IMPLEMENTASI GERAKAN LITERASI SEKOLAH MELALUI BACANG BERBASIS AUGMENTED REALITY GUNA
MEMINIMALISIR ANGKA BUTA AKSARA DI SDN SAMATA KABUPATEN GOWA
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana pendidikan pada program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Ummul Mu’minin NIM. 105401127118
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
2022
ABSTRAK
Ummul Mu’minin. 2022. Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Melalui Bacang Berbasis Augmented Reality Guna Meminimalisir Angka Buta Aksara di SDN Samata Kabupaten Gowa. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Ibu Dr. Hj. Rosleny Babo, M.Si dan Bapak Dr.
Suardi, M.Pd.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses implementasi gerakan literasi sekolah melalui Bacang berbasis Augmented Reality di SDN Samata. Penelitian ini menggunakan metode penelitian campuran (mixed methods) model mixed methods concurrent embedded. Penelitian dilaksanakan di SDN Samata pada bulan April hingga Juli 2022. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu angket, observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun hasil penelitian yang dilaksanakan adalah sebagai berikut 1) Proses implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SDN Samata sudah berjalan sejak lama namun dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi guru terutama pada kegiatan 15 menit membaca buku di awal pembelajaran. Sarana dan prasarana literasi di SDN Samata sudah memadai. Produk literasi di SDN Samata yaitu pojok literasi dan media literasi dinding. Faktor yang mempengaruhi buta aksara salah satunya karena pembelajaran dilakukan secara daring selama dua tahun. 2) Setelah implementasi Bacang berbasis Augmented Reality jumlah buta aksara di kelas I berkurang 5 murid, di kelas II berkurang sebanyak 4 murid, dan di kelas III berkurang 6 murid.
Guru dan murid juga jadi melek teknologi dengan diterapkannya teknologi Augmented Reality pada media Bacang ini sehingga memudahkannya dalam pembelajaran interaktif nantinya. 3) Bacang mendapat respon yang positif baik dari kepala sekolah, guru hingga murid-murid. Berdasarkan hasil angket, sebanyak 86,9% menilai bahwa Bacang memiliki tampilan yang menarik, 85,5%
menyatakan mudah dipahami oleh guru dan murid, 84,9 % menyatakan Bacang fleksibel dan dapat digunakan dimana dan kapan saja.
Kata Kunci : Augmented Reality, Buta Aksara, Gerakan Literasi Sekolah.
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan Alhamdulillah segala puji dan syukur peneliti panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penyusunan skripsi yang berjudul “Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Melalui Bacang Berbasis Augmented Reality Guna Meminimalisir Angka Buta Aksara di SDN Samata ” ini dapat diselesaikan guna memenuhi salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana strata satu (S.1) pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Perjalanan panjang telah peneliti lalui dalam rangka penyelesaian penulisan skripsi ini. Banyak hambatan yang dihadapi dalam penyusunannya, namun berkat kehendak-Nyalah sehingga peneliti berhasil menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
Oleh karena itu, dengan penuh kerendahan hati, pada kesempatan ini patutlah kiranya peneliti mengucapkan terima kasih terutama kepada yang terhormat Ibu Dr.
Hj. Rosleny Babo, M.Si. Selaku pembimbing skripsi I dan Bapak Dr. Suardi. M.Pd., Selaku pembimbing skripsi II yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini. Dalam penyelesaian skripsi ini juga tidak terlepas dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Kedua Orangtua saya, bapak Kamaruddin dan Ibu Syahwati; Suami saya Abd.
Faruq Siddiq; Anak saya Ahnaf Khayrul Atha dan seluruh keluarga yang telah memberikan dukungan dalam penyelesaian penelitian ini.
2. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Bapak Erwin Akib, M.Pd., PhD selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Bapak Aliem Bahri, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Makassar.
5. Bapak dan Ibu dosen yang telah mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
6. Bapak Muslimin, S.Pd., selaku Kepala Sekolah Dasar Negeri Samata yang telah mengizinkan saya untuk melakukan penelitian di SDN Samata dan telah membantu penulisan dalam penelitian.
7. Ibu Mardiana, S.Pd.; Ibu Risna, S.Pd., Ibu Asma, S.Pd. selaku guru wali kelas rendah dan seluruh guru di SDN Samata yang telah membantu peneliti dalam penyelesaian penelitian.
8. Seluruh sahabat angkatan 2018 Program Studi PGSD, LKIMers dan sahabat- sahabat lain dari kampus biru yang telah memberi dukungan dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.
Akhir kata peneliti menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, karena itu, peneliti memohon saran dan kritik yang sifatnya membangun dan semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin ya Rabbal’Alamin.
Makassar, 11 Agustus 2022 Peneliti
Ummul Mu’minin NIM.105401127118
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Lembar Pengesahan ... ii
Lembar Persetujuan Pembimbing ... iii
Surat Pernyataan Keaslian Tulisan ... iv
Surat Keterangan Plagiasi ... v
Abstrak ... vi
Kata Pengantar...vii
Daftar Isi ... ix
Daftar Tabel ... xi
Daftar Gambar ...xii
BAB I Pendahuluan ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II Kajian Pustaka ... 9
A. Gerakan Literasi Sekolah ... 12
B. Buta Aksara ... 17
C. Augmented Reality (Ar) ... 20
D. Kajian Hasil Penelitian yang Relevan ... 24
E. Kerangka Pikir ... 28
BAB III Metode Penelitian ... 30
A. Jenis Penelitian ... 30
B. Lokus Dan Waktu Penelitian ... 31
C. Instrumen Penelitian ... 31
D. Tahapan Penelitian ... 33
E. Definisi Konseptual Dan Operasional ... 33
F. Informan Dan Responden Penelitian ... 34
G. Sumber Dan Jenis Data Penelitian ... 36
H. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ... 37
I. Teknik Analisis Data Penelitian ... 38
J. Teknik Validitas Dan Reliabilitas Penelitian ... 39
BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 40
A. Hasil Penelitian ... 40
B. Pembahasan ... 52
BAB V Simpulan dan Saran ... 64
A. Simpulan ... 62
B. Saran ... 63 Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran Riwayat Hidup
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Kriteria Pengkategorian Angket ... 32
Tabel 3.2 Informan Penelitian ...35
Tabel 3.3 Jumlah populasi berdasarkan kolektibilitas ... 35
Tabel 3.4 Jumlah sampel penelitian kuantitatif ...36
Tabel 3.5 Kriteria Penafsiran Data ...39
Tabel 4.1 Jumlah Murid ... 43
Tabel 4.2 Hasil angket implementasi GLS ... 48
Tabel 4.3 Hasil angket implementasi GLS Melalui Bacang ...52
Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Angket ... 54
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ... 29 Gambar 3.1 Tahapan mixed methods concurrent embedded ...33
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angka buta aksara di Indonesia masih sangat tinggi yaitu 3,56 atau 2,9 juta orang. Masalah buta aksara sudah menjadi masalah dunia, bahkan UNESCO sudah mendeklarasikan melalui Deklarasi Dakkar 2013 bahwa panyandang buta aksara terbanyak berada di negara berkembang salah satunya Indonesia (Wandasari, 2017). Penelitian yang dilakukan oleh OECD menemukan bahwa Indonesia selalu menempati urutan di angka paling bawah dari keseluruhan negara partisipan PISA. Selanjutnya pada tahun 2018 kembali dilakukan penelitian yang sama terhadap bacaan tes PISA yang menunjukkan tingkat literasi murid Indonesia masih berada pada level 2 atau sebesar 30%
dari nilai rata-rata OECD sebesar 77% (OECD, 2019).
Laporan dari PIRLS pada tahun 2011 mengatakan bahwa minat membaca murid kelas IV SD di Indonesia masih menduduki peringkat ke-45 diantara 48 negara peserta dengan perolehan skor 428 dari skor rata-rata 500 (Thompson et al., 2012). Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2016 dalam program Indonesian National Assesment Program (INAP) menguji keterampilan membaca murid yang menemukan hasil sebanyak 46,83% dalam kategori kurang; 47,11% kategori cukup dan hanya 6,06% dalam kategori baik (Utami & Trisnani, 2021).
Hasil survei dari UNESCO tahun 2011 menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya hanya ada satu
orang dari 1000 yang masih mau membaca buku secara serius. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia (Batubara & Ariani, 2018).
Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud mengemukakan bahwa dari tiga puluh empat provinsi yang ada di Indonesia, 9 provinsi (26%) masuk dalam kategori literasi sedang; 24 provinsi (71%) masuk dalam kategori rendah dan 1 provinsi (3%) masuk dalam kategori sangat rendah. Artinya sebagian besar provinsi berada pada indeks Alibaca rendah dan tidak ada satupun provinsi yang termasuk dalam level aktivitas literasi tinggi dan sangat tinggi. Menurut penelitian tersebut, provinsi Sulawesi Selatan juga termasuk dalam 71%
kategori literasi rendah (Kemendikbud, 2019).
Keterampilan dalam berliterasi adalah keterampilan dasar abad 21 dari beberapa keterampilan lainnya seperti kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis dan reflektif. Sebagian besar ilmuwan mengatakan bahwa literasi adalah hak asasi warga negara yang wajib difasilitasi oleh negara (Hartati, 2017). Menurut beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa kegiatan membaca akan menjaga kesehatan otak, meningkatkan kecerdasan logika dan linguistik anak sehingga anak lebih mampu memahami persoalan, baik di sekolah maupun kehidupan sehari hari (Antoro, 2017).
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan solusi dan upaya pemerintah Indonesia untuk menekan angka buta aksara melalui sekolah. GLS merupakan program pemerintah mengenai kegiatan literasi yang tertuang pada Permendikbud RI Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti
yang salah satu usaha implementasinya yaitu membaca buku selama 15 menit sebelum pembelajaran (Utami & Trisnani, 2021).
GLS bertujuan untuk menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis murid di sekolah, meningkatkan kapasitas lingkungan sekolah untuk sadar akan pentingnya budaya literasi ini, menjadikan lingkungan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak serta menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi strategi membaca dalam mendukung keberlanjutan pembelajaran (Suragangga, 2017).
Namun kenyataannya gerakan ini belum maksimal dilaksanakan dikarenakan berbagai faktor seperti guru yang kesulitan melaksanakan kegiatan menyimak lebih lama, guru kesulitan melaksanakan kegiatan yang mengaitkan dengan pengalaman teks lain, guru kurang memahami komponen dalam gerakan literasi sekolah (Azriansyah et al., 2021), guru yang tidak disiplin, kurangnya sarana seperti buku, dan kurangnya kesadaran akan pentingnya kemampuan literasi (Supriyanto & Haryanto, 2017).
Tantangan penggunaan IPTEK pada Pendidikan di era Society 5.0 semakin menyelimuti masyarakat. Hal ini tentunya juga akan berdampak pada gerakan literasi yang dilakukan di sekolah. Menurut Putra (2019) Society 5.0 merupakan masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era revolusi industri 4.0 seperti Internet of Things (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar),
dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia (Putra, 2019).
Tiga tantangan berat dalam menghadapi Society 5.0 saat ini yaitu yang
pertama bagaimana cara untuk bertahan dari serangan krisis dan apa yang dicapai jangan sampai hilang. Kedua adalah kita yang berada dalam suasana global pada bidang Pendidikan harus mampu mengikuti pesatnya perkembangan teknologi. Ketiga yaitu melakukan perubahan mulai dari penyesuaian system Pendidikan nasional, memperhatikan keberagaman kebutuhan daerah dan murid serta mendorong dalam peningkatan partisipasi masyarakat (Putra, 2019). Upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan atau mempersiapkan Society 5.0 dalam bidang pendidikan tidak cukup hanya sebatas memahami atau memberikan sebuah teori saja, apalagi kondisi sekarang telah memasuki era new normal dari pandemic Covid-19 yang mendorong semua kalangan khususnya guru dan murid menggunakan media digital untuk melakukan semua kegiatannya.
Menurut Subakti (2021), masa Pandemi Covid-19 memberikan efek pada implementasi Gerakan Literasi Sekolah ini, sehingga membuat angka minat baca anak semakin menurun. Menteri Pendidikan dan kebudayaan mengatakan bahwa Indonesia saat ini mengalami krisis literasi. Angka pada minat membaca anak Indonesia ada diperingkat keenam terbawah (Subakti et al., 2021).
Sebagai upaya dalam meningkatkan minat membaca anak, maka perlu dilakukan kerjasama serta keterlibatan langsung berbagai stakeholder pelaksana gerakan literasi. Literasi memerlukan penyediaan bahan bacaan yang menarik , kreatif, inovatif dan bervariasi untuk murid. Disisi lain, media digital sangat berperan penting dalam proses pembelajaran di era new normal ini.
Salah satu perkembangan media pembelajaran yang saat ini masih baru adalah media pembelajaran dengan menggunakan Augmented Reality.
Teknologi Augmented Reality merupakan teknologi yang dapat
menggabungkan dunia nyata dan dunia maya yang bersifat interaktif dan sesuai dengan waktu yang nyata. Selain itu, Augmented Reality juga berbentuk dua maupun tiga dimensi dalam satu lingkungan nyata (Setiawan et al., 2021).
Teknologi ini tentunya akan menjadi sebuah hal yang menarik pembaca apabila dimanfaatkan sebagai sumber bacaan karena pembaca bisa diajak secara real time menyaksikan dan merasakan secara nyata objek yang dibaca.
Penggunaan Augmented Reality di Indonesia belum terlalu besar. Masih minimnya pengetahuan masyarakat mengenai teknologi ini menjadi salah satu penyebabnya (Mustaqim & Kurniawan, 2017). Penelitian yang dilakukan oleh Risdianto (2021) mengemukakan bahwa guru sangat setuju akan dibutuhkannya model blended learning berbantuan Augmented Reality. Hal ini merupakan program skala prioritas pemerintah dalam rangka perluasan dan peningkatan pembelajaran jarak jauh sehingga implementasinya sangat dibutuhkan khususnya pada masa pandemic Covid-19 (Risdianto et al., 2021).
Menurut Mustaqim & Kurniawan (2017) guru dapat membuat media pembelajaran AR interaktif dan efisien yang dapat menggantikan modul dalam bentuk virtual. Melalui terobosan baru ini, akan semakin banyak variasi media pembelajaran yang bisa dibangun untuk mendukung kegiatan belajar di sekolah (Mustaqim & Kurniawan, 2017). Pemanfaatan media Augmented Reality ini dinilai dapat meningkatkan minat baca pada anak (Azhar et al., 2021).
Penerapan AR dapat merangsang pola pikir murid yang membantu dalam mengkontruksi pengetahuannya dalam meningkatkan minat baca murid (Suryaningsih, 2019). Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh
Norabeerah (2012) yang mengemukakan bahwa teknologi AR dapat dimanfaatkan guru dalam media pembelajaran yang dapat meningkatkan penggunaan bahasa murid (Norabeerah et al., 2012).
Literasi era Society 5.0 idealnya menggunakan teknologi masa kini yang sesuai dengan perkembangan murid. Penerapan teknologi membuka peluang atas ketersediaan sumber bacaan literasi yang lebih beragam dan sangat sesuai dengan karakteristik murid era modern ini (Atmajaya, 2017). Media pembelajaran digital bisa digunakan untuk semua mata pelajaran. Pemaparan materi yang dilakukan secara konvensional mengakibatkan rendahnya tingkat literasi aksara baik berupa aksara hijaiyah maupun abjad bagi anak-anak di sekolah dasar (Aditama et al., 2019). Beberapa hal tersebutlah yang mendorong peneliti menginovasikan media pembelajaran digital berbasis Augmented Reality yang kemudian peneliti namakan sebagai “Bacang” yang dalam Bahasa
Makassar artinya Bacaan.
Peneliti memilih SDN Samata Sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan telah menemukan masalah mengenai r e n d a h n ya kemampuan literasi Bahasa Indonesia pada murid kelas rendah di sekolah tersebut saat melakukan praktek mengajar salah satu mata kuliah. Dari pemaparan guru wali kelas rendah yaitu ibu Mardiana, Ibu Asma, dan Ibu Risna diketahui bahwa kemampuan literasi murid masih sangat rendah khususnya pada jenjang kelas rendah. Pada kelas I terdapat 12 murid yang belum bisa membaca, kelas II terdapat 8 murid dan kelas III terdapat 9 murid yang belum bisa membaca lancar. Sehingga sangat sesuai jika dijadikan sebagai lokasi penelitian dengan subjek penelitian yaitu beberapa murid kelas I, II dan III.
Peneliti berinisiatif untuk membuat media pembelajaran digital Bacang berbasis Augmented Reality sebagai upaya yang turut mendukung Gerakan Literasi Sekolah bagi Sekolah Dasar kelas rendah pada era Society 5.0 ini.
Bacang ini juga dilengkapi dengan Board-Bacang-Game yang dapat dimainkan
murid sekaligus sebagai media evaluasi guru kepada murid yang materinya disesuaikan dengan K13. Dengan demikian berdasarkan pemaparan di atas peneliti bermaksud untuk meneliti tentang “Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Melalui Bacang Berbasis Augmented Reality Guna Meminimalisir Angka Buta Aksara di SDN Samata Kabupaten Gowa”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah penelitian ini yaitu:
1. Bagaimana proses implementasi gerakan literasi sekolah melalui Bacang di SDN Samata?
2. Bagaimana tingkat pengetahuan dan pemahaman murid setelah implementasi Bacang?
3. Bagaimana respon guru dan murid terhadap implementasi gerakan literasi sekolah melalui Bacang berbasis Augmented Reality di SDN Samata?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Mengetahui proses implementasi gerakan literasi sekolah melalui Bacang berbasis Augmented Reality di SDN Samata
2. Mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman murid setelah
implementasi Bacang
3. Mengetahui respons guru dan murid terhadap implementasi gerakan literasi sekolah melalui Bacang di SDN Samata
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada murid maupun pendidikan matematika. Dalam penelitian ini diharapkan:
1. Untuk Murid
Diharapkan murid dapat meningkatkan literasi aksara alphabet dan hijaiyahnya melalui media pembelajaran Bacang berbasis Augmented Reality.
2. Untuk Guru
Sebagai bahan informasi kepada guru bagaimana kemampuan literasi murid kelas rendah SDN Samata .
3. Untuk Sekolah
Sebagai bahan informasi kepada sekolah solusi apa yang harus dilakukan untuk mengembangkan kemampuan literasi murid kelas rendah.
4. Untuk Peneliti
Menambah wawasan, pengetahuan, dan hard skill dalam pembelajaran.
5. Untuk Peneliti Secara Umum
Mengembangkan ilmu pengetahuan, membantu mengatasi dan memecahkan masalah yang ada pada objek yang diteliti.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
Secara tradisional, literasi dipandang sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pengertian literasi selanjutnya berkembang menjadi kemampuan membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Jika diselisik secara komprehensif, perubahan konsepsi literasi terjadi dalam lima generasi. Pada masa perkembangan awal, literasi didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan bahasa dan gambar dalam bentuk yang kaya dan beragam untuk membaca, menulis, mendengarkan, berbicara, melihat, menyajikan dan berpikir kritis tentang ide-ide.
Perkembangan kedua, literasi sebagai praktik sosial dan budaya tinimbang dipandang sebagai prestasi kognitif yang bebas konteks. Generasi ketiga, literasi diperluas ke dalam beberapa jenis elemen literasi, seperti visual, auditori dan spasial daripada kata-kata yang tertulis. Pada generasi keempat, literasi dipandang sebagai konstruksi sosial dan tidak pernah netral. Teks yang ditulis seorang peneliti telah dibentuk berdasarkan posisi mereka.
Generasi kelima, untuk menjadi literat pada abad informasi ini berarti harus mampu untuk terlibat dalam berbagai praktik literasi, serta mampu menggambarkan berbagai perangkat keterampilan literasi dalam keberagaman domain literasi. Istilah literasi generasi kelima ini dikenal dengan istilah multiliterasi (Sari, 2018).
Aan Subhan Pamungkas (2017) mengatakan bahwa literasi merupakan kemampuan membaca dan memahami teks, grafik, tabel dan diagram dalam berbagai konteks (Pamungkas, 2017). Kemudian, Ana Nurhasah juga mendefinisikan literasi merupakan kemampuan menyaring dan mengolah informasi yang dapat bermanfaat untuk manusia (Nurhasanah, 2016). Perkembangan teknologi yang pesat juga membuat kemampuan literasi ini menjadi hal dasar yang sangat penting bahkan dikatakan sebagai hak asasi warga negara yang wajib difasilitasi oleh negara (Hartati, 2017).
Berdasarkan beberapa penjelasan mengenai pengertian literasi yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa literasi merupakan kemampuan yang terdiri dari kemampuan memahami, mengakses dan memanfaatkan informasi.
Keberhasilan suatu pendidikan sedianya tidak diukur dari banyaknya anak yang mendapatkan nilai tinggi dalam suatu pelajaran, melainkan banyaknya anak yang gemar membaca di suatu kelas. Tanyalah guru, berapa murid yang gemar membaca, bukan berapa murid yang mendapat nilai tinggi di mata pelajaran yang diampunya (Akbar, 2017).
Mendikbud tahun 2014-2016, Anies Baswedan menggelar Rapat Koordinasi Penumbuhan Budi Pekerti di Gedung Ki Hadjar Dewantara lantai 3, Senayan, Jakarta. Kepala Dinas Pendidikan provinsi/kabupaten/kota dan Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan se-Indonesia hadir. Anies memaparkan program terbarunya: Penumbuhan Budi Pekerti. Sebanyak 23 slide powerpoint dipaparkan dengan penuh semangat, diselingi beberapa lantunan musik bernapas nasionalisme pada tanggal 10 Juli 2015. Tiga hari
kemudian, Peraturan Mendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti terbit (Sari, 2018).
Permendikbud ini lahir sebagai tanggapan terhadap dorongan masyarakat agar terjadi perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, terutama terkait dekadensi moral yang merebak di kalangan murid; tawuran pelajar, seks bebas, gaya hidup permisif. Permendikbud ini dijabarkan sangat detail. Didalamnya termuat berbagai kegiatan yang dilakukan murid dan guru, baik yang bersifat wajib maupun contoh atau pilihan. Terbitnya Permendikbud tentang Penumbuhan Budi Pekerti tidak lepas dari konteks global. Literasi menjadi subjek pengukuran oleh beragam survei internasional. Indonesia sendiri, sejak tahun 2000, berpartisipasi dalam survei PISA. Sayangnya, di tiap survei 3 tahunan itu, posisi Indonesia selalu berada di posisi terbawah, jauh di bawah negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam (Antoro, 2017).
Menurut survei teranyar PISA 2015 yang diumumkan pada 6 Desember 2016, Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 72 negara yang disurvei. Survei yang dilakukan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) juga tidak mendongkrak peringkat Indonesia (OECD, 2019).
Pada Juli 2015, terbit Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satu kegiatan wajib yang tertera dalam regulasi itu adalah membaca selama 15 menit buku nonpelajaran setiap hari.
Regulasi ini dapat dimaknai sebagai perubahan visi pemerintah dari KBM untuk pemberantasan buta aksara kepada KBM untuk peningkatan
kemampuan literasi murid. Kendati demikian, pemberantasan buta aksara terus berjalan.
Permendikbud tersebut juga mendorong munculnya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Gerakan Indonesia Membaca (GIM) di Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, dan Gerakan Literasi Bangsa (GLB) di Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Semua program dan gerakan itu diwadahi dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN).
Nomenklatur ‘Gerakan Literasi Sekolah’ dirumuskan dalam rapat yang digelar pada akhir tahun 2015. Mendikbud Anies Baswedan menjadikan ‘gerakan’ sebagai ciri pembangunan pendidikan. Hal itu tertuang dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 yang menjadi dasar GLS, di mana Pasal 2 ayat (c) menyebutkan bahwa ‘Penumbuhan Budi Pekerti bertujuan untuk menjadikan pendidikan sebagai gerakan yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan keluarga.’(Sari, 2018).
Pada akhir 2015 hingga awal 2016, penyempurnaan Panduan GLS semakin gencar. Penyusunan Panduan Umum dan Petunjuk Teknis GLS tidak selalu melalui rapat-rapat bersama. Di awal Januari 2016, nomenklatur dan pengemasan dokumen panduan berubah. Awalnya dokumen bernama Panduan Umum dan Petunjuk Teknis. Keduanya dibundel menjadi satu dokumen. Kemudian, setelah melewati sejumlah pertimbangan, nomenklatur
‘Panduan Umum’ berubah menjadi ‘Desain Induk’.
Sedangkan ‘Petunjuk Teknis’ berubah menjadi ‘Panduan GLS’
persatuan pendidikan. Sosialisasi GLS ke publik tidak dimulai saat buku
panduannya selesai dibuat Maret 2016. Sosialisasi dilakukan dua bulan sebelumnya, tepatnya pada 27 Januari 2016 di Gedung Ki Hadjar Dewantara lantai 3 Kompleks Kemendikbud Senayan Jakarta. DKI Jakarta mendeklarasikan diri sebagai provinsi literasi. Salah satu rangkaian acara adalah penyerahan Panduan GLS secara simbolis dari Dirjen Dikdasmen kepada Mendikbud (Antoro, 2017).
Gerakan Literasi Nasional (GLN) resmi ditetapkan pada tanggal 25 Maret 2016, Mendikbud Anies Baswedan menggelar rapat terbatas di Gedung Ki Hadjar Dewantara, Senayan, Jakarta. Tujuan pertemuan yaitu sinkronisasi program literasi yang telah dijalankan oleh unit-unit utama di lingkungan Kemendikbud. Setelah Permendikbud tentang Penumbuhan Budi Pekerti terbit, sejumlah unit utama gencar melakukan sosialisasi dan menjalankan program literasi. Ditjen Dikdasmen dengan Gerakan Literasi Sekolah. Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Masyarakat dengan Gerakan Indonesia Membaca. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan Gerakan Literasi Bangsa. Sementara unit utama lain bergerak sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing (Kemendikbud, 2019).
Agar terjadi sinergi dan menghindari tumpang tindih program, diperlukan satu wadah yang mengkoordinasi semua gerakan itu. Maka lahirlah GLN. Anies menunjuk Harris Iskandar, Direktur Jenderal PAUD dan Dikmas, menjadi koordinatornya. Alasannya, jangkauan PAUD dan Dikmas (masyarakat) relatif tidak terstruktur ketimbang jangkauan Ditjen Dikdasmen (sekolah), sehingga perhatiannya perlu diintensifkan. Anies menetapkan pola gerakan literasi yang akan dijalankan Kemendikbud, yakni menggunakan
metode duplikasi. Sasaran dalam jumlah terbatas ditentukan, ditingkatkan kualitas infrastruktur dan kegiatannya menjadi yang terbaik, kemudian ditularkan ke sasaran atau daerah sekitarnya.
Janice L. Pilgreen (The SSR Handbook, 2000) menilai persoalan pokok yang dihadapi guru agar muridnya gemar membaca tidak terletak pada durasi waktu membaca, melainkan frekuensi kegiatan membaca. Berapapun waktu yang dihabiskan murid dalam satu kegiatan membaca bukanlah soal.
Yang terpenting, murid melakukan kegiatan membaca secara berulang-ulang dan setiap hari. Kunci utama menjadikan murid gemar membaca, kata Pilgreen, adalah meletakkan membaca sebagai kegiatan reguler murid. Tidak ada jaminan semua murid punya waktu membaca di luar sekolah. Di rumah, mereka bisa saja sibuk bermain, bekerja membantu orang tua, atau menghabiskan waktu bersama teman-temannya dengan melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan kegiatan membaca. Lebih buruk lagi ketika mereka tidak punya teladan membaca di sekitarnya. Maka sekolah, bagaimanapun kondisinya, harus memberi waktu khusus kepada murid untuk melakukan aktivitas membaca. Ada waktu resmi, yang merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran di sekolah, khusus untuk membaca.
Alokasi 15 menit untuk membaca sebagaimana tertera dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, tidak perlu juga dimaknai sebagai durasi ideal untuk membaca. Lima belas menit adalah waktu minimal untuk membaca. Dengan paradigma tersebut, sekolah bebas menambah durasi membaca murid. Guru di jam pelajaran pertama, misalnya, bisa menambah durasi membaca murid dengan
“memakan” alokasi jam mengajarnya. Kegiatan literasi yang didengungkan Kemendikbud pada pertengahan 2015 sama sekali bukan program baru.
Keberaksaraan atau kegiatan membaca sebenarnya selalu dibawa oleh setiap Mendikbud. Tapi sebagai sebuah kebijakan yang diatur dalam Permendikbud, baru kali ini dilakukan. Berikut merupakan tahapan-tahapan dan prinsip- prinsip dalam penyelenggaraan Gerakan Literasi Sekolah (Antoro, 2017).
1. Tahapan-Tahapan GLS
Pada tahap pembiasaan, guru sebagai teladan membaca benar- benar diperlukan. Tunjukkan kegiatan membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dan menghibur. Pada tahapan ini, sekolah sedianya menyediakan berbagai macam buku dan bahan bacaan yang dapat menarik minat murid. Perlihatkan ekspresi gembira dan bersemangat saat memegang dan membaca buku di hadapan murid. Dengan begitu, minat murid pada kegiatan membaca perlahan akan tumbuh. Sebagai variasi, bisa saja guru bertanya kepada murid tentang isi buku 2-3 minggu sekali.
Pada tahap pengembangan, murid didorong untuk menuliskan ringkasan cerita atau buku dan respon mereka dalam sebuah buku khusus.
Setelah kebiasaaan membaca terbentuk, sekolah dapat masuk ke pengembangan yang bertujuan untuk mengembangkan kecakapan literasi murid melalui kegiatan kegiatan literasi di sekolah. Di banyak sekolah, buku khusus itu dinamakan jurnal. Rata-rata jurnal berisi tabel dengan isian kolom berupa tanggal, judul, penulis, jumlah halaman selesai baca, dan ringkasan. Guru memeriksa jurnal dalam periode waktu tertentu.
Pada tahap pembelajaran, ketika murid sudah terbiasa dengan
rutinitas 15 menit membaca, guru mengajak murid mengulas isi buku yang mereka baca. Suasana dialog dan diskusi terbuka dibangun. Murid dipersilakan mengeksplorasi hasil bacaannya untuk didiskusikan bersama. Guru dapat menggunakan situasi pembelajaran ini ke dalam penilaian akademik. Ketika penahapan ini diterapkan di sekolah, guru lebih tahu pada tahap mana kondisi muridnya berada: pembiasaan, pengembangan, atau pembelajaran. Bisa saja dari fase pembiasaan, ia melangkah ke fase pengembangan sebentar lalu berlanjut ke fase pembelajaran. Tak perlu menunggu, misalnya, satu tahun sebuah fase berjalan (Batubara & Ariani, 2018).
2. Prinsip-Prinsip GLS
Berikut merupakan prinsip-prinsip program Gerakan Literasi Sekolah:
a. Sesuai dengan tahapan perkembangan murid.
b. Dilaksanakan menggunakan berbagai ragam teks.
c. Dilaksanakan secara terintegrasi dan holistik ke semua area kurikulum.
d. Dilakukan secara berkelanjutan.
e. Melibatkan kecakapan berkomunikasi lisan.
f. Mempertimbangkan keberagaman (Suragangga, 2017).
B. Buta Aksara
Buta aksara diartikan sebagai buta Bahasa Indonesia, buta pengetahuan dasar, buta informasi kemajuan teknologi yang merupakan hal pokok dalam mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Melek aksara adalah
kemampuan dalam menggunakan bahasa serta menggunakannya untuk mengerti bacaan, mendengarkan perkataan, mengungkapkan dalam bentuk tulisan, dan berbicara (Wulan et al., 2018).
Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2006) Buta aksara adalah seseorang yang tidak dapat membaca, menulis dalam huruf latin dan berhitung dengan angka Arab. Sedangkan, buta aksara fungsional ialah penduduk yang belum bisa memecahkan masalah keaksaraan yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian menurut Syavitry & Adi (2017) Buta aksara murni ialah penduduk yang sama sekali tidak dapat membaca, menulis dan berhitung dengan sistem aksara apapun. Lalu, melek aksara adalah melek aksara latin dan angka arab, melek Bahasa Indonesia, dan melek pengetahuan dasar (Syavitri & Adi, 2017).
UNESCO mendefinisikan melek aksara adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, mengerti, menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan mengolah isi dari rangkaian teks yang terdapat pada bahan-bahan cetak dan tulisan yang berkaitan dengan berbagai situasi (Aisyah, 2020). Buta huruf (Buta Aksara) adalah orang yang tidak memiliki kemampuan membaca, menulis dan berhitung serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Maf’ullah, 2013). Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa buta aksara merupakan ketidakmampuan seseorang dalam mengenal aksara dan angka Arab. Sedangkan melek aksara ialah seseorang yang sudah dapat mengetahui aksara Latin, angka Arab, Bahasa Indonesia maupun pengetahuan umum lainnya.
Kemampuan baca-tulis sangatlah penting karena akan melibatkan
pembelajaran berkelanjutan yang membuat orang tersebut dapat mencapai tujuannya. Tentu saja hal ini berkaitan langsung dengan bagaimana cara seseorang bisa mendapatkan pengetahuan, menggali potensinya, dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat yang lebih luas. Banyak analis kebijakan menganggap angka melek aksara adalah tolak ukur penting dalam mempertimbangkan kemampuan sumber daya manusia di suatu daerah. Hal ini didasarkan pada paradigma melatih orang yang mampu baca-tulis jauh lebih murah daripada melatih orang yang buta aksara. Argumentasi para analis kebijakan ini menganggap kemampuan baca-tulis juga berarti peningkatan peluang kerja dan akses yang lebih luas pada pendidikan yang lebih tinggi.
Pemerintah telah banyak mengupayakan pemberantasan masalah buta aksara ini, hal ini dapat kita lihat dari dibentuknya beberapa kebijakan peraturan diantaranya termuat pada:
1. Undang-undang Dasar 1945, pasal 31 ayat 2.
2. Deklarasi Dakkar 2000; menurunkan angka buta aksara orang dewasa khususnya perempuan sebesar 50% pada akhir tahun 2015.
3. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 5 ayat 1 dan pasal 11 ayat 1 dan pasal 26.
4. PP No. 7 Tahun 2005 tentang RPJMN tahun 2004-2009.
5. Inpres RI No. 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara.
6. Kep.Menko Kesra No. 22/KEP/MENKO/KESRA/IX/2006, tentang Pembentukan Tim Koordinasi Nasional Percepatan Penuntasan Wajib
Belajar Pendidikan Dasar Sembilan TAHUN DAN Pemberantasan buta Aksara (GNP-PWB/PBA).
7. Peraturan bersama antara Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Mendagri, dan Mendiknas Nomor 17/Men.PP/Dep.II/VII/2005, Nomor 28A Tahun 2005 dan Nomor 1/PB/2005 tentang Perceepatan Pemberantasan Buta aksara perempuan.
8. Peraturan Mendiknas Nomor 35 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara.
9. Renstra Depdiknas tahun 2005-2009.
10. Keputusan Mendiknas No. 009 tahun 2007 tentang Pembentukan Sekretariat Tim Koordinasi Nasional GNP-PWB/PBA (Hiryanto, 2008).
Dari berbagai peraturan tersebut menjadi bukti bahwa pemerintah sangat memperhatikan keadaan buta aksara ini namun pada realisasinya tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan sehingga banyak yang menjadi buta aksara kembali.
Buta huruf masih menjadi masalah, terutama pada negara-negara Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika (40% sampai 50%). Pada negara di Asia Timur serta Amerika Selatan memiliki tingkat buta aksara sekitar 10% hingga 15% (Aisyah, 2020). Beberapa penyebab buta aksara diantaranya yaitu putus sekolah atau tidak pernah bersekolah, beratnya kondisi geografis, factor ekonomi, sosiologis dan sosial masyarakat (Simbolon et al., 2019).
Menurut Wahyudiati (2014) beberapa factor penyebab buta aksara diantaranya:
1. Tingginya angka putus sekolah atau tidak pernah sekolah sama sekali 2. Factor kemiskinan atau ekonomi keluarga
3. Wilayah yang jauh dari layanan pendidikan 4. Munculnya penyandang buta aksara baru 5. Kembalinya seseorang menjadi buta aksara
C. Augmented Reality (AR)
Augmented Reality (AR) adalah teknologi komputer berbasis multimedia
yang potensial dan merupakan salah satu teknologi rich interface yang sedang berkembang dan dimplementaasikan pada banyak bidang. AR menggabungkan konten virtual dan lingkungan yang nyata (Saputri, 2017). Pendapat lainnya mengemukakan bahwa AR adalah sistem yang memungkinkan untuk mengkombinasikan obyek nyata dengan obyek virtual ataupun informasi yang ditumpuk diatasnya sehingga obyek virtual tersebut seolah-olah berada dalam ruang yang sama dengan dunia yang nyata (Azuma et al, 2011).
Menurut Radu et al (2010), Augmented Reality adalah teknologi yang memungkinkan pencampuran konten maya dalam konteks fisik dunia nyata.
Pengendalian lingkungan virtual ini dilakukan secara real dengan melacak benda yang dilengkapi dengan marker. Martin et al (2014) juga mengutip bahwa AR merupakan sistem yang pada dasarnya menggabungkan informasi seperti gambar dengan video dari kamera.
Berdasarkan beberapa literatur diatas dapat disimpulkan bahwa Augmented Reality merupakan teknologi yang digunakan untuk menggabungkan dunia nyata dan virtual dalam real time.
Augmented Reality mulai digunakan dalam dunia Pendidikan pada tahun
2000. Berdasarkan hasil review terhadap sejumlah penelitian terkait dengan Augmented Reality yang dilakukan oleh Bacco et al menemukan bahwa
terdapat peluang penelitian terkait pemanfaataan AR di bidang Pendidikan khususnya untuk Pendidikan dasar yang memperhatikan kebutuhan khusus dari murid (Bacca et al., 2014).
Kajian yang dilakukan oleh Hoppenstedt et al (2021) menyatakan bahwa pemanfaatan AR dalam dunia pendidikan memberikan dampak positif diantaranya pembelajaran multi-modal, peningkatan aksebilitas konten pendidikan, meningkatkan kontrol murid terhadap konten pendidikan, membuka peluang pembelajaran kolaboratif, murid lebih aktif dan dapat mengubah suatu abstrak menjadi konkrit (Hoppenstedt et al., 2021). Penelitian lainnya menunjukkan bahwa teknologi Augmented Reality dapat diterapkan sebagai media pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan penguasaan kosa kata dan hasil belajar murid dengan memperhatikan aspek desain intstruksional yang baik (Saputri, 2017).
D. Bacang
Reaktualisasi literasi pada pembelajaran kelas rendah dan upaya pemberantasan buta aksara di Sekolah Dasar merupakan salah satu langkah turut andil mewujudkan Society 5.0 bidang pendidikan khususnya bagi anak- anak sekolah dasar. Jenjang sekolah dasar merupakan masa pembentukan karakter didukung dengan kurikulum 2013 yang berfokus dalam mengatasi krisis karakter bagi anak-anak. Menurut Aditama (2019) pemaparan materi yang
dilakukan secara konvensional mengakibatkan rendahnya tingkat literasi bagi anak-anak di sekolah dasar (Aditama et al., 2019).
Memasuki society 5.0 membuat kehidupan tidak terlepas dari teknologi. Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan juga diperlukan dalam pengefesiensian pembelajaran. Sistem pendidikan yang sudah merambah ke dunia digital menghasilkan model pembelajaran blended learning. Model pembelajaran blended learning ini merupakan penggabungan antara sistem konvensional dengan sistem digital. Rendahnya tingkat literasi membutuhkan reaktualisasi dengan mengimplementasikan materi literasi dalam bentuk media pembelajaran digital yang dapat diajarkan dengan model blended learning. Selain itu dibutuhkan pula penyajian materi yang menyenangkan dan
tidak membosankan. Maka dari itu, penulis berinisiatif untuk membuat media pembelajaran Bacang untuk SD kelas rendah berbasis Augmented Reality.
Bacang merupakan media pembelajaran berbasis Augmented Reality
yang dirancang untuk turut mendukung program Gerakan Literasi Sekolah dari Kemendikbud serta untuk meminimalisir angka buta aksara. Bacang berisi mengenai literasi yang dikorelasikan dengan materi Kuirikulum 2013 yang berlaku bagi pendidikan Indonesia saat ini. Bacang juga dilengkapi dengan Board-Bacang-Game yang dapat dimainkan murid sekaligus sebagai media
evaluasi guru kepada murid.
Berikut adalah analisis fungsional, cara kerja hingga rencana implementasi dari media belajar Bacang:
a. Analisis Fungsional
Analisis fungsional penyusunan buku Bacang berbasis AR pada
materi literasi kelas rendah adalah sebagai berikut:
1) Bacang berbasis AR ini disusun dan dikembangkan sesuai dengan materi literasi kurikulum 2013 pada kelas rendah sekolah dasar.
2) Bacang merupakan media pembelajaran digital yang disesuaikan dengan keadaan New Normal pandemi ini dan turut mendukung Society 5.0 dari sektor pendidikan.
3) Pada pembelajaran literasi, Bacang dilengkapi materi berupa pengenalan alphabet, pengejaan kosa kata dan calistung untuk numerasinya yang disesuaikan dengan modul literasi dan numerasi kelas rendah, serta dilengkapi dengan video interaktif yang disajikan dalam bentuk Augmented Reality.
4) Pada setiap akhir materi, terdapat board-Bacang-game yang dapat dimainkan berkemlompok 2 hingga 5 orang untuk mengasah dan mengevaluasi kembali ingatan murid mengenai materi tersebut.
5) Board-Bacang-game ini berisi kuis dan tantangan yang juga dilengkapi AR. Panduan permainan dapat dilihat di halaman terakhir buku Bacang.
6) Bacang dapat digunakan sebagai media pembelajaran di sekolah dalam mendukung program Gerakan Literasi Sekolah maupun buku pegangan untuk mendukung program merdeka belajar pada sekolah dasar.
7) Bacang didesain semenarik dan seefesien mungkin yang membuat murid tertarik dan senang belajar materi yang berkaitan dengan literasi.
b. Cara Kerja
Cara kerja penyusunan media belajar Bacang berbasis AR pada materi literasi kelas rendah sekolah dasar adalah sebagai berikut:
1) Guru menyiapkan dan memperbanyak media belajar Bacang
2) Guru dapat membuat kelompok kerja ataupun memberikan media belajar Bacang ke setiap murid
3) Guru memulai proses belajar seperti yang ada pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun sesuai dengan Kurikulum 2013.
Media pembelajaran Bacang berisi materi literasi kelas rendah, sehingga Bacang dapat diajarkan sesuai dengan kelas yang diajar.
E. Kajian Hasil Penelitian yang Relevan
Berikut merupakan beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan:
a. Penelitian yang dilakukan oleh Supriyanto & Haryanto (2017) dengan judul
“Implementasi Gerakan Literasi Sekolah dalam Menumbuhkan Minat Membaca Murid di SMP Negeri 2 Pleret Kabupaten Bantul”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi program Gerakan Literasi Sekolah di SMPN 2 Pleret dapat menumbuhkan minat baca anggota sekolah.
Produk program Gerakan Literasi Sekolah di SMPN 2 Pleret adalah kegiatan membaca 20 menit setiap pagi, menerbitkan koran sekolah
“Macaa”, majalah dinding “Macaa”, buletin sekolah “Akrilik”, puisi Puisi, dan Koleksi Cerita Pendek (Supriyanto & Haryanto, 2017).
Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Supriyanto & Haryanto dengan penelitian ini adalah produk program Gerakan Literasi Sekolah yang pada penelitian ini menggunakan media Bacang berbasis Augmented Reality. Perbedaan lainnya terletak pada subjek penelitian. Penelitian yang
dilakukan oleh Supriyanto & Haryanto menjadikan murid pada jenjang SMP
sebagai subjek penelitian, sedangkan padapenelitian ini menjadikan murid kelas rendah sebagai subjek penelitian.
b. Penelitian yang dilakukan oleh Suyono et al., (2017) dengan judul
“Implementasi Gerakan Literasi Sekolah pada Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di sekolah dasar.
Penelitiannya menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pola implementasi gerakan literasi sekolah. Pola tersebut meliputi (1) pola kegiatan literasi pada buku tematik dan (2) pola kegiatan literasi di sekolah. Pola kegiatan literasi pada buku tematik yang ditemukan berjumlah dua belas pola meliputi kegiatan prabaca, membaca, dan pascabaca. Pola kegiatan literasi di sekolah ditemukan tiga belas pola kegiatan meliputi tiga aspek, yaitu pola strategi dan pelaksanaan kegiatan literasi, sumber buku dan lingkungan literasi, serta kerja sama kegiatan literasi (Suyono et al., 2017).
Relevansi penelitian yang dilakukan oleh Suyono dengan penelitian ini adalah pola kegiatan literasi yang digunakan dalam pelaksanaan program Gerakan Literasi Sekolah salah satunya juga berorientasi pada pola literasi pembelajaran tematik tersebut.
c. Penelitian yang dilakukan oleh Saputri (2017) dengan judul “Penggunaan Augmented Reality untuk meningkatkan penguasaan Kosa Kata dan Hasil Belajar”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pembelajaran berbasis Augmented Reality dirancang dengan memperhatikan tujuan pembelajaran,
perkembangan kognitif dan karakteristik murid sehingga tercipta pembelajaran yang interaktif dan menarik yang dapat membantu murid menguasai kosakata dalam Bahasa Inggris. Pembelajaran berbasis Augmented Reality (Augmented Reality based Learning) adalah rangkaian
kegiatan terstruktur dimana terjadi interaksi antara murid, guru dan bahan belajar dengan memanfaatkan teknologi Augmented Reality pada suatu lingkungan belajar yang kondusif sehingga hasil belajar yang memenuhi tujuan pembelajaran dapat dicapai. Dalam penerapannya pendampingan dan petunjuk guru memiliki peran yang signifikan (Saputri, 2017).
Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Saputri dengan penelitian ini adalah Penelitian yang akan dilakukan juga akan memanfaatkan teknologi Augmented Reality sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan literasi anak kelas rendah.
d. Penelitian yang dilakukan oleh Utami & Trisnani (2021) dengan judul
“Pengembangan Dongeng Berbasis Augmented Reality sebagai Bahan Literasi dalam Masa Pandemi”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Media belajar ini layak digunakan sebagai bahan literasi pada masa pandemic ini.
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pengembangan dongeng berbasis Augmented Reality ini setelah diuji validitasinya, mendapatkan hasil bahwa produk ini layak. Selanjutnya, produk dilakukan tahap revisi dan dilakukan uji efektivitas.
Hasil rata-rata 79,7 dari hasil tersebut ditafsirkan jika mengembangkan bahan bacaan berupa dongeng berbasis Augmented Reality untuk murid sekolah dasar sehingga menjadi pendukung Gerakan Literasi
Sekolah dalam masa pandemi ini efektif untuk murid sekolah dasar.
Pengembangan buku dongeng berbasis AR ini juga memberikan implikasi agar guru SD atau mahamurid PGSD maupun umum, penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam mengembangkan sebuah buku dongeng berbasis AR yang akan menjadi media dalam meningkatkan literasi murid (Utami &
Trisnani, 2021).
Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Utami & Trisnani dengan penelitian ini adalah pemanfaatan teknologi Augmented Reality pada media pembelajaran sebagai bahan ajar literasi yang lebih interaktif terlebih pada masa pandemic saat ini. Perbedaan penelitiannya dengan penelitian ini yaitu produk program Gerakan Literasi Sekolah yang pada penelitian ini menggunakan media Bacang berbasis Augmented Reality bukan dalam bentuk dongeng.
e. Penelitian yang dilakukan oleh Atmajaya (2017) dengan judul
“Implementasi Augmented Reality untuk Pembelajaran Interaktif”.
Penelitian ini menyajikan implementasi Augmented Reality (AR), untuk pembelajaran interaktif anak usia dini. Dengan menerapkan konsep AR pada metode pembelajaran anak usia dini, dapat menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan. Karena dengan menerapkan konsep AR pada metode pembelajaran para guru atau orang tua dapat menciptakan suasana belajar yang lebih nyata kepada anak dengan ditampilkannya objek 3D, serta improvisasi suara dan gambar yang mendukung suasana pembelajaran.
Hasil penelitian ini adalah prototipe sistem/aplikasi AR untuk metode
pembelajaran interaktif bagi anak, yang dapat digunakan untuk pembelajaran pengenalan hewan dan buah-buahan baik di lingkungan lembaga pendidikan atau untuk pendidikan secara mandiri bagi orang tua.
Dalam mengimplementasikan Aplikasi AR digunakan tools gimp, unity3D, blender dan vuforia (Atmajaya, 2017).
Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Atmajaya (2017) dengan penelitian ini adalah penelitian yang akan dilakukan juga akan memanfaatkan teknologi Augmented Reality sebagai media pembelajaran interaktif untuk meningkatkan kemampuan literasi anak. Perbedaannya adalah subjek penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu murid kelas rendah bukan pada anak usia dini sehingga muatan materi pada media juga berbeda.
F. Kerangka Pikir
Angka buta aksara di Indonesia masih sangat tinggi, sehingga jumlah melek aksara masih sangat rendah. Kemampuan literasi pada murid kelas rendah SDN Samata dinilai masih sangat rendah. Rendahnya literasi tentu disebabkan karena beberapa faktor diantaranya sarana yang kurang memadai, kualitas guru dalam memahami literasi hingga kurangnya implementasi program Gerakan Literasi Sekolah. Dalam upaya penerapan gerakan literasi sekolah dibutuhkan beberapa aspek yang mendukung baik itu dari dukunngan pihak sekolah maupun produk dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah ini. Salah satu produk yang dimanfaatkan dalam penelitian ini yaitu media pembelajaran Bacang yang berbasis Augmented Reality. Penggunaan teknologi
pada pembelajran ini dimaksudkan sebagai sistem blended learning yang menggabungkan sistem konvensional dan teknologi. Pemilihan teknologi Augmented Reality selain karena mengikuti pesatnya perkembangan zaman
Society 5.0, juga dikarenakan pada beberapa penelitian yang dilakukan telah menunjukkan bahwa teknologi ini lebih menarik, interaktif dan dapat digunakan untuk meningkatkan literasi khususnya untuk kelas rendah.
Berdasarkan uraian di atas diperoleh kerangka pikir yang tertera pada gambar 2.2 di bawah ini:
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Kemampuan Literasi Murid Kelas Rendah
Implementasi Gerakan Literasi Sekolah
Pemanfaatan media Bacang berbasis Augmented Reality
Respon guru dan murid terhadap implementasi GLS
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian campuran (mixed methods) (J. W. Creswell, 2017) (W. J. Creswell, 2013). Mixed methods yaitu
memadukan metode kuantitatif dan metode kualitatif dalam suatu studi atau program penelitian, dan dalam suatu tinjauan kritis terhadap realita (Agustang, 2020). Pada hakikatnya baik metode kualitatif maupun metode kuantitatif tidak cukup mampu menangkap suatu realitas secara komprehensif (J. W. Creswell, 2001). Metode penelitian campuran digunakan untuk memperoleh analisis komprehensif atas masalah penelitian (J. W. Creswell, 2017) (W. J. Creswell, 2013) melalui beberapa fase proses penelitian. Penelitian metode campuran merupakan pendekatan penelitian yang mengkombinasikan atau mengasosiasikan bentuk kualitatif dan bentuk kuantitatif (Sugiyono, 2011).
Mixed Method adalah metode yang memadukan pendekatan kualitatif
dan kuantitatif dalam hal metodologi dan kajian model campuran memadukan dua pendekatan dalam semua tahapan proses penelitian. Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis yang bertujuan membuat deskripsi gambaran mengenai fakta-fakta, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki. Tujuan strategi ini adalah untuk mengidentifikasikan komponen konsep (sub konsep) melalui analisis data kuantitatif dan kemudian mengumpulkan data kualitatif guna memperluas informasi yang tersedia (J. W.
Creswell, 2017) (W. J. Creswell, 2013).
Terdapat beberapa alasan mengapa peneliti menggunakan metode kombinasi ini. Alasan tersebut antara lain (Sugiyono, 2011) adalah (1) Triangulation menggunakan lebih dari satu metode untuk digunakan sebagai cek
silang seperti angket, wawancara, observasi, dokumentasi. (2) Offset. Sarana penyeimbang, data kuantitatif (kuesioner) yang diperoleh digunakan sebagai penyeimbang data kualitatif (wawancara mendalam). (3) Completeness. Sarana melengkapi antar metode sehingga temuan lebih bersifat komprehensif, (4) Confirm and discover. Sarana mengkonfirmasi lebih lanjut informasi yang
diperoleh peneliti sehingga menghasilkan temuan-temuan yang lebih valid.
Jenis-jenis penelitian mixed methods namun model penelitian kombinasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah adalah mixed methods concurrent embedded. Dalam penelitian ini tahap pertama menggunakan metode penelitian
kualitatif dan tahap kedua menggunakan metode penelitian kuantitatif secara simultan atau bersama-sama namun dengan bobot yang berbeda.
B. Lokus dan Waktu Penelitian
Lokus penelitian yaitu di SDN Samata yang terletak di Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian dilakukan mulai bulan April hingga bulan Juli 2022 mulai dari taksonomi research, penyusunan proposal, pengumpulan data, analisis data sampai penyusunan hasil penelitian.
C. Instrumen Penelitian
1. Instrumen Kualitatif. Instrumen utama adalah peneliti sendiri sebagai pengamat dan peneliti. Maka dimulai dari perencanaan, pengumpulan dan
analisis data serta penulisan laporan penelitian ini seluruhnya dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan alat bantu daftar cek lembar observasi, pedoman wawancara, dokumentasi, kamera foto atau video dan alat perekam.
2. Instrumen Kuantitatif. Instrumen kuantitatif menggunakan angket, yang sudah divalidasi. Penentuan reliabilitas instrumen angket menggunakan rumus:
R = 𝐴
𝐷+ 𝐴 x 100 %
Keterangan : R = Reliabilitas instrumen (persentase of Agrement) A = Frekuensi kecocokan validator (Agree)
D = Frekuensi ketidakcocokan validator (Disagree)
Instrumen perangkat angket dikatakan reliabel jika nilai reliabilitas ≥ 75
%. (J. W. Creswell, 2017) (W. J. Creswell, 2013).
Tabel 3.1 Kriteria pengkategorian angket
Interval Skor Kategori Penilaian
4 ≤ P 5 Sangat Layak/Valid
3 ≤ P 4 Layak/Valid
2 ≤ P 3 Sedang
1 ≤ P 2 Kurang
Untuk skor dari setiap jawaban dari setiap pertanyaan ditentukan sesuai dengan tingkat pilihan dari peneliti (Sugiyono, 2011). Seperti penggunaan skala Likert, skor 5 bila pada jawaban angket memilih alternatif a (sangat setuju), skor 4 bila pada jawaban angket memilih alternatif b (setuju), skor 3 bila pada jawaban angket memilih alternatif c (netral), skor 2 bila pada jawaban angket memilih alternatif d (tidak setuju) dan skor 1 bila pada jawaban angket memilih alternatif e (sangat tidak setuju).
D. Tahapan Penelitian
Mixed methods concurrent embedded merupakan metode penelitian yang
mengkombinasikan penggunaan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif secara simultan atau bersama-sama tetapi bobot metodenya berbeda (Sugiyono, 2011). Tahapan-tahapan penelitian mixed methods concurrent embedded design adalah sebagai berikut:
Gambar 3.1 Tahapan mixed methods concurrent embedded. Diadopsi dari (Sugiyono, 2011).
E. Definisi Konseptual dan Operasional
1. Definisi Konseptual yang dipakai dalam penelitian adalah (1) Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah program pemerintah yang bertujuan menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis murid di
Pengumpulan data KUALITATIF
Analisis data KUALITATIF dan
kuantitatif
Pengelolahan data KUALITATIF dan
kuantitatif Penyajian data
KUALITATIF dan kuantitatif
Pengumpulan data KUANTITATIF
Kesimpulan dan saran Pelapora
n data Latar belakang dan rumusan
masalah penelitian
Kajian teori
Observasi Wawancara Dokumentasi
Angket
Interpretasi data KUALITATIF dan
kuantitatif
sekolah. (2) Buta aksara adalah ketidakmampuan mengerti bacaan, pengetahuan dasar dan informasi kemajuan teknologi.
2. Definisi Operasional yang dipakai dalam penelitian mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati. Definisi operasional adalah pernyataan yang sangat jelas sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman penafsiran karena dapat diobservasi dan dibuktikan perilakunya (Sugiyono, 2011). Definisi operasional yang digunakan pada penelitian ini terkait dengan variabel implementasi gerakan literasi sekolah melalui Bacang dan angka buta aksara di SDN Samata.
F. Informan dan Responden Penelitian
Dalam metode penelitian kata populasi amat populer dipakai untuk menyebutkan serumpun/ sekelompok objek yang menjadi sasaran penelitian, sedangkan populasi adalah yang menjadi sasaran keberlakuan kesimpulan penelitian (Sugiyono, 2011).
1. Kualitatif. Dalam memperoleh informan penelitian, peneliti menggunakan purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel
sumber data dengan pertimbangan tertentu untuk memudahkan peneliti menjelajahi objek/situasi sosial yang diteliti (Sugiyono, 2011).
Adapun kriteria informan penelitian a. Guru
1) Merupakan guru di SDN Samata
2) Guru wali kelas rendah yaitu kelas I, II , dan III
b. Murid
1) Murid SDN Samata
2) Berasal dari kelas rendah yaitu kelas I, II dan III
3) Memiliki tingkat literasi yang rendah berdasarkan informasi dari guru wali kelas
Tabel 3.2 Informan penelitian
Kategori Jumlah (Orang)
Kepala Sekolah 1
Guru Wali Kelas Rendah 2
Murid kelas I 2
Murid kelas II 2
Murid kelas III 2
Total 9
Sumber Data: Data Primer yang Diolah Peneliti 2022.
2. Kuantitatif
Tabel 3.3 Jumlah populasi berdasarkan kolektibilitas
Kategori Jumlah (Orang)
Guru Wali Kelas Rendah 3
Murid kelas I 28
Murid kelas II 26
Murid kelas III 27
Total 84
Sumber Data: Data Primer yang Diolah Peneliti 2022
Teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling dengan teknik simple random sampling (Sugiyono, 2011).
Rumus sampel sebagai berikut:
n =
N N d 2 + 1
n : Jumlah sampel N : Jumlah Populasi
d : Nilai presisi (ketelitian) sebesar 95 %
Berdasarkan rumus tersebut, besarnya sampel penelitian yaitu:
n =
N N d 2 + 1
n =
84 84 (0,05)2 + 1
n = 84
84 (0,0025)+ 1
n = 84 1,21
n = 69,42 dibulatkan menjadi 69 Tabel. 3.4 Jumlah sampel penelitian kuantitatif
Kolektivitas Sampel %
Guru Wali Kelas Rendah 2 0,06
Murid kelas I 24 35,82
Murid kelas II 21 32,91
Murid kelas III 22 30,75
Total 69 100
Sumber Data: Data Primer yang Diolah Peneliti 2022
G. Sumber dan Jenis Data Penelitian
Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lainnya (Sugiyono, 2011). Data primer didapatkan secara langsung seperti data hasil wawancara, angket maupun observasi, sedangkan data sekunder adalah data
yang didapatkan dari dokumen-dokumen terkait penelitian.
H. Teknik Pengumpulan Data Penelitian
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian untuk memenuhi standart data yang ditetapkan (Sugiyono, 2011).
1. Angket (Kuesioner). Dalam penelitian, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data melalui penyebaran angket kepada semua responden penelitian. Data yang diperoleh dari metode angket adalah data terkait pengetahuan mengenai gerakan literasi sekolah, kemampuan literasi murid, kemampuan penggunaan media digital.
2. Observasi. Pada penelitian yang akan dilakukan peneliti menggunakan observasi partisipasi penuh (complete participation) disesuaikan dengan data yang ingin diperoleh, peneliti mengamati secara penuh terkait kemampuan literasi murid, produk program gerakan literasi sekolah yang diselenggarakan oleh sekolah, ketersediaan sarana literasi, proses penyelenggaraan gerakan literasi sekolah oleh guru.
3. Wawancara/Interview mendalam. Jenis interview yang digunakan dalam penelitian ini adalah interview bebas terpimpin, karena peneliti membuat kisi-kisi pedoman wawancara yang menjadi acuan peneliti untuk melakukan wawancara secara mendalam dengan informan namun sesuai dengan kisi- kisi yang telah dibuat oleh peneliti sebelumnya. Data yang diperoleh dari metode wawancara adalah data terkait penyelenggaraan program gerakan literasi sekolah di sekolah, respon guru dan murid mengenai pelaksanaan gerakan literasi sekolah melalui media Bacang berbasis Augmented Reality.
4. Dokumentasi. Data yang diperoleh melalui dokumentasi adalah data terkait produk gerakan literasi yang ada di sekolah, sarana literasi, dapodik kelas rendah.
I. Teknik Analisis Data Penelitian
1. Analisis data Kualitatif. Analisis data dalam penelitian kualitatif pada dasarnya dikembangkan dengan maksud hendak memberikan makna (making sense) terhadap data, menafsirkan (interpretating), atau mentransformasikan
(transforming) data ke dalam bentuk-bentuk narasi yang kemudian mengarah pada temuan yang bernuansakan proposisi-proposisi ilmiah yang akhirnya sampai pada kesimpulan-kesimpulan final. Menurut Miles dan Huberman analisis data kualitatif yaitu reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan (Sugiyono, 2011).
2. Analisis data Kuantitatif yaitu pengelolaan data merupakan kegiatan menganalisis data setelah sumber terkumpul yang terdiri dari verifikasi kuesioner, tabulasi data kuesioner dan persentase data kuesioner (Sugiyono, 2011). Rumus menghitung persentase, yaitu:
% = N
X 100 N
Dimana:
% : Persentase
n : Nilai yang diperoleh N : Jumlah seluruh nilai 100 : Bilangan tetap
Kriteria penafsiran data untuk kepentingan penelitian ini merujuk pada pendapat (Sugiyono, 2011) yaitu:
Tabel 3.5 Kriteria Penafsiran Data
Persentase Kriteria
76 % - 100 % Sangat setuju
51 % - 75 % Setuju
26 % - 50 % Tidak setuju
0 % - 25 % Sangat tidak setuju
J. Teknik Validitas dan Reliabilitas Penelitian
Validitas internal berkaitan dengan derajat akurasi desain penelitian dengan hasil yang dicapai. Sedangkan validitas eksternal berkaitan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau diterapkan pada populasi dan sampel tersebut diambil (Sugiyono, 2011).
1. Data kualitatif. Keabsahan/validitas data dalam penelitian ini peneliti lebih berfokus pada uji kredibilitas. Pengujian uji kredibilitas pada penelitian kualitatif dapat dilakukan melalui perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pengecekan sejawat kecukupan referensi, kajian kasus negatif, pengecekan anggota, dan uraian rinci. Keabsahan data dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode dengan mempertimbangkan waktu, tenaga, biaya dan akses.
2. Data Kuantitatif. Data yang diperoleh secara kuantitatif, dalam melakukan uji validitas. Uji Validitas untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuesioner untuk mengukur apa yang hendak diukur dengan tepat.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Berikut merupakan hasil penelitian mengenai implementasi gerakan literasi sekolah di SDN Samata yang peneliti lakukan mulai tanggal 5 Juli 2022 hingga tanggal 25 Juli 2022. Data yang diperoleh berupa data dokumentasi, hasil observasi, hasil wawancara dan lembar angket.
1. Profil Sekolah
Data gambaran umum ini peneliti peroleh dari data dokumentasi yang ada di SDN Samata yang meliputi profil sekolah berikut:
a. Nama Sekolah : SD Negeri Samata
b. Alamat : Jl. Abd. Kadir Dg.Suro no.150 c. Desa / Kelurahan : Samata
d. Kecamatan : Somba Opu
e. Kabupaten : Gowa
f. Propinsi : Sulawesi Selatan
g. Kode Pos : 92113
h. Jenjang Akreditasi : B i. Tahun didirikan : 1973 j. Visi Misi
Visi:
Terwujudnya peserta didik yang cerdas, terampil dan berkarakter yang dilandasi dengan iman dan taqwa serta cinta terhadap lingkungan sekolah.