commit to user
MODEL ONTOLOGI ETNOBOTANI INDONESIA
SKRIPSI
HALAMAN JUDUL 2
Diajuka n untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Mencapai Gela r Strata Satu Jurusan Informatika
Disusun oleh :
SRI HANDHINA YUSTIANTI
NIM . M0508021
JURUSAN INFORMATIKA
FAKULTAS MATEM ATIKA DAN ILMU PEN GETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS M ARET
SURAKARTA
commit to user
commit to user
iii ABSTRACT
Biology is a knowledge-based disciplines, one of them in the field of
ethnobotany. Diversity ethnobotany in Indonesia is very rich. Therefore it needs
an effort of documenting knowledge, so that the natural wealth of Indonesia's
ethnobotany can be maintained and further developed using Ontology approach.
This study focused on how to build an ontology ethnobotany of Indonesia's
native ethnic, so it can enrich implementation of semantic technologies in the field
of biological knowledge. For the testing, a prototype system will be designed to
display the test results of the query against the created ontology.
The results of this study is realization of an ontology modeling
ethnobotany in Indonesia. As for the testing of the ontology, a prototype system of
ontology ethnobotany Indonesia has been constructed, so it can process
information in ontology into knowledge.
Keywords
commit to user
iv ABSTRAK
Biologi adalah disiplin ilmu berbasis knowledge based, salah satunya
dalam bidang etnobotani. Keanekaragamaan etnobotani di Indo nesia sangat kaya.
Oleh karena itu perlu sebuah upaya pendok umentasian pengetahuan, sehingga
kekayaan alam etnobotani Indonesia terjaga dan dapat terus dikembangkan
dengan pendekatan O ntologi.
Penelitian ini fokus pada bagaimana membangun sebuah onto logi
etnobotani dari etnis asli Indo nesia, sehingga dapat memperkaya imp lementasi
teknologi semantik dalam b idang pengetahuan biolo gi. Untuk pengujian, akan
dirancang suatu sistem prototipe untuk menampilkan hasil pengujian query
terhadap terhadap onto logi yang dib uat.
Hasil penelitian ini adala h terwujudnya pemodelan ontologi etnobotani
Indo nesia. Adapun untuk pengujian terhadap ontologi, dibangunlah suatu sistem
prototipe o ntologi etnobotani Indonesia sehingga dapat memp roses informasi
dalam onto logi menjadi sebuah knowledge.
Kata k unci
commit to user
v MOTTO
Smart is important, but Luck is everything.
commit to user
vi
commit to user
vii
KATA PENGAN TAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan Model
Ontolog i Etnobotani Indonesia .
Penulis menyadari akan keterbatasan yang dimiliki. Begitu banyak bantuan
diberikan dalam penyusunan skripsi ini dan semoga Allah SWT membalas segala
kebaikan mereka. O leh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kep ada :
1. Ir. Ari Handono Ramelan, M.Sc. (Ho ns), Ph. D, selaku Pimpinan Fak ultas
MIPA Universitas Sebelas Maret S urakarta.
2. Ibu Umi Salamah, S.S i., M.Kom. selaku Ketua Jurusan S1 Informatika,
Pembimbing Akademik, dan Dosen Pembimbing II.
3. Ibu Dewi Wisnu Wardani, S.Kom.,M.S., selaku pembimbing utama d alam
penelitian ini atas bimbingan dan masukan yang d iberikan.
4. Rini Anggrainingsih, M.T., selaku penguji utama atas masukan, kritik dan
saran yang telah dib erikan.
5. Esti Suryani, S. S i., M.Kom., selaku anggota penguji atas masukan, kritik dan
saran yang telah dib erikan.
6. Bapak dan Ib u yang telah memberikan doa, bantuan moral dan materi.
7. Teman-teman seangkatan d i Jurusan Informatika UNS terimakasih atas
dukungannya
8. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi ini.
Peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang berkepentingan
khususnya dan bagi pembaca umumnya.
Surakarta, 11 Juli 2012
commit to user
BAB I P ENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang Masalah ...1
1.2 Rumusan Masalah ...2
1.3 Batasan Masalah ...2
1.4 Tujuan Penelitian ...3
1.5 Manfaat Penelitian ...3
1.6 Sistematika Penelitian ...3
BAB II TINJAUAN PUS TAK A...5
2.1 Dasar Teori ...5
2.1.1 Knowledge Management System ...5
2.1.2 Tek nologi Semantik ...6
2.1.3 Web Semantik ...7
2.1.4 Ontolo gi...9
2.1.5 Etnobotani ...26
2.2 Penelitian Terkait...27
2.3 Rencana Penelitian ...31
BAB III METODE PEN ELITIAN ...32
commit to user
ix
3.2 Pengumpulan Data...33
3.3 Konstruksi dan Implementasi Ontologi ...34
3.4 Pengujian O nto logi ...35
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...37
4.1 Scope Pengetahuan O ntolo gi Etnobotani Indonesia ...37
4.2 Hierarki O ntologi Etnobotani Indonesia ...38
4.3 Pemod elan Graf O ntologi Etnobotani Indonesia...39
4.4 Pengujian O ntologi ...47
BAB V P ENUTUP...57
5.1 Kesimpulan ...57
commit to user
x
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Perbedaan DB Schema-Ontolo gi_1...12
Tabel 2.2 Perbedaan DB Schema-Ontolo gi_2...12
Tabel 2.3 Perbedaan DB Schema-Ontolo gi_3...12
Tabel 2.4 Perbedaan DB Schema-Ontolo gi_4...12
Tabel 2.5 Perbedaan DB Schema-Ontolo gi_5...13
Tabel 2.6 RDF Classes...19
Tabel 2.7 RDF Properties ...19
Tabel 4.1 Tabel Properties class Etnis...40
Tabel 4.2 Tabel Properties class Etnoekolo gi ...41
Tabel 4.3 Tabel Properties subclass K lasifikasi ...41
Tabel 4.4 Tabel Properties class nama_Tanaman ...42
Tabel 4.5 Tabel Properties class lokasi_Administratif ...44
commit to user
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Prespektif Teknis dari Knowledge Management System...6
Gambar 2.2. Layer Arsitektur Web Semantik...8
Gambar 2.3. Conto h ilustrasi O ntologi Sederhana untuk Wine ...11
Gambar 2.4. RDF triple (subject, predicate, object)...15
Gambar 2.5 Conto h Ilustrasi Triple dari RDF...16
Gambar 2.6 Conto h RDF Schema ...20
Gambar 2.7 Conto h penyusunan istilah parent and child dari PO ...29
Gambar 3.1 Diagram Block Utama Metodologi penelitian...32
Gambar 4.1 Hierarki Ontologi Etnobotani Indonesia ...38
Gambar 4.2 Skema ontolo gi Etnobotani Indonesia...39
Gambar 4.3 Interface awal sistem p rototipe Uji Ontologi ...48
Gambar 4.4 Tab SP ARQL sistem prototipe Uji O ntologi ...48
Gambar 4.5 Step input file owl ...62
Gambar 4.6 Step load ed file inputan...63
Gambar 4.7 Step generate owl ke format rdf ...64
Gambar 4.8 Tampilan awal hierark i...64
Gambar 4.9 Step expand class ...65
Gambar 4.10 Step expand individu ...66
Gambar 4.11 Step Sparq l tab...68
Gambar 4.12 Step input manual ...68
Gambar 4.13 Hasil Pengujian manual...69
Gambar 4.14 Step pemilihan topik pertanyaan_1 ...70
Gambar 4.15 Step pemilihan topik pertanyaan_2 ...70
Gambar 4.16 Step pemilihan topik pertanyaan_3 ...70
Gambar 4.17 S intaks SPARQL dari pertanyaan yang d ip ilih ...71
Gambar 4.18 Hasil pengujian p ertanyaan yang dipilih ...71
Gambar 4.19 Tab el Tab Detail ...72
Gambar 4.20 instances class Pemanfaatan ...78
Gambar 4.21 instances class Pengolahan ...79
commit to user
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Penggunaan Prototipe Sistem Pengujian O nto lo gi ...62
Lampiran 2 : Model Data OWL O ntologi Etnobotani Indonesia ...73
Lampiran 3 : Laporan Penyusunan C lass O ntologi Etnobotani Indonesia ...77
commit to user
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang M asalah
Ontolo gi merupakan tek nologi yang digunakan pada web semantik sebagai
cara untuk merepresentasikan model pengetahuan pada suatu domain. Ontologi
merupakan backbone dari knowledge sharing. Salah satu tujuan utama dibangun
sebuah o ntologi adalah karena ontologi mendefin isikan vocabulary untuk peneliti
yang ingin sharing informasi d i dalam do main ilmu tertentu (Noy, 2001). Biologi
adalah disiplin ilmu berbasis knowledge based. Secara tradisional knowledge base
dalam do main b iologi tersimpan di k ecerdasan para ilmuwan biologi. Baik sebuah
knowledge based atau aksioma sangat d ipengaruhi oleh pengetahuan sebelumnya
(Patricia, 1999 ). Untuk mempermudah penyimpanan data b io logi inilah
dibutuhkan pendekatan o ntologi. Dari sudut pandang domain tekno logi informasi,
ontologi adalah jawaban yang lebih baik untuk memodelkan sebuah knowledge
daripada traditional data model. Sebagai contohnya adalah Plant Ontology
(Jaiswal, 2005).
