ATAS LAPORAN KEUANGAN

46 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1. U M U M

a. Pendirian Perusahaan

PT Sumi Indo Kabel Tbk. (Perusahaan) didirikan pada tanggal 23 Juli 1981 berdasarkan akta notaris Chusu Nuduri Atmadiredja No. 121, wakil notaris di Tangerang, dengan nama PT Industri Kawat Indonesia. Perusahaan mengubah namanya menjadi PT IKI Indah Kabel Indonesia berdasarkan akta notaris Lieke Lianadevi Tukgali, S.H., No. 67 tanggal 19 Maret 1982. Akta pendirian dan perubahannya telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. Y.A.5/289/18 tanggal 30 April 1982 serta didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Tangerang dengan No. 23/PN/ TNG/1982 tanggal 24 Mei 1982.

Permohonan Perusahaan untuk mengubah status Perusahaan menjadi perusahaan patungan Penanaman Modal Asing sesuai dengan Undang-undang Penanaman Modal Asing No. 1 Tahun 1967 (yang telah diubah dengan Undang-undang No. 11 Tahun 1970) disetujui oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal berdasarkan Surat No. 49/V/PMA/1994 tanggal 3 November 1994, yang diubah dengan Surat No. 35/III/PMA/1995 tanggal 30 Januari 1995.

Berdasarkan akta notaris Amrul Partomuan Pohan, S.H., L.L., M., No. 12 tanggal 4 Desember 1998, Perusahaan mengubah namanya menjadi PT Sumi Indo Kabel Tbk. Akta ini telah disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C-2138.HT.01.04.TH.99 tanggal 29 Januari 1999.

Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta notaris Amrul Partomuan Pohan, S.H., L.L., M., No. 3 tanggal 2 Juni 2010 mengenai perubahan tahun buku keuangan Perusahaan dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember menjadi dari tanggal 1 April sampai dengan tanggal 31 Maret mulai tahun 2011. Perubahan ini adalah untuk menyesuaikan dengan tahun buku keuangan induk perusahaan.

Perubahan terakhir ini telah diterima dan dicatat oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-AH.01.10-16316 tanggal 30 Juni 2010. Sampai dengan tanggal penyelesaian laporan keuangan ini, pengumuman dalam lembaran Berita Negara masih dalam proses.

Perubahan tahun buku Perusahaan tersebut telah disetujui oleh Direktorat Jenderal (Dirjen) Pajak dalam Surat Keputusan No.KEP-00002/THBK/WPJ.07/KP.0803/ 2010 tanggal 17 Desember 2010. Ruang lingkup kegiatan usaha Perusahaan adalah memproduksi konduktor, kabel listrik, kabel kontrol dan kabel telekomunikasi. Perusahaan beserta pabriknya berlokasi di Desa Pasir Jaya, Tangerang. Perusahaan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1981. Hasil produksi Perusahaan dipasarkan di pasar lokal dan ekspor, dengan proporsi antara penjualan lokal dan ekspor untuk enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 masing-masing sebesar 29% dan 71%.

Laporan keuangan ini telah diselesaikan dan disetujui oleh Direksi Perusahaan pada tanggal 27 Oktober 2011.

(2)

1. U M U M (lanjutan)

b. Penawaran Umum Efek Perusahaan

Pada tanggal 21 Januari 1991, Perusahaan melakukan penawaran umum saham kepada masyarakat sebanyak 3.500.000 saham melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), dahulu dikenal sebagai Bursa Efek Jakarta (BEJ), dan Bursa Efek Surabaya (BES) (yang telah bergabung menjadi Bursa Efek Indonesia). Setelah pencatatan saham sebanyak 1.500.000 dan 17.500.000 saham masing-masing pada tanggal 21 Januari 1991 dan 1 September 1992, pembagian 13.500.000 saham bonus pada tanggal 8 September 1993 dan Penawaran Umum Terbatas Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I sebanyak 270.000.000 saham pada tanggal 23 April 1998, jumlah saham Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia meningkat menjadi 306.000.000 saham.

c. Karyawan, Dewan Komisaris dan Direksi

Berdasarkan risalah rapat umum tahunan pemegang saham yang diselenggarakan pada tanggal 28 Juni 2011, yang diaktakan dengan akta notaris amrul Partomuan Pohan, S.H.,L.L.,M., No 36 tanggal 28 Juni 2011, susunan anggota Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal 30 September 2011 adalah sebagai berikut :

Komisaris Direksi

1. Fumiyoshi Kawai - Presiden Komisaris 1. Takahisa Hiura - Presiden Direktur 2. Hiroshi Shikata - Komisaris 2. Sulim Herman Limbono - Direktur

3. Kojiro Ishise - Komisaris 3. Akira Nishimura - Direktur 4. Andri Adhitya Hamid- Komisaris Independen 4. Takahiro Nakano - Direktur 5. Cahyadi Wijaya - Komisaris Independen 5. Kenichiro Tanimoto - Direktur

Berdasarkan risalah rapat umum tahunan pemegang saham yang diselenggarakan pada tanggal 31 Mei 2010, yang diaktakan dengan akta notaris Amrul Partomuan Pohan, S.H., L.L., M., No. 34 tanggal 31 Mei 2010, susunan anggota Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal 30 September 2010 adalah sebagai berikut:

Komisaris Direksi

1. Uray Sjaiful Hamid - Presiden Komisaris 1. Shigefumi Ushitani - Presiden Direktur 2. Hiroyuki Takenaka - Komisaris 2. Sulim Herman Limbono - Direktur

3. Hirokazu Sugawara - Komisaris 3. Shigeru Tanaka - Direktur 4. Husin Chandra - Komisaris Independen 4. Andri Adhitya Hamid - Direktur 5. Fathurin Zen - Komisaris Independen 5. Takaaki Usui - Direktur 6. Takahiro Nakano - Direktur

Jumlah kompensasi yang diterima Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan sebesar Rp10.335.527.898 dan Rp5.807.073.832 masing-masing untuk enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 dan Sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010. Pada tanggal 30 September 2011 dan 2010, Perusahaan memiliki masing-masing 455 dan 449 karyawan (tidak diaudit).

(3)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI a. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan

Laporan keuangan untuk enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 disusun sehubungan dengan perubahan tahun buku Perusahaan seperti telah diungkapkan pada Catatan 1 atas laporan keuangan dan disajikan komparatif dengan laporan keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2011. Dengan demikian, jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan komparatif ini tidak dapat diperbandingkan secara keseluruhan.

Laporan keuangan disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia (SAK) yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) dan Pedoman Penyajian Laporan Keuangan yang ditetapkan oleh BAPEPAM-LK bagi perusahaan manufaktur yang menawarkan sahamnya kepada masyarakat. Seperti diungkapkan dalam catatan-catatan terkait berikut di bawah ini, beberapa standar akuntansi yang telah direvisi dan diterbitkan, diterapkan efektif tanggal 1 Januari 2011.

Laporan keuangan untuk enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 disusun sesuai dengan PSAK No. 1 (Revisi 2009), “Penyajian Laporan Keuangan”.

PSAK No. 1 (Revisi 2009) mengatur penyajian laporan keuangan, yaitu antara lain, tujuan pelaporan, komponen laporan keuangan, penyajian secara wajar, materialitas dan agregasi, saling hapus, perbedaan antara aset lancar dan tidak lancar dan kewajiban jangka pendek dan jangka panjang, informasi komparatif, konsistensi penyajian dan memperkenalkan pengungkapan baru, antara lain, sumber estimasi ketidakpastian dan pertimbangan, pengelolaan permodalan, pendapatan komprehensif lainnya, penyimpangan dari standar akuntansi keuangan dan pernyataan kepatuhan.

Penerapan PSAK No. 1 (Revisi 2009) tersebut memberikan pengaruh yang tidak signifikan bagi pengungkapan terkait dalam laporan keuangan.

Kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan adalah selaras dengan kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2010, kecuali bagi penerapan beberapa SAK yang telah direvisi efektif sejak tanggal 1 Januari 2011 seperti yang telah diungkapkan pada Catatan atas laporan keuangan yang relevan.

Laporan keuangan disusun berdasarkan konsep biaya perolehan, kecuali untuk persediaan yang dinyatakan sebesar nilai terendah antara biaya perolehan atau nilai realisasi neto. Laporan keuangan disusun atas dasar akrual, kecuali untuk laporan arus kas.

Laporan arus kas menyajikan penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas yang diklasifikasikan ke dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Arus kas dari aktivitas operasi disajikan dengan menggunakan metode langsung.

Mata uang pelaporan yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan ini adalah mata uang rupiah.

b. Setara Kas

Deposito berjangka dengan jangka waktu tiga bulan atau kurang sejak tanggal penempatan dan tidak digunakan sebagai jaminan atas pinjaman diklasifikasikan sebagai “Setara Kas”.

