• Tidak ada hasil yang ditemukan

Standar Nasional Indonesia SNI XXXX XXXX

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Standar Nasional Indonesia SNI XXXX XXXX"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Standar Nasional Indonesia

SNI XXXX:XXXX

Dermaga untuk pelayanan kapal roro

(2)
(3)

i

3 Istilah dan definisi ... 1

4 Ketentuan umum ... 3

4.1 Sistem satuan ... 3

4.2 Karakteristik & Jenis kapal ... 3

5 Ukuran pokok kapal ... 3

6 Jenis dermaga ... 4

7 Ukuran dermaga ... 6

7.1 Sketsa definisi ukuran dermaga ... 6

7.2 Ukuran tipikal dermaga ... 7

7.3 Kedalaman kolam dermaga ... 7

7.4 Panjang dermaga ... 8

7.5 Elevasi dermaga ... 9

7.6 Lebar apron ... 9

8 Perlengkapan dermaga ... 9

8.1 Fender (bantalan sandar) ... 9

8.2 Alat penambat ... 12

9 Kekuatan struktur dermaga ... 12

9.1 Berat sendiri dermaga dan kelengkapannya ... 13

9.2 Beban operasi ... 13

9.3 Beban lingkungan ... 13

9.4 Perhitungan kekuatan struktur ... 13

10Gambar tipikal dermaga ... 14

11Kelengkapan dermaga ... 14

11.1Pencahayaan ... 14

11.2Pasokan daya listrik ... 14

11.3Pasokan air bersih ... 14

11.4Sistem drainase ... 14

11.5Sistem pembuangan limbah cair domestik (sewage) ... 14

11.6Tangga akses ... 15

12.3Beban pada ramp pantai ... 17

Lampiran A ... 19

(4)
(5)

iii Prakata

Standar ini bertujuan untuk memberikan pedoman baku dalam perancangan dermaga roro. Standar ini ditujukan bagi perencana pelabuhan, untuk menjadi acuan yang seragam dalam perencanaan dermaga roro.

(6)
(7)

1 dari 20

Dermaga untuk pelayanan kapal roro

1 Ruang lingkup

Standar ini menetapkan ukuran dan fasilitas dermaga pelayanan kapal Ro/Ro, yakni yang mencakup segala jenis kapal yang memiliki ramp sebagai moda bongkar muat, termasuk diantaranya kapal ferry penumpang dan car carrier.

2 Acuan normatif

Undang-undang No. 17 Tahun 2008, Pelayaran. Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2009, Kepelabuhanan.

Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 414 Tahun 2013, Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Nasional.

BS 6349-1, Maritime structures – Part 1: Code of practice for general criteria. BS 6349-2, Maritime structures – Part 2: Design of quay walls, jetties and dolphins. BS 6349-4, Maritime structures – Part 4: Code of practice for design of fendering and mooring systems.

Technical standards and commentaries for port and harbour facilities in Japan, OCDI, 2002.

3 Istilah dan definisi

3.1

deadweight tonnage(DWT)

berat maksimum barang yang dapat dimuat ke atas kapal dalam satuan ton. 3.2

gross tonnage(GT)

ukuran kapasitas isi kapal berdasarkan konvensi Internasional dari IMO Tahun 1969 tentang International Convention on Tonnage Measurement of Ships; untuk kapal-kapal non-konvensi berdasarkan peraturan negara bendera kapal dan tercantum dalam Surat Ukur Kapal yang dinyatakan sebagai tonase kotor.

3.3 pasang surut

fluktuasi muka air laut sebagai fungsi waktu karena adanya gaya tarik benda-benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap massa air laut di bumi.

3.4 spring tides

kondisi pasang surut yang terjadi dua kali dalam satu bulan dimana rentang rata-rata dua pasang mencapai nilai tertinggi.

Commented [DA1]:

Sumber: BS 6349-1: 2000, Maritime structures - Part 1: Code of practice for general criteria.

Sumber: Technical Standards and Commentaries For Port and Harbour Facilities In Japan, Edisi 2002, The Overseas Coastal Area Development Institute of Japan (OCDI).

Commented [DA2]: Sumber: http://www.dephub.go.id/knkt/ntsc_maritime/maritime_glossary.htm

Commented [DA3]:

Sumber:Triatmodjo, Bambang. Perencanaan Pelabuhan. Yogyakarta: Beta Offset, 2009.

(8)

2 dari 20 3.5

mean high water springs (MHWS)

nilai rata-rata elevasi muka air laut dalam kondisi pasang tertinggi yang dihitung dalam jangka panjang.