Kepulauan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa salah
satunya keanekaragamaan etnobotani yang sangat kaya. O leh karena itu sangat
perlu mengatur kekayaan b iodiversitas sekaligus penelitiannya sehingga kekayaan
tersebut akan terus terjaga dan kemanfaatannya dapat berjalan berkelanjutan.
Terutama untuk studi etnobotani yang lebih luas perlu ada inventaris yang baik
dari keanekaragaman tanaman, dengan nama lokal, nama botani (nama latin),
pemanfaatan, tempat hidup atau hab itat, populasi (banyak/sedikit), penggunaan
spesifik (pangan/makanan, eko nomi, pakan ternak, obat-obatan, kayu bakar), dll,
semua ini berdasarkan pengetahuan dan pengalaman dari o rang setempat.
Permasalahan yang dihadapi dalam penyimpanan pengetahuan mengenai
etnobotani ini adalah hetero genitas informasi tentang etnobotani di Indonesia.
Penyimpanan dan pertukaran informasi data heterogen akan menjadi suatu
kendala karena data disediakan dan didistribusikan oleh ke lo mpok penelitian yang
commit to user
2
Salah satu p endekatan yang digunakan adalah memanfaatkan O ntologi sebagai
salah satu cara untuk mengurangi masalah heterogenitas sehingga membantu
kerjasama antara peneliti (S intawati, 2010).
Penyimpanan informasi yang heterogen ini tidak mudah d iaplikasikan p ada
Basis Data Relasional. Tanaman, lokasi persebaran beserta atributnya disimpan
dalam field tertentu dan biasa diakses dengan search eng ine menggunakan query
yang mengandalkan keyword tanpa mengetahui makna semantis dari query itu
send iri. Pencarian informasi seperti ini akan sulit dilakukan bila mengandalka n
query saja. Pemilihan query yang kurang spesifik akan berakibat banyaknya
informasi yang tidak relevan ikut teramb il oleh sistem.
Tidak seperti Basis Data Relasio nal, O ntologi memiliki struktur yang
memungkinkan untuk menyimpan informasi secara semantis. Ontologi akan
berguna dalam menghubungkan informasi- informasi mengenai etnobotani di
Indo nesia yang ada dengan tetap mempertahank an pengetahuan yang secara
semantis tersimpan di dalam informasi- informasi tersebut. Oleh karena itu perlu
sebuah upaya pendokumentasian pengetahuan k ekayaan alam etnobotani
Indo nesia, sehingga terjaga dan dapat terus dikembangkan dengan memanfaatkan
ontologi yang akan dibuat. Dengan pendek atan ini, diharapkan representasi
informasi mengenai etnobo tani di Indonesia dapat d isajika n dengan lebih
terintegrasi.
1.2 Rumusan M asalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, dapat
dirumuskan permasalahan yaitu bagaimana membuat ontologi etnobotani
Indo nesia.
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah yang digunakan dalam pembuatan tugas akhir ini adalah
ontologi yang d ib uat hanya mencakup mengenai etnobo tani Indonesia dari kajian
terhadap penelitian yang sudah pernah dilak ukan yaitu yang berasal dari
commit to user
3
(Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Bogor. Permasalahan yang d ibahas dalam
tugas akhir ini akan dibatasi ruang lingkup pembahasannya, yaitu pemanfaatan
know-what
1.4 Tujua n Penelitian
Tujuan dari penelitian ini antara lain:
1) Membangun sebuah o ntologi etnobotani dari etnis asli Indonesia yang
dibatasi oleh scope dari knowledge itu sendiri.
2) Terbentuknya suatu prototype untuk pengujian ontolo gi etnobotani
Indo nesia yang mamp u memproses informasi menjadi sebuah knowledge
dan dapat d igunakan dan dikembangkan untuk berbagai aplikasi.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah memperkaya implementasi teknologi semantik
dalam bidang pengetahuan biologi.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penyusunan laporan adalah sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan
Bab ini memuat hal- hal seperti latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II Tinjaua n Pustaka
Bab ini menguraikan teori- teori yang berkaitan dengan tugas ak hir yang meliputi
teknologi semantik, web semantik, ontolo gi, dan etnobotani, penelitian terkait
yang telah dilak ukan sebelumnya, serta rencana penelitian yang d ilakukan.
BAB III M etode Penelitian
Bab ini berisi tentang langkah- langkah yang d igunakan dalam penyelesaian Tugas
commit to user
4 BAB IV Hasil da n Pembahasan
Bab ini membahas pembangunan suatu ontologi Etnobotani di Indonesia, dan
pengujian dengan menggunakan suatu prototipe.
BAB V Penutup
Bab ini berisi kesimp ulan dan saran. Kesimpulan berisi hasil pembahasan di
bagian sebelumnya. Sedangkan saran berisi masukan yang bisa digunakan pada
commit to user
5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Knowledge Management System
Knowledge Management System (KMS) merupakan kumpulan dari tools yang
memfasilitasi adanya manajemen pengetahuan (Nurkasanah dan Pratomo, 2012).
KMS dalam organisasi dapat dilakukan melalui:
a. proses mengoleksi, mengorganisasikan, mengklasifikasikan, dan
mendiseminasikan pengetahuan ke seluruh unit dalam suatu organisasi
agar berguna bagi siapapun yang memerlukannya.
b. kebijakan, prosed ur yang dipakai untuk mengoperasikan database dalam
suatu jaringan intranet yang selalu up-to-date.
c. menggunakan ICT (Information and Communication Technology) yang
tepat untuk menangkap knowledge yang terdap at di dalam pikiran individu
sehingga knowledge itu bias dengan mudah d igunakan bersama dalam
suatu organisasi.
d. adanya suatu lingk ungan untuk pengembangan aplikasi expert systems.
e. analisis informasi dalam database, data mining atau data warehouse
sehingga hasil analisis tersebut dapat segera diketahui dan dipakai oleh
lembaga.
f. mengidentifikasi kategori pengetahuan yang d iperlukan untuk mendukung
lembaga.
g. mentransformasikan basis pengetahuan ke basis yang baru.
h. mengkomb inasikan indeks, pencarian dengan pendekatan semantics atau
syntacs.
i. mengorganisasikan dan menyed iakan know-what, know-how, know-why
yang relevan, apa, bilamana, mengapa diperlukan, mencakup proses,
prosedur, paten, bahan rujukan, formula, best practices, prediksi dan
commit to user
6
j. memetakan knowledge (knowledge mapping) pada suatu organisasi baik
secara on-line atau off-line, pelatihan, dan perlengkapan akses ke
knowledge.
Gambar 2.1 Prespektif Teknis dari Knowledge Management System (Abdullah, Selamat, Sahibudin, & Alias, 2005)
2.1.2 Teknologi Se mantik
Tek nologi semantik didefinisikan sebagai tek nolo gi perangkat lunak yang
memungkinkan pengenalan dan pemrosesan makna dari informasi serta asosiasi
antar informasi pada wak tu eksekusi (TopQ uadrant, 2004).
Tek nologi semantik memiliki ciri yang dapat membedakannya dengan aplikasi
konvensional lain, antara lain (TopQuadrant, 2004 ):
a. Tek nologi semantik merepresentasikan mak na melalui ko nektivitas.
