• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ilana Tan Summer in Seoul

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Ilana Tan Summer in Seoul"

Copied!
171
0
0

Teks penuh

(1)

1

Summer in Seoul

(2)

2

For those who always believe in me,

(3)

3

Prolog

Dulu kalau aku tak begitu, kini bagaimana aku? Dulu kalau aku tak di situ, kini di mana aku?

Kini kalau aku begini, kelak bagaimana aku? Kini kalau aku di sini, kelak di mana aku?

Tak tahu kelak ataupun dulu Cuma tahu kini aku begini Cuma tahu kini aku di sini Dan kini aku melihatmu

KONON ketika seseorang dalam keadaan hidup dan mati, ia akan bisa melihat

potongan-potongan kejadian dalam hidupnya, seperti menonton film yang tidak jelas alur ceritanya. Benarkah begitu?

Oh ya, ia sedang mengalaminya. Ketika tubuhnya terlempar ke sana-sini, pandangannya mendadak gelap, namun anehnya ia kemudian bisa melihat wajah seseorang dengan jelas. Ia juga bisa mendengar suaranya.

Betapa ia sangat merindukannya sekarang, ingin bertemu dengannya, ingin berbicara dengannya. Ada yang harus ia katakan pada orang itu. Ia harus memberitahunya ia rindu.

Hanya sekali saja…

Kalau boleh, ia ingin mengatakannya sekali saja…

(4)

4

Tapi tidak bisa…

Suaranya tidak bisa keluar…

(5)

5

Satu

“S

EKARANG aku masih di jalan… Mm, baru pulang kantor… Aku juga tahu sekarang sudah jam sepuluh… Ya, jam sepuluh lewat delapan belas menit. Terserahlah.”

Sandy melangkah perlahan. Sebelah tangannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga, dan tangan yang sebelah lagi mengayun-ayunkan tas tangan kecil merah. Ia mengembuskan napas panjang dengan berlebihan dan mengerutkan kening. Saat ini orang terakhir yang ingin diajaknya bicara adalah Lee Jeong-Su, tapi laki-laki itu malah meneleponnya dan bersikap seperti kekasih yang protektif.

“Jeong-Su, sudah dulu ya? Aku lelah sekali,” Sandy menyela ucapan Lee Jeong-Su dan langsung menutup telepon. Sekali lagi ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap ponselnya dengan kesal.

Kenapa hari ini muncul banyak masalah yang tidak menyenangkan? Tadi pagi ia sudah bermasalah dengan salah satu klien perusahaan, kemudian diomeli atasannya dan akhirnya harus lembur sampai selarut ini.

Sandy semakin kesal begitu mengingat apa yang sudah dialaminya sepanjang hari. Tapi ia terlalu lelah untuk marah-marah. Seluruh tulang di tubuhnya terasa sakit dan otaknya sudah tidak bisa disuruh berpikir. Lagi-lagi ia mengembuskan napas panjang.

Ini bukan pertama kalinya Sandy harus bekerja sampai larut malam, tapi hari ini ia sudah memutuskan akan berhenti bekerja untuk perancang busana itu. Pekerjaannya sungguh-sungguh memakan waktu dan tenaga sehingga tidak ada lagi tenaga yang tersisa untuk berkonsentrasi pada kuliahnya di pagi hari.

(6)

6

Sandy memandang sekelilingnya. Kota Seoul masih belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan seakan sedang berlomba-lomba menerangi seluruh kota, membujuk orang-orang untuk menikmati indahnya suasana malam musim panas di ibukota Korea Selatan yang menakjubkan itu. Meskipun sudah bertahun-tahun menetap di Seoul, Sandy masih terkagum-kagum pada suasana kota ini. Jam memang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, namun jalanan masih dipenuhi pejalan kaki dan mobil-mobil yang berlalu-lalang. Aroma makanan tercium dari restoran Jepang di depan sana, lagu disko terdengar samar-samar dari toko musik di sampingnya, suara orang-orang yang berbicara, berteriak, dan tertawa.

Tiba-tiba Sandy merasa kepalanya pusing. Lalu pandangannya berhenti pada toko makanan kecil di seberang jalan. Setelah merenung sesaat, ia mengangguk dan

bergumam, “Baiklah,” seolah menyerah pada perdebatan yang dia lakukan seorang

diri.

Sandy menyeberangi jalan dengan langkah cepat, secepat yang mungkin dilakukan sepasang kaki yang belum beristirahat selama delapan jam terakhir, dan masuk ke toko itu. Setelah memberi salam kepada bibi pemilik toko yang sudah lama dikenalnya, Sandy langsung berjalan ke rak keripik.

“Nah, Soon-Hee, ada masalah apa lagi di kantor?” tanya bibi pemilik toko setelah melihat lima bungkus besar keripik kentang yang diletakkan Sandy di meja kasir.

Sandy tersenyum malu. “Ah, tidak ada. Saya hanya sedikit stres.” Ia membuka tas

tangannya dan mencari dompet. Ke mana dompet itu?

“Sebentar, Bibi. Saya yakin sekali sudah memasukkan dompet tadi…” Sandy

mengaduk-aduk isi tas tangannya, lalu menumpahkan seluruh isinya ke meja kasir. Kini, selain lima bungkus keripik kentang, di sana ada sisir kecil, buku kecil yang agak lusuh, bolpoin yang tutupnya sudah hilang, bedak padat, lipgloss, kunci, payung lipat, tiga keping uang logam, saputangan merah, ponsel, dua lembar struk belanja yang sudah kusam, bungkus permen kosong, dan jepitan rambut.

“Kenapa tidak ada?” Sandy bergumam sendiri sambil terus mencari. Ketinggalan di rumah? Berarti seharian ini ia tidak menyadari ia tidak membawa dompet?

Tiba-tiba ia mendengar dering ponsel. Sandy melirik ponselnya yang tergeletak di meja kasir. Oh, bukan ponselnya yang berbunyi.

“Kau sudah sampai di rumah? … Ya, sebentar lagi aku ke sana.”

(7)

7

soju*. Pria berkacamata itu masih muda, mungkin usianya sekitar akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan, wajahnya tampan dan penampilannya rapi sekali seperti seseorang yang mempunyai kedudukan penting di perusahaan besar.

Pria itu memandang Sandy, lalu tersenyum ramah. O-oh. Baru pertama kali Sandy melihat senyum yang begitu menarik. Senyum itu membuat rasa lelahnya seakan

menguap tak berbekas. Senyum itu sangat menawan, sangat…

Sandy menggeleng untuk menjernihkan pikiran dan kembali memusatkan perhatian pada barang-barangnya yang berserakan di meja kasir.

Tiba-tiba Sandy merasa tangannya ditepuk-tepuk. Ia mengangkat wajahnya dan melihat bibi pemilik toko sedang tersenyum kepadanya dan berkata, “Soon-Hee,

bagaimana kalau tuan itu membayar belanjaannya duluan?”

Sandy memandang bibi pemilik toko, lalu berpaling ke arah pria yang berdiri di

belakangnya. “Oh, ya. Maaf.” Sandy menyingkir ke samping dan pria itu melangkah

maju.

“Berapa?” tanya pria itu sambil meletakkan keranjang yang dipegangnya di meja. Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel lagi.

Kepala Sandy mulai terasa sakit seperti ditusuk-tusuk. Ia sudah sangat lelah dan sekarang bunyi ponsel pria itu nyaris membuatnya lepas kendali.

Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana dan meliriknya sekilas. Lalu ia meletakkan ponsel itu di meja dan merogoh saku yang sebelah lagi. Ia mengeluarkan ponsel yang berbeda, ternyata ponsel yang kedua itulah yang sedang berbunyi nyaring. Astaga, cepat jawab teleponnya! Satu ponsel saja sudah bikin pusing, kenapa harus punya dua? pikir Sandy sambil memijat-mijat pelipisnya.

Pria itu membayar belanjaan sambil tetap berbicara di ponsel, lalu berjalan ke pintu. Tiba-tiba ia berbalik dan mengambil ponsel satu lagi yang tadi diletakkan di meja kasir.

“Maaf,” gumamnya sambil tersenyum kepada bibi pemilik toko dan Sandy.

Lagi-lagi senyum itu, senyum yang bisa menghangatkan hati yang beku sekalipun. Tunggu, kata-kata apa itu tadi? Sandy memejamkan matanya kuat-kuat dan ketika ia membuka mata kembali, pria itu sudah berjalan ke luar dan masuk ke mobil sedan putih yang diparkir di depan toko.

Karena Sandy tetap tidak bisa menemukan dompetnya, bibi pemilik toko mengizinkannya membayar besok. Sandy mengumpulkan kembali barang-barangnya yang berserakan di meja kasir sambil berkali-kali membungkukkan badan dalam-dalam sebagai tanda terima kasih sekaligus permintaan maaf.

(8)

8

Begitu keluar dari toko, Sandy langsung membuka sebungkus keripik dan mulai

makan. “Sekarang pulang ke rumah,” katanya pada dirinya sendiri.

Selesai berkata begitu, ponselnya berbunyi. Saat itu juga ia mengutuk hari ponsel diciptakan. Sebenarnya ia tidak ingin menjawab ponselnya karena merasa harus menghemat tenaga untuk perjalanan pulang, tapi benda tidak tahu diri itu terus menjerit minta diangkat. Akhirnya Sandy menyerah dan mengaduk-aduk tasnya dengan ganas untuk mencari ponsel sialan itu sebelum ia sendiri yang bakal menjerit histeris di tengah jalan.

“Haaloo!” Sandy ingin marah, tapi suaranya malah terdengar putus asa.

Tidak terdengar jawaban dari ujung sana. Orang itu bisu atau apa?

“Halo? Siapa ini? Silakan bicara… Halo? HALOO?”

Sandy baru akan memutuskan hubungan ketika terdengar suara seorang pria yang ragu-ragu di seberang sana.

“Maaf… bukankah ini ponsel Tae-Woo?” Siapa lagi orang ini?

“Anda salah sambung. Ini ponsel Han Soon-Hee,” ujar Sandy ketus dan langsung menutup flap ponselnya dengan keras.

Sandy menatap ponselnya sambil menggigit bibir penuh rasa dongkol. “Tidak

bisakah kaubiarkan aku tenang sedikit?” Ia baru akan mencabut baterai ponsel itu

ketika ia merasa harus menelepon ibunya untuk memberitahu ia akan segera sampai di rumah. Walaupun Sandy tinggal di Seoul dan orangtuanya di Jakarta, mereka sering menelepon dan mengecek keberadaannya. Tadi ibunya malah sudah sempat menelepon untuk menanyakan kenapa Sandy belum sampai di rumah.

