DAN AUSTRALIA
2. PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRI
Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 46
2. PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRI
Undang-‐Undang No. 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial mengatur penyelesaian perselisishan hubungan industrial di luar pengadilan maupun di dalam pengadilan Hubungan Industrial. Penyelesaian perselisihan hubungan Industrial di luar pengadilan merupakan penyelesaian wajib yang harus ditempuh para pihak sebelum para pihak menempuh penyelesaian melalui pengadilan hubungan industrial. Penyelesaian perselisihan di luar pengadilan mengutamakan musyawarah untuk mufakat. UU No. 2 Tahun 2004, menetapkan 4 (empat) jenis perselisihan, yaitu perselisihan hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam 1 (satu) perusahaan.
ILO (2006) mengatakan bahwa setiap
perselisihan yang terjadi di suatu perusahaan, wajib diselesaikan secara bipartite antara pengusaha dengan pekerja/buruh dana tau dengan serikat pekerja/serikat buruh. Bila upaya penyelesaian secara bipartite tidak berhasil, maka salah satu atau kedua pihak yang berselisih mencatat kasus perselisihannya kepada Instansi yang bertanggung jawab di bidang Ketenagakerjaan setempat dilengkapi dnegan bukti-‐ bukti upaya penyelesaian secara bipartite yang telah dilakukan.
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 47
Instansi yang bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan, provinsi atau kabupaten/kota, setelah meneliti berkas perselisihan, bila perselisihan berkaitan dengan perselisihan hak maka perselisihan tersebut dilimpahkan kepada mediator untuk segera melakukan mediasi. Perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat ekerja/serikat buruh dalam 1(satu) perusahaan,
Instansi yang bertanggungjawab di bidang
ketenagakerjaan menawarkan kepada kedua belah pihak dalam waktu 7(tujuh) hari kerja tidak sepakat memilih Arbiter atau Konsiliator, maka Instansi yang
ebrtnaggungjawab di bidang ketenagakerjaan
melimpahkan penyelesaian kasusnya untuk ditangai oleh mediator. Demikian juga untuk menyelesaikan perselisihan pemutusan hubungan kerja (PHK), instansi yang bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan menawarkan kepada pihak yang berselisih utuk menggunkan penyelesaian konsiliator dan bisa salah satu pihak menolak tawaran tersebut, instansi yang bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan secara otomatis melimpahkan berkas perselisihan PHK kepada mediator.
Arbitrasi di Indonesia
Yunarko (2011) menjelaskan bahwa wilayah kerja arbitrase hubungan industrial dalam hal penyelesaian perselisihan hubungan industrial meliputi semua wilayah di negara Indonesia. Dasar legal proses Arbitrase di Indonesia dampai tahun 1999 adalah aticle 615 sampai 651 dari Reglemen op de Burgerlijke Rechtsvordering
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 48 (Stb-‐1847), Article 377 of the Het Herziene Indonesisch Reglement (Stb-‐1941) and Article 705 of the Rechtsreglement Buitengewesten (Stb-‐1927) (“Old Arbitration Law”). Hadiprutanto, et.al. (2011) menjelaskan bahwa hukum Arbitrasilama ini tidak cukup komprehensif dengan arbitrase dalam berbagai isu
perselisihan, sehingga seringkali mencapai
ketidakpastian legal. Hal ini membuat hukum arbitrase lama ditinggalkan oleh departemen social dan saat ini dikembangkan pada departemen bisnis modern. Pada tanggal 12 Agustus 1999, Pemerintah Indonesia mengumumkan hukum no. 30 tahun 1999, mengenai Arbitrase dan Resolusi alternative perselisihan (hukum arbitrase baru).
Arbitrase juga memiliki batasan mengenai pekerja yang dapat diselesaikan yang dijelaskan dalam Undang-‐Undnag Nomor 2 Tahun 2004. Undang-‐Undang Nomor 2 Tahun 2004 secara spsifik merinci kompetensi arbitrase hubungan industrial yang hanya berwenang menyelesaikan perselisihan hubungan industrial. Pertama, perselisihan kepentingan, yang di dalam UU No. 2 Tahun 2004 didefinisikan sebagai perselisihan yang timbul dalam hubungan kerja karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pembuatan dan/atau perubahan syarat-‐syarat kerja yang ditetapkan dalam perjanjian kerja bersama. Kedua, perselisihan antar serikat pekerja/Serikat Buruh, yang di dalam UU No. 2 Tahun 2004 didefinisikan sebagai perselisihan antar
serikat pekerja/serikat buruh dengan serikat
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 49 akrena tidak adanya kesesuaian paham mengenai keanggotaan, pelaksanaan hak dan kewajiban keserikat pekerjaan.
Yunarko (2011) menjelaskan bahwa penyelesaian perselisihan hubungan industrial harus dilakukan melalui kesepakatan tertulis dari para pihak yang berselisih untuk menyerahkan penyelesaian perselisihannya serta putusannya agar mengikat para pihak dan bersifat final. UU No. 2 Tahun 2004 Pasal 32 ayat (3) mensyaratkan bahwa penyelesaian perselisihan melalui arbitrase dilakukan atas dasar kesepakatan para pihak yang bersellisih dan dinyatakan secara tertulis dalam surat perjanjian arbitrase. Arbiter wajib menyelesaikan perselisihan hubungan industrial dalam waktu selambat-‐ lambatnya 30 hari kerja sejak penandatangan surat perjanjian penunjukkan arbiter. Aturan ini diatur dalam UU No. 30 Tahun 1999. Pada aturan tersebut, proses arbitrase harus diselesaikan dalam waktu 180 hari dengan konstitusi pengadilan. Terdapat keunggulan dari aturan ini aitu hukum arbitrase memberikan beberapa tingatakn kerahasiaan dan membiarkan pihak tersebut untuk memilih tingkatan mana saja dalam memprokteksi perselisihannya sesuai yang diinginkan. Sedangkan kekurangan dari arbitrase ini adalh biaya. Pengadilan di Indonesia terbilang cukup mahal dibangdingkan dengan yurisdiksi hukum biasanya, dimana hasilnya arbitrase akan memakan biaya yang banyak.
Hukum Arbitrase Indonesia mengambil sudut pandang teritori dari sifat arbitrase maksudnya adalah keseluruhan arbitrase yang dilakukan di Indoesia ini
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 50 dianggap domestic. Sedangkan yang dilakukan diluar Nusantara dianggap ‘Internasional’, terlepas dari
kewarganegaraan pihak-‐pihak tersebut, hukum
pemerintah atau lokasi dimana perselisihan terjadi. Indonesia memiliki beberapa institusi arbital, institusi yang paling tua dan umum yaitu Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI), dimana mengadili berbagai kasus setiap tahunnya. Ada juga institusi dengan spesifik industry yang lebih sedikit mengadili. Ad hoc dan ICC juga umum melakukan arbitrase. Arbitrase hanya menangani perselisihan komersil sesuai dengan article 5(i). Kasus yang umunya terjadi yang melibatkan arbitrase yaitu asuransi, pemecatan dan lain-‐lain. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, praktik arbitrase sendiri di Indonesia ini dimulai oleh Indonesian Chamber of Commerce and Industry (Kamar Dagang dan Industri Indonesia – “KADIN”) kemudian pada tanggal 3 Desember 1977 BANI dibentuk.
Yunarko (2011) menjelaskan bahwa walaupun terdapat keterbatasan waktu dalam menyelesaikan arbitrase di Indonesia, terkadang batasan tersebut bisa berubah. Namun apabila berubah atau dapat diperpanjang, harus terdapat batasan waktu yang diberikan dan biasanya di Indonesia arbitrase akan selesai kurang dari satu tahun. Hukum arbitrase tidak mengkriteriakan apakah orang asing bisa menjadi arbitrator atauh tidak, hanya terdapat aturan mengenai umur, pengalaman dan indepedensi dari pengadilan atau pemerintah. BANI membatasi arbitratornya dari panel yang terdaftar sudah termasuk sejumlah arbitrator
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 51 asing-‐nasional. Sampai saat ini arbiter asing masih belum diwajibkan untuk memiliki izin kerja di Indonesia. Selama mereka tidak berada di Indonesia lebih dari 60 hari maka mereka tidak akan menjadi suyek pajak. Tidak ada larangan bagi orang asing yang bertindak sebagai arbitrator di Indonesia.
Sebagai aturan umum, pengadilan Indonesia akan menerapkan hukum Indonesia dimana tidak ada yang ditunjuk dan kecuali terdapat indikasi kuat bahwa hukum lainnya harus diatur, arbitrator juga akan menerapkan hukum Indonesia dimana terdapat hubungan Indonesia yang signifikan, khususnya jika perselisihan berhubungan dengan proyek atau bisnis di Indonesia. Hukum Arbitrase menjelaskan bahwa seluruh pemeriksaan tertutup dari public. Indonesia sendiri tidak memiliki hukum terhadap privasi, sehingga pihak yang terkait perlu menjaga kerahasiaan dari setiap informasi atau dokumen yang perlu disepakati.
Kesepakatan arbitrase dapat menentukan peraturan arbitrase yang akan digunakan dalam persidangan. Pihak terkait dalam perselisihan bisa menentukan tempat dimana kesepakatan arbitrase dibuat. Apabila pihak terkait tidak menentukan aturan arbitrase maka perselisihannya akan diawasi menurut aturan baru dari hukum arbitrase yang baru. Setiap tindakan dalam arbitrase harus dituliskan, kecuali verbal diperbolehkan.
Pada hukum arbitrase baru dalam arbitrase domestik, hasil dari juri arbitrase merupakan hasil akhir dan sebelumnya diharapkan tidak ada naik banding
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 52 terhadap hasil tersebut. Arbitrator atau perwakilannya harus mendaftarkan hasil tersebut kepada pengadilan daerah yang terkait. Apabila pihak yang kalah menolak untuk menerima hasil, maka pihak yang menang bisa meminta kepada kepala pengadilan daerah dimana hasil tersebut terdaftarkan untuk diinstruksikan pelaksanaan hasil. Sebagai proses dari instruksi tersebut, kepala pengadilan daerah harus meninjau kemali kesepakatan arbitrase, kemudian memutuskan apakah perselisihan tersebut merupakan isu komersil dan memutuskan apakah hasilnya itu kontra dengan etika dan ketertiban umum.
Pada hukum arbitrase baru menjelaskan arbitrase internasional sebagai pelaksanaan hasil setelah kepala dari pengadilan daerah Jakarta Pusat telah mengeouarkan surat perintah untuk dieksekusi. Penyelesaian perselisihan dalam lingkup internsional melibatkan Indonesia sebagai pihak yang terkait harus mendapatkan surat eksekusi yang telah disetujui oleh Mahkamah Agung. Bagaimanapun, apabila terjadi penolakan maka bisa melakukan pengajuan kembali kepada Mahkamah Agung dengan waktu 90 hari untuk keputusannya. Hal initerjadi karena Indonesia merupakan salah satu negara yang menandatangani New York Convention.
Arbitrase di Australia
Bray & Stewart (2013a) Sistem yang telah mendominasi hukum federal labour di Australia selama abad ke-‐20 menempatkan penekanan yang berat pada
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 53 peraturan yang didelegasikan. The Conciliaion and Arbitration Act 1904 (Cth) dan perubahannya, the Industrial Relation Act 1988 (Cth), sesungguhnya berdasarkan pada kekuatan Commonwealth dibawah Konstitusi s 51 (xxxv) untuk melegilasikan konsiliasi dan arbitrase dari perselisihan industry yang melampaui satu keadaan. Pengadilan legilasi yang berwenang seperti the Court of Conciliation and Arbitration dan pengganti akhirnya, the Australian Industrial Relations Commission
(AIRC), untuk mencegah atau menyelesaikan
perselisihan dengan membuat penghargaan yang menetapkan upan dan kondisi pekerjaan lainnya bagi industry, pekerja atau perusahaan pilihan. Bray & Stewart (2013a) Penentuan Undang-‐Undang secara langsung untuk standar pekerja sangat jarang, dimana membuat kesepakatan secara kolektif dan individu telah disetujui, naming bentuk dan kontennya sangat terpengaruh oleh pengadilan. Bray & Stewart (2013b) menjelaskan bahwa unilateralisme manajerial melebur dan memudar sesuai dengan lingkup peraturan yang didelegasikan, ditentukan dengan mengubah ketentuan legislative dan keputusan pengadilan.
Committee of Review into Australian Industrial Relations Law and Systems, Report (1985) menjelaskan bahwa sistem konsiliasi dan arbitrase memiliki implikasi yang signifikan terhadap suara pekerja, itu hak istimewa serikat pekerja dan khususnya serikat kerja yang teregistrasi sebagai sebuah mekanisme untuk pengumpulan suara. Frazer (1995) mengatakan bahwa sistem pengadilan tidak akan bisa beroperasi tanpa
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 54 serikat pekerja dan asosiasi pekerja yang mewakili konstituennya. Tahun 1984 merupakan tahun dimana terbentuknya Commercial Arbitration Acts yang memberikan ruang lingkup yang luas pada intervensi yudisial dalam proses arbitrase.
The Workplace Relations Act, 1996 mengatur fungsi dari Australian Industrial Relations Commission dibawah part VI (Dispute Prevention and Settlement). Salah satu peran utama komisis adalah untuk berusaha membantu pekerja dan perusahaan mencapai suatu kesepakatan mengenai adanya ketidakadilan. Komisis akan berusaha keras agar ada kesepakatan tersebut dengan melakukan konsiliasi. Apabila konsiliasi tidak berhasil maka perselisihan tersebut akan diselesaikan dengan arbitrase. Patmore (2006) menjelaskan bahwa sistem dari arbitrase Australia akan diwakili oleh serikat pekerja.
Sub divisi B dari Div 3 Part VIA dalam the Workplace Relations Act, 1996 memberdayakan the Australian Industrial Reltions Commission untuk melakukan arbitrase dimana adanya perlakukan yang tidak adil, tidak beralasan atau kasar. Ketika melakukannya, harus dipartikan bahwa “fair go all” bagi pekerja maupun perusahaan. Chelliah & D’Netto (2006) mengatakan bahwa arbitrase merupakan sebauh prses pengambilan kepuutsan dimana Komisioner akan mempertimbangkan pendapat dan bukti yang diberikan oleh setiap pihak dan pengambilan keputusan dikenal dengan perintah atau keputusan juri.
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 55
Re Carus-‐Wilson & Greene (1886) menjelaskan bahwa esensi dari arbitrase adalah untuk mengadakan penyelidikan dalam penyelidikan yudisial dan menghormati kasus dari masing-‐masing pihak dan
memutuskan buktiyang ada. Hayward (2016)
menjelaskan bahwa dalam arbitrase modern, arbitrator yang memutuskan setiap kasus sesuai dengan hukum yang berlaku. Hal tersebut terjadi pada beberapa kasus saja, dimana beberapa pihak bersepakat untuk melakukan arbitrase. The Commercial Arbitration Act 2011 (Vic) merupakan procedural hukum yang perlu dilakukan dalam arbitrase. Penetapan ini memberikan fondasi bagi arbitrase di Austalia karena memberikan dasar legal untuk arbitrase. Penetapan ini juga mengatur seluruh prosedur mengenai bagaimana arbitrase dilakukan. Terdapat dua legislative yang mengatur arbitrase ini, Commenwealth Act mengatur mengenai commercial arbitration, sedangkan the State and Territory Acts mengatur mengenai arbitrase domestic. Aplikasi keduanya sebenarnya hampir sama. Apabila arbitrase tersebut dilakukan untuk international commercial arbitration, maka hanya the Internationa Arbitration Act 1974 (Cth) yang bisa dijadikan dasar. Sedangkan apabila terdapat kasus arbitrase domestic maka yang relevan dengan kasus tersebut bisa menggunakan State atau Territory legislation, seperti Commercial Abritation Act 2011 (Vic).
Walaupun demikian, keduanya ini berdasarkan dari model praktik yang sama. Terdapat versi 2006 dari the Model Law yang merupakan dasar bagi the
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 56 international commercial arbitration yang dibawahi the International Commercial Arbitration Act 1974 (Cth). Versi Model Law tahun 2006 ini juga disesuaikan dengan arbitrase domestic, sebagai dasar bentuk dari the uniform State and Territory domestic commercial arbitration Acts.
The International Arbitration Act 1974 (Cth) terkait dengan the Model Law pada schedule 2. Binder (2010) mengatakan bahwa The Model Law pada
International Commercial Arbitration merupkan
‘prototype’ yang efektif dibandingkan dengan konvensi internasional negara lain. Model law ini bisa diadopsikan di negara lain sebaga legislasi arbitrase negara itu sendiri. Selain Model Law, Australia juga mengimplementasikan New York Convention untuk arbitrase internasional. Pihak terkait diperbolehkan untuk mengecualikan hukum ini dan sehingga menjadi subyek dari Commercial Arbitration Act of the State atau territory dimana international commercial arbitration diadakan.
Hayward (2016) mengatakan bahwa terdapat dua batasan bahwa arbitrase harus internasional dan komersil. Pada Art 1(1), Model Law, n.2 menjelaskan bahwa arbitrase harus komersil dimana arbitrase diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul dari seluruh kegiatan yang komersil, secara kontrak atau tidak. Sedangkan untuk penjelsan arbitrase haus internasional dijelaskan pada Art 1(3) Model law, terdapat empat kategori, yaitu:
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 57
1. Ketika pihak-‐pihak yang terkait dengan kesepakatan arbitase memiliki bisnis di berbagai negara.
2. Tempat arbitrase dilaksanakan diluar negara dimana pihak yang melakukan arbitrase melakukan bisnisnya.
3. Beberapa bagian substansial dari
hubungan obligasi atau tempat dimana
permasalahan perselisishan terjadi
berhubungan dimana kerjadian tersebut berada di negara luar bisnis itu dijalankan.
