STUDI KOMPARATIF SPIRITUALITAS KEISLAMAN DAN
PAN-SENSUALISME
SR3007
Kajian Seni I
Dosen:
Dr. Yustiono
Disusun oleh:
Christine Gerriette Henriette Toelle
17014023
FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
PROGRAM STUDI SENI RUPA
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Dalam tabel periodisasi seni rupa modern Indonesia yang tercantum dibawah, ditemukan beberapa kecenderungan gaya berkesenian yang muncul dalam konteks waktu yang beragam di Indonesia. Didalamnya dapat dilihat kemunculan spiritualitas Islam dan pan-sensualisme dalam garis kultural mau pun corak gaya seni rupa modern. Tabel ini dapat menjadi indikator keberadaan kultur yang dominan dari kedua kecenderungan tadi. Dalam kajian komparatif kali ini, akan dipaparkan nilai dari masing-masing kecenderungan, disertai dengan persamaan yang kemudian akan membantu penulis dalam memberikan paparan evaluasi secara keseluruhan.
Tabel 1. Periodisasi Seni Rupa Modern Indonesia Dalam Konteks Modernitas Estetik, Kultural dan Sosial
I. Pan-Sensualisme dan Spiritualisme Tauhid
Mengambil latar dari periodisasi tahun 1970 hingga 1980-an, penulis melihat keberadaan menarik dari dua unsur seni rupa yang sangat berbeda, dan pada akhirnya menarik dua unsur ini kedalam kajian komparatif. Bukan hanya muncul sebagai corak gaya berkesenian, namun juga dua unsur ini muncul sebagai bentukan kultur yang berjalan dari 1960 awal hingga menembus abad milenial. Unsur tersebut merupakan spritualitas keislaman dan pan-sensualisme. Secara literasi saja artian dari kedua nama unsur ini sudah sangat berbeda, tertimbang pula nilai-nilai atau sifat dan esensi-esensi dari pelakunya, berikut dibawah akan dipaparkan lebih lanjut oleh penulis.
A. Pan-Sensualisme
Pan-sensualisme, merupakan istilah yang dikembangkan oleh Yustiono sedari tahun 2000-an perihal pembacaannya pada fenomena seni rupa modern Indonesia. Dalam sebuah wawancara yang dituliskan dalam buku Identitas dan Budaya Massa : 'Aspek - Aspek Visual Indonesia' (Wicaksono, 2002: 110) beliau menyatakan bahwa Pan-Sensualisme sendiri berdiri dalam artian budaya yang berkait dengan kebendaan atau hal-hal yang menyentuh indrawi, yang sensus dan keduniaan. Gelombang ini kemudian bisa direlasikan dengan hal-hal yang lebih besar seperti pola-pola kapitalisme dan pola-pola produksi kapitalis. Kemudian menyebar ke seluruh dunia menjadi pola ekonomi kapitalis dengan sistem dan konsumsinya yang terkait dengan pandangan dunia Barat.
Selebihnya Yustiono memaparkan bahwa istilah ini sendiri turut pula berkaitan dengan perkembangan seni rupa modern dunia ketiga seperti Indonesia yang kemudian memiliki orientasi untuk memasuki suatu kecenderungan mutakhir dari seni Barat. Perihal ini kemudian dapat dilihat dalam catatan-catatan masuknya gerakan seni rupa baru kedalam skena seni rupa modern Indonesia di awal tahun 1970-an, membawa didalamnya seni-seni berlandaskan kultur populer, Neo-Dada, dan Optic Art.
erat dengan kecenderungan penilaian menggunakan sense atau indera, segala hal yang hanya ada dan dinilai dengan interpretasi fisikalitas manusia semata, kebendaan dan jasmaniah.
Dalam kajian ini, sub-pembahasan dalam perkembangan pan-sensualisme biasanya berasal dari perkembangan mulanya di Barat. Sebagaimana seperempat akhir abad ke-19 modernisme sudah mulai tercetuskan, dan kemudian teraplikasi secara nyata di abad ke-20. Pemikiran-pemikiran modernis ini dapat dilihat pada keberadaan Greenberg yang menyatakan jelas bahwa seni dan keberadaannya haruslah otonom dan terlepas dari segala unsur humanis lainnya. Mengedepankan seni yang sejajar dengan prinsip-prinisp modernisme, yakni kreativitas, keaslian dan kebaruan. Dimana seni menempatkan dirinya sebagai suatu hal yang menjunjung tinggi perkembangan estetis semata, untuk mencari nilai estetik yang semakin tinggi.
