MODEL PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA
MUSLIM
(Studi Kasus di Desa Pulutan Rw 03 Tahun 2015)
SKRIPSI
Diajukan
untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam
Oleh
TAUFIQUR ROHMAN
NIM. 11111093
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
i
MODEL PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA
MUSLIM
(Studi Kasus di Desa Pulutan Rw 03 Tahun 2015)
SKRIPSI
Diajukan
untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam
Oleh
TAUFIQUR ROHMAN
NIM 11111093
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
v
MOTTO
َرَكَذَو َريخ ْلْا َمْوَ يْلاَو َهَّللا وُجْرَ ي َناَك نَمِّل ٌةَنَسَح ٌةَوْسُأ يهَّللا يلوُسَر يفِ ْمُكَل َناَك ْدَقَل
ًايريثَك َهَّللا
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
vi
PERSEMBAHAN
Alhamdulillah dengan izin Allah SWT skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
Skripsi ini saya persembahkan kepada orang-orang yang telah membantu
mewujudkan mimpiku:
1. Bapak Sofyani dan Ibu Siti Maryam yang telah memberikan mahkota
kasih sayangnya kepadaku dari aku kecil yang tak mengerti apa-apa
hingga kini aku mengerti makna hidup.
2. Kakakku Ika Rahmawati A.Md yang selalu memberikan teladan,
semangat, dan tawa kebahagiaan dalam mengarungi perjalanan hidup.
3. Bapak KH. Drs. Nasafi, M.pd.I selaku pengasuh pondok pesantren Nurul
Asna yang telah sudi menjadi wakil kedua orang tuaku dalam
membimbing dan mendidikku di pondok pesantren Nurul Asna tercinta.
4. Teman-teman saya selama di pondok pesantren Nurul Asna, om kholis,
mizin, birhan, agus kewes, edi prasetyo, mahbub, gus rifky, rudi dan yang
tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Terima kasih atas kebersamaan
yang mewarnai perjalanan saya selama belajar di pondok maupun di
kampus, susah, senang, tertawa, bercanda, dan belajar bersama kalian
merupakan tinta yang sangat indah yang tak akan pernah terlupakan yang
terukir dalam hati dan pikiranku. Saya berharap persahabatan
kekeluargaan tidak akan putus sampai kapanpun.
5. Sahabat kampusku Irsyadul Ibad dan Muhammad Mukhib yang telah setia
menemani, menjalin persahabatan yang utuh dan teman-teman PAI C
vii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji dan syukur senantiasa penulis haturkan kepada Allah SWT. Atas
segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini dengan baik. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan
kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, serta para pengikut setianya.
Skripsi ini dibuat untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar
kesarjanaan dalam Ilmu Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga .
Dengan selesainya skripsi ini tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku rektor IAIN Salatiga.
2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan FTIK IAIN Salatiga.
3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag. selaku ketua program studi PAI.
4. Ibu Dra. Lilik Sriyanti, M.Si. selaku dosen pembimbing akademik.
5. Bapak Dr. Muh. Saerozi, M.Ag. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
dengan ikhlas mencurahkan pikiran dan tenaganya serta pengorbanan
waktunya dalam upaya membimbing penulis skripsi ini.
6. Bapak ibu dosen serta karyawan IAIN Salatiga yang telah banyak membantu
ix ABSTRAK
Rahman, Taufiqur. 2015.Model pendidikan agama dalam keluarga muslim Studi kasus Di Desa Pulutan RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga. Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr. Muh, Saerozi M.Ag
Kata Kunci: Model pendidikan Agama dalam keluarga muslim.
Penelitian ini membahas tentang Model Pendidikan Agama dalam keluarga muslim di Desa Pulutan RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga. Fokus yang dikaji dalam penelitian ini adalah apa yang menjadi problematika pendidikan Islam dalam keluarga muslim di Desa Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga dan bagaimana Model pendidikan agama dalam keluarga muslim di Desa Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jadi kehadiran peneliti di lapangan sangat penting sekali mengingat peneliti bertindak langsung sebagai instrumen langsung dan sebagai pengumpul data dari hasil observasi yang mendalam serta terlibat aktif dalam penelitian. Data yang berbentuk kata-kata diambil dari para informan/responden pada waktu mereka diwawancarai. Dengan kata lain data-data tersebut berupa keterangan dari para informan, sedangkan data tambahan berupa dokumen. Keseluruhan data tersebut selain wawancara diperoleh dari observasi dan dokumentasi. Analisa data dilakukan dengan cara menelaah data yang ada, lalu mengadakan reduksi data, penyajian data, menarik kesimpulan dan tahap akhir dari analisa data ini adalah mengadakan keabsahan data.
x DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
ABSTRAK ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah ... 1
B. Fokus Masalah... 4
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Kegunaan Penelitian ... 5
E. Penegasan Istilah ... 6
F. Metode Penelitian... 7
G. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Model Pendidikan Agama Islam... 14
xi
2. Pengertian Pendidikan Islam... 14
B. Dasar Pendidikan Islam... 16
C. Tujuan Pendidikan Islam... 18
D. Pendidikan Agama dalam Keluarga Muslim... 23
1. Pengertian keluarga muslim... 23
2. Peran Keluarga Muslim terhadap Pendidikan Islam... 24
3. Problematika Pendidikan Islam dalam keluarga Muslim... 26
4. Model Pendidikan Islam dalam Keluarga Muslim... 28
5. Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga Muslim... 32
BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Paparan Data... 39
1. Letak Geografis ... 39
2. Keadaan Demografi ... 40
B. Profil Keluarga Muslim di Desa Pulutan RW 03... 44
1. Profil Pendidikan ... 44
2. Pekerjaan... ... 48
C. Temuan Penelitian... 49
1. Urgensi Pendidikan Agama dalam Keluarga Muslim di Desa Pulutan Rw 03... 49
2. Problematika Model Pendidikan Agama dalam Keluarga dalam keluarga Muslim di Desa Pulutan RW 03... 51
xii
4. Metode Pendidikan Agama dalam Keluarga Muslim di Desa Pulutan
Rw 03 ... 60
BAB IV PEMBAHASAN
A. Problematika Model Pendidikan Agama dalam Keluarga dalam keluarga
Muslim di Desa Pulutan RW 03... 63
B. Model Pendidikan Agama dalam Keluarga Muslim di Desa Pulutan RW
03... 67
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 74
B. Saran... 76
DAFTAR PUSTAKA
xiii
DAFTAR TABEL
TABEL 3.1 Jumlah Penduduk Menurut golongan Umur... 40
TABEL 3.2 Keadaan penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan...41
TABEL 3.3 Keadaan Penduduk Berdasarkan Mata pencaharian... 42
TABEL 3.4 Sarana Pendidikan Umum... 43
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia,
dimulai sejak lahir sampai meninggal dunia. Dengan kata lain pendidikan
berlangsung seumur hidup yaitu sejak bayi hingga ke liang lahat. Oleh
karena itu, pendidikan adalah aspek utama yang harus ditanamkan oleh
para pendidik dimulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan
Islam merupakan sebuah proses yang mengarahkan manusia kepada
kehidupan yang lebih baik dan yang akan mengangkat derajat
kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan
kemampuan ajarannya (Arifin,1994:14).
Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha yang sistematis dalam
membimbing anak didik yang beragama Islam dengan cara sedemikian
rupa, sehingga ajaran-ajaran Islam itu benar dapat menjiwai, menjadi
bagian yang sangat penting dalam dirinya. Yakni, ajaran Islam
benar-benar dipahami, diyakini kebenar-benarannya, diamalkan menjadi pedoman
hidupnya, menjadi pengontrol terhadap perbuatan, pemikiran dan sikap
2
Dalam agama Islam pendidikan sangat ditekankan kepada
umatnya. Sebab pendidikan akan mengangkat derajat bagi orang-orang
yang berilmu, diterangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadalah ayat 11
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: Berlapang-lapanglah dalam majlis, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan Berdirilah kamu, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Depag RI, 2005:543).