Makna dari istilah (term), atau konsep (concept) yang ada pad a model dapat
commit to user
7
b. Suatu model semantik mengekspresikan sudut pandang yang beragam.
c. Model semantik merepresentasikan pengetahuan tentang d unia d imana
suatu sistem berop erasi. Aspek pengetahuan yang berbeda dapat
direpresentasikan oleh beberapa model semantik yang saling terhubung.
Model- model tersebut dapat diakses oleh aplikasi pada saat run time.
d. Suatu ap likasi semantik menggunakan model pengetahuan secara esensial
sebagai bagian dari operasinya. Penggunaan model ini sering disebut dengan
melakukan reason ing terhadap model. Rea soning dapat berupa proses graph
search yang sangat sederhana hingga proses inferensi yamg rumit pada model.
e. Aplikasi semantik merupakan ap likasi yang ringan dikarenakan bekerja
dengan smart data. Data memiliki makna data yang semantik d an
saling terhubung (Teagarden, 2012). Semua logika business rules dilakukan
pada model yang dibagi melewati berb agai macam aplikasi.
2.1.3 Web Semantik
Salah satu bentuk dari teknologi semantik adalah teknologi web semantik. Web
semantik adalah sekump ulan informasi yang dikumpulkan dengan metode tertentu
agar dapat dengan mudah diproses oleh mesin dalam skala yang besar. Ini seperti
cara yang effisien dari representasi data pada World Wide Web, atau sebagai
database global yang saling terhub ung.
Web Semantik dikembangkan oleh sebuah tim d i World Wide Web consortium.
Menurut Palmer (2001) hingga saat ini Web semantik masih dalam tahap
pengembangan dan penyempurnaan karena tekno lo gi ini masih baru digunakan
dan tim masih mengembangkan metode masing- masing untuk mengembangkan
Web Semantik.
Web semantik memiliki arsitektur yang terd iri dari beberapa layer sebagai berikut
commit to user
8
Gambar 2.2 Layer Arsitektur Web Semantik (www.w3c.org)
Berikut ini penjelasan mengenai beberapa layer yang menyusun web semantik
a. Unicode, merupakan requirement dalam ind ustri komp utasi untuk
merepresentasikan, menangani, dan memanipulasi teks.
b. URI (Uniform Resource Identifier), merup akan sekumpulan URL
(Uniform Resource Locator) dan URN (Uniform Resource Name) yang
dapat digunakan untuk mengidentifikasi objek secara unik (URN) dan
menyediakan informasi mengenai dimana dan bagaimana cara
menemukan dokumen dalam web (URL) (Ferzini, 2011).
c. XML, merupakan bahasa yang memungk inkan penulisan dokumen web
terstruktur dengan user-defined vocabulary. Extensible Markup
Language (XML) adalah sebuah format teks yang sederhana yang
berdasarkan SGM L(ISO 8879) yang didesain untuk mempertemukan
berbagai macam sumber informasi dalam dunia web.
d. RDF, merupakan model data dasar untuk penulisan statement sederhana
tentang objek web (resource). Model data RDF tidak bersandar pada
XML namun RDF memiliki sintaks berbasis XML(Antoniou, 2008 ).
e. RDF Schema (RDFS), menyediakan modeling primitives untuk
mengorganisasikan objek web dalam hirarki. Primitives kunci dari
commit to user
9
serta domain and range restrictions. RDFS dib angun berdasarkan RDF.
RDFS dapat d itampilkan sebagai primitive language untuk menulis
ontologi (Antoniou, 2008 ).
f. Ontologi Vocabulary, merupakan layer untuk bahasa o ntologi yang
direpresentasikan dengan OWL (Web Ontology Language) yang akan
memungkinkan relasi yang leb ih komp leks antar objek web (S ulhan.
2010).
g. Logic layer, digunakan untuk meningkatkan bahasa ontologi lebih
lanjut dan memungkinkan penulisan application-specific declarative
knowledge (Antoniou, 2008 ).
h. Proof layer, melibatkan proses ded uksi aktual serta representasi
pembuktian dalam bahasa web serta validasi pembuktian (Antoniou,
2008).
i. Trust layer, memungkinkan pengguna web untuk mempercayai suatu
informasi pada web (S ulhan. 2010). Muncul dalam bentuk penggunaan
digital signatures dan bentuk pengetahuan yang lain berdasarkan
reko mendasi agen terpercaya atau berdasarkan rating, agensi sertifikasi,
atau badan konsumen (Antoniou, 2008).
2.1.4 Ontolo gi
2.1.4.1Definisi Ontolo gi
Dalam Ilmu komputer, istilah ontologi sangat beragam dan berubah sesuai
dengan perkembangan waktu. Salah satunya menurut Neches dan rekannya
(1991)
pengertian dasar dan relasi vocabulary dari sebuah area sebagaimana aturan dari
kombinasi istilah dan relasi untuk mendefinisikan vocabulary
Ontology merupakan seb uah spesifikasi
eksplisit dari ko nseptual
berkembanglah definisi tentang ontologi salah satunya hingga terkumpul tujuh
definisi yang berkoresponden dengan syntatic dan semantic interprestasi oleh
commit to user
10
shared
conceptualization
Kemudian pada tahun 1998, Studer menggabungkan dua defin isi onto logi dari
Konseptualisasi mengacu kepada sebuah model
abstrak dari beberapa fenomena di dunia dengan memiliki identifikasi konsep
yang relevan d ari fenomena terseb ut. Spesifikasi formal agar spesifikasi yang
ada harus dapat dibaca dan dimengerti mesin. Kemudian spesifikasi eksp lisit
adalah tipe dari konsep yang digunakan, dan batasan dari eksplisit yang
digunakan. Serta Shared yang merefleksikan bahwa sebuah onto logi mencoba
menangkap pengetahuan secara konsensus yang tidak merupakan hal yang hanya
terkait pada ind ividu tetapi diterima oleh sebuah group/domain.
Dengan demikian untuk membangun ontologi tidak disediakan standar khusus
maupun justifikasi kebenaran ontologi yang dikembangkan seseorang. K ualitas
ontologi dapat diketahui dari aplikasi yang dibangun berdasarkan o ntologi ini.
Ketika ap likasi yang dibangun dapat memenuhi kebutuhan pengguna dan
menjawab permasalahan yang ada maka onto logi yang digunakan termasuk
ontologi yang b erkualitas (Dumbill, 2000 ).
2.1.4.2Komponen O ntologi
Ontolo gi memiliki beberapa kompo nen yang dapat menjelaskan onto logi
tersebut (Wicaksana, 2004) diantaranya :
a. Konsep (Concept)
Digunakan dalam pemahaman yang luas. Sebuah ko nsep dapat sesuatu yang
dikatakan sehingga dap at pula merupakan penjelasan dari tugas, fungsi, aksi,
strategi, dan sebagainya. Konsep juga dikenal sebagai classes, object dan
categories.
b. Relasi (Relation)
Merupakan representasi seb uah tipe dari interaksi antara konsep dari sebuah
domain atau sering disebut dengan concept properties. Relasi juga terkadang
disebut dengan roles atau slots. Sebagai contoh dari relasi binary termasuk
commit to user
11 c. Aksiom (Axioms)
Digunakan untuk memodelkan sebuah sentence yang selalu benar.
d. Instances
Merupakan contoh konkret dari konsep dalam suatu domain. Instance terkadang
disebut juga dengan individual.
Berikut ini adalah contoh ontologi sederhana wine :
Keterangan:
: Concepts
: Relation
: Instance
: Axioms
Gambar 2.3 Conto h ilustrasi O ntologi Sederhana untuk Wine (Noy, 2006)
Menurut S ulhan (2010 ), concepts disebut juga dengan class. Pada Gambar di atas
dapat terlihat bahwa onto logi ini memiliki 5 concepts. yaitu Winery (k ilang
anggur), Wine, dan 3 jenis Wine yaitu Bordeaux Wine, Desert Wine dan
Beaujolais. O leh karena itulah Axioms yang muncul adalah sebuah Winery
sedikitnya memprod uksi satu jenis Wine. Sementara itu Winery memiliki instance
berupa Bancroft. Sedangkan Beaujolais memiliki instance yaitu
commit to user
12 2.1.4.3Perbedaan Ontologi dan Database Schema
Menurut Michael Uschold (2011), secara umum ada 5 pertanyaan untuk
mendapatkan pemahaman mengenai keduanya, yaitu :
a. Fungsi atau kegunaannya?