(4)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) c. Investasi Jangka Pendek

Investasi jangka pendek terdiri dari deposito berjangka yang jatuh temponya lebih dari tiga bulan tetapi tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal penempatan dan/atau digunakan sebagai jaminan pinjaman atau dibatasi penggunaannya.

d. Transaksi dengan Pihak-pihak Berelasi

Efektif tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan menerapkan PSAK No. 7 (Revisi 2010), “Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi”. PSAK revisi ini mensyaratkan pengungkapan hubungan, transaksi dan saldo pihak-pihak berelasi, termasuk komitmen dalam laporan keuangan. Tidak terdapat dampak signifikan dari penerapan PSAK yang direvisi tersebut terhadap laporan keuangan.

Seluruh transaksi dan saldo yang material dengan pihak-pihak berelasi diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan yang relevan.

e. Persediaan

Perusahaan menerapkan PSAK No. 14 (Revisi 2008), “Persediaan”, yang menjabarkan perlakuan akuntansi untuk persediaan, dan menggantikan PSAK No. 14 (1994). PSAK revisi ini memberikan panduan dalam menentukan biaya persediaan dan pengakuan selanjutnya sebagai biaya, termasuk penurunan nilai ke nilai realisasi neto, juga panduan formula biaya untuk digunakan dalam menetapkan biaya ke persediaan.

Persediaan dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan atau nilai realisasi neto. Biaya perolehan ditentukan dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang dan meliputi biaya pembelian, biaya konversi dan biaya lain yang timbul untuk membawa persediaan ke lokasi dan kondisinya yang sekarang. Persediaan barang jadi dan barang dalam proses mencakup bahan baku, upah langsung dan biaya overhead pabrik tetap maupun variabel. Penyisihan kerugian persediaan ditentukan berdasarkan penelaahan kondisi persediaan pada akhir periode untuk mengurangi nilai tercatat persediaan menjadi nilai realisasi neto.

f. Biaya Dibayar di Muka

Biaya dibayar di muka diamortisasi selama masa manfaat masing-masing biaya dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method).

g. Penyertaan Saham

Penyertaan saham Perusahaan pada PT Karya Sumiden Indonesia (KSI), dengan persentase pemilikan sebesar 4,49%, disajikan sebesar biaya perolehan (cost method). Ruang lingkup kegiatan usaha KSI adalah memproduksi kawat tembaga.

h. Aset Tetap

Aset tetap dinyatakan sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan rugi penurunan nilai. Biaya perolehan termasuk biaya penggantian bagian aset tetap saat biaya tersebut terjadi, jika memenuhi kriteria pengakuan. Selanjutnya, pada saat inspeksi yang signifikan dilakukan, biaya inspeksi itu diakui ke dalam jumlah tercatat (“carrying amount”) aset tetap sebagai suatu penggantian jika memenuhi kriteria pengakuan.

(5)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) h. Aset Tetap (lanjutan)

Semua biaya pemeliharaan dan perbaikan yang tidak memenuhi kriteria pengakuan diakui dalam laporan laba rugi komprehensif pada saat terjadinya.

Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method) berdasarkan estimasi masa manfaat aset tetap sebagai berikut:

Tahun

Bangunan 20

Prasarana 20

Mesin dan peralatan 15

Peralatan dan perabot kantor 5

Kendaraan 5

Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan atau saat tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset (dihitung sebagai perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan dan jumlah tercatat dari aset) dimasukkan dalam laporan laba rugi komprehensif pada periode aset tersebut dihentikan pengakuannya

Aset dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan dan disajikan sebagai bagian dari aset tetap. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke masing-masing akun aset tetap yang bersangkutan pada saat aset tersebut secara substansial selesai dikerjakan dan siap digunakan. Pada setiap akhir tahun buku, nilai residu, umur manfaat dan metode penyusutan di-review, dan jika sesuai dengan keadaan, disesuaikan secara prospektif.

Sesuai dengan PSAK No. 47, “Akuntansi Tanah”, biaya yang berhubungan dengan proses pembaruan hak hukum atas tanah, meliputi biaya legal audit, biaya notaris, pajak dan biaya lainnya, ditangguhkan dan diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus selama periode hak atas tanah.

i. Aset Tidak Berwujud

Efektif tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan menerapkan PSAK No. 19 (Revisi 2010), “Aset Tak Berwujud”. PSAK revisi ini menentukan perlakuan akuntansi bagi aset tak berwujud yang tidak diatur secara khusus dalam PSAK lain, dan mensyaratkan untuk mengakui aset tak berwujud jika, dan hanya jika, kriteria tertentu dipenuhi, dan juga mengatur cara mengukur jumlah tercatat dari aset tak berwujud dan menentukan pengungkapan terkait. Tidak terdapat dampak signifikan dari penerapan PSAK yang direvisi tersebut terhadap laporan keuangan.

Sesuai dengan PSAK No. 19 (Revisi 2010), “Aset Tak Berwujud”, pembelian dan biaya-biaya yang timbul sehubungan dengan piranti lunak (sistem) komputer yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, dikapitalisasi dan diamortisasi menggunakan metode garis lurus (straight line) selama estimasi masa manfaat yaitu 4 (empat) tahun.

(6)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

j. Penurunan Nilai Aset Non-keuangan

Efektif tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan menerapkan secara prospektif PSAK No. 48 (Revisi 2009), “Penurunan Nilai Aset”.

PSAK No. 48 (Revisi 2009) menetapkan prosedur-prosedur yang diterapkan entitas agar aset dicatat tidak melebihi jumlah terpulihkannya. Suatu aset dicatat melebihi jumlah terpulihkannya jika jumlah tersebut melebihi jumlah yang akan dipulihkan melalui penggunaan atau penjualan aset. Pada kasus demikian, aset mengalami penurunan nilai dan pernyataan ini mensyaratkan entitas mengakui rugi penurunan nilai. PSAK yang direvisi ini juga menentukan kapan entitas membalik suatu rugi penurunan nilai dan pengungkapan yang diperlukan.

Penerapan PSAK No. 48 (Revisi 2009) tidak memberikan pengaruh yang berarti pada pelaporan keuangan kecuali untuk pengungkapan yang terkait.

Pada setiap akhir periode pelaporan, Perusahaan menilai apakah terdapat indikasi suatu aset mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut atau pada saat pengujian penurunan nilai aset diperlukan, maka Perusahaan membuat estimasi formal jumlah terpulihkan aset tersebut.

k. Pengakuan Pendapatan dan Beban

Efektif tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan menerapkan PSAK No. 23 (Revisi 2010), “Pendapatan”. PSAK revisi ini mengidentifikasi terpenuhinya kriteria pengakuan pendapatan, sehingga pendapatan dapat diakui, dan mengatur perlakuan akuntansi atas pendapatan yang timbul dari transaksi dan kejadian tertentu, serta memberikan panduan praktis dalam penerapan kriteria mengenai pengakuan pendapatan. Tidak terdapat dampak signifikan dari penerapan PSAK yang direvisi tersebut terhadap laporan keuangan.

Pendapatan diakui bila besar kemungkinan manfaat ekonomi akan diperoleh oleh Perusahaan dan jumlahnya dapat diukur secara handal. Pendapatan diukur pada nilai wajar imbalan yang diterima, tidak termasuk diskon, rabat dan pajak penjualan (PPN).

Pendapatan dari penjualan ekspor diakui pada saat barang dikapalkan kepada pelanggan. Pendapatan dari penjualan lokal diakui pada saat barang diserahkan kepada pelanggan. Beban diakui pada saat terjadinya.

l. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing

Transaksi dalam mata uang asing dicatat dalam rupiah berdasarkan kurs yang berlaku pada saat transaksi dilakukan. Pada tanggal laporan posisi keuangan, aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing disesuaikan untuk mencerminkan kurs tengah yang terakhir yang diumumkan oleh Bank Indonesia pada tanggal tersebut. Laba atau rugi kurs yang terjadi dikreditkan atau dibebankan pada operasi periode berjalan.

(7)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

l. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing (lanjutan)

Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Maret 2011 kurs yang digunakan adalah sebagai berikut :

30 Sept. 2011 31 Maret 2011

Dolar Amerika Serikat (AS$) 8.823,00 8.709,00

Yen Jepang (JP¥) 115,24 105,14

Poundsterling Inggris (GBP) 13.764,40 14.026,36

Dolar Singapura (Sin$) 6.796,46 6.906,04

m. Pajak Penghasilan

Beban pajak kini ditentukan berdasarkan taksiran penghasilan kena pajak untuk periode yang bersangkutan. Aset dan liabilitas pajak tangguhan diakui atas beda temporer antara dasar komersial dan fiskal untuk aset dan liabilitas pada setiap tanggal pelaporan. Manfaat pajak pada masa mendatang, seperti akumulasi rugi fiskal yang belum digunakan, diakui sebesar jumlah yang kemungkinan dapat direalisasi.

Pajak tangguhan dihitung dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara substansial telah berlaku pada tanggal laporan posisi keuangan. Perubahan nilai tercatat aset dan liabilitas pajak tangguhan yang disebabkan oleh perubahan tarif pajak dibebankan pada periode berjalan, kecuali untuk transaksi-transaksi yang sebelumnya telah langsung dibebankan atau dikreditkan ke ekuitas.