Dalam praktik di Indonesia ada lembaga pendidikan non formal
dan informal. Pendidikan jalur nonformaladalah pendidikan diluar jalur
sekolah, pendidikan masyarakat dan keluarga.Pendidikan masyarakat dan
keluarga ini termasuk dalam kategori informal.Dalam masyarakat banyak
keluarga muslim yang sering mengikutiPengajian beramai-ramai di surau
atau langgar dengan ustadz kyai atau guru ngaji dan merupakan bagian
kehidupan keagamaan dewasa.Dari mengikuti kegiatan keagamaan itu
Pengalaman keagamaan masa kanak-kanak merupakan modal dasar
keberagamaan selanjutnya.
Namun realitasnya, di masyarakat setelah seseorang dewasa hal
3
keluarga akan membentuk karakter nilai-nilai agama anak. Peran keluarga
dalam membimbing anak akan sangat menentukan sikap kedepan karena
keluarga adalah wadah pertama dan utama bagi pertumbuhan dan
pengembangan anak. Pendidikan keluarga memberikan pengetahuan dan
keterampilan dasar, agama dan kepercayaan, nilai-nilai moral, norma
sosial dan pandangan hidup yang diperlukan anak untuk dapat berperan
dalam keluarga ( Nur Ahid, 2010:100).
Model pendidikan yang baik dari orang tua akan membentuk
perilaku dan moral anak yang akan mengantarkannya dalam menjalani
kehidupan yang baik.Orang tua berperan melindungi dan menjaga
keselamatan keluarga. Orang tua berkewajiban memerintahkan
anak-anaknya untuk taat kepada segala perintah Allah SWT, seperti shalat,
puasa, membaca Al-qur’an dan lain-lain.
Peran keluarga dalam menanamkan nilai agama sangatlah
diperlukan dalam hal mendidik anak. Namun banyak juga terjadi di
masyarakat yang dari kecil dididik agama oleh keluarganya setelah dewasa
banyak yang telah kehilangan agama. Oleh karena itu, orang tua sebagai
central of figure harus semaksimal mungkin mengontrol anaknya
(Achmadi, 1987: 116).
Orang tua harus memberikan pendidikan yang terbaik bagi
anak-anaknya, serta menanamkan nilai agama pada anak yang nantinya akan
memberikan pengaruh positif kepada anak. Mereka akan senantiasa
4
diperintahkan oleh Allah SWT yaitu menjalankan perintah-Nya serta
menjauhi seluruh larangan-larangan-Nya.
Penelitian ini ditujukan kepada keluarga muslim yang berada di
desa pulutan RW 03 Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota
Salatigayang notabenenya mayoritas Desa pulutan yang dulunya
merupakan desa santri tetapi pada akhir-akhir ini mengalami kemerosotan
dalam hal nilai-nilai agama. Banyak dari generasi muda sekarang ini yang
enggan belajar agama. Orang tualah yang harus kembali mengontrol
anak-anaknya untuk kembali mendidik anak agar tercipta keluarga yang di
ridhoi Allah Swt.
Peran keluarga khususnya orang tua dalam mendidik pendidikan
agama bagi anaknya sangat diperlukan anak. Orang tua harus mempunyai
model dalam mendidik keluarga agar berhasil dalam membina keluarga
yang diridhoi Allah SWT.
Berdasarkan kondisi tersebut, maka penulis tertarik untuk
mengetahui secara mendalam tentang “MODEL PENDIDIKAN
AGAMA DALAM KELUARGA MUSLIM (Studi Kasus di Desa Pulutan Rw 03 Tahun 2015)”.
B. Fokus Masalah
Berdasar pada latar belakang masalah di atas, maka perlu masalah
yang luas ini difokuskan agar dalam pelaksanaan penelitian menjadi jelas.
5
1. Apa yang menjadi problematika orang tua untuk mendidik agama
keluarga muslim di Desa Pulutan RW 03 Kelurahan Pulutan
Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015?
2. Bagaimana model pendidikan agama dalam keluarga muslim di Desa
Pulutan RW 03 Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga
Tahun 2015?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui problematika model pendidikan agama dalam
keluarga muslim di Desa Pulutan RW 03 Kelurahan Pulutan
Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015.
2. Untuk mengetahui model pendidikan agama dalam keluarga muslim di
Desa Pulutan RW 03 Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota
Salatiga Tahun 2015.
D. Kegunaan Penelitian
1. Teoritik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan yang
sangat berharga pada perkembangan ilmu pendidikan Islam, khususnya
pendidikan dalam keluarga.
2. Praktik
6
a. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pembaca
mengenai problematika modelpendidikan agama dalam keluarga
muslim di Desa Pulutan RW 03 Kelurahan Pulutan Kecamatan
Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015.
b. Penelitian ini diharapkan dapat memberi model yang tepat dan
memberikan kontribusi pada masyarakat Desa Pulutan RW 03
Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga untuk lebih
mengetahui problematika pendidikan agama bagi anak dalam
keluarga.
E. Penegasan Istilah
Sebelum penulis mengutarakan lebih lanjut, maka penulis tegaskan
istilah-istilah dalam judul diatas sebagai berikut:
Model pendidikan agama adalah Usaha yang lebih Khusus
ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagamaan dan sumber daya
insani lainnya agar lebih mampu memahami, menghayati, dan
mengamalkan ajaran agama (Achmadi 1992:103).
Keluarga muslimadalah keluarga yang beragama Islam
sebagaiwadah pertama dan utama bagi pertumbuhan dan pengembangan
7 F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
dengan jenis penelitian deskriptif.
Pendekatan kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan
penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan
menggunakan prosedur-prosedur statistik atau dengan cara lain dari
kualifikasi atau pengukuran (Ghani, 1997:11).
Sedangkan jenis penelitian deskriptif adalah penelitian yang
bermaksud untuk membuat pencandraan (uraian atau paparan)
mengenai situasi kejadian-kejadian (Suryabrata, 1998:19).Penelitian
ini bertujuan untuk memperoleh informasi-informasi mengenai
keadaan saat ini.Di dalamnya terdapat upaya mendeskripsikan,
mencatat, analisis, dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang
sekarang ini terjadi atau ada (Mardalis, 2007:26).
Berdasarkan pendapat diatas, pendekatan kualitatif inidimaksudkan
untuk menjelaskan peristiwa atau kejadian yang ada pada saat
penelitian berlangsung yaitu tentang model pendidikan agama dalam
keluargamuslimdi Desa Pulutan RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota
Salatiga Tahun 2015.
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian ini kehadiran peneliti sangatlah penting sekali,
8
mendapatkan data yang riil dalam meneliti model pendidikan agama
dalam keluargamuslim.
3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Desa Pulutan RW 03
Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga.Adapun alasan peneliti memilih
lokasi tersebut adalah karena di Desa Pulutan RW 03 Kecamatan
Sidorejo Kota Salatiga tersebut kesadaran untuk mengetahui
pendidikan Islamakhir-akhir ini mulai menurundari faktor-faktor
didikan dari orang tua dalam keluarga.
4. Sumber Data
Dalam penelitian ini penulis dapat memperoleh informasi data dari
beberapa literatur buku maupun jurnal sebagai bahan teoritik. Penulis
memperoleh sumber informasi riil dan proses observasi data dan
wawancara yang peneliti lakukan secara langsung dengan orang tua,
anak, pendidik anak dari keluarga muslim yang kemudian dianalisis.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan beberapa metode yaitu:
a. Observasi
Observasi atau pengamatan digunakan dalam rangka
mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Observasi merupakan
hasil suatu perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk
9
suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan atau
fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati
dan mencatat (Mardalis, 2007:63).
Metode observasi ini, penulis gunakan untuk memperoleh
data secara langsung tentang model pendidikan agama dalam
keluargamuslim (Studi kasus di Desa Pulutan RW 03 Kecamatan
Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015). Penulis melakukan
pengamatan secara langsung mengenai keterkaitan antara
modelpendidikan agama dengan keluarga muslim yang mendidik
anak-anaknya.
b. Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang
digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan
melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang
dapat memberikan keterangan pada si peneliti (Mardalis, 2007:64).
