• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA MUSLIM (Studi Kasus di Desa Pulutan Rw 03 Tahun 2015) SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "MODEL PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA MUSLIM (Studi Kasus di Desa Pulutan Rw 03 Tahun 2015) SKRIPSI"

Copied!
139
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA

MUSLIM

(Studi Kasus di Desa Pulutan Rw 03 Tahun 2015)

SKRIPSI

Diajukan

untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan Islam

Oleh

TAUFIQUR ROHMAN

NIM. 11111093

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

SALATIGA

(2)

i

MODEL PENDIDIKAN AGAMA DALAM KELUARGA

MUSLIM

(Studi Kasus di Desa Pulutan Rw 03 Tahun 2015)

SKRIPSI

Diajukan

untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan Islam

Oleh

TAUFIQUR ROHMAN

NIM 11111093

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

SALATIGA

(3)
(4)
(5)
(6)

v

MOTTO

َرَكَذَو َريخ ْلْا َمْوَ يْلاَو َهَّللا وُجْرَ ي َناَك نَمِّل ٌةَنَسَح ٌةَوْسُأ يهَّللا يلوُسَر يفِ ْمُكَل َناَك ْدَقَل

ًايريثَك َهَّللا

Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan

yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan

(7)

vi

PERSEMBAHAN

Alhamdulillah dengan izin Allah SWT skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

Skripsi ini saya persembahkan kepada orang-orang yang telah membantu

mewujudkan mimpiku:

1. Bapak Sofyani dan Ibu Siti Maryam yang telah memberikan mahkota

kasih sayangnya kepadaku dari aku kecil yang tak mengerti apa-apa

hingga kini aku mengerti makna hidup.

2. Kakakku Ika Rahmawati A.Md yang selalu memberikan teladan,

semangat, dan tawa kebahagiaan dalam mengarungi perjalanan hidup.

3. Bapak KH. Drs. Nasafi, M.pd.I selaku pengasuh pondok pesantren Nurul

Asna yang telah sudi menjadi wakil kedua orang tuaku dalam

membimbing dan mendidikku di pondok pesantren Nurul Asna tercinta.

4. Teman-teman saya selama di pondok pesantren Nurul Asna, om kholis,

mizin, birhan, agus kewes, edi prasetyo, mahbub, gus rifky, rudi dan yang

tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Terima kasih atas kebersamaan

yang mewarnai perjalanan saya selama belajar di pondok maupun di

kampus, susah, senang, tertawa, bercanda, dan belajar bersama kalian

merupakan tinta yang sangat indah yang tak akan pernah terlupakan yang

terukir dalam hati dan pikiranku. Saya berharap persahabatan

kekeluargaan tidak akan putus sampai kapanpun.

5. Sahabat kampusku Irsyadul Ibad dan Muhammad Mukhib yang telah setia

menemani, menjalin persahabatan yang utuh dan teman-teman PAI C

(8)

vii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji dan syukur senantiasa penulis haturkan kepada Allah SWT. Atas

segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan baik. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan

kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, serta para pengikut setianya.

Skripsi ini dibuat untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar

kesarjanaan dalam Ilmu Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga .

Dengan selesainya skripsi ini tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih

kepada:

1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku rektor IAIN Salatiga.

2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan FTIK IAIN Salatiga.

3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag. selaku ketua program studi PAI.

4. Ibu Dra. Lilik Sriyanti, M.Si. selaku dosen pembimbing akademik.

5. Bapak Dr. Muh. Saerozi, M.Ag. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah

dengan ikhlas mencurahkan pikiran dan tenaganya serta pengorbanan

waktunya dalam upaya membimbing penulis skripsi ini.

6. Bapak ibu dosen serta karyawan IAIN Salatiga yang telah banyak membantu

(9)
(10)

ix ABSTRAK

Rahman, Taufiqur. 2015.Model pendidikan agama dalam keluarga muslim Studi kasus Di Desa Pulutan RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga. Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr. Muh, Saerozi M.Ag

Kata Kunci: Model pendidikan Agama dalam keluarga muslim.

Penelitian ini membahas tentang Model Pendidikan Agama dalam keluarga muslim di Desa Pulutan RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga. Fokus yang dikaji dalam penelitian ini adalah apa yang menjadi problematika pendidikan Islam dalam keluarga muslim di Desa Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga dan bagaimana Model pendidikan agama dalam keluarga muslim di Desa Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jadi kehadiran peneliti di lapangan sangat penting sekali mengingat peneliti bertindak langsung sebagai instrumen langsung dan sebagai pengumpul data dari hasil observasi yang mendalam serta terlibat aktif dalam penelitian. Data yang berbentuk kata-kata diambil dari para informan/responden pada waktu mereka diwawancarai. Dengan kata lain data-data tersebut berupa keterangan dari para informan, sedangkan data tambahan berupa dokumen. Keseluruhan data tersebut selain wawancara diperoleh dari observasi dan dokumentasi. Analisa data dilakukan dengan cara menelaah data yang ada, lalu mengadakan reduksi data, penyajian data, menarik kesimpulan dan tahap akhir dari analisa data ini adalah mengadakan keabsahan data.

(11)

x DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah ... 1

B. Fokus Masalah... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Kegunaan Penelitian ... 5

E. Penegasan Istilah ... 6

F. Metode Penelitian... 7

G. Sistematika Penulisan ... 12

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Model Pendidikan Agama Islam... 14

(12)

xi

2. Pengertian Pendidikan Islam... 14

B. Dasar Pendidikan Islam... 16

C. Tujuan Pendidikan Islam... 18

D. Pendidikan Agama dalam Keluarga Muslim... 23

1. Pengertian keluarga muslim... 23

2. Peran Keluarga Muslim terhadap Pendidikan Islam... 24

3. Problematika Pendidikan Islam dalam keluarga Muslim... 26

4. Model Pendidikan Islam dalam Keluarga Muslim... 28

5. Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga Muslim... 32

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Paparan Data... 39

1. Letak Geografis ... 39

2. Keadaan Demografi ... 40

B. Profil Keluarga Muslim di Desa Pulutan RW 03... 44

1. Profil Pendidikan ... 44

2. Pekerjaan... ... 48

C. Temuan Penelitian... 49

1. Urgensi Pendidikan Agama dalam Keluarga Muslim di Desa Pulutan Rw 03... 49

2. Problematika Model Pendidikan Agama dalam Keluarga dalam keluarga Muslim di Desa Pulutan RW 03... 51

(13)

xii

4. Metode Pendidikan Agama dalam Keluarga Muslim di Desa Pulutan

Rw 03 ... 60

BAB IV PEMBAHASAN

A. Problematika Model Pendidikan Agama dalam Keluarga dalam keluarga

Muslim di Desa Pulutan RW 03... 63

B. Model Pendidikan Agama dalam Keluarga Muslim di Desa Pulutan RW

03... 67

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 74

B. Saran... 76

DAFTAR PUSTAKA

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

TABEL 3.1 Jumlah Penduduk Menurut golongan Umur... 40

TABEL 3.2 Keadaan penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan...41

TABEL 3.3 Keadaan Penduduk Berdasarkan Mata pencaharian... 42

TABEL 3.4 Sarana Pendidikan Umum... 43

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia,

dimulai sejak lahir sampai meninggal dunia. Dengan kata lain pendidikan

berlangsung seumur hidup yaitu sejak bayi hingga ke liang lahat. Oleh

karena itu, pendidikan adalah aspek utama yang harus ditanamkan oleh

para pendidik dimulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan

Islam merupakan sebuah proses yang mengarahkan manusia kepada

kehidupan yang lebih baik dan yang akan mengangkat derajat

kemanusiaannya, sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan

kemampuan ajarannya (Arifin,1994:14).

Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha yang sistematis dalam

membimbing anak didik yang beragama Islam dengan cara sedemikian

rupa, sehingga ajaran-ajaran Islam itu benar dapat menjiwai, menjadi

bagian yang sangat penting dalam dirinya. Yakni, ajaran Islam

benar-benar dipahami, diyakini kebenar-benarannya, diamalkan menjadi pedoman

hidupnya, menjadi pengontrol terhadap perbuatan, pemikiran dan sikap

(16)

2

Dalam agama Islam pendidikan sangat ditekankan kepada

umatnya. Sebab pendidikan akan mengangkat derajat bagi orang-orang

yang berilmu, diterangkan dalam Al-Qur’an surat Al-Mujadalah ayat 11

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: Berlapang-lapanglah dalam majlis, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan Berdirilah kamu, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Depag RI, 2005:543).

