Analisi Teori Belajar IPA
Laporan
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan IPA di SD
Kelas Tinggi,
Dosen pengampu: Drs. Nana Djumhana, M.Pd.
Oleh:
Intan Silpia (1403714)
Kelas 5D
DEPARTEMEN PEDAGOGIK PROGRAM STUDI PGSD
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
Teori Belajar IPA
A. Jean Piaget
Dalam pandangan Piaget, pengetahuan datang dari tindakan, perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator dan buku sebagai pemberi informasi. Kecenderungan anak-anak SD beranjak dari hal-hal yang konkrit, memandang sesuatu kebutuhan secara terpadu. Berdasarkan keceenderungan diatas maka, belajara adalah suatu proses yang aktif, konstruktif, berorientasi pada tujuan, semuannya bergantung pada aktifitas mental peserta didik (Ridek, 2015).
Menurut Slavin dalam (Nur :1998:27) implikasi dari teori Piaget dalam pembelajaran adalah sebagai berikut (Ridek, 2015):
a)
Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental anak tidak sekedar pada produknya. Di samping kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada jawaban tersebut.b)
Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegaiatan pembelajaran. Dalam kelas Piaget penyajian materi jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.c)
Tidak menekankan pada praktek-praktek yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.d)
Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan, teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh anak berkembang melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda.Dari uraian tersebut pembelajaran menurut konstruktivis dilakukan dengan memusatkan perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya dan mengutamakan peran siswa dalam kegiatan pembelajaran serta memaklumi adanya perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan yang dapat dipegaruhi oleh perkembangan intelektual anak.
Dalam perkembangan intelektual, ada tiga aspek yang diteliti oleh Piaget, yaitu struktur, isi (konten), dan fungsi (Dahar, 2011: 134-136).
a. Struktur
Untuk sampai pada pengertian struktur, diperlukan suatu pngertian yang erat hubungannya dengan struktur, yaitu pengertian operasi. Piaget berpendapat bahwa ada hubungan fungsional antara tindakan fisik dan tindakan mental dan perkembangan berpikir logis anak-anak. Tindakan (action) menuju pada perkembangan operasi dan operasi selanjutnya menuju pada perkembangan struktur. Operasi-operasi mempunyai empat ciri.
Pertama, operasi merupakan tindakan-tindakan yang terinternalisasi. Tidak terdapat garis pemisah antara tindakan mental maupun tindakan fisik.
Kedua, operasi-operasi itu reversibel (operasi yang sama yang dilakukan dengan arah yang berlawanan).
Ketiga, tidak ada operasi yang berdiri sendiri. Suatu operasi selalu berhubungan dengan struktur atau sekumpulan operasi. Operasi itu saling membutuhkan. Jadi, operasi itu adalah tindakan-tindakan mental yang terinternalisasi, reversibel, tetap, dan terintegrasi dengan struktur-struktur dan operasi-operasi lainnya.
Struktur yang juga disebut skemata merupakan organisasi mental tingkat tinggi, satu tingkat lebih tinggi dari individu waktu ia berinteraksi dengan lingkungannya. Struktur yang terbentuk lebih memudahkan individu itu untuk menghadapi tuntutan-tuntutan yang makin meningkat dari lingkungannya. Diperolehnya suatu struktur atau skemata berarti telah terjadi suatu perubahan dalam perkembangan intelektual anak (Dahar, 2011: 134).
b. Isi
Hal yang dimaksud dengan isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.
dalam. Dari deskripsi pikiran-pikiran anak, ia beralih pada analisis proses dasar yang melandasi dan menentukan isi itu (Ginsburg (1979) dalam (Dahar, 2011: 135)). c. Fungsi
Fungsi ialah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan-kemajuan intelektual. Menurut Piaget, perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi, yaitu organisasi dan adaptasi.
1) Organisasi
Organisasi memberikan pada organisme kemampuan untuk mensistematikkan atau mengorganisasi proses fisik atau psikologi menjadi sistem yang teratur dan berhubungan atau terstruktur. Dalam lingkungan fisik misalnya, ikan memiliki sejumlah struktur yang membuat ikan berfungsi secara efektif di dalam air, yaitu insang, sistem sirkulasi, mekanisme suhu. Semua struktur ini bekerja sama secara efisien untuk mempertahankan ikan itu di lingkungannya. Koordinasi secara fisik ini merupakan hasil kecenderungan organisasi.
Kecenderungan organisasi juga terdapat pada tingkatan psikologis. Seorang bayi mempunyai struktur-struktur prilaku untuk memfokuskan visual dan memegang secara terpisah. Pada suatu saat dalam perkembangannya, bayi itu dapat mengorganisasi kedua struktur perilaku ini menjadi struktur tingkat tinggi dengan memegang suatu benda sambil melihat benda itu. Dengan organisasi, struktur fisik dan psikologi diintegrasikan menjadi struktur tingkat tinggi.
