KEBUDAYAAN ISLAM DI KECAMATAN KAUMAN
Diajukan untuk memenuhi tugas Ulangan Tengah Semester Islamic Study Methodology
yang dibimbing oleh Drs. Nurul Hidayat, M.Ag.
oleh
Helin Kusuma Wardani (17203163007)
Kelas TBI II A
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG FAKULTAS TEKNOLOGI DAN ILMU PENDIDIKAN
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur diucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “KEBUDAYAAN ISLAM DI KECAMATAN KAUMAN”.
Dalam pembuatan makalah ini mulai dari perancangan, pencarian bahan, sampai penulisan, penulis mendapat bantuan, saran, petunjuk, dan bimbingan dari banyak pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih dan kepada teman-teman yang ikut berpartisipasi dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini memiliki banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan di masa yang akan datang, dan penulis juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Tulungagung, April 2017
DAFTAR ISI
2.1.6 Tedhak Sinten (Ritual Turun Tanah)...11
2.2 Sisi Keislaman dalam Kebudayaan di Kecamatan Kauman...11
BAB III... 14
Gambar Upacara Buka Giling Pabrik Gula Mojopanggung...18
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit termasuk system agama dan politik, adat, bahasa, , perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat.
Islam sudah mulai berkembang lagi sejak abad ke-7 dan berkembang secara pesat ke seluruh dunia dari waktu ke waktu. Di Indonesia sendiri Islam datang salah satunya melalui kesenian atau pun kebudayaan di masyarakat yang telah dimodivikasi dengan tetap menyisakan ciri khas kebudayaan tersebut. Setiap daerah tentunya memiliki cara tersendiri dalam penyebaran agama yang mulia ini, utamanya di kecamatan Kauman. Daerah ini memiliki beberapa kebudayaan yang sejak dulu hingga sekarang memiliki kebudayaan yang bernafaskan Islam sebagai jalur penyebaran agamanya ataupun sebagai pengasah keislaman seperti halnya jedor yang mirip dengan sholawatan, kentrung, dan lain sebagainya
.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan diatas maka rumusan masalah pada makalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah kebudayaan yang ada di Kecamatan Kauman?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijabarkan diatas maka tujuan penulisan pada makalah ini sebagai berikut.
1. Menjelaskan kebudayaan yang ada di Kecamatan Kauman.
BAB II PEMBAHASAN
2.1Kebudayaan di Kecamatan Kauman 2.1.1 Jedor
Kesenian jedor atau tanjidor ( orang betawi bilang ) adalah salah satu kesenian yang hidup dan berkembang sejak dahulu, hampir sulit ditemukan kapan persisnya kesenian itu ada, tapi yang jelasnya kesenian itu ada dan pernah mengalami kejayaan atau populer pada tahun 1930-an. Kesenian Jedor merupakan kolaborasi antara seni pencak dan jedor, Seni musik jedor ini juga merupakan seni musik yang rancak, artinya ketukan dalam memainkannya, sama. Suara khas jedor merupakan kombinasi dari tiga jenis alat musik, yakni rebana lima buah, kendang satu buah, dan jedor sendiri satu buah. Jedor ini sejenis bedug dengan diameter lebih kecil, biasanya 50-an cm. Khusus untuk jedor ini biasanya diboncengkan sepeda onthel, sedang pemukulnya berjalan mengikuti di belakang.
Wilayah perkembangannya meliputi Kediri, Tulungagung, dan Malang. Kesenian jedor ada tiga macam, jedor jemblung, jedor janjan, dan jedor berjanji.1
Dalam perkembangannya di daerah Kauman, kesenian jedor ini digunakan sebagai pengantar acara phitonan (hajatan untuk bayi yang berumur tujuh bulan). Biasanya anggotanya sendiri terdiri tujuh orang dimana terdiri dari satu orang penabuh gendang, satu orang penabuh jedor, dua orang penabuh tipung, 2 orang penabuh terbang, dan satu orang sebagai vokalis. Vokalis dalam kesenian jedor ini juga merangkap sebagai ketua dan merupakan orang yang dituakan serta serba bisa. Para pemain dalam kesenian ini biasanya menggunakan baju taqwa berwarna putih lengkap dengan sarung dan kopyah.
2.1.2 Kentrung
Kentrung merupakan kesenian lisan yang diiringi alat musik satu kendang, ketipung besar kecil, dan kecer (terbang). Pemukul kendang biasanya sebagai dalang. Dalang yang dimaksud disini, orang yang menceritakan secara lisan semua cerita
yang disampaikan kepada penonton. Dalam bercerita sekali-sekali diselingi parikan (pantun berbahasa jawa) dan iringan music yang bertalu-talu. Kentrung yang terkenal yaitu Kentrung sidorukun dari dusun Patik Desa Batangsaren Kecamatan Kauman. Dalang yang terkenal yaitu Nyi Gimah.
Kentrung dimainkan oleh dua orang yang terdiri dari dalang dan pengawit yang merangkap pendukung dalang memainkan instrument ketipung dan kecer (terbang).
Contoh parikan yang dimainkan dalam pertunjukan kentrung misalnya :
1. Kembang turi rak melok-melok Sega wadhang dipangan sore Ora peduli wong alok-alok
Sandhang lan pangan rak golek dhewe
2. Pitike lumayu ngidul Balik ngalor nuthuli pari Becike yen lagi ngumpul Tekan ndalan lha kok dirasani
Pertunjukan kentrung ini selama semalam suntuk. Keunikan kentrung Tulungagung adalah jumlah pemainnya, biasanya di luar daerah terdiri dari 3 sampai 4 orang tetapi di Tulungagung hanya 2 orang saja. Justru dalangnya adalah seorang perempuan.
2.1.3 Tari Tiban
mencambuk karena tidak memakai kaos atau baju maka akan terlihat bekas cambukan itu. Jika sampai berdarah segera diobati oleh pawing atau penari sendiri. Tidak sampai 10 menit luka itu sudah sembuh. Tarian Tiban ini diiring oleh musik berupa kendang dan kenong saja. Kedua penari Tiban sangat bersemangat. Luka dikulitnya seolah-olah tidak dirasakan. Apalagi dorongan teman-teman sekelompoknya sangat membakar keberaniannya, Iringan musik dinamis sangat menghiburnya.2
Gemuruh sorak penonton dan sesama penari membuat suasana semakin asyik. Sayang sekali tarian tradisional yang sudah turun temurun ini tidak dikembangkan lagi oleh masyarakat Tulungagung. Kalaupun ada hanya di daerah-daerah tertentu saja. Dahulu beberapa daerah-daerah terkenal dengan tarian Tiban yaitu di Kecamatan Boyolangu, Campurdarat, Bandung, Gondang, Karangrejo dan Kauman.
2.1.4 Upacara Buka Giling Tebu
Upacara buka giling di Pabrik Mojopanggung dilaksanakan setiap tahun di bulan April atau Mei. Pabrik Gula Mojopanggung terletak di Desa Sidorejo Kecamatan Kauman. Sebenarnya letak pabrik ini ada di dua desa berdampingan yaitu Panggungrejo dan Sidorejo. Banyak music disana ada music dangdut, jaranan dan langen tayub. Jaranan menari di dalam halaman pabrik. Hiburan wayang kulit semalam suntuk. Pasar malam juga digelar disana beberapa hari menjelang Bada/ Lebaran Pabrik itu. Selain pasar malam juga diselenggarakan beberapa perlombaan olahraga dalam menyambut Bada/Lebaran Pabrik Mojopanggung ini.
Dalam upacara buka giling ini terjadi iring-iringan temanten. Temanten berwujud sepasang boneka, terbuat dari tepung berhias. Warna darah merah terbuat dari tebu. Boneka itu menggambarkan pria dan wanita yang dirias sehingga tidak nampak kalau sepasang benda itu terbuat dari gula. Sepasang boneka yang awalnya dibopong sepasang manusia, pelan-pelan tapi khidmat diletakkan di atas mesin penggiling tebu. Diikuti berbagai macam sesaji dan sepasang kembar mayang.3
2.1.5 Tingkeban
Upacara Tingkeban adalah salah satu tradisi masyarakat di Jawa Timur termasuk di Tulungagung dan Kauman, upacara ini disebut juga mitoni berasal dari kata pitu yang arti nya tujuh. Upacara ini dilaksanakan pada usia kehamilan tujuh bulan dan pada kehamilan pertama kali. Upacara ini bermakna bahwa pendidikan bukan saja setelah dewasa akan tetapi semenjak benih tertanam di dalam rahim ibu. Dalam upacara ini sang ibu yang sedang hamil di mandikan dengan air kembang setaman dan disertai doa yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan YME agar selalu diberikan rahmat dan berkah sehingga bayi yang akan dilahirkan selamat dan sehat.
Menurut tradisi Jawa, upacara dilaksanakan pada tanggal 7 , 17 dan 27 sebelum bulan purnama pada penanggalan Jawa, dilaksanakan di kiri atau kanan rumah menghadap kearah matahari terbit. Yang memandikan jumlahnya juga ganjil misalnya 5, 7, atau 9 orang. Setelah disiram, dipakaikan kain / jarik sampai tujuh kali, yang terakhir/ ketujuh yang dianggap paling pantas dikenakan. Diikuti oleh acara pemotongan tumpeng tujuh yang diawali dengan doa kemudian makan rujak, dan seterusnya. Hakekat dasar dari semua tradisi Jawa adalah suatu ungkapan syukur dan permohonan kepada Yang Maha Kuasa untuk keselamatan dan kenteraman, namun diungkapkan dalam bentuk lambang-lambang yang masing-masing mempunyai makna.
Landasan Historis
Karena itu, keduanya segera menghadap raja Kediri, yaitu Prabu Widayaka (Jayabaya). Oleh sang raja, keluarga tersebut disarankan agar menjalankan tiga hal, yaitu: Setiap hari rabu dan sabtu, pukul 17.00, diminta mandi menggunakan tempurung kelapa (bathok), sambil mengucap mantera: “Hong Hyang Hyanging amarta martini sinartan huma, hananingsun hiya hananing jatiwasesa. Wisesaning Hyang iya wisesaningsun. Ingsun pudya sampurna dadi manungsa.”
Setelah mandi lalu berganti pakaian yang bersih, cara berpakaian dengan cara menggembol kelapa gading yang dihiasi Sanghyang Kamajaya dan Kamaratih atau Sanghyang Wisnu dan Dewi Sri, lalu di-brojol-kan ke bawah. Kelapa muda tersebut, diikat menggunakan daun tebu tulak (hitam dan putih) selembar.
Setelah kelapa gading tadi di-brojol-kan, lalu diputuskan menggunakan sebilah keris oleh suaminya. Ketiga hal di atas, tampaknya yang menjadi dasar masyarakat Jawa menjalankan tradisi selamatan tingkeban sampai sekarang. Sejak saat itu, ternyata Niken Satingkeb dapat hamil dan anaknya hidup.
Hal ini merupakan lukisan bahwa orang yang ingin mempunyai anak, perlu laku kesucian atau kebersihan. Niken Satingkeb sebagai wadah harus suci, tidak boleh ternoda, karenanya harus dibersihkan dengan mandi keramas. Akhirnya sejak saat itu apabila ada orang hamil, apalagi hamil pertama dilakukan tingkeban atau mitoni. Tradisi ini merupakan langkah permohonan dalam bentuk selamatan.
Batas tujuh bulan, sebenarnya merupakan simbol budi pekerti agar hubungan suami istri tidak lagi dilakukan agar anak yang akan lahir berjalan baik. Istilah methuk (menjemput) dalam tradisi jawa, dapat dilakukan sebelum bayi berumur tujuh bulan. Ini menunjukkan sikap hati-hati orang Jawa dalam menjalankan kewajiban luhur. Itulah sebabnya, bayi berumur tujuh bulan harus disertai laku prihatin.
terbang kemana-mana, karenanya yang paling mujarab adalah berdoa agar bayinya lahir selamat. Beberapa pantangan yang patut dicatat oleh ibu hamil maupun suaminya, juga mengarah pada budi pekerti Jawa luhur.
Yakni, seorang ibu hamil dilarang makan buah yang melintang (misalnya buah kepel), dimaksudkan agar posisi bayi di perut tak melintang. Jika posisi melintang akan menyulitkan kelahiran kelak. Hal ini sebenarnya ada kaitannya dengan kesehatan, karena buah kepel sebenarnya panas jika dimakan, sehingga bila terlalu banyak akan berakibat pula pada keadaan bayi. Orang hamil, misalkan tidak boleh duduk di depan pintu dan di lumpang tempat menumbuk padi, sebenarnya memuat nilai etika Jawa. Yakni, agar sikap dan watak ibu hamil tak dipandang tidak sopan, karena posisi duduk demikian juga akan memalukan dan tidak enak dipandang.
Seorang suami yang dilarang menyembelih hewan, sebenarnya terkandung makna budi pekerti agar tidak menganiaya makhluk lain. penganiayaan juga merupakan tindakan yang tak baik. Di samping itu, lalu ada kata-kata ‘ora ilok’ kalau meyembelih hewan, ini dimaksudkan agar bayi yang akan lahir tak cacat.
Watak dan perilaku yang dilarang ini merupakan aspek preventif agar suami lebih berhati-hati. Di samping itu, baik suami maupun ibu hamil diharapkan tidak mencacat atau membatin orang-orang yang cacat, agar bayinya tidak cacat, adalah langkah hati-hati. Perilaku ini merupakan upaya agar pasangan tersebut tidak semena-mena kepada orang lain yang cacat.
dengan asal kata timur dari bahasa Jawa wetan (wiwitan). Artinya, timur adalah permulaan hidup (sangkan paraning dumadi).
2.1.6 Labuh Methik Pari
Labuh Methik Pari atau panen di jaman dahulu setiap orang yang memiliki sawah sebelum panen dilaksanakan akan dilaksanakan/digelar upacara labuh methik pari. Upacara ini masih ada dan terus dilaksanakan oleh warga di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman.
Sebelum melaksanakan upacara ini perlu dihitung terlebih dahulu hari dan pasaran. Hal ini dimaksudkan supaya nantinya padi yang dihasilkan lebih banyak. Maka dari itu harus mengerti Neptu, hari dan pasaran. Berikut ini adalah hari dan neptu
Setelah mengetahui hari dan neptunya, serta uga pasaran lan neptune, lalu dihitung gunggunge. Yen wis ngerti gunggune banjur dipithati kanthi etungan saka :
Daun = Tidak baik Buah = Baik Contoh :
Panen padi di hari Senin Wage. Senin 4, Wage neptunnya 4, Gunggung 8. Tepat di buah baik. Dengan tujuan hasil panen yang akan didapatkan lebih banyak. Sehingga mencukupi untuk sekeluarga. Jangan sampai jatuh di:
Akar kenyataannya hanya banyak akar namun tidak ada buahnya. Pohon kenyataannya hanya besar pohonnya namun tidak ada buahnya. Daun kenyataannya hanya banyak daunnya namun tidak ada buahnya. Buah kenyataannya banyak buahnya namun tidak mencukupi.
Perlengkapan untuk labuh methik pari :
1. Pisang ayu
Nasi kokoh berisi Nasi sambal goreng srondeng telur, daging ayam.
Cabai bawang putih dan merah bumbon.
4. Nasi wara.
5. Ayam panggang utuh,
6. Jenang sengkala jenang sepuh.
7. Metri nasi golong sembilan lauknya sayuran
2.1.6 Tedhak Sinten (Ritual Turun Tanah)
Tedhak artinya turun atau menapakkan kaki, Siten dari kata siti artinya tanah atau bumi. Jadi tedhak siten berarti menapakkan kaki kebumi. Ritual tedhak siten menggambarkan persiapan seorang anak untuk menjalani kehidupan yang benar dan sukses dimasa mendatang, dengan berkah Gusti, Tuhan dan bimbingan orang tua dan para guru dari sejak masa kanak-kanak. Upacara tedhak siten juga punya makna kedekatan anak manusia kepada Ibu Pertiwi, tanah airnya.
Dengan menjalani kehidupan yang baik dan benar dibumi ini dan sekaligus tetap merawat dan menyayangi bumi, maka kehidupan didunia terasa nyaman dan menyenangkan. Ini untuk mengingatkan bahwa bumi atau tanah telah memberikan banyak hal untuk menunjang kehidupan manusia. Tanpa ada bumi, sulit dibayangkan bagaimana eksistensi kehidupan manusia , sang suksma yang berbadan halus dan kasar.
Hendaknya diingat bahwa tanah adalah salah satu elemen badan manusia dan yang tak terpisahkan dengan elemen-elemen yang lain, yaitu air, udara dan api, yang mendukung kiprah kehidupan suksma didunia ini, atas kehendak Gusti.
2.2Sisi Keislaman dalam Kebudayaan di Kecamatan Kauman Kebudayaan yang ada di Kecamatan Kauman juga memiliki sisi keislamannya tersendiri. Berikut ini beberapa sisi keislaman dalam budaya-budaya yang telah disebutkan sebelumnya:
1. Jedor
bentuk seperti sholawatan sebagai bagian dari syiar agama Islam. ragamnya meliputi parikan, wangsalan, lafal dzikir, dan lafal doa. Muatan nilai yang dikandungnya adalah dakwah. Fungsinya untuk menyampaikan wawasan ketuhanan, mengukuhkan ikatan sosial, menumbuhkan kesadaran kesejarahan Islam dan memberikan hiburan. Sebagai bukti bahwa nyanyian atau lagu yang dibawakan berisikan kalimat-kalimat islam dalam penyajiannya biasa membawa buku khusus yang berisi tentang sholawat ataupun lain-lain yang sesuai tuntunan Islam.
2. Kentrung
Kentrung pada mulanya bertujuan untuk mengembangkan atau syiar agama Islam, maka cerita yang dilantunkan lebih banyak cerita rakyat seperti Jaka Tarub, Damarwulan Ngarit dan tentang masuknya Agama Islam di Indonesia
3. Tari Tiban
Tarian ini dimaksudkan untuk sarana permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar pada saat kemarau panjang diturunkannya hujan agar sawah tidak kekeringan.
4. Upacara Buka Giling Tebu
Upacara ini lebih dimaksudkan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kemudahan dan kelancaran yang telah diberikan serta permohonan agar diberi keselamatan dan kelancaran untuk kedepannya, maka dari itu juga diselipkan acara selamatan sebelum upacara dimulai.
5. Tingkeban
Upacara ini dimaksudkan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki padi yang akan dipanen oleh orang yang memiliki sawah. Biasanya pemilik dan penggarap diikut sertakan dalam upacara ini
7. Tedhak Sinten
BAB III PENUTUP KESIMPULAN
Daerah Kecamatan Kauman memiliki banyak sekali ragam budaya yang dari dulu hingga sekarang masih dijaga kelestariannya seperti halnya Jedor, Kentrung, Tari Tiban, Upacara Buka Giling, Tingkeban, Labuh Methik Pari, Tedhak Sinten dan masih banyak lagi. Adanya kebudayaan-kebudayaan tersebut memberi kekhasan tersendiri untuk daerah tersebut dari pada daerah yang lain.
Lahirnya kebudayaan yang ada tentunya telah dimodivikasi oleh ahli agama setempat sehingga kepercayaan-kepercayaan yang semula dianut dapat dirubah menjadi memiliki sisi keislaman. Dari kesemua kebudayaan yang disebutkan telah memiliki sisi keislaman tersendiri, seperti ada yang berfungsi sebagai syiar contohnya Kentrung, ada yang berfungsi sebagai syukuran seperti Labuh Methik Pari, dan ada juga yang berfungsi sebagai sarana sholawatan, dzikir sekaligus doa contohnya Jedor.
SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Budiman, Sunarko. 2016. Kalpataru. Tulungagung:Paramarta.
Ningrum, Endri Martha. 2016. Cerdas Tangkas. Tulungagung:Dinas Pendidikan.
(online) (http://beniharjanto1.blogspot.co.id/2008/12/satu-menengok-jedor-sobontoro.html), diakses pada tanggal 25 April 2017.
Gambar Kesenian Kentrung
Gambar Upacara Buka Giling Pabrik Gula Mojopanggung
Gambar Tingkeban