• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 HASIL PENELITIAN. 5.1 Kondisi Kini Unit Pengolahan Ikan Beku

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "5 HASIL PENELITIAN. 5.1 Kondisi Kini Unit Pengolahan Ikan Beku"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

5.1 Kondisi Kini Unit Pengolahan Ikan Beku 5.1.1 Produksi dan tingkat utilisasi

Berdasarkan komoditas yang diolah, unit pengolahan ikan beku di Pulau Jawa dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu : (1) unit pengolahan ikan yang mengolah satu jenis komoditas tertentu, dan (2) unit pengolahan ikan yang mengolah berbagai jenis komoditas atau multi komoditas. Dari 69 unit pengolahan ikan yang menjadi sampel penelitian, 25 unit diantaranya hanya mengolah komoditas udang, tujuh unit hanya mengolah tuna dan sejenisnya (swordfish, meka, marlin), satu unit hanya mengolah ikan nila, dua unit hanya mengolah ikan layur, dua unit hanya mengolah kepiting, empat unit mengolah ikan-ikan demersal (beloso, tiga waja, dll) menjadi surimi beku dan 28 unit mengolah berbagai komoditas (kakap merah, cumi, sotong, gurita, ikan nila, patin, tuna, paha kodok, lobster, udang, tuna, dll.).

Kapasitas produksi seluruh unit pengolahan ikan tersebut adalah 892,3 ton perhari, namun realisasi produksi yang dicapai pada tahun 2006 rata-rata sebesar 503,9 ton perhari. Dengan demikian, tingkat utilisasi yang dicapai pada tahun itu adalah 56,47%, sehingga terdapat kapasitas terbuang (idle capacity) sebesar 43,53%. Tingkat utilisasi tertinggi dicapai oleh unit pengolahan ikan nila beku yakni 87,10%, diikuti oleh unit pengolahan ikan layur beku (71,43%), unit pengolahan udang beku (63,45%), unit pengolahan tuna beku (51,97%), unit pengolahan multi komoditas (51,04%), unit pengolahan surimi beku (36,58%) dan unit pengolahan kepiting beku (8,57%).

Apabila dilihat secara spasial menurut provinsi, terlihat bahwa tingkat utilisasi unit pengolahan ikan beku di Jawa Timur merupakan tertinggi yaitu mencapai 64,27%. DKI Jakarta menempati urutan kedua, yakni 50,05%, disusul Jawa Tengah (44,92%), Jawa Barat (44,07%) dan Banten (41,67%).

Informasi yang lebih detail mengenai produksi dan tingkat utilisasi beberapa unit pengolahan ikan tersebut di atas adalah sebagai berikut :

(2)

Tabel 16 Produksi dan tingkat utilisasi unit pengolahan ikan beku di Pulau Jawa, 2006

No Provinsi Komoditas yg diolah

Jumlah UPI (unit) Kapasitas produksi (ton/hari) Realisasi produksi (ton/hari) Tingkat utilisasi (%)

1 Banten Multi komoditas 1 6,0 2,5 41,67

2 Jawa Barat • Udang 2 9,0 4,5 50,00

• Multi komoditas 7 47,5 20,4 42,95

Sub jumlah 9 56,5 24,9 44,07

3 DKI Jakarta • Udang 5 37,0 20,8 56,22

• Tuna dan sejenisnya 5 51,0 23,8 46,67

• Multi komoditas 7 99,0 49,0 49,49

Sub jumlah 17 187,0 93,6 50,05

4 Jawa Tengah • Udang 3 13,1 4,8 36,26

• Nila 1 31,0 27,0 87,10

• Multi komoditas 2 17,0 3,8 22,35

• Ikan demersal 4 95,0 34,8 36,58

• Kepiting 1 0,5 0,05 10,00

Sub jumlah 11 156,6 70,4 44,92

5 Jawa Timur • Udang 15 221,0 147,7 66,82 • Tuna dan sejenisnya 2 12,5 9,2 73,60 • Multi komoditas 11 165,7 95,4 57,56 • Kepiting 1 3,0 0,3 8,33 • Layur 2 84,0 60,0 71,43 Sub jumlah 31 486,2 312,5 64,27 • Udang 25 280,1 177,7 63,45 Seluruh

Pulau Jawa • Tuna dan sejenisnya 7 63,5 33,0 51,97 • Multi komoditas 28 335,2 171,1 51,04 • Nila 1 31,0 27,0 87,10 • Kepiting 2 3,5 0,3 8,57 • Layur 2 84,0 60,0 71,43 • Ikan demersal 4 95,0 34,8 36,58 Jumlah 69 892,3 503,9 56,47 Keterangan :

• Multi komoditas : kakap merah, cumi, kerapu, sotong, gurita, nila, patin, tuna, paha kodok, dll.

• Tuna dan sejenisnya : tuna, swordfish, meka, marlin, dll. 1) Unit pengolahan udang beku

Unit pengolahan udang beku di Pulau Jawa yang saat ini masih aktif beroperasi dan bersedia menjadi sampel penelitian berjumlah 25 unit, masing-masing dua unit berada di Jawa Barat, lima unit di DKI Jakarta, tiga unit di Jawa Tengah dan 15 unit di Jawa Timur. Status perusahaan dari unit pengolahan udang beku tersebut

(3)

adalah sembilan unit berstatus swasta nasional, 11 unit berstatus PMDN (Penanaman Modal dalam Negeri) dan lima unit berstatus PMA (Penanaman Modal Asing). Unit pengolahan udang beku berstatus PMA pada umumnya mengolah produk bernilai tambah tinggi seperti frozen breaded shrimp dan frozen sushi ebi.

Berdasarkan ketersediaan sarana dan prasarana serta sumberdaya manusia, kapasitas produksi 25 unit pengolahan udang beku itu adalah sebesar 280,1 ton perhari. Namun karena kelangkaan bahan baku, realisasi produksi yang dicapai pada tahun 2006 adalah rata-rata sebesar 177,7 ton perhari, sehingga tingkat utilisasi yang dicapai adalah 63,45%. Dengan demikian, pada unit pengolahan udang beku terdapat idle capacity sebesar 36,55%. Tingkat utilisasi tertinggi dicapai oleh unit pengolahan udang beku di Jawa Timur, yakni sebesar 66,82%, diikuti oleh DKI Jakarta (56,22%), Jawa Barat (50%) dan Jawa Tengah (36,26%).

Tabel 17 Produksi dan tingkat utilisasi unit pengolahan udang beku di Pulau Jawa, 2006 No Provinsi Jumlah (unit) Status perusahaan Kapasitas produksi (ton/hari) Realisasi produksi (ton/hari) Tingkat utilisasi (%) 1 Jawa Barat 2 • 2 SN 9,0 4,5 50,00 2 DKI Jakarta 5 • 3 PMDN • 2 PMA 37,0 20,8 56,22 3 Jawa Tengah 3 • 2 SN • 1 PMA 13,1 4,8 36,26 4 Jawa Timur 15 • 5 SN • 8 PMDN • 2 PMA 221,0 147,7 66,82 Jumlah 25 280,1 177,7 63,45

Keterangan : SN = Swasta Nasional 2) Unit pengolahan tuna beku

Unit pengolahan ikan yang khusus mengolah tuna dan sejenisnya berjumlah tujuh unit, masing-masing lima unit berada di DKI Jakarta dan dua unit di Jawa Timur. Empat dari tujuh unit pengolahan ikan tersebut berstatus swasta nasional, satu unit berstatus PMDN dan dua unit berstatus PMA.

