• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM TERAPI APPLIED BEHAVIOUR ANALYSIS DALAM MENINGKATKAN KEBERFUNGSIAN SOSIAL ANAK PENYANDANG AUTISME DI YAYASAN CINTA HARAPAN INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM TERAPI APPLIED BEHAVIOUR ANALYSIS DALAM MENINGKATKAN KEBERFUNGSIAN SOSIAL ANAK PENYANDANG AUTISME DI YAYASAN CINTA HARAPAN INDONESIA"

Copied!
167
0
0

Teks penuh

(1)

HARAPAN INDONESIA

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

NADIRA SHAFA ATIQA NIM 11160541000091

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1442 H / 2021 M

(2)

i

(3)

ii

(4)

iii

(5)

Applied Behaviour Analysis Dalam Meningkatkan Keberfungsian Sosial Anak Penyandang Autisme di Yayasan Cinta Harapan Indonesia.

Studi-studi mengenai keberfungsian sosial menyatakan bahwa manusia dapat dikatakan berfungsi secara sosial apabila mampu memenuhi tiga aspek, yaitu: mampu memenuhi kebutuhan dasar, melaksanakan peranan sosial dan menghadapi goncangan dan tekanan. Anak penyandang autisme memiliki hambatan dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Hal itu yang membuat mereka tidak berfungsi secata sosial. Maka dari itu, diperlukan program untuk membantu mereka berfungsi secara sosial. Melalui program terapi Applied Behaviour Analysis di Yayasan Cinta Harapan Indonesia, dapat membantu anak mengatasi hambatan-hambatan tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan program dan dampak program terapi Applied Behaviour Analysis yang dilakukan oleh Yayasan Cinta Harapan Indonesia berpengaruh dalam meningkatkan keberfungsian sosial anak penyandang autisme. Pendekatan penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa program terapi Applied Behaviour Analysis ini memberikan perubahan positif bagi anak penyandang autisme. Diantaranya anak mampu membina diri: makan, minum dan berpakaian, mampu melaksanakan perintah sederhana dan meminimalisir perilaku tidak wajar.

Kata Kunci: Anak Penyandang Autisme, Terapi Applied Behaviour Analysis, Keberfungsian Sosial

iv

(6)

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahi Rabbil’alamin, puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunianya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Program Terapi Applied Behaviour Analysis Dalam Meningkatkan Keberfungsian Sosial Anak Penyandang Autisme di Yayasan Cinta Harapan Indonesia. Pada kesempatan kali ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada berbagai pihak, yang telah turut serta memberikan motivasi, dukungan serta bantuan dalam proses pembuatan skripsi ini. Dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada :

1. Bapak Suparto, Ph. D selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ibu Dr. Siti Napsiyah, MSW selaku Wakil Dekan I Bidang Akademik, Bapak Dr. Sihabudin Noor, M.Ag., selaku Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, serta Bapak Cecep Castrawijaya, M.A., selaku Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan.

2. Bapak Ahmad Zaky, M.Si selaku Ketua Jurusan Kesejahteraan Sosial dan Ibu Hj. Nunung Khoiriyah, MA selaku Sekretaris Jurusan Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

v

(7)

waktu ditengah kesibukannya untuk memberikan arahan, masukan, dan membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

4. Para dosen Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi serta seluruh civitas akademika yang telah memberikan wawasan, pengalaman serta membimbing penulis selama mengikuti perkuliahan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Bapak Jupri Abdullah Mu’in selaku ketua harian Yayasan Cinta Harapan Indonesia, Miss Fatimah, Miss Cony, Miss Dewi, Miss Erna dan seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam melengkapi data selama penelitian di Yayasan Cinta Harapan Indonesia.

6. Orangtua anak penyandang autisme yaitu Ibu IM dan SS yang telah membantu penulis sebagai informan dalam melengkapi data selama penelitian.

7. Anak penyandang autisme yaitu RA dan IF sebagai objek penelitian.

8. Mami Rinawati tercinta dan kedua adik Iky dan Bian serta keluarga besar H.Nurdin yang telah memberikan dukungan baik secara moril maupun materi dan tidak pernah lelah untuk mendoakan, menyemangati dan memberikan kasih sayang yang tulus kepada penulis sehingga penulis bisa

vi

(8)

Rahmah terimakasih atas kebersamaan selama masa perkuliahan, berbagi canda tawa dan suka duka.

10. Teman-teman seperjuangan Kessos 2016. Terimakasih telah berjuang bersama-sama selama masa perkuliahan ini.

11. Yuan Erzal Prayoga terimakasih atas kasih sayang dan selalu menyemangati penulis untuk menyelesaikan skripsi.

12. Serta semua pihak yang telah terlibat membantu peneliti dan memberikan do’a dalam membuat skripsi yang tidak dapat peneliti sebutkan satu-persatu

Akhir kata, penulis sepenuhnya menyadari bahwa pada skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan sekalipun penulis telah berusaha melakukan yang terbaik. Untuk itu, kritikan dan saran yang membangun merupakan masukan bagi penulis agar dapat menghasilkan karya ilmiah yang lebih baik lagi. Semoga skripsi ini dapat membawa manfaat bagi kita semua yang membacanya, terutama dalam memajukan keilmuan Kesejahteraan Sosial.

Tangerang Selatan, 28 April 2021

Penulis

vii

(9)

LEMBAR PERNYATAAN... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR BAGAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan Masalah ... 10

C. Perumusan Masalah... 10

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10

E. Review Kajian Terdahulu ... 11

F. Metode Penelitian... 15

G. Sistematika Penulisan ... 23

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 25

A. Program Terapi ABA ... 25

B. Keberfungsian Sosial ... 33

C. Anak Penyandang Autisme... 40

D. Kerangka Berpikir ... 51

BAB III GAMBARAN UMUM LEMBAGA ... 52

A. Latar Belakang ... 52

B. Profil Yayasan Cinta Harapan Indonesia Pusat ... 54

C. Visi dan Misi ... 54

D. Struktur Organisasi ... 56 viii

(10)

J. Kemitraan ... 64

K. Alamat dan Kontak ... 65

BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN ... 67

A. Pelaksanaan Program Terapi Applied Behaviour Analysis... 67

B. Dampak Program Terapi Applied Behaviour Analysis... 80

BAB V PEMBAHASAN ... 91

A. Pelaksanaan Program Terapi Applied Behaviour Analysis... 91

B. Indikator Keberfungsian Sosial Anak Penyandang Autisme Sesuai Teori Edi Suharto... 103

BAB VI PENUTUP ... 117

A. Kesimpulan ... 117

B. Saran ... 118

DAFTAR PUSTAKA ... 121

LAMPIRAN ... 124

ix

(11)

Gambar 2. 2 Kebutuhan Menurut Maslow ... 35

Gambar 3. 1 Struktur Kepengurusan YCHI ... 56

Gambar 3. 2 Kegiatan Hydrotherapy ... 58

Gambar 3. 3 Kegiatan Yoga ... 59

x

(12)

Tabel 2. 2 Skema Respondent Conditioning ... 29

Tabel 3. 1 Sumber Daya Manusia YCHI ... 62

Tabel 3. 2 Daftar Anak Aktif YCHI Autism Center 2020 ... 63

Tabel 4. 1 Indikator dalam Program Terapi ABA ... 71

Tabel 4. 2 Data Anak Autisme ... 81

Tabel 5. 1 Peningkatan Keberfungsian Sosial Anak Penyandang Autisme Pada Program Terapi ABA ... 110

xi

(13)

xii

(14)

Kehadiran anak merupakan anugerah yang Allah SWT berikan kepada orangtua. Anak harus diberikan segala haknya, baik itu hak untuk hidup, hak intelektualitas dan hak untuk mendapatkan rasa aman dan kesehatan. Kesempurnaan fisik maupun psikis seorang anak merupakan suatu kebahagian bagi orang tua.

Namun, pada kenyataannya tidak semua anak terlahir dengan sempurna. Ada anak yang terlahir dengan kelainan fisik, mental dan bahkan keduanya. Anak Berkebutuhan Khusus (selanjutnya akan disingkat dengan ABK) merupakan anak yang menyimpang dari rata-rata normal dalam berbagai hal, ciri-ciri mental, kemampuan sensorik, fisik dan neuromaskular, perilaku sosial emosional, kemampuan dalam berkomunikasi atau kombinasi dari keduanya atau lebih diatas. (Mangunsong 2009)

Bagaimanapun keadaan dan kondisi anak, sudah wajib hukumnya bagi orangtua untuk memberikan kasih sayang, merawat dan memenuhi kebutuhan mereka. Hal tersebut terdapat dalam Al-Qur’an QS. Al-Anfal: 27 yang berbunyi:

1

(15)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat- amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

Berdasarkan ayat diatas kita dapat melihat bahwa Allah SWT memerintahkan manusia untuk menjaga dan tidak mengkhianati amanat yang Allah SWT berikan. Dalam hal ini yang dimaksud adalah orangtua yang diberikan amanat berupa seorang anak, dimana setiap orang tua harus memelihara dan mengasuh anak dengan baik sebagaimana amanah yang Allah SWT berikan.

