DAN AUSTRALIA
3. PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL
Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 60
3. PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL
Perselisihan hubungan Industri seringkali terjadi dalam setiap negara, hal ini telah dijelaskan seblumnya dalam latar belakang. Indonesia dan Australia memiliki perselisihan hubungan industry yang sampai saat ini masih saja menjadi suatu permasalahan. Hal ini tidak menutup kemungkinan bagi setiap pihak yang berhubung dengan perselisihan untuk menyelesaikan perselisihan tersebut. Pada penelitian ini khususnya, difokuskan pada penyelesaian perselisihan melalui Arbitrase. Penyelesaian perselisihan ini akan dilihat dari dua negara, yaitu Indonesia dan Australia. Terdapat berbagai persamaan maupun perbedaan pelaksanaan arbitrase dari kedua negara ini.
Beriktu ini akan dijabarkan mengenai persamaan dari pelaksanaan Arbitrase dari kedua negara, yaitu Indonesia dan Australia mengimplementasikan New York Convention dalam aturan Arbitraseny dan Pengadilan memiliki peranan penting dalam mengawasi berjalannya arbitrase. Terdapat dua bagian yang menurut penulis hemat memiliki kesamaan. Kemudian berikut ini akan dijelaskan mengenai perbedaan dari pelaksanaan Arbitrase dari kedua negara.
Tabel 1
Pelaksanaan Arbitrase di Indonesia dan Australia
Indonesia Australia
Institusi:
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 61
Internasional BANI ACICA
Dasar Legal UU No. 30
Tahun 1999 Arbitration Act 2011 The Commercial
Waktu penyelesaian perselisihan
180 hari
Naik banding Bisa Bisa
Legislatif Commenwealth Act
State and Territory Act
Pada tabel diatas, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa perbedaan yang dapat terlihat. Setiap negara akan memiliki penetapan hukumnya masing-‐masing sesuai dengan yang berlaku. Indonesia dan Australia tentunya akan memiliki institusi yang berbeda sesuai dengan teritori dari negaranya itu sendiir. BANI merupakan institusi yang akan menjadi wadah secara khusus perselisishan hubungan industry yang terjadi di Indonesia, sedangan ACICA menjadi wadah bagi penyelesaian perselisihan di Australia. Di Indonesia, memiliki tenggat wakttu tertentu dalam menyelesaikan perselisihan yaitu selama 180 hari dan 30 hari untuk penyelesaian ketika telah dilakukan penunjukkan arbitrator. Di Australia, peneliti tidak menemukan adanya tenggat waktu tersebut. Namun tenggat waktu yang telah ditentukan bisa saja berubah apabila pengadilan dan pihak terkait menyetujuinya. Selain itu juga, kedua negara bisa melakukan naik banding apabila hasil dari penyelesaian perselisihan
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 62 tersebut tidak sesuai. Oleh karena itu, secara keseluruhan perbedaan dari kedua negara ini terlihat dari aturan penyelesaian perselisihan yang berlaku.
4. KESIMPULAN
Neale dan Kleiner (2001) mengatakan bahwa perselisihan terjadi karena adanya perbedaan kepentingan. Penjelasan ini dapat dikatakan bahwa adanya perselisihan terjadi karena pihak tertentu dalam organisasi memiliki kepentingannya tersendiri yang berbeda dengan pihak lain sehingga memunculkan adanya perselisihan tersebut. Penyelesaian perselisihan di luar pengadilan mengutamakan musyawarah untuk mufakat. UU No. 2 Tahun 2004, menetapkan 4 (empat) jenis perselisihan, yaitu perselisihan hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh hanya dalam 1 (satu) perusahaan. Terdapat tiga peneyelesaian perselisihan, yaitu mediasi, konsiliasi dan arbitrase. Pada penelitian ini difokuskan pada Arbitrase.
Persamaan dari pelaksanaan Arbitrase dari kedua
negara, yaitu Indonesia dan Australia
mengimplementasikan New York Convention dalam aturan Arbitraseny dan Pengadilan memiliki peranan penting dalam mengawasi berjalannya arbitrase. Kemudian dilihat dari perbedaan yang anatara Indonesia dan Australia ini terlihat bahwa Indonesia dan Australia berbeda dari adanya aturan yang berlaku di Indonesia berbeda dengan negara lain.
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 63
5. REFERENSI
Abdussalam. 2009. Hukum Ketenagakerjaan. Jakarta: Restu Agung
Binder, Peter. International Commercial Arbitration and Conciliation in UNCITRAL Model Law Jurisdictions 3rd ed. Sweet & Maxwell.
Bray, Mark & Andrew Stewart. 2013a. From the Arbitration System to the Fair Work Act: the Changing Approach in Australia to Voice and Representation at Work. Adelaide Law Review, Vol 23, 21-‐41.
Bray and Andrew Stewart. 2013b. What is Distinctive About the Fair Work Regime?. Australian Journal of Labour Law, vol. 26.
Frazer, Andrew. 1995. Trade Unions Under Compulsory
Arbitration and Enterprise
Bargaining: An Historical Perspective’ in Paul Ronfeldt and Ron McCallum (eds), Enterprise Bargaining: Trade Unions and the Law. Federation Press
Chelliah, John & Brian D’Netto. 2006. Unfair dismissals in Australia: does arbitration help employees?. Employee Relations, Vol 28(5), 483-‐495.
Davis, E.M. and Lansbury, R.D. 1989. Worker participation in decisions on technological change in Australia. in Bamber, G.J. and Lansbury, R.D. (Eds), New Technology, Unwin Hyman, London, pp. 100-‐16.
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 64 Edward M. Davis Russell D. Lansbury. 1996. Employee involvement and industrial relations reform: reviewing a decade of experience in Australia. Employee Relations, Vol. 18 Iss 5 pp. 5 -‐ 24
Grubb, I. and Naugton, R. 1992, “Unfair and wrongful
dismissal: recent developments”,
Law Institute Journal, Vol. 66, pp. 913-‐5
Jones Day. 2004. International Commercial Arbitration in Asia. Jones Day: USA
Hadiputranto, Hadinoto & Partners. 2011. Arbitration in Indonesia Law No. 30 of 1999 Arbitration and Alternative Dispute Resolutions.
Hayward, Benjamin 2016, The Australian arbitration framework, in Notes from the 2016 Resolution Institute CPD Seminar, [The Seminar], Melbourne, Vic., pp. 1-‐24.
Husein, Umar. 2002. Metode Riset Bisnis. Jakarta: Rajawali Pers.
HMSO (1978), Report of the Donovan Commission on Trade Unions and Employer Associations 1965-‐ 1978, HMSO, London.
ILO. 2006. Manual Mediasi Konsiliasi Arbitrasi; Bahasa Indonesia dan Inggris. Kantor Perburuhan Interansional: Jakarta.
Juwana, Hikmahanto. 2003. Dispute Resolution Process in Indonesia. IDE ASIAN Law Series No.21
Lawrence, B. 1998, “The law of unfair dismissal: 1983-‐ 1998”, Law Institute Journal, Vol. 72 No. 6, pp. 51-‐3
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industri Melalui Arbitrase Dilihat Di Negara Indonesia Dan Australia 65 Macken, J.J., O’Grady, P. and Sapiddeen, C. 1997. Law of Employment, 4th ed. LBC Information Services: Sydney
Moh Nazir. 2005. Metode Penelitian. Jakarta: Ghaila Indonesia
Neale, Bennet A. and Brian H. Kleiner. 2001. How to conduct arbitration effectively. Managerial Law, Vol. 43 Iss ½, 112-‐115.
Patmore, Greg. 2006. A Voice for whom? Employee representation and labou legislation in Australia. UNSW Law Journal, Vo. 29(1), 8-‐21.
Re Carus-‐Wilson & Greene. 1886 18QBD 7,9.
Yunarko, Bambang. 2011. Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial mellaui lembaga Arbtrase Hubungan Industrial. Perspektif, vol. xvi (1), 53-‐ 58.
Wallace-‐Bruce, N.L. 1999. Outline of Employment Law, 2nd ed. Butterworths: Chatswood.
Perbandingan Hubungan Industrial Di Indonesia
dan Nigeria (Dalam Perspektif Sejarah) 66
BAB III
PERBANDINGAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DI