(4)

Pada Tabel 18 terlihat bahwa kapasitas produksi tujuh unit pengolahan tuna beku itu adalah sebesar 63,5 ton perhari, namun realisasi produksi yang dicapai pada tahun 2006 rata-rata hanya 33 ton perhari atau 51,97% dari kapasitas terpasang. Dengan demikian, pada unit pengolahan tuna beku terdapat idle capacity sebesar 48,03%. Tingkat utilisasi yang dicapai oleh unit pengolahan tuna beku di Jawa Timur adalah 73,60%, sedangkan di DKI Jakarta hanya 46,67%.

Tabel 18 Produksi dan tingkat utilisasi unit pengolahan tuna beku di Pulau Jawa, 2006

No Provinsi Jumlah (unit) Status perusahaan Kapasitas produksi (ton/hari) Realisasi produksi (ton/hari) Tingkat utilisasi (%) 1 DKI Jakarta 5 • 3 SN • 1 PMDN • 1 PMA 51,0 23,8 46,67 2 Jawa Timur 2 • 1 SN • 1 PMA 12,5 9,2 73,60 Jumlah 7 63,5 33,0 51,97

3) Unit pengolahan multi komoditas

Unit pengolahan ikan yang mengolah berbagai komoditas atau multi komoditas berkembang pesat belakangan ini. Dari 69 unit pengolahan ikan yang menjadi sampel penelitian, 28 unit diantaranya mengolah berbagai jenis komoditas seperti kakap merah, cumi-cumi, sotong, gurita, nila, patin, bandeng, lemuru, paha kodok, dll. Distribusi unit pengolahan tersebut adalah satu unit berada di Banten, tujuh unit di Jawa Barat, tujuh unit di DKI Jakarta, dua unit di Jawa Tengah dan 11 unit di Jawa Timur.

Pengolahan ikan multi komoditas ternyata juga diminati oleh investor asing, terutama dari Korea Selatan, terlihat dari tiga unit yang berstatus PMA, masing-masing berada di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam kaitannya dengan tingkat utilisasi, terlihat bahwa unit pengolahan ikan di Jawa Timur menduduki peringkat teratas (57,56%), diikuti DKI Jakarta (49,49%), Jawa Barat (42,95%), Banten (41,67%) dan Jawa Tengah (22,35%).

(5)

Tabel 19 Produksi dan tingkat utilisasi unit pengolahan multi komoditas di Pulau Jawa, 2006

No Provinsi Jumlah (unit) Status perusahaan Kapasitas produksi (ton/hari) Realisasi produksi (ton/hari) Tingkat utilisasi (%) 1 Banten 1 • 1 SN 6,0 2,5 41,67 2 Jawa Barat 7 • 1 SN • 5 PMDN • 1 PMA 47,5 20,4 42,95 3 DKI Jakarta 7 • 7 SN 99,0 49,0 49,49 4 Jawa Tengah 2 • 1 PMDN • 1 PMA 17,0 3,8 22,35 5 Jawa Timur 11 • 3 SN • 7 PMDN • 1 PMA 165,7 95,4 57,56 Jumlah 28 335,2 171,1 51,04

4) Unit pengolahan surimi beku

Unit pengolahan ikan yang khusus mengolah ikan-ikan demersal menjadi surimi beku berjumlah empat unit, semuanya berada di Jawa Tengah. Dari empat unit pengolahan tersebut, tiga diantaranya bertatus PMA (Korea Selatan) dan satu unit berstatus swasta nasional. Industri ini mulai berkembang sejak tahun 2003 dan bertambah satu unit setiap tahunnya, hingga berjumlah empat unit pada tahun 2006. Namun sayangnya ke empat unit pengolahan dimaksud berada di lokasi yang hampir berdekatan dan mengandalkan pasokan bahan baku dari lokasi yang sama, yaitu Pantura Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dampaknya persaingan dalam pengadaan bahan baku menjadi ketat dan hal ini menyebabkan tingkat utilisasi yang dicapai hanya sebesar 36,58% dari kapasitas produksi sebesar 95 ton perhari.

5.1.2 Diversifikasi dan nilai tambah produk

Sumberdaya ikan yang dimanfaatkan sebagai bahan baku oleh industri pengolahan ikan beku di Pulau Jawa dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu : (1) hewan kulit keras (crustaceans), (2) hewan lunak (molluscs), (3) ikan (fishes), dan (4) hewan air lainnya (other aquatic animals). Kelompok hewan kulit keras meliputi beberapa jenis udang (shrimp), udang barong (lobster) dan kepiting (crab).

(6)

Sedangkan kelompok hewan lunak meliputi cumi-cumi (squid), sotong (cuttlefish) dan gurita (octopus).

Kelompok ikan meliputi ikan tuna (yellowfin tuna, bigeye tuna, albacore), setuhuk (marlin), ikan pedang (swordfish), meka, remang (yellow pike eel), kakap merah (red snapper), layur (hairtails), ikan nila (tilapia), kurisi (ornate treadfin bream), ikan leather jacket, ribbonfish, ikan sebelah (indian halibut), lemuru (bali sardinella), tengiri (spanish mackerel), cakalang (skipjack tuna), lemadang (common dolphin fish/oil fish), cucut (shark), bandeng (milkfish), lele (walking catfish), patin (catfish), kuniran (sulphur goatfish), swanggi (purple-spotted) dan ikan-ikan demersal seperti tiga waja, biji nangka dan beloso. Sedangkan dari kelompok hewan air lainnya adalah katak (frog).

Berikut ini diuraikan diversifikasi produk dan nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan masing-masing kelompok sumberdaya ikan tersebut di atas :

1) Hewan kulit keras (crustaceans)

Seperti telah diuraikan di atas bahwa hewan kulit keras yang diolah oleh unit pengolahan ikan beku di Pulau Jawa terdiri atas beberapa jenis udang (udang windu, udang putih dan udang vanamei), udang barong (lobster) dan kepiting. Berdasarkan cara pembekuannya, produk udang beku dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu udang beku blok (block frozen shrimp) dan udang beku individual (individual quick frozen/IQF shrimp). Pada awalnya, produk udang beku blok hanya ada dua jenis, yaitu block frozen head-less shrimp dan block frozen head-on shrimp. Namun sekarang telah berkembang menjadi delapan jenis produk, meliputi : (1) block frozen head-less shrimp, (2) block frozen head-on shrimp, (3) block frozen peeled & devined (PD) shrimp, (4) block frozen PDTO (peeled & devined tail-on) shrimp, (5) block frozen eazy peeled shrimp, (6) block frozen blancing/cooked shrimp, (7) block frozen peeled undevined (PUD) shrimp, dan (8) block frozen cooked & peeled undevined shrimp. Perkembangan ini merupakan tuntutan pasar internasional, terutama Jepang, yang menghendaki produk dengan bentuk dan perlakuan yang beragam.

Sementara itu, pengembangan produk udang beku individual ditujukan untuk memenuhi tren permintaan pasar yang mengarah kepada produk-produk siap

(7)

saji/dimakan (ready to serve/eat products) yang dikemas dalam bentuk consumer pack. Saat ini produk udang beku individual yang telah berkembang ada tujuh jenis, yaitu : (1) frozen breaded shrimp, (2) IQF peeled & devined shrimp, (3) frozen nobashi ebi, (4) IQF peeled tail-on shrimp, (5) IQF head-less shrimp, (6) semi IQF head-on shrimp, dan (7) IQF cooked shrimp.

