• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SUKU BUNGA, KURS, TINGKAT INFLASI, HARGA MINYAK DUNIA, DAN HARGA EMAS DUNIA TERHADAP HARGA SAHAM PADA INDEKS KOMPAS 100

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH SUKU BUNGA, KURS, TINGKAT INFLASI, HARGA MINYAK DUNIA, DAN HARGA EMAS DUNIA TERHADAP HARGA SAHAM PADA INDEKS KOMPAS 100"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH SUKU BUNGA, KURS, TINGKAT INFLASI, HARGA MINYAK DUNIA, DAN HARGA EMAS DUNIA TERHADAP HARGA SAHAM PADA INDEKS KOMPAS 100

Dwiana Indah Lestari1, Bambang Supeno2, Achmad Tavip Junaedi3 Program Pascasarjana, Magister Manajemen, Universitas Lancang Kuning

Abstract

Dwiana Indah Lestari: Postgraduate Master of Management University of Lancang Kuning, August 2, 2016, Influence of Interest Rate, Exchange Rate, Inflation, Oil World, and the World Gold Price on Stock Price At Kompas100 Index. Chairman Supervisor: Dr. Bambang Supeno, MM, Advisory Committee: Dr. Ir. H. Achmad Tavip Junaedi, MM.

This research aims to influence of interest rate, exchange rate, inflation, oil world, and the world gold price on stock price at kompas100 index. The location of this study conducted in Indonesia. While a study conducted in 2013 to 2015.

The data source of this research is Kompas100 index, interest rate Bank Indonesia, the rupiah against the US dollar and the inflation rate. With 36 observations as samples.

Data analysis techniques in the form of descriptive analysis, classic assumption test (test for normality, autocorrelation test, multicoloniarity test, heteroskedasitas test), as well as test hypothesis namely t test (partially), F test (simultaneous test) and test the coefficient of determination).

The results of this study partially; BI rate, exchange rate, inflation rate, and the price of gold has no influence on the stock price at Kompas100 index. Partially compass world oil prices influence the price of stock in the Kompas100 index. And simultaneously BI rate, exchange rates, inflation rates, oil prices world and the world gold price have a significantly influence on stock prices in the Kompas100 index.

Key words : BI Rate, Exchange Rate, Inflation, Oil World, World Gold, Price Stock Kompas100.

1. PENDAHULUAN

Peranan pasar modal dalam perekonomian suatu negara sangatlah penting. Hal ini terjadi karena pasar modal mempunyai dua peranan berarti dalam kegiatan ekonomi.

Peranan pertama adalah sebagai sarana pendanaan suatu usaha dan sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana agar dapat mengembangkan usaha, melakukan ekspansi, untuk menambahkan modal kerja, dan kegiatan yang dapat mendukung pengembangan perusahaan. Peranan pasar modal yang kedua adalah sebagai tempat bagi masyarakat untuk menempatkan dana yang dimiliki dalam bentuk saham, obligasi, reksadana, dan lain sebagainya (Witjaksono, 2010).

Saham yang merupakan salah satu bentuk investasi yang memiliki tingkat resiko tinggi karena investasi ini sangat dipengaruhi oleh adanya perubahan-perubahan baik internal maupun eksternal. Perubahan – perubahan ini bisa memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap harga saham yang beredar di pasar modal (Lukisto dan Anastasia, 2014).

Kondisi pasar saham dapat dipengaruhi oleh banyak faktor beberapa diantaranya adalah pengaruh dari faktor makroekonomi seperti tingkat suku bunga bank, nilai mata uang dollar terhadap rupiah, tingkat inflasi, harga minyak dan emas dunia, dan berbagai faktor-faktor lainnya yang juga dapat mempengaruhi harga saham.

Tingkat suku bunga bank di Indonesia ditentukan oleh Bank Indonesia yang lebih kenal dengan nama BI Rate. Naik turunnya suku bunga Bank Indonesia ini dapat memberikan pengaruh terhadap pergerakan harga saham Indonesia. Dimana turunnya suku bunga Bank Indonesia akan berpengaruh positif terhadap turunnya suku bunga kredit dan bunga deposito bank sehingga investor akan lebih cenderung menginvestasikan dananya tidak dalam bentuk deposito.

(2)

Dari sekian banyak indeks saham yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, salah satu indeks saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia adalah Indeks Kompas 100.

Indeks Kompas 100 di Bursa Efek Indonesia diperbaharui setiap enam bulan sekali dan menjadi salah satu acuan di pasar saham. Saham-saham yang masuk dalam Indeks Kompas 100 mewakili sekitar 70 - 80% dari total 1.582 triliun nilai kapitalisasi pasar secara keseluruhan saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Maka, investor dapat melihat kecenderungan arah pergerakan indeks melalui pengamatan pergerakan Indeks Kompas 100.

Selain pengaruh dari beberapa variabel independen yang berpengaruh terhadap harga saham, beberapa penelitian terdahulu dengan adanya perbedaan hasil penelitian menjadi latar belakang ketertarikan peneliti untuk kembali meneliti pengaruh suku bunga, kurs, dan tingkat inflasi terhadap harga saham pada Indeks Kompas 100.

Penelitian yang dilakukan oleh Alam dan Uddin (2009) menunjukkan bahwa suku bunga berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham. Penelitian ini bertolakbelakang dengan penelitian Wijayanti dan Kaluge (2015) yang menunjukkan bahwa suku bunga berpengaruh negatif tidak signifikan, inflasi berpengaruh positif tidak signifikan, dan kurs berpengaruh negatif signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pearce (1982) menunjukkan inflasi berpengaruh signifkan terhadap harga saham. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Sujoko (2009) yang menunjukkan bahwa suku bunga berpengaruh positif tidak signifikan, kurs berpengaruh positif signifikan, dan inflasi berpengaruh positif signifikan terhadap imbal hasil saham reksadana. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Witjaksono (2010) dan Kurniawan (2014) terhadap variabel harga minyak dan emas dunia menunjukkan hasil yang berbeda dimana Wijaksono menunjukkan bahwa harga minyak dan emas dunia berpengaruh positif terhadap IHSG sedangkan hasil penelitian Kurniawan menunjukkan bahwa harga minyak dunia berpengaruh negatif tidak signifikan dan harga emas dunia berpengaruh positif signifikan terhadap IHSG.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Pasar modal merupakan pertemuan antara pihak yang mempunyai kelebihan dana dengan pihak yang memerlukan dana dengan cara jual beli sekuritas. Pasar modal juga dapat berarti pasar untuk memperjualbelikan sekuritas yang umumnya memiliki umur lebih dari satu tahun, seperti saham dan obligasi.

Fungsi pasar modal yakni sebagai penunjang perekonomian karena pasar modal dapat menghubungkan pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang memerlukan dana, pendorong terciptanya alokasi dana yang efisien karena melalui pasar modal maka pihak yang memiiliki kelebihan dana dapat memilih alternatif investasi yang memberikan return paling optimal (Tandelilin, 2010).

Secara umum pasar modal merupakan suatu sistem keuangan yang terorganisir termasuk bank-bank komersial dan semua lembaga perantara di bidang keuangan serta seluruh surat-surat berharga. Saham juga dapat dapat diartikan sebagai tanda kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Bentuk dari saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham yakni kondisi makro ekonomi dan stabilitas politik negara berupa kurs valas, inflasi, jumlah uang beredar, dan tingkat suku bunga (Kurniawan, 2010).

Sertifikat Bank Indonesia (SBI) merupakan surat berharga yang merupakan bukti pengakuan utang jangka pendek dalam bentuk rupiah dan diterbitkan oleh Bank Indonesia dengan sistem diskonto. SBI diterbitkan tanpa warkat dan seluruh kepemilikan dan transaksinya dicatat oleh Bank Indonesia. SBI dapat dimiliki oleh bank umum di pasar perdana sedangkan masyarakat dapat memiliki SBI di pasar sekunder. SBI yang diterbitkan di pasar perdana dilakukan melalui lelang pada setiap hari Rabu atau pada hari kerja berikutnya. Metode lelang dilakukan dengan dua cara yakni dengan Variable Rate Tender dimana peserta lelang mengajukan penawaran kuantitas dengan tingkat diskonto yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia dan dengan Fixed Rate Tender dimana peserta lelang mengajukan penawaran kuantitas dengan tingkat diskonto yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia (Witjaksono, 2010).

(3)

Kurs valas merupakan mata uang asing dalam satuan mata uang dalam negeri atau mata uang dalam negeri dalam satuan mata uang asing. Nilai tukar rupiah merupakan harga rupiah terhadap mata uang negara lain. Kurs rupiah terhadap dollar US merupakan dollar US dalam rupiah atau rupiah dalam dollar US (Kurniawan, 2014).

Perubahan dari permintaan dan penawaran terjadi karena adanya kenaikan relative tingkat bunga terhadap negara baik bersama maupun sendiri (Witjaksono, 2010).