2) Adaptasi
Fungsi kedua yang melandasi perkembangan intelektual ialah adaptasi. Semua organisme lahir dengan kecenderungan untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi pada lingkungan mereka. Cara adaptasi ini berbeda antar organisme yang satu dengan organisme yang lain. Adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi (Dahar, 2011: 135).
a) Asimilasi
Asimilasi ialah penyatuan (pengintegrasian) informasi, persepsi, konsep dan pengalaman baru ke dalam yang sudah ada dalam benak seseorang. (Wina Sanjaya, 2010:132) dalam (Ibda, 2015) . Dalam proses asimilasi seseorang menggunakan struktur atau kemampuan yang sudah ada untuk menghadapi masalah yang dihadapinya dalam lingkungannya (Dahar, 2011: 135).
Akomodasi ialah individu mengubah dirinya agar bersesuaian dengan apa yang diterima dari lingkungannya. (Mohd. Surya, 2003:56) dalam (Ibda, 2015). Sebagai proses penyesuaian atau penyusunan kembali skema ke dalam situasi yang baru (Riyanto Yatim, 2009:123) dalam (Ibda, 2015). Dalam proses akomodasi, seseorang memerlukan modifikasi struktur mental yang ada dalam mengadakan respons terhadap tantangan lingkungannya (Dahar, 2011: 135).
Bagi Piaget, adaptasi merupakan suatu keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Andai kata dengan proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi pada lingkungannya, terjadilah keadaan ketidakseimbangan (disekuilibrium). Akibat ketidakseimbangan ini adalah akomodasi dan struktur-struktur yang ada mengalami perubahan atau timbul struktur-struktur baru. Pertumbuhan intelektual merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidakseimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium-equlibrium). Akan tetapi, bila terjadi kembali kesetimbangan, individu itu berada pada tingkat intelektual yang lebih tinggi daripada sebelumnya (Dahar, 2011: 136).
Adaptasi dapat diterapkan pada belajar dalam kelas. Perkembangan kognitif sebagian tergantung pada akomodasi. Siswa harus memasuki area yang tidak dikenal untuk dapat belajar. Ia tidak dapat hanya mempelajari apa yang telah diketahuinya dan ia tidak dapat hanya mengandalkan asimilasi. Dalam pelajaran yang tidak memberikan hal-hal baru, siswa mengalami overassimilation. Kedua keadaan ini tidak memperlancar pertumbuhan kognitif. Hal yang perlu diusahakan ialah adanya keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi (ekuilibrium) (Dahar, 2011: 136).
2. Tahap Perkembangan Intelektual Piaget (dalam Riati)
Piaget juga mengatakan bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Oleh karena itu guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya serta memberikan isi, metode, media pembelajaran yang sesuai dengan tahapannya.
TAHAP PERKIRAANUSIA CIRI KHUSUS
Pre-Ooperasional 2 – 7 tahun
Berpikir secara egosentris alasan-alasan didominasi oleh persepsi lebih banyak intuisi daripada pemikiran logis belum cepat
Operasional 11 tahun sampaidewasa
Pemikiran yang sudah lengkap pemikiran yang proporsional kemampuan untuk mengatasi hipotesis perkembangan idealisme yang kuat.
3. Penerapan Teori Piaget dalam Pembelajaran Ipa di SD
Menurut Piaget, ada sedikitnya tiga hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam merancang pembelajaran di kelas, terutama dalam pembelajaran IPA. Ketiga hal tersebut adalah :
a. Seluruh anak melewati tahapan yang sama secara berurutan;
b. Anak mempunyai tanggapan yang berbeda terhadap suatu benda atau kejadian ; c. Apabila hanya kegiatan fisik yang diberikan kepada anak, tidaklah cukup untuk
menjamin perkembangan intelektual anak (Riati, Tanpa Tahun).
4. Cara Pembelajaran IPA di SD Berdasarkan Teori Piaget
Cara pembelajaran IPA di SD bisa dilaksanakan berdasarkan pada Teori Piaget, yaitu sebagai berikut:
a. Mulailah dari hal-hal yang konkret yaitu kegiatan aktif mempergunakan pancaindra dengan benda nyata atau konkret.
b. Penata awal, yaitu suatu informasi umum mengenai apa yang akan diajarkan, agar murid mempunyai kerangka kerja untuk mengasimilasikan informasi baru ke dalam struktur kognitifnya.
c. Pergunakanlah kegiatan yang bervariasi karena murid mempunyai tingkat perkembangan kognitif yang berbeda dan gaya belajar yang berlainan.
d. Guru harus selalu memperhatikan pada setiap siswa apa yang mereka lakukan, apakah mereka melaksanakan dengan benar, apakah mereka tidak mendapatkan kesulitan.
f. Pada akhir pembelajaran, guru mengulas kembali bagaimana siswa dapat menemukan jawaban yang diinginkan (Riati, Tanpa Tahun).