Dalam praktik di Indonesia ada lembaga pendidikan non formal

dan informal. Pendidikan jalur nonformaladalah pendidikan diluar jalur

sekolah, pendidikan masyarakat dan keluarga.Pendidikan masyarakat dan

keluarga ini termasuk dalam kategori informal.Dalam masyarakat banyak

keluarga muslim yang sering mengikutiPengajian beramai-ramai di surau

atau langgar dengan ustadz kyai atau guru ngaji dan merupakan bagian

kehidupan keagamaan dewasa.Dari mengikuti kegiatan keagamaan itu

Pengalaman keagamaan masa kanak-kanak merupakan modal dasar

keberagamaan selanjutnya.

Namun realitasnya, di masyarakat setelah seseorang dewasa hal

(17)

3

keluarga akan membentuk karakter nilai-nilai agama anak. Peran keluarga

dalam membimbing anak akan sangat menentukan sikap kedepan karena

keluarga adalah wadah pertama dan utama bagi pertumbuhan dan

pengembangan anak. Pendidikan keluarga memberikan pengetahuan dan

keterampilan dasar, agama dan kepercayaan, nilai-nilai moral, norma

sosial dan pandangan hidup yang diperlukan anak untuk dapat berperan

dalam keluarga ( Nur Ahid, 2010:100).

Model pendidikan yang baik dari orang tua akan membentuk

perilaku dan moral anak yang akan mengantarkannya dalam menjalani

kehidupan yang baik.Orang tua berperan melindungi dan menjaga

keselamatan keluarga. Orang tua berkewajiban memerintahkan

anak-anaknya untuk taat kepada segala perintah Allah SWT, seperti shalat,

puasa, membaca Al-qur’an dan lain-lain.

Peran keluarga dalam menanamkan nilai agama sangatlah

diperlukan dalam hal mendidik anak. Namun banyak juga terjadi di

masyarakat yang dari kecil dididik agama oleh keluarganya setelah dewasa

banyak yang telah kehilangan agama. Oleh karena itu, orang tua sebagai

central of figure harus semaksimal mungkin mengontrol anaknya

(Achmadi, 1987: 116).

Orang tua harus memberikan pendidikan yang terbaik bagi

anak-anaknya, serta menanamkan nilai agama pada anak yang nantinya akan

memberikan pengaruh positif kepada anak. Mereka akan senantiasa

(18)

4

diperintahkan oleh Allah SWT yaitu menjalankan perintah-Nya serta

menjauhi seluruh larangan-larangan-Nya.

Penelitian ini ditujukan kepada keluarga muslim yang berada di

desa pulutan RW 03 Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota

Salatigayang notabenenya mayoritas Desa pulutan yang dulunya

merupakan desa santri tetapi pada akhir-akhir ini mengalami kemerosotan

dalam hal nilai-nilai agama. Banyak dari generasi muda sekarang ini yang

enggan belajar agama. Orang tualah yang harus kembali mengontrol

anak-anaknya untuk kembali mendidik anak agar tercipta keluarga yang di

ridhoi Allah Swt.

Peran keluarga khususnya orang tua dalam mendidik pendidikan

agama bagi anaknya sangat diperlukan anak. Orang tua harus mempunyai

model dalam mendidik keluarga agar berhasil dalam membina keluarga

yang diridhoi Allah SWT.

Berdasarkan kondisi tersebut, maka penulis tertarik untuk

mengetahui secara mendalam tentang “MODEL PENDIDIKAN

AGAMA DALAM KELUARGA MUSLIM (Studi Kasus di Desa Pulutan Rw 03 Tahun 2015)”.

B. Fokus Masalah

Berdasar pada latar belakang masalah di atas, maka perlu masalah

yang luas ini difokuskan agar dalam pelaksanaan penelitian menjadi jelas.

(19)

5

1. Apa yang menjadi problematika orang tua untuk mendidik agama

keluarga muslim di Desa Pulutan RW 03 Kelurahan Pulutan

Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015?

2. Bagaimana model pendidikan agama dalam keluarga muslim di Desa

Pulutan RW 03 Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga

Tahun 2015?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui problematika model pendidikan agama dalam

keluarga muslim di Desa Pulutan RW 03 Kelurahan Pulutan

Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015.

2. Untuk mengetahui model pendidikan agama dalam keluarga muslim di

Desa Pulutan RW 03 Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota

Salatiga Tahun 2015.

D. Kegunaan Penelitian

1. Teoritik

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan yang

sangat berharga pada perkembangan ilmu pendidikan Islam, khususnya

pendidikan dalam keluarga.

2. Praktik

(20)

6

a. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pembaca

mengenai problematika modelpendidikan agama dalam keluarga

muslim di Desa Pulutan RW 03 Kelurahan Pulutan Kecamatan

Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015.

b. Penelitian ini diharapkan dapat memberi model yang tepat dan

memberikan kontribusi pada masyarakat Desa Pulutan RW 03

Kelurahan Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga untuk lebih

mengetahui problematika pendidikan agama bagi anak dalam

keluarga.

E. Penegasan Istilah

Sebelum penulis mengutarakan lebih lanjut, maka penulis tegaskan

istilah-istilah dalam judul diatas sebagai berikut:

Model pendidikan agama adalah Usaha yang lebih Khusus

ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagamaan dan sumber daya

insani lainnya agar lebih mampu memahami, menghayati, dan

mengamalkan ajaran agama (Achmadi 1992:103).

Keluarga muslimadalah keluarga yang beragama Islam

sebagaiwadah pertama dan utama bagi pertumbuhan dan pengembangan

(21)

7 F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif

dengan jenis penelitian deskriptif.

Pendekatan kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan

penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan

menggunakan prosedur-prosedur statistik atau dengan cara lain dari

kualifikasi atau pengukuran (Ghani, 1997:11).

Sedangkan jenis penelitian deskriptif adalah penelitian yang

bermaksud untuk membuat pencandraan (uraian atau paparan)

mengenai situasi kejadian-kejadian (Suryabrata, 1998:19).Penelitian

ini bertujuan untuk memperoleh informasi-informasi mengenai

keadaan saat ini.Di dalamnya terdapat upaya mendeskripsikan,

mencatat, analisis, dan menginterpretasikan kondisi-kondisi yang

sekarang ini terjadi atau ada (Mardalis, 2007:26).

Berdasarkan pendapat diatas, pendekatan kualitatif inidimaksudkan

untuk menjelaskan peristiwa atau kejadian yang ada pada saat

penelitian berlangsung yaitu tentang model pendidikan agama dalam

keluargamuslimdi Desa Pulutan RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota

Salatiga Tahun 2015.

2. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini kehadiran peneliti sangatlah penting sekali,

(22)

8

mendapatkan data yang riil dalam meneliti model pendidikan agama

dalam keluargamuslim.

3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Desa Pulutan RW 03

Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga.Adapun alasan peneliti memilih

lokasi tersebut adalah karena di Desa Pulutan RW 03 Kecamatan

Sidorejo Kota Salatiga tersebut kesadaran untuk mengetahui

pendidikan Islamakhir-akhir ini mulai menurundari faktor-faktor

didikan dari orang tua dalam keluarga.

4. Sumber Data

Dalam penelitian ini penulis dapat memperoleh informasi data dari

beberapa literatur buku maupun jurnal sebagai bahan teoritik. Penulis

memperoleh sumber informasi riil dan proses observasi data dan

wawancara yang peneliti lakukan secara langsung dengan orang tua,

anak, pendidik anak dari keluarga muslim yang kemudian dianalisis.

5. Prosedur Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini,

peneliti menggunakan beberapa metode yaitu:

a. Observasi

Observasi atau pengamatan digunakan dalam rangka

mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Observasi merupakan

hasil suatu perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk

(23)

9

suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan atau

fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati

dan mencatat (Mardalis, 2007:63).

Metode observasi ini, penulis gunakan untuk memperoleh

data secara langsung tentang model pendidikan agama dalam

keluargamuslim (Studi kasus di Desa Pulutan RW 03 Kecamatan

Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015). Penulis melakukan

pengamatan secara langsung mengenai keterkaitan antara

modelpendidikan agama dengan keluarga muslim yang mendidik

anak-anaknya.

b. Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang

digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan

melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang

dapat memberikan keterangan pada si peneliti (Mardalis, 2007:64).

