• Tidak ada hasil yang ditemukan

ORGAN ORGAN PENCERNAAN PADA TERNAK RUMIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ORGAN ORGAN PENCERNAAN PADA TERNAK RUMIN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

1 ORGAN-ORGAN PENCERNAAN PADA TERNAK RUMINANSIA, ZAT-ZAT TOKSIT PADA PAKAN NABATI DAN MEKANISME KERACUNAN

PADA TERNAK

“PENGETAHUAN BAHAN MAKANAN TERNAK”

Oleh :

FADIL O 121 14 029

PROGRAM STUDI PETERNAKAN JURUSAN PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS TADULAKO

(2)

2 KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat hidayah dan rahmat-Nya yang diberikan kepada penulis berupa kesehatan rohani dan jasmani sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ORGAN-ORGAN PENCERNAAN PADA TERNAK RUMINANSIA, ZAT-ZAT TOKSIT PADA PAKAN NABATI DAN MEKANISME KERACUNAN PADA TERNAK“ diselesaikan dengan baik.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih belum sempurna, oleh karena itu untuk memperbaiki makalah ini, penulis mengharapkan kritik dan

saran yang membangun. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Atas perhatiannya penulis mengucapkan

terima kasih.

Palu, 12 Oktober 2015

Penulis

(3)

3

2.2. Senyawa Alami Dalam Nabati………...7

2.3. Definisi Nitrat………..………7

III. PEMBAHASAN 3.1. Organ-Organ Pencernaan Ternak Ruminansia………...9

3.1.1. Mulut………..………...9

3.1.9. Usus Halus (Intestinum Tenue) ……….12

3.1.20. Usus Besar (Large Intestine) ………...13

3.1.21. Rectum………..………...14

3.2. Zat Toksit Pada Pakan Nabati………14

3.2.1. Karbohidrat………..…………...14

3.2.1.1. Glikosida………..………...14

3.2.1.2. Glikosid Yang Mengandung Sianida (Cyanogenetic Glucosides)..14

3.2.1.3. Amygdalin………..………….15

3.3. Mekanisme Keracunan Pada Ternak……….20 IV. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

(4)

4 I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pencernaan adalah rangkaian proses perubahan fisik dan kimia yang dialami bahan makanan selama berada dalam alat pencernaan. Proses pencernaan makanan pada ternak ruminansia relatif lebih kompleks dibandingkan proses pencernaan pada jenis ternak lainnya. Perut ternak ruminansia dibagi menjadi empat bagian yaitu retikulum (perut jala), rumen (perut beludru), omasum (perut bulu) dan abomasum (perut sejati). Dalam studi fisiologi ternak ruminansia, rumen dan retikulum sering dipandang sebagai organ tunggal dengan sebutan retikulorumen. Omasum disebut sebagai perut buku karena tersusun dari lipatan sebanyak sekitar 100 lembar (Mindelwill, 2006).

Pada umumnya pangan dikonsumsi karena citarasanya dan terutama karena kandungan gizinya, yaitu senyawa-senyawa yang bermanfaat bagi tubuh baik

sebagai sumber energi, bahan pembangun jaringan maupun senyawa-senyawa yang berfungsi membantu proses metabolisme sehingga tubuh dalam kondisi

sehat. Namun demikian, selain mengandung zat atau senyawa-senyawa yang sangat penting tersebut kadang bahan pangan mengandung senyawa-senyawa yang beracun atau yang berpotensi mengganggu kesehatan sehingga keberadaannya tak dikehendaki. Kelompok senyawa-senyawa non-gizi dan berpotensi membahayakan kesehatan ini penting dipelajari dalam kaitannya dengan keamanan pangan. (Liener IE. ed, 1969)

(5)

5 yang menimbulkan keracunan akut (segera) sampai yang sifatnya kronis (jangka lama).

Dalam mempelajari kimia hasil pertanian, hal-hal yang perlu dipelajari berkaitan dengan senyawa-senyawa toksit ini terutama adalah sifat-sifat dasar senyawa tersebut, sumber dan rute masuknya ke bahan pangan, pengaruhnya dalam sistem tubuh (biologis) yang mempunyai konsekuensi terhadap segi

keamanan pangan, serta prinsip-prinsip pengendaliannya yaitu bagaimana mengurangi atau menghilangkan potensi bahayanya.

Nitrat adalah salah satu jenis senyawa kimia yang sering ditemukan di alam, seperti dalam tanaman, pupuk dan sebagainya. Sebenarnya nitrat ini kurang beracun dibandingkan dengan nitrit. Kandungan nitrat dalam hijauan yang dikonsumsi oleh hewan dalam konsentrasi tinggi, maka nitrat dalam rumen akan direduksi menjadi nitrit oleh bakteri rumen dan dapat mematikan hewan. Perubahan nitrat menjadi nitrit ini tidak hanya terjadi dalam rumen, tetapi dapat juga terjadi pada waktu proses pencincangan/perlakuan fisik pada hijauan sebelum diberikan pada hewan ternak. Pada hijauan yang mengandung nitrat cukup tinggi, kemudian pada perlakuan pencincangan akan ada reaksi panas (gesekan) yang akan membantu terjadinya reaksi reduksi nitrat menjadi nitrit dalam hijauan tersebut. Begitu juga, kondisi panas dalam penyimpanan harus dihindarkan dengan cara ventilasi udara harus cukup, terutama apabila penyimpanannya dalam suatu tempat yang tertutup, misalnya gudang (Jones, 1993).

Jumlah nitrat yang mengakibatkan keracunan pada ternak bervariasi, tergantung pada jumlah nitrat yang dikonsumsi, jenis makanan dan jumlah karbohidrat dalam makanan (Vermunt dan Visser, 1987). Setelah terjadi perubahan nitrat menjadi nitrit, maka nitrit ini akan diserap ke dalam aliran darah sehingga akan mengoksidasi ferrous menjadi ferric dalam haemoglobin (Hb) dan

(6)

6 1.2. Rumusan Masalah

Berdasarakan latar belakang diatas, kami merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apa Saja Organ-Organ Pencernaan Pada Ternak Ruminansia? 2. Apa Saja Zat-Zat Toksit Alamiah Pada Pakan Nabati?

3. Bagaimana Mekanisme Keracunan Pada Ternak?

1.3. Tujuan Pembahasan

(7)

7 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Pencernaan

Pencernaan adalah rangkaian proses perubahan fisik dan kimia yang dialami bahan makanan selama berada dalam alat pencernaan. Proses pencernaan makanan pada ternak ruminansia relatif lebih kompleks dibandingkan proses pencernaan pada jenis ternak lainnya. Perut ternak ruminansia dibagi menjadi empat bagian yaitu retikulum (perut jala), rumen (perut beludru), omasum (perut bulu) dan abomasum (perut sejati). Dalam studi fisiologi ternak ruminansia, rumen dan retikulum sering dipandang sebagai organ tunggal dengan sebutan

retikulorumen. Omasum disebut sebagai perut buku karena tersusun dari lipatan sebanyak sekitar 100 lembar (Mindelwill, 2006).

2.2. Senyawa Alami Dalam Nabati

Pada umumnya pangan dikonsumsi karena citarasanya dan terutama karena kandungan gizinya, yaitu senyawa-senyawa yang bermanfaat bagi tubuh baik sebagai sumber energi, bahan pembangun jaringan maupun senyawa-senyawa yang berfungsi membantu proses metabolisme sehingga tubuh dalam kondisi sehat. Namun demikian, selain mengandung zat atau senyawa-senyawa yang sangat penting tersebut kadang bahan pangan mengandung senyawa-senyawa yang beracun atau yang berpotensi mengganggu kesehatan sehingga keberadaannya tak dikehendaki. Kelompok senyawa-senyawa non-gizi dan berpotensi membahayakan kesehatan ini penting dipelajari dalam kaitannya dengan keamanan pangan. (Liener IE. ed, 1969)

2.3. Definisi Nitrat

(8)

8 direduksi menjadi nitrit oleh bakteri rumen dan dapat mematikan hewan. Perubahan nitrat menjadi nitrit ini tidak hanya terjadi dalam rumen, tetapi dapat juga terjadi pada waktu proses pencincangan/perlakuan fisik pada hijauan sebelum diberikan pada hewan ternak. Pada hijauan yang mengandung nitrat cukup tinggi, kemudian pada perlakuan pencincangan akan ada reaksi panas (gesekan) yang akan membantu terjadinya reaksi reduksi nitrat menjadi nitrit dalam hijauan

tersebut. Begitu juga, kondisi panas dalam penyimpanan harus dihindarkan dengan cara ventilasi udara harus cukup, terutama apabila penyimpanannya dalam

(9)

9 III. PEMBAHASAN

3.1. Organ-Organ Pencernaan Ternak Ruminansia

Gambar 1. Pencernaan Ternak Ruminansia

3.1.1. Mulut

Pencernaan di mulut pertama kali di lakukan oleh gigi molar dilanjutkan oleh mastikasi dan di teruskan ke pencernaan mekanis. Di dalam mulut terdapat saliva. Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar khusus dan disebarkan ke dalam cavitas oral.

Komposisi dari saliva meliputi komponen organik dan anorganik. Namun demikian, kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan serum karena pada saliva penyusun utamanya adalah air. Komponen anorganik

(10)

10 Saliva juga mengandung immunoglobin, seperti IgA dan IgG dengan konsentrasi rata-rata 9,4 dan 0,32 mg%. Fungsi saliva adalaah, (a). Membantu Penelanan, (b). Buffer (ph 8,4 – 8,5), (c). Suplai Nutrien Mikroba (70% urea).

Kelenjar saliva mensekresikan granula sekretorik (zymogen) yang mengandung enzim-enzim saliva kemudian dikeluarkan dari sel-sel asinar ke dalam duktus. Jumlah sekresi salisa berbeda-beda, sekresi saliva pada sapi ±150

liter/hari, domba ±10 liter/hari. Organ yang berfungsi mencerna makanan secara mekanik pada ruminansia adalah gigi (dentis).

3.1.2. Esophagus

Merupakan saluran yang menghubungkan antara rongga mulut dengan lambung. Pada ujung saluran esophagus setelah mulut terdapat daerah yang disebut faring. Pada faring terdapat klep, yaitu epiglotis yang mengatur makanan agar tidak masuk ke trakea (tenggorokan). Fungsi esophagus adalah menyalurkan makanan ke lambung. Agar makanan dapat berjalan sepanjang esophagus, terdapat gerakan peristaltik sehingga makanan dapat berjalan menuju lambung.

3.1.3. Lambung

Lambung terdiri dari : “kardia, fundus, badan” (sekresi pepsin dan HCl) dan “pylorus” (sekresi mucus : gastrin). Fungsi lambung adalah sebagai tempat menyimpan bahan makanan sementara, lambung mengalami proses mekanis dan kimiawi, adanya gerakan lambung dan cairan lambung bersifat asam. Lambung terbagi menjadi 4 ruang, yaitu rumen, retikulum, omasum, abomasum.

3.1.4. Rumen

Bagian sistem pancernaan ruminansia yang paling berperan besar adalah rumen. Rumen berupa suatu kantung muskular yang besar yang terentang dari

diafragma menuju pelvis dan hampir menempati sisi kiri dari rongga abdominal. Di dalam rumen terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya.

(11)

11 fungi. Kehadiran fungi di dalam rumen diakui sangat bermanfaat bagi pencernaan pakan serat, karena dia membentuk koloni pada jaringan selulosa pakan. Rizoid fungi tumbuh jauh menembus dinding sel tanaman sehingga pakan lebih terbuka untuk dicerna oleh enzim bakteri rumen. Fungsi rumen adalah, (a). Tempat Fermentasi Oleh Mikroba Rumen, (b). Absorbsi : VFA, Ammonia, (c). Lokasi Mixing, (d). Menyimpan Bahan Makanan → Fermentasi.

3.1.5. Retikulum

Retikulum sering disebut sebagai perut jalang atau hardware stomach. Fungsi retikulum adalah sebagai penahan partikel pakan pada saat regurgitasi rumen. Retikulum berbatasan langsung dengan rumen, akan tetapi diantara keduanya tidak ada dinding penyekat. Pembatas diantara retikulum dan rumen yaitu hanya berupa lipatan, sehingga partikel pakan menjadi tercampur. (a). Secara Fisik Tidak Terpisahkan Dari Rumen, (b). Terdapat Lipatan-Lipatan esophagus yang merupakan lipatan jaringan yg langsung dari esofagus ke omasum, (c). Permukaan Dalam : Papila → Sarang Laba-Laba (Honey Comb) perut jala. Fungsi retikulum adalah, (a). Tempat Fermentasi, (b). Membantu Proses Ruminasi, (c). Mengatur Arus Ingesta Ke Omasum, (d). Absorpsi Hasil Fermentasi, (e). Tempat Brkumpulnya Benda-Benda Asing.

3.1.6. Omasum

Omasum sering juga disebut dengan perut buku, karena permukaannya berbuku-buku. Ph omasum berkisar antara 5,2 sampai 6,5. Omasum merupaka suatu organ seferis yang terisi oleh lamina muskuler yang turun dari bagian dorsum atau bagian atap. Membrana mukosa yang menutupi lamina, ditebari dengan papile yang pendek dan tumpul yang akan menggiling hijauan atau serat -

serat sebelum masuk ke abomasum (perut sejati). Omasum letaknya disebelah kanan rumen dan retikulum persis pada posisi kaudal hati. Omasum domba dan

(12)

12 Omasum hampir terisi penuh oleh lamina dengan papila yang meruncing yang tersusun sedemikian rupa sehingga makanan digerakkan dari orifisium retikulo-omosal, di antara laminae, dan menuju ke orifisium omaso-abdomosal. Setiap laminae mengandung tiga lapis otot, termasuk suatu lapis sentral yang berhubungan dengan dinding otot dari omasum, serta suatu lapis mukosa muskularis yang terletak pada tiap sisi dari otot sentral.

Dasar omasum seperti juga halnya lembaran-lembaran (lipatan-lipatan) ditutupi oleh epitel squamosa berstrata. Pada pertautan antara omasum dan

abomasum terdapat suatu susunan lipatan membrana mukosa ‘vela terminalia’ yang barang kali berperan sebagai katup untuk mencegah kembalinya bahan-bahan dari abomasum menuju ke omasum, sedangkan pada domba merupakan bagian dari abomasum. Fungsi omasum adalah sebagai grinder, fermentasi, filtering dan absorpsi.

3.1.8. Abomasum

Abomasum sering juga disebut dengan perut sejati. Fungsi omaso abomasal orifice adalah untuk mencegah digesta yang ada di abomasum kembali ke

omasum. Ph pada abomasum asam yaitu berkisar antara 2 sampai 4,1. Abomasum terletak dibagian kanan bawah dan jika kondisi tiba-tiba menjadi sangat asam, maka abomasum dapat berpindah kesebelah kiri. Permukaan abomasum dilapisi oleh mukosa dan mukosa ini berfungsi untuk melindungi dinding sel tercerna oleh enzim yang dihasilkan oleh abomasum. Sel-sel mukosa menghasilkan pepsinogen dan sel parietal menghasilkan HCl. Pepsinogen bereaksi dengan HCl membentuk pepsin. Pada saat terbentuk pepsin reaksi terus berjalan secara otokatalitik. Fungsi abomasum adalah Tempat awal pencernaan enzimatis (perut sejati) → Pencernaan protein dan mengatur arus digesta dari abomasum ke duodenum.

3.1.9. Usus Halus (Intestinum Tenue)

(13)

13 Kedalam usus halus masuk 4 sekresi : (a). Cairan Duodenum : Alkalis, Fosfor, Buffer, (b). Cairan Empedu : Dihasilkan Hati, K dan Na (mengemulsikan lemak), Mengaktifkan Lipase Pankreas, Zat Warna, (C). Cairan Pankreas : Ion Bikarbinat Untuk Menetralisir Asam Lambung, (d).Cairan Usus.

Usus halus terbagi atas 3 bagian, yaitu: deudenum, jejenum, dan ileum, berdasarkan pada perbedaan-perbedaan struktural histologis/mikroskopis.

Deudenum merupakan bagian yang pertama dari usus halus. Ini amat dekat dengan dinding tubuh dan terikat pada mesenteri yang pendek, yaitu

mesoduodenum. Duktus yang berasal dari pankreas dan hati masuk ke bagian pertama dari duodenum. Duodenum meninggalkan pilorus dari perut dan ke arah kaudal pada sisi kanan menuju ke ‘pelvic inlet’. Duodenum kemudian menjulang ke sisi kiri di belakang akar dari mesenteri besar dan membelok ke depan untuk bergabung dengan jejunum. Saluran yang berasal dari hati dan saluran pankreas, menyatu ke dalam duodenum, pada jarak yang pendek di belakang pilorus.

Jejenum dengan jelas dapat dipisahkan dengan duodenum. Jejenum bermula dari kira-kira pada posisi dimana mesenteri mulai kelihatan memanjang (pada duodenum mesenterinya pendek). Jejenum dan ileum itu bersambung dan tidak ada batas yang jelas di antaranya. Bagian terakhir dari usus halus adalah ileum. Persambungannya dengan usus besar adalah pada osteum iliale (bukan ileal).

3.1.20. Usus Besar (Large Intestine)

Usus besar terdiri atas sekum, yang merupakan suatu kantung buntu dan kolon yang terdiri atas bagian-bagian yang naik, mendatar dan turun. Bagian yang turun akan berakhir direktum dan anus. Variasi pada usus besar (terutama pada bagian kolon yang naik) dari satu spesies ke spesies yang lain, jauh lebih menonjol dibandingkan dengan pada usus halus. Kolon yang menurun, bergerak

(14)

14 spiral yang menjauhi pusat lilitan (sentrifugal). Bagian terakhir dari kolon yang naik yaitu ansa distalis, menghubungkan ansa spiralis dengan kolon transversal. Kolon transversal menyilang dari kanan ke kiri dan berlanjut terus ke arah kaudal menuju ke rektum dan anus, bagian terminal dari saluran pencernaan. Fungsi usus besar adalah sebagai fermentasi oleh mikroba.

3.1.21. Rectum

Merupakan lubang tempat pembuangan feses dari tubuh. Sebelum dibuang lewat anus, feses ditampung terlebih dahulu pada bagian rectum. Apabila feses sudah siap dibuang maka otot spinkter rectum mengatur pembukaan dan penutupan anus. Otot spinkter yang menyusun rektum ada 2, yaitu otot polos dan otot lurik. Fungsi rectum adalah sebagai tempat pembuangan feses.

