PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG
Aspek TeknisPengendalian Gulma
Pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit umumnya difokuskan pada 3 tempat, yaitu di piringan, pasar pikul dan TPH. Hal ini dikarenakan bahwa ketiga tempat tersebut memiliki peranan masing-masing. Piringan sebagai tempat penyebaran pupuk dan tempat jatuhnya tandan buah serta brondolan, sedangkan di pasar pikul sebagai jalan pengangkutan buah ke TPH dan di TPH sebagai tempat pengumpulan TBS ataupun brondolan sebelum diangkut ke PMKS.
Pengendalian gulma secara manual (Dongkel Anak Kayu). Dongkel anak kayu adalah salah satu teknik pengendalian gulma secara manual. Pengendalian gulma ini selain berfokus terhadap gulma berkayu juga melakukan pembersihan di piringan dengan membersihkan pelepah-pelepah yang berada di sekitar piringan dengan menyusun dengan letter “I” jika berada di dekat jalan raya dan di daerah tanjakan atau menyusun dengan letter “U”. Gulma berkayu yang dimaksud, yaitu: (1). Chromolaena odorata (putihan), (2). Melastoma malabathricum (senduduk atau senggani), (3). Lantana sp (bunga tahi ayam), (4).
Clidemia hirta (harendong atau akar kala). Pengendalian ini menggunakan beberapa alat seperti alat cados (cangkul kecil) dengan cara membongkar gulma sampai perakarannya dan tidak dibenarkan membabat (slashing) serta parang.
Kegiatan dongkel anak kayu dilakukan oleh penulis pada TM 17 di Blok B90b. Sistem kerja yang digunakan adalah sistem berdasarkan hari kerja (HK) yang diperoleh. Waktu kerja dimulai dari pukul 07.00-14.00 WIB dan istirahat dari pukul 11.30-12.00 WIB. Norma yang digunakan untuk pengendalian gulma secara manual adalah 1 pasar pikul/2HK, sedangkan prestasi kerja penulis adalah 1⁄2 pasar pikul. Dari perolehan prestasi kerja, hasil kerja penulis masih dibawah prestasi kerja PHL. Hal ini disebabkan oleh alat yang digunakan dipinjam dari pekerja, cuaca yang sangat terik dan kemampuan fisik penulis.
Pengendalian gulma secara kimiawi. Pengendalian gulma secara kimia merupakan kegiatan pengendalian yang pengaplikasiannhjija menggunakan alat semprot. Alat semprot yang digunakan yaitu Controlled droplet applicator (CDA) /Micron Herbi dan Knapsack sprayer. Pengendalian gulma secara kimiawi di Kebun Buatan dibagi menjadi 2 tim unit semprot (TUS) yaitu (1). TUS yang menggunakan Controlled droplet applicator (CDA); (2). TUS yang menggunakan alat Knapsack sprayer.
Pengendalian dengan alat semprot CDA. Herbisida yang digunakan dalam CDA antara lain (1). Bionassa (bahan aktif glifosat) + Lindomin (bahan aktif 2,4D) atau (2). Trychrophirl = Biolon. Sebelum pengaplikasian, kedua larutan yang akan digunakan harus sesuai dengan anjuran asisten afdeling dan asisten kebun agar sesuai dengan area yang akan disemprot. Kosentrasi larutan yang digunakan juga berbeda-beda, yaitu (1). Bionassa (4 %) + Lindomin (2 %); (2). Trychrophirl (0,5 %). Larutan ini sudah dilarutkan dalam tangki mobil dengan kapasitas 275 liter lalu dipindahkan dan dimasukkan ke CDA dengan kapasitas 10 liter yang menggunakan nozzle nomor 3. Jenis gulma yang diberantas dengan alat ini adalah jenis Asystasia, rumput-rumputan dan gulma anak kayu. Norma kerja yang digunakan untuk penyemprotan gulma dengan CDA adalah 5 ha/HK, sedangkan prestasi kerja penulis rata-rata adalah 1 ha/HK.
Pengendalian dengan alat semprot Knapsack sprayer RB-15. Herbisida yang digunakan dalam Knapsack sprayer yaitu (1). Gramoxone (bahan aktif paraquat) dengan konsentrasi 0,5 % + Trapp (bahan aktif Methyl metsolfuron) dengan konsentrasi 0,03%; (2). Bionasa (bahan aktif glifosat) dengan konsentrasi 1 % + Lindomin (bahan aktif 2,4 D) dengan konsentrasi 0,25 %; (3). Trychropir (bahan aktif Biolon) dengan konsentrasi 0,15 %. Jenis gulma yang diberantas dengan alat ini adalah gulma yang tergolong anak kayu, pakis-pakisan dan kentosan. Norma kerja yang digunakan untuk penyemprotan gulma dengan
Knapsack sprayer adalah 3 ha/HK, sedangkan prestasi kerja penulis adalah ½ ha/HK. Kurangnya prestasi kerja dari penulis adalah karena kurangnya peralatan yang diperlukan untuk melakukan kegiatan seperti alat semprot dan APD selain itu juga karena kondisi fisik penulis.
Sebelum dilakukan penyemprotan, terlebih dahulu dilakukan briefing di gudang untuk menentukan area yang akan disemprot. Setelah di lapangan, para pekerja menggunakan alat pengaman diri (APD). Kecepatan jalan penyemprotan harus diatur agar bahan yang digunakan tidak kurang dan berlebih.
Penyemprotan pada piringan dilakukan terhadap gulma yang berada sekitar 2 meter dari batang kelapa sawit. Pada aplikasi herbisida di pasar pikul dilakukan dengan lebar 1,5 meter. Hasil yang diharapkan yaitu dalam keadaan yang bersih karena pasar pikul berfungsi sebagai jalan dalam pengerjaan dan pengawasan pemanenan serta pemupukan. Pada pengendalian gulma di TPH dilakukan dengan luas 3 m x 4 m dengan standar yang harus dipertahankan adalah tidak ada gulma, tidak ada anak sawit, tidak ada brondolan tertinggal dan tidak ada kotoran di TPH. Aplikasi penyemprotan gulma dengan Knapsack Sprayer dan alat CDA dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. (a) Aplikasi Penyemprotan Gulma dengan Knapsack Sprayer RB-15; (b) Alat CDA
Penunasan
Penunasan adalah kegiatan pemotongan pelepah untuk menjaga luasan permukaan daun (leaf area) yang optimum agar diperoleh produksi yang maksimum, mempermudah pemanenan dan mengurangi kehilangan produksi (losses). Losses yang sering terjadi akibat tidak berjalannya penunasan seperti buah masak yang tertinggal di pokok serta brondolan tersangkut di ketiak pelepah.