Menurut penelitian yang berjudul “Pelaksanaan Terapi Keterampilan Sosial Bagi Anak Autis Di Lembaga Pendidikan Khusus Dan Pendidikan Layanan Khusus Mutiara Bunda Bengkulu” oleh Siska Patdriani, perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses yang dilakukan oleh orangtua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial atau norma- norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anak bagaimana menerapkan norma dalam kehidupan sehari-hari. (Patdriani 2018, 4)

(16)

Selanjutnya, penjelasan mengenai ABK dijelaskan dalam UU No.8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Dalam pasal 1 disebutkan bahwa penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2017 menjelaskan bahwa jumlah ABK di Indonesia adalah sebanyak 1,6 juta orang. Pada tahun berikutnya, BPS dalam Survei Ekonomi Sosial (SUSENAS) menjelaskan bahwa ada 1,4 juta ABK yang di bagi menjadi dua kategori, yaitu penyandang disabilitas berat dan penyandang disabilitas ringan. (Maulipaksi 2017) di akses pada 10 Januari 2020.

Data diatas hanya menunjukkan jumlah ABK secara keseluruhan, tidak dibagi setiap jenis. Dari data diatas juga bisa dilihat terjadinya penurunan jumlah ABK secara keseluruhan pada tahun 2018. Bagaimana dengan ABK yang tinggal dipelosok dan belum terdata? Tentunya, hal itu masih menjadi misteri. Data yang sudah ada kemungkinan akan bertambah, mengingat masih banyak daerah pelosok yang belum terjamah serta kurangnya edukasi orangtua mengenai ABK.

(17)

Terdapat banyak jenis ABK, diantaranya: tunanetra, tunadaksa, tunawicara, autisme dan masih banyak lagi.

Dengan banyaknya jenis tersebut, hal ini membuat hambatan serta potensi setiap ABK akan berbeda satu sama lainnya.

Namun, pada kenyataannya ABK bahkan orangtua merekapun masih kesulitan dalam menentukan potensi apa yang dimiliki anaknya. Mengingat masih banyak orangtua yang kesulitan untuk mengakses informasi mengenai pelayanan bagi ABK.

Agar penelitian ini lebih terperinci, maka peneliti akan mengambil subjek dari satu jenis ABK. Salah satu jenis ABK yang akan diteliti pada penelitian ini adalah Autisme. Istilah Autisme berasal dari kata autos yang berarti diri sendiri dan isme yang berarti aliran. Autisme diartikan sebagai suatu paham yang hanya tertarik pada dunianya sendiri. Menurut Murdjito, Autisme adalah anak yang memiliki gangguan dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara sosial serta mengalami gangguan sensori, pola bermain dan emosi.

Penyebabnya karena tidak adanya sinkronisasi antara jaringan dan fungsi otak. Pendapat lain dikatakan oleh Sutadi yang mengatakan bahwa autistic adalah sebuah gangguan perkembangan neurologis berat yang kemudian dapat memengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berelasi. (Atmaja 2017)

(18)

Menurut penelitian yang berjudul “Penerapan Metode Terapi Perilaku Pada Anak Usia Dini Dengan Autisme (Studi Deskriptif Di Pusat Layanan Disabilitas Dan Pendidikan Inklusif Kota Surakarta Dan Mutiara Center Kota Surakarta “ oleh Evi Sulistyawati, anak dengan autisme lebih suka menyendiri, memiliki reaksi emosi yang sering membingungkan, cenderung acuh bila dipanggil dan seringkali menunjukkan tanpa ekpresi. Saat sedang berada dalam lingkungan sekitar, anak autisme kerap menghindar dan menghindari kontak fisik bahkan tidak ada kontak mata.

(Sulistyawati 2018, 4)

Hingga sebelum tahun 2000, jumlah autisme sampai 15-20 per 1.000 kelahiran, 1-2 per 1.000 penduduk dunia.

Menurut data ASA (Autism Society of America) tahun 2000 yaitu 60 per 1.000 kelahiran, dengan jumlah 1: 250 penduduk.

Sementara itu menurut CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, USA) tahun 2001 yaitu 1 diantara 150 penduduk, dan pada beberapa daerah di USA / UK yaitu diantara 100 penduduk. pada tahun 2012, data CDC menunjukkan bahwa sejumlah 1:88 anak menyandang autisme, dan pada tahun 2014 meningkat 30% yaitu sebanyak 1,5% atau 1:68 anak di USA menyandang autisme.

(Permenkumham RI 2015) diakses pada 20 Januari 2020.

Sedangkan di Indonesia belum terdapat data yang pasti. Menurut Dokter Rudy, yang memperhatikan pada

(19)

Incidence dan Prevalence ASD (Autistic Spectrum Disorder) terdapat 2 kasus baru per 1.000 penduduk per tahun serta 10 kasus per 1.000 penduduk. Sedangkan penduduk Indonesia yaitu 23,5 juta laju pertumbuhan penduduk sekitar 1,14%.

Maka diperkirakan penyandang ASD di Indonesia yaitu 2,4 juta orang dengan pertambahan penyandang baru 500 orang/tahun. (Permenkumham RI 2015) di akses pada tanggal 20 Agustus 2020.

Dalam memahami ABK khususnya anak penyandang autisme bukan hanya dilihat dari jumlah yang berupa angka, tetapi memahami bagaimana mereka mampu melanjutkan hidup dengan kondisi yang dialami dan bagaimana mereka mampu berfungsi secara sosial. Sebagai manusia dan hidup bermasyarakat, tentunya kita memiliki peran dan fungsi sosial serta norma yang hidup di masyarakat. Hakikatnya, manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan bantuan dari orang lain dan memerlukan adanya interaksi dengan orang lain dalam lingkungan guna keberlangsungan hidup manusia.

Menurut penelitian yang berjudul “Pengaruh Terapi Aba Terhadap Interaksi Sosial Anak Autis” oleh Raden Roro Ajeng Jane dan Drs. M. Ilmi Hatta, M.Psi, interaksi sosial merupakan suatu proses dimana seseorang memperoleh kemampuan sosial untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial. Interaksi sosial merupakan aspek penting dalam perkembangan anak, karena pada masa ini merupakan

(20)

masa peralihan dari lingkungan keluarga kedalam lingkungan yang lebih luas, misalnya sekolah. Anak dapat menuju fase berfungsi dalam lingkungan sosial melalui tahap interaksi sosial. (Adjeng and Hatta 2014, 431)

Manusia dikatakan dapat berfungsi secara sosial jika memenuhi tiga aspek utama, yaitu : mampu memenuhi kebutuhan dasar, mampu melaksanakan peanan sosial dan mampu menghadapi goncangan tekanan. Dalam hal ini, anak penyandang autisme memiliki keterbatasan dalam berinteraksi dan berfungsi secara sosial. Mereka memerlukan metode dan media yang tepat guna membangun keberfungsian sosial.

Sebagai upaya mewujudkan ABK yang mandiri dan mampu melaksanakan pelayanan sosial, belakangan ini banyak sekali terapi yang dilakukan untuk meminimalisir gangguan yang dilakukan oleh anak dengan gangguan perilaku, seperti anak penyandang autisme. Setiap terapi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Misalnya, terapi integrasi yang lebih melatih anak untuk melatih keseimbangan otak kanan dan kiri agar secara seimbang atau terapi biomedis yang difokuskan untuk perilaku hiperaktivitas anak. Sedangkan dalam penanganan anak penyandang autisme diperlukan terapi yang menyeluruh dalam membantu perkembangan anak. (Handojo 2003)

Terapi yang bersifat menyeluruh dalam membantu perkembangan anak adalah Terapi Applied Behaviour Analysis (selanjutnya akan disingkat ABA). Terapi ini

(21)

bertujuan untuk mengajarkan bagaimana anak bisa merespon komunikasi, bersosialisasi dalam lingkungan, menghilangkan atau meminimalkan perilaku yang tidak wajar serta menambah perilaku yang belum ada. Metode ini dapat melatih setiap keterampilan yang tidak dimiliki oleh anak, mulai dari merespon seperti kontak mata sampai berkomunikasi secara spontan. Terapi ini dapat dikatakan tepat bagi anak penyandang autisme karena terapi ini bersifat menyuruh dan holistik yang mengajarkan anak mulai dari materi mengikuti tugas, kognitif hingga kemandirian.

Menurut penelitian yang berjudul “Pelatihan Terapi Autis Metode Applied Behaviour Analysis (ABA) (Studi Kasus Pada Proses Pelatihan Terapi Autis Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Tangerang)” oleh Nofri Juliamet dan Sofyan Cholid, Applied Behaviour Analysis merupakan sebuah metode penyembuhan bagi anak dengan autisme yang belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia, sementara itu ABA efektif dan efisien dalam mengurangi perilaku disruptive yang umumnya muncul pada anak dengan autisme. Kelebihan dari terapi ABA adalah diajarkan secara sistematis, terstruktur dan terukur. (Julimet and Cholid 2017, 92)

Salah satu lembaga yang aktif dalam menyelenggarakan kegiatan dan memberikan program terapi bagi ABK adalah Yayasan Cinta Harapan Indonesia (selanjutnya akan disingkat dengan YCHI). YCHI didirikan

(22)

oleh Bapak Zulfikar Alimuddin dan Ibu Nila Susanti karena menyadari bagaimana beratnya tantangan mengurus anak kedua mereka yaitu Rayhan yang menyandang Autisme.

YCHI telah mendampingi serta menangani lebih dari 50 ABK yang tersebar diseluruh Indonesia, dengan memberikan dukungan sosial baik kepada keluarga maupun ABK agar mereka dapat mandiri dan kembali berfungsi secara sosial.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka dari itu peneliti ingin melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana program terapi ABA bagi anak penyandang autisme dengan judul penelitian berupa:

“PROGRAM TERAPI APPLIED BEHAVIOUR

ANALYSIS DALAM MENINGKATKAN

KEBERFUNGSIAN SOSIAL ANAK PENYANDANG AUTISME DI YAYASAN CINTA HARAPAN INDONESIA.”

(23)

B. Pembatasan Masalah

Dalam sebuah penelitian harus dibentuk pembatasan masalah agar peneliti fokus dalam mencari dan meneliti objek penelitiannya. Dari uraian latar belakang yang telah dipaparkan, maka peneliti membatasi objek permasalahan yang akan diteliti yaitu program terapi ABA dalam meningkatkan keberfungsian sosial anak penyandang autisme.

C. Perumusan Masalah

Untuk memperjelas permasalahan diatas, maka rumusan masalahnya adalah:

1. Bagaimana pelaksanaan program terapi ABA bagi anak penyandang autisme di YCHI?

2. Bagaimana dampak program terapi ABA dalam meningkatkan keberfungsian sosial anak penyandang autisme di YCHI?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui pelaksanaan program terapi ABA bagi anak penyandang autisme di YCHI.

b. Untuk mengetahui dampak program terapi ABA dalam meningkatkan keberfungsian sosial anak penyandang autisme di YCHI.

(24)

2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut:

a. Manfaat Akademik

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi bagi siapapun yang membacanya.

2. Penelitian ini dapat dijadikan referensi literasi mengenai pelaksanaan program terapi ABA, terutama bagi anak penyandang autisme.

b. Manfaat Praktik

1. Hasil penelitian ini diharapkan membantu pemikiran kepada YCHI dalam mengevaluasi dan mengembangkan program terapi ABA dalam meningkatkan keberfungsian sosial anak penyandang autisme.

2. Hasil penelitian diharapkan membantu para praktisi yang berprofesi di bidang disabilitas agar dapat mengemban tugas dengan baik.

E. Review Kajian Terdahulu

Review kajian terdahulu dapat digunakan sebagai acuan untuk membantu dan mengetahui dengan jelas penelitian ini, penulis menggunakan keputusan berupa skripsi

(25)

dan jurnal. Ada beberapa skripsi dan jurnal yang berhubungan dengan judul yang penulis ambil, diantaranya:

1. Jurnal hasil karya Nofri Juliamet dan Sofyan Cholid, Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, Pelatihan Terapi Autis Metode Applied Behaviour Analysis (ABA) (Studi Kasus Pada Proses Pelatihan Terapi Autis Di Lembaga Pemasyarakatan Kelas 1 Tangerang), Universitas Indonesia, 2015.

Dalam penelitian ini, Nofri dan Sofyan selaku peneliti memberikan penjelasan bagaimana proses pelatihan terapi bagi anak penyandang autisme melalui terapi ABA di Lembaga Pemasyarakatan 1 Tangerang. Pada penelitian ini Nofri dan Sofyan membagi terapi ABA menjadi tiga tahapan, yaitu: pra pelatihan, pelatihan dan paska pelatihan. Persamaan penelitian ini dan penelitian saya adalah keduanya sama-sama membahas terapi ABA. Sedangkan perbedannya ialah, penelitian ini membahas proses pelatihan terapi ABA, sedangkan penelitian yang akan saya teliti membahas keberfungsian sosial sebagai feedback dari keberhasilan terapi ABA.

2. Jurnal hasil karya Raden Roro Ajeng Jane dan Drs. M. Ilmi Hatta, M.Psi, Pengaruh Terapi Aba Terhadap Interaksi Sosial Anak Autis, Universitas Islam Bandung, 2015.

Dalam penelitian ini Raden Roro dan Ilmi menjelaskan tentang pengaruh terapi ABA dan interaksi

(26)

sosial yang merupakan feedback dari program terapi ABA.

Penelitian ini membahas tentang interaksi sosial anak yang telah mengikuti terapi ABA. Persamaan penelitian ini dengan penelitian saya adalah keduanya sama-sama membahas keberhasilan dari terapi ABA bagi ABK. Sedangkan perbedannya ialah, penelitian ini membahas interaksi sosial sebagai feedback dari keberhasilan terapi ABA, sedangkan penelitian yang akan saya teliti membahas keberfungsian sosial sebagai feedback dari keberhasilan terapi ABA.

3. Penelitian hasil karya Silvi Nanda Revita, Pengaruh Terapi Aba (Applied Behaviour Analysis) Terhadap Kemampuan Bahasa Reseptif Pada Anak Autis Usia 3-6 tahun, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Patria Husada Blitar, 2014.

Hasil dari penelitian ini adalah pengaruh terapi ABA dilihat melalui kemampuan bahasa reseptif pada anak autis sebagai feedback dari program tersebut. Persamaan penelitian Silvi pada tahun 2014 ini adalah menggunakan metode kualitatif sebagai metode penelitian yang melihat bagaimana pengaruh program terapi ABA bagi penerima manfaat.

Sedangkan perbedaannya adalah feedback atau dampak dari terapi ABA. Jika penelitian Silvi ini menjelaskan feedback berupa kemampuan bahasa reseptif, sedangkan penelitian saya menjelaskan feedback berupa keberfungsian sosial anak penyandang autisme.

(27)

4. Skripsi hasil karya Siska Patdriani, Pelaksanaan Terapi Keterampilan Sosial Bagi Anak Autis Di Lembaga Pendidikan Khusus Dan Pendidikan Layanan Khusus Mutiara Bunda Bengkulu, Institut Islam Negeri Bengkulu, 2018.

Dalam penelitian ini Siska menjelaskan tentang pelaksanaan terapi keterampilan sosial yang ada di lembaga Mutiara Bunda. Terapi tersebut adalah terapi ABA dan terapi wicara. Terdapat beberapa media yang digunakan dalam terapi ABA, yaitu: puzzle, bola, gambar dan lukisan. Terapi wicara menggunakan metode listening skill, dimana medianya adalah TV dan HP. Persamaan penelitian Siska dan peneliti adalah sama-sama meneliti program terapi ABA. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian Siska berfokus pada tahap pelaksanaan, sedangkan penelitian ini melihat dampak dari program terapi ABA.

5. Penelitian hasil karya Evi Sulistyawati, Penerapan Metode Terapi Perilaku Pada Anak Usia Dini Dengan Autisme (Studi Deskriptif Di Pusat Layanan Disabilitas Dan Pendidikan Inklusif Kota Surakarta Dan Mutiara Center Kota Surakarta), Universitas Negeri Semarang, 2018.

