• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Usaha dan Kelayakan Studi Sapi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Usaha dan Kelayakan Studi Sapi"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Analisis Usaha dan stadi kelayakan proyek atau disebut juga feasibility study

adalah kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat yang dapat diperoleh dalam

melaksanakan suatu kegiatan usaha. Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan

pertimbangan dalam mengambil keputusan, apakah menerima atau menolak dari

suatu gagasan usaha. Ada berbagai macam aspek yang mempengaruhi suatu usaha

dapat dikatakan layak atau tidak. Diantaranya aspek social, ekonomi, pasar, resiko,

dan keuangan. Di Kab. Enrekang ada berbagai macam usaha, salah satunya adalah

budidaya sapi potong.

Sapi potong merupakan salah satu ternak yang dapat diandalkan sebagai

penyedia daging. Hal ini tentunya merupakan hal yang sangat menguntungkan bagi

peternak apabila bisa memanfaatkan peluang ini dengan baik. Selain itu, pemenuhan

protein hewani bisa meningkatkan kebutuhan gizi masyarakat untuk meningkatkan

kecerdasan. Upaya meningkatkan konsumsi protein hewani bagi masyarakat berarti

juga harus meningkatkan produksi bahan pangan asal ternak. Pada akhirnya, hal

tersebut berarti upaya peningkatan produksi ternak.

Pengembangan subsektor peternakan khususnya ternak sapi potong memiliki

arti yang sangat strategis dan berperan penting dalam struktur perekonomian daerah.

(2)

ekonomi, karena dapat digunakan sebagai tenaga kerja pengolah lahan pertanian,

sumber uang tunai, sumber pendapatan, upacara keagamaan, cendera mata, sumber

pupuk organik, tenaga kerja dan dapat menaikkan status sosial pada komunitas

tertentu, dapat diperjualbelikan pada saat dibutuhkan dan berfungsi sebagai tabungan

masa depan masyarakat petani peternak. Dalam menjalankan usaha budidaya

peternakan sapi potong membutuhkan analisis usaha yang tepat agar usaha tersebut

dapat dikatakan layak atau tidak. Hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya

praktek lapang analis dan stadi kelayakan proyek.

1.2 Permasalahan

Adapun permasalahan dalam laporan praktek lapang Analisis dan Studi

Kelayakan Proyek adalah bagaimana analisis kelayakan usaha budidaya sapi potong

di Kab. Enrekang dan apakah usaha tersebut layak atau tidak untuk dijalankan, jika

dilihat dari aspek sosial, aspek ekonomi, aspek resiko, aspek teknis, aspek pasar dan

(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Budidaya Sapi Potong

Pemilihan sapi potong bibit dan bakalan yang akan di pelihara, akan

tergantung pada selera petani ternak dan kemampuan modal yang dimiliki. Namun

secara umum yang menjadi pilihan petani peternak, adalah sapi potong yang pada

umumnya dipelihara di daerah atau lokasi peternakan, dan yang paling mudah

pemasarannya (Murtidjo,1990).

Di indonesia cukup banyak dikenal sapi potong lokal, jenis sapi potong impor,

maupun sapi peranakan atau hasil silangan yang dikembangkan lewat kawin suntik

(inseminasi buatan). Penilaian keadaan individual sapi potong yang akan dipilih

sebagai sapi potong bibit atau bakalan, pada prinsipnya berdasarkan pada umur,

bentuk luar tubuh, daya pertumbuhan dan temperamen Namun secara praktis yang

umumnya dipergunakan dalam penilaian individual, adalah mengamati bentuk luar,

yakni bentuk tubuh umum, ukuran vital dari bagian-bagian tubuh, normal tidaknya

pertumbuhan organ kelamin, dan dari sudut silislah tidak terlepas dari faktor genetis

sapi potong. (Murtidjo, 1990).

Usaha dan pengembangan peternakan saat ini menunjukan prospek yang

sangat cerah dan mempunyaiperanan yang sangat penting dalam pertumbuhan

(4)

peternakan memegang peranan sangat penting di masa yang akan dating (Susiloroni,

dkk, 2008).

Salah satu produk peternakan yang meningkat permintaannya yaitu daging

sapi. Namun, kebutuhan daging di Indonesia masih mengandalkan impor daging. Hal

ini disebabkan 90% usaha sapi potong dilaksanakan secara tradisional oleh peternak

rakyat dan selebihnya oleh perusahaan penggemukan (feedloter) sehingga kinerja

produksi dan produktifitas sapi potong masih belum dapat mencapai program

nasional swasembada daging sapi (Prastiti dkk, 2012).

Program swasembada daging sapi telah dicanangkan selama dua periode (5

tahunan) dan terakhir ditargetkan tercapai pada tahun 2010. Namun, upaya tersebut

belum berhasil sehingga pemerintah kembali membuat Program Swasembada Daging

Sapi dan Kerbau (PSDSK) yang diharapkan dicapai pada tahun 2014. Berbagai

kegiatan ditargetkan untuk meningkatkan populasi ternak sapi dan produksi daging

antara lain pelaksanaan kegiatan peningkatan usaha agribisnis sapi potong untuk

usaha penggemukan sekaligus mempercepat populasi ternak melalui Sarjana

Membangun Desa (SMD) (Sodiq, 2010).

Penilaian keadaan individual sapi potong yang akan dipilih sebagai sapi

potong bibit atau bakalan, pada prinsipnya berdasarkan pada umur, bentuk luar tubuh,

daya pertumvbuhan dan temperamen. Namun secara praktis yang umumnya

dipergunakan dalam penilaian individual, adalah mengamati bentuk luar, yakni

bentuk tubuh umum, ukuran vital dari bagian-bagian tubuh, normal tidaknya

pertumbuhan organ kelamin, dan dari sudut silislah tidsak terlepas dari faktor genetis

(5)

2.2 Aspek Sosial Budidaya Sapi Potong

Aspek sosial dari suatu proyek atau investasi meliputi komponen demografi

(struktur penduduk, tingkat pendapatan penduduk, pertumbuhan penduduk, dan

tenaga kerja), komponen budaya (adat istiadat, nilai dan norma budaya, proses sosial,

warisan budaya, serta sikap dan persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau

kegiatan), kesehatan masyarakat (parameter lingkungan masyarakat yang

diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap

kesehatan, proses dan potensi terjadinya pencemaran, potensi besarnya dampak

timbulnya penyakit, serta kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses

penyebaran penyakit). Dampak negatif dari aspek sosial adalah perubahan gaya

hidup, budaya, adat istiadat dan struktur sosial lainnya serta meningkatnya

kriminalitas (Romadaniati, 2013).

2.2.1 Penyerapan Tenaga Kerja

Berdasarkan hasil penelitian Sonbait (2011) diperoleh data bahwa tenaga

kerja yang digunakan dalam kegiatan usaha tani berasal dari dalam keluarga maupun

dari luar keluarga. Khusus untuk usaha gaduhan sapi potong, tenaga kerja masih

mengandalkan tenaga kerja dalam keluarga.

Hermanto, (1995) dalam Sonbait (2011) menjelaskan bahwa ketersediaan

tenaga kerja keluarga dihitung berdasarkan hari kerja pria (HKP) dengan konversi: 1

orang pria dewasa = 1 HKP dapat bekerja selama 7 jam/hari, 1 orang wanita dewasa

= 0,7 HKP dan 1 orang anak (Umur 10-14 tahun) = 0,5 HKP.

(6)

Dampak positif pembangunan proyek pada masyarakat sekitar antara lain

adalah ikut menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan penduduk

sekitar, baik secara langsung maupun tidak langsung, peningkatan fasilitas

infrastruktur umum dan lain sebagainya. Dampak negatif yang ditimbulkan bisa

berupa pencemaran lingkungan karena limbah, hingga faktor keamanan yang tidak

nyaman untuk berinvesatasi (Anonim, 2012).

Usaha penggemukan sapi potong pasti akan menghasilkan limbah yang jika

tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan perubahan lingkungan. Misalnya, bau

kotoran yang tidak terurus bisa menimbulkan polusi bagi lingkungan sekitarnya, atau

pembuangan limbah kotoran ternak ke sungai akan menurunkan kualitas air.

Penanganan limbah perlu direncanakan dengan sebaik-baiknya, bahkan bisa

diupayakan untuk menghasilkan penghasilan tambahan, seperti mengolah kotoran

menjadi kompos. Penggunaan kompos untuk memupuk hijauan atau tanaman lain

akan meningkatkankualitas lingkungan. Limbah air yang digunakan untuk

membersihkan kindang dan memandikan sapi sebaiknya ditampung di dalam suatu

unit pengolah limbah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke saluran air. Sebuah kolam

yang berisi ikan bisa menjadi unit pengolahan limbah yang ekonomis (Abidin, 2002).

2.2.3 Penyusutan Amdal

Keberadaan usaha peternakan yang baru akan memberi pengaruh terhadap

lingkungan baik positif maupun negatif. Pengaruh positif biasanya terjadi pada

lingkungan sosial-ekonomi karena adanya penyerapan tenaga kerja lokal,

(7)

meningkatkan kesuburan tanah. Pengaruh negatif timbul akibat adanya limbah yang

dihasilkan oleh usaha tersebut. Limbah yang dihasilkan umumnya menjadi

sumber polutan bagi air dan udara di lingkungan sekitarnya (Firman,2011).

