BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Komunikasi Organisasi
Makna dari kata “komunikasi” (communication) bisa jelas dan sekaligus bisa kabur. Dikatakan jelas, bahwa makna komunikasi yang sampai sekarang diterima untuk dipelajari dan dipahami tampaknya merupakan suatu “konvensi” di antara para ahli, sebaliknya dikatakan kabur sewaktu kita memutuskan bagaimana
“batasan” komunikasi untuk diaplikasikan.
Kata komunikasi atau communication secara etimologis berkaitan dengan dua kata lainnya communion dan community yang berasal dari bahasa latin communicare yang berarti to make common- membuat sesuatu menjadi bersama- sama atau to share- membagi. Sehingga dapat disebutkan bahwa komunikasi adalah proses atau tindakan mengalihkan pesan dari suatu sumber kepada penerima melalui saluran dalam situasi adanya gangguan dan interfensi.9
Sedangkan menurut Ruben & Stewart, Komunikasi merupakan proses yang menjadi dasar pertama memahami hakikat manusia, dikastakan sebagai proses karena terdapat banyak aktivitas yang melibatkan peranan banyak elemen atau tahapan yang meskipun terpisah-pisah, namun semua tahapan ini saling
9 Liliweri, Alo. 2013. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta : Kencana Predana Media Group.
terkait sepanjang waktu. Contoh, dalam suatu percakapan yang sederhana saja selalu ada langkah seperti penciptaan pesan, pengiriman, penerimaan dan interpretasi terhadap pesan.10
Komunikasi merupakan sesuatu yang sangat esensial bagi individu, relasi, kelompok, organisasi dan masyarakat, dia merupakan garis yang menghubungkan manusia dengan dunia, bagaimana manusia membuat kesan tentang dan kepada dunia, komunikasi sebagai sarana manusia untuk mengekspresikan diri dan mempengaruhi orang lain. Karena itu, jika manusia tidak berkomunikasi maka dia tidak dapat menciptakan dan memelihara relasi dengan sesama dalam kelompok, organisasi dan masyarakat; komunikasi memungkinkan manusia mengkoordinasikan semua kebutuhannya dengan dan bersama orang lain.
Everet M. Rogers dalam bukunya Communication in Organization, mendefinisikan organisasi sebagai sebuah sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan dan pembagian tugas.
Korelasi antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi tersebut. Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung dalam organisasi, metode dan teknik apa yang dipergunakan, media apa yang dipakai, bagaimana prosesnya, faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat, dan sebagainya.
10 Onong, Effendy, 1994, Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek, Bandung : Remaja Rosdakarya.
Jawaban-jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk bahan telaah untuk selanjutnya menyajikan suatu konsepsi komunikasi bagi suatu organisasi tertentu berdasarkan jenis organisasi, sifat organisasi dan lingkup organisasi dengan memperhitungkan situasi tertentu pada saat komunikasi dilancarkan.
Griffin membahasa komunikasi organisasi mengikuti teori management klasik, yang menempatkan suatu bayaran pada daya produksi, presisi, dan efisiensi. Adapun prinsip-prinsip dari teori management klasik adalah sebagai berikut :
Kesatuan komando – suatu karyawan hanya menerima pesan dari satu atasan rantai skalar- garis otoritas dari atasan ke bawahan, yang bergerak dari atas sampai ke bawah untuk organisasi; rantai ini yang diakibatkan oleh prinsip kesatuan komando, harus digunakan sebagai suatu saluran untuk pengambilan keputusan dan komunikasi.
Divisi pekerjaan – management perlu arahan untuk mencapai suatu derajat tingkat spesialisasi yang dirancang untuk mencapai sasaran organisasi dengan suatu cara efisien, tanggung jawab dan otoritas- perhatian harus dibayarkan kepada hak untuk memberi order dan ke ketaatan seksama; suatu ketepatan keseimbangan antara tanggung jawab dan otoritas harus dicapai.
Disiplin- ketaatan, aplikasi, energi, perilaku, dan tanda rasa hormat yang keluar seturut kebiasaan dan aturan disetujui. Mengesampingkan kepentingan
individu dari kepentingan umum- melalui contoh peneguhan, persetujuan adil, dan pengawasan terus-menerus.
Selanjutnya, Griffin dalam bukunya A First Look at Communication Theory menyadur tiga pendekatan untuk membahas komunikasi organisasi.
Ketiga pendekatan itu adalah sebagai berikut :
1. Pendekatan sistem. Karl Weick (pelopor pendekatan sistem informasi) menganggap suatu hirarki, garis rantai komando komunikasi, prosedur operasi standar merupakan musuh dari inovasi. Ia melihat organisasi sebagai kehidupan organis yang harus terus menerus beradaptasi kepada suatu perubahan lingkungan dalam orde untuk mempertahankan hidup. Pengorganisasian merupakan proses memahami informasi yang samar-samar melalui pembuatan, pemilihan, dan penyimpanan informasi. Weick meyakini organisasi akan bertahan dan tumbuh subur hanya ketika anggota-anggotanya mengikutsertakan banyak kebebasan (free-flowing) dan komunikasi interaktif. Untuk itu ketika dihadapkan pada situasi yang mengacaukan, manajer harus bertumpu pada komunikasi dari pada aturan-aturan.
Teori Weick tentang pengorganisasian mempunyai arti penting dalam bidang komunikasi karena Ia menggunakan komunikasi sebagai basis pengorganisasian manusia dan memberikan dasar logika untuk memahami bagaimana orang berorganisasi. Menurutnya, kegiatan- kegiatan pengorganisasian memenuhi fungsi pengurangan
ketidakpastian dari informasi yang diterima dari lingkungan atau wilayah sekeliling. Ia menggunakan istilah ketidakjelasan untuk mengatakan ketidakpastian, atau keruwetan, kerancuan, dan kurangnya predictability. Semua informasi dari lingkungan sedikit banyak sifatnya tidak jelas, dan aktivitas-aktivitas pengorganisasian dirancang untuk mengurangi ketidakpastian atau ketidakjelasan.
2. Pendekatan budaya. Organisasi dipandang sebagai budaya. Suatu organisasi merupakan sebuah cara hidup (way of life) bagi para anggotanya, membentuk sebuah realita bersama yang membedakannya dari budaya-budaya lainnya.
Pacanowsky dan para teoris interpretative lainnya menganggap bahwa budaya bukan sesuatu yang dimiliki oleh organisasi, tetapi budaya adalah suatu organisasi. Budaya organisasi dihasilkan melalui interaksi dari anggota-anggotanya. Tindakan-tindakan yang berorientasi tugas tidak hanya mencapai sasaran-sasaran jangka pendek tetapi juga menciptakan atau memperkuat cara-cara yang lain selain perilaku tugas “resmi” dari para karyawan, karena aktivitas-aktivitas sehari-hari yang paling membumi juga memberi kontribusi bagi budaya tersebut.
Pendekatan ini mengkaji cara individu-individu menggunakan cerita- cerita, ritual, aimbol-simbol dan tipe-tipe aktivitas lainnya untuk memproduksi dan mereproduksi seperangkat pemahaman.
3. Pendekatan kritik. Stan Deetz, salah seorang penganut pendekatan ini, menganggap bahwa kepentingan-kepentingan perusahaan sudah
mendominasi hampir semua aspek lainnya dalam masyarakat, dan kehidupan kita banyak ditentukan oleh keputusan-keputusan yang dibua atas kepentingan pengaturan organisasi-organisasi perusahaan atau manajerialisme.
Bahasa adalah medium utama dimana realitas sosial diproduksi dan direproduksi. Manajer dapat menciptakan kesehatan organisasi dan nilai-nilai demokrasi dengan mengkoordinasikan partisipasi stakeholder dalam keputusan-keputusan korporal.11
2.1.1. Komunikasi Eksternal
Komunikasi eksternal organisasi adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Pada organisasi besar, komunikasi ini lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat dari pada pimpinan sendiri, yang dilakukan sendiri oleh piminan hanyalah terbatas pada hal-hal yang dianggap sangat penting saja. Komunikasi esternal dilihat dari jalur secara timbal balik dapat dibedakan menjadi :
a. Komunikasi dari organisasi kepada khalayak. Komunikasi ini dilaksanakan umumnya bersifat informative, yang dilakukakn sedemikian rupa sehingga khalayak merasa memiliki keterlibatan, setidaknya ada hubungan batin. Komunikasi ini dapat melalui berbagai bentuk, sperti majalah organisasi, press release, artikel surat kabar atau majalah, pidato radio, film dokumenter, brosur, leaflet, poster, dan konferensi pers.
11 Onong, Effendy, 1994, Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek, Bandung : Remaja Rosdakarya.
b. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi, merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan dan komunikasi yang dilakukan organisasi.12
Komunikasi eksternal dapat berfungsi sebagai suatu pengendalian dalam organisasi dimana dalam fungsi itu membutuhkan proses dalam pemantauan prestasi dan pengambilan prestasi dan pengambilan tindakan untuk menjamin hasil tindakan dan untuk menjamin hasil yang diharapkan. Penempatan dalam komunikasi eksternal sangat berpengaruh terhadap penyusunan program pada organisasi dan bahkan dalam pengambilan keputusan mengenai program yang dilaksanakan organisasi.
2.1.2. Model Komunikasi 1) Model Shannon & Weaver
Model dasar mereka tentang komunikasi menapilkan komunikasi sebagai proses linier yang sederhana. Kesederhanaan dari model ini membuat banyak orang tertarik untuk menjiplak, selain itu sifat linier yang berpusat pada proses juga telah menarik banyak kritikus, namun kita harus melihat model (Gambar 2) terlebih dahulu sebelum membahas implikasi dan sebelum kita berupaya untuk mengevaluasinya. Model ini secara umum mudah dipahami pada pandangan pertama. Karakteristik sederhana dan searah sangat jelas terlihat. Kita nanti akan kembali untuk membahas nama elemen-elemen yang yang terdapat dalam proses.
12 Onong, Effendy, 1994, Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek, Bandung : Remaja Rosdakarya.
Sumber : Pengantar Ilmu Komunikasi, 2014
Gambar 1. Model Komunikasi Shannon & Weaver
Shannon dan Weaver mengidentifikasi tiga tingkat permasalahan dalam ilmu komunikasi. Permasalahan-permasalahan tersebut adalah :
Tingkat A
(Permasalahan Teknis) Seberapa akurat sebuah simbol dapat mentransmisikan komunikasi?
Tingkat B
(Permasalahan Semantik) Seberapa tepat simbol yang ditransmisikan menyampaikan makna yang diinginkan?
Tingkat C
(Permasalahan Keefektifan) Seberapa efektif makna yang ditransmisi memmengaruhi perilaku yang diinginkan?13
Suatu konsep penting dalam model Shannon & Weaver ini adalah gangguan (noise), yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Gangguan ini bisa merupakan interfensi statis atau suatu panggilan telepon, music yang hingar bingar di sebuah pesta, atau sirene di luar rumah. Menurut Shannon & Weaver, gangguan ini selalu ada dalam saluran bersama pesan tersebut yang diterima oleh penerima.
13 Fiske, John. 2014. Pengantar Ilmu Komunikasi (Terjemahan). Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
sumber pengirim penerima destinasi
Sumber gangguan
Sinyal Sinyal diterima
2) Model Interaksional
Model interaksional merujuk pada model komunikasi yang dikembangkan oleh para ilmuwan sosial yang menggunakan perspektif interaksi simbolik, dengan tokoh utamanya George Herbert Mead. Perspektif interaksi simbolik lebih dikenal dalam sosiologi, meskipun pengaruhnya juga menembus disiplin-disiplin lain seperti psikologi, ilmu komunikasi, dan antropologi.
Menurut model interaksi simbolik, orang-orang sebagai peserta komunikasi bersifat aktif, reflektif, dan kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Paham ini menolak gagasan bahwa individu adalah organisme pasif (seperti dalam model stimulus-respons atau model-model komunikasi linier yang berorientasi efek), yang perilakunya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan atau struktur di luar dirinya.
Dalam konteks ini Blumer mengemukakan tiga premis yang menjadi dasar model ini. Pertama, manusia bertindak berdasarkan makna yang diberikan individu terhadap lingkungan sosialnya (symbol, verbal, symbol nonverbal, lingkungan fisik). Kedua, makna berhubungan langsung dengan interaksi social yang dilakukan individu dengan lingkungan sosialnya. Ketiga, makna diciptakan, dipertahankan, dan diubah lewat proses penafsiran yang dilakukan individu dalam berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Oleh karena individu terus berubah, masyarakat pun berubah melalui interaksi. Jadi, interaksilah yang dianggap variable penting yang menentukan perilaku manusia, bukan struktur masyarakat.
Struktur itu sendiri tercipta dan berubah karena interaksi manusia. Untuk
melengkapi penjelasan ini, Fisher menggambarkan suatu model diagramatik seperti pada gambar.14
Sumber : Teori-teori Komunikasi, 1996 Gambar 2. Model Interaksional
2.2. Komunikasi Pariwisata
Sebagai disiplin ilmu, komunikasi telah berkembang pesat, terutama di Indonesia, setelah reformasi, kajian-kajian komunikasi tumbuh subur dan berkembang secara multilinear membangun disiplin-disiplin ilmu baru yang memperkaya khazanah disiplin ilmu komunikasi, komunikasi multietnik, komunikasi kesehatan , ekonomi media, sosiologi komunikasi, komunikasi kebijakan public, komunikasi pemerintahan, government public relations, konstruksi social public policy, komunikasi pemasaran, brand, periklanan dan
14 B. Aubrey Fisher. Teori-teori Komunikasi. Penerj. Soejono Trimo. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1996, hlm 242.
masiih banyak lagi. Kajian-kajian dan disiplin ilmu baru ini terus memperkaya disiplin ilmu komunikasi, sehingga menjadi pohon ilmu yang kuat dan kukuh dengan ranting yang lebat dan buah-buahannya yang banyak dan lezat.
Komunikasi pariwisata berkembang dengan menyatunya beberapa disiplin ilmu di dalam suatu kajian tentang komunikasi dan pariwisata. Dengan demikian, maka kelahiran disiplin kajian iniadalah bagian dari perkembangan ilmu secara multilinear dengan bergabungnya beberapa disiplin ilmu.
Kajian komunikasi pariwisata memiliki kedekatan biologis dengan kajian- kajian komunikasi dan pariwisata yang melahirkannya. Komunikasi menyumbangkan teori-teori komunikasi persuasif, teori komunikasi massa, teori komunikasi interpersonal dan kelompok. Sementara pariwisata menyumbangkan field kajian pemasaran pariwisata, destinasi pariwisata, aksesibilitas ke destinasi dan SDM serta kelembagaan kepariwisataan.
Sumbangan-sumbangan dari disiplin ilmu manajemen, periklanan, sosiologi, antropologi serta kebijakan public lebih dekat terhadap pariwisata, namun bermanfaat secara keseluruhan terhadap komunikasi pariwisata seperti antropologi dan sosiologi menyumbangkan teori-teori budaya, perilaku interaksi social, pengembangan kelompok-kelompok kecil dan sebagainya. Adapun manjemen periklanan dan desain grafis membantu menata menajemen pariwisata dan membantu komunikasi pemasaran di lapangan, sedangakan kebijakan public memiliki andil yang besar terhadap masalah-masalah berkaitan dengan kelembagaan kepariwisataan, kebijakan-kebijakan Negara terhadap pariwisata.
Begitu juga disiplin ilmu politik memberi sumbangan terhadap kebijakan- kebijakan politik internasional terhadap kepariwisataan, baik domestik maupun internasional.
Sumber : Komunikasi Pariwisata 201515 Gambar 3. Komponen Komunikasi Pariwisata
Sehubungan dengan itu semua, peran komunikasi sangat penting di dalam bidang-bidang pariwisata, baik pada aspek komponen maupun elemen-elemen pariwisata. Peran penting komunikasi bukan saja pada komponen pemasaran pariwisata, namun pada semua komponen dan elemen pariwisata, memerlukan persn komunikasi, baik komunikasi personal, komunikasi massa, komunikasi persuasif, serta komunikasi lainnya. Dunia pariwisata sebagai kompleks produk memerlukan komunikasi untuk mengkomunikasikan pemasaran pariwisata.
Aksesibilitas, destinasi, dan sumber daya kepada wisatawan dan seluruh stakeholder pariwisata termasuk membentuk kelembagaan pariwisata.
15 Bungin, Burhan. 2015. Komunikasi Pariwisata. Jakarta : Prenadamedia Group.
Di media komunikasi, tersedia berbagai macam media komunikasi sebagai saluran pemasaran, destinasi, aksesibilitas, maupun saluran media SDM dan kelembagaan pariwisata. Komunikasi juga berperan menyiapkan konten pesan yang harus disampaikan kepada masyarakat atau wisatawan, tentang apa yang seharusnya mereka tahu tentang media-media pemasaran, tentang destinasi, aksesibilitas dan SDM serta kelembagaan pariwisata.16
2.3. Strategi Komunikasi
Keberadaan strategi tidak terlepas dari tujuan yang dicapai. Hal ini ditunjukkan oleh suatu jaringan kerja yang membimbing tindakan yang akan dilakukan, dan pada saat yang sama strategi akan mempengaruhi tindakan tersebut. Ini berarti bahwa prasyarat yang diperlukan untuk merumuskan strategi adalah meningkatkan pemahaman tentang tujuan. Artinya setelah kita bersama- sama memahami hakikat dan makna susatu tujuan, maka kita menentukan strategi untuk mencapai tujuan. Tanpa tujuan, maka tindakan yang dibuat semata-mata sekadar suatu taktik yang dapat meningkat cepat namun sebaliknya dapat merosot ke dalam suatu masalah lain.
Kata “strategi” berasal dari akar kata bahasa Yunani strategos yang secara harfiah berarti “seni umum,” kelak term ini berubah menjadi kata sifat strategia berarti “keahlian militer” yang belakangan diadaptasikan lagi ke dalam lingkungan bisnis modern. Kata strategos bermakna sebagai :
16 Bungin, Burhan. 2015. Komunikasi Pariwisata. Jakarta : Prenadamedia Group.
1. Keputusan untuk melakukan suatu tindakan dalam jangka panjang dengan segala akibatnya.
2. Penentuan tingkat kerentanan posisi kita dengan posisi para pesaing (ilmu perang dan ilmu bisnis).
3. Pemanfaatan sumber daya dan penyebaran informasi yang relative terbatas terhadap kemungkinan penyadapan informasi oleh para pesaing.
4. Penggunaan fasilitas komunikasi untuk penyebaran informasi yang menguntungkanberdasarkan analisis geografis dan topografis.
5. Penemuan titik-titik kesamaan dan perbedaan penggunaan sumber daya alam pasar informasi.
Strategi Komunikasi adalah strategi yang mengartikulasikan, menjelaskan dan mempromosikan suatu visi komunikasi dan suatu tujuan komunikasi dalam suatu rumusan yang baik. Strategi untuk menciptakan komunikasi yang konsisten , komunikasi yang dilakukan berdasarkan satu pilihan (keputusan) dari beberapa opsi komunikasi. Berbeda dengan taktik strategi komunikasi menjelaskan tahapan konkret dalam rangkaian aktivitas komunikasi yang berbasis pada suatu teknik bagi pengimplementasian tujuan komunikasi. Adapun taktik adalah suatu pilihan tindakan komunikasi tertentu berdasarkan strategi yang telah ditetapkan sebelumnya.17
Ketika membayangkan strategi komunikasi, maka akan langsung terlintas mengenai tujuan yang akan dicapai dan jenis materiil apa yang saja yang kita
17 Liliweri, Alo. 2013. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta : Kencana Predana Media Group.
pandang dapat memberikan kontribusi bagi tercapainya tujuan ini. Khusus untuk setiap tujuan tertentuyang berkaitan dengan aktivitas kita, maka tujuan komunikasi menjadi sangat penting karena meliputi, announcing, motivating, educating, informing, and supporting decision making.
Dalam menentukan strategi komunikasi yang akan dilakukan agar efektif pelaksanaannya dan tepat sasaran. Menurut Cutlip & Center terdapat empat tahap yang harus dilakukan, yaitu :
1. Fact Finding: Mendefinisikan permasalahan yang dilakukan melalui penelitian dengan menganalisa situasi berupa pemahaman, opini, sikap dan perilaku publik terhadap lembaga atau organisasi.
2. Planning : Berdasarkan pada rumusan masalah, dibuat strategi perencanaan dan pengambilan keputusan untuk membuat program kerja berdasarkan kebijakan lembaga yang juga disesuaikan dengan kepentingan publik.
3. Communicating : Dalam tahap ini Public Relations Officer (PRO) harus mengkomunikasikan pelaksanaan program sehingga mampu memperngaruhi sikap publiknya yang mendorong mereka untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.
4. Evaluating : Pada tahap ini melakukan penilaian terhadap hasil-hasil pelaksanaan program dimulai dari perencanaan, pelaksanaan program,
pengkomunikasian, sampai keberhasilan atau kegagalan yang terjadi dari program tersebut.18
2.4. Public Relations
Rex F. Halow mengungkapkan, hubungan masyarakat adalah fungsi manajemen yang khas yang mendukung dan memelihara jalur bersama bagi komunikasi, pengertian, penerimaan dan kerja sama antara organisasi dan khalayaknya; melibatkan manajemen dalam permasalahan atau suatu persoalan;
membantu manajemen memperoleh penerangan tentang opini publik; menetapkan dan menegaskan tanggung jawab manajemen dalam melayani kepentingan umum;
menopang manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan yang terjadi secara efektif sehingga dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini guna mengantisipasi krisis; dan menggunakan penelitian serta teknik-teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai kegiatan utama.
Lebih lanjut, Rex F. Halow juga mengungkapkan bahwa PR adalah salah satu fungsi manajemen yang membedakannya dengan fungsi manajemen lain untuk membantu menetapkan, memelihara komunikasi timbal balik, pemahaman, penerimaan, dan kerja sama antara organisasi dan publiknya.19
Sementara itu Effendy merumuskan falsafah PR dari segi pandangan terhadap sasaran dan aktifitas, bahwa falsafah PR berdasarkan:
18 Cutlip, Scoot M., Alen H. Center, Glen M. Broom. 2006. Effective Public Relations : Edisi Ke- 9. Jakarta: PT INDEKS Kelompok Gramedia.
19 Liliweri, Alo. 2013. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta : Kencana Predana Media Group.
1. Sasaran PR (Public Relations) adalah public internal dan public eksternal. Publik internal adalah adalah orang-orang yang bergiat di dalam organisasi, antara lain karyawan. Publik eksternal adalah orang- orang di luar organisasi yang ada kaitannya dengan kegiatan organisasi, misalnya para pejabat kantor Pajak, PLN, Telepon dan wartawan.
2. Kegiatan Public Relations adalah melakukan komunikasi dua arah secara timbal balik (reciprocal two way traffic communication). Dalam rangka penyampaian informasi kepada publik internal dan eksternal, harus erjadi arus balik (feedback). Pejabat PR harus mengetahui efek atau akibat dari penyampaian informasinya dalam bentuk tanggapan positif atau negatif.
Menurut Cutlip, Center dan Glen Broom, 2006 dalam bukunya Effective Public Relations edisi 9 bahwa definisi dari Public Relations adalah fungsi manejemen yang membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan publik yang memperngaruhi kesuksesan atau kegagalan organisasi tersebut.
2.4.1. Fungsi Public Relations
Adapun teori yang mengatakan bahwa fungsi PR menurut Cutlip & Center adalah sebagai berikut :
1. Counselling, Konseling atau konsultasi untuk para kaeyawan dan manajemen.
2. Research, melakukan riset untuk mengevaluasi fungsi, tugas, dan peran yang selama ini dilakukan.
3. Media Relations, membina hubungan singkat dengan dengan wartawan dari berbagai media
4. Publicity, melakukan kegiatan publikasi untuk setiap acara kegiatan yang dilakukan PR.
5. Employee Relations, melakukan hubungan dengan karyawan 6. Community Relations, membina hubungan dengan masyarakat
sekitar
7. Public Affair, membina hubungan baik dengan semua publik perusahaan baik interal maupun eksternal.
8. Government Affair, membina hubungan baik dengan politik dan birokrat
9. Issue Management, melakukan manajemen terhadap isu baik kecil maupun isu besar
10. Financial Relations, membina hubungan baik dengan pemegang saham.
2.4.2. Peran Public Relations
Menurut Dozier & Broom (1995), peranan PR dalam suatu organisasi terdiri dari empat kategori, yaitu:20
20 Rusady, Ruslan. 2006. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, Edisi Revisi ke-7.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
1. Expert Prescriber: berperan karena pengalaman, kemampuan, keterampilan memecahkan persoalan.
2. Communication Facilitator: berperan mendengar, menjelaskan kembali keinginan, kebijakan dan harapan organisasi.
3. Problem Solving process facilitator: memfasilitasi kegiatan dalam proses pemecahan masalah.
4. Communication technician: menyediakan pelayanan teknis komunikasi.
Dapat ditarik sebuah benang merah dalam sebuah persepsi PR bahwa PR memiliki fungsi menumbuhkan hubungan baik antara segenap komponen pada suatu organisasi dalam rangka memberikan pengertian, menumbuhkan motivasi, dan partisipasi. Semuanya bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan pengertian dan kemauan publiknya serta memperoleh opini publik yang menguntungkan (atau untuk menciptakan kerja sama berdasarkan hubungan yang baik dengan publik).
2.5. Government Public Relations
PR adalah salah satu dari banyak strategi yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk meningkatkan dialog kebijakan dengan masyarakat. Tetapi pemerintah harus terus berupaya untuk mempertahankan dan mempromosikan praktek etika hubungan masyarakat untuk mencegah PR berubah menjadi propaganda.
Basis kerja Government Public Relations (GPR) ialah pengelolaan informasi dan komunikasi yang berkelanjutan untuk memperoleh pemahaman dan dukungan publik terhadap Program dan Kebijakan Pemerintah.21
Hal ini pun sejalan dengan yang diungkapkan Cutlip bahwa tugas utama GPR adalah memberi informasi. Banyak peran dan tanggung jawab lainnya diserahkan pada praktisi pemerintahan tertentu, dan sebagian besar peran dan tanggung jawab itu sangat penting dan berjangkauan luas, tetapi menjamin aliran informasi tetap yang menuju pribadi-pribadi di luar dan di dalam pemerintah , secara umum merupakan prioritas puncak. Tugas informasi ini bersifat global dengan meluasnya kebutuhan untuk memberi informasi jauh melampaui suatu Negara.22
2.5.1. Konsep Government Public Relations
GPR dapat dianggap sebagai versi ideal dari diplomasi publik, setidaknya dalam konteks atau cakupan domestik. Hal ini dikarenakan pemerintah mengidentifikasi dan mengklarifikasi argumen dengan konstituen mereka sehingga keputusan pun dapat dibuat sendiri. Idealnya GPR harus diaplikasikan
21Peran Humas Dalam Implementasi GPR. (2015, 15 Oktober). www.kominfo.go.id/berita_satker (online) diakses pada 25 November 2016.
22 Cutlip, Scoot M., Alen H. Center, Glen M. Broom. 2005. Effective Public Relations : Edisi Ke- 8. Jakarta: PT INDEKS Kelompok Gramedia.
dengan kejujuran dan ketulusan, karena sebagai “pabrik ideologi” beberapa ide bersaing harus dibenahi oleh pemerintah begitu juga konstituen.23
Sasaran PR yang spesifik pada setiap badan pemerintahan bervariasi, tetapi keabsahan mendasar bagi GPR tertetak pada dua premis fundamental (1) bahwa pemerintah yang demokratis harus menyampaikan kegiatannya pada warga Negara, dan (2) bahwa administrasi pemerintahan yang efektif memerlukan partisipasi dan dukungan aktif warga Negara. Bahkan para kritikus yang paling kukuh terhadap “propaganda pemerintah” mengakui bahwa justifikasi pertama adalah yang valid. Namun, administrasi pemerintah yang efektif kadang-kadang ditafsirkan oleh para kritikus sebagai perlindungan buruk terhadap birokrasi dengan segala cara.
Keseluruhan tujuan program GPR, apapun tingkatan pemerintahannya setidaknya memiliki tiga hal yang sama.
1. Menginformasikan konstituen tentang aktivitas badan pemerintahan.
2. Memastikan kerja sama aktif dalam program pemerintah (sebagai contoh, pemberian suara, curbside recycling), serta kepatuhan program yang berkaitan dengan peraturan (sebagai contoh, pemakaian sabuk pengaman pada kendaraan roda empat yang diamanatkan, peraturan anti rokok), dan
23 Hopkins, Alexander E. 2015. Government Public Relations: Public Diplomacy Or Propaganda.
www.inquiriesjournal.comdiakses pada tanggal 29 November 2016 dari : http://www.inquiriesjournal.com/articles/1012/ .
3. Memupuk dukungan warga Negara bagi kebijakan dan program yang dibuat (sebagai contoh, bantuan luar negeri, kesejahteraan).24
2.5.2. Fungsi dan Tugas GPR
Rosady Ruslan mengemukakan empat macam tugas pokok GPR adalah sebagai berikut :
1. Mengamati dan mempelajari keinginan-keinginan dan aspirasi yang terdapat dalam masyarakat.
2. Kegiatan memberikan nasihat/sumbang saran untuk menanggapi apa yang sebaiknya dilakukan oleh instansi/lembaga pemerintah seperti yang dikehendaki publiknya.
3. Kemampuan untuk mengusahakan terjadinya hubungan memuaskan yang diperoleh antara hubungan public dengan para aparat pemerintahan.
4. Memberikan penerangan/informasi tentang apa yang telah diupayakan oleh suatu lembaga/instansi pemerintah yang bersangkutan.
Fungsi Humas sebagai berikut :
1. Pembinaan hubungan antar departemen, lembaga Negara dan lembaga masyarakat.
2. Pengumpulan, pengolahan dan penyusunan bahan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan departemen untuk informasi kepada masyarakat.
24 Cutlip, Scoot M., Alen H. Center, Glen M. Broom. 2005. Effective Public Relations : Edisi Ke- 8. Jakarta: PT INDEKS Kelompok Gramedia.
3. Pembinaan hubungan kerjasama media massa dan pembinaan jabatan/pranata kehumasan.
Bertolak dari fungsi humas di atas maka Rosady Ruslan mengemukakan empat macam fungsi pokok GPR sebagai berikut :
1. Mengamankan kebijaksanaan pemerintah.
2. Memberikan pelayanan dan menyebarluaskan pesan/informasi mengenai kebijaksanaan dan hingga program-program kerja secara nasional kepada masyarakat.
3. Menjadi komunikator dan sekaligus sebagai mediator yang proaktif, dalam menjembatani kepentingan instansi pemerintah di satu pihak dan menampung aspirasi serta memperhatikan keinginan-keinginan publiknya di lain pihak.
4. Berperan serta dalam menciptakan iklim yang kondusif dan dinamis demi mengamankan stabilitas dan keamanan politik pembangunan nasional, baik jangka pendek maupun jangka panjang.25
2.6. Wisatawan Lokal
Wisatawan (tourist) adalah sebagai objek dalam kegiatan pariwisata.
Wisatawan disebut sebagai objek kegiatan pariwisata tidak bisa terlepas dari pelayanan terhadap wisatawan atau orang sebagai objek pelayanan.
“The tourist is the actor in this system “
25 Ruslan, Rosady. 2010. Manajemen Public Relations & Media Komunikasi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Maksudnya adalah bahwa wisatawan merupakan yang menjadi perhatian oleh siapapun yang terlibat dalam kegiatan pariwisata. Dari pendapat Cooper tersebut dapat dikatakan bahwa tidak selamanya wisatawan diperlakukan sebagai objek, tetapi terkadang bisa saja sebagai subyek dalam pelayanan pariwisata.
Definisi mengenai wisatawan juga ditegaskan oleh IUOTO (International Union of Official Travel Organization), pengertian wisatawan ini hanya berlaku untuk wisatawan internasional, tetapi secara analogis dapat juga berlaku untuk wisatawan domestik atau lokal. Selanjutnya wisatawan dibedakan atas dua bagian, yakni (1) Wisatawan (tourist), yaitu mereka yang mengunjungi suatu daerah lebih dari 24 jam, dan (2) Pelancong/pengunjung exsurcionist, yaitu mereka yang tinggal di tujuan wisata kurang dari 24 jam.26
Ada dua macam atau jenis wisatawan, yaitu wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik atau nusantara. Wisatawan mancanegara merupakan wisatawan yang berasal dari luar negeri atau orang yang berekreasi ke Negara lain. Wisatawan domestik atau nusantara merupakan wisatawan yang berwisata ke tempat lain, tetapi masih berada di wilayah negaranya sendiri. Ini juga termasuk orang yang berwisata di wilayahnya sendiri dengan memiliki tujuan wisatawan domestik berwisata di dalam negeri, yaitu ingin mengobati rasa penasaran pada tempat yang Ia anggap sangat menakjubkan dan menyenangkan.
26 Pitana, I Gde dan I Ketut Surya Diarta, Pengantar Ilmu Pariwisata. 2009. Yogja: Andi Publishing.
Menurut G.A. Schmoll, wisatawan merupakan individu atau kelompok individu yang merencanakan kemampuan daya beli yang dimilikinya untuk melakukan perjalanan dengan tujuan rekreasi dan liburan.
Adanya ketertarikan dan motivasi tertentu dari perjalanan, mendapatkan pengalaman perjalanan, adanya keinginan untuk menambah wawasan lain, dan tertarik dengan pelayanan yang diberikan suatu daerah tujuan wisata yang memiliki kemampuan menarik minat pengunjung atau wisatawan.
Berdasarkan sifat perjalanan dan ruang lingkup perjalanan, wisatawan dapat dibedakan menjadi (1) Wisatawan asing (foreign tourist) yakni orang yang melakukan perjalanan ke Negara lain dari Negara asalnya, (2) Wisatawan lokal atau nusantara merupakan wisatawan dalam negeri, dan bukan wisatawan yang berasal dari Negara lain.27
Wisatawan nusantara melakukan perjalanan wisata dan rekreasi ke bagian atau wilayah yang lain di negaranya untuk mengetahui sesuatu hal berbeda dari lingkungan yang ada disekitarnya.
2.7. Gerhana Matahari Total (GMT)
Pada dasarnya matahari merupakan salah satu bintang yang berada di tata surya dan menjadi pusatnya. Matahari termasuk bintang karena dapat menghasilkan energy cahaya sendiri. Cahaya matahari dibandingkan bintang yang lain terasa lebih cemerlang. Hal itulah yang menyebabkan pada siang hari kita tidak dapat melihat bintang.
27 Soekadijo. R. G. 2000. Anatomi Pariwisata, Memahami Pariwisata Sebagai Sistematik Linkage.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Bumi kita merupakan planet yang jaraknya ke matahari menempati urutan ketiga setelah Merkurius dan Venus. Bumi merupakan planet yang terpenting bagi kita karena merupakan tempat tinggal kita di ruang angkasa. Bumi berotasi para porosnya sehingga kita mengalami siang dan malam.
Tidak hanya berotasi pada porosnya saja, bumi juga berevolusi. Revolusi bumi adalah gerak bumi mengelilingi matahari. Periode revolusi bumi adalah 365,25 hari (1 tahun). Gerak bumi mengelilingi matahari ini memberikan kita musim yang berbeda-beda di setiap belahan bumi setiap harinya.
Bumi memiliki satelit yang bernama Bulan. Dikatakan demikian karena bulan beredar mengelilingi bumi pada peredarannya. Sebagaimana bumi, bulan juga berbentuk bola. Massa bulan kira-kira seperdelapan puluh satu massa bumi, diameternya kira-kira seperempat diameter bumi, dan gravitasinya kira-kira seperenam gravitasi bumi. Adapun jarak rata-rata bulan ke bumi kita kira-kira seperempat ratus jarak antara bumi ke matahari.
Dalam revolusinya, bumi menghasilkan bayang-bayang yang sangat panjang menjauh dari matahari. Bayang-yang tersebut terdiri atas dua macam, yaitu bayang-bayang yang sangat gelap, disebut umbra atau bayang-bayang inti;
dan bayang-bayang kabur yang disebut penumbra atau bayang-bayang semu.
Makin jauh dari bumi, bentuk umbra makin kecil. Akan tetapi, bentuk penumbranya makin besar. Akibat adanya umbra dan penumbra inilah terjadi gerhana bulan.
Sebagaimana bumi, bulan juga menghasilkan umbra dan penumbra jika terkena sinar matahari. Adanya umbra dan penumbra bulan inilah gerhana matahari dapat terjadi. Gerhana matahari terjadi jika bayangan umbra atau penumbra bulan jatuh ke permukaan bumi. Karena bulan jauh lebih kecil dari matahari, bayang-bayang bulan yang jatuh mengenai permukaan bumihanya melingkupi luasan yang sempit saja. Oleh karena itu gerhana matahari yang terjadi dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu gerhana total, gerhana parsial, dan gerhana cincin.
Gerhana matahari total dialami oleh bagian bumi yang masuk ke bayangan umbra bulan. Gerhana matahari total ini hanya berlangsung kira-kira 6 menit, jauh lebih singkat daripada gerhana bulan total. Oleh sebab itu peristiwa GMT merupakan peristiwa yang langka, unik, dan hanya akan terjadi di tempat yang sama dalam periode yang sangat lama.28
Seperti yang terjadi di Indonesia pada 9 Maret 2016 yang lalu, Indonesia merupakan bagian bumi yang masuk dalam umbra bulan. Sehingga fenomena gerhana matahari total dapat dilihat secara jelas pada 12 provinsi yang dilewatinya selama kurang lebih 4 sampai 6 menit.
28 Purwanta, Budi., dan Arianto Nugroho. Eksplorasi Ilmu Alam 3. Solo : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2008.
Sumber : Jendela Ipek 2001 Gambar 4. Proses Gerhana Bulan
Sumber : Jendela Ipek 200129 Gambar 5. Proses Gerhana Matahari
29 Ibid hal. 38