• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE, PENGUNGKAPAN SOSIAL, DAN PERINGKAT CGPI TERHADAP KUALITAS LABA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE, PENGUNGKAPAN SOSIAL, DAN PERINGKAT CGPI TERHADAP KUALITAS LABA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH MEKANISME

CORPORATE GOVERNANCE

,

PENGUNGKAPAN SOSIAL, DAN PERINGKAT CGPI

TERHADAP KUALITAS LABA

Eko Budi Santoso

Fakultas Bisnis Universitas Kristen Duta Wacana Jl. Dr. Wihidin Sudiro Husodo 5 - 25, Yogyakarta, 55224

Meiliana Tan

KAP Ernest & Young

ABSTRACT

The objective of this research is to examine the influence of several corporate governance mechanisms, namely managerial ownership and institutional ownership; information of corporate social responsibility (CSR) disclosed in the companies’ annual reports, and the rate of corporate governance perception index (CGPI) on earnings quality (measured by earning response coefficient/ERC). The sample of this research is all private company listed on Indonesia Stock Exchange (IDX) since 1993 which include the top ten and non-top ten of corporate governance perception index (CGPI) rate in 2002-2008, except 2007. The number of sample is 53 samples from 28 companies collected. By using regression analysis, the result of this research show that : (a) managerial ownership has no influence on earnings quality; (b) institutional ownership has no influence on earnings quality; (c) the level of CSR disclosure has influence on earnings quality; and (d) the corporate governance perception index (CGPI) rate has no influence on earnings quality in five percent level of significance, but it is significant in ten percent level of significance. This result indicates that investors asses the CSR information disclosed by the companies in their annual reports for their investment decision..

Keywords: corporate governance mechanism, corporate social responsibility, earning quality

PENDAHULUAN

Tujuan suatu perusahaan didirikan adalah untuk meningkatkan nilai perusaha-an dengperusaha-an meningkatkperusaha-an kemakmurperusaha-an pemilik atau para pemegang sahamnya. Untuk mengetahui nilai perusahaan dan tingkat kemakmurannya, pemilik atau para pemegang saham menggunakan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus dapat

men-cerminkan kondisi perusahaan yang sesungguhnya. Menurut Schipper dan Vincent dalam Boediono (2005), laporan keuangan menjadi alat utama bagi perusahaan untuk menyampaikan informa-si keuangan mengenai pertanggung jawa-ban pihak manajemen.

(2)

2

Informasi tentang laba mengukur keber-hasilan atau kegagalan bisnis dalam men-capai tujuan operasi yang ditetapkan. Baik kreditur maupun pemegang saham, meng-gunakan laba untuk mengevaluasi kinerja manajemen, memperkirakan earnings

power, dan untuk memprediksi laba

dima-sa yang akan datang.

Laporan laba sebagai produk infor-masi yang dihasilkan perusahaan, tidak terlepas dari proses penyusunannya. Proses penyusunan laporan ini melibatkan pihak pengurus dalam pengelolaan perusahaan, yaitu manajer. Perhitungan laba yang dilakukan oleh manajer ini dapat menim-bulkan masalah. Dalam hal ini, manajer memiliki kecenderungan untuk memen-tingkan keuntungannya tanpa memikirkan kepentingan pemegang saham, yaitu dengan melakukan manajemen laba yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti taking a bath, income minimization, income maximization, dan income

smoothing.

Menurut Cho dan Jung dalam Boediono (2005), laba yang dipublikasikan dapat memberikan respon yang bervariasi, yang menunjukkan adanya reaksi pasar terhadap informasi laba. Reaksi yang diberikan tergantung dari kualitas laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Dengan kata lain, laba yang dilaporkan memiliki kekuatan respon. Manajemen laba yang dilakukan oleh manajer dapat mempenga-ruhi kualitas laba yang dilaporkan, yang diukur dengan earnings response

coefficient (ERC). Kuatnya reaksi pasar

terhadap informasi laba yang tercermin dari tingginya ERC, menunjukkan laba yang dilaporkan berkualitas. Demikian sebaliknya, lemahnya reaksi pasar terhadap informasi laba yang tercermin dari rendahnya ERC, menunjukkan laba yang dilaporkan kurang atau tidak berkualitas.

Laporan keuangan yang berkualitas (dalam hal ini kualitas laba) diharapkan dapat membantu para investor dan calon investor untuk membuat keputusan.

Kualitas laba menjadi perhatian yang utama bagi para pengguna laporan keuangan untuk tujuan investasi dan untuk tujuan kontraktual. Keputusan investasi atau keputusan kontrak yang didasarkan pada laba yang kurang berkualitas akan dapat menyebabkan kesalahan wealth

transfer karena laba yang kurang

berkuali-tas akan memberikan sinyal yang kurang baik. Laba yang kurang berkualitas bisa terjadi karena dalam menjalankan bisnis perusahaan, manajemen bukan merupakan pemilik perusahaan. Pemisahan kepemili-kan ini akepemili-kan dapat menimbulkepemili-kan konflik dalam pengendalian dan pelaksanaan pe-ngelolaan perusahaan. Konflik antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan ini biasa disebut dengan masalah keagenan. Menurut Watts dan Zimmerman dalam Midiastuty dan Machfoedz (2003), secara implisit ada tiga bentuk hubungan keagenan, yaitu antara pemilik dengan manajemen, kreditur de-ngan manajemen, dan pemerintah dede-ngan manajemen.

Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem untuk menjembatani adanya pemi-sahan kepentingan antara pemilik dan pe-ngelola di dalam suatu perusahaan. Pemi-sahan ini diharapkan dapat mensejajarkan kepentingan pemilik atau pemegang saham dengan kepentingan manajer selaku pengelola perusahaan. Sistem tersebut adalah dengan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance -

GCG). Good Corporate Governance

(GCG) merupakan suatu konsep tentang tata kelola perusahaan yang sehat. Konsep ini diharapkan dapat melindungi pemegang saham dan kreditur agar dapat memperoleh kembali investasinya. GCG merupakan suatu sistem pengelolaan perusahaan yang mencerminkan hubungan yang sinergi antara manajemen dan pemegang saham, kreditur, pemerintah, dan stakeholders

(3)

ke-3

pentingan stakeholders. Pelaksanaan good

corporate governance menuntut adanya

perlindungan yang kuat terhadap hak-hak pemegang saham, terutama pemegang saham minoritas. Prinsip-prinsip atau pedoman pelaksanaan corporate

gover-nance menunjukkan adanya perlindungan

tersebut, tidak hanya kepada pemegang saham, tetapi meliputi seluruh pihak yang terlibat dalam perusahaan termasuk masyarakat.

Sejak tahun 2001, The Indonesia Institute for Corporate Governance

(IICG), sebuah lembaga swasta, telah melakukan penelitian tentang proses penerapan GCG di perusahaan publik. Hasil risetnya berupa pemeringkatan sepuluh besar perusahaan yang telah menerapkan GCG atau biasa disebut

Corporate Governance Perception Index

(CGPI). CGPI merupakan salah satu informasi yang masuk di pasar modal. Informasi mengenai CGPI diharapkan dapat memberikan dampak positif teruta-ma yang menyangkut kepercayaan investor atas dana yang diinvestasikan. Pengaruh pengumuman CGPI diduga akan membe-rikan reaksi positif investor serta mampu mengubah harapan investor tentang perusahaan yang bersangkutan.

