DI INDONESIA DAN DI INGGRIS
3.2 Penyelesaian Perselisihan Secara Bipartit
153 yang memang tidak memberikan batas yang jelas atau karena adanya perbedaan penilaian atas fakta hukum, yang pada akhirnya hak salah satu pihak tidak terpenuhi.
b. Perselisihan Kepentingan ;
Perselisihan Kepentingan adalah perselisihanyang timbul karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai perbuatan dan atau perubahan syarat-‐syarat kerja yang ditetapkan dalam perjanjian kerja atau perjanjian kerja bersama, atau terhadap hal-‐hal yang belum diatur dalam aturan perundang-‐undangan, perjanjian kerja bersama atau peraturan perusahaan, sehingga perselisihan ini disebut yang disebut tidak normatif.
c. Perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja ;
Perselisihan ini adalah terjadi karena adanya pemutusan hubungan kerja, yang pada umumnya perselisihan ini timbul akibat adanya perbedaan pendpat, tentang sah tidaknya pemutusan hubungan kerja dan atau besaran jumlah pesangon.
d. Perselisihan antara serikat pekerja atau serikat buruh dalam suatu perusahaan yang sama ;
Perselisihan ini terjadi disebabkan oleh karena adanya lebih dari satu serikat pekerja dalam suatu perusahaan, yang tentunya adanya perbedaan kepentingan dari serikat pekerja tersebut, terhadap perusahaan yang menyebabkan adanya perselisihan.
Studi Perbandingan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Di Indonesia Dan Di Inggris
154 Penyelesaian Perselisihan hubungan industrial secara bipartit dimaksudkan untuk mencari jalan keluar atas perselisihan dengan cara musyawarah dan mufakat secara internal antara pekerja dengan pengusaha, tanpa melibatkan pihak ketiga. Upaya melalui jalan bipartit ini, adalah merupakan upaya yang wajib ditempuh lebih dahulu melalui proses peradilan hubungan industrial. Kewajiban melalui proses bipartit tersebut, adalah terhadap semua jenis perselisihan hubungan industrial, dan tanpa melakukan upaya bipartit lebih dahulu, proses mediasi, proses konsiliasi, arbitrase maupun pengadilan, adalah tidak dapat diterima. Hal ini sesuai dengan apa yang digariskan dalam pasal 3 ayat 1 Undang-‐Undang No. 2 Tahun 2004.
Hasil perundingan secara bipartit tersebut, dituangkan dalam berita acara pertemuan yang memuat catatan atau keterangan hasil perundingan. Apabila bipartit mencapai kesepakatan, maka dibuat perjanjian bersama yang mengikat kedua belah pihak. Selanjutnya perjanjian bersama tersebut didaftarkan kepada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah para pihak mengadakan perjanjian bersama. Dengan
pendaftaran perjanjian bersama termaksud,
mengakibatkan apabila salah satu pihak tidak melaksanakan isi perjanjian bersama, salah satu pihak dapat mengajukan permohonan eksekusi. Dengan demikian hasil kesepakatan dari upaya bipartit yang dituangkan dalam perjanjian bersama dan didaftarkan kepada Pengadilan Hubungan Industrial, yang kemudian mendapat akta pendaftaran, adalah sama dengan
Studi Perbandingan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Di Indonesia Dan Di Inggris
155 Putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, sehingga apabila salah satu pihak ingkar, dapat langsung diajukan permohonan eksekusi. Namun apabila hasil perundingan bipartit tersebut mengalami kegagalan, maka salah satu pihak atau kedua belah pihak mencatatkan perselisihannya kepada instansi yang bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan setempat, dengan dilampiri bukti-‐bukti tentang upaya bipartit itu telah dilakukan. Apabila berkas bukti telah dilakukannya upaya bipartit tidak dilampirkan, maka instansi yang berwenang akan mengembalikan berkas tersebut untuk dilengkapi, paling lambat 7 hari setelah diterimanya pengembalian berkas tersebut. Dengan penerimaan pencatatan yang lengkap, termasuk bukti telah dilakukannya upaya bipartit, maka instansi yang
berwenang dibidang ketenagakerjaan wajib
menawarkan kepada para pihak untuk menyepakati memilih penyelesaian melalui konsiliasi atau arbitrase. Akan tetapi apabila para pihak tidak menentukan pilihan selama 7 hari kerja, maka instansi yang bertanggungjawab dibidang ketenagakerjaan, akan
melimpahkan penyelesaian perselisihan kepada
mediator. Dengan demikian upaya melalui proses mediasi (mediator) menjadi wajib dilakukan apabila terhadap penyelesaian perselisihan melalui proses perundingan bipartit gagal, dan para pihak tidak menentukan pilihan yang disampaikan instansi yang berwenang, untuk melakukan upaya konsiliasi atau arbitrase.
