• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori persepsi guru tentang komunikasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teori persepsi guru tentang komunikasi "

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

anyak pengertian persepsi yang diketengahkan oleh berbagai ahli, masing-masing ahli memaknai sesuai disiplin keilmuannya. konsepsi mengenai persepsi itu sendiri seyogianya telah lama dikembangkan dalam berbagai teori psikologi. dan suatu teori khusus mengenai persepsi yang cukup berpengaruh adalah teori atribusi. teori atribusi menurut saparinah (1976:52) adalah teori mengenai bagaimana orang membuat penjelasan kausal atau mengenai bagaimana mereka menjawab pertanyaaan yang dimulai dengan mengapa? teori tersebut menekankan pada informasi yang dipergunakan orang dalam menarik kesimpulan kausal, dan apa yang dilakukan dengan informasi tersebut untuk menjelaskan pertanyaan kausal.

menurut mulyana (2000:168) persepsi adalah inti komunikasi, sedangkan penafsiran (interpretasi) adalah inti persepsi, yang identik dengan penyandian-balik(decoding) dalam proses komunikasi.selanjutnya mulyana mengemukakan persepsilah yang menentukan kita memilih suatu pesan dan mengabaikan pesan lian.

persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita (robert a. baron dan paul b. paulus, understanding human relations; a practical guide to people at work, 1991:34).

persepsi timbul karena adanya dua faktor baik internal maupun eksternal. faktor internal tergantung pada proses pemahaman sesuatu termasuk di dalamnya sistem nilai, tujuan, kepercayaan dan tanggapannya terhadap hasil yang dicapai. faktor eksternal berupa lingkungan. kedua faktor ini menimbulkan persepsi karena didahului oleh suatu proses yang dikenal dengan komunikasi.

persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penghlihatan, pendengaran, penghayatan, persaan, dan penciuman. kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu penafsiran yang untik terhadap situasi, dan bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi. seperti dikatakan krech (dalam thoha, 2000:124) persepsi adalah suatu proses kognitif yang kompleks dan mengahasilkan suatu gambar unik tentang kenyataan yang barangkali berbeda dari kenyataannya.

dalam buku mulyana ( 2000:167) john r.wenburg dan william w.wilmot : persepsi dapat didefinisikan sebgai cara organisme memberi makna. rudolph. f.verderber mendefinisikan persepsi adalah proses menafsirkan informasi indrawi. sedangkan j. cohen mengemukakan persepsi adalah adalah sebgai interprestasi bermakna atas sensasi sebgai representatif objek eksternal; persepsi adalah pengetahuan yang tampak mengenai apa yang diluar sana (mulyana:

(2)

memori adalah proses penyimpanan informasi dan memanggilnya kembali. desiderato (19769:129) dalam rakhmat (1996:51) mengemukakan bahwa persepsi adalah pengamatan tentang objek, peristiwa, atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. persepsi ialah memberi makna pada stimuli inderawi(sensory stimuli). hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. sensasi adalah bagian dari persepsi. walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderwai tidak hanya melibatkan sensasi, tapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori.

atensi (perhatian) adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesdaran pada saat stimuli lainnya melemah (kenneth e. anderson, 1972:46) dalam rakhmat (1996:52). atensi sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal penarik perhatian. faktor eksternal penarik perhatian ditentukan oleh faktor-faktor situasional dan personal. stimuli diperhatikan karena mempunyai sifat-sifat yang menonjol antara lain: gerakan, intensitas stimuli, kebaruan, dan perulangan. sedangkan ataensi yang disebabkan faktor internal penaruh perhatian adalah faktor-faktor biologis dan faktor-faktor sosiopsikologis.

krech dan crutchfield dalam rakhamt mengemukakan bahwa faktor-faktor yang menentukan persepsi adalah persepsi bersifat selektif secara fungsional. faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi adalah kerangka rujukan yang dimulai persepsi objek, kemudian persepsi sosial.

lebih lanjut gibson, ivancevich dan donelly (1996:134) mengemukakan bahwa persepsi membantu individu dalam memilih, mengatur, menyimpan dan menginterpretasikan rangsangan menjadi gambaran dunia yang utuh dan berarti. oleh sebab itu, persepsi berperan dalam penerimaan rangasangan,

mengaturnya, dan menterjemahkan atau menginterpretasikan rangsangan yang sudah teratur itu untuk mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap.

senada dengan itu, davidoff (1981:253) mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, nampak bahwa daya persepsi manusia mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya, sementara itu gito sudarmo dan sudita (2000:16) menyebutkan persepsi adalah suatu proses

memperhatikan dan menyeleksai, mengorganisasikan dan menafsirkan stimulus lingkungan. proses memperhatikan dan menyeleksi terjadi karena setiap saat panca indera kita(indera pendengar, perasa, penghlihata, penciuman dan indera peraba) dihadapkan kepada begitu banyak stimulus lingkungan. winardi(1992:42) mengemukakan bahwa konsp persepsi merupakan proses kognitif, di mana seseorang individu memebrikan arti pada lingkungan. mengingat bahwa masing-masing orang memberi artinya sendiri terhadap stimuli maka dapat dikatakan bahwa individu-indivdiu yang berbdeda, melihat hal yang sama dengan cara yang berbeda. lebih lanjut winardi (1992:44) mengemukakan bahwa persepsi meliputi aktivitas menerima stimuli, mengorganisir stimuli tersebut, dan menterjemahkan atau menafsirkan stimuli yang terorganisir tersebut sedemikian rupa, sehingga ia dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap.

(3)

pendatatan yang benar dan objektif karena dilatrbelakangi oleh kepentingan yang berlainan sehubungan dengan hal itu maka persepsi itu sebetulnya suatu proses.

roucek (1987:22) persepsi merupakan proses menyadari adanya sesuatu hal dan memebrikan suatu tanggapan, ;azim disebut persepsi. kesadaran itu diperoleh berkat penggunaan panca indera. akan tetapi saran sensoris manusia saja tidak menjelaskan proses pemahaman. panca idera hanya merupakan alat fisik yang menerima kesan terhadap objek yang dijumpai manusia dalam kehidupan sehari-hari. mulyana(2000:171) persepsi terbagi dua yaitu persepsi terhadap objek (lingkungan fisik dan persepsi terhadap manusia). persepsi terhadap manusia lebih sulit dan kompleks, karena manusia bersifat dinamis. persepsi terhadap manusia sering dijumpai persepsi sosial, meskipun kadang-kadang manusia disebut juga objek. perbedaan kedua tersebut yaitu : 1. persepsi terhadap objek melalui lambang-lambang fisik, sedangkan persepsi terhadap orang melalui lambang-lambang-lambang-lambang verbal dan non verbal. orang lebih aktif daripada kebanyak objek dan lebih sulit diramalkan. 2. persepsi terhadap objek menanggapi sifat-sifat lura, sedangkan persepsi terhadap orang menanggapi sifat-sifat luar dan dalam (perasaan, motif, harapan dan sebagainya). kebanyakan oebjek tidak mempersepsi anda, ketika anda mempersepsi objek itu, akan tetapi orang mempersepsi anda pada saat anda mempersepsi mereka. dengan kata lain persepsi terhadap manusia bersifat interaktif.

menurut mulyana(2000:75) persepsi sosial adalah sebgai berikut :”proses menangkap arti objek-objek sosial dan kejadian-kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita. setiap orang memiliki gambaran yang berbeda mengenai realitas disekelilingnya. beberapa prinsip mengenai persepsi sosial sebgaimana dikemukan oleh mulyana(2000:75) sebagai berikut :

a. persepsi berdasarkan pengalam yaitu persepsi manusia terhadap seseorang, objek atau kejadian dan reaksi mereka terhadap hal-hal itu berdasarkan pengalaman dan pembelajaran masa lalu mereka berkaitan dengan orang, objek atau kejadian serupa

b. persepsi bersifat selektif. setiap manusia sering mendapat rangsangan indrawi sekaligus, untuk itu perlu selektif dari rangsangan yang penting. untuk ini atensi suatu rangsangan merupakan faktor utama menentukan selektivitas kita atas rangsangan tersebut.

c. persepsi bersifat dugaan. persepsi bersifat dugaan terjadi oleh karena data yang kita peroleh mengenai objek lewat penginderaan tidak pernah lengkap. persepsi merupakan loncatan langung pada kesimpulan. d. persepsi bersifat evaluatif. persepsi bersifat evaluatif maksudnya adalah kadangkala orang menafsirkan pesan sebgai usatu proses kebenaran, akan tetapi terkadang alat indera dan persepsi kita menipu kita, sehingga kita juga ragu seberapa dekat persepsi kita dengan realitas yang sebenarnya. untuk itu dalam mencapai suatu tingkat kebenaran perlu evaluasi-evaluasi yang seksama

e. persepsi bersifat kontekstual. persepsi bersifat kontekstual merupakan pengaruh paling kuat dalam mempersepsi suatu objek. konteks yang melingkungi kita ketika melihat seseorang, sesuatu objek atau sesuau kejadia sangat mempengaruhi struktur kognitif, pengharapan prinsipnya yaitu : 1. kemiripin atau kedekatan dan kelengkapan 2. kita cenderung mempersepsi suatu rangsangan atau kejadia yang terdiri dari struktur dan latar belakangnya.

(4)

persepsi, mulai dari adanya stimuls, dan seterusnya. menurut rakhmat (1999:51-67) terdapat beberapa unsur dalam persepsi yaitu : perhatian, fungsional, struktural dan memori. perhatian yaitu proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli

lainnyamelemah. perhatian dibentuk oleh faktor eksternal atau faktor internal. faktor eksternal adalah stimuli diperhatikankarena mempunyai sifat-sifat yang menonjol antara lain : gerakan, internsitas stimuli, kebaruan, dan perulangan. gerakan, seperti organisme yang lain manusia secara visual tertarik pada objek-objek yang bergerak. intensitas stimuli. kita akan memperhatikan stimuli yang lebihmenonjol dari stimuli yang lain. kebaruan )(novelty) adalah hal-hal yang baru, yang luar biasa, yang berbeda, akan menarik perhatian. perulangan adalah hal-hal yang disajikan berkali-berkali, bila disertai dengan sedikit variasi akan menarik perhatian. disini unsur familiarity (yang sudah kita kenal) berpadu dengan unsur novelty (yuang baru kita kenal). perulangan juga mengandung unsur sugesti : mempengaruhi bawah sadar kita. faktor internal meliputi faktor biologis (kebutuhan dasar manusia), faktor sosiopsikologis, dan motif sosiogenis (sikap, kebiasaan dan kemauan).

unsur fungsional menurut rakhmat (1999:55) berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk apa yang kita sebut sebgai fakto-faktor personal. unsur struktural menurut rakhmat (1999:58) semata-mata dari sifat stimuli fisik, memori menurut schlessinger dan groves (dalam rakhmat, 1999:62) adalah sistem yang berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta-fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya. mussen dan roxenzweig (dalam rakhmat, 1999:63) mengemukakan bahwa secara singkat memori melewati tiga proses yakni perekaman, penyimpanan, pemanggilan sebgai berikut :

1. perekaman (disebut encoding) adalah pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkuit saraf internal

2. penyimpanan (storage), proses yang kedua adalah menentukan berapa lama informasi itu berada beserta kita, dalam bentuk apa dan dimana. penyimpanan bias aktif atau pasif. kita menyimpan secara aktif, bila kita menambahkan informasi tambahan kita mengisi informasi tidak lengkap dengan

kesimpulan kita sendiri (inilah yang menyebabkan desas-desus menyebar lebih banyak dari volume yang asal) mungkin secara pasif terjadi tanpa penambahan.

3. pemanggilan (retrieval) dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi adalah menggunakan informasi yang disimpan.

berkaitan dengan pemanggilan rakhmat (1999:64) mengemukakan ada empat cara proses pemanggilan, yaitu :

1, peringatan (recall), yaitu proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta dan informasi secara verbatim (kata demi kata) tanpa petunjuk yang jelas

2. pengenalan(recognition), yaitu kesuksesan untuk mengingat kembali sejumlah fakta, lebih mudah mengenalnya kembali

3. belajar lagi(relearning), yaitu menguasai kembali pelajaran yang sudah pernah kita peroleh termasuk pekerjaan memori

4. redintegrasi(redintegration), yaitu merekonstruksi seluruh masa lalu

(5)

dunia luar. aristoteles dalam kuper dan kuper (2000:960) mengklasifikasikan panca indra menjadi lima keategori yaitu penghlihatan (vision), pendengaran (audition), penciuman (olfaction), perasa (gustation) dan perabaan. adalah biasa pada saat ini untuk membagi lebih jauh perabaan menajdi kategori yang terpisah yaitu, sakit, sentuha, kehangatan, dingin, dan sensasi organis. selain itua da dua indera yang biasanya tidak kita sadari, yaitu, kinestesis, indra tentang posisi tungkai kita dan indera verstibula yang memberikan informasi tentang gerakan dan posisi kepala.

kuper dan kuper (2000:961) nilai penting teoritis dari sensasi dan persepsi berasal dari sudut pandang empiris dalam filsafat yang berusaha menjaga pengetuhan diperantarai oleh panca indera. dalam konteks ini, keterbatasan sistem sensorik, ilusi, dan distorsi akibat pengalaman masa lalu biasa yang berkaitan dengan faktor-faktor motivasional memainkan suatu peran sangat penting, karena menentukan isi pikiran. keunggulan dari pandangan empiris adalah bertanggung jawab terhadap penekanan atas kajian terhadap sensasi dan persepsi selama sejarah awal psikologi eksperimental. sistem sensorik bisa bertindak secara mandiri atau bersama dengan indra yang lain.

dalam kasus psikologi gestalt, dalam konteks teori yang menekankan peran perhatian atau motivasi, si pengamat hanya memilih aspek –aspek tertneu dari lingkungan untuk memproses dengan kata lian, kita cenderung meilhat dan mendengar apa yang ingin kita lihat dan dengan dan secara aktif menolak informasi yang mempunyai potensi untuk memalukan atau tidak menyenangkan. fenomena persepsi sektif ini diilustrasikan melalui reaksi kepada stimuli kesakitan yang mungkin bisa diminimalisasi atau diabaikan jika dikatikan dengan peristiwa-peristiwa yang menyenangkan seperti kemenangan dalam perlombaan atletik, tapi bisa dilamporkan sebgai sangat menyakitakan dalam kondisi-kondisi yang menyenangkan. karena kajian tentang persepsi manusia sering bergantung pada laporan verbal dari seorang pengamat, sehingga tidak bisa dievaluasi secara langsung dan karena itu tunduk pada modifikasi melalui keadaan-keadaan motivasional.

Persepsi ; Pengertian, Definisi dan Faktor

yang Mempengaruhi

(6)

Persepsi

merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu suatu stimulus yang

diterima oleh individu melalui alat reseptor yaitu indera. Alat indera merupakan penghubung

antara individu dengan dunia luarnya. Persepsi merupakan stimulus yang diindera oleh individu,

diorganisasikan kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan mengerti tentang

apa yang diindera.

Dengan kata lain

persepsi

adalah proses yang

menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia. Persepsi merupakan

keadaan integrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya. Apa yang ada dalam diri

individu, pikiran, perasaan, pengalaman-pengalaman individu akan ikut aktif berpengaruh dalam

proses persepsi.

Gibson, dkk (1989) dalam buku Organisasi Dan Manajemen Perilaku, Struktur;

memberikan definisi persepsi adalah proses kognitif yang dipergunakan oleh

individu untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya (terhadap obyek).

Gibson juga menjelaskan bahwa persepsi merupakan proses pemberian arti

terhadap lingkungan oleh individu. Oleh karena itu, setiap individu memberikan

arti kepada stimulus secara berbeda meskipun objeknya sama. Cara individu

melihat situasi seringkali lebih penting daripada situasi itu sendiri.

Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa

pengertian persepsi

merupakan suatu proses

penginderaan, stimulus yang diterima oleh individu melalui alat indera yang kemudian

diinterpretasikan sehingga individu dapat memahami dan mengerti tentang stimulus yang

diterimanya tersebut. Proses menginterpretasikan stimulus ini biasanya dipengaruhi pula oleh

pengalaman dan proses belajar individu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

pada dasarnya dibagi menjadi 2 yaitu Faktor

Internal dan Faktor Eksternal.

1. Faktor Internal

yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri

individu, yang mencakup beberapa hal antara lain :

(7)

sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga

interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.

Perhatian. Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk memperhatikan

atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu obyek.

Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian seseorang terhadap obyek juga

berbeda dan hal ini akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu obyek.

Minat. Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada seberapa banyak energi

atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual vigilance

merupakan kecenderungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus

atau dapat dikatakan sebagai minat.

Kebutuhan yang searah. Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya seseorang

individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan

dirinya.

Pengalaman dan ingatan. Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti

sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui

suatu rangsang dalam pengertian luas.

Suasana hati. Keadaan

emosi

mempengaruhi

perilaku

seseorang, mood ini menunjukkan

bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana

seseorang dalam menerima, bereaksi dan mengingat.

2. Faktor Eksternal

yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik dari linkungan dan

obyek-obyek yang terlibat didalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang

seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseoarang merasakannya

atau menerimanya. Sementara itu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah :

Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus. Faktor ini menyatakan bahwa semakin

besrnya hubungan suatu obyek, maka semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan

mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek individu

akan mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk persepsi.

Warna dari obyek-obyek. Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak, akan

lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan yang sedikit.

Keunikan dan kekontrasan stimulus. Stimulus luar yang penampilannya dengan

latarbelakang dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu yang lain

akan banyak menarik perhatian.

(8)

Motion atau gerakan. Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap obyek yang

memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan obyek yang diam.

0

Tinjauan Teori tentang Persepsi

Posted by suwito on 04/06/2012

Posted in: Bahan Kuliah. Tagged: Ilmiah, kajian pustaka, persepsi, tesis, tinjauan teori. Leave a Comment Persepsi merupakan proses dimana seseorang memperoleh stimulus atau rangsangan dari lingkungannya yang ditangkap melalui alat indera yang melibatkan faktor pikiran dan emosi sehingga menjadi sesuatu yang bermakna dan menimbulkan respon tertentu. Menurut Atkinson et.al. (1997: 201) persepsi adalah suatu proses dimana terjadi pengorganisasian dan penafsiran pola stimulus dalam lingkungan. Prosesnya adalah, stimulus yang diindera oleh individu kemudian diorganisasikan dan diintepretasikan, sehingga individu menyadari/mengerti tentang apa yang diindera tersebut.

Menurut Thoha (2002: 123) persepsi didefinisikan sebagai proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman. Sedangkan Irwanto (2002: 71) menyatakan persepsi adalah proses diterimanya rangsangan (objek, kualitas, hubungan antar gejala, maupun peristiwa) sampai rangsangan itu disadari dan dimengerti karena persepsi bukan sekedar penginderaan. Dengan demikian dalam pembentukan persepsi terjadi proses penerimaan dan penafsiran terhadap stimulus yang diindera oleh individu yang bertujuan memberikan arti terhadap stimulus tersebut. Robbins (2001: 124) menyatakan bahwa tujuan dari penginterpretasian atau penafsiran stimulus adalah ketika individu mempersepsikan sesuatu agar stimulus itu dapat memberi makna kepada lingkungan mereka.

Proses pemberian arti melalui pengorganisasian dan penafsiran rangsangan akan mempengaruhi perilaku individu sebagai bentuk respon terhadap rangsangan yang diterima dari lingkungannya. Semakin baik pengorganisasian yang dilakukan dan semakin komprehensif penafsiran yang diperoleh maka akan semakin baik pula respon terhadap rangsangan tersebut dan begitu juga sebaliknya.

Dari pengertian di atas dapat diuraikan bahwa proses pembentukan persepsi melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :

1. Penerimaan rangsangan

Pada proses ini seseorang menerima rangsangan dari luar (objek, situasi maupun peristiwa) yang diterima oleh inderanya baik itu penglihatan, pendengaran, perasaan maupun penciuman.

(9)

Rangsangan yang diterima oleh seseorang terkadang begitu banyak dan bervariasi. Pada proses ini rangsangan yang diterima diseleksi berdasarkan seberapa menariknya rangsangan tersebut untuk diberikan perhatian yang lebih.

3. Proses pengorganisasian

Rangsangan yang sudah diseleksi kemudian diorganisasikan dalam bentuk yang mudah dipahami untuk kemudian dilakukan proses selanjutnya.

4. Proses Penafsiran

Pada proses ini dilakukan penafsiran terhadap rangsangan yang sudah diseleksi untuk mendapatkan arti dan informasi.

5. Proses Pengecekan

Setelah diperoleh arti atau makna dari informasi yang ditafsirkan, kemudian dilakukan pengecekan yang intinya adalah melakukan review terhadap kebenaran informasi tersebut.

6. Proses reaksi

Proses ini sudah mengarah pada bagaimana seseorang akan bereaksi terhadap informasi yang diperolehnya.

Sesuai dengan teori dan tahapan persepsi dapat disimpulkan bahwa pembentukan persepsi sangat dipengaruhi oleh pengamatan dan penginderaan terhadap proses berpikir yang dapat mewujudkan suatu kenyataan yang diinginkan oleh seseorang terhadap suatu obyek yang diamati. Dengan demikian persepsi merupakan proses transaksi penilaian terhadap suatu obyek, situasi atau peristiwa.

Walgito (1991) mengemukakan terdapat 3 (tiga) aspek utama dari persepsi, yaitu : 1. Kognisi

Aspek kognisi menyangkut komponen pengetahuan, pandangan, pengharapan cara berpikir/mendapatkan pengetahuan, dan pengalaman masa lalu serta segala sesuatu yang diperoleh dari hasil pikiran individu pelaku persepsi.

2. Afeksi

Aspek afeksi menyangkut komponen perasaan dan keadaan emosi individu terhadap objek tertentu serta segala sesuatu yang menyangkut evaluasi baik buruk berdasarkan faktor emosional seseorang.

3. Konasi atau psikomotor

(10)

Persepsi bersifat tidak statis melainkan berubah-ubah atau dengan perkataan lain sifatnya relatif atau tidak absolut, tergantung pada pengalaman sebelumnya, sehingga akan menghasilkan suatu gambaran unik tentang kenyataan yang barangkali sangat berbeda dari kenyataannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Luthans (2006: 194) yang menyatakan persepsi merupakan proses kognitif kompleks yang menghasilkan gambaran dunia yang unik, yang mungkin agak berbeda dengan realita.

Proses pembentukan persepsi pada individu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Robbins (2001: 89) mengatakan bahwa faktor-faktor yang berperan dalam membentuk persepsi seseorang dapat berada pada pihak pelaku persepsi (perceiver), dalam obyeknya atau target yang dipersepsikan, atau dalam konteks situasi dimana persepsi itu dilakukan. Secara ringkas ketiga faktor tersebut, dilihat dalam gambar berikut.

Gambar 1: Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Sumber: Robbins (2001: 90) 1. Pelaku Persepsi/Pemersepsi

Bila seorang individu memandang pada suatu objek dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dari pelaku persepsi individu itu. Faktor-faktor yang dikaitkan pada pelaku persepsi mempengaruhi apa yang dipersepsikankannya. Di antara karakteristik pribadi yang lebih relevan yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu, dan pengharapan (ekspektasi).

2. Target/Objek Persepsi

(11)

Gerakan (moving), prinsip gerakan ini menyatakan bahwa orang akan memberikan banyak perhatian terhadap obyek yang bergerak dalam jangkauan pandangannya dibandingkan dari obyek yang diam. Dari gerakan suatu obyek yang menarik perhatian seseorang ini akan timbul suatu persepsi. Sementara dari faktor ukuran, menyatakan bahwa semakin besar ukuran suatu obyek, maka semakin mudah untuk bisa diketahui atau dipahami. Bentuk ukuran akan mempengaruhi persepsi sesorang dan dengan melihat bentuk ukuran suatu objek orang akan mudah tertarik perhatiannya yang pada gilirannya dapat membentuk persepsinya.

3. Situasi

Situasi yang meliputi waktu, keadaan/tempat kerja, keadaan sosial dapat mempengaruhi persepsi kita. Seperti yang dikemukakan oleh Walgito (2002: 47), bahwa lingkungan atau situasi khususnya yang melatarbelakangi stimulus juga akan berpengaruh dalam persepsi, lebih-lebih bila objek persepsi adalah manusia. Objek dan lingkungan yang melatarbelakangi objek merupakan kebulatan atau kesatuan yang sulit dipisahkan. Objek yang sama dengan situasi yang berbeda, dapat menghasilkan persepsi yang berbeda.

Persepsi pada masing-masing individu memiliki kecenderungan berbeda satu dengan yang lainnya. Pareek (1984: 13) mengemukakan ada 4 (empat) faktor utama yang menyebabkan terjadinya perbedaan persepsi, yaitu :

1. Perhatian

Terjadinya persepsi pertama kali diawali oleh adanya perhatian. Tidak semua stimulus yang ada di sekitar dapat ditangkap semuanya secara bersamaan. Perhatian biasanya hanya tertuju pada satu atau dua objek yang menarik bagi kita.