Berdasarkan paparan latar belakang diatas, yaitu bahwa penerapan GCG dapat memberikan manfaat positif bagi perusa-haan melalui pelaksanaan mekanisme dan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan, maka penelitian ini mencoba untuk menguji beberapa pengaruh mekanisme corporate

governance, yaitu kepemilikan manajerial,

dan kepemilikan institusional; pengungka-pan CSR terhadap kualitas laba yang diproksi dengan ERC. Penelitian ini tidak mengikutsertakan mekanisme komisaris independen dan komite audit sebagai mekanisme corporate governance, dikare-nakan berdasarkan data Bapepam pada akhir tahun 2003, tercatat sebanyak 99% perusahaan publik telah memiliki komi-saris independen, dan sebanyak 90%

perusahaan publik telah memiliki komite audit. Dan untuk membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, maka penelitian ini juga menambahkan pengaruh pemeringkatan CGPI yang dilakukan oleh IICG, yang berupa peringkat sepuluh besar dan non sepuluh besar terhadap kualitas laba. Adanya pemeringkatan CG yang berupa CGPI ini memungkinkan adanya perbedaan pengaruh antara perusahaan yang masuk sepuluh besar dan non sepuluh besar CGPI.

KAJIAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Corporate Governance

Istilah corporate governance per-tama kali diperkenalkan oleh Cadbury

Committee di tahun 1992 yang

meng-gunakan istilah tersebut dalam laporan mereka yang kemudian dikenal sebagai

Cadbury Report. Laporan ini dipandang

sebagai titik balik yang sangat menentukan bagi praktik corporate governance di seluruh dunia. Cadbury Report mendefi-nisikan corporate governance sebagai suatu sistem yang berfungsi untuk menga-rahkan dan mengendalikan organisasi.

Forum for Corporate Governance in

Indonesia (FCGI) mendefinisikan

corpor-ate governance sebagai seperangkat

pera-turan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepen-tingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan.

Tujuan corporate governance ialah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (

stake-holders). Ada dua hal yang menjadi

(4)

4

mengungkapkan secara akurat, tepat waktu dan transparan mengenai semua informasi kinerja keuangan, kepemilikan dan

stake-holders.

Dalam konteks tumbuhnya kesada-ran akan arti penting corporate governan-ce, Organization for Economic

Corpora-tion and Development (OECD) telah

mengembangkan seperangkat prinsip-prinsip good corporate governance dan dapat diterapkan secara luwes/fleksibel sesuai dengan keadaan, budaya, dan tradisi di masing-masing negara. Prinsip-prinsip ini diharapkan menjadi titik rujukan bagi pemerintah dalam membangun kerangka bagi penerapan corporate governance. Bagi para pelaku usaha dan pasar modal, prinsip-prinsip ini dapat menjadi panduan atau pedoman dalam mengelaborasi praktik-praktik bisnis terbaik bagi pening-katan nilai dan keberlangsungan perusa-haan.

Prinsip-prinsip OECD mencakup lima bidang utama, yaitu hak-hak para pemegang saham dan perlindungannya, peran para karyawan dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya, pengungkapan yang akurat dan tepat waktu serta transparansi sehubungan dengan struktur dan operasi korporasi; tanggung jawab dewan komisaris maupun direksi terhadap perusahaan, pemegang saham, dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. Atau secara ringkas prinsip-prinsip tersebut dapat dirangkum sebagai : perlakuan yang setara (equitable treatment atau fairness), transparansi (transparency), akuntabilitas

(accountability), dan responsibilitas

(res-ponsibility), dan independensi

(inde-pendency).

Corporate Governance Perception Index (CGPI)

Dalam www.iicg.org, Corporate

Governance Perception Index (CGPI)

adalah Program riset dan pemeringkatan penerapan tata kelola perusahaan yang baik pada perusahaan publik dan BUMN

di Indonesia. Program ini dilaksanakan sejak tahun 2001 dilandasi pemikiran pentingnya mengetahui sejauh mana perusahaan-perusahaan tersebut menerap-kan prinsip-prinsip GCG.

Program riset dan pemeringkatan CGPI diselenggarakan oleh The Indonesia

Institute for Corporate Governance (IICG)

bekerjasama dengan majalah SWA sebagai mitra media publikasi. Program ini didesain untuk memacu perusahaan dalam meningkatkan kualitas penerapan CG melalui perbaikan yang berkesinambungan dengan melaksanakan evaluasi dan melakukan studi banding. Program CGPI akan memberikan apresiasi dan pengakuan kepada perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan CG melalui CGPI awards dan penobatan sebagai perusahaan terpercaya.

Almilia dan Sifa dalam Santoso dan Shanti (2007) mengungkapkan pemering-katan CGPI ini dilakukan berdasarkan dengan tujuh kriteria. Pertama, komitmen perseroan terhadap corporate governance, hal ini menjelaskan sejauh mana perseroan menaruh perhatian terhadap semangat

good corporate governance. Kedua,

(5)

5

diperbandingkan terutama menyangkut masalah keuangan, pengelolaan dan kepe-milikan perusahaan. Ketujuh, tanggapan terhadap riset IICG, sejauh mana kese-riusan responden untuk mengikuti riset ini.

Struktur Kepemilikan

Masalah corporate governance me-rupakan masalah yang timbul sebagai akibat pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan mempunyai kepentingan ber-beda-beda. Perbedaan tersebut antara lain karena karakteristik kepemilikan dalam perusahaan. Dalam tipe kepemilikan timbul dua kelompok pemegang saham, yaitu controlling interest dan minority

interest (shareholders).

Adanya masalah keagenan dapat dipengaruhi oleh struktur kepemilikan (kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional). Struktur kepemilikan oleh beberapa peneliti dipercaya mampu mem-pengaruhi jalannya perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusa-haan dalam mencapai tujuan perusaperusa-haan yaitu maksimalisasi nilai perusahaan. Hal ini disebabkan oleh adanya kontrol yang mereka miliki.

Kepemilikan manajerial merupakan isu penting dalam teori keagenan sejak dipublikasikan oleh Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa semakin besar proporsi kepemilikan manajemen dalam suatu perusahaan maka manajemen akan berupaya lebih giat untuk memenuhi ke-pentingan pemegang saham yang juga adalah dirinya sendiri (Midiastuty dan Machfoedz, 2003). Sukartha (2008) me-nyatakan kepemilikan manajerial meru-pakan program kebijakan remunerasi guna mengurangi masalah keagenan. Kompen-sasi tetap berupa gaji, tunjangan, dan bonus terbukti dapat digunakan sebagai sarana untuk menyamakan kepentingan manajemen dengan pemegang saham. Shleifer dan Vishny dalam Siallagan dan Machfoedz (2006) menyatakan bahwa kepemilikan saham yang besar dari segi

nilai ekonomisnya memiliki insentif untuk memonitor. Secara teoritis ketika kepemili-kan manajerial rendah, maka insentif terhadap kemungkinan terjadinya perilaku oportunistik manajer akan meningkat. Kepemilikan manajemen terhadap saham perusahaan dipandang dapat menyelaras-kan potensi perbedaan kepentingan antara pemegang saham luar dengan manajemen. Sehingga permasalahan manajemen di-asumsikan akan hilang apabila seorang manajer adalah juga sekaligus sebagai pemilik.

