• Tidak ada hasil yang ditemukan

Booklet Usir WTO Dari Pertanian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Booklet Usir WTO Dari Pertanian"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

USIR

WTO

DARI PERTANIAN

PERJUANGAN RAKYAT MENUJU KTM VII WTO

(2)
(3)

USIR WTO DARI PERTANIAN

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

Muhammad Ikhwan

(4)

USIR WTO DARI PERTANIAN Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

Cetakan pertama, Mei 2010

Penyusun: Muhammad Ikhwan

Desain Sampul & Tata Letak: Hadiedi Prasaja

Editor: Tita Riana Zen

Penerbit: SERIKAT PETANI INDONESIA Jl. Mampang Prapatan XIV No. 5 Jakarta Selatan 12790

Telp. 021-7991890 Fax. 021-7993426 email: [email protected]

www,spi,or.id

(5)

1. Indonesia di bawah ketiak

liberalisasi pertanian...2 2. Ketidakadilan di dalam WTO...12 3. Liberalisasi pertanian yang

membunuh dan melanggar

hak asasi petani...25 4. Menuju KTM 7 WTO:

Pemerintah tak berdaya

melawan liberalisasi...36 5. Alternatif kedaulatan pangan

(6)

ADM : Archer Daniels Midland

Salah satu perusahaan agribisnis besar di dunia GMO : Genetically Modified Organism

Organisme hasil rekayasa genetik

IMF : International Monetary Fund (Badan Moneter Internasional) KTM : Konferensi Tingkat Menteri

LIPI : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

NTP : Nilai Tukar Petani

PDB : Produk Dosmetik Bruto

SPI : Serikat Petani Indonesia

WTO : World Trade Organization

(7)

Di bawah liberalisasi

selama lebih kurang 14

tahun, WTO, Bank Dunia dan

IMF merajalela di Indonesia.

Kelaparan dan kemiskinan

meningkat. Petani gurem

meningkat menjadi sekitar

25,3 juta keluarga tani. Satu

dari enam penduduk dunia

saat ini menderita kelaparan.

(8)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

1. Indonesia di bawah ketiak liberalisasi pertanian

(9)

Indo-Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(10)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

Namun potret yang tersaji pada sektor pertanian dan pangan ini sa- ngat buram. Di seluruh dunia, sekitar separuh dari total jumlah kelarapan adalah petani kecil (UN Millenium Project, 2005). Di Indonesia, sekitar 41,7 juta rakyat berada di bawah garis kemiskinan (atau 21,92 per- sen) pada tahun 2008 (LIPI, 2008).

(11)

di angka yang cukup rendah, me-nandakan pendapatan petani tak sebanding dengan pengeluarannya. Di banyak daerah, kasus kelaparan dan malnutrisi terjadi di pedesaan, bahkan di daerah lumbung pangan.

Krisis pangan dan krisis lain-nya, seperti krisis iklim dan krisis finansial, disebabkan beberapa fak -tor—yang salah satu diantara nya adalah liberalisasi yang dipaksakan oleh lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia, IMF dan Organ-isasi Perdagangan Dunia (WTO). Spekulasi dan liberalisasi—teruta-ma dalam praktek perdagangan ko-moditas pertanian dan pembukaan pasar negara-negara menghancur-kan pasar dan harga domestik, me-

(12)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

ngancam kedaulatan pangan rakyat, serta membuat perdagangan per-tanian makin tidak adil. Spekulasi dan liberalisasi semasa krisis hanya dilakukan oleh pemain besar dan perusahaan transnasional besar, bu-kan oleh petani. Sebaliknya, dampak terbesar dari krisis ini dialami oleh petani, hingga konsekuensinya adalah peningkatan pelanggaran hak atas pangan rakyat—satu dari enam orang di dunia saat ini men-derita kelaparan, yang mana jum-lahnya mencapai 1 milyar jiwa lebih.