Perubahan atas liabilitas pajak diakui pada saat ketetapan pemeriksaan diterima atau, jika Perusahaan mengajukan keberatan, ketika hasil dari keberatan tersebut telah ditetapkan.

n. Penyisihan Beban Jasa Karyawan

Perusahaan mengakui penyisihan imbalan kerja karyawan berdasarkan Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan tanggal 25 Maret 2003 (“UU No. 13”) sesuai dengan PSAK No. 24 (Revisi 2004), “Imbalan Kerja”.

Berdasarkan PSAK No. 24 (Revisi 2004), biaya penyisihan imbalan kerja karyawan ditentukan menggunakan metode “projected unit credit actuarial valuation”. Keuntungan dan kerugian aktuarial diakui sebagai penghasilan atau beban apabila akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui pada akhir periode pelaporan sebelumnya melebihi 10% dari nilai kini kewajiban imbalan pasti pada tanggal tersebut. Keuntungan atau kerugian tersebut diakui dengan metode garis lurus sepanjang prakiraan rata-rata sisa umur kerja para karyawan. Selanjutnya, biaya jasa lalu yang timbul dari penerapan program imbalan pasti atau perubahan imbalan terutang pada program imbalan pasti yang sudah ada, diharuskan untuk diamortisasi selama periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi hak atau vested.

(8)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) o. Pelaporan Segmen

Efektif tanggal 1 Januari 2011, Perusahaan menerapkan PSAK No. 5 (Revisi 2009), “Segmen Operasi”. PSAK revisi ini mengatur pengungkapan yang memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi sifat dan dampak keuangan dari aktivitas bisnis yang mana entitas terlibat dan lingkungan ekonomi dimana entitas beroperasi. Tidak terdapat dampak signifikan atas penerapan PSAK yang direvisi tersebut terhadap laporan keuangan.

Segmen adalah bagian khusus dari Perusahaan yang terlibat baik dalam menyediakan produk dan jasa (segmen usaha), maupun dalam menyediakan produk dan jasa dalam lingkungan ekonomi tertentu (segmen geografis), yang memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dari segmen lainnya. Jumlah setiap unsur segmen dilaporkan merupakan ukuran yang dilaporkan kepada pengambil keputusan operasional untuk tujuan pengambilan keputusan untuk mengalokasikan sumber daya kepada segmen dan menilai kinerjanya.

Pendapatan, beban, hasil, aset dan liabilitas segmen termasuk item-item yang dapat diatribusikan langsung kepada suatu segmen serta hal-hal yang dapat dialokasikan dengan dasar yang sesuai kepada segmen tersebut.

p. Laba Bersih Per Saham Dasar

Sesuai dengan PSAK No. 56, “Laba Per Saham”, laba bersih per saham dasar dihitung dengan membagi laba bersih dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang ditempatkan dan disetor penuh selama periode yang bersangkutan.

Jumlah pendapatan (rugi) komprehensif untuk enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 dan sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 masing-masing adalah sebesar (Rp1.257.310.075) dan Rp837.306.083. Jumlah rata-rata tertimbang saham adalah 306 juta saham untuk periode yang berakhir pada tanggal-tanggal 30 September 2011 dan 2010.

q. Instrumen Keuangan

Mulai tanggal 1 Januari 2010, Perusahaan mengadopsi secara prospektif PSAK No. 50 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan” (PSAK No. 50), dan PSAK No. 55 (Revisi 2006), “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran” (PSAK No. 55), yang menggantikan PSAK No. 50, “Akuntansi Investasi Efek Tertentu” dan PSAK No. 55 (Revisi 1999), “Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai”.

PSAK No. 50 (Revisi 2006) mengatur persyaratan tentang penyajian instrumen keuangan dan mengidentifikasi informasi yang harus diungkapkan. Persyaratan penyajian tersebut berlaku terhadap klasifikasi instrumen keuangan, dari perspektif penerbit, dalam aset keuangan, liabilitas keuangan, dan instrumen ekuitas; pengklasifikasian yang terkait dengan suku bunga, dividen, kerugian dan keuntungan, dan keadaan di mana aset keuangan dan liabilitas keuangan akan saling hapus. PSAK ini mensyaratkan pengungkapan, antara lain, informasi mengenai faktor yang mempengaruhi jumlah, waktu dan tingkat kepastian arus kas masa datang yang terkait dengan instrumen keuangan dan kebijakan akuntansi yang digunakan untuk instrumen tersebut.

(9)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

q. Instrumen Keuangan (lanjutan)

PSAK No. 55 (Revisi 2006) mengatur prinsip-prinsip dasar pengakuan dan pengukuran aset keuangan, liabilitas keuangan, dan kontrak pembelian dan penjualan item non keuangan. Pernyataan ini, antara lain, memberikan definisi dan karakteristik terhadap derivatif, kategori instrumen keuangan, pengakuan dan pengukuran, akuntansi lindung nilai dan penetapan hubungan lindung nilai.

i. Aset keuangan

Pengakuan awal

Aset keuangan dalam ruang lingkup PSAK No. 55 (Revisi 2006) diklasifikasikan sebagai aset keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laba atau rugi, pinjaman yang diberikan dan piutang, investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo, dan aset keuangan tersedia untuk dijual. Perusahaan menentukan klasifikasi aset keuangan pada saat pengakuan awal dan, jika diperbolehkan dan sesuai, akan dievaluasi kembali setiap akhir tahun keuangan.

Pembelian atau penjualan aset keuangan yang memerlukan penyerahan aset dalam kurun waktu yang telah ditetapkan oleh peraturan dan kebiasan yang berlaku di pasar (pembelian secara reguler) diakui pada tanggal perdagangan, seperti tanggal perusahaan berkomitmen untuk membeli atau menjual aset.

Aset keuangan Perusahaan mencakup kas dan setara kas, investasi jangka pendek, piutang usaha dan piutang lain-lain, penyertaan saham dan aset tidak lancar lain-lain

Pengukuran setelah pengakuan awal

Pinjaman yang diberikan dan piutang adalah aset keuangan non derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif. Aset keuangan tersebut dicatat pada biaya perolehan diamortisasi menggunakan metode tingkat bunga efektif. Laba atau rugi diakui dalam laporan laba rugi komprehensif pada saat pinjaman dan piutang dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai, serta melalui proses amortisasi.

Kas dan setara kas, investasi jangka pendek, piutang usaha dan piutang lain-lain, penyertaan saham dan aset tidak lancar lain-lain Perusahaan termasuk dalam kategori ini.

ii. Liabilitas Keuangan

Pengakuan awal

Liabilitas keuangan dalam ruang lingkup PSAK No. 55 (Revisi 2006) diklasifikasikan sebagai liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba atau rugi, utang dan pinjaman atau derivatif yang telah ditetapkan untuk tujuan lindung nilai yang efektif, jika sesuai. Perusahaan menentukan klasifikasi liabilitas keuangan pada saat pengakuan awal.

Saat pengakuan awal, liabilitas keuangan diukur pada nilai wajar dan, dalam hal utang dan pinjaman, termasuk biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.

(10)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

q. Instrumen Keuangan (lanjutan)

ii. Liabilitas Keuangan (lanjutan)

Liabilitas keuangan Perusahaan mencakup utang usaha dan utang lain-lain, biaya masih harus dibayar dan utang dividen.

Pengukuran setelah pengakuan awal

Setelah pengakuan awal, utang dan pinjaman yang dikenakan bunga diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Laba dan rugi diakui dalam laporan laba rugi komprehensif pada saat liabilitas tersebut dihentikan pengakuannya serta melalui proses amortisasi.

iii. Saling hapus instrumen keuangan

Aset keuangan dan liabilitas keuangan saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam laporan posisi keuangan jika, dan hanya jika, terdapat hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui dari aset keuangan dan liabilitas keuangan tersebut dan terdapat intensi untuk menyelesaikan dengan menggunakan dasar neto, atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitasnya secara bersamaan.

iv. Nilai wajar instrumen keuangan

Nilai wajar instrumen keuangan yang secara aktif diperdagangkan di pasar keuangan ditentukan dengan mengacu pada kuotasi harga pasar yang berlaku pada penutupan pasar pada akhir periode pelaporan. Untuk instrumen keuangan yang tidak diperdagangkan di pasar aktif, nilai wajar ditentukan dengan menggunakan teknik penilaian. Teknik penilaian tersebut meliputi penggunaan transaksi pasar terkini yang dilakukan secara wajar (arm’s-length market transactions), referensi atas nilai wajar terkini dari instrumen lain yang secara substantial sama, analisis arus kas yang didiskonto, atau model penilaian lainnya.

v. Biaya perolehan diamortisasi dari instrumen keuangan

Biaya perolehan diamortisasi diukur dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi cadangan penurunan nilai dan pembayaran atau pengurangan pokok. Perhitungan ini mencakup seluruh premi atau diskonto pada saat akuisisi dan mencakup biaya transaksi serta komisi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suku bunga efektif.

vi. Penurunan nilai aset keuangan

Pada setiap tanggal laporan posisi keuangan, Perusahaan menilai apakah terdapat bukti yang obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. Sebuah aset keuangan atau kelompok aset keuangan dianggap mengalami penurunan nilai jika, dan hanya jika, terdapat bukti obyektif mengenai penurunan nilai sebagai akibat dari satu atau lebih peristiwa yang telah terjadi setelah pengakuan awal aset tersebut (peristiwa ‘kerugian yang timbul’) dan peristiwa yang merugikan tersebut berdampak pada estimasi arus kas masa depan atas aset keuangan atau kelompok aset keuangan yang dapat diestimasi dengan handal.