Pada Tabel 20 terlihat bahwa sebagian besar unit pengolahan ikan mengolah produk konvensional, yakni block frozen head-less shrimp. Produk lain yang sudah cukup berkembang adalah block frozen peeled & devined shrimp, frozen breaded shrimp dan IQF peeled & devined shrimp, yang masing-masing dihasilkan oleh tujuh unit pengolahan ikan. Produk block frozen head-on shrimp diproduksi oleh empat unit pengolahan ikan, sedangkan produk lainnya hanya diproduksi oleh satu sampai tiga unit pengolahan ikan.

Pada Tabel 20 juga dapat dilihat bahwa secara umum, nilai tambah produk udang beku individual lebih tinggi bila dibandingkan dengan produk udang beku blok. Lima dari tujuh jenis produk udang beku individual bernilai tambah di atas 30%, sedangkan yang lain yakni produk IQF peeled & devined shrimp bernilai tambah 23,31% dan produk semi IQF head-on shrimp bernilai tambah 22,27%.

Jika dilihat secara keseluruhan, tiga jenis produk udang beku yang nilai tambahnya tertinggi adalah frozen breaded shrimp (37,70%), frozen nobashi ebi (36,54%) dan IQF head-less shrimp (35,33%). Sedangkan tiga jenis yang terendah adalah block frozen cooked & peeled undevined shrimp (16,27%), block frozen head-less shrimp (16,60%) dan block frozen head-on shrimp (18,41%).

Lain halnya dengan komoditas udang yang telah diolah menjadi berbagai macam produk, diversifikasi olahan komoditas lobster dan kepiting dapat dikatakan tidak ada. Sampai saat ini, lobster hanya diolah menjadi produk lobster beku utuh (frozen lobster), sedangkan kepiting diolah menjadi produk frozen soft shell crab dan frozen crab white body meat. Nilai tambah ketiga jenis produk tersebut tergolong tinggi, yakni 52,54% untuk produk frozen lobster; 44,19% untuk produk frozen soft shell crab dan 46,64% untuk produk frozen crab white body meat.

(8)

Tabel 20 Diversifikasi dan nilai tambah produk olahan hewan kulit keras (crustaceans), 2006

No Jenis komoditas/nama produk Produsen/ UPI (unit)

Nilai tambah rata-rata (%)

1 Udang

• Block frozen head-less shrimp 22 16,60

• Block frozen head-on shrimp 4 18,41

• Block frozen PD shrimp 7 24,09

• Block frozen PDTO shrimp 3 18,52

• Block frozen eazy peeled shrimp 2 28,46

• Block frozen blancing/cooked shrimp 1 30,07

• Block frozen PUD shrimp 1 26,08

• Block frozen cooked & PUD shrimp 1 16,27

• Frozen breaded shrimp 7 37,70

• IQF PD shrimp 7 23,31

• Frozen nobashi ebi 2 36,54

• IQF peeled tail-on shrimp 2 30,71

• IQF head-less shrimp 2 35,33

• Semi IQF head-on shrimp 1 22,27

• IQF cooked shrimp 3 32,92

2 Udang barong

• Frozen lobster 3 52,54

3 Kepiting

• Frozen soft shell crab 1 44,19

• Frozen crab white body meat 1 46,64

Keterangan :

- UPI = Unit Pengolahan Ikan - PD = Peeled & devined - PDTO = Peeled & devined tail-on - PUD = Peeled undevined - IQF = Individual Quick Freezing

2) Hewan lunak (molluscs)

Usaha pengolahan binatang lunak (cumi-cumi, sotong dan gurita) belum berkembang di Pulau Jawa dan tidak ada unit pengolahan ikan yang secara khusus mengolah komoditas tersebut. Pada saat dilakukan penelitian, hanya satu unit yang mengolah cumi-cumi, dua unit yang mengolah sotong dan dua unit yang mengolah gurita. Padahal potensi sumber bahan bakunya cukup melimpah di Indonesia dan peluang pasar ekspornya masih terbuka.

Selama periode 1995-2005, produksi cumi-cumi mengalami peningkatan rata-rata sebesar 10,54% per tahun, yakni dari 27.575 ton pada tahun 1995 menjadi 58.433

(9)

ton pada tahun 2005. Pada periode yang sama, produksi sotong mengalami pertumbuhan rata-rata 13,01% per tahun, yaitu dari 5.939 ton menjadi 16.394 ton. Sedangkan produksi gurita meningkat rata-rata 33,10% per tahun, yakni dari 664 ton menjadi 2.996 ton (Ditjen Perikanan Tangkap, 2007).

Sehubungan dengan belum berkembangnya industri pengolahan cumi-cumi, sotong dan gurita, diversifikasi olahan komoditas tersebut juga belum berkembang. Cumi-cumi hanya diolah menjadi produk utuh beku (frozen whole round squid), sotong juga hanya diolah menjadi produk utuh beku (frozen whole round cuttlefish), sedangkan gurita diolah menjadi produk utuh dan produk tanpa kepala (frozen whole round octopus dan frozen whole gutted octopus).

Pada Tabel 21 dapat dilihat bahwa nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan produk frozen whole round squid dan frozen whole round cuttlefish tidak besar, yaitu 17,95% dan 24,37%. Sementara itu, nilai tambah kedua produk olahan gurita lebih besar, yakni masing-masing 30,03% dan 35,69%.

Tabel 21 Diversifikasi dan nilai tambah produk olahan hewan lunak (molluscs), 2006

No Jenis komoditas/ nama produk Produsen/ UPI (unit) Nilai tambah rata-rata (%) 1 Cumi-cumi

• Frozen whole round squid 1 17,95

2 Sotong

• Frozen whole round cuttlefish 2 24,37 3 Gurita

• Frozen whole round octopus 1 30,03

• Frozen whole gutted octopus 2 35,69

3) Ikan (fishes)

Dalam uraian ini, ikan (fishes) dikelompokkan menjadi tiga, yaitu ikan tuna dan sejenisnya, ikan kakap merah dan ikan nila, serta ikan lainnya. Industri pengolahan tuna beku di Pulau Jawa telah berkembang cukup lama, yaitu sekitar 25 tahun yang lalu. Pada saat itu, usaha penangkapan tuna dengan long-liner yang berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Samudera Jakarta dan di Pelabuhan Benoa Bali berkembang dengan pesat. Namun dalam perkembangannya, beberapa unit

(10)

pengolahan tuna beku berhenti beroperasi karena tidak memperoleh pasokan bahan baku, sebagai dampak menurunnya pendaratan ikan tuna di dua pelabuhan tersebut.

Diversifikasi produk olahan tuna beku sudah cukup berkembang, yakni ada lima jenis, meliputi : frozen whole round tuna, frozen loin tuna, frozen DWT (dressed without tail) tuna, frozen saku tuna, dan frozen steak tuna. Dari hasil penelitian ini terungkap bahwa seluruh unit pengolahan ikan yang mengolah tuna beku menghasilkan produk frozen loin tuna. Pada tabel 22 terlihat bahwa produk olahan tuna beku yang paling tinggi nilai tambahnya adalah frozen saku tuna yakni 35,34%, diikuti oleh frozen steak tuna (34,28%), frozen loin tuna (24,33%), frozen DWT tuna (23,94%), dan frozen whole round tuna (16,69%).