Jadi peneliti akan meneliti subjek penelitian dengan
wawancara langsung guna mendapatkan informasi yang lebih jelas
mengenai Model pendidikan agama dalam keluarga muslim (Studi
kasus di Desa Pulutan RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga
10
c. Dokumentasi
Metode dokumentasi dapat dilakukan dengan mencari data
mengenai hal-hal yang beupa catatan-catatan, buku-buku, surat
kabar, notulen, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2002:188).
Dengan metode dokumentasi penulis gunakan untuk lebih
memperluas pengamatan dan pengumpulan data terhadap sesuatu
yang diteliti oleh peneliti.
6. Analisis Data
Dalam penelitian ini digunakan metode analisis induktif,
yaitu mentransformasi fakta-fakta khusus sebagai bahan untuk
membangun teori.Metode ini digunakan untuk menganalisis Model
pendidikan agama dalam keluargamuslim (Studi kasus di Desa Pulutan
RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015).
7. Pengecekan Keabsahan Data
Agar diperoleh data yang akurat, peneliti terjun langsung untuk
observasi dan wawancara. Selain itu juga mengecek hasil wawancara
dan observasi dengan dicocokkan melalui tingkah laku langsung dari
subyek penelitian, sehingga penulis benar-benar mendapatkan data
yang langsung dari keluarga tersebut. Kemudian data tersebut
11
8. Tahap-Tahap Penelitian
Ada tiga tahapan dalam melakukan penelitian yaitu: tahap pra
lapangan, tahap pekerjaan lapangan dan tahap analisis data (Moleong,
2002:85-103).
Tahap-tahap penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah
sebagai berikut:
a. Tahap pra lapangan meliputi :
1) Menyusun proposal penelitian
2) Konsultasi penelitian kepada pembimbing
3) Mengurus izin penelitian
4) Menyiapkan perlengkapan penelitian
5) Menghubungi lokasi penelitian
b. Tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi :
1) Persiapan diri untuk memasuki lapangan penelitian
2) Pengumpulan data atau informasi yang terkait dengan fokus
penelitian
3) Pencatatan data yang telah dikumpulkan.
c. Tahap analisis data
1) Pengorganisasian
2) Pemindahan data-data menjadi satuan-satuan tertentu
3) Sintesa data
4) Pengkategorian data
12
6) Pengecekan keabsahan data.
d. Tahap penulisan laporan, meliputi:
1) Penyusunan hasil penelitian
2) Konsultasi hasil penelitian kepada pembimbing
3) Perbaikan hasil konsultasi
4) Pengurusan kelengkapan persyaratan ujian
5) Ujian munaqosah skripsi.
G. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah dalam penulisan dan pembahasan maka penulis
perlu menyusun langkah-langkah sistematis:
1. Bagian Awal
Bagian ini terdiri dari halaman sampul, halaman lembar logo,
halaman judul, halaman persetujuan pembimbing, halaman pengesahan
kelulusan, halaman motto, halaman persembahan, halaman abstrak,
halaman kata pengantar, halaman daftar isi, halaman daftar table, serta
daftar lainnya.
2. Bagian Inti
Bagian ini menguraikan isi skripsi yang terdiri dari beberapa bab,
13
BAB I: Pendahuluan
Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, fokus penelitian,
tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah, metode
penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II: Kajian pustaka
Bab ini membahas tentang kajian teoritik mengenai model
pendidikan agama dalam keluargamuslim (Studi kasus di Desa Pulutan
RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015).
BAB III: Paparan data dan temuan penelitian
Bab ini membahas tentang gambaran umum mengenai model
pendidikan agama dalam keluarga muslim (Studi kasus di Desa
Pulutan RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015).
BAB IV: Pembahasan
Bab ini membahas tentang analisis mengenai model pendidikan
agama dalam keluarga muslim (Studi kasus di Desa Pulutan RW 03
Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015).
BAB V: Penutup
Bab ini memuat kesimpulan dan saran-saran yang dibuat oleh
penulis.
3. Bagian Akhir
Bagian ini terdiri atas daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar
14 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Model Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Model
Model dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang
digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan (Sagala, 2005:
175). Selain itu juga dapat dipahami sebagai tipe desain atau diskripsi
yang dari suatu sistem yang disederhanakan agar dapat menjelaskan dan
menunjukkan sifat bentuk aslinya. Sedangkan Pendidikan merupakan
proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, dan
berlangsung sepanjang hayat, yang dilaksanakan di lingkungan keluarga,
sekolah, dan masyarakat.
2. Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan berasal dari bahasa Yunani, paedagogy, yang
mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar
seorang pelayan.Sedangkan pelayan yang mengantar dan menjemput
dinamakan paedagogos. Dalam bahasa Romawi, pendidikan diistilahkan
dengan educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam.
Dalam bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan to educate yang berarti
memperbaiki moral dan melatih intelektual (Suwarno, 2006:19)
Pendidikan agama Islam juga bisa di artikan sebagai usaha yang
lebih khusus yang ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagamaan
15
ajaran-ajaran Islam (Achmadi, 1992:20).
Pendidikan agama Islam merupakan upaya sadar dan terencana
dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati,
mengimani, bertaqwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama
Islam.Sebagai bimbingan pengajaran latihan serta penggunaan pengalaman
(Ramayulis, 2005:21).
Menurut Zakiah Darajat (1992:86), pendidikan agama Islam
ialahusaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak
setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran
agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup. Sedangkan
menurut Ahmad Tafsir, pendidikan agama Islam adalah bimbingan yang
diberikan seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara
maksimal sesuai dengan ajaran Islam (Majid & Andayani, 2004:130).
Berdasarkan beberapa definisi di atas, penulis menyimpulkan
bahwa Pendidikan Agama Islam adalah proses pengubahan sikap dan tata
laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan pelatihan berdasarkan Alquran dan Al-hadis
untuk mengembangkan fitrah keberagaman subjek didik agar lebih mampu
memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam.
Jadi, dari definisi diatas penulis menyimpulkan bahwa Model
pendidikan Islam adalah kerangka konseptual atau cara pengubahan sikap
dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
16
berdasarkan Alquran dan Al-hadis untuk mengembangkan fitrah
keberagaman subjek didik agar lebih mampu memahami, menghayati, dan
mengamalkan ajaran-ajaran Islam.
B. Dasar Pendidikan Islam
Dasar pendidikan Islam merupakan landasan operasional yang dijadikan
untuk merealisasikan dasar ideal atau sumber pendidikan Islam. Menurut
Hasan Langgulung, dasar operasional pendidikan Islam terdapat enam macam,
yaitu: historis, sosiologis, ekonomi, politik dan administrasi, psikologis, dan
filosofis, yang mana keenam macam dasar itu berpusat pada dasar filosofis
(Mujib, 2006:44).
Dalam Islam, dasar operasional segala sesuatunya adalah agama, sebab
agama menjadi frame bagi setiap aktivitas yang bernuansa keislaman. Dengan
agama maka semua aktivitas kependidikan menjadi bermakna, mewarnai dasar
lain, dan bernilai ubudiyah. Oleh karena itu dasar keenam diatas perlu
ditambah lagi yaitu agama.
1. Dasar Historis
Dasar historis adalah dasar yang berorientasi pada pengamalan
pendidikan masa lalu, baik dalam bentuk undang-undang maupun
peraturan-peraturan, agar kebijakan yang ditempuh masa kini akan lebih
baik.
2. Dasar sosiologi
Dasar sosiologi adalah dasar yang memberikan kerangka sosiobudaya,
17
juga berfungsi sebagai tolok ukur dalam prestasi belajar.
3. Dasar ekonomi
Dasar ekonomi adalah yang memberikan perspektif tentang
potensi-potensi finansial, menggali dan mengatur sumber-sumber, serta
bertanggung jawab terhadap rencana dan anggaran pembelanjaannya.