Jadi peneliti akan meneliti subjek penelitian dengan

wawancara langsung guna mendapatkan informasi yang lebih jelas

mengenai Model pendidikan agama dalam keluarga muslim (Studi

kasus di Desa Pulutan RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga

(24)

10

c. Dokumentasi

Metode dokumentasi dapat dilakukan dengan mencari data

mengenai hal-hal yang beupa catatan-catatan, buku-buku, surat

kabar, notulen, agenda dan sebagainya (Arikunto, 2002:188).

Dengan metode dokumentasi penulis gunakan untuk lebih

memperluas pengamatan dan pengumpulan data terhadap sesuatu

yang diteliti oleh peneliti.

6. Analisis Data

Dalam penelitian ini digunakan metode analisis induktif,

yaitu mentransformasi fakta-fakta khusus sebagai bahan untuk

membangun teori.Metode ini digunakan untuk menganalisis Model

pendidikan agama dalam keluargamuslim (Studi kasus di Desa Pulutan

RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015).

7. Pengecekan Keabsahan Data

Agar diperoleh data yang akurat, peneliti terjun langsung untuk

observasi dan wawancara. Selain itu juga mengecek hasil wawancara

dan observasi dengan dicocokkan melalui tingkah laku langsung dari

subyek penelitian, sehingga penulis benar-benar mendapatkan data

yang langsung dari keluarga tersebut. Kemudian data tersebut

(25)

11

8. Tahap-Tahap Penelitian

Ada tiga tahapan dalam melakukan penelitian yaitu: tahap pra

lapangan, tahap pekerjaan lapangan dan tahap analisis data (Moleong,

2002:85-103).

Tahap-tahap penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah

sebagai berikut:

a. Tahap pra lapangan meliputi :

1) Menyusun proposal penelitian

2) Konsultasi penelitian kepada pembimbing

3) Mengurus izin penelitian

4) Menyiapkan perlengkapan penelitian

5) Menghubungi lokasi penelitian

b. Tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi :

1) Persiapan diri untuk memasuki lapangan penelitian

2) Pengumpulan data atau informasi yang terkait dengan fokus

penelitian

3) Pencatatan data yang telah dikumpulkan.

c. Tahap analisis data

1) Pengorganisasian

2) Pemindahan data-data menjadi satuan-satuan tertentu

3) Sintesa data

4) Pengkategorian data

(26)

12

6) Pengecekan keabsahan data.

d. Tahap penulisan laporan, meliputi:

1) Penyusunan hasil penelitian

2) Konsultasi hasil penelitian kepada pembimbing

3) Perbaikan hasil konsultasi

4) Pengurusan kelengkapan persyaratan ujian

5) Ujian munaqosah skripsi.

G. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam penulisan dan pembahasan maka penulis

perlu menyusun langkah-langkah sistematis:

1. Bagian Awal

Bagian ini terdiri dari halaman sampul, halaman lembar logo,

halaman judul, halaman persetujuan pembimbing, halaman pengesahan

kelulusan, halaman motto, halaman persembahan, halaman abstrak,

halaman kata pengantar, halaman daftar isi, halaman daftar table, serta

daftar lainnya.

2. Bagian Inti

Bagian ini menguraikan isi skripsi yang terdiri dari beberapa bab,

(27)

13

BAB I: Pendahuluan

Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, fokus penelitian,

tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah, metode

penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II: Kajian pustaka

Bab ini membahas tentang kajian teoritik mengenai model

pendidikan agama dalam keluargamuslim (Studi kasus di Desa Pulutan

RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015).

BAB III: Paparan data dan temuan penelitian

Bab ini membahas tentang gambaran umum mengenai model

pendidikan agama dalam keluarga muslim (Studi kasus di Desa

Pulutan RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015).

BAB IV: Pembahasan

Bab ini membahas tentang analisis mengenai model pendidikan

agama dalam keluarga muslim (Studi kasus di Desa Pulutan RW 03

Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga Tahun 2015).

BAB V: Penutup

Bab ini memuat kesimpulan dan saran-saran yang dibuat oleh

penulis.

3. Bagian Akhir

Bagian ini terdiri atas daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar

(28)

14 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Model Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Model

Model dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang

digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan (Sagala, 2005:

175). Selain itu juga dapat dipahami sebagai tipe desain atau diskripsi

yang dari suatu sistem yang disederhanakan agar dapat menjelaskan dan

menunjukkan sifat bentuk aslinya. Sedangkan Pendidikan merupakan

proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, dan

berlangsung sepanjang hayat, yang dilaksanakan di lingkungan keluarga,

sekolah, dan masyarakat.

2. Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan berasal dari bahasa Yunani, paedagogy, yang

mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar

seorang pelayan.Sedangkan pelayan yang mengantar dan menjemput

dinamakan paedagogos. Dalam bahasa Romawi, pendidikan diistilahkan

dengan educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam.

Dalam bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan to educate yang berarti

memperbaiki moral dan melatih intelektual (Suwarno, 2006:19)

Pendidikan agama Islam juga bisa di artikan sebagai usaha yang

lebih khusus yang ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagamaan

(29)

15

ajaran-ajaran Islam (Achmadi, 1992:20).

Pendidikan agama Islam merupakan upaya sadar dan terencana

dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati,

mengimani, bertaqwa, berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama

Islam.Sebagai bimbingan pengajaran latihan serta penggunaan pengalaman

(Ramayulis, 2005:21).

Menurut Zakiah Darajat (1992:86), pendidikan agama Islam

ialahusaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak

setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran

agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup. Sedangkan

menurut Ahmad Tafsir, pendidikan agama Islam adalah bimbingan yang

diberikan seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara

maksimal sesuai dengan ajaran Islam (Majid & Andayani, 2004:130).

Berdasarkan beberapa definisi di atas, penulis menyimpulkan

bahwa Pendidikan Agama Islam adalah proses pengubahan sikap dan tata

laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia

melalui upaya pengajaran dan pelatihan berdasarkan Alquran dan Al-hadis

untuk mengembangkan fitrah keberagaman subjek didik agar lebih mampu

memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam.

Jadi, dari definisi diatas penulis menyimpulkan bahwa Model

pendidikan Islam adalah kerangka konseptual atau cara pengubahan sikap

dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha

(30)

16

berdasarkan Alquran dan Al-hadis untuk mengembangkan fitrah

keberagaman subjek didik agar lebih mampu memahami, menghayati, dan

mengamalkan ajaran-ajaran Islam.

B. Dasar Pendidikan Islam

Dasar pendidikan Islam merupakan landasan operasional yang dijadikan

untuk merealisasikan dasar ideal atau sumber pendidikan Islam. Menurut

Hasan Langgulung, dasar operasional pendidikan Islam terdapat enam macam,

yaitu: historis, sosiologis, ekonomi, politik dan administrasi, psikologis, dan

filosofis, yang mana keenam macam dasar itu berpusat pada dasar filosofis

(Mujib, 2006:44).

Dalam Islam, dasar operasional segala sesuatunya adalah agama, sebab

agama menjadi frame bagi setiap aktivitas yang bernuansa keislaman. Dengan

agama maka semua aktivitas kependidikan menjadi bermakna, mewarnai dasar

lain, dan bernilai ubudiyah. Oleh karena itu dasar keenam diatas perlu

ditambah lagi yaitu agama.

1. Dasar Historis

Dasar historis adalah dasar yang berorientasi pada pengamalan

pendidikan masa lalu, baik dalam bentuk undang-undang maupun

peraturan-peraturan, agar kebijakan yang ditempuh masa kini akan lebih

baik.

2. Dasar sosiologi

Dasar sosiologi adalah dasar yang memberikan kerangka sosiobudaya,

(31)

17

juga berfungsi sebagai tolok ukur dalam prestasi belajar.

3. Dasar ekonomi

Dasar ekonomi adalah yang memberikan perspektif tentang

potensi-potensi finansial, menggali dan mengatur sumber-sumber, serta

bertanggung jawab terhadap rencana dan anggaran pembelanjaannya.