Tabel 22 Diversifikasi dan nilai tambah produk olahan ikan tuna dan sejenisnya, 2006

No Jenis komoditas/nama produk Produsen/ UPI (unit)

Nilai tambah rata-rata (%) 1 Tuna (yellowfin tuna, bigeye tuna,

albacore)

• Frozen whole round tuna 3 16,69

• Frozen loin tuna 13 24,33

• Frozen DWT tuna 1 23,94

• Frozen saku tuna 2 35,34

• Frozen steak tuna 2 34,28

2 Setuhuk (marlin)

• Frozen loin marlin 3 17,36

3 Ikan Pedang (swordfish)

• Frozen DWT swordfish 1 9,78

• Frozen loin swordfish 1 14,76

4 Meka

• Frozen DWT meka 1 17,08

5 Cakalang (skipjack)

• Frozen whole round skipjack 1 26,70

Diversifikasi produk olahan ikan sejenis tuna (marlin, swordfish dan meka) hampir sama dengan diversifikasi olahan ikan tuna, yakni loin dan DWT. Hal ini karena produk-produk tersebut merupakan subtitusi produk olahan tuna. Nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan ikan sejenis tuna relatif rendah (dibawah 18%), karena nilai jual produk-produk tersebut juga rendah. Sementara itu, ikan cakalang

(11)

meskipun hanya diolah dalam bentuk utuh (frozen skipjack whole round) nilai tambahnya mencapai 26,70%.

Diversifikasi produk olahan ikan kakap merah dan ikan nila adalah sama, karena perdagangan ikan nila di pasar dunia merupakan substitusi terhadap ikan kakap merah yang produksinya semakin menurun. Saat ini tercatat ada empat jenis produk olahan ikan kakap merah atau nila, yaitu : frozen whole round, frozen fillet dan frozen WGGS (whole, gilled, gutted and scalled). Pada Tabel 23 terlihat bahwa untuk produk yang sama, nilai tambah produk olahan ikan nila lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kakap merah. Jika dilihat per jenis produk, diketahui bahwa produk fillet bernilai tambah paling tinggi, diikuti produk WGGS dan produk utuh.

Tabel 23 Diversifikasi dan nilai tambah produk olahan ikan kakap merah dan ikan nila, 2006

No Jenis komoditas/nama produk Produsen/ UPI (unit)

Nilai tambah rata-rata (%) 1 Kakap merah

• Frozen whole round red snapper 1 15,48

• Frozen fillet red snapper 9 26,54

• Frozen WGGS red snapper 2 22,30

2 Ikan nila

• Frozen whole round tilapia 1 24,52

• Frozen fillet tilapia 1 32,81

• Frozen WGGS tilapia 1 28,38

Sementara itu, diversifikasi olahan komoditas yang dikelompokkan sebagai ikan lainnya hampir tidak ada, karena ikan-ikan tersebut pada umumnya diolah dalam bentuk utuh (Tabel 24). Diversifikasi pengolahan terjadi hanya terhadap jenis-jenis ikan demersal yang diolah menjadi surimi beku, yaitu produk setengah jadi (intermediate product) yang merupakan bahan baku produk-produk jelli ikan (fish jelly products) seperti bakso ikan, fish nugget, fish finger dan sebagainya.

Nilai tambah produk olahan jenis-jenis ikan ini sangat beragam, yang tertinggi adalah produk kurisi beku (frozen ornate treadfin bream) yakni 40,11%, sedangkan yang terendah adalah frozen loin oil fish yaitu 8,58%. Perbedaan nilai tambah tidak diketahui secara jelas, namun diperkirakan tergantung dari jenis ikan yang diolah.

(12)

Tabel 24 Diversifikasi dan nilai tambah produk olahan ikan lainnya, 2006

No Nama produk Produsen/

UPI (unit)

Nilai tambah rata-rata (%)

1 Frozen whole round hairtail 12 32,84

2 Frozen yellow pike eel 2 35,36

3 Frozen bream 1 32,01

4 Frozen leather jacket 1 28,88

5 Frozen ribbon fish 2 20,51

6 Frozen indian halibut 2 20,19

7 Frozen whole round ornate treadfin bream 1 40,11

8 Frozen bali sardinella 3 35,62

9 Frozen steak spanish mackerel 2 36,24

10 Frozen loin oil fish 1 8,58

11 Frozen steak shark 1 19,44

12 Frozen milkfish 1 34,50

13 Frozen whole round walking catfish 1 36,97

14 Frozen fillet catfish 1 21,46

15 Frozen whole round sulphur goatfish 1 31,58

16 Frozen purple-spotted 1 32,32

17 Frozen surimi 5 26,87

4) Hewan air lainnya

Hewan air lainnya yang dimanfaatkan oleh unit pengolahan ikan beku di Pulau Jawa adalah kodok (katak), yang diolah menjadi produk frozen froglegs. Dari empat unit pengolahan ikan yang memproduksi produk tersebut, diperoleh informasi bahwa nilai tambah produk tersebut rata-rata adalah sebesar 33,24%.

5.1.3 Pemasaran produk

Seluruh unit pengolahan ikan beku di Pulau Jawa berorientasi pasar ekspor, sehingga hampir seluruh hasil produksinya diekspor ke manca negara. Pemasaran produk ke pasar domestik dilakukan hanya terhadap produk-produk yang tidak memenuhi standar mutu ekspor dan jumlahnya diperkirakan tidak lebih dari 5%. Negara tujuan ekspor yang utama adalah Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Namun belakangan ini, meskipun dalam jumlah yang masih sangat sedikit, beberapa unit pengolahan ikan telah mulai melakukan diversifikasi pemasaran ke negara/ kawasan potensial, seperti Korea Selatan, RRC, Australia dan Timur Tengah.

(13)

Selama periode 2002-2006, volume ekspor 69 unit pengolahan ikan yang menjadi sampel penelitian mengalami peningkatan rata-rata sebesar 24,58% per tahun, yaitu dari 36.105 ton menjadi 67.600 ton. Sedangkan nilainya meningkat rata-rata 17,73% per tahun, yakni dari US $ 212,913 juta menjadi US $ 384.367 juta. Peningkatan volume dan nilai ekspor yg cukup besar tersebut ternyata tidak diikuti oleh peningkatan harga rata-rata, yang meningkat hanya sebesar 1,24% per tahun.

Jika dilihat per komoditas, peningkatan volume ekspor tertinggi dicapai oleh komoditas hewan lunak (cumi-cumi, sotong dan gurita) yakni 212,33% per tahun, diikuti oleh udang yang meningkat rata-rata 35,08% per tahun, ikan lainnya 20,33% per tahun, tuna dan sejenisnya 7,92% per tahun serta komoditas lainnya 7,39%. Sedangkan menurut nilai, peningkatan ekspor tertinggi juga dicapai oleh komoditas binatang lunak (281,78%), diikuti komoditas ikan lainnya (25,68%), udang (19,77%) dan komoditas lainnya (14,65%). Sementara itu, nilai ekspor komoditas tuna dan sejenisnya mengalami penurunan dengan laju rata-rata sebesar -1,18% per tahun.

Jika dilihat pada periode 2005-2006, secara keseluruhan terjadi penurunan ekspor yang cukup besar, yakni 4,79% dalam volume dan 8,78% dalam nilai. Penurunan volume ekspor tertinggi terjadi pada komoditas tuna dan sejenisnya, yakni 32,81%, diikuti komoditas cumi-cumi, sotong dan gurita sebesar 15,33%, dan ikan lainnya sebesar 4,34%. Sedangkan udang dan komoditas lainnya mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 0,70% dan 7,11%. Sementara itu, penurunan nilai ekspor tertinggi terjadi pada komoditas tuna dan sejenisnya yakni sebesar 29,40%, diikuti cumi-cumi, sotong dan gurita sebesar 13,30%, udang sebesar 9,72% dan ikan lainnya sebesar 0,78%. Sedangkan nilai ekspor komoditas lainnya meningkat sebesar 74,91%.