Misalnya, karena pendidikan dianggap sebagai sesuatu yang luhur, maka
sumber-sumber finansial dalam menghidupkan pendidikan harus bersih,
suci dan tidak bercampur dengan harta benda yang syubhat. Ekonomi
yang kotor akan menjadikan ketidak-berkahan hasilpendidikan.
4. Dasar Politik dan Administratif
Dasar politik dan administrasi adalah dasar yang memberikan bingkai
ideologis yang digunakan sebagai tempat bertolak untuk mencapai tujuan
yang dicita-citakan dan direncanakan bersama.
5. Dasar Psikologi
Dasar psikologis adalah dasar yang memberikan informasi tentang bakat,
minat, watak, karakter, motivasi dan inovasi peserta didik, pendidik,
tenaga administrasi, serta sumber daya manusia yang lain.
6. Dasar Filosofis
Dasar filosofis adalah dasar yang memberi kemampuan memilih yang
terbaik, memberi arah suatu sistem, mengontrol dan memberi arah
18
7. Dasar Religius
Dasar religius adalah dasar yang diturunkan dari ajaran agama(Mujib,
2006: 44-47).
Dasar pendidikan Islam terdapat pada Q.S Al Alaq ayat 1-5:
١
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.
Kalam Maksudnya: Allah mengajar manusia
dengan perantaraan tulis baca.
C. Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik
setelah mengalami proses pendidikan baik pada tingkah laku individu dan
kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya
19
Dalam hal ini, Zakiyah Daradjat mengemukakan:
Tujuan Pendidikan adalah membimbing dan membentuk manusia menjadi
hamba Allah yang shaleh, teguh imannya, taat beribadah dan berakhlak
terpuji. Bahkan keseluruhan gerak dalam kehidupan setiap muslim, mulia dari
perbuatan, perkataan dan tindakkan apa pun yang dilakukan dengan nilai
mencari ridha Allah, memenuhi segala perintah-Nya, dan menjauhi segala
larangan-Nya adalah ibadah. Maka untuk melaksanakan semua tugas
kehidupan itu, baik bersifat pribadi maupun sosial, perlu dipelajari dan
dituntun dengan iman dan akhlak terpuji. Dengan demikian, identitas muslim
akan tampak dalam semua aspek kehidupannya (Roqib, 2009:31).
Adapun tujuan utama pendidikan Islam adalah membina dan mendasari
kehidupan anak didik dengan nilai-nilai agama dan sekaligus mengajarkan
ilmu agama Islam, sehingga ia mampu mengamalkan syariat Islam secara
benar sesuai pengetahuan agama. Tujuan pendidikan Islam yang sejalan
dengan tujuan ajaran Islam itu sendiri, yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak,
sehingga mencapai tingkat akhlaqul karimah. Faktor kemuliaan akhlak dalam
pendidikan agama Islam dinilai sebagai faktor kunci dalam menentukan
keberhasilan pendidikan yang menurut pandangan Islam berfungsi untuk
menyiapkan manusia-manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera
di dunia dan akhirat (Said, 1994: 38).
Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan di atas maka secara umum
dapatlah dikatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah pembentukan
20
yang menggambarkan terwujudnya keseluruhan esensi manusia secara kodrati,
yaitu sebagai makhluk individual, makhluk sosial, makhluk bermoral, dan
makhluk yang ber-Tuhan. Citra pribadi muslim seperti itu sering disebut
sebagai manusia paripurna (insan kamil) atau pribadi yang utuh, sempurna
seimbang dan selaras dengan pola takwa. Dalam hal ini ada beberapa tujuan
pendidikan Islam yaitu tujuan tertinggi, tujuan umum, tujuan khusus
(Achmadi, 1992: 63).
a. Tujuan Tertinggi
Tujuan tertinggi ini bersifat mutlak, tidak mengalami perubahan dan
berlaku umum, karena sesuai dengan konsep Ilahi yang mengandung
kebenaran mutlak dan universal. Tujuan tertinggi dan terakhir ini pada
akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia dan peranannya sebagai
ciptaan Allah, yaitu:
1. Menjadikan hamba Allah yang paling taqwa
Tujuan ini sejalan dengan tujuan hidup dan penciptaan manusia, yaitu
semata-mata untuk beribadah kepada Allah Swt.
2. Mengantarkan subjek didik menjadi Khalifatullah fil ard (wakil Tuhan
di bumi) yang mampu memakmurkannya (membudayakan alam
sekitar) dan lebih jauh lagi, mewujudkan rahmah bagi alam sekitarnya,
sesuai dengan tujuan penciptaan manusia dan sebagai konsekuensi
setelah menerima Islam sebagai pedoman hidup.
3. Untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan hidup di dunia sampai
21
Tujuan ini sesuai dengan cita-cita setiap muslim sebagaimana doa
yang paling mencakup dan selalu dimohonkan kepada Allah, Rabbana
atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah wa qina azaban-nar.
Ketiga tujuan tertinggi tersebut diyakini sebagai sesuatu yang ideal dan
dapat memotivasi usaha pendidikan dan bahkan dapat menjadikan
aktivitas pendidikan yang lebih bermakna.
b. Tujuan Umum
Tujuan Umum adalah sebagai arah yang taraf pencapaiannya dapat
di-ukur karena menyangkut perubahan sikap, perilaku dan kepribadian
subjek didik.Dalam hal tujuan umum mengenai pendidikan Dr.
Muhammad Fadil Al-Jamali menyimpulkan sebagai berikut:
1. Mengenalkan manusia akan peranannya diantara makhluk dan
tanggung jawab pribadinya dalam hidup ini.
2. Mengenalkan manusia akan hubungannya dengan lingkungan
sosialnya dan tanggung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat.
3. Mengenalkan manusia dengan ala mini dan mengajak mereka untuk
mengetahui hikmah diciptanya serta memberikan kemungkinan
kepada mereka untuk mengambil manfaatnya.
4. Mengenalkan manusia dengan pencipta alam (Allah) dan
memerintahkan beribadah kepada-Nya (Achmadi, 1992: 65).
Keempat tujuan tersebut merupakan satu rangkaian atau kesatuan,
dengan kembali kepada Al-qur’an dapat disimpulkan bahwa realisasi
22
terpadunya pikir, zikir, dan amal pada pribadi seseorang. Dan ini
merupakan kunci utama untuk sampai pada tujuan tertinggi
“Ma’rifatullah an ta’abud ilallah”.
c. Tujuan Khusus
Tujuan khusus adalah pengkhususan atau operasionalisasi tujuan
tertinggi dan terakhir dan tujuan umum pendidikan islam. Tujuan khusus
bersifat relatif sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan di mana
perlu sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan, selama tetap berpijak pada
kerangka tujuan tertinggi dan umum itu. Pengkhususan tujuan tersebut
dapat didasarkan pada:
1. Kultur dan cita-cita suatu bangsa di mana pendidikan itu
diselenggarakan.
2. Minat, bakat, kesanggupan subjek didik.
3. Tuntutan situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu.
Dengan demikian tujuan khusus harus tetap mengacu pada tujuan
tertinggi dan senantiasa dijiwai dengan akhlaqul karimah, karena
pendidikan budi pekerti (akhlaq) adalah jiwa dari pendidikan islam dan
Tujuan Akhir Pendidikan Islam adalah berkaitan dengan penciptaan
manusia di muka bumi ini, yaitu membentuk manusia sejati, manusia abid
yang selalu mendekatkan diri kepada Allah, melekatkan sifat-sifat Allah
dalam pribadinya dan menjalankan fungsi-fungsi kehidupannya
sebagaikhalifatul fil ard (Ahid, 2010:46). Hal ini seperti yang diterangkan
23
ِنوُدُبْعَيِل َّلَِّإ َسنِ ْلْاَو َّنِجْلا ُتْقَلَخ اَمَو
56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku.