Peranan nilai tukar rupiah terhadap dollar US dalam ekonomi makro di Indonesia sangatlah penting karena naik atau turunnya nilai tukar rupiah akan memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap harga saham. Jika nilai tukar rupiah terhadap dollar US menurun, maka nilai saham perusahaan yang aktivitasnya didominasi dengan kegiatan ekspor akan meningkat sedangkan nilai saham perusahaan yang memiliki banyak hutang dalam bentuk dollar US akan menurun (Sujoko, 2009).

Inflasi merupakan salah satu faktor makro ekonomi yang memiliki pengaruh dan peranan sangat penting dalam dunia investasi. Inflasi adalah kondisi dimana harag- harga cenderung naik dan terus menerus. Kondisi dikatakan mengalami inflasi jika kenaikan harga meluas bukan hanya pada satu atau dua barang saja (Sujoko, 2009).

Inflasi ini terjadi karena adanya kenaikan biaya produksi. Harga barang yang tidak dinaikkan oleh produsen walaupun harga bahan baku dan tenaga kerja naik dan kondisi perekonomian yang inflasi menyebabkan kemampuan perusahaan untuk membayar dividen menjadi menurun dan hal ini berdampak negatif terhadap harga saham perusahaan yang bersangkutan (Wijayanti, 2014).

Demand pull inflation dapat disebabkan oleh tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya (Sujoko, 2009). Pada inflasi ini, perusahaan dapat membebankan kenaikan biaya yang lebih besar kepada konsumen sehingga perusahaan mendapat keuntungan yang lebih besar. Maka, kemampuan perusahaan membayar dividen meningkat dan akan bernilai positif terhadap harga saham dari perusahaan yang bersangkutan (Wijayanti, 2014).

harga minyak mentah dunia yang paling sering digunakan adalah West Texas Intermediate (WTI) dimana minyak mentah yang diperdagangkan di WTI merupakan minyak mentah dengan kualitas tinggi.

Selain WTI, ada juga standar harga minyak mentah dunia yakni Brent. Dimana Brent merupakan pencampuran lima belas jenis minyak mentah yang berasal dari lima belas kilang minyak berbeda yang terletak di Laut Utara. Harga minyak mentah Brent lebih rendah satu hingga dua dolar dibandingkan harga minyak WTI karena kualtas minyak Brent yang tidak setinggi kualitas minyak WTI. Jika dibandingkan dengan harga minyak OPEC, Brent memiliki harga yang lebih tinggi sekitar empat dolar (en.wikipedia.org).

Sejak tahun 1968, harga emas yang dijadikan standar harga emas seluruh dunia adalah London Fixing Gold. London Gold Fixing merupakan prosedur harga emas yang ditentukan sebanyak dua kali sehari pada setiap hari kerja di pasar London. Penentuan ini dilakukan oleh lima anggota London Gold Fixing yang terdiri dari (a) Bank of Nova Scottia, (b) Barclays Capital, (c) Deutsche Bank, (d) HSBC, dan (e) Societe Generale melalui kegiatan lelang.

Setiap awal perdagangan, Presiden London Gold Fixing akan mengumumkan harga tertentu yang selanjutnya harga tersebut dikabarkan kepada dealer oleh kelima anggota London Gold Fixing dan dealer adalah pihak yang berhubungan langsung dengan para pembeli emas yang diperdagangkan. Harga akhir yang ditawarkan dealer kepada lima anggota London Gold Fixing menjadi harga bersih dari hasil akumulasi yang berdasarkan permintaan dan penawaran dari kliennya. Selanjutnya dari hal ini, harga emas terbentuk. Jika permintaan lebih banyak dari penawaran maka harga emas akan naik. Jika permintaan lebih rendah dari penawaran maka harga emas akan turun.

Emas masih menjadi salah satu bentuk investasi yang paling disukai oleh para investor karena nilainya yang cenderung naik dan stabil dan memiliki likuiditas yang tinggi. Sehingga investor akan lebih memilih untuk berinvestasi dalam bentuk emas jika harga emas turun.

(4)

3. METODE PENELITIAN

Metode dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi yaitu sekumpulan berkas yakni mencari / mengumpulkan data mengenai hal-hal berupa laporan keuangan dari masing-masing perusahaan yang dijadikan sampel sebagai data pokok, oleh karena itu penelitian ini juga disebut pengujian hipotesis yang nantinya akan diketahui hubungan antar variable

Dalam penelitian ini analisis regresi ganda digunakan untuk menguji model yang dihipotesiskan secara statistik, serta untuk menentukan sejauh mana model digunakan yang diajukan konsisten dengan data sampel sebanyak 36 pengamatan laporan keuangan. Uji statistik anaisis regresi ganda telah memenuhi syarat uji asumsi klasik yang di uji sebelumnya.

SukuBunga(X1)

Kurs(X2)

Tingkat Infasi (X3)

HargaMinyakDunia(X4)

HargaEmasDunia(X5)

HargaSahamIndeks Kompas100 (Y)

a. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini dalah sebagai berikut :

1) Diduga suku bunga bank berpengaruh terhadap harga saham Indeks Kompas100

2) Diduga kurs rupiah berpengaruh terhadap harga saham Indeks Kompas100 3) Diduga tingkat inflasi berpengaruh terhadap harga saham Indeks Kompas100 4) Diduga harga minyak dunia berpengaruh terhadap harga saham Indeks

Kompas100

5) Diduga harga emas dunia berpengaruh terhadap harga saham Indeks Kompas100

6) Diduga suku bunga bank, kurs rupiah, tingkat inflasi, harga minyak dunia, harga emas dunia secara simultan berpengaruh terhadap harga saham Indeks Kompas100

Untuk mengetahui hipoteseis diterima atau ditolak, maka perlu dilakukan analisis kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linier ganda, dengan rumus sebagai berikut :

Y = α + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + e Y = harga saham Indeks Kompas 100

 = Konstanta

b1-5 = Koefisiean regresi X1 = suku bunga bank X2 = kurs rupiah X3 = tingkat inflasi X4 = harga minyak dunia X5 = harga emas dunia e = error

(5)

Pengujian hipotesisi secara parsial menggunakan uji t yaitu membandingkan thitung dengan ttabel dengan alpha 0,05. Jika thitung > ttabel dan alphahitung < 0,05, maka variabel independen dinyatakan berpengaruh terhadap variabel dependen. Jika thitung

< ttabel dan alphahitung > 0,05, maka variabel independen dinyatakan tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

Pengujian hipotesis secara simultan menggunakan uji F yaitu membandingkan Fhitung dengan Ftabel dengan alpha 0,05. Jika Fhitung > Ftabel dan alphahitung < 0,05, maka variabel independen secara simultan dinyatakan berpengaruh terhadap variabel dependen. Jika Fhitung < Ftabel dan alphahitung > 0,05, maka variabel independen secara simultan dinyatakan tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

b. Analisa Data

Instrumen dalam penenlitian ini adalah data sekunder yaitu berupa laporan keuangan periode tahun 2012 s.d tahun 2014 dari masing-masing perusahaan yang dijadikan sampel. Dengan 36 pengamatan laporan keuangan.

c. Uji Asumsi Klasik

Hasil uji normalitas diketahui nilai standar residual terletak antara -1,746 s.d +1,713, maka dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini telah berdistribusi normal dan uji normalitas terpenuhi.

Hasil uji multikolinieritas menunjukan nilai VIF semua variabel bebas lebih kecil dari 10 dan nilai toleran lebih besar dari 0,1. Untuk variabel suku bunga bank (X1) nilai VIF 8,064 dan nilai toleran 0,124, variabel kurs rupai (X2) VIF 4,963 dan nilai toleran 0,201, variabel tingkat inflasi (X3) VIF 1,846 dan nilai toleran 0,542, variabel minyak dunia (X4) VIF 1,260 dan nilai toleran 0,793, variable harga emas dunia (X5) VIF 2,900 dan nilai toleran 0,345, dengan demikian dapat dinyatakan tidak terjadi multikolinieritas antar variable.

Hasil uji heteroskedastisitas menunjukan keseluruhan nilai signifikansi variabel bebas tidak ada yang signifikan, variabel suku bunga bank (X1) sig=0,945, variabel kurs rupai (X2) sig=0,838, variabel tingkat inflasi (X3) sig=0,075, variabel minyak dunia (X4) sig=0,408, variable harga emas dunia (X5) sig=0873, maka dapat dinyatakan tidak ada masalah heteroskedastisitas dalam model regresi.

d. Uji Regresi Linier Ganda

Nilai signifikansi suku bunga bank (X1) tehadap harga saham indek kompas100 (Y) sebesar 0,261 > alpha yaitu 0,05, dengan koefisien regresi 0,454, artinya tidak terdapat pengaruh suku bunga bank (X1) secara parsial tehadap harga saham indek kompas100 (Y). Nilai signifikansi kurs rupiah (X2) terhadap harga saham indek kompas100 (Y) sebesar 0,800 > alpha yaitu 0,05, dengan koefisien regresi -0,079, artinya tidak terdapat pengaruh kurs rupiah (X2) secara parsial terhadap harga saham indek kompas100 (Y). Nilai signifikansi tingkat inflasi (X3) tehadap harga saham indek kompas100 (Y) sebesar 0,305 > alpha yaitu 0,05, dengan koefisien regresi 0,198, artinya tidak terdapat pengaruh tingkat inflasi (X3) secara parsial tehadap harga saham indek kompas100 (Y). Nilai signifikansi harga minyak dunia (X4) tehadap harga saham indek kompas100 (Y) sebesar 0,008 <

alpha yaitu 0,05, dengan koefisien regresi -0,443, artinya terdapat pengaruh harga minyak dunia (X4) secara parsial tehadap harga saham indek kompas100 (Y). Nilai signifikansi harga emas dunia (X5) tehadap harga saham indek kompas100 (Y) sebesar 0,919 > alpha yaitu 0,05, dengan koefisien regresi -0,025, artinya tidak terdapat pengaruh harga emas dunia (X5) secara parsial tehadap harga saham indek kompas100 (Y). Selajutnya hasil regresi dimasukan kedalam persamaan regresi :

Y = -1,48 + 0,454 X1 – 0,079 X2 + 0,198 X3 – 0,443 X4 – 0,025 X5

(6)

Secara simultan nilai signifikansi suku bunga bank (X1), kurs rupiah (X2), tingkat inflasi (X3), harga minyak dunia (X4) dan harga emas dunia (X5) terhadap harga saham indek kompas100 (Y) sebesar 0,005 < alpha yaitu 0,05, dan Fhitung >

Ftabel yaitu 4,263 > 2,530. Artinya terdapat pengaruh secara simultan suku bunga

bank (X1), kurs rupiah (X2), tingkat inflasi (X3), harga minyak dunia (X4) dan harga emas dunia (X5) terhadap harga saham indek kompas100 (Y). Nilai Rsquare sebesar 0,415, mengartikan bahwa pengaruh suku bunga bank (X1), kurs rupiah (X2), tingkat inflasi (X3), harga minyak dunia (X4) dan harga emas dunia (X5) terhadap harga saham indek kompas100 (Y) sebesar 41,5% sedangkan sebesar 58,5% dipengaruhi oleh variabel yang yang tidak diteliti.

4. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukan bahwa BI rate tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada indek kompas 100. Dari hasil tersebut dapat diinterprestasikan jika terjadi kenaikan BI rate sebesar 1% maka tidak mampu mempengaruhi kenaikan harga saham.

Hasil penelitian ini tidak sama dengan hasil yang dlakukan oleh Sujoko (2009) bahwa BI rate tidak berpengaruh terhadap harga saham dan hasil penelitian ini menunjukan hasil yang berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Alam dan Adam (2009) dan Wijayanti Kaluge (2005) bahwa hasil temuanya menyatakankan BI rate berpengaruh terhadap harga saham.

Kejadian ini akan mengakibatkan investor tidak akan tertarik menanamkan modalnya di pasar modal karena imbalan yang akan diterima dari saham lebih kecil bahkan dapat mengalami kerugian. Akibatnya harga saham di pasar modal akan mengalami penurunan secara drastis. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat suku bunga bank tidak berpengaruh terhadap harga saham, dengan demikian para investor akan lebih memilih menyimpan uangnya di bank dalam bentuk deposito dengan harapan mendapat bunga atas simpanan tersebut di banding menginvestasikan uangnya di pasar modal dalam bentuk saham.

Berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukan bahwa kurs rupiah tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada indek kompas 100. Dari hasil tersebut dapat diinterprestasikan jika terjadi penurunan kurs rupiah sebesar 1% maka tidak mampu memmpengaruhi penurunan harga saham.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wijayanti Kaluge (2009) bahwa hasil penelitianya menunjukan kurs rupai berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Dan penelitian ini menunjukan hasil yang sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sujoko (2009) bahwa hasil penelitiannya menunjukan kurs rupiah berpengaruh terhadap harga saham.

Pergerakan harga saham tidak terlepas dari pengaruh nilai kurs rupiah terhadap dolar Amerika. Saham pada kompas 100 yang tercatat di bursa sangatlah banyak dan masing-masing dari saham tersebut memiliki kapitalisasi pasar yang berbeda-beda.

Pada saat calon investor ingin melakukan investasi, maka calon investor membutuhkan data yang menggambarkan keadaaan yang sebenarnya dari berbagai saham yang tersebar di bursa, naik atau turunya harga saham pada kompas 100 menjadi pertimbangan bagi investor, karena hal ini akan mempengaruhi keuntungan bila investasi pada saham kompas 100.

Kenaikan atau penurnan dapat disebabkan oleh tingkat suku bunga bank Indonesia, bila suku bunga bank lebih tinggi (menguntungkan) dibanding investasi pada saham maka investor lebih cenderung menyimpan danya di bank. Dan sebaliknya bila suku bunga bank lebih rendah (kurang menguntungkan) dibanding investasi pada saham maka investor lebih cenderung menginvestasikan dananya pada saham.

Berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukan bahwa Inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada indek kompas 100. Dari hasil tersebut dapat

(7)

diinterprestasikan jika terjadi kenaikan inflasi sebesar 1% maka tidak mampu mempengaruhi kenaikan harga saham.

Hasil penelitian ini tidak sejalan sama dengan penelitian yang dlakukan oleh wijayanti (2005) yang menyakan bahwa inflasi berpengaruh terhadap harga saham, bila disandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sujoko (2009) yang mana hasil penelitannya inflasi berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham.

Terkait dengan hasil penelitian tersebut, bahwa Inflasi dapat berpengaruh pada kegiatan ekonomi yang lainnya seperti pada investasi. Pengaruh inflasi terhadap investasi dan pengaruh inflasi terhadap harga saham, inflasi yang tinggi atau berlebihan keadaan tersebut akan membuat pengaruh atau dampak negative terhadap para investor saham pada setiap perusahaan. Hal ini banyak disebabkan karena harga-harga yang ada dipasaran akan mengalami kenaikan yang sangat tinggi akan tetapi gaji para pegawai tidak mengalami peningkatan atau kenaikan melainkan gaji pegawai tetap atau tidak berubah. Hal tersebut akan berdampak negative terhadap adanya proses produksi setiap perusahaan, ini akan berdampak buruk terhadap investor karena para investor akan berfikir berkali-kali jika akan menginvestasikan uangnya. Jika benar begitu maka modal usaha dari perusahaan akan mengalami penurunan juga yang berakhir pada sebuah kebangkrutan.

Dengan adanya angka inflasi yang sangat tinggi itu sangat bepengaruh terhadap kegiatan ekonomi yang lain seperti pada investasi dan harga saham. Semakin tinggi angka inflasi hal itu memiliki arti bahwa tingkat harga saham pada sebuah perusahaan mengalami penurunan, maka dari itu inflasi yang tinggi akan membuat tingkat komsumsi menjadi berkurang sebab harga dari barang-barang mengalami kenaikan namun upah atau gaji para karyawan tidak meningkat, kondisi ini tidak menguntungkan bagi calon investor, sehingga mereka lebih memilih menyimpan dananya di bank dalam bentuk deposito

Berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukan bahwa harga minyak dunia berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham pada indek kompas 100. Dari hasil tersebut dapat diinterprestasikan jika terjadi kenaikan BI rate sebesar 1% maka akan mempengaruhi penurunan harga saham sebesar 2.823 poin.

Hasil penelitian ini memperoleh hasil yang sama dengan penelitian yang dlakukan oleh Wijaksono (2010), Kilian dan Park (2007) bahwa harga minyak dunia berpengaruh terhadap harga saham, namun hasil penelitian ini menunjukan hasil yang berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan (2016) dimana hasil penelitiannya bahwa harga minyak dunia tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

Minyak dunia merupakan komoditas penting dan merupakan kebutuhan utama setiap negara sehingga vluktuatif harga akan berdampak pada perekonomian dunia.

Harga minyak dunia juga merupakan indikator perekonomian dunia, karena minyak mentah sangat dibutuhkan untuk melakukan aktivitas ekonomi. Hal ini terjadi karena investor pasar modal menganggap bahwa naiknya harga minyak mentah dunia merupakan pertanda meningkatnya permintaan, yang mengindikasi membaiknya ekonomi global dunia. Meningkatnya permintaan minyak dunia diikuti dengan naiknya permintaan komoditas hasil tambang. Sebaliknya, harga energi yang turun mencerminkan melemahnya perekonomi global. Bila minyak dunia naik maka ekpektasi kepercayaan investoar meningkat terhadap kinerja perusahaan, dengan demikian harga saham juga akan naik yang diikuti keutungan dari saham juga akan naik. Hasil ini mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Benakovic dan Posedel (2010), Movahedizadeh et al (2014) yang menunjukkan pengaruh positif terhadap return saham.

Berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukan bahwa harga emas dunia berpengaruh positif tidak signifikan terhadap harga saham indek kompas 100. Dari hasil tersebut dapat diinterprestasikan jika terjadi kenaikan harga emas dunia sebesar 1%

maka hanya mampu memmpengaruhi peurunan harga saham sebesar 0.103 poin. Lain jika

(8)

Dengan kata lain jika harga emas dunia turun maka harga saham pada indek kompas 100 akan naik dan sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh jika harga emas turun maka investor lebih menyukai investasi dipasar uang.

Disamping investasi di pasar saham, investor juga menyukai inestasi emas, hal ini dikarenakan emas merupakan salah satu bentuk investasi yang cenderung bebas resiko. Emas banyak dipilih sebagai salah satu bentuk investasi oleh investor karena nilainya cenderung stabil dan naik. Sangat jarang sekali harga emas turun dan emas adalah sebagai alat yang dapat digunakan untuk menangkal inflasi yang kerap terjadi setiap tahunnya. (Sunariyah,2006). Dampak dari naik atau turunnya harga emas dunia akan dapat mepengaruhi harga hasam. Menurut Smith (2001) bahwa kenaikan harga emas akan mendorong penurunan indeks harga saham. Hal ini dikarenakan para investor akan memilih berinvestasi dalam bentuk emas, karena dengan resiko yang lebih rendah investasi dalam bentuk emas memberikan return yang lebih tinggi.

Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa harga emas dunia berpengaruh terhadap harga saham pada indek kompas 100, ini mengindikasikan bahwa bila harga emas dunia mengalami kenaikan maka investor lebih cenderung berinvestasi pada emas dibanding berinvestasi pada saham, karena berinvestasi pada emas mengutungkan.

5. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya maka dapat dibuat kesimpulan dan saran-saran dalam penelitian sebagai berikut :

1. Suku bunga bank tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada indek kompas 100.

2. Kurs rupiah tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada indek kompas 100.

3. Tingkat Inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada indek kompas 100.

4. Harga minyak dunia berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham pada indek kompas 100.

5. Harga emas dunia tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada indek kompas 100

6. Secara bersama-sama Suku bunga bank, tingkat Inflasi, Kurs, Harga Minyak Dunia, dan Harga Emas berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham pada Kompas 100

6. DAFTAR PUSTAKA

Alam. M. M, Uddin. M. G. S. 2009. Relationship between Interest Rate and Stock Price:

Empirical Evidence from Developed and Developing Countries. International Journal of Business and Management. Vol. 4. No. 3. Department of Business Administration.

East West University. Bangladesh.

Benakovic D dan Posedel P., 2010, Do Macroeconomic Factors Matter For Stock Returns?

Evidence From Estimating a Multifactor Model On The Croatian Market., http://hrcak.srce.hr/file/95041., di akses 2 September 2016

Hady. H. 2012. Manajemen Keuangan Internasional. Edisi 3. Penerbit Yayasan Administrasi Indonesia. Jakarta Pusat.

Hartono, J. 2013. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. BPFE-Yogyakarta. Yogyakarta.

Hayati. N. 2011. Pengaruh Inflasi, Kurs, Suku Bunga, Serta Harga Minyak Mentah Dunia Terhadap Jakarta Islamic Index Periode 2003-2010. Tesis. Program Studi Timur Tengah dan Islam. Universitas Indonesia. Jakarta.

(9)

Hayo.B and Kutan A.M. 2004. The Impact of News, Oil Prices, and Gobal Market Developments on Russian Financial Markets. Working Paper. Number 656. The William Davidson Institute. Michigan.

Kilian, Lutz and Park, Cheolbeom, 2007, The Impact of Oil Prices Shocks on the U.S. Stock Market, Research Paper, Department of Economics, University of Michigan.

Kurniawan. Y. J. 2014. Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI, Inflasi, Harga Minyak Dunia, Harga Emas Dunia, Kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika, Indeks Nikkei 225, dan Indeks Dow Jones terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (Studi Kasus pada IHSG di BEI Periode 2003-2012). Artikel.

Kurniawan Yoshua., 2016, Pengaruh Harga Minyak Dunia, Tingkat Inflasi, Dan Nilai Kurs Dolar Terhadap Return Saham Perusahaan Otomotif Dan Komponen Yang Terdaftar Bei Periode 2012-2014. Thesis, UNIKA SOEGIJAPRANATA.

Lukisto. J, Anastasia. N. 2014. Dampak Makroekonomi Terhadap Indeks Harga Saham Sektor Properti di Indonesia Periode Tahun 1994-2012. Jurnal Analisa. Vol. 3. No. 2.

ISSN 2252-8485. Fakultas Ekonomi. Universitas Kristen Petra. Surabaya.

Movahedizadeh et al (2014), The Impact Of Macroeconomic Factors On Tehran Stock Exchange Index During Unjust Economic and Oil Sanctions From January 2006 to December 2012., Recent Advances in Economics, Management and Marketing, http://www.wseas.us/e-library/conferences/2014/CambridgeUSA/ECON/ECON- 16.pdf., di akses 2 September 2016.

Octafia. S. M. 2015. Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI, Nilai Tukar dan Jumlah Uang Beredar terhadap Indeks Harga Saham Sektor Property dan Real Estate dengan Pendekatan Error Correction Model. Artikel. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Padang. Sumatera Barat.

Pearce. D.K. 1982. The Impact of Inflation on StockPrices. Economic Review. Federal Reserve Bank of Kansas City. America.

Pearce. D.K, Roley. V.V. 1984. Stock Prices and Economic News. NBER Working Paper Series. Number 1296. National Burreau of Economic Research.

Smith, G., 2001, The Price of Gold and Stock Price Indices for The United States. Avalaible:

www.ideas.respec.org, di akses 2 September 2016.

Sujoko. 2009. Analisis Pengaruh Suku Bunga, Inflasi, Kurs Mata Uang, IHSG, dan Dana Kelolaan Terhadap Imbal Hasil Rekasadana Saham. Jurnal Ilmu Ekonomi dan Manajemen. Volume 5 Nomor 2. Universitas 17 Agustus 1945. Surabaya.

Sunariyah. 2006. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Ed ke-3. Yogyakarta: UPP STIM YKPN

Tandelilin. E. 2010. Portofolio danInvestasi. Teori dan Aplikasi. Penerbit Kanisius.

Yogyakarta.

Triani. L. F. 2015. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Indeks Harga Saham di Jakarta Islamic Indeks Selama Tahun 2011.Jurnal Organisasi dan Manajemen.

Volume 9. Nomor 2. Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka.

Twite, G. 2002. Gold Prices, Exchange Rates, Gold Stocks and the Gold Premium.

Australian Journal of Management. Vol. 27. No. 2. School of Management. UNSW.

Sydney.

(10)

Wijayanti. A, Kaluge. D. 2015. Pengaruh Beberapa Variabel Makroekonomi dan Indeks Pasar Modal Dunia terhadap Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI. Artikel. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Brawijaya. Malang.

Witjaksono. A. A. 2010. Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI, Harga Minyak Dunia, Harga Emas Dunia, Kurs Rupiah, Indeks Nikkei 225 dan Indeks Dow Jones terhadap IHSG (Studi Kasis pada IHSG di BEI selama periode 2000-2009). Tesis. Program Studi Magister Manajemen. Universitas Diponegoro. Semarang.

Referensi

Dokumen terkait

Pertama, bentuk-bentuk per- lawanan kultural yang terdapat dalam puisi Indo- nesia mutakhir ada tujuh bentuk yakni: perlawanan kultural atas ketidakadilan, demoralisasi,

Berdasarkan periode rolling, sebagaimana disajikan pada Tabel 4, terlihat bahwa pada kapal yang muatannya tidak terdapat free surface (KPIH 3), memiliki periode rolling yang

untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Psikologi Islam (S.

Memerhatikan cara al-Sa‘di&gt; dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran, dapat disimpulkan bahwa kitab Tafsi&gt;r al-Sa‘di&gt; ditinjau dari segi sumbernya menggunakan dua

deskriptif karena berusaha mendeskripsikan atau menginterpretasikan akibat yang sedang terjadi atau kecenderungan yang berkembang untuk menyajikan gambaran hasil

Bedasarkan penelitian yang telah dilakukan, dibawah ini akan penulis sajikan hasil penelitian. Hasil penelitian berupa data kuantitatif yang diperoleh dari angket

mengungkapkan bahwa sekresi pertahanan diri dari fontanel kasta prajurit rayap memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai pestisida hayati yang mampu

Tingkat pengetahuan ibu tentang CAM selama kehamilan memiliki nilai p value 0,071 dimana &gt; 0,05 yang artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan tingkat