ARAH DAN KOMPLEKSITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA
MENJELANG TAHUN 2001 *)
DR. SUPRIYOKO, M.PD:
A. PENGANTAR
Kiranya tidak ada yang tidak sependapat bahwa di antara pendidikan dengan teknologi telah terjalin hubung an yang bersifat timbal balik (reciprocal relationship); artinya keduanya saling mempengaruhi. Tegasnya, fenomena yang terjadi di dalam dunia pendidikan akan
mempengaruhi perkembangan teknologi, sebaliknya perkembangan teknolo-gi akan berpengaruh pada dunia pendidikan. Implikasinya: perkembangan teknologi (informasi) yang ekstra cepat da-lam dua atau tiga dasawarsa terakhir ini secara langsung maupun tidak langsung telah ikut menentukan arah pendi-dikan di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia.
Bahwa arah pendidikan di Indonesia juga tak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi kiranya memang ti dak terbantahkan; salah satu buktinya kebijakan-kebijak-an pendidikan yang tertuang dalam GBHN, peraturan maupun statement politis selalu saja mengacu pada
perkembangan teknologi yang tengah berlangsung. Hal ini lebih dirasa-kan lagi manakala produk hukum dan statement politis itu sudah sampai pada tahap operasionalisasinya..lh8
_________________
*) Makalah Disampaikan dalam Forum Rapat Kerja Wilayah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Majelis Dikdasmen Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
Kaliurang, 1 Februari 1992
Arah pendidikan di Indonesia menjelang tahun 2001 ini masih bergerak pada tiga
ekstremitas; masing-masing adalah ekstremitas kualitas, kuantitas dan relevansitas. Ektremitas kualitas dialami oleh pendidikan dasar, teru-tama di tingkat SD, sedangkan untuk tingkat SLTP masih terjadi pula ekstremitas kuantitas. Pada pendidikan me-nengah ekstremitas kuantitas lebih menonjol, meski tidak berarti bahwa ektremitas relevansitas dapat diabaikan. Sementara itu ekstremitas relevansitas terasa lebih men-dominasi pada jenjang pendidikan tinggi.
B. PENDIDIKAN DASAR
Berbicara mengenai pendidikan dasar perlu ditegas kan lagi bahwa setelah berlakunya Peraturan Pemerintah (PP) No:28/1990 tentang pendidikan dasar maka SLTP men-jadi bagian dari pendidikan dasar. Jadi pendidikan dasar itu terdiri dari dua jenjang persekolahan; masing-masing SD dan SLTP. Hal ini perlu ditegaskan oleh karena kalau kita berbicara mengenai arah dan kompleksitas pendidikan maka keduanya memiliki spesifikasi yang tersendiri. Arah dan kompleksitas pendidikan SD lebih pada kualitas, se-dangkan SLTP lebih pada kuantitas.
Berbicara tentang kuantitas pendidikan di SD saat ini sudah tidak relevan, terkecuali untuk SD pada daerah terpencil. Dengan dicanangkannya program wajib belajar maka secara nasional daya tampung SD relatif "sempurna", mendekati 100%. Bila semua anak usia SD (7-12 thn) ingin bersekolah maka sarana dan fasilitasnya sudah memadai.
Tingkat kesempurnaan daya tampung tersebut untuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sangatlah tinggi, namun demikian tingginya tingkat kesempurnaan tersebut justru berbalik menjadi masalah yang kompleks. Sekarang ini DIY memiliki lebih dari 2.300 SD. Menurut data persekolahan tahun 1989/1990 di DIY terdapat 2.323 SD, terdiri dari 341 (14,68%) SD swasta dan selebihnya SD negeri. Jumlah kelasnya mencapai 15.782 dengan daya tampung 631.280 mu-rid (per kelas untuk 40 mumu-rid). Artinya di DIY terdapat fasilitas kursi belajar sebanyak 631.280. Apabila pada kenyataannya murid yang ada hanya 399.495 anak maka ter-dapat 231.785 fasilitas kursi belajar yang tidak terman-faatkan, atau sebesar 58% terhadap jumlah siswa.
Dari perhitungan tersebut di atas terdapat "over capacity" (OC) sebesar 1,58 untuk tingkat propinsi DIY; dalam arti dari setiap 158 fasilitas kursi belajar maka jumlah murid riil yang memanfaatkan hanya 100 anak. Pada
tingkat lokal OC di Kulon Progo terlalu tinggi, 1,87.
Fenomena tersebut sudah tentu menimbulkan gejala disefisiensi; sekolah-sekolah kurang murid, gedung-ge-dung kurang penghuni, sarana dan fasilitas kurang pema-kai, guru-guru kurang "kerjaan", dan sebagainya. Untuk mengatasi masalah ini maka ada tiga alternatif yang bisa diimplikasi; masing-masing adalah penggabungan beberapa SD menjadi satu sekolah
(merger), penutupan SD yang kon-disinya darurat (closing), atau mengalihfungsikan fisik SD untuk sekolah yang lain (refunction).
Kompleksitas utama SD di Indonesia sekarang ini adalah mengenai kualitas; dan pemerintah sudah memulai merealisasi upaya peningkatan kualitas dari sisi gurunya. Di samping berbagai program yang telah digelar Depdikbud maka materi pidato Presiden
Soeharto 6 Januari 1992 yang salah satu bagiannya mengatakan akan "mendiploma-duakan" guru SD mencerminkan kesungguhan pemerintah dalam mena-ngani masalah kualitas.
Program PGSD "penyetaraan" yang diberlakukan bagi guru SD sebenarnya merupakan upaya peningkatan kualitas yang sangat konstruktif; namun sayang program ini banyak
menghambat kegiatan akademiknya.
Jenjang SLTP memiliki ekstremitas yang berbeda. Pada jenjang ini masalah kuantitas masih sangat relevan; apalagi kalau dikaitkan dengan rencana pencanangan pro-gram wajib belajar yang akan dimulai awal Pelita VI.
Keinginan pemerintah untuk mencanangkan program wajib belajar SLTP cukup
argumentatif; meskipun demikian untuk merealisasikannya sampai tingkat operasional amat banyak kendala yang menghalanginya. Salah satu kendala potensial menyangkut masalah daya tampung SLTP itu sen-diri yang sampai sekarang masih berkisar pada angka 65%. Pada hal, sebagai prasyarat dicanangkannya program wajib belajar adalah tercapainya angka daya tampung dalam posi si yang berarti, dalam hal ini di atas 95%. Ketika wajib belajar SD dicanangkan beberapa tahun yang lalu maka po-sisi daya tampung SD waktu itu juga berarti, di atas 95%.
Problematika nasional untuk menyongsong program wajib belajar SLTP adalah sulitnya meningkatkan daya tam pung; apalagi secara lokal beberapa daerah masih relatif sangat rendah daya tampung SLTP-nya, misalnya di Jateng yang angkanya baru sekitar 58%. Apabila melihat kesende-rungan peningkatan daya tampung dari tahun ke tahun yang relatif lamban, misalnya dari beberapa tahun terakhir i-ni angkanya tetap bertahan di bawah 70%, maka untuk mem-perbaiki angka daya tampung dari 65% s/d 95% diperlukan waktu dan beaya "ekstra". Secara kondisional ada empat alternatif pendekat- an yang dapat ditempuh untuk
meningkatkan daya tampung SLTP di Indonesia, yaitu: (1) pembangunan gedung-gedung sekolah yang baru (building aprroach; (2) penerapan sis- tem pendidikan terbuka (open school approach); (3) pe- nambahan kelompok kelas dengan pengaturan waktu sekolah
(shifting approach); dan (4) pemanfaatan gedung SD yang mengalami "over capacity"
(refunction approach).
Meskipun secara nasional kompleksitas daya tampung masih merupakan "beban" akan tetapi khusus untuk DIY ter dapat spesifikasi. Dari 470-an SLTP di DIY dengan 3.607 kelas yang ada (data thn 1989/1990) maka secara teoretik sebanyak 144.280 siswa dapat ditampung di
dalamnya. Pada hal, jumlah riil siswa yang ada hanyalah 136.834 anak. Artinya DIY sudah tidak menghadapi masalah daya tampung. Sedangkan dari sisi gurunya dewasa ini ratio guru:siswa berada pada angka 1:17 dengan kualifikasi sangat baik; dengan demikian sebenarnya DIY sangat berpotensi memulai program wajib belajar SLTP lebih dulu dari propinsi lain di luarnya.
C. PENDIDIKAN MENENGAH
Banyak kompleksitas yang dihadapi pada jenjang pendidikan menengah; akan tetapi salah satu problem be-sarnya terletak pada ekstremitas relevansitas, lebih te-gasnya menyangkut diferensiasi sekolah menengah umum dan sekolah menengah kejuruan.
berbagai gedung sekolah menengah, melengkapi laboratorium, serta sarana dan fasilitas belajar lainnya. Ini menandakan bahwa pem-bangunan fisik SMTA masih terus dilanjutkan.
Kebijakan tersebut memang sangat tepat; masalah-nya sekarang ialah menyangkut jenis SMTA mana yang perlu mendapatkan prioritas pada pembangunan fisiknya. Kiranya
pembangunan (fisik) SMTA akan lebih realistik dan rasio-nal kalau ditujukan kepada SMTA Kejuruan, dan akan lebih tidak realistik dan tidak rasional bila ditujukan kepada SMTA Umum, atau SMA. Kompleksitas utama yang menyangkut pembangunan pendidikan menengah saat ini sebenarnya ber-kaitan erat dengan belum idealnya perbandingan di antara jumlah siswa sekolah menengah umum dengan sekolah mene-ngah kejuruan.
Mengacu PP No:29/1990 maka lulusan SMA disiapkan menjadi tenaga kerja profesional melalui pendidikan lan-jutan di perguruan tinggi, sementara itu lulusan sekolah kejuruan dipersiapkan terjun langsung ke lapangan kerja sebagai tenaga kerja menengah. Karena jumlah kebutuhan tenaga kerja menengah jauh lebih tinggi dibanding tenaga kerja profesional maka seharusnya siswa sekolah kejuruan lebih tinggi jumlahnya dibanding siswa SMA.
Apabila kita sempat membaca data statistik tahun 1988/1989 maka kita akan menemuai kasus ketak-seimbangan jumlah siswa sekolah menengah. Berdasarkan data tersebut dari sebanyak 4.040.327 siswa sekolah menengah di negara kita maka 2.600.053 (64,35%) di antaranya adalah siswa SMA; serta hanya 1.318.867 (35,65%) yang merupakan siswa sekolah kejuruan dan keguruan dengan berbagai jenis, ju-rusan, serta spesifikasinya.
Dari perbandingan angka-angka tersebut di atas maka kita akan mendapatkan sesuatu yang "aneh"; sekolah umum yang seharusnya menampung siswa lebih sedikit diban ding sekolah kejuruan ternyata justru "menumpuk" murid, sebaliknya sekolah kejuruan yang mestinya menampung sis-wa lebih banyak dibanding sekolah umum ternyata justru "kekeringan" murid. Keadaan ini tentu harus mendapat per hatian yang serius dari para pengelola pendidikan.
Tingginya jumlah siswa SMA tentunya mengakibatkan tingginya lulusan; dan karena hal ini belum diimbangi dengan daya tampung perguruan tinggi yang memadai maka yang terjadi adalah makin "menumpuk"nya lulusan SMA pada setiap tahunnya. Banyak lulusan SMA yang pada "frustasi" karena kalah dalam berkompetisi masuk perguruan tinggi, sementara untuk masuk ke lapangan kerja belum mempunyai kesiapan kerja yang layak. Di sisi yang lain di lapangan kerja senantiasa mengalami kekurangan tenaga kerja mene-ngah yang benar-benar terampil (skilled worker); hal ini disebabkan di satu pihak lulusan SLTA kejuruan terbatas jumlahnya, sedang pada pihak yang lain lulusan SMA belum memiliki disiplin keterampilan yang layak.
D. BAHAN DISKUSI
Dari berbagai deskripsi tersebut di atas ada bebe rapa masalah yang kiranya perlu dijadikan bahan diskusi untuk dikembangkan lebih lanjut yaitu sebagai berikut.
1. Perlu diimplikasikan gerakan efisiensi serta kualitas SD dengan berbagai alternatif yang relevan; khususnya bagi SD swasta perlu memberi pelayanan optimal kepada masyarakat agar tetap "survival".
2. Perlu ditingkatkan terus daya tampung untuk menyambut program wajib belajar SLTP yang dicita-citakan; khu- sus bagi DIY kompleksitas daya tampung sudah teratasi dan bahkan sudah saatnya dimulai gerakan wajib bela- jar SLTP mendahului propinsi yang lainnya. 3. Pembangunan sekolah menengah kejuruan perlu mendapat prioritas; pembangunan (fisik) sekolah menengah umum (SMA) harus benar-benar dilaksanakan secara selektif. Sementara itu pihak-pihak swasta yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan perlu mempelopori pembangunan pendidikan menengah kejuruan.
REFERENSI:
Depdikbud. Rangkuman Statistik Persekolahan 1988/1989. Jakarta: Pusat Informatika Balitbang Dikbud, 1989
Depdikbud. Data Pendidikan Persekolahan Tahun Pelajaran 1989/1990. Yogyakarta: Kanwil Depdikbud Propinsi DIY, 1990
Supriyoko. Over Capacity SD di DIY Membahayakan. Yogya- karta: Kedaulatan Rakyat, 1 Agustus 1991
Supriyoko. Pendekatan Politis Pendidikan Kita. Surabaya: Jawa Pos, 2 Mei 1991
Supriyoko. Peran Sekolah Kejuruan Memecahkan Problematik Ketenagakerjaan. Yogyakarta: Majalah Pusara, Mei 1990
Supriyoko. Perlu Selektif Membangun Sekolah Menengah. Se marang: Wawasan, 15 Januari 1992