Dengan tingginya kepemilikan ma-najerial, para investor institusional akan mendapatkan kesempatan kontrol perusa-haan yang lebih sedikit. Ini berarti bahwa hubungan antara kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional adalah negatif. Hubungan ini sesuai dengan penelitian Fitri dan Mamduh dalam Putri dan Nasir (2006).

Pengungkapan Sosial (Corporate Social Responsibility)

Boone dan Kurtz dalam Safitri (2009) mengatakan bahwa pengertian tanggung jawab sosial secara umum adalah dukungan manajemen terhadap kewajiban untuk mempertimbangkan laba, kepuasan pelanggan, dan kesejahteraan masyarakat secara setara dalam mengevaluasi kinerja perusahaan.

(6)

6

merespon masalah-masalah lingkungan hidup; menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat; dan memproduksi produk-produk bermutu tinggi yang aman untuk digunakan.

Pengungkapan sosial yang diungkap-kan perusahaan merupadiungkap-kan informasi yang sifatnya sukarela. Karenanya, perusahaan memiliki kebebasan untuk mengungkap-kan informasi yang tidak diharusmengungkap-kan oleh badan penyelenggara pasar modal. Singhvi dan Desai dalam Rizal (2004) menyatakan bahwa keragaman dalam pengungkapan disebabkan oleh entitas yang dikelola oleh manajer yang memiliki filosofis manajerial yang berbeda dan keluasan dalam kaitannya dengan pengungkapan informasi kepada masyarakat.

Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan menge-nai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah, khususnya bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang pera-nan penting

Dasar untuk melihat pelaksanaan CSR pada perusahaan menurut Lantos dalam Safitri (2009) adalah 1) tanggung jawab ekonomi : menguntungkan bagi pemegang saham, menyediakan pekerjaan yang bagus bagi pekerjanya, menghasilkan produk yang berkualitas bagi pelanggan. 2) tanggung jawab hukum : mengikuti hukum dan berlaku sesuai aturan permainan. 3) tanggung jawab etik : menjalankan bisnis dengan moral, mengerjakan apa yang benar, apa yang harus dan adil, dan tidak menimbulkan kerusakan. 4) tanggung jawab fillantropis : memberikan kontribusi secara sukarela kepada masyarakat, mem-berikan waktu dan uang untuk pekerjaan yang baik.

Kualitas Laba

Menurut FASB (Financial

Account-ing Standards Board) informasi yang

rele-van tentang entitas harus mempunyai kemampuan untuk mempre-diksi kinerja perusahaan di masa yang akan datang. Salah satu informasi yang paling relevan adalah laba. Tujuan utama dalam melaporkan laba adalah untuk membantu investor dan kreditor dalam memprediksi arus kas yang akan datang. Mayangsari dan Wilopo (2002) menga-takan bahwa pemilihan metode akuntansi tidak terbatas hanya pada unsur-unsur yang dapat mempengaruhi arus kas tetapi juga mempengaruhi nilai perusahaan yang tercermin pada laba perusahaan. Oleh karena itu, dilakukan pengukuran kualitas laba untuk menilai keadaan perusahaan yang sebenarnya.

Schipper dan Vincent dalam Sutopo (2009) menyatakan kualitas laba menun-jukkan tingkat kedekatan laba yang dilaporkan dengan income, yang merupa-kan laba ekonomik yaitu jumlah yang dapat dikonsumsi dalam satu periode dengan menjaga kemampuan perusahaan pada awal dan akhir periode tetap sama. Kualitas laba akuntansi ditunjukkan oleh kedekatan atau korelasi antara laba akuntansi dan laba ekonomik.

(7)

7

transitori. Persistensi sebagai kualitas laba ini ditentukan berdasarkan perspektif kemanfaatannya dalam pengambilan kepu-tusan khususnya dalam penilaian ekuitas. Kemampuan prediksi menunjukkan kapa-sitas laba dalam memprediksi butir informasi tertentu, misalnya laba di masa datang. Dalam hal ini, laba yang berkua-litas tinggi adalah laba yang mempunyai kemampuan tinggi dalam memprediksi laba di masa datang. Berdasarkan konstruk variabilitas, laba berkualitas tinggi adalah laba yang mempunyai variabilitas relatif rendah.

Kedua, kualitas laba didasarkan pada hubungan laba-kas-akrual yang dapat diukur dengan berbagai ukuran, yaitu rasio kas operasi dengan laba, perubahan akrual total, estimasi abnormal/discretionary

accruals, dan estimasi hubungan

akrual-kas. Dengan menggunakan ukuran rasio kas operasi dengan laba, kualitas laba ditunjukkan oleh kedekatan laba dengan aliran kas operasi. Laba yang semakin dekat dengan aliran kas operasi mengindi-kasikan laba yang semakin berkualitas. Dengan menggunakan ukuran perubahan akrual total, laba berkualitas adalah laba yang mempunyai perubahan akrual total kecil. Pengukuran ini mengasumsikan bahwa perubahan total akrual disebabkan oleh perubahan discretionary accruals. Estimasi discretionary accruals dapat diukur secara langsung untuk menentukan kualitas laba. Semakin kecil discretionary

accruals, semakin tinggi kualitas laba, dan

sebaliknya. Selanjutnya, keeratan hubu-ngan antara akrual dan aliran kas juga dapat digunakan untuk mengukur kualitas laba. Semakin erat hubungan antara akrual dan aliran kas, semakin tinggi kualitas laba.

Ketiga, kualitas laba dapat didasar-kan pada Konsep Kualitatif Rerangka Konseptual (Financial Accounting

Standards Board, FASB, 1978). Laba yang

berkualitas adalah laba yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan yaitu yang

memiliki karakteristik relevansi, reliabili-tas, dan komparabilitas/konsistensi. Pengu-kuran masing-masing kriteria kualitas tersebut secara terpisah sulit atau tidak dapat dilakukan. Oleh sebab itu, dalam penelitian empiris koefisien regresi harga dan return saham pada laba (dan ukuran-ukuran terkait yang lain misalnya aliran kas) diinterpretasi sebagai ukuran kualitas laba berdasarkan karakteristik relevansi dan reliabilitas.

