• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PENOLAKAN MAJELIS HAKIM ATAS HAK ASUH ANAK OLEH SUAMI : STUDI PUTUSAN NOMOR: 0138/PDT.G/2013/PA.MLG.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PENOLAKAN MAJELIS HAKIM ATAS HAK ASUH ANAK OLEH SUAMI : STUDI PUTUSAN NOMOR: 0138/PDT.G/2013/PA.MLG."

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PENOLAKAN MAJELIS HAKIM ATAS

HAK ASUH ANAK OLEH SUAMI

(Studi Putusan Nomor: 0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg)

SKRIPSI

Oleh

FahrurRozi

NIM : C31210101

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Fakultas Syari’ahdan Hukum

Jurusan Hukum Perdata Islam

Prodi Hukum Keluarga Islam Ahwal Al-syakhsiyah

Surabaya

(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini saya:

Nama : FahrurRozi

NIM : C31210101

Fakultas/Prodi :Syari’ahdanHukum/Ahwal al-Syakhsiyah

JudulSkripsi :AnalisisYuridis Terhadap Penolakan Majelis Hakim AtasHakAsuhAnakOlehSuami (Studi Putusan Nomor: 0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg)

Dengan sungguh-sungguh menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya.

Surabaya, 30 Juni 2014 Saya yang menyatakan,

(3)

iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi yang ditulis oleh Fahrur Rozi,NIM: C31210101 ini telah diperiksa dan disetujui untuk dimunaqasahkan.

Surabaya, 19 januari 2015

Pembimbing, A. Kemal Riza, S.Ag, MA.

NIP 1975070120050

(4)

iv

PENGESAHAN

Skripsi yang ditulis oleh Fahrur Rozi, NIM: C31210101 ini telah dipertahankan di depan sidang Majelis Munaqasah Skripsi Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya pada hari kamis, tanggal 29 januari 2015, dan dapat diterima sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan program sarjana strata satu dalam ilmu Syariah.

Majelis Munaqasah Skripsi:

Ketua Sekretaris

Sukamto, SH., MS.

NIP. 196003121999031001 Vidia Gati, SE, Ak, MEI NIP. 197605102007012030

Penguji I, Penguji II, Pembimbing,

Drs. Suwito, MAg

NIP.195405251985031001 Dr. H. Moh. Arif, M.A NIP.197001182002121001 A. Kemal Reza, S. Ag., M.A. NIP. 197507012005011008

Surabaya, 5 februari 2015 Mengesahkan, Fakultas SyariahdanHukum

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Dekan,

(5)

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PENOLAKAN MAJELIS HAKIM ATAS HAK ASUH

ANAK OLEH SUAMI Studi Putusan Nomor: 0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg

Fahrur Rozi

Abstrak: Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dasar hukum yang digunakan majelis hakim untuk

memutuskan bahwa permohonan hak asuh anak yang diajukan oleh suami tersebut ditolak, yaitu dengan berlandaskan padapasal 105 Kompilasi Hukum Islam yang mengatakan bahwa pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya dan pasal 41 huruf (a) UU No.1 Tahun 1974. Pasal ini menyebutkan bahwa bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, pengadilan memberi keputusanya. Sedangkan jika dilihat dari beberapa peraturan dalam UU No. 1 Tahun 1974 dan KHI yang telah dikumpulkan oleh peneliti, putusan tersebut kurang sesuai dengan pasal 49 ayat (1)UU No. 1 Tahun 1974 yang mengatakan bahwa salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaanya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain, keluarga anak dalam garis lurus keatas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang, dengan keputusan pengadilan dalam hal-hal:Ia sangat melalaikan kewajibanya terhadap anaknya, Ia berkelakuan buruk sekali. Dalam hal ini, istri telah menginap dengan laki-laki yang bukan muhrim di sebuah hotel dan mengajak serta salah satu anak yang belum mumayyiz, hal ini termasuk kelakuan yang buruk sekali.

Penulis berharap hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan penelitian berikutnya, kemudian sebagai masukan untuk Pengadilan Agama dalam memutuskan perkara yang berkenaan dengan hak asuh anak. Sejalan dengan kesimpulan di atas, maka disarankan kepada para hakim untuk lebih teliti dalam memberikan keputusan.

Kata kunci: Analisis yuridis, Penetapan pengadilan Agama Malang, Pembatasan

Pendahuluan

Manusia diciptakan oleh Allah dalam dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Penciptaan

(6)

x

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN... vi

ABSTRAK ... vii

KATAPENGANTAR ... viii

DAFTARISI ... x

DAFTARTRANSLITERASI ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Dan Batasan Masalah ... 8

C. Rumusan Masalah ... 9

D. Kajian Pustaka... 9

E. Tujuan Penelitian ... 11

F. Kegunaan Hasil Penelitian ... 11

G. Definisi Operasional ... 12

H. Metode Penelitian ... 13

I. Sistematika Pembahasan ... 16

BAB II LANDASAN TEORI ... 18

A. Pengertian Hadanah ... 18

B. Dasar Hukum... 22

C. Syarat Hadanah ... 27

(7)

xi

2. SyaratUntukAnak Yang Di Asuh ... 29

D. NafkahAnakMenurutUndang-Undang ... 30

BAB III DESKRIPSI PUTUSAN HAKIM NOMOR 0138/Pdt.G/2013/PA.MLG TENTANG PENOLAKANHAK ASUH ANAK A. Profil Pengadilan Agama Kota Malang... 35

1. Keberadaan Pengadilan Agama Kota Malang. ... 35

2. Wewenang Pengadilan Agama Kota Malang... 36

B. DeskripsikasusMajelis Hakim MengabulkanceraiGugatdanMenolakPermohonanHakasuhAnak OlehsuamidalamputusanNo. 0138/pdt.G/2013/PA.Mlg 1. Identitas {Para Pihak ... 38

2. FaktaHukum (Posita) ... 39

3. Tuntutan (Petitum) ... 39

4. Jawaban (ReplikDuplik) >………40

5. Amar (Diktum) >……… 49

C. PertimbanganMajelis Hakim AtasPenolakanHakAsuhAnakDalamPutusan Hakim >>>>………..50

BAB IV ANALISIS YURIDIS TENTANG PUTUSAN HAKIM NOMOR 0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg TENTANG PENOLAKAN HAK ASUH ANAK OLEH SUAMI YANG DICERAI GUGAT A. Analisis Terhadap Pertimbangan Dan Dasar Putusan Hakim Pengadilan Agama Malang Yang Menolak Hak Asuh Anak Oleh Ayah>……… 53

(8)

xii

oleh Suami yang

DiceraiGugat>………. 56

BAB V PENUTUP ... 63

A. Kesimpulan ... 63

B. Saran ... 64

(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia diciptakan oleh Allah dalam dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan.Penciptaan dua jenis makhluk ini nantinya akan hidup bersama dalam ikatan perkawinan. Tujuan pokok dari kehidupan rumah tangga, bahwa rumah tangga itu dibangun di atas landasan cinta dan kasih sayang di antara suami istri serta di atas prinsip keadilan dan saling pengertian, dimana masing-masing pihak dari suami istri harus melaksanakan kewajibannya terhadap pasangannya, sehingga kehidupan rumah tangga berdiri kokoh.1

Allah berfirman dalam surat Ar-Ruum ayat (21) yang berbunyi:



    

 

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”.2

Namun, dalamkeadaan tertentu terdapat hal-hal yang menghendaki putusnya perkawinan itu, dalam arti bila

1 Butsainah as- sayyid al-iraqi, Menyingkap Tabir Perceraian(Dar Thuwaiq, 1996), 19

2 Kementerian Agama RI, Al-Qur'an & Tafsirnya(Jakarta: Widya Cahaya, 2011), 477

(10)

hubunganperkawinan tetap dilanjutkan, maka kemudlaratan akan terjadi. Dalam perceraianpun diperkenankan hubungan dalam surat Al Baqarah ayat (229) yang berbunyi:

(11)

hukum yang mengatur perbuatan-perbuatan hukum serta akibat-akibatnya antara dua pihak, yaitu seorang laki-laki dan wanita dengan maksud hidup bersama untuk waktu yang lama menurut peraturan-peraturan yang ditetapkan dalam undang-undang. Kebanyakan isi atau peraturan mengenai pergaulan hidup suami istri diatur dalam norma-norma keagamaan, kesusilaan, atau kesopanan.6

Dengan demikian Islam membenarkan putusnya perkawinan sebagai langkah terakhir dari usaha melanjutkan rumah tangga.7Hal ini juga dinyatakan Pada Pasal 39 ayat 2 Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dijelaskan bahwa untuk melakukan perceraianharus ada cukup alasan bahwa antara suami istri tidak akan hidup rukun sebagai suami istri.