Tujuan lain penunasan adalah agar menjaga sanitasi atau kebersihan tanaman sehingga menciptakan lingkungan yang tidak sesuai bagi perkembangan hama dan penyakit. Sistem penunasan yang berlaku di Kebun Buatan adalah progressive pruning. Dalam mencapai produksi yang maksimum maka harus dihindari terjandinya over pruning dan under pruning. Keadaan di lapangan menujukkan bahwa terdapat pokok yang mengalami over pruning dan under pruning. Over pruning adalah terbuangnya sejumlah pelepah produktif secara berlebihan yang akan mengakibatkan penurunan produksi. Penurunan produksi dapat terjadi karena berkurangnya areal fotosintesis, pokok mengalami stress yang terlihat melalui peningkatan gugurnya bunga betina, peningkatan bunga jantan dan penurunan bobot janjang rata- rata (BJR), sedangkan under pruning adalah tidak terbuangnya sejumlah pelepah yang tidak berproduksi lagi sehingga mengakibatkan berlebihnya unsur hara. Unsur hara yang berlebih ini dapat mengganggu proses panen dan meningkatkan serangan penyakit Marasmius dan Tirathaba. Untuk menghindari terjadinya kedua hal tersebut maka harus dilakukan pengawasan yang ketat dan menggunakan tenaga kerja yang terampil dalam menunas.
Kegiatan penunasan dilakukan penulis di Blok 91d (Inti 35). Pada saat penulis melakukan kegiatan menunas, anggota tunasan berasal dari mandoran dongkel anak kayu dan mandor sarana prasarana, sehingga dibuat geng khusus. Geng khusus ini bersifat tidak tetap karena tidak berjalan setiap hari dan jumlah anggotanya yang tidak tetap. Hal ini diakibatkan karena kegitan penunasan yang seharusnya tidak berjalan (progressive pruning). Umumnya dalam 1 hari jumlah anggota geng tunas berjumlah 12 orang yang terdiri dari 6 laki-laki dan 6 perempuan. Waktu pekerjaan yang dilaksanakan juga sama yaitu 7 jam dimana basis pekerjaan yang ditetapkan untuk kegiatan ini adalah 300 pokok/12 HK, sedangkan prestasi kerja yang dipeloreh penulis tidak ada karena pada saat kegiatan tersebut penulis bertindak sebagai pendamping mandor.
Pemupukan
Pemupukan merupakan kegiatan pemeliharaan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktifitas tanaman. Pemberian pupuk harus memperhatikan
kondisi tanaman (daya serap akar), dosis, waktu, cara, jenis pupuk, dan realisasi pemupukan sebelumnya. Kegiatan pemupukan di Kebun Buatan dilaksanakan dua kali setahun yaitu pada semester I (Januari-Juni) dan pada semester II (Juli-Desember) pada tanaman menghasilkan (TM). Pemupukan di kebun Buatan ini menggunakan pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik menggunakan menggunakan limbah berupa janjangan kosong (JJK), Decanter Solid (DS), Land
Aplikasi (LA) dan abu janjang. Pupuk anorganik biasanya menggunakan pupuk tunggal seperti Dolomit, ZA, MOP, RP, dan HGFB.
Pemupukan organik (JJK, DS, abu janjang dan LA). Janjangan kosong (JJK) merupakan limbah yang berasal dari pabrik kelapa sawit (PKS) yang telah diproses di sterilizer dan stripper. Pengaplikasian janjangan kosong dapat memberikan keuntungan karena dapat berperan sebagai mulsa, sebagai sumber hara atau pupuk serta dapat meningkatkan kesuburan dan memperbaiki struktur tanah. Dikatakan sebagai sumber hara atau pupuk karena unsur utama yang terdapat pada janjangan kosong, yaitu 8.00 kg Urea; 2.90 kg RP; 18.30 kg MOP; 5.00 kg Kieserit; dan unsur lainnya (B, Cu, Zn, Fe, dan Mn) (Pahan, 2010). Dari keempat unsur hara tersebut, unsur kalium yang paling banyak terdapat dan paling cepat terurai, sehingga dalam pengaplikasiannya paling lambat 2 hari setelah janjangan kosong tersebut sampai di lapangan.
Aplikasi janjangan kosong di Kebun Buatan dengan cara manual yaitu dengan menggunakan angkong dan gancu di antara pokok dan gawangan mati. Saat pengaplikasian janjangan kosong, gawangan mati harus dibersihkan terlebih dahulu karena jika gawangan mati tidak dibersihkan dari gulma maka saat penyerapan unsur hara akar tanaman kelapa sawit tidak dapat menyerapnya secara keseluruhan. Janjangan kosong yang diaplikasikan cukup satu lapis yang ukurannya 8 janjangan x 11 janjangan. Saat pengaplikasian satu angkong dapat memuat 30-35 janjangan kosong dimana bobot 1 janjangan 20% dari bobot janjangan sebelum diolah, sehingga pada saat sekali membawa angkong berat yang dibawa 120-150 kg. Untuk 1 ukuran janjangan kosong dibutuhkan 3 kali angkong, sehingga total janjangan kosong di 1 ukuran 90-105 janjangan kosong. Janjangan kosong juga hanya diaplikasikan 1 kali tahun pada areal yang sama.
Jika penyebaran dilakukan lebih dari satu lapis maka akan mendorong berkembangnya kumbang Orcytes pada tumpukan janjangan tersebut. Karyawan yang bekerja di aplikasi janjangan kosong ini adalah wanita yang sudah ahli. Norma kerja karyawan adalah 10 titik/hari dan norma kerja penulis 5 titik/hari. Hasil kerja penulis masih di bawah hasil kerja karyawan. Hal ini disebabkan karena kondisi fisik penulis dan alat yang digunakan merupakan pinjaman dari karyawan.
Decanter Solid (DS) juga merupakan salah satu dari hasil limbah PMKS yang dapat dijadikan pupuk organik. Dikatakan sebagai sumber hara atau pupuk karena unsur hara yang terdapat pada decanter solid yaitu 10.3 kg Urea; 3.3 kg RP; 6.1 kg MOP; 4.5 kg Kieserit (Pahan, 2010). Aplikasi decanter solid di Kebun Buatan harus sesuai dengan rekomendasi oleh R & D setelah berkonsultasi dengan kebun setempat.
DS dibungkus dengan menggunakan karung goni dan pengaplikasian DS dilakukan dengan cara manual yaitu dengan menggunakan angkong dimana satu angkong dapat membawa 7-10 untilan. DS diaplikasikan diantara 2 pokok kelapa sawit dan disebar merata diatas rumpukan pelepah di gawangan mati dengan dosis 4-5 until dimana satu until berisi 14 atau 18 kg. DS diaplikasikan di lapangan hanya satu kali dalam satu tahun dimana basis yang digunakan untuk aplikasi DS adalah 150 until / HK. Norma kerja penulis pada saat menjadi BHL di kegiatan ini adalah 25 until. Dari perolehan hasil kerja, hasil kerja penulis masih di bawah hasil kerja karyawan.
Abu janjang adalah produk akhir pembakaran janjangan kosong (JJK) pada incenerator PMKS. Unsur hara yang terkandung dalam abu janjang berdasarkan analisis sampel diberikan pada Tabel 3.
Tabel 2. Persentase Unsur Hara dalam Abu Janjang
Unsur Hara Kandungan Hara (%)
K 35,0 – 47,0 K2O
P 2,5 – 3,5 P2O5
Mg 4,0 – 6,0 MgO
Ca 4,0 – 6,0 CaO
Sumber : Agricultural Policy Manual (APM) Asian Agri Group (2008)
Umumnya abu janjang mengandung sedikitnya 40 % K2O dan sisanya hara makro dan mikro lainnya. Aplikasi abu janjang memiliki keuntungan, yaitu :
mengandung kalium (K) yang tinggi. Hal tersebut dapat digunakan untuk mensubstitusi kelebihan biaya pupuk MOP dan sangat alkalis (pH : 12), sehingga dapat memperbaiki pH tanah terutama tanah masam, mengaktifkan pertumbuhan akar, meningkatkan ketersediaan hara tanah dan aktivitas mikroorganisme tanah.
Abu janjang mengandung unsur K tinggi, sehingga jika penggunaan yang tidak tepat dapat menyebabkan akar kelapa sawit dapat terbakar (scorching). Abu janjang juga hanya direkomendasikan pada areal tanaman menghasilkan (TM) dan sudah sesuai dengan rekomendasi dan persetujuan dari R & D. Pengaplikasian abu janjang di afdeling 1, 2 dan 3 hanya 1 kali/tahun karena areal tanah yang berada di afdeling tersebut merupakan areal tanah mineral. Pengaplikasian abu janjang interval dengan pupuk yang lainnya yang harus dijaga minimum 4 minggu pada areal pengaplikasian yang sama. Pengaplikasian abu janjang hampir sama dengan aplikasi pada pupuk anorganik yaitu disebar merata secara melingkar di piringan dengan jarak 30 cm dari pangkal pokok sampai batas luar piringan.
Land aplication (LA) adalah penggunaan limbah cair yang mengandung bahan organik tinggi yang berasal dari pengolahan pabrik minyak kelapa sawit terutama dari sterilizer condensate, sludge dari klarifikasi dan air buangan
hydrocyclone. Keuntungan land application adalah memanfaatkan sumber kandungan unsur hara yang tinggi dan dapat digunakan sebagai pengganti pupuk anorganik, sebagai sumber air bagi tanaman terutama pada saat musim kering, dan mengurangi polusi yang dapat ditimbulkan jika dibuang ke sungai. Untuk 1 ha lahan terdapat kurang lebih 53 flatbed. Rotasi pengisian flatbed adalah tiga bulan sekali.
Saat mengikuti kegiatan LA, penulis mengikuti kegiatan service bak LA yakni memotong gulma di sekitar bak dan menggali bak hingga mencapai dasar tanah yang tidak tercampur cairan LA. Selain itu, jika terdapat pipa pecah atau bocor dan keran yang rusak harus segera diperbaiki serta melihat parit penghubung pada sekat antara flatbed harus diperiksa. Bak LA di afdeling II berukuran ± 2 m x 1 m. Rotasi service LA pada afdeling II yaitu 6 bulan sekali.
Pemberian LA di lahan dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Pemberian Limbah Cair di Lahan
Pemupukan anorganik. Jenis pupuk anorganik yang digunakan di Kebun Buatan yaitu Dolomit, ZA, MOP, RP, dan HGFB. Program pemupukan di Kebun Buatan berpedoman pada rekomendasi yang dikeluarkan oleh Departemen R & D, PT. Asian Agri yang terletak di Tebing Tinggi. Rekomendasi ini dikeluarkan bedasarkan hasil analisis sampel daun/leaf sampling unit (LSU).
Pelaksanaan pemupukan di kebun Buatan anorganik dilakukan di pagi hari pada pukul 08.00 -12.00 WIB. Hal ini dikarenakan karena efektifitas penyerapan hara oleh tanaman lebih baik pada pagi hari.
Tahapan pelaksanaan pemupukan antara lain:
1) Pupuk yang akan diaplikasikan untuk esok hari didapat dari kegiatan “penguntilan”. Kegiatan penguntilan dilakukan dengan cara pegeceran 1 karung goni dengan bobot 50 kg dibagi menjadi dosis yang akan digunakan (seperti 8 kg, 12 kg, 18 kg, dan lain-lain) untuk 8 pokok; dalam kegiatan penguntilan basis yang digunakan yaitu 1500 kg/HK. Kegiatan penguntilan pupuk dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Penguntilan Pupuk
2) Pupuk yang telah diuntil diambil dahulu dari gudang dengan menggunakan
dump truck (DT). Mandor pupuk serta ketua rombongan (KR) harus mengetahui dan memastikan untilan pupuk yang masuk ke dalam dump truck
sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan.
3) Pupuk diecer dari dump truck sesuai dengan jumlah pupuk yang dibutuhkan bedasarkan keterangan TPP (tempat peletakan pupuk) yang ada di batang kelapa sawit.
4) Pupuk ditabur di piringan dengan cara “letter U” dengan jarak 50 cm dari pokok kelapa sawit. Dalam pelaksanaan penaburan biasanya mandor dibantu oleh KR untuk mengawasi para BHL agar sesuai dengan dosis yang dianjurkan, yakni 8 pokok/untilan.
5) Selesai pengaplikasian maka karung goni yang digunakan sebelumnya dikumpulkan kembali kepada mandor pupuk untuk pengecekan apakah sudah sesuai dengan ketetapan sebelumnya dan dapat juga digunakan sebagai tempat pengutipan brondolan.
Untuk menghindari kekeliruan dalam penerapannya (pengaplikasian dua kali atau jenis pupuk yang sama) dan menghindari adanya kegiatan lain maka selesai pengaplikasian, daerah yang telah dipupuk diberi tanda peringatan bahwa areal tersebut tidak boleh ada kegiatan paling lama 3 hari. Secara teknis dalam pelaksanaannya kegiatan pemupukan dilaksanakan dengan prinsip kerja 4T (tepat waktu, tepat dosis, tepat cara dan tempat jenis). Pemupukan anorganik di Kebun
Buatan dilaksanakan dengan menggunakan 2 semesteran bedasarkan rekomendasi R & D.
Basis yang digunakan dalam kegiatan pemupukan yaitu 400 kg/HK. Premi yang digunakan dalam kegiatan pemupukan yaitu “premi mati” sebesar Rp. 5 000. Premi ini didapat jika dapat melewati basis tersebut. Norma kerja penulis yaitu sebesar 8 untilan dengan dosis 1 untilan sebesar 8 kg (1 pokok = 1 kg) sedangkan para pekerja dengan dosis sebesar 8 kg/untilan maka basisnya sebesar 50 untilan. Dari perolehan prestasi kerja, hasil kerja penulis masih dibawah prestasi kerja PHL. Hal ini disebabkan karena alat yang digunakan dipinjam dari pekerja sehingga dapat menggangu pekerjaan karyawan. Umumnya pada kegiatan pemupukan terdapat kendala yang dihadapi yaitu ketidakjujuran beberapa penabur dalam mengaplikasian pupuk sehingga dosis per pokok tidak merata atau tidak sesuai dengan ketetapan yaitu 8 pokok dan ada beberapa pokok yang tidak dipupuk. Oleh karena itu, dalam prakteknya terdapat pelaksanaan pemupukan yang tidak sesuai dengan SOP perusahaan.