Misalnya, karena pendidikan dianggap sebagai sesuatu yang luhur, maka

sumber-sumber finansial dalam menghidupkan pendidikan harus bersih,

suci dan tidak bercampur dengan harta benda yang syubhat. Ekonomi

yang kotor akan menjadikan ketidak-berkahan hasilpendidikan.

4. Dasar Politik dan Administratif

Dasar politik dan administrasi adalah dasar yang memberikan bingkai

ideologis yang digunakan sebagai tempat bertolak untuk mencapai tujuan

yang dicita-citakan dan direncanakan bersama.

5. Dasar Psikologi

Dasar psikologis adalah dasar yang memberikan informasi tentang bakat,

minat, watak, karakter, motivasi dan inovasi peserta didik, pendidik,

tenaga administrasi, serta sumber daya manusia yang lain.

6. Dasar Filosofis

Dasar filosofis adalah dasar yang memberi kemampuan memilih yang

terbaik, memberi arah suatu sistem, mengontrol dan memberi arah

(32)

18

7. Dasar Religius

Dasar religius adalah dasar yang diturunkan dari ajaran agama(Mujib,

2006: 44-47).

Dasar pendidikan Islam terdapat pada Q.S Al Alaq ayat 1-5:

١

2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,

4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran

kalam[1589],

5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak

diketahuinya.

Kalam Maksudnya: Allah mengajar manusia

dengan perantaraan tulis baca.

C. Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik

setelah mengalami proses pendidikan baik pada tingkah laku individu dan

kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya

(33)

19

Dalam hal ini, Zakiyah Daradjat mengemukakan:

Tujuan Pendidikan adalah membimbing dan membentuk manusia menjadi

hamba Allah yang shaleh, teguh imannya, taat beribadah dan berakhlak

terpuji. Bahkan keseluruhan gerak dalam kehidupan setiap muslim, mulia dari

perbuatan, perkataan dan tindakkan apa pun yang dilakukan dengan nilai

mencari ridha Allah, memenuhi segala perintah-Nya, dan menjauhi segala

larangan-Nya adalah ibadah. Maka untuk melaksanakan semua tugas

kehidupan itu, baik bersifat pribadi maupun sosial, perlu dipelajari dan

dituntun dengan iman dan akhlak terpuji. Dengan demikian, identitas muslim

akan tampak dalam semua aspek kehidupannya (Roqib, 2009:31).

Adapun tujuan utama pendidikan Islam adalah membina dan mendasari

kehidupan anak didik dengan nilai-nilai agama dan sekaligus mengajarkan

ilmu agama Islam, sehingga ia mampu mengamalkan syariat Islam secara

benar sesuai pengetahuan agama. Tujuan pendidikan Islam yang sejalan

dengan tujuan ajaran Islam itu sendiri, yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak,

sehingga mencapai tingkat akhlaqul karimah. Faktor kemuliaan akhlak dalam

pendidikan agama Islam dinilai sebagai faktor kunci dalam menentukan

keberhasilan pendidikan yang menurut pandangan Islam berfungsi untuk

menyiapkan manusia-manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera

di dunia dan akhirat (Said, 1994: 38).

Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan di atas maka secara umum

dapatlah dikatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah pembentukan

(34)

20

yang menggambarkan terwujudnya keseluruhan esensi manusia secara kodrati,

yaitu sebagai makhluk individual, makhluk sosial, makhluk bermoral, dan

makhluk yang ber-Tuhan. Citra pribadi muslim seperti itu sering disebut

sebagai manusia paripurna (insan kamil) atau pribadi yang utuh, sempurna

seimbang dan selaras dengan pola takwa. Dalam hal ini ada beberapa tujuan

pendidikan Islam yaitu tujuan tertinggi, tujuan umum, tujuan khusus

(Achmadi, 1992: 63).

a. Tujuan Tertinggi

Tujuan tertinggi ini bersifat mutlak, tidak mengalami perubahan dan

berlaku umum, karena sesuai dengan konsep Ilahi yang mengandung

kebenaran mutlak dan universal. Tujuan tertinggi dan terakhir ini pada

akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia dan peranannya sebagai

ciptaan Allah, yaitu:

1. Menjadikan hamba Allah yang paling taqwa

Tujuan ini sejalan dengan tujuan hidup dan penciptaan manusia, yaitu

semata-mata untuk beribadah kepada Allah Swt.

2. Mengantarkan subjek didik menjadi Khalifatullah fil ard (wakil Tuhan

di bumi) yang mampu memakmurkannya (membudayakan alam

sekitar) dan lebih jauh lagi, mewujudkan rahmah bagi alam sekitarnya,

sesuai dengan tujuan penciptaan manusia dan sebagai konsekuensi

setelah menerima Islam sebagai pedoman hidup.

3. Untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan hidup di dunia sampai

(35)

21

Tujuan ini sesuai dengan cita-cita setiap muslim sebagaimana doa

yang paling mencakup dan selalu dimohonkan kepada Allah, Rabbana

atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah wa qina azaban-nar.

Ketiga tujuan tertinggi tersebut diyakini sebagai sesuatu yang ideal dan

dapat memotivasi usaha pendidikan dan bahkan dapat menjadikan

aktivitas pendidikan yang lebih bermakna.

b. Tujuan Umum

Tujuan Umum adalah sebagai arah yang taraf pencapaiannya dapat

di-ukur karena menyangkut perubahan sikap, perilaku dan kepribadian

subjek didik.Dalam hal tujuan umum mengenai pendidikan Dr.

Muhammad Fadil Al-Jamali menyimpulkan sebagai berikut:

1. Mengenalkan manusia akan peranannya diantara makhluk dan

tanggung jawab pribadinya dalam hidup ini.

2. Mengenalkan manusia akan hubungannya dengan lingkungan

sosialnya dan tanggung jawabnya dalam tata hidup bermasyarakat.

3. Mengenalkan manusia dengan ala mini dan mengajak mereka untuk

mengetahui hikmah diciptanya serta memberikan kemungkinan

kepada mereka untuk mengambil manfaatnya.

4. Mengenalkan manusia dengan pencipta alam (Allah) dan

memerintahkan beribadah kepada-Nya (Achmadi, 1992: 65).

Keempat tujuan tersebut merupakan satu rangkaian atau kesatuan,

dengan kembali kepada Al-qur’an dapat disimpulkan bahwa realisasi

(36)

22

terpadunya pikir, zikir, dan amal pada pribadi seseorang. Dan ini

merupakan kunci utama untuk sampai pada tujuan tertinggi

“Ma’rifatullah an ta’abud ilallah”.

c. Tujuan Khusus

Tujuan khusus adalah pengkhususan atau operasionalisasi tujuan

tertinggi dan terakhir dan tujuan umum pendidikan islam. Tujuan khusus

bersifat relatif sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan di mana

perlu sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan, selama tetap berpijak pada

kerangka tujuan tertinggi dan umum itu. Pengkhususan tujuan tersebut

dapat didasarkan pada:

1. Kultur dan cita-cita suatu bangsa di mana pendidikan itu

diselenggarakan.

2. Minat, bakat, kesanggupan subjek didik.

3. Tuntutan situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu.

Dengan demikian tujuan khusus harus tetap mengacu pada tujuan

tertinggi dan senantiasa dijiwai dengan akhlaqul karimah, karena

pendidikan budi pekerti (akhlaq) adalah jiwa dari pendidikan islam dan

Tujuan Akhir Pendidikan Islam adalah berkaitan dengan penciptaan

manusia di muka bumi ini, yaitu membentuk manusia sejati, manusia abid

yang selalu mendekatkan diri kepada Allah, melekatkan sifat-sifat Allah

dalam pribadinya dan menjalankan fungsi-fungsi kehidupannya

sebagaikhalifatul fil ard (Ahid, 2010:46). Hal ini seperti yang diterangkan

(37)

23

ِنوُدُبْعَيِل َّلَِّإ َسنِ ْلْاَو َّنِجْلا ُتْقَلَخ اَمَو

56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya

mereka mengabdi kepada-Ku.

Dengan demikian tujuan pendidikan agama Islam adalah dalam

rangka untuk menumbuhkan pola kehidupan manusia yang utuh melalui

latihan kejiwaan, kecerdasan otak penalaran, perasaan dan indera.Jadi

pendidikan itu harus melayani pertumbuhan manusia dalam semua aspek

baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, maupun

bahasannya.Pendidik pada dasarnya mendorong semua aspek tersebut ke

arah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup (Mansur,

2005:333).