Dengan demikian tujuan pendidikan agama Islam adalah dalam
rangka untuk menumbuhkan pola kehidupan manusia yang utuh melalui
latihan kejiwaan, kecerdasan otak penalaran, perasaan dan indera.Jadi
pendidikan itu harus melayani pertumbuhan manusia dalam semua aspek
baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, maupun
bahasannya.Pendidik pada dasarnya mendorong semua aspek tersebut ke
arah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup (Mansur,
2005:333).
D. Pendidikan Agama dalam Keluarga Muslim
1. Pengertian Keluarga Muslim
Keluarga adalah sanak saudara yang bertalian dengan turunan atau
sanak saudara yang bertalian dengan perkawinan (Poerwadarminta,
2006:553). Keluarga adalah wadah pertama dan utama bagi pertumbuhan
dan pengembangan anak. Jika suasana dalam keluarga itu baik dan
menyenangkan, maka anak akan tumbuh dengan baik pula. Jika tidak,
tentu akan terhambatlah pertumbuhan anak tersebut (Darajat, 1995:47).
Keluarga merupakan sebuah institusi yang terbentuk karena ikatan
perkawinan. Pada dasarnya keluarga itu adalah sebuah komunitas dalam
“satu atap”. Kesadaran untuk hidup bersama dalam satu atap sebagai
24
membentuk komunitas baru yang disebut keluarga. Jadi keluarga dalam
bentuk yang murni merupakan satu kesatuan sosial yang terdiri dari suami,
istri, dan anak-anak yang belum dewasa. Satuan ini mempunyai sifat-sifat
tertentu yang sama, dimana saja dalam satuan masyarakat manusia
(Djamarah, 2004:16-17).
Menurut tim penyusun kamus besar bahasa Indonesia yang
dimaksud Muslim adalah penganut agama Islam atau orang yang memeluk
agama Islam (TPKBBI, 2008: 987). Muslim kalau ditinjau dari segi bahasa
dan istilah asal usul katanya yaitu dimulai dari kata” Islam” berasal dari
bahasa Arab: “salima” yang artinya selamat, dari kata itu terbentuk
“aslama”yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Dari kata
“aslama” itulah terbentuk kata Islam dan pemeluknya disebut Muslim.
Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah, siap
patuh pada ajaran-Nya dan yang pasti orang yang sudah mengucapkan
syahadat berarti dia sudah Muslim, tetapi untuk menjadi muslim yang
sebenarnya setiap orang harus menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan
sebenar-benarnya.
Jadi, Keluarga Muslim menurut penulis adalah keluarga yang
beragama Islam sekaligus menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh
pada ajaran-Nya.
2. Peran Keluarga Muslim terhadap Pendidikan Islam
Keluarga adalah wadah pertama dan utama bagi pertumbuhan dan
25
menyenangkan, maka anak akan tumbuh dengan baik pula. Jika tidak,
tentu akan terhambatlah pertumbuhan anak tersebut (Darajat, 1995: 47).
keluarga adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang
mempunyai hubungan melalui ikatan pernikahan, hubungan kelahiran,
adopsi, atau ikatan darah yang biasanya memiliki tempat tinggal yang
sama (Fatkhurrohman, 2012: 28).
Lingkungan pertama yang mempunyai peran penting adalah
lingkungan keluarga. Disinilah anak dilahirkan, dirawat, dan dibesarkan.
Di sini juga proses pendidikan berawal, Orang tua adalah guru pertama
dan utama bagi anak. Orang tua adalah guru agama, bahasa, dan sosial
bagi anak. Karena, orang tua (ayah) adalah orang yang pertama kali
melafalkan azan dan iqamah di telinga anak di awal kelahirannya. Orang
tua adalah orang yang pertama mengajarkan anak bersosialisasi dengan
lingkungan sekitar (Musbikin, 2009: 111). Keluarga merupakan lembaga
utama yang dikenal oleh anak. Hal ini disebabkan karena kedua orang
tuanyalah orang yang pertama dikenal, dan diterimanya pendidikan,
bimbingan, perhatian dan kasih sayang yang terjalin antara kedua orang
tua dan anak-anaknya merupakan basis yang ampuh bagi pertumbuhan dan
perkembangan psikis serta nilai-nilai sosial dan religius pada diri anak
didik (Ahid, 2010: 61).
Menurut Ahid (2010: 137-140) peran keluarga dalam pendidikan
meliputi:
26
Keluarga mempunyai peranan penting untuk menolong
pertumbuhan anak-anaknya dari segi jasmaniah, baik aspek
perkembangan maupun aspek perfungsian.Didalamnya termasuk
perlindungan, pengobatan dan pengembangan untuk menunaikan
tanggung jawab.
b. Dalam bidang pendidikan akal (intelektual)
Walaupun pendidikan akal dikelola oleh institusi-institusi yang
khusus, tetapi keluarga masih tetap memegang peranan penting dan
tidak dapat dibebaskan dari tanggung jawab. Anak-anak tidak akan
menikmati perkembangan akal yang sempurna, kecuali jika
merekamendapat pendidikan akal dan mendapat kesempatan yang
cukup dirumah.
c. Dalam bidang pendidikan agama
Pendidikan agama dan spiritual ini berarti membangkitkan kekuatan
dan kesediaan spiritual yang bersifat naluri yang ada pada anak-anak
melalui bimbingan agama yang sehat dan mengamalkan ajaranagama.
3. Problematika PendidikanIslam dalam Keluarga Muslim
Dalam keluarga muslim terdapat beberapa problematika seperti
keadaan ekonomi, perlindungan terhadap keluarga, keagamaan,
pendidikan, dan kenyamanan yang kurang sehingga dapat mengakibatkan
pendidikan Islam bagi anak cenderung kurang maksimal (Musbikin,
2009:232).
27
keluarga, terkadang sedikit mempunyai waktu luang untuk berinteraksi
dengan anak-anaknya. Pola pertemuan antara orang tua sebagai pendidik
dan anak sebagai terdidik dengan maksud bahwa orang tua mengarahkan
anaknya sesuai dengan tujuannya yaitu membantu anak memiliki dan
mengembangkan dasar-dasar disiplin diri. Orang tua dengan anaknya
sebagai pribadi dan sebagai pendidik, dapat menyingkapkan pola asuh
orang tua dalam mengembangkan disiplin diri anak yang tersirat dalam
situasi dan kondisi yang bersangkutan (Shochib, 2000: 14).
Orang tua yang tidak bisa memberikan kepercayaan kepada anak,
menyebabkan anak menjadi ragu akan kemampuan dirinya sendiri. Selain
itu figur orang tua yang tidak mampu memberikan keteladanan pada anak,
menyebabkan anak tidak mempunyai panutan dalam perilakunya.Anak
cenderung mencari keteladanan dari luar orang tuanya yang belum tentu
baik, sehingga perkembangan pendidikan anak berjalan kurang maksimal.
Dalam suatu keluarga biasanya juga menghadapi
hambatan-hambatan lainnya.Dan hal tersebut sebagian besar terdapat pada keluarga
Muslim. Hambatan tersebut antara lain:
a. Anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua.
b. Figur orang tua yang tidak mampu memberikan keteladanan pada
anak.
c. Kasih sayang orang tua yang berlebihan sehingga cenderung untuk
memanjakan anak.
28
tuntutan orang tua yang terlalu tinggi.
e. Orang tua yang tidak bisa memberikan kepercayaan kepada anak.
f. Orang tua yang tidak bisa membangkitkan inisiatif dan kreativitas
pada anak.
Zakiyah Darajat (1993:23) menyatakan bahwa rasa kasih sayang
adalah kebutuhan jiwa yang paling pokok dalam kehidupan manusia. Anak
kecil yang merasa kurang disayangi oleh orang tuanya akan menderita
hatinya, kesehatan badan juga akan menurun, kecerdasannya juga
mungkin akan semakin berkurang, dan kelakuannya mungkin akan
menjadi nakal, keras kepala dan sebagainya.