Sarana dan Prasarana
Pemasangan gorong-gorong. Gorong-gorong adalah salah satu sarana prasarana unit jembatan yang berfungsi untuk mengalirkan air agar jalan tidak tergenang air, sehingga transportasi yang berkaitan dengan kegiatan operasional dapat berjalan dengan baik terutama untuk pengangkutan TBS. Gorong-gorong yang digunakan di Afdeling II Kebun Buatan memiliki diameter sebesar 30 cm dengan panjang empat meter dan ditanam pada kedalaman ± 72 cm dari permukaan tanah kemudian ditimbun kembali dengan tanah agar tidak pecah ketika dilewati kendaraan dan juga agar tidak tersumbat lumpur. Kemudian pada bagian pangkal dari gorong-gorong dibuat rorak (tempat menampung air dari parit), panjang rorak adalah 1 m dengan lebar ½ m, sedangkan pada bagian ujung lainnya dibuat parit yang berukuran 1 m2 untuk menampung air yang keluar dari rorak yang kemudian mengalirkannya ke saluran tempat pembuangan air. Bagian ujung kiri dan kanan di atas gorong-gorong yang telah tertimbun kemudian diletakkan karung goni yang berisi tanah sebanyak (± 30 karung) agar tanah tidak mudah longor. Prestasi kerja yang diperoleh untuk kegiatan ini adalah 1unit/2HK.
Prestasi kerja karyawan adalah 1 unit/2HK dan prestasi kerja penulis sama dengan prestasi karyawan. Kegiatan pemasangan gorong-gorong disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4 . Pemasangan Gorong-Gorong
Rempes atau penunasan pelepah di jalan utama. Kegiatan penunasan pelepah ini dilakukan dengan membuang pelepah yang tidak produktif lagi yang berada di sepanjang jalan utama (poros jalan). Kegiatan rempes ini mempunyai tujuan, yakni agar sinar matahari tidak terhalang oleh pelepah yang menutupi poros jalan. Dengan demikian badan jalan lebih cepat kering, sehingga proses pengangkutan TBS ke PMKS dapat berjalan dengan baik dan lancar. Tahapan kegiatan ini antara lain: (1). Memotong pelepah yang menutupi jalan utama (poros jalan) tetapi sisakan bagian pelepah ± 1 m; (2). Pelepah yang berserakan di sepanjang jalan dipotong menjadi 2 bagian dan disusun dengan rapi di gawangan mati. Umumnya kegiatan ini difokuskan pada areal yang sering tergenangi air. Norma kegiatan pada kegiatan rempes tidak ada karena kegiatan ini bersifat tidak tetap dan anggotanya juga berasal dari mandoran lain.
Sensus Pokok Mati/Thinning Out.
Tiap afdeling suatu kebun memerlukan 2 tim sensus dengan prestasi kerja 5-7 ha/Hk. Satu tim sensus beranggotakan 3 petugas, yaitu petugas A (sebagai penghitung dan pencatat jumlah pokok), petugas B (sebagai pembuat nomor dan pembawa cat) dan petugas C (sebagai pembuat administrasi lapangan). Bahan dan alat yang harus dipersiapkan dalam pekerjaan sensus, yaitu triplek (hard cover),
pulpen 4 (empat) warna, formulir sensus, kuas, parang/sendok (alat pengerok), cat warna putih, tempat cat (aqua), map penyimpan files.
Saat sensus, petugas menghitung dan mencatat status pokok berdasarkan tanda pada formulir sensus. Ciri- ciri pokok yang akan di thinning out adalah pokok-pokok yang sudah tersambar petir, tidak berbunga lagi, dan yang sudah mati/tidak berproduksi lagi. Fungsi diadakan sensus thinning out adalah untuk menandakan pokok yang sudah mati/sudah tidak dapat berproduksi lagi dan digunakan sebagai rekomendasi jumlah untilan pupuk per TPP. Petugas berjalan di pasar rintis pada setiap TPP yang ada pada blok yang akan disensus dan arah berjalan menurut arah barisan. Petugas A menyensus 2 baris pokok (baris 1 dan 2). Secara bersamaan petugas B membersihkan atau ”mengerok” pelepah pokok terluar pada barisan tersebut sebagai tempat pencatatan hasil sensus. Petugas A menyensus seluruh pokok dalam barisan tersebut. Apabila ditemukan pokok yang harus dithinning out (ditebang), maka petugas B langsung mengecat pada pelepah. Tanda pengecatan yang dilakukan di Kebun Buatan disajikan pada Gambar 5.
Gambar 5. Tanda Pengecatan Pokok yang akan Thinning Out
Pengecatan yang dilakukan sesuai dengan tanda yang ditetapkan, yakni tanda “X” dengan cat merah dan tanda “lingkaran” dengan cat putih. Kemudian petugas A memberitahu kepada petugas C mengenai jumlah pokok yang telah disensus dan menulis jumlah TPP pada pokok permulaan di pasar rintis. Pengecekan TPP dilakukan bersamaan dengan menyensus jumlah pokok.
Pengecekan TPP dilakukan minimal 25-27 TPP/hari. Seluruh hasil akan dilaporkan kepada asisten afdeling
Sensus Ulat Api
Sistem pemantauan rutin sangat membantu pelaksanaan kebijakan pengendalian hama terpadu. Hal ini dapat memberi peluang perkembangan musuh alami, sehingga memungkinkan terjadinya keseimbangan alami. Sistem sensus harus meliputi deteksi dan penghitungan hama pada titik sensus. Skema dalam penentuan titik sensus (TS) adalah titik sensus pada seluruh titik sensus dimulai dari pokok keempat ditepi jalan kemudian setiap 10 pokok yakni TS 14, TS 24, TS 34, dan seterusnya, bila setelah TS terakhir masih tersisa > 4 pokok maka ditambahkan satu TS pada pokok terakhir, setiap TS terdiri dari tiga pokok yaitu pokok TS ditambahkan dua pokok di sampingnya, agar tidak terjadi “over pruning” akibat pemotongan pelepah karena sensus setiap bulan, maka TS dapat
digeser maju atau mundur 1-2 tanaman.
Setiap titik sensus yaitu pada setiap 10 tanaman sepanjang baris sensus harus diberi nomor pada pangkal pelepah yang telah ditunas rapi dengan cat dasar warna kuning dan tulisan berwarna biru. Dalam pelaksanaannya terdiri atas 2 tim, yang masing-masing tim terdiri atas 3 orang, yaitu 1 laki-laki sebagai penunas dan 2 perempuan sebagai pencatat jenis hama ulat api yang terlihat dan satunya lagi sebagai penyusun pelepah ke gawangan mati.
Pada baris keempat pokok keempat (TS4), tim sensus harus memulai menghitung hama pemakan daun, penghitungan hama pemakan daun hanya pada satu pelepah contoh pada setiap pokok dari 3 pokok dengan ketentuan : pelepah yang menunjukkan gejala serangan baru dan pelepah yang memiliki populasi hama tertinggi. Sensus ulat api dilaksanakan setiap akhir bulan yang dimulai pada tanggal 20-30. Apabila semua blok telah selesai disensus maka asisten afdeling dan mandor hama dan penyakit langsung merekap dan menganalisis data hasil pengamatan. Data tersebut menjadi acuan apakah serangan ulat api sudah diambang populasi kritis atau tidak, ambang populasi kritis diartikan sebagai rata-rata populasi larva sehat per pelepah. Ambang kritis untuk ulat api adalah 5 ekor per pelepah.