Ia membuka ponselnya kembali dan menekan angka satu yang akan langsung terhubung ke rumah orangtuanya di Jakarta, tapi ia heran ketika melihat tulisan yang

tertera di layar ponselnya setelah ia menekan angka itu. Bukan tulisan “Rumah Jakarta” yang tertera seperti biasa, tapi nama “Park Hyun-Shik”. Sandy cepat-cepat memutuskan hubungan dan tertegun.

Sandy memerhatikan ponsel yang dipegangnya. Memang itu ponsel miliknya, setidaknya bentuk dan warnanya sama persis dengan ponsel miliknya. Ia membuka daftar telepon di ponselnya dan melongo melihat nama-nama yang tidak dikenalnya. Otaknya yang sudah lelah dipaksa berpikir.

(9)

9

Kemudian ponsel kedua pria itu berbunyi. Pria itu meletakkan ponselnya yang pertama di meja dan mengeluarkan ponsel kedua. Jadi, di meja kasir ada ponsel pria itu dan ponsel Sandy.

Sandy teringat bentuk ponsel pria itu yang diletakkan di meja memang sama dengan bentuk ponselnya sendiri. Sebelum keluar dari toko, pria itu berbalik untuk mengambil ponsel pertamanya yang tertinggal di meja. Sekarang Sandy memegang ponsel dengan daftar nama yang tidak dikenalnya.

Otaknya mulai bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Artinya… artinya… orang itu telah mengambil ponsel yang salah. Pria tadi mengambil ponsel Sandy.

Sandy memukul-mukul dadanya dan mengerang putus asa. “Bagaimana ini? Aduh,

bisa gila aku. Gila.” Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Mobil pria itu sudah tidak tampak. Sandy merasa tubuhnya nyaris ambruk ke tanah. Rasanya ingin menangis saja. Ke mana ia harus mencari orang itu?

Tiba-tiba ide muncul di otaknya yang sudah hampir lumpuh. Ponselnya ada pada pria itu, bukan? Berarti Sandy bisa menelepon ke ponselnya dan pria itu akan menjawab. Sebersit tenaga muncul kembali. Ia menghubungi ponselnya dengan ponsel pria tadi yang sedang dipegangnya.

Sandy berjalan mondar-mandir di tepi jalan dengan gelisah sambil menunggu

hubungannya tersambung. “Cepat angkat… cepat… tolong… ce—Halo?”

“Oh, Hyong*. Kenapa lama sekali?”

Park Hyun-Shik tersenyum meminta maaf kepada laki-laki bertubuh tinggi yang membuka pintu, lalu melangkah masuk ke rumah yang sudah sering didatanginya.

“Maaf, jalanan agak macet,” katanya sambil berjalan ke ruang duduk yang luas. “Hei,

Tae-Woo. Punya makanan ringan? Aku sudah beli minuman.”

Jung Tae-Woo mengikuti Park Hyun-Shik ke ruang duduk. Ia tidak menghiraukan

pertanyaan temannya dan balik bertanya, “Hyongsudah dengar gosipnya?”

Park Hyun-Shik memerhatikan temannya mengempaskan diri ke sofa. Tatapan Jung Tae-Woo terlihat menerawang dan cemas. Sebagai manajer Jung Tae-Woo, Park Hyun-Shik memahami alasan kekhawatirannya.

“Dari mana asal gosip itu?” kata Tae-Woo, seakan-akan bertanya pada dirinya sendiri.

Park Hyun Shik hanya tersenyum kecil dan mengulurkan sebotol soju kepadanya.

(10)

10

Tae-Woo membuka tutup botol itu dan meneguk isinya. “Aku dibilang gay.” Tae

-Woo tertawa pahit. “Kenapa mereka bisa berpikir seperti itu? Memangnya sikapku

seperti wanita? Atau aku pernah terlalu dekat dengan pria? Katakan padaku, Hyong. Jangan-jangan selama ini Hyongjuga berpikir seperti mereka?”

Park Hyun-Shik duduk di kursi di hadapan Tae-Woo, ikut meneguk soju langsung

dari botolnya. “Kau tahu aku tidak pernah berpikir seperti itu,” ujarnya tenang. “Masalahnya, tabloid dan majalah memang suka mencari berita. Kau juga tahu mereka

sering menulis artikel yang tidak-tidak. Kau tanya padaku kenapa mereka bisa berpikir kau gay? Mungkin karena selama ini kau tidak pernah terlihat dekat dengan wanita

mana pun di depan publik.”

Jung Tae-Woo mengangkat bahu. “Kalau begitu, terserah mereka mau berpikir apa. Kalau kita tidak menanggapinya, gosip itu tentu akan mereda sendiri.”

Park Hyun-Shik menggeleng. “Dua minggu lagi album barumu akan diluncurkan. Aku takut rumor ini bisa memengaruhi penjualan albummu nantinya. Satu gosip bisa menimbulkan gosip-gosip lain. Bahkan masalah lama juga bisa diungkit-ungkit. Produsermu tidak akan senang. Ditambah lagi, bagaimana dengan para

penggemarmu? Apa yang akan mereka pikirkan? Kau bisa kehilangan pasar.”

Jung Tae-Woo mendongak menatap langit-langit dan mengembuskan napas berat.

“Lalu bagaimana?”

Park Hyun-Shik meneguk minumannya lagi dan berkata, “Untuk masalah gosip gay itu, kurasa sudah saatnya bagimu untuk memperkenalkan seorang wanita kepada

publik.”

Kepala Tae-Woo berputar cepat ke arah Park Hyun-Shik. “Apa?”

“Sederhana saja. Kenapa kau tidak mulai pacaran?” usul Park Hyun-Shik langsung.

“Apa?”

Park Hyun-Shik tidak memandang Jung Tae-Woo dan melanjutkan dengan nada

serius, “Yang penting jangan berpacaran dengan artis. Bisa jadi skandal. Terlalu

berisiko. Kita juga tidak bisa segera membuat pengumuman resmi kepada wartawan bahwa kau sedang menjalin hubungan dengan wanita karena mereka pasti curiga dan akan menduga itu hanya sandiwara untuk mengelak dari gosip gay.”

Park Hyun-Shik mengerutkan kening dan tenggelam dalam pikiran. Akhirnya ia menoleh dan mendapati Tae-Woo sedang menunggu hasil renungannya.

“Baiklah,” katanya sambil tersenyum. “Kita misalkan saja bahwa sebenarnya kau

(11)

11

Tae-Woo mengerutkan kening karena bingung. “Tidak ada yang pernah melihat dan tidak ada yang tahu. Apa untungnya begitu? Orang-orang tidak akan percaya pada sekadar kata-kata belaka.”

“Tapi kita bisa memberikan bukti.” “Bukti apa?”

“Foto dirimu bersama wanita itu.” “Wanita yang mana?”

“Wanita yang menjadi kekasihmu.” “Kekasih yang mana?”

“Semua bisa diatur kalau memang kau mau.” “Maksudnya?”

Senyum Park Hyun-Shik bertambah lebar. “Kita cari wanita yang tidak dikenal siapa pun dan memintanya menjadi kekasihmu selama beberapa saat. Kau hanya perlu

memamerkannya di depan wartawan. Beres, bukan?”

Tae-Woo merenung, lalu berkata, “Bagaimana kalau wartawan mulai menyelidiki asal-usul wanita itu? Lagi pula di mana kita cari wanita yang bersedia dan bisa

dipercaya untuk diajak bekerja sama? Masa dipilih sembarangan?”

Park Hyun-Shik meneguk soju-nya lagi dan menatap Tae-Woo. Temannya itu tampak mempertimbangkan usulnya dengan ekspresi sangat cemas. Alisnya berkerut, sesekali ia menggigit bibir bawahnya.

Setelah beberapa saat, Tae-Woo mendesah dan melanjutkan, “Wanita yag seperti apa yang akan kita pilih? Boleh aku pilih sendiri? Atau kita pilih saja wanita pertama

yang berjalan melewati pintu itu?” Ia menunjuk pintu depan rumahnya dengan dagu. Tawa Park Hyun-Shik meledak. Tae-Woo menatapnya dengan pandangan bingung.

Hyong, ada apa?”

Park Hyun-Shik mendorong pelan bahu Tae-Woo. “Astaga, Tae-Woo. Aku hanya

bercanda. Kenapa kau serius begitu?” “Apa?”

Park Hyun-Shik menggeleng-geleng. “Aku hanya bercanda soal usul tadi. Sudahlah,

tidak usah dipikirkan. Pasti ada jalan keluarnya.”

Tae-Woo mendengus, lalu tertawa kecil. “Ah, pusing! Aku mau keluar jalan-jalan sebentar. Hyong mau ikut?” kata Tae-Woo sambil merebahkan kepala di sandaran sofa dan memandang langit-langit ruang duduk.

Park Hyun-Shik mengangkat bahu. “Oke.”

Tae-Woo mengayun-ayunkan botol soju yang sedang dipegangnya, lalu bertanya,

(12)

12

Park Hyun-Shik mengeluarkan ponsel dan mengulurkannya kepada Tae-Woo. Tiba-tiba ia teringat pada telepon yang diterimanya dalam perjalanan ke rumah Tae-Woo tadi. Wanita yang mengaku bernama Han Soon-Hee itu berkata ponsel mereka tertukar. Karena ia sendiri tidak bisa kembali mengambilnya, Park Hyun-Shik meminta wanita itu datang ke rumah Jung Tae-Woo. Mungkin permintaannya agak keterlaluan karena bagaimanapun tertukarnya ponsel mereka bukan salah wanita itu, tapi apa boleh buat. Jung Tae-Woo sedang uring-uringan dan kalau sedang uring-uringan, ia tidak suka menunggu lama.

Ia baru akan menceritakan hal ini kepada Tae-Woo ketika bel pintu berbunyi.

“Siapa yang datang malam-malam begini?” gumam Tae-Woo heran.

