak-‐ hak pekerja dan perselisihan perburuhan, baik individual maupun kolektif, telah meningkat secara substansial”.
Kai Chang (2015)4 meamaparkan bahwa Hubungan kerja
kolektif mengacu pada hubungan sosial yang terbentuk
1 Susetiawan, “Konflik Sosial Kajian Sosiologis Hubungan Buruh Perusahaan Dan
Negara Di Indonesia”, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000.
2 Nanik Trihastuti, “Membangun Hubungan Industrial yang Harmonis di Indonesia”,
Jurnal Hukum Bisnis, Vol. 32 No. 2. Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, 2013.
3 Jie Shen, and John Benson, “Tripartite Consultation In China : A First Step Towards
Collective Bargaining?”, International Labour Review, Vol. 147 No. 2–3, 2008.
4 Chang Kai, “Two Forms Of Labour Movements In The Transition Towards Collective
Labour Relations In China – Characteristics Of Current Development And Prospect”,
Paper for the International Labour and Employment Relations Association (ILERA), 17th World Congress, South Africa, 2015.
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 3 antara pekerja sebagai kelompok atau partai (biasanya diwakili oleh serikat pekerja) dan pengusaha atau
organisasi pengusaha. Chang (2009)5 menyatakan “China
telah mempercepat pembangunan institusi hubungan industrial, yang mencakup pembentukan badan konsultasi tripartit dari tingkat pusat sampai ke tingkat kabupaten, promosi perundingan bersama dan negosiasi upah, dan kampanye pengorganisasian serikat pekerja
terpadu.” Menurut Howell (2005)6 “Pekerja di China
sekarang merupakan kelompok sosial yang semakin
terfragmentasi dan beragam.” Howell pun
menambahkan bahwa Kompleksitas ini menimbulkan tantangan tidak hanya bagi pemerintah pusat dan daerah yang mencari satu sisi, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan di sisi lain, untuk menjaga stabilitas sosial, namun juga kepada ACFTU yang telah berjuang untuk beradaptasi dan Menanggapi perubahan sifat dan tuntutan pekerja.
Perkembangan hubungan industri mencerminkan perubahan-‐perubahan kerja, baik dalam arti ekonomi maupun sosial dan terkait peraturan perundangan mengenai ketenagakerjaan. Hubungan industrial menjadi kajian yang menarik untuk diteliti, penelitian terkait hubungan industrial dapat dipergunakan sebagai acuan dalam mengatasi dan menyelesaikan berbagai persoalan yang timbul dalam bidang ketenagakerjaan. Dengan mempelajari dan meneliti sejarah serta
5 Chang Hee Lee, “Industrial Relations And Collective Bargaining In China”, Geneva :
International Labour Organization, 2009.
6 Jude Howell, “Industrial Relations in China”, Journal of Contemporary Asia, Vol.
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 4 implementasi hubungan industrial dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang konsep Hubungan Industrial Pancasila di negara Indonesia dan Hubungan Industrial Kolektif negara Cina.
2. HUBUNGAN INDUSTRIAL SULIT DIRUMUSKAN SECARA UNIVERSAL
Pihak-‐pihak yang terlibat dalam hubungan industrial mencakup pengusaha, pekerja, serikat pekerja
dan pemerintah. Menurut Mills (1994)7 dalam bukunya
yang berjudul Labor Management Relations bahwa “Hubungan Industrial dapat didefinisikan sebagai proses dimana manusia dan organisasinya berinteraksi di tempat kerja dan secara lebih luas, di masyarakat secara keseluruhan untuk menetapkan syarat dan kondisi
kerja.” Shamad (1995)8 merumuskan hubungan
industrial dapat diartikan sebagai suatu corak atau sistem pergaulan atau sikap dan perilaku yang terbentuk diantara para pelaku proses barang dan jasa, yaitu pekerja, pengusaha, pemerintah dan masyarakat.
Payaman Simanjuntak (2003)9 menyatakan Hubungan
industrial adalah hubungan antara semua pihak yang tersangkut atau berkepentingan atas proses produksi barang atau pelayanan jasa disuatu perusahaan. Pihak yang paling berkepentingan atas keberhasilan
7 Daniel Quinn Mills. “Labor Management Relations”, Singapore : McGraw Hill, 1994. 8 Yunus Shamad, “Hubungan Industrial di Indonesia”, Jakarta: Bina Sumberdaya
Manusia, 1995.
9 Payaman Simanjuntak, “Manajemen Hubungan Industrial”, Jakarta: Pustaka Sinar
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 5 perusahaan dan berhubungan langsung sehari-‐hari adalah pengusaha atau manajemen dan pekerja.
Hubungan industrial sulit untuk dirumuskan secara universal agar dapat diterima semua pihak, Michael
Salamon (2000)10 dalam bukunya Industrial Relation
menyatakan “Sulit untuk mendefinisikan istilah hubungan industrial dengan cara yang tepat dan diterima secara universal. Hubungan industrial bagi banyak orang dianggap melibatkan laki-‐laki, pekerja tetap, serikat pekerja, pekerja kasar, unit manufaktur yang memaksakan praktik restriktif, pemogokan, dan penjarangan kolektif.” Dalam hubungan industrial, tidak terdapat hubungan hukum akan tetapi peran serta Negara (dalam hal ini Pemerintah) yang mengatur di dalamnya.