Kepercayaan ini kemudian mengeluarkan sekian banyak gaya dan kecenderungan, yang secara padat dapat dirujuk pada kecenderungan seniman Barat untuk berkesenian dalam ranah segi formal untuk menentang bentuk-bentuk yang sudah ada di alam, dan terutama menentang aliran klasik realis yang dianggap 'membohongi' identitas kanvas dalam seni lukis dengan menghadirkan kedalaman. Setelah ini perpindahan ibu kota seni dari eropa ke New York memberikan kesempatan perkembangan seniman-seniman baru abstrak ekspresionisme.
sebagai sebuah konsep pemikiran dan penggunaan found objects dan ready made sebagai justifikasi seni konseptual.
Bentukan akhir dari masa modern di Barat inilah yang kemudian 'diadopsi' oleh kalangan muda Indonesia baru sekitar awal tahun 1970-an. Melihat gelombang seni dan kultur mutakhir di Barat sebagai suatu bentuk eksotisme yang dipercayai mampu membawa seni rupa Indonesia kedalam suatu perkembangan yang masih memercayai kemajuan estetik.
Dalam catatan sejarah, contoh dari perkembangan gelombang pan-sensualisme ini dapat diawali oleh cetusan awal Gerakan Seni Rupa Baru dan pameran mereka tahun 1975. Catatan ini dipaparkan oleh Sanento Yuliman dalam tulisannya 'Kemana Semangat Muda?' tahun 1987. Di dalam tulisan ini Sanento Yuliman memaparkan beberapa cerita sewaktu Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) menyelenggarakan pameran perdana dan salah satu yang 'terkuat' diantaranya bertajukan "Pameran Seni Rupa Baru Indonesia 75".
Beberapa kecenderungan yang ditemukan dalam pemuda-pemuda pada masa tersebut, menceritakan penolakan yang digerakan oleh kelompok ini terhadap proses sublimasi pengerjaan tangan yang dianggap mampu menceritakan kepekaan watak dan jiwa seperti anggapan perupa-perupa era 1940 hingga 1960-an. Dalam gerakan ini juga ditemukan sifat konkret, atau kebendaan, menceritakan benda nyata dan bukan lagi hasil tiruannya. Kemudian dari segi acuan, dilihat bahwa pemuda-pemuda ini hendak merombak tatanan yang sudah ada. Contohnya dalam tulisan Jim Supangkat "Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia" (1979) diceritakan bahwa diakuinya keberadaan pluralisme estetik, sikap dan pandangan yang mengakui bermacam ragam seni rupa dengan tata acuan yang berbeda-beda.
Kembali kedalam tulisan Sanento Yuliman, berikut disertakan didalamnya kesimpulan, bahwa bagi para pemuda masa terbitnya tulisan tersebut, sebuah karya seni tidak lagi harus diberikan label menurut konformasi media lagi, sebuah karya seni tidak harus berupa lukis, atau patung. Namun, perkembangannya seni rupa dapat menghasilkan karya-karya berupa barang-barang konkret dengan ungkapan pikiran dan lingkungan, bahkan pula dapat berwujud proses, peristiwa, dan perbuatan .
Namun ditilik dari segi kritik, gerakan-gerakan pan-sensualisme ini turut dipertanyakan hakikatnya oleh beberapa pengamat seni, satu diantaranya adalah lagi Sanento Yuliman, dengan mengangkat beberapa pikiran dari Sudjojono, dalam tulisan Sanento Yuliman yang berjudul "Perspektif Baru". Dalam segi gerakan baru, pemeran-pemeran didalamnya ini cenderung membenarkan pemberian jarak antara perupa dengan karya akhirnya, memberikan kerenggangan emosi antara karya dengan pembuatnya, baik dari segi pembuatan, proses, mau pun ekspresi jiwa. Bagi Sudjojono dan teman-temannya, jiwa dari pelukis baru bisa nampak melalui sapuan kuas, bagi mereka yang mengolah seni lukis ke dalam abstraksi, lukisan adalah tetap cerminan eksperimen terhadap artian seni lukis dan bentukan investasi diri dalam proses bekerkaryaan.