Sandy benar-benar tidak mengerti kenapa hari ini ia sial sekali. Mungkin begitu sampai di rumah ia harus cepat-cepat mandi kembang tujuh warna seperti yang pernah diajarkan ibunya, apa pun untuk mengguyur hingga tak bersisa segala kesialan. Sekarang ia berdiri di depan pintu rumah besar berwarna putih. Pria yang katanya bernama Park Hyun-Shik menyuruhnya kemari untuk mengambil ponselnya yang tertukar. Sandy jengkel. Kenapa ia yang harus datang, bukankah orang itu yang duluan mengambil ponsel yang salah? Ia bahkan sampai harus meminjam uang dari bibi pemilik toko supaya bisa naik bus, ditambah harus berjalan kaki untuk sampai di kawasan perumahan elite ini.

Sandy kembali menghembuskan napas. Sudahlah, tidak apa-apa. Hal terpenting sekarang adalah mendapatkan ponselnya kembali. Setelah ini ia bakal bisa bergegas pulang. Hari sudah semakin larut dan ia sudah menguap empat kali dalam lima belas menit terakhir.

Pintu terbuka dan Sandy mengenali wajah pria yang membuka pintu itu. Ia pria yang ada di toko tadi. Walaupun agak sulit, Sandy memaksakan seulas senyum sopan. Pipinya terasa agak kaku, tapi ia berharap senyumnya terlihat normal.

“Apa kabar? Saya Han Soon-Hee yang tadi menelepon. Saya ingin mengembalikan

ponsel Anda. Ini.” Sandy mengulurkan tangannya yang memegang ponsel.

“Oh, terima kasih banyak,” kata pria itu ramah. “Saya benar-benar minta maaf

karena sudah merepotkan. Silakan masuk. Ponsel Anda ada di dalam.”

(13)

13

Sandy melangkah masuk dan membiarkan dirinya dibawa ke ruang duduk luas dengan perabotan mewah. Di sofa panjang yang mendominasi ruang tamu itu duduk laki-laki yang sedang berbicara di telepon. Wajahnya tampan, potongan rambutnya bagus dan rapi, walaupun Sandy pribadi tidak terlalu suka dengan warna rambut yang agak pirang. Ia merasa pernah melihat laki-laki itu. Tapi di mana ya?

“Mungkin Anda salah sambung,” Sandy mendengar pria itu berkata di ponselnya. “Tidak ada yang namanya Han Soon-Hee atau Sandy di sini.”

Sandy menatap Park Hyun-Shik dengan pandangan bertanya sambil menunjuk ke arah ponsel yang sedang dipegang laki-laki tampan di sofa itu.

“Ya, itu ponsel Anda,” kata Park Hyun-Shik sambil tersenyum kecil.

Laki-laki yang duduk di sofa masih sibuk sendiri, tidak menyadari kedatangan

Sandy. Keningnya tampak berkerut sebal. Ia berkata dengan nada agak marah. “Maaf,

Lee Jeong-Su ssi*, saya benar-benar tidak mengenal Anda. Saya juga tidak kenal Han Soon-Hee. Bagaimana saya bisa meminta dia menjawab telepon? Anda salah

sambung.”

Selesai berkata seperti itu, laki-laki itu menutup flap ponselnya dengan keras.

“Orang aneh,” ia menggerutu sendiri.

“Hei…,” Sandy mendengar Park Hyun-Shik memanggil laki-laki itu. “Ponsel itu

milik nona ini.”

Laki-laki di sofa itu berpaling ke arah Park Hyun-Shik, lalu ke arah Sandy. Ketika mata mereka bertemu, Sandy baru sadar siapa laki-laki itu.

Jung Tae-Woo agak bingung mendengar penjelasan Park Hyun-Shik. Pandangannya berpindah-pindah dari sang manajer ke gadis yang berdiri di hadapannya, lalu kembali ke manajernya lagi. Secara sekilas, ia mengamati orang asing yang sekarang ada di ruang tamunya itu: gadis bertubuh kecil dengan rambut dikucir dan tangan menjinjing kantong plastik besar serta tas tangan. Raut wajahnya terlihat kusam, lelah, dan pucat. Gadis itu diam tak bersuara sementara Park Hyun-Shik menjelaskan apa yang sudah terjadi.

“Oh, jadi ini ponsel Anda?” tanya Tae-Woo sambil bangkit dari sofa. Ia

mengulurkan ponsel yang sedang dipegangnya. “Itu… tadi—siapa namanya, maaf, saya lupa—menelepon mencari Han Soon-Hee atau Sandy. Anda sendiri Han Soon-Hee

atau Sandy?”

Gadis itu tersenyum samar dan menjawab, “Dua-duanya nama saya.”

(14)

14

Tiba-tiba ponsel itu berbunyi dan membuat Tae-Woo tersentak kaget. “Silakan

dijawab,” katanya cepat.

Han Soon-Hee menerima ponsel itu dan langsung membuka flap-nya. “Halo?”

Kemudian Tae-Woo dan Park Hyun-Shik tertegun ketika mendengar gadis itu berbicara dalam bahasa asing. Tae-Woo yakin percakapan tersebut bukan dalam bahasa Inggris ataupun Jepang karena ia menguasai kedua bahasa itu. Entah bahasa apa yang sedang dipakai gadis itu, pokoknya ia berbicara lancar sekali. Tae-Woo menoleh ke arah manajernya untuk bertanya dan sebagai jawaban Park Hyun-Shik menggeleng.

Percakapan itu tidak berlangsung lama. Setelah menutup telepon si gadis memandang Park Hyun-Shik dan Tae-Woo bergantian dengan sikap serbasalah. Sambil

tersenyum kaku ia berkata, “Ehm, terima kasih banyak. Saya pulang dulu.”

“Tunggu,” Park Hyun-Shik menyela. Gadis itu memandangnya tanpa ekspresi.

“Kalau boleh tahu, yang tadi itu bahasa apa?” “Bahasa Indonesia,” jawab gadis itu langsung.

“Oh, begitu.” Park Hyun-Shik tersenyum dan mengangguk-angguk karena

sepertinya gadis itu tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. “Anda bisa berbahasa

Indonesia rupanya.”

“Saya permisi,” kata gadis itu lagi sambil beranjak ke pintu.

“Sebentar,” Park Hyun-Shik kembali menahan gadis itu. Ia memandang Tae-Woo

sekilas, lalu kembali memandang gadis itu. “Anda tidak datang dengan mobil, bukan?

Tadi saya lihat tidak ada mobil di luar. Begini saja, kebetulan kami juga mau keluar. Bagaimana kalau Anda kami antar? Saya merasa tidak enak karena Anda harus

mengantar ponsel itu kemari.”

Gadis itu tersenyum kaku dan menggoyang-goyangkan sebelah tangannya. “Tidak usah. Saya bisa naik bus.”

“Kami bisa mengantar Anda ke halte bus,” timpal Tae-Woo. Ia tidak yakin gadis itu bisa pulang sendiri karena bila dilihat dari keadaannya sekarang, gadis itu sepertinya

bisa jatuh pingsan kapan saja. “Anggap saja sebagai tanda terima kasih sekaligus tanda

maaf dari kami.”

Gadis itu memandang mereka berdua bergantian dengan matanya yang besar. Raut wajahnya tampak bimbang. Sepertinya otaknya sedang berputar, mencari cara untuk menolak tawaran itu. Tae-Woo bisa memahaminya. Seorang gadis yang langsung bersedia diantar dua pria tidak dikenal sudah pasti gadis yang tidak beres.

(15)

15

“Oh, bukan. Saya tidak bermaksud begitu,” kata gadis itu sambil menggoyang -goyangkan tangannya lagi.

“Ayo, biar kami antar sampai ke halte bus,” sela Tae-Woo sambil meraih kunci mobil manajernya yang ada di meja. Ia menoleh ke arah Park Hyun-Shik. “Hyong, kita

pakai mobilmu saja, ya?”

Sepanjang perjalanan gadis itu lebih banyak diam. Bila diajak bicara, ia hanya menjawab seperlunya. Tae-Woo melirik manajernya yang sedang menyetir dan melirik ke kaca spion untuk mencuri pandang ke kursi belakang. Gadis itu duduk bersandar dan memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Tae-Woo ingin tahu apa yang membuat gadis itu terlihat begitu lelah.

Tiba-tiba gadis itu membuka suara, “Saya turun di depan sini saja.”

Jung Tae-Woo membalikkan tubuhnya sedikit supaya bisa melihat gadis itu. “Di

sini saja? Yakin tidak mau kami antar sampai di rumah?”

“Benar, kami tidak keberatan,” Park Hyun-Shik menambahkan.

Gadis itu menyunggingkan seulas senyum yang terkesan dipaksakan. “Tidak usah. Berhenti di sini saja.”

Park Hyun-Shik menghentikan mobilnya di tepi jalan, di dekat halte bus.

“Terima kasih,” kata gadis itu sambil keluar dari mobil. “Selamat malam.”

Ketika gadis itu membungkuk untuk memberi salam kepada mereka berdua, Park Hyun-Shik menurunkan kaca mobil dan bertanya, “Nona Han Soon-Hee, ada yang

ingin saya tanyakan. Apakah Anda mengenal teman saya ini?”

Tae-Woo menyadari manajernya sedang menunjuk ke arahnya.

(16)

16

Dua

“‟L

AGU Anda bagus‟?”

Sandy yang duduk bersila di tempat tidur dengan selimut membungkus tubuh menatap bingung Kang Young-Mi yang duduk di sampingnya. Temannya yang bermata sipit dan berambut lurus panjang tergerai melewati bahu itu balas menatap Sandy dengan kedua tangan terlipat di dada.

“Aku tidak percaya kau hanya bisa berkata begitu. Kenapa tidak minta tanda

tangannya?” Young-Mi melanjutkan dengan nada menuduh.

Sandy mengerang. “Mungkin karena kemarin aku sedang kesal dan lelah… dan lumpuh otak.” Ia memegang pipinya yang agak pucat dan menggeleng-geleng. “Betul, sepertinya otakku benar-benar sudah lumpuh semalam. Bagaimana bisa aku masuk ke mobil bersama dua laki-laki yang tidak kukenal? Dan saat itu sudah hampir tengah malam. Astaga, apa yang sudah kulakukan? Aku bukan orang seperti itu. Tidak, tidak. Aku sudah gila. Syukurlah aku masih beruntung. Bagaimana kalau sampai terjadi

apa-apa kemarin?”

Kayng Young-Mi mendecakkan lidah. “Hei, kau bukannya bersama orang asing. Kau bersama Jung Tae-Woo. Kenapa kau tidak minta tanda tangannya?” tanyanya sekali lagi, nada penyesalan kental terdengar.