Hubungan Industrial dibawa masuk oleh Penjajah Belanda
Shamad (1995) Perkembangan hubungan industrial secara historis di bawa masuk ke Indonesia oleh Belanda sebagai penjajah pada akhir abad ke-‐20 dengan
memperkenalkan perusahaan-‐perusahaan asing,
khususnya perusahaan Belanda yang pekerjanya juga
orang-‐orang Belanda. Dalam Rurimpunu (2014)11
memaparkan Hubungan Industrial Belanda beroperasi di
10 Michael Salamon, “Industrial Relation Theory and Practice”, London : Prentice Hall,
2000.
11 Fritje Rumimpunu, “Sistem Hubungan Industrial Pancasila Di Indonesia Dengan
Tenaga Kerja, Perusahaan Dilihat Dari Aspek (Undang-‐Undang Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2003)”, Jurnal Hukum Unsrat Vol. II, No. 02, 2014.
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 6 wilayah Indonesia karena yang diatur pada waktu itu adalah hubungan antara pekerja Belanda dengan pengusaha Belanda. Rurimpunu (2014) menambahkan terdapat tiga periode dalam sejarah Hubungan Industrial di Indonesia :
1. Sejak kebangkitan nasional tahun 1908 mulailah terbentuk serikat pekerja yang anggotanya adalah orang-‐orang Indonesia. Mulai dipraktekan Hubungan Industrial yang pihaknya adalah para pekerja Indonesia dan pengusaha Belanda. Pada tahun 1919 Semaun sebagai tokoh komunis mulai
mengenalkan Hubungan Industrial yang
berdasarkan perjuangan Kelas, sejak itu di Indonesia sudah berkembang dua sistem hubungan Industrial yaitu yang berdasarkan Liberalisme dan Marxisme. Sejak awal Hubungan Industrial di Indonesia diwarnai oleh politik karena semua ditujukan untuk perjuangan Kemerdekaan, sehingga pembahasan Hubungan Industrial dalam sosial ekonomi kurang mendapat perhatian. Hubungan Industrial masih tetap diwarnai oleh orientasi politik. Pada tahun 1947 mulai lagi timbul polarisasi dalam Hubungan Industrial dengan terbentuknya serikat buruh SOBSI yang secara nyata-‐nyata berorientasi kepada komunisme, dimana pada tahun 1948 SOBSI bersama-‐sama dengan PKI terlibat dalam pemberontakan Madiun.
2. Setelah penyerahan kedalutan dengan sistem serikat pekerja yang pluralistis maka sistem
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 7 Hubungan Industrial baik yang berdasarkan liberalisme maupun Marxisme berkembang pesat dipelopori oleh serikat pekerjanya masing-‐ masing. Dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Indonesia kembali melaksanakan UUD 1945. Sejak itu mulailah Era Demokrasi Terpimpin, dalam era demokrasi terpimpin ini partai komunis bertambah memegang peran penting. Sejalan dengan itu Hubungan Industrial yang berdasarkan Marxisme juga berkembang pesat. Praktek-‐ praktek Hubungan Industrial yang bersifat antagonis dan konforntatif makin menonjol. Hal ini berlanjut terus sampai menjadi tulang punggung pemberontakan tersebut, mirip dengan apa yang terjadi tahun 1948.
3. Setelah pemberontakan G30 dapat ditumpas dan lahirlah pemerintahan Orde Baru dengan melanjutkan upaya penataan kehidupan politik,
termasuk merestrukturisasi organ-‐organ
perburuhan yang ada. Pemerintahan Orde Baru bertekad ingin melaksanakan Pancasila dan Undang-‐Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen. Hal ini berarti Pancasila harus dilaksanakan dalam setiap aspek kehidupan bangsa termasuk dalam Hubungan Industrial. Oleh karena itu, tokoh-‐tokoh Hubungan Industrial baik dari kalangan pekerja, pengusaha, pemerintah dan cendekiawan bersepakat dalam suatu Seminar Nasional pada tahun 1974 untuk
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 8 Industrial yang berdasarkan Pancasila dan Undang-‐Undang Dasar 1945. Sejak saat itu lahirlah “Hubungan Industial Pancasila”. HIP dimaksudkan sebagai instrument kontrol negara sekaligus sarana penyeimbang aspirasi negara-‐ negara kreditor yang meminta agar pemerintahan Soeharto bersikap lebih bersikap responsif-‐ akomodatif terhadap tuntutan buruh. Borkent, et
al (1981)12 mengemukakan, pada masa orde baru
digunakannya sarana-‐sarana utama untuk mendukung terlaksananya hubungan perburuhan Pancasila tersebut, yang meliputi : lembaga kerjasama Tripartit dan Bipartit, keselamatan
kerja bersama, penyelesaian perselisihan
industrial, peraturan perundangan
ketenagakerjaan, pendidikan dan penyuluhan, organisasi ketenagakerjaan dan kelembagaan lainnya.
Pancasila sebagai landasan filosofis di Indonesia
Dalam pemerintahan orde baru, Hubungan Industrial Indonesia harus didasarkan pada ideologi negara Pancasila yang sesuai dengan spirit kebudayaan Indonesia dan cara pandang orang-‐orang Indonesia. Dalam situasi demikian, dinamika syarat-‐syarat kerja, kondisi kerja, perubahan hukum perburuhan sangat
12 Hans Borkent, et. al, “Indonesian Vorkers and Their Right to Organise”, Netherlands
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 9 bergantung pada pemerintah selaku pembuat maupun
pelaksana hukum. Maimun (2007)13 mengemukakan
Hubungan industrial sebagai suatu sistem hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang terdiri dari unsur pengusaha, pekerja/buruh, dan pemerintah yang didasarkan pada nilai-‐nilai Pancasila dan Undang-‐ Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Susetiawan (2000)14 Indonesia menganut asas hubungan
industrial Pancasila yang merupakan prinsip dasar dalam pelaksanaan hubungan hukum ketenagakerjaan.
Ardana, Mujiati dan Mudiartha (2012)15
menyatakan Hubungan Industrial Pancasila (HIP) adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan jasa (pekerja, pengusaha, dan pemerintah) yang didasarkan atas nilai-‐ nilai yang merupakan manisfestasi dari keseluruhan sila-‐ sila Pancasila dan UUD 1945, yang tumbuh dan berkembang di atas kepribadian bangsa dan kebudayaan
nasional Indonesia. Soejadi (1999)16 Kapasitas Pancasila
sebagai nilai filosofi bangsa Indonesia, dimaksud bahwa nilai-‐nilai yang tersebut di dalam rumusan sila-‐sila Pancasila itu merupakan nilai yang mengandung
13 Maimun, “Hukum Ketenagakerjaan Suatu Pengantar”, Jakarta : Paradnya Pramita,
2007.
14 Susetiawan, “Konflik Sosial Kajian Sosiologis Hubungan Buruh Perusahaan Dan
Negara Di Indonesia”, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000.
15 I Komang Ardana, et al, “Manajemen Sumber Daya Manusia”,. Yogyakarta : Graha
Ilmu, 2012.
16 Soejadi, “Pancasila Sebagai Sumber Tertib Hukum Indonesia”, Yogyakarta : Lukman
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 10
pengertian abstrak umum universal. Soepomo (1975)17
memaparkan hubungan industrial Indonesia dengan bersumberkan Pancasila sebagai landasan filosofis, maka secara normative segala aturan hukum yang mengatur Hubungan Industrial Pancasila, berupa hukum dasar (UUD 1945), juga Peraturan Perundang-‐undangan lainnya adalah pengimplementasian dari nilai-‐nilai Pancasila, karenannya secara normative hukum yang mengatur hubungan industrial di Indonesia haruslah senantiasa dikontrol keserasiannya dengan nilai-‐nilai Pancasila.
Gunarto (2011)18 mengatakan bahwa Indonesia
memiliki basis kultural atau kosmologi sendiri yang berbeda dengan kosmologi negara-‐negara Barat, yaitu bersifat kolektif (tidak individual), keserasian-‐ keseimbangan (harmoni), musyawarah dan menjunjung tinggi nilai-‐nilai spiritualitas. Kosmologi negara Indonesia yang demikian terumuskan ke dalam Pancasila yang merupakan moral positif Indonesia atau dapat dikatakan bahwa Pancasila merupakan basis kultural atau kosmologi hukum Indonesia yang dapat dilihat dari nilai-‐ nilai yang terkandung dari kelima sila Pancasila. Arah
pengembangan HIP untuk memelihara dan
mempertahankan kelangsungan usaha. Pada sisi lain pengusaha (pemilik modal) diarahkan untuk memiliki
17 Soepomo, Imam. “Hukum Perburuhan Bidang Hubungan Kerja”, Jakarta :
Jambatan, 1975.
18 Gunarto, “Dampak Hubungan Industrial Yang Bersifat Kapitalistik Terhadap
Harmonisasi Hubungan Industrial Pengusaha Dengan Pekerja”, Jurnal Dinamika
Hukum, Vol. 11, Edisi Khusus, 2011.
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 11 dan mengembangkan sikap untuk menganggap pekerja atas dasar kemitraan yang sejajar sesuai dengan kodrat, harkat, martabat dan harga diri, serta meningkatkan kesejahteraan pekerja. Rumimpunu (2014) menjelaskan Hubungan Industrial Indonesia berlandaskan Sila-‐Sila Pancasila, yaitu:
1) Sila pertama sebagai landasan spiritual hubungan industrial, dalam bekerja manusia tidak hanya mencari nafkah tetapi mengabdi kepada Tuhan dan sesama manusia
2) Sila kedua sebagai landasan kemanusiaan dengan menganggap pekerja bukan sekedar faktor produksi tetapi sebagai mitra perusahaan
3) Sila ketiga sebagai dasar kesatuan yang diterapkan berpedoman kepada tri dharma yang mengandung asas partnership dan tanggung jawab bersama antara pekerja, manajemen, dan serikat pekerja sehingga tercipta saling merasa ikut memiliki, memelihara, mempertahankan dan terus-‐menerus mawas diri
4) Sila keempat sebagai landasan demokrasi dalam hubungan industrial di Indonesia, semua pihak
dalam proses produksi memiliki hak
mengeluarkan pendapat yang sama sehingga selalu mengutamakan musyawarah mufakat dalam setiap pengambilan keputusan
5) Sila kelima sebagai landasan perwujudan keadilan sosial dalam hubungan industrial dengan menerapkan prinsip keadilan dalam lingkungan kerja di segala aspeknya dengan
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 12
menghindari kesewenangan manajemen
terhadap pekerja sebagai pihak yang lemah. Dalam Hubungan Industrial Pancasila setiap perbedaan pendapat antara pekerja dan pengusaha harus diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat yang dilakukan secara kekeluargaan.