Seperti perkembangan seni rupa modern pada umumnya, pertentangan tadi tidak hanya terjadi dalam bentuk kritikan dan pertentangan dari kaum elitis dan perupa yang mapan, namun juga dari segi kultural yang melihat pan-sensualisme ini sebagai bentukan yang sudah terlalu barat dan memberi degradasi pada kultur dengan budaya permisivnya. Dari sini banyak berangkat seniman-seniman dengan kepercayaan kuat bahwa sebagaimana seni itu adalah bentukan serius, bukan taman bermain, dan seringkali bahkan mampu membantu senimannya untuk meraih alam transendental.
B. Spiritualitas Keislaman
Semenjak cukup lama, modernitas dinilai menentang unsur-unsur seni religius, terutama di Barat yang menyatakan bahwa keberadaan unsur lain dan disiplin lain adalah distorsi yang menghambat kemajuan estetika. Namun dalam aplikasinya dapat dilihat kenyataan-kenyataan dimana cukup banyak seniman modern yang menggunakan spiritualitas sebagai jalur masuk untuk mencapai kesenian yang tertingi, Vassily Kandinsky contohnya mengakui keberadaan spiritualitas dalam seni rupa mampu memperbaiki kebudayaan Barat yang kian bobrok, juga Piet Mondrian yang mencoba mensejajarkan semesta dalam kanvasnya dan menggambarkan tatanan spiritual dalam bentuk-bentuk formal. Banyak bentuk paradoks dalam teori modernitas yang kemudian mengajak pengamat seni untuk berpikir kembali. Paradoks ini pula tidak hanya berlaku bagi para pengamat, namun juga bagi seniman yang melihat spiritualitas sebagai hal yang tidak dapat dibawa bermain, begitu juga seni di lain sisinya.
Di Indonesia sendiri, pandangan ini dapat dimulai dari keberadaan seni spiritual dan artiannya. Seni spiritual adalah bentuk ekspresi personal seniman mengenai apa yang dipercayainya, tentang nilai-nilai atau hubungan antara manusia dengan Tuhan. Berkebalikan dengan seni religius yang menjadi sebuah bentukan kolektif sebuah kepercayaan dari kaum manusia. Dalam konteks seni modern, biasanya yang diangkat adalah seni religius, karena lagi-lagi seni rupa modern mengangkat isu personal dan kesendirian, bukan lagi budaya kolektif seperti seni tradisional.
Spiritualitas sendiri konteksnya di Indonesia tentu tidak muncul dari filsafat yang sekuler, karena spiritualitas mengakui keberadaan dimensi kebatinan, dan dimensi non-material dalam realitas hidup. Kepercayaan akan keberadaan inilah yang kemudian meyakini hubungan dengan dimensi yang transenden, seperti tasawuf atau pada para Sufi di Islam, sama halnya dengan kepercayaan transenden lain di kebanyakan agama. Secara historis dahulu para Sufi mengangkat apa yang kita kenal sekarang sebagai seni seperti tarian, musik dan zikir sebagai upaya untuk mengalami pengalaman ketuhanan. Yustiono meyakini, bahwa sungguhnya seni spiritual ini memiliki akar yang jauh lebih dalam dari dugaan, sebuah akar dari tradisi keagamaan yang berabad-abad, dan mampu dikembangkan sebagai suatu wacana bagi landasan yang lebih kuat dalam perkembangan budaya di Indonesia secara umum.