Dalam studi kelayakan kajian terhadap aspek lingkungan tidak mendetil, baru

sampai pada tahap pendugaan dampak usaha terhadap lingkungan. Kajian yang lebih

mendetil mengenai lingkungan dilakukan pada kajian lain yaitu upaya pemantauan

lingkungan (UPL) dan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) yang diperlukan untuk

menentukan lokasi usaha sebelum feasibility study dan kegiatan usaha setelah

feasibility study, serta analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Kedua

kajian tersebut didasarkan atas hasil studi kelayakan (feasibility study) selesai.

Jadi UPL-UKL dan AMDAL dilakukan setelah studi kelayakan usahanya ada/ selesai

(Firman,2011).

2.2.4 Aspek Sosial Sapi Potong

Usaha penggemukan sapi potong akan memberikan dampak sosial budaya.

Misalnya dengan merangsang para petani di sekitar untuk melakukan usaha

penggemukan sapi potong secara intensif, karena usaha ini bisa menghasilkan

keuntungan yang tidak sedikit. Selain dampak positif, usaha ini juga menimbulkan

dampak negatif, misalnya mendorong sikap konsumtif masyarakat akibat peningkatan

penghasilan (Heri, 2010).

Analisis sosial berkenaan dengan implikasi sosial yang lebih luas dari

(8)

secara cermat agar dapat menentukan apakah suatu proyek tanggap (responsive)

terhadap keadaan sosial (Gittinger 1986).

Usaha dan pengembangan peternakan saat ini menunjukan prospek yang

sangat cerah dan mempunyaiperanan yang sangat penting dalam pertumbuhan

ekonomi pertanian. Sebagian masrakat dunia mengakui bahwa produk-produk

peternakan memegang peranan sangat penting di masa yang akan dating (Susiloroni,

dkk, 2008).

2.3 Aspek Ekonomi Budidaya Sapi Potong

2.3.1 Investasi Proyek

Menurut Kariyasa dan Kasryno (2004), usaha ternak sapi akan efisien jika

manajemen pemeliharaan diintegrasikan dengan tanaman sebagai sumber pakan bagi

ternak itu sendiri. Ternak sapi menghasilkan pupuk untuk meningkatkan produksi

tanaman, sedangkan tanaman dapat menyediakan pakan hijauan bagi ternak.

Usaha sapi potong mempunyai dampak positif bagi peternak, pengusaha

maupun masyarakat. Bagi peternak dampak ekonomis dari usaha ini adalah akan

meningkatkan pendapatan mereka. Usaha sapi potong merupakan usaha yang

menguntungkan karena mempunyai pembeli yang jelas, selalu dibutuhkan oleh

masyarakat dan harga cenderung meningkat terutama mendekati hari raya

keagamaan. Selain itu, melakukan budi daya sapi potong akan menyerap tenaga kerja

bagi masyarakat setempat sehingga akan membantu peningkatan pendapatan dan

(9)

Sumber daya pertanian, khususnya usaha peternakan sapi potong merupakan

salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable) dan berpotensi

untuk dikembangkan guna meningkatkan dinamika ekonomi. Usaha sapi potong

potensi dikembangkan, dikarenakan: usaha ini relatif tidak tergantung pada

ketersediaan lahan dan tenaga kerja yang berkualitas tinggi; memiliki kelenturan

bisnis dan teknologi yang luas dan luwes; produk sapi potong memiliki nilai

elastisitas terhadap perubahan pendapatan yang tinggi; dan dapat membuka lapangan

pekerjaan. Namun, modal yang dibutuhkan cukup besar. Usaha sapi potong menjurus

kepada usaha penggemukan untuk pemanfaatan dagingnya saja, dengan demikan

dapat dihasilkan produk daging sapi dengan berat optimal dan berkualitas (Fauzi,

2012).

Program pemberdayaan sektor riil serta pengembangan Usaha Mikro, Kecil

dan Menengah (UMKM) sangat penting dilakukan karena dapat mengurangi angka

kemiskinan dan pengangguran. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan

pemberdayaan pada sektor pertanian, karena pertanian merupakan salah satu sektor

yang banyak menyerap angkatan kerja. Salah satu komoditi pertanian yang

memberikan harapan adalah sub sektor pertanian/ peternakan sapi potong (Fauzi,

2012).

2.3.2 Peluang Pasar Makro

Ternak sapi potong Indonesia memiliki arti yang sangat strategis, terutama

dikaitkan dengan fungsinya sebagai penghasil daging, tenaga kerja, penghasil pupuk

(10)

komoditas sumber pangan hewani yang bertujuan untuk mensejahterakan manusia,

memenuhi kebutuhan selera konsumen dalam rangka meningkatkan kualitas hidup,

dan mencerdaskan masyarakat (Santosa & Yogaswara, 2006).

Sapi potong merupakan komoditas subsektor peternakan yang sangat

potensial. Hal ini bisa dilihat dari tingginya permintaan akan daging sapi. Namun,

sejauh ini Indonesia belum mampu menyuplai semua kebutuhan daging tersebut.

Akibatnya, pemerintah terpaksa membuka kran inpor sapi hidup maupun daging sapi

dari negara lain, misalnya Australia dan Selandia Baru. Usaha peternakan sapi potong

pada saat ini masih tetap menguntungkan. Pasalnya, permintaan pasar akan daging

sapi masih terus memperlihatkan adanya peningkatan. Selain dipasar domestik,

permintaan daging di pasar luar negeri juga cukup tinggi (Rianto & Purbowati, 2009).

2.3.3 Peningkatan PAD

Suharto (2000) dalam Mariyono dkk. (2010) menyatakan bahwa dengan

penerapan model low external input sustainable agricultural (LEISA) dapat diperoleh

beberapa keuntungan antara lain: (i) Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya lokal ; (ii)

Maksimalisasi daur ulang (zero waste); (iii) Minimalisasi kerusakan lingkungan

(ramah lingkungan) ; (iv) Diversifikasi usaha ; (v) Pencapaian tingkat produksi yang

stabil dan memadai dalam jangka panjang, serta (vi) Menciptakan semangat

kemandirian.

Indonesia dengan jumlah penduduk diatas 220 juta jiwa juga membutuhkan

pasokan daging sapi dalam jumlah yang besar. Sejauh ini, peternakan domestik belum

(11)

permintaan ternyata masih tinggi, tidak mengherankan jika lembaga yang memiliki

otoritas tertinggi dalam hal pertanian termasuk petenakan – Departemen Pertanian

(Deptan) mengakui masalah utama usaha sapi potong di Indonesia terletak pada

suplai yang selalu mengalami kekurangan setiap tahunnya. Sementara laju

pertumbuhan konsumsi dan pertambahan penduduk tidak mampu diimbangi oleh laju

peningkatn populasi sapi potong. Pada gilirannya, kondisi seperti ini memaksa

Indonesia untuk selalu melakukan inpor, baik dalam bentuk sapi hidup maupun

daging dan jeroan sapi (Anonim, 2010).

2.4 Aspek Resiko Budidaya Sapi Potong

2.4.1 Kendala Permodalan

Keuntungan bersih yang diterima peternak dari hasil penggemukan digunakan

untuk konsumsi rumah tangga dan sebagiannya digunakan dalam upaya

pengembangan usaha. Oleh karena itu, para peternak mengalami kekurangan

permodalan untuk memulai usaha penggemukan sapi potong pada periode berikutnya

(Nasser, 2010)

2.4.2. Kendala pemeliharaan yang masih tradisional

Umumnya para peternak di dalam usaha pemeliharaan ternak masih

tradisional. Menyerahkan hasil pada alam, pengadaan bibit, pemberian makanan,

pemeliharaan atau lain sebagainya belum menggunakan teknologi modern.

(12)

pertanian, dan kurang mengenal apa yang disebut breeding, feeding, management dan

keterbatasan modal (Nasser, 2010)

2.4.3 Kendala iklim

Indonesia yang beriklim tropis terkadang bisa menimbulkan kendala bagi

pengembangan ternak sapi potong yang produktif. Sebab suhu yang tinggi bisa

mengakibatkan gangguan metabolisme. Akibatnya penimbunan daging menjadi lebih

lambat, apalagi kalau bibit (bakalan) berasal dari daerah subtropis dan adaptasinya

belum baik. Demikian pula jika terjadi kemarau yang panjang akan mengganggu

kontinuitas penyediaan hijauan (Nasser, 2010).

Iklim yang sesuai untuk penggemukan sapi adalah iklim setengah basah, di

Indonesia yang memiliki iklim tersebut hanya ada di NTT dan NTB, dengan iklim

setengah basah tanaman yang banyak tumbuh berupa hamparan padang rumput luas

dan rumputnya tinggi yang dibutuhkan pakan ternak, sebaliknya pepohonan

tumbuhnya sedikit. Oleh karenanya, di daerah setengah basah ini populasi ternaknya

cukup besar dibandingkan dengan daerah lain atau daerah pertanian yang subur

(Nasser, 2010).