Suwarno dan Ellot (2000)19 Konsep Hubungan Industrial
Pancasila berdasarkan pada tiga azas kemitraan, yaitu: mitra dalam produksi, mitra dalam tanggungjawab, dan mitra dalam keuntungan, antara pekerja/buruh, pengusaha, dan pemerintah. Tujuan konsep ini adalah untuk mewujudkan masyarakat industri yang ideal. Konsep Hubungan Industrial Pancasila (HIP) yang disusun berdasarkan pertimbangan sosial budaya dan nilai-‐nilai tradisional Indonesia. Rurimpunu (2014) yang diambil dari seminar Nasional HIP yang diselenggarakan tahun 1974 dikemukakan tujuan Hubungan Industrial Pancasila adalah “Mengemban cita-‐cita Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia 17 Agustus 1945 di dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang berdasarkan Pancasila serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan Pancasila serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial melalui penciptaan ketenangan, ketentraman dan ketertiban kerja serta ketenangan usaha, meningkatkan produksi, dan meningkatkan kesejahteraan pekerja serta
19 S Suwarno, and J. Elliot. “Changing Approaches to Employment Relations in
Indonesia, in Employment Relations in the Asia Pacific: Changing Approaches”, Ed.
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 13 derajatnya sesuai dengan martabat manusia.” Sutedi
(2009)20 menyatakan bahwa HIP bertujuan untuk
menciptakan ketenangan, ketentraman kerja serta
ketenangan usaha, meningkatkan produksi,
meningkatkan kesejahteraan pekerja serta derajatnya sesuai dengan martabat manusia. Idealnya jika implementasi HIP di Indonesia mampu berjalan dengan baik, maka dapat menciptakan industrial peace yang tidak semu, serta bagi pemerintah Indonesia akan mengurangi tingginya angka pengangguran, terciptanya lapangan kerja yang semakin luas, meningkatnya produktivitas perusahaan, meningkatnya kesejahteraan pekerja, meningkatnya investasi di Indonesia dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara Indonesia.
Menurut Subijanto (2011)21 Hubungan Industrial
Pancasila seharusnya disosialisasikan kepada para anggota Serikat Pekerja secara bertahap dan berkesinambungan. Hal ini perlu mendapat perhatian khususnya dari Pemerintah dan serikat pekerja maupun pengusaha karena hal ini dapat menciptakan suasana kerja yang saling menguntungkan yaitu dapat
menumbuhkembangkan suasana kekeluargaan,
kegotong-‐royongan, dan musyawarah untuk mufakat dalam aktivitas dan perolehan hak-‐haknya di perusahaan. Rurimpunu (2014) menyatakan bahwa Hubungan Industrial Pancasila bukan merupakan penciptaan kekuatan bagi buruh untuk menghadapi kekuatan ekonomis dari pengusaha, melainkan harus
20 Adrian Sutedi, “Hukum Perburuhan”, Jakarta : Sinar Grafika, 2009.
21 Subijanto, “Peran Negara dalam Hubungan Tenaga Kerja di Indonesia”, Jurnal
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 14 dipandang sebagai wujud kerjasama dari pekerja. Pekerja akan secara gotong royong bersama pengusaha menciptakan aturan-‐aturan yang adil dalam perjanjian
kerja mereka. Rahayu, et. al (2002)22 dalam mewujudkan
HIP diperlukan sarana utama, yaitu adanya: SP/SB, organisasi pengusaha, lembaga kerjasama bipartit, lembaga kerjasama tripartit, perjanjian kerja (PK), peraturan perusahaan (PP), Kesepakatan Kerja Bersama (KKB), peraturan penyelesaian perselisihan industrial, dan peraturan perundang-‐undangan. Dalam pasal 103 UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 bahwa hubungan industrial dilaksanakan melalui sarana serikat pekerja/serikat buruh; organisasi pengusaha; lembaga kerja sama bipartit; lembaga kerja sama tripartit; peraturan perusahaan; perjanjian kerja bersama;
peraturan perundang-‐undangan ketenagakerjaan;
lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial.
Transisi China Menuju Sosialisme
Zhining (2011)23 mengemukakan bahwa pada
tahun 1921 didirikan Partai Komunis China, dimana partai tersebut mendirikan sekretariat asosiasi buruh China di Shanghai dalam usaha untuk terlibat dalam gerakan buruh. Kai Chang (2015) mengemukakan bahwa secara historis, perkembangan Partai Komunis China (PKC) memiliki dasar gerakan buruh. Gerakan buruh
22 Sri Kusumastuti Rahayu, et al. “Hubungan Industrialdi Jabotabek, Bandungdan
Surabaya pada Era Kebebasan Berserikat”, Lembaga Penelitian SMERU, USAID/PEG,
2002.
23 Ma Zhining, “Industrial Relations In China: A Review Based On A Six-‐Party Model”,
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 15 adalah pondasi dan landasan sosial PKC, sebagian besar pemimpin awal PKC telah memimpin dan berpartisipasi
dalam gerakan pekerja. Laulusa (2008)24 mengatakan
“ACFTU dibentuk pada tahun 1925 bertindak sebagai
bagian administrasi ketenagakerjaan untuk
berkoordinasi dengan Negara dalam mengawasi tenaga kerja.” Setelah pembentukan dan kepemimpinan Federasi Serikat Buruh China (ACFTU), gerakan serikat yang dipimpin oleh PKC telah menjadi bagian penting dari perjuangan revolusioner. Sejak lahir ACFTU, kegiatan politik telah menjadi kegiatan utama dan jarang terlibat dalam perundingan bersama dan pemogokan
ekonomi di bawah pasar ekonomi. Kaple (1994)25
mengatakan bahwa ACFTU menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem "Iron rice bowl" (tie fan wan), status "pekerjaan seumur hidup" yang harus dinikmati para pekerja dari tahun 1950 sampai 1980an.