(11)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

q. Instrumen Keuangan (lanjutan)

vi. Penurunan nilai aset keuangan (lanjutan)

Bukti adanya penurunan nilai terdiri dari adanya indikasi-indikasi bahwa pelanggan atau sekelompok pelanggan memiliki kesulitan keuangan yang cukup signifikan, pelanggaran atau keterlambatan pembayaran bunga atau pinjaman pokok, kemungkinan bahwa mereka akan pailit atau reorganisasi keuangan lainnya dan dimana data yang dapat diobservasi menunjukkan adanya penurunan pada arus kas masa mendatang yang dapat terukur, seperti perubahan tunggakan atau kondisi ekonomi yang berhubungan dengan pelanggaran-pelanggaran.

Nilai tercatat aset keuangan dikurangi melalui penggunaan pos cadangan dan jumlah kerugian yang terjadi diakui dalam laporan laba rugi komprehensif. Pinjaman yang diberikan dan piutang beserta dengan penyisihan terkait dihapuskan jika tidak terdapat kemungkinan yang realistis atas pemulihan di masa mendatang dan seluruh agunan telah terealisasi atau dialihkan kepada Perusahaan. Jika, pada tahun berikutnya, nilai estimasi kerugian penurunan nilai aset keuangan bertambah atau berkurang karena peristiwa yang terjadi setelah penurunan nilai diakui, maka kerugian penurunan nilai yang diakui sebelumnya bertambah atau berkurang dengan menyesuaikan pos cadangan. Jika pada masa mendatang penghapusan tersebut dapat dipulihkan, jumlah pemulihan tersebut diakui pada laba atau rugi.

vii. Penghentian pengakuan aset dan liabilitas keuangan

Aset keuangan

Penghentian pengakuan atas suatu aset keuangan (atau, apabila dapat diterapkan untuk bagian dari aset keuangan atau bagian dari kelompok aset keuangan sejenis) terjadi bila: (1) hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir; atau (2) Perusahaan memindahkan hak untuk menerima arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut atau menanggung liabilitas untuk membayar arus kas yang diterima tersebut tanpa penundaan yang signifikan kepada pihak ketiga melalui suatu kesepakatan penyerahan dan salah satu diantara (a) Perusahaan secara substansial memindahkan seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset keuangan tersebut, atau (b) Perusahaan secara substansial tidak memindahkan dan tidak memiliki seluruh risiko dan manfaat atas kepemilikan aset keuangan tersebut, namun telah memindahkan pengendalian atas aset tersebut.

Liabilitas keuangan

Liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya ketika liabilitas yang ditetapkan dalam kontrak dihentikan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.

Ketika liabilitas keuangan awal digantikan dengan liabilitas keuangan lain dari pemberi pinjaman yang sama dengan ketentuan yang berbeda secara substansial, atau modifikasi secara substansial atas liabilitas keuangan yang saat ini ada, maka pertukaran atau modifikasi tersebut dicatat sebagai penghapusan liabilitas keuangan awal dan pengakuan liabilitas keuangan baru dan selisih antara nilai tercatat liabilitas keuangan tersebut diakui dalam laba atau rugi.

(12)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) r. Penerapan Standar Akuntansi Revisi Lain

Selain standar akuntansi revisi yang telah disebutkan sebelumnya, Perusahaan juga telah menerapkan standar akuntansi berikut pada tanggal 1 Januari 2011 yang dianggap relevan terhadap laporan keuangan namun tidak menimbulkan dampak yang signifikan:

 PSAK No. 2 (Revisi 2009), “Laporan Arus Kas”.

 PSAK No. 8 (Revisi 2009), “Peristiwa Setelah Periode Pelaporan”.

 PSAK No. 25 (Revisi 2009), “Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi dan Kesalahan”.

 PSAK No. 57 (Revisi 2009), “Provisi, Liabilitias Kontinjensi dan Aset Kontinjensi”.

s. Pernyataan yang telah dikeluarkan tapi belum berlaku efektif

Standar akuntansi yang relevan yang telah dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) sampai dengan tanggal penyelesaian laporan keuangan Perusahaan tetapi belum berlaku efektif untuk enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 adalah sebagai berikut:

Efektif berlaku pada atau setelah tanggal 1 Januari 2012:

* PSAK No. 10 (Revisi 2010), “Pengaruh Perubahan Nilai Tukar”

Menentukan bagaimana memasukkan transaksi mata uang asing dan operasi asing dalam laporan keuangan suatu entitas dan menerjemahkan laporan keuangan ke dalam mata uang presentasi.

* PSAK No. 24 (Revisi 2010), “Imbalan Kerja”

Mengatur akuntansi dan pengungkapan imbalan kerja.

* PSAK No. 46 (Revisi 2010), “Akuntansi Pajak Penghasilan”

Mengatur perlakuan akuntansi untuk pajak penghasilan dalam menghitung konsekuensi pajak kini dan masa depan untuk pemulihan (penyelesaian) jumlah tercatat aset (liabilitas) di masa depan yang diakui pada laporan posisi keuangan; serta transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian lain pada periode kini yang diakui pada laporan keuangan.

* PSAK No. 50 (Revisi 2010), “Instrumen Keuangan: Penyajian”

Menetapkan prinsip penyajian instrumen keuangan sebagai liabilitas atau ekuitas dan saling hapus aset keuangan dan liabilitas keuangan.

* PSAK No. 60, “Instrumen Keuangan: Pengungkapan”

Mensyaratkan pengungkapan dalam laporan keuangan yang memungkinkan para pengguna untuk mengevaluasi signifikansi instrumen keuangan atas posisi dan kinerja keuangan; dan jenis dan besarnya risiko yang timbul dari instrumen keuangan yang mana entitas terekspos selama periode dan pada akhir periode pelaporan, dan bagaimana entitas mengelola risiko-risiko tersebut.

(13)

2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)

s Pernyataan yang telah dikeluarkan tapi belum berlaku efektif (lanjutan) Efektif berlaku pada atau setelah tanggal 1 Januari 2012 (lanjutan) :

* ISAK No. 15, “PSAK No. 24 - Batas Aset Imbalan Pasti, Persyaratan Pendanaan Minimum dan Interaksinya”

Memberikan pedoman bagaimana menilai pembatasan jumlah surplus dalam program imbalan pasti yang dapat diakui sebagai aset dalam PSAK No. 24 (revisi 2010), “Imbalan Kerja”.

* ISAK No. 20, “Pajak Penghasilan - Perubahan Dalam Status Pajak Entitas atau Para Pemegang Saham”

Membahas bagaimana suatu entitas memperhitungkan konsekuensi pajak kini dan pajak tangguhan karena perubahan dalam status pajaknya atau pemegang sahamnya.

Perusahaan sedang mengevaluasi dan belum menentukan dampak dari standar dan interpretasi yang direvisi dan yang baru tersebut terhadap laporan keuangan.

3. SUMBER ESTIMASI KETIDAKPASTIAN

Pertimbangan

Penyusunan laporan keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia mewajibkan manajemen untuk membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah-jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Sehubungan dengan adanya ketidakpastian yang melekat dalam membuat estimasi, hasil sebenarnya yang dilaporkan di masa mendatang dapat berbeda dengan jumlah estimasi yang dibuat.

Pertimbangan berikut ini dibuat oleh manajemen dalam rangka penerapan kebijakan akuntansi Perusahaan yang memiliki pengaruh paling signifikan atas jumlah yang diakui dalam laporan keuangan:

Klasifikasi Aset dan Liabilitas Keuangan

Perusahaan menetapkan klasifikasi atas aset dan liabilitas tertentu sebagai aset keuangan dan liabilitas keuangan dengan mempertimbangkan apakah definisi yang ditetapkan PSAK No. 55 (Revisi 2006) dipenuhi. Dengan demikian, aset keuangan dan liabilitas keuangan diakui sesuai dengan kebijakan akuntansi Perusahaan seperti diungkapkan pada Catatan 2.

Penyisihan atas Penurunan Nilai Piutang Usaha

Perusahaan mengevaluasi akun tertentu yang diketahui bahwa para pelanggannya tidak dapat memenuhi kewajiban keuangannya. Dalam hal tersebut, Perusahaan mempertimbangkan, berdasarkan fakta dan situasi yang tersedia, termasuk namun tidak terbatas pada, jangka waktu hubungan dengan pelanggan dan status kredit dari pelanggan berdasarkan catatan kredit dari pihak ketiga yang tersedia dan faktor pasar yang telah diketahui, untuk mencatat provisi spesifik atas pelanggan terhadap jumlah terhutang guna mengurangi jumlah piutang yang diharapkan dapat diterima oleh Perusahaan.