2.4.4 Kendala Hama dan Penyakit

Penggemukan sapi potong tidak terlepas dari hama dan penyakit ternaknya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, peternak selalu berupaya menanggulangi hama dan

penyakit sejak masa penggemukan hingga waktu panen. Hama adalah organisme

(13)

mengganggu binatang ternak. Cara pemberantasan hama dapat dikelompokkan

menjadi tiga jenis, yaitu secara mekanis, kimiawi, dan biologis. Penyakit adalah

segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada ternak, baik secara langsung

maupun tidak langsung. Gangguan terhadap ternak dapat disebabkan oleh organisme

lain, pakan, maupun kondisi lingkungan yang menunjang kehidupan ternak (Nasser,

2010).

Penyakit meliputi penyakit infeksi dan bukan infeksi. Penyakit infeksi

meliputi penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, fungi, dan parasit. Penyakit

bukan infeksi pada ternak dapat berupa cacat genetis, cedera fisik, ketidak

seimbangan nutrisi, dan polusi. Beberapa jenis mikroorganisme yang dapat

menyebabkan penyakut sapi, diantaranya bakteri, virus, protozoa, dan penyebab

lainnya. Beberapa jenis penyakit yang menyerang ternak sapi diantaranya adalah

tuberkolosis, antraks, radang paha (blakleg), brucellosis, kuku busuk (foot rot),

ngorok, penyakit mulut dan kuku, protozoa, cacing (cacing hati, cacing pita, cacing

perut, cacing paru – paru), kembung (bloat), dan kudis (Nasser, 2010).

Suplai daging untuk masyarakat Indonesia masih mengalami

kekurangan,sehingga aspek pemasaran bukanlah masalah yang berat.Hal yang perlu

diperhitungkan adalah kondisi harga bakalan dan harga jual sapi potong di

pasaran.Kesalahan dalam perhitungan bisa menyebabkan kerugian yang tidak

sedikit.Untuk menjaga agar harga tidak fluktuatif,perlu dilakukan penjajakan

penerapan harga kontak dengan penjual bakalan atau pembeli sapi potong.Langkah

(14)

anjlok pada waktu sapi potong dipasarkan. Di samping itu,perlu dipertimbangkan sapi

potong akan dijual hidup atau sudah dalam bentuk karkas (Abidin, 2002).

2.4.5 Kendala Lokasi

Kondisi lokasi berpengaruh terhadap usaha ternak sapi potong yang akan

dijalani. Sebab, bisa saja saat beternak sapi dalam jumlah sedikit di lokasi dekat

perumahan belum jadi masalah. Namun, setelah mengembangkan usaha menjadi

lebih besar, dapat menimbulkan masalah. Masalah yang berpotensi akan muncul saat

beternak sapi potong di antaranya sebagai berikut (Nasser, 2010) :

a. Kebutuhan tempat untuk beternak

Bila usaha yang dilakukan berskala besar, tempat usaha menjadi perhatian.

Kebutuhan tempat yang luas dan jauh dari pemukiman patut dipertimbangkan

sehingga lokasi yang dipilih benar – benar mendukung.

b. Potensi limbah ternak dan dampaknya

Pada sapi yang berjumlah tidak begitu banyak dan berada tidak jauh dari

lingkungan pemukiman, limbah cair dan padatnya masih bisa ditangani sehingga

tidak mengganggu warga. Bahkan bila dikelola denga baik dapat dimanfaatkan oleh

warga setempat, seperti biogas dan pupuk untuk pertanian. Namun, bau limbah tentu

sulit untuk diterima oleh warga yang bermukim dekat dengan peternakan.

c. Kondisi sosial ekonomi masyarakat

Masyarakat yang bermukim dekat dengan peternakan kemungkinan akan

merasa terganggu dengan aktivitas peternak. Bila limbah yang ada tidak ditangani

(15)

masyarakat sekitarnya. Selain itu, berbagai aktivitas yang dilakukan di peternakan

dapat memicu kecemburuan sosial jika masyarakat di sekitarnya tidak dilibatkan.

2.5 Koefisien Teknis Budidaya Sapi Potong

Suastina dan Kayana, (2008) menyatakan bahwa Koefisien Teknis adalah angka

standar yang mematuhi kaidah yang sudah ditentukan yang dapat dipergunakan untuk

menghitung suatu besaran yang bersifat linear, luas bidang, volume, jumlah berat, dan

berbentuk persentase. Ukuran linear (m dan cm), ukuran berat (kg dan ton), ukuran

volume (l dan cc), ukuran luas (m² dan ha), ukuran waktu (jam, hari, minggu, bulan,

dan tahun), ratio antara sumber daya ”feed egg ratio” dan “Feed Ratio”).

Penyusun proyeksi kelahiran, penjualan, dan sisa ternak di akhir masa

proyeksi ternak bibit, memerlukan koefisien teknis sebagai berikut ini (Suastina dan

Kayana, 2008):

Umur awal induk dan jantan, untuk menentukan pada tahun berapa ternak

diafkir.

Umur pasar betina bibit dan jantan muda (bibit) untuk menentukan penjualan

setiap tahun.

“Sex Ratio”, yaitu jumlah anak jantan berbanding jumlah anak betina, untuk

menentukan jumlah jantan dan betina pada setiap kelahiran dan direncanakan.

“Net Calf Crop” yang ditentukan berdasarkan kondisi lingkungan pada lokasi

Pengkajian aspek teknis dalam studi kelayakan dimaksudkan untuk

memberikan batasan garis besar parameter-parameter teknis yang berkaitan dengan

(16)

biaya dan jadwal kegiatan yang dilakukan nantinya, karena akan memberikan

batasan-batasan lingkup proyek secara kuantitatif (Soeharto dan Iman, 1999).

Menurut Husnan dan Suwarsono, (2000) aspek teknis merupakan suatu aspek

yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan operasi setelah

proyek selesai dibangun. Aspek teknis dilakukan untuk mendapatkan gambaran

mengenai lokasi proyek, besar skala operasi/luas produksi, kriteria pemilihan mesin

dan peralatan yang digunakan, proses produksi yang dilakukan dan jenis teknologi

yang digunakan.

Langkah awal yang perlu dilakukan dalam proses pemeliharaan sapi potong

adalah menyangkut keseragaman dan jumlah sapi yang akan digemukkan. Faktor

keseragaman umumnya menjadi salah satu dasar pertimbangan dalam

mempersiapkan sapi bakalan. Sapi bakalan yang ideal adalah apabila sapi – sapi

memiliki keseragaman tipe, umur, dan ukuran tubuh. Kelompok sapi yang memiliki

keseragaman semacam ini akan menguntungkan peternak dalam berbagai hal,

diantaranya, sapi – sapi yang seragam akan mempermudah tata laksana dan mudah

dipasarkan bersama sehingga harga relatif baik. Jumlah sapi yang akan digemukkan

sebenarnya tidak ada batasan, akan tetapi tergantung dari peternak sendiri, berhubung

dengan fasilitas yang tersedia seperti lokasi lahan, bangunan kandang, kemudahan

memperoleh pakan serta kemampuan peternak dalam mengelola kelompok sapi

(17)

2.5.1 Penyiapan Lahan dan Lokasi Penggemukan

Lokasi lahan usaha baik untuk sapi impor maupun sapi lokal memerlukan

persyaratan sebagai berikut (Nasser, 2010) :

a) Memiliki prasarana yang memadai untuk usaha penggemukan sapi (lokasi,

lahan relatif datar, tersedia sumber air, kebutuhan air mencapai 70 liter/

ekor/hari)

b) Memiliki sarana yang mencukupi untuk melakukan usaha penggemukan sapi

(bangunan, peralatan, bakalan, pakan, obat hewan, tenaga kerja)

c) Memahami proses produksi (aspek pemilihan bakalan, aspek perkandangan,

aspek pakan, aspek kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, dan

aspek penanganan hasil);

d) Mudah di jangkau oleh truk (mobil angkutan)

e) Tenaga kerja cukup dan terampil

f) Memperhatikan pelestarian lingkungan.

Secara umum, Indonesia terletak pada jalur simpangan yang menguntungkan ,

yakni dua benua dan dua samudera, serta dilalui garis khatulistiwa. Karena itu,

Indonesia beriklim tropis dengan dua musim, sehingga perbedaan suhu, curah hujan,

kelembaban, dan arah mata angin tidak terlalu fluktuatif. Beberapa faktor yang perlu

dipertimbangkan dalam pemlihan lokasi (Abidin, 2002) :

1) Temperatur

Sapi termasuk hewan yang peka terhadap perubahan suhu lingkungan, terutama

(18)

berakibat pada menurunnya laju pertumbuhan. Untuk hewan tertentu, suhu tinggi

juga berpengaruh terhadap kemampuan reproduksi menurun. Pemaksaan penggunaan

suhu lokasi yang tinggi temperaturnya fluktuaktif, kurang cocok bagi hewan, akan

menyebabkan menurunnya penampilan produksi.

2) Curah Hujan

Tinggi rendahnya curah hujan di suatu lokasi berhubungan erat dengan kondisi

temperatur di daerah tersebut.Temperatur pada musim hujan akan lebih rendah

dibandingkan dengan pada musim kemarau. Di samping itu, curah hujan yang tinggi

berkorelasi dengan ketersediaan pakan yang berupa hijauan. Umumnya, hijauan

melimpah pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau terbatas. Lokasi ideal

untuk penggemukan sapi potong adalah lokasi yang bercurah hujan 800 – 1500

mm/tahun. Curah hujan yang sangat tinggi bisa mengakibatkan gangguan kesehatan

pada sapi potong. Jika kebersihan kandang kurang terjaga, bisa timbul penyakit

Pneumonia.

3) Arah Angin

Angin merupakan salah satu faktor pembawa kuman penyakit, sehingga

penentuan arah angin yang dominan di suatu lokasi sangat penting sebagai petunjuk

bagi pembuatan kandang. Kandang sebaiknya dibangun berderet memanjang sesuai

dengan arah angin yang dominan. Hal ini dimaksudkan agar angin yang datang tidak

menerpa sapi-sapi secara frontal. Selain itu, perlu diperhatikan arah sinar matahari.

Sinar matahari pagi diusahakan masuk ke dalam kandang secara langsung atau tanpa

(19)

4) Kelembapan

Tingkat kelembapan tinggi (basah) cenderung berhubungan dengan tingginya

peluang bagi tumbuh dan berkembangnya parasit dan jamur. Sebaiknya, kelembapan

rendah (kering) menyebabkan udara berdebu, yang merupakan pembawa penyakit

menular. Kelembapan ideal bagi sapi potong adalah 60–80 %.

5) Topografi

Topografi lokasi merupakan suatu gambaran tinggi rendah suatu lokasi yang

diukur dengan standar di atas permukaan laut. Keadaan topografi mempengaruhi

temperatur, curah hujan, dan kelembapan lingkungan. Dalam hal ini, lokasi berbukit

bisa menjadi pilihan karena bisa menghambat arah angin. Topografi juga berpengaruh

terhadap ketersediaan air di suatu lokasi dan kemudahan sarana transportasi. Jika

memungkinkan, lokasi sebaiknya dilalui oleh anak sungai agar ketersediaan air untuk

menjaga kebersihan kandang dan untuk memandikan sapi terjamin.

Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam hal kapasitas lingkungan

antara lain (Abidin, 2002) :

1) Ketersediaan Bahan Pakan

Secara tradisional, sapi potong hanya membutuhkan hijauan sebagai pakan.

Namun, untuk sebuah usaha penggemukan yang berorientasi pada keuntungan

finansial, perlu dipertimbangkan penggunaan bahan pakan berupa konsentrat,

sehingga dicapai efisiensi waktu yang akan meningkatkan keuntungan. (Abidin,

(20)

2) Infrastruktur

Infrastruktur mencakup kemudahan akses sarana trasportasi, komunikasi, listrik

untuk penerangan, luas lahan, perkandangan, pergudangan, dan perkantoran di lokasi

penggemukan. Sarana transportasi meliputi prasarana jalan dan alat trasportasiyang

akan digunakan, baik untuk arus sirkulasi sapi potong, tenaga kerja, maupun pakan.

Perkandangan, pergudangan, dan perkantoran merupakan sarana penunjang

operasional yang perlu disediakan dengan mempertimbangkan biaya pembangunan

dan skala usaha. Luas lahan perlu dipertimbangkan untuk proyeksi perluasan usaha.

3) Ketersediaan Air

Air mutlak diperlukan dalam usaha penggemukan sapi potong karena

berpengaruh langsung pada kehidupan hewan ternak. Selain sebagai air minum, air

dipergunakan untuk memandikan sapi dan membersihkan kandang. Perlu

dipertimbangkan pula sumber air yang akan digunakan, misalnya air tanah, sungai

yang mengalir, atau mata air langsung. Hal ini sangat terkait dengan pembiyaan

usaha.

2.5.2 Kandang

Kandang yang dibangun harus bisa menunjang peternak, baik dari segi

ekonomis maupun segi kemudahan dalam pelayanan. Dengan demikian diharapkan

(21)

tempat dan kotorannya pun bisa dimanfaatkan seefisien mungkin. Hal – hal yang

perlu diperhatikan dalam pembuatan kandang antara lain adalah (Nasser, 2010) :

a. Kontruksi

Kontruksi kandang harus dibangun sesuai dengan kondisi lingkungan

setempat. Kontruksi kandang harus kuat, mudah dibersihkan, bersirkulasi udara baik.

Selain itu sapi terlindung dari pengaruh lingkungan yang merugikan.

Hal – hal yang perlu dipertimbangkan dalam kontruksi kandang antara lain

adalah : 1). Sedapat mungkin bangunan kandang tunggal dibangun menghadap ke

timur dan jika kandang ganda membujur ke arah utara selatan, sehingga

memungkinkan sinar matahari pagi bisa masuk ke dalam ruangan atau lantai kandang

secara leluasa; 2). Pengaturan ventilasi diperlukan sebagai jalan keluar masuknya

udara di dalam kandang sehingga ruangan kandang terhindar dari udara yang panas,

pengab, kelembaban tinggi dan sebagainya; 3). Pembuatan atap (bagian atas) kandang

berfungsi untuk menghindarkan dari terik matahari dan hujan, menjaga kehangatan

ternak di waktu malam, serta menahan panas yang dihasilkan oleh tubuh hewan itu

sendiri. Tanpa atap, panas di dalam kandang sebagian akan hilang ke atas pada waktu

malam, sehingga suasana kandang pada saat itu akan menjadi sangat dingin; 4).

Dinding mutlak harus ada, karena diperlukan sebagai pembatas seluruh keliling atau

bagian tepi kandang berfungsi sebagai penahan angin langsung atau angin kencang,

penahan keluar masuknya udara panas dari dalam kandang yang dihasilkan tubuh

(22)

Lantai kandang sebagai batas bangunan kandang bagian bawah, harus dibuat sesuai

persyaratan: rata, tidak licin, tidak mudah menjadi lembab, tahan injakan (awet).

b. Letak bangunan kandang

Perlu dipertimbangkan faktor – faktor penunjang yang mempengaruhi letak

bangunan kandang, antara lain : 1). Faktor ekonomis; terutama meliputi transportasi,

sumber air, dan harus dekat dengan peternak. Sebaiknya membangun kandang di

suatu tempat yang mudah transportasi dan komunikasinya tidak sulit. Transportasi

dan komunikasi yang mudah dan dekat sumber pakan, pasar, akan sangat

menguntungkan peternak sebab biaya pengangkutan pakan atau pun penjualan

produksi relatif lebih rendah.

Letak bangunan kandang yang baik adalah kandang terletak di suatu daerah

atau tempat yang dekat sumber air. Sebab usaha peternakan sapi potong cukup

banyak memerlukan air untuk memberi makan ternak, membersihkan kandang

beserta peralatan, dan keperluan memandikan sapi.

Untuk memberikan jaminan kesehatan ternak dan peternaknya, kita perlu

mempertimbangkan faktor – faktor kebersihan lingkungan, untuk keperluan itu,

bangunan kandang harus ditempatkan di suatu tempat tertentu yang kering, atau

tempat yang lebih tinggi dari linkungan sekitar dan mempunyai drainase yang baik,

di tempat terbuka agar mudah memperoleh cahaya matahari.

(23)

Perlengkapan kandang ternak sapi potong yang harus disediakan terutama

tempat makan dan minum, sedangkan perlengkapan pembersihnya meliputi sekop,

sapu lidi, selang air, sikat, ember, dan kereta dorong.

2.5.3 Sapi Bakalan

Sapi yang digunakan untuk sapi potong hendaknya berukuran tubuh besar,

tidak bertanduk, kualitas daging bagus, laju pertumbuhan relatif cepat, dan efesiensi

konversi bahan pakan menjadi daging cukup tinggi. Sapi jantan lebih cocok dijadikan

sapi potong karena sapi jantan memiliki pertambahan berat daging harian yang lebih

tinggi dibandingkan dengan sapi betina. Selain itu, ada peraturan yang melarang

memotong ternak sapi betina yang masih produktif (Nasser, 2010).

Penentuan lokasi harus memperhatikan ketersediaan bakalan yang akan

digemukkan, terutama jika bakalan yang akan digemukkan adalah bakalan lokal.

Kapasitas pasar hewan dalam menyediakan bakalan dan letak pasar hewan dari lokasi

perlu diperhatikan. Hal ini akan terkait erat dengan perencanaan secara keseluruhan,

misalnya jenis sapi yang akan digemukkan dan kapasitas usaha. Di samping itu,

keseragaman berat badan sapi bakalan perlu diperhatikan untuk mempermudah

penanganan (Nasser, 2010).

Jenis sapi bakalan import biasanya didatangkan dari Australia dan Selandia

baru. Jenis sapi yang didatangkan biasanya berasal dari jenis brahman cross atau

australian commercial cross. Sapi ini memiliki berat dan umur yang seragam, serta

(24)

berkisar 250 – 350 kg dengan umur sapi 1 – 2 tahun. Sapi bakalan yang sehat ditandai

dengan penampilan fisik sebagai berikut (Nasser, 2010) :

- Badan sehat, ditandai dengan bulu yang licin dan mengkilap, mata yang

bersinar cerah, serta tidak terdapat kerusakan atau luka di bagian tubuhnya;

- Bentuk tubuh proporsional, ditandai dengan panjang tubuh minimum 170 cm,

tinggi pundak 135 cm, dan lingkar dada 133 cm;

- Bereaksi baik terhadap pakan dan cepat bangkit jika ada gangguan dari

sekitarnya;

- Hidung tidak kotor, basah, atau panas;

- Bentuk kotoran normal ditandai dengan bentuk kotoran yang padat;

- Tidak memiliki tanduk.

