• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor faktor Yang Mempengaruhi Pertahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Faktor faktor Yang Mempengaruhi Pertahan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertahanan

Nasional

E C O N O M I C S U N H A N

Letak geografis Indonesia yang strategis memiliki potensi ancaman yang kedepannya

akan semakin kompleks. Sementara itu, di sisi lain stabilitas keamanan nasional belum kuat.

Indonesia masih mengalami masa-masa transisi dan konsolidasi (politik, ekonomi, sosial,

budaya, dan pertahanan keamanan) menuju negara yang demokratis. Bentuk ancaman terhadap

kedaulatan negara yang terjadi saat ini makin bersifat multidimensional seiring dengan

perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, dan komunikasi, Oleh karena

itu segenap bangsa Indonesia dituntut dapat mengatasi setiap ancaman, tantangan, hambatan, dan

gangguan, baik yang datang dari dalam maupun luar negeri.

Kedaulatan dan keutuhan NKRI merupakan harga mati, sehingga upaya untuk tetap

menjaga negara tetap utuh dan berdaulat menjadi sangat penting. Tulisan ini akan bertujuan

untuk menganalisis faktor-faktor apa saja dan bagaimana peranan faktor kunci tersebut dalam

menjaga pertahanan nasional. Pembahasannya meliputi pemaparan tentang pentingnya faktor

yang dianalisis dalam pertahanan nasional dan menjelaskan data-data relevan yang terkait

dengan faktor-faktor tersebut.

Penentuan Faktor Penting Dalam Pertahanan Nasional

Untuk dapat membangun strategi dan kebijakan yang efisien, perlu diperhatikan

faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap pertahanan nasional. Berdasarkan penelitian LIPI

(2007), faktor yang mempengaruhi pertahanan yaitu: (1) anggaran pertahanan; (2) jumlah

penduduk suatu negara; (3) ancaman konvensional dan non konvensional; (4) anggaran

pertahanan negara lain; (5) kemampuan keuangan pemerintah; (6) harga alutsista; dan (7) jumlah

personil sistem pertahanan.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa anggaran pertahanan dipengaruhi secara

positif oleh keenam faktor di atas. Namun dalam tulisan ini hanya dibahas tiga dari tujuh faktor

penting yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga pertahanan yaitu ancaman konvensional

dan non konvensional, anggaran pertahanan, dan jumlah personil sistem pertahanan.

Faktor Ancaman Konvensional dan Non Konvensional

Ancaman merupakan segala bentuk gangguan langsung, tidak langsung, terlihat ataupun tidak

terlihat terhadap kedaulatan; basis-basis vital nasional (ekonomi, militer, dan informasi);

(2)

Tabel 1.

Ancaman Potensial Yang Menjadi Sumber Konflik

Sumber: Dispenad, Jakarta-Indonesia. 2003. http://mabesad.mil.id/artikel5/future_defence1.htm

Hampir semua ancaman potensial yang terdapat pada tabel 1 telah terjadi di Indonesia, misalnya

peredaran obat-obatan. Indonesia disebut sebagai Surga Narkoba Dunia karena jumlah pengguna

narkoba di Indonesia sekitar 3,8 juta orang (Statistik BNN, 2011) atau sekitar 1,5 persen dari

total jumlah penduduk. Ancaman lainnya berupa gerakan separatis seperti lepasnya Timor Leste

dari Indonesia, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), upaya disintegrasi Papua, dan penguasaan Pulau

Sipidan dan Ligitan oleh Malaysia.

Koseptualisasi, operasionalisasi, dan kategori ancaman harus dapat dilihat secara holistik.

Tujuannya agar negara dapat melihat dan memformulasikan secara komprehensif mengenai

bentuk dan strategi pertahanan apa yang sesuai dalam upaya menghadapi ancaman. Adanya

persamaan persepsi dan kebutuhan akan pertahanan dan keamanan negara menjadi lebih penting

dari pada alutsista maupun personil pertahanan.

Sejatinya masyarakat adalah garda pertahanan terdepan yang dapat menjaga keamanan

negara. Kesadaran akan adanya ancaman konvensional dan non konvensional dapat menjadi

stimuli terbesar yang dapat membuat berbagai pihak memiliki pola berfikir dan sikap untuk

bersatu dan berusaha untuk melindungi tanah airnya secara bersama-sama.

Faktor Kekuatan Ekonomi

Kekuatan ekonomi dalam tulisan ini diukur menggunakan pendekatan (

proxy

) anggaran

pertahanan,Anggaran bersifat sangat penting karena akan menentukan kinerja sektor pertahanan.