(14)

3. SUMBER ESTIMASI KETIDAKPASTIAN (lanjutan) Pertimbangan (lanjutan)

Provisi spesifik ini dievaluasi kembali dan disesuaikan jika tambahan informasi yang diterima mempengaruhi jumlah cadangan penurunan nilai piutang. Nilai tercatat dari piutang dagang Perusahaan sebelum cadangan penurunan nilai masing-masing pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Maret 2011 adalah sebesar Rp192.841.707.671 dan Rp187.928.913.307 Penjelasan lebih jauh diungkapkan dalam Catatan 5.

Estimasi dan Asumsi

Asumsi utama masa depan dan sumber utama estimasi ketidakpastian lain pada tanggal pelaporan yang memiliki risiko signifikan bagi penyesuaian yang material terhadap nilai tercatat aset dan liabilitas untuk tahun/periode berikutnya, diungkapkan di bawah ini. Perusahaan mendasarkan asumsi dan estimasi pada parameter yang tersedia pada saat laporan keuangan disusun. Asumsi dan situasi mengenai perkembangan masa depan, mungkin berubah akibat perubahan pasar atau situasi diluar kendali Perusahaan. Perubahan tersebut dicerminkan dalam asumsi terkait pada saat terjadinya. Pensiun dan Imbalan Kerja

Penentuan kewajiban dan biaya pensiun dan liabilitas imbalan kerja Perusahaan bergantung pada pemilihan asumsi yang digunakan oleh aktuaris independen dalam menghitung jumlah-jumlah tersebut. Asumsi tersebut termasuk antara lain, tingkat diskonto, tingkat kenaikan gaji tahunan, tingkat pengunduran diri karyawan tahunan, tingkat kecacatan, umur pensiun dan tingkat kematian. Hasil aktual yang berbeda dari asumsi yang ditetapkan Perusahaan yang memiliki pengaruh lebih dari 10% kewajiban imbalan pasti, ditangguhkan dan diamortisasi secara garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja karyawan. Sementara Perusahaan berkeyakinan bahwa asumsi tersebut adalah wajar dan sesuai, perbedaan signifikan pada hasil aktual atau perubahan signifikan dalam asumsi yang ditetapkan Perusahaan dapat mempengaruhi secara material liabilitas diestimasi atas pensiun dan imbalan kerja dan beban imbalan kerja bersih.

Nilai tercatat atas estimasi liabilitas imbalan kerja Perusahaan masing-masing pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Maret 2011 adalah sebesar Rp16.236.606.000. Penjelasan lebih rinci diungkapkan dalam Catatan 18.

Penyusutan Aset Tetap

Biaya perolehan aset tetap disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan estimasi masa manfaat ekonomisnya. Manajemen mengestimasi masa manfaat ekonomis aset tetap antara 5 sampai dengan 20 tahun. Ini adalah umur yang secara umum diharapkan dalam industri dimana Perusahaan menjalankan bisnisnya. Perubahan tingkat pemakaian dan perkembangan teknologi dapat mempengaruhi masa manfaat ekonomis dan nilai sisa aset, dan karenanya biaya penyusutan masa depan mungkin direvisi. Nilai tercatat bersih atas aset tetap Perusahaan masing-masing pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Maret 2011 adalah sebesar Rp104.518.457.990 dan Rp109.878.532.393. Penjelasan lebih rinci diungkapkan dalam Catatan 8.

Instrumen Keuangan

Perusahaan mencatat aset dan liabilitas keuangan tertentu pada nilai wajar, yang mengharuskan penggunaan estimasi akuntansi. Sementara komponen signifikan atas pengukuran nilai wajar ditentukan menggunakan bukti obyektif yang dapat diverifikasi, jumlah perubahan nilai wajar dapat

(15)

3. SUMBER ESTIMASI KETIDAKPASTIAN (lanjutan) Estimasi dan Asumsi (lanjutan)

Instrumen Keuangan(lanjutan)

berbeda bila Perusahaan menggunakan metodologi penilaian yang berbeda. Perubahan nilai wajar aset dan liabilitas keuangan tersebut dapat mempengaruhi secara langsung laba atau rugi Perusahaan. Nilai tercatat dari aset keuangan pada nilai wajar dalam laporan perubahan posisi keuangan masing-masing pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Maret 2011 adalah sebesar Rp310.779.331.980 danRp325.225.604.477 (Catatan 22), sedangkan nilai tercatat liabilitas keuangan dalam laporan perubahan posisi keuangan masing-masing pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Maret 2011 adalah sebesar Rp85.754.136.618 dan Rp55.320.045.291 (Catatan 22).

Pajak Penghasilan

Pertimbangan signifikan dilakukan dalam menentukan provisi atas pajak penghasilan badan. Terdapat transaksi dan perhitungan tertentu yang penentuan pajak akhirnya adalah tidak pasti sepanjang kegiatan usaha normal. Perusahaan mengakui liabilitas atas pajak penghasilan badan berdasarkan estimasi apakah akan terdapat tambahan pajak penghasilan badan.

Penyisihan Penurunan Nilai Pasar dan Keusangan Persediaan

Penyisihan penurunan nilai pasar dan keusangan persediaan diestimasi berdasarkan fakta dan situasi yang tersedia, termasuk namun tidak terbatas kepada, kondisi fisik persediaan yang dimiliki, harga jual pasar, estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang timbul untuk penjualan. Provisi dievaluasi kembali dan disesuaikan jika terdapat tambahan informasi yang mempengaruhi jumlah yang diestimasi. Nilai tercatat persediaan Perusahaan masing-masing pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Maret 2011 adalah sebesar Rp156.928.282.316dan Rp92.240.275.042 Penjelasan lebih rinci diungkapkan dalam Catatan 6.

4. KAS DAN SETARA KAS

Kas dan setara kas terdiri dari:

Kas dan setara kas terdiri dari :

30 Sept. 2011 31 Maret 2011

Kas

Dolar AS (AS$1.505 pada 30 Sept. 2011

dan AS$3.371 pada 31 Maret 2011) 13,278,615 29,358,039

Rupiah 14,825,883 7,430,514

Sub Jumlah 28,104,498 36,788,553

Bank Pihak ketiga

PT. Bank Sumitomo Mitsui Indonesia Rekening Dolar AS (AS$121.869

pada 30 Sept. 2011 dan AS$372.383

pada 31 Maret 2011) 1,075,249,040 3,243,079,643 Rekening Rupiah 1,662,074,225 410,988,944

(16)

4. KAS DAN SETARA KAS (lanjutan)

Kas dan setara kas terdiri dari :

30 Sept. 2011 31 Maret 2011

Bank Pihak ketiga

PT. Bank Sumitomo Mitsui Indonesia Rekening Yen Jepang

(JPY256.596 pada 30 Sept. 2011

dan JPY112.015 pada 31 Maret 2011) 29,571,098 11,777,011 PT Bank Central Asia Tbk

Rekening Dolar AS (AS$1.044.749 pada 30 Sept. 2011 dan AS$57.273

pada 31 Maret 2011) 9,217,824,486 498,789,338 Rekening Rupiah 4,522,526,832 2,919,724,898 PT Bank Mandiri (Persero)Tbk

Rekening Rupiah 5,163,731,735 3,054,741,861 PT Bank Mizuho Indonesia

Rekening Dolar AS (AS$332.880 pada pada 30 Sept. 2011 dan AS$321.016

pada 31 Maret 2011) 2,937,001,211 2,795,724,251 Rekening Rupiah 743,016,993 151,419,755 The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd. Jakarta

Rekening Dolar AS (AS$588.207 pada 30 Sept. 2011 dan AS$25.915

pada 31 Maret 2011) 5,189,753,449 225,689,729 Rekening Rupiah 3,164,052,581 817,523,463

Sub Jumlah 33,704,801,650 14,129,458,893

Deposito berjangka-Pihak ketiga PT. Bank Sumitomo Mitsui Indonesia

Dolar AS

(AS$3.000.000 pada 30 Sept. 2011

dan AS$8.300.000 pada 31 Maret 2011) 26,469,000,000 72,284,700,000

Rupiah 41,700,000,000 13,000,000,000

PT Bank Mizuho Indonesia Dolar AS

(AS$Nihil pada 30 Sept. 2011

dan AS$1.300.000 pada 31 Maret 2011) - 11,321,700,000 The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd. Jakarta

Dolar AS

(AS$Nihil pada 30 Sept. 2011

dan AS$1.200.000 pada 31 Maret 2011) - 10,450,800,000

Sub Jumlah 68,169,000,000 107,057,200,000

(17)

4. KAS DAN SETARA KAS (lanjutan)

Deposito berjangka dalam Dolar AS memperoleh bunga berkisar antara 0,10% sampai dengan 0,15% per tahun untuk enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 dan antara 0,11% sampai dengan 0,19% per tahun untuk tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2011 dan deposito berjangka dalam Rupiah memperoleh bunga berkisar antara 5,35% sampai dengan 5,95% per tahun untuk Enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 dan 5,50% sampai dengan 5,80% per tahun untuk tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2011.

5. PIUTANG USAHA

Rincian piutang usaha adalah sebagai berikut:

30 Sept. 2011 31 Maret 2011

Pihak ketiga

PT Semen Tonasa 18,452,446,097 12,280,139,256 PT PLN (Persero) 17,109,819,540 3,974,300,000 PT Kinden Indonesia 5,514,382,190 486,641,150 PT Surya Cakra Mandiri 4,967,254,492 3,265,740,459 PT Siemens Indonesia 4,623,823,866 2,105,040,294 JGC Philippines 4,486,514,028 3,902,955,768 PT BICC Berca Cables 3,244,016,600 -PT Alstom Grid 3,219,784,429 -PT Tripatra Engineer&Constructors 3,177,348,530 495,661,525 PT Nippon Steel Construction Indonesia 3,141,402,152 -PT Adhi Karya (Persero) Tbk 3,043,699,999 -CTCI Corporation, Taiwan 2,831,309,523 -PT Schneider Indonesia 2,270,884,603 1,048,241,618 PT Dastech 2,259,096,793 -PT Gunanusa Utama Fabricators 1,969,094,377 2,004,750,140 PT Kuarta Putra Pratama 1,801,883,788 1,534,899,719 PT Maju Alam Mandiri Internasional 1,702,060,934 -PT Rekayasa Industri 1,692,940,478 2,566,602,015 PT Spinmill Indah Industry 1,567,679,213 3,013,346,028 Sumisetsu Philippines 1,416,091,500 63,053,160 PT ODG Worlmard Indonesia 1,407,825,508 -Yurtec Corporation, Vietnam 1,385,211,000 -PT Swadaya Graha 1,164,821,678 2,395,812,963 JGC Corporation, Jepang 10,874,348 37,809,925,719 PT Manorian Elektrisindo Perkasa - 3,973,524,679 PT Tosplant Engineering Indonesia - 2,189,545,940 PT Meindo Elang Indah - 1,832,645,298 PT Jayantara Artha Mandiri - 1,609,790,361 PT Areva T&D - 1,408,437,804

(18)

5. PIUTANG USAHA (lanjutan)

30 Sept. 2011 31 Maret 2011

Pihak ketiga

PT Adiguna Shipbuilding & Engineering - 1,135,638,983 Lain-lain (masing-masing

dibawah Rp. 1 Miliar) 8,495,885,391 8,586,553,779

Sub-jumlah 100,956,151,057 97,683,246,658

Dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu 532,096,088 532,096,088

Bersih 100,424,054,969 97,151,150,570

Pihak berelasi (Catatan 12) Sumitomo Electric Industries Ltd.,

Jepang 76,372,387,733 74,670,442,763

PT Taiyo Sinar Raya Teknik 12,039,789,795 14,646,459,809 Sumitomo Electric (Thailand), Ltd.,Thailand 2,816,971,266 862,622,705 Sumitomo Electric Industrial Wire & Cable

Inc., Jepang 384,788,676 -Sumitomo Electric USA.,Inc 152,545,259

PT Karya Sumiden Indonesia 119,073,885 -SEI Philippines Incorporated, Filipina - 66,141,372

Sub-jumlah 91,885,556,614 90,245,666,649

Jumlah 192,309,611,583 187,396,817,219

Ringkasan piutang usaha menurut jenis mata uang adalah sebagai berikut :

30 Sept. 2011 31 Maret 2011 Pihak ketiga Dolar AS 41,159,243,385 75,118,450,183 Dolar Singapura 771,221,502 -Rupiah 59,025,686,170 22,564,796,475 Sub-Jumlah 100,956,151,057 97,683,246,658

Dikurangi cadangan penurunan nilai 532,096,088 532,096,088

Bersih 100,424,054,969 97,151,150,570 Pihak berelasi Dolar AS 90,813,384,017 88,888,471,902 Rupiah 1,072,172,597 1,357,194,747 Sub-Jumlah 91,885,556,614 90,245,666,649 Jumlah 192,309,611,583 187,396,817,219

(19)

5. PIUTANG USAHA (lanjutan)

Rincian umur piutang usaha pihak ketiga dihitung sejak tanggal faktur adalah sebagai berikut :

30 Sept.2011 31 Maret 2011

1 bulan atau kurang 37,610,506,314 65,379,235,054 > 1 bulan - 3 bulan 32,031,072,434 21,307,498,193 > 3 bulan - 6 bulan 15,225,464,073 8,832,194,599 > 6 bulan - 1 tahun 13,891,596,835 1,604,905,799 > 1 tahun 2,197,511,401 559,413,013

Jumlah 100,956,151,057 97,683,246,658

Rincian umur piutang berelasi dihitung sejak tanggal faktur adalah sebagai berikut :

30 Sept.2011 31 Maret 2011

1 bulan atau kurang 82,159,819,852 89,316,902,572 > 1 bulan - 3 bulan 6,555,558,720 928,764,077 > 3 bulan - 6 bulan 3,170,178,042

-Jumlah 91,885,556,614 90,245,666,649

Cadangan penurunan nilai sebesar Rp532.096.088 pada 30 September 2011 dan 31 Maret 2011. Berdasarkan hasil penelaahan keadaan akun piutang masing-masing pelanggan pada akhir periode, manajemen Perusahaan berpendapat bahwa cadangan penurunan nilai yang dibentuk cukup untuk menutup kemungkinan kerugian atas tidak tertagihnya piutang usaha.

6. PERSEDIAAN

Persediaan terdiri dari:

30 Sept. 2011 31 Maret 2011

Barang jadi 34,028,262,256 33,554,729,674

Barang dalam proses 94,606,650,012 33,497,823,649

Bahan baku 18,493,211,959 17,138,535,013

Suku Cadang 8,049,186,706 8,049,186,706 Barang dalam perjalanan 1,750,971,383

(20)

6. PERSEDIAAN (lanjutan)

Persediaan telah diasuransikan terhadap risiko kerugian akibat kebakaran dan risiko kerugian lainnya berdasarkan suatu paket polis tertentu dengan nilai pertanggungan sebesar Rp37.000.000.000 masing-masing pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Maret 2011. Manajemen Perusahaan berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutup kemungkinan kerugian terhadap risiko-risiko tersebut.

Berdasarkan hasil penelaahan terhadap keadaan persediaan pada akhir periode, manajemen Perusahaan berkeyakinan bahwa tidak diperlukan pembentukan penyisihan persediaan usang.

7. PAJAK DIBAYAR DI MUKA

Akun ini terdiri dari:

30 Sept. 2011 31 Maret 2011

Pajak pertambahan nilai-bersih 6,152,653,060 3,281,765,412 Tagihan pajak penghasilan (Catatan 10)

Tahun 2009 - 17,440,448,502 Tahun 2010 7,318,654,248 7,318,654,248 Periode 01 Januari 2011-31 Maret 2011 196,215,452 196,215,452 Periode 01 April 2011-30 September 2011 1,478,290,198

-Jumlah 15,145,812,958 28,237,083,614

Rincian ketetapan pajak atas pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai (“PPN”) adalah sebagai berikut:

a) Pada tanggal 3 Februari 2003, Perusahaan menerima beberapa Surat Tagihan Pajak (STP) atas denda pajak untuk tahun 1998 dan 1999 dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Pajak sebesar Rp2.040.011.970.

Pada tanggal 2 September 2004, Kantor Pajak mengkompensasi denda pajak untuk tahun 1998 dan 1999 sebesar Rp2.040.011.970 dengan restitusi PPN untuk periode pajak bulan Desember 2003. Kompensasi ini dicatat sebagai bagian dari akun “Aset Tidak Lancar - Lain-Lain” pada laporan posisi keuangan tahun 2009.

Setelah melalui tahapan-tahapan prosedur perpajakan dalam usaha mendapatkan restitusi atas STP tersebut di atas, akhirnya pada tanggal 28 Oktober 2010, Perusahaan menerima putusan dari Mahkamah Agung Republik Indonesia dalam putusan No.27/B/PK/PJK/2007 tanggal 24 Mei 2010, yang menolak “Permohonan Peninjauan Kembali” atas Surat Tagihan Pajak (STP) yang dikeluarkan pada tanggal 3 Februari 2003 atas PPN untuk tahun pajak periode November 1998 sebesar Rp74.660.867. Oleh sebab itu, Perusahaan tidak dapat memperoleh restitusi atas pembayaran yang telah dilakukan untuk STP tersebut.

Berdasarkan putusan tersebut, Perusahaan kemudian memutuskan untuk menghapus seluruh tagihan Perusahaan kepada Kantor Pajak atas STP PPN untuk tahun pajak 1998 dan 1999 sebesar Rp2.040.011.970, yang penghapusannya telah disetujui oleh manajemen Perusahaan, dan dicatat sebagai bagian dari akun “Beban Operasi Lainnya” pada laporan laba rugi komprehensif tahun 2010.

(21)

7. PAJAK DIBAYAR DI MUKA (lanjutan)

b) Berdasarkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) tanggal 6 November 2009, Dirjen Pajak mengharuskan Perusahaan untuk membayar kekurangan pembayaran atas PPN periode pajak Juli-Desember 2008 dengan jumlah sebesar Rp2.044.958.893 atas permohonan restitusi PPN untuk periode yang sama sebesar Rp950.275.477. Pada tanggal 3 Desember 2009, Perusahaan mengajukan keberatan atas SKPKB tersebut. Pada tanggal 2 September 2010, Direktur Jendral Pajak menyetujui keberatan tersebut dan mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) untuk PPN periode pajak Juli-Desember 2008 dengan jumlah sebesar Rp947.979.334. Perusahaan telah menerima restitusi PPN ini pada tanggal 5 Oktober 2010.

Dengan adanya SKPLB tersebut, maka Perusahaan memiliki sisa saldo PPN yang tidak tertagih sebesar Rp2.296.143, yang telah dicatat sebagai bagian dari akun “Beban Operasi Lainnya” pada laporan laba rugi komprehensif tahun 2010.

c) Pada tanggal 31 Desember 2009, Perusahaan mengajukan restitusi PPN ke Kantor Pajak untuk periode pajak Januari-April 2009 dan Mei-September 2009 dengan jumlah masing-masing sebesar Rp1.229.436.113 dan Rp2.414.400.188. Pada tanggal 18 Maret 2010, Perusahaan menerima SKPLB atas PPN untuk periode pajak Januari-April 2009 sebesar Rp31.163.126. Perusahaan telah menerima restitusi PPN ini pada tanggal 23 April 2010.

Kemudian Perusahaan mengajukan keberatan kepada Kantor Pajak atas SKPLB tersebut pada tanggal 20 Mei 2010. Pada tanggal 21 Februari 2011, Perusahaan menerima keputusan dari Kantor Pajak atas keberatan tersebut yang menyetujui lebih bayar PPN sebesar Rp1.198.272.987 untuk periode pajak Januari-April 2009. Perusahaan telah menerima restitusi PPN ini pada tanggal 5 April 2011.

Pada bulan Oktober 2010, Kantor Pajak menyetujui restitusi PPN untuk periode pajak Mei-September 2009 sebesar Rp2.414.400.188. Perusahaan telah menerima restitusi PPN ini pada tanggal 22 Oktober 2010.

d) Pada bulan April 2011, Kantor Pajak menyetujui restitusi atas tagihan pajak penghasilan Perusahaan untuk tahun pajak 2009 sebesar Rp17.434.033.142.

(22)

8. ASET TETAP

Rincian aset tetap sebagai berikut :

30 Sept. 2011 Saldo Awal Penambahan Pengurangan Saldo Akhir

Biaya Perolehan Pemilikan Langsung

Tanah 16,143,300,000 - - 16,143,300,000 Bangunan 30,480,830,710 411,119,046 - 30,891,949,756 Prasarana 13,827,906,087 148,690,499 - 13,976,596,586 Mesin dan peralatan 192,849,825,935 1,501,177,076 672,261,094 193,678,741,917 Peralatan dan perabot kantor 3,470,509,153 93,630,978 - 3,564,140,131 Kendaraan 7,943,177,020 11,000,000 1,165,500,000 6,788,677,020 Jumlah Biaya Perolehan 264,715,548,905 2,165,617,599 1,837,761,094 265,043,405,410 Akumulasi Penyusutan

Pemilikan Langsung

Bangunan 15,977,368,241 673,743,283 - 16,651,111,524 Prasarana 8,146,071,717 342,936,190 - 8,489,007,907 Mesin dan peralatan 122,368,154,328 5,708,216,053 391,867,232 127,684,503,149 Peralatan dan perabot kantor 2,612,749,361 138,122,186 - 2,750,871,547 Kendaraan 5,732,672,865 382,280,428 1,165,500,000 4,949,453,293 Jumlah Akumulasi

Penyusutan 154,837,016,512 7,245,298,140 1,557,367,232 160,524,947,420

Nilai Buku 109,878,532,393 104,518,457,990

31 Maret 2011 Saldo Awal Penambahan Pengurangan Saldo Akhir

Biaya Perolehan Pemilikan Langsung

Tanah 16,143,300,000 - - 16,143,300,000 Bangunan 30,369,881,690 110,949,020 - 30,480,830,710 Prasarana 13,756,109,212 71,796,875 - 13,827,906,087 Mesin dan peralatan 191,539,862,650 1,309,963,285 - 192,849,825,935 Peralatan dan perabot kantor 3,333,316,443 137,192,710 - 3,470,509,153 Kendaraan 7,899,482,020 43,695,000 - 7,943,177,020 Aset dalam penyelesaian 406,083,762 - 406,083,762 -Jumlah Biaya Perolehan 263,448,035,777 1,673,596,890 406,083,762 264,715,548,905 Akumulasi Penyusutan

Pemilikan Langsung

Bangunan 15,648,931,690 328,436,551 - 15,977,368,241 Prasarana 7,978,833,755 167,237,962 - 8,146,071,717 Mesin dan peralatan 119,343,891,424 3,024,262,904 - 122,368,154,328 Peralatan dan perabot kantor 2,554,868,533 57,880,828 - 2,612,749,361 Kendaraan 5,545,087,365 187,585,500 - 5,732,672,865 Jumlah Akumulasi

Penyusutan 151,071,612,767 3,765,403,745 - 154,837,016,512

(23)

8. ASET TETAP (lanjutan)

Pada tanggal 31 Desember 2010, aset dalam penyelesaian berupa mesin sebesar Rp406.083.762 dengan presentase penyelesaian sebesar 90%. Pada bulan Januari 2011, mesin tersebut telah selesai dan digunakan.

Pengurangan aset tetap termasuk penjualan aset tetap dengan rincian sebagai berikut:

Pengurangan aset tetap juga termasuk penghapusan aset tetap dengan nilai buku sebesar Rp280.393.862 pada September 2011.

Penyusutan dibebankan pada beban pokok penjualan sebesar Rp7.245.298.140 dan Rp3.765.403.745 masing-masing untuk enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 dan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2011.

Aset tetap, kecuali tanah, diasuransikan terhadap risiko kerugian akibat kebakaran dan risiko kerugian lainnya berdasarkan suatu paket polis tertentu dengan nilai pertanggungan sebesar Rp131.000.000.000 masing-masing pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Maret 2011. Manajemen Perusahaan berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutup kemungkinan kerugian terhadap risiko-risiko tersebut.

Perusahaan memiliki sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) atas tanah yang dimiliki sebagai berikut:

Nomor HGB Tanggal Berakhir HGB

____________ ___________________

HGB No. 252/Tangerang, Banten 26 Juli 2014

HGB No. 165/Tangerang, Banten 17 Agustus 2028

HGB No. 344/Tangerang, Banten 21 November 2036 Manajemen berkeyakinan bahwa HGB tersebut di atas dapat diperpanjang pada saat masa berlakunya habis.

Berdasarkan evaluasi manajemen Perusahaan, seperti yang disyaratkan dalam PSAK No. 48, tidak terdapat kejadian-kejadian atau perubahan-perubahan keadaan yang mengindikasikan adanya penurunan nilai aset Perusahaan.

(24)

9. UTANG USAHA

Rincian utang usaha adalah sebagai berikut :

30 Sept. 2011 31 Maret 2011

Pihak ketiga

PT Riken Indonesia 6,336,436,673 5,384,782,974 PT Tembaga Mulia Semanan Tbk. 3,992,775,772 -PT Walsin Lippo Industries 3,102,229,665 622,016,622 CV Sinar Mulia 522,706,300 208,092,600 PT Permata Buana Nusantara 346,844,129 48,094,582 CV Paku Alam 299,421,100 312,784,200 PT Insat Inti Indonesia 97,539,000 892,905,800 Lain-lain (masing-masing

dibawah Rp. 1 Miliar) 1,698,452,698 592,019,765

Sub-jumlah 16,396,405,337 8,060,696,543

Pihak berelasi (Catatan 12)

PT Karya Sumiden Indonesia 56,063,520,134 39,696,900,481 Sumitomo Electric International

(Singapore) Pte. Ltd., Singapura 2,143,605,817 455,419,302 PT Sumiden Serasi Wire Product 6,155,984 -Sumitomo Electric Industries

Ltd., Jepang - 22,648,973

Sub-jumlah 58,213,281,935 40,174,968,756

Jumlah 74,609,687,272 48,235,665,299

Rincian umur utang usaha pihak ketiga dihitung sejak tanggal faktur adalah sebagai berikut:

30 Sept. 2011 31 Maret 2011

1 bulan atau kurang 16,142,889,977 7,025,944,823

> 1 bulan - 3 bulan 145,515,360 1,025,212,020

> 3 bulan - 6 bulan 108,000,000 9,539,700

Jumlah 16,396,405,337 8,060,696,543

Umur utang usaha pihak berelasi dihitung sejak tanggal faktur adalah 1 bulan atau kurang pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Maret 2011.

(25)

9. UTANG USAHA (lanjutan)

Ringkasan utang usaha menurut jenis mata uang adalah sebagai berikut:

30 Sept. 2011 31 Maret 2011 Pihak ketiga Dolar AS 13,473,698,941 6,157,979,142 Rupiah 2,922,706,396 1,902,717,401 Sub-Jumlah 16,396,405,337 8,060,696,543 Pihak berelasi Dolar AS 58,213,281,935 40,174,968,756 Jumlah 74,609,687,272 48,235,665,299 10. UTANG PAJAK

Utang pajak terdiri dari:

30 Sept. 2011 31 Maret 2011 Pajak penghasilan Pasal 4 (2)-final 1,027,865 44,276,600 Pasal 21 262,385,596 193,295,551 Pasal 23 16,157,443 19,154,831 Pasal 26 4,736,976 13,118,923 Jumlah 284,307,880 269,845,905

Rekonsiliasi antara laba (rugi) sebelum beban (manfaat) pajak, seperti yang disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif, dan estimasi penghasilan kena pajak (rugi fiskal) untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 dan 2010 adalah sebagai berikut:

Apri-Sept. 2011 Januari-Sept. 2010

(Enam Bulan) (Sembilan Bulan)

Laba (rugi) sebelum beban (manfaat) pajak sesuai dengan laporan laba rugi

komprehensif (1,509,207,092) 1,637,842,560 Penghasilan bunga yang dikenakan

pajak final (617,255,726) (300,151,284) (2,126,462,818)

(26)

10. UTANG PAJAK (lanjutan)

Apri-Sept. 2011 Januari-Sept. 2010

(Enam Bulan) (Sembilan Bulan)

Beda temporer

Penyusutan aset tetap 930,001,382 66,631,741 Laba (rugi) pelepasan aset tetap (280,393,862) 37,854,347 Beda tetap

Sumbangan 91,367,650 48,109,000 Jamuan dan representasi 403,257,471 253,741,391 Gaji dan kesejahteraan karyawan (85,214,286) 546,839,054 Lain-lain 709,463,916 1,015,765,884

Estimasi penghasilan kena pajak

(rugi fiskal) (357,980,547) 3,306,632,693

Perhitungan beban pajak kini dan taksiran tagihan pajak penghasilan adalah sebagai berikut:

30 Sept. 2011 30 Sept. 2010

Estimasi penghasilan kena pajak

(rugi fiskal) - 3,306,632,000 Beban pajak kini - 826,658,000 Dikurangi pajak penghasilan dibayar dimuka

Pasal 22 531,384,000 469,101,575 Pasal 23 62,715,692 192,883,017 Pasal 25 884,190,506 10,026,524,793

Jumlah 1,478,290,198 10,688,509,385

Estimasi tagihan pajak penghasilan (1,478,290,198) (9,861,851,385)

Manfaat (beban) pajak tangguhan atas beda temporer untuk enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 dan Sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010, adalah sebagai berikut:

30 Sept. 2011 30 Sept. 2010

Pengaruh beda temporer dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku

Rugi fiskal 89,495,137 -Aset tetap 162,401,880 26,121,523

(27)

10. UTANG PAJAK (lanjutan)

Rincian asset pajak tangguhan adalah sebagai berikut :

30 Sept. 2011 31 Maret 2011

Gaji dan kesejahteraan karyawan 4,059,151,500 4,059,151,500

Aset tetap 3,972,810,355 3,810,408,475

Rugi fiskal 1,433,408,841 1,343,913,704

Manfaat pajak tangguhan - bersih 9,465,370,696 9,213,473,679 Rekonsiliasi antara beban pajak yang dihitung dengan menggunakan tarif pajak berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku dengan laba (rugi) sebelum beban (manfaat) pajak dan beban (manfaat) pajak sesuai laporan laba rugi komprehensif untuk enam bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 dan sembilan bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2010 adalah sebagai berikut:

.

30 Sept. 2011 30 Sept. 2010

Laba (rugi) sebelum beban (manfaat)

pajak (1,509,207,092) 1,637,842,560

Dikurangi : Penghasilan bunga

yang dikenakan pajak final (617,255,726) (300,151,284)

Jumlah (2,126,462,818) 1,337,691,276

Beban (manfaat) pajak berdasarkan

tarif pajak yang berlaku (531,615,705) 334,422,644 Pengaruh pajak atas beda tetap

Sumbangan 22,841,913 12,027,250 Jamuan dan representasi 100,814,368 63,435,348 Gaji dan kesejahteraan karyawan (21,303,572) 136,709,764 Lain-lain 177,365,979 253,941,471

Beban (manfaat) Pajak (251,897,017) 800,536,477

11. UANG MUKA PELANGGAN

Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Maret 2011, akun ini merupakan uang muka atas pemesanan penjualan yang diterima dari pelanggan.

(28)

12. SALDO DAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK-PIHAK BERELASI

Dalam kegiatan usaha normal, Perusahaan melakukan transaksi dengan pihak-pihak berelasi, yang terdiri dari penjualan produk, pembelian bahan baku, komisi, royalti dan penyediaan jasa manajemen dan profesional.

Rincian transaksi signifikan dan saldo akun dengan pihak-pihak berelasi (afiliasi) adalah sebagai berikut:.

Persentase dari Jumlah Aset/ Liabilitas/Pendapatan atau

Jumlah Beban yang bersangkutan (%)

30 Sept. 2011 31 Maret 2011 30 Sept. 2011 31 Maret 2011

Piutang usaha Sumitomo Electric

Industries Ltd., Jepang 76,372,387,733 74,670,442,763 12.76 13.16 PT Taiyo Sinar Raya Tehnik 12,039,789,795 14,646,459,809 2.01 2.58 Sumitomo Electric (Thailand) Ltd

Thailand 2,816,971,266 862,622,705 0.47 0.15 Sumitomo Electric Industrial Wire &

Cable Inc., Jepang 384,788,676 - 0.06 -Sumitomo Electric USA.,Inc 152,545,259 - 0.03 -PT. Karya Sumiden Indonesia 119,073,885 - 0.02 -SEI Philippines Incorporated,

Filipina - 66,141,372 - 0.01

Jumlah 91,885,556,614 90,245,666,649 15.35 15.90

Piutang lain-lain

PT Karya Sumiden Indonesia 19,800,000 19,440,000 0,00 0,00

Utang usaha

PT Karya Sumiden Indonesia 56,063,520,134 39,696,900,481 48.52 49.53 Sumitomo Electric International

(Singapore) Pte Ltd., Singapura 2,143,605,817 455,419,302 1.86 0.57 Sumitomo Electric

Industries Ltd., Jepang 6,155,984 22,648,973 0,00 0.02 SEI Optical Fiber and Cable

(Shenzen) Co..Ltd - - - -Jumlah 58,213,281,935 40,174,968,756 50.38 50.12

Biaya masih harus dibayar : Royalti

Sumitomo Electric

(29)

12. SALDO DAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK-PIHAK BERELASI (lanjutan)

Persentase dari Jumlah Aset/ Liabilitas/Pendapatan atau

Jumlah Beban yang bersangkutan (%)

30 Sept. 2011 31 Maret 2011 30 Sept. 2011 31 Maret 2011

Biaya masih harus dibayar : Komisi

Sumitomo Electric

Industries Ltd., Jepang 870,130,908 391,905,000 0.75 0.49 SEI Philippines Incorporated,

Filipina 26,469,000 26,127,000 0.02 0.03 Lain-lain

Sumitomo Electric

Industries Ltd., Jepang - 87,592,758 - 0.11 Jumlah 896,599,908 506,043,182 0.77 0.63

30 Sept. 2011 30 Sept. 2010 30 Sept. 2011 30 Sept. 2010

Penjualan Sumitomo Electric

Industries Ltd., Jepang 435,010,552,021 445,317,132,380 64.43 51.87 PT Taiyo Sinar Raya Tehnik 16,641,274,319 7,229,497,046 2.46 0.84 PT Karya Sumiden Indonesia 13,542,718,724 23,926,187,689 2.01 2.79 Sumitomo Electric (Thailand) Ltd.,

Thailand 6,981,975,658 130,871,908 1.03 0.02 SEI Philippines Incorporated,

Filipina 1,201,027,845 1,032,717,240 0.18 0.12 Sumitomo Electric Industrial Wire &

Cable Inc., Jepang 746,276,580 668,050,714 0.11 0.08 Sumitomo Electric Asia Hongkong 373,399,104 - 0.06 -Sumitomo Electric USA.,Inc 148,309,331 - 0.02 -J.Power System Corp.,

Jepang 104,642,684 10,116,106,412 0.02 1.18 Hokkaido Electric Industries

Ltd., Jepang - 4,491,741,376 - 0.52 Toyokuni Electric Cable Co.,

Ltd., Jepang - 1,110,678,300 - 0.13 Jumlah 474,750,176,266 494,022,983,065 70.32 57.55

Pembelian

PT Karya Sumiden Indonesia 574,242,615,998 674,401,510,822 88.86 82.68 Sumitomo Electric International

(Singapore) Pte Ltd., Singapura 14,203,810,448 21,569,099,019 2.20 2.64 Sumitomo Electric

Industries Ltd., Jepang 180,200,261 452,068,692 0.03 0.06 PT Sumiden Serasi Wire Products 18,221,904 20,324,177 0.00 0.00 Jumlah 588,644,848,611 696,443,002,710 91.09 85.38

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :