• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "RENCANA PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-1

BAB 4

RENCANA PROGRAM INVESTASI INFRASTRUKTUR

4.1. Rencana Pengembangan Permukiman

A. Petunjuk Umum

Permukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Pemerintah

wajib memberikan akses kepada masyarakat untuk dapat memperoleh

permukiman yang layak huni, sejahtera, berbudaya dan berkeadilan sosial.

Pengembangan permukiman ini meliputi pengembangan prasarana dan sarana

dasar perkotaan, pengembangan permukiman yang terjangkau (bagi masyarakat

berpenghasilan rendah-MBR), pengembangan ekonomi dan sosial budaya.

Sub Bidang Pengembangan Permukiman pada Bidang Cipta Karya

Departemen Pekerjaan Umum memiliki program/ kegiatan yang bertujuan

mengembangkan wilayah perkotaan dan pedesaan. Tujuan pengembangan

permukiman adalah sebagai berikut:

1. memenuhi kebutuhan pengembangan permukiman (prasarana dan sarana

dasar permukiman);

2. Terwujudnya permukiman yang layak dalam lingkungan sehat, aman,

serasi dan teratur;

3. mengarahkan pertumbuhan wilayah;

4. menunjang kegiatan ekonomi melalui kegiatan pengembangan

permukiman.

Program/ kegiatan pengembangan permukiman dapat dibedakan menjadi:

1. Program Pengembangan Kawasan Permukiman Perkotaan

a. Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar bagi Kawasan Rumah

Sederhana (RSH);

b. Penataan dan Peremajaan Kawasan;

(2)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-2

Pembangunan Rusunawa di Kabupaten Cilacap dirasakan sudah

mendesak karena kepadatan penduduknya pertumbuhan wilayah

yang sangat cepat.

d. Peningkatan Kualitas Permukiman.

2. Program Pengembangan Kawasan Permukiman Pedesaan

a. Pengembangan Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa

(KTP2D);

b. Pengembangan Kawasan Agropolitan;

c. Pengembangan Prasarana dan Sarana Eks Transmigrasi;

d. Penyediaan Prasarana dan Sarana Permukiman di Pulau Kecil dan

Terpencil;

e. Pengembangan Prasarana dan Sarana Kawasan Perbatasan;

f. Penediaan Prasarana dan Sarana dalam rangka Penanganan

Bencana.

Tidak semua program dapat diterapkan di Kabupaten Cilacap, seperti angka

2 c dan e di atas tidak ada lokasi eks transmigrasi, dan tidak ada Kawasan

Perbatasan dengan Negara Luar sehingga tidak perlu diprogramkan.

4.1.1. Profil Pembangunan Permukiman 4.1.1.1 Kondisi Umum

Pengembangan Permukiman baik di perkotaan maupun di pedesaan pada

hakekatnya adalah untuk mewujudkan kondisi perkotaan dan pedesaan yang

sehat dan layak huni (liveble), aman, nyaman, damai dan berkelanjutan serta

meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

Demikian juga Pemerintah Kabupaten Cilacap selama ini telah melakukan

(3)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-3

1) Penyediaan Prasarana dan Sarana Dasar bagi Kawasan RSH di

kawasan Sampang dan Jeruklegi serta Kesugihan dan kawasan kota

lainnya;

2) Penataan dan Peremajaan Kawasan di kawasan Pemukiman Kumuh

Nelayan berupa peningkatan jalan lingkungan dan sanitasi lingkungan

serta air limbah;

3) Peningkatan Kualitas Permukiman, bagi masyarakat miskin yang

tersebar di beberapa lokasi di Kabupaten Cilacap;

4) Pembangunan Rusunawa untuk nelayan.

Untuk mempercepat pertumbuhan

dan pengembangan permukiman,

Pemerintah Kabupaten Cilacap baru

akan merencanakan Desa Pusat

Pertumbuhan (DPP) di beberapa

lokasi. Penetapan DPP dengan

memperhatikan banyak faktor,

antara lain potensi ekonomi kawasan,

jumlah penduduk, prasarana dan sarana

dasar serta potensi-potensi lain yang

belum tergali yang diperkirakan akan

mampu meningkatkan kawasan

menjadi lebih mandiri dan

berkembang.

Di sisi lain terdapat lingkungan

permukiman yang telah berkembang

sangat cepat dengan jumlah penduduk

(4)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-4

lingkungan permukiman menjadi kumuh (slum area) serta terbatasnya

prasarana dan sarana dasar.

1) Pengembangan Kawasan Permukiman Pedesaan

Pengembangan kawasan permukiman pedesaan di Kabupaten Cilacap

diarahkan pada Pengembangan Kawasan Terpilih Pusat

Pengembangan Desa (KTP2D) dan Pengembangan Kawasan

Agropolitan.

a) Pembangunan Kawasan Terpilih Pusat Pertumbuhan Desa

(KTP2D)

Pembangunan Kawasan Terpilih Pusat Pertumbuhan Desa

(KTP2D) merupakan pendekatan pembangunan kawasan

pedesaan dengan cara mengembangkan potensi unggulannya,

yaitu suatu sumber daya dominan baik yang belum diolah

(eksplor) maupun sumber daya yang tersembunyi berupa sumber

daya alam, sumber daya buatan ataupun sumber daya manusia

yang difokuskan pada kemandirian masyarakat sesuai dengan

azas Tridaya yang intinya adalah pemberdayaan masyarakat,

ekonomi dan pendayagunaan prasarana dan sarana permukiman.

Kabupaten Cilacap pada tahun 2009 akan mulai melakukan

identifikasi wilayah yang layak untuk masuk dalam program

KTP2D.

Keberadaan KTP2D diharapkan mampu melayani desa-desa yang

berada di kawasan tersebut sehingga kawasan menjadi lebih

mandiri dan saling melengkapi kebutuhan prasarana dan

sarananya.

b) Pembangunan Kawasan Agropolitan

Selain pengembangan kawasan pedesaan dengan konsep

KTP2D, Kabupaten Cilacap juga mengembangkan kawasan

agropolitan. Kawasan yang akan dikembangkan sebagai kawasan

(5)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-5

sekitarnya. Dimana Kecamatan Majenang akan menjadi Kota Tani

Utama sedangkan Kota tani disekitarnya sebagai hinterland yang

meliputi Kecamatan Dayeuhluhur, Wanareja, Cimanggu dan

Karangpucung serta Kecamatan Cipari.

Agribisnis sebagai suatu sistem perlu disediakan infrastruktur

dasar dan pendukungnya, seperti: jaringan jalan, air bersih,

sarana pengolahan, pemasaran serta adanya kemandirian sumber

daya manusia dan kelembagaan yang memadai (suprastruktur)

dan berakar kuat. Artinya bahwa membangun kawasan pedesaan

dengan kegiatan utama agribisnis, tak pelak lagi merupakan

pembangunan sub sistem infrastruktur dan suprastruktur dalam

suatu sistem kawasan agropolitan.

Agropolitan (kota dengan basis ekonomi pertanian) merupakan

salah satu upaya memepercepat pembangunan pedesaan

sehingga tidak lagi bertumpu pada pusat-pusat pertumbuhan yang

biasanya terletak di pusat-pusat kota. Melalui agropolitan, desa

dengan fasilitas kota akan tumbuh dan berkembang karena

berjalannya sistem agribisnis yang mampu melayani, mendorong,

menarik kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) wilayah

sekitarnya sehingga menjadi suatu sistem kawasan yang

komplementer dan terpadu.

Diharapkan melalui pengembangan kawasan agropolitan ini,

dapat meningkatkan:

- Keterkaitan desa dan kota sehingga dapat diwujudkan sinergi

pertumbuhan antar wilayah pedesaan dan perkotaan;

- Mendorong tumbuhnya wilayah-wilayah pedesaan melalui

pengembangan potensi wilayah terutama di bidang usaha

pertanian dengan sistem agribisnis yang berdaya saing tinggi,

berbasis kerakyatan dan berkelanjutan;

(6)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-6 - Mewujudkan platform daya saing agribisnis Kabupaten Cilacap

agar mampu menarik investor untuk terlibat secara intensif

dalam pendayagunaan potensi daerah;

- Pendapatan dan kesejahteraan warga masyarakat.

c) Penyediaan Prasarana dan Sarana dalam Rangka Penanganan

Bencana

Sebagian wilayah Kabupaten Cilacap merupakan daerah rawan

bencana khususnya banjir dan tanah longsor. Untuk bencana

banjir bahkan merupakan bencana rutin yang selama ini dihadapi

pada saat musim hujan akibatnya meluapnya beberapa sungai

utama yang melintasi wilayah kabupaten Cilacap seperti sungai

Cijalu, Citanduy dan Cikawung serta sungai Cibeureun. Untuk

mengatasi masalah tersebut maka pemerintah kabupaten Cilacap

telah dan akan senantiasa mengupayakan prasarana dan sarana

untuk penangangan bencana seperti rumah panggung. Beberapa

lokasi yang sudah ada rumah panggungya diantaraya kecamatan

Majenang, dan Wanareja. Kedepan keberadaan rumah pangung

ini akan diperluas diwilayah rawan bajir lainnya seperti Kecamatan

Cipari, Sidareja, Kedungreja, Gandrungmangu dan Kawunganten.

4.1.2. Profil Pembangunan Permukiman 4.1.2.1 Kondisi Umum

Perumahan sebagai salah satu kebutuhan dasar, sampai dengan saat ini

sebagian besar disediakan secara mandiri oleh masyarakat baik

membangun sendiri maupun sewa kepada pihak lain. Kendala utama yang

dihadapi masyarakat pada umumnya keterjangkauan pembiayaan rumah. Di

lain pihak, kredit pemilikan rumah dari perbankan memerlukan berbagai

persyaratan yang tidak setiap pihak dapat memperolehnya dengan mudah serta

(7)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-7

4.1.2.2 Aspek Pendanaan

Dilihat dari aspek pendanaan sebagian besar permukiman disediakan secara

mandiri oleh masyarakat baik membangun sendiri maupun sewa kepada pihak

lain serta kredit pemilikan rumah dari perbankan.

4.1.2.3 Aspek Kelembagaan

Kabupaten Cilacap melalui Dinas Pekerjaan Umum bertanggung jawab terhadap

pembangunan permukiman yang ada di Kabupaten Cilacap. Baik yang bekerja

sama dengan pihak swasta maupun dengan perbankan.

4.1.2.4 Sasaran

1) Meningkatkan / terpeliharanya prasarana dan sarana dasar bagi kawasan

perumahan / permukiman, terutama kawasan perumahan sederhana.

2) Meningkatnya kondisi prasarana dan sarana pelayanan publik dan

bangunan pemerintahan.

3) Terbentuknya kelembagaan tingkat Kelurahan, Kecamatan dan Kabupaten

dalam penanganan kegiatan pemugaran rumah.

4.1.3. Permasalahan yang Dihadapi dari Prasarana Sarana Dasar Permukiman Permasalahan utama yang dihadapi dalam PSD Permukiman dapat

diidentifikasikan dengan memahami kondisi sistem yang ada saat ini. Kondisi

sistem yang ada dapat dipilah-pilah menurut teknis, kelembagaan, keuangan dan

promosi. Kemudian dari kondisi sistem yang ada tersebut dapat diketahui

besaran permasalahannya melalui analisis target nasional dan rencana strategi

pembangunan kota, khususnya di Kabupaten Cilacap.

Permasalahan yang sebaiknya segera diatasi adalah perumahan nelayan

mengalami genangan atau pasang surut dan kurangnya penyediaan infrastruktur

yang memadai. Hal ini dapat berakibat pada timbulnya berbagai permasalahan

baru. Misalnya: meningkatnya wabah penyakit, kematian (apabila kondisi

semakin memburuk) dan gaya hidup yang kurang sehat.

4.1.4. Analisis Permasalahan, Alternatif Pemecahan Masalah dan Rekomendasi Permasalahan utama yang perlu segera ditangani oleh Kabupaten Cilacap

adalah penanganan lingkungan perumahan nelayan yang kumuh karena

(8)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-8

yang muncul dapat ditangani dengan program penataan bangunan. Program ini

dapat dirinci lagi dalam suatu usulan kegiatan (alternatif pemecahan masalah),

yaitu:

Alternatif 1: Pembangunan jalan lingkungan

Alternatif 2: Pembangunan jalan poros desa

Alternatif 3: Pembangunan drainase

Alternatif 4: Pembangunan sanitasi

Alternatif 5: Pembangunan Rumah panggung

4.1.5. Analisis Kebutuhan Fasilitas Perumahan

Kebutuhan fasilitas perumahan di Kabupaten Cilacap mengikuti perkembangan

jumlah penduduk. Apabila ditinjau dari kualitas bangunan maka kondisi

perumahan di Kabupaten Cilacap dapat dibedakan menjadi permanen, semi

permanen dan non permanen. Karakteristik kondisi rumah tersebut adalah

sebagai berikut :

1) Rumah Permanen.

Rumah jenis ini terbuat dari batu bata, bersifat permanen dan kokoh, lantai

rumah dilapisi oleh semen dan ubin.

2) Rumah Semi Permanen.

Dinding rumah ini terbuat dari sebagian tembok sebagian berupa bahan

kayu atau bahan bambu bersifat kokoh dan permanen, lantai rumah dilapisi

oleh semen dan ubin.

3) Rumah Non Permanen.

Dinding rumah terdiri dari bahan kayu atau bahan bambu, bersifat tidak

permanen, lantai rumah masih berupa tanah / tanah liat (tidak dilapisi semen

ataupun ubin).

Perumahan permanen dapat ditemui di pusat kota dan disepanjang jalan-jalan

utama kota, sedangkan perumahan non permanen masih banyak ditemui di

hitterland kota, yaitu pada daerah-daerah di Kecamatan Patimuan, Kesugihan,

Kecamatan Kedungreja Kecamatan Cipari, Kecamatan Kawunganten

Kecamatan Nusawungu dan Jeruklegi. Bahkan di Kecamatan Jeruklegi jenis

(9)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-9

Diagram Prosentase Kondisi Perumahan di Kabupaten Cilacap

Sumber : BPS Cilacap dalam angka tahun 2007

Tabel IV.1

Perkiraan Hasil yang Diperoleh Ketika Usulan Kegiatan Terealisasi

No. Uraian Kondisi saat ini Kondisi Akhir Katerangan

1. Perumahan

usulan kegiatan apabila diterapkan secara benar dapat memberikan output dan outcome yang besar 2. Pemb. Rumah

usulan kegiatan apabila diterapkan secara benar dapat memberikan output dan outcome yang besar 3. Penataan yang bersih dan sehat

usulan kegiatan apabila diterapkan secara benar dapat memberikan output dan outcome yang besar 4. Rehab. Rumah

Tidak Layak Huni

Banyak rumah tinggal yang kondisinya tidak layak huni

Tercapainya rumah tinggal yang layak huni

usulan kegiatan apabila diterapkan secara benar dapat memberikan output dan outcome yang besar

5 Rumah

Panggung

Keberadaan rumah panggung pada musim hujan seperti sekarang ini sangat penting untuk penampungan/ evakuasi orang-orang yang rumahnya terkena dampak banjir

Untuk mengatasi pen-duduk yang terkena dampak banjir agar bisa diselamatkan

usulan kegiatan apabila diterapkan secara benar dapat memberikan output dan outcome yang besar

Sumber: Hasil Analisis, 2007

(10)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-10

Tabel IV.2

Usulan dan Prioritas Proyek Perbaikan Kualitas dan Kuantitas Perumahan ( Selengkapnya lihat lampiran matrik )

No. Kegiatan Satu an

Harga satuan (ribuan)

Vol Biaya

(juta) Lokasi

2009 2010 2011 2012 2013

Vol Biaya Vol Biaya Vol Biaya Vol Biaya Vol Biaya

1. Pembangunan Rumah

Susun Unit 7.500.000 2 15.000

Kec. Cilacap

Utara 2 15.000

2. Penataan rumah kumuh Paket 350.000 15 5.250 Kab. Cilacap 3 1.050 3 1.050 3 1.050 3 1.050 3 1.050

3. Pembangunan RSH unit 45.000 310 13.950

Kel. Tegal-kamulyan Kec. Cilacap Selatan

30 1.350 280 12.600

4. Pembangunan Rumah

(11)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-11

4.1.6. Rencana Investasi Penataan Bangunan Lingkungan 4.1.6.1 Profil Bangunan dan Lingkungan

Pada tahun 2009 Kabupaten Cilacap, sudah menerapkan SOT yang baru,

sehingga penataan Gedung –gedung pemerintah sangat diperlukan karena di

samping kondisi bangunan-bangunan pemerintahan banyak yang sudah tidak

representatip baik karena umur bangunan maupun karena luas bangunan yang

tidak sesuai dengan kebutuhan. Hal tersebut tentu sangat tidak mendukung

dalam hal memberikan pelayanan yang prima kepada publik.

Selain dari segi bangunan, keindahan suatu wilayah juga dapat dilihat dari

adanya taman kota. Akan tetapi taman yang ada saat ini masih perlu penataan

lagi sehingga akan tercipta taman-taman yang benar-benar menambah

keindahan kota.

4.1.6.2 Permasalahan dan Tantangan yang Dihadapi

Dalam bidang penataan bangunan dan lingkungan di Kabupaten Cilacap saat ini

memerlukan suatu peningkatan pengembangan penataan bangunan dan

lingkungan. Adapun permasalahan dan tantangan utama yang dihadapi, yaitu:

1) Bangunan-bangunan pemerintahan yang terdapat di Kabupaten Cilacap

memerlukan adanya suatu perawatan dan perbaikan.

2) Lingkungan di Kabupaten Cilacap memerlukan suatu peningkatan estetika

dan nuansa kesegaran.

3) Belum adanya Peraturan Daerah yang secara khusus mengatur tentang

Bangunan Gedung.

4.1.6.3 Rencana Penanganan Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan Dalam menyusun suatu rencana penangan penataan bangunan gedung dan

lingkungan, hal-hal yang dapat dilakukan yaitu:

1) Analisis kebutuhan penataan bangunan dan lingkungan

Analisis mengenai penataan bangunan dan lingkungan adalah dengan

mengidentifikasi kebutuhan yang mendasar dan kebutuhan pengembangan

dalam penataan bangunan dan lingkungan. Berdasarkan hasil identifikasi

permasalahan dan tantangan yang dihadapi di atas, maka dapat diambil

(12)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-12

a) Kebutuhan mendasar dalam penataan bangunan dan lingkungan

adalah dengan tetap memelihara dan meningkatkan

bangunan-bangunan pemerintah

b) Kebutuhan Pembuatan Peraturan Bangunan Gedung untuk

tercapainya Penataan Bangunan yang ideal

2) Mengusulkan program

Program yang diusulkan adalah penataan bangunan dan lingkungan di

Kabupaten Cilacap. Program ini memberikan penjelasan bahwa Kabupaten

Cilacap masih memerlukan peningkatan estetika lingkungan. Dengan

berjalannya program ini diharapkan Kabupaten Cilacap menarik sebagai

wilayah dalam penanaman investasi.

3) Membuat Usulan Kegiatan

Perdasarkan program di atas maka rencana dapat lebih dirinci menjadi suatu

usulan kegiatan. Adapun usulan kegiatan program penataan bangunan dan

lingkungan adalah:

a) Perawatan gedung pemerintahan

b) Perawatan bangunan bersejarah

c) Rehabilitasi Gedung-gedung Pemerintah

d) Pemeliharaan , Peningkatan dan Pembangunan Taman-taman Kota

e) Pembuatan Peraturan Daerah Tentang Bangunan Gedung

4.1.6.4 Analisis Kelayakan Usulan Kegiatan

Dalam analisis ini memberikan pemahaman seberapa penting tingkat manfaat

apabila usulan kegiatan dilaksanakan. Tingkat manfaat dapat diketahui dengan

memaparkan kondisi bangunan dan lingkungan saat ini sebelum usulan kegiatan

diterapkan dan kondisi akhir yang akan terjadi apabila usulan program telah

(13)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-13

Tabel IV.3

Perkiraan Hasil yang Diperoleh Ketika Usulan Kegiatan Terealisasi

No. Uraian Kondisi saat ini Kondisi Akhir Katerangan 1. Bangunan dan

lingkungan di Kabupaten Cilacap

Mengalami kerusakan dan sangat

memerlukan perawatan serta penambahan

Bangunan dan lingkungan menjadi terawat

usulan kegiatan apabila diterapkan secara benar dapat memberikan output dan outcome yang besar Bangunan dan lingkungan memberikan kesegaran terhadap pegawainya dan pengguna jasa di dalamnya

(14)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-14

Tabel IV.4

Usulan dan Prioritas Proyek Penataan Lingkungan dan Bangunan ( Selengkapnya lihat lampiran matrik )

No. Kegiatan Satuan

3. Penyusunan Perda Bangunan

Gedung Paket 100.000 1 100 Kab. Cilacap 1 100

4. Penyusunan Rencana Induk

Sistem Proteksi Kebakaran Paket 150.000 1 150 Kab. Cilacap 1 150

5. Pelatihan Teknis Tenaga HSBGN dan Keselamatan Bangunan

Paket 75.000 1 75 Kab. Cilacap 1 75

6. Pemeliharaan, rehabiitasi dan peningkatan Gedung-gedung Pemerintah

Paket 1.000.000 10 10.000 Kab.Cilacap 2 2.000 2 2.000 3 3.000 3 3.000

7. Pembinaan Teknis Bangunan

(15)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-15

4.2. Rencana Investasi Sub-Bidang Air Limbah 4.2.1. Profil Pengelolaan Air Limbah

4.2.1.1. Gambaran Umum

4.2.1.1.1.Gambaran Umum Pengelolaan

Secara umum Kabupaten Cilacap belum memilki sistem pelayanan limbah

secara riolering (off-site) baik untuk air limbah domestik maupun non domestik.

Pengelolaan air limbah domestik pada saat ini dilakukan secara individual dan

semi komunal (on-site) oleh masyarakat melalui sarana berupa jamban keluarga,

jamban sederhana, saluran pembuangan air limbah (SPAL) serta sarana MCK

(mandi, cuci, kakus). Di sebagian area pemukiman yang berdekatan dengan

sungai atau saluran terbuka, ditemukan masyarakat yang masih memanfaatkan

jamban-jamban liar (terutama di tepi sungai), walaupun diantaranya sudah

tersedia MCK, atau juga memanfaatkan jamban pribadi tapi menyalurkan air

buangannya langsung ke sungai atau saluran terbuka tersebut. Pengelolaan

terhadap lumpur tinja yang dihasilkan dilakukan pada Instalasi Pengolahan

Lumpur Tinja (IPLT) yang berlokasi di Desa Tritih Lor dengan kapasitas olah

100 m3 per hari dengan wilayah kerja Kecamatan Cilacap Selatan, Cilacap

Tengah, Cilacap Selatan, Jeruklegi, Kawunganten, Bantarsari, Kesugihan dan

Kroya.

Sedangkan pengelolaan air limbah non domestik khususnya air limbah industri,

sebelum dibuang ke badan air sebagian industri telah melakukan pengelolaan

melalui sarana Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL).

4.2.1.1.2.Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah

Sarana prasarana air limbah domestik Kota Cilacap pada tahun 2007 berupa

jamban keluarga dengan dan tanpa septictank, jamban sederhana, saluran

pembuangan air limbah (SPAL), septictank, serta sarana MCK (mandi, cuci,

kakus). Khusus untuk lumpur tinja diolah menggunakan Instalasi Pengolahan

Lumpur Tinja (IPLT), sedangkan pada air limbah non domestik khususnya

industri sebagian industri telah melakukan pengolahan air limbah melalui

(16)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-16

4.2.1.1.3.Kondisi Sistem Sarana dan Prasarana Pengelolaan Air Limbah

Cakupan sarana prasarana air limbah domestik Kota Cilacap pada tahun 2007

meliputi jamban keluarga dan saluran pembuangan air limbah. Konsidi IPLT

pada saat ini belum dapat difungsikan secara optimal karena adanya kerusakan

pada bangunan serta jalan akses masuk yang telah rusak parah. Khusus IPAL

industri, sebagian industri telah mengoperasikan IPAL dengan baik, hanya ada

sebagian industri yang belum melakukan pengolahan terhadap air limbah yang

dihasilkan karena alasan ekonomis dan teknis.

Kondisi sarana dan prasarana air limbah baik domestik dan non domestik

dengan kesehatan lingkungan terdapat hubungan yang dapat mempengaruhi

kinerja sistem, sehingga mempengaruhi efektifitas pengelolaan air limbah.

4.2.1.2. Rumusan Masalah

Pada umumnya di daerah masyarakat berpenghasilan rendah, masyarakat

masih membuang air limbahnya ke saluran – saluran dan sungai yang ada di

sekitar permukiman. Upaya untuk pemenuhan kebutuhan sarana air limbah

secara mandiri saat ini terutama masih terbentur kepada masalah sosialnya dari

kemampuan masyarakatnya serta keterbatasan kemampuan instansi pengelola

air limbah. Sedangkan pengolahan lumpur tinja terbentur pada masalahan

pendanaan untuk biaya pemeliharaan dan operasionalisasi instalasi pengolahan

lumpur tinja (IPLT) of-site dan mobil tinja.

Penyediaan sarana dan prasarana di daerah dengan kepadatan tinggi terdapat

beberapa kriteria teknis seperti jarak untuk pengolah tinja dengan sumber air

penduduk (sumur) yang sulit untuk diterapkan, disamping muka air tanahnya

cukup tinggi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain:

1) Pemilihan teknologi perlu dipertimbangkan kebutuhan / kemampuan

masyarakat dan kondisi setempat

2) Mobilisasi sumber dana masyarakat / swasta dalam penyelenggaraan

prasarana dan sarana air limbah

3) Mengembangkan lembaga atau institusi yang bertanggung jawab dalam

(17)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-17

Masih kurangnya pemahaman sebagian pelaku industri untuk membuat instalasi

pengolahan air limbah (IPAL) dan dianggap sebagai biaya tinggi operasi

usahanya.

4.2.2. Analisis Permasalahan 4.2.2.1. Analisis Permasalahan

1) Faktor pemahaman masyarakat termasuk pelaku industri masih menjadi

hambatan dalam upaya pelaksanaan pengolahan air limbah.

2) Faktor kemampuan pendanaan

Kekurangan pelayanan pengelolaan air limbah di Kota Cilacap pada

umumnya terpusat di area-area permukiman penduduk berpenghasilan

rendah

4.2.3. Rencana Pengelolaan Air Limbah

Dalam menyusun suatu rencana pengelolaan air limbah, hal-hal yang dapat

dilakukan yaitu:

1) Analisis kebutuhan

2) Mengusulkan program

Program yang diusulkan adalah :

1) Penyediaan sanitasi on-site baik jamban komunal maupun MCK umum.

2) Penyediaan sanitasi berbasis masyarakat.

3) Pembangunan atau rehabilitasi Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja

(IPLT).

4) Penyediaan / pengadaan mobil tinja.

5) Pengelolaan sanitasi off-site dengan pembuatan IPAL.

6) Pengembangan peraturan / perundang-undangan.

7) Pengembangan peran serta masyarakat melalui kegiatan penyuluhan.

Program ini memberikan penjelasan bahwa Kabupaten Cilacap masih

memerlukan peningkatan pengelolaan air limbah termasuk pengadaan sarana

MCK. Dengan berjalannya program ini diharapkan Kabupaten Cilacap terutama

(18)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-18

mendapatkan pelayanan tersebut. Berdasarkan program di atas maka rencana

dapat lebih dirinci menjadi suatu usulan kegiatan.

4.2.3.1. Analisis Kelayakan Usulan Kegiatan

Dalam analisis ini memberikan pemahaman seberapa penting tingkat manfaat

apabila usulan kegiatan dilaksanakan. Tingkat manfaat dapat diketahui dengan

memaparkan kondisi sarana pengolahan air limbah saat ini sebelum usulan

kegiatan dan kondisi akhir yang akan terjadi apabila usulan program telah

berjalan serta banyaknya .

Dalam analisis usulan kegiatan juga diperhitungkan mengenai segi

pembiayaannya. Pembiayaan proyek berdasarkan klasifikasi tanggung jawab

masing-masing Pemerintah Kabupaten (APBD Kabupaten Cilacap), Pemerintah

Provinsi (APBD Provinsi Jawa Tengah), dan Pemerintah Pusat (APBN).

Tingkat pembiayaan yang telah berlaku tersebut diterapkan pada seluruh

komponen infrastruktur di RPIJM Kabupaten Cilacap ini. Ketentuan tingkat

pembiayaan tersebut juga diterapakan pada komponen pengelolaan air limbah

sehingga diperolehlah usulan pembiayaan sebagai berikut.

Tabel IV.5

Usulan Pembiayaan Program Air Limbah Tahun 2008 - 2012

No. Kegiatan Total

1. Peningkatan Kelembagaan Pengelola Air Limbah : - Pelatihan bimbingan

teknis air limbah

100 - - 100

2. Pengelolaan Sanitasi On Site :

3. Penyediaan Sanitasi On Site :

4. Penyediaan sanitasi

berbasis masyarakat 1.400 300 300 800

5. Pembangunan / rehabilitasi

IPLT 1.600 1.200 400 -

6. Prasarana pengumpul lumpur :

- Pengadaan mobil tinja 350 350 - -

7. Pengelolaan Sanitasi Off

Site 50 - - 50

(19)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-19

Perundang-undangan :

- Pembuatan peraturan dan pedoman

9. Peran Serta Masyarakat :

- Penyuluhan 100 - - 100

Jumlah .... 5.300 1.850 700 2.750

4.3. Rencana Investasi Sub-Bidang Persampahan

4.3.1. Profil Persampahan

4.3.1.1 Gambaran Umum Sistem Pengelolaan Persampahan

Pengelolaan Persampahan kota Cilacap dilaksanakan oleh Dinas Kebersihan

dan Lingkungan Hidup (DKLH) Kabupaten Cilacap.

Luas daerah yang dilayani oleh pengelolaan persampahan kota Cilacap adalah ±

41,66 km2 atau 48,3 % dari luas wilayah terbangun dengan jumlah penduduk

terlayani sebanyak 75.475 jiwa atau sekitar 27,64 % dari total penduduk. Volume

sampah yang sudah dikelola oleh DKLH sebanyak 290 m3/hari atau sekitar 46,1

% dari hasil seluruh timbulan sampah kota Cilacap sebesar 629 m3/hari, dengan

anggapan timbulan sampah kota Cilacap sebesar 2,388 liter/orang/hari pada

tahun 2007. Sedangkan sisanya dikelola oleh masyarakat sekitar 230,00 m3/hari

atau 36,5% dari sampah yang dihasilkan, dan timbulan sampah yang tidak

terkelola sekitar 109 m3 atau sebesar 17,4 %.

Penarikan retribusi persampahan belum berjalan dengan baik, karena kesadaran

masyarakat membayar retribusi pelayanan persampahan masih rendah. Selain

itu Perda No.3 Tahun 1999 tentang retribusi pelayanan persampahan dan

kebersihan juga perlu direvisi karena tarif retribusi sudah tidak sesuai dengan

perkembangan saat ini.

Penerapan peraturan terlihat masih perlu digalakkan agar dapat ditingkatkan

peran serta masyarakat secara aktif. Untuk itu perlu adanya peningkatan

pelayanan dan pendanaan yang memadai terutama untuk operasional dan

pemeliharaan peralatan. Sub Sistem kelembagaan diharapkan ditingkatkan agar

mampu dan sesuai guna memberikan pelayanan untuk daerah kawasan Kota

(20)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-20

4.3.1.2 Kondisi Sistem Sarana dan Prasarana Pengelolaan Persampahan Yang Ada (Aspek Teknis)

1) Pola Penanganan

a) Sampah Domestik : dibakar dan ditimbun kecuali yang sudah

terdapat pelayanan dari DKLH

b) Sampah pasar : dikumpulkan di TPS kemudian dibawa ke TPA

c) Sampah Jalan Raya : dibersihkan oleh tenaga DKLH kemudian

dibawa ke transfer Depo / TPS terdekat, kemudian dibawa ke TPA

d) Sampah Daerah Komersial dan Perkantoran: dikumpulkan di tong

kemudian diambil dengan gerobag dan dibawa ke transfer depo

2) Sistem Pewadahan

a) Daerah Permukiman : Kantong plastik, tong plastik, keranjang dan

kotak kayu

b) Daerah Komersial : Tong sampah / bak pasangan bata

c) Jalan Protokol : Tong sampah / bak pasangan bata

d) Pasar : Keranjang atau bin plastik

3) Sistem Pengumpulan

Sistem Pengumpulan sampah di daerah permukiman umumnya menggunakan

pola komunal tidak langsung, masyarakat membuang sndiri ke TPS dan

kemudian diangkut ke TPA.

4) Sistem Pengangkutan

Menggunakan 2 konsep pemindahan yaitu:

a) Tempat Pembuangan Sementara

b) Transfer Depo

Sarana pengangkutan sampah yang dimiliki oleh DKLH Kabupaten Cilacap

yaitu

a) 30 buah gerobak sampah

b) 1 buah truk terbuka besar

c) 1 buah truk terbuka kecil

d) 10 buah Dump Truck kecil

e) 2 buah Arm roll kecil

(21)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-21

Berlokasi di desa Tritih Lor dengan luas lahan 5,5 Ha, dengan jarak dari pusat

kota ± 15 Km, dan jarak terdekat dengan permukiman 0,5 Km. Sistem yang

digunakan adalah Controlled Landfill. Prasarana yang ada yaitu jalan masuk,

kantor, garasi alat berat, tempat cuci truk, bangunan komposting dan saluran

drainase.

4.3.1.3 Aspek Pendanaan

Anggaran operasional persampahan selama kurun waktu 3 tahun terakhir mulai

tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut.

Tabel IV.6

Anggaran Operasional Persampahan

NO Tahun

anggaran

ANGGARAN KESELURAHAN ANGGARAN

PERSAMPAHAN

Prosen-tase

(%)

Rutin Pemb. Total Rutin Pemb. Total

1. 2005 657.304 2.463 0.3%

2. 2006 736.783 4.551 0.61%

3. 2007 1.142.239 5.645 0.49%

Jumlah 2.536.326 12.659 1.4 %

Sumber :

Daftar isian Adipura Kota Cilacap,2007

DKLH Kab. Cilacap,2007

4.3.1.4 Aspek Kelembagaan Pelayanan Persampahan

Pelaksana sistem pengelolaan persampahan pada khususnya dan kebersihan

pada umumnya di Kota Cilacap adalah Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup

Kabupaten Cilacap, yang bertanggung jawab secara langsung kepada Bupati

Cilacap.

Pengelola kebersihan dilakukan secara langsung oleh Kepala Dinas yang

(22)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-22

4.3.1.5 Aspek Peraturan Perundangan

Dasar hukum Manajemen Persampahan yang digunakan oleh Dinas Kebersihan

dan Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap saat ini adalah:

1) Undang-undang Tentang Pengelolaan Persampahan

2) Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 35 Th. 2003 tentang

pembentukan, susunan organisasi dan tata kerja Dinas Kebersihan dan

Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap.

3) Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Cilacap Nomor 26 Th. 2003 tentang

ketertiban, kebersihan dan keindahan (k3).

4) Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap No.3 Tahun 1999 tentang retribusi

pelayanan persampahan dan kebersihan.

4.3.1.6 Aspek Peran Serta Masyarakat

Peran serta masyarakat secara langsung dalam pengelolaan kebersihan

lingkungan di Kota Cilacap belum optimal, hal ini terlhat belum terdapatnya

pewadahan di depan masing – masing rumah, kondisi kebersihan jalan baik di

pusat kota maupun di pinggir kota banyak sampah yang berceceran, dan saluran

drainase kota banyak pengendapan oleh sampah rumah tangga atau bekas

bahan bangunan.

4.3.2. Permasalahan Yang Dihadapi

4.3.2.1 Sasaran Penyediaan Prasarana dan Sarana Pengelolaan Sampah

1) Meningkatnya kinerja pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan

2) Meningkatkan tingkat pelayanan kepada masyarakat sehingga

tercapainya lingkungan Kabupaten Cilacap yang bersih dan sehat bebas

dari sampah

3) Pemenuhan kebutuhan dasar permukiman & kebutuhan pembangunan

ekonomi perkotaan

4) Meningkatkan keberlanjutan lingkungan

4.3.2.2 Rumusan Masalah

(23)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-23

1) Lahan TPA yang sudah sangat memerlukan perluasan karena tidak

dapat menampung jumlah timbulan sampah yang semakin hari semakin

bertambah besar.

2) Kabupaten Cilacap belum memiliki jumlah sarana & prasarana

kebersihan yang seimbang dengan jumlah timbulan sampah yang

dihasilkan perharinya.

3) Penanganan sampah di permukiman masih belum maksimal.

4) Pengadaan incenerator diperlukan untuk memusnahkan sampah –

sampah yang tidak dapat diurai oleh alam.

4.3.3. Analisis Permasalahan dan Rekomendasi 4.3.3.1 Analisis Permasalahan

1) Terjadinya stagnasi dalam penanganan sampah dilakukan secara

konvensional artinya sampah diambil dari tempat pembuangan

sementara dan ditimbun atau dibakar di lahan sendiri. Penanganan

sampah, khususnya sampah perkotaan, penanganannya ke tempat

pembuangan akhir dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Lingkungan

Hidup. Pengelolaan sampah yang selama ini dilakukan belum

memisahkan antara sampah organik dan non organik.

2) Pengelolaan sampah belum dilaksanakan secara efektif, efisien bahkan

belum bernilai ekonomis. Antara lain belum ada usaha budidaya

pemanfaatan sampah sebagai kompos / bahan pupuk organik.

4.3.3.2 Pemecahan Masalah

Untuk dapat menerapkan sistem pembuangan sampah yang baik dan benar di

masyarakat Kota Cilacap, saat ini tidak cukup hanya dengan menyediakan

kontainer dan TPS saja, akan tetapi diperlukan pula kerja sama yang baik antara

berbagai pihak, pemerintah, swasta, pemimpin non formal, ulama, LSM dan

tokoh masyarakat lainnya. Dan tidak kalah penting, semuanya ini harus mengikut

sertakan para pemimpin non formal yang paling bawah yaitu di tingkat RT dan

(24)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-24

4.3.4. Sistem Pengelolaan Persampahan Yang Diusulkan

4.3.4.1 Pertimbangan Pengembangan

Usulan yang dikembangkan berdasarkan pertimbangan antara lain :

1) Kebutuhan tingkat pelayanan

2) Skala pelayanan

3) Kemampuan penyediaan prasarana dan sarana

4) Peluang investasi dan pembiayaan operasi dan pemeliharaan prasarana

dan sarana

5) Penerapan pengelolaan yang didukung oleh berbagai

perangkat-pengaturan serta pengembangan kelembagaan dan SDM

6) Dukungan masyarakat dan swasta dalam pengelolaan

4.3.4.2 Usulan dan Prioritas Kegiatan yang Diusulkan

Berdasarkan hasil identifikasi masalah di atas maka dibentuk usulan kegiatan

sebagai berikut:

1) Pengadaan Gerobag Sampah 0,5 m3 sebanyak 125 buah

2) Pengadaan Tong Sampah 0,2 m3 sebanyak 100 buah

3) Pembangunan Transfer depo di tepi Kali Yasa

4) Pengadaan Container 6 m3 (22 buah)

5) Perluasan TPA Cilacap (dari 5,5 ha menjadi ± 8 ha)

6) Pengurugan Tanah di TPA Cilacap

7) Peningkatan Jalan Akses TPA Sidareja (1,6 km)

8) Operasional Mesin Pencacah Sampah

9) Pembangunan IPLT di TPA Sidareja, TPA Kroya dan TPA Majenang

10)Kajian dan DED TPA Sidareja & TPA Majenang

11)Sosialisasi K3

4.3.4.3 Pembiayaan Pengelolaan

Pembiayaan proyek atau kegiatan berdasarkan klasifikasi tanggung jawab

masing-masing Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi Jawa Tengah,

(25)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-25

4.4. Rencana Investasi Sub-Bidang Drainase 4.4.1. Profil Drainase

Kota Cilacap merupakan bagian dari sub cekungan Cilacap dengan kekhasan

hidrologi air tanah dangkal yang lebih baik daripada air tanah dalam, karena air

tanah dangkal (tawar) berada diatas air asin. Sehingga pada lapisan air tanah

dalam, kemungkinan kandungan air asinnya cukup tinggi. Dari pengamatan

sumur penduduk didapatkan rata-rata untuk air tanah dangkal pada kedalaman 2

- 2,5 meter dengan sumur antara 5 – 7 meter.

Kondisi litologi Kota Cilacap yang dominan endapan alluvial dengan porositas

dan permeabilitas cukup tinggi, menjadikan fluktuasi air tanah dangkal antara

musim penghujan dan kemarau cukup tinggi, banyak sumur penduduk pada

musim kemarau airnya menurun drastis. Kondisi litologi ini juga mempengaruhi

kerentanan kualitas air tanah dangkal, karena limbah rumah tangga, baik yang

cair maupun padat mudah larut yang akan mudah terinfiltrasi ke dalam air tanah

dan mempengaruhi kondisi air tanah dangkal yang ada.

Sungai yang terdapat di Kota Cilacap cukup banyak, namun ada tiga yang cukup

besar, yaitu :

1) Kali Donan, yaitu sekaligus merupakan batas wilayah kota sebelah barat.

2) Kali Yasa, membentang dari bagian Timur ke Selatan kota sejajar dengan

garis pantai Teluk Penyu.

3) Kali Sabuk, terletak di bagian timur di daerah Kecamatan Kesugihan,

yang merupakan batas kota sebelah timur.

Jaringan primer drainase (major drain) di Kota Cilacap yang utama adalah Kali

Jeruklegi yang berada di sebelah barat kota dan Kali Serayu yang berada di

sebelah timur kota. Setelah sampai Kali Sabuk, aliran beralih sebagian ke kanan

ke Kali Yasa, yang kemudian menjadi jaringan primer drainase (major drain)

wilayah selatan Kota Cilacap. Kali Yasa sendiri lebih banyak berperan sebagai

jaringan major drain di bagian selatan wilayah Kota Cilacap. Sub-major drain

yang pada akhirnya mengalir ke Kali Yasa yaitu :

1) Kali Ciglagah, yang alurnya melalui wilayah Kelurahan Mertasinga dan

(26)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-26

2) Kali Tanjung, yang alurnya melalui wilayah Kelurahan Mertasinga.

3) Kali Karang Waru, yang alurnya melalui wilayah Kelurahan Gumilir dan

Kelurahan Kebonmanis.

4) Kali Sentul, yang alurnya melalui wilayah Kelurahan Sidanegara dan

Kelurahan Gunungsimping.

5) Kali Kodok, yang alurnya melalui wilayah Kelurahan Sidakaya.

Sedangkan Sub-major drain yang akhirnya mengalir ke Kali Jeruklegi adalah :

1) Kali Menganti, yang alurnya melalui wilayah Kelurahan Menganti.

2) Kali Beji, yang alurnya melalui wilayah Tritih Kulon.

3) Kali Cinyemeh, yang alurnya melalui wilayah Kelurahan Karangtalun dan

Kelurahan Lomanis.

4) Kali Donan, yang alurnya melalui wilayah Kelurahan Donan.

5) Kali Watu, yang alurnya melalui wilayah Kelurahan Tambakreja.

4.4.2. Permasalahan Yang Dihadapi

4.4.2.1 Umum

Wilayah Kota Cilacap, tipologi medannya relatif datar dan banyak alur sungai.

Medan yang relatif datar menjadikan keterbatasan Slope (kemiringan) sarulan

drainase, sehingga sangat mungkin aliran menjadi kurang lancar. Banyaknya

alur-alur sungai yang hampir menuju muara, kecuali mengalirkan air, juga telah

banyak membawa sedimen dan sampah dari bagian hulu. Sementara kedekatan

wilayah kota dengan garis pantai memungkinkan terjadinya back water (arus

balik) pada sungai dan saluran drainase pada saat air laut pasang.

Kondisi topografi yang datar menyebabkan rendahnya energi untuk aliran air

sehingga kecapatan yang keci lmemberi kesempatan mengendapnya sedimen.

Sedimentasi dapat terjadi diakibatkan oleh erosi permukaan, pembuangan

limbah rumah tangga, limbah pasar, dan buangan limbah industri kecil seperti

industri rumah tangga, serta bengkel sevice kendaraan sepeda motor, dan

pembuangan limbah dari rumah sakit.

Genangan dan banjir yang terjadi menimbulkan gangguan kesehatan

(27)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-27

penurunan harga tanah. Penyebaran dampak dapat meluas dan terjadi di

berbagai lokasi.

4.4.2.2 Banjir Perkotaan

Banjir menjadi permasalahan umum di kota-kota besar di Indonesia. Akar

permasalah bajir bertitik tolak dari pertumbuhan penduduk yang berakibat

meningkatnya kebutuhan air bersih, tempat tinggal dan berkembangnya berbagai

jenis usaha. Kebutuhan tempat tingal dan lahan usaha akan merubah tata guna

lahan sehingga berakibat peningkatan erosi, menimbulkan sedimentasi,

penurunan kapasitas saluan dan naiknya debit banjir. Selain itu pertumbuhan

penduduk akan meningkatkan produksi sampah yang kalau tidak dikelola

dengan baik akan berakibat penurunan kapasitas sungai dan saluran.

Terbatasnya ketersediaan sumber air bersih akan meningkatkan exploitasi air

tanah yang berakibat penurunan permukaan tanah sehingga menimbulkan

genangan akibat banjir kiriman, banjir lokal maupun rob.

4.4.2.3 Daerah Genangan

Terdapat daerah-daerah yang berpotensi terhadap genangan yaitu seluas 12 Ha

atau sekitar 3.280 jiwa penduduk kota masuh kurang mendapat pelayanan

drainase yang baik. Beberapa tempat terjadi genangan setiap hujan tinggi

dengan kedalaman rata-rata 30 cm, umumnya, terdapat di daerah pusat kota

dengan dampak yang cukup dirasakan penduduk kota. Besaran genangan atau

kualitas genangan yang ada di Kota Cilacap saat ini dikelompokkan dalam

kategori sedang. Namun disamping untuk mengatasi masalah genangan yang

mengganggu penduduk saat ini (basic need), program drainase pun diupayakan

mengantisipasi genangan yang akan timbul akibat perubahan fungsi lahan oleh

pembangunan.

Persoalan langsung yang diakibatkan oleh kondisi sistem drainase yang ada

yaitu beberapa lokasi genangan yang mengenangi jalan, permukiman maupun

(28)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-28

4.4.2.4 Permasalahan Jaringan Drainase Minor

Dari hasil survey drainase sekunder baik yang tertutup maupun yang terbuka

dengan konstruksi pasanan batu atau masih tanah, permasalahan yang ada

adalah sebagai berikut :

Permasahan Umum

1) Banyaknya sedimen lumpur yang ada di saluran membuat semakin kecil

kapasitas drainase sehingga saluran tidak mampu mengalirkan air

limpasan atau air limbah rumah tangga dengan lancar ke drainase

primer.

2) Kebiasaan masyarakat yang berada disekitar drainase membuang

sampah ke dalam drainase merupakan masalah yang perlu diperhatikan

karena kecenderungan perilaku tersebut semakin meningkat dan perlu

diantisipasi sehingga fungsi teknis drainase tetap terjaga.

3) Jalan masuk air hujan ke saluran drainase yang terletak dipinggir jalan

(street inlet) banyak yang tertutup oleh perbaikan jalan dan sampah yang

bercampur tanah akibat kondisi tanah yang mudah lepas.

4) Berdasarkan kondisi toporafi bagian utara Kota Cilacap yang relatif

landai memungkinkan adanya aliran balik dari saluran drainase primer

yang menyebabkan terhambatnya aliran drainase sekunder yang

akhirnya terjadi genangan.

4.4.2.5 Permasalahan Pemeliharaan Drainase

Pemeliharaan drainase Kota Cilacap dilihat dari permasalahan yang muncul

terutama pada drainase sekunder seharusnya lebih dititikberatkan pada

pemeliharaan karena banyaknya sedimen dan sampah padat rumah tangga

didalam saluran drainase sekunder. Penyuluhan terhadap masyarakat yang

bermukim di sekitar drainase sekunder terhadap kebiasaan membuang sampah

ke dalam saluran drainase yang akibatnya mengganggu fungsi drainase

sekunder. Untuk drainase primer diprioritaskan untuk pengerukan sedimen

paling tidak 3 tahun sekali serta penyuluhan kepada masyarakat yang tinggal di

sepanjang drainase primer karena dari hasil pengamatan banyak masyarakat

(29)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-29

mempercepat tumbuhnya tanaman air seperti enceng gondok yang akhirnya

mengganggu fungsi saluran drainase primer. Permasalahannya adalah belum

adanya program pemeliharaan non teknis yang dilaksanakan secara kontinyu

dan tepat sasaran. Pemeliharaan secara teknis diharapkan mampu

menyempurnakan kondisi fisik saluran yang sifatnya lebih banyak pada

rehabilitasi. Permasalahan yang timbul adalah terbatasnya anggaran untuk

pemeliharaan saluran.

Kelandaian topografi wilayah Kota Cilacap yang hampir seragam dari arah utara

ke selatan membentuk jaringan saluran drainase yang hampir-hampir paralel

mengalirkan air dari utara ke selatan pula. Ironisnya jaringan primer drainase

(major drain), yaitu Kali Sabuk pada sisi timur kota dan Kalli Donan di sebelah

utara kota mengalirkan air dari arah utara ke selatan, ke arah Samudra Hindia.

Dengan demikian pada daerah inlet major drain tersebut potensial terjadi aliran

tunggu, lebih-lebih pada saat Kali Yasa terjadi banjir.

Aliran tunggu terjadi akibat tertutup atau terhambatnya aliran pada bagian hilir,

sementara dari bagian hulu air terus bertambah. Bila aliran tunggu itu terjadi

dalam waktu yang cukup lama akan meluap dan menimbulkan genangan. Untuk

mengantisipasi aliran tunggu pada daerah inlet major drain perlu dibuat

beberapa long storage, dan beberapa polder.

4.4.3. Arahan Drainase Kota Cilacap

No Arahan Sistem Justifikasi

1 Penataan jaringan drainase kota (minor, sub

major, dan major) dengan memanfaatkan

topografi yang ada serta mengantisipasi

permasalahan genangan lokal yang terjadi.

 Kondisi topografi yang ada cukup potensial untuk diarahkan dan

dikembangkan seagai sebuah sistem

jaringan drainase kota yang stabil dan

berjangka ke dapan.

 Genangan lokal yang terjadi pada sekitar 11 titik di kawasan kota,

ditengarai karena kurang rapinya

(30)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-30

2  Pembagian arah/beban drainase minor ke

kanan ( ke Kali Jeruklegi) dan ke kiri ( ke

Kali Yasa)

 Normalisasi Kali Yasa

 Normalisasi sempadan pantai

 Kajian aliran dan sedimentasi kali Yasa dari hulu ke hilir/muara

 Kajian Abrasi , rob, dan intrusi air laut ke daratan

Kali Yasa yang berada di sepanjang bibir

pantai sangat cocok difungsikan sebagai

tembok / barier air tawar yang akan

membendung laju intrusi air laut ke daratan.

Dengan demikian eksistensi kali Yasa

menjadi hal yang pokok dalam menjaga

lingkungan pantai

3 Perencanaan fisik saluran drainase kota yang

mengedepankan fungsi, keamanan dan

kenyamanan

Desain saluran dengan pertimbangan

tekinis saja tidak cukup, karena

pengalaman lapangan membuktikan

kegagalan drainase dan bangunan

pelengkapnya tidak hanya karena

permasalah teknis seperti dimensi dan

kapasitas saluran, tetapi juga karena

kurangnya antisipasi desain dalam

mempertimbangkan peruntukan kawasan

layanan mempertimbangkan peruntukan

kawasan layanan sistem, perilaku

masyarakat, serta kemudahan perawatan.

4 Sinkronisasi jaringan drainase dengan jaringan

jalan dan arahan pengembangan tata guna

lahan kota, serta usaha mengeliminasi

overlaping dengan fungsi jaringan irigasi.

Jaringan drainase kota merupakan

prasarana fisik yang melekat dalam

pengembangan wilayah kota. Dengan

demikian berarti perencanaan drainase

kota harus padu dan sinkron secara sistem

dan pentahapan pelaksanaan

pembangunannya dengan perencanaan

prasarana fisik yang lain seperti jalan,

perumahan, perpipaan, air limbah, dll.

Khusus Kota Cilacap yang masih berciri

(31)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-31

drainase dengan jaringan irigasi juga perlu

mendapatkan kajian.

4.4.4. Sistem Drainase Yang Diusulkan

4.4.4.1. Usulan dan Prioritas Proyek Penyediaan Drainase

Usulan kegiatan pembuatan saluran drainase berupa drainase tertutup dan

drainase terbuka. Drainase tertutup adalah saluran drainase yang berada di

bawah permukaan tanah dan ditutup oleh perkerasan, misalnya tertutup oleh

trotoar atau jalan. Sedangkan drainase terbuka berupa saluran air di atas

permukaaan tanah seperti selokan yang berada diperumahan dan permukiman

yang mengalir ke arah sungai/kali. Saluran drainase dapat dibedakan menjadi 3

kelas yaitu : drainase primer, sekunder dan tersier.

4.4.4.2. Pembiayaan Proyek Penyediaan Drainase

Pembiayaan kegiatan berdasarkan klasifikasi tanggung jawab masing-masing

Pemerintah Pusat, Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten

Cilacap, swasta dan masyarakat.

4.5. Rencana Investasi Pengembangan Air Minum

4.5.1 Gambaran Kondisi Pelayanan Air Minum

4.5.1.1 Gambaran Umum Sistem Penyediaan dan Pengelolaan

Air minum merupakan kebutuhan dasar manusia yang bernilai ekonomi dan

berdampak langsung kepada berkelanjutan pembangunan. PDAM hingga tahun

2000 baru mampu melayani 4% untuk kawasan perkotaan dan 8% untuk

kawasan pedesaan. Kesepakatan Millenium Development Goal (MDG 2015)

telah menetapkan target sebesar 50% dari penduduk terlayani air minum.

Sedangkan Kabupaten Cilacap dengan jumlah penduduk ± 1.700.000 jiwa, baru

dapat dilayani oleh PDAM sebesar 663.000 jiwa (39% pelayanan). Air minum

pedesaan non PDAM adalah target utama dari prasarana penyediaan air minum

(32)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-32

Di Kabupaten Cilacap banyak terdapat daerah-daerah rawan air bersih, yang

disebabkan ketiadaan sumber air baku, kesulitan mengambil air baku karena

jaraknya yang jauh dari permukiman, mahalnya harga jual air bersih/air minum,

rendah/jeleknya kualitas sumber air baku.

Kawasan pedesaan adalah prosentase terbesar dari sumber kerawanan air

bersih, terlebih lagi mayoritas penduduknya adalah masyarakat miskin. Dewasa

ini dengan melonjaknya harga BBM dan kenaikan harga sembilan bahan pokok,

maka dirasa perlu untuk mengurangi beban masyarakat desa yang

berpenghasilan rendah dan mempunyai derajat kesehatan yang kurang baik.

Untuk mengurangi beban mereka dengan jalan melaksanakan proses air minum

yang sehat, murah, aman dan terjangkau.

Pembangunan air minum berbasis masyarakat dipercaya mampu memenuhi

kebutuhan secara lebih tepat, cepat dan berpeluang lebih besar untuk

keberlanjutan adalah pelayanan yang diinisiasi, disiplin, ketetapan dan dikelola

oleh masyarakat secara mandiri.

Tujuan pembangunan air minum berbasis masyarakat di Kabupaten Cilacap

adalah agar masyarakat dapat mengentaskan program air minum secara mandiri

dengan menggunakan sistim yang sesuai dengan kondisi dan budaya setempat.

Tahapan kegiatan penyediaan air minum berbasis masyarakat adalah :

1) Rembug warga yang dilaksanakan oleh masyarakat

2) Penyusunan proposal kepada pemerintah Kabupaten Cilacap

3) Penyaringan proposal oleh Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum

Kabupaten Cilacap

4) Perencanaan oleh masyarakat didampingi oleh pembina teknis dari

Dinas Pekerjaan Umum dan PDAM

5) Tahap pembangunan, bantuan perpipaan adalah oleh Pemerintah Pusat

dan sharing dana oleh Pemerintah Kabupaten Cilacap

6) Pemasangan pipa dan pembangunan konstruksi instalasi bangunan air

pelengkap oleh masyarakat

7) Serah terima oleh masyarakat dan pokok ke III ke DPU dilanjutkan dari

DPU ke Organisasi Pengelola Air (Badan Musyawarah Pengelola Air

(33)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-33

8) Pengelolaan oleh BAMUS AM Desa

9) Program kegiatan ini dimulai pada tahun anggaran 2005 dan sampai saat

ini telah terbentuk 55 BAMUS AM Desa, sebanyak 55 kelompok, dengan

realisasi pelayanan air minum pedesaan sebanyak ± 96.210 jiwa/ ± 5%

dari penduduk desa.

Kegiatan prasarana dan sarana air minum pedesaan telah dialokasikan dana

oleh pemerintah Pusat dan propinsi selama 4 (empat) tahun anggaran khusus

yang berkaitan dengan program pemberdayaan masyarakat dimulai TA 2005

sampai dengan TA 2008 sebesar Rp. 9.532.600.000,- dan terwujud partisipasi

swadaya masyarakat senilai ± Rp. 667.282.000,-, berbentuk swadaya penyiapan

bahan/material dan tenaga kerja.

Prasarana yang terbangun dari kegiatan bantuan stimulan air minum pedesaan

di Kabupaten Cilacap adalah sebagai berikut :

1) Pengadaan dan pemasangan perpipaan sebanyak 55 desa

2) Bangunan pelengkap dan bangunan penunjang (bronkaptering, bak

penampung,bak pembagi, HU dll) sebanyak 385 unit

3) Kapasitas terpasang sebesar 110 liter/detik dari lima puluh lima desa

Secara umum di Kabupaten Cilacap terdapat 2 sistem penyediaan dan

pengelolaan air minum:

1) Sistem Non Perpipaan

Sistem Non Perpipaan adalah sistem penyediaan yang dilakukan oleh

masyarakat dengan mengunakan dana swadaya dan untuk pemenuhan

kebutuhan air bersih masyarakat. Sistem ini belum memiliki keteraturan

dalam penggunaan air tanah sebagai sumber air bakunya.

2) Sistem Perpipaan

Sistem Perpipaan adalah sistem penyediaan air bersih dan air minum yang

dikelola dan dilaksanakan PDAM, untuk pengembangan sistem ini

mengunakan dana dari PDAM, APBD Kabupaten, maupun APBN untuk

(34)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-34

seluruh kebutuhan Kabupaten Cilacap, dari 24 Kecamatan yang ada di

wilayah Kabupaten Cilacap terdapat 7 kecamatan yang belum memiliki

jaringan air bersih dari PDAM Kabupaten Cilacap.

4.5.1.2 Kondisi Sistem Sarana dan Prasarana Penyediaan dan Pengelolaan Air Minum

Jenis sistem produksi yang digunakan PDAM Kabupaten Cilacap untuk

pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat dengan menggunakan

pengolahan lengkap dan pengolahan sebagian (pada brokaptering), sedangkan

sumber air baku yang dimanfaatkan adalah air permukaan (sungai), air bawah

tanah (sumur dalam) dan Mata Air. Sistem pengaliran transmisi dan distribusi

adalah kombinasi sistem perpompaan dan grafitasi;

Jumlah sub sistem yang digunakan PDAM saat ini terbagi 4 (empat) sistem

pengolahan untuk melayani 17 Wilayah Kecamatan, dengan rincian seperti

terlihat pada tabel berikut ini:

Tabel IV.7

TABEL SISTEM PRODUKSI DI PDAM KABUPATEN CILACAP

No Sistem Produksi Jenis Sumber Kapasitas (l/d)

Air Baku Terpasang Produksi iddle

1

IPA Kesugihan, melayani : Kecamatan Maos, Adipala, Kecamatan Majenang

(35)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-35

* Data Tahun2007 ; 4 Sumur kondisi rusak dan untuk Mata Air debitnya mengalami penurunan

Selengkapnya data produksi dan distribusi dapat dilihat pada tabel berikut ini.

No. Uraian 2006 2007

1 Kapasitas Terpasang (l/detik) 470 480

2 Kapasitas Dioperasikan (l/detik) 346 354

3 Kapasitas Menganggur / idle capacity (l/detik)

124 126

4 Operasi Produksi (Jam) 23 23

5 Operasi Distribusi (Jam) 23 23

6 Jumlah Produksi Air

- Produksi Instalasi PDAM (000 m3/tahun) 10,896. 11,156 - Pembelian Air dari Pihak Lain (000

m3/tahun)

7 Jumlah air didistribusikan (000 m3/tahun) 10,782 11,035

4.5.1.2.1 Sistem Non Perpipaan

Pelayanan air bersih dengan sistem non perpipaan adalah sistem pemenuhan

kebutuhan air yang diperoleh langsung dari sumbernya, tanpa melalui jaringan

penyaluran/pipa.

4.5.1.2.1.1 Aspek Teknis

Sumber air bersih non perpipaan berasal dari air tanah dan air permukaan yang

dimanfaatkan dengan pembuatan sumur gali ,sumur dangkal dan sumur pompa

tangan. Sebagian besar penduduk Kabupaten Cilacap masih menggunakan

sistem non perpipaan atau sumur gali untuk memenuhi kebutuhan akan air

bersihnya.

Kualitas air bersih yang digunakan rata-rata mengandung unsur kapur yang

relatif cukup tinggi. Dan kontinuitas sumber air baku memiliki kontinuitas yang

tidak stabil karena pada musim kemarau masyarakat mangalami kekeringan dan

terancam kekurangan air bersih. melayani :

Patimuan, Kedungreja, Sidareja, Gandrungmangu, Bantarsari

(S. Citandui )

Jumlah 480

(36)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-36

4.5.1.2.1.2 Aspek Pendanaan

Penduduk yang memakai sistem jaringan non perpipaan mengunakan dana

masyarakat untuk mendapatkan sumber air bawah tanah. Tetapi sebagian lagi

(terutama saat musim kemarau) di kawasan pedesaan memenuhi air minum

dengan mengharap bantuan air bersih PDAM dari Pemerintah Daerah.

4.5.1.2.1.3 Aspek Kelembagaan dan Peraturan

Saat ini lembaga yang memayungi pengunaan air tanah belum secara spesifik

menangani penggunaan air tanah. Dan peraturan di Kabupaten Cilacap sendiri

belum ada yang secara spesifik mengatur penggunaan air tanah.

4.5.1.2.2 Sistem Perpipaan 4.5.1.2.2.1 Aspek Teknis

1) Masyarakat di Kabupaten Cilacap yang sudah memanfaatkan air bersih

perpipaan adalah 17 (tujuh belas) kecamatan dengan cakupan pelayanan

sebesar 22 % dari jumlah penduduk daerah yang dapat terlayani air

bersih perpipaan. Kecamatan yang telah terlayani air bersih adalah

sebagai berikut :

a) Kecamatan Nusawungu, cakupan pelayanan 11,1%

b) Kecamatan Kroya, cakupan pelayanan 27,5%

c) Kecamatan Sampang, cakupan pelayanan 9,1%

d) Kecamatan Maos, cakupan pelayanan 69,6%

e) Kecamatan Adipala, cakupan pelayanan 7,9%

f) Kecamatan Kesugihan, cakupan pelayanan 28,9%

g) Kecamatan Cilacap utara, cakupan pelayanan 27,3%

h) Kecamatan Cilacap tengah, cakupan pelayanan 32,1%

i) Kecamatan Cilacap selatan, cakupan pelayanan 70,6%

j) Kecamatan Jeruklegi, cakupan pelayanan 26,5%

k) Kecamatan Bantarsari, cakupan pelayanan 4,4%

l) Kecamatan Gandrungmangu, cakupan pelayanan 5,8%

m) Kecamatan Sidareja, cakupan pelayanan 34,9%

n) Kecamatan Kedungreja, cakupan pelayanan 9,1%

(37)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-37

p) Kecamatan Cimanggu, cakupan pelayanan 12,1%

q) Kecamatan Majenang, cakupan pelayanan 27%

2) Dari seluruh sistem yang ada saat ini, jumlah kapasitas terpasang adalah

480 l/detik, sedangkan jumlah kapasitas yang dioperasikan adalah

sebesar 354 l/detik. Besarnya selisih antara kapasitas terpasang dengan

kapasitas yang dioperasikan (idle capacity) karena besarnya sumber air

yang dimanfaatkan sedangkan jumlah pelanggan belum maksimal,

sebagai akibat jaringan distribusi yang belum merata;

3) Pada saat ini jam operasi produksi air minum berjalan selama 23 jam,

dan operasi distribusi dilakukan selama 23 jam per hari;

4) Produksi air per 31 Desember 2007 mengalami peningkatan 2,39 %

dibanding tahun 2006, dimana jumlah produksi pada tahun 2006 sebesar

10.896.018 m3 menjadi 11.156.000 m3 pada tahun 2007;

5) Sedangkan jumlah air yang didistribusikan mengalami peningkatan yaitu

dari 10.782.000 m3 pada tahun 2006 menjadi 11.035.000 m3 pada tahun

2007. karena penambahan sambungan baru;

4.5.1.2.2.2 Aspek Pendanaan

Pendanaan pengembangan SPAM di Kabupaten Cilacap menggunakan dana

PDAM, pengajuan APBD Kabupaten, APBD Propinsi, dan APBN dengan

perincian pengajuan usulan kegiatan selama 5 tahun sebagai berikut ( finansial

projection th 2008-2012) :

 Dana APBN Rp. 18.840.000.000,-

 Dana APBD Kabupaten Cilacap Rp. 4.108.891.000,-

 Dana PDAM Kabupaten Cilacap Rp. 29.566.421.000,-

Total Rp. 52.155.312.000,-

4.5.1.2.2.3 Aspek Kelembagaan dan Peraturan

Sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 12 tahun 2004 PDAM bertanggung

jawab terhadap pelayanan air minum kepada masyarakat secara adil dan merata

serta terus menerus dengan memperhatikan syarat kesehatan di wilayah

(38)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-38

4.5.2 Permasalahan Yang Dihadapi

4.5.2.1 Sasaran Penyediaan dan Pengelolaan Prasarana dan Sarana Air Minum Permasalahan utama, penyebab masalah yang dihadapi PDAM dan rencana

tindak perbaikan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah

sebagai berikut :

1) AIR BAKU

a) Permasalahan

 Kekurangan pasokan Air baku dari Sungai Cijalu pada saat musim

kemarau untuk IPA Majenang (Kap. 15 lt/dt), Broncaptering

Cileumeuh (15 lt/dt) dan sumur dalam (20 lt/dt).

b) Penyebab Masalah

 Pada saat musim kemarau berebut air baku dengan pengguna lainnya (petani sawah dan peternak ikan ).

c) Rencana Tindak

 Kerjasama dengan pihak PERHUTANI untuk meningkatkan pasokan air baku dari Mata Air di Cileumeuh Desa Rejodadi Kecamatan

Cimanggu;

 Koordinasi dengan para pengguna lainnya (petani sawah) dengan memberikan bantuan pompa untuk pengairan sawah kelompok Tani.

2) UNIT PRODUKSI

a) Permasalahan

 Guna mengantisipasi perkembangan jumlah pelanggan 5 th kedepan, kapasitas yang ada saat ini tidak mencukupi

 Kesulitan untuk melakukan pemeliharaan IPA Kesugihan yang telah

berumur lebih dari 20 th (tidak ada cadangan)

b) Penyebab masalah

(39)

Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Cilacap Tahun 2009-2013

IV-39

c) Rencana Tindak

 Pembuatan IPA Baru

3) UNIT DISTRIBUSI

a) Permasalahan

 Kehilangan air 27,73 %

 Beberapa unit distribusi belum terpasang WM Induk

b) Penyebab masalah

 Masih terdapat pipa transmisi dan distribusi jenis ACP yang berusia lebih dari 20 th

 Meter pelanggan banyak yang sudah berusia lebih dari 4 th belum sepenuhnya diganti

c) Rencana Tindak

 Pengadan/pemasangan Meter Induk di unit distribusi

 Penggantian pipa ACP secara bertahap

 Penggantian meter air pelanggan (SR) secara bertahap 4.800/th

4) Aspek Manajemen

a) Masalah

 Masih rendahnya konsumsi pemakaian air (kurang dari 15 m3/sr/bln sejumlah 24.205 SR)

 Masih banyaknya pelanggan yang disubsidi ( 38.577 SR)

b) Penyebab masalah

 Jaringan pipa distribusi tidak sempurna

 Penerapan klasifikasi pelanggan belum sepenuhnya sesuai

c) Rencana Tindak

 Normalisasi jaringan distribusi (perbaikan jaringan )

Gambar

Tabel IV.1
Tabel IV.3 Perkiraan Hasil yang Diperoleh Ketika Usulan Kegiatan Terealisasi
Tabel IV.4
Tabel IV.5
+4

Referensi

Dokumen terkait

Jadi dapat dikatakan bahwa sistem pengendalian manajemen merupakan suatu sistem yang digunakan oleh para manajer untuk mengarahkan anggota organisasi agar melaksanakan kegiatan

Palette color menampilkan warna foreground dan background yang digunakan dan komposisi nilai warna RGB dari foreground dan background. Anda dapat menggunakan slider

Selama engkau telah bertaubat dari hal itu dan menyesali perbuatanmu baginya, dan engkau berketatapan hati bahwa ucapan buruk itu tidak akan keluar lagi dari mulutmu

kehamilan sudah dilakukan pelayanan kebidanan sesuai kebutuhan pasien dan kewenangan bidan dari tanggal 08 Desember hingga tanggal 15 November 2015 tidak ditemukan

sebesar paling tinggi 100% (seratus per seratus) dari PBB-P2 yang terutang dalam bal objek pajak terkena bencana alam atau sebab lain yang luar biasa sebagaimana dimaksud dalam

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH KABUPATEN BANTUL TENTANG PEMBERIAN PENGURANGAN PAJAK PARKIR YANG TERUTANG. KESATU :

Variabel CAR, BOPO, NPL, NIM, dan LDR secara bersama-sama berpengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas pada bank di Indonesia , pengaruh yang diberikan sebesar

Pada kondisi dimana radiasi panas di tempat kerja tinggi maka akan menyerap panas lebih banyak karena pembuluh darah mereka yang terdapat pada atau dekat dengan kulit