ANALISIS ISU DAN PERKEMBANGAN KEBIJAKAN INDUSTRI SAWIT
INDONESIA Jilid II
Oleh
Tim Riset PASPI
Penyunting : Dr. Tungkot Sipayung
PALM OIL AGRIBUSINESS STRATEGIC
POLICY INSTITUTE
Analisis Isu Dan Perkembangan Kebijakan Industri Sawit Indonesia Jilid II
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Cetakan Pertama, 2020
© PASPI
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
ISBN: 978-623-94853-3-7
Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Alamat : Jalan Kumbang No. 31, Bogor Tengah - 16128 Phone : +62 251 8575 285
E-mail : [email protected] Website : www.paspimonitor.or.id
Analisis Isu Dan Perkembangan Kebijakan Industri Sawit Indonesia Jilid II/Penyunting, Tungkot Sipayung. Bogor: PASPI, 2020.
viii, 160 hlm. 21 cm
1. Ekonomi Pembangunan 2. Agribisnis I. PASPI
Kata Pengantar
Minyak sawit semakin mendominasi pasar minyak nabati dunia. Berdasarkan data USDA (2021), pangsa minyak sawit mencapai 44 persen dari total produksi minyak nabati dunia pada tahun 2020. Tidak hanya mendominasi dalam produksi, minyak sawit juga mendominasi struktur konsumsi minyak nabati dunia yang ditunjukkan dengan pangsanya mencapai 41 persen pada periode tersebut.
Posisi minyak sawit yang demikian juga berhasil membawa Indonesia menjadi negara produsen terbesar minyak sawit di dunia sekaligus produsen terbesar minyak nabati di dunia. Kondisi ini menguntungkan bagi Indonesia, namun di sisi lain kondisi ini juga berdampak pada dinamika perdagangan yang harus dihadapi oleh Indonesia.
Dinamika perdagangan khususnya persaingan non-harga sering kali mengarah pada unfair trade yang tercermin dari semakin intensifnya black campaign dan kebijakan perdagangan yang mendiskriminasi minyak sawit. Hal ini berpotensi berdampak terhadap kinerja industri sawit nasional.
Tidak hanya dinamika perdagangan yang sifatnya eksternal (pasar global), kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia juga menjadi dinamika yang
dihadapi oleh industri sawit nasional. Oleh karena itu, monitoring dan analisis berbagai isu dan kebijakan menjadi bagian penting dari posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar tersebut.
Palm Oil Agribusiness Strategis Policy Institute (PASPI) sebagai lembaga think-tank yang memberi perhatian terhadap industri sawit Indonesia, telah melakukan analisis kebijakan dan isu strategis sejak tahun 2015, dimana hasil studi dan kajian tersebut dimuat dalam website www.paspimonitor.or.id dan www.palmoilina.asia
Atas saran dari stakeholder industri sawit nasional, topik-topik yang disajikan dalam website tersebut diterbitkan dalam bentuk buku. Buku ini diberi dengan judul “Analisis Isu Dan Perkembangan Kebijakan Industri Sawit Indonesia”, Jilid II merupakan suatu sinopsis dari hasil studi dan kajian PASPI yang ditulis dalam format tulisan semi jurnal.
Diharapkan buku ini menjadi salah satu referensi atau bahan bacaan bagi Mahasiswa, Peneliti dan Pengambil Keputusan (Pemerintah) di bidang industri minyak sawit.
Kami juga menerima berbagai masukan dan kritik dari pembaca untuk perbaikan buku ini.
Bogor, Juli 2019
Dr. Tungkot Sipayung Direktur Eksekutif PASPI
Daftar Isi
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vii
Kebijakan Mandatori Biodiesel Sebagai “Jangkar” Ekonomi Nasional ... 395
Kontribusi Industri Sawit Terhadap Pencapaian SDGs ... 407
Industri Sawit Bukan Industri Yang Ekstraktif ... 421
Ekspor Produk Sawit Dan Implementasi Kebijakan Mandatori B30 Semakin Meningkatkan Surplus Net Trade Indonesia Pada Q3-2020 ... 433
Sebuah Renungan Dan Harapan Pada Peringatan Hari Sawit Nasional Ke-109 Tahun ... 447
Potensi Nilai Ekonomi Limbah Sawit Yang Dapat Dinikmati Oleh Petani Sawit Rakyat ... 459
Inklusifitas Perkebunan Sawit ... 473
Dampak Implementasi Perubahan Tarif Pungutan Ekspor (PMK 191/2020) Terhadap Para Pelaku
Industri Sawit ... 487 Solusi Untuk Menjawab Isu Kelapa Sawit Sebagai
Driver Deforestasi Dan Masalah Legalitas Lahan ... 499 Pakistan Sebagai Gerbang Masuk Perluasan Pasar
Ekspor Sawit Indonesia Di Kawasan Asia Selatan,
Asia Tengah Dan Timur Tengah ... 511 Proyeksi Harga Minyak Sawit: Akankah Makin
Meroket Di Tahun 2021? ... 521
Daftar Pustaka ... 531
Daftar Tabel
Tabel 7.1 Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru Berbasis Kelapa Sawit ... 479 Tabel 7.2 Penyerapan Karbon Dioksida dan
Produksi Oksigen antara Perkebunan Kelapa Sawit dan Hutan Tropis ... 484
Daftar Gambar
Gambar 1.1 Perkembangan Produksi, Penyerapan Domestik dan Ekspor Biodiesel Indonesia ... 399 Gambar 1.2 Perkembangan Produksi, Penyerapan
Domestik dan Ekspor Biodiesel Indonesia Periode Januari-Agustus 2020 400 Gambar 2.1 Tujuan Sustainable Development Goals
(SDGs) ... 411 Gambar 3.1 Perkembangan Produktivitas Minyak
Sawit ... 425 Gambar 3.2 Peningkatan Produktivitas Akibat
Perbaikan Kultur Teknis (P2 dan P4) dan Total Factor Productivity (P3) ... 426 Gambar 4.1 Total Nilai dan Volume Ekspor Produk
Sawit* Indonesia pada Tahun 2020 ... 437 Gambar 4.2 Perkembangan Produksi dan
Penyerapan Domestik Biodiesel Indonesia Tahun 2020 ... 439 Gambar 4.3 Penghematan Devisa Impor akibat
Implementasi B30 pada Tahun 2020... 440
Gambar 4.4 Kontribusi Produk Sawit dan Biodiesel (B30) terhadap Net Trade Sektor Non Migas dan Migas Indonesia Tahun 2020 . 442 Gambar 4.5 Kontribusi Devisa Ekspor Sawit dan
Biodiesel (B30) terhadap Total Net Trade Indonesia Tahun 2020 ... 444 Gambar 6.1 Tanaman Kelapa Sawit Menyimpan
Potensi Energi Terbarukan dan Rendah Emisi yang Besar ... 462 Gambar 7.1 Dari Kemitraan Sawit Menjadi
Kemitraan Ekonomi Serta Menjadi Kawasan Pertumbuhan Ekonomi Baru di Pedesaan ... 477 Gambar 7.2 Kebun Sawit Paru-Paru Dunia... 484 Gambar 8.1 Dampak Pemberlakuan Pajak Ekspor
CPO ... 493 Gambar 9.1 Asal Usul Lahan Kebun Sawit Indonesia
Periode Tahun 1990-2018 ... 505 Gambar 9.2 Perubahan Proposi Hutan dan Area
Penggunaan Lain (APL) di Kalimantan Tengah ... 507 Gambar 10.1 Perkembangan Ekspor CPO dan RPO
Indonesia ke Pakistan... 515 Gambar 10.2 Jalur China Pakistan Economic Coridor .... 517 Gambar 11.1 Perkembangan Harga CPO CIF
Rotterdam ... 524
KEBIJAKAN MANDATORI BIODIESEL SEBAGAI
“JANGKAR” EKONOMI NASIONAL
RESUME
Kebijakan mandatori B30 mulai diimplementasikan sejak awal tahun 2020. Dengan diimplementasikannya kebijakan tersebut, diperkirakan kebutuhan biodiesel untuk program tersebut mencapai 9.6 juta kiloliter. Namun pada tahun ini juga, dunia dihadapkan dengan pandemi Covid-19.
Pandemi ini juga berdampak pada penurunan penyerapan biodiesel domestik, karena penurunan aktivitas transportasi akibat kebijakan pembatasan aktivitas sosial dan ekonomi.
Meskipun mengalami penurunan, namun total produksi biodiesel pada B30 ini secara akumulasi mencapai 5.73 juta kiloliter atau sekitar 60 persen dari target.
Di sisi lain, pandemi juga berdampak pada penurunan harga solar fosil dan peningkatan harga CPO di pasar global. Dengan tren harga yang demikian, kebijakan mandatori B30 dinilai oleh pihak-pihak tertentu kurang efisien karena selisih antara harga diesel fosil dengan HIP Biodiesel terlalu besar dan menutup peluang produsen untuk menikmati profit yang lebih besar karena mengekspor minyak sawit, sehingga kebijakan ini dinilai merugikan secara bisnis (finansial).
Padahal kebijakan mandatori biodiesel didesain sebagai instrumen dari kebijakan ekonomi yang bertujuan menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih besar dengan skala/cakupan populasi yang menikmati manfaat tersebut lebih luas dan dapat dinikmati dalam jangka waktu yang panjang (long term goals), bukan kebijakan finansial yang hanya bertujuan menguntungkan salah satu pelaku industri. Fakta tersebut dapat dilihat berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Dewan Energi Nasional (2019) atas pencapaian kebijakan mandatori B20 pada beberapa
manfaat ekonomi seperti penghematan devisa solar impor, peningkatan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja serta manfaat lingkungan seperti pengurangan emisi karbon.
Dengan diimplementasikannya kebijakan mandatori B30 akan menghasilkan manfaat ekonomi dan penurunan emisi yang lebih besar. Bahkan dalam realisasinya dimana kebijakanini baru dilaksanakan beberapa bulan, namun sudah mampu mengurangi besarnya defisit neraca.
*) Dimuat pada Palm O’ Journal PASPI, Volume I No. 30/2020
Pendahuluan
Indonesia merupakan negara yang kaya dan memiliki potensi sumber energi terbarukan dalam jumlah yang besar, seperti minyak nabati, tenaga surya, angin maupun panas bumi. Kekayaan sumber energi terbarukan tersebut haruslah dimanfaatkan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Ketergantungan negara ini terhadap energi fosil sudah sangat besar. Menurut data proyeksi Pertamina (2015), konsumsi solar fosil pada tahun 2020 akan meningkat menjadi 42 juta kiloliter dan sebesar 55 persennya dipenuhi dari impor. Impor solar fosil dan bahan bakar fosil lainnya yang sangat tinggi dapat “menggerogoti”
devisa dan menjadi pemicu utama defisit neraca perdagangan Indonesia.
Indonesia juga termasuk salah satu negara yang berkomitmen untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC), target penurunan emisi GRK Indonesia mencapai 29 persen hingga 41 persen pada tahun 2030 dengan dukungan kerjasama internasional. Komitmen tersebut dapat tercapai melalui penurunan penggunaan energi fosil, mengingat produksi dan konsumsi energi fosil menjadi sumber utama emisi karbon dan total emisi GRK (IEA, 2016).
Penggunaan biodiesel sawit merupakan salah satu solusi untuk mengatasi ketergantungan penggunaan energi fosil sekaligus pengurangan emisi GRK.
Pengembangan biodiesel di Indonesia didorong oleh Kebijakan Mandatori Biodiesel melalui Permen ESDM No.
32 Tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati sebagai Bahan Bakar Lain.
Dengan kebijakan mandatori B30 yang diimplementasikan pada tahun 2020, berhasil membawa Indonesia sebagai negara dengan campuran minyak sawit dengan solar fosil
terbesar di dunia. Prestasi Indonesia tersebut terkonfirmasi dari dari data Statista (2020) yang menyebutkan bahwa Indonesia menjadi produsen biodiesel terbesar di dunia pada tahun 2019. Sementara itu, Malaysia yang juga merupakan negara produsen minyak sawit kedua terbesar di dunia, setelah Indonesia, baru mulai menerapkan program B20 setelah mengalami penundaan akibat Covid-19.
Implementasi kebijakan mandatori biodiesel di Indonesia dinilai cukup berhasil dalam mengurangi ketergantungan impor solar dan menurunkan emisi, namun masih saja ada pihak yang menyebutkan cost dari kebijakan ini lebih besar dibandingkan benefit-nya atau kebijakan ini hanya akan menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Padahal kebijakan mandatori, khususnya mandatori B30 merupakan jangkar ekonomi nasional terutama di masa pandemi Covid dan ancaman resesi global. Oleh karena itu, tulisan ini akan mendiskusikan terkait manfaat dari kebijakan mandatori biodiesel bagi perekonomian Indonesia.
Perkembangan Industri Biodiesel Indonesia Pengembangan biodiesel di Indonesia didukung dengan Instrumen kebijakan mandatori. Melalui Permen ESDM No. 12/2015, kebijakan mandatori biodiesel dipercepat dari B-10 tahun 2014, menjadi B-15 tahun 2015 dan meningkat menjadi B-20 tahun 2016. Kebijakan mandatori B30 yang ditargetkan dalam peraturan tersebut untuk diimplementasikan pada tahun 2020 juga dapat terealisasikan. Saat ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM juga sedang melakukan uji teknis B40 yang direncanakan akan diimplementasikan pada tahun 2021.
Keberhasilan program kebijakan mandatori biodiesel ini juga tidak terlepas dari dukungan dana CPO
Supportirng Fund (CSF) yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Dukungan dana tersebut berasal dari pungutan ekspor (Levy) yang dikenakan setiap ton ekspor minyak sawit dan produk turunannya. Salah satu pemanfaatan dana sawit tersebut digunakan untuk mensubsidi selisih harga biodiesel sawit dengan diesel solar fosil sehingga membuat harga biodiesel lebih kompetitif. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan penyerapan domestik sekaligus menjadi insentif bagi industri biodiesel domestik semakin berkembang yang ditunjukkan dengan produksi dan ekspor biodiesel yang terus meningkat (Gambar 1.1).
Gambar 1.1 Perkembangan Produksi, Penyerapan Domestik dan Ekspor Biodiesel Indonesia (Sumber : APROBI, 2020a)
Dengan kebijakan mandatori B30 yang mulai diimplementasikan sejak awal tahun 2020, diperkirakan kebutuhan biodiesel untuk program tersebut mencapai 9.6 juta kiloliter. Namun pada tahun ini juga, kondisi dunia tidak sama dengan tahun sebelumnya karena pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 juga berdampak pada penurunan penyerapan domestik dan ekspor (Gambar 1.2).
Gambar 1.2 Perkembangan Produksi, Penyerapan Domestik dan Ekspor Biodiesel Indonesia Periode Januari-Agustus 2020 (Sumber : APROBI, 2020b)
Berdasarkan data APROBI (2020b), distribusi atau penyerapan domestik B30 mengalami penurunan dengan rata-rata sebesar 0.25 persen selama periode Januari- Agustus 2020. Penurunan penyerapan domestik terbesar terjadi pada periode Maret-April sebesar 17 persen dan periode Mei-Juni sebesar 4.68 persen. Secara akumulasi selama periode tersebut, total produksi biodiesel pada mandatori B30 ini mencapai 5.73 juta kiloliter dan total distribusi yang menunjukkan penyerapan domestik mencapai 5.62 juta kiloliter.
Kebijakan Mandatori Biodiesel (B30): Economic Policy bukan Financial Policy
Pengembangan biodiesel sawit di Indonesia sebagai alternatif sumber energi terbarukan dinilai menjadi sebuah kebijakan yang solutif dalam mengatasi ketergantungan penggunaan solar fosil dan pencapaian
- 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00
- 200.00 400.00 600.00 800.00 1,000.00
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags
Ribu Kiloliter
Ribu Kiloliter
Produksi DistribusiDomestik Ekspor
target pengurangan emisi. Berdasarkan data Dirjen EBTKE dalam laporan Dewan Energi Nasional (2019), program B20 yang dilaksanakan pada tahun 2018 dan 2019 mampu menghemat devisa impor solar sebesar USD 1.89 miliar dan USD 3.54 miliar. Sementara itu, program B20 juga mampu mengurangi emisi GRK sebesar 5.61 juta ton C02eq dan 9.91 juta ton C02eq. Tidak hanya kedua indikator tersebut, program B20 juga dinilai mampu menciptakan multiplier effect berupa nilai tambah pada industri hilir sawit (CPO ke biodiesel) dengan nilai sebesar Rp 5.78 triliun dan Rp 9.68 triliun. Program ini juga mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja baik pada on farm maupun off farm yakni lebih dari 481 ribu orang tahun 2018 dan meningkat hampir dua kali lipatnya menjadi lebih dari 834 ribu orang pada tahun 2019.
Dewan Energi Nasional (2019) juga melakukan proyeksi atas empat indikator yang menunjukkan dampak ekonomi dari implementasi B30. Diperkirakan dengan 9.6 juta kiloliter biodiesel yang dibutuhkan pada program B30, mampu menghemat devisa dari solar impor sebesar USD 5.13 miliar dan menurunkan emisi GHG sebesar 14.25 juta ton C02eq. Multiplier effect yang diciptakan dari program B30 juga diperkirakan lebih besar, dimana peningkatan nilai tambah menjadi Rp 14.02 triliun dan jumlah tenaga kerja yang diserapjuga meningkat menjadi sekitar 2.1 juta orang, dimana terbagi menjadi 1.2 juta orang pada sektor on farm dan 9 ribu orang pada sektor off farm.
Dalam realisasinya, total distribusi domestik biodiesel pada program B30 sebesar 5.62 juta kiloliter selama periode Januari-Agustus 2020 (Gambar 2) mampu menghemat devisa sekitar USD 2.24 miliar sehingga net ekspor sektor migas Indonesia pada periode tersebut hanya mengalami defisit sebesar USD 4.19 miliar. Jika di tengah masa pandemi ini, Indonesia tidak mengimplementasikan program B30, defisit neraca migas Indonesia berpotensi lebih besar lagi hingga mencapai USD 6.43 miliar (Sipayung, 2020). Hal ini menunjukkan bahwa
kebijakan mandatori B30 berhasil menyelamatkan neraca perdagangan Indonesia di masa pandemi dan ancaman resesi ekonomi global.
Meskipun kebijakan mandatori B30 memberikan kontribusi manfaat ekonomi yang cukup terasa, namun ada beberapa pihak yang mempertanyakan apakah kebijakan ini patut untuk diteruskan karena cost dari kebijakan ini dianggap lebih besar dibandingkan benefitnya, khususnya pada kondisi harga diesel fosil mengalami penurunan dan sebaliknya terjadi peningkatan harga internasional minyak sawit (CPO) seperti yang terjadi saat ini.
Data EIA (2020) menunjukkan harga diesel fosil berada di kisaran USD 1.12 per galon – USD 1.85 per galon.
Bahkan pernah menyentuh harga yang paling rendah sepanjang tahun 2020 yakni hanya sebesar USD 0.88 per galon pada Maret 2020, meskipun tren harganya terus mengalami peningkatan selama tiga bulan terakhir dan berkisar USD 1.23 per galon pada Agustus 2020.
Sementara itu, harga CPO CIF (MPOB, 2020) menunjukkan tren positif, dimana harganya mengalami peningkatan dari USD 527 per ton menjadi USD 698 per ton selama periode Mei-September 2020.
Dengan tren harga yang demikian, kebijakan mandatori B30 dinilai oleh pihak-pihak tertentu kurang efisien karena selisih antara harga diesel fosil dengan HIP Biodiesel terlalu besar dan merugikan secara bisnis (finansial). Selain itu juga kerugian bisnis/finansial semakin bertambah besar dari hilangnya potensi profit produsen, karena kebijakan B30 ini yang dianggap menghalangi produsen minyak sawit untuk mengekspor minyak sawit ke pasar global.
Faktanya, kebijakan mandatori biodiesel (B30) didesain sebagai instrumen dari kebijakan ekonomi yang bertujuan menghasilkan manfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia, bukan kebijakan finansial yang hanya bertujuan menguntungkan pihak tertentu. Manfaat ekonomi sebagai
hasil dari kebijakan mandatori biodiesel ini tidak hanya sehatnya neraca perdagangan karena defisit solar impor yang berkurang, tetapi juga terciptanya multiplier effect (nilai tambah, tenaga kerja, pendapatan dan ouput) yang besar dan dinikmati tidak hanya oleh para pelaku industri sawit tetapi masyarakat Indonesia. Multiplier effect yang besar tersebut akan bermuara pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia (GDP).
Selain itu, terdapat manfaat ekonomi lainnya dari kebijakan mandatori biodiesel, antara lain: Pertama, Stabilisasi Harga CPO dan TBS. Program B30 akan meningkatkan penyerapan sekitar 10 juta ton minyak sawit oleh industri biodiesel domestik, sehingga supply dan stok minyak sawit di pasar global relatif terjaga (tidak terjadi oversupply). Implikasinya harga internasional minyak sawit relatif stabil dan cenderung meningkat di masa pandemi ini. Tingginya harga internasional CPO (CIF) tersebut akan ditranmisikan ke harga TBS yang diterima oleh petani yang juga mengalami peningkatan. Hal tersebut terkonfirmasi dari data harga TBS Riau yang mengalami peningkatan sebesar 27 persen selama periode Agustus-Oktober 2020. Tren harga yang demikian tentu saja menguntungkan produsen baik perusahaan perkebunan maupun petani sawit.
Kedua, Pricemaker. Indonesia yang merupakan produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia namun hingga saat ini harga minyak sawit dunia lebih banyak ditentukan oleh pasar demand (pelabuhan terbesar). Dengan kebijakan mandatori biodiesel, Indonesia memiliki peluang untuk mewujudkan cita-cita sebagai global pricemaker minyak sawit dan produk turunananya. Hal ini dikarenakan melalui program biodiesel, Indonesia dapat mengatur volume stok di pasar global sehingga harga minyak sawit internasional juga dapat diatur dan ditentukan oleh Indonesia.
Ketiga, Solusi Dinamika dan Hambatan Pasar Global.
Dalam satu dekade terakhir, industri sawit nasional sering
menghadapi dinamika pasar global yang diwarnai dengan unfair trade dengan tujuan untuk menghambat laju perdagangan sawit di pasar global. Salah satunya Uni Eropa dengan kebijakan RED II ILUC dan rencana phase- out minyak sawit karena dianggap sebagai feedstock yang high risk ILUC (PASPI, 2019a). Ancaman Uni Eropa yang merupakan negara tujuan Indonesia untuk ekspor minyak sawit ketiga terbesar (GAPKI, 2020), memiliki implikasi negatif terhadap kinerja ekspor industri sawit nasional yang menurun sehingga dapat menyebabkan semakin besarnya defisit neraca perdagangan dari sektor non migas. Untuk mengatasi hal tersebut, Indonesia harus memilih strategi lain untuk menampung stok minyak sawit yang seharusnya diekspor ke Uni Eropa seperti melakukan diversifikasi pasar tujuan ekspor atau pengembangan industri hilir domestik. Program B30 merupakan startegi yang tepat untuk memitigasi resiko mengatasi dampak pemberlakuan kebijakan UE, karena program tersebut dapat menyerap volume minyak sawit di pasar domestik dengan kapasitas yang relatif besar (PASPI, 2019b).
Keempat, Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kebijakan mandatori biodiesel merupakan upaya pemerintah untuk mengembangkan sumber energi yang berkelanjutan sebagai alternatif penggunaan energi fosil, sekaligus juga menempatkan biodiesel sawit sebagai solusi dalam rangka merealisasikan SDG-7 yaitu Ketersediaan Energi secara Berkelanjutan dan SDG-13 yaitu Pencegahan Perubahan Iklim dan Dampaknya. Tidak hanya SDG-7 dan SDG-13, pengembangan industri biodiesel yang menciptakan multiplier effect yang besar terhadap perekonomian bangsa juga secara tidak langsung berpotensi merealisasikan delapan tujuan yang tertuang dalam SDGs seperti SDG-1 (Penghapusan Kemiskinan);
SDG-2 (Penghapusan Kelaparan), SDG-3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan); SDG-4 (Pendidikan Bermutu);
SDG-8 (Pertumbuhan Ekonomi dan Kesempatan Kerja Inklusif); SDG-9 (Pembangunan Infrastruktur,
Industrialisasi dan Inovasi); SDG-10 (Pengurangan Ketimbangan); dan SDG-12 (Produksi dan Konsumsi Berkelanjutan). Dengan mengkaitkan industri sawit sebagai solusi dalam rangka pencapaian tujuan SDGs, diharapkan mampu membuka mata dunia terhadap manfaat positif dari keberadaan industri sawit sehingga dapat meningkatkan keberterimaan industri sawit di pasar global.
Kelima, Ketahanan dan Kemandirian Energi Nasional.
Penggunaan biodiesel yang memanfaatkan minyak sawit sebagai sumberdaya lokal untuk mensubstusi penggunaan diesel fosil sekaligus mengurangi ketergantungan impor solar fosil, merupakan upaya dalam rangka mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional. Frasa tersebut bukan hanya sekedar jargon pemerintah, tapi terdapat implikasi yang lebih besar. Artinya dengan menggunakan biodiesel sawit sebagai sumber energinya, Indonesia tidak lagi bergantung pada solar impor dan
“pihak” dibalik bisnis impor tersebut, sehingga sensitifitas variabel makroekonomi Indonesia terhadap global shock akibat instabilitas harga BBM fosil dapat berkurang. Selain itu, Indonesia juga bisa lebih mandiri dan bebas dari campur tangan pihak yang memanfaatkan posisi tawar Indonesia yang lemah sebagai net importir diesel fosil yang besar.
Argumen-argumen yang telah dipaparkan diatas diharapkan dapat membuka wawasan terkait kontribusi kebijakan mandatori biodiesel adalah kebijakan ekonomi yang dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih besar dengan skala/cakupan populasi yang menikmati manfaat tersebut lebih luas dan dapat dinikmati dalam jangka waktu yang panjang (long term goals). Sehingga cost untuk menjalankan kebijakan mandatori biodiesel dirasa akan selalu lebih rendah dibandingkan benefit baik dalam aspek ekonomi, sosial maupun lingkungan yang dihasilkan dari implementasi kebijakan tersebut.
Kesimpulan
Kebijakan mandatori B30 mulai diimplementasikan sejak awal tahun 2020. Namun pada tahun ini juga, dunia dihadapkan dengan pandemi Covid-19. Pandemi ini juga berdampak pada penurunan penyerapan biodiesel domestik, karena penurunan aktivitas transportasi akibat kebijakan pembatasan aktivitas sosial dan ekonomi. Di sisi lain, pandemi juga berdampak pada penurunan harga solar fosil dan peningkatan harga CPO di pasar global. Dengan tren harga yang demikian, kebijakan mandatori B30 dinilai oleh pihak-pihak tertentu kurang efisien karena selisih antara harga diesel fosil dengan HIP Biodiesel terlalu besar dan menutup peluang produsen untuk menikmati profit yang lebih besar karena mengekspor minyak sawit, sehingga kebijakan ini dinilai merugikan secara bisnis (finansial).
Faktanya, kebijakan mandatori biodiesel (B30) didesain sebagai instrumen dari kebijakan ekonomi yang bertujuan menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih besar dengan skala/cakupan populasi yang menikmati manfaat tersebut lebih luas dan dapat dinikmati dalam jangka waktu yang panjang (long term goals), bukan kebijakan finansial yang hanya bertujuan menguntungkan salah satu pelaku industri. Program B30 mampu mengurangi defisit neraca perdagangan migas, menciptakan multiplier effect (nilai tambah, tenaga kerja, pendapatan dan ouput) yang besar yang akan berimplikasi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia (GDP), stabilisasi harga CPO dan harga TBS, peluang menjadi pricemaker di level pasar global, solusi dari hambatan dagang dan kebijakan yang mendiskriminasi sawit, pencapaian SDGs, dan dalam rangka mencapai ketahanan dan kemandirian energi nasional.
KONTRIBUSI INDUSTRI SAWIT TERHADAP PENCAPAIAN SDGs*
RESUME
Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan platform pembangunan global dengan menggunakan paradigma dasar yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat dikelola secara optimal sehingga dapat menghasilkan tujuan pembangunan ekonomi, sosial dan pelestarian lingkungan dalam perspektif jangka panjang. SDGs diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) pada tahun 2015 dengan target pencapaian selama periode tahun 2016-2030. Sebagai platform pembangunan global yang disepakati bersama, SDGs memiliki 17 tujuan besar dan 169 target yang dapat dikelompokkan pada tiga aspek utama yakni ekonomi, sosial dan lingkungan hidup.
Indonesia sebagai anggota PBB yang juga sebagai negara yang ikut meratifikasi SDGs juga telah menerbitkan kebijakan yang mendukung implementasi SDGs di Indonesia dan mengamanatkan seluruh sektor untuk berkontribusi terhadap pencapaian SDGs. Industri kelapa sawit nasional sebagai salah satu industri strategis nasional secara proaktif telahmemposisikan dirinya sebagai bagian solusi yang berkontribusi pada pencapaian tujuan-tujuan SDGs baik level lokal/daerah, nasional maupun global.
Hal tersebut terkonfirmasi berdasarkan penelitian/studi empiris, industri kelapa sawit telah berkontribusi pada pencapaian 16 tujuan dari 17 tujuan SDGs. Pada aspek ekonomi, industri ini telah mencapai: SDG-1 (Menghapus Kemiskinan); SDG-2 (Menghapus kelaparan, kekurangan gizi dan membangun ketahanan pangan inklusif); SDG-7 (Membangun energi yang berkelanjutan); SDG-8 (Pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja yang inklusif);
SDG-9 (Infrastruktur dan industrialisasi dan inovasi); SDG-10 (Pengurangan ketimpangan); dan SDG-12 (Konsumsi dan
produksi yang berkelanjutan). Pada aspek sosial yakni: SDG-3 (Kesehatan dan kesejahteraan); SDG-4 (Pendidikan berkualitas yang inklusif); SDG-5 (Kesamaan gender); SDG-6 (Ketersediaan air bersih dan sanitasi) ; SDG-11 (Pembangunan kota dan desa (pemukiman) yang inklusif, aman dan berkelanjutan); dan SDG-16 (Perdamaian dan keadilan sosial yang inklusif).
Sementara itu, dalam aspek lingkungan industri ini juga berkontribusi terhadap pencapaian: SDG-13 (Mengatasi perubahan iklim global dan dampaknya); SDG-14 (Konservasi dan pemanfaaran sumberdaya perairan secara berkelanjutan);
dan SDG-15 (Pengelolaan biodiversitas, ekosistem daratan dan hutan secara berkelanjutan).
Mengingat pentingnya informasi untuk mengetahui kontribusi industri sawit terhadap SDGs sebagai bahan promosi sawit untuk meningkatkan keberterimaan di pasar global serta menjadi “senjata” untuk melawan kampanye negafif dan kebijakan yang mendiskriminasi sawit, maka penelitian mengenai topik tersebut dengan menggunakan data komprehensif yang ter-update (dari hulu hingga hilir) dan pendekatan (metode analisis) yang komprehensif sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, pemerintah melalui BPDPKS dengan memanfaatkan dana riset sawitnya dapat sesegera mungkin melakukan penelitian dengan topik tersebut.
*) Dimuat pada Palm O’ Journal PASPI, Volume I No. 31/2020
Pendahuluan
Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan platform pembangunan global yang diinisiasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2015 dengan target pencapaian selama periode tahun 2016- 2030. Sebagai platform pembangunan global yang disepakati bersama, SDGs memiliki 17 tujuan besar dan 169 target yang dapat dikelompokkan pada tiga aspek utama ekonomi, sosial dan lingkungan hidup.
Bagi Indonesia, SDGs tersebut sesungguhnya sudah mulai diterapkan sebelum SDGs diadopi secara internasional. Misalnya pada industri minyak sawit Indonesia, Pemerintah telah memperkenalkan dan mengimplementasikan pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan atau dikenal dengan ISPO sejak tahun 2011. Pemerintah Indonesia juga kembali penerbitan Peraturan Presiden No. 44/2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO).
Perpres ini dibuat dengan tujuan untuk melengkapi dan menyempurnakan peraturan yang telah ada sebelumnya sekaligus untuk mengakomodir dinamika pasar global dan meningkatkan adopsi nilai-nilai SDGs (PASPI, 2020d).
Dengan diadopsinya SDGs ke dalam Perpres ISPO, sesungguhnya menunjukkan bahwa ISPO on the right track dengan platform tersebut.
Kontribusi industri sawit nasional dalam pencapaian SDGs juga dapat dijadikan sebagai “bahasa” dalam rangka kampanye dan promosi nilai positif sawit. Dengan mengkaitkan industri sawit dengan 17 tujuan SDGs sebagai platform pembangunan yang diakui secara global, diharapkan mampu membuka mata dunia terhadap manfaat positif dari keberadaan industri sawit baik pada level lokal, nasional maupun global sehingga dapat meningkatkan keberterimaan industri sawit di pasar global. Oleh karena itu, tulisan ini akan mendiskusikan
kontribusi industri sawit untuk mencapai tujuan-tujuan SDGs.
Latar Belakang SDGs Dan 17 Tujuannya Pada era sebelum tahun 1980-an, terdapat dua paradigma pembangunan yang berlaku yakni Developmentalist dan Environmentalist. Kedua paradigma tersebut saling bertolak belakang dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dimana paradigma Developmentalist berfokus pada pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, sedangkan paradigma Environmentalist menitikberatkan pada konservasi lingkungan. Hingga pada tahun 1987 lahir sebuah paradigma “jalan tengah” dari dua paradigmna yang terpolarisasi yakni paradigma Sustainable Development.
Paradigma baru ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat dikelola secara optimal sehingga dapat menghasilkan tujuan pembangunan ekonomi, sosial dan pelestarian lingkungan dalam perspektif jangka panjang.
Paradigma Sustainable Development tersebut resmi menjadi platform pembangunan internasional yang diluncurkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau yang dikenal dengan Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun 2015. SDGs merupakan platform pembangunan dalam rangka pencapaian tujuan ekonomi, sosial dan lingkungan secara harmoni dan berkelanjutan.
Platform SDGs terdiri dari 17 tujuan dan diharapkan dapat tercapai pada tahun 2030 (Gambar 2.1).
Gambar 2.1 Tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) Dari ketujuh belas tujuan SDGs tersebut dapat diklasifikasi menjadi tiga aspek sebagai berikut. Pertama, Tujuan dalam Aspek Ekonomi (8 SDGs) yakni: (a) Menghapus kemiskinan berbagai bentuk dan seluruh tempat/SDG-1; (b) Menghapus kelaparan, kekurangan gizi dan membangun ketahanan pangan inklusif/SDG-2; (c) Membangun energi yang berkelanjutan/SDG-7; (d) Pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja yang inklusif/SDG-8; (e) Infrastruktur dan industrialisasi dan inovasi/SDG-9; (f) Pengurangan ketimpangan/SDG-10; (g) Konsumsi dan produksi yang berkelanjutan/SDG-12; dan (h) Kerjasama global pembangunan berkelanjutan/SDG- 17.
Kedua, Tujuan dalam Aspek Sosial (6 SDGs) yakni: (a) Kesehatan dan kesejahteraan/SDG-3; (b) Pendidikan berkualitas yang inklusif/SDG-4; (c) Kesamaan gender/SDG-5; (d) Ketersediaan air bersih dan sanitasi yang inklusif/SDG-6; (e) Pembangunan kota dan desa (pemukiman) yang inklusif, aman dan berkelanjutan/SDG- 11; dan (f) Perdamaian dan keadilan sosial yang inklusif/SDG-16.
Ketiga, Tujuan dalam Aspek Lingkungan (3 SDGs) yakni: (a) Mengatasi perubahan iklim global dan dampaknya/SDG-13; (b) Konservasi dan pemanfaaran sumberdaya perairan secara berkelanjutan/SDG-14; dan (c) Pengelolaan biodiversitas, ekosistem daratan dan hutan secara berkelanjutan/SDG-15.
Penekanan baru dari SDGs juga adalah inklusifitas (no one left behind) dari setiap aspek atau prinsip/kriteria, yakni dampak (positif, negatif) terhadap daerah dan masyarakat. Inklusif secara ekonomi, bukan hanya diukur hanya pada level perusahaan (eksklusif) seperti pencapaian laba, tetapi juga diukur dampak kehadiran aktifitas perusahaan baik dari segi input digunakan maupun output yang dihasilkan bagi ekonomi, sosial dan lingkungan baik di tingkat lokal/regional, nasional maupun global. Hal tersebut juga terkonfirmasi dari konsep World Bank (2012) mengajukan konsep sederhana yakni Growth, Green, Inclusive. Pertumbuhan ekonomi (growth) haruslah tetap memperhatikan kelestarian lingkungan (green) dan manfaatnya dirasakan secara luas (inclusive).
Mengingat pentingnya peranan pemerintah sebagai aktor yang melakukan pengelolaan pembangunan, maka dalam rangka mewujudkan pembangunan berkelanjutan maka konsep pembangunan berkelanjutan bukan hanya 3- P (Profit, Planet, People) melainkan 4-P (Profit, Planet, People, Policy) (Feher and Beke, 2013; Moon, 2012).
Variabel kebijakan pemerintah dinilai sangat penting selain menentukan kebijakan pembangunan juga spesifik pada setiap negara. Dalam implementasi SDGs pasti berbeda-beda disetiap negara karena ditentukan oleh kebijakan pemerintah disetiap negara.
Indonesia sebagai anggota PBB yang juga sebagai negara yang ikut meratifikasi SDGs juga telah menerbitkan kebijakan yang mendukung implementasi SDGs di Indonesia. Salah satu kebijakan tersebut adalah Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional No. 7 Tahun 2018 tentang Koordinasi Perencanaan, Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Platform SDGs diharapkan dapat diwujudkan oleh semua sektor di Indonesia. Industri kelapa sawit nasional sebagai salah satu industri strategis nasional perlu secara proaktif dengan memposisikan diri
sebagai bagian solusi yang berkontribusi pada pencapaian tujuan-tujuan SDGs baik level lokal/daerah, nasional maupun global.
Kontribusi Industri Minyak Sawit Dalam Pencapaian SDGs
Secara built in, industri kelapa sawit memiliki multifungsi pertanian yang terdiri dari: fungsi ekonomi (white function), fungsi sosial budaya (yellow function/services), pelestarian tata air (blue services), dan fungsi pelestarian sumberdaya alam (green function) (PASPI, 2020c). Jika diterjemahkan secara lebih spesifik lagi, multifungsi pertanian dapat diuraikan menjadi tujuan- tujuan dalam SDGs. Berdasarkan penelitian/studi empiris, industri kelapa sawit telah berkontribusi pada pencapaian 16 tujuan dari 17 tujuan SDGs. Seiring dengan perbaikan tata kelola industri sawit nasional, salah satunya melalui ISPO, berimplikasi pada meningkatkan kontribusi industri sawit terhadap pencapaian SDGs yang semakin besar.
Aspek Ekonomi. Secara empiris, kontribusi industri sawit nasional dalam aspek ekonomi telah banyak dibuktikan pada berbagai hasil penelitian, antara lain yakni peningkatan pendapatan petani sawit, mengurangi kemiskinan, mendorong pembangunan ekonomi, sumber devisa dan pendapatan negara (Tomic dan Mawardi, 1995;
Sato, 1997; Susila, 2004; World Growth, 2011). Dilihat dari keterkaitan input-output ke depan dan ke belakang serta berbagai indikator multiplier (output, nilai tambah, tenaga kerja) menunjukan bahwa perkebunan kelapa sawit dan industri hilirnya merupakan salah satu lokomotif perekonomian nasional (Amzul, 2011; PASPI, 2014).
Peningkatan produksi minyak sawit di daerah sentra perkebunan kelapa sawit mendorong peningkatan PDRB kabupaten sentra sawit yang signifikan yang kemudian berdampak pada pengembangan perekonomian daerah
yang bersangkutan. Pertumbuhan ekonomi yang dihela oleh peningkatan produksi minyak sawit bukan hanya dinikmati oleh mereka yang terlibat dalam perkebunan kelapa sawit tetapi juga dinikmati oleh masyarakat yang tidak terlibat secara langsung dalam proses produksi perkebunan kelapa sawit. Bukti lain yang menunjukkan perkebunan sawit sebagai lokomotif ekonomi yang inklusif sekaligus menunjukkan terjadinya pemerataan kesejahteraan dan pengurangan ketimpangan pada pelosok daerah melalui perkembangan daerah pelosok yang semula sepi, terbelakang menjadi pusat ekonomi baru berbasis perkebunan sawit (PASPI, 2020e).
Kontribusi industri sawit di bidang penyedian clean energy (biofuel) juga tidak hanya melalui pengembangan biodiesel dengan kebijakan mandatori B30 yang diimplementasi pada tahun ini, tetapi juga melalui pengembangan biohidrokarbon (diesel sawit, bensin sawit dan avtur sawit) sebagai sumber energi terbarukan berbasis sawit juga akan segera diproduksi (PASPI, 2020g).
Bahkan telah direncanakan skema penyerapan sawit rakyat sebagai bahan baku biohidrokarbon. Hal ini menunjukkan pengembangan industri biohidrokarbon akan semakin memberikan manfaat ekonomi yang inklusif bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Di tingkat nasional, produk sawit juga menjadi sumber devisa ekspor terbesar dalam sektor non migas. Bahkan di tengah pandemi Covid-19 dan potensi resesi ekonomi global, industri sawit sekali lagi mampu membuktikan dirinya sebagai pahlawan devisa yang mampu menciptakan surplus neraca total perdagangan Indonesia (PASPI, 2020b).
Implementasi kebijakan biodiesel selain untuk menghasilkan sumber energi yang berkelanjutan juga mampu menurunkan ketergantungan Indonesia terhadap diesel impor sehingga dapat menghemat devisa impor (PASPI, 2020g). Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia dengan produk sawit dan program B30 akan menciptakan surplus. Hal tersebut terkonfirmasi dari
surplusnya total nilai neraca perdagangan Indonesia sebesar USD 11.08 miliar selama periode Januari-Agustus 2020 (Sipayung, 2020).
Manfaat ekonomi sawit juga dinikmati masyarakat global seperti masyarakat Uni Eropa. Impor CPO yang dilakukan memberi manfaat besar baik terhadap GDP, penerimaan pemerintah maupun kesempatan kerja Uni Eropa (Europe Economics, 2014). Industri sawit nasional yang menyediakan minyak nabati dan produk pangan berbasis sawit yang bernutrisi dengan harga yang lebih kompetitif juga berkontribusi terhadap penghapusan kelaparan dan perbaikan gizi khususnya pada negara- negara dengan tingkat perekonomian yang rendah, seperti Afrika.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa industri sawit nasional mampu menjadi solusi bagian dari pencapaian SDGs aspek ekonomi khsusnya pada SDG-1;
SDG-2; SDG-7; SDG-8; SDG-9; SDG-10; dan SDG-12.
Aspek Sosial. Kontribusi industri minyak sawit dalam aspek sosial juga telah terbukti secara empiris antara lain peranannya dalam pembangunan pedesaan melalui perbaikan kualitas kehidupan dan pengurangan kemiskinan (Sumarto dan Suryahadi, 2004; Susila, 2004;
Gunadi, 2008; World Growth, 2009, 2011; Amzul, 2011;
Joni, 2012; Rofiq, 2013; PASPI, 2014). Sebagai sektor pioneer di daerah pelosok, perkebunan kelapa sawit juga meningkatkan ketersediaan infrastruktur pedesaan seperti fasilitas pendidikan dan kesehatan maupun meningkatkan akses terhadap sumber air dan sanitasi lingkungan.
Selain mengurangi ketimpangan, perkembangan perkebunan sawit di pelosok daerah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis di kawasan pedesaan (PASPI, 2020e), seperti yang terjadi di 50 kawasan pertumbuhan baru di pedesaan berbasis ekonomi minyak sawit antara lain: Sungai Bahar (Jambi), Pematang Panggang dan Peninjauan (Sumatera Selatan), Arga Makmur (Bengkulu), Sungai Pasar dan Lipat Kain (Riau),
Paranggean (Kalimantan Tengah) dan kawasan lain. Hal ini menunjukkan kontribusi sawit untuk membangun daerah secara inklusif dan berkelanjutan.
Di bidang gender, perkebunan sawit dan industri hilirnya memberikan peluang dan “tempat” atas partisipasi wanita untuk berkarir di bidang perkelapasawitan sekaligus juga dengan mengakui hak-hak dasar wanita seperti cuti haid dan cuti melahirkan. Partisipasi rakyat sebagai petani sawit dalam sebuah kemitraan yang digagas oleh perusahaan perkebunan selain sebagai bentuk dalam rangka menciptakan manfaat ekonomi yang inklusif tetapi juga dalam rangka meminimalisir konflik sosial yang terjadi sehingga perdamaian di sekitar wilayah perkebunan dapat terjaga (PASPI, 2020i).
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa industri sawit nasional mampu menjadi solusi bagian dari pencapaian SDGs aspek sosial khsusnya pada SDG-3; SDG- 4; SDG-5; SDG-6; SDG-11; dan SDG-16.
Aspek Lingkungan. Berbagai studi dan penelitian juga membuktikan bahwa peranan ekologis dari perkebunan sawit mencakup pelestarian daur karbon dioksida dan oksigen (proses fotosintesis, yakni menyerap karbon dioksida dari atmosfer bumi dan menghasilkan oksigen ke atmosfer bumi), restorasi degraded land konservasi tanah dan air, peningkatan biomas dan karbon stok lahan, mengurangi emisi gas rumah kaca/restorasi lahan gambut.
Setiap hektar perkebunan kelapa sawit menyerap karbon dioksida dari atmosfer bumi sebesar 161 ton/ha dan menghasilkan oksigen 18.7 ton/ha (Henson, 1999; Harahap et al., 2005; Fairhurst dan Hardter, 2004). Perkebunan kelapa sawit juga meningkatkan biomas (bahan organik) lahan yang makin meningkat dengan makin tua tanaman (Chan, 2002). Perkebunan kelapa sawit di lahan gambut juga menurunkan emisi gas rumah kaca (Murayama dan Baker, 1996; Melling et al., 2005, 2007; Sabiham, 2013).
Dari segi peranan tata air berbagai indikator hidrologis seperti evapotranspirasi, cadangan air tanah, penerusan
curah hujan ke permukaan tanah, laju infiltrasi lapisan solum dan kelembaban udara (Hanson, 1999; Harahap et al., 2005) antara perkebunan kelapa sawit dengan hutan adalah relatif sama.
Selain melalui perannya sebagai “paru-paru ekosistem”, industri sawit juga berkontribusi terhadap penurunan emisi dan pencegahan perubahan iklim melalui pengembangan biofuel berbasis sawit yang rendah emisi dan berkelanjutan. Industri sawit mampu menghasilkan energi biofuel generasi pertama (biodiesel dan biohidrokarbon/greenfuel) dari minyak sawit, energi
biofuel generasi kedua
(biopremium/biogasoline/bioethanol, biopelet, biogas/biolistrik, biobara) dari biomassa sawit, dan energi biofuel generasi ketiga (biogas/biolistrik dan biodiesel algae) dari POME (PASPI, 2020a).
Dalam perannya terkait konservasi sumberdaya perairan, tanaman kelapa sawit dikenal sebagai tanaman yang paling efisien dan hemat dalam penggunaan pupuk (nitrogen dan phospate) dan pestisida/herbisida, jika dibandingkan tanaman minyak nabati lainnya seperti kedelai dan rapeseed. Implikasi dari efisiensi penggunaan input menyebabkan untuk menghasilkan satu ton minyak sawit, polusi/residu yang dibuang ke perairan juga lebih rendah (PASPI, 2020f). Selain itu, minyak sawit dan biomaterialnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku untuk memproduksi bioplastik yang lebih ramah lingkungan karena sifatnya yang biodegradable, mengingat plastik menjadi sampah utama yang mengotori perairan. Sehingga dengan dikembangkannya bioplastik sawit, diharapkan mampu mengurangi polusi/sampah perairan.
Industri sawit nasional juga telah berpartisipasi dalam pengelolaan biodiversitas dan konservasi daratan (hutan).
Hal tersebut dapat dilihat dari upaya perusahaan perkebunan sawit yang selalu menyisakan bagian lahan HGU-nya untuk dijadikan sebagai High Carbon Stock (HCS)
dengan flora dan fauna asli daerah tersebut (endemik).
Perusahaan perkebunan sawit juga turut berpartisipasi melalui lembaga NGO yang memfasilitasi konservasi biodiversitas, misalnya konservasi orangutan di Kalimantan. Selain itu, melalui perbaikan tata kelola seperti penguatan ISPO dan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), dapat menjadi solusi peningkatan produksi minyak sawit melalui intensifikasi tanpa melakukan ekstensifikasi (penambahan luas areal) sehingga dapat menurunkan laju deforestasi.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa industri sawit nasional mampu menjadi solusi bagian dari pencapaian SDGs aspek lingkungan yakni pada SDG-13;
SDG-14; dan SDG-15.
Kontribusi industri sawit terhadap pencapaian 16 SDGs yang telah diuraikan diatas berasal dari kajian studi/penelitian empiris yang telah dilakukan oleh para peneliti. Mengingat pentingnya informasi untuk mengetahui kontribusi industri sawit terhadap SDGs sebagai bahan promosi sawit untuk meningkatkan keberterimaan di pasar global serta menjadi “senjata”
untuk melawan kampanye negafif dan kebijakan yang mendiskriminasi sawit, maka penelitian mengenai topik tersebut dengan menggunakan data komprehensif yang ter-update (dari hulu hingga hilir) dan pendekatan (metode analisis) yang komprehensif sangat dibutuhkan.
Oleh karena itu, pemerintah melalui BPDPKS dengan memanfaatkan dana riset sawitnya dapat sesegera mungkin melakukan penelitian dengan topik tersebut
Kesimpulan
Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan platform pembangunan global yang telah diadopsi oleh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Seluruh sektor pembangunan baik pada level daerah maupun
nasional harus berkontribusi terhadap pencapaian tujuan yang terdapat dalam SDGs tersebut. Industri sawit sebagai salah satu sektor strategis Indonesia juga telah membuktikan dirinya sebagai bagian dari solusi pencapaian SDGs melalui kontribusi baik dalam aspek ekonomi, sosial maupun lingkungan.Berdasarkan penelitian empiris menunjukkan industri sawit telah berkontribusi pada pencapaian 16 tujuan dari 17 tujuan SDGs baik pada tingkat lokal/regional, nasional bahkan tingkat dunia.
Besarnya kontribusi industri kelapa sawit terhadap pencapaian dan perwujudan SDGs secara global dapat dijadikan sebagai “bahasa” dalam rangka kampanye dan promosi nilai positif sawit yang memiliki implikasi lebih lanjut terkait dengan peningkatan keberterimaan dunia, mengingat SDGs merupakan norma global (global value) yang diakui secara internasional. Selain itu, “bahasa” ini juga dapat dijadikan sebagai “senjata” untuk melawan kampanye negafif dan kebijakan yang mendiskriminasi sawit.
INDUSTRI SAWIT BUKAN INDUSTRI YANG EKSTRAKTIF*
RESUME
Tidak seperti sektor pertambangan, sektor migas, sektor logging atau sektor lain yang bersifat ekstraktif dan mengeksploitasi sumberdaya alam di suatu daerah, sebaliknya industri sawit adalah industri yang non-ekstraktif dan lebih sustainable. Pada tingkat perkebunan, produski minyak sawit diperoleh melalui budidaya. Proses budidaya tersebut juga memanfaatkan manajemen kebun yang baik serta ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi sehingga kinerja produktivitas kebunnya dalam menghasilkan minyak lebih tinggi dan lebih berkelanjutan. Faktor keterbatasan lahan, implementasi moratorium dan tuntutan konsumen global terkait kelestarian lingkungan, menjadi argumen peningkatan produktivitas (intensifikasi) sebagai arah pengembangan industri kelapa sawit nasional ke depan, khususnya di level hulu.
Metode peningkatan produktivitas (intensifikasi) yang dapat dicapai dengan tiga cara yakni: perbaikan kultur teknis (GAP) dengan mengadopsi paket teknologi Sawit 4.0;
replanting dan kombinasi keduanya. Metode ketiga adalah metode yang akan menghasilkan peningkatan produktivitas total (total factor productivity) secara berkesinambungan dan menjadi sebuah milestone baru dalam memajukan industri sawit, sekaligus untuk tetap mempertahankan Indonesia posisi Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia.
Bukti lainnya yang menunjukkan industri sawit bukan industri yang ekstraktif yakni pengembangan industri hilir yang mampu mengolah minyak sawit dan biomaterialnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi. Saat ini, jalur hilirisasi sawit terbagi menjadi tiga, yaitu: oleofood complex, oleochemical complex dan biofuel complex. Perkembangan hilirisasi tersebut juga mampu
menciptakan multiplier effect yang lebih besar sehingga mampu meningkatkan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hilirisasi juga merupakan bentuk demand management untuk mengatasi kelebihan stok minyak kelapa sawit di pasar dunia sehingga risiko penurunan harga dapat dikendalikan (stabiliasasi harga). Selain itu melalui hilirisasi yang mampu menghasilkan produk hilir berbasis kelapa sawit yang memiliki nilai ekonomi tinggi, efisien, berdaya saing dan berkelanjutan akan semakin mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain global dalam pasar dunia.
Kedepannya, diharapkan melalui peneltian akan menghasilkan inovasi produk-produk berbasis sawit dari ketiga jalur tersebut yang mampu menjadi solusi untuk menjawab permasalahan dan kebutuhan masyarakat global.
*) Dimuat pada Palm O’ Journal PASPI, Volume I No. 32/2020
Pendahuluan
Pihak anti sawit menganggap industri sawit sebagai salah satu sektor ekonomi yang bersifat ekstraktif dan mengeksploitasi alam. Nyatanya, mereka yang menuduhkan hal tersebut tidak mengerti dengan arti kata
“ekstraktif”. Meskipun definisi dari industri ekstraktif cukup beragam, namun secara umum industri yang ekstraktif dapat didefinisikan sebagai industri yang hanya mengambil sumberdaya alam untuk dimanfaatkan secara komersial. Industri/sektor yang termasuk sebagai industri yang ekstraktif misalnya pertambangan, migas, logging.
Dari definisi tersebut sudah sangat jelas bahwa industri sawit bukan termasuk industri yang ekstraktif.
Sektor hulu industri sawit yakni perkebunan, untuk memproduksi minyak sawit diperoleh melalui budidaya tanaman dengan menggunakan manajemen kebun yang baik serta memanfaatkan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi. Selain itu untuk semakin meningkatkan keuntungan bisnis, pelaku industri sawit tidak terus melakukan ekspansi lahan untuk meningkatkan produksi minyaknya, namun mereka mengintegrasikan perkebunannya dengan industri hilir untuk memproduksi produk turunannya yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Sama seperti pada proses budidaya di perkebunan sawit, industri hilir juga memanfaatkan manajemen yang baik serta teknologi dan ilmu pengetahuan untuk menghasilkan berbagai inovasi produk yang dapat memenuhi kebutuhan atau menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh manusia.
Hal ini menunjukkan industri sawit baik pada level hulu maupun hilir bukan sebagai sektor/industri yang ekstraktif, bahkan sebaliknya dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat industri ini bersifat non-ekstraktif dan lebih sustainable. Seiring dengan perbaikan tata kelola industri sawit nasional yang terus dilakukan oleh para stakeholder sawit akan semakin
membuktikan bahwa industri sawit bukanlah industri yang ekstraktif. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mendiskusikan arah pengembangan industri sawit di masa depan yang semakin membuktikan industri sawit sebagai sektor yang non-ekstraktif.
Bukti Non-Ekstraktif Di Level Perkebunan:
Peningkatan Produktivitas Minyak Sawit Untuk menghasilkan minyak sawit dapat dilakukan melalui kombinasi peningkatan luas areal (ekstensifikasi) dan peningkatan produktivitas minyak per hektar (intensifikasi). Namun, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi serta efisiensi biaya, peningkatan produktivitas menjadi pilihan terbaik untuk meningkatkan produksi minyak sawit. Faktor keterbatasan lahan, implementasi moratorium perkebunan sawit (Inpres Nomor 8 Tahun 2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Perkebunan Kelapa Sawit serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit) serta tuntutan konsumen global terkait kelestarian lingkungan, menjadi argumen tambahan terkait arah pengembangan industri kelapa sawit nasional ke depan di sektor hulu dalam rangka peningkatan produksi minyak dilakukan melalui peningkatan produktivitas (intensifikasi) karena lebih sustainable.
Rata-rata produktivitas sawit nasional mengalami peningkatan dari 3.53 ton per hektar menjadi 3.67 ton per hektar selama periode tahun 2011-2018 (Gambar 3.1). Jika dibandingkan dengan perusahaan perkebunan, tingkat produktivitas perkebunan sawit rakyat (PBR) paling rendah, namun mengalami peningkatan dari 3.29 ton per hektar menjadi 3.37 ton per hektar. Produktivitas perkebunan sawit negara (PBN) mengalami peningkatan dari 3.78 ton per hektar menjadi 4.02 ton per hektar.
Sementara itu, produktivitas perkebunan kelapa sawit
swasta (PBS) menunjukkan peningkatan dari 3.68 ton per hektar menjadi 3.84 ton per hektar.
Gambar 3.1 Perkembangan Produktivitas Minyak Sawit (Sumber : Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, 2020)
Rata-rata produktivitas perkebunan sawit di Indonesia masih dibawah dari produktivitas potensial standar lembaga riset Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang mampu menghasilkan rata-rata produktivitas mencapai 7.8 ton per hektar. Tantangan pengelolaan perkebunan kelapa sawit ke depan adalah untuk meningkatkan produktivitas (baik di perkebunan maupun PKS) mendekati potensi standar sehingga dapat menjamin keberlanjutan suplai minyak sawit Indonesia. Dari sudut ekonomi ada dua cara untuk menaikkan produktivitas sawit Indonesia (Gambar 3.2).
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Rakyat 3.29 3.24 3.24 3.19 3.15 3.15 3.17 3.37 Negara 3.78 4.15 4.15 3.77 3.88 3.80 3.35 4.02 Swasta 3.68 4.04 4.04 3.76 3.91 3.95 4.00 3.84 Nasional 3.53 3.72 3.54 3.60 3.63 3.59 3.63 3.67
0.50 - 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50
ton/hektar
Gambar 3.2 Peningkatan Produktivitas Akibat Perbaikan Kultur Teknis (P2 dan P4) dan Total Factor Productivity (P3)
Cara pertama adalah melalui peningkatan produktivitas parsial (partial factor productivity) kebun sawit (termasuk PKS) pada tanaman menghasilkan (TM) yang ada yakni menggeser kurva produktivitas kebun sawit saat ini (P1) ke kurva produktivitas baru (P2). Dalam prakteknya, cara pertama ini dilakukan melalui perbaikan kultur teknis (Good Agricultural Practices/GAP) kebun TM (eksisting) atau yang masih berada dalam umur ekonomis tanaman. GAP juga merupakan bentuk aplikasi dan diseminasi paket teknologi sawit yang mengatur penggunaan input (pupuk dan pestisida/herbisida) dengan prinsip 4T (tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat cara) untuk mencapai produktivitas yang optimal dan ramah lingkungan.
Inovasi teknologi budidaya sawit yang sedang dikembangkan dan sudah mulai diimplementasi di tingkat perkebunan adalah Sawit 4.0 yang memanfaatkan digitalisasi (Big Data, Artificial Intelegence (AI), Internet of Things (IoT), Robotic dan Sensory) pada pengelolaan kebun (pemupukkan, pengendalian hama, pemanenan) hingga pemrosesan untuk menghasilkan produktivitas/rendemen minyak yang tinggi pada PKS.
UMUR TM SAWIT (TAHUN)
PRODUKTIVITAS (TON CPO/HA)
P4 P3 P2 P1
Cara kedua adalah peremajaan (replanting) yakni proses penggantian tanaman yang tidak produktif lagi atau sudah lewat umur ekonomisnya (lebih dari 25 tahun) dengan menggunakan bibit unggul. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sebagai salah satu produsen bibit juga telah memproduksi varietas bibit unggul dengan potensi produksi CPO dengan kisaran 8.2 ton/ha/tahun hingga 10.2 ton/ha/tahun (PPKS, 2020). Agar mencapai komposisi tanaman yang ideal, standar dilakukannya replanting setiap tahun sebesar 4 persen dari luas kebun.
Sehingga secara nasional dengan luas areal 14.3 juta hektar (Ditjenbun, 2020), diharapkan akan ada sekitar 573 ribu hektar kebun yang di-replanting setiap tahun. Melalui cara kedua ini akan menggeser kurva produktivitas dari P1 ke P3.
Kombinasi dari kedua cara tersebut yakni perbaikan kultur teknis pada umur tanaman menghasilkan dan replanting dengan menggunakan bibit unggul, akan menghasilkan peningkatan produktivitas total (total factor productivity) secara berkesinambungan. Kombinasi cara ini akan menggeser kurva produktivitas total dari P1 ke P4 dan seterusnya. Dengan demikian, program replanting yang disertai juga dengan implementasi kultur teknis (GAP) adalah sebuah milestone baru dalam memajukan industri sawit Indonesia. Metode ini sangat relevan untuk dilaksanakan seiring dengan adanya kebijakan moratorium, sekaligus menjadi momen “naik kelas” untuk mendukung keberlanjutan perkebunan sawit Indonesia.
Momentum peremajaan sangat penting dalam upaya mempertahankan posisi strategis kelapa sawit Indonesia dan upaya memenuhi aspek keberlanjutan (sustainability) sehingga membutuhkan perhatian pemerintah.
Perkebunan sawit rakyat yang merupakan salah satu aktor penting dalam industri sawit nasional, namun kinerja produktivitas kebunnya paling rendah dibandingkan dengan perusahaan perkebunan, perlu dibantu untuk melaksanakan program peremajaan.
Oleh karena itu, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) memberikan bantuan dana melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Hal ini dikarenakan salah satu hambatan yang dihadapi petani sawit rakyat untuk melakukan peremajaan adalah keterbatasan modal atau akses untuk mendapatkan kredit. Bantuan dana PSR yang diterima petani juga mengalami peningkatan dari Rp 25 juta per hektar menjadi Rp 30 juta per hektar (PASPI, 2020a). Bantuan dana tersebut menjadi insentif bagi petani sawit untuk melakukan peremajaan kebun sawitnya sehingga diharapkan realisasi luas kebun sawit rakyat yang berhasil di-replanting dapat mencapai target yakni seluas 180 ribu hektar setiap tahun.
Bukti Non-Ekstraktif Di Level Industri:
Pengembangan Hilirisasi Berbasis Minyak Sawit Dan Biomaterial
Indonesia telah berhasil menjadi produsen CPO terbesar di dunia sejak tahun 2006. Strategi selanjutnya adalah menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai “raja”
CPO dunia, namun juga menjadi “raja produk hilir” di masa depan. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui pengembangan industri hilir berbasis kelapa sawit. Selain itu, untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi, pelaku industri sawit tidak hanya mengekspor dalam bentuk minyak sawit, namun strategi yang diambil adalah pengembangan industri hilir yang memanfaatkan minyak maupun biomaterial dan limbah untuk diolah menjadi produk. Berbagai kebijakan pemerintah seperti penerapan pajak ekspor (Bea Keluar dan Pungutan Ekspor) maupun kebijakan insentif pajak industri, juga turut andil dalam pengembangan industri hilir sawit dalam negeri.
Minyak sawit adalah minyak nabati yang multiguna sehingga pengaplikasian untuk dikembangkan menjadi produk sangat luas. Saat ini, jalur hilirisasi sawit terbagi menjadi tiga, yaitu: oleofood complex, oleochemical complex dan biofuel complex. Pertama, jalur oleofood complex yakni perluasan dan pendalaman industri-industri hilir minyak sawit (termasuk minyak inti sawit) dan biomaterialnya untuk menghasilkan produk pangan dan kesehatan baik dalam bentuk antara (intermediate) dan produk akhir (final product), contoh produk yang dihasilkan dari jalur ini antara lain: minyak goreng sawit (MGS), margarin, shortening, ice cream, creamer, cocoa butter/specialty-fat;
serta produk kesehatan (micronutrient) seperti Vitamin A dan E, asam lemak esensial.
Kedua, jalur oleochemical complex yakni yakni perluasan dan pendalaman industri-industri hilir minyak sawit (termasuk minyak inti sawit) dan biomaterialnya untuk menghasilkan produk oleokimia baik dalam bentuk antara (intermediate) dan produk akhir (final product), contoh produk yang dihasilkan dari jalur ini antara lain:
biosurfaktan (misalnya: produk personal care seperti sabun, shampo, kosmetik, skincare; produk higenitas dan sanitasi seperti detergen), biolubrikan/biopelumas, bioplastik dan produk lainnya.
Ketiga, jalur biofuel complex yakni yakni perluasan dan pendalaman industri-industri hilir minyak sawit (termasuk minyak inti sawit) dan biomaterialnya untuk menghasilkan produk bioenergi sebagai alternatif pengganti energi fosil, contoh produk yang dihasilkan dari jalur ini antara lain: biodiesel, biohidrokarbon, bioethanol, biogas, biolistrik.
Hilirisasi mampu menciptakan multiplier effect berbasis kegiatan produktif seperti penyerapan tenaga kerja, bertumbuhnya industri pendukung dan jasa industri, meningkatkan pendapatan negara dan “menyehatkan”
neraca perdagangan (produksi devisa ekspor dan penghematan devisa impor) sehingga mampu