Chang (2009) mengatakan tahun 1949 Partai komunis secara resmi merebut kekuasaan di daratan Cina dan mendirikan Republik Rakyat China. Perundingan bersama secara aktif telah dipromosikan pada tahun-‐tahun awal Republik Rakyat China. Namun pertengahan tahun 1950an, Mao mengumumkan transisi China menuju sosialisme. Dalam Taylor et al
(2003)26, tahun 1994 Pemerintah China mengeluarkan
undang-‐undang ketenagakerjaan baru untuk
24 Leon Laulusa, “Confucianism and its implications for industrial relations in China”.
Journal of Management Spirituality and Religion, Vol.5 (4), 2008 : 385-‐403.
25 Deborah A. Kaple, “Dream of a red factory : The legacy of high Stalinism”, Oxford,
Oxford University Press, 1994.
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 16 menciptakan sistem hubungan industrial baru di China yang menjelaskan hubungan antara pengusaha dan
pekerja di perusahaan. Menurut Ng & Warner (1998)27,
Brown, (2010)28 menjelaskan bahwa Undang-‐undang
Serikat Buruh Tahun 1992 dan Undang-‐Undang Ketenagakerjaan tahun 1994 mulai berlaku pada tahun 1995, dan UU tersebut merupakan langkah besar dalam perjalanan menuju sistem berbasis pasar yang menggabungkan gerakan buruh ke dalam proses
reformasi. Zhu (2011)29 mengemukakan Undang-‐undang
tersebut melembagakan "pasar tenaga kerja" yang muncul dengan mengesahkan kontrak individu (geren hetong) dan kesepakatan bersama (jiti hetong) sebuah langkah ke arah tawar menawar kolektif. Taylor et al (2003) memaparkan bahwa Undang-‐undang baru yang berkaitan dengan ketenagakerjaan dan manajemen telah dijelaskan dalam kaitannya dengan sebuah langkah menuju sistem hubungan kerja yang dapat dikenali, namun ACFTU tetap menjadi bagian integral darinya. Ng & Warner (1998) menyatakan “Selama beberapa dekade, ACFTU telah terlihat bertindak sebagai
mekanisme “transmission-‐belt” Leninis yang
menghubungkan Partai/Negara Bagian dengan lapisan yang berada di bawahnya.” Di samping itu Zhu (2011) pun memaparkan kebijakan Partai baru bergeser pada penciptaan sebuah "masyarakat yang harmonis" (hexie
27 Ng Sek Hong, and Warner Malcolm, “China’s Trade Unions And Management”,
New York : St Martin’s Press, 1998.
28 Ronald C. Brown, “Understanding Labor And Employment Law In China. New York :
Cambridge University Press, 2010.
29 Ying Zhu, “Employment Relations “With Chinese Characteristics”: The Role Of Trade
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 17 shehui) yang didasarkan pada "prinsip dasar kemanusiaan dan pembangunan ilmiah" mungkin bisa memberi kesempatan untuk perubahan.
Chang (2006)30 mengatakan “Perkembangan
hubungan industrial di cina sejak tahun 2000 dapat
digambarkan sebagai usaha bersama untuk
korporatisme preemptive oleh negara partai dan
ACFTU.” Hishida (2010)31 mengemukakan bahwa ACFTU
kembali mengubah strateginya dengan menekankan pengembangan cabang dan anggota serikat pekerja yang solid dan stabil. Sejak saat itu, kegiatan utama ACFTU adalah berfokus pada representasi dan perlindungan yang lebih kredibel terhadap anggota serikat melalui organisasi akar rumputnya. Chang (2009) menyatakan “China telah mempercepat pembangunan institusi hubungan industrial, yang mencakup pembentukan badan konsultasi tripartit dari tingkat pusat sampai ke tingkat kabupaten, promosi perundingan bersama dan negosiasi upah, dan kampanye pengorganisasian serikat
pekerja terpadu.” Akibatnya, China sekarang memiliki
salah satu kepadatan serikat pekerja tertinggi. Cakupan tawar kolektif juga meningkat pesat sejak awal tahun
2000an. Wang (2008)32 menambahkan “Evolusi utama
dari hubungan industrial sejak reformasi ekonomi
30 Chang Hee Lee, “Recent Industrial Relations Developments in China and Viet Nam:
The Transformation of Industrial Relations in East Asian Transition Economies”,
Journal of Industrial Relations 48. 3, 2006 : 415-‐429.
31 Masaharu Hishida, et.al, “China’s Trade Unions: How Autonomous Are They? A
Survey Of 1,811 Enterprise Union Chairpersons”, Abingdon, Oxon, Routledge, 2010.
32 Wang Kan, “A changing arena of industrial relations in China, What is happening
aftjker 1978”, Employee Relations, Vol. 30, no.2, 2008 : 190-‐216.
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 18 Negara China, menunjukkan bahwa hubungan industrial telah bergeser dari sistem yang dikendalikan oleh negara ke arena aktor-‐pro-‐negosiasi yang lebih fleksibel, di mana persatuan tripartisme (negara-‐perusahaan-‐serikat pekerja) muncul. Akan tetapi tidak bisa sepenuhnya mengungkapkan realitas kerja Cina”. Hal ini berarti bahwa evolusi utama dari hubungan industrial di Cina adalah sejak reformasi ekonomi, dimana hubungan industrial telah bergeser dengan munculnya persatuan tripartisme (negara-‐perusahaan-‐serikat pekerja).