“Jung Tae-Woo orang asing bagiku,” cetus Sandy tegas. “Lagi pula kau tahu sendiri

aku bukan penggemarnya, kenapa aku harus minta tanda tangannya?”

“Walaupun bukan penggemarnya, kau kan tahu temanmu yang satu ini penggemar beratnya,” tegur Young-Mi lagi sambil menekankan telapak tangan di dada. “Aku sudah begitu setia menunggu kemunculannya lagi selama empat tahun ini. Setidaknya

(17)

17

dengan Jung Tae-Woo, kau tahu? Dan kemarin, entah dengan keajaiban apa, kau bertemu dengannya, kau bicara dengannya, dan dia bahkan mengantarmu dengan

mobilnya.”

“Mobil temannya,” sela Sandy. “Temannya juga ada di sana.”

Young-Mi tidak mengacuhkan Sandy. “Kau naik mobil bersamanya. Haah, kalau aku jadi kau, aku akan—“

“Hei, Kang Young-Mi!”

Sikap Young-Mi melunak. “Aku tahu, aku tahu. Tapi kalau lain kali kau bertemu

dengannya, jangan lupa minta tanda tangan untukku.”

Sandy membaringkan diri ke tempat tidur. “Kalau aku bertemu dengannya lagi,”

gumamnya lirih. Pandangannya menerawang. “Kalauaku bertemu dengannya lagi.” Young-Mi bermain-main dengan salah satu ujung selimut Sandy lalu tiba-tiba

menyeletuk,” Oh ya, kudengar Jung Tae-Woo itu sebenarnya gay. Aku tidak tahu gosip itu benar atau tidak, meski aku bisa mati karena kecewa kalau dia benar-benar gay. Kemarin kau bertemu langsung dengannya. Menurutmu bagaimana? Sikapnya seperti apa? Apakah dia kelihatan normal-normal saja? Terlihat berbeda? Apakah penampilannya berubah setelah bertahun-tahun menghilang?”

Sandy mengerutkan kening dan berpikir. “Entahlah, aku tidak merasa ada yang

aneh pada dirinya. Biasa saja. Aduh, aku kan sudah bilang bahwa kemarin aku lumpuh otak. Aku bahkan tidak ingat lagi baju apa yang dipakainya.”

Young-Mi menatap prihatin temannya. “Kau benar-benar tidak berguna. Hanya kau yang bisa demam di musim panas seperti ini. Kepalamu masih sakit? Sudah baikan,

belum?”

Sandy tidak menjawab pertanyaan itu. Ia sedang memikirkan hal lain. Kemudian ia

menggigit bibir dan bertanya, “Young-Mi, sebenarnya apa yang kau suka dari Jung Tae-Woo? Kenapa kau begitu tergila-gila padanya?”

Senyum Kang Young-Mi mengembang. “Karena dia tampan, lucu, pandai menyanyi—aduh, suaranya bagus sekali—dan karena dia menulis lagu-lagu yang begitu romantis dan menyentuh. Oh ya, album barunya akan diluncurkan sebentar lagi.

Ah, aku sudah tidak sabar.” “Begitu?”

Tiba-tiba Young-Mi memekik dan membuat Sandy terperanjat.

“Kenapa? Ada apa?” tanya Sandy begitu melihat Young-Mi meraih tasnya yang tergeletak di lantai dengan kasar dan mulai mencari-cari sesuatu di dalamnya.

“Bodohnya aku, bodohnya aku,” gumam Young-Mi berulang-ulang. “Seharusnya

(18)

18

Young-Mi mengeluarkan tabloid dan membuka-buka halamannya. “Nah, coba kau

lihat ini.”

sandy melihat artikel berjudul “Pertemuan Tengah Malam” yang ditunjukkan

Young-Mi dan mendadak ia merinding. Artikel itu dilengkapi dua foto Jung Tae-Woo bersama seorang wanita. Wajah wanita itu tidak terlihat jelas, tapi Sandy sudah tentu bisa mengenali dirinya sendiri. Wanita yang bersama Jung Tae-Woo di dalam foto itu adalah dirinya. Astaga! Apa-apaan ini?

Foto pertama memperlihatkan Sandy dan Jung Tae-Woo yang sedang keluar dari rumah artis itu. Kepala Sandy tertunduk ketika difoto sehingga wajahnya tidak terlihat. Sandy ingat saat itu teman Jung Tae-Woo masih berada di dalam rumah sehingga orang itu tidak ikut terfoto.

Foto yang kedua diambil ketika Jung Tae-Woo sedang membuka pintu mobil untuknya. Sosoknya tidak jelas karena terhalang tubuh Jung Tae-Woo. Sandy merasa bersyukur karena wajahnya tidak terlihat.

“Aku sempat melupakan tabloid ini ketika aku mendengar kau sakit,” kata Young

-Mi menjelaskan. “Seharusnya aku sudah bisa menduga ketika kau menceritakan apa yang kaualami semalam tadi, tapi anehnya hari ini kerja otakku lambat sekali. Wanita

yang di foto itu kau, bukan?”

“Astaga,” gumam Sandy tidak percaya. “Siapa yang mengambil foto-foto ini?”

“Jung Tae-Woo itu artis terkenal,” kata Young-Mi dengan nada aku-tahu-semua-jadi-percaya-saja-padaku. “Tentu saja banyak wartawan yang sibuk mencari berita tentang dirinya. Dan yang satu ini benar-benar berita hebat. Di sini malah ditulis kau kekasih Jung Tae-Woo.”

Sandy menggeleng-geleng dan mengembalikan tabloid itu kepada Young-Mi. Ia

masih merinding, “Aku tidak berdua saja dengan Jung Tae-Woo. Paman berkacamata itu, teman Jung Tae-Woo, juga ada bersama kami, seharusnya siapa pun yang mengambil foto ini juga tahu, tapi kenapa jadi begini?”

Kang Young-mi menarik napas panjang. “Sudah kubilang, Jung Tae-Woo itu artis terkenal. Tabloid-tabloid harus mencari berita yang bisa menarik perhatian orang.

Kalau kalian bertiga yang ada dalam foto itu, tidak akan ada berita.”

Sandy merasa tubuhnya menggigil. “Untunglah wajahku tidak terlihat. Young-Mi, kuharap kau tidak akan memberitahu siapa pun tentang pertemuanku dengan Jung Tae-Woo.”

Alis Young-Mi terangkat. “Kenapa?”

Sandy mengerutkan kening dan menggaruk kepala. “Enak saja mereka membuat gosip sembarangan. Kekasihnya? Aku? Aku tidak mau terlibat dengan urusan seperti

(19)

19

“Kepalamu masih sakit?” tanya Young-Mi ketika melihat Sandy terdiam sambil memegang dahi.

Sandy menggeleng dan tersenyum. “Tidak, aku sudah baikan. Sepertinya gara-gara kecapekan ditambah stres, akhirnya demam. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa Young-Mi, kau pulang saja dan bantu ibumu. Sekarang kan jam makan siang. Rumah

makan ibumu pasti sedang ramai.”

“Ibuku juga mencemaskanmu, jadi aku diizinkan tinggal lebih lama. Oh ya, ibuku sudah memasak bubur untukmu. Tadi aku taruh di dapur. Kau harus makan,

mengerti?” kata Young-Mi sambil mengambil tasnya yang ada di lantai. Ia meletakkan

tangannya di kening Sandy dan bergumam, “Sudah tidak panas, tapi tetap harus minum obat. Nanti sore aku akan menjengukmu lagi. Kalau ada apa-apa, telepon aku.”

“Kau baik sekali, Young-Mi,” kata Sandy sambil tersenyum. “Sampaikan terima kasihku pada ibumu karena sudah memasak bubur untukku. Ah, tidak usah. Sebaiknya aku sendiri yang meneleponnya dan berterima kasih. Oh ya, kau harus ingat, soal pertemuanku dengan Jung Tae-Woo kemarin malam, jangan kaukatakan pada siapa

pun.”

“Ya, ya, aku tahu. Kau tenang saja. Istirahat yang banyak ya. Sampai jumpa,” kata

Young-Mi sebelum keluar dari kamar Sandy.

Jung Tae-Woo berdiri tegak di dekat jendela besar ruangan kantor manajernya yang berada di lantai 20 gedung pencakar langit. Ia memandang ke luar jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia tidak sedang menikmati pemandangan kota Seoul seperti yang sering dilakukannya pada hari-hari biasa. Pagi ini sebuah tabloid lagi-lagi memuat artikel yang mengomentari gosip gay-nya. Gosip itu merambat dengan kecepatan tinggi. Tidak lama lagi ia pasti akan dimintai penjelasan.

Wartawan-wartawan akan mengejarnya… menanyainya… menuntut tanggapannya. Itulah risiko

menjadi artis. Kenangan buruk masa lalu itu muncul lagi. Ketika para wartawan mengajukan ribuan pertanyaan tanpa henti, ketika ia merasa begitu frustrasi dan harus bersembunyi untuk menenangkan diri. Kini, dengan adanya gosip baru itu, hari-hari

penuh perjuangan akan kembali dimulai… atau apakah sebenarnya sudah dimulai?

“Oh, Tae-Woo, sudah datang rupanya.”

Tae-Woo begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai-sampai ia tidak menyadari manajernya sudah masuk ke kantor itu.

Park Hyun-Shik berjalan ke meja kerjanya dan meletakkan map biru di meja.

(20)

20

Tae-Woo menggeleng dan menghampiri kursi di depan meja. “Baru saja sampai. Ada apa menyuruhku kemari pagi-pagi?”

Park Hyun-Shik menyampirkan jasnya di sandaran kursi lalu membuka map yang tadi diletakkannya di meja. Ia mengeluarkan tabloid dari dalamnya dan menyodorkannya kepada Tae-Woo.

Tae-Woo menerima tabloid yang disodorkan dengan bingung, namun begitu

melihat artikel yang ada di sana, raut wajahnya berubah. “Apa-apaan ini? Bagaimana

mereka bisa… Ini—“

Tae-Woo memandang manajernya dan yang ditatap mengangguk. “Benar. Ini foto

yang diambil kemarin malam ketika kita mengantar gadis itu.”

Dengan kesal Tae-Woo melemparkan tabloid itu ke meja. “Bagus, satu gosip masih

tidak cukup rupanya.” Ia duduk dan bersandar di kursi. “Bagaimana mereka bisa

mendapatkan foto-foto ini? Apakah menurut Hyong, gadis yang kemarin itu ada

hubungannya dengan masalah ini?”