Dari problematika diatas orang tua harus semestinya mendidik anak
dengan sebaik-baiknya agar anaknya menjadi anak yang berperilaku baik,
menghormati orang tua taat beragama sehingga anakdidik tersebut tidak
mengecewakan orang tua dikemudian hari karena kurangnya perhatian
dari orang tua.
4. Model Pendidikan Islam Dalam Keluarga Muslim
a. Model Otoriter
Pada model otoriter semua kebijaksanaan atau policy dasar
ditetapkan oleh kepala keluarga itu sendiri dan pelaksanaan selanjutnya
ditugaskan kepada bawahannya atau anaknya. Dilihat dari persepsinya
seorang kepala keluarga yang otoriter adalah seseorang yang sangat
egois. Egoismenya yang sangat besar akan mendorongnya
29
apa yang secara subyektif di interpretasikannya sebagai kenyataan.
Misalnya, seorang kepala keluarga yang otoriter akan menerjemahkan
disiplin kerja yang tinggi yang ditunjukkan oleh para bawahannya atau
menyuruh anaknya sebagai perwujudan kesetiaan para bawahan atau
didikannya kepadanya. Padahal sesungguhnya disiplin kerja itu
didasarkan kepada ketakutan bukan kesetiaan. Egonya yang besar
menumbuhkan dan mengembangkan persepsinya bahwa tujuan
pribadinya sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadinya tersebut,
berdasarkan nilai-nilai demikian seorang pemimpin yang otoriter akan
menunjukkan berbagai sikap yang menonjolkan “ke-akuan-nya” antara
lain dalam bentuk:
1) Kecenderungan memperlakukan anggota keluargasama dengan
alat-alat lain dalam keluarga seperti mesin, dan dengan demikian kurang
menghargai harkat dan martabat mereka.
2) Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas
tanpa mengaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan
kebutuhan para bawahan.
3) Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan
keputusan dengan cara memberitahukan kepada para bawahan
tersebut bahwa ia telah mengambil keputusan tertentu dan para
bawahan diharapkan dan bahkan dituntut untuk melaksanakanya
30
Dengan persepsi nilai-nilai, sikap dan perilaku demikian seorang
kepala keluarga yang otoriter dalam praktek akan menggunakan gaya
kepemimpinan yang:
1) Menuntut ketaatan penuh dari para anggota keluarga,
2) Dalam menegakkan disiplin menunjukkan kekakuan,
3) Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi,
4) Menggunakan pendekatan punitif dalam hal terjadinnya
penyimpangan oleh bawahan (Sondang Siagian, 1999: 31).
b. Model demokratis
Model pemimpin yang paling ideal dan paling didambakan adalah
yang demokratis. Memang umum diakui bahwa kepala keluarga yang
demokratis tidak selalu merupakan pemimpin yang paling efektif dalam
kehidupan organisasional karena adakalanya dalam hal bertindak
danmengambil keputusan bisa terjadi keterlambatan sebagai
konsekuensi keterlibatan para bawahan dalam proses pengambilan
keputusan tersebut. Tetapi dengan berbagai kelemahannya pemimpin
yang demokratis tetap dipandang sebagai pemimpin terbaik karena
kelebihan-kelebihannya mengalahkan kekurangannya.
Ditinjau dari persepsinya,kepala keluarga yang demokratis
biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari
berbagai unsur dan komponen organisasi, sehingga bergerak sebagai
31
Seorang pemimpin yang demokratis dihormati dan disegani,
bukan ditakuti karena perilakunya dalam kehidupan organisasional
perilakunya mendorong para bawahannya, menumbuhkan dan
mengembangkan daya inovasi dan kreativitasnya. Jika dia salah, ia
bersungguh-sungguh mendengarkan pendapat, saran, dan bahkan kritik
orang lain, terutama bawahannya. Seorang pemimpin yang demokratis
akan sangat bangga bila para bawahannya menunjukkan kemampuan
kerja yang bahkan lebih tinggi dari kemampuannya sendiri.
c. Model Laissez Faire atau Bebas
Pemimpin yang Laissez Faire adalah pemimpin yang
memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada setiap anggota atau
staff didalam tata prosedur dan apa yang akan dikerjakan untuk
pelaksanaan tugas-tugas jabatan mereka. Pendapat pemimpin tentang
penilaian yang berupa kritik atau pujian terhadap pribadi, prestasi kerja
anggota atau pelaksanaan program secara umum jarang atau bahkan
tidak sama sekali diberikan kecuali jika anggota memintanya. Ia
berpendapat bahwa tugas pokoknya sebagai pemimpin adalah menjaga
dan menjamin kebebasan itu.
Dalam keluarga yang di hasilkan oleh kepemimpinan
pendidikan semacam itu tidak akan dapat dihindarkan timbulnya
berbagai masalah, misalnya, kekacauan-kekacauan, tabrakan,
kesimpang-siuran kerja dan wewenang, oleh karena pemimpin sama
32
menggerakkan berdasarkan konsep metode tertentu yang sebenarnya
sangat diperlukan oleh setiap kelompok kerja sama didalamnya terdapat
individu-individu yang memiliki banyak perbedaan cita-cita, kecakapan
sifat-sifat khas kepribadian yang unik (Soekarto, 1983: 54).
5. MetodePendidikan Islam dalam Keluarga Muslim
a. Mendidik Melalui Keteladanan
Kurikulum pendidikan yang sempurna telah dibuat dengan
rancangan yang jelas bagi perkembangan manusia melalui sistemasi
bakat, psikologis, emosi, mental, dan potensi manusia.Untuk
kebutuhan itulah Allah mengutus Nabi Muhammad saw. Sebagai
hamba dan Rasul-Nya menjadi teladan bagi manusia dalam
mewujudkan tujuan pendidikan Islam, melalui firman-Nya dalam
surah Al-Ahzab ayat 21 :
َمْوَيْلاَو َ َّاللَّ وُجْرَي َناَك نَمِّل ةَنَسَح ةَوْسُأ ِ َّاللَّ ِلوُسَر يِف ْمُكَل َناَك ْدَقَل
ًاريِثَك َ َّاللَّ َرَكَذَو َرِخ ْلْا
21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah
dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
Dilihat dari ayat diatas bahwa Rasulullah adalah cerminan dari
Al-qur’an dalam pendidikan Islam yang diutus oleh Allah untuk menjadi
33
Pendidikan Islam merupakan konsep yang senantiasa menyeru
dijalan Allah.Dengan demikian, seorang pendidik dituntut untuk
menjadi teladan dihadapan anak didiknya, bersegera berkorban, dan
menjauhkan diri dari hal-hal hina. Artinya, setiap anak didik akan
meneladani pendidiknya dan benar-benar puas terhadap ajaran yang
diberikan kepadanya sehingga perilaku ideal yang diharapkan dari
setiap anak merupakan tuntutan realistis dan dapat diaplikasikan.
Begitu juga orang tua, anak-anak harus memilki figur teladan dalam
keluarganya sehingga sejak kecil dia terarahkan oleh konsep-konsep
Islam. Dengan begitu, pendidik dan orang tua harus menyempurnakan
dirinya dengan akhlak mulia yang berasal dari Al-qur’an dan dari
perilaku Rasulullah saw.
Pada dasarnya, kebutuhan manusia akan figur teladan bersumber
dari kecenderungan meniru yang sudah menjadi karakter manusia.