Tabel 2.1 Perbedaaan DB Schema-Ontolo gi_1
DB Schema Ontolo gi
Fokus Data meaning, dan Knowledge
sharing Inti tujuan -Struktur instance untuk
penyimpanan query yang efisien (single purpose). - Lost meaning
-Untuk human communication,
interoperabilitas, pencarian, dan software engineering. -opsional untuk instance
b. Seperti apa notasinya?
Tabel 2.2 Perbedaaan DB Schema-Ontolo gi_2
DB Schema Ontolo gi
Sintaks ER Diagram, tidak ada standar sintaks yang khusus
Logic, tidak ada stand ar sintaks notasi diagram Semantic -fokus minimal pada formal
semantik
-fokus yang kuat pada formal semantik
c. Seberapa ekspresifnya?
Tabel 2.3 Perbedaaan DB Schema-Ontolo gi_3
DB Schema Ontolo gi
Expressivity overlap
Entiti, atribut, dan relations constraints
Class, properties, axioms
Expressivity differences
Tidak ada taksono mi Taksonomi adalah dasar yang kuat.
d. Bagaimana proses pembuatannya?
Tabel 2.4 Perbedaaan DB Schema-Ontolo gi_4
DB Schema Ontolo gi
Starting point Seadanya, dan jarang digunakan kembali
commit to user
13
DB Schema Ontolo gi
Normalisasi Aturannya standar dan sedikit tool pendukung
Belum ada aturan standar atau panduan khusus Optimasi Merupakan langkah
fundamental, dilakukan manual, diarahkan pada pertanyaan spesifik untuk basis data yang spesifik pula.
Ontolo gi berd iri sendiri. Untuk pengambilan keputusan, dilakukan oleh developer.
e. Seperti apa imp lementasinya?
Tabel 2.5 Perbedaaan DB Schema-Ontolo gi
DB Schema Ontolo gi
Manajemen perubahan dan fleksib ilitas
-Terpaku pada query spesifik per basis data
-aturan ketat, semantik tertanam dalam kode
prosedural dan lost meaning -sulit untuk dikembangkan dan dikelola.
-tidak ada query yang tetap, sehingga dapat digunakan pada sistem lain.
-aturan nya bebas, jelas unsur semantiknya.
-berpotensi lebih mudah untuk dikembangkan dan dikelo la.
Mesin pengolahan
-SQL engines, dimana fokus utama nya pada query, penalaran dengan beberapa pandangan, dan integritas data.
-Terstandar pada SQL
-Pembuktian teori dengan fokus pada makna, yaitu bagaimana memperoleh informasi dari informasi yang telah ada
- Standarisasi tidak banyak. Performa - diseting untuk p erfo rmansi
dan skala tinggi.
-tidak begitu baik untuk joins yang terlalu banyak.
-penuh inference (penarikan informasi baru dari informasi yang ada).
-untuk mencapai skala leb ih besar,dapat dengan
commit to user
14
2.1.4.4Bahasa O ntologi
Ontolo gi memerlukan notasi yang nyata untuk mengekspresikannya. Sebuah
bahasa ontologi adalah sebuah bahasa fomal dari seb uah pembuatan ontologi.
Beberapa komponen yang menjad i struktur ontolo gi, sebagai berikut :
A. XM L dan XM L Sche ma
Extensible Markup Language (XML) merupakan bahasa markup yang
didesain untuk menjadi sarana yang mudah dalam mengirimkan dokumen
melalui Web (Ibrahim, 2007). Berbeda dengan Hypertext Markup Language
(HTML), XML memungkinkan penggunanya untuk mendefinisikan custom
tag. Namun standar XML tidak memiliki constraint semantik pada arti dari
dokumen terseb ut.
XML Schema bertugas untuk memberikan batasan terhadap struktur yang
telah terdefinisi pada XML. Struktur dari XML yang akan dibuat harus
mematuhi apa yang telah didefinisikan di XML Schema (Awaludin, 2009).
Berikut ini adalah contoh sederhana definisi schema yang dibuat untuk
mendeskripsikan seorang mahasiswa dengan menggunakan XML Schema
(mahasiswa.xsd) (Wicaksana, 2004) :
Berdasarkan skema d i atas, kita dapat membuat sebuah dokumen XML
sebagai berik ut :
<xs:schema
xmlns:xs="http://www.w3.org/2001/XMLSchema"> <xs:element name="Mahasiswa" type="Mahasiswa"/> <xs:complexType name="Mahasiswa">
<xs:sequence>
<xs:element name="NRP" type="xs:number"/> <xs:element name="Nama" type="xs:string"/>
</xs:sequence> </xs:complexType> </xs:schema>
<xs:schema
xmlns:xs="http://www.w3.org/2001/XMLSchema"> <xs:element name="Mahasiswa" type="Mahasiswa"/> <xs:complexType name="Mahasiswa">
<xs:sequence>
<xs:element name="NRP" type="xs:number"/> <xs:element name="Nama" type="xs:string"/> <xs:element n
commit to user
15
B. RDF (Resource Description Framework)
RDF merupakan suatu metadata yang digunakan untuk mendeskripsikan
alamat sumber daya pada web (W icaksana, 2006). Metadata ini dapat berup a
judul, pengarang, hak cipta, dan lisensi dalam dokumen web. RDF adalah
resources relasi diantaranya. RDF
menyediakan semantic sederhana serta d apat d irepresentasikan dalam sintaks
XML (Antoniou, 2008). RDF merupakan pondasi dasar dalam membangun
suatu web semantik. Mesk ipun demikian RDF belum dapat mendeskripsikan
semantik itu sendiri (Feigenbaum, 2011).
RDF muncul berdasarkan pada ide tentang mengidentifikasi sesuatu
menggunakan web identifiers (d ikenal sebagai URI) dan ide tentang
mendeskripsikan resources berdasarkan property dan value-nya. RDF
merepresentasikan sebuah pernyataan sederhana tentang resources dalam
bentuk sebuah graph beserta nodes dan arc-nya. Sek ump ulan triples disebut
dengan RDF graph , dimana setiap triple merep resentasikan seb uah pernyataan
hubungan antara hal-hal yang dinotasikan oleh node yang ditujunya (Pro voost
dan Bornier, 2006). Elemen dasar model RDF adalah triple: sebuah resource
(sebagai subject) yang dihubungkan dengan resource yang lain (sebagai object)
melalui sebuah resource ketiga (sebagai predicate). Dengan demik ian dapat
dikatakan bahwa sebuah resource <subject> memiliki property <predicate>
dengan value <object>. Dalam termino logi RDF, SPO ini seringkali disebut
dengan istilah N-triple.
commit to user
16 Berikut ilustrasi konsep triple pada RDF :
Gambar 2.5 Conto h Ilustrasi Triple dari RDF (Sulhan, 2010)
Berikut adalah co ntoh kalimat yang berisi pernyataan seperti pada gambar 2.4 :
Berikut contoh format RDF /XML dari gambar 2.4 :
1) Bahasa Query SPARQL (Simple Protocol and RDF Query Language)
Model data RDF berupa suatu statemen dalam bentuk triple yang terdiri dari
subyek, predikat, dan objek. Untuk mendapatkan informasi dari suatu graph
RDF dibutuhkan suatu query. SPARQ L merupakan suatu bahasa query yang
dapat digunakan untuk mengakses data pada web semantik (Awaludin, 2009).
Dengan menggunak an SPARQL memungkinkan untuk :
o Mengambil nilai dari data yang terstruktur maupun data yang semi
terstruktur.
o Mengembangkan data d engan melak ukan query terhad ap suatu relasi
yang tidak diketahui.
o Dapat melakukan query operasi join yang komp leks pada database yang
berlainan secara lebih sederhana.
o Mengubah suatu data RDF menjadi vocabulary yang lain.
http://www.example.org/index.html has a creator whose value is Jhon Smith
subyek pred ikat objek
<?xml version="1.0"?>
<rdf:RDF xmlns:rdf=http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns# rdf:Description
<dc:creator>John Smith</dc:creator> </rdf:Description>
commit to user
17
Hasil dari query SPARQL dapat mengembalikan nilai dalam beberapa format data
antara lain : XML, JSON, RDF, dan HTML. Berikut ini adalah contoh sederhana
mengembalikan suatu tabel dari variabel dan nilai yang dideskripsikan di
dalam query.