Manajernya menggeleng pelan. “Tidak, kurasa tidak. Meski kemungkinan seperti itu tetap ada, sekecil apa pun, tapi menurutku tidak begitu.”

Tae-Woo mengusap-usap dagu sambil merenung. Ia harus mengakui gadis yang kemarin itu tidak mungkin ada hubungannya dengan gosip ini, tapi…

“Gadis yang kemarin itu, Han Soon-Hee… aku sudah menyelidikinya,” kata Park Hyun-Shik sambil mengulurkan sehelai kertas kepada Tae-Woo. Ia lalu melanjutkan,

“Sedang kuliah tahun ketiga dan bekerja sambilan di butik seorang perancang busana. Ibunya orang Indonesia dan ayahnya orang Korea. Ayahnya kepala cabang perusahaan mobil dan ibunya ibu rumah tangga. Dia anak tunggal, lahir di Jakarta dan tinggal di sana sampai usianya sepuluh tahun, lalu karena kontrak kerja ayahnya sudah selesai, mereka sekeluarga pindah ke Seoul. Lima tahun yang lalu orangtuanya pindah kembali ke Jakarta karena ayahnya ditugaskan lagi di sana, sedangkan dia tetap tinggal di

Seoul. Latar belakangnya bersih dan sederhana.”

Tae-Woo membaca tulisan pada kertas yang dipegangnya dan tertawa kecil. “Dari mana Hyong mendapatkan semua informasi ini? Sampai tinggi dan berat badannya

ada.”

Park Hyun-Shik hanya tersenyum dan mengeluarkan sehelai kertas lain dari dalam

mapnya lalu mulai membaca, “Menurut orang-orang yang kenal baik dengannya, Han Soon-Hee wanita baik-baik dan bisa dipercaya. Tidak merokok, tidak pernah mabuk-mabukan, tidak memakai obat-obat terlarang, dan tidak punya catatan kriminal apa pun. Jadi aku berani menyimpulkan dia tidak ada sangkut pautnya dengan foto-foto di

tabloid itu.” Lalu ia menyodorkan kertas itu.

(21)

21

Park Hyun-Shik menghela napas. “Meski harus diakui… secara tidak langsung,

gosip yang satu ini sudah membantu kita,” katanya.

Tae-Woo mengangkat wajah dari kertas di tangannya dan memandang Park Hyun-Shik, menunggu si manajer menjelaskan maksud kata-katanya.

“Bukankah gosip ini dengan sendirinya mematahkan gosip gay-mu? Foto-foto itu memperlihatkan kau bersama seorang wanita di depan rumah pribadimu pada waktu

yang sangat mencurigakan,” kata Park Hyun-Shik sambil tersenyum lebar.

“Aku tahu kau sudah meminta izin untuk tidak datang bekerja hari ini karena tidak

enak badan, tapi aku sangat membutuhkanmu sekarang, Miss Han. Saat ini juga. Kami di sini sibuk sekali, apalagi aku, sampai hampir tidak punya waktu untuk menarik napas. Aku terpaksa memintamu datang, Miss Han. Tolong datanglah sekarang.

Please… Kau pasti tidak sedang sakit berat. Kalau tidak, saat ini kau pasti sudah

diopname di rumah sakit dan bukannya istirahat di rumah. Okay, Miss Han?”

Sandy berbaring di ranjang dengan ponsel menempel di telinga. Ia mendengarkan kata-kata bosnya yang mengalir seperti air bah di ujung sana dengan mata terpejam. Seharusnya ia tidak mengaktifkan ponselnya hari ini. Seharusnya bosnya tidak menghubunginya. Seharusnya bosnya tidak bersikap begini. Orang sakit masa disuruh kerja? Lagi pula ini kan hari Sabtu. Diktator!

“Miss Han? Miss Han? Halooo? Kau mendengarkanku, Miss Han? Aku tidak bisa

berbicara lama-lama, Miss Han. Very very busy. Kau akan datang, kan?”

“Ya, ya, Mister Kim. Saya mengerti. Saya akan sampai di sana dalam satu jam,”

sahut Sandy malas.

“Kau punya waktu setengah jam untuk sampai di studioku, Miss Han,” kata bosnya

sebelum menutup telepon.

Sandy menatap ponselnya dengan hati dongkol. “Lihat saja, kau akan menerima

surat pengunduran diriku hari Senin nanti. Drakula! Pengisap darah! Hhh, bisa gila

aku!”

Sambil mengumpat, Sandy memaksa dirinya bangkit dan berjalan terseok-seok ke lemari pakaian.

(22)

22

berlantai tiga. Butik Mister Kim sendiri terdiri atas dua lantai: lantai pertama diperuntukkan tamu umum sedangkan lantai duanya untuk tamu VIP.

Sandy masuk dan melihat pria setengah baya berpenampilan perlente, berambut dicat merah, dan berkaca-mata itu sedang memandangi model kurus dengan tatapan tidak puas. Lalu dengan sekali sentakan tangan, ia menyuruh model itu pergi dan menyuruh anak buahnya memanggil model lain.

Tepat pada saat model lain masuk ke ruangan, Mister Kim menyadari keberadaan

Sandy dan langsung memekik, “Miss Han! Kau terlambat. Kenapa—sebentar…” Ia berpaling ke arah si model yang baru masuk dan berkata ketus, “No, no! Bukan kau. Apa yang harus kulakukan supaya mereka mengerti model seperti apa yang

kubutuhkan? Astaga! Panggilkan Mister Cha ke sini.”

Sandy merasa kasihan melihat ekspresi kaget si model wanita. Harus diakui Mister Kim ini bukan orang yang mudah. Kadang-kadang orang jenius memang sulit dibuat senang.

Mister Kim kembali memusatkan perhatian kepada Sandy. “Kau lihat sendiri, Miss

Han, kami sedang sibuk sekali untuk fashion show. Tolong kauantarkan

pakaian-pakaian untuk dicoba.”

Apa? Untuk dicoba siapa? Pakaian mana? Mister Kim selalu mengharapkan orang lain langsung bisa memahami kata-katanya yang tidak selalu jelas.

“Diantarkan kepada siapa dan dicoba untuk apa, Mister Kim?” tanya Sandy.

Mister Kim menatapnya dengan mata dibelalakkan selebar-lebarnya, setidaknya selebar yang mungkin di lakukan mata yang pada dasarnya sipit. “Astaga, Miss Han. Kau tentu ingat aku pernah bercerita tentang Jung Tae-Woo, bukan? Dia sudah setuju akan memakai pakaian rancanganku dalam setiap penampilannya. Makanya kau cepat-cepatlah pergi ke sana dan pastikan pakaian-pakaian itu sudah cocok dengan ukuran

dan seleranya.”

Lalu, sebelum Sandy bertanya lagi dia sudah menunjuk rak pakaian beroda yang

ada di dekat pintu, “Itu! Pakaian yang di rak itu!”

Tidak, Anda belum pernah menyebut-nyebut tentang masalah ini kepadaku, gerutu

Sandy dalam hati, tapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Siapa yang Anda sebut tadi?”

“Jung Tae-Woo. Penyanyi itu. Kau tidak kenal? Sudahlah, kenal atau tidak bukan masalah penting. Sana cepat pergi! Dia sudah menunggu di butik. Ayo sana. Go!

Cepat!” katanya sambil mendorong punggung Sandy ke arah pintu keluar studionya.

(23)

23

Sandy mendorong rak beroda yang nyaris terisi penuh pakaian di sepanjang koridor. Masih dengan perasaan sebal, ia berjalan menuju lift. Di tengah jalan Sandy berpapasan dengan penjaga butik yang sudah kenal baik dengannya dan diberitahu Jung Tae-Woo sudah menunggu di lantai dua.

Sesampainya di depan pintu ruang peragaan lantai dua yang memancarkan kesan elite itu, ia berhenti beberapa saat. Ia ragu. Kenapa ia harus bertemu Jung Tae-Woo lagi? Apa yang harus ia katakan kepadanya? Apa yang harus ia lakukan? Apakah laki-laki itu sudah tahu tentang foto-foto yang dimuat di tabloid itu?

Sandy mendesah dan menggigit bibir. Mungkin saja Jung Tae-Woo malah tidak ingat padanya lagi. Sandy mengangguk. Benar, Jung Tae-Woo pasti sudah lupa padanya. Artis-artis pasti sulit mengingat wajah karena setiap hari mereka harus bertemu begitu banyak orang baru. Pasti begitu. Mana mungkin mereka ingat setiap orang yang mereka temui dalam waktu singkat, kan?

Dengan keyakinan itu, Sandy mendorong pintu kaca besar di hadapannya dan melangkah masuk. Ia menarik napas dalam-dalam dan memaksa kakinya terus berjalan.

Sandy berdiri di depan pintu putih salah satu kamar peragaan dan kembali menarik napas. Baiklah, ini saatnya. Lakukan dan selesaikan secepatnya! Tidak usah cemas. Orang itu tidak akan ingat padamu. Kerjakan saja tugasmu.

Ia meraih pegangan pintu dan membukanya.

“Salah seorang anak buahnya akan mengantarkan pakaian-pakaian itu ke sini,” kata Park Hyun-Shik sambil menutup flap ponsel.

Tae-Woo mengembuskan napas keras-keras dan mengempaskan diri ke sofa empuk yang diletakkan di tengah-tengah kamar peragaan. “Sudah kubilang, seharusnya kita

tidak usah datang secepat ini.” Ia melirik jam tangannya. “Ah, aku salah, ternyata bukan kita yang datang terlalu cepat. Mereka yang terlambat. Hhh… harus menunggu berapa lama?”

Park Hyun-Shik baru akan menjawab ketika ponselnya berdering untuk kesekian kalinya dalam dua jam terakhir.

(24)

24

Tae-Woo merebahkan kepala ke sandaran sofa, mencoba mendapatkan kenyamanan. Baru saja ia merasa damai dan hampir terlelap ketika ia mendengar bunyi pintu dibuka dan suara seorang wanita.

“Selamat siang. Maaf membuat Anda menunggu lama.”

Tae-Woo membuka mata. Gadis berambut sebahu dan bertopi merah memasuki ruangan sambil mendorong rak pakaian beroda. Gadis itu membungkuk hormat. Tae-Woo berdiri dan membungkuk sedikit untuk membalas sapaannya.