Dari sisi tujuan ekspor, terlihat bahwa diversifikasi pemasaran produk olahan udang beku nampaknya belum berkembang, karena tujuan ekspor produk tersebut masih ke pasar tertentu saja yaitu Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa. Ekspor ke negara lain, yakni RRC dan Hongkong, hanya dilakukan terhadap produk udang utuh beku (frozen head-on shrimp) dan itupun dalam volume yang sangat kecil. Ekspor produk olahan hewan kulit keras (crustaceans) lainnya, yakni lobster beku dan kepiting beku juga ditujukan ke pasar tersebut.

(14)

Tabel 25 Perkembangan ekspor unit pengolahan ikan sampel penelitian, 2002-2006 Perubahan (%) No Komoditas 2002 2003 2004 2005 2006 2005-2006 2002-2006 1 Udang • Volume (ton) 16.894 23.117 54.213 37.002 37.261 0,70 35,08 • Nilai (US $ 1000) 151.922 198.872 298.268 321.855 290.579 -9,72 19,77

2 Tuna dan sejenisnya

• Volume (ton) 5.153 4.916 8.805 7.924 5.324 -32,81 7,92 • Nilai (US $ 1000) 29.746 24.988 36.926 34.307 24.222 -29,40 -1,18

3 Ikan lainnya

• Volume (ton) 11.490 9.199 14.932 21.394 20.466 -4,34 20,33 • Nilai (US $ 1000) 21.817 26.645 36.646 52.705 52.294 -0,78 25,68

4 Cumi, sotong & gurita

• Volume (ton) 165 1.458 3.112 2.081 1.762 -15,33 212,33 • Nilai (US $ 1000) 372 4.437 8.309 5.152 4.467 -13,30 281,78 5 Komoditas lainnya • Volume (ton) 2.404 1.590 1.908 2.601 2.786 7,11 7,39 • Nilai (US $ 1000) 9.055 6.569 6.978 7.321 12.805 74,91 14,65 Jumlah • Volume (ton) 36.105 40.280 82.971 71.002 67.600 -4,79 24,58 • Nilai (US $ 1000) 212.913 261.512 387.126 421.340 384.367 -8,78 17,73 • Harga rata2 (US$/kg) 5,90 6,49 4,67 5,93 5,69 -4,05 1,24 Keterangan :

• Tuna dan sejenisnya = tuna, swordfish, marlin, meka dan cakalang

• Ikan lainnya = kakap merah, nila, remang, layur, kurisi, ikan leather jacket, ribbonfish, ikan sebelah, lemuru, tengiri, lemadang, cucut, bandeng, lele, patin, kuniran dan swanggi

• Komoditas lainnya = lobster, paha katak, surimi.

Kondisi yang hampir sama juga terjadi dalam pemasaran produk olahan hewan lunak (molluscs), dimana Jepang dan Uni Eropa merupakan tujuan ekspor utama produk olahan cumi-cumi, sotong dan gurita. Selain diekspor kedua negara tersebut, gurita juga diekspor ke Amerika Serikat. Diversifikasi pemasaran yang sudah cukup berkembang terjadi pada ekspor produk olahan ikan tuna dan sejenisnya. Selain diekspor ke Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa, produk ini diekspor pula

(15)

ke beberapa pasar potensial, yaitu Singapura, Taiwan, Korea Selatan, Australia, Afrika dan Timur Tengah.

Pemasaran ekspor produk olahan ikan kakap merah dan ikan nila pada umumnya hanya ditujukan ke Amerika Serikat dan Uni Eropa, hanya produk kakap merah utuh beku yang diekspor ke negara lain yakni RRC. Sementara itu, pemasaran produk olahan ikan lainnya agak spesifik karena produk olahan dari jenis ikan tertentu diekspor ke negara tertentu pula. Sebagai contoh, produk olahan ikan patin hanya ditujukan ke pasar Amerika Serikat; produk-produk olahan dari beberapa jenis ikan yang selama ini tidak diekspor, seperti cunang-cunang (remang), ikan sebelah, ikan ayam-ayam, kurisi, dan swanggi hanya diekspor ke RRC; dan produk olahan lemuru hanya ditujukan ke pasar Australia.

Produk olahan yang cukup terdiversifikasi pasarnya adalah ikan layur beku dan surimi beku. Produk ikan layur beku diekspor ke RRC, Korea Selatan, Jepang dan Australia, sedangkan tujuan ekspor surimi beku adalah Jepang, Singapura, Korea Selatan. 0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000 90000 Vol um e ( ton) 2002 2003 2004 2005 2006 Udang Tuna Ikan lainnya

Cumi, sotong & gurita Komoditas lainnya Total

(16)

Apabila dilihat tingkat penyerapan tenaga kerja per satuan produksi, diketahui bahwa untuk mengolah satu ton bahan baku diperlukan input tenaga kerja sebanyak 43 orang, meliputi 30 orang perempuan dan 13 orang laki-laki. Mereka bekerja pada bidang pengolahan sebanyak 39 orang dan pada bidang administrasi sebanyak empat orang. Dengan demikian, apabila seluruh unit pengolahan ikan yang menjadi sampel penelitian dapat beroperasi sesuai kapasitas terpasang, yaitu 892,3 ton per hari, maka tenaga kerja yang akan diserap diperkirakan mencapai 38.422 orang.

Penyerapan tenaga kerja 69 unit pengolahan ikan yang menjadi sampel penelitian secara keseluruhan berjumlah 21.698 orang, terdiri atas 6.610 orang laki-laki dan 15.088 orang perempuan. Berdasarkan jenis pekerjaan, terlihat bahwa 90,24% atau 19.581 orang bekerja pada bidang pengolahan, sedangkan sisanya yakni 9,76% atau 2.117 orang bekerja pada bidang administrasi (Tabel 26). Pada tabel itu juga terlihat bahwa secara keseluruhan, setiap unit pengolahan ikan rata-rata menyerap tenaga kerja sebanyak 314 orang, terdiri atas 96 orang laki-laki dan 218 orang perempuan. Dari 315 orang tersebut, 284 orang diantaranya bekerja pada bidang pengolahan dan 31 orang pada bidang administrasi.

5.1.4 Penyerapan tenaga kerja

0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000 400000 450000 N ila i (U S $ R ib u ) 2002 2003 2004 2005 2006

Gambar 13 Nilai ekspor unit pengolahan ikan sampel penelitian, 2002-2006.