5. Alasan:
Teori Piaget ini dapat diaplikasikan dalam melakukan pembelajaran IPA di SD. Hal tersebut karena teori ini merupakan teori yang dapat mendorong siswa untuk memperoleh pengetahuan baru mengenai alam dengan cara menggabungkan (mengintegrasikan) dengan pengetahun lama yang telah diperolehnya (yang disebut dengan asimilasi).
Dalam pembelajaran tentunya guru tidak boleh terus menerus memberikan/ mentransfer pengetahuan kepada siswa saja, adakalanya guru harus membiarkan siswa untuk mencari sendiri atau mengkonstruksikan pengetahuan yang telah didapatkannya. Sehingga dengan begitu siswa dapat mengembangkan intelektualnya. Hal tersebut juga sesuai dengan kriteria pembelajaran IPA yang berusaha untuk membangun rasa ingin tahu siswa tentang segala sesuatu yang ada di lingkungannya, membangkitkan ide-ide siswa, membangun keterampilan (skill) yang diperlukan, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan, dan menimbulkan kesadaran siswa bahwa belajar IPA menjadi sangat diperlukan untuk dipelajari. Selain itu juga karena pada hakikatnya IPA itu merupakan suatu kumpulan pengetahuan (fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip) dan proses penemuan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis melalui prosedur (metode ilmiah) dan dengan asumsi bahwa alam raya ini dapat dipelajari, dipahami, dan dijelaskan dengan suatu metode tertentu (metode ilmiah).
Oleh karena itu guru bisa memfasilitasi siswa dengan cara guru memberikan maslah baru kepada siswa mengenai suatu hal. Pemberian situasi baru yang dimunculkan oleh guru dapat membuat siswa mengkontruksi pengetahuannya yang telah didapat (pengetahuan lama) untuk menghadapi situasi baru tersebut yang disebut dengan proses akomodasi. Sehingga dengan begitu siswa diharapkan mengalami keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi yang disebut dengan equilibrium.
B. Jerome Bruner
Belajar merupakan kegiatan perolehan informasi yang disebut sebagai belajar penemuan yang merupakan berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (Riati: 5).
Bruner mengungkapkan bahwa dalam proses belajar, anak sebaiknya diberikan kesempatan untuk memanipulasi objek atau benda-benda (alat peraga). Melalui alat peraga itu, anak akan langsung melihat bagaimana keteraturan dan pola srtuktur dari benda yang diperhatikannya tersebut. Keteraturan yang didapat anak melaui pengamatan/keterlibatan secara langsung tersebut kemudian oleh anak dihubungkan dengan keterangan instuitif yang melekat padanya (Riati: 5).
Tiga tahap pembelajaran (penyajian materi) dalam teori Bruner tentang perkembangan intelektual adalah:
1) Enaktif, di mana seseorang belajar tentang dunia melalui aksi-aksi terhadap objek (Smith, 2009: 117). Cara penyajian enaktif adalah melalui tindakan, jadi bersifat manipulatif. Dengan cara ini seseorang mengetahi suatu aspek kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata. Jadi cara ini terdiri atas penyajian kejadian-kejadian masa lampau melalui respons-respons motorik. Dengan cara ini dilakukan satu set kegiatan untuk mencapai hasil tertentu (Dahar, 2011).
2) Iconic, di mana pembelajaran terjadi melalui penggunaan model-model dan gambar-gambar (Smith, 2009: 117). Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu (Dahar, 2011). 3) Symbolic, yang menggambarkan kapasitas berpikir dalam istilah-istilah yang
abstrak (Smith, 2009: 117). Penyajian simbolis menggunakan kata-kata atu bahasa. Penyajian simbolis dibuktikan oleh kemampuan memperhatikan proposisi atau pernyataan daripada objek, memberikan struktur hierarkis pada konsep-konsep, dan memperhatikan kemungkinan0kemungkinan alternatif dalam suatu cara yang bersifat kombinasi (Dahar, 2011).
Menurut Bruner, dalam prosses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu
(Riati: 5):
Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah
keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari.
b) Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)
Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau
ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual.
c) Tahap evaluasi
Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana
informasi yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk
memahami gejala atau masalah yang dihadapi.