Sesuai dengan teori ekonomi,

insentive system

akan mempengaruhi

performance

. Namun hal

tersebut sebenernya tidak akan

sufficient

tanpa asumsi adanya rasa kebangsaan dan nasionalisme

yang tinggi.

Selain itu, anggaran pertahanan menjadi penting untuk mewujudkan pertahanan nasional

yang kuat, diperlukan prasyarat anggaran militer yang mencukupi. Namun, kemampuan

(3)

diperhatikan secara optimal sehingga kapabilitas pertahanan belum mampu untuk mencegah,

mengantisipasi, dan mengatasi ancaman keamanan nasional.

Anggaran pertahanan yang dikeluarkan tergantung pada kemampuan ekonomi

masing-masing negara. Oleh karena itu untuk mengetahui bagaimana posisi anggaran pertahanan

Indonesia jika dibandingkan dengan seluruh negara di dunia perlu dilakukan standardisasi

dengan menggunakan analisis Z-

Score

yang diolah dengan menggunakan SPSS17.

Tabel 2.

Postur Anggaran Pertahanan Indonesia Terhadap 171 Negara Tahun 2000 – 2011

Sumber:SIPRI Military Expenditure Database, 2012. Diolah.

Berdasarkan hasil pengolahan data 171 negara, dapat diketahui bahwa dalam kurun waktu

sebelas tahun anggaran pertahanan Indonesia berada pada kisaran 0,20490 s.d. 0,13482 standar

deviasi di bawah rata-rata anggaran pertahanan negara lain di dunia. Jadi, anggaran pertahanan

Indonesia memang masih sangat minim jika dibandingkan dengan negara lain di seluruh dunia.

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah negara mana saja yang memiliki anggaran

militer yang besar? kemudian adakah keterkaitan antara anggaran militer yang besar dengan

kekuatan ekonomi yang dimiliki suatu negara?. Untuk menjawab pertanyaan tersebut dilakukan

analisis penghitungan menggunakan variabel anggaran militer dan total populasi di dunia.

(4)

Sumber: Global Fire Power,2012. Diolah.

Berdasarkan postur anggaran pertahanan global di atas, pada tahun 2011 hingga saat ini

Amerika Serikat tetap merupakan “

market of the last resort

” untuk semua negara. Posisi

Amerika Serikat sebagai negara dengan kekuatan militer nomor satu mendorong dirinya

melaksanakan posisi unilateralisme (tindakan sepihak). Negara-negara yang tergabung dalam G7

juga menguasai 64% dari total anggaran pertahanan di dunia, fakta tersebut memperkuat

argumen hasil penelitian Pradhan (2010). Pradhan (2010) mengatakan bahwa pertumbuhan

ekonomi mempengaruhi anggaran pertahanan dan anggaran pertahanan bisa mempengaruhi

pertumbuhan ekonomi.

Perbedaan jumlah populasi dan kesenjangan Produk Domestik Bruto (PDB) yang

tercermin dari pengeluaran untuk anggaran militer menyebabkan terjadinya disparitas atau

kesenjangan antar negara. Negara anggota GNB, yang populasinya sekitar 28% memiliki

anggaran pertahanan 23%. Sedangkan negara BRIC + Indonesia, yang populasinya mencapai

58% penduduk dunia, total anggaran pertahanannya hanya14% saja. Jelas terlihat bahwa negara

dengan perekonomian tinggi (G7) sangat peduli dengan kekuatan militernya, hal ini tercermin

dari anggaran pertahanan yang mereka miliki.

(5)

Tabel 4.

Rasio Personil Pertahanan per Total Populasi 2011 (

Selected Country

)

Sumber: Global Fire Power,2012. Diolah.

*) Total personil pertahanan, tidak termasuk pasukan cadangan. **) Sumber: Wikipedia

Berdasarkan data pada tabel 4, dapat diketahui bahwa skor rasio ARMY/POP hampir sama untuk

tiap negara yang dijadikan observasi. Namun untuk skor rasio ARMY/REG, Italia dan Inggris

memiliki skor rasio tertinggi karena kuantitas personil pertahanan mereka miliki hampir sama

dengan luas wilayah negaranya.

Dalam ekonomi, kuantitas SDM yang banyak diperlukan, akan tetapi produktivitas

tenaga kerja juga merupakan salah satu aspek penting untuk diukur untuk menilai kinerja. Dalam

militer salah satu aspek yang harus mendapat perhatian adalah kuantitas tentara, tanpa

mengesampingkan kualitas tentara. Kualitas atau

skill

tentara harus ditingkatkan seiring dengan

upaya peningkatan kesejahteraannya.

Poin yang dapat dikaji dari tabel 4 yaitu ketersediaan personil pertahanan tidak perlu

terlalu banyak, namun jumlahnya harus optimal dalam memenuhi kebutuhan, dengan

memperhatikan periode

peak

dan

off peak

. Perlu kajian lebih lanjut mengenai berapa jumlah TNI

yang ideal harus tersedia untuk tiap luas wilayah dan jumlah penduduk. Untuk membantu

personil pertahanan, rakyat (bagian dari total populasi) harus dapat berperan aktif dalam menjaga

pertahanan negara, terutama dalam menghadapi perang non-militer.

(6)

adanya ancaman yang dapat membuat berbagai pihak memiliki pola berfikir dan sikap untuk

bersatu dan berusaha untuk melindungi tanah airnya secara bersama-sama; (2) pemerintah harus

meningkatkan tingkat perekonomian agar porsi anggaran untuk pertahanan dapat dialokasikan

lebih besar, mengingat rata-rata pengeluaran pertahanan Indonesia dalam kurun waktu 2000 –

2011 berada di bawah rata-rata dunia. Anggaran pertahanan yang optimal dan efisien dalam

penggunaannya sangat penting untuk mewujudkan pertahanan nasional yang kuat; (3) kuantitas

tentara perlu ditingkatkan sampai dengan tingkat yang ideal jika dibandingkan dengan jumlah

penduduk dan luas wilayah. Porsi kuantitas tentara yang optimal harus diikuti dengan

peningkatan kualitas dan kesejahteraannya. Jika ketiga faktor tersebut berhasil dengan baik,

maka pertahanan nasional akan semakin kuat dan dapat terpelihara.

Daftar Pustaka

Adi, Wijaya., Hasan , MDDA., Suryanto, J., & Darmawan, DA. (2007). Kebutuhan Dana Pengembangan Pertahanan nasional, Bab IV. Analisis Anggaran Pertahanan, hlm. 58. Jakarta: Lipi Press.

Global Fire Power. (2012). World Military Strength by Country. Juli 27, 2012. http://globalfirepower.com

Pradgan, R.P. (2010). Modelling the Nexus Between Defense Spending and Economics Growth in ASEAN-5.Vinod Gupta School of Management: Indian Institute of Technology, Kharagpur, pp 297-307.

Metro Pagi. (2012, Mei 30). Indonesia Surga Narkoba. Mei 31, 2012. http://metrotvnews.com/ mobile-site/read/newsprograms/2012/05/30/12732/347/Indonesia-Surga-Narkoba

SIPRI Military Expenditure Database, 2012.

Statistik Badan Narkotika Nasional (BNN), 2011.

Widodo, Wibawanto N. (2003). Future Defense System. Dispenad, Jakarta-Indonesia.http://mabesad.mil.id/artikel5/future_defence1.htm

"Letak Geografi Dan Kekuatan Pertahanan NKRI" by @GeopolitikNKRI

1. Kita bahas dulu letak Geografis NKRI.

2. NKRI (Negara Kesatuan Indonesia) Terletak diantara Dua Benua; Benua Australia-Asia 3. Diantara dua Samudera ; Hindia & Pasific

4. NKRI yang terletak di antara dua benua dan dua samudera memungkinkan menjadi persimpangan lalulintas dunia, baik udara maupun laut

5. NKRI sebagai titik persilangan kegiatan perekonomian dunia, antara perdagangan negara2 industri & negara2 yang sedang berkembang

6. Karena letak geografisnya pula Indonesia mendapat pengaruh berbagai kebudayaan dan peradaban dunia

1. Mari kita membahas Kekuatan Militer

2. fungsi utama dari keberadaan militer adalah untuk mengisi dan menjaga kedaulatan wilayah

3. karena #NKRI yg berada di tengah dua samudera & dua benua, maka Indonesia merupakan negara yang sarat akan ancaman @KepulauanNKRI

4. Berbentuk negara kepulauan terbesar, #NKRI merupakan negara yg sebagian besar celah pertahannya berada dikawasan lautan @KepulauanNKRI

(7)

6.setidaknya tdpt 5 Negara yg berpotensi menjadi ancaman #NKRI, yaitu Australia, Malaysia, Singapura, Thailan & Filiphina @TweetMiliter

7. Hal ini berdasarkan Fakta, misyalnya ada beberapa masalah sengketa Wilayah antar bberapa Negara tsb dengan #NKRI @TweetMiliter

8.Persengketaan prbatasan akn sangat mmungkinkan memicu terjadinya pergesekan yg dpt memicu terjadinya perang. @TweetMiliter @DuniaMiliter

9. sesuai dengan Beberapa Indikator Kekuatan Militer, berikut penilaian Global Fire Power untuk kekuatan Militer @_fikr1 @_fikr1

10.Kekuatan Personil #NKRI : Total Population (245.613.043), Available Military Manpower (129.075.188), Man Fit for Service (107.538.660)

11. Of Military Age (4.455.159), Activy Military Manpower (438.410), Active Reserve (400.000) 12.Kekuatan Udara #NKRI (Unit): Total Aircraft (510), Helicopters (168), Services Airports (684). @DuniaMiliter @TweetMiliter @_fikr1

13.Kekuatan Darat #NKRI : Total Land Weapons (1.577), Tanks (335), APCs/IFVs (691), Towed Artillery (59), Self-Propelled Guns (0), MLRSs (42

14.Mortar (350), Anti-Aircraft Weapons (100), Logistic Vehicles (1.101) #NKRI

15. Kekuatan Laut #NKRI : Total Navy Ships (136), Merchant Marine Strenght (1.244), Major ports & Termnals (9), @KepulauanNKRI

16 Aircraft Carriers(0),Destroyers(0),submarines(2), Frigates(6),Patrol Craft(31), Mine Warfare Craft(12),Amphibious Craft(8)@KepulauanNKRI

17.Kekuatan Logistic #NKRI : Labor Forces(116.500.000), Roadway Coverage (Km)437.759, Railway coverage (km) 5.042. @DuniaMiliter

18. Kekuatan SDA #NKRI: Oil Production (bbl/day) 1.023.000, Oil Consumption (bbl/day) 1.115.000, Proven Reseves (000 bbl) 4.050.000

Sistem Pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia -Bagian 4

Pertahanan NKRI merupakan masalah bangsa Indonesia yang akan dilakukan dengan cara (Indonesia) sendiri (yang spesifik), dirancang dan dikembangkan sesuai dengan kondisi obyektif bangsa dan negara Indonesia, pandangan hidup bangsa dan budaya bangsa.

1.Umum

Pertahanan NKRI merupakan masalah bangsa Indonesia yang akan dilakukan dengan cara (Indonesia) sendiri (yang spesifik), dirancang dan dikembangkan sesuai dengan kondisi obyektif bangsa dan negara Indonesia, pandangan hidup bangsa dan budaya bangsa. Pertahanan Negara Indonesia merupakan instrumen dari politik nasional, terutama politik keamanan nasional.

Perjuangan Bangsa Indonesia dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, memberikan pengalaman sejarah yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia dalam melaksanakan perjuangan selanjutnya. Pengalaman sejarah perjuangan tersebut khususnya selama perang kemerdekaan telah mewujudkan tradisi yang selanjutnya menjadi nilai penting sebagai dasar

(8)

dalam Seminar Seskoad II pada Januari 1962 dan ditetapkan pada Agustus 1966 dalam Seminar AD II sebagai Doktrin Perang Wilayah/Perang Rakyat Semesta.

Dalam rangka integrasi ABRI, pada Nopember 1966 Seminar Hankam menetapkan Doktrin Hankamnas dan Doktrin Perjuangan ABRI "Catur Dharma Eka Karma" disingkat Cadek. Seminar Hankam tersebut juga menghasilkan Wawasan Nusantara sebagai Wawasan Hankamnas dan Wawasan Nasional. Dengan Wawasan Nusantara ini ABRI tidak menonjolkan kepentingan suatu matra dan kepentingan salah satu bidang perjuangan (politik, ekonomi, sosial budaya dan hankam). Sepanjang perjalanan sejarahnya doktrin Hankam selalu mengalami pengembangan. Pada tahun 1991 Cadek ditata kembali dan disesuaikan dengan perkiraan perkembangan masa mendatang, menjadi dua doktrin yaitu: a. Doktrin "Pertahanan Keamanan Negara" sebagai Doktrin Dasar yang disahkan oleh Menteri Pertahanan, dan b. Doktrin "Perjuangan TNI ABRI (Catur Dharma Eka Karma)", sebagai Doktrin Induk yang disahkan oleh Pangab.

Di era reformasi berdasarkan UUD RI 1945 (Amandemen) Bab III Pasal 10, 11, 12 dan Bab XII Pasal 30 telah ditetapkan UU No. 3 tahun 2002. Sishankamrata diubah menjadi Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta). Selanjutnya mengacu pada UU No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan dan UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI Doktrin Perjuangan TNI ABRI Cadek diubah menjadi Doktrin TNI "Tri Dharma Eka Karma" (Tridek).

Dewasa ini Sishankamrata yang bertumpu pada perlawanan teritorial mengundang tanggapan dari kalangan masyarakat khususnya mereka yang meragukan

relevansi Sishankamrata dengan TNI sebagai kekuatan utama menghadapi tantangan di era globalisasi. Sebagai contoh dapat dikemukakan beberapa isu yang dikemukakan pada Seminar "Democratic Total Defence" yang

diselenggarakan oleh beberapa LSM dengan Dephan RI pada tanggal 28 Agustus 2007 yang fokus bahasannya adalah perbandingan penyelenggaraan Sistem Pertahanan Total di negara-negara demokratis. Isu-isu tersebut antara lain sebagai berikut:

a.Gambaran tentang Sistem Pertahanan Total Indonesia.

b.Apakah Sistem Pertahanan Total di Indonesia telah memenuhi prinsip-prinsip demokrasi?

c.Apakah Sistem Pertahanan Total yang ada mampu mengatasi hakikat ancaman masa kini yang dapat berupa ancaman konvensional atau ancaman lainnya

(misalnya terorisme, kejahatan terorganisir, atau ancaman lintas nasional lainnya)? d.Dengan melihat berbagai implementasi Sistem Pertahanan Total di negara lain pelajaran apa yang dapat diperoleh yang dapat diimplementasikan di Indonesia.

Beberapa isu lain yang sering dikemukakan para pemikir di bidang pertahanan NKRI antara lain adalah:

(9)

Pemerintahan Sipil akan digunakan tidak hanya untuk maksud penyelenggaraan pertahanan, tetapi juga sebagai tumpuan untuk memperkuat pemerintahan yang berkuasa.

b.Apakah Sishankamrata dapat diimplementasikan? Padahal dalam jangka panjang kondisi TNI sebagai kekuatan inti Sishankamrata jumlah dan kualitas pasukannya yang dapat dikatagorikan profesional serta anggaran latihan, sistem senjata yang tergolong modern masih terbatas dan tidak memadai dihadapkan pada luasnya posisi-posisi strategis yang harus dipertahankan di seluruh Nusantara.

c.Apakah Sishankamrata masih relevan untuk dipertahankan sebagai konsep pertahanan NKRI? Atau diambil konsep lain seperti yang dikehendaki oleh mereka yang terobsesi oleh sistem pertahanan negara asing (adikuasa).

d.Menghadapi berbagai isu tersebut, dewasa ini diperlukan kejelasan bagaimana kehendak bangsa dalam menjalankan pertahanan negara.

Tulisan hasil sarasehan Alumni Akmil ini diharapkan dapat menjawab berbagai pertanyaan tersebut dan dapat pula memberikan pencerahan kepada generasi muda TNI untuk dijadikan bekal pengabdiannya kepada Negara dan Bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

2.Landasan Filosofis dan Landasan Hukum

Indonesia merupakan negara hukum, oleh sebab itu untuk memenuhi aspek legalitas, sistem pertahanan keamanan yang merupakan bagian dari sistem pemerintahan negara diselenggarakan berdasarkan ketentuan

perundang-undangan. Doktrin Hankamrata sebagai strategi dari Hankamnas yang merupakan penjabaran dari Pancasila sebagai falsafah bangsa adalah doktrin dasar yang digali, dikembangkan oleh TNI(AD) dari hasil pengalamannya dalam

memperjuangkan, merebut dan mengisi kemerdekaan NKRI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebagai ajaran, asas, prinsip serta konsep yang mendasar dan diyakini kebenarannya, berdasarkan hasil pemikiran terbaik, doktrin ini mengalir dari pandangan hidup bangsa dan dikembangkan secara nalar dan dinamis dengan pengalaman dan teori sehingga kebenarannya bersifat relatif hakiki dan berjangka panjang. Oleh karena itu Doktrin Hankamrata harus menjiwai ketentuan perundang-undangan penyelenggaraan pertahanan negara.

Meskipun ketentuan perundang-undangan pada hakikatnya merupakan bagian tak terpisahkan dari daya rangkum doktrin, dan keduanya bersumber dari nilai-nilai falsafah, ajaran, dan konsep yang terkandung pada Pembukaan UUD 1945, namun keduanya berkembang dengan sifat dan keberadaan fungsional yang berbeda. Peraturan perundang-undangan mengalir dari Batang Tubuh UUD 1945 yang dijiwai oleh Pembukaannya, merupakan sumber hukum yang melahirkan berbagai

ketentuan hukum, sedangkan doktrin TNI(AD) mengalir dari nilai-nilai falsafi,

(10)

patokan, pegangan, pedoman, petunjuk. Dengan kata lain, apabila ketentuan perundang-undangan memberikan kekuatan hukum terhadap upaya-upaya dalam segenap dinamika tata kehidupan nasional sesuai doktrin, tetapi doktrin

memberikan panduan instrumental bagi proses mencapai sasaran. Seharusnya UU memberikan kekuatan hukum pada pelaksanaan doktrin, tidak malahan

membatasi ruang gerak dan menghambat implementasi doktrin.

Di era reformasi ‘pesta-pora’ demokrasi yang kebablasan telah menghasilkan berbagai ketentuan perundang-undangan di bidang Hankam yang mengalir dari Batang Tubuh UUD 1945 yang sudah diamandemen sehingga mengandung pasal-pasal yang rawan distorsi terhadap nilai-nilai dasar/falsafi yang terkandung dalam Pembukaannya. Di pihak lain, doktrin dasar dan doktrin induk pertahanan

dikembangkan dan dijabarkan oleh TNI berdasarkan nilai-nilai yang mendasari jatidiri bangsa yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. Sebagai akibatnya ruang gerak TNI dalam upayanya untuk mengimplementasikan Hankamrata akan selalu terkendala oleh berbagai ketentuan perundang-undangan yang berlaku yang disusun berdasarkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan jatidiri bangsa, terutama yang mengarah pada demokrasi liberal, individualisme dan kapitalisme.

Ketentuan perundang-undangan di bidang Hankam yang diberlakukan di era reformasi adalah:

a.UUD RI 1945 (Amandemen) BAB III Pasal 10, 11, 12 dan Bab XII Pasal 30; b.UU No. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara;

c.UU No. 34 tahun 2004 tentang TNI;

d.Keputusan Panglima TNI No. KEP/2/I/2007 tgl. 12 Januari 2007 tentang Tri Dharma Eka Karma (Tridek).

3.Relevansi Sishankamrata Saat Ini

Sebagai landasan logis bagi pemahaman tentang Sishankamrata adalah persepsi yang komprehensif bahwa sistem kehidupan berbangsa-bernegara mencakup berbagai dimensi yang fundamental dan eksistensial seperti ideologi, ekonomi, politik, sosial, budaya serta pertahanan dan keamanan (Hankam). Oleh karena bersifat saling terkait dan tidak dapat saling meniadakan (mutually exclusive) tetapi justru saling komplementer dan interdependen, maka pembangunan

dimensi-dimensi tersebut harus digulirkan secara maksimal untuk mencapai hasil optimal dengan prinsip “saling mendukung dan menguatkan”. Misalnya

pembangunan politik dan ekonomi dapat berjalan baik manakala situasi

Hankamnas bersifat positif-kondusif. Sebaliknya, pembangunan Sishankamnas tidak mungkin berjalan tanpa dukungan dimensi-dimensi lainnya.

Sishankamnas – sebagaimana sistem kehidupan bangsa lainnya (politik, ekonomi dan sebagainya) – dibangun dan digerakkan untuk menunjang upaya

(11)

yang harus dilindungi, dijaga/dikawal dan diimplementasikan yakni berbagai Kepentingan Nasional (Kepnas). Dengan apakah Kepnas dikawal, dilindungi dan diimplementasikan? Jawabannya, dengan sistem kehidupan nasional (Sisnas), dan dalam konteks ini adalah Sishankamnas. Pertanyaan berikutnya, bagaimakanakah Sishankamnas sebagai bagian integral dari Sisnas itu didesain? Ada dua hal yang harus dijadikan bahan pertimbangan. Pertama, harus ada ada berbagai instrumen bangsa yang memang perlu untuk digunakan dalam kerangka tersebut seperti falsafah bangsa, falsafah bangsa tentang perang, politik luar negeri dan

sebagainya. Kedua, harus dilakukan penilaian (assesment) atau telah tajam terhadap lingkungan strategis (Lingstra) yang terus berkembang secara dinamis termasuk mengikuti kemajuan Ilpengtek, yang darinya kita dapat merumuskan potensi ancaman atau ancaman potensial terhadap bangsa-negara, seperti dipaparkan pada bab-bab sebelumnya.

Menghadapi kondisi kehidupan bangsa yang memiliki sekian banyak ancaman potensial, niscaya perlu pembangunan dan pengerahan total potensi dan kekuatan bangsa secara efektif. Dengan demikian, Sishankamrata merupakan konsep dan doktrin yang tetap relevan dalam kehidupan bangsa kita sebagai wadah, isi dan tata laku pertahanan nasional di masa depan dengan revisi nilai instrumental agar tetap relevan dan kontekstual. Apalagi Sishan semacam ini juga dijadikan konsep pertahanan di banyak negara maju seperti Swiss, Israel, Singapura, Prancis dan lain-lain.

Logika atau basis argumentasi Sihankamrata dapat digambarkan sekilas dengan mengacu pada kebiasaan umum (habitus universal) dalam Rekayasa Sishan. Idealnya, sebuah negara memiliki Sishan di mana kekuatan riil yang dimilikinya lebih unggul daripada kekuatan yang mengancam (ancaman potensial). Jika belum dapat mencapai kekuatan ideal tersebut maka biasanya dibangun aliansi dalam rangka memelihara balance of power. Namun bila hal itu pun tidak dapat dilakukan maka tidak ada pilihan lain selain “Perang Rakyat”. Bagi Indonesia, membangun kekuatan ideal masih jauh dari mungkin karena terhadang kendala anggaran. Untuk beraliansi membangun pakta pertahanan pun tidak mungkin karena prinsip politik luar negeri yang bebas-aktif. Dengan demikian, langkah realistis yang merupakan pilihan logis adalah Sishankamrata (total defence).

Memang, isu tentang relevansi Sishankamrata dengan dinamika perubahan situasi dan kondisi sudah terjadi sejak lama. Disadari bahwa Doktrin memang harus berkembang sejalan dengan perkembangan situasi dan kondisi khususnya perkembangan Ilpengtek, namun dari segi lain Sishankamrata yang merupakan hakikat dari Doktrin Dasar Hankamnas dan dirumuskan berdasarkan pengalaman, penghayatan para perumusnya yang langsung mengalami sendiri perjuangan TNI(AD) dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 tetap harus

(12)

seminar Seskoad I pada Desember 1960. Dengan berpedoman pada pengalaman perang merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan NKRI yang

diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, setelah disesuaikan dengan kondisi baru dirumuskan Konsep Doktrin Perang Wilayah/Perang Rakyat Semesta.

Seperti disinggung di atas, sesungguhnya strategi perang wilayah/perang rakyat semesta telah dilaksanakan di berbagai negara, khususnya negara-negara dunia ketiga untuk menghadapi negara-negara adikuasa yang pada umumnya memiliki keunggulan dalam sistem persenjataan dan profesionalisme. Beberapa negara yang dijadikan acuan dalam perumusan hankamrata antara lain adalah

Yugoslavia1 yang pada Perang Dunia II, menggunakan pertahanan teritorial (territorial defence) serta melakukan pertahanan rakyat semesta (total people’s defence) berhasil mengalahkan tentara pendudukan fasis Jerman dan sekutu-sekutunya yang unggul dalam persenjataan dan profesionalisme. Setelah invasi Sovyet ke Czechoslovakia tahun 1968, kepemimpinan Yugoslavia mewaspadai ancaman yang sama sesewaktu dapat menjadi kenyataan terhadap Yugoslavia. Invasi terhadap Czechoslovakia menunjukkan bahwa bala siap dari negara yang lemah tidak mungkin dapat menghadapi serangan masif dari agresor yang secara kualitatif dan kuantitatif lebih unggul. Berdasarkan pengalaman perjuangannya menghadapi Jerman, pada tahun 1969 Yugoslavia menetapkan Undang-undang Pertahanan yang didasarkan pada Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta.

Selain Yugoslavia, negara yang dijadikan acuan dalam perumusan Sistem Hankamrata adalah Vietnam. Untuk itu TNI-AD pernah mengirimkan suatu misi militer ke Hanoi mempelajari sistem pertahanan serta perlawanan rakyat sebagai bahan perbandingan.2 Dengan menggunakan pertahanan teritorial, Vietnam

melakukan perang rakyat semesta berhasil mengusir tentara pendudukan Perancis. Dengan mengandalkan kekuatan rakyat, pada Mei 1954 pejuang Vietnam di bawah pimpinan Jenderal Vo Nguyen Giap dengan transportasi yang sederhana (sepeda dan kuda) mengangkut artileri berat dan artileri pertahanan udara melalui hutan lebat dimalam hari untuk menempati kedudukan di pegunungan sekitar Dien Bhien Phu, kemudian menyerang dan mengusir tentara Perancis yang jauh lebih unggul dalam teknologi dan persenjataan. Bahkan dengan melakukan Perang Rakyat Semesta yang berkepanjangan (berlarut) dari tahun 1959 sampai tahun 1975, berkat kepemimpinan Ho Chi Minh yang kharismatik, People's Army of Vietnam (PAVN) berhasil mengusir tentara AS yang jauh unggul dalam persenjataan.

Di era globalisasi dimana hakekat ancaman telah berkembang menjadi

(13)

maupun psikis.