Peniruan bersumber dari kondisi mental seseorang yang senantiasa
merasa bahwa dirinya berada dalam perasaan yang sama dengan
kelompok lain (empati) sehingga dalam peniruan ini, anak-anak
cenderung meniru orang dewasa. Pada hakikatnya, peniruan itu
berpusat pada tiga unsur yaitu kesenangan untuk meniru dan
mengikuti, kesiapan untuk meniru dan setiap peniruan terkadang
memiliki tujuan yang sudah diketahui oleh si peniru atau bisa jadi juga
34
Kegiatan meniru akan meningkat menjadi kegiatan berfikir yang
memadukan kesadaran, keterkaitan, peniruan, dan perasaan bangga
jika pada perkembangannya kesadaran dalam peniruannya meningkat,
peniruan yang berkesadaran ini akan meningkat menjadi ittiba’yang
jenisnya akan terus meningkat bila disertai petunjuk atau pengetahuan
tentang tujuan dan cara peniruan. Melalui konsep peniruan yang
Islami, anak-anak didik akan memahami bahwa meniru dan mengikuti
jejak para pemimpin kaum muslimin generasi pertama akan
memberikan kebahagiaan, kekuatan, kegagahan, dan ketaatan kepada
Allah (Abdurrahman An Nahlawi, 1995:275).
b. Mendidik melalui ‘Ibrah
Ibrah berasal dari kata ‘abara ar-yu’ya yang berarti menafsirkan
mimpi dan memberitahukanimplikasinya bagi kehidupan si pemimpi
atau keadaan setelah kematiannya dan‘abara al-wadiberarti melintasi
lembah dari ujung satu ke ujung yang lain yang berlawanan. Ar-Raghib berkata bahwa asal makna al-‘ibr adalah melintasi suatu keadaan ke keadaan lain dan kata ‘ubur dikhususkan untuk makna
melintasi diatas air. Dalam penafsiran Surat Yusuf, Muhammad Rasyid Ridhamengatakan bahwa al-‘itibar wal ‘ibrah berarti keadaan
yang mengantarkan dari suatu pengetahuan yang terlihat menuju
sesuatu yang tidak terlihat, atau jelasnya berarti merenung dan berpikir
35
Model-model ‘ittibar atau pengajaran di dalam Al-qur’an dan As
-sunnah yang suci berbeda-beda selaras dengan beragamnya topik
‘ibrah, ada beberapa ibrah yang dapat memotivasi kegiatan berfikir
dan pengambilan pelajaran.
c. Mendidik melalui Nasihat
Nasihat merupakan cara mendidik yang mengandalkan bahasa,
baik lisan maupun tertulis dalam mewujudkan interaksi antara
pendidik dengan anak didik. Nasihat pada dasarnya bersifat
penyampaian pesan dari sumbernya kepada pihak yang memerlukan
atau dipandang memerlukannya. Di dalam Al-qur’an banyak nasihat
sekaligus cerita mengenai para Nabi dan Rasul terdahulu sebelum Nabi
Muhammad SAW, yang bermaksud menimbulkan kesadaran bagi yang
mendengar atau membacanyaagar meningkatkan iman dan berbuat
amal kebaikan dalm menjalani hidup dan kehidupan (Hadari Nawawi,
1993:221).
Nasihat sekaligus cerita sangat tinggi nilainya dalam pendidikan
islam karena dipergunakan dalam usaha membantu dan mengarahkan
anak didik, agar menjadi orang dewasa yang beriman dan mampu
memanfaatkan waktu dalam mengerjakan sesuatu yang dirihoi Allah
SWT, untuk mengejar keselamatan, kebahagiaan, kesejahteraan hidup
didunia dan akhirat. Sehubungan dengan mendidk melalui nasihat
Allah berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 138 sebagai berikut:
36
138. (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan
petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
Orang tua atau pendidik menasehati dengan cerita nabi dan rasul
terdahulu, dimana cerita tersebut mengandung nasihat yang berguna
bagi anak didik dalam proses belajar seumur hidup atau pendidikan
seumur hidup.
d. Mendidik melalui kebiasaan
Kebiasaan baik harus di bentuk oleh orang tua atau pendidik
dimulai sejak kecil, contoh memberi kebiasaan yang baik pada anak
didik yaitu dengan memberikan contoh yang berkaitan dengan aktifitas
yang dilakukan sehari-hari membiasakan mencuci kaki dan menyikat
gigi sebelum tidur, mencuci kaki sebelum tidur atau juga bisa
memberikan contoh yang berkaitan dalam kehidupan beragama yang
perlu dibentuk agar menjadi tingkah laku yang dilakukan secara
otomatis misalnya kebiasaan mengucapkan salam pada waktu masuk
atau meninggalkan rumah bila ada orang lain. Kebiasaan bangun pagi
dan segera meninggalkan tempat tidur berwudhu, dan menunaikan
shalat subuh. kebiasaan melafalkan lafal basmalahsetiap mulai
pekerjaan dan diakhiri dengan lafal alhamdulillah setelah melakukan
sesuatu. Allah berfirman dalam surat An-nur ayat 27 yaitu:
اوُمِّلَسُتَو اوُسِنْأَتْسَت ىَّتَح ْمُكِتوُيُب َرْيَغ ًاتوُيُب اوُلُخْدَت َلَّ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي
َنوُرَّكَذَت ْمُكَّلَعَل ْمُكَّل رْيَخ ْمُكِلَذ اَهِلْهَأ ىَلَع
37
yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam
kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu
(selalu) ingat.
Untuk itu setiap pendidik terutama orang tua harus mampu
memilih kebiasaan yang baik sifatnya dan berlaku di masyarakat,
untuk dilatih sejak dini pada anak-anaknya. Pemilihan itu harus
didasarkan pada sikap dan tingkah laku yang disukai Allah Swt, dan
juga sebaliknya perilaku buruk yang tidak disukai Allah harus dibuang.
e. Mendidik melalui hukuman
Hukuman sebagai salah satu metode pendidikan mendapatkan
perhatian berat dari para filosof dan pendidik muslim, seperti Ibnu
Sina, Al Gozali, Al Arabi, dan Ibnu Kaldun.
Oleh sebab mereka menyeru para pendidik untuk menggunakan
berbagai metode dalam mendidik anak agar mereka mempunyai
kebiasaan-kebiasaan baik ketika besar, sehingga ketika itu tidak
diperlukan metode hukuman. Hukuman merupakan metode terburuk,
tetapi kondisi tertentu harus digunakan.Oleh karena itu, hendaknya
diperhatikan pendidik dalam menggunakan hukuman pada masa
remaja.
f. Mendidik melalui partisipasif
Manusia tidak mungkin hidup sendiri tanpa manusia lain, manusia
saling membutuhkan satu dengan yang lain sehingga perlu bekerja
38
saling percaya mempercayai dan saling hormat menghormati (Hadari
Nahlawi, 1993:235). Demikian juga dalam interaksi pendidikan
terutama antara orang tua dan anaknya. Sehubungan dengan itu Allah
berfirman dalam surat An-Nahl ayat 125 sebagai berikut:
َيِه يِتَّلاِب مُهْلِداَجَو ِةَنَسَحْلا ِةَظِعْوَمْلاَو ِةَمْكِحْلاِب َكِّبَر ِليِبَس ىِلِإ ُعْدا
َنيِدَتْهُمْلاِب ُمَلْعَأ َوُهَو ِهِليِبَس نَع َّلَض نَمِب ُمَلْعَأ َوُه َكَّبَر َّنِإ ُنَسْحَأ
125. serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk
.
Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat
membedakan antara yang hak dengan yang bathil.
Oleh karena itu mendidik melalui partisipasi dengan melibatkan
anak didik dimaksudkan untuk mendidik mengajak berbuat kebaikan
yang diridhoi Allah Swt. Proses bertukar pikiran antara pendidik
dengan anak didik memberikan kesempatan pada anak didik sesuai
dengan umur dan tingkat perkembangannya untuk ikut serta
memikirkan masalah, baik yang datang dari anak maupun lingkungan
39 BAB III
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Paparan Data
1. Letak Geografis Desa Pulutan
Kondisi geografis desa Pulutan yaitu terletak di samping Jalan lingkar
selatan atau sering disingkat dengan JLS. Sebagian besar masyarakatnya
berprofesi sebagai pedagang ada juga yang berprofesi sebagai petani dan
ada juga yang berprofesi sebagai wirausaha, merantau menjadi TKW.