D. Pendidikan Agama dalam Keluarga Muslim

1. Pengertian Keluarga Muslim

Keluarga adalah sanak saudara yang bertalian dengan turunan atau

sanak saudara yang bertalian dengan perkawinan (Poerwadarminta,

2006:553). Keluarga adalah wadah pertama dan utama bagi pertumbuhan

dan pengembangan anak. Jika suasana dalam keluarga itu baik dan

menyenangkan, maka anak akan tumbuh dengan baik pula. Jika tidak,

tentu akan terhambatlah pertumbuhan anak tersebut (Darajat, 1995:47).

Keluarga merupakan sebuah institusi yang terbentuk karena ikatan

perkawinan. Pada dasarnya keluarga itu adalah sebuah komunitas dalam

“satu atap”. Kesadaran untuk hidup bersama dalam satu atap sebagai

(38)

24

membentuk komunitas baru yang disebut keluarga. Jadi keluarga dalam

bentuk yang murni merupakan satu kesatuan sosial yang terdiri dari suami,

istri, dan anak-anak yang belum dewasa. Satuan ini mempunyai sifat-sifat

tertentu yang sama, dimana saja dalam satuan masyarakat manusia

(Djamarah, 2004:16-17).

Menurut tim penyusun kamus besar bahasa Indonesia yang

dimaksud Muslim adalah penganut agama Islam atau orang yang memeluk

agama Islam (TPKBBI, 2008: 987). Muslim kalau ditinjau dari segi bahasa

dan istilah asal usul katanya yaitu dimulai dari kata” Islam” berasal dari

bahasa Arab: “salima” yang artinya selamat, dari kata itu terbentuk

“aslama”yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Dari kata

“aslama” itulah terbentuk kata Islam dan pemeluknya disebut Muslim.

Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah, siap

patuh pada ajaran-Nya dan yang pasti orang yang sudah mengucapkan

syahadat berarti dia sudah Muslim, tetapi untuk menjadi muslim yang

sebenarnya setiap orang harus menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan

sebenar-benarnya.

Jadi, Keluarga Muslim menurut penulis adalah keluarga yang

beragama Islam sekaligus menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh

pada ajaran-Nya.

2. Peran Keluarga Muslim terhadap Pendidikan Islam

Keluarga adalah wadah pertama dan utama bagi pertumbuhan dan

(39)

25

menyenangkan, maka anak akan tumbuh dengan baik pula. Jika tidak,

tentu akan terhambatlah pertumbuhan anak tersebut (Darajat, 1995: 47).

keluarga adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang

mempunyai hubungan melalui ikatan pernikahan, hubungan kelahiran,

adopsi, atau ikatan darah yang biasanya memiliki tempat tinggal yang

sama (Fatkhurrohman, 2012: 28).

Lingkungan pertama yang mempunyai peran penting adalah

lingkungan keluarga. Disinilah anak dilahirkan, dirawat, dan dibesarkan.

Di sini juga proses pendidikan berawal, Orang tua adalah guru pertama

dan utama bagi anak. Orang tua adalah guru agama, bahasa, dan sosial

bagi anak. Karena, orang tua (ayah) adalah orang yang pertama kali

melafalkan azan dan iqamah di telinga anak di awal kelahirannya. Orang

tua adalah orang yang pertama mengajarkan anak bersosialisasi dengan

lingkungan sekitar (Musbikin, 2009: 111). Keluarga merupakan lembaga

utama yang dikenal oleh anak. Hal ini disebabkan karena kedua orang

tuanyalah orang yang pertama dikenal, dan diterimanya pendidikan,

bimbingan, perhatian dan kasih sayang yang terjalin antara kedua orang

tua dan anak-anaknya merupakan basis yang ampuh bagi pertumbuhan dan

perkembangan psikis serta nilai-nilai sosial dan religius pada diri anak

didik (Ahid, 2010: 61).

Menurut Ahid (2010: 137-140) peran keluarga dalam pendidikan

meliputi:

(40)

26

Keluarga mempunyai peranan penting untuk menolong

pertumbuhan anak-anaknya dari segi jasmaniah, baik aspek

perkembangan maupun aspek perfungsian.Didalamnya termasuk

perlindungan, pengobatan dan pengembangan untuk menunaikan

tanggung jawab.

b. Dalam bidang pendidikan akal (intelektual)

Walaupun pendidikan akal dikelola oleh institusi-institusi yang

khusus, tetapi keluarga masih tetap memegang peranan penting dan

tidak dapat dibebaskan dari tanggung jawab. Anak-anak tidak akan

menikmati perkembangan akal yang sempurna, kecuali jika

merekamendapat pendidikan akal dan mendapat kesempatan yang

cukup dirumah.

c. Dalam bidang pendidikan agama

Pendidikan agama dan spiritual ini berarti membangkitkan kekuatan

dan kesediaan spiritual yang bersifat naluri yang ada pada anak-anak

melalui bimbingan agama yang sehat dan mengamalkan ajaranagama.

3. Problematika PendidikanIslam dalam Keluarga Muslim

Dalam keluarga muslim terdapat beberapa problematika seperti

keadaan ekonomi, perlindungan terhadap keluarga, keagamaan,

pendidikan, dan kenyamanan yang kurang sehingga dapat mengakibatkan

pendidikan Islam bagi anak cenderung kurang maksimal (Musbikin,

2009:232).

(41)

27

keluarga, terkadang sedikit mempunyai waktu luang untuk berinteraksi

dengan anak-anaknya. Pola pertemuan antara orang tua sebagai pendidik

dan anak sebagai terdidik dengan maksud bahwa orang tua mengarahkan

anaknya sesuai dengan tujuannya yaitu membantu anak memiliki dan

mengembangkan dasar-dasar disiplin diri. Orang tua dengan anaknya

sebagai pribadi dan sebagai pendidik, dapat menyingkapkan pola asuh

orang tua dalam mengembangkan disiplin diri anak yang tersirat dalam

situasi dan kondisi yang bersangkutan (Shochib, 2000: 14).

Orang tua yang tidak bisa memberikan kepercayaan kepada anak,

menyebabkan anak menjadi ragu akan kemampuan dirinya sendiri. Selain

itu figur orang tua yang tidak mampu memberikan keteladanan pada anak,

menyebabkan anak tidak mempunyai panutan dalam perilakunya.Anak

cenderung mencari keteladanan dari luar orang tuanya yang belum tentu

baik, sehingga perkembangan pendidikan anak berjalan kurang maksimal.

Dalam suatu keluarga biasanya juga menghadapi

hambatan-hambatan lainnya.Dan hal tersebut sebagian besar terdapat pada keluarga

Muslim. Hambatan tersebut antara lain:

a. Anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua.

b. Figur orang tua yang tidak mampu memberikan keteladanan pada

anak.

c. Kasih sayang orang tua yang berlebihan sehingga cenderung untuk

memanjakan anak.

(42)

28

tuntutan orang tua yang terlalu tinggi.

e. Orang tua yang tidak bisa memberikan kepercayaan kepada anak.

f. Orang tua yang tidak bisa membangkitkan inisiatif dan kreativitas

pada anak.

Zakiyah Darajat (1993:23) menyatakan bahwa rasa kasih sayang

adalah kebutuhan jiwa yang paling pokok dalam kehidupan manusia. Anak

kecil yang merasa kurang disayangi oleh orang tuanya akan menderita

hatinya, kesehatan badan juga akan menurun, kecerdasannya juga

mungkin akan semakin berkurang, dan kelakuannya mungkin akan

menjadi nakal, keras kepala dan sebagainya.

Dari problematika diatas orang tua harus semestinya mendidik anak

dengan sebaik-baiknya agar anaknya menjadi anak yang berperilaku baik,

menghormati orang tua taat beragama sehingga anakdidik tersebut tidak

mengecewakan orang tua dikemudian hari karena kurangnya perhatian

dari orang tua.

4. Model Pendidikan Islam Dalam Keluarga Muslim

a. Model Otoriter

Pada model otoriter semua kebijaksanaan atau policy dasar

ditetapkan oleh kepala keluarga itu sendiri dan pelaksanaan selanjutnya

ditugaskan kepada bawahannya atau anaknya. Dilihat dari persepsinya

seorang kepala keluarga yang otoriter adalah seseorang yang sangat

egois. Egoismenya yang sangat besar akan mendorongnya

(43)

29

apa yang secara subyektif di interpretasikannya sebagai kenyataan.