2) Struktur Query RDF
Menurut (Feigenbaum, 2011) S uatu SP ARQ L query terd iri dari :
o Prefix declarations, sebagai pemendekan URI
o Dataset definition, menyatakan RDF graph apa yang akan dijadikan
query
o Result clause, mengidentifikasi informasi apa yang akan dikembalikan dari query.
o Query pattern, menspesifikasi apa yang akan di-query pada dataset
o Query modifiers, digunakan untuk slicing, ordering, dan mengatur
hasil query.
Berikut ini adalah conto h dari struktur query dari SPARQL (Locher, 2007)
:
<http://example.org/book/book1
<http://purl.org/dc/elements/1.1/title> "SPARQL Tutorial" .
SELECT ?title WHERE
{
<http://example.org/book/book1>
commit to user
18
o Sparql select query dengan Limit solution modifier
o Contoh RDF Dataset
o Hasil Sparql select query
C. RDFS (Resource Description Framework Schema)
Sebuah schema adalah dokumen sederhana atau bagian kode yang
mengendalikan sekumpulan terminologi pada seb uah dokumen atau bagian
kode yang lain. Schema seperti sebuah master checklist, atau definisi tata
bahasa. RDF Schema didesain untuk menjadi pemodelan data sederhana dalam
RDF (S tojanovic, 2001).
Mekanisme yang diadopsi di dalam RDF untuk mengatur ekspresi tentang
batas adalah dengan memb uat resources, properties, types dan statement
sebagai ob jek utama di dalam web. Artinya, ekspresi tersebut memiliki URI
dan tidak dibatasi pada level dasar untuk dikombinasikan sedemikian rupa
1 PREFI X vcard: <http://www.w3.org/2001/vcard-rdf/3.0#>
2
3 SELEC T ?x ?givenName
4 WHERE {
5 ?x vcard:Family "Smith" . 6 ?x vcard:Given ?givenName . 7 }
8 LIMIT 1
1 @prefix vcard: <http://www.w3.org/2001/vcard-rdf/3.0#> . 2
3 <http://example.org/person#John> 4 vcard:Family "Myers" ;
5 vcard:Given "John" ; 6 vcard:Prefix "Dr" . 7
8 <http://example.org/person#Robert> 9 vcard:Family "Smith" ;
10 vcard:Given "Robert" ; 11 vcard:Prefix "Prof" . 12
13 <http://example.org/person#Claudia> 14 vcard:Family "Smith" ;
15
16 <http://example.org/person#Sarah> 17 vcard:Family "Richards" ;
commit to user
19
(Ibrahim, 2007). Berikut beberapa data kosakata utama RDFS yang
didefinisikan Brickley et al (2004) :
1) Core Classes
Tabel 2.6 RDF Classes
Class Name Comment
rdfs:Resources Class resource, everything
rdfs:Class Class of classes
rdfs:Literal Class of literal value
(strings, integers)
rdfs:Datatype Class of RDF Datatypes
rdf:property Class of RDF Properties
rdf:XMLLiteral Class of XML literals values
2) Core Properties
Tabel 2.7 RDF Properties
Property Comment Domain Range
rdf:type Subject is an
rdfs:label Name for subject rdfs:resource rdfs:Literal
rdfs:comment Description of
subject resource
rdfs:resource rdfs:Literal
Berikut ini contoh p enggunaannya :
Sebagai co ntohnya sebuah class untuk dosen/lecturer. Di sini terlihat bahwa
semua lecturer merup akan staff member ( Antoniou, 2008):
<rdfs:Class rdf:about="lecturer">
commit to user
20
Berikut ini contoh penggunaan properties , sintaks ini menyatakan bahwa jika
suatu resource memiliki sebuah phone number, mak a resource tersebut
(dengan inferensi) merupakan staff member dan memilik i value literal
(Antoniou, 2008):
Berikut RDFS yang merep resentasikan ontologi dari contoh d iatas :
Gambar 2.6 Conto h RDF Schema (Antoniou, 2008 )
<rdf:Property rdf:ID="phone">
<rdfs:domain rdf:resource="#staffMember"/>
<rdfs:range rdf:resource="&rdf;Literal"/>
commit to user
21
D. OWL (Ontology Web Language)
Web Ontology Language (OWL) merupakan turunan dari kosakata RDFS
dengan penambahan fitur- fitur sehingga meningkatkan pengekspresian suatu
resource (Prasetyo dan Wiryana, 2010 ). Jika d ibandingkan dengan RDFS,
maka OWL memberik an kemamp uan lebih dalam menggambarkan relasi yang
lebih komp leks dan bervariasi.
Saat ini OWL adalah bahasa ontologi paling ekspresif yang digunakan
untuk aplikasi semantic web. Hal ini dikarenakan visi semantic web adalah
untuk memberikan informasi yang bermakna secara eksp lisit sehingga mesin
memproses secara otomatis dan mengintegrasikan informasi pada web, maka
diperlukan bahasa yang tepat untuk merepresentasikan informasi tersebut.
OWL digunakan untuk merep resentasikan makna dari kosakata dan relasi antar
kata sehingga makna suatu informasi menjad i eksplisit (McGuinness et al,
2004). Dengan menggunakan OWL, kita dapat menambah vocabulary
tambahan d isamping semantik formal yang telah dibuat sebelumnya
menggunakan XML, RDF, dan RDFS (Provoost dan Bornier, 2006). Hal ini
sangat membantu p enginterpretasian mesin yang leb ih baik terhadap isi web.
Menurut Wicaksana (2004), untuk mendeskripsikan properties dan classes,
OWL menambahkan vocabulary seperti:
among others
Relasi antar classes disjointness
exactly one
Kesamaan (equality).
Karakteristik property symmetry
Enumerated classes.
1) Sub bahasa OWL
OWL menyediakan tiga sub bahasa yang berbeda tingkatan bahasanya yang
dirancang untuk berbagai kebutuhan tertentu dari pengguna, antara lain
commit to user
22
o OWL Lite. Mendukung bagi pengguna yang memerlukan hirarki
klasifikasi dan batasan yang sederhana. OWL Lite juga memp unyai suatu
kompleksitas formal yang leb ih rendah dibanding OWL DL.
o OWL DL (OWL Description Logic). OWL DL merupakan sublanguage
dari OWL Full. OWL DL meliputi semua bahasa kontruksi dalam OWL,
tetapi mereka memberlak ukan pembatasan terhadap constructor yang ada
pada OWL dan RDF.
o OWL Full. OWL Full merupakan subset dari OW L DL yang lebih
mudah diimplemetasikan. OW L Full memperbolehkan onto lo gi untuk
meningkatkan arti dari kosa kata yang belum digambarkan (RDF atau
OWL).
2) Deskripsi Bahasa OWL
Berikut ini deskripsi bahasa OW L menurut Anto niou (2008) :
a) Syntax
OWL dibangun berdasarkan RDF dan RDF Schema dan menggunakan sintaks
XML berb asis RDF. Meskipun sintaks ini d igunakan untuk OWL, tapi RDF /
XML tidak menyediakan sintaks yang sangat mudah dibaca. Karena itu,
bentuk-bentuk sintaksis lain untuk OWL juga telah didefinisikan:
o Sebuah sintaks berbasis XML tidak mengik uti konvensi RDF sehingga
lebih mud ah d ibaca o leh pengguna manusia.
o Sebuah sintaks abstrak, d igunakan dalam spesifikasi bahasa dokumen,
karena lebih kompak dan mudah dibaca, baik sintaks XML atau sintaks
RDF / XML.
o Sebuah sintaks grafik berdasarkan konvensi UML (Unified Modeling
Language) yang secara luas digunakan sehingga mudah bagi orang untuk
menjadi familiar dengan OWL.
b) Header
Dokumen OWL b iasanya diseb ut dengan OWL ontologies, dan merupakan RDF
commit to user
23
elemen rdf:RDF yang juga menspesifikasi sejumlah namespaces, contohnya
sebagai berik ut :
Suatu ontologi OWL dawali dengan kumpulan pernyataan yang dikelompokkan
dalam elemen owl:O nto logy yang mengand ung comments, version control dan
pencantuman dari onto logi lain. Contoh:
c) Class Elements
Class pada OW L didefinisikan menggunakan owl:Class element. owl:Class
merupakan subclass dari rd fs:C lass. Conto h penggunaannya adalah :
d) OWL Property Elements
Pada OWL terd apat dua jenis properties:
o Object properties, menghubungkan objek (instances dari class) dengan
objek lainnya. Object properties dinyatakan dengan owl: ObjectProperty
Contohnya adalah TaughtBy, supervises dsb. Contoh penggunaannya :
o Datatype properties, menghubungkan objek dengan datatype value.