Jenis ulat api yang utama untuk ditangani adalah Setora nitens dan Thosea asigna yang menyerang pelepah muda dan Derna therna yang menyerang pelepah tua. Pengendalian ulat api jika di ambang kritis dilakukan dengan pengasapan, bahannya adalah polydor dicampur solar, pengendalian dilaksanakan oleh anggota laki-laki yang menjadi tim sensus, 1 kap mengandung 4.6 liter solar dicampur 0.4 liter polydor, umumnya 1 hari diperlukan 5 kap untuk 5 ha lahan pengendalian ulat api. Pada saat melakukan kegiatan ini, penulis dan pekerja tidak menemukan ambang populasi kritis. Penulis bersama dengan pekerja hanya menemukan 1 jenis ulat api setelah menyensus beberapa pokok tanaman kelapa sawit. Jenis ulat api yang ditemukan yaitu jenis Setora nitens.
Pemanenan
Persiapan panen. Kegiatan persiapan panen yang dilakukan di Kebun Buatan adalah perbaikan dan perawatan jalan poros (main road), penyediaan tenaga kerja panen, pembagian seksi panen yang jelas, penyediaan alat-alat kerja dan lain-lain. Persiapan panen ini dilakukan secara bertahap sampai kegiatan panen berlangsung.
Seksi potong buah. Seksi potong buah adalah luasan areal panen dimana di Kebun Buatan dibagi menjadi 6 seksi, yaitu A, B, C, D, E F. Seksi potong buah sudah dibagi sesuai luas areal Afdeling masing-masing. Pengerjaan untuk luas areal seksi potong buah sudah dibagi menjadi 6 hari sesuai dengan proporsi jam kerjanya sehingga diharapkan 1 seksi dapat selesai dalam 1 hari dan output pemanen yang diharapkan menjadi lebih tinggi serta saat pengangkutan TBS tidak mengalami gangguan. Luas seksi panen di Afdeling II dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 3. Luas Seksi Panen di Afdeling II
Seksi Panen Blok Luas (ha)
A B91a, B90d, B90d 117
B B90a, B90a, B89a 149
C B89a, B90b, B90b 147
D B90c, B89b, B89b 143.5
E B91d, B91d, B90c 130.5
F B91c, B91b, B91c 140
Contoh :
Jam kerja Senin-Sabtu : 7 jam
Jam kerja Jumat : 5 jam
Rincian Jam Kerja Senin-Sabtu : (5 x 7) jam + (1x5) jam = 40 jam Persentase jumlah seksi yang dipanen setiap harinya adalah :
Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu : (7/40) x 100 % = 17.5 %
Jumat : (5/40) x 100 % = 12.5 %
Luas Tanaman Menghasilkan (TM) : 828 ha
Luas Seksi hari Jumat : (12.5/17.5) x (828/5) = 118.29 ha Luas Seksi hari Biasa : (828 – 118.29)/5 = 141.95 ha
Seksi panen rata-rata untuk Senin-Sabtu adalah 141.95 ha sedangkan seksi panen E atau seksi panen hari Jumat adalah 118.29 ha. Dapat dilihat bahwa luasan seksi panen E (hari Jumat) lebih sedikit dari seksi-seksi yang lainnya karena waktu kerja hanya 5 jam, sehingga penetapannya diusahakan di areal yang paling dekat dengan pondok (emplasment) karyawan. Pembagian luasan mandoran (A, B, C) juga sudah disesuaikan dengan luasan seksi panen (A, B, C, D, E dan F), sehingga jumlah tenaga kerja panen setiap kemandoran juga sudah diprediksikan agar dapat selesai dalam 1 hari sehingga dapat menjaga rotasi panen.
Kriteria matang panen. Kriteria matang yang dipakai di Kebun Buatan yaitu berdasarkan jumlah brondolan yang terlepas dari tandannya dan jatuh ke tanah secara alami atau dengan istilah lain menghasilkan brondolan dalam jumlah tertentu. Buah dapat dipanen jika terpenuhi kriteria sebagai berikut: “ Untuk tiap 1 kg berat tandan terdapat brondolan lepas di TPH yang bukan brondolan parthenokarpi atau brondolan muda karena serangan tikus atau penyakit”, misalnya BJR (bobot janjang rata-rata) blok adalah 10 kg maka buah yang dapat dipanen pada blok tersebut apabila brondolan yang lepas ada 10 butir brondolan di TPH. Jika ada 9 brondolan saja, maka dianggap buah mentah.
Apabila terdapat kriteria yang berbeda dengan standar tersebut di atas disebabkan pertimbangan-pertimbangan khusus misalnya kondisi topografi areal, ketinggian pokok dan lain-lain, maka harus mendapat persetujuan dari manajemen. Untuk memudahkan pemahaman terhadap kriteria matang matang
panen tersebut di atas, maka kriteria kematangan panen yang digunakan di Kebun Buatan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Kriteria Kematangan Panen di Kebun Buatan Umur Tanaman
(Tahun)
BJR (kg) Brondolan Pedoman Panen
2,5 – 3 3 ≥ 3 brondolan per
janjang setelah panen
Satu brondolan per janjang sebelum panen
4 – 5 6 ≥ 6 brondolan per
janjang setelah panen
Dua brondolan per janjang sebelum panen
6 – 9 10 ≥ 10 brondolan per
janjang setelah panen
Dua brondolan per janjang di piringan sebelum panen
10 – 15 15 ≥ 15 brondolan per
janjang setelah panen
Dua brondolan per janjang di piringan sebelum panen
>15 20 ≥ 20 brondolan per
janjang setelah panen
Tiga brondolan per janjang dipiringan sebelum panen
Sumber : Agricultural Policy Manual (APM) Asian Agri Group (2011)
Sistem panen. Sistem panen yang dilaksanakan di Kebun Buatan khusunya di Afdeling II yaitu menggunakan sistem hanca tetap. Sistem ini menerapkan masing-masing pemanennya ditempatkan di lokasi panen tertentu, sehingga masing-masing pemanen selalu memanen di tempat yang sama.
Rotasi (Pusingan) panen. Rotasi panen merupakan lamanya waktu yang diperlukan antara panen yang satu dengan panen berikutnya di tempat yang sama. Pusingan panen ini merupakan salah satu aspek yang paling menentukan di lapangan untuk mendapatkan produksi per hektar yang tinggi, biaya per kilogram yang rendah dan FFA yang rendah. Rotasi panen yang digunakan di Kebun Buatan adalah 6/7 yang artinya areal dibagi menjadi 6 seksi ( seksi A, B, C, D, E, F). Oleh karena itu, terdapat 6 hari panen dengan rotasi ulang yang dilakukan 7 hari. Peta seksi panen pada Afdeling II di Kebun Buatan dapat dilihat pada Lampiran 12.
Teknis panen. Pelaksanaan panen dimulai dari muster pagi antara pemanen, mandor panen, mandor I dan asisten afdeling yang dilaksanakan di depan kantor afdeling serta dilanjutkan di seksi panen masing-masing mandoran. Dalam muster morning biasanya mandor panen memberikan arahan panen, pembagian hanca masing-masing pemanen, mengabsen masing-masing pemanen serta memeriksa APD masing-masing pemanen dengan menggunakan checklist APD. Arahan panen yang diberikan mandor berfokus agar memperbaiki mutu buah, mengingatkan tunasan agar tetap dilakukan bersamaan dengan panen (progressive pruning).