Misalnya, seorang kepala keluarga yang otoriter akan menerjemahkan

disiplin kerja yang tinggi yang ditunjukkan oleh para bawahannya atau

menyuruh anaknya sebagai perwujudan kesetiaan para bawahan atau

didikannya kepadanya. Padahal sesungguhnya disiplin kerja itu

didasarkan kepada ketakutan bukan kesetiaan. Egonya yang besar

menumbuhkan dan mengembangkan persepsinya bahwa tujuan

pribadinya sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadinya tersebut,

berdasarkan nilai-nilai demikian seorang pemimpin yang otoriter akan

menunjukkan berbagai sikap yang menonjolkan “ke-akuan-nya” antara

lain dalam bentuk:

1) Kecenderungan memperlakukan anggota keluargasama dengan

alat-alat lain dalam keluarga seperti mesin, dan dengan demikian kurang

menghargai harkat dan martabat mereka.

2) Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas

tanpa mengaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan

kebutuhan para bawahan.

3) Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan

keputusan dengan cara memberitahukan kepada para bawahan

tersebut bahwa ia telah mengambil keputusan tertentu dan para

bawahan diharapkan dan bahkan dituntut untuk melaksanakanya

(44)

30

Dengan persepsi nilai-nilai, sikap dan perilaku demikian seorang

kepala keluarga yang otoriter dalam praktek akan menggunakan gaya

kepemimpinan yang:

1) Menuntut ketaatan penuh dari para anggota keluarga,

2) Dalam menegakkan disiplin menunjukkan kekakuan,

3) Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi,

4) Menggunakan pendekatan punitif dalam hal terjadinnya

penyimpangan oleh bawahan (Sondang Siagian, 1999: 31).

b. Model demokratis

Model pemimpin yang paling ideal dan paling didambakan adalah

yang demokratis. Memang umum diakui bahwa kepala keluarga yang

demokratis tidak selalu merupakan pemimpin yang paling efektif dalam

kehidupan organisasional karena adakalanya dalam hal bertindak

danmengambil keputusan bisa terjadi keterlambatan sebagai

konsekuensi keterlibatan para bawahan dalam proses pengambilan

keputusan tersebut. Tetapi dengan berbagai kelemahannya pemimpin

yang demokratis tetap dipandang sebagai pemimpin terbaik karena

kelebihan-kelebihannya mengalahkan kekurangannya.

Ditinjau dari persepsinya,kepala keluarga yang demokratis

biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator dari

berbagai unsur dan komponen organisasi, sehingga bergerak sebagai

(45)

31

Seorang pemimpin yang demokratis dihormati dan disegani,

bukan ditakuti karena perilakunya dalam kehidupan organisasional

perilakunya mendorong para bawahannya, menumbuhkan dan

mengembangkan daya inovasi dan kreativitasnya. Jika dia salah, ia

bersungguh-sungguh mendengarkan pendapat, saran, dan bahkan kritik

orang lain, terutama bawahannya. Seorang pemimpin yang demokratis

akan sangat bangga bila para bawahannya menunjukkan kemampuan

kerja yang bahkan lebih tinggi dari kemampuannya sendiri.

c. Model Laissez Faire atau Bebas

Pemimpin yang Laissez Faire adalah pemimpin yang

memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada setiap anggota atau

staff didalam tata prosedur dan apa yang akan dikerjakan untuk

pelaksanaan tugas-tugas jabatan mereka. Pendapat pemimpin tentang

penilaian yang berupa kritik atau pujian terhadap pribadi, prestasi kerja

anggota atau pelaksanaan program secara umum jarang atau bahkan

tidak sama sekali diberikan kecuali jika anggota memintanya. Ia

berpendapat bahwa tugas pokoknya sebagai pemimpin adalah menjaga

dan menjamin kebebasan itu.

Dalam keluarga yang di hasilkan oleh kepemimpinan

pendidikan semacam itu tidak akan dapat dihindarkan timbulnya

berbagai masalah, misalnya, kekacauan-kekacauan, tabrakan,

kesimpang-siuran kerja dan wewenang, oleh karena pemimpin sama

(46)

32

menggerakkan berdasarkan konsep metode tertentu yang sebenarnya

sangat diperlukan oleh setiap kelompok kerja sama didalamnya terdapat

individu-individu yang memiliki banyak perbedaan cita-cita, kecakapan

sifat-sifat khas kepribadian yang unik (Soekarto, 1983: 54).

5. MetodePendidikan Islam dalam Keluarga Muslim

a. Mendidik Melalui Keteladanan

Kurikulum pendidikan yang sempurna telah dibuat dengan

rancangan yang jelas bagi perkembangan manusia melalui sistemasi

bakat, psikologis, emosi, mental, dan potensi manusia.Untuk

kebutuhan itulah Allah mengutus Nabi Muhammad saw. Sebagai

hamba dan Rasul-Nya menjadi teladan bagi manusia dalam

mewujudkan tujuan pendidikan Islam, melalui firman-Nya dalam

surah Al-Ahzab ayat 21 :

َمْوَيْلاَو َ َّاللَّ وُجْرَي َناَك نَمِّل ةَنَسَح ةَوْسُأ ِ َّاللَّ ِلوُسَر يِف ْمُكَل َناَك ْدَقَل

ًاريِثَك َ َّاللَّ َرَكَذَو َرِخ ْلْا

21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan

yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah

dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

Dilihat dari ayat diatas bahwa Rasulullah adalah cerminan dari

Al-qur’an dalam pendidikan Islam yang diutus oleh Allah untuk menjadi

(47)

33

Pendidikan Islam merupakan konsep yang senantiasa menyeru

dijalan Allah.Dengan demikian, seorang pendidik dituntut untuk

menjadi teladan dihadapan anak didiknya, bersegera berkorban, dan

menjauhkan diri dari hal-hal hina. Artinya, setiap anak didik akan

meneladani pendidiknya dan benar-benar puas terhadap ajaran yang

diberikan kepadanya sehingga perilaku ideal yang diharapkan dari

setiap anak merupakan tuntutan realistis dan dapat diaplikasikan.

Begitu juga orang tua, anak-anak harus memilki figur teladan dalam

keluarganya sehingga sejak kecil dia terarahkan oleh konsep-konsep

Islam. Dengan begitu, pendidik dan orang tua harus menyempurnakan

dirinya dengan akhlak mulia yang berasal dari Al-qur’an dan dari

perilaku Rasulullah saw.

Pada dasarnya, kebutuhan manusia akan figur teladan bersumber

dari kecenderungan meniru yang sudah menjadi karakter manusia.

Peniruan bersumber dari kondisi mental seseorang yang senantiasa

merasa bahwa dirinya berada dalam perasaan yang sama dengan

kelompok lain (empati) sehingga dalam peniruan ini, anak-anak

cenderung meniru orang dewasa. Pada hakikatnya, peniruan itu

berpusat pada tiga unsur yaitu kesenangan untuk meniru dan

mengikuti, kesiapan untuk meniru dan setiap peniruan terkadang

memiliki tujuan yang sudah diketahui oleh si peniru atau bisa jadi juga

(48)

34

Kegiatan meniru akan meningkat menjadi kegiatan berfikir yang

memadukan kesadaran, keterkaitan, peniruan, dan perasaan bangga

jika pada perkembangannya kesadaran dalam peniruannya meningkat,

peniruan yang berkesadaran ini akan meningkat menjadi ittiba’yang

jenisnya akan terus meningkat bila disertai petunjuk atau pengetahuan

tentang tujuan dan cara peniruan. Melalui konsep peniruan yang

Islami, anak-anak didik akan memahami bahwa meniru dan mengikuti

jejak para pemimpin kaum muslimin generasi pertama akan

memberikan kebahagiaan, kekuatan, kegagahan, dan ketaatan kepada

Allah (Abdurrahman An Nahlawi, 1995:275).