Contohnya adalah phone, title, age, dsb. OW L tidak memilik i datatype
<rdfs:comment>An example OWL ontology</rdfs:comment> <owl:priorVersion
rdf:resource="http://www.mydomain.org/uni-ns-old"/>
<owl:imports rdf:resource="http://www.mydomain.org/persons"/> <rdfs:label>University Ontology</rdfs:label>
</owl:Ontology>
<owl:Class rdf:ID="associateProfessor">
<rdfs:subClassOf rdf:resource="#academicStaffMember"/> </owl:Class>
<owl:ObjectProperty rdf:ID="isTaughtBy"> <rdfs:domain rdf:resource="#course"/>
commit to user
24
tertentu ataupun menyediakan fasilitas pendefinisian khusus, melainkan
memungkinkan penggunaan XML Schema datatypes. Datatype
properties dinyatakan dengan owl:DatatypeProperty. Contoh
penggunaannya :
2.1.4.5 Tahap pembangunan ontologi
Menurut Noy dan McGuinness (2001), tahapan yang dilakukan dalam proses
pengembangan ontologi adalah :
1. Tahap Penentuan Domain
Merupakan tahap awal proses digitalisasi pengetahuan yang dilakukan
dengancara menjawab beberapa pertanyaan seperti : Apa yang merupakan
domain ontolo gi? Mengapa harus menggunakan o ntologi? Apa jenis
pertanyaan terhadap o ntolo gi sehingga perlu menyediakan jawaban? S iapa
yang akan menggunakandan memelihara ontologi?
2. Tahap Penggunaan Ulang (Reusable)
Tahap penggunaan kembali dan justifikasi dari ontolo gi yang telah
dibangun. Hal ini dimungkinkan karena merupakan sebuah kebutuhan saat
sistem harus berhub ungan dengan aplikasi yang menyatu dengan ontologi.
3. Tahap Penyebutan Istilah -Istilah pada Ontologi
Pada tahap ini akan d ib uat daftar istilah (term) yang penting dalam
ontologi, semua ist ilah yang bersangkutan ditulis. Pada tahap ini pembuat
ontologi tidak perlu mengkhawatirkan adanya overlap diantara konsep
yang direpresentasikan, relasi antar term, atau properties yang dimilik i
oleh suatu ko nsep karena akan dilakukan pada tahap selanjutnya.
<owl:DatatypeProperty rdf:ID="age">
<rdfs:range rdf:resource=
"http://www.w3.org/2001/XLMSchema#nonNegativeInteger"/>
commit to user
25
4. Tahap Pendefinisian Class dan Hirarki Class
Merupakan tahap menciptakan beberapa definisi dan konsep dalam hirarki
dan kemud ian menguraikan properti dari konsep. Sedangkan hirarki class
is-a setiap class A adalah
subclass B jika setiap instance class A juga instance class B. Langkah ini
merupakan langkah yang paling utama dalam proses mendesain ontologi.
Ada beberapa p endekatan dalam p engembangan hirarki class yaitu :
a. Pengembangan top-down, dimulai dengan mendefin isikan dari ko nsep
yang paling umum dalam domain sampai konsep yang spesifik.
b. Pengembangan bottom-up, dimulai dengan mendefin isikan dari class
yang paling spesifik, selanjutnya mengelompokkan class ke dalam
konsep yang lebih umum.
c. Pengembangan secara kombinasi, merupakan gabungan dari top-down
dan bottom-up, pertama menggambarkan ko nsep umum kemud ian
digeneralisasi dan menspesifikasikan.
5. Tahap pendefinisian properties
Dalam tahap ini, secara umum, ada beberapa jenis property (sifat) objek
yang dapat menjadi slot dalam suatu ontologi. Property Intrinsik (hakiki),
merupakan properties yang merepresentasikan unsur objek yang berada di
dalam suatu objek. Property Ekstrinsik (karena keadaan luar), merupakan
properties yang merepresentasikan unsur objek yang berada di luar suatu
objek. Property karena hubungan dengan individu yang lain, misalnya
hubungan antara anggota individ u dari suatu class dengan individ u yang
lain.
6. Tahap batasan (facets) dari slots
Slots dapat memiliki facets yang mendeskripsikan tipe nilai, nilai yang
diperbolehkan, kardinalitas, dan fitur lainnya. Berikut ini beberapa jenis
commit to user
26 a. Kardinalitas
Kardinalitas mendefinisikan berapa banyak nilai yang dapat dimiliki
sebuah slot. Beberapa sistem membedakan kard inalitas ini menjadi
dua yaitu kardinalitas tungggal (hanya memperbolehkan paling
banyak satu nilai), dan kardinalitas multiple (memperbo lehkan
sembarang jumlah nilai).
b. Tipe nilai
String, merupakan tipe nilai yang paling sederhana yang digunakan
pada slot, co ntohnya seperti nilai pada name:, merupakan string
sederhana.
Number, (Float dan Integer) mendeskripsikan slots dengan nilai
numerik. Conto hnya slot harga dapat memiliki tipe nilai Float.
Boolean, Slot yang memiliki yes no flags sederhana, sehingga
Enumerated, tipe yang memuat daftar nilai spesifik yang
diperbolehkan dalam slot.
Instance, merupakan tipe yang memperbolehkan definisi relasi
antar ind ividual. Slot dengan tipe instance juga harus
mendefinisikan daftar class yang diperbolehkan.
7. Tahap Pembuatan instance
Merupakan tahap pendefinisian sebuah instance dari class yang dapat
meliputi pemilihan class, pembuatan individu instance dari class dan
pengisian nilai slot.
2.1.5 Etnobotani
Menurut C handra (1990) diacu dalam Soekarman dan Riswan (1992 )
menyebutkan bahwa etnobotani berasal dari d ua kata, yaitu etnos (berasal dari
bahasa Yunani) yang berarti bangsa dan botani yang berarti tumbuh-tumbuhan.
Secara sederhana etnobotani dapat didefinisikan sebagai suatu b idang ilmu yang
commit to user
27
dengan alam lingkungannya meliputi sistem pengetahuan tentang sumber daya
alam tumbuhan (P urwanto, 1999). Etnobotani menekankan bagaimana
mengungkap keterkaitan budaya masyarakat dengan sumberdaya tumbuhan di
lingkungannya secara langsung ataupun tidak langsung (Suryadarma, 2008).
Penekanannya pada hubungan mendalam b udaya manusia dengan alam nabati
sekitarnya.
Dalam bahasannya, etnobotani bersinggungan dengan pengetahuan sosial
budaya (P urwanto, 1999). Sehingga etnobotani sangat berkepentingan mengikuti
dari dekat perkembangan yang berlangsung baik di seputar persoalan etnik
maupun dalam bidang botani, yang pada saat ini sangat dipengaruhi o leh
perkembangan yang sifatnya global. Etnisitas umumnya mengacu pada perasaan
bersama kelompok etnis. Narrol (1996) dalam (S ukenti, 2004) kelo mpok etnis
dipahami sebagai penduduk yang memiliki ciri ciri yang unik, yang diak ui o leh
etnik lainnya. Botani merupakan objek dari biologi dan persoalan yang
dimilikinya, dan ekologi sebagai bagian dari persoalan biologi yang membahas
interak si organisme dengan lingkungan biotik dan abiotiknya. Ekologi yang
terkait dengan keunikan etnik seperti halnya etnobotani (S uryadarma, 2008).
Kajian etnobotani dapat dicari padanannya dengan etnoekologi, etnomedicine, dan
kajian persoalan biologi dengan etnik lainnya.
Status etnobotani sebagai ilmu tidak mengalami masalah, akan tetapi status
objek penelitiannya sangat rawan karena cepatnya laju erosi sumber daya alam,
terutama flora dan pengetahuan tradisio nal pemanfaatan tumbuhan dari suku
bangsa tertentu. Untuk menunjang hal tersebut diperlukan pendokumentasian
berupa dok umen tertulis, foto, majalah, film, atau dilakukan dengan pengumpulan
spesimen (Soekarman dan Riswan, 1992).
2.2 Penelitian Terkait
Penelitian mengenai ontologi telah dilak ukan di berbagai domain pengetahuan
salah satunya pada domain b iologi namun penelitian yang menggunakan
commit to user
28
beberapa penelitian yang berkaitan dengan ontolo gi pada do main pengetahuan
tanaman :
a. Domain- Specific Ontology of Botany
Oleh : Fang Gu, Cun-Gen Cao, Yue-Fei Sui, dan Wen Tia n (2004)
Penelitian ini dilatar belakangi oleh begitu luasnya basis pengetahuan
tentang bo tani di d unia namun alat analisis untuk menangani permasalahan
mengenai knowledge base masih sangat kurang dan tidak mengadopsi skema
pengklasifikasian biologis dengan benar (misalnya filum, class, ordo dan
famili).
Dalam mengembangkan knowledge base, peneliti merancang sebuah
ontologi domain yang spesifik untuk botani dan mengekstraksi pengetahuan
botani dari berbagai sumber. Pembangunan ontologi ini sangat berguna dalam
akuisisi pengetahuan, dan analisis. Tahap yang dilakukan antara lain membuat
struktur multi perspektif dari o ntologi botani dan merepresentasikan o ntologi
botani dalam kategori sesuai dengan hub ungan konsep. Pada tahap selanjutnya
penyusunan aksioma onto lo gi. Aksioma-aksioma ini merupakan komponen
penting dari ontologi. Aksioma menyediakan dasar untuk memeriksa
pengetahuan botani untuk memastikan konsistensi dan akurasi yang nalar
berbasis pada pengetahuan botani. Pada tahap terakhir dilak ukan analisis
konsistensi, kelengkapan dan redundansi dari aksioma itu send iri.
b. Plant Ontologi (PO): a controlled vocabulary of plant structures and growth
stages.
Oleh : Panka j Jaiswal et. al (2005)
Penelitian ini membahas mengenai Plant Ontologi (PO) yang
dikembangkan oleh The Plant Ontologi Consortium (POC)
(www.plantontology.org). POC merupakan kolabo rasi kerja sama antara
beberapa ahli pada bidang plant systematic, botani, dan genomics dengan
menggunakan beberapa database tanaman. Tujuan utama POC adalah untuk
mengembangkan kosakata terkontro l (controlled vocabularies) mengenai
commit to user
29
query antar dataset dalam suatu atau beberapa basis data digunakanlah
ontologi.
Pada penelitian ini terdapat dua o ntologi yaitu O ntologi untuk S truktur
Tanaman (kosakata terkontrol dari istilah- istilah botani yang mendeskripsikan
struktur anatomi dan morfologis dari tanaman) serta Onto lo gi untuk Tahap
Perkembangan Tanaman. Pada Ontologi Struk tur Tana man, struktur tanaman
yang d imaksud meliputi organ, jaringan, tipe sel, dan relasi diantaranya. Istilah
(terms) pada PO disusun secara hirarkis, sehingga suatu child dapat memiliki
parent lebih d ari satu. Berikut contoh penyusunan istilah parent and child dari
PO:
Gambar 2.7 Conto h penyusunan istilah parent and child dari PO
c. The Plant Ontologi Database: a community resource for plant structure and
developmental stages controlled vocabulary and annotations
Oleh : S hula mit Av ra ham dkk (2008)
Penelitian ini bertujuan untuk membangun Plant Ontology Consortium
(POC) yang mengkolaborasikan database genom tanaman, menciptakan,
memelihara dan memfasilitasi penggunaan kosa kata terko ntrol (ontologi) bagi
commit to user
30
Plant Ontology (PO) merupakan sumber daya komunitas yang d irancang
untuk memenuhi kebutuhan terminologi secara seragam yang menjelaskan
struktur tanaman dan tahap perkembangan, dimana awalnya dikembangk an
berdasarkan ontologi untuk model spesies tanaman. Ontologi memungkinkan
pengguna untuk mendeskripsikan atribut struktur tumbuhan (anatomi d an
morfologi) untuk memberikan kerangka semantik dan perbandingan database.
Sebelumnya POC telah menambahkan ratusan istilah onto lo gi untuk pencarian
query dengan mengasosiasikan ribuan gen dan produk gen melalui browser
berbasis web yang baru diperbarui (http ://www.plantontolo gy.org/amigo/go.cgi
) .
d. Menuju Ontologi Keanekaragama n Hayati
Oleh : Andini S inta wati dan Lintang Yunia r Ba nowosari (2010)
Menurut jurnal penelitian ini, Keanekaragaman Hayati di Indonesia
berpotensi sebagai informative biogeografi. O ntologi diadopsi sebagai salah
satu cara untuk mengurangi masalah heterogenitas, sehingga membantu
kerjasama antara peneliti. Dengan demikian, dalam rangka memberikan
kerjasama kelompok, beberapa jenis mekanisme integrasi ontologi harus
disediakan.
Penelitian yang dilak ukan adalah bagaimana mengaplikasikan integrasi
ontologi dalam memproses penggunaan suatu penyajian data konseptual dan
hubungan-hubungannya untuk menghapuskan heterogenitas yang mungkin.
Untuk itulah, integrasi ontologi inilah yang kemud ian disiapkan untuk
pemetaan sumber data sehingga integrasi data semantik dapat tercapai.
e. Database XM L Pendukung Sistem O ntologi terhadap Informasi
Biodive rsitas
Oleh : Agung Prasetyo dan I M ade Wiryana (2010)
Penelitian ini bertujuan untuk membangun o ntologi yang akan diterapkan
dalam permasalahan keanekaragaman hayati burung yang terdapat pada Taman
commit to user
31
Burung pada Taman Burung TMII dipilih untuk dibahas ke dalam ontologi
karena lingkup ilmu pengetahuan ini dinilai kompleks, untuk itu perlu
didefinisikan batasan-batasan dari permasalahan yang akan dituangkan ke
dalam onto logi.
Ontologi yang dibuat dalam penelitian ini adalah menggunakan format
RDF/XML, dan disimpan di dalam suatu database XML native, dan
memperlak ukannya sebagai dokumen XML. Dengan menyimpan ontologi k e
dalam sistem database XML native, maka teknologi XML seperti XQuery dan
XPath dapat d igunakan untuk mengolah onto lo gi ini. Kemudian digunakan
XML:DB API untuk melakukan manipulasi dok umen OWL yang terdapat
dalam eXist melalui aplikasi Java.
2.3 Rencana Penelitian
Penelitian yang akan dilak ukan adalah merancang pemodelan ontolo gi
dengan domain permasalahan Etnobotani d i Indonesia. Dalam penelitian ini
Penulis akan menerapkan tahap-tahap pembangunan ontologi untuk do main
pengetahuan tentang tanaman etnobo tani. Ontologi yang dibangun
dimaksudkan untuk menemukan relasi antara etnobotani dengan atribut lain
yang dimilikinya serta memudahkan pencarian informasi taksonomi, ekologi
suatu etnobotani, serta etnis yang memanfaatkan etnobotani di Indonesia.
Ontolo gi akan dibuat dengan format OWL dan menggunakan Jena AP I agar
model onto lo gi dapat dilihat melalui SPARQL.
Sedangkan untuk pengujian, akan d irancang suatu prototipe untuk
menamp ilkan hasil pengujian query terhadap terhadap ontologi yang d ibuat.
Penelitian ak an d ilakukan berdasarkan tahap-tahap yang telah dijelaskan dalam
commit to user
32 BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian diuraikan ke dalam skema tahapan penelitian untuk
memberikan petunjuk yang jelas, teratur, dan sistematis sepert i yang ditunjukkan
pada Gambar 3.1.
Kajian Awal
Pengumpulan Data
Konstruksi dan Imple mentasi Ontologi
Tahap Konseptualisasi Tahap Encoding
Pengujian Ontologi
Gambar 3.1 Diagram Block Utama Metode penelitian
commit to user
33 3.1 Kajian Awal
Kajian awal dilakukan dengan studi pustaka. Tahap kajian awal diawali
dengan memahami konsep dasar tentang Ontologi dan Etnobotani. S tud i pustaka
dilakukan dengan melakukan kajian terhadap semua teori yang mendukung
tercapainya tujuan skripsi ini baik berupa buku, jur nal dan artikel ilmiah, maupun
website yang berhubungan dengan O ntologi, dan Etnobotani di Indonesia.
3.2 Pengumpulan Data
Tahap pengumpulan data ditempuh guna mendapatkan informasi dan
pengetahuan dari literatur- literatur yang berkaitan dengan objek yang dikaji serta
untuk memperoleh ketepatan langkah pelaksanaan sistem. Informasi yang
diperlukan diperoleh d engan observasi maupun wawancara para ahli, serta dengan
mempelajari literatur-literatur mengenai onto lo gi, owl, sparql dan sebagainya.
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data primer dan d ata sekunder.
a. Data Primer
Tahapan yang dilakukan dalam pengumpulan data primer adalah mengumpulkan
semua info rmasi mengenai etnobotani melalui wawancara ahli Pro f. Dr. Okid
Parama Astirin, MS selaku Staf peneliti PP LH- LPPM-UNS.
b. Data Sekunder
Tahapan yang dilakukan dalam pengumpulan data sek under adalah mencari
pustaka yang memuat data etnobotani yang digunakan oleh berbagai etnis d i
Indo nesia, yaitu berupa makalah dalam seminar, jurnal dan pustaka lainnya.
Data sekunder diperoleh dari berbagai pustaka, yaitu :
1) Diktat K uliah Etnobotani (2008 )
2) Prosiding Seminar Hasil- hasil Penelitian Bidang Ilmu Hayat
Laboratorium Etnobotani, Balitbang Botani-Puslitbang
Biologi-LIPI, Bogor (1999)
3) Makalah Utama Seminar Hasil- hasil Penelitian Optimalisasi Peran
IPTEK dalam Mendukung Peningkatan Produktivitas Hutan dan
commit to user
34
4) Journal of Tropical Ethnobiology vol.1, no 1, The Ethnobiological
Society of Indonesia, Laboratorium Etnobotani, Balitbang Bo
tani-Puslitbang Biologi- LIPI, Bogor (2004)
3.3 Konstruksi dan Implementasi Ontologi
Pada tahap ini akan d ilakukan pembuatan rancangan onto lo gi pada domain
pengetahuan etnobo tani yang melip uti tahap-tahap berikut ini :
a. Penentuan Domain
Pada dasarnya metode ini adalah capture knowledge dari tahap pengumpulan
data. Domain yang digunakan dalam penelitian ini terbatas tentang :
1) etnobotani yang tumbuh di Indonesia, beserta pemanfaatan, cara
pemakaian, faktor eko logi dan persebarannya. 2) Etnis asli yang ada di Indonesia.
Tahap berikutnya setelah penentuan Domain adalah tahap penggunaan ulang
(reusable). Namun pada penelitian ini tahap penggunaan ulang tidak dilakukan
karena ontologi tentang etnobotani belum pernah dibuat sebelumnya oleh peneliti
lain.
b. Penentuan Istilah (Terms)
Pada tahap ini akan d itentukan istilah- istilah yang berhubungan dengan
etnobotani. Untuk menentukan istilah- istilah yang terkait ini, dilak ukan dengan
stud i pustaka.
c. Penentuan Class dan Hirark i Class
Pada tahap ini dilak ukan penentuan Class beserta Hirarkinya. Untuk pembuatan
class dan hierarkinya serta pengisian instances masing- masing class dan
subclassnya d ilakukan pada framework protege, dan d isimpan dengan file
berekstensi o wl. Dalam ontolo gi ini rencananya akan dibangun beberapa class
commit to user
35
1) Class nama_tanaman Class untuk nama-nama spesies etnobotani
Indo nesia, akan memilik i beberapa sub Class seperti namaLatin dan
namaLokal
2) Class etnis Class untuk nama- nama etnis Indo nesia.
3) Class habitat Class untuk menyatakan habitat asli tumbuhnya
etnobotani.
4) dan lain- lain.
d. Penentuan Properties
Pada tahap ini dib uat properties/relasi antara konsep yang telah dibuat di atas.
Jenis properties dibedakan menjadi dua, yaitu Object properties, dan datatype
properties.
e. Penentuan Batasan (Facets)
Pada tahap ini dib uat batasan pada properties yang telah dibuat sebelumnya.
f. Pembuatan In stance
Pada tahap ini akan dibuat instance yang terdiri dari jenis-jenis etnobotani di
Indo nesia dll.
Implementasi Onto logi akan dilakukan dengan bantuan program Protégé 3.4.7
sebagai ontology editor. Hasil dari inplementasi ini adalah suatu o ntologi
etnobotani dan persebarannya di Indonesia dengan format OWL sebagai language
nya.
3.4 Pengujian O nto logi
Pada tahap ini akan dilakukan pembuktian terhadap ontologi tertentu dengan
menggunakan bahasa query SPARQL.
Pengujian penalaran pengetahuan semantis dari onto logi dalam tugas ak hir
ini adalah dengan imp lementasi P rototipe yang memanfaatkan ontologi yang telah
commit to user
36
query tertentu terhadap o nto lo gi pada antarmukanya. Prototipe ini diharapkan
dapat menunjukkan apakah ontologi yang dibuat mampu menangani knowledge
management dari domain etnobo tani. Dalam pemb uatan prototipe ini akan
digunakan bahasa pemro graman Java dan API Jena.
Skenario pengujian ontologi sebagai berikut :
pengetahuan yang mampu disajik an dalam prototipe ini terbatas dalam lingkup
domain etnobotani yang sudah ditetapkan.
Dalam pembangunan aplikasi, spesifikasi perangkat keras dan perangkat
lunak yang digunakan yaitu
a. Perangkat Keras
Dalam pembangunan prototipe, berjalan pada komputer dengan spesifikasi
sebagai berik ut:
Processor : Intel Core i3 2330M 2.2 GHz
RAM : 2 GB
Hard Disk : 500 GB
b. Perangkat Lunak
Pembangunan prototipe menggunakan lingkungan perangkat lunak sebagai
berikut :
Framework ontologi : Protege 3.4.7
Framework semantik : Jena Java RDF API and toolkit
Programming Language : Java
JDK (Java Development Kit) : Java 7 S tandard Edition
c. Software pendukung
Operating System : Microsoft Windows 7 Basic Documentation : Microsoft O ffice Word 2007
commit to user
37 BAB IV
HASIL DAN PEM BAHASAN
1.1 Scope Pengetahuan Ontolog i Etnobotani Indonesia
Domain pengetahuan yang dikembangkan pada O ntologi ini adalah mengelola
pengetahuan yang ad a di dalam Etnobotani pada Etnis asli Indonesia. Untuk
penelitian ini terdapat beberapa komponen kajian etnobotani yang d imasukkan ke
dalam penyusunan o ntologi, yaitu :
a. Kajian etnoekologi
Scope pengetahuan yang termasuk dalam k ajian ini yaitu pada faktor- faktor
yang mempengaruhi tumbuhnya suatu tanaman, terutama pada faktor
abiotik. Antara lain :
Hab itat
Hab itus
Vegetasi
Ik lim, dan curah hujan
Topografi wilayah, meliputi bujur dan lintang.
b. Kajian etnoantropologi
Scope pengetahuan yang termasuk dalam k ajian ini yaitu pada pemanfaatan
tanaman etnobo tani di suatu etnis tertentu. Misal untuk upacara adat, untuk
kerajinan, pembasmi hama, dan sebagainya.
1.2 Hierark i Ontologi Etnobotani Indonesia
Model data ontologi etnobotani Indonesia d ivisualisasikan dalam suatu hierarki
class seperti pada Gambar 4.1. Class-class onto lo gi dan instancesnya d ibuat
menggunakan framework ontologi, yaitu P rotege 3.4.7. Dalam ontologi ini
didefinisikan sembilan class yaitu Bagian_ygdipakai, desk ripsi_fisik, etnis,
etnoekologi, lokasi_ administratif, lokasi_global, nama_Tanaman, Pemanfaatan,
dan Pengolahan d imana kesembilan class tersebut merup akan subcla ss dari
owl:Thing. Model ontologi ini kemudian disimp an dalam file berekstensi owl
commit to user
38