Sistem panen yang digunakan di kebun Buatan khusunya Afdeling II adalah sistem hanca tetap. Umumnya sebelum melaksanakan kegiatan potong buah para pemanen memotong beberapa pelepah (progressive pruning). Saat melaksanakan potong buah para pemanen terlebih dahulu harus memperhatikan jumlah brondolan segar yang ada di piringan yang digunakan sebagai pedoman panen. Para pemanen diwajibkan untuk memotong semua TBS yang masak tanpa terkecuali, TBS yang sudah dipanen pun harus dibuat “cangkem kodok”dengan cara memotong gagang tandan tersebut dengan rapat di piringan. Sebelum tandan dibawa ke TPH, susun pelepah di gawangan/rumpukan kemudian bawa TBS ke TPH dengan menggunakan angkong lalu TBS tersebut diberi nomor panen sesuai nomor pemanen.
Setelah pemanen menyusun TBS di TPH kemudian mengutip semua brondolan baik yang berada di piringan dan gawangan dengan menggunakan karung goni eks pupuk dan mengumpulkannya di samping antrian TBS di TPH. Para pemanen wajib menyelesaikan hancanya masing-masing pada setiap hari, sehingga hanca mandoran dan rotasi panen dapat terjaga dengan baik. Peletakan TBS di TPH disajikan pada Gambar 6.
Gambar 6. Peletakan Tandan Buah Segar (TBS) di TPH
Taksasi produksi. Taksasi produksi yang dilaksanakan di Kebun Buatan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu taksasi budget produksi (target produksi), semesteran (6 bulanan) dan harian. Taksasi budget produksi adalah target produksi yang ingin dicapai dalam satu tahun yang dapat dijabarkan dalam bulan dan semester. Budget produksi diketahui berdasarkan data historis pemupukan dan kecenderungan produksi sebelumnya dengan memperhitungkan data-data yang lain. Taksasi harian digunakan untuk meramal besarnya produksi harian yang tercemin pada angka kerapatan panen (AKP). AKP ini dapat digunakan untuk mempermudah dalam pengaturan dan pelaksanaan kegiatan panen untuk esok harinya. Adapun formulir taksasi potong buah di Kebun Buatan dapat dilihat pada Lampiran 8
Tenaga kerja panen. Tenaga panen merupakan karyawan yang paling fital yang dibutuhkan oleh perusahaan dibandingkan dengan tenaga kerja perawatan. Kebutuhan tenaga pemanen di setiap mandoran berbeda-beda sesuai dengan luasan blok di setiap mandoran (mandor A, B, C). Kebutuhan tenaga pemanen di Kebun Buatan khususnya di Afdeling II masih kurang dari standar. Hal ini mengakibatkan luas blok per hari di setiap mandoran tidak dapat terselesaikan dan terdapat hanca kosong, sehingga rotasi panen pun menjadi tinggi. Kekurangan tenaga pemanen khusunya di Afdeling II umumnya disebabkan karena pokok tanaman yang sudah terlalu tinggi (≥ 20 tahun), sehingga pemanen malas untuk memanennya. Pada bulan Maret jumlah tenaga pemanen di Afdeling II sebanyak 38 orang tetapi pada pertengahan bulan Mei
menjadi 32 orang. Hal ini yang mengakibatkan pada hari minggu (libur) tetap dilaksanakan kegiatan potong buah yang disebut dengan “kontanan” untuk mengejar jumlah produksi bulanan yang sudah ditetapkan sebelumnya serta menyelesaikan hanca pemanen yang kosong atau tidak selesai.
Luas hanca pemanen sekitar 2-3 pasar pikul (3-4,5 ha) yang disesuaikan dengan luas blok dan jumlah pemanen di setiap mandoran. Apabila pemanen tidak dapat hadir pada hari tersebut maka hanca panennya dapat diberikan kepada pemanen yang lainnya atau dapat juga meminta bantuan dari mandoran lainnya (transfer).
Pengaturan tenaga panen juga disesuaikan dengan keadaan produksi di lapangan. Pada saat musim produksi tinggi dapat digunakan tenaga bantuan (gardang) yang diambil dari mandoran lainnya (perawatan) atau menggunakan istri serta saudara pemanen untuk mengutip brondolan sedangkan pada saat musim produksi rendah, mandor panen dapat mengalihkan tugas pemanen untuk melaksanakan kegiatan tunas. Jumlah tenaga kerja panen dapat dihitung secara bulanan dan harian. Jumlah tenaga kerja panen bulanan dengan menggunakan taksasi bulanan, sedangkan jumlah tenaga kerja harian dengan menggunakan taksasi harian yang dilaksanakan setiap harinya oleh mandor.
Basis dan premi panen. Basis adalah batas minimum yang telah ditetapkan oleh perusahaan bagi pemanen untuk mendapatkan premi. Basis yang digunakan di Kebun Buatan sebesar 50 janjang untuk hari normal sedangkan pada hari Jumat sebesar 36 janjang. Premi yang ditetapkan di Kebun Buatan adalah premi yang didasarkan pada jumlah janjang yang didapat. Premi yang diberikan kepada pemanen pun berbeda pada setiap bloknya yang tergantung dari fluktuasi BJR kebun dimana BJR kebun berhubungan langsung dengan umur tanaman. Premi yang digunakan di kebun Buatan adalah premi siap borong dan premi lebih borong.
Umumnya premi siap borong berpedoman kepada anggaran yang sedang berjalan dan standar premi sebelumnya. Premi ini juga berlaku sama pada setiap jenis umur tanaman. Premi lebih borong berbeda-beda setiap bloknya yang tergantung dari nilai BJR. Besarnya premi lebih borong dinyatakan dalam
(Rp/janjang). BJR suatu blok juga dapat menentukan basis potong buah dengan tetap memperhatikan norma standar potong buah, sehingga jika BJR tinggi maka basis borongnya lebih rendah dari BJR yang rendah. Norma standar bagi seorang pemanen sebesar 1 250-1 500 kg/HK. Tabel 6 menunjukkan basis dan premi panen yang diterapkan di Afdeling II, Kebun Buatan.
Tabel 6. Basis Borong dan Premi Potong Buah Harian di Afdeling II Blok Basis borong (Biasa) Premi Basis Borong (Jumat) Premi Siap Borong (Rp) Lebih Borong (Rp/Janjang) Siap Borong (Rp) Lebih Borong (Rp/Janjang) BB9a 50 7000 1160 36 7000 1160 B89b 50 7000 1160 36 7000 1160 B90a 50 7000 1160 36 7000 1160 B90b 50 7000 1200 36 7000 1200 B90c 50 7000 1160 36 7000 1160 B90d 50 7000 1160 36 7000 1160 B91a 50 7000 1000 36 7000 1000 B91b 50 7000 1160 36 7000 1160 B91c 50 7000 1160 36 7000 1160 B91d 50 7000 1160 36 7000 1000
Sumber : Kantor Afdeling II, April 2011
Pemberian premi panen ini bertujuan untuk memotivasi pemanen agar mencapai hasil produktivitas yang tinggi serta mengurangi terjadinya losses. Selain itu, peningkatan pendapatan karyawan pun semakin tinggi. Jika seorang pemanen di Afdeling II panen di Blok B90a dan mencapai 100 TBS maka pemanen mendapat premi siap borong (Rp. 16 000) dan premi lebih borong (Rp. 1 160)
Contoh perhitungan premi pemanen di Afdeling II, yakni :
Nama pemanen : Zumain
Hari / Tanggal : Rabu / 13 April 2011 Jumlah TBS yang dipanen : 100 TBS
Basis Borong : 50 janjang
Premi Siap Borong : Rp. 16 000,- (7 000 + 9 000)
Premi Lebih Borong : (Jlh jjg yg dipanen – jjg basis borong) x Rp jjg lebih borong
Rp. 58 000,-
Jumlah Premi : Rp. 16 000 + Rp. 58 000 Rp. 74 000,-
Sistem pengawasan dan denda. Sistem pengawasan dan pemeriksaan hasil panen di Kebun Buatan dilaksanakan setiap harinya. Pengawasan dilaksanakan oleh Asisten, Mandor I, mandor panen dan krani panen secara rutin untuk mengurangi terjadinya losses yang terjadi setiap harinya. Pemeriksaan hanca yang dilakukan meliputi kebersihan brondolan, tandan buah segar (TBS) yang tidak dipanen, susunan pelepah serta melihat pelepah yang tidak ditunas (pelepah sengkleh dan pelepah yang tidak produktif lagi). Formulir pemeriksaan hanca yang dilakukan oleh mandor dapat dilihat pada Lampiran 9.
