• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM MENYUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM MENYUS"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN KOMPETENSI GURU

DALAM MENYUSUN RENCANA PEMBELAJARAN

MELALUI PELATIHAN CLCK DI SMK N 2 BENER MERIAH

TAHUN PELAJARAN 2013-2014

Oleh :

Dra. INNI HIKMATIN, M.Pd NIP : 19610713 198603 2 001

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA

KABUPATEN BENER MERIAH

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan memiliki peranan penting dalam keberhasilan pembangunan di suatu negara.

Semakin baik kualitas pendidikan yang dimiliki oleh suatu negara, maka akan semakin cepat

pula kemajuan yang akan dihasilkan oleh negara tersebut dalam berbagai bidang kehidupan. Hal

tersebut dikarenakan pendidikan akan selalu berbanding lurus dengan tingkat kualitas sumber

daya manusia, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada seberapa besar tingkat pembangunan

dan perubahan yang berhasil dilaksanakan. Oleh sebab itu, setiap pemimpin negara tentu harus

senantiasa memperhatikan dan meningkatkan kualitas pendidikan masyarakatnya agar dapat

melaksanakan pembangunan dan memenangkan kompetisi global.

Untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas tersebut, maka dibutuhkan pula

guru-guru yang berkualitas dan berkompetensi. Karena guru-guru merupakan ujung tombak pejuang

pemberantas kebodohan yang mentransformasikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai- nilai

kepada siswa, dan juga berperan sebagai aktor utama yang sangat berpengaruh dalam proses

pembelajaran. Sehingga tanpa kehadiran peran guru yang handal dalam mendidik para generasi

muda bangsa, maka cita-cita untuk menjadi negara yang maju akan sulit untuk diraih.

Sebagai pemegang peranan utama dalam mencapai keberhasilan setiap upaya

pendidikan, maka guru juga memiliki tugas dan tanggung jawab yang utama pula untuk

mencapai keberhasilan yang dimaksud. Oleh sebab itu, kompetensi guru dalam melaksanakan

pembelajaran menjadi hal utama yang juga perlu untuk diperhatikan. Karena kemampuan guru

dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai tenaga pendidik tersebut akan sangat

mempengaruhi hasil dan mutu pembelajaran yang diperoleh, yang pada gilirannya akan

mempengaruhi kualitas pendidikan.

Pada dasarnya setiap guru harus memiliki kompetensi yang baik dalam segala aspek

yang berkaitan dengan peran dan tanggung jawabnya sebagai seoarang tenaga pendidik. Namun

(3)

sebagai seorang guru, seperti merancang pembelajaran, menyajikan pembelajaran, dan

mengevaluasi bahan ajar, yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan agar siswa memperoleh

hasil belajar yang optimal. Oleh karena itu, guru harus menguasai dan mengembangkan ketiga

ranah profesinya yang saat ini perkembangannya semakin kompleks sesuai dengan

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan memiliki kemampuan mengajar yang baik, guru diharapkan dapat menyajikan

ide, problem, atau pengetahuan yang kompleks dengan menarik, sehingga dapat dipahami

dengan mudah oleh setiap siswanya. Dan dengan memiliki kemampuan yang baik dalam

melakukan evaluasi hasil belajar, guru diharapkan dapat memahami kekurangan yang terjadi

dalam pembelajaran yang sebelumnya, sehingga dapat merumuskan kebijakan solutif untuk

mengatasi kekurangannya tersebut pada pembelajaran yang selanjutnya.

Namun demikian, kemampuan dalam merancang pembelajaran dengan baik merupakan

kemampuan dasar yang pertama kali harus dikuasai oleh seorang guru. Karena tidak akan ada

keberhasilan, tanpa ada perencanaan dan persiapan yang matang untuk mencapai tujuan yang

telah ditetapkan sebelumnya. Sehingga untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran,

maka harus ada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang tepat dan sesuai, yang akan

dijadikan sebagi dasar atau acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran. RPP juga akan

sangat membantun guru dalam mengelola pembelajaran dengan baik dan benar.

Oleh sebab itu, keberhasilan seorang Guru dalam membelajarkan siswa juga sangat

dipengaruhi oleh kemampun guru tersebut dalam merancang RPP yang akan dijalankannya.

Karena dalam RPP juga tercakup faktor-faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan

pembelajaran di suatu sekolah.

Berdasarkan hasil supervisi yang telah penulis lakukan di SMK N 2 Bener Meriah pada

semester genap tahun ajaran 2013/2014, penulis menemukan beberapa masalah yang dihadapi

guru dalam menyusun RPP, seperti:

Penulis melihat bahwa masih banyak guru yang lebih menitik beratkan perhatian kepada

isi atau materi ajar saja. Sehingga guru lebih terfokus pada transfer materi kepada siswa, tanpa

(4)

pembelajaran, seperti; metode, media, pembagian waktu, skenario atau langkah- langkah dalam

kegiatan pembelajaran, dan juga model pembelajaran yang sesuai untuk digunakan.

Kondisi yang penulis temukan dalam supervisi di dua sekolah tersebut merupakan

hambatan untuk mencapai kesuksesan dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu, penulis

merasa penting untuk melakukan penelitian tentang PENINGKATAN KOMPETENSI GURU

DALAM MENYUSUN RENCANA PEMBELAJARAN MELALUI PELATIHAN CLCK DI SMK N 2 BENER MERIAH, yang bertujuan untuk meningkatkan proses pembelajaran di

sekolah tersebut. Penulis memilih menggunakan pelatihan CLCK karena merupakan model

pembinaan profesi guru yang dilakukan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan

berkesinambungan, dengan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang dipaparkan diatas, maka penulis ingin menemukan jawaban

dari pertanyaan berikut :

Apakah model pelatihan CLCK dapat meningkatkan kompetensi guru dalam

menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di SMK N 2 Bener Meriah pada

semerter ganjil tahun pelajaran 2013/2014 ?”

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :

1. Meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP

2. Meningkatkan pengetahuan guru tentang materi ajar

3. Meningkatkan pengetahuan guru tentang proses belajar mengajar

4. Menguatkan hubungan kolegalitas

(5)

D. Manfaat Penelitian

a). Manfaat Penelitian Bagi Guru dan Siswa

1. Peningkatan mutu guru dan mutu pembelajaran, yang pada gilirannya berakibat pada

peningkatan mutu lulusan (siswa).

2. Guru mudah berkonsultasi kepada Pengawas dalam hal pembelajaran atau kesulitan

terkait materi pelajaran.

3. Guru memiliki banyak kesempatan untuk membuat bermakna ide-ide pendidikan dalam

praktek mengajarnya sehingga dapat merubah perspektifnya tentang pembelajaran, dan

belajar melihat praktek mengajarnya dari perspektif siswa.

b). Manfaat Penelitian Bagi Pengawas

1. Peningkatan pengalaman pengawas di lapangan, yang pada gilirannya akan

meningkatkan mutu dan relevansi pembelajaran.

2. Sekolah sebagai salah satu kancah bagi pengawas untuk melakukan kegiatan penelitian

dan pengabdian kepada masyarakat, yang merupakan salah satu tugas pokok pengawas.

E. Hipotesis Tindakan

Dari latar belakang masalah dan rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, maka

hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :

a. Model pembinaan CLCK dapat meningkatkan kompetensi guru dalam penyusunan

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di SMK N 2 Bener Meriah.

b. Model pembinaan CLCK dapat meningkatkan proses pembelajaran Matematika di

(6)

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Kompetensi Guru

Kompetensi dapat dipahami sebagai suatu bentuk kapasitas atau kemampuan seseorang,

baik kemampuan fisik maupun kemampuan intelektual, untuk mengerjakan berbagai tugas dalam

suatu pekerjaan (Robbins, 2001). Hal senada juga di jelaskan oleh Syah (2000), yang

menjelaskan bahwa kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan, keadaan berwenang, atau

memenuhi syarat menurut ketentuan hukum. Artinya, seseorang yang memiliki kemampuan atau

memenuhi syarat-syarat tertentu untuk melakukan suatu tugas, maka orang tersebut dikatakan

berkompeten.

Dalam buku ----, karangan Mulyasa (2003), Mc. Ahsan menyebutkan bahwa kompetensi

adalah perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direflesikan dalam

kebiasaan berfikir dan bertindak. Sementara Finch & Crunkilton mengartikan kompetensi

sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diper lukan

untuk menunjang keberhasilan.

Dengan demikian, kemampuan, pengetahuan, dan juga sikap yang dimiliki seseorang

sangatlah mempengaruhi kompetensinya dalam melakukan suatu tugas. Sebagaimana Hutapea &

Thoha (2008) juga menjelaskan bahwa terdapat tiga ha l utama yang membentuk kompetensi

seseorang, yaitu: pengetahuan, kemampuan dan juga prilaku individu. Sehingga dapat dipahami

bahwa orang yang memiliki kompetensi adalah orang yang memiliki pengetahuan, kemampuan,

keterampilan dan sikap dalam melakukan berbagai tugas yang menunjang pada keberhasilan.

Semakin tinggi kompetensi yang dimiliki seseorang dalam suatu pekerjaan, maka semakin tinggi

juga tingkat keberhasilan yang akan diperolehnya.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa seorang guru tentu juga harus memiliki

kompetensi dalam melaksanakan tugasnya, sebagaimana Nana Sudjana (2002) mengatakan

bahwa kompetensi guru merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru.

(7)

mengajar dapat dicapai dengan maksimal. Karena guru merupakan faktor utama yang sangat

mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran.

Sederhananya, kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan

kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak (Syah, 2000). Namun dalam

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dijelaskan dengan lebih

mendalam tentang kompetensi guru, yaitu seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku

yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru ataupun dosen dalam melaksanakan tugas

keprofesionalannya.

Ini menunjukkan bahwa ada banyak faktor yang saling mempengaruhi yang membentuk

kompetisi seorang guru atau dosen, sehingga untuk memperoleh kompetensi yang baik maka

seorang guru harus senantiasa mengasah pengetahuan, keterampilan dan perilakunya dalam

melaksanakan pembelajaran. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika Abdul Majid (2005)

mengatakan bahwa kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru, menunjukkan bagaimana

kualitas guru tersebut dalam melaksanakan pembelajaran. Karena kompetensi akan

mencerminkan bagaimana kemampuan seorang guru dalam menjalankan perannya sebagai

tenaga pendidik.

Suparlan (2006) menjelaskan bahwa ada beberapa kompentensi awal yang harus dimiliki

oleh seorang guru, yaitu: penguasaan materi, metode dan juga sistem penilaian. Namun Suparlan

menambahkan bahwa kompetisi tersebut juga harus dilandasi dengan penguasaan kepribadian

keguruan dan keterampilan lainnya agar guru tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan

professional. Senada dengan Suparlan, Glasser (Sudjana, 2002) juga menawarkan empat hal

utama yang harus dikuasi oleh guru dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik, yaitu:

menguasai bahan pelajaran, kemampuan untuk mendiagnosa tingkah laku siswanya, kemampuan

untuk melaksanakan proses pembelajaran, dan kemampuan untuk mengukur hasil belajar

siswanya.

Namun standar kompetensi guru secara keseluruhan menurut Direktorat Tenaga

Kependidikan Depdiknas (2003) terdiri dari tujuh kompetensi, yaitu: penyusunan rencana

pembelajaran, penguasaan bahan kajian akademik, pelaksanaan interaksi belajar mengajar,

penilaian prestasi belajar peserta didik, pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar

peserta didik, pengembangan profesi, dan pengembangan wawasan pendidikan. Tujuh hal di atas

(8)

kewajibannya sebagai pendidik, sehingga hasil pembelajaran dapat dicapai sesuai dengan yang

diharapkan. Tanpa kompetensi yang baik, maka proses pembelajaran tidak akan berlangsung

tidak akan memberikan hasil memuaskan.

B. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP merupakan instrumen penting yang harus dipersiapkan guru sebelum memulai proses

pembelajaran, karena tidak akan ada keberhasilan tanpa persiapan atau perencanaan yang matang

sebelumnya. Sebagaimana Nawawi (Majid, 2008) menjelaskan bahwa, perencanaan berarti

menyusun langkah- langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang

terarah pada pencapaian tujuan tertentu. Sehingga dengan membuat perencanaan-perencanaan

awal tentang proses pembelajaran yang akan dijalankan, dapat membantu memandu guru agar

pembelajaran yang dijalankan sesuai dengan perencanaan dan tujuan yang ingin dicapai.

Menurut Muslich (2008), RPP adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit

yang akan diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas. Sejalan dengan yang disampaikan

Muslich tersebut, dalam Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 pasal 20, juga disebutkan

bahwa yang dimaksud dengan RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan

pengorganisasian pembelajaran, untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam

standar isi dan dijabarkan dalam silabus.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui peraturannya No. 103 tahun 2014 juga

menjelaskan bahwa, RPP merupakan rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci

mengacu pada silabus,buku teks pelajaran, dan buku panduan guru. Dalam peraturan menteri

tersebut disebutkan beberapa komponen utama yang harus dimuat dalam sebuah RPP, yaitu:

1. Identitas sekolah/madrasah, mata pelajaran, dan kelas/semester

2. Alokasi waktu

3. Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), dan indikator pencapaian kompetensi

4. Materi pembelajaran

5. Kegiatan pembelajaran

6. Penilaian

(9)

Dari beberapa defenisi di atas, dapat dipahami bahwa RPP merupakan kebutuhan wajib

yang perlu dirancang dengan sebaik mungkin agar target pembelajaran dapat dicapai dengan

maksimal. Oleh sebab itu kemampuan membuat RPP yang berdaya terap tinggi merupakan

langkah awal yang harus dimiliki oleh guru.

Sebelum membuat sebuah RPP, ada beberapa prinsip penyusunan RPP yang harus

diperhatikan (Permendikbud, no. 103, Tahun 2014) :

1. Setiap RPP harus secara utuh memuat kompetensi dasar sikap spiritual (KD dari KI-1),

sosial (KD dari KI-2), pengetahuan (KD dari KI-3), dan keterampilan (KD dari KI-4).

2. Satu RPP dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih.

3. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik RPP disusun dengan memperhatikan

perbedaan kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat,

potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar,

latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.

4. Berpusat pada peserta didik Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada

peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi,

kemandirian, dan semangat belajar, menggunakan pendekatan saintifik meliputi

mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/mengasosiasi, dan

mengomunikasikan.

5. Berbasis konteks Proses pembelajaran yang menjadikan lingkungan sekitarnya sebagai

sumber belajar.

6. Berorientasi kekinian Pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi, dan nilai-nilai kehidupan masa kini.

7. Mengembangkan kemandirian belajar Pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik

untuk belajar secara mandiri.

8. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut pembelajaran RPP memuat rancangan

program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.

9. Memiliki keterkaitan dan keterpaduan antarkompetensi dan/atau antarmuatan RPP

disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara KI, KD, indikator

pencapaian kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, pe nilaian, dan

(10)

mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas

aspek belajar, dan keragaman budaya.

10. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi RPP disusun dengan

mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara

terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

C. Pelatihan CLCK

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2007) dijelaskan bahwa pembinaan CLCK

(Contoh, Latihan, Control, Kerja Mandiri) merupakan suatu pola usaha, tindakan dan kegiatan

yang dilakukan secara efesien dan efektif, untuk memperoleh hasil yang lebih baik dan sesuatu

yang akan atau disediakan untuk ditiru/diikuti untuk hasil latihan dalam pengawasan, sehingga

kegiatan melakukan sesuatu tidak bergantung pada orang lain.

Pengertian di atas senada dengan pengertian CLCK yang dijelaskan dala m kamus Pelajar

SLTP (2003), yang menyebutkan bahwa pembinaan CLCK adalah pola perbuatan membina

sesuatu yang disediakan untuk ditiru/diikuti dari hasil berlatih dengan pengawasan dalam

(11)

BAB III

Metode Penelitian

A. Lokasi dan Waktu penelitian

Penelitian ini bertempat di SMK N 2 Bener Meriah, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi

Aceh. Adapun pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada semester ganjil Tahun Pelajaran

2013/2014.

B. Subjek dan Objek penelitian

1. Subjek penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah guru Matematika yang mengajar di SMK N 2 Bener

Meriah.

2. Objek penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah pelatihan CLCK untuk meningkatkan kompetensi guru

dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran di SMK N 2 Bener Meriah.

C. Jenis dan Pendekatan penelitian

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Pendekatan yang digunakan

adalah pendekatan kualitatif, yang bertujuan untuk memaparkan pengaruh penggunaan pelatihan

CLCK terhadap peningkatan kompetensi guru, sebagai upaya meningkatkan proses

pembelajaran.

D. Defenisi Operasional

Pelatihan CLCK (Contoh, Latihan, Control, dan Kerja Mandiri) merupakan suatu model

pelatihan untuk profesi pendidik dengan mencontohkan cara penyusunan rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP) yang baik dan benar, yang kemudian dapat dilakukan sendiri oleh para guru

(12)

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP.

Kompetensi yang dimaksud dalam penelitian ini ialah pengetahua n, kemampuan, dan

keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang guru dalam menyusun RPP yang baik dan benar,

sehingga dapat meningkatkan proses pembelajaran. Dengan memiliki kompetensi yang baik

dalam menyusun RPP, maka diharapkan guru tersebut dapat mengelola pembelajaran dengan

baik dan maksimal, dan pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah

tersebut.

Dalam penelitian ini, pelatihan CLCK adalah upaya pembinaan terhadap guru matematika

yang mengajar di SMK N 2 Bener Meriah, yang dilakukan dengan pemberaian contoh untuk

diikuti/ditiru, dan selanjutnya akan dikerjakan secara mandiri oleh setiap guru, untuk

meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP di sekolah tersebut.

E. Tekhnik Pengumpulan Data

Tekhnik yang digunakan penulis dalam metode pengumpulan data pada pene litian ini

adalah tekhnik observasi dan teknik wawancara. Sedangkan instrumen penelitian yang

digunakan dalam penelitian ini dikembangkan instrumen pedoman observasi dalam program

proses pembelajaran dari awal sampai akhir pada setiap siklus. Pedoman Obser vasi digunakan

untuk menggali respon pada guru matematika, sedangkan pedoman wawancara digunakan untuk

melengkapi data yang digali melalui pedoman observasi.

F. Prosedur Analisis

Prosedur ini melibatkan guru matematika di sekolah SMK N 2 Bener Meriah pada

semester ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014, yang berjumlah 9 orang. Penelitian ini akan

dilakukan dengan dua siklus :

A. Siklus I - Perencanaan

1. Peneliti memberikan penjelasan kepada guru matematika di SMK N 2 Bener Meriah,

tentang Penelitian Tindakan Sekolah (PTS).

(13)

3. Menyuruh guru membawa bahan-bahan seperti kurikulum, silabus, RPP, bahan ajar

dan sebagainya.

- Pelaksanaan

1. Pemaparan kompetensi pengelolaan pembelajaran tentang pelaksanaan pembelajaran.

2. Kegiatan dan pengamatan meliputi tindakan oleh peneliti sebagi upaya membangun

pemahaman konsep serta mengamati hasil atau dampak dari pembelajaran yang

diterapkan.

- Observasi / Tindakan Pembelajaran

Kegiatan yang dilakukan yaitu: peneliti melaksana kan observasi atau mengamati cara guru

mengajar.

- Refleksi

Peneliti melihat dan mempertimbangkan hasil dari tindakan berdasarkan lembar

pengamatan.

B. Siklus II - Perencanaan

Pada siklus yang kedua ini, RPP dirancangan berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran

yang telah direvisi pada siklus I.

- Pelaksanaan

Kegiatan dan pengamatan oleh peneliti dalam pelaksanaan perbaikan proses

pem-belajaran.

- Observasi / tindakan pembelajaran

Menelaah tindakan yang sudah direvisi

- Refleksi

Pengambilan kesimpulan akhir dari tindakan siklus I dan II.

(14)

E. Indikator Kebe rhasilan

Adapun indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah peningkatan kompetensi guru matematika di SMK N 2 Bener Meriah dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran,

melalui model pembinaan CLCK. Hasil yang diperoleh adalah terjadinya peningkatan aktivitas

dan kompetensi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dari siklus I ke siklus II.

Ketercapain indikator kinerja terdapat pada tindakan ke II. Indikator kinerja adalah bila

perolehan nilai minimal 81 (Kategori Baik) dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru

matematika di kelas, maka sudah dapat dikatakan tindakan yang diterapkan berhasil. Aspek yang

diukur adalah antusiasme guru mata pelajaran matematika, interaksi guru dengan pembina

pengawas sekolah, interaksi antar guru mata pelajaran matematika yang melakukan CLCK, kerja

Referensi

Dokumen terkait

Mekanisme ini terjadi dengan adanya bantuan berupa substansi analgetik endogen seperti enkephalin (ENK), norepinephrine, γ-aminobutyric acid (GABA), active opioid,

Nilai signifikansi (p- value) koefisien korelasi dibandingkan dengan niali a=0,05, maka p-value hasil analisis diatas berarti lebih kecil (<) 0,05 sehingga dapat

Jika melihat perkembangan filsafat analitik bahasa mulai dari awal abad 20 hingga perkembangan mutakhir di tahun-tahun sesudah perang dunia ke 2, tampak bahwa landasan pemikiran

Dengan demikian ia dapat menghidupi diri dan keluarganya tanpa memberatkan pemerintah (masyarakat umum), disamping itu dengan karyanya juga dapat menambah secara langsung

Lampiran 7 : Road Map Refomasi Birokrasi 2015-2019 Area Penataan Peraturan Perundang-Undangan Sasaran Reformasi Birokrasi Area Perubahan Program- program Strategi

Game “Fruit Defence” adalah game dengan genre Tower Defence yang mampu beradaptasi dengan kemampuan player karena menerapkan dynamic balancing, sehingga tingkat

Pengabdian kepada masyarakat ini ditujukan bagi guru-guru SMA dan SMK Muhammadiyah Kartasura yang didasarkan pada beberapa permasalahan di antaranya (1) banyak guru dari kedua

Penulis beranggapan, jika partikel fatis a’dan la tersebut diletakkan dibagian tengah kalimat, diujarkan dalam suatu ujaran dengan intonasi, mimik, dan gestik