Studi Perbandingan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Di Indonesia Dan Di Inggris
156
Penyelesaian Perselisihan Secara Mediasi
Mediasi adalah merupakan upaya penyelesaian perselisihan hubungan industrial, baik perselisihan kepentingan, perselisihan hak, perselisihan PHK maupun perselisihan antar serikat pekerja dalam satu perusahaan, melalui musyawarah yang ditengahi oleh seorang atau lebih perantara atau mediator yang netral yang terdaftar di instansi ketenagakerjaan. Mediator wajib menyelesaikan tugasnya paling lama 30 hari kerja sejak menerima pendaftaran penyelesaian perselisihan. Bila para pihak tidak memilih arbitrase atau konsiliasi untuk menyelesaikan masalah mereka, maka sebelum mengajukan ke Pengadilan Hubungan Industrial terlebih dahulu harus melalui mediasi. Dalam Undang-‐Undang No. 2 Tahun 2004, disebutkan bahwa mediator adalah pegawai instansi pemerintah yang bertanggungjawab
dibidang ketenagakerjaan. Proses penyelesaian
perselisihan secara mediasi dilakukan oleh mediator, setelah mediator menerima pelimpahan penyelesaian perselisihan dari instansi yang bertanggunjawab dalam
bidang ketenagakerjaan, kemudian melakukan
penelitian dan melakukan sidang mediasi, dengan memanggil saksi atau saksi ahli. Apabila tercapai kesepakatan penyelesaian perselisihan melalui mediasi, maka dibuat perjanjian bersama yang ditandatangani kedua belah pihak dan disaksikan oleh mediator serta didaftarkan pada Pengadilan Hubungan Industrial. Namun apabila tidak ada kesepakatan, maka mediator wajib mengeluarkan anjuran tertulis, yang dalam jangka waktu 10 hari para pihak harus menyampaikan
Studi Perbandingan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Di Indonesia Dan Di Inggris
157 persetujuan atau penolakannya. Bagi pihak yang tidak memberikan pendapat berarti ia menolak anjuran tertulis dari mediator. Apabila anjuran tertulis tersebut telah disepakati, dalam waktu 3 hari kerja, maka mediator harus membantu para pihak membuat perjanjian bersama untuk didaftarkan kepada Pengadilan. Namun apabila anjuran tertulis itu ditolak, maka para pihak dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan dalam wilayah hukumnya Perjanjian Bersama itu dibuat untuk mendapatkan akta pendaftaran, (pasal 13 ayat 1 dan 2 UUPPHI).
Penyelesaian Perselisihan Secara Konsiliasi
Konsiliasi adalah penyelesaian perselisihan kepentingan, perselisihan hak, atau perselisihan antar serikat pekerja hanya dalam satu perusahaan melalui musyawarah yang ditengahi oleh seorang atau lebih konsiliator yang netral yang dipilih atas kesepakatan para pihak. Dan konsiliator tersebut harus terdaftar di instansi tenaga kerja kabupaten/kota.3)3 Konsiliator harus menyelesaikan perselisihan tersebut paling lama 30 hari kerja sejak menerima permintaan penyelesaian perselisihan tersebut. Dalam menyelesaikan sengketa tersebut pada kesempatan pertama konsiliator wajib mendamaikan para pihak. Jika terjadi kesepakatan untuk berdamai, maka dibuatkan Perjanjian Bersama yang kemudian didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial di wilayah hukum dibuatnya perjanjian tersebut. Bila kesepakatan tersebut tidak dijalankan oleh salah satu
Studi Perbandingan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Di Indonesia Dan Di Inggris
158 pihak, pihak yang dirugikan dapat mengajukan permohonan eksekusi di Pengadilan Hubungan Industrial
di tempat pendaftaran Perjanjian Bersama.
Kemungkinan lain, bila konsiliator gagal mendamaikan para pihak, konsiliator mengeluarkan anjuran penyelesaian secara tertulis paling lambat 10 hari kerja sejak sidang konsiliasi pertama. Persetujuan atau penolakan para para pihak terhadap anjuran tersebut harus disampaikan paling lama 10 hari kerja sejak menerima anjuran tertulis dari konsiliator. Anjuran tertulis yang disetujui para pihak diikuti dengan dibuatnya Perjanjian Bersama untuk kemudian didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial di wilayah hukum pihak-‐pihak yang mengadakan Perjanjian Bersama untuk mendapatkan akta bukti pendaftaran. Namun bila anjuran tertulis tersebut ditolak oleh salah satu pihak atau para pihak, salah satu pihak atau para pihak dapat melanjutkan penyelesaian perselisihan ke Pengadilan Hubungan Industrial setempat dengan mengajukan gugatan. Seperti telah disampaikan pada bagian terdahulu, semua jenis perselisihan hubungan industrial wajib dilakukan penyelesaian lebih dahulu melalui proses bipartit, maupun mediasi apabila proses bipartit gagal dan para pihak tidak memilih upaya konsiliasi atau arbitrase. Akan tetapi upaya penyelesaian perselisihan tentang perselisihan hak tidak dapat dilakukan melalui proses ini. Dengan demikian bila terjadi ketidak sepakatan dalam penyelesaian perselisihan hak yang dilakukan melalui proses bipartit, maka para pihak hanya dapat melakukan upaya hukum,
Studi Perbandingan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Di Indonesia Dan Di Inggris
159 yakni mengajukan gugatan kepada Pengadilan Hubungan Industrial.
Dengan demikian dapat kita simpulkan, bahwa upaya konsiliasi ini hanya dapat dilakukan terhadap jenis
perselisihan, yakni perselisihan kepentingan,
perselisihan PHK dan perselisihan antar serikat pekerja. Artinya apabila terjadi perselisihan hak, dan ketika proses bipartit tidak mencapai kata sepakat, maka secara langsung instansi yang bertanggungjawab dibidang ketenagakerjaan, tidak ada hak untuk memberikan pilihan kepada para pihak untuk penyelesaian melalui konsiliasi, akan tetapi langsung melalui cara penyelesaian mediasi. Penyelesaian perselisihan melalui lembaga konsiliasi, dilakukan
setelah para pihak mengajukan permintaan
penyelesaian secara tertulis kepada konsiliator yang ditunjuk dan disepakati oleh kedua belah pihak. Proses acara penyelesaian perselisihan melalui konsiliator dilakukan dengan musyawarah, dengan melakukan proses-‐proses yang tidak beda dengan upaya melalui sidang mediasi.
Studi Perbandingan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Di Indonesia Dan Di Inggris 160 3. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas, penulis mencoba memaparkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Perselisihan Hubungan Industrial adalah perbedaan pendapat yang mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja atau buruh atau serikat pekerja atau serikat buruh, karena adanya perselisihan mengenai hak, perselisihan kepentingan dan perselisihan pemutusan hubungan kerja, serta perselisihan antar serikat pekerja atau serikat buruh dalam satu perusahaan.
Studi Perbandingan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Di Indonesia Dan Di Inggris
161 2. Penyelesaian perselisihan hubungan industrial secara bipartit dimaksudkan untuk mencari jalan keluar atas perselisihan dengan cara musyawarah dan mufakat secara internal antara pekerja atau serikat pekerja dengan pengusaha, tanpa melibatkan pihak ketiga. Upaya melalui jalan bipartit ini, adalah merupakan upaya yang wajib ditempuh lebih dahulu sebelum melakukan upaya pilihan konsiliasi maupun arbitrase ataupun melalui proses perdailan hubungan industrial. Kewajiban melalui proses bipartit tersebut, adalah terhadap semua jenis perselisihan hubungan industial, dan tanpa melakukan upaya bipartit lebih dahulu, proses mediasi, proses konsiliasi, arbitrase maupun pengadilan, adalah tidak dapat diterima. Hal ini sesuai dengan apa yang digariskan dalam pasal 3 ayat 1 Undang-‐Undang No. 2 Tahun 2004.
3. Mediasi merupakan upaya penyelesaian perselisihan hubungan industrial, baik perselisihan kepentingan, perselisihan hak, perselisihan PHK maupun perselisihan antar serikat pekerja dalam satu perusahaan, melalui seorang perantara atau mediator. Hal ini tidak berbeda jauh dengan proses konsiliasi, yang berbeda dimana lembaga konsiliasi baru bekerja setelah para pihak mengajukan permintaan penyelesaian secara tertulis kepada konsiliator yang ditunjuk dan disepakati oleh kedua belah pihak, serta perselisihan yang menyangkut hak, tidak dapat diajukan melalui lembaga konsiliasi ini.
Studi Perbandingan Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Di Indonesia Dan Di Inggris
162
DAFTAR PUSTAKA
Djumialdji, F. X, 2006, Perjanjian Kerja, Edisi Revisi, Sinar Grafika, Jakarta.
Husni,Lalu, 2008, Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Edisi Revisi , PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta
Marhendi, SH., MH. Upaya Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Secara Bipartit, Mediasi Dan Konsiliasi, Sebuah Kajian Yuridis
Penyelesaian Sengketa Hubungan Industrial Berbasis Win-‐Win Solution
http://www.apindo-‐kepri.com/ruang-‐media/phi/hukum-‐ acara-‐peradilan-‐hubungan-‐industrial
Buku ini menggambarkan beberapa kasus dalam kaitannya dengan Hubungan Industrial. Buku ini mencoba membandingkan kasus Hubungan Industrial yang terjadi di Indonesia dengan kasus di beberapa negara seperti di India, Nigeria, Cina dan Eropa.
Sudut pandang yang beragam diharapkan akan membuat cakrawala menjadi semakin luas dalam melihat apa yang menjadi bahasan terkini dari Hubungan Industrial.