Keempat, kualitas laba berdasarkan keputusan implementasi meliputi dua pendekatan. Dalam pendekatan pertama, kualitas laba berhubungan negatif dengan banyaknya pertimbangan, estimasi, dan prediksi yang diperlukan oleh penyusun laporan keuangan. Semakin banyak estimasi yang diperlukan oleh penyusun laporan keuangan dalam mengimplemen-tasi standar pelaporan, semakin rendah kualitas laba, dan sebaliknya. Dalam pendekatan kedua, kualitas berhubungan negatif dengan besarnya keuntungan yang diambil oleh manajemen dalam mengguna-kan pertimbangan agar menyimpang dari tujuan standar (manajemen laba). Manaje-men laba yang semakin besar Manaje- mengindi-kasi kualitas laba yang semakin rendah, dan sebaliknya.

Earnings Response Coefficient (ERC)

(8)

8

Banyak ahli yang berargumen bahwa hubungan antara return dan laba (rugi) yang tidak terduga tersebut membentuk suatu persamaan regresi. Slope koefisien dari persamaan regresi tersebut dikenal sebagai earnings response coefficient

(ERC). ERC dapat didefinisikan sebagai efek satu satuan mata uang dari laba yang diharapkan pada return saham dan menggambarkan reaksi investor terhadap pengumuman laba/rugi tersebut.

ERC menunjukkan kuat lemahnya reaksi pasar terhadap pengumuman laba, sehingga bisa digunakan untuk mempre-diksi kandungan informasi laba yang dihasilkan oleh laporan tersebut. Salah satu faktor yang mempengaruhi ERC adalah laporan keuangan itu sendiri. Jika investor mempunyai persepsi bahwa informasi keuangan itu memiliki tingkat kredibilitas tinggi (rendah), maka ia akan bereaksi terhadap laporan keuangan tersebut secara kuat (lemah). Hal itu akan tercermin dari nilai ERC yang tinggi (rendah). Reaksi yang diberikan tergantung dari kualitas laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Ada beberapa hal yang menyebabkan respon pasar yang berbeda terhadap laba, yaitu persistensi laba, beta, struktur permodalan perusahaan, kualitas laba, kesempatan bertumbuh, dan informativeness of price.

Penelitian mengenai pengaruh mekanisme corporate governance terhadap kualitas laba telah banyak dilakukan sebelumnya. Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Siallagan (2007). Peneli-tiannya bertujuan untuk menginvestigasi apakah mekanisme corporate governance

(kepemilikan manajerial, dewan komisaris, dan komite audit) mempengaruhi kualitas laba. Dengan menggunakan sampel sebanyak 74 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepemi-likan manajerial berpengaruh positif terha-dap kualitas laba dan dewan komisaris secara negatif berpengaruh terhadap kualitas laba.

Mekanisme corporate governance

lainnya adalah kepemilikan institusional. Dalam penelitian Midiastuty dan Machfoedz (2003) yang menguji hubungan mekanisme corporate governance terhadap manajemen laba yang dikaitkan dengan kualitas laba, mereka menggunakan baik kepemilikan manajerial maupun kepemili-kan institusional. Hasil penelitian ini dapat mendukung penelitian sebelumnya bahwa mekanisme corporate governance tersebut dapat mempengaruhi penurunan manaje-men laba yang pada akhirnya manaje- meningkat-kan kualitas laba yang dilapormeningkat-kan.

Selain itu, ada pula penelitian sebe-lumnya mengenai pengaruh pengungkapan sosial terhadap kualitas laba yang dilakukan oleh Sayekti dan Wondabio (2007). Dalam penelitiannya, kualitas laba diproksikan dengan earnings response

coefficient (ERC). Dan penelitian ini

mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa tingkat pengungkapan informasi sosial dalam laporan tahunan perusahaan berpengaruh terhadap kualitas laba. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa investor mengapresiasi informasi sosial yang diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan.

Penelitian-penelitian sebelumnya te-lah banyak menguji pengaruh mekanis-me

corporate governance terhadap kualitas

laba. Mekanisme yang sering digunakan antara lain adalah kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dewan komisa-ris, komite audit, dan dewan direksi. Namun, belum banyak yang menggunakan variabel pemeringkatan CGPI (Corporate

Governance Perception Index) yang

merupakan hasil survei IICG yang berupa peringkat sepuluh besar dan non sepuluh besar, untuk menguji penga-ruh peringkat tersebut terhadap kualitas laba.

(9)

9

dana yang diinvestasikan. Pengaruh pengu-muman CGPI diduga akan memberikan reaksi positif investor serta mampu mengu-bah harapan investor tentang perusahaan yang bersangkutan.

Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh perusahaan-perusahaan yang menerapkan corporate governance. Misal-nya, Harmanto dalam majalah SWA (2004) mengungkapkan beberapa manfaat menerapkan corporate governance, misal-nya dipercaya investor, mitra bisnis maupun kreditor; menjadi lebih linear karena pembagian tugas serta kewenangan yang jelas; perimbangan kekuatan diantara struktur internal perusahaan, yakni direksi, komisaris, komite audit, dan sebagainya; pengambilan keputusan menjadi lebih akuntabel dan lebih berhati-hati.

Selain itu, Boedirasasta dalam maja-lah SWA (2005) juga menyatakan bebera-pa manfaat menerapkan corporate

governance yang lain, misalnya

perusaha-an akperusaha-an lebih dipercaya investor, mitra bisnis pun tidak ragu mengembangkan hubungan bisnis yang lebih luas lagi, para kreditur memiliki kepercayaan tinggi un-tuk mengucurkan kreditnya yang mungkin diperlukan untuk perluasan usaha, dan pengambilan keputusan menjadi lebih dapat dipertanggung jawabkan.

Berdasarkan manfaat ini, maka diduga besar kemungkinan saham-saham perusahaan yang masuk CGPI akan direak-si oleh pasar, karena dengan bersedia mengikuti survei saja, perusahaan sudah menunjukkan adanya itikad menjadi perusahaan yang terpercaya dan terbuka. Terlebih jika mengingat perusahaan tidak diwajibkan mengikuti survei CGPI, karena survei ini bersifat sukarela berdasarkan kebersediaan perusahaan untuk ikut survei. Selanjutnya, berdasarkan manfaat tersebut, kemungkinan saham-saham yang masuk CGPI akan direaksi oleh pasar baik yang masuk sepuluh besar maupun non sepuluh besar CGPI. Perusahaan yang masuk sepuluh besar CGPI diduga mempunyai

tata kelola perusahaan yang lebih baik dibandingkan perusahaan non sepuluh besar CGPI, terutama dalam hal penyam-paian informasi, sehingga perusahaan dapat meningkatkan kemakmuran para pemegang saham dengan meningkatnya harga saham. Dengan adanya kondisi yang demikian, harga saham dan volume perdagangan saham pada perusahaan yang masuk sepuluh besar CGPI akan lebih tinggi dibandingkan dengan non sepuluh besar CGPI, dimana hal ini akan mempengaruhi return yang akan diperoleh investor, baik return sesungguhnya maupun return yang diharapkan. Selisih antara return sesungguhnya dan return yang diharapkan ini biasa disebut sebagai return tidak normal (abnormal return). Adanya pemeringkatan CG yang berupa CGPI ini memungkinkan adanya pengaruh yang berbeda antara perusahaan yang masuk sepuluh besar dan non sepuluh besar CGPI atas abnormal return per-usahaan-perusahaan tersebut, yang dapat menjadi ukuran dari earnings response

coefficient (ERC).