Ketentuan dalam Pasal 19 PP No. 1 tahun 1975 ini disebut juga dalam KHI pada pasal 116 dengan rumusan yang sama dengan menambahkan dua point baru, yakni point (g) suami melanggar taklik talak dan point (h) peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga. Dengan terpenuhinya alasan atau alasan-alasan tersebut, suami atau istri bisa mengajukan perceraian dengan alasan tersebut pada Pengadilan Agama di mana mereka tinggal.

6 Abdul Ghofur Anshori, Hukum Perkawinan Islam (Persepektif Fikih dan Hukum Positif), (Yogyakarta:UII Press, 2011), 1.

(12)

Suami istri yang telah resmi bercerai masih mempunyai hak dan kewajiban masing-masing dalam merawat anak yang menjadi hak asuhnya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah, dalam surat Al Baqarah ayat (233) yang berbunyi:

   

    

  

 

(13)

ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberi keputusannya;

2. Bapak yang bertanggung-jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu; bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut

Ketentuaninisejalan dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentangPerlindunganAnak.DalamPasal 26 ayat (1) UU No. 23/ 2002 ditegaskan, Orang tuaberkewajibandanbertanggungjawabuntuk :

a. Mengasuh, memelihara, mendidik, danmelindungianak;

b. Menumbuhkembangkananaksesuaidengankemampuan, bakat, dan minatnya dan

c. Mencegahterjadinyaperkawinanpadausiaanak-anak.

Kewajiban sebagai orang tua terhadap anaknya adalah sebagai pengayom sekaligus pendidik bagi anak-anaknya. Semua perihal yang dibutuhkan oleh anak baik berupa sandang, pangan, kesehatan serta pendidikan harus ada dan diusahakan oleh mereka.Karena anak merupakan investasi dunia dan akhirat untuk para orang tua, sehingga dalam mengasuhnya harus diberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan mereka.

(14)

tidak ada orang lain yang bisa melakukannya. Hal ini dimaksudkan agar hak anak atas pemeliharaan dan pendidikannya tidak tersia-siakan. Jika h{ad{a>nahnya dapatditangani orang lain, misalnya bibidan ia rela

melakukannya, sedangkan ibunya tidak mau, maka hak ibu untuk mengasuh menjadi gugur dengan sebab bibiyang mengasuhnya pun mempunyai hak mengasuh, pendidikan yang paling penting adalah pendidikan anak dalam pangkuan ibu bapaknya, karena dengan pengawasan dan perlakuan keduanya secara baik akan dapat menumbuhkan jasmani dan akalnya, membersihkan jiwanya serta mempersiapkan diri anak dalam menghadapi kehidupanya di masa mendatang.9

Merawat anak adalah hal yang sangat penting sekali karena anak merupakan amanat bagi orang tuanya. Mereka bagaikan kertas kosong yang menunggu dituliskan hal-hal baru yang akan membentuk jati diri. Apa yang dituliskan diatasnya ia akan condong kepadanya, itu berarti jika ia dibiasakan dan di didik untuk selalu berbuat baik maka ia akan ikut baik, sedang orang tua yang telah mendidiknya akan mendapatkan pahala namun sebaliknya jika ia dibiasakan dan dibiarkan dalam kejelekan, ia pun akan tercetak menjadi pribadi yang jelek, dan orang tua akan ikut mendapatkan beban dosa.

(15)

Maka dari itu pemeliharaan anak sudah sepatutnya ditanggung oleh orang tuanya.Agama dan Negara pun ikut andil dalam melindungi hak-hak mereka.Pasal 156 huruf (d) kompilasi hukum Islam mengatakan bahwa semua biaya h{ad{a>nahdan nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah menurut kemampuannya, `sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dapat mengurus diri sendiri (21 tahun).

Sesungguhnyahubungan anak dan orang tua tidak boleh putus. Kalau anak bersama ibu, hak bagi ayahnya pasti dibuka. Kalau anak bersama ayah, hak bagi ibunya tetap dibuka. Misalnya seperti apabila salah satu anak berada dalam asuhan ibu maka hak sang ayah untuk bertemu anaknya masih dibuka tidak boleh ada yang menghalang-halangi baik pengadilan maupun si ibu yang telah mendapatkan hak untuk mengasuh anak tersebut. Kalau itu tidak dijalankan dengan baik dan kalau ada pihak yang dihalang-halangi tentu akan membawa dampak yang tidak baik bagi perkembagan anak-anak itu sendiri.10

Akan tetapi, disisi lain sang istri juga melakukan perbuatan yang tidak baik yang terbukti telah berselingkuh dengan pria lain,menginap di hotel dengan membawa anaknya yang bernama Chantika Canda Arifiona yang masih berumur 4 tahun. Meskipun dalam pengakuan sang istri dia hanya sekedar bercakap-cakap.

(16)

Oleh karena itu saya tertarik melakukan penelitian putusan diatas, karena ada permasalahan hukum, yaitu baik ayah maupun ibu sama-sama melakukan perbuatan yang tidak baik.Sehingga menurut perundang-undagan mereka tidak layak memperoleh hak asuh anak mereka.

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

Agar pembahasan skripsi ini tepat sasaran dan sesuai dengan yang ditargetkan, maka dalam skripsi ini diperlukan identifikasi dan batasan masalah. Berpijak dari latar belakang di atas, maka dalam kaitannya hak asuh anak terkandung hal-hal sebagai berikut:

a. Pengertian h{ad{a>nah atau hak asuh anak b. Dasar hukum h{ad{a>nah

c. Syarat-syarat h{ad{a>nah

d. Pertimbangan hukum hakim Pengadilan Agama Malang dalam

penetapanputusan Nomor: 0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg yang menolak hak asuh anak.

e. Analisis yuridis terhadap putusan Nomor: 0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg.

C. Rumusan Masalah

Agar lebih praktis dan operasional, maka masalah studi ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

(17)

2. Bagaimana analisis yuridis terhadap penolakan majelis hakim atas permohonan hak asuhanak oleh suami dalam perkara no 0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg?

D. Kajian Pustaka

Kajian pustaka pada penelitian ini, pada dasarnya untuk mendapatkan gambaran topikyang akan diteliti dengan penelitian sejenis yang mungkin pernah dilakukan oleh peneliti lain sebelumnya, sehingga diharapkan tidak adanya pengulangan materi penelitian secara mutlak.

Sejauh ini ada banyak penulisan yang membahas tentang penolakan hak asuh anak bahkan secara global pernah dikaji pada skripsi-skripsi sebelumnya di antaranya yaitu:

1. Argumentasi PA Surabaya dalam menolak hak pengasuhan ibu pada

anak yang belum mumayyiz, oleh Ahmad Tantowi.Skripsi yang ditulis oleh Ahmad Tantowi ini membahas tentang hakh{ad{a>nah yang diberikan kepada ayah dengan alasan karena si ibu telah meninggalkan keluarga selama 2 tahun.11

2. Hak asuh anak yang belum mumayyizoleh ayah setelah terjadi

perceraian di PA Gresik, oleh Miftachul Jannah.Skripsi yang ditulis oleh Miftachul Jannah ini adalah hak h{ad{a>nah yang diberikan kepada

(18)

ayah dikarenakan pihak ibu telah melakukan tindakan yang tidak terpuji (memiliki hubungan khusus / selingkuh dengan pria lain).12 3. Study kasus terhadap putusan No.1361/Pdt.G/2006/PA.Sby tentang

sengketa hak asuh anak sebelum mumayiz akibat perceraian, oleh Suprapto.Pada perkara tersebut hakim menetapkan hak asuh anak kepada ayah dikarenakan hal ini ibu tidak memenuhi syarat-syarat sebagai h{ad{hinyaitu tidak amanah dan tidak sederhana.13

Dengan demikian setelah penulis mempelajari kajian pustaka tersebut, maka penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, karena penelitian ini mengkaji tentang:

1. Pertimbangan hakim tentang penolakan hak asuh anak;

2. Analisis yuridis terhadap penolakan majelis hakim atas hak asuh anak

oleh suami di Pengadilan Agama Malang.

E. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, maka dalam kajian ini bertujuan:

1. Untuk mengetahui pertimbangan hakim terhadap penolakan hak asuh

anak oleh suami perkara Nomor0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg.