b. Mendidik melalui ‘Ibrah

Ibrah berasal dari kata ‘abara ar-yu’ya yang berarti menafsirkan

mimpi dan memberitahukanimplikasinya bagi kehidupan si pemimpi

atau keadaan setelah kematiannya dan‘abara al-wadiberarti melintasi

lembah dari ujung satu ke ujung yang lain yang berlawanan. Ar-Raghib berkata bahwa asal makna al-‘ibr adalah melintasi suatu keadaan ke keadaan lain dan kata ‘ubur dikhususkan untuk makna

melintasi diatas air. Dalam penafsiran Surat Yusuf, Muhammad Rasyid Ridhamengatakan bahwa al-‘itibar wal ‘ibrah berarti keadaan

yang mengantarkan dari suatu pengetahuan yang terlihat menuju

sesuatu yang tidak terlihat, atau jelasnya berarti merenung dan berpikir

(49)

35

Model-model ‘ittibar atau pengajaran di dalam Al-qur’an dan As

-sunnah yang suci berbeda-beda selaras dengan beragamnya topik

‘ibrah, ada beberapa ibrah yang dapat memotivasi kegiatan berfikir

dan pengambilan pelajaran.

c. Mendidik melalui Nasihat

Nasihat merupakan cara mendidik yang mengandalkan bahasa,

baik lisan maupun tertulis dalam mewujudkan interaksi antara

pendidik dengan anak didik. Nasihat pada dasarnya bersifat

penyampaian pesan dari sumbernya kepada pihak yang memerlukan

atau dipandang memerlukannya. Di dalam Al-qur’an banyak nasihat

sekaligus cerita mengenai para Nabi dan Rasul terdahulu sebelum Nabi

Muhammad SAW, yang bermaksud menimbulkan kesadaran bagi yang

mendengar atau membacanyaagar meningkatkan iman dan berbuat

amal kebaikan dalm menjalani hidup dan kehidupan (Hadari Nawawi,

1993:221).

Nasihat sekaligus cerita sangat tinggi nilainya dalam pendidikan

islam karena dipergunakan dalam usaha membantu dan mengarahkan

anak didik, agar menjadi orang dewasa yang beriman dan mampu

memanfaatkan waktu dalam mengerjakan sesuatu yang dirihoi Allah

SWT, untuk mengejar keselamatan, kebahagiaan, kesejahteraan hidup

didunia dan akhirat. Sehubungan dengan mendidk melalui nasihat

Allah berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 138 sebagai berikut:

(50)

36

138. (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan

petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

Orang tua atau pendidik menasehati dengan cerita nabi dan rasul

terdahulu, dimana cerita tersebut mengandung nasihat yang berguna

bagi anak didik dalam proses belajar seumur hidup atau pendidikan

seumur hidup.

d. Mendidik melalui kebiasaan

Kebiasaan baik harus di bentuk oleh orang tua atau pendidik

dimulai sejak kecil, contoh memberi kebiasaan yang baik pada anak

didik yaitu dengan memberikan contoh yang berkaitan dengan aktifitas

yang dilakukan sehari-hari membiasakan mencuci kaki dan menyikat

gigi sebelum tidur, mencuci kaki sebelum tidur atau juga bisa

memberikan contoh yang berkaitan dalam kehidupan beragama yang

perlu dibentuk agar menjadi tingkah laku yang dilakukan secara

otomatis misalnya kebiasaan mengucapkan salam pada waktu masuk

atau meninggalkan rumah bila ada orang lain. Kebiasaan bangun pagi

dan segera meninggalkan tempat tidur berwudhu, dan menunaikan

shalat subuh. kebiasaan melafalkan lafal basmalahsetiap mulai

pekerjaan dan diakhiri dengan lafal alhamdulillah setelah melakukan

sesuatu. Allah berfirman dalam surat An-nur ayat 27 yaitu:

اوُمِّلَسُتَو اوُسِنْأَتْسَت ىَّتَح ْمُكِتوُيُب َرْيَغ ًاتوُيُب اوُلُخْدَت َلَّ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي

َنوُرَّكَذَت ْمُكَّلَعَل ْمُكَّل رْيَخ ْمُكِلَذ اَهِلْهَأ ىَلَع

(51)

37

yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam

kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu

(selalu) ingat.

Untuk itu setiap pendidik terutama orang tua harus mampu

memilih kebiasaan yang baik sifatnya dan berlaku di masyarakat,

untuk dilatih sejak dini pada anak-anaknya. Pemilihan itu harus

didasarkan pada sikap dan tingkah laku yang disukai Allah Swt, dan

juga sebaliknya perilaku buruk yang tidak disukai Allah harus dibuang.

e. Mendidik melalui hukuman

Hukuman sebagai salah satu metode pendidikan mendapatkan

perhatian berat dari para filosof dan pendidik muslim, seperti Ibnu

Sina, Al Gozali, Al Arabi, dan Ibnu Kaldun.

Oleh sebab mereka menyeru para pendidik untuk menggunakan

berbagai metode dalam mendidik anak agar mereka mempunyai

kebiasaan-kebiasaan baik ketika besar, sehingga ketika itu tidak

diperlukan metode hukuman. Hukuman merupakan metode terburuk,

tetapi kondisi tertentu harus digunakan.Oleh karena itu, hendaknya

diperhatikan pendidik dalam menggunakan hukuman pada masa

remaja.

f. Mendidik melalui partisipasif

Manusia tidak mungkin hidup sendiri tanpa manusia lain, manusia

saling membutuhkan satu dengan yang lain sehingga perlu bekerja

(52)

38

saling percaya mempercayai dan saling hormat menghormati (Hadari

Nahlawi, 1993:235). Demikian juga dalam interaksi pendidikan

terutama antara orang tua dan anaknya. Sehubungan dengan itu Allah

berfirman dalam surat An-Nahl ayat 125 sebagai berikut:

َيِه يِتَّلاِب مُهْلِداَجَو ِةَنَسَحْلا ِةَظِعْوَمْلاَو ِةَمْكِحْلاِب َكِّبَر ِليِبَس ىِلِإ ُعْدا

َنيِدَتْهُمْلاِب ُمَلْعَأ َوُهَو ِهِليِبَس نَع َّلَض نَمِب ُمَلْعَأ َوُه َكَّبَر َّنِإ ُنَسْحَأ

125. serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk

.

Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat

membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Oleh karena itu mendidik melalui partisipasi dengan melibatkan

anak didik dimaksudkan untuk mendidik mengajak berbuat kebaikan

yang diridhoi Allah Swt. Proses bertukar pikiran antara pendidik

dengan anak didik memberikan kesempatan pada anak didik sesuai

dengan umur dan tingkat perkembangannya untuk ikut serta

memikirkan masalah, baik yang datang dari anak maupun lingkungan

(53)

39 BAB III

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Paparan Data

1. Letak Geografis Desa Pulutan

Kondisi geografis desa Pulutan yaitu terletak di samping Jalan lingkar

selatan atau sering disingkat dengan JLS. Sebagian besar masyarakatnya

berprofesi sebagai pedagang ada juga yang berprofesi sebagai petani dan

ada juga yang berprofesi sebagai wirausaha, merantau menjadi TKW.

Secara geografis Desa Pulutan dibatasi oleh :

a. Sebelah Utara : Desa Metes

b. Sebelah Selatan : Desa Kecandran (Winong)

c. Sebelah Timur : Desa Sinoman

d. Sebelah Barat : Desa Jombor dan Candi Rejo

Luas Desa Pulutan RW 03 54,6 ha dan keadaan jarak antara desa Pulutan

dengan laut 12 mil dari darat. Luas lahan berdasarkan kelas lereng :

a. Datar : (0-2 Derajat)

b. Bergelombang : (2-15 Derajat)

c. Curam : (15-40 Derajat)

d. Sangat curam : (>40 Derajat)

(54)

40

2. Keadaan Demografi

a. Keadaan Penduduk Menurut Umur

Menurut Data statistik, jumlah penduduk Desa Pulutan RW 03 pada

tahun 2015 berjumlah 655 jiwa terdiri dari 334 jumlah laki-laki dan 321

jumlah perempuan.

Untuk lebih jelasnya Penduduk Desa Pulutan RW 03 menurut golongan

umut dapat dilihat di tabel berikut:

Tabel 3.1 Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur

No Kelompok umur Laki-laki Perempuan Jumlah

1 0-4 33 26 59

Sumber: dokumentasi di Desa Pulutan RW 03

b. Keadaan Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Secara umum, penduduk di Desa Pulutan RW 03 tergolong rendah

dalam hal pendidikannya, hal ini terbukti dengan banyaknya penduduk

(55)

41

9 tahun untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dalam kondisi saat

ini pendidikan sangatlah penting dalam menghadapi era modern.

