PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA DAN MENULIS PERM ULAAN DEN GAN ALAT PERAGA KARTU HURUF
PADA ANAK KELOMPOK A TK DHARMA WANITA V BATURAN, COLOMADU, KARANGANYAR
TAHUN AJARAN 2011/2012
SKRIPSI
OLEH : ANISA FEBRIYANI
NIM X8110002
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA November 2012
commit to user
ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Anisa Febriyani
NIM : X8110002
Jurusan/Program Studi : FKIP/Ilmu Pendidikan/PG-PAUD
Menyatakan bahwa skripsi saya berjudul “PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN DENGAN ALAT PERAGA KARTU HURUF PADA ANAK KELOMPOK A TK DHARMA WANITA V BATURAN, COLOMADU, KARANGANYAR TAHUN AJARAN 2011/2012” ini benar-benar merupakan hasil karya sendiri.
Selain itu, sumber informasi yang telah dikutip telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.
Surakarta, November 2012 Yang membuat pernyataan
Anisa Febriyani X8110002
commit to user
PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA DAN MENULIS PERM ULAAN DEN GAN ALAT PERAGA KARTU HURUF
PADA ANAK KELOMPOK A TK DHARMA WANITA V BATURAN, COLOMADU, KARANGANYAR
TAHUN AJARAN 2011/2012
Oleh:
ANISA FEBRIYANI X8110002
Skripsi
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Guru Anak Usia Dini
Jurusan Ilmu Pendidikan
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PRNDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA November 2012
commit to user
iv
commit to user
commit to user
vi ABSTRAK
Anisa Febriyani. PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN DENGAN ALAT PERAGA KARTU HURUF PADA ANAK KELOMPOK A TK DHARMA WANITA V BATURAN, COLOMADU, KARANGANYAR TAHUN AJARAN 2011/2012, Skripsi.
Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, September. 2012.
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran keterampilan membaca dan menulis permulaan dengan alat peraga kartu huruf pada anak kelompok A TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar Tahun Ajaran 2011/2012.
Bentuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari rencana, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah anak kelompok A TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar Tahun Ajaran 2011/2012 dengan jumlah 19 anak. Pengumpulan data menggunakan metode yaitu observasi, dokumentasi, dan penugasan. Analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga kartu huruf dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran keterampilan membaca dan menulis permulaan pada anak kelompok A TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar Tahun Ajaran 2011/2012. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil belajar dan ketuntasan anak yang terus meningkat. Ketuntasan pada kondisi awal sebanyak 4 anak (21,05%), pada akhir siklus I sebanyak 13 anak (68,42%) dan 12 anak (63,15%), dan pada akhir siklus II sebanyak 16 anak (84,21%) dan 16 anak (84,21%). Hal ini menunjukkan ketercapaian indikator yang ditargetkan oleh peneliti yaitu 80%, sedangkan hasil penelitian menunjukkan ketuntasan anak 84,21%.
Simpulan dalam penelitian ini adalah penggunaan alat peraga kartu huruf dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran keterampilan membaca dan menulis permulaan anak kelompok A TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar Tahun Ajaran 2011/2012.
Kata kunci : Alat peraga katu huruf, keterampilan membaca dan menulis permulaan, anak taman kanak-kanak.
commit to user
ABSTRACTAnisa Febriyani. Improved reading and writing skills beginning with the letter cards props at kindergarten of group A Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar in the Academic year of 2011/2012. Skripsi: The Faculty of Teacher Training and Education, Sebelas Maret University, Surakarta, September. 2012.
The objective of the research are to improve the quality of the learning process and outcomes reading and writing skills beginning with the letter cards props at kindergarten of group A Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar in the Academic year of 2011/2012.
The research used is a classroom action research. It was conducted in two cycles and each cycle consisted of four phases, namely: planning, implementation, observation, and reflection. The subjects of the research were 19 students of group A students in the Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar kindergarten in the academic year of 2011/2012.
The data of the research were gathered through observation, documentation, and assignment. The data of the research were analyzed by using an interactive analysis consisting of three components, namely: data reduction, data display, and conclusion drawing.
The results show that the used of props letter cards can improve the quality of the learning process and outcomes reading and writing skills beginning with the letter cards props at kindergarten of group A Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar in the Academic year of 2011/2012. It can be seen from the result of learning and mastery children continues to rise. Thoroughness of the initial conditions by 4 children (21,05%), at the end of cycle I were 13 children (68,42%) and 12 children (63,15%), and at the end of cycle II as many as 16 children (84,21%) and 16 children (84,21%). It demonstrates achievement indicators targeted by investigators as 80%, while the results showed 84,21%
mastery child.
Keyword : card props letter, beginning reading and writting skills, children kindergarten.
commit to user
viii MOTTO
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Terjemahan Q.S.
Ar-Ra’d : 11)
commit to user
PERSEMBAHANTeriring syukurku pada-Mu ya Allah, kupersembahkan karya ini untuk :
Ibu dan Bapak tersayang
Terima kasih atas doa yang tak pernah putus, semangat dan dorongan yang tiada henti.
Suamiku tersayang
Terima kasih karena selalu mendukungku.
Anakku tercinta Syakira
Terima kasih selalu disamping menemani langkah mama dengan senyuman semangat.
Almamater dan teman-taman seperjuangan S-1 Transfer PAUD FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.
commit to user
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “Peningkatan Keterampilan Membaca dan Menulis Permulaan dengan Alat Peraga Kartu Huruf pada Anak Kelompok A TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar Tahun Ajaran 2011/2012.”
Skripsi ini disusun guna memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Strata I (S1) PG-PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Tersusunnya skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, dan pada kesempatan ini perkenankan penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP UNS.
3. Ketua Program Studi PG-PAUD Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP UNS.
4. Sekretaris Program Studi PG-PAUD Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP UNS.
5. Prof.Dr.Retno Winarni, MPd., selaku Pembimbing I, yang telah memberikan bimbingan, arahan, saran serta dorongan sehingga tersusun skripsi ini.
6. Yudianto Sujana, S.Kom, M.Kom., selaku Pembimbing II, yang telah memberikan bimbingan, arahan, saran dan dorongan sehingga tersusun skripsi ini.
7. Bapak dan Ibu dosen Program Studi PG-PAUD FKIP UNS yang telah memberikan bekal pengetahuan kepada penulis dalam penyusunan skripsi.
8. Sri Wahyuni, S.Pd., selaku Kepala TK Dharma Wanita V Baturan Kecamatan Colomadu, yang telah memberikan ijin penelitian.
9. Ibu guru TK Dharma Wanita V Baturan Kecamatan Colomadu.
10. Siswa siswi kelompok A.2 TK Dharma Wanita V Baturan Kecamatan Colomadu.
commit to user
11. Semua pihak yang telah membantu penulis, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Semoga budi baik semua pihak mendapatkan imbalan yang berlipat ganda dari Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan. Untuk itu, dengan senang hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk masukan yang berguna bagi penulis di masa mendatang.
Akhir kata, dengan segala kerendahan hati, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.
Surakarta, Oktober 2012 Penulis
commit to user
xii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERNYATAAN ... ii
HALAMAN PENGAJUAN ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v
HALAMAN ABSTRAK ... vi
HALAMAN MOTTO ... viii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
BAB II LANDASAN TEORI ... 6
A. Tinjauan Pustaka ... 6
1. Hakikat Keterampilan Membaca dan Menulis Permulaan ... 6
a. Pengertian Membaca ... 6
b. Tahap-tahap Membaca ... 7
c. Pengertian Menulis ... 8
d. Tahap-tahap Menulis ... 9
e. Membaca Permulaan ... 10
f. Teknik Membaca Permulaan ... 11
g. Menulis Permulaan ... 12
h. Metode Menulis Permulaan ... 13
commit to user
2. Hakikat Pengembangan Bahasa ... 13
a. Pengertian Bahasa ... 13
b. Perkembangan Bahasa pada Anak Taman Kanak-kanak ... 14
c. Prinsip-prinsip Pengembangan Kemampuan Berbahasa Anak ... 15
3. Hakikat Alat Peraga Kartu Huruf ... 17
a. Pengertian Alat Peraga ... 17
b. Pengertian Kartu Huruf ... 18
c. Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Alat Peraga ... 19
B. Penelitian Yang Relevan ... 19
C. Kerangka Berpikir ... 20
D. Hipotesis ... 23
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 24
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 24
1. Tempat Penelitian ... 24
2. Waktu Penelitian ... 24
B. Subjek Penelitian ... 24
C. Sumber Data ... 25
D. Teknik Pengumpulan Data ... 25
1. Teknik observasi/pengamatan ... 25
2. Teknik dokumentasi dan perekaman foto ... 26
3. Penugasan ... 26
E. Validasi Data ... 27
F. Teknik Analisis Data ... 27
G. Indikator Kinerja ... 29
H. Prosedur Penelitian ... 30
BAB IV HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN ... 36
A. Deskripsi Pratindakan ... 36
B. Deskripsi Hasil Tindakan Tiap Siklus ... 39
C. Perbandingan Hasil Tindakan Tiap Siklus ... 98
D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 103
commit to user
xiv
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ... 105
A. Simpulan ... 105
B. Implikasi ... 105
C. Saran ... 106 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
commit to user
DAFTAR GAMBARHalaman
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ... 22
Gambar 3.1 Teknik Analisis Deskriptif Interaksi ... 29
Gambar 3.2 Bagan Prosedur Penelitian ... 31
Gambar 4.1 Histogram Data Nilai Pra Siklus ... 38
Gambar 4.2 Histogram Data Nilai Siklus I Kegiatan 1 ... 69
Gambar 4.3 Histogram Data Nilai Siklus I Kegiatan 2 ... 70
Gambar 4.4 Histogram Data Nilai Siklus II Kegiatan 1 ... 97
Gambar 4.5 Histogram Data Nilai Siklus II Kegiatan 2 ... 98
Gambar 4.6 Diagram Batang Perbandingan Ketuntasan Nilai Pra siklus, Siklus I, dan Siklus II Kegiatan 1 ... 102
Gambar 4.7 Diagram Batang Perbandingan Ketuntasan Nilai Pra siklus, Siklus I, dan Siklus II Kegiatan 2 ... 102
Gambar 1 Alat Peraga Kartu Huruf ... 195
Gambar 2 Tanya Jawab Menggunakan Kartu Huruf ... 196
Gambar 3 Tanya Jawab Menggunakan Kartu Huruf ... 196
Gambar 4 Anak Mengerjakan LKA ... 196
Gambar 5 Guru Mendampingi Anak Mengerjakan LKA ... 196
Gambar 6 Kegiatan Anak Lomba Merangkai dan Membaca Kata dengan Kartu Huruf ... 197
Gambar 7 Kegiatan Anak Lomba Merangkai dan Membaca Kata dengan Kartu Huruf ... 197
Gambar 8 Kegiatan Anak Saat Mengerjakan LKA ... 197
Gambar 9 Guru Mendampingi Anak Bermain Kartu Huruf ... 197
Gambar 10 TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar ... 198
Gambar 11 Ruang Kantor... 198
Gambar 12 Ruang Kelas... 198
commit to user
xvi
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.2 Indikator Kinerja Penelitian ... 30
Tabel 4.1 Data Nilai Pengamatan Anak Prasiklus ... 37
Tabel 4.2 Tingkat Keberhasilan Anak Prasiklus ... 38
Tabel 4.3 Data Nilai Anak Kegiatan 1 Siklus I Pertemuan 1 ... 42
Tabel 4.4 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 1 Siklus I Pertemuan 1 ... 43
Tabel 4.5 Data Nilai Anak Kegiatan 2 Siklus I Pertemuan 1 ... 44
Tabel 4.6 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 2 Siklus I Pertemuan 1 ... 45
Tabel 4.7 Data Nilai Anak Kegiatan 1 Siklus I Pertemuan 2 ... 49
Tabel 4.8 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 1 Siklus I Pertemuan 2 ... 50
Tabel 4.9 Data Nilai Anak Kegiatan 2 Siklus I Pertemuan 2 ... 51
Tabel 4.10 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 2 Siklus I Pertemuan 2 ... 52
Tabel 4.11 Data Nilai Anak Kegiatan 1 Siklus I Pertemuan 3 ... 56
Tabel 4.12 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 1 Siklus I Pertemuan 3 ... 57
Tabel 4.13 Data Nilai Anak Kegiatan 2 Siklus I Pertemuan 3 ... 58
Tabel 4.14 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 2 Siklus I Pertemuan 3 ... 59
Tabel 4.15 Data Nilai Anak Kegiatan 1 Siklus I Pertemuan 4 ... 63
Tabel 4.16 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 1 Siklus I Pertemuan 4 ... 64
Tabel 4.17 Data Nilai Anak Kegiatan 2 Siklus I Pertemuan 4 ... 65
Tabel 4.18 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 2 Siklus I Pertemuan 4 ... 66
Tabel 4.19 Perbandingan Nilai Ketuntasan Anak Prasiklus dan Siklus I ... 68
Tabel 4.20 Perbandingan Tingkat Keberhasilan Kegiatan Awal dan Siklus I . 69 Tabel 4.21 Data Nilai Anak Kegiatan 1 Siklus II Pertemuan 1 ... 73
Tabel 4.22 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 1 Siklus II Pertemuan 1 ... 74
Tabel 4.23 Data Nilai Anak Kegiatan 2 Siklus II Pertemuan 1 ... 75
Tabel 4.24 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 2 Siklus II Pertemuan 1 ... 76
Tabel 4.25 Data Nilai Anak Kegiatan 1 Siklus II Pertemuan 2 ... 79
Tabel 4.26 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 1 Siklus II Pertemuan 2 ... 80
Tabel 4.27 Data Nilai Anak Kegiatan 2 Siklus II Pertemuan 2 ... 81
Tabel 4.28 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 2 Siklus II Pertemuan 2 ... 82
commit to user
Tabel 4.29 Data Nilai Anak Kegiatan 1 Siklus II Pertemuan 3 ... 85
Tabel 4.30 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 1 Siklus II Pertemuan 3 ... 86
Tabel 4.31 Data Nilai Anak Kegiatan 2 Siklus II Pertemuan 3 ... 87
Tabel 4.32 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 2 Siklus II Pertemuan 3 ... 88
Tabel 4.33 Data Nilai Anak Kegiatan 1 Siklus II Pertemuan 4 ... 91
Tabel 4.34 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 1 Siklus II Pertemuan 4 ... 92
Tabel 4.35 Data Nilai Anak Kegiatan 2 Siklus II Pertemuan 4 ... 93
Tabel 4.36 Tingkat Keberhasilan Kegiatan 2 Siklus II Pertemuan 4 ... 94
Tabel 4.37 Data Perbandingan Nilai Siklus II ... 96
Tabel 4.38 Perbandingan Tingkat Keberhasilan Siklus II ... 97
Tabel 4.39 Data Nilai Perbandingan Ketuntasan Anak Prasiklus, Siklus I dan Siklus II ... 99
Tabel 4.40 Perbandingan Kegiatan Awal, Siklus I dan Siklus II ... 100
commit to user
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran halaman
1. Daftar Nama Siswa ... 111
2. Evaluasi Kegiatan Anak Prasiklus ... 112
3. Rencana Kegiatan Harian Siklus I Pertemuan 1 ... 114
4. Bahan Ajar Siklus I Pertemuan 1 ... 116
5. Evaluasi Kegiatan Anak Siklus I Pertemuan 1 ... 119
6. Lembar Kerja Anak Siklus I Pertemuan 1 ... 123
7. Rencana Kegiatan Harian Siklus I Pertemuan 2 ... 124
8. Bahan Ajar Siklus I Pertemuan 2 ... 126
9. Evaluasi Kegiatan Anak Siklus I Pertemuan 2 ... 129
10. Lembar Kerja Anak Siklus I Pertemuan 2 ... 133
11. Rencana Kegiatan Harian Siklus I Pertemuan 3 ... 134
12. Bahan Ajar Siklus I Pertemuan 3 ... 136
13. Evaluasi Lembar Kerja Anak Siklus I Pertemuan 3 ... 139
14. Lembar Kerja Anak Siklus I Pertemuan 3 ... 143
15. Rencana Kegiatan Harian Siklus I Pertemuan 4 ... 144
16. Bahan Ajar Siklus I Pertemuan 4 ... 146
17. Evaluasi Kegiatan Anak Siklus I Pertemuan 4 ... 149
18. Lembar Kerja Anak Siklus I Pertemuan 4 ... 153
19. Rencana Kegiatan Harian Siklus II Pertemuan 1 ... 154
20. Bahan Ajar Siklus II Pertemuan 1... 156
21. Evaluasi Kegiatan Anak Siklus II Pertemuan 1 ... 159
22. Lembar Kerja Anak Siklus II Pertemuan 1 ... 163
23. Rencana Kegiatan Harian Siklus II Pertemuan 2 ... 164
24. Bahan Ajar Siklus II Pertemuan 2... 166
25. Evaluasi Kegiatan Anak Siklus II Pertemuan 2 ... 169
26. Lembar Kerja Anak Siklus II Pertemuan 2 ... 173
27. Rencana Kegiatan Harian Siklus II Pertemuan 3 ... 174
28. Bahan Ajar Siklus II Pertemuan 3... 176
commit to user
29. Evaluasi Kegiatan Anak Siklus II Pertemuan 3 ... 179
30. Lembar Kerja Anak Siklus II Pertemuan 3 ... 183
31. Rencana Kegiatan Harian Siklus II Pertemuan 4 ... 184
32. Bahan Ajar Siklus II Pertemuan 4... 186
33. Evaluasi Kegiatan Anak Siklus II Pertemuan 4 ... 189
34. Lembar Kerja Anak Siklus II Pertemuan 4 ... 193
35. Jadwal Penelitian... 194
36. Gambar Alat Peraga Kartu Huruf ... 195
37. Dokumentasi Siklus I ... 196
38. Dokumentasi Siklus II ... 197
39. Dokumentasi Lokasi ... 198
40. Surat-surat Perijinan Penelitian ... 199
commit to user
1BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan fisik yang ideal pada usia awal masa kanak-kanak adalah belajar keterampilan yang meliputi keterampilan tangan dan kaki. Keterampilan yang berkaitan dengan tangan diantaranya adalah kemampuan anak untuk bisa menggunakan sendok dan memasukkannya ke dalam mulut, memakai pakaiannya sendiri, menyisir rambut, menggunakan gayung dan memakai sabun untuk mandi, mengikat tali sepatunya maupun mengancing bajunya. Diharapkan saat anak masuk TK anak telah mampu melakukan hal di atas dengan baik. Pada usia 5-6 tahun dapat dengan tepat melempar dan menangkap bola. Anak juga diharapkan bisa terampil menggunting, menggoreskan pensil atau crayon, melipat kertas, membentuk dari lilin serta mengecat gambar dan pola tertentu.
Kesanggupan anak TK dalam belajar menulis belum tampak, karena pada tahapan ini anak baru akan mulai membuat tanda-tanda, dengan menggunakan alat-alat tulis seperti pensil, pensil warna, dan krayon. Mereka sedang memulai belajar tentang bahasa tulis, yaitu tahapan belajar mencoret-coret di buku, kertas, ataupun di papan tulis. Seperti nasehat SC Utami Munandar yang dikutip Soelastri (2001:63), mengatakan biarlah anak mencoret-coret sesukanya. Dengan cara itu kita mengenalkan huruf dan angka kepada anak secara dini. Pada setiap kesempatan anak TK belajar mencoba menulis. Ada anak yang belajar menulis mencoret-coret di tembok.
Pada awal masuk TK anak diajari oleh gurunya memegang pensil dengan benar. Barulah anak akan diajari menulis, yang pertama akan diajarkan yaitu dengan senam pensil. Dengan belajar mencoret-coret membentuk macam-macam garis, misalnya garis tegak, datar, miring dan lengkung, itu merupakan dasar anak belajar untuk menulis.
Tugas utama TK adalah mempersiapkan anak dengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap perilaku, keterampilan dan intelektual agar dapat melaksanakan adaptasi dengan kegiatan belajar yang sesungguhnya di sekolah
dasar. TK tidak mengemban tanggung jawab utama dalam membina kemampuan anak dalam membaca dan menulis. Substansi pembinaan kemampuan membaca dan menulis harus menjadi tanggung jawab utama lembaga pendidikan sekolah dasar.
Pola pemikiran tersebut tidak sesuai dengan kenyataannya dan terimplementasi dalam praktek kependidikan TK dan sekolah dasar di Indonesia.
Pergeseran tanggung jawab pengembanan kemampuan membaca dan menulis dari sekolah dasar ke TK terjadi dimana-mana. Banyak sekolah dasar seringkali mengajukan persyaratan atau tes masuk dengan menggunakan konsep akademik, terutama tes “membaca dan menulis”.
Mengajarkan membaca dan menulis di Taman Kanak-kanak dapat dilaksanakan selama dalam batas-batas aturan pengembangan pra-akademik serta mendasarkan diri pada prinsip dasar hakiki dari pendidikan TK sebagai sebuah taman bermain, sosialisasi, dan pengembangan berbagai kemampuan pra- akademik yang lebih substansial, seperti pengembangan kecerdasan emosi, motorik, disiplin/tanggung jawab, konsep diri, dan akhlak.
Hal yang perlu diperhatikan di dalam pembelajaran membaca dan menulis permulaan adalah mengenai penggunaan alat peraga kartu huruf yaitu alat peraga kartu huruf yang digunakan oleh guru itu sendiri. Kartu huruf adalah kartu huruf yang berbentuk lembaran-lembaran persegi yang bertuliskan huruf-huruf yang mudah dicerna anak.
Pada kenyataannya berdasarkan pengamatan peneliti pada lingkungan tempat tugas peneliti di TK Dharma Wanita V Baturan hampir rata-rata anak pada TK Dharma Wanita V Baturan belum mengenal huruf abjad dengan baik, pemahaman anak tentang huruf abjad masih ada yang terbolak-balik. Biasanya anak masih binggung membedakan huruf-huruf yang bentuknya mirip, misalnya antara huruf b dengan d, huruf m dengan n, atau huruf j dengan y. Ada juga anak yang masih binggung dengan pelafalan hurufnya, misalnya antara huruf b dan d, m dan n, j dan y, atau l dan r. Data yang diperoleh melalui pengamatan yaitu dengan melakukan tanya jawab untuk menyebutkan atau membaca huruf-huruf dan menulis huruf-huruf dalam proses pembelajaran membaca dan menulis
commit to user
sebelum tindakan, diperoleh informasi sebagai data awal (Lampiran 2 halaman 112) menunjukkan masih terdapat 12 anak atau 63,16% dari 19 anak yang belum tuntas (o) dengan kriteria nilai C. Kenyataan yang demikian dapat diindikasikan bahwa keterampilan membaca dan menulis anak masih kurang. Kondisi demikian dapat dijadikan sebagai landasan yang melatarbelakangi adanya upaya peningkatan pembelajaran keterampilan membaca dan menulis pada anak kelompok A TK Dharma Wanita V Baturan.
Dalam pelaksanaan pembelajaran guru mengenalkan huruf-huruf abjad hanya dengan menuliskannya di papan tulis dan bagaimana cara penulisannya.
Kalau model pembelajaran seperti ini dipertahankan, hampir dapat dipastikan hasil pembelajaran membaca dan menulis tidak akan pernah memuaskan, karena guru hanya menggunakan media papan tulis, sehingga terlihat kurang menarik dan anak kurang merespon dengan apa yang diajarkan oleh gurunya. Kecenderungan kemauan guru untuk melakukan perubahan masih sedikit. Keengganan untuk melakukan perubahan dalam pembelajaran ini karena keterbatasan guru terhadap alat peraga atau keterbatasan kreativitas dalam pembelajaran.
Oleh karena pentingnya keterampilan membaca dan menulis permulaan, penelitian ini akan menerapkan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga kartu huruf yang dibuat sedemikian rupa dengan kertas yang berwarna-warni.
Sehingga anak akan lebih tertarik untuk belajar mengenal huruf-huruf tersebut.
Dengan kartu huruf ini anak akan diperlihatkan huruf-huruf dari A-Z dan bagaimana cara penulisannya. Anak juga akan belajar merangkai huruf-huruf dengan menggunakan kartu huruf, mulai dari dua huruf, empat huruf, dan enam huruf. Anak diharapkan juga dapat menulis huruf-huruf A-Z dan menuliskan huruf-huruf tersebut menjadi kata-kata yang dapat dibaca.
Bertolak dari uraian di atas, penelitian ini berjudul “Peningkatan Keterampilan Membaca dan Menulis Permulaan dengan Alat Peraga Kartu Huruf pada Anak Kelompok A TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar Tahun Ajaran 2011/2012 ”.
B. Rumusan Masalah
Berpijak dari latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah penggunaan alat peraga kartu huruf dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran keterampilan membaca dan menulis permulaan pada anak kelompok A TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar Tahun Ajaran 2011/2012?
2. Apakah penggunaan alat peraga kartu huruf dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran keterampilan membaca dan menulis permulaan pada anak kelompok A TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar Tahun Ajaran 2011/2012?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak diraih dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran keterampilan membaca dan menulis permulaan dengan alat peraga kartu huruf pada anak kelompok A TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar Tahun Ajaran 2011/2012.
2. Untuk meningkatkan kualitas hasil pembelajaran keterampilan membaca dan menulis permulaan dengan alat peraga kartu huruf pada anak kelompok A TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar Tahun Ajaran 2011/2012.
D. Manfaat Penelitian
Ada dua macam manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini, yaitu manfaat secara teoritis dan manfaat secara praktis dengan uraiannya sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
Menambah khazanah pengetahuan mengenai pemanfaatan alat peraga kartu huruf untuk meningkatkan keterampilan membaca dan menulis permulaan.
commit to user
2. Manfaat PraktisSecara khusus penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :
a. Peserta didik
Pemberi pengalaman belajar yang berkesan dan bermakna, khususnya untuk meningkatkan keterampilan membaca dan menulis permulaan pada anak TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar.
b. Guru
Masukan untuk peningkatan pembelajaran yang kreatif dan inovatif di Taman Kanak-kanak serta peningkatan belajar mengajar sesuai kurikulum TK.
c. Sekolah
1) Dapat meningkatkan kualitas pendidikan tentang keterampilan anak dalam membaca dan menulis permulaan.
2) Memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah.
3) Perbaikan proses dan hasil belajar anak.
commit to user
BAB IILANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Hakikat keterampilan membaca dan menulis permulaan a. Pengertian membaca
Burns, Roe & Ross (1999) dalam Vicky Zygouris (2001:4) menjelaskan bahwa Reading is the cornerstonr of education and the foundation of longlife learning. Learning to read in the first years of school is essential to succes in school and in life. Artinya membaca adalah landasan pendidikan dan pondasi belajar sepanjang hayat. Belajar membaca di tahun-tahun pertama sekolah adalah penting untuk diakses di sekolah dan dalam kehidupan.
A.S. Broto dalam Mulyono Abdurrrahman (1999:200) mengemukakan bahwa membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulisan atau lambang bunyi bahasa, melainkan juga menanggapi dan memahami isi bahasa tulisan.
Soedarso dalam Mulyono Abdurrahman (1999:200) mengemukakan bahwa membaca merupakan aktivitas kompleks yang memerlukan sejumlah besar tindakan terpisah-pisah, mencakup penggunaan, pengertian, khayalan, pengamatan, dan ingatan.
Bond dalam Mulyono Abdurrahman (1999:200) menerangkan bahwa membaca merupakan pengenalan simbol-simbol bahasa tulis yang merupakan stimulus yang membantu proses mengingat tentang apa yang dibaca, untuk membangun suatu pengartian melalui pengalaman yang dimiliki.
Farida Rahim (2007:2) berpendapat bahwa :
Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivasi visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Sebagai suatu proses visual membaca merupakan proses menerjemahkan simbol tulis (huruf) ke dalam kata-kata lisan. Sebagai suatu proses berpikir, membaca
commit to user
mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif.
Hodgson dalam Henry Guntur Tarigan (2008:7) menjelaskan membaca adalah proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.
Berpijak dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah proses menerjemahkan simbol-simbol bahasa tulis atau mengucapkan bahasa tulisan atau lambang bunyi bahasa ke dalam kata- kata lisan, juga memahami isi bahasa tulisan.
b. Tahap-tahap membaca
Departemen Pendidikan Nasional (2000:6) secara khusus menjelaskan bahwa perkembangan kemampuan membaca pada anak berlangsung dalam beberapa tahap sebagai berikut :
1) Tahap fantasi (magical stage) : Pada tahap ini anak mulai belajar menggunakan buku, mulai berpikir bahwa buku itu penting, melihat atau membolak balikan buku dan kadang-kadang anak membawa buku kesukaannya. Pada tahap pertama, orang tua atau guru dapat memberikan atau menunjukkan model/contoh tentang perlunya membaca, membacakan sesuatu pada anak, memberikan buku pada anak;
2) Tahap pembentukan konsep diri (self concept stage ) : Anak memandang dirinya sebagai pembaca, dan mulai melibatkan diri dalam kegiatan membaca, pura-pura membaca buku, memberi makna pada gambar atau pengalaman sebelumnya dengan buku, menggunakan bahasa buku meskipun tidak cocok dengan tulisan. Pada tahap kedua, orang tua atau guru memberikan rangsangan dengan jalan membacakan sesuatu pada anak. Orang tua atau guru hendaknya memberikan akses pada buku- buku yang diketahui anak-anak. Orang tua atau guru juga hendaknya melibatkan anak membaca berbagai buku ; 3) Tahap membaca gambar (bridging reading stage) : Pada tahap ini anak menjadi sadar pada cetakan yang tampak serta dapat menemukan kata yang sudah dikenal, dapat mengungkapkan kata-kata yang memiliki makna dengan dirinya, dapat mengulang kembali cerita yang tertulis, dapat mengenal cetakan kata dari puisi atau lagu yang dikenalnya serta sudah mengenal abjad.
Pada tahap ketiga, orang tua dan guru membacakan sesuatu pada anak- anak, menghadirkan berbagai kosa kata pada lagu dan puisi, memberikan kesempatan sesering mungkin ; 4) Tahap pengenalan bacaan (take-off reader stage) : Anak mulai menggunakan tiga sistem isyarat
(graphoponic, semantic dan syntactic) secara bersama-sama. Anak tertarik pada bacaan, mulai mengingat kembali cetakan pada konteknya, berusaha mengenal tanda-tanda pada lingkungan serta membaca berbagai tanda seperti kotak susu, pasta gigi atau papan iklan. Pada tahap keempat, orang tua dan guru masih harus membacakan sesuatu untuk anak-anak sehingga mendorong anak membaca suatu pada berbagai situasi. Orang tua dan guru jangan memaksa anak membaca huruf secara sempurna ; 5) Tahap membaca lancar (independent reader stage) : Pada tahap ini anak dapat membaca berbagai jenis buku yang berbeda secara bebas.
Menyusun pengertian dari tanda, pengalaman dan isyarat yang dikenalnya, dapat membuat perkiraan bahan-bahan bacaan. Bahan-bahan yang berhubungan secara langsung dengan pengalaman anak semakin medah membaca. Pada tahap kelima, orang tua dan guru masih tetap membacakan berbagai jenis buku pada anak-anak. Tindakan ini akan mendorong agar dapat memperbaiki bacaannya. Membantu menyeleksi bahan-bahan bacaan yang sesuai mengajarkan cerita yang berstruktur.
Mercer dalam Mulyono Abdurrahman (1999:201) menjelaskan ada lima tahap perkembangan membaca yaitu (1) kesiapan membaca, (2) membaca permulaan, (3) keterampilan membaca cepat, (4) membaca luas, dan (5) membaca yang sesungguhnya.
Bertolak dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tahap- tahap membaca meliputi : 1) kesiapan membaca : pada tahap ini anak mulai belajar menggunakan buku, walaupun hanya membuka-buka saja.
Orang tua dan guru memberi rangsangan dengan jalan membacakan sesuatu pada anak ; 2) membaca permulaan : anak diperkenalkan dengan huruf-huruf alfabet ; 3) keterampilan membaca cepat : pada tahap ini anak dengan melihat gambar ; 4) membaca luas ; 5) membaca sesungguhnya : anak dapat merangkai huruf menjadi bacaan yang berarti.
c. Pengertian Menulis
Menulis merupakan jenis kemampuan berbahasa tulis, seseorang dapat memperoleh informasi, memperoleh ilmu dan pengetahuan, serta pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh melalui bacaan atau tulisan akan memungkinkan orang mampu mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandangannya, dan memperluas wawasannya.
commit to user
Kegiatan menulis merupakan kegiatan yang diperlukan oleh siapa pun yang ingin maju dan meningkatkan diri.
Mulyono Abdurrahman (1999:224) mengutip pendapat antara lain:
1) Lerner (1985:413) mengemukakan bahwa menulis adalah menuangkan ide ke dalam suatu bentuk visual.
2) Soemarmo Markam (1989:7) menjelaskan bahwa menulis adalah mengungkapkan bahasa dalam bentuk simbol gambar. Menulis adalah suatu aktivitas kompleks, yang mencakup gerakan lengan, tangan, jari, dan mata secara terintegrasi.
3) Tarigan (1986:21) menerangkan menulis sebagai melukiskan lambang-lambang grafis dari bahasa yang dipahami oleh penulisnya maupun orang-orang lain yang menggunakan bahasa yang sama dengan penulis tersebut.
Harris, dkk (2002) dalam Karen Erickson, dkk (2009) menjelaskan writing is complex proces of translatingis complex proces of translating ideas into text that requires attention to the mechanics oftranscription as well as the composition, organization, and presentation ideas. Artinya menulis adalah proses kompleks menerjemahkan ide, ke dalam teks yang membutuhkan perhatian pada mekanisme transkripsi serta penyajian.
Berpijak dari pengertian menulis di atas dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan suatu proses perubahan bentuk pikiran (perasaan) menjadi wujud lambang (tulisan).
d. Tahap-tahap menulis
Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2000:9) beberapa tahap perkembangan menulis anak dapat digambarkan sebagai berikut:
1) Tahap mencoret atau membuat goresan (scible stage) : Pada tahap ini akan mulai membuat tanda-tanda dengan menggunakan alat-alat tulisan. Mereka sedang memulai belajar tentang bahasa tertulis dan bagaimana mengerjakan tulisan tersebut. Orang tua dan guru, pada tahap
mencoret seharusnya memberikan anak-anak jenis-jenis bahan untuk menulis seperti cat, buku, kertas dan krayon.Anak-anak akan menandai suatu goresan yang sedang dikerjakan sebagai suatu tulisan. Orang tua dapat menjadi model tulisan seperti pada halnya membaca ; 2) Tahap pengulangan secara linear (linear repetitive stage) : Pada tahap ini, anak menelusuri bentuk tulisan yang horisontal. Dalam tahap ini, anak berfikir bahwa suatu kata merujuk pada sesuatu yang besar menpunyai tali yang panjang daripada kata yang merujuk pada sesuatu hal yang kecil ; 3) Tahap menulis secara random (random letter stage) : Pada tahap ini, anak belajar tentang berbagai bentuk yang dapat diterima sebagai suatu tulisan dan menggunakan itu semua agar dapat mengulang berbagai kata dan kalimat. Anak-anak menghasilkan tali yang berisi pesan yang tidak mempunyai keterkaitan pada suatu bunyi dari berbagai kata ; 4) Tahap menulis tulisan nama (letter-name writing or phonetic writing) : Pada tahap ini, anak mulai menyusun hubungan antara tulisan dan bunyi.
Permulaan tahap ini sering digambarkan sebagai menulis tulisan nama karena anak-anak menulis tulisan nama dan bunyi secara bersamaan.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa tahapan menulis dimulai dari coretan dengan membuat tanda-tanda, mulai menelusuri bentuk tulisan yang horisontal, kemudian menghasilkan tulisan yang tidak mempunyai keterkaitan dari suatu bunyi dari berbagai kata, lalu mulai menyusun hubungan antara tulisan dan bunyi.
e. Membaca permulaan
Membaca permulaan umumnya dimulai sejak anak masuk usia sekolah. Meskipun demikian, ada anak yang sudah belajar membaca lebih awal. Pengajaran membaca permulaan diberikan pada anak TK sesuai dengan kemampuan dan perkembangan anak, pengajaran membaca permulaan bertujuan agar anak terampil membaca.
Yeti Mulyati (2007:6) menjelaskan bahwa :
Kemampuan membaca permulaan lebih diorientasikan pada kemampuan membaca tingkat dasar, yakni kemampuan melek huruf, maksudnya anak-anak dapat mengubah dan melafalkan lambang-lambang tertulis menjadi bunyi-bunyi bermakna. Pada tahap ini, sangat dimungkinkan anak-anak dapat melafalkan lambang-lambang huruf yang di bacanya tanpa diikuti oleh pemahaman terhadap lambang bunyi-bunyi tersebut.
commit to user
Bertolak dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca permulaan adalah membaca yang diawali dari kelas bawah yang merupakan suatu proses agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk membaca lanjut.
f. Teknik membaca permulaan
Auriga Maulana Khasan (2012:1) menjelaskan teknik membaca permulaan sebagai berikut :
1) Metode Alfabet
Metode ini sering disebut metode harfiah, metode “letter by letter method” atau “ABC method”. Mula-mula dikenalkan abjad dari A sampai Z. Setelah hafal beberapa huruf barulah huruf-huruf tersebut dirangkai menjadi suku kata. Suku kata-suku kata tersebut setelah dikenalkan barulah dirangkai menjadi kata. Dengan modal beberapa kata itu terciptalah kalimat.
2) Metode Suara
Metode suara juga disebut “phonic method”. Metode ini merupakan penyempurnaan metode alfabet. Pada metode ini bukan abjadnya yang diajarkan, melainkan bunyi-bunyi bahasa sebagai pengganti huruf-huruf tersebut. Ucapan huruf-huruf tidak berdasarkan atas bunyi abjadnya melainkan ucapan hurufnya.
3) Metode Suku Kata
Metode ini biasa juga disebut “syllabic method”. Dalam metode ini suku kata merupakan kunci pokok dalam membuat kata. Metode suku kata sebenarnya suatu metode pengajaran membaca permulaan yang didasarkan atas kata-kata dianalisis menjadi suku kata-suku kata. Suku kata-suku kata tersebut disintesiskan kembali menjadi kata-kata.
4) Metode Cerita
Pelaksanaan metode cerita dalam mengajarkan membaca permulaan diawali dengan menghafalkan cerita atau sebuah puisi cerita atau puisi itu diuraikan atas kalimat-kalimatnya sampai pada kata- katanya. Dalam mengucapkan kata-kata metode ini menggunakan kata-kata fonetik.
5) Metode Struktural Analitik Sintetik (SAS)
Adapun contoh pelaksanaan metode SAS sebagai berikut, mula-mula diberikan kalimat secara keseluruhan. Kalimat itu diuraikan atas kata-kata yang mendukungnya. Dari kata-kata itu kita ceraikan atas suku-suku katanya dan akhirnya atas huruf-hurufnya. Kemudian huruf-huruf itu kita sintetiskan kembali menjadi suku kata, suku kata menjadi kata dan kata menjadi kalimat.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa teknik membaca permulaan meliputi perkenalan huruf-huruf abjad, pelafalan huruf-huruf, pengajaran suku-suku kata menjadi kata, menghafal cerita/puisi yang diuraikan atas kalimat-kalimatnya sampai pada kata- katanya, dan mensintesis huruf-huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata dan kata menjadi kalimat atau sebaliknya.
g. Menulis permulaan
Kemampuan menulis merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat produktif, artinya kemampuan menulis merupakan kemampuan yang menghasilkan tulisan. Menulis merupakan kegiatan yang memerlukan kemampuan yang bersifat kompleks.
Kemampuan-kemampuan yang diperlukan itu dapat diperoleh melalui proses yang panjang. Sebelum pada tingkat yang terampil menulis, anak harus mulai dari tingkat awal, tingkat permulaan mulai dari pengenalan lambang-lambang huruf. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh pada tingkat permulaan pada pembelajaran menulis permulaan itu akan menjadi dasar peningkatan dan keterampilan anak selanjutnya. Apabila dasar itu baik dan kuat, maka dapat diharapkan hasil pengembangannya pun akan baik pula, dan apabila dasar itu kurang baik atau lemah, maka dapat diperkirakan hasil pengembangannya akan kurang baik juga.
Yeti Mulyati (2007:6) menerangkan bahwa :
Kemampuan menulis permulaan lebih diorientasikan pada kemampuan yang bersifat mekanik. Anak-anak dilatih untuk dapat menuliskan (mirip dengan kemampuan melukis atau menggambar) lambang-lambang tulis yang jika dirangkaikan dalam sebuah struktur, lambang-lambang itu menjadi bermakna.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa menulis permulaan adalah menulis yang diawali dari kelas bawah yang merupakan suatu proses agar siswa memiliki kemampuan menuliskan lambang-lambang tulis yang jika dirangkai, lambang-lambang itu menjadi bermakna.
commit to user
h. Metode Menulis PermulaanDjuzak dalam Mikhael Ari Ermawan (2012:1) menerangkan metode menulis permulaan terdiri dari :
1) Metode Eja
Metode eja didasarkan pada pendekatan harfiah, artinya belajar membaca dan menulis dimulai dari huruf-huruf yang dirangkaikan menjadi suku kata. Oleh karena itu pengajaran dimulai dari pengenalan huruf-huruf. Demikian halnya dengan pengajaran menulis dimulai dari huruf lepas, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Menulis huruf lepas.
b) Merangkaikan huruf lepas menjadi suku kata.
c) Merangkaikan suku kata menjadi kata.
d) Menyusun kata menjadi kalimat.
2) Metode Kata Lembaga a) Mengenalkan kata.
b) Merangkaikan kata antar suku kata.
c) Menguraikan suku kata atas huruf-hurufnya.
d) Menggabungkan huruf menjadi kata.
3) Metode global
Pengajaran menbaca dan menulis permulaan dengan membaca kalimat secara utuh yang ada di bawah gambar, menguraikan kalimat dengan kata-kata, menguraikan kata-kata menjadi suku kata.
4) Metode SAS
Pembelajaran menulis permulaan yang didasarkan atas pendekatan cerita. Teknik pelaksanaan metode SAS yakni keterampilan menulis kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata dan kartu kalimat. Proses operasional metode SAS menpunyai langkah-langkah sebagai berikut :
a) Struktur yaitu menampilkan keseluruhan.
b) Analitik yaitu melakukan proses penguraian
c) Sintetik yaitu melakukan penggalan pada struktur semula.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa metode menulis permulaan meliputi pengenalan huruf/menulis huruf lepas, merangkai huruf menjadi suku kata, menguraikan suku kata atas huruf- hurufnya, menyusun kata menjadi kalimat.
2. Hakikat Pengembangan Bahasa a. Pengertian Bahasa
Menurut Elizabeth B. Hurlock terjemahan Meitasari Tjandras dan Muslichah Zarkasih (1988:176), bahasa adalah sarana komunikasi
dengan menyimbolkan pikiran dan perasaan untuk menyampaikan makna kepada orang lain.
Departemen Pendidikan Nasional (2000:5) menjelaskan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi utama bagi seorang anak untuk mengungkapkan berbagai keinginan maupun kebutuhannya.
Menurut Marilyn Doncan (2005) :
Language is a tool for learning. Language is central to intellectual, social, and emotional development. Through language the learner shares knowledge, experiences, information, ideas, and feeling. Children experience the effects of language by listening, talking and observing long before they enter school.
Artinya, bahasa adalah alat untuk belajar. Bahasa adalah pusat intelektual, sosial, dan pengembangan emosional. Melalui bahasa pengetahuan saham belajar, pengalaman, informasi, ide dan perasaan. Anak-anak mengalami dampak dari bahasa dengan mendengarkan, berbicara, dan mengamati jauh sebelum mereka masuk sekolah.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah alat komunikasi antarmanusia baik orang dewasa maupun bagi anak-anak untuk mengemukakan atau menyampaikan pikiran, keinginan maupun pendapat kepada orang lain.
b. Perkembangan Bahasa pada Anak Taman Kanak-kanak
Anak-anak memiliki kemampuan berbahasa yang baik pada umumnya memiliki kemampuan yang baik pula dalam mengungkapkan pemikiran, perasaan, serta tindakan interaktif dengan lingkungannya.
Kemampuan berbahasa ini tidak selalu didominasi oleh kemampuan membaca saja tetapi juga terdapat sub potensi lainnya yang memiliki peranan yang lebih besar seperti penguasaan kosa kata, pemahaman (mendengar dan menyimak), dan kemampuan berkomunikasi.
Departemen Pendidikan Nasional (2000:5) menerangkan pada usia anak taman kanak-kanak (4-6 tahun) perkembangan kemapuan berbahasa anak ditandai oleh berbagai kemampuaan sebagai berikut:
1) Mampu menggunakan kata ganti saya dalam berkomunikasi.
commit to user
2) Memiliki berbagai perbendaharaan kata kerja, kata sifat, kata keadaan, kata tanya, dan kata sambung.
3) Menunjukkan pengertian dan pemahaman tentang sesuatu.
4) Mampu mengungkapkan pikiran, perasaan, dan tindakan dengan menggunakan kalimat sederhana.
5) Mampu membaca dan mengungkapkan sesuatu melalui gambar.
Perkembangan potensi tersebut muncul ditandai oleh berbagai gejala seperti senang bertanya dan memberikan informasi tentang berbagai hal, berbicara sendiri dengan atau tanpa menggunakan alat (seperti boneka, mobil,mainan, dan sebagainya), mencoret-coret buku atau dinding dan menceritakan sesuatu yang fantastik. Gejala-gejala ini merupakan pertanda munculnya kepermukaan berbagai jenis potensi yang tersembunyi menjadi potensi yang tampak. Kondisi tersebut menunjukkan berfungsi dan berkembangnya sel-sel saraf pada otak.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan bahasa pada anak tidak selalu didominasi oleh kemampuan membaca saja tetapi juga meliputi kemampuan dalam berkomunikasi, kemampuan pemahaman tentang sesuatu dan kemampuan membaca dan mengungkapkan sesuatu melalui gambar.
c. Prinsip-prinsip Pengembangan Kemampuan Berbahasa Anak
Dalam rangka mengembangkan potensi keberbahasaan menurut Departemen Pendidikan Nasional (2000:14) ada beberapa prinsip yang harus menjadi perhatian guru maupun orang tua.
Beberapa prinsip yang dimaksud adalah: 1) Pendidik lebih mengutamakan pengembangan penguasaan kosa kata, kemampuan menyimak dan berkomunikasi sebelum permainan membaca diberikan ; 2) Mendeteksi/melacak kemampuan awal anak dalam berbahasa. Prinsip ini dilakukan agar pendidik dapat memperhatikan perkembangan bahasa anak secara individual. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat diperoleh kemampuan berbahasa anak serta mengelompokannya berdasarkan kemampuan yang relatif sama ; 3) Merencanakan kegiatan bermain dan alat permainan sederhana melalui kegiatan bercakap-cakap, bercerita atau menyampaikan cerita (story telling), membacakan cerita (story reading), dan bermain peran (role play) ; 4) Mengkomunikasikan kegiatan
keberbahasaan anak pada orang tua termasuk kegiatan melalui permainan membaca permulaan ; 5) Menentukan sarana permainan yang diambil dari lingkungan sekitar dan dikenal anak ; 6) Menggunakan perpustakaan anak sebagai sarana yang dapat merangsang dan menumbuhkan minat baca anak ; 7) Menata lingkungan kelas dengan berbagai kosa kata dan nama benda yang memungkinkan anak melihat dan berkomunikasi tentang benda-benda itu ; 8)Menggunakan gambar-gambar sederhana yang dikenal anak untuk mengenalkan berbagai bentuk kata atau kalimat sederhana.
Departemen Pendidikan Nasional (2000:15) menerangkan dalam kaitan dengan kemampuan menulis, beberapa prinsip yang perlu diperhatikan di antaranya adalah:
1) Prinsip penggunaan tanda atau simbol : Guru hendaknya memberikan kesempatan yang banyak pada anak untuk latihan kelenturan motorik halus, misalnya memberikan kertas, papan tulis, krayon, pensil yang memungkinkan anak untuk mencoret-coret atau menggambar sesuatu menurut keinginan mereka. Guru memperhatikan cara-cara anak memegang alat tulis dan menggoreskan pada kertas atau papan tulis ; 2) Prinsip pengulangan : Guru atau orang tua dapat mengulang berbagai simbol (gambar) dan tulisan pada anak sehingga anak akan mengenal secara cermat antara gambar dan tulisanya.
Termasuk memberi latihan berulang-ulang garis atau lengkungan yang kemudian dapat digabungkan sehingga berbentu huruf atau tulisan ; 3) Prinsip keluwesan : Guru seharusnya memperkenalkan pertama kali tulisan pada anak menggunakan simbol atau tanda yang dekat dan dikenal anak. Anak biasanya akan berusaha terdorong untuk mempelajari berbagai tulisan dalam bentuk simbol-simbol (gambar-gambar yang mewakili tulisan), misalnya tulisan “bunga mawar” dengan gambar bunga mawar. Guru atau orang tua dapat menyajikan berbagai variasi tulisan yang akan diperkenalkan pada anak sehingga anak terdorong secara bebas untuk mengekspresikan salah satu dari berbagai tulisan tersebut. Anak-anak biasanya akan mencoba atau menjajaki (bereksplorasi) bahwa tulisan dapat diperbesar atau diperkecil ; 4) Prinsip pengungkapan : Guru atau orang tua dapat memberikan kesempatan paada anak untuk mengungkapkan berbagai pengalamannya berkaitan dengan berbagai jenis tulisan yang telah dibuatnya ; 5) Prinsip mencontoh : Guru atau orang tua hendaknya sesering mungkin mengulanh berbagai contoh tulisan atau kata dengan menggunakan konteks yang sama, misalnya kata susu diulang dalam tulisan “susu bendera”, “susu sapi”, “adik minum susu”, “ susu kental” ; 6) Prinsip penguatan : Guru memberikan penguatan berupa penghargaan atau pujian terhadap hasil tulisan anak (walaupun belum dalam bentuk tulisan yang sebenarnya).
commit to user
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip- prinsip pengembangan kemampuan berbahasa anak meliputi kemampuan anak dalam berkomunikasi melalui permainan membaca dan kemampuan anak dalam menulis melalui tulisan atau tulisan dalam bentuk simbol- simbol atau gambar.
3. Hakikat Alat Peraga Kartu Huruf a. Pengertian alat peraga
Alat peraga dalam kegiatan belajar mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif. Proses belajar mengajar ditandai dengan adanya beberapa unsur antara lain tujuan, bahan, metode, alat serta evaluasi. Unsur metode dan alat merupakan unsur yang tidak bisa dilepaskan dari unsur lainnya yang berfungsi sebagai cara atau tehnik untuk mengantarkan sebagai bahan pelajaran agar sampai tujuan. Dalam pencapaian tersebut, peranan alat bantu atau alat peraga memegang peranan yang penting sebab dengan adanya alat peraga ini pelajaran dengan mudah dapat dipahami oleh anak. Alat peraga sering disebut audio visual, dari pengertian alat yang dapat diserap oleh mata dan telinga. Alat tersebut berguna agar pelajaran yang disampaikan guru lebih mudah dipahami oleh anak.
Dalam proses belajar mengajar alat peraga dipergunakan dengan tujuan membantu guru agar proses belajar anak lebih efektif dan efisien.
Sri Anitah (2009:126) menjelaskan bahwa alat peraga dalam pembelajaran pada hakekatnya merupakan suatu alat yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang riil sehingga memperjelas pengertian pelajaran.
Ade Sanjaya (2011:1) dalam Sudjana (2002:59) menerangkan bahwa alat peraga adalah suatu alat yang dapat diserap oleh mata dan telinga dalam tujuan membantu guru agar proses belajar mengajar siswa lebih efektif dan efisien.
Ade Sanjaya (2011:1) menjelaskan beberapa contoh alat peraga yang dapat digunakan dalam mengajar yaitu : (1) Gambar, (2) peta, (3) papan tulis, (4) boks pasir.
Alat peraga dalam proses belajar mengajar mempunyai nilai-nilai seperti di bawah ini:
1) Meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berfikir, oleh karena itu dapat mengurangi terjadinya verbalisme.
2) Memperbesar minat dan perhatian anak atau siswa untuk belajar.
3) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan.
4) Memberikan pengalaman yang nyata pada diri anak.
5) Membantu berkembangnya kemampuan berbahasa.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa alat peraga adalah seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik.
b. Pengertian Kartu Huruf
Kartu huruf digunakan sebagai alat peraga yang bertujuan agar anak dapat dengan mudah, senang, dan bergairah dalam memahami huruf melalui proses yang dilaluinya sendiri dalam pembelajaran.
Menurut Dina Eka Putri (2010:8) kartu huruf merupakan abjad- abjad yang dituliskan pada potongan-potongan suatu media baik karton, kertas maupun papan tulis (tripleks). Potongan-potongan huruf tersebut dapat dipindah-pindahkan sesuai keinginan pembuat suku kata, kata atau kalimat. Penggunaan kartu huruf ini sangat menarik perhatian anak dan sangat mudah digunakan dalam pengajaran membaca dan menulis permulaan. Selain itu kartu huruf juga melatih kreatifitas anak dalam menyusun kata-kata sesuai dengan keinginannya.
Berdasarkan uraian di atas Kartu huruf adalah seperangkat alat bantu yang berbentuk kartu atau potongan-potongan kertas yang tebal yang bertuliskan lambang huruf abjad. Kartu huruf ini berbentuk lembaran-lembaran persegi yang bertuliskan huruf, dari huruf a sampai huruf z juga sering disertai gambar agar mudah dicerna anak.
commit to user
c. Kelebihan dan kekurangan penggunaan alat peraga
Ade Sanjaya (2011:1) menerangkan kelebihan dan kekurangan penggunaan alat peraga dalam pengajaran yaitu:
1) Kelebihan penggunaan alat peraga yaitu:
a) Menumbuhkan minat belajar siswa karena pelajaran karena pelajaran menjadi lebih menarik.
b) Memperjelas makna bahan pelajaran sehingga siswa lebih mudah memahaminya.
c) Metode mengajar akan lebih bervariasi sehingga siswa tidak akan mudah bosan.
d) Membuat lebih aktif melakukan kegiatan belajar seperti mengamati, melakukan dan mendemonstrasikan dan sebagainya.
2) Kekurangan alat peraga yaitu:
a) Mengajar dengan memakai alat peraga lebih banyak menuntut guru.
b) Banyak waktu yang diperlukan untuk persiapan.
c) Perlu kesediaan berkorban secara materiil.
Berpijak dari uraiandi atas dapat disimpulkan bahwa kelebihan penggunaan alat peraga adalah selain menumbuhkan minat belajar juga untuk memperjelas dalam pembelajaran sedangkan kekurangannya adalah membutuhkan banyak waktu untuk mempersiapkan.
B. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan dalam penelitian ini adalah skripsi yang ditulis Murgito (2008) berjudul “Upaya Meningkatkan Keterampilan MMP (Membaca dan Menulis Permulaan) Melalui Pias-pias Kata Pada Siswa Kelas I SD Negeri Cemani 05 Kecamatan Grogol Sukoharjo Tahun 2007/2008”. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa pembelajaran keterampilan membaca dan menulis permulaan dengan kartu kata pelaksanaannya sangat efektif, siswa sangat antusias mengikuti pembelajaran, dari keseluruhan putaran atau siklus yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa guru telah mampu meningkatkan prestasi belajar Bahasa Indonesia.
Penelitian yang ditulis Dina Eka Putri (2010) yang berjudul
“Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan Dengan Menggunakan Kartu Huruf pada Siswa Kelas I SD Negeri No. 14/I Sungai Baung Kecamatan Muara Bulian”. Penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran keterampilan membaca permulaan dengan kartu huruf pelaksanaannya sangat efektif, dari keseluruhan siklus yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa guru telah mampu meningkatkan prestasi belajar Bahasa Indonesia.
Penelitian yang ditulis Suparyanti (2004) berjudul “Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia (Menulis Permulaan) Melalui Alat Peraga Kartu Kata Pada Siswa Kelas I SD Negeri Sumber IV Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta Tahun Pelajaran 2003/2004”. Pada penelitian tersebut disimpulkan bahwa pembelajatan keterampilan menulis permulaan pelaksanaannya sangat efektif, dari keseluruhan siklus yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa guru telah mampu meningkatkan prestasi belajar Bahasa Indonesia.
Berdasarkan penelitian-penelitian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan penggunaan alat peraga pias-pias kata, kartu huruf atau kartu kata dapat meningkatkan keterampilan membaca dan menulis permulaan.
C. Kerangka Berpikir
Kurangnya keterampilan anak dalam membaca dan menulis permulaan menjadikan suatu permasalahan tersendiri yang perlu segera dipecahkan.
Membaca adalah tidak hanya melafalkan tulisan, melainkan juga aktivitas kompleks yang mencakup fisik dan mental. Aktivitas fisik yang terkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. Aktivitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. Sedangkan menulis merupakan salah satu komponen sistem komunikasi yang menggambarkan pikiran, perasaan, dan ide ke dalam bentuk lambang-lambang bahasa grafis yang dilakukan untuk keperluan mencatat dan komunikasi. Sehingga membaca dan menulis permulaan merupakan program pembelajaran yang diorientasaikan kepada kemampuan membaca dan
commit to user
menulis permulaan di kelas-kelas awal pada saat anak-anak mulai memasuki bangku sekolah. Alat peraga merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik.
Pembelajaran yang dilakukan belum menggunakan alat peraga yang inovatif menjadi penyebab kurangnya keterampilan dalam membaca dan menulis permulaan. Selain itu, terbatasnya pemanfaatan media dapat membuat anak merasa bosan dengan penyajian pembelajaran yang monoton dan akan berdampak pada pembelajaran yang kurang optimal sehingga keterampilan membaca dan menulis permulaan masih rendah.
Salah satu cara dalam penelitian ini akan berusaha membenahi situasi pembelajaran membaca dan menulis permulaan. Penelitian ini menawarkan pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan rangsangan yang berupa penggunaan alat peraga kartu huruf.
Penelitian ini akan mengajarkan anak untuk membaca dan menulis sebelum diterapkan pemanfaatan alat peraga kartu huruf. Untuk mengenalkan alat peraga kartu huruf yaitu dengan memberikannya model kartu huruf yang dibuat semenarik mungkin dengan menggunakan kertas warna-warni. Kartu huruf ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan membaca dan menulis permulaan di Taman kanak-kanak. Penelitian ini terdiri dua siklus, dan setiap siklus terdiri dari empat pertemuan.
Untuk memperjelas kerangka berpikir di atas, berikut ini digambarkan kerangka berpikir sebagai berikut:
Gambar 2.1. Kerangka Berpikir KONDISI AWAL
Guru tidak menggunakan alat peraga Kemampuan membaca dan menulis permulaan anak masih rendah
TINDAKAN Dalam pembelajaran guru menggunakan alat peraga kartu huruf
SIKLUS I 1. Pertemuan 1
Kegiatan tanya jawab menggunakan kartu huruf A-J Kegiatan menebalkan huruf dengan pensil warna 2. Pertemuan 2
Kegiatan tanya jawab menggunakan kartu huruf K-Z Kegiatan mengasir atau mewarnai huruf
3. Pertemuan 3
Kegiatan lomba mengambil kartu huruf
Kegiatan menghubungkan tulisan sederhana dengan gambar yang melambangkannya
4. Pertemuan 4
Kegiatan merangkai dan membaca kata sederhana dengan kartu huruf Kegiatan menebalkan dan meniru kata
SIKLUS II 1. Pertemuan 1
Kegiatan merangkai dan membaca kata sederhana dengan kartu huruf Kegiatan menghubungkan kata dengan gambar yang melambangkannya 2. Pertemuan 2
Kegiatan merangkai dan membaca kata sederhana dengan kartu huruf Kegiatan membedakan kata-kata yang mempunyai suku kata awal yang sama 3. Pertemuan 3
Kegiatan merangkai dan membaca kata sederhana dengan kartu huruf Kegiatan menghubungkan kata dengan gambar yang melambangkannya 4. Pertemuan 4
Kegiatan merangkai dan membaca kata sederhana dengan kartu huruf Kegiatan membedakan kata-kata yang mempunyai suku kata akhir yang sama
KONDISI AKHIR
Kemampuan membaca dan menulis permulaan anak dapat meningkat
commit to user
D. HipotesisBerdasarkan kajian teori dan kerangka pemikiran dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
1. Penggunaan alat peraga kartu huruf dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran keterampilan membaca dan menulis permulaan pada anak kelompok A TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar Tahun Ajaran 2011/2012.
2. Penggunaan alat peraga kartu huruf dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran keterampilan membaca dan menulis permulaan pada anak kelompok A TK Dharma Wanita V Baturan, Colomadu, Karanganyar Tahun Ajaran 2011/2012.
commit to user
BAB IIIMETODOLOGI PENELITIAN.
A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di TK Dharma Wanita V Baturan Kecamatan Colomadu yang terletak di Klemboran Rt.03 Rw.05 Desa Baturan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Kode pos 57171.
TK ini terletak di lingkungan Kantor Kelurahan Desa Baturan dan bersebelahan dengan SMUN I Colomadu. Di lingkungan Kantor Kelurahan Baturan dilengkapi dengan fasilitas olah raga yaitu gedung olah raga dan lapangan. Letak TK Dharma Wanita V Baturan sangat strategis, karena dekat dengan jalan raya. TK ini juga memiliki halaman yang luas sebagai area bermain untuk anak. TK Dharma Wanita V Baturan memiliki 3 kelas, yaitu A1, A2 dan B. AUD di TK Dharma Wanita V Baturan berjumlah 69 yang terdiri dari kelas A1 20 anak, kelas A2 19 anak, kelas B 30 anak dan gurunya berjumlah lima orang. Peran peneliti dalam penelitian ini sekaligus sebagai salah satu guru di TK Dharma Wanita V Baturan.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester II tahun ajaran 2011/2012 yang dimulai sejak Januari 2012 dan berakhir pada bulan Oktober 2012. Terdiri dari perencanaan dan penyusunan proposal penelitian, pengajuan ijin penelitian, pelaksanaan tindakan yang terdiri dari 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II. Jadwal penelitian terlampir (Lampiran 35 halaman 194).
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah anak yang menjadi sasaran pelaksanaan tindakan, yang dalam hal ini meliputi semua anak kelompok A.2 TK Dharma Wanita V Baturan Kecamatan Colomadu yang berjumlah 19 anak, terdiri dari 6 anak laki- laki dan 13 anak perempuan yang mayoritas berasal dari keluarga yang orang tuanya bekerja sebagai buruh. Oleh karenanya, waktu belajar di rumah, termasuk
commit to user
untuk membaca dan menulis sangat kurang, karena orang tua mereka harus bekerja dari pagi sampai sore sehingga waktu untuk mendampingi anak dalam belajar sangat kurang.
C. Sumber Data
Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari : 1. Data
Data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Daftar nilai kemampuan kelompok A2 TK Dharma Wanita V Baturan Tahun Pelajaran 2011/2012 pada keterampilan membaca dan menulis permulaan.
b. Informasi dari narasumber yang terdiri dari anak kelompok A2 dan guru kelas kelompok A2 TK Dharma Wanita V Baturan serta didukung dari Kepala Sekolah TK Dharma Wanita V Baturan.
c. Hasil pengamatan dari pelaksanaan proses pembelajaran di kelas pada pelajaran membaca dan menulis permulaan.
2. Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari :
a. Anak kelompok A2 TK Dharma Wanita V Baturan, guru kelompok A2, dan kepala sekolah TK Dharma Wanita V Baturan.
b. Kurikulum KTSP, Silabus, RKM, RKH.
c. Buku penilaian perkembangan anak dan Lembar Kerja Anak (LKA).
D. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Hartono (2011:35) sesuai data yang telah dikumpulkan, maka teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain :
1. Observasi/Pengamatan
Observasi atau pengamatan adalah suatu kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera.
Observasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap. Pengamatan dilakukan terhadap guru ketika
melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas maupun kinerja anak selama proses belajar mengajar berlangsung.
Berdasarkan dari pengertian diatas pengamatan atau observasi adalah kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan alat indra untuk mengetahui sampai dimana kegiatan belajar mengajar terlaksana. Observasi atau pengamatan dilakukan secara langsung dan partisipasif dalam ruang kelas saat pembelajaran berlangsung agar hasilnya seobyektif mungkin.
Teknik pengamatan ini dilakukan pada :
a. Anak kelompok A2 TK Dharma Wanita V Baturan tentang persiapan, perhatian, keaktifan dan kerja sama selama proses pembelajaran berlangsung.
b. Guru ketika mengajar di kelas dengan menggunakan alat peraga kartu huruf
2. Dokumentasi dan perekaman foto
Dokumentasi adalah catatan mengenai berbagai kejadian dimasa lalu yang ditulis atau dicetak seperti surat, catatan harian dan dokumen lainnya yang relevan, sedangkan metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan transkip nilai, buku anak, dan majalah anak, yang dapat menjadi pendukung untuk mengetahui hasil belajar anak saat itu. Pada penelitian ini, peneliti membuat daftar nilai keterampilan membaca dan menulis permulaan pada proses pembelajaran untuk melihat perkembangan anak kelompok A2.
Perekaman foto dalam penelitian ini diperoleh dari hasil perekaman proses pembelajaran pada anak TK Dharma Wanita V Baturan Colomadu.
3. Penugasan/Unjuk Kerja
Pemberian penugasan dimaksudkan untuk mengukur seberapa jauh hasil yang diperoleh anak setelah kegiatan pemberian tindakan. Penugasan diberikan pada awal kegiatan untuk mengidentifikasi kekurangan atau kelemahan anak dalam membaca dan menulis permulaan dan setiap akhir siklus untuk mengetahui peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran membaca dan menulis permulaan anak. Penugasan dilakukan untuk