12 Miftahul Jannah, Hak asuh anak yang belum mumayyiz oleh ayah setelah terjadi perceraian di PA Gresik, Skripsi IAIN Sunan Ampel Surabaya Fakultas Syariah, 2005

(19)

2. Untuk menganalisis terhadap penolakan majelis hakim atas hak asuh

anak oleh suami dalam perkaraNomor 0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg.

F. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis sebagai berikut:

1. Kegunaan secara teoritis

Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, terutama tentang penetapan hak asuh anak serta untuk mengetahui kesesuaian antara aturan perundang-undangan dan praktik yang dijalankan oleh Pengadilan Agama Malang.

2. Kegunaan secara praktis

Dapat digunakan sebagai bahan acuan atau pertimbangan bagi para praktisi hukum dan mahasiswa Fakultas Syari’ah terutama yang berkaitan dengan penetapan hak asuh anak.

G. Definisi Operasional

Untuk mempermudah pemahaman terhadap istilah kunci dalam penelitian dan untuk menghindari kesalah pahaman dalam pemaknaan kata, maka di sini dijelaskan definisi dari beberapa variabel yang ada pada judul di atas, antara lain:

(20)

Indonesia. Dalam penelitian ini yang digunakan dalam ketentuan Undang-undang perkawinan nomor 1 tahun 1974, Kompilasi Hukum Islam (KHI), dan landasan-landasan hukum yang dipakai hakim dalam memutuskan perkara ini.

Putusan Hakim : Yang dimaksud dengan putusan hakim adalah putusan Pengadilan Agama Malang Nomor 0138/pdt.G/2013/PA.Mlg.

Penolakan : Mencegah, tidak menerima permohonan yang diajukan kepada majelis hakim.

Hak Asuh Anak : Menjaga anak yang belum bisa mengatur dan merawat dirinya sendiri, serta belum mampu menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat membahayakan dirinya.

H. Metode Penelitian

Guna memperoleh hasil yang maksimal, penulis menggunakan metodologi penelitian sebagai berikut:

1. Lokasi Penelitian

(21)

Dalam penelitian ini yang menjadi obyek penelitian adalah penetapan 0138/pdt.G/2013/PA.Mlg.

3. Data yang Dikumpulkan

Data yang akan penulis kumpulkan dalam penelitian ini meliputi: a. Data putusan tentang pertimbangan hakim menolak hak asuh anak

oleh suami dalam perkara Nomor 0138/pdt.G/2013/PA.Mlg. b. Data-data putusan terkait tentang penolakan hakim atas hak asuh

anak oleh suami dalam perkara Nomor 0138/pdt.G/2013/PA.Mlg.

4. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu: a. Sumber Data Primer

Sumber data primer dari penelitian ini meliputi pertimbangan hakim dalam menolak hak asuh anak putusan Nomor 0138/pdt.G/2013/PA.Mlg. Yaitu:

1. Salinan putusan 2. Hakim yang mengadili b. Sumber Data Sekunder

(22)

Dalam mengumpulkan data-data untuk penelitian ini, peneliti menggunakan teknik:

a. Dokumentasi, yaitu metode pengumpulan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen, atau menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, peraturan-peraturan, catatan harian.14 Teknik dokumentasi digunakan dalam pengumpulan data yang berkaitan dengan hak asuh anak di Pengadilan Agama Malang dan pertimbangan majelis hakim yang memeriksa dan menetapkan permohonan hak asuh anak di Pengadilan Agama Malang No 0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg

b. Interview. Metode ini untuk memperoleh data pada sumber data primer (wawancara dengan hakim yang bersangkutan DR. H. Moh. Faishol Hasanuddin, S.H, M.H.)secara langsung guna mengetahui pertimbangan hakim mengeluarkan penetapan hak asuh anak. 6. Teknik Pengolahan Data

a. Editing, yaitu memeriksa kembali data-data secara cermat, dari

segi kelengkapan, kejelasan makna, serta kesesuaian antara data yang satu dengan yang lain.

b. Pengorganisasian data, yaitu dengan mengatur dan menyusun data sedemikian rupa sehingga menghasilkan bahan-bahan yang akurat untuk melakukan perumusan.

(23)

7. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini merupakan:

a. Teknik Pendektan Kasus (Case Aprroach)

Metode yang digunakan dalam menganalisis penulisan skripsi ini adalah menggunakan teknik pendekatan kasus, namun dalam hal ini yang perlu dipahami oleh peneliti adalah ratio decidendi, yaitu alasan-alasan hukum yang digunakan oleh hakimuntuk sampai kepada putusannya.15 Dalam hal ini ratio decidendidapat memperhatikan fakta materiil. Fakta-fakta tersebut berupa orang, tempat, waktu dan segala yang menyertainya asalkan tidak terbukti sebaliknya. Sehingga pendekatan kasus bukanlah merujuk kepada dictum putusan pengadilan, melainkan merujuk kepada ratio decidendi. Dalam hal ini alasan-alasan hukum atau dasar-dasar yang

digunakan oleh majelis hakim yang digunakan dalam penolakan Permohonan hak asuh anak dalam putusan Nomor 0138/pdt.G/2013/PA.Mlg. Yang kemudian dari putusan tersebut kita analisis dasar hukum yang digunakan oleh majelis hakim.

b. Pola Pikir Deduktif

Dalam tahap ini, peneliti akan menganalisis penetapan hak asuh anak Nomor 0138/pdt.G/2013/PA.Mlg, menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan menggunakan pola

(24)

pikir deduktif, yaitu menggambarkan hasil penelitian diawali dengan mengemukakan kenyataan yang bersifat umum dari hasil penelitian tentang ketidaksesuaian kebijakan hakim tentang penetapan hak asuh anak.

I. Sistematika Pembahasan

Dalam setiap pembahasan suatu masalah, sistematika pembahasan merupakan suatu aspek yang sangat penting, karena sistematika pembahasan ini dimaksudkan untuk mempermudah pembaca dalam mengetahui alur pembahasan yang terkandung di dalam skripsi. Adapun sistematika pembahasan skripsi ini adalah sebagai berikut:

Bab pertama berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, kajian pustaka, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab keduamemuat tentang landasan teori, yang merupakan tolak ukur bagi pembahasan masalah. Dalam bab ini membahas tinjauan umum tentang hak asuh anak, meliputi: pertama, Hak asuh anak menurut Undang-undang No 1 tahun 1974 dan Hak asuh anak menurut Kompilasi Hukum Islam.

(25)

terhadap penetapan hak asuh anakNomor: 0138/pdt.G/2013/PA.Mlgdan dasar hukum yang digunakan majelis hakim Pengadilan Agama Malang dalam mengeluarkan penetapan tersebut.

Bab keempat merupakan analisis hasil penelitian terhadap pertimbangan hakim dalam mengeluarkan penetapan tersebut berdasarkan teori yang ada pada bab dua dan penemuan hasil penelitian.

(26)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian H}ad}anah

(27)

Urutan hak asuh bagi anak dalam ajaran Islam adalah sebagai berikut: 1. Pihak yang paling berhak mengasuh anak adalah ibunya. Imam Ibnu

Qudaamah mengatakan, “Jika pasangan suami istri berpisah dan mereka memiliki seorang anak, atau keluarga yang idiot, maka ibunyalah yang berhak untuk mengasuh, jika telah terpenuhi syarat-syaratnya, baik anak tersebut laki-laki maupun wanita. Pendapat ini sama dengan pendapat yang diungkapkan oleh Imam Malik dan yang lain. Dan, tidak ada seorang pun yang berselisih.

2. Jika seorang ibu telah menikah dengan laki-laki lain, maka hak asuh

terhadap anaknya berpindah kepada orang lain, dan hak asuhnya telah gugur. Didahulukannya seorang ibu untuk mengasuh anaknya, karena sang ibu biasanya lebih dekat dan lebih sayang dengan bayi yang dilahirkannya. Tidak ada yang bisa menyamai kedekatannya kecuali seorang ayah dari anak tersebut.Seorang ayah pun tetap saja tidak bisa menyamai kasih sayang seorang ibu. Karena itu, ia tidak berhak mengasuh anaknya sendiri tanpa istri.

(28)

seorang ibu ditetapkan sebagai orang yang lebih berhak mengasuh anak kecilnya yang belum baliq di dalam syariah”.

3. Jika hak asuh seorang ibu telah gugur, maka hak pengasuhan anak dipindahkan kepada ibunya istri atau nenek dari anak tersebut. Karena nenek adalah keluarga terdekat setelah ibu. Selain itu seorang nenek juga mempunyai status yang sama seperti ibunya. Ia akan lebih menjaga dan menyayangi anak yang diasuhnya dibanding yang lain.

4. Setelah hak asuh ibu dan nenek hilang, maka hak tersebut bisa diambil

alih oleh ayah dari anak tersebut. Karena bagaimanapun dari dia lah benih anak tersebut tertanam.

5. Jika hak ibu, nenek, dan ayah telah hilang, maka hak tersebut diberikan kepada ibu ayahnya yaitu nenek dari pihak ayah atau keluarga terdekat darinya.

6. Setelah nenek dari ayah anak tersebut tidak memiliki hak untuk

mengasuh cucunya, maka hak tersebut berpindah kepada kakek dari ayahnya atau yang terdekat dengannya. Karena kakek memiliki hubungan yang sama seperti ayah bagi anak tersebut.

7. Setelah itu hak asuh berpindah kepada ibunya kakek, yang dianggap lebih

dekat dengannya.

8. Setelah ibu dari kakek, seterusnya adalah saudara wanita dari anak

(29)

baru saudara wanita seibu, yang dianggap lebih keibuan. Sebab itu ibu lebih utama dari ayah, baru kemudian saudara wanita yang seayah dengan anak itu.

9. Setelah saudara wanita hak asuh pindah kepada bibi pihak ibu. Karena

bibi dari ibu statusnya sama dengan ibu itu sendiri. Dalam hal ini seorang bibi yang sekandung dengan ibu lebih utama dari bibi yang hanya seibu dengan ibu. Kemudian baru bibi yang seayah dengan ibu, urutannya sama seperti dalam saudara wanita.

10. Setelah bibi dari pihak ibu, hak tersebut dipindahkan kepada bibi dari

pihak ayah. Sebab mereka punya hubungan dekat dengan ayah dari anak tersebut yang memiliki hak asuh setelah keluarga ibu.

11. Setelah itu pindah kepihak anak wanita dari saudara laki-laki. Kemudian

anak wanita dari saudara wanitanya. Kemudian anak wanita dari pihak paman. Kemudian dari pihak ayah, baru kemudian anak wanitanya bibi dari pihak sang ayah. Setelah itu baru diberikan kepada kerabat terdekat yang masih punya hak untuk mengasuhnya, misalnya saudara laki-laki dari anak tersebut atau anak laki-lakinya. Kemudian pamannya, terus anak pamannya.2

B. Dasar Hukum H}ad}anahdalam Al-Quran dan Hadis

Mengasuh anak-anak yang masih kecil hukumnya wajib, sebab mengabaikannya berarti menghadapkan anak-anak yang masih kecil kepada

(30)

bahaya kebinasaan.H}ad}anahmerupakan hak bagi anak-anak yang masih kecil, karena ia membutuhkan pengawasan, penjagaan, pelaksanaan urusannya, dan orang yang mendidiknya. Dalam kaitan ini, terutama ibunyalah yang berkewajiban melakukan h}ad}anah.3

Firman Allah surat Al-Baqarah ayat 233:

    

    

  



(31)

Meskipun ayat tersebut tidak secara eksplisit menegaskan bahwa tanggung jawab pemeliharaan anak menjadi beban yang harus dipenuhi suami sebagai ayah, namun pembebanan ayah untuk memberi makan dan pakaian kepada para ibu melekat di dalamnya tanggung jawab pemeliharaan anak. Hal ini diperkuat lagi dengan ilustrasi, apabila anak tersebut disusukan oleh wanita lain yang bukan ibunya sendiri, maka ayah bertanggung jawab untuk membayar perempuan yang menyusui secara makruf.5

(32)

antara kamu (segala sesuatu), dengan baik, dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya. (QS. At-T{alaq 65: 6)6

Firman Allah di atas menjelaskan bahwa kewajiban seorang suami untuk mengayomi dan melindungi anak dan istrinya sehingga tercukupi kebutuhan pangan, sandang, papan dan kesehatan mereka, dan juga tercipta sebuah kehidupan yang damai bahagia, jauh dari berbagai macam tekanan dan penderitaan batin. Namun kewajiban itu dilakukan sesuai dengan kadar kemampuan sang suami.

(33)

Hadis ini menunjukkan bahwa seorang ibu lebih berhak untuk mengasuh anaknya jika ia diceraikan oleh ayah anak tersebut sebelum sang ibu menikah lagi. Tetapi jika ia telah menikah, maka haknya untuk mengasuh anak itu telah gugur.

Dalam undang-undang Republik Indonesia No.23 tahun 2003 tentang perlindugan anak pada pasal 26 yaitu;

1. Orang tua berkewajiban dan bertangung jawab untuk :

a. Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak. b. Menumbuhkembangkan anak sesuai dengan

kemampuan,bakat, dan minatnya, dan

c. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak 2. Dalam hal orang tua tidak ada, atau tidak diketahui keberadaanya,

atau karena suatu sebab, tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tangung jawabnya, maka kewajiban dan tanggung jawab sebagaimana dimaksut dalam ayat (1) dapat beralih kepada keluarga, yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undagan yang berlaku.8

Dalam undang undang diatas dijelaskan kewajiban orang tua terhadap anaknya, yaitu merawat dengan baik akan tetapi apabila dikarenakan suatu sebab yang menyebabkan orang tua tidak bisa

(34)

menjalankan kewajibanya untuk merawat anaknya maka tangung jawab tersebut dapat beralih kepada keluarganya.

Undang-undang perkawinan juga mengatur tentang pemeliharaan anak didalam pasal 41 ayat (a) dan (b), sebagai berikut:

a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan

mendidik anak-anaknya semata-mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, pengadilan memberi keputusanya.

b. Bapak yang bertangung jawab atas semua biaya pemeliharaan

dan pendidikan yang diperlukan anak itu,bilamana dapat dalam kenyataanya tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut. Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.9

Maksud dari undang-undang perkawinan diatas ialah apabila terdapat perselisihan dalam hal h{ad{a>nah baik itu karena hak asuh maupun nafkah,dapat diselesaikan di pengadilan,dan pengadilan yang akan memberi keputusan dalam perselisihan tersebut.

(35)

C. Syarat-Syarat H}ad}anah

Untuk kepentingan anak dan pemeliharaannya diperlukan syarat-syarat bagi orang yang memiliki hak asuh anak danuntuk anak yang di asuh.

1. Syarat bagi orang yang memiliki hak asuh anak adalah sebagai

berikut:10

a. Tidak terikat dengan suatu pekerjaan yang menyebabkan ia tidak

melakukan h}ad}anah dengan baik, seperti h}ad}anah terikat dengan pekerjaan yang berjauhan tempatnya dengan tempat si anak, atau hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk bekerja;

b. Hendaklah ia orang yang mukallaf, yaitu telah balig, berakal dan

tidak terganggu ingatannya. H}ad}anah adalah suatu pekerjaan yang penuh dengan tanggung jawab, sedangkan orang yang bukan mukallaf adalah orang yang tidak dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya;

c. Hendaklah mempunyai kemampuan melakukan h}ad}anah;

d. Hendaklah dapat menjamin pemeliharaan dan pendidikan anak,

terutama yang berhubungan dengan budi pekerti. Orang yang dapat merusak budi pekerti anak, seperti pezina, pencuri, tidaklah pantas melakukan h}ad}anah;

e. Hendaklah h}ad}inah tidak bersuamikan laki-laki yang tidak ada

hubungan mahram dengan si anak. Jika ia kawin dengan laki-laki yang ada hubungan mah{ram dengan si anak, maka wanita tersebut

(36)

berhak melaksanakan h}ad}anah, seperti ia kawin dengan paman si anak dan sebagainya;

f. H}ad}inah hendaklah orang yang tidak membenci si anak. Jika ia membenci si anak dikhawatirkan anak berada dalam kesengsaraan. Persamaan agama tidaklah menjadi syarat bagi h}ad}inah kecuali jika dikhawatirkan ia akan memalingkan si anak dari agama Islam. Sebab yang penting dalam h}ad}anah adalah had}inah mempunyai rasa cinta dan kasih sayang kepada anak serta bersedia memelihara anak sebaik-baiknya.11

Para ulama’ Mazhab sepakat bahwa, dalam asuhan seperti itu disyaratkan bahwa orang yang mengasuh berakal sehat, bisa dipercaya, suci diri, bukan pelaku maksiat, bukan penari, dan bukan peminum khamar, serta tidak mengabaikan anak yang diasuhnya. Tujuan dari keharusan adanya sifat-sifat tersebut adalah untuk memelihara dan menjamin kesehatan anak dan pertumbuhan moralnya, syarat-syarat ini berlaku pula bagi pengasuh laki-laki.

Ulama’ mazhab berbeda pendapat tentang, apakah Islam merupakan syarat dalam asuhan.

Madzab Imamiyah dan syafi’i seorang kafir tidak boleh mengasuh anak yang beragama Islam. Sedangkan mazhab-mazhab lainya tidak mensyaratkanya. Hanya saja ulama Mazhab Hanafi mengatakan bahwa,kemurtadan wanita atau laki-laki yang mengasuh, mengugurkan hak asuhan.

(37)

Imamiyah berpendapat, pengasuh harus terhindar dari penyakit-penyakit menular.

Hambali, pengasuh harus terbebas dari penyakit lepra, belang dan yang penting, dia tidak membahayakan kesehatan si anak.

Seterusnya mazhab empat berpendapat bahwa, apabila ibu si anak di cerai suaminya, lalu dia kawin lagi dengan laki-laki, maka hak asuhnya gugur. Akan tetapi bila laki-laki tersebut memiliki kasih sayang pada si anak, maka hak asuhan bagi ibu tetap ada.

Madzab Imamiyah berpendapat: hak asuh bagi ibu gugur secara mutlak karena perkawinanya dengan laki-laki lain, baik suaminya itu memiliki kasih sayang kepada si anak ataupun tidak.

Madzab Hanafi, Syafi’i, Imamiyah, dan Hambali berpendapat. Apabila ibu si anak bercerai pula dengan suaminya yang kedua, maka larangan bagi haknya untuk mengasuh si anak di cabut kembali, dan hak itu dikembalikan sesudah sebelumnya menjadi gugur karena perkawinannya dengan laki-laki yang kedua itu12

2. Adapun syarat untuk anak yang di asuh itu adalah:

a. Ia masih berada dalam usia anak-anak dan belum dapat berdiri sendiri

dalam mengurus hidupnya sendiri.

b. Dia berada dalam keadaan tidak sempurna akalnya dan oleh karena itu

tidak dapat berbuat sendiri, meskipun telah dewasa, seperti orang

(38)

idiot. Orang yang telah dewasa dan sehat sempurna akalnya tidak boleh berada di bawah pengasuhan siapapun.

Bila kedua orang tua si anak masih lengkap dan memnuhi syarat, maka yang paling berhak melakukan h}ad}anah atas anak adalah ibu. Alasanya adalah karena ibu lebih memiliki rasa kasih sayang dibandingkan dengan ayah, sedangkan dalam usia yang sangat muda itu lebih dibutuhkan kasih sayang.

Bila anak berada dalam asuhan seorang ibu, maka segala biaya yang di perlukan untuk itu tetap berada di bawah tangung jawab si ayah. Hal ini sudah merupakan pendapat yang disepakati oleh ulama.13

D. Pengasuhan Anak dan Nafkah Anak Menurut Undang-Undang

Dalam KHI (kompilasi hukum islam) pasal 105 juga dijelaskan mengenai h{ad{a>nah sebagai berikut:

Dalam hal terjadinya perceraian :

1. Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12

tahun adalah hak ibunya;

2. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaanya;

3. Biaya pemeliharaan ditangung oleh ayah.14

(39)

Dalam KHI dijelaskan bahwa setelah terjadinya perceraian hak asuh anak yang belum mumayyiz adalah hak ibu dan setelah mumayyiz menjadi hak anak tersebut untuk memilih ia ikut ibu atau ayah, akan tetapi biaya pemeliharaan tetap tangung jawab seorang ayah.

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak secara khusus membicarakan pemeliharaan anak sebagai akibat putusnya perkawinan, apa lagi dengan menggunakan nama h{ad{a>nah. Namun UU secara umum mengatur hak dan kewajiban orang tua terhadap anaknya secara umum dalam pasal-pasal sebgai berikut:

Pasal 41

Akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah:

a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik

anak-anaknya, semata-mataberdasarkan kepentingan anak; bilamana ada perselisihan mengenai penguasaananak-anak, Pengadilan memberi keputusannya;

b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan

pendidikan yangdiperlukan anak itu; bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajibantersebut, Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut;

c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada mantan suami untuk memberikan

biaya penghidupandan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi mantan isteri.

(40)

Pasal 45

1) Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka

sebaik-baiknya.

2) Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku

sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri, kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus.

Pasal 49

1) Salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap

seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang, dengan keputusan Pengadilan dalam hal-hal:

a. la sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya;

b. la berkelakuan buruk sekali.

2) Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka masih tetap berkewajiban untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut.

Jika diperhatikan ketentuan Kompilasi Hukum Islam, tampak jelas bahwa KHI menganut sistem kekerabatan bilateral seperti yang dikehendaki oleh Al-Quran.15 Hal ini diatur dalam pasal 105, yang berbunyi; dalam hal terjadi perceraian:

(41)

a. Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun

adalah hak ibunya;

b. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya;

c. Biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.

Kompilasi Hukum Islam memberi prioritas utama kepada ibu untuk memegang hak h{ad{a>nah sang anak, sampai si anak berusia 12 tahun. Akan tetapi, setelah anak berusia 12 tahun, maka untuk menentukan hak h{ad{a>nah tersebut diberikan hak pilih kepada si anak untuk menentukan apakah ia bersama ibu atau ayahnya.

Meskipun hak asuh anak sampai usia 12 tahun ditetapkan kepada ibunya, tetapi biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya. Di sini tampak bahwa sengketa pemeliharaan anak tidak bisa disamakan dengan sengketa harta bersama.Pada sengketa harta bersama yang dominan adalah tuntutan hak milik, bahwa pada harta bersama ada hak suami dan hak istri yang harus dipecah.Ketika harta bersama telah dipecah, maka putuslah hubungan hukum suami dengan harta bersama yang jatuh menjadi bagian istri, begitu pula sebaliknya.16

Selain pasal 105 KHI di atas, terdapat dalam pasal 98 yang mengatur tentang pemeliharaan anak, yang berbunyi:

(42)

1) Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah 21 tahun,

sepanjang anak tersebut tidak bercacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsungkan perkawinan;

2) Orang tuanya mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum

di dalam dan di luar Pengadilan;

3) Pengadilan Agama dapat menunjuk salah seorang kerabat terdekat yang

mampu menunaikankewajiban tersebut apabila kedua orang tuanya tidak mampu.17

E>. Upah h{ad{a>nah

Ibu tidak berhak atas upah h{ad{a>nah, seperti upah menyusui, selama ia masih menjadi istri dari ayah anak kecil itu, atau selama masih dalam masa iddah. Karena dalam keadaan tersebut, ia masih mempunyai hak nafkah sebagai istri atau nafkah masa iddah.

    





Artinya:

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah member makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf”(Q.S. Al-Baqarah:233)18

(43)

Perempuan selain ibunya boleh menerima upah hadanah sejak ia menangani hadanahnya, seperti halnya perempuan penyusu yang bekerja menyusui anak kecil dengan bayaran (upah).

Seorang ayah wajib membayar upah penyusuan dan hadanah, juga wajib membayar ongkos sewa rumah atau perlengkapannya jika sekiranya si ibu tidak memiliki rumah sendiri sebagai tempat mengasuh anak kecilnya. Ia juga wajib membayar gaji pembantu rumah tangga atau menyediakan pembantu tersebut jika si ibu membutuhkannya, dan ayah memiliki kemampuan untuk itu. Hal ini bukan termasuk dalam bagian nafkah khusus bagi anak kecil, seperti: makan, minum, tempat tidur, obat obatan dan keperluan lain yang pokok yang sangat dibutuhkannya. Tetapi gaji ini hanya wajib dikeluarkannya saat ibu pengasuh menangani asuhannya. Dan gaji ini menjadi utang yang ditanggung oleh ayah serta baru bisa lepas dari tanggungan ini kalau dilunasi atau dibebaskan.

(44)

yang perempuan untuk mengasuhnya dengan suka rela, dengan syarat perempuan ini dari kalangan kerabat si anak kecil dan pandai mengasuhnya. Hal ini berlaku apabila nafkah itu wajib ditanggung oleh ayah. Adapun aoabila anak kecil itu sendiri memiliki harta untuk membayar nafkahnya, maka anak kecil inilah yang membayar kepada pengasuh suka relanya. Di samping untuk menjaga hartanya juga karena ada salah seorang kerabatnya yang menjaga dan mengasuhnya.

Tetapi jika ayahnya tidak mampu, si anak kecil sendiri juga tidak memiliki harta, sedang ibunya tidak mau mengasuhnya kecuali kalau dibayar, dan tidak seirang kerabat pun yang mau mengasuhnya dengan sukarela maka ibu dapat dipaksa untuk mengasuhnya, sedangkan upah (bayarannya) menjadi hutang yang wajib dibayar oleh ayah, dan bisa gugur kalau telah dibayar atau dibebaskan.19

(45)

BAB III

DESKRIPSI PUTUSAN HAKIM NOMOR

0138/Pdt.G/2013/PA.MLG TENTANG PENOLAKAN HAK ASUH

ANAK

A. Profil Pengadilan Agama Kota Malang

1. Keberadaan Pengadilan Agama kota Malang

Letak Pengadilan Agama (PA) Kota Malang di jalan Raden Panji Suroso No. 1, Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. PA Kota Malang berada di 705’-802’ LS dan 126’-127’ BT, serta berada di ketinggian 440-667 meter di atas permukaan laut sehingga berhawa dingin dan sejuk. Adapun batas wilayah Kota Malang ialah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kecamatan Singosari dan Kecamatan Pakis Sebelah Timur : Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang Sebelah Selatan : Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji Sebelah Barat : Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau.

(46)

pada tahun 1985.Sejak diresmikan sampai saat ini, PA Kota Malang telah mengalami perbaikaN-perbaikan. Dan perbaikan terakhir yaitu pada tahun 2005 berdasarkan DIPA Mahkamah Agung RI Nomor: 005.0/05-01.0/-/2005 tanggal 31 Desember 2004 Revisi I Nomor: S-1441/PB/2008 tanggal 5 April 2005. PA Kota Malang mendapatkan dana rehabilitasi gedung yang digunakan untuk merehabilitasi bangunan induk menjadi dua lantai yang digunakan untuk ruang Ketua, ruang Waka, ruang Hakim, ruang Panitera/Sekretaris, ruang Panitera Pengganti, ruang Pejabat Kepaniteraan dan ruang Kesekretariatan.1

2. Wewenang Pengadilan Agama kota Malang

a. Kewenangan absolut

Kewenangan Absolut atau disebut juga dengan kewenangan mutlak yaitu kewenangan suatu badan peradilan untuk memeriksa perkara tertentu secara mutlak yang tidak bisa diperiksa oleh badan peradilan lainnya2, atau dapat dikatakan juga bahwa kompetensi absolut merupakan kekuasaan suatu pengadilan untuk mengadili berdasarkan materi hukum.3

Dalam mengadili suatu perkara, Pengadilan Agama menganut asas personalitas keislaman yaitu mereka yang menganut agama Islam tunduk kepada kekuasaan lingkungan Peradilan Agama

1Profil PA, dalam http://www.pa-malangkota.go.id, diakses 2 Juni 2014.

2 Mahkamah Agung RI, Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Administrasi Peradilan Agama, Buku II, Edisi Revisi, (Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, 2010), 67.

(47)

sehingga para pihak yang bersengketa harus sama-sama pemeluk agama Islam, perkara perdata yang disengketakan hanya terbatas pada perkara yang menjadi wewenang Peradilan Agama, serta hubungan hukum yang melandasi keperdataan tertentu tersebut berdasarkan agama Islam sehingga penyelesaiannyapun harus berdasarkan hukum Islam.4

Adapun kewenangan dan tugas Pengadilan Agama menurut Pasal 49 UU No.3 Tahun 2003 adalah “memeriksa, memutus, dan meyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shadaqah, dan ekonomi syariah.”5Dalam hal ini juga termasuk tentang perwalian anak di bawah umur atas hartanya yang mengikuti pedoman beracara khusus di Pengadilan Agama.6

b. Kewenangan relatif

Kewenangan relatif merupakan kewenangan suatu Peradilan untuk memeriksa dan mengadili suatu perkara berdasarkan daerah atau wilayah hukumnya.7Adapun Pengadilan Agama Kota Malang hanya membawahi enam kecamatan.

4 M. Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan Dan Acara Peradilan Agama UU No.7 Tahun 1989, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), 57.

5Undang-undang No.3 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas Undang-undang No.7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

6 Mahkamah Agung RI, Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Administrasi Peradilan Agama…, 162.

(48)

B. Deskripsi kasus Majelis Hakim Mengabulkan cerai Gugat dan Menolak

Permohonan Hak asuh Anak Oleh suami dalam putusan No. 0138/pdt.G/2013/PA.Mlg

1. Identitas Para pihak

Pengadilan Agama Kelas I A Malang telah memeriksa dan mengadili satu perkara tentang cerai gugat dan hak asuh anak oleh sepasang suami istri yang mempunyai permasalahan. Dan pada tingkat pertama dalam persidangan, MajelisHakim telah menjatuhkan putusan perkara tersebut. Identitas para pihak yang bersengketa adalah sebagai berikut.

Si A, umur 31 tahun, agama Islam, pekerjaan wiraswasta (pedagang), tempat tingal di jalan Patimura Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, kota Batu, sebagai “Penggugat” dengan si B, umur 41 tahun, agama Islam, pekerjaan karyawan swasta, tempat tinggal di jalan Patimura Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, kota Batu, dalam hal ini diwakili oleh kuasa hukumnya Gaspar Ganggas, S.H., M.S., dan I gusti Ngurah Adnyana,S.H.,M.S. Advokat pada kantor Advokat dan Konsultan Hukum “GASPAR GANGGAS dan REKAN”. Beralamat di jalan Bukit Tanggul p-7 Malang, berdasarkan surat kuasa Khusus tanggal 03 februari 2013, sebagai “Tergugat”.8

(49)

2. Fakta Hukum (Posita)

Fakta hukum yang terdapat dalam perkara ini adalah penggugat telah mengajukan gugatanya pada tanggal 15 januari 2013 yang terdaftar dikepaniteraan Pengadilan Agama Malang dengan Nomor Register : 0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg.Dengan mengemukakan fakta hukum diantaranya adalah:

Penggugat dan tergugat telah menikah di kota Surabaya pada tanggal 23 juni 2002 berdasarkan kutipan Akta Nikah Nomor: 325/78/VI/2002 yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya, tanggal 24 juni 2002. Setelah pernikahan tersebut penggugat dengan tergugat bertempat tinggal di rumah kontrakan di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu, selama 4 tahun, dan terakhir bertempat kediaman di rumah bersama di kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu, selama 6 tahun.

3. Tuntutan (Petitum)

(50)

kediaman pengugat dan tergugat dan pegawai pencatat nikah ditempat perkawinan dilangsungkan, untuk dicatat dalam daftar yang telah disediakan untuk itu. Serta membebankan biaya perkara sesuai dengan ketentuan hukum.

Menetapkan hak asuh anak berada dalam asuhan penggugat dengan alasan anak-anaknya belum mumayyiz. Anak pertamanya bernama Maulana Arifin Billah yang berumur 9 tahun, anak kedua bernama Jihan Wiridtama Arifin berumur 7 tahundan anak yang ketiga adalah Chantika Canda Arifiona berumur 4 tahun.

Dalam putusan Subsider dari perkara ini adalah apabila Pengadilan berpendapat lain, mohon putusan dan keadilan yang seadil-adilnya. 4. Jawaban (Replik Duplik)

Terhadap gugatan pengugat tersebut, tergugat telah memberikan jawaban secara tertulis dipersidagan, bahwa tergugat menolak dan membantah dengan tegas dalil-dalil gugatan pengugat untuk seluruhnya, kecuali mengenai bagian-bagian yang diakui secara tegas oleh tergugat.

(51)

Dalil gugatan pengugat pada posita angka 2 yang menyatakan bahwa setelah melangsungkan pernikahan tersebut, Pengugat dan tergugat telah hidup bersama sebagai suami istri di rumah kontrakan di Batu adalah benar dan hal itu sudah sesuai dengan hakekat tujuan perkawinan itu sendiri : Dalam pasal 1 UU Tahun 1974 tentang perkawinan, ditegaskan “perkawinan adalah ikatan lahir dan bathin antara seorang pria dan seorang wainita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa)”

Tergugat membantah dan menolak dengan tegas dalil penggugat pada posita angka 3 (tiga), Khususnya statemen yang menyatakan bahwa sebelum menikah antara penggugat dan tergugat, Tergugat telah melakukan hubungan sebagai suami isteri, karena Tergugat memahami betul bahwa hubungan layaknya sebagai suami isteri, karena Tergugat memahami betul bahwa hubungan layaknya sebagai suami istri di luar nikah adalah dosa besar karena melangar norma Agama dan merupakan tindakan asusila yang terdapat jerat hukum karena melanggar norma hukum.

(52)

goyah dan sering terjadi pertengkaran. Dalil demikian itu hanya mengada-ada serta memutar balikan fakta yang sebenarnya diaman semenjak menikah pada tanggal 23 juni 2002 sampai pada bulan november 2012 rumah tangga penggugat dan tergugat berjalan harmonis tidak ada permasalahan.

Tergugat membantah dan menolak dengan tegas posita angka 5(lima) pengugat yang menyatakan puncak perselisihan dan pertengkaran tersebut terjadi sejak bulan Agustus 2012, karena sesungguhnya tidak pernah ada pertengkaran baik sebelum maupun pada bulan Agustus 2012 tersebut.Tergugat membantah dan menolak dengan tegas posita angka 6 gugatan pengugat,yang terkesan gugatan cerai pengugat di ajukan karena selama perkawinan sampai bulan Agustus 2012 seringterjadi pertengkaran.

Bahwa, tergugat tidak menangapi posita 7 gugatan pengugat karena sesungguhnya bukan alasan hukum untuk mengajukan gugatan cerai, tetapi merupakan akibat hukum lanjutan dari gugatan perceraian dan itupun bila gugatanya sangat beralasan.

(53)

Perilaku penggugat bukanlah sosok ibu yang baik bagi anak-anak, karena penggugat pernah membawa anaknya yang masih kecil (Chantika Canda Arifiona) tidur di hotel dengan lelaki yang bukan mukhrimnya. Perilaku penggugat tersebut dilihat dari sudut apapun sangat amat buruk dan tidak bermartabat serta akan menghancurkan serta membahayakan masa depan anak tergugat.

Penggugat tidak memiliki pekerjaan tetap untuk menjamin masa depan anak karena penggugat tidak lebih hanya ibu rumah tangga saja. Anak penggugat dan tergugat lebih dekat dengan tergugat dibandingkan dengan penggugat karena semua pekerjaan yang terkait kepentingan anak-anak seperti ,mengantar/menjemput sekolah dan les, semua menjadi pekerjaan tergugat, sedangkan penggugat tidak ada kepedulian untuk itu.

Atas dasar alasan tersebut dan karena gugatan cerai penggugat, tidak berdasarkan fakta (diajukan hanya karena telah ketahuan selingkuhnya), maka sudah seharusnya menurut hukum gugatan penggugat ini baik untuk perceraian maupun untuk hak asuh ketiga anaknya penggugat dan tergugat, ditolak untuk seluruhnya.

(54)

Bahwa, posita angka 9 (sembilan) gugatan Penggugat yang menyatakan “Penggugat sanggup membayar seluruh biaya yang timbul akibat perkara ini” merupakan posita yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Penggugat telah sadar gugatannya tidak memiliki alasan. Di dalam teori dan praktek, gugatan yang tidak berdasarkan hukum pasti amar putusnya menyatakan menolak gugatan Penggugat dan menghukum pihak uang kalah membayar biaya perkara.

Oleh karena alasan gugatan Penggugat tidak berdasarkan fakta yang sebenarnya, maka sudah seyogyanya gugatan Penggugat harus di tolak seluruhnya dan yang layak mengajukan gugatan cerai agar perkawinan Penggugat dan Tergugat putus (cerai) adalah Tergugat, bukan Penggugat.

(55)

adalah menantu saksi.Setelah menikah penggugat dan tergugat tinggal di rumah kontrakan dan terakhir tinggal di rumah kediaman bersama di Jalan Pattimura, Batu.Sampai sekarang penggugat dan tergugat telah dikarunia 4 orang anak namun anak pertama sudah meninggal dunia. Dan sampai sekarang penggugat dan tergugat masih tinggal dalam satu rumah. Namun, sudah lama tidak tidur bersama dan tidak saling tegur sapa.Saksi sering menyaksikan penggugat dan tergugat bertengkar dan dalam satu pertengkaran saksi melihat Hp penggugat dibanting tergugat. Tergugat sering menghina dan merendahkan penggugat dengan mengatakan penggugat boros sementara tergugat hanya memberi uang belanja setiap bulannya Rp 1.500.000,- untuk keperluan belanja warung, rumah tangga dan ongkos ojek. Akhir-akhir ini penggugat dituduh selingkuh oleh tergugat dan saksi mengetahui tergugat ada hubungan dengan seseorang yang bernama Yulia ketika anak terakhir dari penggugat dan tergugat lahir.

(56)

Saksi kedua yaitu Suyono bin Sukarmey berumur 39 tahun, dibawah sumpah memberikan kesaksiannya dan menerangkan bahwa saksi adalah kakak kandung penggugat, dan tergugat adalah ipar saksi. Saksi mengatakan bahwa setelah menikah penggugat dan tergugat tinggal di rumah kontrakan dan terakhir tinggal di rumah kediaman bersama di Jalan Pattimura, Batu. Sampai sekarang penggugat dan tergugat dikaruniai 4 orang anak namun anak pertama sudah meninggal dunia dan tidak di akui oleh tergugat. Dan sampai sekarang penggugat dan tergugat masih tinggal dalam satu rumah. Namun sudah lama tidak tidur bersama dan tidak saling tegur sapa.

Saksi ketiga bernama Lilis Amelia binti Abdul Qadir berumur 26 tahun. Dibawah sumpah memberikan kesaksiannya dan menerangkan bahwa saksi adalah tetangga penggugat dan tergugat. Saksi mengatakan bahwa sampai sekarang penggugat dan tergugat dikaruniai 4 orang anak namun anak pertama sudah meninggal dunia dan tidak di akui oleh tergugat.Sampai sekarang penggugat dan tergugat masih tinggal dalam satu rumah. Namun, mereka sudah lama tidak tidur bersama dan tidak saling tegur sapa.

(57)

anaknya oleh tergugat. Penggugat pernah meminjam Hp Ibu saksi untuk menelepon tergugat dan menanyakan keberadaan anak-anaknya. Namun tidak pernah ditanggapi oleh tergugat.

Saksi ke empat adalah Trimei Ana binti Sukarmey berumur 34 tahun. Dibawah sumpah memberikan kesaksiannya dan menerangkan bahwa saksi adalah kakak kandung penggugat dan tergugat adalah ipar saksi. Saksi menerangkan bahwa sebelum menikah antara penggugat dan tergugat memang sudah ada masalah, penggugat telah hamil 4-5 bulan dan menuntut pertanggung jawaban tergugat, tergugat semula tidak mengakui atas perbuatannya dan setelah di desak akhirnya mengakui perbuatannya.Setelah menikah penggugat dan tergugat tinggal di rumah kontrakan dan terakhir tinggal di rumah kediaman bersama di Jalan Pattimura, Batu. Dan sampai sekarang penggugat dan tergugat dikaruniai 4 orang anak. Namun anak pertama sudah meninggal dunia dan tidak di akui oleh tergugat.Sampai sekarang penggugat dan tergugat masih tinggal dalam satu rumah. Namun sudah lama mereka tidak tidur bersama dan tidak saling tegur sapa.

(58)

5. Pertimbangan

Perkara tentang cerai gugat dalam perkara No. 0138/pdt.G/2013/PA.Mlg telah diputuskan Oleh penagadilan Agama Malang pada hari Rabu tanggal 12 juni 2013 M bertepatan dengan tanggal 3 Syakban 1413 Hijriyah,oleh Hakim Pengadilan Agama Malang. Hakim dalam persidangan ini terdiri dari DR. H. Moh. Faishol Hasanuddin, S.H, M.H. sebagai Ketua Majelis, Dra. Hj. Masnah Ali dan Dra.Hj. Rusmulyani masing-masing sebagai Hakim Anggota, dengan didampingi oleh Hj. Mustiyah, S.H. selaku panitera pengganti.Putusan tersebut dibacakan pada hari itu juga dalam persidangan yang terbuka untuk umum di luar hadirnya penggugat dan dihadiri oleh tergugat beserta kuasanya.

Adapun alasan Hakim tidak mengabulkan permohonan hak asuh anak ini karena alasan yang pertama sang anak masih belum mumayis, yang kedua pada saat ibu ingin bertemu atau menjenguk anak dipersulit dan anak merasa sangat tersiksa karena sang ayah tidak merawatnya sendiri melainkan dititipkan kepada saudara-saudaranya.

(59)

keputusannya.Pasal ini menegaskan apabila terjadi perselisihan dalam perebutan hak asuh maka pengadilan berhak memutuskannya.Oleh sebab itu, dalam persidangan Hakim memberikan alasan yang pertama bahwa anak yang di perebutkan hak asuhnya masih belum mumayis, yang kedua pada saat ibu menjenguk anak-anaknya dipersulit oleh bapaknya.9

Dalam hal memutuskan suatu perkara dalam persidangan Hakim harus mengambil yang lebih banyak maslahatnya. Dan dalam pengambilan dasar-dasar yang digunakan oleh Hakim terkadang tidak harus sama persis dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam undang-undang.

(60)

Jadi hakim Pengadilan Agama di Indonesia tidak hanya mengunakan aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam undang-undang namun hakim juga dapat mengunakan pedoman lain dalam memutuskan suatu perkara. Antara lain: hadist Nabi dan pendapat fuqaha sebagaimana di atas.

6. Amar (Dictum)

Putusan dalam perkara ini adalah sebagai berikut: a. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;

b. Menjatuhkan talak satu bain sughra Tergugat terhadap Penggugat; c. Memerintahkan kepada panitera Pengadilan Agama Malang untuk

mengirim salinan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap kepada pegawai pencatat nikah yang wilayahnya meliputi tempat kediaman Penggugat dan Tergugat dan pegawai pencatat nikah di tempat perkawinan di langsungkan untuk di catat dalam daftar yang telah di sediakan untuk itu;

d. Menetapkan anak yang masing-masing bernama Maulana Arifin

(61)

BAB IV

ANALISIS YURIDIS TENTANG PUTUSAN HAKIM NOMOR

0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg TENTANG PENOLAKAN HAK ASUH ANAK

OLEH SUAMI YANG DICERAI GUGAT

A. Analisis Terhadap Pertimbangan Hakim Pengadilan Agama Malang Yang

Menolak Hak Asuh Anak Oleh Ayah

Keturunan merupakan karunia Allah SWT, yang dianugerhakan kepada suatu keluarga dan sekaligus sebagai amanat Allah yang harus dipelihara dan dijaga keselamatanya. Oleh karena itu, pengasuhan terhadap anak adalah kewajiban bagi ayah dan ibu, peran mereka sangat berarti bagi anaknya,agar menjadi anak yang soleh, dapat membanggakan orang tua, dan bisa bermanfaat bagi manusia.Persoalan pengasuhan anak pada dewasa ini sudah banyak terjadi di masyarakat kita, karena tiap-tiap orang ingin menjaga dan selalu dekat bersama anaknya.Sehingga untuk mengatasi persoalan diatas telah diatur suatu rumusan hukum guna menyelesaikan permasalahn tersebut.

(62)

dengan segala kewenanganya mempunyai pendapat dan memutuskan suatu perkara karena itu adalah tugas dari para hakim.

Penyebab tidak harmonisnya rumah tangga pelawan dan terlawan, salah satunya adalah karena adanya tuduhan bahwa Eny telah melakukan perselingkuhan dengan Slamet , dan juga Arifin dituduh mempunyai kelakuan yang tidak baik terhadap keluarganya, Keduanya saling menyalahkan dalam proses persidangan.Majelis hakim Malang memberi putusan bahwa tuntutan yang diajukan oleh Tergugat tidak bisa dikabulkan dengan berbagai pertimbangan hakim, salah satunya karena Usia anak yang belum mumayyiz dan sang anak merasa tersiksa akibat di titipkan kepada saudara-saudaranya seharusnya sang ayah merawatnya sendiri.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas serta demi kemaslahatan si anak,maka hakim menetapkan Hak asuh anak kepada Ibu,tanpa mengurangi hak tergugat sebagai ayahnya, apalagi memutus hubungan anak dengan orang tuanya. Hakim Pengadilan Agama Malang mengambil alih pendapat dalam kitab Kifayatul Akhyar Juz II halaman 94 yang menyatakan bahwa pada dasarnya anak yang lahir dari perkawinan yang sah antara suami istri, apabila terjadi perceraian, maka pemeliharaan anak menjadi hak bekas istri sampai anak tersebut mumayyiz sepanjang bekas istri

(63)
(64)

B. Analisis Yuridis Tentang Putusan Hakim Nomor

0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg Tentang penolakan Hak asuh anak oleh suami

yang Dicerai Gugat

Berdasarkan hasil wawancara dan data-data yang terkumpul dari putusan Hakim Pengadilan Agama Malang Nomor 0138/Pdt.G/2013/PA.Mlgdiketahui bahwa majelis hakim menggunakan pasal 41 huruf (a) dan pasal 45 UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, jo. Pasal 105 dan pasal 77 ayat (3) Kompilasi Hukum Islam untuk menolak permohonan hak asuh anak oleh suami.

Mengenai Hak asuh anak ini penulis menemukan beberapa Pasal dalam UU No. 1 Tahun 1974 dan KHI.Pasal-pasal ini menyebutkan kewajiban-kewajiban orang tua dan juga perpindahan hak asuh anak jika salah satu orang tua memiliki perilaku yang tidak baik.Dalam pasal 105 huruf (a) Kompilasi Hukum Islam yang dipakai oleh majelis hakim dalam mengambil keputusan ini tidak bermakna untuk memberikan hak asuh anak kepada Ibu.2 Di sini menjelaskan bahwa hakim perlu mempertimbangkanya lagi.

Hal ini ditegaskan pula dalam pasal 49 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 yang mengatakan bahwa salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaaanya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain, keluarga anak dalam garis

(65)

lurus keatas dan saudara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang, dengan keputusan pengadilan dalam hal-hal:

a. Ia sangat melalaikan kewajibanya terhadap anaknya; b. Ia berkelakuan buruk sekali3

Hak asuh anak ini pada dasarnya Ibulah yang berhak mendapatkanya . Dijelaskan pada pasal 105 huruf (a) KHI yang berbunyi “ pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa hak asuh anak yang belum mumayyiz adalah jatuh ke tangan ibu.Namun bagaimana jika terjadi keadaan dimana kedua orang tua sama-sama memiliki perilaku yang kurang baik seperti yang terjadi pada putusan 0138/Pdt.G/2013/PA.Mlg ini? Pada kasus ini sang ayah telah terbukti bahwa ia ingin menguasai penuh dan berupaya untuk memisahkan anak-anak dengan ibunya, sedangkan ibunya telah menginap di hotel dengan pria lain meskipun hanya sekedar bercakap-cakap di hotel tersebut dan mengajak salah satu anaknya yang belum mumayiz.

Oleh karena itu menurut penulis hal ini kiranya dapat dipertimbangkan lagi oleh majelis hakim dalam memutuskan suatu perkara.Dengan demikian kelangsungan hidup dan pendidikan anak dapat terjamin, karena jika anak jatuh kepada

(66)

asuhan orang tua yang tidak tepat maka akan membahayakan un

Referensi

Dokumen terkait

Peningkatan hasil belajar ini dapat kita lihat dari rata-rata kelas siswa pada skor dasar sebelum melakukan tindakan penelitian yaitu 67,50 dan setelah

Supaya permainan dapat berjalan dan berlangsung dengan baik dan lancar para pemain dituntut untuk menguasai unsur dasar yaitu teknik dasar bola voli. Selain

Estimasi penelitian diformulasikan dalam bentuk persamaan tunggal ( single equation ), dengan variabel dependen adalah permintaan pariwisata yang diproksi dengan jumlah

Dapat pula siswa bekerja dalam suatu proyek yang bertolak dari ide orang lain, tetapi kemudian mengadakan modifikasi dari dasar pemikiran tersebut (Dahar,

Hasil penelitian menunjukkan bah- wa terdapat hubungan antara keteram- pilan sosial dan kecanduan situs jejaring sosial pada masa dewasa awal dengan arah negatif,

kelompok. 4) Setiap mahasiswa berpikir dan mengerjakan tugas tersebut secara individual. 5) Mahasiswa saling berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan

Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa penggunaan kulit singkong kering dalam ransum sampai 24% menghasilkan kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, kecernaan

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Personal Background , Political Background, pengetahuan dan Pemahaman anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Banten