(13)

ter-Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(14)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

Hal ini menyebabkan pertanian kita tak maju-maju, yang dampak lebih besarnya juga pada perekono-mian dan pembangunan pedesaan. Saat pertanian dan pangan di Indo-nesia belum bisa bersaing, belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri dan merangsang pasar do-mestik, kita malah terjun ke dalam pasar global di bawah ketiak WTO.

(15)

perta-Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(16)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

WTO TIDAK ADIL karena: 1.Segala hal di WTO adalah ten-tang perdagangan dan

keuntun-gan semata;

2.WTO bukanlah forum yang demokratis, banyak negara dan kepentingan dipinggirkan oleh perusahaan transnasional,

(17)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

3.WTO hanya menguntungkan perusahaan transnasional dan

negara-negara maju; 4.Masalah subsidi negara-negara

maju yang akhirnya menyebab-kan ketidakadilan perdagangan

dan praktek dumping; 5.WTO bukan solusi krisis pangan, krisis iklim dan krisis

finansial, malah merupakan

(18)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

2. Ketidakadilan di dalam WTO

(19)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

sekali dengan tujuannya kini dalam Putaran Doha (2001-sekarang). Misi Putaran Doha diklaim secara ambi-sius untuk “membuat globalisasi se-makin inklusif dan menolong rakyat miskin di seluruh dunia dengan cara menihilkan halangan perdagangan dan subsidi pertanian”. Selama 14 tahun ini juga banyak ketidakadi-lan yang dituding banyak rakyat di seluruh dunia disebabkan oleh lem-baga ini. Hingga saat ini, beberapa ketidakadilan yang nyata terlihat da-lam WTO adalah:

1.Segala hal di WTO adalah tentang perdagangan dan keuntungan;

(20)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(21)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

rakyat yang luhur di berbagai bela-han dunia, dan untuk itu tidak bisa dinilai dari kertas yang berisikan kontrak-kontrak dan angka-angka.

2.WTO tidak demokratis;

(22)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(23)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

3.WTO hanya menguntungkan segelintir perusahaan transnasional dan negara maju;

(24)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

maupun teknologi lain. Negara maju dan perusahaan pengekspor juga diuntungkan karena mereka da-pat membuang (dumping) produk pertanian overproduksi mereka— yang disubsidi besar-besaran oleh pemerintah—ke negara-negara lain.

4.Ketidakadilan masalah subsidi pertanian negara maju;

(25)

nega-Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(26)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

5.WTO dan perdagangan bebas bukanlah solusi krisis;

(27)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(28)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

Tipologi liberalisasi pertanian yang membunuh dan

melanggar hak asasi petani seperti yang terjadi

di bawah ini:

1.Penggusuran tanah atau land

grabbing;

2.Pendapatan atau penghidupan yang tak layak bagi petani kecil

(29)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

3.Perusakan penghidupan rakyat dan lingkungan; 4.Pangan untuk perdagangan

dan spekulasi, bukan untuk kedaulatan dan hak atas

pangan;

5.Kriminalisasi perjuangan petani;

6.Pelanggaran hak atas pangan terutama rentan dialami oleh perempuan dan anak-anak di

(30)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

7.Kehilangan benih lokal dan keanekaragaman hayati; 8.Berkurang atau hilangnya

akses pada pelayanan jasa publik seperti kesehatan dan

pendidikan di pedesaan; 9.Kelaparan dan malnutrisi;

10.Migrasi terpaksa, harus mencari penghidupan di tempat

lain—terutama dialami oleh rakyat pedesaan dan

(31)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

3. Liberalisasi pertanian yang membunuh dan melanggar hak asasi petani

(32)

kenyataan-Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

nya, sejumlah pelanggaran terhadap hak-hak petani terus mengancam kehidupan umat manusia, terutama yang terkait dengan pemberlakuan aturan-aturan WTO dan perdagan-gan bebas. Beberapa tipologi pelang-garan-pelanggaran tersebut adalah:

(33)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(tanaman yang dijual bukan untuk pangan). Hasilnya, jumlah lahan hanya terkonsentrasi pada beberapa pihak.

• Negara-negara mengabai -kan keadaan dimana sektor pertani-an dpertani-an petpertani-ani menerima pendapatpertani-an yang tak layak dari hasil produksi pertaniannya.

• Tanaman monokultur untuk menghasilkan bahan bakar nabati dan untuk kegunaan industri lainnya didorong demi keuntungan modal agribisnis dan transnasional; hal ini menyebabkan kerusakan hutan, air, lingkungan, dan kehidupan sosial ekonomi petani.

(34)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

• Kriminalisasi perjuangan petani.

• Hak-hak perempuan dan anak-anak adalah yang paling terke-na dampak. Perempuan adalah kor-ban kekerasan psikologis, fisik dan ekonomi. Mereka didiskriminasi dari akses terhadap tanah dan sumber-sumber produktif, serta dipinggirkan dalam proses pembuatan keputu-san—terutama terkait dengan pera-turan perdagangan dan penggunaan input pertanian.

(35)

dikem-Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

bangkan oleh perusahaan-perusa-haan transnasional.

• Berkurangnya akses terh -adap pelayanan kesehatan dan pen-didikan di daerah pedesaan serta peran petani dalam politik dikura- ngi.

• Sebagai akibat dari pelang -garan hak-hak petani, saat ini jutaan petani hidup dalam kelaparan dan malnutrisi. Hal ini bukan karena jum-lah pangan yang ada di dunia tidak cukup, tapi karena sumber-sumber pangan didominasi oleh perusahaan-perusahaan transnasional. Petani di-paksa untuk menghasilkan pangan untuk ekspor daripada menghasil-kan pangan untuk masyarakatnya.

(36)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(migrasi) dan terusir serta hilangnya petani dan masyarakat adat dalam jumlah besar.

Pelanggaran hak asasi petani juga cenderung meningkat dikar-enakan penerapan kebijakan yang didorong oleh WTO dan berbagai kesepakatan perdagangan bebas. Se-cara gamblang, WTO memaksa pem-bukaan pasar dan mencegah negara-negara untuk memberikan proteksi dan dukungan terhadap pertanian domestiknya.

(37)

prak-Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

tek-praktek perdagangan dumping

bertahun-tahun lamanya. Pangan murah bersubsidi membanjiri pasar lokal yang selanjutnya menyebabkan petani bangkrut.

(38)

pemo-Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

tongan subsidi untuk pertanian dan pelayanan sosial. Negara-negara te-lah dipaksa untuk memprivatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan untuk melepaskan mekanisme dukungan pemerintah dalam sektor pertanian.

(39)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(40)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

PEMERINTAH INDONESIA MAKIN TAK BERDAYA SETELAH 14 TAHUN DI BAWAH

KETIAK LIBERALISASI PERDAGANGAN.

Kita tergantung impor: Gula, kita masih mengimpor dan ketergantungannya mencapai

(41)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

Untuk susu dan produknya kita bahkan masih tergantung pada impor hingga 70 persen.

Garam ketergantungan impornya sebesar 50 persen. Sementara itu, untuk kedelai kita bergantung pada impor sebesar 45 persen, daging

(42)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

4. Menuju KTM 7 WTO: Pemerintah tak berdaya melawan liberalisasi

(43)

pe-Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

rundingan Putaran Doha. Namun, selain itu juga, proposal ini semakin lama semakin lemah dan semakin lib-eral. Walaupun dimaksudkan untuk memproteksi petani, terutama yang ada negara berkembang, proposal ini tentunya masih kurang dari cukup bagi kehidupan petani kecil sehari-hari. Pada teks Desember 2008, teks ini semakin lemah dan pemerintah Indonesia terlihat sangat mengako-modasi kepentingan negara-negara maju demi dirampungkannya Pu-taran Doha.

(44)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

pembaruan agraria, tak kunjung di-laksanakan dengan meredistribusi tanah-tanah subur untuk pertani-an. Saat ini ekonomi neoliberal— yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi dan skala ekonomis—telah dan akan terus mendorong aktor-ak-tor besar seperti perusahaan trans-nasional dan sektor swasta.

(45)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(46)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

KEDAULATAN PANGAN MERUPAKAN HAK SETIAP ORANG, MASYARAKAT DAN NEGARA untuk mengakses dan mengendalikan aneka sumber-daya produktif serta menentu-kan dan mengendalimenentu-kan sistem (produksi, distribusi, konsumsi)

(47)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

5. Alternatif kedaulatan pangan menghempang WTO

(48)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

kurun waktu tersebut.

Kedaulatan pangan merupa-kan hak setiap orang, masyarakat dan negara untuk mengakses dan mengendalikan aneka sumberdaya produktif serta menentukan dan mengendalikan sistem (produksi, distribusi, konsumsi) pangan send-iri sesuai kondisi ekologis, sosial, ekonomi, dan budaya khas masing-masing.

(49)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

• Perlawanan yang menye -luruh terhadap imperialisme, neo-liberalisme, neo-kolonialisme dan sistem patriarki, serta semua sistem yang memiskinkan kehidupan, sum-berdaya dan ekosistem, serta agen-agen yang mempromosikan hal-hal tersebut seperti lembaga keuangan internasional, Organisasi Perdaga- ngan Dunia (WTO), perjanjian perda-gangan bebas, perusahaan-perusa-haan transnasional dan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyatnya; • Ditiadakannya praktek

dumping produk pangan dengan har-ga di bawah ongkos produksi dalam perekonomian global;

(50)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

dibandingkan rakyat, kesehatan dan lingkungan;

• Melawan teknologi dan praktek-praktek yang menghancur-kan kemampuan produksi pangan kita di masa depan, merusak ling-kungan dan membahayakan keseha-tan rakyat. Termasuk keseha-tanaman dan ternak transgenik, teknologi ‘termi-nator’, industri perairan, praktek-praktek perikanan yang merusak, yang disebut revolusi putih dalam industri pengolahan susu, Revolusi Hijau yang “lama” dan “baru”, serta “Gurun Hijau” (Green Deserts) dari industri monokultur biofuel (bahan bakar nabati agrofuel), serta perke-bunan lainnya;

(51)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

publik, pengetahuan, lahan, air, bibit, ternak serta warisan alamiah lain-nya;

• Melawan proyek/model pengembangan dan industri ekstrak-tif (pertambangan) yang menggusur masyarakat dan menghancurkan lingkungan dan warisan alam;

• Memperjuangkan agar tidak ada praktek kriminalisasi terhadap rakyat yang berjuang untuk melind-ungi dan membela hak – haknya;

• Menolak bantuan pangan (food aid) yang menyamarkan dum- ping, pengenalan GMO pada lingkun-gan lokal dan sistem panlingkun-gan yang menciptakan pola-pola penjajahan gaya baru;

(52)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

sistem paternalistik dan nilai-nilai patriarkal yang memarginalkan perempuan, dan membeda-bedakan kaum tani, masyarakat adat, nelayan dan penggembala diseluruh dunia;

• Semua orang, bangsa dan negara mampu untuk menentu-kan sistem produksi pangan dan kebijakan-kebijakan mereka sendiri yang dapat menyediakan bagi semua orang pangan yang berkualitas, cu-kup, terjangkau, sehat dan layak se-cara kultural;

(53)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

• Setiap orang di negara masing-masing mampu untuk hidup layak, memperoleh upah layak untuk pekerjaan dan memiliki kesempa-tan untuk mempertahankan tempat tinggal;

(54)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

dan penghormatan terhadap ker-agaman rakyat dalam pengetahuan tradisional, pangan, bahasa dan bu-daya, serta cara-cara pengaturan dan pengekspresian diri;

(55)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

interdependensi antara produsen dan konsumen, menjamin kelang-sungan hidup masyarakat, keadilan ekonomi dan sosial serta keberlan-jutan ekologis, dan menghormati otonomi lokal dan pemerintahan dengan hak-hak yang setara antara laki-laki dan perempuan…dimana terdapat jaminan hak atas wilayah dan hak untuk menentukan sendiri nasib masyarakatnya;

• Kekuatan rakyat untuk mengambil keputusan terhadap warisan harta, alam dan spiritual senantiasa diperjuangkan;

(56)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

Alternatif-alternatif kedaulatan pangan ini telah kami lakukan se-lama ini di tingkatan lokal, nasion-al, regionnasion-al, bahkan internasional. Di tingkatan lokal kami memban-gun kawasan-kawasan yang mem-praktekkan pertanian agroekologi berkelanjutan berbasis keluarga tani, sementara di tingkat pascaproduksi dikreasikan koperasi-koperasi dan unit-unit usaha kecil mandiri yang berprinsip pada keadilan perdagan-gan—yang pada satu sisi memberi-kan harga yang pantas bagi ongkos produksi dan keuntungan produsen, dan di sisi lain tetap tidak member-atkan konsumen.

(57)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(58)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

ALTERNATIF-ALTERNATIF KEDAULATAN PANGAN INI TELAH KAMI LAKUKAN DI TINGKATAN LOKAL, NASIONAL, REGIONAL, BAHKAN

INTERNA-SIONAL.

Di tingkatan lokal kami membangun kawasan-kawasan

yang mempraktekkan pertanian agroekologi berkelanjutan berbasis keluarga

(59)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

sementara di tingkat pascaproduksi dikreasikan koperasi-koperasi dan unit-unit usaha kecil mandiri yang berprinsip pada keadilan per-dagangan—yang pada satu sisi memberikan harga yang pantas bagi ongkos produksi dan ke-untungan produsen, dan di sisi

(60)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

6. Agenda menuju KTM 7 WTO

1. Konsolidasi dan diskusi ger-akan sosial; mulai dari update terki-ni negosiasi di WTO, sekitar praktek perlawanan, aksi dan alternatif yang dilakukan, dan konsolidasi gerakan sosial dalam isu perdagangan;

(61)

pendidi-Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

kan publik, mengambil opini publik dan kampanye, serta wujud nyata perlawanan terhadap perdagan-gan yang tidak adil di bawah ketiak WTO;

3. Pe n d i d i ka n - p e n d i d i ka n yang dilakukan di basis, mulai dari tingkat lokal maupun nasional un-tuk terus berusaha mengerti dan memasifkan perlawanan perjuangan rakyat;

(62)

pan-Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(63)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

GALERI FOTO

(64)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(65)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(66)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(67)

Perjuangan Rakyat Menuju KTM VII WTO

(68)

Jl. Mampang Prapatan XIV No. 5 Jakarta Selatan 12790

Referensi

Dokumen terkait

Laban-lahan pertanian, yang khusus ditanami padi dan meru- pakan mata pencarian utama pen- duduk, mulai terkikis oleh karena

Jumlah bahan baku membantu konsumen memilih pangan olahan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan membedakan produk pangan tersebut dengan pangan olahan sejenis dengan nama dan

KEBIJAKAN SISTEM PERTANIAN- BIOINDUSTRI 4 Bioindustri untuk pangan dan produk pertanian bernilai tambah tinggi... Kementerian Pertanian www.pertanian.go.id PERTANIAN

Pembahasan kali ini dibatasi pada dampak Globalisasi Pangan terhadap ketahanan pangan dan pertanian lokal, keragaman produk pangan, keamanan pangan dan lingkungan,

Sektor pertanian merupakan sektor yang strategis dan berperan penting dalam perekonomian dan kelangsungan hidup, penyedia lapangan kerja dan penyedia pangan, pelaksanaan alih

Salah satu kebutuhan makhluk hidup yang paling utama adalah kebutuhan pangan untuk kelangsungan hidupnya. Saat ini pertumbuhan manusia sudah semakin meningkat. Selain

Namun, kita juga tahu bahwa impor menimbulkan problem lain dalam isu ketahanan pangan, misalnya bahwa produk-produk pertanian lokal kemudian terpaksa sia-sia membusuk atau dijual dengan

Pasar Uang Masukan Eksternal Organik RT Pengelola Proses Produksi Ternak Produk Utama Daging Proses Produksi Tanaman Produk Utama Pangan Produk Ikutan Hijauan Produk Ikutan