Total

Komoditas lainnya Cumi, sotong & gurita Ikan lainnya

Tuna Udang

(17)

Tabel 26 Penyerapan tenaga kerja unit pengolahan ikan beku di Pulau Jawa, 2006 Jumlah Produksi Karyawan (orang)

Laki-laki Perempuan No Komoditas UPI

(unit)

(ton/

hari) Pengol. Adm Jumlah Pengol. Adm Jumlah

Jumlah total 1 Udang 25 177,78 3.053 439 3.492 7.326 566 7.892 11.384

• Rata-rata per UPI 122 18 140 293 23 316 456

• Rata-rata per ton bahan baku 17 2 19 41 3 44 63

2 Tuna dan sejenisnya 7 33 246 17 263 113 25 138 401

• Rata-rata per UPI 35 2 37 16 4 20 57

• Rata-rata per ton bahan baku 7 1 8 3 1 4 12

3 Multi komoditas 28 171,06 1.805 472 2.277 5.600 432 6.032 8.309 • Rata-rata per UPI 64 17 81 200 15 215 296

• Rata-rata per ton bahan baku 11 3 14 33 3 35 49

4 Nila 1 27 151 6 157 138 3 141 298

• Rata-rata per UPI 151 6 157 138 3 141 298

• Rata-rata per ton bahan baku 6 0 6 5 0 5 11

5 Kepiting 2 0,35 9 5 14 52 18 70 84

• Rata-rata per UPI 5 2 7 26 9 35 42

• Rata-rata per ton bahan baku 26 14 40 149 51 200 240

6 Layur 2 60 169 6 175 383 17 400 575

• Rata-rata per UPI 85 3 88 192 9 200 288

• Rata-rata per ton bahan baku 3 0 3 6 1 7 10

7 Ikan demersal 4 34,8 164 68 232 372 43 415 647

• Rata-rata per UPI 41 17 58 93 11 104 162

• Rata-rata per ton bahan baku 5 2 7 11 1 12 18

Jumlah 69 503,99 5.597 1.013 6.610 13.984 1.104 15.088 21.698 • Rata-rata per UPI 81 15 96 203 16 219 315

(18)

Jika dilihat berdasarkan komoditas, unit pengolahan udang beku menyerap tenaga kerja paling banyak yaitu 456 orang per UPI (unit pengolahan ikan). Selanjutnya, berturut-turut unit pengolahan nila beku 298 orang per UPI, unit pengolahan multi komoditas beku 296 orang per UPI, unit pengolahan layur beku 288 orang per UPI, unit pengolahan surimi beku 162 orang per UPI, unit pengolahan tuna beku 57 orang per UPI, dan unit pengolahan kepiting beku 42 orang per UPI. Sementara itu, jika dihitung berdasarkan satuan produksi, diketahui bahwa penyerapan tenaga kerja per satu ton bahan baku masing-masing komoditas adalah : kepiting 240 orang, udang 63 orang, multi komoditas 49 orang, ikan demersal 18 orang, tuna dan sejenisnya 12 orang, nila 11 orang, dan layur 10 orang.

5.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produk Perikanan Prima 5.2.1 Hasil analisis kriteria produk perikanan prima

Seperti diuraikan pada bab sebelumnya, bahwa produk perikanan prima didiskripsikan sebagai produk perikanan yang mempunyai tiga kriteria, yaitu : (1) bermutu tinggi dan aman dikonsumsi, (2) bernilai tambah tinggi, dan (3) berdaya saing tinggi. Dari hasil analisis dengan menggunakan SEM sebagaimana disajikan pada Tabel 27, diketahui bahwa seluruh peubah berbeda nyata pada taraf 1 %. Kriteria produk perikanan prima yang paling kuat adalah daya saing, selanjutnya nilai tambah dan yang paling lemah adalah mutu dan keamanan produk.

Tabel 27 Hasil analisis kriteria produk perikanan prima, 2006 (n = 69) No. Kriteria produk

perikanan prima Koefisien Nilai t Keterangan

1 Mutu dan keamanan (Y1) 0,055 7,857 BN

2 Nilai tambah (Y2) 0,210 30,000 BN

3 Daya saing (Y3) 0,355 50,714 BN

Keterangan :

BN = Berbeda nyata pada taraf 1%

5.2.2 Faktor-faktor penentu produk perikanan prima

Dari hasil analisis SEM diketahui bahwa seluruh faktor penentu produk perikanan prima berbeda nyata pada taraf 1 %. Faktor yang paling besar peranannya

(19)

adalah orientasi kewirausahaan (entrepreneurial orientation), diikuti oleh kebijakan publik (public policy) dan kompetensi sumberdaya manusia (human resources competency).

Tabel 28 Faktor-faktor penentu produk perikanan prima, 2006 (n = 69)

Faktor penentu Koefisien Nilai t Keterangan

X1 (kebijakan publik) 0,385 55,000 BN

X2 (orientasi kewirausahaan) 0,564 80,571 BN

X3 (kompetensi SDM) 0,379 54,143 BN

Keterangan :

BN = Berbeda nyata pada taraf 1%

5.2.3 Dekomposisi faktor-faktor yang mempengaruhi produk perikanan prima Hasil analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi produk perikanan prima menunjukkan bahwa seluruh peubah berbeda nyata pada taraf 1% (Tabel 30). Pada faktor kebijakan publik, dukungan sumberdaya manusia dalam pelaksanaan kebijakan publik memiliki pengaruh yang paling kuat. Aspek-aspek lain berdasarkan urutan pengaruhnya adalah : kelengkapan dan kebenaran informasi dalam perumusan kebijakan, dukungan anggaran dalam pelaksanaan kebijakan, rasionalitas tujuan dan alasan diadakannya kebijakan, legitimasi kebijakan yang digulirkan, kerealistisan asumsi dalam perumusan kebijakan, advokatif tidaknya apabila terjadi perbedaan di lapangan dalam pelaksanaan kebijakan, kepatuhan karyawan perusahaan terhadap ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam kebijakan, ekspektasi masyarakat terhadap tujuan kebijakan, dukungan informasi dalam pelaksanaan kebijakan, dukungan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan kebijakan, sosialisasi tentang manfaat kebijakan kepada masyarakat, antisipatif tidaknya terhadap perubahan dalam pelaksanaan kebijakan, partisipasi publik dalam pelaksanaan kebijakan, kepatuhan aparat Dinas Kelautan dan Perikanan terhadap ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam pelaksanaan kebijakan, dan kepatuhan aparat DKP terhadap ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam pelaksanaan kebijakan.

Pada faktor orientasi kewirausahaan, tindakan kompetitif memiliki pengaruh yang paling kuat. Aspek-aspek lain dalam faktor ini berdasarkan urutan pengaruhnya adalah jenis-jenis produk baru, teknik-teknik baru dalam pengolahan ikan, keberanian

(20)

Tabel 29 Dekomposisi faktor-faktor yang mempengaruhi produk perikanan prima, 2006 (n = 69)

No Faktor-faktor yang mempengaruhi produk perikanan prima

Koefi-sien Nilai t

Kete-rangan

1. Kebijakan publik (X1)

a Tujuan atau alasan rasional (X1.1) 0,599 85,571 BN

b Tujuan diinginkan masyarakat (X1.2) 0,513 73,286 BN

c Asumsi perumusan realistis (X1.3) 0,562 80,286 BN

d Informasi perumusan lengkap dan benar (X1.4) 0,614 87,714 BN e Manfaat tersosialisasi kepada masyarakat (X1.5) 0,488 69,714 BN f Advokatif dalam hal terjadi perbedaan (X1.6) 0,548 78,286 BN

g Antisipatif terhadap perubahan (X1.7) 0,458 65,429 BN

h Dukungan SDM dalam pelaksanaan (X1.8) 0,750 107,143 BN

i Dukungan Anggaran dalam pelaksanaan (X1.9) 0,613 87,571 BN j Dukungan sarana & prasarana dlm pelaksanaan (X1.10) 0,502 71,714 BN

k Dukungan informasi dalam pelaksanaan (X1.11) 0,506 72,286 BN

l Memperoleh legitimasi (X1.12) 0,579 82,714 BN

m Partisipasi publik dalam pelaksanaan (X1.13) 0,426 60,857 BN n Kepatuhan aparat DKP thd ketentuan dlm kebijakan X1.14) 0,261 37,286 BN

o Kepatuhan aparat Dinas Perikanan dan Kelautan thd ketentuan dalam kebijakan (X1.15)

0,337 48,143 BN p Kepatuhan karyawan perusahaan tdp ketentuan dalam

kebijakan (X1.16)

0.545 77,857 BN

2. Orientasi kewirausahaan (X2)

a Tindakan kompetitif (X2.1) 0,658 94,000 BN

b Teknik-teknik baru dalam pengolahan ikan (X2.2) 0,607 86,714 BN c Sikap kompetitif dalam menghadapi persiangan (X2.3) 0,550 78,571 BN

d Kepemimpinan R&D (X2.4) 0,572 81,714 BN

e Jenis-jenis produk baru (X2.5) 0,624 89,143 BN

f Perubahan produk (X2.6) 0,558 79,714 BN

g Kecenderungan risk taker (X2.7) 0,449 64,143 BN

h Keberanian menghadapi lingkungan bisnis (X2.8) 0,604 86,286 BN

3. Kompetensi SDM (X3)

a Pengetahuan mengenai PMMT/HACCP (X3.1) 0,432 61,714 BN

b Pengetahuan mengenai teknologi pengolahan (X3.2) 0,446 63,714 BN

c Ketrampilan mengenai PMMT/HACCP (X3.3) 0,414 59,143 BN

d Ketrampilan mengenai teknologi pengolahan (X3.4) 0,484 69,143 BN

e Perhargaan bagi karyawan (X3.5) 0,807 115,286 BN

f Kesempatan berkembang bagi karyawan (X3.6) 0,863 123,286 BN

g Gaji/upah bagi karyawan (X3.7) 0,611 87,286 BN

h Jenjang karier bagi karyawan (X3.8) 0,912 130,286 BN

i Komunikasi antar personil dalam perusahaan (X3.9) 0,892 127,571 BN Keterangan :

(21)

menghadapi lingkungan bisnis, kepemimpinan dalam riset dan pengembangan, perubahan produk (product changes), sikap kompetitif dalam menghadapi persaingan, dan yang terakhir adalah kecenderungan mengambil resiko.

Sementara itu, pada faktor kompetensi sumberdaya manusia, jenjang karier bagi karyawan mempunyai pengaruh yang paling kuat. Aspek-aspek lain berdasarkan urutan pengaruhnya adalah komunikasi antar personil dalam perusahaan, kesempatan berkembang bagi karyawan, reward bagi karyawan, gaji/upah bagi karyawan, ketrampilan mengenai teknologi pengolahan, pengetahuan mengenai teknologi pengolahan, pengetahuan mengenai HACCP dan yang terakhir adalah ketrampilan mengenai HACCP.

5.2.4 Korelasi antar faktor yang mempengaruhi produk perikanan prima

Hasil pengujian korelasi antar faktor yang mempengaruhi produk perikanan prima disajikan pada Tabel 30. Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa semua korelasi antar faktor mempunyai pengaruh terhadap produk perikanan prima. Korelasi yang paling kuat adalah antara faktor orientasi kewirausahaan dengan faktor kompetensi sumberdaya manusia. Selanjutnya, korelasi antara faktor kebijakan publik dengan faktor orientasi kewirausahaan dan yang paling lemah adalah korelasi antara faktor kebijakan publik dengan faktor kompetensi sumberdaya manusia.

Tabel 30 Korelasi antar faktor yang mempengaruhi produk perikanan prima, 2006 (n = 69) Faktor penentu X1 (Kebijakan

publik) X2 (Orientasi kewirausahaan) X3 (Kompetensi SDM) X1 (Kebijakan publik) 1,000 0,303 0,214 X2 (Orientasi kewirausahaan) 0,303 1,000 0,459 X3 (Kompetensi SDM) 0,214 0,459 1,000

5.2.5 Hasil pengujian hipotesa

Berdasarkan Tabel 27, 28, 29 dan 30 dapat ditarik kesimpulan atas hipotesa yang dikemukakan dalam penelitian ini seperti terlihat pada Tabel 31.

(22)

Tabel 31 Hasil pengujian hipotesa

Kode H0 H1 Hasil pengujian

H1.1 Rasionalitas tujuan menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Rasionalitas tujuan tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak H1.2 Keinginan masyarakat terhadap

tujuan menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Keinginan masyarakat thp tu-juan tdk menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak H1.3 Realistis tidaknya asumsi dalam

perumusan menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Realistis tidaknya asumsi dalam perumusan tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak

H1.4 Lengkap dan benar tidaknya informasi dalam perumusan menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Lengkap dan benar tidaknya informasi dalam perumusan menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak

H1.5 Kemampuan penyebaran manfaat menentukan efektivitas

pelaksanaan kebijakan publik

Kemampuan penyebaran manfaat tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak

H1.6 Advokatif tidaknya jika terjadi perbedaan pandangan menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Advokatif tidaknya jika terjadi perbedaan pandangan tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak

H1.7 Antisipatif tidaknya dalam menghadapi perubahan di lapangan menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Antisipatif tidaknya dalam menghadapi perubahan di lapangan tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak

H1.8 Dukungan SDM menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Dukungan SDM tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak H1.9 Dukungan anggaran menentukan

efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Dukungan anggaran tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak H1.10 Dukungan sarana dan prasarana

menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Dukungan sarana prasarana tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak H1.11 Dukungan informasi menentukan

efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Dukungan informasi tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak H1.12 Legitimasi menentukan efektivitas

pelaksanaan kebijakan publik

Legitimasi tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik • H0 diterima • H1 ditolak H1.13 Partisipasi masyarakat menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Partisipasi masyarakat tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

(23)

Tabel 31 Lanjutan

Kode H0 H1 Hasil pengujian

H1.14 Kepatuhan aparat DKP menentu-kan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Kepatuhan aparat DKP tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak H1.15 Kepatuhan aparat Dinas Perikanan

dan Kelautan menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Kepatuhan aparat Dinas Perikanan dan Kelautan tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak

H1.16 Kepatuhan karyawan unit pengolahan ikan menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

Kepatuhan karyawan unit pengolahan ikan tidak menentukan efektivitas pelaksanaan kebijakan publik

• H0 diterima

• H1 ditolak

H2 Pelaksanaan kebijakan publik pada unit pengolahan ikan mempunyai pengaruh positif terhadap produk perikanan prima

Pelaksanaan kebijakan publik pada unit pengolahan ikan mempunyai pengaruh negatif thp produk perikanan prima

• H0 diterima

• H1 ditolak

H3.1 Tindakan-tindakan kompetitif yang dilakukan oleh perusahaan menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

Tindakan-tindakan kompetitif yang dilakukan oleh perusahaan tdk menentukan tingkat

orientasi kewirausahaan

• H0 diterima

• H1 ditolak

H3.2 Teknik-teknik baru dalam pengolahan ikan menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

Teknik-teknik baru dalam pengolahan ikan tidak menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

• H0 diterima

• H1 ditolak

H3.3 Sikap kompetitif dalam menghadapi persaingan menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

Sikap kompetitif dalam menghadapi persaingan tidak menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

• H0 diterima

• H1 ditolak

H3.4 Kepemimpinan dalam penelitian dan pengembangan menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

Kepemimpinan dalam

penelitian dan pengembangan tidak menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

• H0 diterima

• H1 ditolak

H3.5 Jenis-jenis produk baru yang dihasilkan perusahaan menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

Jenis-jenis produk baru yang dihasilkan perusahaan tidak menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