Pemeriksaan juga dilakukan oleh kerani buah untuk mencatat dan memeriksa buah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Pencatatan buah yang masak atau normal (N) dan buah mentah harus dipisahkan pada buku penerimaan secara berkala. Hasil pemeriksaan kerani buah harus dicocokkan dengan data dari supir truk untuk mengetahui jumlah janjang yang dipanen. Jika kerani buah menemukan buah mentah diberikan tanda “A” pada poros tangkai dan didenda sesuai dengan ketetapan yang ada. Selain itu, terdapat juga QC (quality control) yang bertugas memberi penilaian terhadap Afdeling bedasarkan pemeriksaan hanca dan pemeriksaan mutu buah. Pengawasan dari QC tersebut dilaksanakan minimal 6 kali untuk masing- masing Afdeling dengan jadwal yang tidak ditentukan.
Pada Kebun Buatan terdapat pemberian pinalti/sangsi panen. Pinalti adalah denda atau potongan terhadap pemanen yang melanggar kriteria panen. Kesalahan yang kadang dilakukan pemanen adalah memotong buah mentah, tidak mengutip brondolan di piringan, buah masak yang tidak dipanen dan tidak memotong pelepah sengkleh. Kesalahan tersebut dapat diminimalisir dengan melakukan pengawasan yang ketat baik di TPH maupun di hanca panen. Pemberian denda dilaksanakan setiap harinya berdasarkan pemeriksaan hanca yang dilakukan oleh mandor. Hal ini dilakukan agar menjaga mutu buah tetap
optimal serta menjaga nilai QC setiap bulannya. Denda yang diterapkan di Kebun Buatan jika melakukan kesalahan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Parameter Denda Karyawan Potong Buah
Jenis Kesalahan (Parameter) Denda
Potong Buah Mentah (A) Rp 5.000/jjg
Gagang Panjang tidak dipotong rapat Rp 1.000 Buah masak tinggal dipokok / tidak dipanen (S) Rp 5.000 Buah mentah diperam di hancak (M1) Rp 5.000 Buah mentah tinggal di piringan / di hancak / di
parit
Rp 5.000 Buah Matahari / brondolan di potong gagang
(M3)
Rp 1.000/jjg Brondolan tidak dikutip bersih Rp 3.000/pkk Pelepah tidak disusun rapi di gawangan Rp 1.000/gwg
Pelepah Sengkleh Rp 1.000/pkk
Tidak Siap Borong
Sumber : Agricultural Police manual (APM), April 2011
Pengangkutan tandan buah segar (TBS). Pengangkutan memiliki peranan penting dalam kegiatan pemanenan sehingga TBS dan brondolan dapat segera tiba di PMKS dan langsung diolah. Perencanaan pengangkutan panen sangat penting untuk diperhatikan agar mencapai mutu buah yang baik sehingga didapat rendemen minyak yang tinggi.
Pengangkutan TBS dimulai dari TBS ke TPH dengan menggunakan alat bantu angkong dan pengangkutan dari TPH ke PMKS menggunakan dump truck
(DT). Mekanisme pengangkutan TBS di Kebun Buatan pertama sekali berangkat pukul ± 10.00 WIB saat sebagian TBS sudah keluar dan langsung diantar ke PMKS. Umumnya kapasitas satu unit transport dump truck dapat mengangkut 5 ton TBS dan menghabiskan ± 2 jam saat pengiriman pertama. Saat dalam proses pengangkutan supir truk juga mencatat jumlah janjang yang diangkut pada setiap TPH. Adapun formulir pengangkutan janjang di TPH yang dilakukan oleh truk dapat dilihat pada Lampiran 10.
Pengangkutan dilakukan sesuai dengan mandoran masing-masing karena setiap mandor panen (A, B, C) memiliki dump truck sendiri. Pengangkutan dilakukan dengan mendatangi semua TPH dalam blok yang dipanen. TBS dimasukkan ke dalam dump truck oleh tenaga pemuat buah dengan menggunakan tojok besi dan menggunakan gancu untuk menyusun TBS di dalam truk. Jika
terdapat jalan yang rusak ataupun jalan koleksi (collection road) yang tidak dapat dilalui oleh dump truck maka dilakukan pengangkutan dengan menggunakan pick up.
Aspek Manajerial Pendamping Mandor
Status karyawan yang terdapat di Kebun Buatan terdiri dari dua yaitu: karyawan staf dan non-staf. Karyawan non staf terdri dari mandor yang dibantu krani Afdeling. Mandor merupakan pengelola dan pengawas langsung terhadap kegiatan PHL di lapangan. Selain dalam hal mengatur dan mengawasi kerja PHL, mandor juga harus dapat memberikan motivasi positif kepada PHL agar kinerja PHL meningkat dan bekerja sesuai dengan standar operasional perusahaan. Mandor bertanggung jawab terhadap hasil kerja yang dikelolanya dengan selalu berpedoman pada Rencana Kerja Harian (RKH) yang telah ditetapkan bersama antara mandor dan Asisten Afdeling.
Setiap pagi hari semua mandor mengikuti muster morning bersama asisten Afdeling untuk untuk mendapatkan pengarahan tentang pekerjaan yang akan dilaksanakan, penjelasan tentang teknik aplikasi pekerjaan yang sesuai dengan ketentuan perusahaan (SOP) dan melaporkan masalah yang dihadapi. Setelah itu setiap mandor melakukan muster morning bersama PHL untuk memberitahukan jenis kegiatan yang dilaksanakan dan metode kerjanya. Pada saat di lapangan, setiap mandor mengawasi pekerjaan secara langsung serta mengarahkan pekerja agar bekerja lebih efektif. Selesai dari lapangan, para mandor menghitung dan melaporkan hasil pekerjaan meliputi prestasi kerja pekerja dan kualitas pekerjaan kepada asisten Afdeling dalam bentuk buku kerja mandor dan lembar kehadiran dan kegiatan. Selain itu, mandor juga membuat rencana kerja harian yang akan dilaksanakan untuk keesokan harinya. Selama menjadi pendamping mandor, penulis mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh mandor I, mandor panen, mandor pupuk, mandor semprot dan kerani buah.