“Mister Kim meminta saya membawakan pakaian-pakaian ini untuk Anda. Silakan

dicoba.” Gadis itu mendorong rak hingga ke ujung ruangan, ke dekat bilik ganti. Ia mengeluarkan salah satu pakaian dari gantungan dan mengulurkannya kepada

Tae-Woo. “Silakan dicoba di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah bilik yang tertutup

tirai tebal.

Ada perasaan janggal yang mengusik Tae-Woo, tapi ia tidak tahu apa yang membuatnya merasa seperti itu. Ia menerima pakaian yang disodorkan dan beranjak ke bilik ganti.

Selesai mengenakan pakaian, Tae-Woo menyibakkan tirai. Tepat pada saat itu ia melihat gadis yang membawakan pakaian tadi sedang duduk di kursi bulat di samping sofa. Topi merahnya dilepas dan gadis itu sedang menyisir rambutnya yang agak ikal dengan jari-jari tangan. Tae-Woo tertegun dan menatap gadis itu. Itulah kali pertama ia melihat jelas wajah si gadis sejak ia masuk bersama rak pakaian.

Tiba-tiba gadis itu menoleh dengan wajah terkejut, sepertinya ia menyadari sedang diperhatikan. Ia cepat-cepat mengenakan kembali topinya dan berdiri. “Bagaimana?

Apakah pakaiannya cocok? Anda suka?”

Bukankah ia gadis yang kemarin ditemuinya? Tidak salah lagi. Tae-Woo masih ingat wajah gadis itu. Wajah yang lelah dan pucat. Gadis yang berdiri di hadapannya ini memang gadis yang kemarin. Wajahnya masih terlihat lelah dan pucat. Tapi kenapa gadis ini tidak mengatakan apa-apa? Apakah ia tidak mengenalinya?

“Kita pernah bertemu,” kata Tae-Woo. Ia tidak sedang bertanya. Ia benar-benar yakin, karena itu ia ingin melihat reaksi si gadis.

Gadis itu tertegun, lalu perlahan-lahan mengangkat kepala dan memandang Tae-Woo dengan ragu-ragu.

Tatapan yang ragu-ragu itu tidak salah lagi sama dengan tatapan gadis yang kemarin datang ke rumahnya. Tae-Woo menunggu si gadis mengatakan sesuatu.

Setelah hening beberapa detik, gadis itu hanya bergumam, “Oh?”

(25)

25

bagaimana seseorang bisa melupakan artis yang baru ia temui kemarin malam? Tae-Woo kesal karena justru dirinyalah yang ingat pada si gadis, sementara si gadis tampaknya sama sekali tidak ingat padanya. Bagaimana bisa? Atau sebenarnya ia tidak sepopuler yang ia kira? Apakah dunia sudah berubah tanpa sepengetahuannya?

“Kau datang ke rumahku kemarin malam karena ponselku tertukar dengan ponselmu,” kata Tae-Woo datar dan cepat, berusaha membantu ingatan gadis itu. Demi Tuhan, memangnya gadis ini menderita amnesia?

Sandy memerhatikan Jung Tae-Woo masuk ke bilik ganti dan menarik tirai. Ia mengembuskan napas lega dan duduk di kursi bulat yang empuk. Laki-laki itu teryata memang tidak mengenalinya. Sandy melepaskan topi dan memegang pipinya dengan sebelah tangan. Lelah sekali. Semoga saja sampai pekerjaannya selesai Jung Tae-Woo tidak akan mengenalinya. Ia menyisir rambut dengan jari-jari tangan sambil melamun. Tiba-tiba ia melihat Jung Tae-Woo sudah berdiri di sana sambil memerhatikannya. Sandy tersentak dan segera memakai topinya kembali.

“Bagaimana? Apakah pakaiannya cocok? Anda suka?” tanyanya dengan nada yang

dibuat riang dan sopan.

“Kita pernah bertemu.”

Sandy bergeming. Ia menggigit bibir. Ternyata Jung Tae-Woo mengenalinya. Bagaimana sekarang? Mengaku saja? Tapi kalau baru mengaku sekarang akan terasa aneh. Akhirnya ia hanya bisa bergumam tidak jelas.

“Kau datang ke rumahku kemarin malam karena ponselku tertukar dengan ponselmu,” kata Jung Tae-Woo lagi. Nada suaranya datar.

Baiklah, ia tidak bisa mengelak lagi. Sandy memaksakan seulas senyum. “Oh, ya,

benar. Apa kabar?”

Hanya itu yang bisa dipikirkannya. Sandy memarahi dirinya sendiri dalam hati. Jung Tae-Woo memandangnya dengan tatapan aneh, lalu memalingkan wajah dan

mendengus pelan. “Ternyata ingat juga,” gumamnya.

Sandy mengangkat alis. “Ya?”

Jung Tae-Woo kembali menatapnya dan berkata, “Jadi kau bekerja di sini?”

“Ya… bisa dibilang begitu,” jawab Sandy. Ia lega sekarang. Setidaknya ia tidak

perlu menundukkan kepala lagi. Tidak perlu menyembunyikan wajah lagi.

“Foto di tabloid itu… Kau sudah melihatnya?” tanya Jung Tae-Woo.

(26)

26

“Sudah…,” sahutnya ragu, lalu cepat-cepat menambahkan sambil

menggoyang-goyangkan tangan, “tapi bukan aku… Maksudku, aku tidak ada hubungannya dengan

itu. Sungguh.”

Jung Tae-Woo tertawa kecil. “Kami juga berpikir begitu. Lagi pula sebenarnya foto

-foto itu malah membantuku.”

Sandy tidak mengerti.

“Kau sering membaca tabloid?” tanya Tae-Woo.

Sandy menggeleng. Ia tidak punya waktu untuk itu. Lagi pula ia sama sekali tidak perlu membaca tabloid untuk tahu gosip seputar artis. Temannya, Kang Young-Mi, adalah tabloid berjalan. Kang Young-Mi tahu semua yang terjadi dalam dunia artis. Apa pun yang ia ketahui pasti akan diceritakannya kepada Sandy, tidak peduli Sandy sebenarnya mau tahu atau tidak.

Jung Tae-Woo mengangguk-angguk. “Hm, berarti kau tidak tahu-menahu soal

gosip tentang diriku.”

“Gosip gayitu?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Sandy tanpa diproses di otaknya terlebih dahulu.

Jung Tae-Woo menatapnya. “Bukannya kau tadi bilang kau tidak membaca

tabloid?”

Sandy memiringkan kepala dengan salah tingkah. “Temanku yang menceritakannya padaku.”

“Ternyata banyak orang yang sudah tahu.” Jung Tae-Woo mendesah.

“Bagaimanapun, foto-foto itu sudah membantuku mengatasi gosip.”

Sandy hanya mengangguk-angguk tidak acuh, namun ia terkejut ketika laki-laki di hadapannya itu mendadak berpaling ke arahnya dengan wajah berseri-seri.

“Han Soon-Hee ssi—namamu Han Soon-Hee, bukan?” tanyanya cepat. Tanpa

menunggu jawaban Sandy, ia meneruskan, “Karena kau sudah membantuku satu kali, bagaimana kalau kau membantuku lagi?”

Sandy mundur selangkah. “Bantu… apa?” “Jadi pacarku.”

“A-apa?!”

Tae-Woo agak kaget mendengar pekikan gadis itu, tapi ia bisa memakluminya.

“Begini, biar kuganti kalimat permintaanku,” katanya sambil berkacak pinggang

dan berpikir-pikir. Kemudian ia mengangkat wajah dan menatap Sandy. “Aku hanya

(27)

27

Sandy mengerjap-ngerjapkan mata dengan bingung. Tae-Woo cepat-cepat menjelaskan. Ia sangat menyadari alis gadis itu terangkat ketika mendengarkan ceritanya.

“Hanya berfoto. Bagaimana?” tanya Tae-Woo di akhir penjelasannya. Ia menatap Sandy yang masih tercengang. Kenapa tiba-tiba ia merasa seolah sedang disidang di pengadilan? Ia sangat penasaran apa yang akan dikatakan gadis itu, apa jawabannya.

Kalimat pertama yang keluar dari mulut Sandy adalah, “Kenapa aku?”

Pertanyaan yang bagus. “Tidak ada alasan khusus,” sahut Tae-Woo santai. “Kupikir kau mungkin mau membantuku. Bagaimanapun kita sudah pernah difoto bersama

walaupun tanpa sengaja.”

Sandy masih terlihat bingung, tapi Tae-Woo melihat kening gadis itu berkerut, tanda sedang mempertimbangkan usul yang ia ajukan. Setidaknya Sandy tidak langsung menolak mentah-mentah.

Tae-Woo cepat-cepat mengambil kesempatan itu untuk menambahkan, “Kalau kau mau, anggap saja aku menawarkan pekerjaan kepadamu. Tidak akan mengganggu pekerjaanmu yang sekarang. Kau masih kuliah? Kuliahmu juga tidak akan terganggu.”

“Memangnya aku terlihat seperti sedang butuh pekerjaan?” tanya Sandy datar. “Atau butuh uang?”

Tae-Woo terdiam. Ia memandang Sandy dari kepala sampai ke ujung kaki. Tidak, gadis ini memang sudah punya pekerjaan dan dilihat dari cara berpakaiannya, ia tidak tampak seperti gadis yang kekurangan uang.

“Memang tidak,” Tae-Woo mengakui. “Begini saja, aku akan memberimu apa pun

yang kauinginkan kalau kau bersedia membantuku.”

“Hanya untuk berfoto bersama?” tanya Sandy memastikan.

“Begitulah rencananya,” jawab Tae-Woo pasti. Ia mulai merasa tidak percaya diri melihat tanggapan gadis itu. Apa yang sedang dipertimbangkannya? Yah, mungkin memang karena pada dasarnya Han Soon-Hee bukanlah salah satu penggemarnya. Jadi, tidak aneh kalau gadis itu tidka antusias dengan gagasan ini.

Tiba-tiba terdengar dering ponsel. Otomatis Tae-Woo merogoh saku bagian dalam jasnya. Pada saat yang sama Sandy juga merogoh tas tangannya yang terletak di meja. Ternyata yang berdering ponsel milik gadis itu. Tae-Woo baru ingat ponsel Sandy sama dengan ponsel miliknya. Bahkan nada deringnya juga persis sama. Mungkin salah satu dari mereka harus segera mengganti nada dering.