Dalam penelitian ini Evi menjelaskan tentang metode terapi perilaku yang dilaksanakan di dua tempat, yaitu di Pusat Layanan Disabilitas dan Mutiara Center. Hasil peneltian

(28)

ini adalah terdapat beberapa metode dari terapi perilaku yang dilaksanakan pada dua tempat tersebut, yaitu: terapi ABA, play therapy, floor time serta campuran dari ketiganya.

Persamaan dari penelitian Evi dan penelitian peneliti adalah keduanya sama-sama membahas program terapi ABA.

Sedangkan perbedaannya adalah, penelitian Evi membandingkan metode terapi perilaku yang dilaksanakan pada dua tempat dan penelitian peneliti berfokus pada pelaksanaan program terapi ABA pada satu tempat dengan meneliti feedback dari terapi ABA yaitu keberfungsian sosial.

F. Metode Penelitian

Untuk melaksanakan sebuah penelitian diperlukan metode atau cara untuk mengumpulkan berbagai data yang diperlukan. Berikut metode-metode yang dipakai dalam penelitian ini:

1. Pendekatan Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, Creswell mendefinisikannya sebagai suatu pendekatan atau penelusuran untuk mengeksplorasi dan memahami suatu gejala sentral (Raco 2010). Sedangkan penelitian menurut (Sugiyono 2015) adalah suatu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah dimana peneliti adalah

(29)

sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan dengan purposive, teknik pengumpulan dengan triangulasi, analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.

Penelitian kualitatif dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang ingin mendapatkan gambaran pelaksanaan program terapi ABA dan bagaimana dampak program terapi ABA bagi anak penyandang autisme di YCHI.

2. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif yang bertujuan untuk membuat deskripsi tentang fakta-fakta dan sifat- sifat suatu populasi atau daerah tertentu secara sistematik dan teliti (Subagyo 2015). Berdasarkan penjelasan tersebut peneliti akan mendeskripsikan dampak program terapi ABA dalam meningkatkan keberfungsian sosial anak penyandang autisme berdasarkan tiga kemampuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar, kemampuan dalam melaksanakan peranan sosial, serta kemampuan dalam menghadapi goncangan dan terkanan.

3. Tempat dan Waktu Penelitian a. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang diambil peneliti dalam mencari data dan informasi terkait dengan penelitian

(30)

adalah YCHI yang beralamat di Ruko Green Rafflesia 8G Jl. WR Supratman, Pondok Ranji, Tangerang Selatan, Banten.

b. Waktu Penelitian

Waktu penelitian atau kegiatannya kurang lebih selama 6 bulan terhitung mulai bulan Agustus 2020 sampai dengan bulan Februari 2021.

4. Sumber Data

Terdapat dua jenis sumber data yang dijadikan acuan dalam melakukan penelitian ini, yaitu sumber data primer dan sekunder:

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh melalui proses penelitian secara langsung terhadap sasaran penelitian atau informan di YCHI. Data primer ini diperoleh melalui wawancara kepada informan secara detail seperti kepala bidang program dan petugas yang bertanggung jawab atas program tersebut.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diambil secara tidak langsung dari sumber yang sudah ada. Data sekunder biasanya dapat diperoleh dari website YCHI, dokumen, arsip-arsip, jurnal, surat kabar dan literatur yang memiliki keterkaitan dengan penelitian.

5. Teknik Pengumpulan Data

(31)

Pengumpulan data merupakan suatu proses dalam penelitian, karena melalui pengumpulan data peneliti bisa menemukan hasil yang diinginkan dalam penelitian.

Dalam pengumpulan data, peneliti harus bisa mengumpulkan sampel dalam penelitian untuk mendukung penelitian yang akan diteliti. Setelah penentuan sampel, peneliti melakukan pengumpulan data untuk penelitian.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua teknik untuk mengumpulkan data secara menyeluruh.

Adapun teknik yang akan dilakukan yaitu:

a. Teknik Wawancara

Wawancara merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengungkapkan pertanyaan- pertanyaan kepada informan (Subagyo 2015). Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara kepada beberapa pihak guna mengetahui standar pelayanan di YCHI, pelaksanaan program terapi ABA dan mengetahui dampak dari terapi ABA dalam meningkatkan keberfungsian sosial anak penyandang autisme.

Dikarenakan kondisi pandemi dan pembatasan sosial, maka wawancara ada yang dilakukan secara langsung (tatap muka) dan melalui telepon Whatsapp.

(32)

Maka dari itu, peneliti mengakui tentunya ada kekurangan dalam proses wawancara ini, mengingat penelitian-penelitian sebelumnya yang menggunakan metode kualitatif melakukan wawancara secara langsung. Namun, peneliti yakin hal tersebut tidak mengurangi validitas data yang telah didapatkan.

b. Teknik Dokumentasi

Teknik Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini berupa foto-foto, laporan hasil kegiatan dari YCHI, buku-buku dan literatur yang berkaitan dengan penelitian.

6. Teknik Pemilihan Informan

Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif maka teknik pemilihan responden dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Purposive sampling adalah sample yang dipilih karena pertimbangan-pertimbangan agar sesuai dengan tujuan peneliti. Dalam hal ini, tidak semua responden dapat menjadi informan, harus disesuaikan dengan kebutuhan peneliti. Hal terpenting bukan dilihat dari jumlah respondennya, tetapi potensi dari setiap kasus untuk memberikan pemahaman teoritis yang lebih baik mengenai hal yang dipelajari. (Sugiyono 2012)

. Informan dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu dan dianggap sebagai orang-orang yang tepat

(33)

dalam memberikan informasi tentang upaya YCHI dalam meningkatkan keberfungsian sosial anak penyandang autisme melalui program terapi ABA. Informan dalam penelitian ini adalah orangtua dari penyandang autisme, dikarenakan adanya keterbatasan komunikasi dengan penyandang autisme, maka wawancara dilakukan dengan orangtua sebagai informan.

Adapun pedoman wawancara dalam penelitian ini yaitu:

(34)

Tabel 1. 1 Informan

No. Informasi yang dicari Informan Jumlah 1. Gambaran umum

lembaga, infomasi latar belakang, studi dokumentasi serta maksud dan tujuan berdirinya YCHI.

Ketua Harian YCHI

1 Orang

2. Gambaran umum lembaga, infomasi latar belakang, studi dokumentasi serta maksud dan tujuan berdirinya YCHI.

Pengurus YCHI

1 Orang

3. Pelaksanaan program terapi ABA bagi anak penyandang autisme

Terapis 2 Orang

4. Dampak yang

dirasakan setelah mengikuti program terapi ABA dalam meningkatkan

keberfungsian sosial

Orang tua anak

penyandang autisme

2 Orang

7. Teknik Analisis Data

Proses analisis data dimulai dari reduksi data yang dapat diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian yang didapat dari data yang tersedia di lapangan. Langkah berikutnya adalah penyajian data yang dilakukan dengan menyusun informasi sehingga memberi kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan. Bentuk penyajian data kualitatif berupa teks naratif, matriks, grafik, jaringan dan bagan. Langkah terakhir adalah

(35)

penarikan kesimpulan yang dapat digunakan untuk mengambil tindakan (Hadi Sutopo 2010).

Dalam hal ini yang peneliti lakukan adalah peneliti melakukan wawancara kepada ketua, pengurus, terapis YCHI dan orang tua anak penyandang autisme. Peneliti mengamati seluruh data dan hasil wawancara secara detail dan kemudian data yang telah dikumpulkan selanjutnya peneliti rangkum. Kemudian data tersebut diringkas, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok dan penting, dikategorikan dan disusun secara sistematis dengan mengacu pada rumusan masalah dan tinjauan teoritis yang berkaitan dengan penelitian.

8. Teknik Keabsahan Data

Teknik triangulasi data adalah teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik dan pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.

Teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama.

Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti menggunakan teknik triangulasi data, lalu peneliti mengomparasikan hasil data yang diperoleh hasil dari wawancara dan dokumentasi serta mengomparasikan hasil

(36)

temuan data dari informan yang satu dengan yang lainnya di tempat dan waktu yang berbeda.

G. Sistematika Penulisan

Agar pembahasan ini menjadi sistematis serta untuk mempermudah analisa materi dalam penulisan skripsi, maka peneliti akan menjelaskan sistematika penulisan. Secara umum, skripsi ini terdiri dari enam bab dengan beberapa sub bab. Berikut adalah sistematika penulisannya secara lengkap:

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini membahas Latar Belakang Masalah, Pembatasan Masalah, Rumusan Masalah, Manfaat Penelitian, Review Kajian Terdahulu dan Sistematika Penulisan.

BAB II LANDASAN TEORI

Pada bab ini menjelaskan tentang Landasan Teori yang memperjelas pemahaman teoritis relevansinya dengan penelitian ini. Maka dalam bab ini akan dijelaskan tentang program terapi ABA dalam meningkatkan keberfungsian sosial anak penyandang autisme dan kerangka berpikir.

BAB III GAMBARAN UMUM LEMBAGA

Pada bab ini peneliti menjelaskan mengenai gambaran tentang profil keseluruhan dari YCHI, baik secara historis, struktur organisasi dan alur penanganan klien.

(37)

BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

Pada bagian ini menjelaskan tentang uraian penyajian dan data temuan penelitian yang dilakukan di lapangan sesuai dengan judul “Program Terapi ABA Dalam Meningkatkan Keberfungsian Sosial Anak Penyandang Autisme Di YCHI”

BAB V PEMBAHASAN

Pada bagian ini peneliti akan melakukan analisis secara deskriptif tentang bagaimana pelaksanaan program terapi ABA bagi anak penyandang autisme serta dampak dari program terapi ABA dalam meningkatkan keberfungsian sosial anak penyandang autisme di YCHI.

BAB VI SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

Pada bagian ini berisi kesimpulan, implikasi dan saran mengenai penelitian tersebut. Diakhir penulisan penulis juga memasukkan daftar pustaka dan lampiran-lampiran

(38)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Landasan teori akan mendasari dan menjadi analisis dalam sebuah penelitian, yang tujuannya adalah untuk memperjelas masalah yang akan diteliti. Teori yang akan digunakan dalam penelitian ini merupakan pembahasan semua hal terkait proses pembuatan skripsi peneliti. Dimulai dari menentukan topik sampai proses analisa permasalahan skripsi.

Berikut adalah landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini:

A. Program Terapi ABA

Menurut Gittinger dalam jurnal (Peningkatan, Hutan, and Penelitian 2015) menjelaskan bahwa program pada dasarnya adalah kumpulan kegiatan yang dapat dihimpun dalam suatu kelompok yang sama secara mandiri atau bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan dan sasaran yang sama. Program yang akan dibahas penelitian ini adalah program teapi ABA.

1. Pengertian Terapi ABA

Terapi ABA memiliki banyak istilah lain yang memiliki makna yang sama, istilah-istilah tersebut antara lain: Discrete Trial Training (DTT), Intensive Behavioral

25

(39)

Intervention (IBI), Behavioral Therapy, Behavioral Treatment, dan Behavioral Management. Dari semua istilah-istilah diatas, dapat diartikan bahwa terapi ABA merupakan terapi perilaku. Terapi perilaku dilakukan pada dasarnya adalah untuk membentuk perilaku yang lebih baik dan meminimalkan perilaku yang tidak wajar.

Menurut (Sutady 2002) pengertian ABA adalah sebuah ilmu yang menggunakan prosedur perubahan perilaku untuk membantu individu membangun kemampuan dengan ukuran nilai-nilai yang ada di masyarakat. Sedangkan menurut (Danuatmaja 2003) terapi ABA yaitu suatu metode untuk membangun kemampuan secara sosial bermanfaat dan mengurangi atau hal-hal kebalikannya yang merupakan masalah.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa terapi ABA merupakan suatu metode terapi perilaku untuk mengurangi perilaku-perilaku yang bermasalah. Terapi ABA menggunakan pendekatan behavioral, dimana intervensi dini anak penyandang autisme menekankan pada kepatuhan anak, keterampilan anak dalam meniru dan membangun kontak mata.

2. Tujuan Terapi ABA

Menurut (Handojo 2003) ada beberapa tujuan terapi yang perlu ditetapkan dan diingat, yaitu sebagai berikut:

(40)

a. Komunikasi dua arah yang aktif

Mereka dapat melakukan percapakan paralel dan dapat juga melontarkan hal-hal lucu. Tujuan ini harus selalu diingat, sehingga kemampuan anak dapat terus ditingkatkan sampai mendekati kemampuan anak normal.

b. Sosialisasi kedalam lingkungan

Setelah anak dapat berkomunikasi dengan cukup baik, anak dapat melakukan hal-hal yang menyangkut dengan hal-hal yang bersifat general. Hal ini dapat berupa generalisasi subjek, intruksi, objek, respon anak ketika berada dalam lingkungan yang berbeda.

c. Menghilangkan dan meminimalkan perilaku tidak wajar

Perilaku tidak wajar pada anak dapat perlahan menghilang. Perilaku ini perlu dihilangkan sebelum usia lima tahun, agar tidak mengganggu kehidupan sosial anak saat dewasa.

d. Mengajarkan materi akademik

Kemampuan akademik sangat bergantung pada IQ anak. Apabila IQ anak dibawah normal, maka kemmapuan akademiknya akan sulit untuk dikembangkan. Maka dari itu, tujuannya agar IQ anak dapat naik.

e. Kemampuan bantu diri atau bina diri dan keterampilan lain

(41)

ANTECENDENT BEHAVIOUR CONSEQUENCE Ini adalah kemampuan dasar yang diperlukan oleh semua individu, seperti makan, minum, memasang dan melepas pakaian, dan sebagainya. Pada anak yang lebih besar diajarkan keterampilan lain seperti berenang, melukis, memasak, berolahraga, dan sebagainya.

3. Metode Terapi ABA

Menurut (Handojo 2003) ada beberapa hal yang berkaitan dengan metode ABA yang perlu diketahui, yaitu sebagai berikut:

a. Kaidah yang mendasari

Timbulnya suatu perilaku didasari oleh suatu sebab atau antecendent. Kemudian suatu perilaku akan memberikan suatu akibat atau konsekuensi atau lebih dikenal dengan operant conditioning, yaitu :

Tabel 2. 1

Skema Operant Conditioning

Operant Conditioning yang dapat diartikan sebagai sebuah kondisi yang menimbulkan respon.

Pengertian akan rumusan ini sangat penting dalam menghilangan perilaku tidak wajar seorang anak. Dengan

(42)

PERILAKU + IMBALAN TERUS DILAKUKAN PERILAKU – IMBALAN AKAN TERHENTI

dasar rumusan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa suatu perilaku anak didasari oleh suau penyebab.

Selanjutnya dijelaskan apabila suatu perilaku bila diberi reinforcement (imbalan yang tepat) akan semakin sering dilakukan, dan sebaliknya apabila suatu perilaku tidak diberi imbalan maka perilaku tersebut akan terhenti.

Kaidah ini disebut dengan respondent conditioning, yaitu sebuah kondisi dimana respon seseorang dapat diprediksi.

Tabel 2. 2

Skema Respondent Conditioning

Terapi perilaku ABA mempelajari bagaimana individu bencana rangsangan, bencana dari sebuah tanggapan dan bagaimana situasi ini mempengaruhi kejadian di masa yang akan datang. Metode ini dapat melatih semua keterampilan yang tidak dimiliki anak, dari reaksi sederhana (seperti memandang orang lain atau kontak mata) hingga keterampilan kompleks lainnya (seperti komunikasi spontan atau interaksi sosial).

(43)

4. Teknik Terapi ABA

Menurut (Danuatmaja 2003) ada beberapa teknik yang perlu diketahui sebelum memberikan terapi ABA kepada anak. Teknik tersebut yaitu :

a. Instruksi

Instruksi yang diberikan pada waktu melakukan terapi ABA harus singkat, jelas dan konsisten. Yang dimaksud dengan singkat adalah instruksi hanya diberikan satu kata, misalnya : lihat, tiru buka, tutup, tunjuk, cocokkan. Terapis hanya mengucapkan kata kunci dan diberikan dengan suara netral, cukup keras dan tegas tetapi tidak membentak. Intruksi harus jelas, artinya sesuai dengan apa yang diajarkan dan hanya mengajarkan satu aktivitas.

Misalnya, terapis menerapkan perintah melepas kancing, maka perintahnya “tiru” tetapi bersamaan dengan prompt melepas kancing. Jika terapis memberikan perintah “melepas kancing”, tetapi terapis juga ikut melepas kancing, maka perintahnya menjadi tidak jelas.

Apakah terapis sedang mengatur instruksi (meniru) atau perintah sederhana satu tahap (ikuti instruksi satu langkah).

Instruksi konsisten adalah kata-kata yang digunakan terapis untuk satu instruksi tahap awal harus persis sama, misalnya “masukkan”, tidak boleh ada yang

(44)

memberikan perintah lain dengan kata “masukkin” atau

“masukken” karena anak akan menangkapnya sebagai perintah yang berbeda.

b. Respon

Dalam menanggapi terapis, anak yang akan melakukan dengan benar, setengah benar, salah atau tidak merespon sama sekali. Jika anak merespon, biarkan sekiar 2-3 detik untuk anak memulai responnya, berikan umpan balik lisan ringan, misalnya “tidak”. Kemudian ulangi intruksi sekali lagi. Jika anak tetap salah atau tidak merespons, berikan umpan balik ringan “tidak”, kemudian berikan yang ketiga kali dan bersamaan dengan prompt, seperti sentuhan di lengan atau bantuan penuh pada tangan (hand over hand), setelah itu memberikan keseimbangan. Setelah tenggat waktu (interval antar suku), uji coba diulangi lagi dengan hitungan nomor satu.Prompt (bantuan, dorongan dan arahan)

Prompt adalah setiap bantuan yang diberikan kepada anak untuk menghasilkan respon yang benar.

Prompt merupakan tambahan, jadi tidak selalu digunakan, bahkan saat pertama kali latihan. Misalnya, jika diukur dengan “pegang hidung” yang diberikan dan anak tidak merespons, maka terapis dapat melakukan prompt secara fisik dengan menggerakkan tangan anak ketika memberikan "pegang hidung".

(45)

Prompt disingkat dengan P. Prompt dapat diberikan secara penuh yaitu hand on hand, dengan cara tangan terapis memegang tangan anak dan mengarahkan ke perilaku yang diinstruksikan. Prompt dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya: dengan menunjuk, gerak tubuh, melalui pandangan mata ataupun dengan cara verbal.

Setelah dilakukan berbagai cara dalam melaksanakan terapi ABA, terapis wajib memberikan imbalan kepada anak. Imbalan adalah “hadiah” yang diberikan oleh terapis ketika anak berhasil melakukan suatu perintah dan dapat diberikan juga agar anak mau melakukan terus dan menjadi paham pada konsepnya.

Menurut (Sugiarmin 2006) ada beberapa jenis reinforcement atau imbalan yang dapat diberikan kepada anak yang mengikuti program terapi ABA, yaitu diantaranya :

1) Komentar positif

2) Stiker, perangko, pulpen dan pembatas buku 3) Piagam dan sertifikat

4) Tanggung jawab tambahan didalam kelas 5) Mengajak anak keluar kelas

6) Memberi waktu bebas

7) Memberikan pilihan beragam mainan, dan lain- lain.

(46)

B. Keberfungsian Sosial 1. Pengertian

Menurut Barker, Dubois dan Miley dalam buku (Suharto 2014) menjelaskan bahwa keberfungsian sosial dapat dilihat dari kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar, baik diri sendiri maupun keluarga serta berkontribusi kepada masyarakat dengan lingkungan.

Sedangkan menurut Siporin dalam buku (Fahrudin 2014) mengungkapkan bahwa keberfungsian sosial adalah bentuk perilaku agar dapat melaksanakan tugas kehidupan dan memenuhi kebutuhan mereka. Seorang manusia dapat dikatakan berfungsi apabila mampu menjalankan peranan sosial dan melaksanakan tugas yang dianggap pokok atau penting dan diminta untuk melaksanakannya.

Berdasarkan kedua definisi diatas, peneliti akan menggunakan teori keberfungsiaan sosial untuk mengetahui kemampuan manusia dalam menjalankan kehidupan serta melaksanakan peranan sosialnya khususnya pada anak penyandang autisme.

2. Konsep Keberfungsian Sosial

Menurut (Suharto 2014) keberfungsian sosial merupakan suatu bentuk kemampuan baik orang (individu, keluarga, kelompok atau masyarakat) maupun sistem sosial (lembaga dan jaringan sosial) dalam memenuhi kebutuhan dasar, menjalankan peranan sosial

(47)

Keberfungsian Sosial

Orang Sistem

Sosial

 Memenuhi/Merespon kebutuhan dasarnya (pendapatan, pendidikan dan kesehatan)

 Melaksanakan peran-peran sosial sesuai dengan tugas dan statusnya

 Menghadapi goncangan dan tekanan (misalnya masalah psikososial dan ekonomi)

Memiliki kemampuan

atau kapasitas

dalam

dan menghadapi goncangan dan tekanan (stressed and shocked).

Gambar 2. 1 Konsep Tentang Keberfungsian Sosial (Suharto 2014)

(48)

3. Indikator Keberfungsian Sosial

Untuk melihat keberfungsian sosial pada anak penyandang autisme, peneliti menggunakan tiga aspek kemampuan yang dianggap pokok yaitu: memenuhi kebutuhan dasar, melaksanakan peranan sosial, menghadapi goncangan dan tekanan.

a. Kemampuan dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar Maslow dalam buku (Hidayat 2006) mengungkapkan bahwa seseorang dapat dikatakan mampu memenuhi kebutuhan dasar apabila mampu memenuhi lima tingkatan kebutuhan (five hierarchy of needs) yaitu yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan keamanan, kebutuhan rasa cinta dan memiliki, kebutuhan harga diri serta kebutuhan aktualisasi diri.

Gambar 2. 2 Kebutuhan Menurut Maslow

(49)

1) Kebutuhan Fisiologis, kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang paling dasar, yaitu kebutuhan seperti oksigen, cairan (minuman), nutrisi (makanan), keseimbangan suhu tubuh, tempat tinggal, istirahat dan tidur serta kebutuhan seksual.

2) Kebutuhan Rasa Aman dan Perlindungan, kebutuhan ini meliputi perlindungan atas ancaman terhadap hidup atau tubuh serta aspek psikologis yaitu perlindungan atas ancaman dari pengalaman yang baru dan asing.

3) Kebutuhan Rasa Cinta Serta Rasa Memiliki, kebutuhan ini meliputi memberi dan menerima kasih sayang, mendapatkan kehangatan keluarga, memiliki sahabat, diterima oleh kelompok sosial, dan lain sebagainya.

4) Kebutuhan Harga Diri, kebutuhan ini meliputi harga diri dan perasaan dihargai oleh orang lain terkait dengan keinginan untuk mendapatkan kekuatan, meraih prestasi, rasa percaya diri dan kemerdekaan diri.

5) Kebutuhan Aktualisasi Diri, kebutuhan akan aktualisasi diri merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow, berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain atau lingkungan serta mencapai potensi diri sepenuhnya.

(50)

b. Kemampuan Dalam Melaksanakan Peran Sosial Kemampuan melaksanakan peranan sosial dijelaskan oleh (Suharto 2014) sebagai kapasitas seseorang dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya sesuai dengan status sosialnya.

Seseorang dapat dikatakan berfungsi sosial, bila mereka mampu menjalankan peranan-peranannya sesuai dengan status sosial, tugas-tugas dan tuntutan norma lingkungan sosialnya.

Sementara itu, menurut (Raho 2014) peran didefinisikan sebagai pola perilaku individu yang diharapkan masyarakat memiliki status atau posisi tertentu dalam masyarakat. Seseorang tidak hanya memegang posisi tetapi juga memainkan peran.

Norma budaya kita mengajarkan bahwa orang dengan status tertentu harus bertindak sesuai dengan harapan masyarakat atas status tersebut.

Peran sosial diuraikan dalam beberapa komponen. Menurut (Achlis 1996) komponen tersebut diantaranya:

1) Komponen aktivitas, setiap peran yang mengandung tingkah laku atau aktivitas-aktivitas tertentu yang harus dilakukan oleh seorang individu dalam bisnis dengan status tertentu.

(51)

2) Komponen interaksi, setiap pihak yang terlibat interaksi dengan lingkungan sekitar.

3) Komponen harapan-harapan dan norma-norma sosial. Peranan bekerja dengan adanya harapan- harapan sosial serta norma-norma sosial bagi aktivitas dan interaksi dengan orang lain.

4) Komponen nilai-nilai emosional dan sentimental.

Harapan-harapan dan norma-norma sosial, usaha dan balas jasa, aksi dan tanggap, kewajiban dan ketidakseimbangan, semua dirangsang dan merangsang emosi.

c. Kemampuan dalam Menghadapi Goncangan dan Tekanan

Kemampuan dalam menghadapi masalah atau tekanan (problem solving) menurut Lubis dalam jurnal (Patnani 2013) disamakan dengan pengambilan keputusan, sementara pemecahan masalah lebih spesifik dilakukan oleh konselor kepada kliennya dengan pendekatan psikologi. Menurut Sanjaya, pemecahan masalah (problem solving) juga diartikan sebagai suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat.

(52)

Brandsford dan Stein dalam Jurnal (Patnani 2013) membagi lima langkah dalam memecahkan masalah, sebagai berikut:

1) Identifikasi Masalah, langkah ini merupakan langkah pertama dimana seseorang diharuskan untuk memahami suatu masalah yang sedang dialaminya.

2) Penggambaran Masalah, langkah ini merupakan gambaran sederhana dari masalah yang dihadapi biasanya menggunakan alat bantu seperti grafik, gambar, daftar yang berguna untuk membantu seseorang untuk memahami masalah.

3) Pemilihan Strategi Pemecahan Masalah, langkah ini dilakukan ketika seseorang menghadapi masalah dan harus mempunyai rencana dalam memecahkan masalah tersebut.

4) Implementasi Pemecah Masalah, langkah ini dilakukan ketika seseorang telah membuat rencana atas masalah yang dihadapinya.

5) Evaluasi Hasil, langkah ini dilakukan untuk menilai strategi pemecahan masalah yang sudah diterapkan benar-benar mampu mengatasi masalah yang dihadapi dan perlunya seseorang menilai strategi yang dibuat sudah sempurna atau perlu diubah untuk tujuan yang diinginkan.

(53)

C. Anak Penyandang Autisme 1. Pengertian Autisme

Menurut Dawson & Catelloe dalam buku (Atmaja 2017) Leo Kanner adalah ahli psikologi yang paling awal menggunakan istilah autisme pada tahun 1943. Kanner mendefinisikan autisme sebagai ketidakmampuan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki gangguan dalam berbahasa yang ditunjukkan dengan kurangnya penguasaan bahasa, ekolalia, mutism, pembalikan kalimat, adanya aktifitas bermain repetitive dan stereotype, urutan keinginan yang kuat, serta keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan didalam lingkungan.

Pada tahun 1992, WHO (World Health Organization) mengartikan autisme yang secara khusus, yaitu child autism (autisme masa anak-anak) sebagai adanya keabnormalan dan atau gangguan perkembangan yang muncul sebelum usia tiga tahun dengan tipe karakteristik tidak normalnya tiga bidang, yaitu interaksi sosial, komunikasi dan perilaku yang diulang-ulang.

2. Karakteristik Anak Penyandang Autisme

Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan yang merupakan bagian dari kelainan Spektrum Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) dan juga merupakan salah satu dari lima jenis gangguan

(54)

dibawah payung Gangguan Perkembangan Pervasif atau Pervasive Development Disorder (PDD) (Atmaja 2017).

Dalam buku yang sama (Atmaja 2017) menjelaskan mengenai setidaknya enam karakter yang dimiliki anak yang mengalami autisme:

a. Masalah di Bidang Komunikasi

1) Kata yang digunakan terkadang tidak sesuai arti.

2) Mengoceh tanpa arti berulang-ulang 3) Berbicara tidak menggunakan alat bantu.

4) Senang meniru kata-kata tanpa mengerti artinya.

5) Senang menarik tangan orang lain untuk melakukan apa yang diinginkan.

6) Sebagai anak autisme tidak berbicara atau sedikit berbicara.

7) Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak berbicara.

b. Masalah di Bidang Interaksi Sosial

1) Suka tempat yang sepi atau menyendiri.

2) Menghindari kontak mata secara langsung.

3) Kurang suka untuk bermain bersama teman sebaya.

4) Menolak untuk bermain bersama teman sebaya.

c. Masalah di Bidang Sensoris 1) Kurang merasakan sentuhan.

2) Kurang merasakan rasa sakit.

3) Kurang senang mendengar suara yang begitu keras.

(55)

4) Senang mengoral benda disekitarnya.

d. Masalah di Bidang Pola Bermain

1) Tidak bermain seperti teman sebayanya.

2) Tidak memainkan mainan dengan baik.

3) Sangat lekat dengan benda-benda tertenu.

4) Senang melihat benda yang berputar.

5) Kurang memiliki kreativitas dan imajinasi.

e. Masalah di Bidang Perilaku

1) Terkadang berperilaku berlebihan atau sebaliknya.

2) Melakukan sesuatu yang berulang.

3) Kurang menyukai perubahan disekitar mereka.

4) Merangsang diri.

5) Dapat terdiam dengan pandangan kosong.

f. Masalah di Bidang Emosi

1) Terkadang sering marah, menangis dan tertawa tanpa alasan.

2) Terkadang agresif dan merusak benda disekitar.

3) Dapat marah besar dan tak terkendali.

4) Dapat menyakiti diri sendiri.

5) Kurang memiliki rasa empati.

3. Klasifikasi Autisme

Autisme dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian berdasarkan gejalanya. Menurut Childhood Autism Rating Score (CARS). Klasifikasinya adalah sebagai berikut:

(56)

1) Autisme Ringan

Pada kondisi ini anak autisme masih menunjukkan adanya kontak mata walaupun tidak berlangsung lama. Anak autisme pada jenis ini dapat memebrikan sedikit respon jika dipanggil namanya, menujukkan beberapa ekspresi dan berkomunikasi dua arah meskipun hanya terjadi sesekali.

2) Autisme Sedang

Pada kondisi ini anak autisme masih menunjukkan sedikit kontak mata, namun tidak memberikan respon ketika namanya dipanggil. Tindakan agresif atau hiperaktif, menyakiti diri sendiri dan gangguan motorik yang agak sulit dikendalikan.

3) Autisme Berat

Pada kondisi ini anak autisme menunjukkan tindakan- tindakan yang tidak terkendali. Biasanya anak autisme membenturkan kepala ke tembok secara berulang dan tanpa henti. Ketika orangtua berusaha mencegah, namun anak tidak memberikan respon. Anak baru berhenti setelah merasa kelelahan kemudian langsung tertidur.

4. Penyebab Autisme

Menurut (Atmaja 2017) autisme pada anak dapat disebabkan oleh kombinasi dari berbagai faktor, seperti

(57)

karena faktor genetik dan juga lingkungan sekitarnya.

Inilah teori dari para ilmuwan bidang psikologi dan mental tentang penyebab autisme pada anak. Dalam teori biologis ada beberapa faktor yang semuanya merujuk pada aktivitas dari biologis manusia. Beberapa faktor tersebut adalah sebagai berikut:

a. Faktor Genetik

Genetik yang dimaksudkan disini adalah keturunan dari keluarga yang menderita autis memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena autisme pada anak.

Genetik autis menjadikan desain abnormal yang terjadi pada cabang genetik yang akan memengaruhi faktor genetik dibawahnya, menyebabkan abnormalitas pada pertumbuhan sel dan saraf.

b. Faktor Prenatal, Natal, dan Postnatal

Faktor ini dijelaskan seperti pendarahan pada kehamilan awal, penggunaan obat-obatan, tangis bayi dalam kelahiran awal yang terlambat, gangguan pernapasan dan anemia, semuanya adalah faktor yang dapat memengaruhi dan menyebabkan autisme pada anak.

Kegagalan pada pertumbuhan otak yang disebabkan kurangnya nutrisi yang diperlukan dalam pertumbuhan otak.

c. Faktor Neuro Anatomi

(58)

Sebuah gangguan fungsi pada sel-sel otak selama masih didalam kandungan yang dapat disebabkan oleh terjadinya hambatan oksigenasi perdarahan atau infeksi, yang hal ini bisa memicu terjadinya autisme. Keadaan bayi ketika masih dalam kadungan sangat penting sehingga harus dijaga dengan baik.

d. Faktor Kelainan Struktur dan Biokimiawi Otak Serta Darah

Faktor ini merupakan kelainan atau abnormalitas yang terdapat pada cerebellum dengan sel-sel yang memiliki kandungan serotonin dengan kadar tinggi.

Kemungkinan karena tingginya kandungan dopamine dan upioids dalam darah. Hal ini bisa dipicu karena zat kimia yang dikonsumsi.

e. Teori Psikososial Penyebab Autisme

Beberapa ahli dalam hal ini menganggap autisme terjadi akibat hubungan yang dingin/tidak dekat dan akrab diantara orang tua ibu dan anak. Bisa juga karena anak diasuh terlalu kaku secara emosional, obsesif dan bersikap tidak hangat dapat menyebabkan anak yang diasuh menjadi autis.

f. Teori Faktor Keracunan Logam Berat Penyebab Autis Dalam teori ini dimaksudkan pada anak yang tinggal dekat dengan tambang mineral bumi, seperti batubara, emas dan sebagainya. Keracunan yang

(59)

dikonsumsi ibu hamil ini bisa menyebabkannya autisme pada anak yang dikandungnya. Ikan dengan kandungan mineral (logam) berat dengan kadar tinggi yang dimakan juga dapat menjadi penyebab.

g. Teori Autoimun Tubuh

Imun adalah kekebalan tubuh terhadap virus/bakteri pembawa penyakit, sedangkan autoimun adalah kekebalan yang dikembangkan oleh tubuh sendiri yang justru kebal terhadap zat-zat penting dalam tubuh dan menghancurkannya.

D. Model Disabilitas Menurut Pekerjaan Sosial

Urgensi mengenai pentingnya membentuk lingkungan yang ramah disabilitas atau inklusif terhadap disabilitas telah mendapatkan banyak perhatian yang semakin meningkat dalam berbagai bidang. Namun, sebelum itu diperlukan pemahaman mengenai berbagai model disabilitas yang membentuk persepsi masyarakat tentang penyandang disabilitas.

1) Model Medis: Disabilitas Merupakan Sebuah Penyakit

Pada model ini, disabilitas dianggap sebagai kecacatan dalam diri individu. Kondisi cacat adalah keadaan dimana individu memiliki kekurangan fisik, seperti anggota tubuh atau organ tidak berfungsi,

(60)

serta kondisi mental yang tidak sehat. Untuk mendapatkan kualitas hidup yang baik, maka kecacatan harus disembuhkan, diperbaiki atau dihilangkan sama sekali. Pelayanan kesehatan profesional dan sosial memiliki kekuasaan untuk memperbaiki atau mengubah kondisi ini. Ketika disabilitas dilihat dari sudut pandang negatif, rasa kasihan dan malu sering disampaikan melalui media, orang-orang pada komunitas, bahkan terkadang oleh layanan kesehatan profesional. Sehingga, pada model ini terjadi perdebatan karena dianggap pada praktik asesmen dan medikalisasi memicu timbulnya pelabelan atau stigmatisasi terhadap penyandang disabilitas. (Millati 2016)

2) Model Sosial

Model ini mengambil pendekatan yang berbeda.

Model ini menyatakan bahwa disabilitas merupakan ketidakmampuan untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan rumah tangga dan komunitas. Memiliki keterbatasan dalam berinteraksi, gangguan fungsional dan hambatan pada fisik serta sosial untuk berpartisipasi dalam lingkungan. Model ini membedakan kecacatan dengan kerusakan.

Disabilitas adalah batasan yang diberlakukan oleh masyarakat. Sedangkan, kerusakan adalah efek dari

(61)

kondisi tertentu. Menurut model ini, solusinya adalah tidak terletak pada memperbaiki kepribadian saja,melainkan mengubah persepsi masyarakat. Pada perawatan medis, misalnya, tidak berfokus pada penyembuhan untuk menghilangkan gangguan fungsional dari tubuh, melainkan juga berfokus pada peningkatan fungsi sehari-hari penyandang disabilitas di masyarakat. Model sosial menyerukan diakhirinya diskriminasi pada disabilitas melalui pendidikan, akomodasi dan rancangan menyeluruh. Melalui pendidikan ini akan membawa perubahan pada cara berpikir masyarakat tentang disabilitas. (Model and Model, n.d.)

E. Teori Sistem

Teori sistem adalah teori yang membedakan antara praktik pekerjaan sosial dengan profesi penolong lainnya.

Hal ini disebabkan oleh profesi pekerja sosial yang sangat memperhatikan pengaruh lingkungan sekitar klien ketika proses intervensi dan penyelesaian masalah. Teori ini memiliki konsep tentang struktur sistem, yaitu sebagai berikut: sistem berkaitan dengan batasan antara energi fisik dan mental yang berubah secara internal lebih dari biasanya. Konsep sederhana dalam memproses sistem, sebagaimana berikut:

a) Input: energi yang dimasukkan kedalam sistem melewati batas

b) Throughput: Bagaimana energi digunakan dalam sistem

(62)

c) Output: Dampaknya terhadap lingkungan dimana energy melewati batas sistem

d) Feedback Loops: Informasi dan energi yang melewati sistem disebabkan oleh outputnya, menjelaskan hasilnya

e) Entropy: Sistem menggunakan energi mereka agar tetap berjalan kecuali mereka menerima inputnya diluar batasan, mereka lari dan mati

Contoh dari proses tersebut adalah jika seseorang memberitahu kepada orang lain (input kedalam sistem).

Ini menyebabkan bagaimana sikap yang ditunjukkan oleh orang yang diberitahu (throughput dalam sistem), perilaku orang yang diberitahu berubah (output) dan orang yang memberitahu melihat perubahan tersebut. Jadi, orang yang memberitahu menerima timbal balik bahwa orang yang diberitahu telah mendengarkan dan memhami apa yang sudah dikatakan kepadanya (feedback loop).

Sistem dijelaskan melalui lima karakteristik sebagaimana berikut:

a) Its Steady State: bagaimana seseorang mempertahankan dirinya dengan cara menerima input dan menggunakannya

b) Keadaan yang homoestatis dan equilibrism. Hal ini merupakan kealamiahan manusia yang fundamental meskipun input telah merupah. Misalnya, manusia boleh memakan nasi, tetapi manusia tidak bisa menjadi nasi. Manusia tetaplah manusia, sementara nasi yang dimakan manusia akan berubah menjadi energi dalam tubuh manusia.

c) Differensiasi: hal ini menjelaskan bahwa sistem tumbuh lebih kompleks dengan komponen yang lebih kompleks

(63)

d) Non Summative: hal ini menjelaskan bahwa keseluruhan melebihi bagiannya

e) Reciprocity: hal ini menjelaskan jika salah satu bagian sistem berubah, maka sistem bagian lain dapat berubah.

Sebagai hasilnya, sistem menunjukkan batas akhir (equifinality) dan multifinality (keadaan yang sama dapat memberikan hasil yang berbeda) karena setiap bagian sistem berinteraksi dalam berbagai cara yang berbeda.

Mereka membantu manusia dalam memahami kompleksitas hubungan antar manusia dan mengapa hasil dari aksi yang sama dapat berbeda.

Dapat disimpulkan bahwa teori sistem mempengrauhi bagaimana individu berkembangan dengan pengaruh lingkungan disekitarnya. Pengaruh tersebut biasanya berdampak besar apabila diberikan melalui lingkungan terdekat. Teori ini membantu pekerja sosial dalam melakukan intervensi masalah klien dengan mengidentifikasi bagaimana pengaruh lingkungan terdekat klien dalam permasalahan yang dihadapi.

(64)

Program Terapi ABA di YCHI:

 Melatih motorik kasar dan motorik halus

 Melatih bantu diri

 Pemberian materi pre-akademik

 Pemberian keterampilan

Keberfungsian Sosial

 Kemampuan memenuhi kebutuhan dasar

 Kemampuan melaksanakan peranan sosial

 Kemampuan menghadapi goncangan dan tekanan

Permasalahan:

 Masalah di bidang komunikasi

 Masalah di bidang interaksi sosial

 Masalah di bidang sensoris

 Masalah di bidang pola bermain

 Masalah di bidang emosi

F. Kerangka Berpikir

Anak penyandang autisme

Gambar

Tabel 1. 1 Informan
Gambar 2. 1 Konsep Tentang Keberfungsian Sosial (Suharto  2014)
Gambar 2. 2 Kebutuhan Menurut Maslow
Gambar 3. 1 Struktur Kepengurusan YCHI
+5

Referensi

Dokumen terkait

(0271) 654881 Kode Pos 57762.Alasan pemilihan SMAN Kebakkramat Karanganyar sebagai lokasi penelitian karena sekolah ini mengalami permasalahan di dalam pembelajaran

Skripsi ini berjudul “Perilaku Pencarian Informasi Petani Padi di Desa Rowosari, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh hubungan rotasi Kantor Akuntan Publik, rotasi Partner Auditor, yang dikontrol dengan variabel Spesialisasi

hal tersebut selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitrotul Khayati dkk (2016:4) dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa modul telah memenuhi standar

Dengan demikian bahwa tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kembali fungsi dan karakteristik kerja sistem mekanik PLTMH dengan metode pengujian

8 Hipotesis merupakan anggapan sementara yang menjadi landasan atas kegiatan yang telah dilakukan dalam penelitian ini yang menjadi hipotesis adalah hasil belajar

Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah untuk membuat suatu sistem pemantauan aras ketinggian cairan berbasis pengolahan citra yang dapat diakses melalui jaringan.. 1.3