Bagi pertentangan, sesungguhnya perkembangan seni yang bernafaskan Islam dan spiritual di Indonesia tidak banyak menemui resistensi, bahkan kebanyakan perupa didalamnya merupakan menganut dan hasil didikan ajaran modernis, seperti Ahmad Sadali dan AD Pirous. Mengingat masa mahasiswa mereka yang dihabiskan di Bandung sebagai kota kosmopolit, kota yang berorientasi pada kosmologi, pada dunia dan tatanan universal, mencari kenyataan otonomi seni. Namun memang nyatanya keberadaan berkesenian pada masa modern sangat sulit dilepaskan dari kecenderungan akan pengalaman personal, ketertarikan pribadi pada pengalaman spiritual religius pun tetap terus ada dalam karya mereka. Justu sebaliknya resistensi itu muncul sedikit pada kaitannya dengan ajaran Barat yang hedonistis dan materialistis. Namun mengesampingkan itu semua tetap dalam bidangan karya mereka menghadirkan kecenderungan lukisan perupa modern, seperti Ahmad Sadali dalam simbol-simbol formal kaligradi dalam karya abstraknya.
masih cukup sulit untuk di interpretasikan, seperti kata Kenneth M. George " Seni Islam dan estetika islam bukanlah hal yang sudah jadi, melainkan merupakan arena perdebatan,, konflik, dan, tentu saja, kreativitas yang mendalam" (George, 2012 [2010]: 16).
Dalam pembahasannya juga cukup banyak hingga sekarang pengamat seni yang membahas seni rupa bernafaskan Islam atau berlandaskan Tauhid, seperti Harun Suaidi Isnaini yang dalam tulisan kesarjanaannya mengangkat perihal isu Seni Rupa Spiritual Islam dengan kutipan bahwa Al-Quran dan Hadits sendiri tidak pernah menerangkan secara eksplisit prinsip-prinsip estetika dalam ekspresi seni (Khoiri, 2002:178). Di dalam skripsi ini juga diterangkan bahwa dua konsekuensi logis dari fakta tersebut adalah bahwa pertama, tidak ada konsep estetika Islam yang tunggal yang bisa digunakan sebagai landasan untuk memberikan kritik pada seni rupa Islam, dan kedua adalah kebebasan berkarya dan pengadopsian konsep serta unsur estetika apapun ke dalam Seni Rupa Islam selama tidak bertentangan dengan syariat.
C. Evaluasi
Semua fakta ini menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara yang kerap mengacu pada perkembangan budaya mutakhir, dan dengan kebutuhan akan pengalamam spiritualitas, perupa di dalamnya tentu tidak akan sungkan untuk menyertakan keimanannya dalam seni, dalam konteks kajian yang begitu besar pengaruhnya dalam unsur disiplin yang lain, sebagaimana pun kaum modernis mencoba memisahkannya.
Perkembangan dari kedua kecenderungan gaya ini terus berkembang hingga wacana seni rupa kontemporer, perihal kebaratan dan spiritualisme. Pertentangan dan eksotisme dari kedua belah pihak memperlihatkan dinamisme yang begitu kuat dalam perkembangan periodisasi wacana seni rupa Indonesia. Hal seperti ini bahkan sudah dimulai dari kemunculan "Polemik Kebudayaan" tahun 1935-an di Indonesia yang merepresentasikan perkembangan Barat dan Timur atau Modern dan Tradisional, yang kemudian tidak pula dapat kita lepaskan dari proses terbentuknya medan seni rupa Indonesia. Dan fenomena ini terus berulang menceritakan keberagaman kultur dan ideologi politik Indonesia bahkan saat perancangan bentuk dasar negara Pancasila kita. Banyak unsur ini dapat terus kita amati dalam nilai keislaman yang tercermin dalam prinsip Monoteisme Tauhid dalam sila pertama, nilai modernisme sebagaimana tercantum dalam sila kedua dan keempat sebagai kata lain dari Humanisme, Internasionalisme, dan demokrasi, nilai kebangsaan yang terdapat pada sila ketiga yang dikatakan Soekarno sebagai Nasionalisme, dan nilai Kerakyatan yang tercantum pada sila keilma, atau Sosialisme (Yustiono 2005: 122).
DAFTAR PUSTAKA
Isnaini, Harud S, 2012. Pembacaan Pascakolonial terhadap Seni Rupa Kontemporer Islam di Indonesia. Bandung: ITB (Skripsi)
Wicaksono, Adi. 2002. Identitas dan Budaya Massa: Aspek-Aspek Seni Visual Indonesia.
Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti.
Yuliman, Sanento. 2001. Dua Seni Rupa. Jakarta: Yayasan Kalam.