3.6

mean low water springs (MLWS)

nilai rata-rata elevasi muka air laut dalam kondisi surut terendah yang dihitung dalam jangka panjang.

3.7

mean sea level (MSL)

nilai rata-rata elevasi muka air laut yang dihitung dalam jangka panjang, misalnya dalam jangka waktu 18,6 tahun, atau nilai rata-rata elevasi muka air laut dalam kondisi tidak terjadi pasang surut.

3.8 pelabuhan

tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, naik turun penumpang, dan/atau muat-bongkar barang, berupa terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra-dan antarmoda transportasi.

3.9 . pelabuhan laut

pelabuhan yang dapat digunakan untuk melayani kegiatan angkutan laut dan/atau angkutan penyeberangan yang terletak di laut atau di sungai.

3.10

pelabuhan sungai dan danau

pelabuhan yang digunakan untuk melayani angkutan sungai dan danau yang terletak di sungai dan danau.

3.11 dermaga

bangunan tempat menambatkan kapal yang melakukan muat-bongkar barang dan menaik-turunkan penumpang.

3.1 wharf

dermaga yang paralel dengan pantai dan biasanya berimpit dengan garis pantai 3.2

pier

dermaga yang berada pada garis pantai dan posisinya tegak lurus dengan garis pantai (berbentuk jari)

3.3 jetty

dermaga yang menjorok ke laut sedemikian sehingga sisi depannya berada pada kedalaman yang cukup untuk merapat kapal

Commented [DA5]: average, over a long period of time, of the heights of two successive high waters at springs Sumber: BS 6349-1: 2000, Maritime structures - Part 1: Code of practice for general criteria.

Commented [DA6]: average, over a long period of time, of the heights of two successive low waters at springs Sumber: BS 6349-1: 2000, Maritime structures - Part 1: Code of practice for general criteria.

Commented [DA7]: average level of the sea surface over a long period, preferably 18.6 years (one cycle of the moon’s nodes), or the average level that would exist in the absence of tides

Sumber: BS 6349-1: 2000, Maritime structures - Part 1: Code of practice for general criteria.

Commented [DA8]: Sumber: Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2009, Kepelabuhanan., Pasal 1 butir 1

Commented [DA9]: Sumber: Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2009, Kepelabuhanan., Pasal 1 butir 7.

Commented [DA10]: Sumber: Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2009, Kepelabuhanan., Pasal 1 butir 8.

Commented [DA11]: Sumber: Triatmodjo, B., 2009. Perencanaan Pelabuhan. Yogyakarta: Beta Offset.

Commented [DA12]: Sumber: Triatmodjo, B., 2009. Perencanaan Pelabuhan. Yogyakarta: Beta Offset.

(9)

3 dari 20 3.4

apron

daerah yang terletak antara sisi dermaga dan sisi depan gudang (pada terminal barang umum) atau container yard (pada terminal peti kemas), di mana terdapat pengalihan kegiatan angkutan laut (kapal) ke kegiatan angkutan darat

3.12 deck on pile

konstruksi dermaga berupa struktur lantai dermaga yang ditumpu oleh pondasi tiang. 3.13

Ro/Ro (roll-on/roll-off)

metode bongkar muat dimana proses bongkar muat kapal dilakukan dengan menurunkan ramp pada kapal ke dermaga sehingga forklift dan kendaran beroda lainnya dapat masuk dari dermaga ke kapal dan sebaliknya

4 Ketentuan umum

4.1 Sistem satuan

Sistem satuan yang digunakan dalam standar ini adalah Sistem Internasional (SI). Konversi satuan antar berbagai sistem disajikan dalam Lampiran A.

4.2 Karakteristik & Jenis kapal

Karakteristik kapal yang mempengaruhi perencanaan dermaga diantaranya panjang total kapal, lebar kapal, draft, displacement, bentuk dan ukuran lambung kapal, struktur atas kapal (superstructure of vessel), kapasitas penumpang, jenis kargo dan kapasitas kargo. Karakteristik kapal dan pengaruhnya terhadap perencanaan dermaga dijelaskan dalam tabel dibawah ini:

Tabel 1 Hubungan antara karakteristik kapal dengan perencanaan dermaga

Karakteristik Kapal Aspek Perencanaan

Panjang Kapal (LoA) Panjang dan denah dermaga

Lebar Kapal (B)

Lebar kolam pelabuhan dan alur pelayaran

Lebar jangkauan alat bongkar muat

Draft (D) Kedalaman kolam pelabuhan dan alur

pelayaran

Displacement (∆) Energi tumbukan kapal dan sistem fender Ukuran dan bentuk lambung kapal dan

konfigurasi struktur atas kapal

Sistem fender dan bollard Penempatan perlengkapan dermaga Kapasitas Penumpang Area tunggu, jalan masuk dan fasilitas

untuk penumpang

Jenis dan Kapasitas Kargo Kebutuhan lapangan penumpukan / gudang dan alat bongkar muat. 5 Ukuran pokok kapal

Ukuran pokok kapal rencana dibutuhkan dalam perencanaan/penentuan ukuran fasilitas pelabuhan, seperti dermaga, kolam pelabuhan dan alur pelabuhan. Dalam perencanaan ukuran dermaga, kapal rencana yang digunakan adalah kapal terbesar yang akan dilayani. Definisi ukuran pokok kapal ditunjukkan pada Gambar 1.

(10)

4 dari 20 Gambar 1 - Ukuran pokok kapal

Data – data dimensi kapal sebaiknya didapat dari pengguna jasa agar lebih akurat dan aktual, namun apabila data dimensi kapal tidak tersedia, dapat digunakan dimensi kapal yang disajikan pada tabel berikut.

Tabel 2 Dimensi tipikal kapal roro

DWT DT LOA LPP Breadth Depth Draft max

(t) (t) (m) (m) (m) (m) (m) Dalam hal ukuran kapal dinyatakan dalam satuan GT, nilai DWT kapal dapat ditentukan berdasarkan korelasi antara GT dan DWT sebagai berikut:

DWT = GT/0,808 6 Jenis dermaga

Jenis dermaga dibedakan menurut orientasinya terhadap garis pantai dan menurut jenis strukturnya. Menurut orientasinya, dermaga dibedakan menjadi tipe wharf, pier dan jetty.

freeboard

Sumber: Technical Standards and Commentaries For Port and Harbour Facilities In Japan, Edisi 2002, The Overseas Coastal Area Development Institute of Japan (OCDI).

Commented [DA16]:

(11)

5 dari 20

Menurut jenis strukturnya, dermaga dibendakan menjadi dermaga dengan struktur terbuka dan tertutup. Beberapa jenis dermaga ditunjukkan pada Gambar 2.

Wharf dapat berfungsi sebagai penahan tanah yang ada dibelakangnya. Berbeda dengan wharf yang digunakan untuk merapat pada satu sisinya, pier bisa digunakan pada satu sisi atau dua sisinya; sehingga dapat digunakan untuk merapat lebih banyak kapal. Jetty digunakan untuk merapat kapal tanker atau kapal pengangkut gas alam, yang mempunyai ukuran sangat besar. Sisi muka jetty ini biasanya sejajar dengan pantai dan dihubungkan dengan daratan oleh jembatan yang membentuk sudut tegak lurus dengan jetty (Triatmodjo, 2009). Sketsa dermaga tipe wharf, pier dan jetty ditunjukkan pada Gambar 3.

Struktur Dermaga

Pier

Wharf Jetty

Struktur Tertutup Struktur Terbuka

Tiang Pancang

Blok Beton Kaison Sel Turap Baja Dinding Penahan Tanah

Dinding Gravitasi Dinding Turap

Gambar 2 – Jenis dermaga

Gambar 3 – Jenis dermaga jetty, quay/wharf dan pier

Pemilihan tipe dermaga tergantung pada jenis kapal yang dilayani (kapal penumpang atau barang yang bisa berupa barang satuan, peti kemas, barang curah padat maupun cair, kapal ikan, kapal militer, dsb), ukuran kapal, kondisi topografi dan tanah dasar laut,

Jetty

Quay/Wharf

Wilayah daratan

(12)

6 dari 20

kondisi hidrooseanografi (gelombang dan pasang surut). Tipe dermaga dipilih yang paling sesuai sehingga biaya pembangunannya seekonomis mungkin (Triatmodjo, 2009). Gambar 4 menunjukkan pertimbangan dalam menentukan tipe dermaga.

Pengerukan

Dasar pelabuhan

Turap Wharf

Jetty

Tiang pancang Dasar laut

Muka air laut

Kapal

Kapal

Kapal Kedalaman yang dibutuhkan

Gambar 4 – Pertimbangan dalam menentukan tipe dermaga

7 Ukuran dermaga

7.1 Sketsa definisi ukuran dermaga

(13)

7 dari 20

Gambar 5 – Sketsa definisi ukuran dermaga

7.2 Ukuran tipikal dermaga

Apabila kapal rencana tidak diketahui, maka ukuran tipikal dermaga dapat mengacu pada Tabel 3. Panjang dermaga dibulatkan ke atas dengan ketelitian 5 meter. Kedalaman kolam dermaga dibulatkan ke atas dengan ketelitian 0,5 meter, dan dihitung terhadap elevasi LLWL.

Perhitungan yang lebih teliti dengan mengacu pada ukuran kapal rencana disajikan pada sub bab berikutnya.

Tabel 3 Ukuran tipikal dermaga roro

DWT Panjang dermaga Kedalaman kolam dermaga Lebar apron 7.3 Kedalaman kolam dermaga

Kedalaman standar kolam dermaga ditentukan dengan menambahkan ruang bebas di bawah lunas (under keel clearance) dengan draft maksimum kapal rencana. Untuk ruang

(14)

8 dari 20

bebas di bawah lunas, nilai 10% dari draft maksimum digunakan sebagai standar. Secara matematis, dinyatakan dalam persamaan berikut:

d = draftmax + UKC = draftmax + 10% x draftmax = 1,1 × draftmax

Keterangan

d adalah kedalaman kolam dermaga, dihitung terhadap elevasi muka air terendah

(Lowest Low Water Level, LLWL)

draftmax adalah draf kapal terbesar dalam kondisi sarat (fully loaded)

UKC adalah under keel clearance, ruang bebas di bawah lunas, besarnya 10% draftmax

Untuk dermaga yang digunakan oleh kapal dalam kondisi cuaca buruk (badai), margin untuk gerakan kapal oleh angin dan gelombang harus ditambahkan ke ruang bebas lunas.

7.4 Panjang dermaga

Panjang standar dermaga ditentukan dengan menambahkan panjang yang dibutuhkan oleh tali tambatan haluan dan buritan dengan panjang keseluruhan kapal rencana. Jika kapal ditambatkan sejajar dengan dermaga, konfigurasi tali tambat ditunjukkan pada Gambar 6. Tali tambat haluan dan buritan biasanya diatur pada sudut 30º sampai 45º terhadap muka dermaga, karena tali ini digunakan untuk mencegah pergerakan kapal pada arah longitudinal (pada arah haluan dan arah buritan) dan pada arah lateral (pada arah daratan dan lautan).

A D C C D B

Keterangan:

A adalah tali haluan (bow line) B adalah tali buritan (stern line) C adalah tali pengikat (spring lines) D adalah tali penahan (breast lines)

Gambar 6 – Konfigurasi tali tambat

Panjang dermaga untuk satu tambatan sama dengan panjang kapal terbesar yang menggunakan dermaga ditambah ruang bebas (clearance) sebesar 10% dari panjang kapal terbesar yang bersandar di dermaga. Secara matematis, panjang dermaga untuk satu tambatan dinyatakan dalam persamaan berikut:

Lp = 1,2 × Loa

Keterangan

Lp adalah panjang dermaga

Loa adalah panjang kapal terbesar yang dilayani.

Commented [DA17]:

Sumber: OCDI, 2002. Technical Standards and Commentaries For Port and Harbour Facilities In Japan. Edisi 1999. Tokyo: OCDI.

Commented [DA18]:

Sumber: OCDI, 2002. Technical Standards and Commentaries For Port and Harbour Facilities In Japan. Edisi 1999. Tokyo: OCDI.

(15)

9 dari 20

Apabila dermaga digunakan oleh lebih dari satu tambatan kapal, di antara dua kapal yang berjajar diberi jarak sebesar 10% kali panjang kapal terbesar yang menggunakan pelabuhan. Secara matematis, panjang dermaga untuk beberapa tambatan dinyatakan dalam persamaan berikut:

Lp = n × Loa + (n + 1) × 10% × Loa

Keterangan

Lp adalah panjang dermaga

n adalah jumlah tambatan

Loa adalah panjang kapal terbesar yang dilayani

7.5 Elevasi dermaga

Elevasi lantai dermaga ditentukan dengan mempertimbangkan ukuran kapal rencana dan kondisi alam. Elevasi muka air yang digunakan sebagai datum dalam penentuan elevasi dermaga adalah MHWL. Elevasi minimum dermaga terhadap MHWL ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4 Elevasi minimum dermaga terhadap MHWL Satuan dalam meter Tunggang pasang

≥ 3,0 m

Tunggang pasang < 3,0 m Dermaga untuk kapal besar

(kedalaman kolam ≥ 4,5 m) +0,5~1,5 +1,0~2,0 Dermaga untuk kapal kecil

(kedalaman kolam < 4,5 m) +0,3~1,0 +0,5~1,5

7.6 Lebar apron

Apron dengan luas yang memadai harus disediakan antara garis muka dermaga dan gudang atau lapangan penumpukan untuk memastikan keselamatan dan kelancaran kegiatan bongkar muat barang, naik turun penumpang dan lalu lintas kendaraan. Lebar apron harus dirancang sedemikian rupa sesuai dengan ukuran dan penggunaan dermaga, dan struktur gudang di belakang dermaga dan penggunaannya.

Lebar standar apron ditunjukkan pada Tabel 5.

Tabel 5 Lebar apron minimum

Satuan dalam meter

8.1 Fender (bantalan sandar)

Fender pada prinsipnya adalah medium yang memisahkan antara kapal dengan dermaga. Medium ini berfungsi untuk menyerap sebagian energi kinetik dari kapal sehingga mengurangi risiko rusaknya badan kapal dan badan dermaga (PIANC, 2002).

Commented [DA20]:

Sumber: OCDI, 2002. Technical Standards and Commentaries For Port and Harbour Facilities In Japan. Edisi 1999. Tokyo: OCDI.

Commented [DA21]:

(16)

10 dari 20

Perencanaan fender, baik dari tipe dan sistem pemasangannya, harus dilakukan secara berkesinambungan dengan perencanaan struktur dermaga. Fender harus dirancang sedemikian sehingga:

1. Penyandaran kapal ke dermaga dilakukan tanpa menimbulkan kerusakan baik terhadap dermaga maupun kapal itu sendiri;

2. Kapal dan dermaga (termasuk fender) tidak mengalami kerusakan pada saat kapal bertambat;

3. Periode operasi dan tingkat keselamatan terjaga secara berkelanjutan. Tipe fender yang digunakan dan penempatannya pada sisi depan dermaga harus dapat melindungi dan menyerap energi benturan dari semua jenis dan ukuran kapal untuk berbagai elevasi muka air laut. Gambar 7 menunjukkan posisi penempatan fender terhadap beberapa ukuran kapal.

Pada gambar Gambar 7(a) fender dapat melindungi dermaga benturan kapal besar, tetapi untuk ukuran kapal yang lebih kecil fender tersebut tidak berfungsi dengan baik. Untuk dapat melindungi dermaga terhadap benturan kapal dari berbagai ukuran maka digunakan fender yang lebih panjang dengan penempatan seperti terlihat dalam gambar Gambar 7(b) dan (c).

Gambar 7 – Posisi kapal terhadap fender

Dalam arah horisontal jarak antara fender harus ditentukan sedemikian rupa sehingga dapat menghindari kontak langsung antara kapal dan dinding dermaga. Gambar 8 adalah posisi kapal yang membentur fender pada waktu bergerak merapat ke dermaga.

Commented [DA22]:

Sumber: MARCOM WG 33, 2002. Guidelines for the design of fender systems. Brussel: PIANC.

(17)

11 dari 20 Kapal

Fender

Gambar 8 – Posisi kapal pada waktu membentur fender

Persamaan berikut dapat digunakan untuk menentukan jarak maksimum antara fender: 2

2 ( )

2 r r h

L  

Keterangan:

L adalah jarak maksimum antar fender (m) r adalah jari-jari kelengkungan sisi haluan kapal (m) h adalah tinggi fender

r

h

L

Gambar 9 – Variabel dalam penentuan jarak maksimum antar fender

OCDI (1991) memberikan jarak interval antara fender sebagai fungsi kedalaman air seperti diberikan dalam tabel berikut ini:

Tabel 6 Jarak antara fender Satuan dalam meter Kedalaman air Jarak antara fender

4 - 6 4 – 7

6 – 8 7 – 10

8 - 10 10 - 15

Perencanaan fender merupakan bagian tak terpisahkan dari perencanaan struktur dermaga secara keseluruhan. Perencanaan fender tidak dibahas dalam standar ini;

Commented [DA24]: Sumber: Triatmodjo, B., 2009. Perencanaan Pelabuhan. Yogyakarta: Beta Offset.

Commented [DA25]: Sumber: Triatmodjo, B., 2009. Perencanaan Pelabuhan. Yogyakarta: Beta Offset.

Commented [DA26]: Sumber: Triatmodjo, B., 2009. Perencanaan Pelabuhan. Yogyakarta: Beta Offset.

(18)

12 dari 20

Beberapa literatur yang dapat digunakan sebagai acuan dalam perencanaan fender adalah sebagai berikut:

1. British Standard BS 6349-4, Maritime structures – Part 4: Code of practice for design of fendering and mooring systems.

2. MARCOM WG 33, 2002. Guidelines for the Design fo Fender Systems. Brussel: PIANC.

8.2 Alat penambat

Tiang penambat yang digunakan dalam cuaca buruk (badai) harus dipasang pada kedua ujung dermaga sejauh mungkin di belakang garis depan dermaga. Bollard harus dipasang di dekat garis depan dermaga, agar dapat digunakan untuk menambatkan kapal pada kondisi cuaca biasa dan untuk menyandarkan kapal. Untuk menentukan jarak dan jumlah minimum bollard per tambatan, tabel di bawah ini dapat digunakan sebagai acuan:

Tabel 7 Jumlah minimum dan interval bollard per tambatan

Ukuran Kapal (GT) Interval maksimum (m) Jumlah minimum

GT < 2000 10-15 4

2000 ≤ GT < 5000 20 6

5000 ≤ GT < 20.000 25 6

20.000 ≤ GT < 50.000 35 8

50.000 ≤ GT < 100.000 45 8

Kapasitas bollard harus dihitung berdasarkan ukuran kapal yang akan ditambatkan. Kapasitas minimum bollard ditunjukkan pada Tabel 8.

Tabel 8 Kapasitas minimum bollard Satuan dalam ton Displasemen kapal Kapasitas bollard 20.000 – 50.000 80

50.000 – 100.000 100 100.000 – 200.000 150

> 200.000 200

Perencanaan alat penambat merupakan bagian tak terpisahkan dari perencanaan struktur dermaga secara keseluruhan. Perencanaan alat penambat tidak dibahas dalam standar ini; Beberapa literatur yang dapat digunakan sebagai acuan dalam perencanaan alat penambat adalah sebagai berikut:

1. British Standard BS 6349-4, Maritime structures – Part 4: Code of practice for design of fendering and mooring systems.

2. OCDI, 2002. Technical Standards and Commentaries for Port and Harbour Facilities in Japan. Tokyo: OCDI.

9 Kekuatan struktur dermaga

Beban yang bekerja pada struktur dermaga merupakan kombinasi dari beban struktur itu sendiri, peralatan mekanikal dan beban operasional yang berada di atas struktur, dan beban lingkungan. Beban-beban bekerja yang disebutkan di atas bekerja pada arah lateral dan vertikal pada struktur.

Commented [DA28]: Sumber: OCDI, 2002. Technical Standards and Commentaries for Port and Harbour Facilities in Japan. Tokyo: OCDI.

(19)

13 dari 20 9.1 Berat sendiri dermaga dan kelengkapannya

Dalam perhitungan kekuatan struktur dermaga, semua komponen bangunan dan kelengkapan dermaga harus diidentifikasi ukuran dan materialnya sehingga dapat dihitung berat sendirinya.

Komponen bangunan dermaga dan kelengkapan dermaga mencakup: 1. Pelat;

2. Balok; 3. Kepala tiang; 4. Tiang pancang; 5. Bollard (titik tambat); 6. Fender (bantalan sandar);

7. Kerb (curb, pembatas pergerakan kendaraan di dermaga);

8. Bangunan lain yang dipasang atau diletakkan pada dermaga, misalnya pipa air, pipa bahan bakar, fasilitas penerangan, tangga akses, dan lain-lain).

9.2 Beban operasi

Beban operasional merupakan beban hidup yang besarnya tergantung pada pemakaian dermaga, yang meliputi:

1. Beban yang bekerja pada lantai dermaga: a. aktivitas pejalan kaki,

b. kendaraan,

c. alat berat untuk muat-bongkar. 2. Beban dari operasi kapal

a. Sandar, b. Tambat. 9.3 Beban lingkungan

Gaya lingkungan yang harus diperhitungkan mencakup: 1. angin;

2. arus; 3. gempa; 4. gelombang;

9.4 Perhitungan kekuatan struktur

1. Perencanaan struktur dermaga harus mematuhi standar sebagai berikut atau standar terbaru yang menggantikannya.

a. SNI 03-2847-2002 (Tata cara perhitungan struktur beton untuk bangunan gedung) untuk dermaga beton.

b. SNI 03-1729-2002 (Tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung) untuk dermaga baja.

(20)

14 dari 20

2. Untuk dermaga baja dan beton, perhitungan kekuatan makro struktur harus dilaksanakan menggunakan perangkat lunak yang diakui luas dalam praktek jasa konstruksi.

10 Gambar tipikal dermaga

Gambar tipikal dermaga mengacu pada Standar Dermaga 2010 yang diterbitkan oleh Kementerian Perhubungan. Gambar rencana aktual dapat berbeda dari gambar tipikal karena kekhusan kondisi setempat atau ditetapkan lain oleh otoritas yang berwenang. 11 Kelengkapan dermaga

11.1 Pencahayaan

Struktur dermaga, jalan akses dan daerah terminal harus dilengkapi dengan pencahayaan yang sesuai dan memadai:

1. Pencahayaan selama operasi terminal dan bongkar/muat kapal 100 lux 2. Pencahayaan untuk keamanan area pelabuhan 30 lux

11.2 Pasokan daya listrik

Kabel yang digunakan untuk sistem pasokan bertegangan rendah dan tinggi untuk instalasi pelabuhan, keran dan pencahayaan harus diletakkan di bawah tanah. Titik pengambilan daya harus disediakan di sepanjang muka dermaga pada interval 50-200 m, tergantung tipe aktivitas dermaga.

11.3 Pasokan air bersih

Untuk menjamin keberlangsungan pasokan, dibutuhkan setidaknya dua jalur penyaluran air, yang masing-masing berdiri sendiri. Hidran harus dipasang pada interval 100-200 m. 11.4 Sistem drainase

Sistem drainase dermaga terdiri atas sistem drainase terbuka dan sistem drainase tertutup.

Sistem drainase terbuka dirancang untuk menyalurkan air laut dan air hujan, dengan kemiringan memanjang saluran pembuangan sebesar 1:40. Apabila permukaan dermaga tidak berisiko mengalami penurunan, kemiringan memanjang dapat diperkecil menjadi 1:100.

Sistem drainase tertutup dirancang untuk menyalurkan air yang tercemar, misalnya akibat ceceran minyak. Pada sistem ini, air yang tercemar dibuang ke sistem drainase terpisah untuk pengolahan lebih lanjut.

11.5 Sistem pembuangan limbah cair domestik (sewage)

Limbah cair domestik harus dibuang melalui sistem pipa khusus, yang disalurkan ke sistem pengolahan perkotaan atau fasilitas pengolahan khusus.

Commented [DA30]: Thoresen, 2003.

Commented [DA31]: Thoresen, 2003.

Commented [DA32]: Thoresen, 2003.

(21)

15 dari 20 11.6 Tangga akses

Tangga akses harus ditempatkan pada interval 50 m sepanjang muka dermaga. Agar dapat diakses dari laut, tangga harus diperpanjang 1 m di bawah LAT. Tangga harus dirancang dengan pembebanan horizontal dan vertikal sebesar 1,0 kN/m.

11.7 Pagar pengaman

Pagar pengaman harus disediakan pada kedua sisi walkway dan pada tepi dermaga, apabila tidak mengganggu penanganan muatan atau penambatan kapal. Tinggi pagar pengaman setidaknya 1 m di atas lantai dermaga.

11.8 Kerb

Kerb dengan tinggi minimum 200 mm harus disediakan di sekeliling dermaga, untuk mencegah kendaraan terjatuh ke laut.

11.9 Peralatan penyelamatan

Peralatan penyelamatan harus dipasang di semua dermaga. Pelampung penyelamat harus dipasang pada interval 50 m di sepanjang muka dermaga.

12 Ramp kendaraan

12.1 Konfigurasi ramp

Selain ramp yang terdapat pada kapal, dermaga yang akan melayani kapal Ro/Ro yang memiliki ramp dibagian belakang atau depan kapal sebaiknya memiliki ramp pantai (shore ramp) yang menghubungkan dermaga dengan ramp kapal, sedangkan untuk kapal Ro/Ro dengan ramp samping atau quarter ramp, pada umumnya tidak membutuhkan ramp pantai, kecuali jika pasang surut sangat tinggi. Denah ramp pada beberapa jenis dermaga dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 10 – Ramp untuk kapal yang ditambatkan pada pelampung atau jangkar

Commented [DA34]: Thoresen, 2003.

Commented [DA35]: Thoresen, 2003.

Commented [DA36]: Thoresen, 2003.

(22)

16 dari 20

Gambar 11 – Ramp untuk kapal yang ditambatkan pada dermaga

Gambar 12 – Ramp untuk kapal yang ditambatkan sepanjang dolphin atau ponton 12.2 Jenis ramp

Jenis – jenis ramp pantai yang dapat digunakan untuk dermaga Ro/Ro antara lain: 1. Fixed shore ramp, ramp pantai merupakan satu kesatuan dengan struktur dermaga

dan elevasi ramp tetap, tidak dapat dinaik - turunkan.

Gambar 13 – Fixed shore ramp

2. Bridge ramp, ramp pantai memiliki struktur seperti jembatan yang dapat di

(23)

17 dari 20 Gambar 14 – Bridge ramp

3. Floating bridge ramp, ramp terapung yang dapat dinaik turunkan kemiringannya sehingga elevasi ramp pantai dapat disesuaikan dengan ship ramp dan dermaga. Selain itu floating bridge ramp dapat dipindahkan dari satu sisi dermaga ke sisi lainnya.

Gambar 15 – Floating bridge ramp

12.3 Beban pada ramp pantai

1. Beban kendaraan

Beban kendaraan yang didapat diterima oleh ramp pantai harus disesuaikan dengan kendaraan yang akan melalui ramp tersebut. Sebaiknya ramp pantai minimal dapat menahan beban kendaraan jalan raya. Beban-beban lain yang mungkin terjadi seperti beban terpusat dari craneoutrigger juga harus

Commented [DA39]: Sumber: BS 6349-2: 1988, Maritime structures - Part 2: Design of quay walls, jetties and dolphins.

(24)

18 dari 20

diperhitungkan sesuai spesifikasi yang ditentukan baik dalan kondisi normal ataupun kondisi ekstrim/maksimum.

2. Beban ramp kapal

(25)

19 dari 20 Lampiran A

(informatif) Faktor Konversi Unit

Besaran Satuan non-SI Satuan SI

Panjang 1 μ 1 μm

Massa 1 kgfs2/m 9,0665 kg

Percepatan 1 Gal 0.01 m/s2

Gaya 1 kgf 9.80665 N

1 dyn 10 μN

Momen gaya 1 kgfm 9,80665 Nm

Tekanan 1 kgf/cm2

9,80655 x 104 Pa 9,80655 x 10-2 MPa 9,80655 x 10-2 N/mm2

1 mHg 133,322 kPa

Tegangan 1 kgf/cm2

9,80655 x 104 Pa 9,80655 x 10-2 MPa 9,80655 x 10-2 N/mm2

Usaha (Energi) 1 kgfm 9,80665 J

1 erg 100 nJ

Daya 1 PS 735,499 W

1 HP 746,101 W

Panas 1 cal 4,18605 J

4,18605 Ws

Konduktivitas termal 1 cal/(hm°C) 0,001163 W/( m°C)

Koefisien konduksi panas 1 cal/(hm2°C) 0,001163 W/( m2°C) Kapasitas panas spesifik 1 cal/(kg°C) 4,18605 J/(kg°C)

(26)

20 dari 20 Bibliografi

Standard Design Criteria for Ports in Indonesia, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Departemen Perhubungan, 1984.

Thoresen, Carl A. Port Design Guidelines and Recommendations. Trondheim: Tapir Publishers, 1988.

Gambar

Gambar 1 - Ukuran pokok kapal
Gambar 2 – Jenis dermaga
Gambar 4 menunjukkan pertimbangan dalam menentukan tipe dermaga.
Tabel 3 Ukuran tipikal dermaga roro
+6

Referensi

Dokumen terkait

Dalam rangka menyeragamkan teknik pengujian kualitas air dan air limbah sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas

a) Isi batu pori atau lapisan sarang di sisi kiri dan kanan benda uji tanah. b) Pasang silinder yang berisi benda uji tanah dan batu pori pada landasannya, dan kencangkan

Jika pengujian berikut ini dilakukan, tempat tidur pasien tidak boleh kehilangan keseimbangan (terjungkir) karena tinggi dan panjangnya alas penopang kasur, roda kastor, jeruji

tonggak yang dibuat dari kayu, beton, besi atau jenis lainnya dengan ukuran dan dimensi tertentu yang dilengkapi dengan reflektor dan dibangun di sepanjang sisi

7.3 Karkas perempat diperoleh dengan membelah karkas paruh antara tulang rusuk ke- 12 dan ke-13 menjadi dua bagian yaitu karkas perempat depan dan karkas perempat

Juru Mudi mendapati air sudah mulai menggenang di geladak akomodasi bawah. Juru Mudi kemudian melakukan pemeriksaan dan mendapati bahwa air mulai masuk dari sisi depan

Analisis secara tidak langsung dilakukan dengan cara tumpang tindih antara peta distribusi gerakan tanah yang pernah terjadi dan peta-peta parameter (geologi, kemiringan lereng dan

Metode uji ini menggunakan benda uji berukuran besar dan dapat menerima dengan baik senua variabel pembuatan dan perubahan karakteristik yang mempengaruhi sifat tarik