4. Setiap pihak menyetujui bahwa subyek permasalahan yang terjadi berhubungan lebih dari satu negara.
Pencapaian eksklusid dari the International Arbitration Act 1974 (Cth) untuk international commercial arbitration kemudian dikonfirmasi oleh s 21(1) of the Act.
Pada bagian ini akan menjelaskan mengenai domestic arbitrase dimana diatur dalam State dan Territory. Pada arbitrase domestic ini dimaksudkan
bahwa setiap arbitrase komersil tidak
mempertimbangkan model law secara internasional. The commercial arbitration Act 2011 (Vic) s 1(1) menjelaskan bahwa Act pada domestic arbitrase komersil dan s 1(3) menjelaskan bahwa apa yang dimaksud dengan domestic arbitrase komersil merupakan arbitrase dimana pihak-‐pihak tersebut memilii bisnis di Australia dan arbitrase tersebut bukan th e International
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 58 Arbitration Act 1974. Salah satu prosedur dari arbitrase ini adalah otonomi dari pihak tersebut, setiap pihak memiliki haknya untuk memutuskan bagaimana menyelesaikan permasalahannya.
Hayward (2016) menjelaskan bahwa aturan arbitrase merupakan aturan procedural untuk dilakukannya arbitrase. Aturan arbitrase dapat dikembangkan menjadi arbitrase ad hoc, dimana tidak adanya institusi yang mengawasi. Aturan arbitrase bisa juga dikembangkan oleh institusi arbitrase, tie ini dikenal degan institusional arbitrase. Di Australia terdapat dua institusi, pertama arbitrase bida dilakukan dengan the Resolution Institue. Wadah dari the Resolution Institut ini dikenal dengan LEADR dan IAMA (the Institur of Arbitrators and Mediators Australia). IAMA telah mengembangkan the IAMA Arbitratioan Rules 2014 dan telah digunakan oleh the Resolution Institue samapai saat ini. Selanjutnya, Australia memiliki Australian Centre for International Commercial Arbitration atau ACICA. ACICA dibentuk pada tahun 1985 dengan tujuan untuk memfasilitasi arbotrase internasional di Australia, khususnya Sydney. Arbitrase di ACICA ini akan berdasarkan dengan ACICA Arbitration Rules 2016 dan juga fast-‐track arbitrase degan ACICA Expedited Arbitration Rules 2016. Tidak hanya kedua institusi ini saja yang bisa menyelesaikan permasalahan di Australia, Institusi asing pun bisa melakukannya.
Pengadilan memiliki peranan penting dalam mengawasi berjalannya arbitrase secara yurisdiksi. Secara langsung, pengadilan juga memiliki fungsi-‐fungsi
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 59 yang bisa mendukung proses arbitrat, sebagai legislasi arbitrase. Selain itu juga pengadilan memiliki peranan dalam penjurian arbital, pengadilan akan memiliki perannya saat mengawasi penjurian dengan adanya aplikasi pembatalan.
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 60
3. PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL
Perselisihan hubungan Industri seringkali terjadi dalam setiap negara, hal ini telah dijelaskan seblumnya dalam latar belakang. Indonesia dan Australia memiliki perselisihan hubungan industry yang sampai saat ini masih saja menjadi suatu permasalahan. Hal ini tidak menutup kemungkinan bagi setiap pihak yang berhubung dengan perselisihan untuk menyelesaikan perselisihan tersebut. Pada penelitian ini khususnya, difokuskan pada penyelesaian perselisihan melalui Arbitrase. Penyelesaian perselisihan ini akan dilihat dari dua negara, yaitu Indonesia dan Australia. Terdapat berbagai persamaan maupun perbedaan pelaksanaan arbitrase dari kedua negara ini.
Beriktu ini akan dijabarkan mengenai persamaan dari pelaksanaan Arbitrase dari kedua negara, yaitu Indonesia dan Australia mengimplementasikan New York Convention dalam aturan Arbitraseny dan Pengadilan memiliki peranan penting dalam mengawasi berjalannya arbitrase. Terdapat dua bagian yang menurut penulis hemat memiliki kesamaan. Kemudian berikut ini akan dijelaskan mengenai perbedaan dari pelaksanaan Arbitrase dari kedua negara.
Tabel 1
Pelaksanaan Arbitrase di Indonesia dan Australia
Indonesia Australia
Institusi: