• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Daerah Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Daerah Penelitian"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

50 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Daerah Penelitian

1. Keadaan Fisik

a. Letak dan Batas Daerah Penelitian

Secara administratif, Kabupaten Kebumen merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah dengan batas-batas sebagai berikut : Sebelah Utara : Kabupaten Banjarnegara

Sebelah Selatan : Samudera Hindia Sebelah Barat : Kabupaten Cilacap Sebelah Timur : Kabupaten Purworejo

Batas sebelah selatan Kabupaten Kebumen merupakan wilayah perairan sehingga Kabupaten Kebumen menjadi salah satu kabupaten paling selatan di Jawa Tengah. Letak astronomis Kabupaten Kebumen berada pada 7°27’- 7°50’ LS dan 109°33’-109°50’ BT. Batas administrasi Kabupaten Kebumen disajikan pada Peta 4.1.

commit to user

(2)

Peta 4.1 Peta Administrasi Kabupaten Kebumen Sumber : Peneliti

commit to user

(3)

b. Luas Kabupaten

Kabupaten Kebumen secara administratif terdiri dari 26 kecamatan, 449 desa, 11 kelurahan, 1930 RW, dan 7.127 RT, dengan luas wilayah sebesar 128.111,50 hektar atau 1.281,115 km². Adapun luas masing-masing kecamatan peruntukan industri besar disajikan pada Tabel 4.1 berikut.

Tabel 4.1 Luas Kecamatan Peruntukan Industri Besar Tahun 2019

No Kecamatan Luas

Km2 %

1 Petanahan 44,84 3,50

2 Pejagoan 34,58 2,70

3 Sempor 100,15 7,82

4 Gombong 19,48 1,52

Jumlah 199.05 15,54

Sumber : Kabupaten Kebumen Dalam Angka Tahun 2019

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa luas setiap kecamatan di peruntukan industri sangat bervariasi. Kecamatan Sempor merupakan kecamatan yang memiliki wilayah paling luas dengan luas wilayah 100,15 km2 atau sebesar 8,53% dari luas wilayah Kabupaten Kebumen. Sedangkan kecamatan dengan luasan tersempit berada di Kecamatan Gombong dengan luas 19,48 km2 atau sebesar 1,52 % dari luas wilayah Kabupaten Kebumen.

c. Jenis Tanah

Kabupaten Kebumen memiliki jenis tanah yang berbeda-beda yang tersebar di seluruh wilayahnya. Adapun jenis tanah yang ada di Kabupaten Kebumen adalah aluvial, glei, latosol, litosol, podsolik merah kuning, dan regosol. Jenis tanah dan luas jenis tanah di Kabupaten Kebumen disajikan pada tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.2 Jenis Tanah dan Luas Jenis Tanah di Kabupaten Kebumen

No Jenis Tanah Luas (km2) Persentase (%)

1 Aluvial 143,7 11,2

commit to user

(4)

2 Glei 372,2 29,1

3 Latosol 191 14,9

4 Litosol 93,3 7,3

5 Podsolik merah kuning 373 29,1

6 Regosol 108 8,4

Jumlah 1.281,12 100%

Sumber : Peneliti

Kecamatan peruntukan industri besar meliputi Kecamatan Pejagoan dengan persebaran jenis tanah yaitu latosol di sebelah utara, podsolik merah kuning di sebagian besar wilayah, glei di sebelah selatan, dan sebagian kecil aluvial. Kecamatan Petanahan memiliki persebaran jenis tanah yaitu glei di sebelah utara, aluvial, dan regosol di sebelah selatan dimana bagian selatan dari Kecamatan Petanahan adalah pesisir. Kecamatan Sempor didominasi jenis tanah podsolik merah kuning, sebagian latosol di bagian barat dan glei di bagian selatan. Kecamatan Gombong memiliki jenis tanah glei pada seluruh wilayahnya. Persebaran jenis tanah di Kabupaten Kebumen disajikan pada peta jenis tanah berikut.

commit to user

(5)

Peta 4.2 Peta Jenis Tanah Kabupaten Kebumen Sumber : Peneliti

commit to user

(6)

d. Iklim

1) Curah Hujan

Curah hujan selama satu tahun di Kabupaten Kebumen menurut data BPS tahun 2019 adalah 3122 mm3 dengan total jumlah hari hujan sejumlah 149 hari. Curah hujan paling tinggi berada di bulan November, sedangkan curah hujan terendah berada di bulan juli.

Adapun hari hujan terbanyak berada pada bulan Januari sedangkan hari hujan paling sedikit berada di bulan Juli. Data curah hujan di Kabupaten Kebumen disajikan pada tabel 4.3 berikut.

Tabel 4.3 Jumlah Curah Hujan dan Hari Hujan Menurut Bulan di Kabupaten Kebumen Tahun 2018

No. Bulan Curah Hujan (mm3) Hari Hujan

1 Januari 465 26

2 Februari 407 22

3 Maret 513 18

4 April 433 15

5 Mei 105 4

6 Juni 18 3

7 Juli 5 1

8 Agustus 10 3

9 September 35 7

10 Oktober 23 8

11 November 667 20

12 Desember 441 22

Jumlah 3122 149

Sumber : Kabupaten Kebumen dalam Angka Tahun 2019

commit to user

(7)

2. Sosial Ekonomi Penduduk

a. Jumlah dan Persebaran Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Kebumen pada tahun 2018 berjumlah 1.195.092 jiwa yang terdiri dari 595.003 laki-laki dan 600.089 perempuan.

Pertumbuhan penduduk pada tahun 2017 hingga tahun 2018 sebesar 0,26 %.

Kepadatan penduduk Kabupaten Kebumen tahun 2018 mencapai 933 jiwa/km2.

Tabel 4.4 Jumlah Penduduk Kabupaten Kebumen Tahun 2018

No Kecamatan Penduduk

Jiwa %

1 Petanahan 54.352 4,55

2 Pejagoan 50.263 4,21

3 Sempor 49.622 4,15

4 Gombong 47.694 3,99

Jumlah 201. 931 17,74

Sumber : Kabupaten Kebumen Dalam Angka Tahun 2019

Dari data jumlah penduduk dan persebaran penduduk di Kabupaten Kebumen tahun 2018 pada Tabel 4.2 dapat dilihat jumlah penduduk tertinggi di kecamatan peruntukan industri besar berada di Kecamatan Petanahan sejumlah 54.352 jiwa dengan persentase 4,55% dari seluruh jumlah penduduk di Kabupaten Kebumen pada tahun 2018. Sedangkan jumlah penduduk paling rendah berada di Kecamatan Gombong dengan jumlah penduduk 47.694 jiwa atau 3,99% penduduk yang menempati Kecamatan Gombong.

b. Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk adalah gambaran jumlah penduduk pada suatu wulayah dibandingkan dengan luas wilayah tersebut. Dari kepadatan penduduk dapat diketahui jumlah penduduk yang tinggal di suatu tempat pada satuan kilometer persegi. Kepadatan penduduk di Kabupaten Kebumen disajikan pada tabel 4.3 berikut ini.

commit to user

(8)

Tabel 4.5 Kepadatan Penduduk Kabupaten Kebumen tahun 2018

No Kecamatan Luas

(km2)

Jumlah (jiwa)

Kepadatan Penduduk (jiwa/km2)

1 Petanahan 44,84 54.352 1212

2 Pejagoan 34,58 50.263 1454

3 Sempor 100,15 49.622 495

4 Gombong 19,48 47.694 2448

Jumlah 199.05 201.931 1015

Sumber : Kabupaten Kebumen dalam Angka 2019

Berdasarkan Tabel 4.6 dapat diketahui kepadatan penduduk di kecamatan peruntukan industri besar paling tinggi berada di Kecamatan Gombong yaitu dengan kepadatan 2448 jiwa/km2. Hal ini disebabkan karena Kecamatan Gombong memiliki jumlah penduduk yang tinggi, namun luas wilayahnya sempit. Adapun kecamatan dengan kepadatan paling rendah berada di Kecamatan Sempor dengan kepadatan 495 jiwa/km2. Kecamatan Sempor memiliki luas wilayah yang besar, sehingga jumlah penduduk yang banyak tidak menjadikan tingginya kepadatan penduduk di kecamatan tersebut.

c. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Rasio Jenis Kelamin Kabupaten Kebumen memiliki komposisi penduduk menurut jenis kelamin pada masing-masing daerah yang disajikan pada tabel 4.7 berikut.

Secara keseluruhan, penduduk laki-laki Kabupaten Kebumen berjumlah 595.003, sedangkan penduduk perempuan berjumlah 600.089 orang.

Tabel 4.6 Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Jenis Kelamin di Kabupaten Kebumen

commit to user

(9)

No Kecamatan Laki-laki Perempuan Sex Rasio

1 Petanahan 27.409 26.943 101,73

2 Pejagoan 25.217 25.046 100,68

3 Sempor 29.376 30.246 97,12

4 Gombong 23.267 24.427 95,25

Jumlah 105.269 106.662

Sumber : Kabupaten Kebumen dalam Angka 2019

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki di kecamatan peruntukan industri besar sejumlah 105.269 dan jumlah penduduk perempuan sejumlah 106.662.

d. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Menurut keadaan kelompok umur, Kabupaten Kebumen merupakan kabupaten dengan piramida penduduk muda. Pada tabel 4.8 disajikan data penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin.