(28)

28

wajahnya. Tapi sepertinya Sandy tidak berniat memberikan penjelasan atas tidakannya barusan.

“Mau membantu, kan?” Tae-Woo akhirnya membuka suara setelah mereka berdua terdiam beberapa saat.

Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Tae-Woo. “Baiklah, asalkan wajahku

tidak terlihat.”

Udara di sekeliling Tae-Woo jadi terasa lebih ringan. Ia mengembuskan napas pelan dan tersenyum lega. Meminta bantuan Sandy ternyata tidak sesulit dugaannya. Tidak ada syarat yang aneh-aneh. Kalau sekadar merahasiakan identitas, ia bisa memaklumi itu. Gadis ini tentu saja tidak ingin berurusan dengan wartawan.

“Terima kasih. Kuharap kau tidak akan memberitahu orang lain tentang kesepakan

kita ini, bahkan orangtuamu sekalipun. Aku tidak ingin menciptakan skandal yang

lebih parah. Aku bisa memercayaimu, kan?”

“Mm, aku mengerti,” kata Sandy menyanggupi. Tapi begitu melihat matanya yang

agak menerawang, Tae-Woo jadi kurang yakin apakah gadis itu benar-benar memahami kata-katanya.

Pada saat itu pintu terbuka dan mereka berdua menoleh. Ternyata yang masuk Park Hyun-Shik. Sang manajer memandang mereka berdua dengan tatapan bertanya-tanya, lalu setelah beberapa saat wajahnya menjadi cerah.

“Oh, kau yang kemarin itu?” tanya Park Hyun-Shik sambil menghampiri Sandy. Tae-Woo tersenyum lebar. “Hyong, dia bersedia menjadi pacarku.”

Senyum manajernya langsung lenyap. “Maksudmu?”

“Yang Hyong katakan kemarin… soal foto… aku sudah memikirkannya,” kata Tae

-Woo, masih tetap tersenyum. “Kita lakukan saja. Dia juga sudah bersedia membantu.

Memang tidak persis seperti rencana yang Hyong usulkan kemarin.”

Park Hyun-Shik terlihat bingung. “Soal yang kemarin…?” Ia terdiam sebentar, lalu,

“Astaga, kau serius?”

“Akan kujelaskan lebih lanjut pada Hyong nanti,” kata Tae-Woo sambil

menepuk-nepuk pundak manajernya. “Kita lanjutkan pekerjaan kita dulu. Bukankah kita ke sini

karena aku harus mencoba semua pakaian ini?”

(29)

29

“Apa yang sudah kulakukan?” ia bertanya pada dirinya sendiri sambil memegang

pipi dengan sebelah tangan.

Sandy harus berusaha keras menenangkan diri karena jantungnya berdebar kencang sekali. Sejak tadi ia berjuang supaya rasa gugupnya tidak terlihat oleh kedua pria itu. Perasaan canggung saat Jung Tae-Woo menjelaskan rencananya kepada si manajer sementara pria itu mencoba pakaian tadi bahkan masih bisa ia rasakan hingga kini.

Si manajer agak bimbang. Ia banyak bertanya pada Sandy, selain itu juga berulang kali menekankan bahwa masalah ini tidak boleh sampai diketahui orang lain. Tentu saja Sandy mengerti. Diam-diam, sambil mendengarkan pesan Park Hyun-Shik, Sandy mengamatinya. Pria yang satu itu benar-benar memiliki daya tarik. Cara bicaranya menyenangkan, senyumnya menawan, dan matanya ramah. Sandy tahu Hyun-Shik bertanya-tanya kenapa ia mau begitu saja membantu Jung Tae-Woo, tapi ia pura-pura bodoh. Pada awalnya Sandy memang agak ragu dengan tawaran Tae-Woo, tapi akhirnya rasa penasarannyalah yang menang. Ia meyakinkan dirinya ini jalan yang tepat. Ini mungkin kesempatan yang telah lama dinantinya untuk mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah lama menghantui….

Lagi pula menurutnya pekerjaan yang ditawarkan kepadanya tidak susah. Ia hanya perlu difoto bersama Jung Tae-Woo. Bukan masalah. Ia pasti bisamelakukannya. Ia sadar kesepakatan ini akan membuatnya sering bertemu Jung Tae-Woo, tapi ini bukan masalah, toh ia tidak merasakan apa-apa terhadap artis itu. Nilai tambah lain, kalau ia sering bersama Jung Tae-Woo, ia akan tahu dan mengerti kenapa teman dekatnya juga banyak wanita lain bisa tergila-gila pada pria itu.

“Baiklah,” katanya pada dirinya sendiri. “Aku pasti bisa melakukannya. Ah, astaga! Aku lupa minta tanda tangan Jung Tae-Woo untuk Young-Mi.”

Sandy merogoh tasnya untuk mencari ponsel, tapi kemudian berhenti. Apakah sebaiknya aku tidak memberitahu Young-Mi aku bertemu Tae-Woo tadi? Dia pasti kesal karena aku lupa meminta tanda tangan lagi. Tapi ia pasti bakal jadi lebih kesal

kalau tahu aku menyembunyikan soal pertemuan ini…

Sandy melanjutkan mencari ponselnya di tas tangannya dan menemukan baterai ponsel yang tadi ia lepas. Mendadak ia jadi teringat Lee Jeong-Su tadi meneleponnya. Mudah-mudahan Jeong-Su bisa mengerti kenapa ia tidak bisa menerima telepon tadi.

Eh… tunggu dulu, kalau dipikir-pikir lagi, kenapa ia harus merasa bersalah? Mana ada orang yang bisa menjawab telepon kalau sedang berada dalam situasi seperti tadi? Lagi pula sepanjang pengalamannya, kalau Lee Jeong-Su yang menelepon, pasti bukan karena ada hal penting.

(30)

30

Sandy memasang baterai ponselnya kembali dan baru akan menghubungi

Young-Mi ketika ia teringat janjinya. Aah… benar juga, aku sudah berjanji pada Park Hyun -Shik ssi tidak akan menceritakan masalah ini pada orang lain. Ah, bagaimana ini?

Yah… apa boleh buat…

Ia kembali memasukkan ponsel itu ke tas tangannya, lalu ia mendongak menatap

langit yang biru dan bergumam, “Baiklah, Sandy. Semoga keputusanmu ini ada

gunanya. Aja aja, fighting*!”

Sekarang ia harus pulang dan tidur dulu untuk mengumpulkan tenaga. Ia sudah berjanji akan menemui kedua pria itu nanti malam.

(31)

31

Tiga

“S

OON-HEE SSI, sebaiknya pinggiran topimu diturunkan sedikit lagi. Wajahmu

harus tertutup,” perintah Park Hyun-Shik.

Sandy bergumam tidak jelas, menyerahkan ponsel yang dipegangnya kepada Jung Tae-Woo, lalu menarik turun topi merahnya. “Kalau begini aku sendiri tidak bisa melihat apa-apa,” desahnya. “Paman sebenarnya ada di mana? Dia sedang

meneropong kita atau semacamnya?”

Ia dan Jung Tae-Woo sedang berada di dalam mobil Jung Tae-Woo yang diparkir di lapangan parkir depan gedung tempat Park Hyun-Shik bekerja. Saat itu pukul sepuluh malam dan suasana di tempat parkir sepi sekali. Jung Tae-Woo yang mengenakan topi hitam dan kacamata hitam duduk di balik kemudi, Sandy duduk di sampingnya, sementara Park Hyun-Shik mengawasi mereka entah dari mana. Semua komunikasi dilakukan lewat ponsel. Mereka sudah siap menjalankan tahap pertama rencana.

Jung Tae-Woo menempelkan ponsel ke telinga dan berkata, “Sudah bisa dimulai.” Ia menutup ponsel dan memandang Sandy yang sedang merapikan kepang

rambutnya. “Sekitar semenit lagi kita keluar,” katanya pendek.

“Jadi kita hanya perlu keluar dari mobil, bergaya sebentar, lalu masuk kembali ke mobil?” tanya Sandy memastikan.

Jung Tae-Woo mengangguk. Ia diam, lalu, “Nah, sepertinya Hyong sudah siap

dengan kameranya. Kita keluar sekarang.”

Mereka berdua keluar dari mobil dan mulai berjalan berdampingan.

“Kenapa jauh begitu?” tanya Jung Tae-Woo.

Sandy menoleh dan menyadari Jung Tae-Woo sedang mengomentari jarak antara

(32)

32

“Orang-orang tidak akan percaya aku punya hubungan khusus denganmu kalau

kau berdiri sejauh itu.”

Sandy berhenti berjalan dan memutar tubuh menghadap Jung Tae-Woo.

“Menurutku seperti ini juga sudah lumayan. Kita tidak perlu sampai berpelukan

supaya orang percaya kita punya hubungan khusus, kan?”

Jung Tae-Woo tertawa pendek. “Apanya yang lumayan? Tubuhmu kaku begitu dan

jalanmu seperti robot.”

Sandy tetap diam.

Jung Tae-Woo balas menatapnya, lalu berkata, “Kita harus melakukan sesuatu.” Sandy terkejut ketika Jung Tae-Woo melangkah mendekati dirinya. “Mau apa kau?” tanyanya, tapi saking gugupnya ia tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri.

Jung Tae-Woo berdiri tepat di depannya. Sandy baru menyadari betapa dirinya begitu pendek dibandingkan pria itu. Kepalanya sampai harus mendongak kalau ia mau melihat wajah Jung Tae-Woo.

“Hei, Jung Tae-Woo ssi, kau sebenarnya mau apa?” tanya Sandy sekali lagi ketika setelah beberapa saat Jung Tae-Woo hanya berdiri diam tanpa melakukan apa-apa. Ia tidak bisa melihat ekspresi Jung Tae-Woo dengan jelas karena laki-laki itu memakai kacamata hitam, tapi Sandy bisa melihat bibir pria itu membentuk seulas senyum.

“Aku? Hanya memberikan pose yang bagus untuk foto kita,” katanya santai, lalu ia

mundur kembali.

Sandy mendengus pelan. “Lucu sekali.”

“Misi selesai,” kata Sandy ketika mereka sudah duduk kembali di dalam mobil. “Hhhh… lelahnya. Benar-benar pekerjaan yang berat.”

Tae-Woo tersenyum kecil mendengar gurauan Sandy. Ternyata gadis ini bisa bercanda juga. Tae-Woo yakin sebenarnya Sandy orang yang ramah, meski saat ini gadis itu lebih sering bersikap kaku dan menjaga jarak, bahkan terkadang cenderung dingin. Bagaimanapun hal itu wajar saja mengingat mereka tidak terlalu saling mengenal.

“Aku merasa seperti sedang main film,” Sandy menambahkan. “Mungkin seharusnya aku jadi aktris saja. Bagaimana menurutmu?”

“Teruslah bermimpi,” sahut Tae-Woo sambil menghidupkan mesin mobil.

Saat itu terdengar dering ponsel. Mereka berdua serentak mencari ponsel mereka. Yang berdering ternyata ponsel Tae-Woo.

“Sebaiknya kauganti nada dering ponselmu,” gerutu Sandy sambil memasukkan

(33)

33

“Kenapa harus aku? Kau saja yang ganti,” kata Tae-Woo sebelum menjawab

teleponnya. “Ya, Hyong… Sudah?”

Tiba-tiba ponsel Sandy berdering juga. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Sandy

langsung menjawab teleponnya. “Halo?”

Tae-Woo melihat gadis itu mendesah dan melepaskan topi merahnya. Siapa yang meneleponnya? Lamunan dalam benaknya buyar ketika ia sadar Park Hyun-Shik berulang kali menyebut namanya di telepon.

“Eh, apa, Hyong?... Oh, oke. Sampai jumpa besok,” kata Tae-Woo sebelum menutup ponsel.

“Aku? Sekarang? Sedang di luar,” kata Sandy dengan nada santai.

Tae-Woo memerhatikan alis Sandy terangkat ketika gadis itu mendengarkan jawaban orang di seberang sana.

“Sebentar lagi juga akan pulang. Kalau ada yang perlu dibicarakan, bicarakan nanti saja. Aku sekarang sedang sibuk. Tutup dulu ya.” Sandy langsung menutup teleponnya.

“Telepon dari siapa?” tanya Tae-Woo sambil lalu.

Sandy menoleh ke arahnya. “Teman,” sahut gadis itu pendek, lalu mengalihkan pembicaraan. “Kita sudah selesai sekarang? Paman bilang apa tadi?”

Tae-Woo memandang Sandy dengan kening berkerut. “Paman?” tanyanya heran.

“Kenapa kau memanggil Hyong„paman‟? Dia kan belum setua itu. Kalau aku sih tidak

akan sudi dipanggil „paman‟.”

Sandy baru akan membuka mulut untuk menjawab ketika Tae-Woo menambahkan,

“Tapi terserah kau sajalah. Panggil saja dia „paman‟ atau apa pun sesukamu. Hyong tidak akan keberatan. Dia bukan orang yang suka ambil pusing untuk masalah seperti

ini. Asal kau tidak memanggilnya „onni*‟ saja.”

Sandy menarik napas dan berdeham “Jadi Paman bilang apa tadi?” tanyanya sekali lagi.

“Katanya mungkin lusa foto-foto itu akan muncul di tabloid,” jawab Tae-Woo. Namun kemudian perkataannya selanjutnya seakan ditujukan kepada dirinya sendiri,

“Harus lagi-lagi siap menghadapi wartawan. Tapi setidaknya reputasiku akan kembali

seperti dulu…”

Tae-Woo menoleh dan mendapati Sandy sedang menatapnya dengan pandangan

aneh. “Apa? Ada apa?”

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Sandy agak ragu. “Apa?”

(34)

34

“Sebenarnya… kau gayatau bukan?”

Tae-Woo melepas kacamatanya dan menatap Sandy dengan kesal.

Tanpa menunggu jawaban, Sandy mengibaskan tangan. “Oh, baiklah, aku tidak

akan bertanya lagi. Kau gayatau bukan juga bukan urusanku.”

Seperti rencana Park Hyun-Shik, hari Senin pagi foto-foto mereka sudah mucul di tabloid. Sandy baru memasuki ruang kuliah ketika Kang Young-Mi berlari ke arahnya.

“Hei, Han Soon-Hee!” seru Young-Mi dengan suara menggelegar.

Sandy mengerjapkan matanya dengan bingung, lalu setelah pulih dari

kekagetannya, ia menggerutu, “Sudah kubilang berkali-kali jangan panggil nama

lengkapku seperti itu. Memangnya „Sandy‟ terlalu susah diucapkan?”

“Dan sudah kubilang berkali-kali kalau aku tidak suka nama yang kebarat-baratan,” balas Young-Mi lalu melanjutkan, “Sekarang itu bukan masalah penting. Lihat ini!” Ia melambai-lambaikan tabloid tepat di depan wajah Sandy.

“Apa ini?” tanya Sandy. Ia harus mundur selangkah supaya bisa melihat jelas apa

yang ingin diperlihatkan temannya itu.

“Jung Tae-Woo ternyata punya pacar!” kali ini seruan Young-Mi begitu keras sampai-sampai Sandy terlompat kaget.

Sandy melihat halaman depat tabloid itu dan menahan napas. Ia membaca judul

utamanya “JUNG TAE-WOO DAN KEKASIH WANITA?” dicetak dengan ukuran besar. Di bawah judul itu ada tiga fotonya bersama Jung Tae-Woo. Foto-foto itu agak buram, tapi kenapa Sandy merasa dirinya terlihat begitu jelas?

Foto pertama memperlihatkan mereka berdua di dalam mobil. Jung Tae-Woo sedang memegang kemudi dan menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Sandy sendiri juga sedang memandang pria itu dengan kepala dimiringkan sehingga wajahnya tertutup topi merahnya. Kapan mereka berpose seperti itu? Sandy sendiri tidak ingat.

Foto yang kedua diambil ketika mereka berjalan bersama. Foto itu diambil sedikit menyamping sehingga Sandy agak tertutup tubuh Jung Tae-Woo. Sandy memerhatikan foto itu dan mengerutkan kening. Seingatnya mereka tidak berdiri sedekat itu, tapi mungkin arah pengambilan fotonya yang menyebabkan mereka terlihat dekat.

(35)

35

“Kau lihat? Sudah lihat?” Young-Mi jelas-jelas terlihat kesal dan sedikit histeris.

“Ternyata selama ini Jung Tae-Woo sudah punya kekasih. Siapa wanita itu? Artis? Kau tahu tidak, semua penggemarnya sedang shocksaat ini.”

Sandy agak lega karena Kang Young-Mi tidak menyadari bahwa dirinyalah yang ada di dalam foto bersama Jung Tae-Woo. Ia melipat kembali tabloid itu, mengembalikannya kepada Young-Mi, lalu berkata, “Kenapa kesal? Bukankah ini malah membuktikan Jung Tae-Woo bukan gay?”

Young-Mi terdiam dan menimbang-nimbang. “Tapi kalau melihat dia dengan

wanita lain, rasanya hatiku… aduh,” katanya dengan wajah memelas.

Sandy tertawa geli.

“Tapi… mungkin juga gadis ini bukan kekasihnya,” kata Young-Mi tiba-tiba.

“Memangnya apa yang membuatmu berpikir begitu?”

“Bisa saja kasusnya sama dengna kasusmu waktu itu. Jung Tae-Woo hanya mengantarmu dan tidak ada hubungan apa-apa di antara kalian. Lagi pula semua orang tahu wartawan suka membesar-besarkan masalah.”

Sandy cepat-cepat menoleh dan mendapati sahabatnya sedang memandangnya

yakin. “Tapi menurutku yang ini memang benar. Di artikel ini bahkan juga tertulis ada

sumber tepercaya yang menyatakan Jung Tae-Woo memang sudah punya pacar, kan? Lagi pula kalau dipikir-pikir, bukankah ini hal yang baik? Maksudku, bagi penggemar sepertimu, yang paling penting kan Jung Tae-Woo bukan gayalias suka wanita….”

Karena ekspresi kecewa Young-Mi belum berubah, Sandy menambahkan, “Kau juga tidak perlu histeris begitu. Kalaupun wanita di foto ini memang pacarnya, masih ada

kemungkinan mereka berpisah. Kau berdoa saja supaya mereka cepat berpisah.”

“Kau bisa berkata seperti itu karena kau bukan penggemarnya! Aku penasaran

sekali siapa wanita itu. Di sini juga tidak diceritakan siapa dia….” Young-Mi mengembuskan napas panjang. Mendadak dia menepuk tangan dan berkata penuh

semangat, “Tapikau benar. Tidak apa-apa, sebentar lagi pasti ketahuan. Dia harus putus dengan Tae-Woo oppa*-ku!”

Sandy geleng-geleng menahan geli. Tapi sebelum senyumnya mereda, Young-Mi

sudah berkata lagi, “Tapi ada yang aneh. Coba lihat foto-foto ini, Soon-Hee. Kenapa mereka berdua tidak bersentuhan? Mungkin memang bukan hal penting, tapi maksudku, orang pacaran bukannya suka berpegangan tangan kalau berjalan

bersama?”

* * *

Referensi

Dokumen terkait

Kunjungan ANC men- jadi salah satu faktor risiko yang mening- katkan kejadian perdarahan pasca persalin- an karena apabila ibu melakukan pelayanan ANC secara teratur

Hasi penelitian juga menunjukkan bahwa semua variabel lingkungan eksternal maupun internal mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha

Berdasarkan hasil observasi peneliti saat melakukan praktik pada Bulan Januari-April 2010 di ruang Dahlia Rumah Sakit Panti Citarum Semarang, anak yang merasa cemas

Biodistribusi pada mencit jantan menunjukkan partikel yang terdistribusi didalam paru adalah 84,85% sedangkan persentase partikel di dalam hati sebesar 1,54%.. Rasio partikel

Alternatif strategi terbaik yang dapat diterapkan dalam pengembangan sentra usaha pisang aroma di Kabupaten Temanggung adalah strategi I yaitu Mendirikan kembali

25 Dan dengan menaruh kejakinan ini, maka aku ketahuilah, bahwa aku akan hidup dan tinggal dengan kamu sekalian, supaja kamu madju dan bersukatjita didalam iman, 26 supaja hal

Dalam rangka mendukung pencapaian prioritas nasional sebagaimana telah ditetapkan dalam visi dan misi Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang dijabarkan dalam RPJMN periode

Lokasi pasti bangunan tempat tinggal Ki Ageng Pemanahan sampai saat ini masih belum dapat diketahui, namun mengacu dari legenda yang ada, maka kelompok bangunan yang