3.2. Zat Toksit Pada Pakan Nabati 3.2.1. Karbohidrat

3.2.1.1. Glikosida

Glikosida adalah suatu senyawa antara karbohidrat dan zat lain yang dinamakan radikal aglikon. Radikal aglikon ini dapat melalui proses bersifat toksit dan dapat dibebaskan dari persenyawaan melalui proses hidrolisa yang dapat dikatalisa oleh enzim yang ada pada tumbuh-tumbuhan itu sendiri. Di laboratorium hidrolisa dapat dilaksanakan dengan penambahan asam encer. Cara lain untuk membebaskan aglikon ini adalah dengan penggilingan atau pemanasan.

3.2.1.2. Glikosid Yang Mengandung Sianida (Cyanogenetic Glucosides) Sianida selalu ada dalam konsentrasi kecil (trace) pada banyak macam tumbuh-tumbuhan, terutama dalam bentuk cyanogenetic glucosides. Pada rumput, kacang-kacangan, umbi-umbian dan biji tertentu, diketemukan dalam kadar yang

(15)

15 Amygdalin pada bitter almonds, dan biji (kernel) buah- buah lain, (b). Dhurrin

pada sorghum, dan rumput-tumput lainnya, (c). Linamarin atau Phaseolunatin pada kacang-kacangan, seperti koro dan linseed, dan akar berpati seperti singkong. Lebih terperinci, glikosida ini ada pada bahan-bahan makanan seperti berikut: singkong (pada daun dan akar), ubi jalar, "yam" (dyoscoreaceae) (pada umbi), jagung (pada butir), cantel (pada butir), rempah-rempah, tebu, kacang-kacangan (peas & beans), terutama koro krupuk, & almonds. Pada buah diketemukan antara

lain pada : jeruk, apel, pear, cherry, apricot, prune, plum. Pada rumput dan tebu, kadar tertinggi glikosida toksit tersebut terutama ada di pucuk muda tanaman yang tumbuh di tanah subur. Pada koro krupuk kadar tertinggi ada pada varietas hitam. Penanaman secara sistematis dari varietas putih dapat banyak mengurangi kadar linamarin, tetapi mungkin varietas tanpa linamarin tidak dapat diperoleh. Pada singkong, kadar sianida yang tinggi hanya ada pada varietas pahit, tetapi tidak ada perbedaan jelas antara varietas pahit dan manis. Seluruh tanaman mengandung

sianida, kadarnya paling tinggi di kulit umbi. Mungkin sianida diperlukan oleh tanaman untuk perlindungan terhadap serangga.

3.2.1.3. Amygdalin

Amygdalin merupakan suatu glikosida dari benzaldehyde cyanohydrin (mandelonitrile) bila dihidrolisa lengkap meng-hasilkan glukosa, benzaldehid dan hidrogensianida (HCN). Hidrolisa dengan alkali atau asam pekat menghasilkan amyg-dalinic acid. Hidrolisa dengan enzim berjalan dalam 2 tahap sebagai berikut :

1. Dhurrin

Dhurrin adalah glikosida dari phydroxy benzaldehyde cyanohydrin, yang bila dihidrolisa menghasilkan glucose phydroxy benzaldehyde, dan hidrogensianida (HCN).

2. Linamarin

Linamarin yang antara lain ada pada Koro krupuk (Lima bean, Phaseolus

(16)

2-cyano-16 2propanol. Hidrolisa lebih lanjut dari 2cyano2propanol dengan enzim oxynitrilase menghasilkan aseton dan asam sianida (Hydrocyanic acid, HCN). Zat-zat tersebut di atas termasuk golongan Bglukosida, sukar larut dalam air, sehingga tepat sebagai pembawa zat- zat toksit seperti sianida, sampai zat toksit ini diperlukan untuk suatu fungsi biologik. Pengeluaran spontan HCN (autohidrolisa) dari tanaman dapat terjadi, bila ada enzim glukosidase khusus dan air. Enzim ini

adalah enzim ekstraseluler, sehingga bila sel rusak dapat bereaksi dengan glukosida. Sifat lain dari enzim ini adalah dapat bereaksi dalam suasana dingin