Berikut ini tabel keadaan penduduk Desa Pulutan RW 03

berdasarkan tingkat pendidikannya.

Tabel 3.2 Keadaan Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

NO Keterangan LK PR JUMLAH

Sumber: dokumentasi di Desa Pulutan RW 03

c. Keadaan Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

Dalam bidang perekonomian, Desa Pulutan RW 03 sudah

cukup maju di bidang perdagangan maupun di bidang pertanian,

dalam bidang perdagangan masyarakat Pulutan khususnya banyak

yang berdagang disekitar Jalan Lingkar Selatan (JLS) apalagi kalau

(56)

42

tersebut dan di ikuti oleh pedagang-pedagang lain dan pedagang

pendatang yang datang dari berbagai daerah.

Dalam bidang pertanian di Desa Pulutan juga tergolong maju

karena di Pulutan termasuk tanah produktif yang sering ditanami

padi oleh para petani sehingga menghasilkan bahan baku beras.

Selain pedagang dan juga petani ada juga yang bekerja sebagai

pegawai untuk lebih jelasnya apat dilihat di tabel berikut ini:

Tabel 3.3 Keadaan Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

(57)

43

Sumber: dokumentasi di Desa Pulutan RW 03

d. Sarana Pendidikan Umum

Tabel 3.4 Sarana Pendidikan

No Jenis Pendidikan Gedung

1 PAUD 1

2 TK 1

3 SD 2

4 SMP -

5 SMU -

Sumber: dokumentasi di Desa Pulutan RW 03

e. Sarana Ibadah

Tabel 3.5 Sarana Ibadah

No Sarana Ibadah Gedung

1 Masjid 1

2 Musholla 3

(58)

44

f. Jumlah penduduk berdasarkan agama

Ditinjau dari segi agama, seluruh warga di Desa Pulutan

RW 03 memeluk agama Islam.

3. Keadaan Sarana dan Prasarana Desa Pulutan RW 03

Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan di lapangan, di

Desa Pulutan RW 03 ini dilengkapi beberapa fasilitas sarana dan

prasarana umum yang tentunya dimanfaatkan untuk kepentingan

masyarakat desa tersebut.

Selain keadaan sarana dan prasarana diatas terdapat juga sarana

dalam bidang olahraga terutama di bidang kesenian seperti rebana dan

juga drumblack percussion anak-anak muda yang selalu memeriahkan

kota salatiga dalam acara karnaval, ulang tahun kota salatiga

mengadakan festival drumblack dan pemuda Pulutan juga ikut

memeriahkan dalam acara-acara tersebut.

B. Profil Keluarga Muslim di Desa Pulutan RW 03 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga

1. Profil Pendidikan

Pendidikan merupakan upaya yang penting untuk mengetahui

berbagai macam keadaan di dalam keluarga maupun mayarakat. Untuk

mengetahui kondisi dari beberapa keluarga muslim di Desa Pulutan RW

(59)

45

dan wawancara secara langsung dengan beberapa keluarga muslim di desa

tersebut. Kondisi yang dimaksudkan disini adalah tentang background

agama, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan keluarga muslim.

Dari observasi yang dilakukan oleh penulis terhadap beberapa

keluarga Muslim Di Desa Pulutan RW 03 menunjukkan adanya perbedaan

tingkat pendidikan dalam masing-masing keluarga muslim. Tingkat

pendidikan orang tua dalam sebuah keluarga berpengaruh pada

pemahaman dan pola pikir pada aspek pendidikan sehingga akan

mempengaruhi tingkat pengetahuan yang akan diberikan kepada anaknya.

Orang tua yang pernah mendapat pendidikan agama di pondok pesantren,

dalam memberikan pendidikan agama anaknya akan cenderung lebih

intensif dan lebih tegas dibandingkan dengan orang tua yang mempunyai

latar belakang pendidikan umum. Diantaranya adalah keluarga Bapak Bsr,

Bapak Djmt, Bapak DS yang dulunya pernah belajar sekaligus menimba

ilmu di pondok pesantren. Berikut pernyataan bapak Bsr (24 08 2015)

yang dulu pernah belajar di pondok pesantren tahfidzul qur’an kali beber

wonosobo :

“Saya dulu pernah menimba ilmu-ilmu agama di pondok

pesantren kali beber terletak di daerah wonsobo, saya mondok disitu sejak lulus dari Sekolah Dasar, sehabis lulus sekolah Dasar langsung berangkat ke pondok pesantren untuk menuntut ilmu, itu juga disebabkan dari dorongan orangtua, serta keinginan saya untuk belajar agama”.

Berikut juga yang disampaikan oleh Bapak Djmt (20 08 2015)

yang dulu pernah belajar di pondok pesantren API Tegal rejo magelang:

(60)

46

pesantren jadi tahu tentang ilmu-ilmu agama baik itu ibadah mahdhoh ataupun ibadah muamalah”.

Selain Bapak Bsr dan juga Bapak Djmt masih ada lagi yang belajar

di pondok pesantren yaitu Bapak DS (26 08 2015) yang dulu pernah

belajar dipondok pesantren Krapyak yogyakarta:

“Saya dulu pernah belajar di pondok pesantren Ali Maksum yogyakarta yang kala itu menurut saya belajar di pondok pesantren merupakan keharusan bagi saya pribadi untuk bisa mengetahui ilmu-ilmu agama secara dalam, sehingga ketika beribadah kepada Allah Swt itu bisa merasuk dalam hati jadi saya ya sedikit tahu tentang ilmu-ilmu agama yang saya peroleh pada waktu mondok di pondok pesantren”.

Pada umumnya keluarga muslim Di Desa Pulutan RW 03 masih

banyak yang tidak mempunyai latar belakang belajar di pondok pesantren

seperti diantaranya keluarga Bapak Slkn, Bapak Mgn, Bapak Nn, Bapak

Mtd dan Bapak Mkr. Berikut wawancara dari responden yaitu Bapak Slkn

(20 08 2015) yang dulunya belajar lulus dari SMP:

“Saya dulu belajar di sekolah hanya lulus sampai SMP karena

orangtua sudah tidak mampu untuk membiayai sekolah saya, meskipun saya lulus SMP saya bersyukur masih bisa sekolah”.

Berikutnya dari Bapak Mgn (19 08 2015) yang dulunya juga lulus

sekolah SMP:

“Dulu saya memang lulus sekolah sampai SMP mas, dan saya

rasa lulus SMP sudah cukup karena saya harus membantu orangtua untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari”.

Berikutnya dari Bapak Nn (22 08 2015) yang mengenyam pendidikan

sampai lulus SMP:

Gambar

Tabel 3.1 Jumlah Penduduk Menurut Golongan Umur
Tabel 3.2 Keadaan Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 3.3 Keadaan Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Tabel 3.4 Sarana Pendidikan

Referensi

Dokumen terkait

Penerimaan tidak sama dengan persetujuan. Penerimaan adalah keinginan untuk mendengarkan seseorang tanpa menunjukkan keraguan atua ketidaksetujuan. Perawat bekerja untuk

PENGADAAN LOKASI PEKERJAAN, (PROVINSI, KABUPATEN/KOTA) VOLUME PERKIRAAN WAKTU MULAI PELAKSANAAN PENGADAAN WAKTU PELAKSANAAN (BULAN) RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG/JASA

Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPS) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) hanya diberikan kepada PPs Penyelenggara BPPS (Lampiran 1) yang menyelenggarakan

Ekstrak daun Sembung Rambat memiliki aktivitas antibakteri yang kuat terhadap bakteri Staphylococcus aureus Kata Kunci: Mikania micrantha Kunth; uji fitokimia;

Bersama-sama dengan sumber buruh tempatan, sumber migran daripada luar negara menjadi pilihan majikan yang kebanyakan mereka tergolong kepada pekerja tidak mahir yang dibawa

Keluarga buruh yang memiliki pendidikan yang terbatas membuat mereka kesusahan melakukan pembelajaran pada anak (Praditta, 2017:50).. Hal ini lambat laun membuat orang

Penulis memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan

Penelitian yang dilakukan di Ethnictro Music Education dalam setiap pertemuan, Pada saat pembelajaran piano pop grade 1 berlangsung.. Ada pun waktu