1.1 Pengertian dan Etiologi Bload
Bloat atau kembung rumen adalah gangguan sistemik non-infeksius yang mengakibatkan gangguan pada sistem pencernaan ruminansia. Bloat dapat diklasifikasikan menjadi bloat primer (frothy/wet bloat) yang berbentuk busa bersifat persisten yang bercampur dengan isi rumen dan bloat sekunder/timpani bloat (free gas/dry bloat) yang berbentuk gas bebas yang terpisah dari ingest. Bloat secara lebih rinci diklasifikasikan menjadi 3 yaitu frothy bloat disebabkan oleh pakan yang mengarah ke pembentukan busa yang stabil di dalam rumen, free gas bloat disebabkan oleh pakan yang menyebabkan peningkatan produksi gas dan penurunan pH rumen secara bersamaan serta free gas bloat karena kegagalan eruktasi akumulasi gas dari penyebab ekstraruminal seperti obstruksi esofagus.
Penyebab utama terjadinya bloat primer pada hewan ternak ruminansia umumnya disebabkan oleh konsumsi pakan leguminosa dan biji-bijian. Jenis leguminosa yang sering menjadi penyebab bloat termasuk alfalfa, sweetclover, red clover, ladino clover, white clover, dan alsike clover. Peningkatan jumlah gas pada rumen dapat menyebabkan terhambatnya proses erutaksi yang mengakibatkan gangguan pencernaan yang disebut dengan bloat atau kembung.
Bloat terjadi akibat akumulasi gas karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) didalam retikulum.
Molasses diduga juga dapat mengakibatkan kejadian bloat pada ruminansia. Kandungan molasses yang tinggi dalam pakan diduga menyebabkan pertumbuhan yang berlebihan dari mikroba dalam rumen sehingga mengakibatkan peningkatan sekresi mucilaginous. Pemberian dalam jumlah besar akan mengakibatkan peningkatan fermentasi mikroba sehingga mengakibatkan produksi gas yang berlebihan.
1.2 Tanda Klinis
Tanda klinis yang sering terlihat meliputi pembesaran atau distensi pada bagian kiri rumen, tingkat stres, dan kesulitan bernapas. Gejala lain yang mungkin mucul dan dapat teramati yaitu tingginya frekuensi ternak berbaring dan bangun, meningkatnya defekasi, ternak menendang perut dan mungkin berguling untuk mereduksi rasa sakit. Gejala lain yang muncul yaitu ternak yaitu sering bernafas dengan membuka mulut, perut bagian kiri terlihat buncit/membengkak, kesulitan berjalan dan peningkatan frekuensi urinasi.
1.3 Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan bloat bisa dicapai melalui manajemen pakan dengan memilih jenis pakan hijauan yang tidak memicu bloat atau mudah difermentasi, seperti legum yang memiliki kandungan tanin yang tinggi dan rumput-rumputan. Pastikan pakan hijauan yang diberikan telah terbebas dari embun pagi atau telah dikeringkan, serta bisa juga diberikan antifoaming agent atau mineral. Perubahan dari pakan hijauan ke pakan konsentrat juga bisa memicu bloat, oleh karena itu, diperlukan waktu adaptasi apabila terjadi perubahan jenis atau struktur pakan.
Diet untuk hewan yang rentan terkena bloat dikaitkan dengan pola penggembalaan di peternakan, yang dapat mempengaruhi kejadian bloat pada hewan ternak. penggunaan ionofor dalam diet ternak adalah bagian dari strategi untuk mengurangi emisi metana usus. Kejadian bloat pada sapi secara praktis dapat dihilangkan atau sangat berkurang ketika proporsi orchardgrass (jenis rumput yang digunakan sebagai pakan ternak) dalam diet sapi mencapai lebih dari 0,4. Di sebagian besar kasus, tingkat perlindungan yang serupa teramati ketika proporsi orchardgrass dalam diet hanya sekitar 0,25. penambahan orchardgrass ke dalam diet sapi pada tingkat 250 g/kg mengurangi kejadian bloat sebanyak 1/3.
Suplementasi pakan dengan tanin terkondensasi mampu mencegah bloat karena foam/busa yang memerangkap gas-gas fermentasi. Penanganan ternak yang terkena bloat dapat dilakukan dengan pemberian obat anti bloat misalnya bloatex dan tympanol untuk mengeluarkan gas dalam rumen yang terlalu banyak. Ternak yang terkena bloat akut bisa diberi tindakan penusukan perut bagian kiri tepat di rumen menggunakan cannula dan trocar.
DAFTAR PUSTAKA
Munda, S., Pandey, R., Bhojne, G. R., Dakshinkar, N. P., Kinhekar, A. S., Kumar, V., Ravikumar, R.K dan Kumar, V. 2016. Indigenous Knowledge Research System [IKRS]
for treatment of bloat and its significance towards greenhouse gas emission: Jharkhand, India. Adv. Anim. Vet. Sci. 4(5): 241-249.
Putra, N. G. W., Ramadani, D. N., Ardiansyah, A., Syaifudin, F., Yulinar, R. I., & Khasanah, H.
2022. Strategi Pencegahan dan Penanganan Gangguan Metabolis pada Ternak Ruminansia. Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science).
24(2): 150-159.
Wang, Y., Majak, W., & McAllister, T. A. 2012. Frothy bloat in ruminants: cause, occurrence, and mitigation strategies. Animal feed science and technology. 172(2012): 103-114.
Yanuartono, S. I., Nururrozi, A., Purnamaningsih, H., & Raharjo, S. 2018. Peran pakan pada kejadian kembung rumen Article Review: The role of feed on bloat. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan. 28(2): 141-157.