Beberapa contoh perang terkini yang menjadi bukti keberhasilan Sishanrata antara lain adalah:

a. Serangan masif yang dilakukan oleh tentara AS yang dilakukan untuk

menangkap pemimpin pemberontak Somalia ternyata gagal, bahkan tentara AS yang unggul dalam persenjataan dan profesionalisme itu harus ditarik mundur karena besarnya korban dan kerugian yang dialami.

b. Pasukan AS tidak dapat mentuntaskan hasil serangannya ke Irak, bahkan korban besar terus berjatuhan. Korban tentara AS yang tewas dalam perang Irak dewasa ini telah mendekati angka 3000 orang sebagian besar justru terjadi setelah

Saddam Hussein tertangkap. Bahkan dewasa ini Pemerintah AS dibayangi kegagalan tujuan invasinya ke Irak karena ketidaksanggupannya mengatasi kekacauan yang terus terjadi.

c. Meskipun pasukan NATO berhasil meruntuhkan pemerintahan Taliban di Afghanistan namun sisa-sisa pasukan Taliban masih tetap aktif dan merupakan ancaman aktual bagi pasukan NATO di Afganistan. Bahkan Afganistan berpotensi untuk perang saudara kembali apabila pasukan NATO ditarik dari Afganistan.

d. Meskipun politis Rusia tetap menguasai Chechnya tetapi gangguan dari gerilyawan Chechnya yang mengakibatkan korban-korban yang besar di pihak pasukan Rusia terus terjadi.

e. Kekuatan bersenjata Palestina dari segi persenjataan dan profesionalisme militer (Sistek), kalah jauh dari kekuatan bersenjata Israel, namun perlawanan rakyat semesta Palestina yang berupa gerakan Intifada (Sissos) masih menyulitkan Israel dalam mengendalikan wilayah Palestina di West Bank dan Gaza Strip. Di samping korban fisik, dari aspek ekonomi, gerakan intifada yang berupa ketidakpatuhan masyarakat terhadap hukum penjajah, pemogokan umum, grafitti, barikade di jalanan, dan pelemparan batu dalam demonstrasi oleh para pemuda serta boikot terhadap industri mikro, industri jasa dan pariwisata telah menimbulkan kerugian dalam jumlah yang besar di pihak Israel.

Contoh-contoh tersebut di atas membuktikan bahwa keunggulan persenjataan dan profesionalisme bukan satu-satunya faktor penentu

(14)

adidaya, bahkan negara-negara jiran, doktrin Hankamrata bukan hanya relevan, tetapi telah diyakini oleh TNI kebenarannya.

Sishankamrata erat kaitannya dengan jatidiri TNI sebagai kekuatan utama. Bahwa pengalaman TNI dengan ke-khas-an jatidirinya dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan secara bersamaan telah melahirkan suatu sistem pertahanan yang sesuai dengan kondisi geografi, demografi dan budaya bangsa Indonesia yang dikenal dengan Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta (Hankamrata). Dengan demikian maka pada dasarnya antara jatidiri TNI dengan doktrin Hankamrata terdapat kaitan timbal balik yang erat, karena doktrin Hankamrata disusun dengan memperhatikan jatidiri TNI sebagai komponen utama sistem, dan sebaliknya keberhasilan doktrin Hankamrata tergantung kepada kadar komitmen TNI terhadap jatidirinya sebagai tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional dan tentara profesional.

Gambar

Tabel 1. Ancaman Potensial Yang Menjadi Sumber Konflik
Tabel 4. Rasio Personil Pertahanan per Total Populasi 2011 (Selected Country)

Referensi

Dokumen terkait

Rahyono (2003) menyatakan intonasi sebuah bahasa memiliki keteraturan yang telah dihayati bersama oleh para penuturnya.Penutur sebuah bahasa tidak memiliki kebebasan yang

Produksi dan reproduksi teks karya sastra puisi merupakan praktek pemaknaan yang dilakukan kalangan mahasiswa di Kota Surabaya sebagai suatu kesenangan yang beroperasi

Disahkan dalam rapat Pleno PPS tanggal 26 Februari 2013 PANITIA PEMUNGUTAN SUARA. Nama

Oleh karena itu bagi lembaga pendidikan yang mengembangkan pendidikan vokasi tidak perlu minder dan kemudian mengubah menjadi pendidikan akademik, karena akan

Imam Hanafi, “Basis Epistemologi Dalam Pendidikan Islam”, Jurnal Pendidikan Islam, 1, 1, Juni, 2012.. Sudarminta, Epistemologi Dasar, Kansius,

Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalisasi aktivitas bakteriosin yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat yaitu Lactobacillus plantarum dari minuman Ce hun tiau dengan uji pH

dilakukan penelitian yang berjudul: “Hubungan Kemampuan Mencatat Dengan Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas Pada Materi Sistem. Peredaran Darah Pada

Pemda Jateng telah melakukan kerjasama tersebut dengan beberapa mitra di luar negeri,, antara lain: Propinsi Fujian (Cina), Propinsi Chungchoeng buk-do (Korea) dan