2.5.4 Pakan

Ransum atau pakan berpengaruh terhadap pertumbuhan bobot tubuh sapi yang

digemukkan, sapi yang digemukan hanya dengan pemberian hijauan saja tidak akan

mampu mencapai pertambahan bobot tubuh yang maksimal dan waktu

penggemukannya relatif lama. Sebaliknya, pemberian ransum yang terdiri dari

hijauan dan sejumlah konsentrat akan dapat mencapai pertambahan bobot tubuh yang

tinggi dan waktu penggemukan relatif singkat. Komposisi pakan sapi terdiri dari

konsentrat dan hijauan dengan persentasi 85% dan 15%. Komposisi makanan sangat

penting karena di gunakan sebagai sumber energi dan pembentukan protein (Nasser,

(25)

Secara tradisional, sapi potong hanya membutuhkan hijauan sebagai pakan.

Namun, untuk sebuah usaha penggemukan yang berorientasi pada keuntungan

finansial, perlu dipertimbangkan penggunaan bahan pakan berupa konsentrat,

sehingga dicapai efisiensi waktu yang akan meningkatkan keuntungan (Abidin,

2002).

Pemberian pakan perlu memperhatikan kebutuhan zat gizi sapi, pertambahan

bobot yang diinginkan, dan jenis pakan yang tersedia. Indonesia belum mempunyai

standart kebutuhan gizi sapi secara nasional. Di antara standart gizi ternak yang ada

berasal dari National Research Council (NRC) Amerika Serikat dan Agricultural

Research Council (ARC) di Inggris. Standar tersebut ditujukan untuk negara sedang

berkembang. Namun perlu dipahami bahwa kebutuhan gizi tersebut belum tentu

cocok dengan kondisi di Indonesia, sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut

(Nasser, 2010).

Ketersediaan pakan perlu dijadikan pertimbangan penting agar biaya pakan

tidak membengkak. Sebaiknya gunakan bahan pakan lokal yang tersedia di sekitar

peternakan, karena bahan pakan yang diambil dari luar daerah menjadi relatif lebih

mahal karena memerlukan biaya transportasi, namun bisa dijadikan alternatif bila

harganya murah. Misalnya, bungkil kedelai, tepung ikan, tepung tulang, limbah nenas

(Nasser, 2010).

Limbah pertanian berpotensi dijadikan sumber pakan alternatif. Potensi

limbah pakan di Indonesia setiap tahun mencapai 1.546.297,3 ton. Mencakup jerami

padi (85,81%), jerami jagung (5,84%), jerami kacang tanah (2,84%), jerami kedelai

(26)

2.5.5 Kadar dan Tata Cara Pemeliharaan

Setiap hari, sapi memerlukan pakan sebanyak 10% (berat basah) atau 3%

(berat kering) dari berat tubuhnya. Dari jumlah pakan 10% tersebut, komposisi pakan

hijauan, konsentrat dan pakan tambahan diuraikan sebagai berikut (Nasser, 2010) :

- Hijauan sebanyak 5% (berat basah) atau 1,5% (berat kering) dari bobot sapi

- Konsentrat sebanyak 5% (berat basah) atau 1,5% (berat kering) dari bobot badan

sapi

- Sementara, pakan tambahan diberikan sekitar 1% dari total ransum

Pakan konsentrat (ransum) diberikan sebelum pemberian pakan hijauan. Selain

itu, diberikan juga mineral sebagai penguat berupa garam dapur dan kapur.

2.5.6 Pemeliharaan

Pemeliharaan sapi merupakan upaya pembesaran yang bertujuan memacu

pertumbuhan sapi untuk mencapai peningkatan bobot pada fase pertumbuhan yang

tepat. Pembesaran sapi potong merupakan tujuan dari usaha ternak untuk mencapai

bobot optimal sebelum sapi tersebut di jual. Sistem pembesaran yang tepat dengan

dipadukan pemberian pakan dan perawatan yang baik tentu akan menghasilkan sapi

potong berkualitas. Peternak dapat memilih sistim pengembalaan, dikandangkan (dry

lot fattening), atau paduan keduanya. Langkah – langkah penggemukan ini adalah

sebagai berikut (Nasser, 2010) :

a. Bakalan yang dipilih adalah sapi yang seragam ukurannya

b. Sapi yang dipelihara tinggal di dalam kandang terus menerus sepanjang hari, pakan

(27)

c. Sumber pakan yang utama dari biji – bijian (konsentrat) dan sebagian berupa

hijauan yang terdiri dari jerami, rumput, tanaman jagung dan bisa ditambahkan

mollase (tetes tebu)

d. Mollase diberikan 0,5 kg/ekor/hari.

Frekuensi pemberian pakan dua kali sehari pada siang dan sore hari. Pada pagi

hari setelah kandang dibersihkan, sapi diberi pakan konsentrat, kemudian siang

menjelang sore diberi pakan hijauan yang disediakan untuk dimakan hingga pagi hari

(Nasser, 2010).

Sapi yang dibesarkan atau digemukkan dalam kandang dengan pemberian

pakan penuh menyebabkan kotorannya juga banyak. Dengan demikian, kebersihan

kandang harus benar – benar di jaga. Pembersihan kotoran sapi dilakukan dua kali

sehari, pagi dan sore hari (Nasser, 2010).

Membersihkan sapi dengan cara memandikan bertujuan untuk menghilangkan

kotoran yang menempel pada tubuh sapi. Kotoran yang menempel merupakan sumber

penyakit. Jika dalam perawatan ditemukan ada sapi yang terserang penyakit

sebaiknya segera dipisahkan. Pemisahan dimaksudkan agar penyakit tidak menular

pada sapi lain serta memudahkan dalam memberikan pakan khusus dan pengobatan

(Nasser, 2010).

2.5.7 Panen

Sapi potong dapat dipanen setelah 90 – 100 hari penggemukan. Penimbangan

berat akhir di lakukan di lokasi perusahaan mitra atau di lokasi peternak sesuai

(28)

ditimbang di lokasi mitra, lokasi peternakan harus tidak jauh dari lokasi perusahaan

mitra (sekitar 1 jam perjalanan kendaraan) (Nasser, 2010).

2.5.8 Perlengkapan

Semakin besar skala usaha penggemukan sapi potong, semakin tinggi

kebutuhan perlengkapan. Contoh, skala usaha dengan kapasitas 10 ekor per bulan

tidak perlu memiliki truk sebagai sarana angkutan karena efisiensinya rendah, tetapi

skala 500 ekor per minggu membutuhkan sarana angkutan karena jika menyewa

kendaraan tidak efisien. Beberapa perlengkapan yang dibutuhkan sebaiknya

disesuaikan dengan skala usaha (Nasser, 2010).

2.5.9 Tenaga Kerja

Dari segi kuantitas, tenaga kerja bukanlah suatu hal yang sulit. Namu untuk

mendapatkan tenaga kerja yang baik dan bertanggung jawab, diperlukan proses

seleksi yang cukup ketat dan diikuti proses pelatihan yang berlanjut, sehingga tenaga

kerja memiliki jalur tersendiri. Dalam proses seleksi tenaga kerja, perlu diperhatikan

beberapa faktor, seperti tingkat pendidikan, pengalaman, ketrampilan, kondisi fisik,

dan jenis kelamin (Nasser, 2010).

2.6 Analisis Pasar dan Pemasaran Budidaya Sapi Potong

Hal yang perlu diperhitungkan adalah kondisi harga bakalan dan harga jual

sapi potong di pasaran. Kesalahan dalam perhitungan bisa menyebabkan kerugian

(29)

penjajakan penrapan harga kontrak dengan pembeli sapi potong. Langkah ini bisa

dilakukan untuk mencegah resiko harga bakalan membumbung tinggi, tetapi anjlok

pada waktu sapi potong dipasaran. Disamping itu, perlu dipertimbangkan sapi potong

akan dijual hidup atau sudah dalam bentuk karkas (Abidin, 2002).

Evaluasi aspek pasar sangat penting dalam pelaksanaan studi kelayakan

proyek. Salah satu syarat agar pemasaran berhasil, proyek yang akan dilaksanakan

harus dapat memasarkan hasil produksinya secara kompetitif dan menguntungkan.

Analisis aspek pasar terdiri dari rencana perasarana output yang dihasilkan oleh

proyek dan rencana penyediaan input yang dibutuhkan untuk kelangsungan dan

pelaksanaan proyek (Gittinger, 1986).

Kriteria kelayakan pada aspek pasar dikatakan layak apabila usaha budidaya

sapi potong memiliki peluang pasar, artinya potensi permintaan lebih besar dari

penawaran. Keberhasilan dalam menjalankan usaha perlu adanya strategi pemasaran

dan pengkajian aspek pasar dengan cermat. Hal yang dapat dipelajari bentuk pasar

yang dimasuki, komposisi dan perkembangan permintaan dimasa lalu dan sekarang

(Anonim, 2012).