Mandor I
Posisi jabatan Mandor I berada di bawah Asisten Afdeling. Mandor I adalah orang yang mengatur semua kegiatan teknis di lapangan. Tugas dan tanggung jawab seorang Mandor I lebih luas dibandingkan dengan mandor-mandor lainnya. Mandor I mempunyai tugas untuk mengontrol dan mengawasi semua jenis pekerjaan yang dilakukan. Mandor I dapat menegur mandor lain jika terdapat kesalahan dalam melakukan pekerjaan. Mandor I berwenang untuk mengecek semua jenis kegiatan dan melaporkan masalah-masalah yang dihadapi kepada asisten Afdeling. Selama penulis menjadi pendamping Mandor I, kegiatan yang dilakukan yaitu mengawasi kegiatan pemanenan, rawat jalan, pengendalian gulma manual, dan pembuatan anak tangga.
Mandor Panen
Di perusahaan ini, mandor panen terdiri atas 3 orang untuk setiap Afdeling. Tugas mandor panen adalah membuat perencanaan areal seksi panen yang harus dipanen atas persetujuan Asisten Afdeling, kemudian melakukan apel pagi dengan karyawan, sambil memberikan pengarahan tentang standar pelaksanaan panen dan juga mengingatkan kepada karyawan tentang keselamatan kerja. Pada saat itu dilakukan juga pengabsenan karyawan untuk mengetahui jumlah tenaga kerja pemanen. Setelah itu, mandor panen kemudian memberi hanca kepada masing-masing pemanen dan melaksanakan pengawasan panen di lapangan. Setelah pelaksanaan pemanenan, mandor panen melaksanakan kegiatan taksasi produksi untuk memperkirakan jumlah TBS yang dapat dipanen esok hari agar sebelum panen dapat ditentukan berapa anggota karyawan yang dibutuhkan dan perkiraan jumlah produksi yang didapatkan. Selama penulis menjadi pendamping mandor panen, kegiatan yang dilaksanakan yaitu melakukan apel pagi dengan karyawan, melakukan taksasi produksi, pemeriksaan hanca dan mutu buah bersama mandor ataupun QC dan mengawasi teknis panen.
Mandor Pupuk
Tugas dari mandor pupuk adalah membuat perencanaan blok/petak yang akan dipupuk atas persetujuan Asisten Afdeling, membuat permintaan bahan/bon gudang yang disetujui Asisten Afdeling, KTU dan Manajer Kebun, meminta kendaraan pengangkutan pupuk ke mandor transportasi, menghitung tenaga kerja yang hadir untuk menentukan luasan yang akan dipupuk, apel pagi untuk memberikan pengarahan kepada karyawan, mengawasi pengambilan pupuk di gudang, mengikuti dan mengawasi distribusi pupuk dari gudang ke lapangan, mengontrol dan mengawasi pelaksanaan kegiatan pemupukan. Selama penulis menjadi pendamping mandor pupuk, kegiatan yang dilaksanakan yaitu apel pagi dengan karyawan, mengawasi pengangkutan dan penguntilan pupuk serta mengontrol kegiatan pemupukan.
Mandor Semprot
Tugas mandor semprot adalah menentukan areal yang akan disemprot atas persetujuan Asisten Afdeling dan Asisten Kepala, melakukan apel pagi untuk memberikan pengarahan dan pengabsenan karyawan, mengawasi pekerjaan di lapangan dan mengawasi penggunaan herbisida. Kemandoran semprot di PT Inti Indosawit Subur terdiri atas dua tim unit semprot (TUS) yang masing-masing tim dikepalai oleh mandor. Tim tersebut dibedakan berdasarkan alat semprot yang digunakan yaitu tim satu menggunakan alat semprot CDA (Controlled Droplet Applicator) dan tim kedua menggunakan alat semprot Knapsack sprayer. Sebelum kegiatan di lapangan, mandor semprot melakukan apel pagi bersama karyawan, mengisi absen karyawan, mengecek kelengkapan alat pengaman diri (APD) karyawan, dan mempersiapkan larutan yang akan disemprot. Pada saat di lapangan mandor bertugas mengawasi pekerjaan karyawan, setelah selesai dari lapangan mandor memberikan laporan hasil kegiatan kepada Asisten Kepala dan Asisten Afdeling yang Afdelingnya disemprot pada hari itu dan juga membuat rencana kerja harian (RKH) untuk kegiatan esok hari. Selama penulis menjadi pendamping mandor semprot, kegiatan yang dilaksanakan yaitu apel pagi dengan karyawan, mengawasi pekerjaan karyawan dan membuat RKH untuk kegiatan esok hari.
Kerani Buah
Tugas kerani buah adalah mencatat jumlah TBS yang dipanen oleh pemanen dan mengawasi mutu buah yang ada di lapangan agar buah yang dipanen sesuai dengan kriteria matang panen yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Kerani buah mencatat data total buah yang dipanen oleh pemanen, baik itu buah yang masak, buah mentah, buah busuk dan buah abnormal. Data yang telah didapatkan tersebut dicatat dalam buku kerani buah. Kerani buah berhak untuk menegur pemanen yang memanen buah tidak sesuai dengan kriteria matang yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
Setelah selesai dari lapangan, maka kerani buah mengisi lembar premi potong buah harian untuk menentukan upah yang didapat oleh setiap pemanen di sore harinya. Upah tersebut ditentukan berdasarkan jumlah TBS yang dipanen oleh pemanen pada hari itu. Setiap pemanen yang melakukan kesalahan seperti memotong buah mentah maka dilakukan pemotongan terhadap upahnya pada hari itu. Selama penulis menjadi pendamping kerani buah, kegiatan yang dilaksanakan yaitu memeriksa mutu buah dan mengisi lembar premi potong buah pada sore hari.
Pendamping Asisen
Asisten Afdeling merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan dan hal-hal penting lainnya dalam suatu Afdeling. Asisten bertanggung jawab kepada Asisten Kepala, Manajer Kebun dan General Manajer. Asisten bertugas merencanakan dan mengkoordinasikan program kerja dan target bulanan sesuai program kerja Afdeling. Selain itu, Asisten Afeling juga mengevaluasi hasil-hasil kegiatan, memecahkan masalah di tingkat Afdeling, melakukan pengawasan dan penilaian terhadap kinerja dari masing-masing mandor, dan melakukan administrasi Afdeling yang dibantu oleh kerani Afdeling.
Penulis melakukan kegiatan pendamping Asisten Afdeling di Afdeling III. Selama penulis mengikuti kegiatan pendamping Asisten, kegiatan yang dilakukan yaitu mengecek buah yang telah dikumpulkan di TPH, mengontrol mutu buah yang telah dipanen dengan ikut mengawasi kegiatan sortasi di pabrik dan saat
penilaian dari QC, mengawasi perbaikan jalan dan mengecek jumlah pupuk yang diaplikasikan setiap harinya. Kegiatan kontrol di lapangan lebih difokuskan pada kegiatan panen. Selain itu, penulis juga melakukan kegiatan administrasi di kantor Afdeling. Penulis juga memberikan pengarahan kerja kepada para mandor dan karyawan untuk selalu meningkatkan prestasi kerjanya dan memberikan yang terbaik bagi perusahaan.