• H0 diterima

• H1 ditolak

H3.6 Perubahan terhadap produk menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

Perubahan terhadap produk tidak menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

• H0 diterima

• H1 ditolak H3.7 Kecenderungan mengambil resiko

menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

Kecenderungan mengambil resiko tidak menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

• H0 diterima

• H1 ditolak H3.8 Keberanian menghadapi

lingkungan bisnis menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

Keberanian menghadapi lingkungan bisnis tidak menentukan tingkat orientasi kewirausahaan

• H0 diterima

(24)

Tabel 31 Lanjutan

Kode H0 H1 Hasil pengujian

H4 Orientasi kewirausahaan perusahaan pengolahan ikan mempunyai pengaruh positif terhadap produk perikanan prima

Orientasi kewirausahaan perusahaan pengolahan ikan mempunyai pengaruh negatif thp produk perikanan prima

• H0 diterima

• H1 ditolak

H5.1 Pengetahuan mengenai sistem manajemen mutu berdasarkan konsepsi HACCP menentukan kompetensi SDM

Pengetahuan mengenai sistem manajemen mutu berdasarkan konsepsi HACCP tidak menentukan kompetensi SDM

• H0 diterima

• H1 ditolak

H5.2 Pengetahuan mengenai teknologi pengolahan produk bernilai tambah tinggi menentukan kompetensi SDM

Pengetahuan mengenai teknologi pengolahan produk bernilai tambah tinggi tidak menentukan kompetensi SDM

• H0 diterima

• H1 ditolak

H5.3 Ketrampilan mengenai penerapan sistem manajemen mutu

berdasarkan konsepsi HACCP menentukan kompetensi SDM

Ketrampilan mengenai penera-pan sistem manajemen mutu berdasarkan konsepsi HACCP tidak menentukan kompetensi SDM

• H0 diterima

• H1 ditolak

H5.4 Ketrampilan mengenai teknologi pengolahan produk bernilai tambah tinggi menentukan kompetensi SDM

Ketrampilan mengenai teknologi pengolahan produk bernilai tambah tinggi tidak menentukan kompetensi SDM

• H0 diterima

• H1 ditolak

H5.5 Pemberian penghargaan bagi karyawan yang berprestasi menentukan kompetensi SDM

Pemberian penghargaan bagi karyawan yang berprestasi tidak menentukan kompetensi SDM

• H0 diterima

• H1 ditolak H5.6 Kesempatan karyawan untuk

berkembang menentukan kompetensi SDM

Kesempatan karyawan untuk berkembang tidak menentukan kompetensi SDM

• H0 diterima

• H1 ditolak H5.7 Upah/gaji dan fasilitas lain bagi

karyawan menentukan kompetensi SDM

Upah/gaji dan fasilitas lain bagi karyawan tidak menentukan kompetensi SDM

• H0 diterima

• H1 ditolak H5.8 Jenjang karier menentukan

kompetensi SDM

Jenjang karier tidak menentukan kompetensi SDM

• H0 diterima

• H1 ditolak H5.9 Komunikasi interpersonal pada

perusahaan menentukan kompetensi SDM

Komunikasi interpersonal pada perusahaan tidak menentukan kompetensi SDM

• H0 diterima

• H1 ditolak H6 Kompetensi SDM pada unit

pengolahan ikan mempunyai pengaruh positif terhadap produk perikanan prima

Kompetensi SDM pada unit pengolahan ikan mempunyai pengaruh negatif terhadap produk perikanan prima

• H0 diterima

• H1 ditolak

H7 Interaksi kebijakan publik dengan orientasi kewirausahaan

mempunyai pengaruh positif terhadap produk perikanan prima

Interaksi kebijakan publik dengan orientasi kewirausahaan mempunyai pengaruh negatif terhadap produk perikanan prima

• H0 diterima

(25)

Tabel 31 Lanjutan

Kode H0 H1 Hasil pengujian

H8 Interaksi kebijakan publik dengan kompetensi SDM mempunyai pengaruh positif terhadap produk perikanan prima

Interaksi kebijakan publik dengan kompetensi SDM mempunyai pengaruh negatif thp produk perikanan prima

• H0 diterima

• H1 ditolak

H9 Interaksi orientasi kewirausahaan dengan kompetensi SDM

mempunyai pengaruh positif terhadap produk perikanan prima

Interaksi orientasi kewirausaha-an dengkewirausaha-an kompetensi SDM mempunyai pengaruh negatif thp produk perikanan prima

• H0 diterima

• H1 ditolak

H10.1 Kasus penahanan/penolakan dan RASSF merupakan indikator produk perikanan prima

Kasus penahanan/penolakan dan RASSF bukan merupakan indikator produk perikanan prima

• H0 diterima

• H1 ditolak

H10.2 Nilai tambah produk merupakan indikator produk perikanan prima

Nilai tambah produk bukan merupakan indikator produk perikanan prima

• H0 diterima

• H1 ditolak H10.3 Indeks RCA merupakan indikator

produk perikanan prima

Indeks RCA bukan merupakan indikator produk perikanan prima

• H0 diterima

Gambar

Tabel 16  Produksi dan tingkat utilisasi unit pengolahan ikan beku   di Pulau Jawa, 2006
Tabel 17  Produksi dan tingkat utilisasi unit pengolahan udang beku   di Pulau Jawa, 2006  No Provinsi  Jumlah  (unit)  Status   perusahaan  Kapasitas  produksi   (ton/hari)  Realisasi  produksi  (ton/hari)  Tingkat utilisasi (%)  1 Jawa  Barat  2  •  2 SN
Tabel 19  Produksi dan tingkat utilisasi unit pengolahan multi   komoditas di Pulau Jawa, 2006
Tabel 20  Diversifikasi dan nilai tambah produk olahan   hewan kulit keras (crustaceans), 2006
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dapat dilihat bahwa di setiap saat, grafik amplitudo sel[1,1] pada simulasi tanpa anomali (warna merah) selalu lebih tinggi daripada grafik simulasi dengan anomali.

 Menyajikan hasil pengolahan dan anlisan data hasil percobaan tentang besaran perpindahan dan kecepatan pada gerak parabola dengan menggunakan vektor tangensial

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Silvia Anitasari dan Liliwati (2005) tentang kesehatan gigi dan mulut pada murid-murid

10 Amirudin. Pengantar Metode Penelitian Hukum.. 10 sosiologis dan memperhatikan aspek sosial, dalam hal ini metode pendekatan akan menitikberatkan pada peraturan

Kesimpulan yang di dapatkan setelah menganalisis SWOT dan mendapatkan hasil strategi terpilih dari Matrix SWOT ( W1 – O2 ) (S5 – T3) bahwa produk kopi jagung “Cap Nanas”

Pertunjukan Nini Thowong merupakan salah satu kesenian yang ada di Desa Panjangrejo Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul.Pada awalnya warga sekitar mempunyai keyakinan bahwa

47 Desa Sukamantri Kecamatan Paseh 74 TBM Putra Indonesia Eva Noersyarifah Kampung Rajadesa RT 06/ 05 Desa Cipaku Kecamatan Paseh 75 TBM Nurhasanah Ina Winarni, S.Pdi Kampung Sadang

3.2.2.4 DFD Level 1 Proses 6 ADMIN 6.1 PENCARIAN JENIS WISATA 6.2 PENCARIAN JENIS SARANA PENDUKUNG MEMBER PENGUNJUNG 7 TAMPIL DATA Informasi wisata alam 6.3 EVENT Peta 6.1.1