2.6.1 Arti Pemasaran

Pemasaran adalah suatu runtutan kegiatan atau jasa yang dilakukan untuk

memindahkan suatu produk dari titik produsen ke titik konsumen (Ratya Anindita,

2004). Selanjutnya (Fanani, 2000) mengatakan bahwa pada prinsipnya pemasaran

(30)

terjadi karena adanya lembaga pemasaran yang tergantung dari sistem yang berlaku

dan aliran barang yang dipasarkan.

Pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha/

aktivitas dengan tujuan untuk menyampaikan produk barang dan atau jasa dari

produsen (penghasil) ke konsumen (pemakai) akhir dan segala upaya yang telah

dilakukan untuk memperlancar kegiatan arus barang dan jasa tersebut untuk

mewujudkan permintaan yang efektif (Kolter, 1996).

Pemasaran hasil pertanian sebagai suatu performance semua usaha yang

mencakup kegiatan arus barang dan jasa mulai dari titik usahatani sampai pada

konsumen akhir. Proses mengalirnya komoditi pertanian dari titik-titik usahatani

sampai konsumen akhir dilakukan melalui saluran-saluran. Sedangkan secara khusus

pemasaran adalah analisa terhadap aliran produk secara fisik dan ekonomis dari

produsen ke konsumen melalui pedagang perantara. Mengatakan bahwa pada

prinsipnya pemasaran adalah pengaliran barang dari produsen ke konsumen. Aliran

barang tersebut dapat terjadi karena adanya lembaga pemasaran yang dalam hal ini

tergantung dari sistem yang berlaku dan aliran yang dipasarkan (Fanani, 2002).

2.6.2 Saluran Pemasaran

Sukartawi (1993) mengatakan bahwa saluran pemasaran adalah saluran atau

jalur yang digunakan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk

memudahkan pemilihan suatu produk itu bergerak dari produsen sampai berada di

tangan konsumen. Sedangkan Hanafiah dan Saefudin (1986) mengatakan bahwa

(31)

kegiatan atau fungsi pemasaran dengan cara menggerakkan aliran barang dagangan

tersebut atau hanya bertindak sebagai agen dari pemilik barang. Urutan dari badan ini

membentuk rangkaian yang disebut dengan rantai pemasaran.

Penetapan saluran pemasaran oleh produsen sangatlah penting sebab dapat

mempengaruhi kelancaran penjualan, tingkat keuntungan, model, resiko dan

sebagainya. Oleh karena itu setiap produsen atau perusahaan hendaknya dapat

menetapkan saluran pemasaran yang paling tepat (Abidin, 2002).

Sehubungan dengan hal tersebut Abubakar (1978) membagi saluran pemasaran

itu menjadi tiga yaitu sebagai berikut :

1) Saluran langsung, pada saluran ini tidak terdapat perantara, yaitu saluran barang

dari produsen ke konsumen tanpa melalui perantara, kalaupun ada pedagang

eceran pada saluran ini hanya merupakan milik produsen.

2) Saluran semi langsung, pada saluran ini terdapat pedagang eceran yang

merupakan bukan milik dari produsen yang menghasilkan barang tersebut dan

berdiri sendiri.

3) Saluran tidak langsung, pada saluran ini terdapat pedagang perantara seperti

pedagang besar dan pedangang pengecer yang berfungsi menyalurkan barang

dari produsen ke konsumen akhir.

Jalur pemasaran sapi potong sangat panjang, hal ini akan sangat berpengaruh

pada tingkat keuntungan yang akan diperoleh petani. Kejadian tersebut berlanjut

karena peternak sapi potong tidak dapat menyampaikan produknya ke konsumen

(32)

2.6.3 Lembaga Pemasaran

Menurut Sudiyono, (2002) lembaga pemasaran adalah badan usaha atau

individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari

produsen kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan badan usaha

atau individu lainya. Lembaga pemasaran ini timbul karena adanya keinginan

konsumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat dan bentuk

yang diinginkan oleh konsumen.

Fanani (2000) mengatakan bahwa di dalam pemasaran sapi potong terdapat

beberapa lembaga pemasaran yang ikut serta mengambil bagian, diantaranya:

pedagang perantara, pedagang pengumpul dan pedagang antar propinsi. Peranan

lembaga ini sangat mempengaruhi harga ternak yang akan dijual.

2.6.4 Pendekatan Margin Pemasaran

Tomek dan Robinson (1977) dalam Wedstra (1999) menyatakan dalam teori

harga diasumsikan bahwa penjual dan pembeli bertemu langsung, sehingga harga

ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan secara agregat. Dengan

demikian disimpulkan tidak ada perbedaan antara harga di tingkat peternak dengan di

tingkat konsumen akhir. Tetapi berdasarkan penelitian ternyata perbedaan harga itu

terjadi, perbedaan harga tersebut dengan margin pemasaran.

Tomek dan Robinson (1977) dalam Wedstra (1999) mendefinisikan bahwa

margin pemasaran sebagai perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen dengan

(33)

merupakan selisih antara harga di tingkat konsumen (Pr) dengan harga di tingkat

peternak produsen (Pf), dengan formula sebagai berikut :

MP = Pr – Pf

Dimana

Mp : Margin pemasaran

Pr : Harga pemasaran

Pf : Harga produsen

Lebih lanjut Tomek dan Robinson (1977) dalam Wedstra (1999) menyatakan

bahwa margin pemasaran terdiri dari biaya pemasaran dan keuntungan, sehingga

semakin besar biaya pemasaran, dan atau semakin besar keuntungan maka semakin

besar margin pemasarannya dan sistem pemasarannya menjadi tidak efisien. Margin

pemasaran tersebut hanya menunjukkan selsisih harga tanpa memperhatikan jumlah

yang diperdagangkan, sehingga nilai dari margin pemasaran adalah selisih harga tadi

dengan jumlah transaksi. Dengan demikian margin pemasaran dapat juga

diformulasikan sebagai berikut :

MP = BP + KP Dimana

BP : Biaya Pemasaran KP : Keuntungan Pemasaran

Dari kedua persamaan tersebut diperoleh persamaan baru :

(34)

Tomek dan Robinson (1977) dalam Wedstra (1999) menyatakan secara grafis,

margin pemasaran dapat digambarkan sebagai jarak vertical antara kurva permintaan

primer dengan turunan, atau antara kurva penawaran primer dengan kurva penawaran

turunan.

2.6.5 Margin Pemasaran

Abubakar (2002) mengatakan bahwa margin pemasaran dapat didefinisikan

dengan dua cara yaitu: 1) margin pemasaran merupakan perbedaan antara harga yang

dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima peternak, 2) margin pemasaran

merupakan biaya dari jasa-jasa pemasaran yang dibutuhkan sebagai akibat

permintaan dan penawaran dari jasa-jasa penawaran.

Sedangkan dalam margin pemasaran dikenal berbagai komponen yang terdiri dari (Abubakar, 2002):

1) Biaya-biaya yang diperlukan lembaga-lembaga pemasaran untuk melakukan

fungsi-fungsi pemasaran yang disebut biaya pemasaran atau biaya fungsional.

2) Keuntungan (profil) lembaga pemasaran, lembaga-lembaga pemasaran ini

membentuk distribusi margin pemasaran.

Pada umumnya produk yang berbeda mempunyai jasa pemasaran yang berbeda.

Data empiris menunjukkan bahwa margin pemasaran yang tinggi tidak

mengindikasikan keuntungan yang tinggi, tergantung berapa besar biaya-biaya yang

harus dikeluarkan lembaga-lembaga pemasaran untuk melakukan fungsi-fungsi

(35)

2.6.6 Analisis pemasaran

Menurut Fanani (2000) Analisis Pemasaranmerupakan aktivitas pemasaran

sangat penting untuk menunjang kegiatan pemasaran dalam upaya mencapai

tujuannya, untuk itu sampai tingkat tertentu hal itu diimbangi pula dengan besarnya

biaya pemasaran yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Pengertian analisa

pemasaran dibedakan menjadi dua kategori yaitu :“Dalam arti sempit, analisa

pemasaran diartikan sebagai biaya penjualan, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan

untuk menjual produk ke pasar. Dalam arti luas biaya pemasaran meliputi semua

biaya yang terjadi sejak saat produk selesai diproduksi dan di simpan dalam gudang

sampai dengan produk tersebut diubah kembali dalam bentuk uang tunai”. (Mulyadi,

1992) Karena pertambahan jumlah dan proporsi biaya pemasaran terhadap total

biaya, maka sangat diperlukan strategi dan kebijakan pengendalian atas biaya

pemasaran yang tepat. Dalam strategi dan kebijakan pengendalian biaya pemasaran

diperlukan analisis biaya pemasaran yang memadai (Abubakar, 2002).

2.7 Aspek Keuangan

Menurut Umar, (2005) tujuan menganalisis aspek keuangan dari suatu studi

kelayakan proyek bisnis adalah untuk menentukan rencana investasi melalui

perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, dengan membandingkan antara

pengeluaran dan pendapatan seperti ketersediaan dana, modal, kemampuan proyek

untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan

(36)

digunakan yaitu analsis laba rugi, break even point produksi (BEP Produksi), break

even poin harga (BEP harga), B/C rasio dan Return of investment (ROI).

