• Tidak ada hasil yang ditemukan

Solusi :Membuat perangkat pembelajaran Projek Based Learning kolaboratif melalui kegiatan pembuatan ecobrick.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Solusi :Membuat perangkat pembelajaran Projek Based Learning kolaboratif melalui kegiatan pembuatan ecobrick."

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Rancangan Rencana Aksi

Masalah : Kesulitan Siswa mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam penyelesaian masalah di sekitarnya dalam materi pencemaran lingkungan

Solusi :Membuat perangkat pembelajaran Projek Based Learning kolaboratif melalui kegiatan pembuatan ecobrick.

MODUL AJAR BIOLOGI FASE E (KELAS 10)

Solusi Mengatasi Pemanasan Global: Penanggulangan Limbah Plastik Melalui Pemanfaatan Ecobrick dalam Rancangan Media Olahraga

Inovatif

I.

INFORMASI UMUM

A. Identitas Modul

Mata Pelajaran Fase Kelas Semester Tahun Pelajaran

Biologi E X 1 2022/2023

Alokasi Waktu (JP) Jumlah Pertemuan Nama Penyusun

2 JP 1 Zea Zetina R P, S.Pd

B. Kompetensi Awal

 Peserta didik telah mampu mengklasifikasi aktivitas manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan

 Peserta didik dapat menjelaskan dampak pencemaran sampah plastik terhadap lingkungan

 Peserta didik mampu memilih media olahraga yang dapat digunakan dalam materi kebugaran jasmani

C. Profil Pelajar Pancasila

Dimensi Elemen

Beriman dan Bertaqwa Ahlak kepada lingkungan sebagai khalifah

Bergotong royong kolaborasi, Antar siswa, antar siswa dan guru, antar mata pelajaran.

Bernalar Kritis merefleksi pemikiran dan proses berpikir dalam mengambilan keputusan.

Kreatif memiliki keluwesan berpikir dalam mencari solusi suatu permasalahan.

D. Sarana dan Prasarana yang diperlukan:

 Sampah plastik yang telah dibersihkan

 Stick kayu dan alat pelindung diri,

 Hp atau laptop,

 koneksi internet yang bagus,

 Alat tulis, LKPD

 smart board,

 buku acuan pembelajaran bagi guru dan siswa.

(2)

E. Target Peserta didik : 36 Siswa F. Moda Pembelajaran : Tatap Muka

G. Model Pembelajaran : Projek Based Learning (PjBL)

 Metode Pembelajaran: Praktikum, Diskusi, Ceramah, penugasan

 Media: Video VR, video dokumenter, jurnal penelitian, info grafis, PPT

II.

KOMPONEN INTI

A.

Capaian Pembelajaran

Elemen Capaian Pembelajaran (CP)

Pemahaman Biologi

Pada akhir fase E, peserta didik memiliki kemampuan menciptakan solusi atas permasalahan-permasalahan berdasarkan isu lokal, nasional atau global terkait pemahaman keanekaragaman makhluk hidup dan peranannya, virus dan peranannya, inovasi teknologi biologi, komponen ekosistem dan interaksi antar komponen serta perubahan lingkungan.

B.

Tujuan Pembelajaran (A B C D)

Setelah menganalisis sumber materi pembelajaran (Video VR, rangkuman jurnal, info grafis) dan berdiskusi pada pembelajaran berbasis proyek, peserta didik dapat menyimpulkan, mendiagnosis penyebab, dan menemukan solusi masalah limbah plastik di lingkungan sekolah melalui pembuatan ecobrick dan merencanakan rancangan produk pemanfaatan ecobrick secara efektif serta mengomunikasikan hasilnya melalui beragam media presentasi, sehingga peserta didik dapat membangun kesadaran pentingnya peran diri sebagai agent of change lingkungan sekolah secara gotong royong, bertakwa terhadap lingkungan sehingga dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikatif, kolaboratif dan kreatif.

C.

Asesmen

Dilaksanakan dalam 3 (tiga) prosedur/kegiatan dengan penjelasan berikut :

Diagnostik Formatif Sumatif

Asesmen diagnostic berupa diagnostik non kognitif

Asesmen formatif dilaksanakan pada akhir pertemuan sebagai post test

Asesmen sumatif dilaksanakan pada akhir materi pemanasan global seteah 9 kali pertemuan

(3)

1)

Instrumen Asesmen

 Asessment pengetahuan: tes lisan

 Asessment keterampilan: Penilian produk Rubrik penilaian produk,

 Asessment sikap:

1. Peer Asessment

2. Asessment kegiatan kelompok berbasis rubrik penilaian karakter profil Pelajar Pancasila

D.

Pemahaman Bermakna

 Peserta didik dapat memahami cara menanggulangi permasalahan lingkungan yang ada di sekitarnya

 Peserta didik dapat mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya ke dalam pembuatan produk-produk inovatif ramah lingkungan

 Peserta didik dapat meningkatkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, kreatifitas dan cara fikir kritisnya.

E.

Pertanyaan Pemantik

 Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan terkait peran mu sebagai khalifah yang terpilih di Bumi terhadap permasalahan lingkungan yang ada di sekitar mu?

F.

Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Ke – 5 : Solusi mengatasi masalah pemanasan global waktu : 2 Jam Pelajaran (JP) @ 45 menit.

Kegiatan Uraian Kegiatan Pembelajaran Model /

Waktu Awal

Guru memberikan salam dan berdoa bersama

Guru mengecek kehadiran peserta didik, mengkondisikan kelas dan pembiasaan Apersepsi

Guru menanyakan kepada peserta didik tentang hasil pengamatan lingkungan sekolah dan wawancara siswa seputar masalah limbah di lingkungan sekolah, masalah limbah apakah yang kamu temukan di lingkungan sekolahmu?

motivasi

 siswa diberi pemahaman tentang peranannya sebagai khalifah di bumi yang memiliki peran terhadap kondisi lingkungan (QS Surah Ar rum 41) “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”

Pemberian Acuan

10 menit

(4)

Guru menyampaikan tujuan pembelajaraan

Guru mengelompokan peserta didik ke dalam 4 kelompok sesuai gaya belajar siswa. (berdasarkan asesmen diagnostik non kognitif)

Guru membagikan LKPD kepada peserta didik dan menjelaskan ilustrasi kerja

Inti

https://www.youtube.com/w atch?v=a7IROxe9qCs&list=

PLxppG3CcaV4JbIUQJAz TE9pzH9pnMLmIz&index

=2

Cara membuat ecobrick:

https://www.youtube.com/w atch?v=yTcaq6qoVVQ

Pengenalan masalah / Penentuan pertanyaan mendasar

peserta didik menonton video hasil dokumentasinya bersama sama pada pertemuan sebelumnya, tentang kondisi pencemaran limbah plastik di lingkungan sekolah

peserta didik menonton video VR tentang masalah pencemaran plastik,

peserta didik merumuskan masalah melalui kegiatan pada LKPD

Identifikasi penyebab masalah (diferensiasi konten)

Peserta didik menganalisis materi berdasarkan hasil tugas wawancara dan sumber belajar (video, literatur, info grafis) dan mengikuti langkah kerja pada LKPD

Setiap kelompok menuangkan pendapatnya di dalam LKPD tentang penyebab masalah Mendesain perencanaan produk

(diferensiasi produk)

Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk membuat ecobric berdasarkan sumber informasi yang telah disediakan oleh guru (hasil penelitian, video, gambar/info grafis)

Siswa berdiskusi menentukan rancangan produk media olahraga yang dapat dibuat melalui pemanfaatan ecobrick

Menyusun Rencana Kerja

Setiap kelompok membuat jadwal pembuatan produk dan pengujian produk pada mata pelajaran olahraga (kolaboratif) pada minggu selanjutnya.

Guru menyampaikan pentingnya kolaborasi dalam tim, saling berdiskusi, dan

menghargai pendapat dalam proses pembelajaran.

monitoring proyek

Peserta didik mempraktikkan pembuatan ecobrick

Peserta didik menyesuaikan pembuatan ecobrick

60 menit PjBL

(5)

pada pertemuan ini dengan rancangan produk yang direncanakan

Peserta didik menverifikasi cara pembuatan ecobrick yang efektif pada LKPD dengan praktik yang langsung dilakukan.

Menguji Hasil (berupa hasil pembuatan ecobrick, belum hasil produk pemanfaatan ecobrick)

Peserta didik menimbang ecobrick yang dibuat sesuai dengan kebutuhan pada rancangan perencanaan (mengembangkan keterampilan sains dalam praktik pengukuran)

Peserta didik memastikan ecobrik dirancang sesuai kegunaannya

Setiap kelompok mempresentasikan rancangan produk pemanfaatan ecobrick melalui presentasi melalui pembuatan info grafis (kelompok 1,2), melalui pembuatan power poin (kelompk 3,4).

Evaluasi Pengalaman Belajar (di simpan pada kegiatan penutup)

 Peserta didik mengkategorikan jenis limbah plastik yang bisa digunakan sebagai bahan yang menunjang pembuatan ecobrick dan yang tidak

 Peserta didik mendiagnosa kesulitan yang

dihadapi selama pembelajaran dan mendiskusikan solusinya

Penutup

Resume: peserta didik membuat kesimpulan

evaluasi: peserta didik Melaksanakan

evaluasi

asessment pengetahuan melalui teknik snowball

Refleksi: Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengrefleksi

pembelajaran pada hari ini,supaya terjadi evaluasi dan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di pertemuan selanjutnya.

asessment sikap berupa peer asessment diberikan melalui media online.

Tindak Lanjut: Guru menugaskan

pengumpulan rencana kerja pembelajaran selanjutnya

20 menit

G.

Refleksi Pendidik dan Peserta Didik

 Refleksi Murid

(6)

1.

Kendala apakah yang ditemui pada proses pembelajaran?

2.

Pemahaman apa yang didapatkan pada pembelajaran ini?

3.

Apakah kesulitan ketika berkegiatan dapat teratasi dengan baik?

 Refleksi Guru

1. Apakah pembelajaran yang saya lakukan sudah sesuai dengan apa yang saya rencanakan?

2. Bagian rencana pembelajaran manakah yang sulit dilakukan?

3. Apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasi hal tersebut?

4. Apa kesulitan yang dialami oleh siswa yang belum mencapai tujuan pembelajaran?

5. Apa yang akan saya lakukan untuk membantu mereka?

(7)

LAMPIRAN

1.

LKPD

Terlampir

2.

Instrumen Penilaian

a. Kisi-kisi penilaian pengetahuan

Tujuan Pembelajaran Soal dibuat oleh siswa dan dilakukan dengan metode snowball

aspek kognitif Score

merumuskan masalah disajikan sebuah kondisi, menurutmu apa yang menjadi penyebab utama ancaman kepunahan penyu hijau?

C4 1

mendiagnosis penyebab

Indonesia dapat dikatakan sebagai Negara yang bertanggung jawab terhadap kondisi pemanasan global, mengapa begitu? (evaluate)

C5 1

Jelaskan hasil analisi peranan limbah plastik dalam meningkatkan suhu bumi!

C4 1

menemukan solusi berdasarkan studi yang telah kalian pelajari, solusi berkelanjutan apa yang dapat kalian sarankan?

C4 1

nilai= score x 25

b. Rubrik penilaian sikap kelompok tidak bergotong

royong dalam kelompok

bekerja gotong royong dalam kelompok

bekerja gotong royong dalam kelompok, berdiskusi dengan bahasa yang baik

bekerja gotong royong dalam kelompok, berdiskusi dengan bahasa yang baik, mengemukakan ide berdasar pola fikir kritis

bekerja gotong royong dalam kelompok, berdiskusi dengan bahasa yang baik, mengemukakan ide berdasar pola fikir kritis dan memberikan ide kreatif

(8)

0 1 2 3 4 Nilai = Score x 25

c. Rubrik sikap peer asessment

https://docs.google.com/document/d/1DIT783LdEIOXUcFHj0UOcwesLGy- hjomx3xQDGSPXN0/edit?usp=sharing

nama siswa memiliki sikap gotong royong dalam kelompok (ya/tidak)

Menghargai pendapat, (ya/tidak)

Memiliki sikap peduli pada lingkungan memahami kebersihan sebagai bagian dari iman

dan disiplin (misalnya membuang sampah pada tempatnya)

berbicara menggunakan bahasa yang sopan

Score:

ya=1 Tidak = 0

nilai = jumlah skor x 25

d. Rubrik penilaian produk (keterampilan)

Nama Kelompok

Membuat jadwal pembuatan produk secara rinci saja poin 1

Membuat jadwal pembuatan produk secara rinci dan Menggunakan bahan yang bersih

poin 2

Membuat jadwal pembuatan produk secara rinci dan Menggunakan bahan yang bersih , ukuran botol yang sesuai dengan rancangan poin 3

Membuat jadwal pembuatan produk secara rinci dan Menggunakan bahan yang bersih , ukuran botol yang sesuai dengan rancangan Merancang produk inovatif ramah lingkungan

(9)

poin 4

nilai= Jumlah spoin x 25

3.

Bahan Bacaan Pendidik dan Peserta didik (versi lengkap ada dilampiran terpisah) A. Video VR:

https://www.youtube.com/watch?v=a7IROxe9qCs&list=PLxppG3CcaV4JbIUQJAzTE9pz H9pnMLmIz&index=2

B. Video peranan ecobrick

https://www.youtube.com/watch?v=sT583Jmx4kc

C. Video cara membuat ecobrick

https://www.youtube.com/watch?v=yTcaq6qoVVQ

D. Yusiaka, R dan Yanti, A. (2021). Ecobrick Solusi Cerdas Dan Praktis Untuk Pengelolaan Sampah Plastik. Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, 5 (2), 2021, 68-74

Masalah terpenting dari plastik adalah sampah plastik yang tidak dapat terurai secara alami. Membersihkan sampah plastik dari muka bumi membutuhkan waktu yang sangat lama, apalagi penggunaan plastik hampir tidak bisa diatur. Plastik juga membuat suhu udara semakin panas dari hari ke hari, karena sifat polimernya yang tidak berpori.

Saat ini, sebagian besar produk diproduksi tanpa memikirkan ke mana mereka akan pergi saat dikonsumsi. Banyak produk juga dirancang untuk gagal dalam jangka waktu tertentu yang dikenal sebagai "keusangan terencana". Filosofi desain inilah yang menjadi penyebab di balik melimpahnya tempat pembuangan sampah, pulau-pulau plastik di laut, dan menjadi momok seperti kemasan dan produk yang menyumbat ekosistem lokal. Ecobrick merupakan salah satu upaya kreatif untuk mengelola sampah plastik menjadi benda yang bermanfaat, mengurangi pencemaran dan racun yang disebabkan oleh sampah plastik.

Ecobrick adalah salah satu upaya kreatif penanganan sampah plastik. Fungsinya bukan untuk menghancurkan sampah plastik, tetapi untuk memperpanjang umur plastik tersebut dan mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat, yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia pada umumnya. Pembuatan ecobrick masih belum begitu populer di kalangan masyarakat luas. Sebagian besar masyarakat masih memperlakukan plastik bekas sebagai sampah plastik rumah tangga, mencemari lingkungan, sungai dan mencemari kehidupan sehari-hari tanpa kesadaran diri.

“Eco” dan “brick” artinya bata ramah lingkungan. Disebut “bata” karena ia dapat menjadi alternatif bagi bata konvensional dalam mendirikan bangunan. Maka dari itu ecobrick biasa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan furniture. Ecobrick adalah botol plastik yang diisi padat dengan limbah non-biological untuk membuat blok bangunan yang dapat digunakan kembali. Eko-batu bata ini adalah teknologi berbasis kolaborasi yang menyediakan solusi limbah padat tanpa biaya untuk individu, rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Juga dikenal sebagai Bottle Brick atau Ecoladrillo.

Manfaat membuat ecobricks antara lain yang pertama, pengelolaan limbah;

membuat ecobriks adalah salah satu cara yang efisien untuk mengolah limbah plastik dan dapat dilakukan oleh semua orang karena pembuatannya yang mudah. Kedua melindungi lingkungan dengan mengurangi jumlah sampah plastik. Ketiga, Membuat ecobricks yang digunakan sebagai bahan bangunan atau furniture dapat mengurangi biaya produksinya.

Muyen, dkk. (2016) menyimpulkan bahwa ecobricks lebih murah daripada batu bata.

Keempat, Inovasi terbaru ini dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan baru sehingga ada peluang dalam mendapatkan pekerjaan. Goud, dkk. (2014) menyebutkan

(10)

bahwa keterlibatan masyarakat lokal dalam proses pembuatan batu bata dan konstruksi bangunan akan meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka untuk bekerja.

Kelima, furniture dan bangunan yang terbuat dari ecobricks tidak mudah rusak karena terbuat dari plastik yang akan terurai selama 300 tahun dan dapat digunakan kembali. Nitin dan Manisha (2016) menyatakan bahwa rumah yang terbuat dari ecobricks tidak mudah rapuh, dapat digunakan kembali, mudah dibangun dan ringan. Keenam, Raut, dkk. (2015) menyatakan bahwa ecobricks memiliki kemampuan konstruksi yang baik dan hemat biaya.

Penggunaan ecobricks dalam pembuatan furniture dan bangunan memiliki daya tahan lebih lama karena bahan plastik yang digunakan tidak mudah terurai. Ketujuh, mengurangi penggunaan semen atau kayu dalam konstruksi bangunan dan furniture akan mengurangi emisi CO2 selama produksi semen dan pemotongan kayu.

Berdasarkan jurnal penelitian yang dilakukan Yusiaka dan Yanti tahun 2021, hasil kegiatan pemberdayaan masayarakat program ecobrick ini peserta tidak hanya dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan, tetapi juga melakukan salah satu cara untuk mengurangi sampah plastik yang sangat sulit diuraikan. Materi yang disampaikna oleh narasumber dan tutor sangat mudah dipahami oleh peserta.

Langkah-langkah membuat ecobrick:

1. Pilah dan bersihkan sampah plastik

2. Sediakan botol plastik bekas dalam jumlah banyak

3. Gunakan tongkat untuk memasukkan plastik ke dalam botol 4. Padatkan isi sampah plastik

5. Timbang ecobrik

E. Info Grafis dari sumber online

4.

Remedial

Sumber: https://waste4change.com/blog/konsep-prinsip-3r-reduce-reuse-recycle/

(11)

info grafis cara membuat ecobrick

Pembelajaran Remedial dan Pengayaan

Pembelajaran remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai ketuntasan (KKM) pada KD tertentu, menggunakan berbagai metode yang diakhiri dengan

penilaian untuk mengukur kembali tingkat ketuntasan belajar peserta didik.

Pembelajaran remedial diberikan setelah peserta didik mempelajari satu atau beberapa KD tertentu yang diuji melalui Ulangan Harian. Nilai yang diperoleh peserta didik setelah remedial dilaksanakan adalah sebesar nilai KKM (75)

Teknik pelaksanaan sebagai berikut :

Penugasan individu diakhiri dengan tes (lisan/tertulis) bila jumlah peserta didik yang mengikuti remedial maksimal 20%.

Penugasan kelompok diakhiri dengan penilaian individual bila jumlah peserta didik yang mengikuti remedi lebih dari 20% tetapi kurang dari 50%.

Pembelajaran ulang diakhiri dengan penilaian individual bila jumlah peserta didik yang mengikuti remedi lebih dari 50 %.

(12)

GLOSARIUM

no Istilah asing Istilah bahasa Indonesia 1 apersepsi kegiatan awal pembelajaran

2 atmosfer lapisan udara yang menyelimuti bumi

3 disposal pembuangan sampah

4 ecobrick bata ramah lingkungan

5 ekosistem keanekaragaman suatu komunitas dan lingkungannya

6 gas rumah kaca gas gas di atmosfer misalnya CO2, CH4, dan nitro genoksida yang menyebabkan pemanasan global 7 infografis informasi visual yang menarik

8 massa jumlah materi yang terkandung dalam suatu benda 9 polimer material berbentuk rantai molekul panjang dan

berulang

10 recovery pemulihan

11 recycle mendaur ulang

12 reduce mengurangi penggunaan

13 reuse menggunakan kembali

DAFTAR PUSTAKA

Yusiaka, R dan Yanti, A. (2021). Ecobrick Solusi Cerdas Dan Praktis Untuk Pengelolaan Sampah Plastik. Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, 5 (2), 2021, 68-74

Krisdianti, N. (2021). Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam SMA Kelas X. Pusat Kurikulum dan Pembukuan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbudristek. 2021

Irnaningtyas. Biologi untuk kelas X. Penerbit Erlangga.2018

Campbell. BIOLOGI. Edisi Kedelapan Jilid 2.Penerbit Erlangga. 2008

Nunung Nurhayati. Biologi untuk kelas X. Penerbit Yrama Widya.2017

https://www.youtube.com/watch?v=a7IROxe9qCs&list=PLxppG3CcaV4JbIUQJAzTE9pzH9pnMLmI z&index=2

 https://www.youtube.com/watch?v=yTcaq6qoVVQ

 https://www.youtube.com/watch?v=sT583Jmx4kc

zerowaste.id/zerowaste/ecobrick

https://waste4change.com/blog/konsep-prinsip-3r-reduce-reuse-recycle/

LKPD dilampirkan pada file berbeda

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini yaitu perangkat pembelajaran yang terdiri dari silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dengan

Melalui kegiatan pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning yang dipadukan dengan metode diskusi dan tanya jawab, diharapkan peserta didik mampu menyelesaikan

Berdasarkan uraian di atas , penulis menyimpulkan bahwa metode pembelajaran problem based learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta

Pada siklus I, mahasiswa sudah dapat memahami konsep dasar, klasifikasi, dan kriteria media pembelajaran, lebih khusus pada media grafis untuk peserta didik jenjang SD

Berdasarkan hasil data angket respon, peserta didik sangat senang dengan adanya perangkat pembelajaran berupa Lembar Kerja Peserta didik (LKPD) berbasis

Guru dan peserta didik pada akhir proses pembelajaran melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil tugas proyek.. pada tugas proyek dapat dilakukan secara individu

Penilaian pembelajaran berbasis proyek harus diakukan secara menyeluruh terhadap sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik selama pembelajaran. Teknik

HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini peneliti akan menganalisis lebih mendalam secara teoritik mengenai implementasi strategi pembelajaran project based learning pada peserta didik