Membangun Masyarakat Yang Harmonis
Chang (2009) menyatakan “Reformasi ekonomi telah mengubah China menuju ke 'pabrik dunia' dan
perekonomian terbesar ketiga.” Chang pun
menambahkan “Reformasi ekonomi di China telah disertai dengan diperkenalkannya kerangka legislatif dan kelembagaan baru untuk hubungan industrial dan ketenagakerjaan.” Taylor et. al (2003) mengatakan “Pemerintah China telah memperkenalkan komponen kelembagaan inti dari sistem semacam itu dengan mengatur kontrak kerja individu dan kolektif dan sistem penyelesaian sengketa dan merevisi undang-‐undang serikat pekerja untuk menentukan hak dan kewajiban serikat pekerja.” Dalam Zhining (2011) menambahkan “Hubungan industrial China berbeda secara signifikan dengan demokrasi ala Barat.” Dalam Taylor, et. al (2003) bahwa mereka mempertimbangkan karakteristik khusus sistem persatuan China, dengan mengusulkan untuk merevisi model tripartit menjadi model empat partai.
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 19 Laulusa (2008) memaparkan beberapa perbedaan hubungan industrial yang terjadi di negara China dengan Negara-‐negara Barat, yaitu :
1. Serikat pekerja bergantung pada pemerintahan China.
Tahun 1978 ACFTU didirikan kembali dengan memegang peran ganda, yaitu membela hak dan kepentingan para pekerja, serta mempromosikan stabilitas sosial dan harmoni serta reformasi Negara dengan mendorong pekerja untuk
meningkatkan produktivitas dan dengan
menerapkan disiplin ketenagakerjaan, melakukan propaganda ekstensif atas nama manajemen. 2. Danwei merupakan semacam organisasi keluarga.
Lü dan Perry (1997)33 menyatakan bahwa fungsi
politik dan sosial "dapat dicirikan sebagai "paternalistik" dan "maternalistik". Seperti dalam keluarga tradisional, danwei bertindak sebagai patriarki yang mendisiplinkan dan memberi sanksi kepada anak-‐anaknya, sementara pada saat yang sama melayani sebagai penyedia perawatan ibu dan kebutuhan sehari-‐hari.
3. Sistem kontrak kolektif lebih merupakan perangkat formal karena tidak didasarkan pada peraturan perundingan kerja yang dinegosiasikan antara kedua belah pihak secara independen mewakili kepentingan pengusaha dan karyawan. Oleh karena itu, sistem ini didasarkan pada asumsi
33 Lü Xiaobo, and Perry Elizabeth J, “Danwei : The Changing Chinese Workplace in
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 20 berkelanjutan tentang kepentingan persatuan antara perusahaan, yang dimiliki secara tradisional oleh seluruh orang, dan para pekerja, perusahaan, dinyatakan dalam komitmen bersama terhadap kepatuhan terhadap norma-‐ norma hukum.
4. Di negara China, konflik dihindari sebagai usaha dalam menjaga hubungan yang harmonis.
Chang (2009) menyatakan, Titik balik hubungan industrial terjadi pada awal tahun 2000an ketika kepemimpinan baru Hu Jintao menggeser prioritas kebijakan Partai-‐Negara Bagian. Di bawah slogan-‐slogan menyeluruh tentang 'membangun masyarakat yang harmonis' dan 'pembangunan yang berpusat pada orang-‐orang', kepemimpinan politik yang baru menetapkan tujuan ambisius untuk mengarahkan strategi pembangunan ekonomi dan sosial China. Dalam konteks inilah Partai-‐Negara menemukan nilai baru serikat pekerja sebagai pilar utama manajemen sosial dalam menstabilkan 'hubungan sosial inti', yaitu hubungan perburuhan. Partai-‐Negara menyadari bahwa serikat pekerja harus dapat berfungsi sebagai 'pelindung' dalam parameter yang ditetapkan oleh Negara. Pelembagaan praktik hubungan industrial baru seperti perundingan bersama dan konsultasi tripartit mendapat perhatian baru karena tidak hanya dilihat sebagai katup pengaman sosial, tetapi juga sebagai mekanisme ekonomi untuk mengurangi kesenjangan yang dihasilkan oleh kekuatan pasar yang tidak terkendali. Serikat pekerja dan pekerjaan membangun institusi hubungan
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 21 industrial yang menjadi bagian penting dari Partai Negara dengan strategi “preemtif korporatis” yang bertujuan untuk mencegah konflik sosial dengan memperluas wilayah persatuan monopoli dan memasukkan pekerja ke dalam sistem hubungan industrial yang resmi.
Kai Chang (2015) pun menambahkan bahwa Penyesuaian kerja dan strategi ACFTU terutama terkait dengan isu-‐isu mengenai bagaimana serikat pekerja dapat mewakili massa pekerja, dan bagaimana menyusun standar kontrak kolektif dan membuatnya
valid. Di samping itu Zhu dan Warner (2000)34
menambahkan bahwa istilah 'ekonomi pasar sosialis dengan karakteristik China' menjadi slogan campuran yang memberikan legitimasi bagi kontrol politik Partai
Komunis (mempertahankan identitas 'sosialis'),
menciptakan kesempatan untuk mengenalkan
mekanisme pasar untuk pembangunan ekonomi, di saat yang bersamaan memungkinkan nilai-‐nilai tradisional seperti Konfusianisme untuk mengisi kekosongan ideologis dan menolak untuk 'kebarat-‐baratan'.
Kai Chang (2015) mengatakan bahwa Pemerintah China melihat bahwa sistem hubungan industrial tidak hanya sebagai alat untuk mengatur hubungan kerja, namun lebih mendasar yaitu sebagai sarana menjaga stabilitas sosial dalam periode perubahan sosial dan ekonomi yang cepat. Di samping itu, serikat pekerja
34 Warner M, and Y. Zhu, “An emerging model of employment relations in China : A
divergent path from the Japanese?”, Working paper 12/2000, the Judge Institute of
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 22 harus dapat berfungsi sebagai 'pelindung' pekerja, tidak hanya sebagai mitra bawahan pemerintah dalam parameter yang ditetapkan oleh Negara. Strategi pembangunan ekonomi dan sosial China menuju
pembangunan yang lebih seimbang dengan
menyeimbangkan pembangunan pedesaan dan
perkotaan melalui dukungan untuk pembangunan
pedesaan, pembangunan berkelanjutan melalui
perlindungan lingkungan yang lebih baik, keseimbangan antara ekspor dan pengembangan sektor dalam negeri, dan keseimbangan antara efisiensi ekonomi dan keadilan sosial, tetapi juga sebagai mekanisme ekonomi untuk mengurangi kesenjangan yang dihasilkan oleh kekuatan pasar yang tidak terkendali.
Peralihan menuju hubungan kerja kolektif mengacu pada sistem hubungan kerja individu dan
penyesuaiannya tidak lagi memadai untuk
menyelesaikan konflik perburuhan dan menjaga stabilitas hubungan kerja di negara China. Kai Chang (2015) memaparkan bahwa kekuatan pendorong utama untuk transisi menuju hubungan kerja kolektif sebagian besar berasal dari tuntutan hak perlindungan diri dari para pekerja. Hubungan kerja kolektif mengacu pada hubungan sosial yang terbentuk antara pekerja sebagai kelompok atau partai (biasanya diwakili oleh serikat pekerja) dan pengusaha atau organisasi pengusaha dalam proses negosiasi kondisi ketenagakerjaan, standar ketenagakerjaan dan terkait urusan ketenagakerjaan lainnya. Penerapan hubungan yang mengarahkan kepada stabilitas dan menjaga keharmonisan dalam
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 23 hubungan industrial akan terus diperkuat atau diterapkan negara China.
Bagaimana Konsep dan Penerapannya di Kedua Negara?
Berdasarkan Sejarah Hubungan Industrial dan penerapannya di kedua Negara, Indonesia dan China memiliki kesamaan konsep bahwa Hubungan Industrial didasarkan pada keadilan dan keharmonisan baik baik pengusaha maupun pekerja. Negara Indonesia menganut Hubungan Industrial Pancasila (HIP) dengan memberi tekanan pada kemitraan antara pekerja,
pengusaha, dan pemerintah yang bertujuan
mewujudkan masyarakat industrial yang ideal yang terkandung dalam Pancasila sebagai dasar negara. Dalam sejarah Hubungan Industrial di Indonesia dibagi menjadi tiga periode perubahan, terlihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Sejarah Hubungan Industrial Indonesia Periode
pertama
Tahun 1908 mulai terbentuk serikat pekerja yang dan dipraktekan Hubungan Industrial yang pihaknya adalah para pekerja Indonesia dan pengusaha Belanda. Pada tahun 1947 mulai lagi timbul polarisasi dalam Hubungan Industrial dengan terbentuknya serikat buruh SOBSI yang secara nyata-‐nyata berorientasi kepada komunisme, dimana pada tahun 1948 SOBSI bersama-‐sama
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 24
dengan PKI terlibat dalam
pemberontakan Madiun.
Periode
kedua Setelah penyerahan kedalutan dengan sistem serikat pekerja yang pluralistis maka sistem Hubungan Industrial baik yang berdasarkan liberalisme maupun Marxisme berkembang pesat dipelopori oleh serikat pekerjanya masing-‐masing. Praktek-‐praktek Hubungan Industrial yang bersifat antagonis dan konforntatif makin menonjol.
Periode
ketiga Setelah pemberontakan G30 dapat ditumpas dan lahirlah pemerintahan Orde Baru yang bertekad ingin melaksanakan Pancasila dan Undang-‐ Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen.
Peralihan menuju hubungan kerja kolektif di Negara China mengacu pada hubungan sosial yang terbentuk antara pekerja sebagai kelompok atau serikat pekerja dan pengusaha atau organisasi pengusaha. Penerapan hubungan yang mengarahkan kepada stabilitas dan menjaga keharmonisan dalam hubungan industrial akan terus diperkuat atau diterapkan negara China. Perubahan Hubungan Industrial di China dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2. Sejarah Hubungan Industrial China
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 25 Gerakan buruh sebagai pondasi dan landasan sosial PKC, sebagian besar pemimpin awal PKC telah memimpin dan berpartisipasi dalam gerakan pekerja
Tahun 1925 All China Federation of Trade Unions
(ACFTU) dibentuk dan bertindak sebagai bagian dari administrasi ketenagakerjaan untuk berkoordinasi dengan Negara dalam mengawasi angkatan kerja.
Tahun 1950 Masa transisi China menuju sosialisme. Tahun 1994 Pemerintah China mengeluarkan Undang-‐
Undang ketenagakerjaan baru untuk menciptakan sistem hubungan industrial baru di China yang menjelaskan hubungan antara pengusaha dan pekerja di perusahaan. UU tersebut melembagakan "pasar tenaga kerja" yang muncul dengan mengesahkan kontrak individu (geren hetong) dan kesepakatan bersama (jiti hetong) sebuah langkah ke arah tawar menawar kolektif.