Secara geografis Desa Pulutan dibatasi oleh :
a. Sebelah Utara : Desa Metes
b. Sebelah Selatan : Desa Kecandran (Winong)
c. Sebelah Timur : Desa Sinoman
d. Sebelah Barat : Desa Jombor dan Candi Rejo
Luas Desa Pulutan RW 03 54,6 ha dan keadaan jarak antara desa Pulutan
dengan laut 12 mil dari darat. Luas lahan berdasarkan kelas lereng :
a. Datar : (0-2 Derajat)
b. Bergelombang : (2-15 Derajat)
c. Curam : (15-40 Derajat)
d. Sangat curam : (>40 Derajat)
40
2. Keadaan Demografi
a. Keadaan Penduduk Menurut Umur
Menurut Data statistik, jumlah penduduk Desa Pulutan RW 03 pada
tahun 2015 berjumlah 655 jiwa terdiri dari 334 jumlah laki-laki dan 321
jumlah perempuan.
Untuk lebih jelasnya Penduduk Desa Pulutan RW 03 menurut golongan
umut dapat dilihat di tabel berikut:
Tabel 3.1 Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur
No Kelompok umur Laki-laki Perempuan Jumlah
1 0-4 33 26 59
Sumber: dokumentasi di Desa Pulutan RW 03
b. Keadaan Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Secara umum, penduduk di Desa Pulutan RW 03 tergolong rendah
dalam hal pendidikannya, hal ini terbukti dengan banyaknya penduduk
41
9 tahun untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dalam kondisi saat
ini pendidikan sangatlah penting dalam menghadapi era modern.
Berikut ini tabel keadaan penduduk Desa Pulutan RW 03
berdasarkan tingkat pendidikannya.
Tabel 3.2 Keadaan Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
NO Keterangan LK PR JUMLAH
Sumber: dokumentasi di Desa Pulutan RW 03
c. Keadaan Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Dalam bidang perekonomian, Desa Pulutan RW 03 sudah
cukup maju di bidang perdagangan maupun di bidang pertanian,
dalam bidang perdagangan masyarakat Pulutan khususnya banyak
yang berdagang disekitar Jalan Lingkar Selatan (JLS) apalagi kalau
42
tersebut dan di ikuti oleh pedagang-pedagang lain dan pedagang
pendatang yang datang dari berbagai daerah.
Dalam bidang pertanian di Desa Pulutan juga tergolong maju
karena di Pulutan termasuk tanah produktif yang sering ditanami
padi oleh para petani sehingga menghasilkan bahan baku beras.
Selain pedagang dan juga petani ada juga yang bekerja sebagai
pegawai untuk lebih jelasnya apat dilihat di tabel berikut ini:
Tabel 3.3 Keadaan Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
43
Sumber: dokumentasi di Desa Pulutan RW 03
d. Sarana Pendidikan Umum
Tabel 3.4 Sarana Pendidikan
No Jenis Pendidikan Gedung
1 PAUD 1
2 TK 1
3 SD 2
4 SMP -
5 SMU -
Sumber: dokumentasi di Desa Pulutan RW 03
e. Sarana Ibadah
Tabel 3.5 Sarana Ibadah
No Sarana Ibadah Gedung
1 Masjid 1
2 Musholla 3
44
f. Jumlah penduduk berdasarkan agama
Ditinjau dari segi agama, seluruh warga di Desa Pulutan
RW 03 memeluk agama Islam.
3. Keadaan Sarana dan Prasarana Desa Pulutan RW 03
Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan di lapangan, di
Desa Pulutan RW 03 ini dilengkapi beberapa fasilitas sarana dan
prasarana umum yang tentunya dimanfaatkan untuk kepentingan
masyarakat desa tersebut.
Selain keadaan sarana dan prasarana diatas terdapat juga sarana
dalam bidang olahraga terutama di bidang kesenian seperti rebana dan
juga drumblack percussion anak-anak muda yang selalu memeriahkan
kota salatiga dalam acara karnaval, ulang tahun kota salatiga
mengadakan festival drumblack dan pemuda Pulutan juga ikut
memeriahkan dalam acara-acara tersebut.
B. Profil Keluarga Muslim di Desa Pulutan RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga
1. Profil Pendidikan
Pendidikan merupakan upaya yang penting untuk mengetahui
berbagai macam keadaan di dalam keluarga maupun mayarakat. Untuk
mengetahui kondisi dari beberapa keluarga muslim di Desa Pulutan RW
45
dan wawancara secara langsung dengan beberapa keluarga muslim di desa
tersebut. Kondisi yang dimaksudkan disini adalah tentang background
agama, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan keluarga muslim.
Dari observasi yang dilakukan oleh penulis terhadap beberapa
keluarga Muslim Di Desa Pulutan RW 03 menunjukkan adanya perbedaan
tingkat pendidikan dalam masing-masing keluarga muslim. Tingkat
pendidikan orang tua dalam sebuah keluarga berpengaruh pada
pemahaman dan pola pikir pada aspek pendidikan sehingga akan
mempengaruhi tingkat pengetahuan yang akan diberikan kepada anaknya.
Orang tua yang pernah mendapat pendidikan agama di pondok pesantren,
dalam memberikan pendidikan agama anaknya akan cenderung lebih
intensif dan lebih tegas dibandingkan dengan orang tua yang mempunyai
latar belakang pendidikan umum. Diantaranya adalah keluarga Bapak Bsr,
Bapak Djmt, Bapak DS yang dulunya pernah belajar sekaligus menimba
ilmu di pondok pesantren. Berikut pernyataan bapak Bsr (24 08 2015)
yang dulu pernah belajar di pondok pesantren tahfidzul qur’an kali beber
wonosobo :
“Saya dulu pernah menimba ilmu-ilmu agama di pondok
pesantren kali beber terletak di daerah wonsobo, saya mondok disitu sejak lulus dari Sekolah Dasar, sehabis lulus sekolah Dasar langsung berangkat ke pondok pesantren untuk menuntut ilmu, itu juga disebabkan dari dorongan orangtua, serta keinginan saya untuk belajar agama”.
Berikut juga yang disampaikan oleh Bapak Djmt (20 08 2015)
yang dulu pernah belajar di pondok pesantren API Tegal rejo magelang:
46
pesantren jadi tahu tentang ilmu-ilmu agama baik itu ibadah mahdhoh ataupun ibadah muamalah”.
Selain Bapak Bsr dan juga Bapak Djmt masih ada lagi yang belajar
di pondok pesantren yaitu Bapak DS (26 08 2015) yang dulu pernah
belajar dipondok pesantren Krapyak yogyakarta:
“Saya dulu pernah belajar di pondok pesantren Ali Maksum yogyakarta yang kala itu menurut saya belajar di pondok pesantren merupakan keharusan bagi saya pribadi untuk bisa mengetahui ilmu-ilmu agama secara dalam, sehingga ketika beribadah kepada Allah Swt itu bisa merasuk dalam hati jadi saya ya sedikit tahu tentang ilmu-ilmu agama yang saya peroleh pada waktu mondok di pondok pesantren”.
Pada umumnya keluarga muslim Di Desa Pulutan RW 03 masih
banyak yang tidak mempunyai latar belakang belajar di pondok pesantren
seperti diantaranya keluarga Bapak Slkn, Bapak Mgn, Bapak Nn, Bapak
Mtd dan Bapak Mkr. Berikut wawancara dari responden yaitu Bapak Slkn
(20 08 2015) yang dulunya belajar lulus dari SMP:
“Saya dulu belajar di sekolah hanya lulus sampai SMP karena
orangtua sudah tidak mampu untuk membiayai sekolah saya, meskipun saya lulus SMP saya bersyukur masih bisa sekolah”.
Berikutnya dari Bapak Mgn (19 08 2015) yang dulunya juga lulus
sekolah SMP:
“Dulu saya memang lulus sekolah sampai SMP mas, dan saya
rasa lulus SMP sudah cukup karena saya harus membantu orangtua untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari”.
Berikutnya dari Bapak Nn (22 08 2015) yang mengenyam pendidikan
sampai lulus SMP: