• Tidak ada hasil yang ditemukan

STATUS HUBUNGAN HUKUM PT. SEMEN PADANG DENGAN PT. SEMEN INDONESIA (PERSERO) Tbk.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "STATUS HUBUNGAN HUKUM PT. SEMEN PADANG DENGAN PT. SEMEN INDONESIA (PERSERO) Tbk."

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

STATUS HUBUNGAN HUKUM PT. SEMEN PADANG DENGAN PT. SEMEN INDONESIA (PERSERO) Tbk

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memenuhi Gelar Sarjana Hukum

Disusun Oleh :

MIFTAHATUR RAHMALENI 1010113170

Program Kekhususan : HUKUM PERDATA BISNIS

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS ANDALALAS

PADANG

2014

(2)

No. Alumni Universitas: Nama Mahasiswa: MIFTAHATUR

RAHMALENI

No. Alumni Fakultas:

a) Tempat/Tanggal Lahir : Padang/15 Desember1992b) Nama Orang Tua (Ayah/Ibu) : H. Darmawan/Hj. Basliana Ilyas, SE.Akt.c)Fakultas : Hukum d) Program Kekhususan : Hukum Bisnis e) No. BP : 1010113170 f) Tanggal Lulus : 2 Mei 2014 g) Lama Studi : 3 Tahun 9 Bulan h) Predikat Lulus : Sangat Memuaskan i) IPK : 3,53 j) Alamat : Komplek Kehakiman Blok F/21, Cangkeh

STATUS HUBUNGAN HUKUM PT. SEMEN PADANG DENGAN PT. SEMEN INDONESIA (PERSERO) Tbk

(MiftahaturRahmaleni, 1010113170, FakultasHukumUniversitasAndalas, Program KekhususanHukumPerdataBisnis, 60 Halaman, 2014)

ABSTRAK

Perusahaan grup merupakan kesatuan ekonomi yang diciptakan dari beberapa perusahaan-perusahaan berbadan hukum mandiri yang terdiri dari induk dan anak perusahaan. Pengakuan yuridis terhadap badan hukum induk dan anak perusahaan berhak melakukan perbuatan hukum sendiri, sedangkan fakta pengendalian induk terhadap anak perusahaan dari realitas bisnis perusahaan grup dikelola sebagai kesatuan ekonomi. Permasalahan disini adalah: a). Status hubungan hukum PT. Semen Padang dengan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. b). Tanggungjawab PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk terhadap PT. Semen Padang. Penelitianinimenggunakanmetodependekatanyuridissosiologis yang bersifatdeskriptif. Data penelitianmeliputi data primer dan data sekunder. Teknikpengumpulan data adalahwawancaradanstudidokumen. Pengolahan data dilakukandalamdua proses yaitueditingdananalisis data. Data yang diperolehdianalisisdenganmenggunakanmetodekualitatif.Berdasarkanhasilpenelitianpenulismenyimpulkanbahwa: a). Status hubungan hukum PT. Semen Padang dengan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk adalah hubungan hukum antara anak perusahaan dengan induk perusahaan yang terbentuk dalam perusahaan grup, dimana PT. Semen Padang berkedudukan sebagai anak perusahaan dan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk sebagai induk perusahaan. b). PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk tidak bertanggungjawab secara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama PT. Semen Padang dan tidak bertanggungjawab atas kerugian perseroan melebihi saham yang dimiliki. Namun pertanggungjawaban PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk dapat dilakukan dengan menerapkan doktrin piercing the corporate veil. Saran yang dapat dikemukakan yaitu: a). Hendaknya dibuat suatu ketentuan khusus dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas mengenai perusahaan grup terutama mengenai hubungan induk perusahaan dengan anak perusahaan, tanggungjawab induk perusahaan terhadap anak perusahaan, kedudukan anak perusahaan sebagai subjek hukum mandiri sehingga dengan diaturnya perusahaan grup secara khusus, masing-masing pihak dapat dilindungi dan penegakan hukum yang berkaitan dengan perusahaan grup menjadi jelas. b). Hendaknya kewenangan dan tanggungjawab PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk dicantumkan dengan jelas dalam anggaran dasar PT. Semen Padang sehingga PT. Semen Padang sebagai anak perusahaan benar-benar menjadi badan hukum yang mandiri, dan juga hendaknya memperluas kewenangan PT. Semen Padang dalam menjalankan perseroan.

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Tim Penguji dan dinyatakan lulus pada tanggal 2 Mei 2014. Abstrak telah disetujui oleh penguji.

Penguji,

Tanda Tangan 1. 2.

Nama terang Hj. Ulfanora, SH., MH Dr. Busyra Azheri, SH., MH Mengetahui,

Ketua Bagian Hukum Perdata : Syahrial Razak, SH., MH.

(3)

Alumnus telah mendaftar ke Fakultas/Universitas dan mendapat nomor alumnus:

(4)

BAB l

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap negara selalu berusaha meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran

rakyatnya. Usaha tersebut dilakukan dengan berbagai cara yang berbeda antara satu

negara dengan negara lainnya. Di Indonesia, cita-cita ini terkandung dalam preambule

(pembukaan) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 alinea keempat

yang menyatakan bahwa:

“Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

Usaha untuk mewujudkan tujuan ini dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dengan

melakukan pembangunan di berbagai bidang, terutama di bidang ekonomi. Pembangunan

dan pertumbuhan ekonomi pada saat ini sudah mengarah ke globalisasi dimana

memberikan peluang terhadap tumbuhnya korporasi maupun perusahaan-perusahaan

transnasional.

Perusahaan adalah suatu pengertian ekonomi yang banyak dipakai dalam Kitab

Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), namun KUHD sendiri tidaklah memberikan

penafsiran maupun penjelasan resmi tentang apakah perusahaan itu. Dengan mengacu

kepada Undang-Undang Wajib Daftar Perusahaan, maka perusahaan didefinisikan

(5)

Pasal 1 huruf (b) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar

Perusahaan :

“setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap, terus-menerus, dan didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah negara Indonesia dengan tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba.”

Suatu perusahaan dapat dipecah-pecah menurut penggolongan bisnisnya dikarenakan sudah berkembang besar dan melebarnya bisnis perusahaan tersebut. Pemecahan bisnis tersebut, yang masing-masing akan menjadi perseroan terbatas yang mandiri, memerlukan suatu pengendalian yang masih tersentralisasi dalam batas-batas tertentu. Dengan demikian, pecahan-pecahan perusahaan tersebut dimiliki dan dikomandoi oleh suatu perusahaan yang mandiri pula, bersama-sama dengan perusahaan-perusahaan lain yang mungkin telah terlebih dahulu ada, dengan pemilik yang sama atau

minimal ada hubungan khusus.1

Perusahan pemilik ini disebut dengan perusahaan induk (holding company) dan

keseluruhan perusahaan tersebut beserta pecahan-pecahan bisnisnya disebut dengan

perusahaan grup. Perusahaan grup merupakan kesatuan ekonomi yang diciptakan dari

beberapa perusahaan-perusahaan berbadan hukum mandiri yang terdiri dari induk dan

anak perusahaan.

Perusahaan grup atau lebih dikenal dengan sebutan konglomerasi merupakan topik yang

selalu menarik perhatian. Dalam perkembangan terkini, perusahaan grup menjadi bentuk

usaha yang banyak dipilih oleh pelaku usaha di Indonesia. Perusahaan grup memiliki

peran yang semakin penting dalam kegiatan usaha di Indonesia.

Berbagai alasan pembentukan atau pengembangan perusahaan grup diIndonesia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu upaya pelaku usaha untuk mengakomodasikan ketentuan dalam suatu peraturan perundang-undangan dan kepentingan ekonomi perusahaan grup. Peraturan perundang-undangan ini dapat berupa perintah peraturan

perundang-undangan ataupun escape claused peraturan perundang-undangan yang

berimplikasi kepada terbentuknya suatu perusahaan grup. Sementara itu, kepentingan bisnis pengembangan konstruksi perusahaan grup bertujuan untuk meningkatkan daya

1

(6)

saing melalui sinergi anggota perusahaan grup melalui strategi pertumbuhan eksternal

dengan membentuk struktur atau konstruksi perusahaan grup.2

Pertumbuhan pesat jumlah perusahaan grup di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai motif, antara lain meliputi penciptaan nilai tambah melalui sinergi dari beberapa

perusahaan,3 upaya perusahaan mencapai keunggulan kompetitif yang melebihi

perusahaan lain, motif jangka panjang untuk mendayagunakan dana-dana yang telah

dikumpulkan,4 ataupun perintah peraturan perundang-undangan yang mendorong

terbentuknya perusahaan grup.

Berbagai perbuatan hukum dalam pembentukan atau pengembangan perusahaan grup berimplikasi kepada pemilikan induk atas saham anak perusahaan atau perseroan lain. Kepemilikan induk atas saham anak perusahaan menyebabkan induk perusahaan memiliki hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (selanjutnya disebut RUPS) anak perusahaan itu, induk perusahaan dapat mengangkat anggota direksi atau dewan komisaris anak perusahaan sehingga menciptakan keterkaitan kepemimpinan ataupun me ngalihkan kewenangan pengendalian perusahaan kepada perusahaan lain melalui suatu kontrak pengendalian. Kepemilikan atas saham anak perusahaan, keterkaitan kepemimpinan anak perusahaan, atau kontrak pengendalian melahirkan keterkaitan induk

dan anak-anak perusahaan.5

Yang dimaksud dengan keterkaitan induk dan anak perusahaan dalam konstruksi perusahaan grup adalah hubungan khusus antara induk dan anak perusahaan yang berbadan hukum mandiri sehingga aspek yuridis perusahaan grup merupakan perwujudan bentuk jamak secara yuridis. Sebaliknya, realita bisnis perusahaan grup merupakan wujud tergabungnya perusahaan-perusahaan untuk membentuk suatu kesatuan ekonomi sehingga induk perusahaan memiliki kewenangan untuk mengendalikan anak perusahaan dalam suatu kesatuan ekonomi yang secara kolektif mendukung kepentingan bisnis

perusahaan grup.6

Dari sudut pandang anak perusahaan, tergabungnya anak perusahaan dalam konstruksi perusahaan grup menimbulkan dualitas badan hukum anak perusahaan sebagai subjek hukum mandiri dan anak perusahaan yang berada di bawah kendali induk perusahaan sehingga orientasi kepentingan ekonomi perusahaan ditujukan untuk mendukung kepentingan ekonomi perusahaan grup. Secara yuridis, tergabungnya anak perusahaan dalam konstruksi perusahaan grup tidak menghapuskan pengakuan yuridis terhadap status badan hukum anak perusahaan sebagai subjek hukum mandiri. Sebaliknya, realitas bisnis tergabungnya anak perusahaan dalam perusahaan grup

2

Sulistiowati,2001 Aspek Hukum dan Realitas Bisnis PERUSAHAAN GRUP DI INDONESIA, Jakarta: Erlangga, hal. 1;

3

Sofyan Djalil, 2009, Strategi dan Kebijakan Pemberdayaan Badan Usaha Milik Negaradiakses dari http://www.setneg.go.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=730 padatanggal 8 April 2014 pukul 09.20 WIB;

4

Rudhi Prasetya, 1996, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas, Bandung: Citra Aditya Bakti, hal. 66;

5

Sulistiowati, Op.Cit,hal. 2;

6Ibid,

(7)

merupakan bagian kepentingan ekonomi induk perusahaan untuk menciptakan sinergi diantara kegiatan usaha anak-anak perusahaan yang diorientasikan untuk mendukung

tujuan kolektif perusahaan grup dalam suatu kesatuan ekonomi.7

Sementara itu, dari sudut pandang induk perusahaan, keterkaitan antara induk dan anak perusahaan dalam konstruksi perusahaan grup menimbulkan dualitas induk perusahaan sebagai pemegang saham anak perusahaan atau pimpinan sentral perusahaan grup yang berhak mengendalikan anak-anak perusahaan untuk memenuhi tujuan kolektif

perusahaan grup sebagai kesatuan ekonomi.8

Realitas bisnis perusahaan grup ini mengindikasikan bahwa tergabungnya anak perusahaan pada perusahaan grup merupakan strategi perusahaan grup untuk menciptakan sinergi kegiatan usaha anak-anak perusahaan. Hal ini berimplikasi kepada anak perusahaan yang tidak sepenuhnya mandiri secara ekonomi karena sebagaian atau seluruh kepentingan anak perusahaan lebih diarahkan untuk mendukung kepentingan perusahaan grup sebagai kesatuan ekonomi dibandingkan dengan kepentingan anak perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu, perusahaan kelompok sebagai kesatuan ekonomi merupakan wujud orientasi kegiatan usaha anak perusahaan dalam mendukung

kepentingan ekonomi perusahaan grup.9

Peraturan perundang-undangan hanya mengatur mengenai keterkaitan antara

induk dan anak perusahaan dan tidak mengatur mengenai perusahaan grup. Oleh karena

itu, perusahaan grup mengacu kepada realitas bisnis tergabungnya perusahaan grup

sebagai kesatuan ekonomi.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 mengenai Perseroan Terbatas merupakan

salah satu peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai induk dan anak

perusahaan. Keterkaitan antara induk dan anak perusahaan dalam konstruksi perusahaan

grup tidak menghapuskan status badan induk dan anak perusahaan sebagai subjek hukum

mandiri.

Undang-Undang Perseroan Terbatas tidak memberikan pengakuan yuridis, akan

tetapi Undang-Undang ini memberikan legitimasi bagi munculnya realitas perusahaan

grup dimana perseroan diberikan legitimasi untuk memperoleh atau memiliki saham pada

7Ibid,

hal. 6;

8

Ibid;

9Ibid,

(8)

perseroan lain melalui proses otorisasi kepada suatu perseroan untuk melakukan

perbuatan hukum berupa pendirian perseroan lain, pengambilalihan saham, atau pun

pemisahan usaha, dan adanya aturan keterkaitan induk dan anak perusahaan melalui

kepemilikan saham induk pada anak perusahaan.

Pada perusahaan grup, seringkali terjadi permasalahan dimana terjadinya pengendalian

induk terhadap anak perusahaan ke dalam ranah hukum perseroan sehingga menimbulkan

kontradiksi dengan prinsip hukum yang berlaku, yaitu kemandirian badan hukum induk

dan anak perusahaan.

Pencampuran antara prinsip hukum mengenai kemandirian badan hukum induk dan anak perusahaan dalam perusahaan grup dengan fakta pengendalian induk terhadap anak perusahaan akan realitas bisnis perusahaan grup berimplikasi kepada perusahaan grup sebagai bentuk jamak secara yuridis dan kesatuan ekonomi. Oleh karena itu, perusahaan grup sebagai bentuk jamak secara yuridis dan kesatuan ekonomi menjadi suatu keniscayaan ketika kerangka pengaturan terhadap perusahaan grup masih

menggunakan pendekatan perseroan tunggal.10

Komplikasi permasalahan yang ditimbulkan oleh adanya fakta pengendalian

induk terhadap anak perusahaan dalam konstruksi perusahaan grup merupakan wujud

adanya perluasan hak suara dalam RUPS dan hak kebendaan yang diberikan oleh

Undang-Undang Perseroan Terbatas kepada pemegang saham terhadap kepemilikan atas

saham suatu perseroan.

Pengakuan yuridis terhadap badan hukum induk dan anak perusahaan berhak melakukan perbuatan hukum sendiri, sedangkan fakta pengendalian induk terhadap anak perusahaan dari realitas bisnis perusahaan grup dikelola sebagai kesatuan ekonomi. Pengendalian induk terhadap anak perusahaan dalam konstruksi perusahaan grup menimbulkan dualitas pada anak perusahaan, yaitu sebagai badan hukum yang mandiri

dan badan usaha yang tunduk di bawah kendali induk perusahaan.11

Pengakuan yuridis terhadap badan hukum anak perusahaan sebagai subjek

hukum mandiri berimplikasi kepada berlakunya prinsip hukum limited liability. Prinsip

tersebut melindungi induk perusahaan sebagai pemegang saham anak perusahaan untuk

10

Ibid,hal. 7;

11Ibid,

(9)

bertanggungjawab hanya sebatas nilai saham pada anak perusahaan atas ketidakmampuan anak perusahaan untuk menyelesaikan tanggungjawab hukum kepada pihak ketiga yang terdiri dari pemegang saham minoritas, karyawan, dan kreditor sebagai akibat perusahaan

melaksanakan industri dari induk perusahaan.12

Pemberlakuan prinsip limited liability oleh UUPT terhadap tanggungjawab

hukum induk perusahaan pada ketidakmampuan anak perusahaan untuk menyelesaikan tanggungjawab hukum kepada pihak ketiga dapat mendorong munculnya sikap oportunistis berupa penyalahgunaan konstruksi perusahaan grup untuk kepentingan induk perusahaan. Sikap oportunitis ini muncul karena induk perusahaan memiliki kewenangan untuk mengendalikan anak perusahaan sehingga pengurusan anak perusahaan lebih ditujukan bagi kepentingan ekonomi perusahaan grup atau induk perusahaan

dibandingkan untuk kepentingan anak perusahaan yang bersangkutan.13

Sebaliknya, apabila anak perusahaan yang bersangkutan dianggap melakukan

perbuatan melawan hukum, maka induk perusahaan memperoleh perlindungan berupa

limited liabilitydari perbuatan melawan hukum anak perusahaan tersebut.

Salah satu perusahaan grup di Indonesia adalah PT. Semen Indonesia (Persero)

Tbk. Perusahaan ini adalah produsen semen yang terbesar didunia. Pada awalnya

perusahaan ini bernama PT. Semen Gresik yang mana perusahaan ini diresmikan di

Gresik pada tanggal 7 Agustus 1957 oleh Presiden RI pertama. Pada tanggal 8 Juli 1991

saham Perseroan tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (kini menjadi

Bursa Efek Indonesia) serta merupakan BUMN pertama yang go public dengan menjual

40 juta lembar saham kepada masyarakat. Pada tanggal 20 Desember 2012, melalui Rapat

Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Perseroan, resmi mengganti nama dari

PT Semen Gresik (Persero) Tbk, menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Perubahan

nama tersebut telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Manusia

berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik

Indonesia Nomor : AHU-65671.AH.01.02Tahun 2012 tanggal 21 Desember 2013.

12

Ibid, hal. 8;

13Ibid,

(10)

Penggantian nama tersebut, sekaligus merupakan langkah awal dari upaya merealisasikan

terbentuknya Strategic Holding Group yang ditargetkan dan diyakini mampu

mensinergikan seluruh kegiatan operasional dan memaksimalkan seluruh potensi yang

dimiliki untuk menjamin dicapainya kinerja operasional maupun keuangan yang optimal.

Setelah memenuhi ketentuan hukum yang berlaku, pada tanggal 7 Januari 2013

ditetapkan sebagai hari lahir PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. PT Semen Indonesia

(Persero) Tbk sahamnya dimiliki mayoritas oleh Pemerintah Republik Indonesia sebesar

51,01%. Pemegang saham lainnya sebesar 48,09% dimiliki publik.

PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk memiliki beberapa anak perusahaan penghasil

semen, salah satunya adalah PT. Semen Padang. PT Semen Padang didirikan pada

tanggal 18 Maret 1910 dengan nama NV Nederlandsch Indische Portland Cement

Maatschappij (NV NIPCM) yang merupakan pabrik semen pertama di Indonesia. Pada

tanggal 5 Juli 1958 Perusahaan dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia dari

Pemerintah Belanda. PT. Semen Padang awalnya merupakan suatu BUMN yang

berbentuk Perseroan Terbatas yang berkedudukan di Indarung, Sumatera Barat dan

mengelola sumber daya alam di Sumatera Barat dan dimiliki serta dikelola oleh

pemerintah daerah Sumatera Barat. Namun karena terjadi krisis perekonomian yang

menimbulkan permasalahan terutama dalam aspek keuangan, status PT. Semen Padang

tidak lagi dimiliki dan dikuasai oleh daerah Sumatera Barat. Pada tahun 1995, Pemerintah

mengalihkan kepemilikan sahamnya di PT Semen Padang ke PT Semen Gresik (Persero)

Tbk bersamaan dengan pengembangan pabrik Indarung V, sehingga PT. Semen Padang

(11)

perusahaan yang bertindak sebagai Perseroan Terbatas biasa yang berada dibawah suatu

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Pada saat ini, pemegang saham PT. Semen Padang adalah PT Semen Indonesia

(Persero) Tbk dengan kepemilikan saham sebesar 99,99% dan Koperasi Keluarga Besar

Semen Padang dengan saham sebesar 0,01 %.

Di dalam Pasal 29 Anggaran Dasar PT. Semen Padang dinyatakan bahwa modal

ditempatkan yang telah diambil bagian dan disetor penuh dengan uang tunai melalui kas

perseron oleh pemegang saham, yaitu saham yang dimiliki PT. Semen Indonesia

(Persero) Tbk sebesar 332.000.000 (tiga ratus tiga puluh dua juta) saham, dengan nilai

nominal seluruhnya sebesar 332.000.000.000 (tiga ratus tiga puluh dua miliar rupiah) dan

Koperasi Keluarga Besar Semen Padang sebesar 1 (satu) saham, dengan nilai nominal

seluruhnya sebesar 1.000 (seribu) rupiah.

Berdasarkan latar belakang diatas,

penulismenjadikanpermasalahantersebutsebagaiobjekpenelitiandenganmembatasiruanglin

gkuppembahasandenganjudul :STATUS HUBUNGAN HUKUMPT. SEMEN

PADANG DENGAN PT. SEMEN INDONESIA (PERSERO) Tbk B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana status hubunganhukumPT. Semen Padang dengan PT. Semen Indonesia

(Persero) Tbk?

2. Bagaimana Tanggungjawab PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk terhadap perbuatan

hukum yang dilakukan oleh PT. Semen Padang?

(12)

1. Untuk mengetahui bagaimana status hubunganhukumPT. Semen Padang dengan PT.

Semen Indonesia (Persero) Tbk.

2. Untuk mengetahui bagaimana tanggungjawab PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk

terhadap perbuatan hukum yang dilakukan oleh PT. Semen Padang.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini dapat memberikan kontribusi pemikiran dalam menunjang

perkembangan ilmu hukum khususnya di bidang hukum perdata mengenai status

hubunganhukumPT. Semen Padang dengan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk.

b. Penelitian ini dapat dijadikan literatur dalam memperluas pengetahuan hukum

masyarakat serta menambah khazanah ilmu pengetahuan.

c. Penelitian ini dapat melatih kemampuan dalam melakukan penelitian secara

ilmiah dan merumuskan penelitian tersebut dalam bentuk tulisan.

2. Manfaat secara praktis

a. Bagi masyarakat, hasil penelitian hukum dapat digunakan sebagai arahan dalam

memahami status hubunganhukumPT. Semen Padang dengan PT. Semen

Indonesia (Persero) Tbk.

b. Bagi PT Semen Padang, agar dapat menjadi referensi serta masukan yang dapat

digunakan dalam melaksanakan tugasnya sebagai anak perusahaan.

c. Bagi pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, penelitian

(13)

perbaikan undang yang baru (ius constituendum) ataupun

Undang-undang yang berkaitan dengan pembahasan ini (Lex specialis).

E. METODE PENELITIAN

Sesuai dengan permasalahan yang diteliti, maka diperlukan suatu metode. Dalam

penulisan ini penulis menggunakan metode penelitian guna mengumpulkan data yang

diperlukan untuk pemecahan permasalahan,metode yang digunakan adalah sebagai

berikut:

1. Metode Pendekatan

Pendekatan masalah dalam penelitian ini dilakukan secara yuridis sosiologis,

yaitu dengan mengumpulkan bahan dari peraturan-peraturan yang erat kaitannya

dengan objek penelitian dan melihat norma-norma hukum yang berlaku. Kemudian

dihubungkan dengan kenyataan atau fakta-fakta yang terdapat di dalam kehidupan

masyarakat.

2. Sifat Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif yaitu penelitian yang

menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok

tertentu, atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala, atau untuk menentukan ada

tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat.14

Keadaan yang digambarkan dalam penelitian ini adalah mengenai status

hubunganhukumPT. Semen Padang dengan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk

3. Lokasi Penelitian

14

(14)

Penelitian dilakukan pada PT. Semen Padang yang berlokasi di Indarung, Kota

Padang, Provinsi Sumatera Barat. Alasan peneliti memilih PT. Semen Padang sebagai

lokasi penelitian adalah karena PT. Semen Padang merupakan salah satu anak

perusahaan dari PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk dan merupakan pabrik semen

pertama di Indonesia.

4. Sumber Data

a. Library Research

Library research atau penelitian kepustakaan, yakni penelitian yang

dilakukan dengan mencari literatur yang ada, seperti buku-buku, karangan ilmiah,

peraturan perundang-undangan dan peraturan lainnya yang terkait. Penelitian ini

dilakukan pada perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Andalas, Perpustakaan

Pusat Universitas Andalas serta literatur koleksi pribadi penulis.

b. Field Reseach

Field Research atau penelitian lapangan merupakan sumber data yang

diperoleh melalui penelitian yang dilakukan di lapangan. Berdasarkan topik yang

penulis angkat, maka penelitian lapangan dilakukan di PT. Semen Padang.

5. Jenis Data

a. Data Primer

Data yang diperoleh langsung di lapangan dengan melakukan wawancara

terhadap pihak-pihak yang terkait yaitu Staf Biro bagian Hukum PT. Semen

Padang serta bahan-bahan yang erat kaitannya dengan penelitian penulis.

(15)

Diperoleh dari kepustakaan yaitu berbagai buku-buku atau

referensi-referensi yang dapat mendukung penulisan ini dan hasil-hasil penelitian berbentuk

laporan.

Data sekunder yang digunakan terdiri dari 3 kelompok:

1. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum yang mengikat, yang terdiri dari beberapa peraturan

perundang-undangan yang berkaitan dengan materi penulisan, seperti :

a.) Undang-Undang Dasar 1945;

b.) Kitab Undang-Undang Hukum Dagang;

c.) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan;

d.) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

e.) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No. 2/1999 tentang Izin

Lokasi

f.) Keputusan Menteri BUMN No. KEP=117/M-MBI/2002

g.) Anggaran Dasar PT. Semen Padang

2. Bahan Hukum Sekunder

Bahan hukum yang erat kaitannya dengan topik yang penulis angkat dan

dapat membantu menganalisis, memahami dan menjelaskan bahan hukum

primer seperti buku-buku, hasil-hasil penelitian, pendapat sarjana dan

sebagainya.

3. Bahan Hukum Tersier

Bahan yang membantu memberikan informasi atau penjelasan yang

(16)

6. Teknik Pengumpulan Data

Berdasarkan pendekatan masalah, yakni Yuridis Sosiologis yang digunakan

penulis, maka teknik pengumpulan data penelitian ini adalah:

a. Studi Kepustakaan

Merupakan tahap awal dalam menganalisa pokok penelitian yang akan

dibahas nantinya, yaitu dengan meneliti dan mempelajari buku-buku, peraturan

perundang-undangan dan data-data yang di dapat di PT. Semen Padang.

b. Wawancara

Wawancara yaitu dialog atau tanya jawab bertatap-muka (face to face)

dengan pihak Staf Biro bagian Hukum PT. Semen Padang untuk mendapatkan

informasi.

Teknik wawancara yang digunakan bersifat semi terstruktur (structure

interview), yaitu disamping menggunakan pedoman wawancara dengan membuat

daftar pertanyaan juga digunakan pertanyaan-pertanyaan lepas terhadap orang

yang diwawancara.15

Wawancara langsung ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang

benar dan akurat dari sumber yang ditetapkan sebelumnya.16

7. Pengolahan dan Analisis Data

a. Pengolahan Data

Pengolahan data merupakan hal yang sangat penting dalam suatu

penelitian, dalam skripsi ini pengolahan data dilakukan dengan cara editing, yakni

pengeditan terhadap data-data yang telah dikumpulkan yang bertujuan untuk

15Ibid,

hal. 68-82;

16

(17)

memeriksa kekurangan yang mungkin ditemukan dan memperbaikinya. Editing

juga bertujuan untuk memperoleh kepastian bahwa datanya akurat dan dapat

dipertanggungjawabkan kebenarannya.

b. Analisis Data

Analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif. Yang dimaksud dengan

analisis kualitatif adalah menilai dan menguraikan data tidak menggunakan

rumusan statistic karena data tidak berupa angka-angka, teteapi berdasarkan

peraturan perundang-undangan dan pandangan pakar.

F. Sistematikan Penulisan BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini memuat latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian,

manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Pada Bab ini, yang pertama membahas tinjauan umum mengenai Perseroan

Terbatas, yaitu Pengertian Perseroan Terbatas, Dasar Hukum Perseroan Terbatas,

Persyaratan Pendirian Perseroan Terbatas, Prosedur Pendirian Perseroan Terbatas dan

Organ Perseroan Terbatas.Yang kedua membahas tinjauan umum mengenai Perusahaan

Grup, yaitu Pengertian Perusahaan Grup, Pengertian Induk Perusahaan dan Anak

Perusahaan, Pembentukan Perusahaan Grup dan Keterkaitan Induk Perusahaan dengan

Anak Perusahaan.

BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan diuraikan lebih lanjut tentang apa yang diperoleh dalam

(18)

hubunganhukumPT. Semen Padang dengan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Yang

kedua bagaimana tanggungjawab PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk terhadap perbuatan

hukum yang dilakukan oleh PT. Semen Padang.

BAB IV : PENUTUP

Bab ini merupakan bab terakhir, berisikesimpulan dari semua pembahasan

permasalahan di atas, dan memberikan saran terhadap semua permasalahan yang telah

dibahas oleh penulis, dengan beberapa harapan serta masukan guna mempertegas dari

Referensi

Dokumen terkait

Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar diakui dalam penghasilan komprehensif lainnya dan dan diakumulasi di ekuitas sebagai revaluasi investasi

Grup menghentikan pengakuan aset keuangan jika dan hanya jika hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan berakhir, atau Grup mentransfer aset

kemungkinan yang terjadi jika suatu perusahaan memiliki struktur modal yang terdiri atas saham biasa dan utang jangka panjang adalah: pada tingkat laba sebelum

WIKA BETON merupakan Anak Perusahaan dari Perseroan. Sebelum menjadi Anak Perusahaan dari Perseroan, sejak tahun 1974 WIKA BETON merupakan bagian dari Induk Perusahaan yaitu

Dalam kaitannya dengan tanggung jawab perusahaan induk terhadap pihak ketiga yang melakukan hubungan hukum dengan anak perusahaan, maka sebagai entitas hukum mandiri,

Hal tersebut disebabkan oleh waktu pengamatan pada 2017 yang dilakukan saat bulan Maret, dimana waktu tersebut bukan termasuk masa migrasi burung dari selatan ke utara

Adapun untuk menjamin keadilan serta kelayakan dari kegiatan induk perusahaan sebagai pimpinan sentral dari perusahan grup, maka perusahaan induk harus menerapkan

Berdasarkan analisis SWOT dan tabel SWOT dapat diketahui bahwa perusahaan berada pada kondisi yang kompetitif untuk bersaing dengan lawan bisnisnya dari sisi volume penjualan