Menurut Syarif K. (2011)bahwa,Konsep cost of capital (biaya-biaya untuk

menggunakan modal)dimaksudkan untuk menentukan berapa besar biaya riil dari

masing-masingsumber dana yang dipakai dalam investasi. Aspek finansial merupakan

suatugambaran yang bertujuan untuk menilai kelayakan suatu usaha untuk

dijalankanatau tidak dijalankan dengan melihat dari beberapa indikator yaitu

keuntungan,R/C Ratio, Break Event Point (BEP) dan Payback Period (PP) yang

dapatdiuraikan sebagai berikut :

1. Keuntungan suatu perusahaan didapatkan dari hasil penjualan produk

setelahdikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan

untukmemproduksi produk tersebut. Analisis ini bertujuan untuk

mengetahuibesarnya keuntungan dari usaha yang dilakukan dan semakin

besarkeuntungan maka semakin bagus.

2. Imbangan Penerimaan dan Biaya (R/C Ratio), bertujuan untuk

melihatseberapa jauh biaya yang digunakan dalam kegiatan usaha yang

dilakukandapat memberikan nilai penerimaan sebagai manfaatnya.

3. Payback Period adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutupkembali

pengeluaran investasi (initial cash investment) dengan menggunakanaliran

kas, yang bertujuan untuk mengetahui seberapa lama modal yang

telahditanamkan bias kembali dalam satuan waktu.

4. BEP (Break Event Point) analisis ini bertujuan untuk mengetahui sampaibatas

(37)

tidak rugi dan tidak untung. Estimasi ini digunakan dalam kaitannyaantara

pendapatan dan biaya.

Menurut Umar,(2009) studi kelayakan terhadap aspek keuangan perlu dianalisis

bagaimana prakiraan aliran kas akan terjadi. Beberapa criteria investasi yang

digunakan untuk menentukan diterima atau tidaknya sesuatu usulan usaha sebagai

berikut :

1. Net Present Value (NPV) merupakan ukuran yang digunakan untuk

mendapatkan hasil neto (net benefit) secara maksimal yang dapat dicapai

dengan investasi modal atau pengorbanan sumber-sumber lain. Analisis ini

bertujuan untuk mengetahui tingkat keuntungan yag diperoleh selama umur

ekonomi proyek. Proyek dinyatakan layak dilaksanakan jika nilai B/C Rasio

yang diperoleh lebih besar atau sama dengan satu, dan merugi dan tidak layak

dilakukan jika nilai B/C Rasio yang diperoleh lebih kecildari satu.

2. Net Benefit/ Cost Ratio, perbandingan antara present value dari net benefit

positif dengan present value dari net benefit negative. Analisis ini

bertujuanuntuk mengetahui berapa besarnya keuntungan dibandingkan

denganpengeluaran selama umur ekonomis proyek.

3. IRR (Internal Rate of Return) merupakan tingkat suku bunga yag dapat

membuat besarnya nilai NPV dari suatu usaha sama dengan nol (0) atau yang

dapat membuat nilai Net B/C Ratio sama dengan satu dalam jangka waktu

tertentu.

Dalam mengkaji aspek keuangan dalam studi kelayakan stidaknya ada lima

(38)

Dana yang diperlukan untuk investasi, baik untuk aktiva tetap maupun

modal kerja.

Sumber sumber pembelanjaan yang akan dipergunakan. Seberapa banyak

dana yang bgerupa modal sendiri dan berapa banyak yang berupa

pinjaman jangka pendek, dan berapa yang jangka panjang.

Taksiran penghasilan, biaya, dan rugi/laba pada berbagai tingkat operasi.

Termasuk di sini estimasi tentang break event proyek tersebut.

Manfaat dan biaya dalam artian finansial, seperti ”rate of retrun on

investment”.

Di sini di samping perlu ditaksir rugi/laba proyek tersebut, juga

taksiran aliran kas diperlukan untuk menghitung profitabilitas finansial

proyek tersebut.

Proyeksi keuangan. Pembuatan neraca yang diproyeksikan dan proyeksi

sumber dan penggunaan dana.

Dalam bisnis kategori pemilihan investasi didasarkan pada replacement

(mengganti peralatan yang telah rusak/boros) dan expansion (ekspansi untuk produk

yang sudah ada atau produk yang berbeda). Beberapa metode yang dapat dilakukan di

dalam penilaian investasi akan dipaparkan dalam bagian ini. Metode-metode yang

akan dikemukakan ini adalah metode-metode yang secara umum digunakan di dalam

Laporan Studi Kelayakan Bisnis (Sucipto, 2013).

Keputusan investasi merupakan keputusan manajemen keuangan yang paling

(39)

Disebut penting, karena selain penanaman modal pada bidang usaha yang

membutuhkan modal yang besar, juga keputusan tersebut mengandung risiko tertentu,

serta langsung berpengaruh pada nilai perusahaan. Pada umumnya, langkah-langkah

yang perlu dilakukan dalam pengambilan keputusan investasi adalah sebagai berikut

(Sucipto, 2013) :

1. Adanya usulan investasi (proposal investasi).

2. Memperkirakan arus kas (cash flow) dari usulan investasi tersebut.

3. Mengevaluasi profitabilitas investasi dengan menggunakan beberapa metode

penilaian kelayakan investasi.

4. Memutuskan menerima atau menolak usulan investasi tersebut.

Untuk menilai profitabilitas rencana investasi dikenal dua macam metode, yaitu

metode konvensional dan metode nonkonvensional (discounted cash flow). Dalam

metode konvensional dipergunakan dua macam tolok ukur untuk menilai

profitabilitas rencana investasi, yaitu payback period dan accounting rate of return,

sedangkan dalam metode non-konvensional dikenal tigamacam tolok ukur

profitabilitas, yaitu Net Present Value (NPV), Profitability Index (PI), dan Internal

Rate of Return (IRR) (Sucipto, 2013).

2.7.1 Metode Payback Period (PP)

Payback period adalah suatu metode berapa lama investasi akan kembali atau

periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi (initial cash

investment) dengan menggunakan aliran kas, dengan kata lain payback period

(40)

merupakan satuan waktu. Suatu usulan investasi akan disetujui apabila payback

period-nya lebih cepat atau lebih pendek dari payback period yang disyaratkan oleh

perusahaan (Sucipto, 2013).

Rumus payback period jika arus kas dari suatu rencana investasi/proyek

berbeda setiap tahun (Sucipto,2013).:

Payback Period=n+acb

b ×1tahun

di mana:

n = tahun terakhir di mana arus kas masih belum bisa menutupi initial investment

a = jumlah initial investment

b = jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke-n

c = jumlah kumulatif arus kas pada tahun ke-n+1

Rumus payback period jika arus kas dari suatu rencana investasi/proyek sama

jumlahnya setiap tahun (Sucipto,2013).:

Payback Period=Initial InvestmentCash Flow ×1tahun

Metode payback period merupakan metode penilaian investasi yang sangat

sederhana perhitungannya, sehingga banyak digunakan oleh perusahaan. Tetapi di

lain pihak metode ini mempunyai kelemahan-kelemahan, yaitu (Sucipto, 2013) :

a. Tidak memperhatikan nilai waktu uang.

b. Mengabaikan arus kas masuk yang diperoleh sesudah payback period suatu

rencana investasi tercapai.

(41)

Meskipun metode payback period memiliki beberapa kelemahan, namun

metode ini masih terus digunakan secara intensif dalam membuat keputusan investasi,

tetapi metode ini tidak digunakan sebagai alat utama melainkan hanya sebagai

indikator dari likuiditas dan risiko investasi (Sucipto, 2013).

Keunggulan metode payback period adalah sebagai berikut (Sucipto, 2013) :

a. Perhitungannya mudah dimengerti dan sederhana.

b. Mempertimbangkan arus kas dan bukan laba menurut akuntansi.

c. Sebagai alat pertimbangan risiko karena makin pendek payback makin

rendah risiko kerugian.

2.7.2 Metode Net Present Value (NPV)

Secara umum ada anggapan bahwa metode net present value merupakan

kriteria seleksi kuantitatif yang paling baiksehingga paling sering digunakan untuk

menilai kelayakan suatuusulan investasi. Namun ada kalanya perusahaan dalam

prosespembuatan keputusan investasi tidak hanya menggunakanmetode net present

value tetapi juga menggunakan metode metodelainnya secara bersama-sama.Metode

ini adalah metode yang mengurangkan nilai sekarang dari uang dengan aliran kas

bersih operasional atasinvestasi selama umur ekonomis termasuk terminal cash flow

dengan initial cash flow (initial investment). Secara matematik rumus untuk

menghitung Net Present Value (NPV) dapat dituliskan sebagai berikut (Sucipto,

2013):

NPV=

t−1

n CIF t

(42)

di mana:

CIF = cash inflow pada waktu t yang dihasilkan suatu investasi

k = biaya modal

COF = initial cash outflow

n = usia investasi

Metode ini memperhatikan nilai waktu uang, maka arus kas masuk (cash

inflow) yang digunakan dalam menghitung net present value (nilai sekarang bersih)

adalah arus kas masuk yangdidiskontokan atas dasar discount rate tertentu (biaya

modal, opportunity cost, tingkat bunga yang berlaku umum). Selisih antara present

value penerimaan kas dengan present value pengeluarankas dinamakan Net Present

Value (Sucipto, 2013).