1. Penerapan Model Belajar Bruner Dalam Pembelajaran IPA di SD
Dalam penerapannya dalam proses pembelajaran di kelas, Bruner
mengembangkan model pembelajaran penemuan. Model ini pada
prinsipnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh
informasi sendiri dengan bantuan guru dan biasanya menggunakan barang
yang nyata. Peranan guru dalam pembelajaran ini bukanlah sebagai
seorang pemberi informasi melainkan seorang penuntun untuk
mendapatkan informasi (Riati: 6).
2. Cara pembelajaran IPA di SD berdasarkan model Bruner
Guru harus mempunyai cara yang baik untuk tidak secara lansung
memberikan informasi yang dibutuhkan oleh siswa. Model pembelajaran
ini mempunyai banyak manfaat, antara lain (Mad, 2013):
a. Pembelajar (Siswa) akan mudah mengingat materi pembelajaran
apabila informasi tersebut didapatkan sendiri, bukan merupakan
informasi perolehan.
b. Apabila pembelajar telah memperoleh informasi, maka dia akan
mengingat lebih lama.
secara berkala kembali mengajarkan materi yang sama dalam cakupan
yang lebih rinci, dengan memperhatikan tahapan perkembangan kognitif
seseorang (enaktif, ikonik, dan simbolik) (Mad, 2013).
3.
Peran Guru
Langkah guru sebagai fasilitator pembelajaran dalam belajar penemuan adalah:
a. Guru merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa
b. Guru menyajikan materi pelajaran yang diperlukkan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah. Guru hendaknya memulai dengan sesuatu yang sudah dikenal oleh siswa-siswa. Kemudian guru mengemukan sesuatu yang berlawanan. Dengan demikian terjadi konflik dengan pengalaman siswa. Akibatnya timbullah masalah. Dalam keadaan yang ideal, hal yang berlawanan itu menimbulkan suatu kesangsian yang merangsang para siswa untuk menyelidiki masalah itu, menyusun hipotesis, dan mencoba menemukan konsep atau prinsip-prinsip yang mendasari masalah itu.
c. Guru harus menyajikan dengan cara enaktif, ikonik dan simbolik. Enaktif adalah melalui tindakan atau dengan kata lain belajar sambil melakukan (learning by doing). Ikonik adalah didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan melalui gambar-gambar yang mewakili suatu konsep. Simbolik adalah menggunakan kata-kata atau bahasa-bahasa.
e. Menilaia hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan. Secara garis besar tujuan belajar penemuan ialah mempelajari generalisasi-generalisasi dengan menemukan sendiri generalisasi-generalisasi-generalisasi-generalisasi itu (Dahar, 2011: 83-84).
Di lapangan, penilaian hasil belajar penemuan meliputi pemehaman tentang prinsip-prinsip dasar mengenai suatu bidang studi dan kemampuan siswa untuk menerapkan prinsip-prinsip itu pada situasi baru. Untuk maksud ini bentuk tes berupa tes objektif atau tes esai (Dahar, 2011: 84).
4. Alasan
Teori Bruner ini dapat kita aplikasikan dalam melaksanakan pembelajaran IPA di SD. Hal tersebut karena pada dasarnya teori ini merupakan teori yang dapat mendorong siswa untuk memperoleh pengetahuan/ materi ajar dengan cara penemuan sendiri. Hal tersebut sangat baik bagi perkembangan intelektual siswa, karena dengan begitu siswa akan lebih memahami pengetahuan yang didapatkan berdasarkan pengalaman yang dilakukannya. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa karena memang siswa sendirilah yang menemukan jawaban dari permasalahan yang ia dapatkan itu.
Daftar Pustaka
Dahar, R.W. (2011). Teori-teori belajar & pembelajaran. Jakarta: Erlangga.
Ibda, Fatimah. (2015). Perkembangan kognitif: teori Jean Piaget. Intelektualita, 3 (1), hlm. 32.
Mad, Salman. (2013). Teori belajar bruner. [Online]. Diakses dari http://madsalman.blogspot.co.id/2013/09/teori-belajar-bruner.html.
Riati, Mimis. Teori belajar dalam pembelajaran IPA SD. [Online]. Diakses dari https://www.academia.edu/11769485/teori_belajar_ipa_SD.
Ridek, Sunandar. (2015). Landasan teori pembelajaran ipa. [Online]. Diakses dari http://nandaridek.blogspot.co.id/2015/03/landasan-teori-pembelajaran-ipa.html. Smith, Mark K, dkk. (2009). Teori pembelajaran & pengajaran. Jogjakarta: Mirza Media