H1a : Terdapat pengaruh kepemilikan

manajerial terhadap kualitas laba.

H1b : Terdapat pengaruh kepemilikan

institusional terhadap kualitas laba.

H1c : Terdapat pengaruh pengungkapan

sosial terhadap kualitas laba.

H1d : Terdapat pengaruh peringkat CGPI

terhadap kualitas laba.

METODA PENELITIAN

Data yang digunakan dalam pene-litian ini adalah data sekunder. Data sekunder yang dimaksud meliputi: 1) la-poran keuangan dan lala-poran tahunan perusahaan tahun 2002, 2003, 2004, 2005, 2006, dan 2008 yang diperoleh dari website Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu www.idx.co.id; 2) data tentang kepemili-kan institusional dan kepemilikepemili-kan mana-jerial dari Indonesia Capital Market

(10)

1 0

2004, 2005, 2006, dan 2008; 3) data tentang peringkat sepuluh besar dan non sepuluh besar CGPI yang dipublikasikan dalam majalah SWA Sembada; 4) data tentang indeks pengungkapan sosial; 5) data harga saham harian selama periode pengamatan (3 hari sebelum publikasi laporan keuangan, 1 hari saat publikasi laporan keuangan, dan 3 hari setelah publikasi) tahun 1992 sampai dengan 2009; 6) data IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) harian selama periode penga-matan (3 hari sebelum publikasi laporan keuangan, 1 hari saat publikasi laporan keuangan, dan 3 hari setelah publikasi) tahun 1992 sampai dengan 2009.

Dalam penelitian ini, proses pertama sebelum melakukan penentuan sampel adalah menentukan populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2002, 2003, 2004, 2005, 2006, dan 2008.

Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan metode pusposive sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang masuk dalam peringkat sepuluh besar dan non sepuluh besar CGPI tahun 2002, 2003, 2004, 2005, 2006, dan 2008, yang diumumkan pada majalah SWA Sembada, dengan kriteria sebagai berikut: 1) perusa-haan yang telah memperdagangkan saham-nya di Bursa Efek dari tahun 1993 sampai tahun 2009 (selama periode pengamatan); 2) perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan dan laporan tahunan untuk periode yang berakhir 31 Desember selama periode pengamatan tahun 2002, 2003, 2004, 2005, 2006, dan 2008; 3) perusahaan yang memiliki data kepemili-kan manajerial dan kepemilikepemili-kan institusi-onal selama periode pengamatan tahun 2002, 2003, 2004, 2005, 2006, dan 2008.

Definisi Operasional Variabel

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas laba yang diproksikan

dengan earnings response coefficient

(ERC). Besarnya ERC diperoleh dari regresi antara Cummulative Abnormal

Return (CAR) dan Unexpected Earnings

(UE), dengan melakukan beberapa tahap perhitungan. Tahap pertama adalah meng-hitung Cumulative Abnormal Return

(CAR) masing-masing sampel dan kemu-dian menghitung Unexpected Earnings

(UE).

Cumulative abnormal return (CAR)

merupakan proksi dari harga saham atau reaksi pasar.

CARi(-3,+3) = ∑ ARit

Dimana:

CARi(-3,+3) : abnormal return kumulatif perusahaan I selama periode pengamatan kurang lebih 3 hari dari tanggal publikasi laporan keuangan (3 hari sebelum, 1 hari tanggal publikasi, dan 3 hari setelah tanggal pubikasi laporan keuangan).

ARit : abnormal return perusahaan I

pada hari t

Dalam penelitian ini, abnormal return

dihitung menggunakan model sesuaian pasar (market adjusted model). Hal ini sesuai dengan Jones dalam Murwaningsari (2007) yang menjelaskan bahwa estimasi return sekuritas terbaik adalah return pasar saat itu.

Abnormal return diperoleh dari :

ARi,t = Ri,t – Rm,t

Dimana :

ARi,t : abnormal return perusahaan i pada periode ke-t

Ri,t : return perusahaan pada periode ke-t

Rm,t : return pasar pada periode ke-t

Tingkat keuntungan yang terjadi

(11)

merupa-1 merupa-1

kan return yang telah terjadi. Return realisasi dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi penting karena digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja dari perusahaan. Return historis ini juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi (expected return) dan risiko di masa datang. Return realisasi dapat dihitung dengan persamaan:

Rit = Pt – Pt-1 Pt-1 Dimana :

Rit : realized return saham perusahaan i pada periode t

Pt : harga saham pada periode ke-t Pt-1 : harga saham satu periode

sebelumnya (t-1)

Tingkat keuntungan yang diharapkan

(expected return). Expected return adalah

return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa yang akan datang. Berbeda dengan return relisasi yang sifatnya sudah terjadi, expected return

sifatnya belum terjadi. Model yang digunakan untuk menghitung expected

return dalam penelitian ini adalah

market-adjusted model. Return pasar harian

dihitung sebagai berikut :

Rm,t = (IHSGt – IHSGt-1)/IHSGt-1

Dimana :

Rm,t : return pasar harian

IHSGt : indeks harga saham gabungan pada hati t

IHSGt-1 : indeks harga saham gabungan pada hari t-1

Unexpected Earnings (UE).

Unexpected earnings diartikan sebagai

selisih laba akuntansi yang direalisasi dengan laba akuntansi yang diharapkan oleh pasar. UE diukur sesuai dengan penelitian Kallapur dalam Murwaningsari (2007) sebagai berikut :

UEit = Eit – Eit-1 Pit-1

Dimana :

UEit : unexpected earnings perusahaan i pada periode t

Eit : earnings per share perusahaan i pada periode t

Eit-1 : earnings per share perusahaan i pada periode sebelumnya (t-1) Pit-1 : harga saham penutupan

sebelum-nya (t-1)

Return Tahunan digunakan untuk mengurangi kesalahan pengukuran (Chandrarin, 2003).

Rit = Pit – Pit-1 Pit-1

Dalam hal ini :

Rit : return tahunan perusahaan i pada periode t

Pit : harga penutupan saham perusaha-an i pada periode t

Pit-1 : harga penutupan saham perusaha-an i pada periode t-1

Earnings Response Coefficient

(ERC). Teets dan Wasley dalam

Murwaningsari (2007) menyatakan ERC

akan dihitung dari slope β1 pada hubungan CAR dengan UE yaitu :

CARit= β 0+ β 1UEit+ β 2Rit+ εit

Dalam hal ini :

CARit : abnormal return kumulatif perusahaan i selama periode t UEit : unexpected earnings

Rit : return tahunan perusahaan i pada periode t

εit : komponen error dalam model atas perusahaan i pada periode t

(12)

pen-1 2

gungkapan sosial (corporate social

res-ponsibility/CSR), dan peringkat CGPI.

Kepemilikan manajerial diukur ber-dasarkan prosentase kepemilikan saham yang dimiliki pihak manajemen. Sementa-ra itu, kepemilikan institusional diukur berdasarkan prosentase kepemilikan insti-tusi pada perusahaan yang bersangkutan.

Pengungkapan sosial (Corporate

Social Responsibility/CSR). Pengukuran

variabel ini dengan mengukur pengungka-pan sosial laporan tahunan yang dilakukan dengan pengamatan mengenai ada atau tidaknya suatu item informasi yang diten-tukan dalam laporan tahunan. Checklist

dilakukan dengan melihat pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dalam tujuh kategori yaitu : lingkungan, energi, kesehatan dan keselamatan tenaga kerja, lain-lain tenaga kerja, produk, keterlibatan masyarakat dan umum. Kategori ini diadopsi dari penelitian yang dilakukan oleh Hackston dan Milne dalam Sembiring (2005). Ketujuh kategori tersebut terbagi dalam 90 item pengungkapan. Berdasarkan peraturan Bapepam No. VIII G.2 tentang laporan tahunan dan kesesuaian item tersebut untuk diaplikasikan di Indonesia, maka penyesuaian kemudian dilakukan. Dua belas item dihapuskan karena kurang sesuai untuk diterapkan dengan kondisi di Indonesia sehingga secara total tersisa 78 item pengungkapan. Tujuh puluh delapan item tersebut kemudian disesuaikan kembali dengan masing-masing sektor industri sehingga item pengungkapan yang diharapkan dari setiap sektor berbeda-beda.

Peringkat CGPI. Peringkat CGPI ini merupakan variabel dummy, dimana diberikan nilai 1 bagi perusahaan yang masuk peringkat sepuluh besar CGPI dan nilai 0 bagi perusahaan peringkat non sepuluh besar CGPI.

Model Empiris

Penelitian ini menguji pengaruh mekanisme corporate governance, peng-ungkapan sosial, dan peringkat CGPI ter-hadap kualitas laba. Mekanisme corporate

governance diproksikan oleh kepemilikan

manajerial, kepemilikan institusional. Sementara kualitas laba diukur dengan

earnings response coefficient (ERC). Oleh

karena penelitian ini ingin menguji besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, maka persamaan regresi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

ERC = β + β1MAN + β2INST + β3CSR +

β4CGPI + ε

Keterangan :

ERC : earnings response coefficient

perusahaan i

MAN : kepemilikan manajerial perusaha-an i

INST : kepemilikan institusional perusa-haan i

CSR : indeks pengungkapan sosial per-usahaan i

CGPI : variabel dummy (1 untuk per-usahaan peringkat sepuluh besar CGPI, dan 0 untuk perusahaan peringkat non sepuluh besar CGPI)

HASIL PENELITIAN

Statistik Deskriptif

(13)

1 3

Tabel 1 Staistik Desktiptif

Variabel Jumlah Data Minimum Maximum Mean ERC 53 -0.661 1.035 0.030 Manajerial 53 0.000 6.780 0.439 Institusional 53 0.000 96.910 53.788

CSR 53 0.218 0.590 0.385 CGPI 53 0.000 1.000 0.547

Berdasarkan tabel 1 diatas, dapat diketahui statistik deskriptif dari masing-masing variabel dengan sampel sebanyak 53 perusahaan. Nilai terkecil dari variabel ERC adalah -0.661 dan nilai terbesarnya adalah 1.035 dengan nilai rata-rata 0.030. Kepemilikan manajerial memiliki nilai terkecil yaitu 0.000 dan nilai terbesar yaitu 6.780, sedangkan nilai rata-ratanya adalah 0.439. Sementara kepemilikan institusional yang terkecil adalah 0.000 dan terbesar yaitu 96.910. Nilai rata-rata kepemilikan institusional sebesar 53.788.

Nilai rata-rata dari 53 perusahaan untuk CSR adalah sebesar 0.385, dengan nilai terbesar 0.590 dan nilai terkecil 0.218. Sedangkan variabel CGPI meru-pakan variabel dummy, dan memiliki nilai rata-rata sebesar 0.547.

Hasil uji asumsi klasik dirangkum dalam tabel 2. Berdasarkan tabel 2 dapat disimpulkan bahwa semua asumsi klasik terpenuhi dalam penelitian ini. Setelah lolos dari uji asumsi klasik maka hasil regresi memenuhi asumsi BLUE.

Tabel 2

Hasil Uji Asumsi Klasik

No. Uji Asumsi Klasik Hasil Keterangan

1. Uji Normalitas > 0,05 Residual berdistribusi normal 2. Uji Multikolinieritas VIF < 10 Tidak terjadi multikolinieritas 3. Uji Autokorelasi du < d < 4 - du Tidak terjadi autokorelasi 4. Uji Heteroskedastisitas Tidak signifikan Tidak terjadi heteroskedastisitas

Tabel 3 menyajikan hasil pengola-han data menggunakan regresi.

Tabel 3

Hasil Analisis Regresi

No Nama Variabel Probabilitas Keterangan 1 Kepemilikan

Manjerial

0.476 Tidak signifikan

2 Kepemilikan Institusional

0.398 Tidak signifikan

(14)

1 4

PEMBAHASAN

Berdasarkan pengujian yang dilaku-kan dalam penelitian ini ditemudilaku-kan bahwa variabel mekanisme corporate governan-ce, yaitu kepemilikan manajerial dan kepe-milikan institusional tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas laba (ERC). Hal ini mengindikasi-kan bahwa mekanisme corporate governance, yaitu kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional tidak dapat menjadi mekani-sme pengendali dalam penyusunan laporan laba, yang pada akhirnya tidak dapat memberikan pengaruh kepada pasar melalui informasi laba. Hasil ini ber-tentangan dengan penelitian-penelitian se-belumnya, seperti penelitian Midiastuty dan Machfoedz (2003) yang menemukan adanya pengaruh yang signifikan antara mekanisme corporate governance, yaitu kepemilikan manajerial dan kepemilikan intitusional terhadap kualitas laba. Hasil ini juga tidak dapat mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Siallagan (2007). Hasil penelitian Siallagan (2007) berhasil mendukung hipotesis yang diajukan, bahwa mekanisme corporate

governance mempengaruhi kualitas laba.

Mekanisme yang digunakan yaitu kepe-milikan manajerial terbukti secara positif berpe-ngaruh terhadap kualitas laba.

Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa pada perusahaan-perusahaan sampel yang terdaftar di BEI dan masuk peringkat CGPI, kepemilikan manajerial tidak mampu meningkatkan kualitas laba yang dilaporkan. Dalam kaitanya dengan pasar modal, investor tidak merespon informasi laba yang dilaporkan perusahaan yang memiliki kepemilikan saham oleh manajerial sebagai suatu sinyal yang baik bagi investor.

Selanjutnya hasil penelitian ini juga tidak dapat membuktikan adanya pengaruh kepemilikan institusional terhadap kualitas laba. Hasil ini tidak sesuai dengan teori-teori dan penelitian terdahulunya (Jensen

dan Meckling, serta Moh’d et al. dalam Midiastuty dan Machfoedz, 2003), yang menyebutkan bahwa kepemilikan institusi-onal yang tinggi dapat mengurangi insentif manipulasi laba oleh manajemen, yang pada akhirnya akan mengingkatkan kuali-tas laba yang dilaporkan. Namun, hasil penelitian ini tidak berhasil membuktikan hal tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa untuk perusahaan-perusahaan sam-pel dalam penelitian ini, kepemilikan institusional tidak mampu mengurangi perilaku manajemen laba, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas laba. Hasil yang tidak signifikan ini sejalan de-ngan hasil penelitian Purwanti (2007) yang menemukan bahwa semua variabel

corpo-rate governance tidak signifikan secara

statistik terhadap kualitas laba.

Hasil penelitian ini tidak dapat membuktikan pengaruh mekanisme

corpo-rate governance terhadap kualitas laba

se-cara statistik. Hal ini mungkin disebabkan penerapan praktek corporate governance

masih baru, sehingga perusahaan masih asing dan masih dalam tahap pembelajaran dalam menjalankan praktek corporate

governance. Selain itu, aturan mengenai

corporate governance yang ditetapkan

oleh Bapepam LK juga masih baru, sehingga masih terdapat perusahaan yang belum sepenuhnya menerapkan aturan tersebut. Hasil yang tidak signifikan ini juga dapat disebabkan karena adanya faktor-faktor atau mekanisme corporate

governance lain yang tidak dimasukkan

(15)

1 5

Sementara hasil statistik diatas memperlihatkan bahwa variabel pengung-kapan sosial (CSR) mempengaruhi kualitas laba, dengan probabilitas sebesar 0.010. Hasil ini dapat memperkuat hasil penelitian Sayekti dan Wondabio (2007) yang menguji pengaruh pengungkapan sosial terhadap kualitas laba. Penelitian Sayekti dan Wondabio (2007) membukti-kan adanya pengaruh pengungkapan sosial terhadap kualitas laba. Hasil ini mengindi-kasikan bahwa informasi tanggung jawab sosial yang diungkapkan perusahaan dalam laporan tahunan mendapat perhatian dari para investor. Dengan demikian, dapat diketahui pula investor mulai memperhati-kan kegiatan-kegiatan perusahaan yang berhubungan dengan interaksi sosial, baik interaksi perusahaan terhadap lingkungan alam sekitarnya, sumber daya energi, jaminan keselamatan dan kesejahteraan tenaga kerjanya, maupun kepedulian perusahaan terhadap masyarakat dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Adanya pengaruh indeks pengungkapan sosial terhadap kualitas laba ini juga mengindikasikan adanya respon investor untuk lebih menghargai perusaha-an yperusaha-ang lebih bperusaha-anyak melakukperusaha-an kegiatperusaha-an- kegiatan-kegiatan sosial dan melakukan pengungka-pan sosial dalam laporan tahunannya. Apalagi mengingat topik pengungkapan sosial ini masih dapat dikatakan baru bagi perusahaan, sehingga hal ini dapat men-dorong para pelaku bisnis khususnya perusahaan-perusahaan publik untuk lebih memiliki kepedulian terhadap lingkungan, tenaga kerja, dan masyarakat sekitar dalam berbagai bidang kehidupan.

Variabel CGPI yang digunakan pada penelitian ini, merupakan variabel dummy

untuk membedakan perusahaan dengan peringkat sepuluh besar dan non sepuluh besar CGPI. Hasil secara statistik menun-jukkan hasil yang tidak signifikan dengan probabilitas sebesar 0.063, sehingga dapat dikatakan peringkat CGPI tidak mempe-ngaruhi kualitas laba (ERC). Selanjutnya,

tidak adanya pengaruh signifikan peringkat CGPI terhadap kualitas laba, berarti terdapat perbedaan antara perusahaan yang masuk sepuluh besar dan non sepuluh besar survei yang dilakukan oleh IICG. Hal ini mengindikasikan tidak ada perbedaan reaksi pasar terhadap informasi laba atas perusahaan yang masuk sepuluh besar dan yang tidak masuk sepuluh besar, meskipun peringkat CGPI ini sendiri merupakan salah satu informasi yang masuk dalam pasar modal. Survei CGPI ini memang terbilang masih baru, sehingga belum banyak investor yang dapat merespon publikasi peringkat CGPI ini, dalam kaitannya dengan informasi laba yang dilaporkan perusahaan yang mengi-kuti survei.

Hasil yang tidak signifikan ini tidak sesuai dengan teori-teori yang telah dikemukakan sebelumnya. Lukuhay dan Rafick dalam Santoso dan Shanti (2007) menyatakan bahwa secara empiris terbukti bahwa investor bersedia memberi premium yang cukup tinggi kepada perusahaan yang menerapkan prinsip corporate governance

secara konsisten. Survei yang dilakukan McKinsey dalam Santoso dan Shanti (2007) juga menemukan bukti tambahan bahwa saham perusahaan yang disurvei menikmati valuasi pasar sampai dengan 10% - 12%. Hal ini merefleksikan keperca-yaan investor terhadap konsep corporate

governance tersebut.

Namun demikian, hasil ini dapat mendukung teori yang dikemukakan Darmawati, dkk. dalam Santoso dan Shanti (2007), bahwa respon pasar terhadap implementasi corporate governance tidak bisa secara langsung, akan tetapi membu-tuhkan waktu. Investor perlu untuk mema-hami lebih dalam mengenai survei CGPI yang dilakukan oleh IICG, mulai dari tujuan, manfaat, tahapan survei, kriteria penilaian survei, dan sebagainya. Hal ini berarti penerapan corporate governance

(16)

1 6

cumulative abnormal return (CAR)

perusahaan, sebagai salah satu komponen dalam menghitung kualitas laba (ERC). Pengaruh penerapan corporate governance

yang ditandai dengan peringkat CGPI tersebut memerlukan waktu dan lebih banyak lagi informasi corporate governan-ce yang diperlukan investor untuk dapat merespon terhadap baik buruknya penerapan corporate governance dalam perusahaan. Sama halnya dengan yang diungkapkan oleh Short dkk dalam Sayidah (2007) yang menyatakan bahwa tidak ada bukti yang kuat mengenai hubungan antara kesuksesan dan penerapan corporate governance penting untuk diakui, walaupun ada kepercayaan

good corporate governance (GCG) dapat

meningkatkan prospek perusahaan.

KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN

Penelitian ini bertujuan untuk mem-berikan bukti empiris tentang pengaruh mekanisme corporate governance, peng-ungkapan sosial, dan peringkat CGPI terhadap kualitas laba yang diproksikan dengan ERC (earnings response

coefficient). Variabel independen dalam

penelitian ini meliputi kepemilikan mana-jerial, kepemilikan institusional, pengung-kapan sosial, dan peringkat CGPI. Perusa-haan yang menjadi sampel dalam peneliti-an adalah perusahapeneliti-an-perusahapeneliti-an ypeneliti-ang terdaftar dalam BEI dan mengikuti survei CGPI yang dilakukan oleh IICG. Pengujian terhadap hipotesis penelitian adalah dengan menggunakan analisis regresi berganda. Berikut ini merupakan kesimpulan dari hasil analisis dan pembahasan. Petama, mekanisme GCG yang diproksikan dengan kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap kualitas laba (ERC). Kedua, pengungkapan sosial berpengaruh terhadap kualitas laba (ERC).

Ketiga, peringkat CGPI tidak berpengaruh terhadap kualitas laba (ERC).

Penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan yang dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi peneliti berikutnya agar mendapatkan hasil yang lebih baik lagi. Salah satunya adalah penelitian ini meng-gunakan sampel perusahaan-perusahaan yang masuk dalam corporate governance

perception index (CGPI), baik sepuluh

besar maupun non sepuluh besar, yang dikeluarkan oleh IICG. Sedangkan jumlah perusahaan yang bersedia disurvei masih sangat sedikit dan lambatnya pelaporan mengenai pemeringkatan CGPI, karena survei ini bersifat sukarela.

Saran-saran yang dapat diberikan agar penelitian yang akan datang dapat memberikan kesimpulan yang lebih baik nantinya. Pertama, penelitian selanjutnya dapat memasukkan mekanisme corporate

governance yang lain yang tidak

diikutser-takan dalam penelitian ini, yang dapat mempengaruhi kualitas laba. Kedua, penelitian selanjutnya dapat pula memper-luas kriteria sampel, yaitu dengan mem-bandingkan antara perusahaan yang masuk peringkat CGPI dengan perusahaan yang tidak masuk peringkat CGPI.

DAFTAR REFERENSI

Boediono, GSB. 2005. Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Corporate Governance dan Dampak Manajemen Laba Dengan Menggunakan Analisis Jalur. Prosiding, Simposium Nasional Akuntansi VIII Solo, 15 – 16 September 2005: 172 – 194.

(17)

1 7

Riset Akuntansi Indonesia, 6 (3):

217 – 231.

Jensen M.C. dan Meckling W.H. 1976. “Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency and Ownership Structure”. Journal of Financial

Economic, 3 (4):305-306.

Mayangsari S. dan Wilopo. 2002. “Konservatisme Akuntasi, Value Relevance dan Discretionary Accruals. Implikasi Model Feltham-Ohlson”. Jurnal Riset

Akuntansi Indonesia, 291-310.

Midiastuty, P.P. dan Machfoedz, M. 2003. Analisis Hubungan Mekanisme Corporate Governance dan Indi-kasi Manajemen Laba. Prosiding,

Simposium Nasional Akuntansi IV, 5/A: 176 – 186.

Murwaningsari. E. 2007. Hubungan Corporate Governance, Corporate Social Responsibilities dan Cor-porate Financial Performance dalam satu Continuum. Jurnal

Akuntansi dan Keuangan, 11 (1):

30-41.

Purwanti, Duwi. 2007. Pengaruh Meka-nisme Corporate Governan-ce terhadap Earnings Manage-ment.

Skripsi. Sekolah Tinggi Il-mu

Ekonomi Perbanas. Surabaya

Putri, I.F. dan Nasir, M. 2006. Analisis Persamaan Simultan Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institu-sional, Risiko, Kebijakan Hutang dan Kebijakan Dividen dalam Perspektif Teori Keagenan.

Prosiding, Simposium Nasional

Akuntansi 9 Padang.

Santoso, G. dan Shanti. 2007.Reaksi Pasar Terhadap Pengumuman Corporate

Governance Perception Index (CGPI) Sepuluh Besar dan Non Sepuluh Besar, KAKPM10, (Online).https://info.perbanasinsti tute.ac.id/makalah/K-KPM10.pdf, diakses 2 September 2009).

Safitri, R. A. 2009. Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Pengung-kapan Tanggung Jawab Sosial

Perusahaan. Surabaya:

Universi-tas Airlangga.

Sayekti, Y. dan Wondabio, L. S. 2007. Pengaruh CSR Disclosure terha-dap Earning Response Coeffi-cient. Prosiding, Simposium Nasional Akuntansi X, AKPM-08 : 1 – 35.

Sayidah, N. 2007. Pengaruh Kualitas Corporate Governance Terhadap Kinerja Perusahaan Publik (Studi Kasus Peringkat 10 Besar CGPI Tahun 2003, 2004, 2005), (Online).http://journal.uii.ac.id/in dex.php/JAAI/article/view/380/29 6, diakses 1 September 2009).

Sembiring, E. R. 2005. Karamteristik Per-usahaan dan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial: Studi Empiris pada Perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta.

Prosiding, Simposium Nasional

Akuntansi VIII Solo, 15-16 September 2005.

Siallagan, H. 2007. “Pengaruh Mekanisme Corporate Governance terhadap Kualitas Laba”. Jurnal Widya

Manajemen & Akuntansi, 7(1): 1

– 14.

(18)

Simposi-1 8

um Nasional Akuntansi 9 Padang, 23 – 26 Agustus 2006, K-AKPM 13 : 1 – 23.

Sukartha, I, M. 2008. “Pengaruh Manaje-men Laba dan Kepemilikan Manajerial Pada Kesejahteraan Pemegang Saham Perusahaan Target Akuisisi”. Jurnal

Akuntan-si dan Bisnis Universitas

Udaya-na, 3 (1): 109-123

Sutopo, B. 2009. “Manajemen Laba dan Manfaat Kualitas Laba dalam Keputusan Investasi”. Jurnal Akuntansi, Universitas Negeri

Sebelas Maret Solo.

Swa Sembada. 2004. Ada Kemajuan, Banyak Keprihatinan, 23 – 26.

Gambar

Tabel 2 Hasil Uji Asumsi Klasik

Referensi

Dokumen terkait

Komposisi substrat bagase dan zeolit memberikan hasil yang paling tinggi pada biomassa dan volume bunga, sedangkan volume akar tertinggi yaitu pada komposisi

Dalam iklim pertumbuhan ekonomi tinggi, peningkatan UMP biasanya tidak lagi menjadi fokus dalam proses pembangunan karena pertumbuhan itu sendiri secara otomatis akan

Setiap bahasa mempunyai khazanah (inventori) bunyi yang dipilih dari semua kemungkinan bunyi yang bisa diucapkan manusia yang berbeda dengan khazanah bunyi

Dalam penelitian ini peneliti memberikan gambaran secara menyeluruh tentang fungsi sistem kredit semester (SKS) pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Surabaya,

Peta kawasan koridor Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Slamet Riyadi Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo serta pembagian blok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6

Mahasiswa yang dideskripsikan pada tulisan ini adalah sebanyak empat orang mahasiswa semester VII tahun akademik 2016/2017 yang dipilih secara acak. Untuk melihat apakah

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat, dan hidayah yang telah dilimpahkan oleh-Nya sehingga penulis dapakrit menyelesaikan Tugas

Secara umum Implementasi Wireless Monitoring Energi Listrik Berbasis Web Database ini dimulai dengan mengambil keluaran dari sensor tegangan dan sensor arus untuk kemudian