Kriteria keputusan (Sucipto, 2013):

Jika NPV bertanda positif (NPV > 0), maka rencana investasi diterima.

Jika NPV bertanda negatif (NPV < 0), maka rencana investasi ditolak.

Keunggulan metode NPV

a. Memperhitungkan nilai waktu dari uang.

b. Memperhitungkan arus kas selama usia ekonomis proyek.

c. Memperhitungkan nilai sisa proyek.

Kelemahan metode NPV

a. Manajemen harus dapat menaksir tingkat biaya modal yang relevan selama

(43)

b. Jika proyek memiliki nilai invetasi inisial yang berbeda, serta usia yang

juga berbeda, maka NPV yang lebih besar belum sebagai proyek yang lebih

baik.

c. Derajat kelayakan tidak hanya dipengaruhi oleh arus kas,melainkan juga

dipengaruhi oleh faktor usia ekonomis proyek.

2.7.3 Metode Discount Payback Period

Untuk mengatasi salah satu kelemahan dari metode payback period, yaitu tidak

memperhatikan nilai waktu uang, maka dicoba untuk memperbaiki metode tersebut

dengan cara mempresent-valuekan arus kas masuk (cash inflow) dari rencana

investasi tersebut kemudian baru dihitung payback period-nya. Dengan demikian arus

kas yang dipakai adalah arus kas yang telah didiskontokan atas dasar cost of

capital/interest rate/requiredrate of return atau opportunity cost (Sucipto, 2013).

2.7.4 Metode Internal Rate of Return

IRR adalah nilai discount rate i yang membuat NPV dari proyek sama dengan

nol. Discount rate yang dipakai untuk mencari present value dari suatu benefit/biaya

harus senilai dengan opportunity cost of capital seperti terlihat dari sudut pandangan

si penilai proyek. Konsep dasar opportunity cost pada hakikatnya merupakan

pengorbanan yang diberikan sebagai alternatif terbaik untuk dapat memperoleh

sesuatu hasil dan manfaat atau dapat pula menyatakan harga yang harus dibayar

(44)

Secara matematik rumus internal rate of return (IRR) dapat dituliskan sebagai

2.7.5 Modified Internal Rate of Return (MIRR)

MIRR adalah suatu tingkat diskonto yang menyebabkan present value biaya

(cash outflow) sama dengan present value nilai terminal, di mana nilai terminal

adalah future value dari arus kas masuk (cash inflow) yang digandakan dengan biaya

modal. MIRR memiliki kelebihan dibandingkan IRR karena MIRR mengasumsikan

arus kas dari proyek diinvestasikan kembali (digandakan) dengan menggunakan biaya

modal. Selain itu MIRR juga dapat menghindari masalah “multiple IRR” yang terjadi

pada metode IRR (Sucipto, 2013)..

Rumus untuk menghitung MIRR adalah (Sucipto, 2013).:

PV Biaya=Nilai Terminal

2.7.6 Metode Profitability Index (PI)

Profitability index dapat dihitung dengan membandingkan antara PV kas masuk

dengan PV kas keluar. Rumus (Sucipto, 2013).:

(45)

Kriteria penilaian PI adalah: jika nilai PI lebih besar dari 1, usulan proyek

dinyatakan layak, sebaliknya jika PI lebih kecil dari 1 usulan proyek dinyatakan tidak

layak.

2.7.7 B/C Rasio (benefit cost ratio)

Kadariah (1987) dalam Anonim (2010) menyatakan bahwa untuk mengetahui

tingkat efisiensi suatu usaha dapat digunakan parameter yaitu dengan mengukur

besarnya pemasukan dibagi besarnya korbanan, dimana bila :

B/C Ratio > 1 = efisien

B/C Ratio ═ 1 = impas

B/C Ratio < 1 = tidak efisien

Selanjutnya Kadariah (1978) dalam Anonim (2010) menambahkan Analisis

tingkat kelayakan usaha tani atau B/C ratio. Benefit Cost Ratio (B/Cratio) bisa

digunakan dalam analisis kelayakan usaha tani, yaitu perbandingan antara total

pendapatan dan total biaya yang dikeluarkan.

B/C ratio = Total Pendapatan(Rp)

Total Biaya Produksi(Rp) (Cahyono, 2002 dalam Anonim 2010).

Soekartawi et al. (1986) dalam Anonim (2010) menyatakan bahwa suatu

usaha dikatakan memberikan manfaat bila nilai B/C Ratio > 1. Semakin besar nilai B/

C Ratio maka semakin efisien usaha tersebut dan sebaliknya, semakin kecil nilai B/C

Rationya maka semakin tidak efisien usaha tersebut.

(46)

Analisis titik impas atau pulang modal (BEP) adalah suatu kondisi yang

menggambarkan bahwa hasil usaha tani yang diperoleh sama dengan modal yang

dikeluarkan. Dalam kondisi ini, usaha tani yang dilakukan tidak menghasilkan

keuntungan tetapi juga tidak mengalami kerugian (Anonim, 2010).

1. BEP Volume Produksi

BEP Volume Produksi menggambarkan produksi minimal yang harus

dihasilkan, agar usaha tani tidak mengalami kerugian (Anonim, 2010).

BEP = Total Biaya Produksi (Rp.) Harga di Tingkat Petani (Rp./Kg)

2. BEP Harga Produksi

BEP Harga Produksi menggambarkan harga terendah dari produk yang

dihasilkan. Apabila harga ditingkat petani lebih rendah dari pada harga BEP, maka

usaha tani akan mengalami kerugian (Cahyono, 2002 dalam Anonim 2010)

BEP = Total Biaya Produksi (Rp.) Total Produksi (Kg)

BEP (break even point) dimaksudkan untuk mengetahui titik impas (tidak

untung dan juga tidak rugi) dari usaha bisnis yang diusahakan tersebut. Jadi dalam

keadaan tersebut pendapatan yang diperoleh sama dengan modal usaha yang

dikeluarkan (Rahardi et al., 1993 dalam Anonim, 2010)

2.7.9 Metode Penyusutan

Untuk menghitung pajak penghasilan yang merupakan komponen dalam laba

rugi dan cash flow diperlukan perhitungan penyusutan aktiva tetap. Metode

(47)

rumus penyusutan garis lurus yaitu sebagai berikut (Soeharto dan Iman, 2001 dalam

Anonim,2010) :

Penyusutan = Nilai perolehan - Nilai sisa Umur Ekonomis

2.7.10 ROI (return on investment)

Kasmir dan Jakfar (2003) dalam Anonim (2010) menyatakan ROI (return on

investment) merupakan rasio yang menunjukkan hasil atas jumlah aktiva yang

digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen. Ratio

ini menunjukkan hasil dari seluruh aktiva yang dikendalikannya dengan mengabaikan

sumber pendanaan dan biasanya ratio ini diukur dengan persentase. Ratio ini

menunjukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan baik modal pinjaman

maupun modal sendiri. Semakin kecil (rendah) ratio ini semakin tidak baik, demikian

pula sebaliknya. Artinya ratio ini digunakan untuk mengukur efektivitas dari

keseluruhan operasi perusahaan.

Cahyono (2002) dalam Anonim (2010) menyatakan Analisis tingkat efisiensi

penggunaan modal ROI (return on investment) dalam analisis usaha untuk

mengetahui keuntungan usaha, berkaitan dengan modal yang telah dikeluarkan. Besar

kecilnya nilai ROI ditentukan oleh keuntungan yang dicapai dan perputaran modal,

yang dapat dihitung dengan rumus :

(48)

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, dalam rangka peningkatan jumlah kerjasama penelitian yang bersifat multi dan lintas- disiplin dengan perguruan tinggi lain dan meningkatkan jumlah

‘They’re looking for us, then,’ Father Kreiner said, peering at the immobile Type 102, poking her as if to see what a walking TARDIS felt like, ‘the Doctor’s friends.’..

Untuk meningkatkan kinerja dari sistem aplikasi tersebut yaitu dengan mengatur ferforma pada utility yang tersedia dalam MS Word, baik dalam pengaturan grafis maupun

Program SDIDTK merupakan program pembinaan tumbuh kembang anak secara komprehensif dan berkualitas melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan

Masyarakat yang menerima pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan dan pengunjung di rumah sakit dihadapkan pada risiko terjadinya infeksi atau

Untuk perilaku seksual sehat berarti siswa memiliki kecenderungan perilaku untuk menjaga kebersihan pakaian dalam, menghindarkan diri dari obat pemutih wajah atau kulit, selalu

Dilihat dari kebanyakan mesin injektor cleaner yang pengukuran uji volumenya masih menggunakan gelas ukur, dan untuk mempermudah operator dalam pembacaan volume

Dalam analisis data ini penulis menggunakan analisis deskriptif, yaitu mendeskripsikan pengetahuan hukum perkawinan pelaku cerai gugat dan faktor penyebab perceraian