tapi mudah rusak dengan pemanasan. Autohidrolisa dapat diperbesar bila sesudah sel-sel rusak, tanaman direndam. Sianida cepat diabsorpsi di saluran pencernaan bagian atas, juga langsung dapat melalui kulit. Gas HCN cepat di-absorpsi oleh paru-paru. Sebetulnya ternak secara terus menerus mendapatkan sianida dalam konsentrasi kecil, tidak hanya dari makanan tetapi juga dari polusi udara, terutama asap rokok. Adanya jumlah yang kecil sekali dalarn tubuh mungkin dapat dianggap fisiologis dan mungkin berfungsi menghambat proses oksidasi sel. Untuk menghilangkan HCN dari makanan, caranya adalah dengan merebus dan membuang air perebus. Misalnya, sing-kong harus dimakan bila masih segar dan tidak rusak sel- selnya, atau dikupas dan dicuci dengan air mengalir. Tanrnan-tanaman lain yang mengandung HCN tidak boleh disimpan lama, dan tidak boleh rusak (bruised) selama panen, penjualan dan persiapan untuk dimakan. Dan yang telah direbus tidak boleh dicampur dengan yang segar. Saran lain, singkong yang pahit, yang berarti mengandung banyak HCN sebaiknya tidak dimakan.

3.2.1.4. Saponin

Saponin adalah suatu glikosida yang mungkin ada pada banyak macam tanaman. Saponin ada pada seluruh tanaman dengan konsentrasi tinggi pada bagian-bagian tertentu, dan dipengaruhi oleh varietas tanaman dan tahap

(17)

17 Pahit, (2). Dalam Larutan Air Membentuk Busa Yang Stabil, (3). Menghemolisa Eritrosit, (4). Merupakan Racun Kuat Untuk Ikan Dan Amfibi, (5). Membentuk

Persenyawaan Dengan Kolesterol Dan Hidrok-Sisteroid Lainnya, (6). Sulit Untuk Dimurnikan Dan Diidentifikasi, (7). Berat Molekul Relatif Tinggi, Dan Analisis

Hanya Menghasilkan Formula Empiris Yang Mendekati.

Toksisitasnya mungkin karena dapat merendahkan tegangan permukaan (surface tension). Dengan hidrolisa lengkap akan dihasilkan sapogenin (aglikon) dan karbohidrat (hexose, pentose dan saccharic acid). Berdasarkan atas sifat kimiawinya, saponin dapat dibagi dalam dua kelompok : (1). Steroids dengan 27 C

atom, (2). Triterpenoids, dengan 30 C atom.

Macam-macam saponin berbeda sekali komposisi kimiawi-nya, yaitu berbeda pada aglikon (sapogenin) dan juga karbohidratnya, sehingga tumbuh-tumbuhan tertentu dapat mem-punyai macam-macam saponin yang berlainan, seperti : (a). Quillage saponin : campuran dari 3 atau 4 saponin, (b). Alfalfa, (c).

saponin : campuran dari paling sedikit 5 saponin, (d). Soy bean saponin : terdiri dari 5 fraksi yang berbeda dalam sapogenin, atau karbohidratnya, atau dalam kedua-duanya.

Kematian pada ternak, mungkin disebabkan oleh gangguan pernafasan. Ternak yang mati karena racun saponin, tidak toksit untuk manusia bila dimakan. Tidak toksitnya untuk manusia dapat diketahui dari minuman seperti bir yang

busanya disebabkan oleh saponin. Contoh glikosida lain adalah tioglikosida dan bensiltiogli-kosida. Bila dihidrolisa dengan enzim menghasilkan tiosianat,

isotiosianat dan bensilsianat yang merupakan racun dan mempunyai sifat antitiroid. Zat-zat toksit tersebut ada pada bawang, selada air, kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang kedele dan juga pada macam-macam kol.

3.2.2. Protein

(18)

18 karena dengan pemanasan protein akan mengalami denaturasi. Lain halnya bila protein-protein ini ada pada bahan makanan yang dimakan mentah, seperti macam-macam buah, atau bila pemanasan terlalu singkat.

3.2.2.1. Peptida

Peptida, yang merupakan bagian dari protein, ada yang toksit, misalnya yang dihasilkan oleh cendawan tertentu. Protein terdiri dari asam-asam amino,

yang satu sama lain berikatan sehingga membentuk peptida. Di antara asam- asam amino ini ada juga yang toksit, seperti Mimosine.

3.2.2.2. Mimosine

Mimosine suatu asam amino yang mempunyai rumus bangun mirip dengan tirosin. Mimosine merupakan asam amino dari protein lamtoro kemlandingan, (Leucaena glauca) yang menyebabkan lamtoro menjadi suatu bahan makanan yang toksit. Kadar proteinnya tinggi dan rasanya enak, tetapi bila diberikan pada hewan seperti kuda, sapi, kambing, babi dan binatang laboratorium lainnya dapat mengakibatkan pertumbuhan berkurang, kondisi umum jelek dengan gejala khas, yaitu rontoknya bulu. Menurut penelitian Lin dkk. (1964), efek makanan eksperimen yang mengandung 0,5% lamtoro yaitu lambatnya pertumbuhan dapat dihilangkan sebagian dengan penambahan fenilalanin, dan dapat dihilangkan samasekali dengan penambahan tirosin in-vitro. Kadar mimosine dalam biji daun lamtoro menjadi berkurang bila disimpan pada temperatur lebih tinggi dari 70°C dan pada keadaan lembab. (Mitsumoto, 1951). Sedangkan hasil penelitian Yoshida (1944) menunjukkan bahwa penambahan garam FeSO4 pada makanan tikus yang mengandung lamtoro mengurangi aktivitas mimosine karena absorpsi mimosine dari saluran pencernaan berkurang.

3.2.2.3. Jengkolic Acid

Biji jengkol (Pithecolobium lobatum) merupakan makanan yang digemari

(19)

19 keracunan atau kejengkolan. Keracunan ini disebabkan oleh suatu asam amino, yaitu djeng-kolic acid (asam jengkol).

Rumus bangun asam jengkol mirip dengan rumus bangun asam amino sistin, tetapi sistin bukan merupakan pengganti (substitute) ataupun antagonis untuk asam jengkol. Anggapan Van Veen (1966) adalah, bila asam jengkol dalam bentuk tidak berikatan dengan zat lain, maka kadarnya adalah 12%. Pada varietas

hitam kadar asam jengkol dapat mencapai sampai 34%. Kejengkolan dapat terjadi bila reaksi air seni pemakan (consumer) adalah asam, sehingga asam jengkol

mengendap dalam bentuk jarum halus yang dapat merusak ginjal. Untuk mengatasi hal ini dapat diminum air abu dari macam-macam tumbuh-tumbuhan yang bereaksi alkalis. Menurut Heyne, keripik jengkol kurang beracun di-banding dengan bahan semula.

3.2.2.4. Lathyrogen

Lathyrogen adalah suatu asam amino yang tidak umum, yang ada pada protein dari biji tanaman jenis Lathyrus. Biji ini banyak dimakan antara lain di India. Gejala dari lathyrism ini adalah kerusakan jaringan saraf, rangka dan pembuluh darah. Ini disebabkan karena zat toksit tersebut merusak ikatan cross-link antara rantai-rantai polipeptida pada kolagen dan elastin, sehingga tulang dan

dinding pembuluh darah menjadi lemah. Zat toksit ini adalah suatu asam amino, yaitu B aminopropionitrile (lathyrogen).

3.2.2.5. Asam-Asam Amino Selenium

Asam amino ini LSelenocystine mempunyai unsur Se, sebagai pengganti unsur S. Tanaman yang mempunyai asam-asam aminoSe in, adalah yang tumbuh di tanah kaya akan Se. Pada beberapa tanaman kadar Se dapat mencapai 15.000

(20)

20 3.2.2.6. LDopa

Asam amino LDopa mungkin memegang peranan pada penyakit favism, suatu penyakit akut anemia hemolitik yang disebabkan oleh konsumsi broad

beans (fava beans) atau inhalasi pollen dari kacang babi (Vicia faba). Dalam tubuh ternak Dopa dapat dibentuk dari tirosin dan dapat dipakai untuk sintesa hormon epinefrin.

3.3.1. Vitamin

Ada trace elements yang termasuk toksit. Dalam jumlah yang kecil sekali trace elements seperti Mo dan Se diperlukan oleh ternak. Mo sebagai aktivator untuk bekerjanya enzim-enzim tertentu dan Se sebagai pengganti vitamin E dalam beberapa fungsi-fungsinya. Besarnya toksisitas oleh trace elements ini tergantung dari banyaknya yang dimakan, sifat dan macamnya, dan juga jenis binatang yang memakannya. Pada umumnya trace elements yang ada pada hasil makanan (food products) adalah dari tanah di mana tanaman itu tumbuh dan dari polusi, terutama

polusi industri, jadi bukan yang diproduksi sendiri oleh tanaman-tanaman itu.

3.3. Mekanisme Keracunan Pada Ternak

Sebenarnya nitrat sendiri kurang beracun. Setelah hijauan dimakan sapi atau ternak ruminansia lainnya dan sampai di rumen, maka nitrat ini akan direduksi oleh mikroba rumen menjadi nitrit. Senyawa nitrit inilah yang bersifat racun. Ion nitrit yang terbentuk diabsorbsi oleh darah dan masuk ke dalam eritrosit. Kemudian mengoksidasi ion Fe2+ (ferro) dalam hemoglobin (MetHb). Hb yang

seharusnya berfungsi mengangkut oksigen setelah berubah menjadi MetHb tidak sanggup lagi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Akibatnya ternak mengalami sesak nafas karena kekurangan oksigen (hypoxia).

Apabila kadar MetHb dalam darah mencapai 20-30 % dari Hb normal, mulailah terjadi hypoxia. Jika keadaan ini berlanjut terus, maka akan berakibat

(21)

21 yaitu warna merah (normal) menjadi warna merah kecoklatan (warna gelap). Perubahan warna darah ini merupakan ciri spesifik dari gejala keracunan nitrit. Gejala lainnya adalah sulit bernafas, pernafasan cepat dan pendek-pendek serta denyut jantung cepat tapi lemah. Pada ternak bunting, kemungkinan terjadi aborsi pada keracunan nitrat-nitrit yang akut.

Pengambilan rumput / hijauan pada sistem bercocok tanam tumpang sari

yang baru mendapatkan pemupukan urea atau pengambilan rumput yang tumbuh di sekitar pembuangan kotoran ternak dilaporkan mengandung nitrat yang cukup

tinggi. Ini dapat berbahaya karena berpeluang terjadinya keracunan, bila rumput tersebut dikonsumsi oleh ternak dalam jumlah yang banyak.

(22)

22 IV. KESIMPULAN

Dari ulasan keseluruhan dalam tulisan ini dapat disimpulkan bahwa saluran pencernaan ruminansia, pencernaannya secara sistematis terdiri atas mulut, esophagus, rumen, reticulum, omasum, abomasums, duodenum, JeJenum, ileum, secum, colon, dan rectum. Yang membedakannya dengan system pencernaan non-ruminansia adalah pada jumlah lambungnya, non-non-ruminansia hanya mempunyai 1 lambung, sedangkan ruminansia mempunyai lambung yang terdiri dari 4 bagian yang masing-masing mempunyai fungsi spesifiik masing-masing. Proses pencernaan pada ruminansia terjadi secara mekanis, fermentatif, dan enzimatis.

Kasus keracunan nitrat-nitrit kebanyakan terjadi pada ternak ruminansia. Penyebabnya adalah akibat mengkonsumsi hijauan yang mengandung nitrat tinggi, dan secara tidak langsung akibat perlakuan pemupukan baik pupuk alam maupun pupuk buatan terhadap produksi hijauan pakan. Kasus keracunan nitrat-nitrit dapat terjadi pada non-ruminansia, kuda dan sebangsanya, dan unggas (ayam dan itik), bahkan dapat terjadi pada manusia.

(23)

23 DAFTAR PUSTAKA

Abrar, A. 2001. Eksplorasi Mikroba Rumen Pendegradasi Sianida. Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Frandson, R. D. 2002. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta: UGM Press.

Jones, T.o. 1988. Nitrat/nitrit poisoning in cattle. In Practice. p. 199-203. Jones, T.o. 1993. Poison nitrat/nitrit. In Practice. p. 146-147.

Liener IE. (ed). Toxic constituents of plant foodstuffs. Academic Press, New York, 1969.

Mindelwill, I. 2006. Mikroba dalam rumen sapi.

Prakkasi, A. 2000. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Jakarta: UI Press.

Sutardi. 2002. Landasan Ilmu Nutrisi I. Bogor: Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

Widodo, Wahyu. 2005. Tanaman Beracun dalam Kehidupan Ternak.

Gambar

Gambar 1. Pencernaan Ternak Ruminansia

Referensi

Dokumen terkait

Akan te·· tapi menurut iVjcDonald (1969), selvaktu kehidupan fetus, bagian kardia pada lambung hewan ruminansia berkembang menjadi bagian rumen, retikulurn dan

Bayi baru lahir masih mempunyai lambung yang masih sangat kecil, sistem pencernaan bayi baru lahir pun belum mampu mencerna berbagai makanan dengan baik.. Oleh karena itu,

Pencernaan makanan secara kimiawi pada usus halus terjadi pada suasana basa. Makanan yang berasal dari lambung dan bersuasana asam akan

Fungsi keempat lambung tersebut berbeda- berbeda.Sedangkan pada umumnya saluran pencernaan ruminansia yang meliputi esophagus, usus halus, usus besar, rectum dan anus

Saluran pencernaan makanan pada manusia terdiri dari beberapa organ berturut-turut dimulai dari mulut (cavum oris), kerongkongan (esofagus), lambung (ventrikulus), usus

Sebagaimana pada cacing tanah, serangga memiliki sistem pencernaan makanan yang sudah sempurna, mulai dari mulut, kerongkongan, lambung, usus sampai anus.Pencernaan pada

Kancil merupakan satwa ruminansia yang memiliki alat pencernaan sederhana, lambung kancil hanya memiliki 3 ruangan yaitu rumen, retikulum, dan abomasum (Sigit,

Bloat adalah gangguan sistemik non-infeksius yang mengakibatkan gangguan pada sistem pencernaan