Tahun
2000-‐an Pengembangan hubungan industrial di China dapat digambarkan sebagai usaha bersama untuk korporatisme preemptif oleh partai negara dan ACFTU dengan bertujuan untuk mencegah konflik sosial dengan memperluas wilayah persatuan monopoli dan memasukkan pekerja ke dalam sistem hubungan industrial yang resmi.. Kepemimpinan baru Hu Jintao
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 26 menggeser prioritas kebijakan Partai-‐
Negara, dengan slogan-‐slogan
menyeluruh tentang 'membangun
masyarakat yang harmonis' dan
'pembangunan yang berpusat pada orang-‐ orang', kepemimpinan politik yang baru menetapkan tujuan ambisius untuk mengarahkan strategi pembangunan ekonomi dan sosial China menuju pembangunan yang lebih seimbang:
menyeimbangkan pembangunan
pedesaan dan perkotaan melalui
dukungan untuk pembangunan pedesaan, pembangunan berkelanjutan melalui perlindungan lingkungan yang lebih baik,
keseimbangan antara ekspor dan
pengembangan sektor dalam negeri, dan keseimbangan antara efisiensi ekonomi dan keadilan sosial. Hal ini menjadi peralihan menuju hubungan kerja kolektif yang terjadi di Negara China.
Perubahan Hubungan Industrial yang terjadi di Negara Indonesia dan China tentu memiliki keunggulan masing-‐masing dalam penerapannya, berikut ini akan disajikan dalam bentul tabel terkait Perbandingan Hubungan Industrial kedua Negara.
Tabel 3. Perbandingan Hubungan Industrial Indonesia dan China
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 27 Indonesia China Hubungan Industrial yang diterapkan Hubungan Industrial Pancasila.
HIP sebagai suatu sistem
hubungan yang
terbentuk antara para pelaku dalam proses produksi barang dan jasa (pekerja, pengusaha, dan
pemerintah) yang
didasarkan atas nilai-‐nilai
yang merupakan
manisfestasi dari
keseluruhan sila-‐sila
Pancasila dan UUD 1945,
yang tumbuh dan
berkembang di atas kepribadian bangsa dan
kebudayaan nasional
Indonesia.
Hubungan Industrial
Kolektif.
Hubungan kerja kolektif mengacu pada hubungan sosial yang terbentuk antara pekerja sebagai kelompok atau partai (biasanya diwakili oleh serikat pekerja) dan
pengusaha atau
organisasi pengusaha
dalam proses negosiasi kondisi ketenagakerjaan, standar ketenagakerjaan
dan terkait urusan
ketenagakerjaan lainnya.
Latar belakang Instrumen kontrol
negara sekaligus sarana
penyeimbang aspirasi
negara-‐negara kreditor
yang meminta agar
pemerintahan bersikap responsif-‐akomodatif
terhadap tuntutan
buruh.
Kekuatan pendorong
utama dalam transisi menuju hubungan kerja kolektif sebagian besar berasal dari tuntutan hak perlindungan diri dari para pekerja.
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 28 mewujudkan masyarakat
industri yang ideal yang
disusun berdasarkan
pertimbangan sosial
budaya dan nilai-‐nilai tradisional Indonesia.
Industrial kolektif
mengarahkan kepada
stabilitas serta menjaga
keharmonisan dalam
hubungan industrial
Manfaat Menciptakan industrial
peace yang tidak semu, serta bagi pemerintah
Indonesia akan
mengurangi tingginya
angka pengangguran,
terciptanya lapangan
kerja yang semakin luas, meningkatnya produktivitas perusahaan, meningkatnya kesejahteraan pekerja, meningkatnya investasi
di Indonesia dan
meningkatkan
pertumbuhan ekonomi negara Indonesia.
Strategi pembangunan ekonomi dan sosial China menuju pembangunan yang lebih seimbang dengan
menyeimbangkan
pembangunan pedesaan dan perkotaan melalui
dukungan untuk
pembangunan pedesaan, pembangunan
berkelanjutan melalui
perlindungan lingkungan
yang lebih baik,
keseimbangan antara
ekspor dan
pengembangan sektor
dalam negeri, dan
keseimbangan antara
efisiensi ekonomi dan keadilan sosial, tetapi juga sebagai mekanisme
ekonomi untuk
Pancasila Di Indonesia Dan Kolektif Di Cina 29 yang dihasilkan oleh kekuatan pasar yang tidak terkendali.
Keunggulan
Hubungan Indonesia berlandaskan Industrial
Sila-‐Sila Pancasila. 1. Sila pertama sebagai
landasan spiritual
hubungan industrial,
dalam bekerja
manusia tidak hanya mencari nafkah tetapi
mengabdi kepada
Tuhan, sesama
manusia, masyarakat,
dan bangsa dan
negara;
2. Sila kedua sebagai landasan kemanusiaan dengan menganggap pekerja bukan sekedar faktor produksi tetapi
sebagai mitra
perusahaan, manusia pribadi dengan segala
harkat dan
martabatnya;
3. Sila ketiga sebagai dasar kesatuan yang diterapkan
Keunggulan Hubungan
Industrial Kolektif
dengan Karakteristik
China. Istilah 'ekonomi pasar sosialis dengan
karakteristik China'
menjadi slogan
campuran yang
memberikan legitimasi bagi kontrol politik Partai Komunis (mempertahankan identitas 'sosialis'), menciptakan kesempatan untuk mengenalkan
mekanisme pasar untuk pembangunan ekonomi, di Saat yang sama memungkinkan nilai-‐nilai
tradisional seperti
Konfusianisme untuk
mengisi kekosongan
ideologis dan menolak untuk 'kebarat-‐baratan'.
Dengan demikian