2. Kebutuhan

Setiap orang mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, baik itu kebutuhan yang sifatnya menetap maupun kebutuhan yang sifatnya hanya sesaat, dimana masing-masing orang memiliki kebutuhan yang tidak sama antara satu dengan yang lainnya.

3. Kesediaan

Kesediaan adalah harapan seseorang terhadap suatu stimulus yang muncul, agar memberikan reaksi terhadap stimulus yang diterima lebih efisien sehingga akan lebih baik apabila orang tersebut telah siap terlebih dahulu.

4. Sistem Nilai

(12)

Pengertian persepsi menurut para ahli :

·Menurut Kotler (2000) menjelaskan persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti.

·Gibson, dkk (1989) dalam buku Organisasi Dan Manajemen Perilaku, Struktur; memberikan definisi persepsi adalah proses kognitif yang dipergunakan oleh individu untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya (terhadap obyek). Gibson juga menjelaskan bahwa persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu. Oleh karena itu, setiap individu memberikan arti kepada stimulus secara berbeda meskipun objeknya sama. Cara individu melihat situasi seringkali lebih penting daripada situasi itu sendiri.

·Walgito (1993) mengemukakan bahwa persepsi seseorang merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga individu sebagai satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya, motivasi serta sikapnya yang relevan dalam menanggapi stimulus. Individu dalam hubungannya dengan dunia luar selalu melakukan pengamatan untuk dapat mengartikan rangsangan yang diterima dan alat indera dipergunakan sebagai penghubungan antara individu dengan dunia luar. Agar proses pengamatan itu terjadi, maka diperlukan objek yang diamati alat indera yang cukup baik dan perhatian merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan pengamatan. Persepsi dalam arti umum adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang akan membuat respon bagaimana dan dengan apa seseorang akan bertindak.

Persepsi berarti analisis mengenai cara mengintegrasikan penerapan kita terhadap hal-hal di sekeliling individu dengan kesan-kesan atau konsep yang sudah ada, dan selanjutnya mengenali benda tersebut

(13)

menginterpretasikan stimulus ini biasanya dipengaruhi pula oleh pengalaman dan proses belajar individu.

 Gibson, dkk. 1997. Organisasi (Perilaku, Stuktur, Proses). Jild I, Edisi ke 8 (Alih Bahasa :

nunuk Adriani). Jakarta : Bina Rupa Aksara.

 Gibson, Ivancevich, Donnelly. 1997. Organisasi, Perilaku, Struktur, Proses. Jilid 1. Jakarta:

Binarupa Aksara

 Gitosudarmo, Indriyo. 1990 . Prinsip Dasar Manajemen. Yogyakarta: BPFE

Gibson, James, L Invacevich John M, dan Donnely, James H. 1993. Organisasi dan Manajemen:

Perilaku Struktur dan Proses (alih bahasa Djoerben Wahid ). Jakarta: Erlangga

Gambar

Gambar 1: Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Referensi

Dokumen terkait

Financial Strength (kekuatan keuangan) yang merupakan kondisi keuangan perusahaan berasal dari faktor eksternal dan internal.. Faktor eksternal antara

Serta banyak faktor yang menyebabkan hasil belajar IPA rendah yaitu faktor internal dan eksternal dari siswa.Faktor internal antara lain : motivasi belajar,

Faktor internal (yang timbul dari dalam dirinya sendiri) dan faktor eksternal (yang timbul dari luar individu). Yang termasuk faktor internal antara lain : bakat, kreativitas,

Faktor pencetus untuk memutuskan menerima atau menolak alternatif tindakan tersebut dapat bersifat internal (misalnya gejala), atau merupakan faktor eksternal

di lapangan yaitu anak memiliki faktor internal yaitu memiliki emosi yang masih labil, sedangkan faktor eksternal yaitu meliputi kurangnya perhatian dan kasih sayang dari

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Yusuf (2009) bahwa motivasi belajar dapat timbul karena faktor internal dan eksternal. Pertama, faktor internal antara lain: a) faktor

Menurut Purwanto (2013) selain motivasi berprestasi dan persepsi siswa tentang cara guru mengajar ada faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor internal

sekolah, dan lingkungan masyarakat (Abu Ahmadi, 1993: 79). Dalam kaitannya dengan metode resitasi, tentunya faktor internal dalam diri siswa dan faktor eksternal akan