Tabel 4.7 Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin

No Usia Laki-Laki Perempuan Jumlah

1 0-4 48.647 45.686 94.333

2 5-9 52.477 48.937 101.414

3 10-14 56.121 52.951 109.072

4 15-19 52.289 44.185 96.474

5 20-24 37.181 35.403 72.584

6 25-29 33.110 34.289 67.399

7 30-34 33.623 36.105 69.728

8 35-39 37.858 40.843 78.701

9 40-44 40.578 43.113 83.691

10 45-49 41.444 44.133 85.577

11 50-54 38.636 42.605 81.241

12 55-59 commit to user 34.782 36.775 71.557

(10)

13 60-64 28.876 28.643 57.519

14 65-69 21.203 21.358 42.561

15 70-74 15.145 17.333 32.478

16 75+ 21.498 26.180 47.678

17 Jumlah 593.468 598.539 1.192.007

Sumber : Kabupaten Kebumen dalam Angka 2019

B. Hasil Penelitian

Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen nomor 23 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kebumen tahun 2011-2031 pada pasal 36 menyatakan kawasan peruntukan industri di Kabupaten Kebumen dibagi menjadi tiga jenis yaitu :

1. Kawasan peruntukan industri besar, meliputi lima kecamatan yaitu Kecamatan Buayan, Kecamatan Petanahan, Kecamatan Kebumen, Kecamatan Sempor, dan Kecamatan Gombong.

2. Kawasan peruntukan industri menengah, meliputi tujuh kecamatan yaitu Kecamatan Petanahan, Kecamatan Kebumen, Kecamatan Alian, Kecamatan Karanngayam, Kecamatan Prembun, Kecamatan Sempor, dan Kecamatan Gombong.

3. Kawasan peruntukan industri kecil dan mikro, tersebar di seluruh kecamatan.

Rencana kawasan peruntukan industri besar di Kabupaten Kebumen terdiri dari lima kecamatan, namun setelah penelitian lapangan, didapati bahwa terdapat pembaruan mengenai kawasan peruntukan industri besar di Kabupaten Kebumen yang tercantum dalam Peta RTRW Kabupaten Kebumen tahun 2011- 2031 yang terdiri dari Kecamatan Pejagoan, Kecamatan Petanahan, Kecamatan Sempor, dan Kecamatan Gombong. Kecamatan Buayan yang semula merupakan salah satu rencana kawasan peruntukan industri besar, dihapuskan karena masyarakat setempat menolak dikarenakan wilayah Kecamatan Buayan commit to user

(11)

merupakan daerah karst dan termasuk dalam geosite yang ada di Kabupaten Kebumen. Sedangkan Kecamatan Kebumen yang semula juga merupakan kawasan peruntukan industri besar, dialihkan ke Kecamatan Pejagoan dikarenakan Kecamatan Kebumen fokus kepada industri mikro dan industri kreatif, sehingga penelitian ini menggunakan wilayah yang tercantum dalam Peta RTRW yang dimaksudkan agar cakupan wilayah yang digunakan sesuai dengan rencana kawasan peruntukan industri besar. Adapun luas daerah penelitian atau luas kawasan peruntukan industri besar adalah sebagai berikut :

Tabel 4.8 Luas Kawasan Peruntukan Industri Besar

No Kecamatan Luas (Ha) Presentase (%)

1 Petanahan 26 0,11

2 Pejagoan 103 0,45

3 Sempor 36 0,16

4 Sempor 20 0,09

5 Gombong 43 0,19

Jumlah 228

Sumber : Peta RTRW Kabupaten Kebumen Tahun 2011-2031

Pemberian nilai untuk pembobotan yang diberikan oleh stakeholder, selanjutnya perlu untuk meninjau kondisi eksisting masing-masing alternatif. Hal ini dimaksudkan agar pemberian nilai tidak subjektif, tetapi dapat meninjau terhadap kondisi eksisting masing-masing alternatif. Kondisi eksisting yang diperlukan mencakup kondisi fisik, sosial, dan ekonomi. Adapun kondisi eksisting wilayah rencana peruntukan industri adalah sebagai berikut :

commit to user

(12)

Tabel 4.9 Kondisi Eksisting Kriteria Fisik Kawasan Peruntukan Industri No Kecamatan Kemiringan Lereng

(%)

Penggunaan Lahan Jenis Tanah Jarak Jalan (m)

Jarak Sungai (m)

Jarak Pasar (m)

1 Petanahan 0-8 Sawah Irigasi Glei >2000 > 750 3001-5000

2 Pejagoan 0-8 Permukiman Glei 0-500 500-750 0-1000

3 Sempor 0-8 Permukiman Glei 0-500 50-250 1001-3000

5 Gombong 0-8 Permukiman Glei 0-500 50-250 1001-3000

Sumber : Peneliti

Tabel 4.10 Kondisi Eksisting Kriteria Sosial Kawasan Peruntukan Industri No Kecamatan Usaha

Masyarakat

Pengetahuan Masyarakat

Kepemimpinan Kondisi Masyarakat

Pengetahuan tentang isu

Sumber terkait permasalahan

1 Petanahan 8,2 2,2 3,0 8,3 4,0 6,6

2 Pejagoan 6,1 2,0 3,1 9,1 4,0 7,4

3 Sempor 4,4 2,1 3,0 6,6 4,1 5,3

4 Gombong 5,1 2,9 3,0 5,8 4,7 5,3

commit to user

(13)

Tabel 4.11 Kondisi Eksisting Kriteria Ekonomi Kawasan Peruntukan Industri No Kecamatan Ketersediaan

Tenaga Kerja (Jiwa)

Upah Tenaga Kerja (Rp)

Bahan Baku (ton) Aglomerasi Industri

1 Petanahan 5918 1.835.000 1107,60 -

2 Pejagoan 1104 1.835.000 - -

3 Sempor 3245 1.835.000 - -

4 Gombong 3046 1.835.000 98,67 -

commit to user

(14)

1. Mengetahui Bobot Subkriteria Pada Kawasan Peruntukan Industri Besar

Penentuan prioritas pengembangan kawasan peruntukan industri besar di Kabupaten Kebumen dalam penelitian ini dilakukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil dari penentuan prioritas akan menghasilkan prioritas I pengembangan kawasan peruntukan industri besar di Kabupaten Kebumen dilihat dari aspek fisik, aspek sosial, dan aspek ekonomi pada kawasan peruntukan industri besar tersebut. Langkah dalam penentuan prioritas pengembangan kawasan peruntukan industri besar dilakukan dengan langkah-langkah berikut :

a. Penyusunan Hirarki

Metode Analytical Hierarchy Process diawali dengan penyusunan hirarki yang terdiri dari goal atau tujuan, kriteria, subkriteria, dan alternatif dari penelitian. Tujuan disusunnya hirarki adalah agar alur pemecahan masalah dapat disajikan secara efektif. Dari penyusunan hirarki, peneliti dapat mengidentifikasi mulai dari apa yang akan dicapai dan apa yang menjadi bahan pertimbangan.

Pada penelitian ini, goal adalah sesuatu yang akan dicapai dalam penelitian ini, yaitu prioritas pengembangan kawasan peruntukan industri besar. Kriteria adalah aspek yang menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang terdiri dari aspek fisik, sosial, dan ekonomi.

Sedangkan masing-masing aspek memiliki parameter yang disebut sebagai subkriteria. Alternatif adalah wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan peruntukan industri besar, yang digunakan dalam penelitian ini adalah yang sesuai dengan poligon yang terdapat dalam Peta RTRW Kabupaten Kebumen tahun 2011-2031, yaitu Kecamatan Pejagoan, Kecamatan Petanahan, Kecamatan Sempor, Kecamatan Gombong.

Hirarki penelitian digambarkan pada skema berikut ini :

commit to user

(15)

Gambar 4.1 Hirarki Penelitian Sumber : Peneliti b. Matriks Perbandingan Berpasangan

Matriks perbandingan berpasangan disusun agar dapat diperolehnya data. Data diisi oleh stakeholder dalam hal ini adalah Bappeda, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Matriks perbandingan berpasangan berisi perbandingan antar parameter dari masing-masing aspek. Matriks perbandingan adalah sebagai berikut :

1) Matriks Perbandingan Berpasangan Kriteria Fisik

Kriteria fisik terdiri dari kemiringan lereng, penggunaan lahan, jenis tanah, jarak lahan terhadap jalan utama, jarak lahan Prioritas Pengembangan Kawasan

Peruntukan Industri Besar Goal

Fisik Sosial Ekonomi Kriteria

Kemiringan Lereng Penggunaan Lahan Jenis Tanah

Jarak Jalan Utama Jarak Sungai Jarak Pasar

Usaha Masyarakat Pengetahuan Masyarakat Kepemimpinan Kondisi

Masyarakat Pengetahuan Isu Sumber

Permasalahan

Jumlah Tenaga Kerja

Upah Tenaga Kerja Ketersediaan Bahan Baku

Aglomerasi Industri Serupa

Sub Kriteria

Petanahan Pejagoan Sempor Gombong Alternatif

commit to user

(16)

terhadap sungai, dan jarak lahan terhadap pasar. Masing-masing parameter dibandingkan dengan parameter lain sehingga menghasilkan data berikut :

Tabel 4.12 Matriks Perbandingan Berpasangan Kriteria Fisik

Parameter KL PL JT JJ JS JP

KL 1,00 1,00 1,00 4,00 2,00 6,00 PL 1,00 1,00 1,00 4,00 6,00 8,00 JT 1,00 1,00 1,00 3,00 3,00 6,00 JJ 0,25 0,25 0,33 1,00 1,00 6,00 JS 0,50 0,17 0,33 1,00 1,00 2,00 JP 0,17 0,13 0,17 0,17 0,50 1,00 Jumlah 3,92 3,54 3,83 13,17 13,50 29,00 Sumber : Peneliti

Keterangan :

KL = Kemiringan Lereng JJ = Jarak Jalan PL = Penggunaan Lahan JS = Jarak Sungai JT = Jenis Tanah JP = Jarak Pasar

Setelah diperoleh hasil kuesioner, langkah selanjutnya adalah mencari nilai CR atau rasio konsistensi. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang memiliki rasio konsistensi < 0,1. Langakah dalam pengujian konsistensi adalah sebagai berikut :

a) Normalisasi Data

Normalisasi data dilakukan untuk memastikan apakah data yang dimasukkan dan dilakukan penjumlahan sudah sesuai atau sebaliknya. Normalisasi data disebut benar apabila hasil dari normalisasi setiap parameter adalah 1. Normalisasi data dilakukan dengan membagi poin setiap parameter dengan jumlah parameter seperti berikut ini :

commit to user

(17)

Normalisasi KL = Kolom KL/Jumlah kolom KL

= 1,00/3,92

= 0,26

Normalisasi PL = Kolom PL/Jumlah kolom PL

= 1,00/3,54

= 0,28

Normalisasi JT = Kolom JT/Kolom PL

= 1,00/3,83

= 0,26

Normalisasi JJ = Kolom JJ/Jumlah JJ

= 4,00/13,17

= 0,30

Normalisasi JS = Kolom JS/Jumlah JS

= 2,00/13,50

= 0,15

Normalisasi JP = Kolom JP/Jumlah JP

= 6,00/29,00

=0,21. Dan seterusnya

Sehingga hasil normalisasi data tersaji dalam tabel 4.1 berikut

commit to user

(18)

Tabel 4.13 Hasil Normalisasi Data Fisik

S

Sumber : Data primer diolah b) Faktor Prioritas

Setelah dilakukan normalisasi data dan data sudah dipastikan benar, langkah selanjutnya adalah mencari faktor prioritas.

Faktor prioritas diperoleh dari hasil bagi dari jumlah baris tiap parameter dengan jumlah seluruh parameter. Perhitungan faktor prioritas adalah sebagai berikut :

Faktor prioritas KL = Jml KL/Jml seluruh parameter

= 1,46/6,00

= 0,24 atau 24%

Faktor prioritas PL = Jml PL/Jml seluruh parameter

= 1,82/6,00

= 0,30 atau 30%

Faktor prioritas JT = Jml JT/Jml seluruh parameter

= 1,46/6,00

= 0,24 atau 24%

Parameter KL PL JT JJ JS JP Jml

KL 0,26 0,28 0,26 0,30 0,15 0,21 1,46 PL 0,26 0,28 0,26 0,30 0,44 0,28 1,82 JT 0,26 0,28 0,26 0,23 0,22 0,21 1,46 JJ 0,06 0,07 0,09 0,08 0,07 0,21 0,58 JS 0,13 0,05 0,09 0,08 0,07 0,07 0,48 JP 0,04 0,04 0,04 0,01 0,04 0,03 0,21

Jumlah 1 1 1 1 1 1 6,00

commit to user

(19)

Faktor prioritas JJ = Jml JJ/Jml seluruh parameter

= 0,58/6,00

= 0,10 atau 10%

Faktor prioritas JS = Jml JS/Jml seluruh parameter

= 0,48/6,00

= 0,8 atau 8%

Faktor prioritas JP = Jml JP/Jml seluruh parameter

= 0,21/6,00

= 0,03 atau 3%

Sehingga dihasilkan faktor prioritas sebagai berikut : Tabel 4.14 Prioritas Parameter Kriteria Fisik

No Parameter Bobot Prioritas

1 Kemiringan lereng

0,24 II 2 Penggunaan lahan

0,30 I

3 Jenis tanah

0,24 III 4 Jarak lahan terhadap jalan

0,10 IV

5 Jarak lahan terhadap sungai

0,07 V

6 Jarak lahan terhadap pasar

0,03 VI

Sumber : Peneliti

Dari Tabel 4.14, diperoleh hasil bahwa faktor terbesar dalam penentuan bangunan industri adalah faktor penggunaan lahan, yaitu 30%. Sedangkan faktor penentuan selanjutnya adalah kemiringan lereng dan jenis tanah yang memiliki bobot sama, yaitu 24%. Selanjutnya jarak terhadap jalan merupakan faktor prioritas yang keempat, dengan presentase 10%. Faktor commit to user

(20)

prioritas kelima yaitu jarak terhadap sungai dengan presentase 7%. Jarak terhadap pasar merupakan faktor yang terakhir diprioritaskan dengan presentase 3%. Adapun diagram dari bobot parameter disajikan pada gambar 4.3 berikut :

Gambar 4.1 Diagram Bobot Parameter Fisik Sumber : Peneliti

c) Uji Konsistensi

Dalam pengujian konsistensi, terdapat beberapa langkah seperti mencari hasil kali matriks yang diperoleh dari baris masing-masing parameter dengan kolom faktor prioritas, mencari lamda atau rata-rata hasil kali dibagi dengan faktor prioritas, indeks konsistensi, indeks random, dan terakhir adalah rasio konsistensi. Langkah pertama yaitu mencari hasil kali matriks seperti berikut :

24%

30%

24%

10%

8%

3%

Kemiringan Lereng Penggunaan Lahan Jenis Tanah Jarak Jalan Jarak Sungai Jarak Pasar

commit to user

(21)

Tabel 4.15 Faktor Prioritas Kriteria Fisik

Fisik KL PL JT JJ JS JP Priority Vektor KL 1,00 1,00 1,00 4,00 2,00 6,00 0,24 PL 1,00 1,00 1,00 4,00 6,00 8,00 0,30 JT 1,00 1,00 1,00 3,00 3,00 6,00 0,24 JJ 0,25 0,25 0,33 1,00 1,00 6,00 0,10 JS 0,50 0,17 0,33 1,00 1,00 2,00 0,08 JP 0,17 0,13 0,17 0,17 0,50 1,00 0,03 Sumber: Peneliti

Hasil kali diperoleh dari perkalian matriks antara baris kemiringan lereng dengan kolom faktor prioritas, baris penggunaan lahan dengan kolom faktor prioritas, baris jenis tanah dengan kolom faktor prioritas, dan seterusnya. Hasil kali disajikan pada tabel berikut :

Tabel 4.16 Hasil Kali Kriteria Fisik Priority

vektor

Hasil kali Hasil kali/priority vektor

0,24 1,54 6,34

0,30 1,93 6,35

0,24 1,52 6,28

0,10 0,60 6,22

0,08 0,50 6,22

0,03 0,21 6,11

Sumber : Peneliti

Setelah diperoleh angka hasil kali dan hasil kali yang dibagi dengan faktor prioritas, maka selanjutnya angka hasil kali dibagi dengan faktor prioritas kemudian dirata-rata sehingga menghasilkan nilai lamda max. Perhitungannya adalah sebagai berikut :

∑Maks = 6,34+6,35+6,28+6,22+6,22+6,11 6

= 6,25

commit to user

(22)

Perhitungan selanjutnya yaitu mencari nilai indeks konsistensi/CI, dengan perhitungan sebagai berikut :

𝐶𝐼 = ((Σ𝑚𝑎𝑘𝑠

𝑛 − (𝑛 − 1)) 𝐶𝐼 = ((6,25

6 − (6 − 1)) CI = 0,05

Lalu, mencari nilai CR dengan rumus : 𝐶𝑅 = 𝐶𝐼

𝐼𝑅

CR = 0,05

1,24

CR = 0,04

Dari nilai rasio konsistensi di atas maka dapat disimpulkan bahwa pemberian data dinilai konsisten karena <0,1.

2) Matriks Perbandingan Berpasangan Sosial

Kriteria sosial terdiri dari usaha masyarakat, pengetahuan masyarakat, kepemimpinan, kondisi masyarakat, pengetahuan terhadap isu, dan sumber terkait permasalahan. Masing-masing parameter dibandingkan dengan parameter lain sehingga menghasilkan data berikut :

Tabel 4.17 Matriks Perbandingan Berpasangan Kriteria Sosial

Sosial UM PM KP KM PI SP

UM 1,00 0,50 0,33 0,13 0,33 0,33 PM 2,00 1,00 4,00 0,33 3,00 3,00 KP 3,00 0,25 1,00 0,14 0,33 0,33 KM 8,00 3,00 7,00 1,00 3,00 3,00 PI 3,00 0,33 3,00 0,33 1,00 3,00 SP 3,00 0,33 3,00 0,33 0,33 1,00 Jumlah 20,00 5,42 18,33 2,27 8,00 10,67 Sumber : Peneliti commit to user

(23)

Keterangan :

UM = Usaha Masyarakat PM = Pengetahuan Masyarakat KP = Kepemimpinan

KM = Kondisi Masyarakat

PI = Pengetahuan Masyarakat terhadap Isu SP = Sumber terkait Permasalahan

Setelah diperoleh hasil kuesioner, langkah selanjutnya adalah mencari nilai CR atau rasio konsistensi. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang memiliki rasio konsistensi < 0,1. Langkah dalam pengujian konsistensi adalah sebagai berikut :

a) Normalisasi Data

Normalisasi data dilakukan untuk memastikan apakah data yang dimasukkan dan dilakukan penjumlahan sudah sesuai atau sebaliknya. Normalisasi data disebut benar apabila hasil dari normalisasi setiap parameter adalah 1. Normalisasi data dilakukan dengan membagi poin setiap parameter dengan jumlah parameter seperti berikut ini :

Normalisasi UM = Kolom UM/Jumlah kolom UM

= 1,00/20,00

= 0,05

Normalisasi PM = Kolom PM/Jumlah kolom PM

= 0,50/5,42

commit to user

(24)

= 0,09

Normalisasi KP = Kolom KP/Kolom KP

= 0,33/18,33

= 0,02

Normalisasi KM = Kolom KM/Jumlah KM

= 0,13/2,27

= 0,06

Normalisasi PI = Kolom PI/Jumlah PI

= 0,33/8,00

= 0,04

Normalisasi SP = Kolom SP/Jumlah SP

= 0,33/10,67

=0,03. Dan seterusnya

Sehingga hasil normalisasi data tersaji dalam tabel 4.1 berikut Tabel 4.18 Hasil Normalisasi Data Sosial

Sosial UM PM KP KM PI SP Jumlah UM 0,05 0,09 0,02 0,06 0,04 0,03 0,29

PM 0,10 0,18 0,22 0,15 0,38 0,28 1,31 KP 0,15 0,05 0,05 0,06 0,04 0,03 0,39 KM 0,40 0,55 0,38 0,44 0,38 0,28 2,43 PI 0,15 0,06 0,16 0,15 0,13 0,28 0,93 SP 0,15 0,06 0,16 0,15 0,04 0,09 0,66 JUMLAH 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 6,00 Sumber : Peneliti

commit to user

(25)

b) Faktor Prioritas

Setelah dilakukan normalisasi data dan data sudah dipastikan benar, langkah selanjutnya adalah mencari faktor prioritas.

Faktor prioritas diperoleh dari hasil bagi dari jumlah baris tiap parameter dengan jumlah seluruh parameter. Perhitungan faktor prioritas adalah sebagai berikut :

Faktor prioritas UM = Jml UM/Jml seluruh parameter

= 0,29/6,00

= 0,05 atau 5%

Faktor prioritas PM = Jml PM/Jml seluruh parameter

= 1,31/6,00

= 0,22 atau 22%

Faktor prioritas KP = Jml KP/Jml seluruh parameter

= 0,39/6,00

= 0,06 atau 6%

Faktor prioritas KM = Jml KM/Jml seluruh parameter

= 2,43/6,00

= 0,41 atau 41%

Faktor prioritas PI = Jml PI/Jml seluruh parameter

= 0,93/6,00

= 0,15 atau 15%

Faktor prioritas SP = Jml SP/Jml seluruh parameter commit to user = 0,66/6,00

(26)

= 0,11 atau 11%

Sehingga dihasilkan faktor prioritas sebagai berikut : Tabel 4.19 Prioritas Parameter Aspek Sosial

No Parameter Bobot Prioritas

1 Usaha Masyarakat

0,05 VI

2 Pengetahuan Masyarakat

0,22 II 3 Kepemimpinan

0,06 V

4 Kondisi Masyarakat

0,41 I

5 Pengetahuan isu

0,15 III 6 Sumber permasalahan

0,11 IV

Sumber : Peneliti

Berdasarkan tabel 4.19, diperoleh hasil bahwa faktor terbesar dalam penentuan prioritas pengembangan kawasan peruntukan industri secara aspek fisik adalah kondisi masyarakat dengan bobot 0,41 atau 41%, pengetahuan masyarakat dengan bobot 0,22 atau 22%, lalu pada bobot terbesar ketiga adalah pengetahuan tentang isu dengan bobot 0,15 aatau 15%, sumber terkait permasalahan dengan bobot 0,11 atau 11%, dan terakhir yaitu usaha masyarakat dengan bobot 0,05 atau 5%. Adapun diagram dari bobot parameter disajikan pada gambar 4.3 berikut :

commit to user

(27)

Gambar 4.2 Diagram Bobot Parameter Sosial Sumber : Peneliti

c) Uji Konsistensi

Dalam pengujian konsistensi, terdapat beberapa langkah seperti mencari hasil kali matriks yang diperoleh dari baris masing-masing parameter dengan kolom faktor prioritas, mencari lamda atau rata-rata hasil kali dibagi dengan faktor prioritas, indeks konsistensi, indeks random, dan terakhir adalah rasio konsistensi. Langkah pertama yaitu mencari hasil kali matriks seperti berikut :

5%

22%

6%

41%

15%

11%

Bobot Aspek Sosial

Usaha Masyarakat Pengetahuan Masyarakat Kepemimpinan Kondisi Masyarakat Pengetahuan isu Sumber

permasalahan

commit to user

(28)

Tabel 4.20 Faktor Prioritas Kriteria Sosial Sosia

l UM PM KP KM PI SP PRIORIT

Y UM 0,05 0,0

9 0,02 0,0 6

0,0 4

0,0

3 0,05

PM 0,10 0,1

8 0,22 0,1 5

0,3 8

0,2

8 0,22

KP 0,15 0,0

5 0,05 0,0 6

0,0 4

0,0

3 0,06

KM 0,40 0,5

5 0,38 0,4 4

0,3 8

0,2

8 0,41

PI 0,15 0,0

6 0,16 0,1 5

0,1 3

0,2

8 0,15

SP 0,15 0,0

6 0,16 0,1 5

0,0 4

0,0

9 0,11

Sumber : Peneliti

Hasil kali diperoleh dari perkalian matriks antara baris usaha masyarakat dengan kolom faktor prioritas, baris pengetahuan masyarakat dengan kolom faktor prioritas, baris kepemimpinan dengan kolom faktor prioritas, dan seterusnya.

Hasil kali disajikan pada tabel berikut : Tabel 4.21 Hasil Kali Kriteria Sosial

Priority

Vektor Hasil kali Hasil kali/Priority Vektor

0,05 0,35 7,23

0,22 1,50 6,89

0,06 0,41 6,27

0,41 2,54 6,27

0,15 1,03 6,65

0,11 0,71 6,45

Sumber : Peneliti

Setelah diperoleh angka hasil kali dan hasil kali yang dibagi dengan faktor prioritas, maka selanjutnya angka hasil kali dibagi dengan faktor prioritas kemudian dirata-rata sehingga menghasilkan nilai lamda max. Perhitungannya adalah sebagai berikut : commit to user

(29)

∑Maks = 7,23+6,89+6,27+6,27+6,65+6,45 6

= 6,63

Perhitungan selanjutnya yaitu mencari nilai indeks konsistensi/CI, dengan perhitungan sebagai berikut :

𝐶𝐼 = ((Σ𝑚𝑎𝑘𝑠

𝑛 − (𝑛 − 1)) 𝐶𝐼 = ((6,63

6 − (6 − 1)) CI = 0,13

Lalu, mencari nilai CR dengan rumus : 𝐶𝑅 = 𝐶𝐼

𝐼𝑅

CR = 0,13

1,24

CR = 0,10

Dari nilai rasio konsistensi di atas maka dapat disimpulkan bahwa pemberian data dinilai konsisten karena <0,1.

3) Matriks Perbandingan Berpasangan Ekonomi

Kriteria ekonomi terdiri dari jumlah ketersediaan tenaga kerja, upah tenaga kerja, ketersediaan bahan baku, dan aglomerasi industri serupa. Masing-masing parameter dibandingkan dengan parameter lain sehingga menghasilkan data berikut :

commit to user

(30)

Tabel 4.22 Matriks Perbandingan Berpasangan Kriteria Ekonomi

Ekonomi TK UPAH BB AG

TK 1,00 3,00 0,33 1,00

UPAH 0,33 1,00 0,33 0,33

BB 3,00 3,00 1,00 3,00

AG 1,00 3,00 0,33 1,00

JUMLAH 5,33 10,00 2,00 5,33

Sumber : Peneliti Keterangan :

TK = Ketersediaan Tenaga Kerja Upah = Upah Tenaga Kerja

BB = Bahan Baku

AG = Aglomerasi Industri Serupa

Setelah diperoleh hasil kuesioner, langkah selanjutnya adalah mencari nilai CR atau rasio konsistensi. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang memiliki rasio konsistensi < 0,1. Langkah dalam pengujian konsistensi adalah sebagai berikut :

a) Normalisasi Data

Normalisasi data dilakukan untuk memastikan apakah data yang dimasukkan dan dilakukan penjumlahan sudah sesuai atau sebaliknya. Normalisasi data disebut benar apabila hasil dari normalisasi setiap parameter adalah 1. Normalisasi data dilakukan dengan membagi poin setiap parameter dengan jumlah parameter seperti berikut ini :

Normalisasi TK = Kolom TK/Jumlah kolom TK commit to user = 1,00/5,33

(31)

= 0,19

Normalisasi Upah = Kolom upah/Jumlah kolom upah

= 3,00/10,00

= 0,30

Normalisasi BB = Kolom BB/Kolom BB

= 0,33/2,00

= 0,17

Normalisasi AG = Kolom AG/Jumlah AG

= 1,00/5,33

= 0,19, Dan seterusnya

Sehingga hasil normalisasi data tersaji dalam tabel 4.1 berikut Tabel 4.23 Hasil Normalisasi Data Ekonomi

Ekonomi TK UPAH BB AG Jumlah

TK 0,19 0,30 0,17 0,19 0,84

UPAH 0,06 0,10 0,17 0,06 0,39

BB 0,56 0,30 0,50 0,56 1,93

AG 0,19 0,30 0,17 0,19 0,84

Jumlah 1,00 1,00 1,00 1,00 4,00 Sumber : Peneliti

b) Faktor Prioritas

Setelah dilakukan normalisasi data dan data sudah dipastikan benar, langkah selanjutnya adalah mencari faktor prioritas.

Faktor prioritas diperoleh dari hasil bagi dari jumlah baris tiap parameter dengan jumlah seluruh parameter. Perhitungan faktor prioritas adalah sebagai berikut :

commit to user

(32)

Faktor prioritas TK = Jml TK/Jml seluruh parameter

= 0,84/4,00

= 0,21 atau 21%

Faktor prioritas Upah = Jml Upah/Jml seluruh parameter

= 0,39/4,00

= 0,10 atau 10%

Faktor prioritas BB = Jml BB/Jml seluruh parameter

= 1,93/4,00

= 0,48 atau 48%

Faktor prioritas AG = Jml AG/Jml seluruh parameter

= 0,84/4,00

= 0,21 atau 21%

Sehingga dihasilkan faktor prioritas sebagai berikut : Tabel 4.24 Prioritas Parameter Aspek Ekonomi

No Parameter Bobot Prioritas

1 Ketersediaan Tenaga Kerja

0,21 III 2 Upah Tenaga Kerja

0,10 IV

3 Ketersediaan Bahan Baku

0,48 I

4 Aglomerasi Industri Serupa

0,21 II Sumber : Peneliti

Dari Tabel 4.24, diperoleh hasil bahwa faktor terbesar dalam penentuan prioritas pengembangan kawasan peruntukan industri secara aspek ekonomi adalah ketersediaan bahan baku dengan bobot 0,48 atau 48%, lalu ketersediaan bahan commit to user

(33)

baku dan aglomerasi industri serupa memiliki bobot yang sama yaitu 0,21 atau 21%, dan bobot terendah adalah upah tenaga kerja dengan bobot 0,10 atau 10%. Adapun diagram dari bobot parameter disajikan pada gambar 4.3 berikut :

Gambar 4.3 Diagram Bobot Parameter Ekonomi Sumber : Peneliti

c) Uji Konsistensi

Dalam pengujian konsistensi, terdapat beberapa langkah seperti mencari hasil kali matriks yang diperoleh dari baris masing-masing parameter dengan kolom faktor prioritas, mencari lamda atau rata-rata hasil kali dibagi dengan faktor prioritas, indeks konsistensi, indeks random, dan terakhir adalah rasio konsistensi. Langkah pertama yaitu mencari hasil kali matriks seperti berikut :

Tabel 4.25 Faktor Prioritas Kriteria Ekonomi

Ekonomi TK UPAH BB AG PRIORITY

TK 0,19 0,30 0,17 0,19 0,21

UPAH 0,06 0,10 0,17 0,06 0,10

BB 0,56 0,30 0,50 0,56 0,48

AG 0,19 0,30 0,17 0,19 0,21

Sumber : Peneliti

21%

10%

48%

21%

Bobot Parameter Aspek Ekonomi

Ketersediaan Tenaga Kerja Upah Tenaga Kerja Ketersediaan Bahan Baku Aglomerasi Industri Serupa

commit to user

(34)

Hasil kali diperoleh dari perkalian matriks antara baris ketersediaan tenaga kerja dengan kolom faktor prioritas, baris upah tenaga kerja dengan kolom faktor prioritas, baris bahan baku dengan kolom faktor prioritas, dan baris aglomerasi dengan kolom faktor prioritas. Hasil kali disajikan pada tabel berikut :

Tabel 4.26 Hasil Kali Kriteria Ekonomi Priority

Vektor Hasil kali Hasil kali/priority vektor

0,21 0,88 4,16

0,10 0,40 4,07

0,48 2,04 4,23

0,21 0,88 4,16

Sumber : Peneliti

Setelah diperoleh angka hasil kali dan hasil kali yang dibagi dengan faktor prioritas, maka selanjutnya angka hasil kali dibagi dengan faktor prioritas kemudian dirata-rata sehingga menghasilkan nilai lamda max. Perhitungannya adalah sebagai berikut :

∑Maks = 4,16+4,07+4,23+4,16 4

= 4,16

Perhitungan selanjutnya yaitu mencari nilai indeks konsistensi/CI, dengan perhitungan sebagai berikut :

𝐶𝐼 = ((Σ𝑚𝑎𝑘𝑠

𝑛 − (𝑛 − 1)) 𝐶𝐼 = ((4,16

4 − (4 − 1)) CI = 0,05

Lalu, mencari nilai CR dengan rumus : commit to user

(35)

𝐶𝑅 = 𝐶𝐼

𝐼𝑅

CR = 0,05

0,90

CR = 0,06

Dari nilai rasio konsistensi di atas maka dapat disimpulkan bahwa pemberian data dinilai konsisten karena <0,1.

2. Mengetahui Bobot Prioritas Pada Alternatif Pengembangan Kawasan Peruntukan Industri Besar

Bobot prioritas pada alternatif pengembangan kawasan peruntukan industri besar digunakan untuk mengidentifikasi skor dari masing-masing alternatif, yaitu Kecamatan Pejagoan, Kecamatan Petanahan, Kecamatan Gombong, dan Kecamatan Sempor terhadap kriteria dan subkriteria yang digunakan. Bobot prioritas pada alternatif diperoleh dari persepsi stakeholder terhadap data fisik, sosial, ekonomi yang ada. Semakin baik data fisik, sosial, dan ekonomi, maka kemungkinan semakin besar pula nilai yang diberikan oleh stakeholder. Pemberian skor dilakukan dengan pedoman skor atau kondisi eksisting masing-masing wilayah mengenai aspek fisik, sosial, dan ekonomi sehingga hasil dari pemberian skor oleh stakeholder adalah sebagai berikut :

a. Alternatif terhadap Kriteria Fisik 1) Kemiringan Lereng

Pemberian skor masing-masing alternatif atau wilayah kawasan peruntukan industri besar terhadap kemiringan lereng oleh stakeholder adalah sebagai berikut :

commit to user

(36)

Tabel 4.27 Skor Alternatif terhadap Kemiringan Lereng

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong

Pejagoan 1 1 1 1

Petanahan 1 1 1 1

Sempor 1 1 1 1

Gombong 1 1 1 1

Jumlah 4 4 4 4

Sumber : Peneliti

Setelah diperoleh data mengenai skor masing-masing alternatif terhadap kemiringan lereng, langkah selanjutnya adalah melakukan uji konsistensi. Setiap data yang diberikan harus dilakukan uji konsistensi. Dalam melakukan uji konsistensi, langkah pertama adalah normalisasi data. Hasil dari normalisasi data adalah sebagai berikut :

Tabel 4.28 Normalisasi Data Alternatif terhadap Kemiringan Lereng

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong Jumlah

Pejagoan 0,25 0,25 0,25 0,25 1

Petanahan 0,25 0,25 0,25 0,25 1

Sempor 0,25 0,25 0,25 0,25 1

Gombong 0,25 0,25 0,25 0,25 1

Jumlah 1 1 1 1 4

Sumber : Peneliti

Normalisasi data yang benar adalah ketika jumlah dari masing- masing kolom alternatif adalah 1. Apabila jumlah sudah menunjukkan angka 1, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui faktor prioritas yang didapatkan dari jumlah baris masing-masing alternatif dibagi dengan jumlah seluruh alternatif.

Hasil perhitungan faktor prioritas adalah sebagai berikut :

commit to user

(37)

Tabel 4.29 Faktor Prioritas Alternatif terhadap Kemiringan Lereng

Opsi Faktor prioritas

Pejagoan 0,25

Petanahan 0,25

Sempor 0,25

Gombong 0,25

Sumber : Peneliti

Dari tabel 4.29, dapat diketahui faktor prioritas dari masing- masing alternatif memiliki faktor prioritas yang sama yaitu 0,25 atau 25%. Faktor prioritas yang sama dipengaruhi oleh pemberian skor yang sama besar, yaitu 1 pada seluruh komponen, hal ini dikarenakan seluruh wilayah yang merupakan rencana kawasan peruntukan industri besar memiliki kemiringan lereng yang seragam yaitu berada pada lereng yang datar. Setelah diketahui faktor prioritas dari masing-masing alternatif, langkah selanjutnya adalah menguji konsistensi dengan langkah awal mencari nilai hasil kali untuk kemudian mengetahui nilai lamda. Hasil kali dan lamda adalah sebagai berikut :

Tabel 4.30 Hasil Kali Alternatif terhadap Kemiringan Lereng Priority Hasil kali Hasil kali/priority vektor

0,25 1 4

0,25 1 4

0,25 1 4

0,25 1 4

Sumber : Peneliti

Sehingga nilai lamda, CI, dan CR adalah :

∑maks = 4+4+4+4

4

= 4 𝐶𝐼 = ((Σ𝑚𝑎𝑘𝑠

𝑛 − (𝑛 − 1)) 𝐶𝐼 = ((4

4− (4 − 1)) commit to user

(38)

CI = 0,00

Lalu, mencari nilai CR dengan rumus : 𝐶𝑅 = 𝐶𝐼

𝐼𝑅

CR = 0,00

0,90

CR = 0,00

Dari uji konsistensi yang dilakukan, rasio konsistensi menunjukan angka <0,1 sehingga pemberian skor dianggap konsisten.

2) Penggunaan Lahan

Pemberian skor masing-masing alternatif atau wilayah kawasan peruntukan industri besar terhadap penggunaan lahan oleh stakeholder adalah sebagai berikut :

Tabel 4.31 Skor Alternatif terhadap Penggunaan Lahan

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong

Pejagoan 1,00 0,50 1,00 1,00

Petanahan 2,00 1,00 2,00 2,00

Sempor 1,00 0,50 1,00 3,00

Gombong 1,00 0,50 1,00 1,00

Jumlah 5,00 2,50 5,00 5,00

Sumber : Peneliti

Setelah diperoleh data mengenai skor masing-masing alternatif terhadap penggunaan lahan, langkah selanjutnya adalah melakukan uji konsistensi. Setiap data yang diberikan harus dilakukan uji konsistensi. Dalam melakukan uji konsistensi, langkah pertama adalah normalisasi data. Hasil dari normalisasi data adalah sebagai berikut :

commit to user

(39)

Tabel 4.32 Normalisasi Data Alternatif terhadap Penggunaan Lahan

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong

Pejagoan 0,20 0,20 0,20 0,20

Petanahan 0,40 0,40 0,40 0,40

Sempor 0,20 0,20 0,20 0,20

Gombong 0,20 0,20 0,20 0,20

Jumlah 1,00 1,00 1,00 1,00

Sumber : Peneliti

Normalisasi data yang benar adalah ketika jumlah dari masing- masing kolom alternatif adalah 1. Apabila jumlah sudah menunjukkan angka 1, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui faktor prioritas yang didapatkan dari jumlah baris masing-masing alternatif dibagi dengan jumlah seluruh alternatif.

Hasil perhitungan faktor prioritas adalah sebagai berikut :

Tabel 4.33 Faktor Prioritas Alternatif terhadap Penggunaan Lahan Opsi Faktor prioritas

Pejagoan 0,20

Petanahan 0,40

Sempor 0,20

Gombong 0,20

Sumber : Peneliti

Berdasarkan Tabel 4.33, dapat diketahui faktor prioritas terhadap alternatif Petanahan memiliki faktor prioritas terbesar yaitu 0,40 atau 40%. Sedangkan alternatif Pejagoan, Sempor, dan Gombong memiliki faktor prioritas masing-masing 0,20 atau 20%. Setelah diketahui faktor prioritas dari masing-masing alternatif, langkah selanjutnya adalah menguji konsistensi dengan langkah awal mencari nilai hasil kali untuk kemudian mengetahui nilai lamda.

Hasil kali dan lamda adalah sebagai berikut : commit to user

(40)

Tabel 4.34 Hasil Kali Alternatif terhadap Penggunaan Lahan Priority Hasil kali Hasil kali/priority vektor

0,20 0,80 4

0,40 1,60 4

0,20 0,80 4

0,20 0,80 4

Sumber : Peneliti

Sehingga nilai lamda, CI, dan CR adalah :

∑maks = 4+4+4+4

4

= 4 𝐶𝐼 = ((Σ𝑚𝑎𝑘𝑠

𝑛 − (𝑛 − 1)) 𝐶𝐼 = ((4

4− (4 − 1)) CI = 0,00

Lalu, mencari nilai CR dengan rumus : 𝐶𝑅 = 𝐶𝐼

𝐼𝑅

CR = 0,00

0,90

CR = 0,00

Dari uji konsistensi yang dilakukan, rasio konsistensi menunjukan angka <0,1 sehingga pemberian skor dianggap konsisten.

3) Jenis Tanah

Pemberian skor masing-masing alternatif atau wilayah kawasan peruntukan industri besar terhadap jenis tanah oleh stakeholder adalah sebagai berikut :

commit to user

(41)

Tabel 4.35 Skor Alternatif terhadap Jenis Tanah

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong

Pejagoan 1 1 1 1

Petanahan 1 1 1 1

Sempor 1 1 1 1

Gombong 1 1 1 1

Jumlah 4 4 4 4

Sumber : Peneliti

Setelah diperoleh data mengenai skor masing-masing alternatif terhadap jenis tanah, langkah selanjutnya adalah melakukan uji konsistensi. Setiap data yang diberikan harus dilakukan uji konsistensi. Dalam melakukan uji konsistensi, langkah pertama adalah normalisasi data. Hasil dari normalisasi data adalah sebagai berikut :

Tabel 4.36 Normalisasi Data Alternatif terhadap Jenis Tanah

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong Jumlah

Pejagoan 0,25 0,25 0,25 0,25 1

Petanahan 0,25 0,25 0,25 0,25 1

Sempor 0,25 0,25 0,25 0,25 1

Gombong 0,25 0,25 0,25 0,25 1

Jumlah 1 1 1 1 4

Sumber : Peneliti

Normalisasi data yang benar adalah ketika jumlah dari masing- masing kolom alternatif adalah 1. Apabila jumlah sudah menunjukkan angka 1, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui faktor prioritas yang didapatkan dari jumlah baris masing-masing alternatif dibagi dengan jumlah seluruh alternatif.

Hasil perhitungan faktor prioritas adalah sebagai berikut :

commit to user

(42)

Tabel 4.37 Faktor Prioritas Alternatif terhadap Jenis Tanah Opsi Faktor prioritas

Pejagoan 0,25

Petanahan 0,25

Sempor 0,25

Gombong 0,25

Sumber : Peneliti

Dari Tabel 4.37, dapat diketahui faktor prioritas dari masing- masing alternatif memiliki faktor prioritas yang sama yaitu 0,25 atau 25%. Faktor prioritas yang sama dipengaruhi oleh pemberian skor yang sama besar, yaitu 1 pada seluruh komponen, hal ini dikarenakan seluruh wilayah yang merupakan rencana kawasan peruntukan industri besar memiliki jenis tanah yang seragam yaitu berada pada jenis tanah glei. Setelah diketahui faktor prioritas dari masing-masing alternatif, langkah selanjutnya adalah menguji konsistensi dengan langkah awal mencari nilai hasil kali untuk kemudian mengetahui nilai lamda. Hasil kali dan lamda adalah sebagai berikut :

Tabel 4.38 Hasil Kali Alternatif terhadap Jenis Tanah

Priority Hasil kali Hasil kali/priority vektor

0,25 1 4

0,25 1 4

0,25 1 4

0,25 1 4

Sumber : Peneliti

Sehingga nilai lamda, CI, dan CR adalah :

∑maks = 4+4+4+4

4

= 4 𝐶𝐼 = ((Σ𝑚𝑎𝑘𝑠

𝑛 − (𝑛 − 1)) 𝐶𝐼 = ((4

4− (4 − 1)) CI = 0,00 commit to user

(43)

Lalu, mencari nilai CR dengan rumus : 𝐶𝑅 = 𝐶𝐼

𝐼𝑅

CR = 0,00

0,90

CR = 0,00

Dari uji konsistensi yang dilakukan, rasio konsistensi menunjukan angka <0,1 sehingga pemberian skor dianggap konsisten.

4) Jarak Lahan terhadap Jalan Utama

Pemberian skor masing-masing alternatif atau wilayah kawasan peruntukan industri besar terhadap jarak jalan utama oleh stakeholder adalah sebagai berikut :

Tabel 4.39 Skor Alternatif terhadap Jarak Jalan

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong

Pejagoan 1,00 5,00 1,00 0,50

Petanahan 0,20 1,00 0,25 0,20

Sempor 1,00 4,00 1,00 0,50

Gombong 2,00 5,00 2,00 1,00

Jumlah 4,20 15,00 4,25 2,20

Sumber : Peneliti

Setelah diperoleh data mengenai skor masing-masing alternatif terhadap jarak jalan utama, langkah selanjutnya adalah melakukan uji konsistensi. Setiap data yang diberikan harus dilakukan uji konsistensi. Dalam melakukan uji konsistensi, langkah pertama adalah normalisasi data. Hasil dari normalisasi data adalah sebagai berikut :

commit to user

(44)

Tabel 4.40 Normalisasi Data Alternatif terhadap Jarak Jalan Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong Jumlah

Pejagoan 0,24 0,33 0,24 0,23 1,50

Petanahan 0,05 0,07 0,06 0,09 0,50

Sempor 0,24 0,27 0,24 0,23 1,50

Gombong 0,48 0,33 0,47 0,45 0,50

Jumlah 1,00 1,00 1,00 1,00 4,00

Sumber : Peneliti

Normalisasi data yang benar adalah ketika jumlah dari masing- masing kolom alternatif adalah 1. Apabila jumlah sudah menunjukkan angka 1, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui faktor prioritas yang didapatkan dari jumlah baris masing-masing alternatif dibagi dengan jumlah seluruh alternatif.

Hasil perhitungan faktor prioritas adalah sebagai berikut : Tabel 4.41 Faktor Prioritas Alternatif terhadap Jarak Jalan

Opsi Faktor prioritas

Pejagoan 0,26

Petanahan 0,07

Sempor 0,24

Gombong 0,43

Sumber : Peneliti

Berdasarkan Tabel 4.41, dapat diketahui faktor prioritas terhadap alternatif Gombong memiliki faktor prioritas terbesar yaitu 0,43 atau 43%. Alternatif Pejagoan memiliki bobot 0,26 atau 26%.

Alternatif Sempor dengan bobot 0,24 atau 24%, dan alternatif Petanahan dengan bobot 0,07 atau 7%. Setelah diketahui faktor prioritas dari masing-masing alternatif, langkah selanjutnya adalah menguji konsistensi dengan langkah awal mencari nilai hasil kali untuk kemudian mengetahui nilai lamda. Hasil kali dan lamda adalah sebagai berikut :

commit to user

(45)

Tabel 4.42 Hasil Kali Alternatif terhadap Jarak Jalan

Priority Hasil kali Hasil kali/priority vektor

0,26 1,05 4,05

0,07 0,26 4,01

0,24 0,98 4,06

0,43 1,76 4,07

Sumber : Peneliti

Sehingga nilai lamda, CI, dan CR adalah :

∑maks = 4,05+4,01+4,06+4,07 4

= 4,05 𝐶𝐼 = ((Σ𝑚𝑎𝑘𝑠

𝑛 − (𝑛 − 1)) 𝐶𝐼 = ((4,05

4 − (4 − 1)) CI = 0,02

Lalu, mencari nilai CR dengan rumus : 𝐶𝑅 = 𝐶𝐼

𝐼𝑅

CR = 0,02

0,90

CR = 0,02

Dari uji konsistensi yang dilakukan, rasio konsistensi menunjukan angka <0,1 sehingga pemberian skor dianggap konsisten.

5) Jarak Lahan terhadap Sungai

Pemberian skor masing-masing alternatif atau wilayah kawasan peruntukan industri besar terhadap jarak sungai oleh stakeholder adalah sebagai berikut :

commit to user

(46)

Tabel 4.43 Skor Alternatif terhadap Jarak Sungai

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong

Pejagoan 1,00 5,00 0,50 0,25

Petanahan 0,20 1,00 0,25 0,14

Sempor 2,00 4,00 1,00 1,00

Gombong 4,00 7,00 3,00 1,00

Jumlah 7,20 17,00 4,75 4,33

Sumber : Peneliti

Setelah diperoleh data mengenai skor masing-masing alternatif terhadap jarak sungai, langkah selanjutnya adalah melakukan uji konsistensi. Setiap data yang diberikan harus dilakukan uji konsistensi. Dalam melakukan uji konsistensi, langkah pertama adalah normalisasi data. Hasil dari normalisasi data adalah sebagai berikut :

Tabel 4.44 Normalisasi Data Alternatif terhadap Jarak Sungai Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong Jumlah

Pejagoan 0,14 0,29 0,11 0,14 0,68

Petanahan 0,03 0,06 0,05 0,08 0,22

Sempor 0,28 0,24 0,21 0,19 0,92

Gombong 0,56 0,41 0,63 0,58 2,18

Jumlah 1,00 1,00 1,00 1,00 4,00

Sumber : Peneliti

Normalisasi data yang benar adalah ketika jumlah dari masing- masing kolom alternatif adalah 1. Apabila jumlah sudah menunjukkan angka 1, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui faktor prioritas yang didapatkan dari jumlah baris masing-masing alternatif dibagi dengan jumlah seluruh alternatif.

Hasil perhitungan faktor prioritas adalah sebagai berikut :

commit to user

(47)

Tabel 4.45 Faktor Prioritas Alternatif terhadap Jarak Sungai Opsi Faktor prioritas

Pejagoan 0,17

Petanahan 0,06

Sempor 0,23

Gombong 0,54

Sumber : Peneliti

Dari tabel di atas dapat diketahui faktor prioritas terhadap alternatif Gombong memiliki faktor prioritas terbesar yaitu 0,54 atau 54%. Sedangkan alternatif Sempor memiliki bobot 0,23 atau 23%. Kemudian alternatif Pejagoan memiliki bobot 0,17 atau 17%, dan alternatif Petanahan memiliki faktor prioritas 0,06atau 6%. Setelah diketahui faktor prioritas dari masing-masing alternatif, langkah selanjutnya adalah menguji konsistensi dengan langkah awal mencari nilai hasil kali untuk kemudian mengetahui nilai lamda. Hasil kali dan lamda adalah sebagai berikut :

Tabel 4.46 Hasil Kali Alternatif terhadap Jarak Sungai Priority Hasil kali Hasil kali/priority vektor

0,17 0,70 4,09

0,06 0,22 4,05

0,23 0,97 4,25

0,54 2,30 4,23

Sumber : Peneliti

Sehingga nilai lamda, CI, dan CR adalah :

∑maks = 4,09+4,05+4,25+4,23 4

= 4,16 𝐶𝐼 = ((Σ𝑚𝑎𝑘𝑠

𝑛 − (𝑛 − 1)) 𝐶𝐼 = ((4,16

4 − (4 − 1)) CI = 0,05

Lalu, mencari nilai CR dengan rumus : commit to user

(48)

𝐶𝑅 = 𝐶𝐼

𝐼𝑅

CR = 0,05

0,90

CR = 0,06

Dari uji konsistensi yang dilakukan, rasio konsistensi menunjukan angka <0,1 sehingga pemberian skor dianggap konsisten.

6) Jarak Lahan terhadap Pasar

Pemberian skor masing-masing alternatif atau wilayah kawasan peruntukan industri besar terhadap jarak pasar oleh stakeholder adalah sebagai berikut :

Tabel 4.47 Skor Alternatif terhadap Jarak Pasar

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong

Pejagoan 1,00 3,00 2,00 2,00

Petanahan 0,33 1,00 0,33 0,33

Sempor 0,50 3,00 1,00 1,00

Gombong 1,00 3,00 1,00 1,00

Jumlah 2,83 10,00 4,33 4,33

Sumber : Peneliti

Setelah diperoleh data mengenai skor masing-masing alternatif terhadap jarak pasar, langkah selanjutnya adalah melakukan uji konsistensi. Setiap data yang diberikan harus dilakukan uji konsistensi. Dalam melakukan uji konsistensi, langkah pertama adalah normalisasi data. Hasil dari normalisasi data adalah sebagai berikut :

commit to user

(49)

Tabel 4.48 Normalisasi Data Alternatif terhadap Jarak Pasar

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong Jumlah

Pejagoan 0,35 0,30 0,46 0,46 1

Petanahan 0,12 0,10 0,08 0,08 1

Sempor 0,18 0,30 0,23 0,23 1

Gombong 0,35 0,30 0,23 0,23 1

Jumlah 1 1 1 1 4

Sumber : Peneliti

Normalisasi data yang benar adalah ketika jumlah dari masing- masing kolom alternatif adalah 1. Apabila jumlah sudah menunjukkan angka 1, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui faktor prioritas yang didapatkan dari jumlah baris masing-masing alternatif dibagi dengan jumlah seluruh alternatif.

Hasil perhitungan faktor prioritas adalah sebagai berikut : Tabel 4.49 Faktor Prioritas Alternatif terhadap Jarak Pasar

Opsi Faktor prioritas

Pejagoan 0,39

Petanahan 0,09

Sempor 0,23

Gombong 0,28

Sumber : Peneliti

Dari Tabel 4.49, dapat diketahui faktor prioritas dari alternatif Pejagoan memiliki faktor prioritas tertinggi yaitu 0,39 atau 39%.

Alternatif Gombong dengan faktor prioritas 0,28 atau 28%.

Alternatif Sempor dengan faktor prioritas 0,23 atau 23%, dan alternatif Petanahan dengan faktor prioritas 0,09 atau 9%. Setelah diketahui faktor prioritas dari masing-masing alternatif, langkah selanjutnya adalah menguji konsistensi dengan langkah awal mencari nilai hasil kali untuk kemudian mengetahui nilai lamda.

Hasil kali dan lamda adalah sebagai berikut :

commit to user

(50)

Tabel 4.50 Hasil Kali Alternatif terhadap Jarak Pasar

Priority Hasil kali Hasil kali/priority vektor

0,39 1,70 4,31

0,09 0,40 4,26

0,23 0,99 4,22

0,28 1,19 4,26

Sumber : Peneliti

Sehingga nilai lamda, CI, dan CR adalah :

∑maks = 4,31+4,26+4,22+4,26 4

= 4,26 𝐶𝐼 = ((Σ𝑚𝑎𝑘𝑠

𝑛 − (𝑛 − 1)) 𝐶𝐼 = ((4,26

4 − (4 − 1)) CI = 0,09

Lalu, mencari nilai CR dengan rumus : 𝐶𝑅 = 𝐶𝐼

𝐼𝑅

CR = 0,09

0,90

CR = 0,10

Dari uji konsistensi yang dilakukan, rasio konsistensi menunjukan angka <0,1 sehingga pemberian skor dianggap konsisten.

Dari seluruh alternatif yang telah diberikan bobot berdasarkan peninjauan seluruh subkriteria pada kriteria fisik, maka peta bobot prioritas alternatif terhadap kriteria fisik adalah sebagai berikut :

commit to user

(51)

Peta 4.3 Peta Bobot Prioritas Alternatif terhadap Kriteria Fisik Sumber : Peneliti commit to user

(52)

b. Alternatif terhadap Kriteria Sosial 1) Usaha Masyarakat

Pemberian skor masing-masing alternatif atau wilayah kawasan peruntukan industri besar terhadap usaha masyarakat oleh stakeholder adalah sebagai berikut :

Tabel 4.51 Skor Alternatif terhadap Usaha Masyarakat

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong

Pejagoan 1,00 0,33 3,00 2,00

Petanahan 3,00 1,00 5,00 5,00

Sempor 0,33 0,20 1,00 2,00

Gombong 0,50 0,20 0,50 1,00

Jumlah 4,83 1,73 9,50 10,00

Sumber : Peneliti

Setelah diperoleh data mengenai skor masing-masing alternatif terhadap usaha masyarakat, langkah selanjutnya adalah melakukan uji konsistensi. Setiap data yang diberikan harus dilakukan uji konsistensi. Dalam melakukan uji konsistensi, langkah pertama adalah normalisasi data. Hasil dari normalisasi data adalah sebagai berikut :

Tabel 4.52 Normalisasi Data Alternatif terhadap Usaha Masyarakat

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong Jumlah

Pejagoan 0,21 0,19 0,32 0,20 0,91

Petanahan 0,62 0,58 0,53 0,50 2,22

Sempor 0,07 0,12 0,11 0,20 0,49

Gombong 0,10 0,12 0,05 0,10 0,37

Jumlah 1,00 1,00 1,00 1,00 4,00

Sumber : Peneliti

Normalisasi data yang benar adalah ketika jumlah dari masing- masing kolom alternatif adalah 1. Apabila jumlah sudah menunjukkan angka 1, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui faktor prioritas yang didapatkan dari jumlah baris commit to user

(53)

masing-masing alternatif dibagi dengan jumlah seluruh alternatif.

Hasil perhitungan faktor prioritas adalah sebagai berikut :

Tabel 4.53 Faktor Prioritas Alternatif terhadap Usaha Masyarakat Opsi Faktor prioritas

Pejagoan 0,23

Petanahan 0,56

Sempor 0,12

Gombong 0,09

Sumber : Peneliti

Dari Tabel 4.53, dapat diketahui faktor prioritas terhadap alternatif Petanahan memiliki faktor prioritas terbesar yaitu 0,56 atau 56%. Alternatif Pejagoan memiliki bobot 0,23 atau 23%.

Kemudian alternatif Sempor memiliki bobot 0,12 atau 12%, dan alternatif Gombong memiliki faktor prioritas 0,09 atau 9%.

Setelah diketahui faktor prioritas dari masing-masing alternatif, langkah selanjutnya adalah menguji konsistensi dengan langkah awal mencari nilai hasil kali untuk kemudian mengetahui nilai lamda. Hasil kali dan lamda adalah sebagai berikut :

Tabel 4.54 Hasil Kali Alternatif terhadap Usaha Masyarakat Priority Hasil kali Hasil kali/priority vektor

0,23 0,97 4,23

0,56 2,32 4,17

0,12 0,50 4,05

0,09 0,38 4,09

Sumber : Peneliti

Sehingga nilai lamda, CI, dan CR adalah :

∑maks = 4,23+4,17+4,05+4,09 4

= 4,13 𝐶𝐼 = ((Σ𝑚𝑎𝑘𝑠

𝑛 − (𝑛 − 1)) 𝐶𝐼 = ((4,13

4 − (4 − 1)) CI = 0,04 commit to user

(54)

Lalu, mencari nilai CR dengan rumus : 𝐶𝑅 = 𝐶𝐼

𝐼𝑅

CR = 0,04

0,90

CR = 0,05

Dari uji konsistensi yang dilakukan, rasio konsistensi menunjukan angka <0,1 sehingga pemberian skor dianggap konsisten.

2) Pengetahuan Masyarakat

Pemberian skor masing-masing alternatif atau wilayah kawasan peruntukan industri besar terhadap pengetahuan masyarakat oleh stakeholder adalah sebagai berikut :

Tabel 4.55 Skor Alternatif terhadap Pengetahuan Masyarakat Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong

Pejagoan 1,00 0,33 0,50 0,14

Petanahan 3,00 1,00 2,00 0,20

Sempor 2,00 0,50 1,00 0,33

Gombong 7,00 5,00 3,00 1,00

Jumlah 13,00 6,83 6,50 1,68

Sumber : Peneliti

Setelah diperoleh data mengenai skor masing-masing alternatif terhadap usaha masyarakat, langkah selanjutnya adalah melakukan uji konsistensi. Setiap data yang diberikan harus dilakukan uji konsistensi. Dalam melakukan uji konsistensi, langkah pertama adalah normalisasi data. Hasil dari normalisasi data adalah sebagai berikut :

commit to user

(55)

Tabel 4.56 Normalisasi Data Alternatif terhadap Pengetahuan Masyarakat

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong Jumlah

Pejagoan 0,08 0,05 0,08 0,09 0,29

Petanahan 0,23 0,15 0,31 0,12 0,80

Sempor 0,15 0,07 0,15 0,20 0,58

Gombong 0,54 0,73 0,46 0,60 2,33

Jumlah 1 1 1 1 4

Sumber : Peneliti

Normalisasi data yang benar adalah ketika jumlah dari masing- masing kolom alternatif adalah 1. Apabila jumlah sudah menunjukkan angka 1, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui faktor prioritas yang didapatkan dari jumlah baris masing-masing alternatif dibagi dengan jumlah seluruh alternatif.

Hasil perhitungan faktor prioritas adalah sebagai berikut :

Tabel 4.57 Faktor Prioritas Alternatif terhadap Pengetahuan Masyarakat

Opsi Faktor prioritas

Pejagoan 0,07

Petanahan 0,20

Sempor 0,14

Gombong 0,58

Sumber : Peneliti

Berdasarkan Tabel 4.57, dapat diketahui faktor prioritas terhadap alternatif Gombong memiliki faktor prioritas tertinggi yaitu 0,58 atau 58%. Petanahan memiliki faktor prioritas 0,20 atau 20%.

Sempor memiliki faktor prioritas 0,14 atau 14%. Pejagoan dengan 0,07 atau 7%. Setelah diketahui faktor prioritas dari masing- masing alternatif, langkah selanjutnya adalah menguji konsistensi dengan langkah awal mencari nilai hasil kali untuk kemudian mengetahui nilai lamda. Hasil kali dan lamda adalah sebagai berikut : commit to user

(56)

Tabel 4.58 Hasil Kali Alternatif terhadap Pengetahuan Masyarakat

Priority Hasil kali Hasil kali/priority vektor

0,07 0,29 4,09

0,20 0,82 4,09

0,14 0,58 4,03

0,58 2,53 4,34

Sumber : Peneliti

Sehingga nilai lamda, CI, dan CR adalah :

∑maks = 4,09+4,09+4,03+4,34 4

= 4,14 𝐶𝐼 = ((Σ𝑚𝑎𝑘𝑠

𝑛 − (𝑛 − 1)) 𝐶𝐼 = ((4,14

4 − (4 − 1)) CI = 0,05

Lalu, mencari nilai CR dengan rumus : 𝐶𝑅 = 𝐶𝐼

𝐼𝑅

CR = 0,05

0,90

CR = 0,05

Dari uji konsistensi yang dilakukan, rasio konsistensi menunjukan angka <0,1 sehingga pemberian skor dianggap konsisten.

3) Kepemimpinan

Pemberian skor masing-masing alternatif atau wilayah kawasan peruntukan industri besar terhadap kepemimpinan oleh stakeholder adalah sebagai berikut :

commit to user

(57)

Tabel 4.59 Skor Alternatif terhadap Kepemimpinan

Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong

Pejagoan 1,00 3,00 3,00 3,00

Petanahan 0,33 1,00 1,00 1,00

Sempor 0,33 1,00 1,00 1,00

Gombong 0,33 1,00 1,00 1,00

Jumlah 2,00 6,00 6,00 6,00

Sumber : Peneliti

Setelah diperoleh data mengenai skor masing-masing alternatif terhadap kepemimpinan, langkah selanjutnya adalah melakukan uji konsistensi. Setiap data yang diberikan harus dilakukan uji konsistensi. Dalam melakukan uji konsistensi, langkah pertama adalah normalisasi data. Hasil dari normalisasi data adalah sebagai berikut :

Tabel 4.60 Normalisasi Data Alternatif terhadap Kepemimpinan Opsi Pejagoan Petanahan Sempor Gombong Jumlah

Pejagoan 0,50 0,50 0,50 0,50 2,00

Petanahan 0,17 0,17 0,17 0,17 0,67

Sempor 0,17 0,17 0,17 0,17 0,67

Gombong 0,17 0,17 0,17 0,17 0,67

Jumlah 1,00 1,00 1,00 1,00 4,00

Sumber : Peneliti

Normalisasi data yang benar adalah ketika jumlah dari masing- masing kolom alternatif adalah 1. Apabila jumlah sudah menunjukkan angka 1, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui faktor prioritas yang didapatkan dari jumlah baris masing-masing alternatif dibagi dengan jumlah seluruh alternatif.

Hasil perhitungan faktor prioritas adalah sebagai berikut :

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

150.000,- hanya dibayarkan satu kali Uang jaminan sebesar 3 x dari harga pokok sewa mesin fotocopy. Uang Jaminan akan dikembalikan setelah kontrak

S2 Ilmu Ekonomi/ Ekonomi Pembangunan/ Hubungan Internasional III/b 2 Deputi Bid. Perniagaan dan Kewirausahaan 015 Analis Ekonomi S2 Kajian Pengembangan Perkotaan/

Tiram tak bisa hidup Kerang mati di pantai.. IPAL STBM ini merupakan teknologi sederhana dan murah dalam menyerap polutan dalam limbah cair PKS berbahan asli produk Indonesia.

Untuk mengetahui pengaruh struktur modal (Debt to Equity Ratio) terhadap profitabilitas (Return On Equity) perusahaan industri tekstil dan garmen yang terdaftar di

mengakses sumber-sumber dan bahan-bahan pembelajaran tersebut. Kondisi seperti ini diharapkan dapat menjamin pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan. Portal

Banyaknya siswa yang mendapat nilai di bawah 75 menjadi bukti nyata bahwa hasil belajar siswa belum mencapai batas kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang dipatok

(AK) 2 Sekretariat LAM- PTKes Mengirim dokumen kepada asesor 3 Asesor Memeriksa dan menilai borang program studi secara mandiri (F1, F2, F3) 4 Asesor Mendiskusikan hasil

Ang mga gawain sa bahaging ito ay tutuklas sa iyong kaalaman tungkol sa konsepto at palatandaan ng pambansang kaunlaran at kung papaano ka makapag-aambag sa pag-unlad ng bansa