K EADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA1
A. Widyarsono
Pada akhir naskah pidato politik di Taman Ismail Marzuki pada tgl. 31 Mei 2011, Yudi Latif mengatakan, “Yang diperlukan adalah mengikuti cara Bung Karno, menggali kembali mutiara terpendam itu. Marilah kembali ke rumah Pancasila.”2 Rumah Pancasila menyediakan bagi bangsa Indonesia mutiara terpendam, karena di dalamnya terkandung dasar-dasar filsafat politik modern untuk mengelola hidup bersama sebagai bangsa dan negara. Dalam sila kelima, kita akan melihat bahwa tujuan negara untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah salah satu butir mutiara terpendam yang telah dirumuskan oleh para Bapa Bangsa kita. Sila ini juga sesuai dengan bentuk negara sosial atau negara kesejahteraan (welfare-state) yang merupakan titik tengah dari bentuk negara liberal dan sosialis. Jika dikaitkan dengan sila keempat mengenai demokrasi politik, maka para pendiri Bangsa kita dalam sila kelima menekankan juga perlunya demokrasi ekonomi dalam penyelenggaraan negara.
Posisi yang mengkaitkan demokrasi politik dan ekonomi secara erat biasanya dalam bahasa filsafat politik modern disebut sebagai posisi demokrasi-sosial (social- democracy) yang merupakan kompromi dari perdebatan panjang liberalisme dan sosialisme.
Dalam makalah ini akan diuraikan mengapa sila kelima ini merupakan salah satu bukti bahwa Pancasila adalah mutiara terpendam itu. Hal ini akan ditunjukkan dengan menguraikan historisitas, rasionalitas dan aktualitas sila kelima tersebut seperti yang telah dilakukan Yudi Latif dalam bukunya Negara Paripurna. Dalam bagian historisitas akan dijabarkan secara singkat bagaimana dari sejarah pembentukan bangsa ini cita- cita menegakkan demokrasi politik selalu dikaitkan dengan memajukan demokrasi ekonomi. Hal ini ditinjau dari kemunculan konsep demokrasi-sosial dalam sejarah pergerakan nasional dan bagaimana cita-cita ini dikristalkan dalam sila kelima Pancasila. Dalam bagian rasionalitas akan ditunjukkan bahwa konsep keadilan sosial dalam tradisi demokrasi-sosial ini merupakan jalan tengah dari perdebatan panjang
1 Makalah untuk Kuliah “Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan“ di STF Driyarkara Semester Gasal 2012-2013 pada tgl. 16 Nopember 2012.
2 Yudi Latif, “Pancasila Rumah Kita”, Naskah Pidato Politik di Taman Ismail Marzuki pada tgl. 31 Mei 2011.
2
dalam filsafat politik antara liberalisme dan sosialisme yang mengkristal dalam karya John Rawls, Theory of Justice, misalnya. Akhirnya, dalam bagian aktualitas akan diuraikan mengapa sampai saat ini cita-cita yang dirumuskan dengan sangat tajam oleh para Bapa Bangsa kita ternyata “masih jauh panggang dari api”. Apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat dan negara untuk mulai mewujudkan cita-cita keadilan sosial tersebut?
Historisitas Sila Kelima
Yudi Latif dalam pembahasannya mengenai sila kelima mengatakan tentang adanya hubungan yang erat antara sila ini dengan sila keempat.3 Hal ini nampak misalnya dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 yang merupakan rumusan asli Panitia Sembilan.4 Kedua sila ini dihubungkan dengan kata sambung “serta”,
“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah-kebijaksanaan dalam permusyawaratan- perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial rakyat Indonesia.” Dengan menunjukkan kaitan erat kedua sila ini, Yudi Latif mau menegaskan bahwa cita-cita
“demokrasi Indonesia tidak hanya memperjuangkan emansipasi dan partisipasi di bidang politik, namun juga emansipasi dan partisipasi di bidang ekonomi.”5 Dalam bahasa Soekarno keterkaitan dua sila ini disebut sebagai prinsip “sosio-demokrasi”.
Hatta juga menegaskan bahwa demokrasi politik dan demokrasi ekonomi tidak bisa dipisahkan dan saling terkait. Tan Malaka juga menyebutkan keterkaitan antara revolusi nasional (politik) dan revolusi sosial.
Yudi Latif melacak kemunculan konsep demokrasi-sosial (“sosio-demokrasi”) dalam sejarah pergerakan nasional dan bagaimana cita-cita ini dikristalkan dalam sila kelima Pancasila. Bagian pertama diuraikan Yudi Latif dalam sub-judul “Negosiasi
3 Yudi Latif, Negara Paripurna, hlm. 491.
4 Pantia Sembilan adalah Panitia yang merancang Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia 1945.
Bahan-bahan yang digunakan oleh Panitia tersebut adalah pemikiran-pemikiran yang berkembang di masa persidangan pertama BPUPK (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) pada tgl. 29 Mei s.d. 1 Juni 1945. Persidangan pertama ini terutama membicarakan mengenai dasar falsafah negara Indonesia. Salah satu yang terkenal adalah pidato Soekarno pada tgl. 1 Juni yang kemudian menjadi Hari Kelahiran Pancasila (lih. Yudi Latif, Negara Paripurna, hlm. 9-39). Panitia Sembilan dibentuk oleh Soekarno dengan mengambil 5 wakil golongan kebangsaan dan 4 wakil golongan Islam (Ibid., hlm. 23).
5 Yudi Latif, Negara Paripurna, hlm. 491.
3
Konsepsi Keadilan menuju Sosialisme ala Indonesia”.6 Sedangkan bagian kedua diberi sub-judul “Keadilan Sosial dalam Perumusan Pancasila dan Konstitusi”.7 Berikut ini akan diuraikan secara singkat argumen-argumen utama dalam kedua bagian tersebut.
Dalam bagian pertama Yudi Latif melacak berbagai varian gerakan sosialisme di Indonesia pada abad ke-20. Dia mencatat bahwa kesadaran keadilan ekonomis dalam pergerakan nasional Indonesia muncul di lingkungan pedagang “pribumi” dan kalangan cendikiawan independen yang melahirkan “Kaum Mardhika” (Vrije Burgers).8 Gerakan ini ditandai dengan muncul perkumpulan yang memperjuangan perbaikan dan keadilan ekonomi seperti Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1905 yang dilanjutkan oleh Sarekat Islam (SI) pada tahun 1912. Perkumpulan yang terakhir ini menempuh cara perbaikan kehidupan ekonomi dengan mendirikan kooperasi dan advokasi untuk pemberdayaan ekonomi rakyat. Kesadaran akan keadilan ekonomi ini makin berkembang dengan masuknya ideologi Marxisme-Komunisme pada tahun 1912 melalui Sneeviliet, D.M.G. Koch dan A. Baars. Kritik ideologi Marxisme ini memunculkan kesadaran bahwa kolonialisme merupakan perpanjangan tangan kapitalisme. Hal ini merangsang elemen-elemen pergerakan nasional yang ada untuk merumuskan ideologinya masing-masing baik sebagai jawaban atas pengaruh marxisme, maupun sebagai cara perlawanan baru terhadap liberalisme. Dari sinilah muncul beberapa macam varian sosialisme berdasarkan ideologi yang berbeda-beda seperti Islamisme, nasionalisme atau sosialisme-komunisme. Namun semua kelompok pergerakan itu sama-sama memandang gagasan sosialisme sebagai sumber emansipasi bagi perwujudan keadilan dan kesejahteraan.
Dalam perspektif sosialisme Islam yang seorang tokohnya adalah Tjokroaminoto, tuntutan keadilan ekonomi melawan eksploitasi ekonomi oleh kolonialisme harus diletakkan dalam nilai-nilai ketuhanan. Dalam perspektif sosialime-komunisme dengan tokohnya Tan Malaka tampak orientasi komunisme yang bersifat nasionalis, karena memperjuangkan kemerdekaan republik Indonesia seperti nampak dalam bukunya, Naar de Republiek Indonesia (1925). Usaha untuk membumikan sosialisme dalam
6 Yudi Latif, Negara Paripurna, hlm. 510-527.
7 Yudi Latif, Negara Paripurna, hlm. 528-548.
8 Yudi Latif, Negara Paripurna, hlm. 512.
4
kenyataan sosial-historis Indonesia ini dalam tahap selanjutnya melahirkan apa yang disebut sosialisme ala Indonesia dengan Soekarno sebagai tokoh pentingnya. Soekarno menyebutnya sebagai “Marhaenisme” yang berarti bahwa asas dan cara perjuangan sosialisme ala Indonesia berlandaskan prinsip “sosio-nasionalisme” dan “sosio demokrasi”, yang menghendaki hilangnya tiap-tap kapitaisme, imperialisme, dan kolonialisme. Yang dimaksud dengan kaum Marhaen9 adalah rakyat Indonesia yang dimelaratkan oleh kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme dan terdiri dari unsur:
unsur kaum proletar (buruh), kaum tani melarat, dan kaum melarat lainnya.
Yudi Latif juga membahas varian lain sosialisme yang ditawarkan oleh dua tokoh pergerakan Nasional penting lainnya, yakni Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. Moh.
Hatta terkenal dengan ide kooperasi sebagai dasar pembangunan ekonomi rakyat.
Dalam hal ini dia lebih condong pada paham social-democracy yang dikembangkan di negara-negara Skandinavia yang memperjuangkan sosialisme melalui jalur parlemen.
Posisi yang sama juga diambil oleh Syahrir yang secara eksplisit menyerang komunisme sebagai ideologi yhang mengkhianati sosialisme, karena mengabaikan kemanusiaan.
Dalam pandangannya mengenai negara, Syahrir juga menentang bentuk negara komunis yang menjadi totalitarian dengan konsep diktator proletariat. Negara yang diidealkannya adalah negara yang mampu menjembatani dinamika masyarakat dan mengharmonisasikan kekuatan-kekuatan yang ada di dalamnya. Ini adalah konsep negara kaum sosial-demokrat.
Dari perspektif historis di atas, Yudi Latif menyimpulkan bahwa titik temu varian-varian gerakan sosialisme di atas terdapat pada kesadaran “bahwa perjuangan keadilan ekonomi dan cita-cita kesederajatan itu memerlukan pertautan antara demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.”10 Cita-cita demokrasi Indonesia meliputi demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Kesadaran para tokoh-tokoh pergerakan Nasional Indonesia ini kemudian mewarnai diskusi tentang dasar falsafah negara dalam
9 Ada cerita terkenal dari Bung Karno mengenai istilah Marhaen ini yang diungkapkan kembali oleh Yudi Latif. Ketika dia sedang berjalan-jalan di desa Cigereleng (Bandung Selatan), dia melihat seorang lelaki menggarap sebidang sawah. Ketika dia bertanya, ini tanah, cangkul, gubuk siapa, dan hasilnya untuk siapa, orang itu menjawab, “punya saya dan untuk saya.” Bung Karno berpikir, bahwa orang ini bukan proletar; tetapi miskin seperta 95% rakyat Indonesia. Ketika ditanya siapa namanya, orang itu menjawab,
“Marhaen.” Dari kejadian inilah Bung Karno menyebut kaum melarat ini sebagai kaum Marhaen. (Lih.
Yudi Latif, Negara Paripurna, hlm. 520).
10 Yudi Latif, Negara Paripurna, hlm. 527.
5
persidangan BPUPK yang dibahas Yudi Latif dalam bagian selanjutnya, “Keadilan Sosial dalam Perumusan Pancasila dan Konstitusi.”
Dari diskusi-diskusi persidangan tersebut Yudi Latif menegaskan bahwa prinsip keadilan sosial merupakan prinsip penting dalam penyelenggaraan negara yang dirumuskan oleh para pendiri Bangsa kita. Prinsip keadilan sosial ini merupakan kristalisasi kesadaran tentang perlunya demokrasi ekonomi untuk melengkapai demokrasi politik yang menjadi inti pemikiran para tokoh gerakan yang dipengaruhi oleh sosialisme. Selanjutnya, Yudi Latif berargumentasi bahwa prinsip keadilan sosial dari Pancasila ini mendapatkan perhatian penting dalam Pembukaan UUD 1945. Ini nampak dari rumusan Panitia Sembilan yang merancang Pembukaan UUD 1945 dan penjelasannya. Dalam rumusan Panitia ini terlihat bahwa masalah keadilan mendapat perhatian istimewa (muncul dalam semua alinea). Dalam bagian penjelasan bahkan ditegaskan bahwa tujuan negara adalah “mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”11
Yudi Latif melacak terus prinsip keadilan sosial dari Pembukaan ini yang ternyata menjadi suasana kebatinan dalam perumusan-perumusan pasal-pasal UUD dan dokumen lain yang terkait dengan itu dalam sidang-sidang selanjutnya BPUPK (tgl. 10- 15 Juli). Dia menengarai bahwa komitment keadilan ini menjadi nyata dalam pasal- pasal yang menyangkut pengelolaan keuangan negara dan dalam pasal-pasal yang menyangkut pengelolaan perekonomian. Dalam pasal-pasal yang menyangkut pengelolaan keungan negara (pasal 23 ay. 1-5) ditekankan pentingnya partisipasi dan daulat rakyat, misalya dengan menempatkan kedudukan Parlemen yang lebih kuat daripada kedudukan pemerintah dalam menetapkan pendapatan dan belanja.12 Dalam pasal-pasal yang menyangkut pengelolaan perekonomian (pasal 27, 31, 32, dan 33) ditekankan pemenuhan hak warga dan jaminan keadilan/kesejahteraan sosial.
Misalnya, dalam penjelasan tentang UUD 1945 pasal 33 ditegaskan bahwa
“kemakmuran masyarakatlah yang ditumakan bukan kemakmuran orang seorang.
11 Lih. Yudi Latif, Negara Paripurna, hlm. 533-534.
12 Lih. Yudi Latif, Negara Paripurna, hlm. 538.
6
Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas usaha kekeluargaan.”13
Rasionalitas Sila Kelima
Dalam bagian perspektif teoritis-komparatif, Yudi Latif melacak perkembangan pemikiran keadilan ekonomi Barat dari zaman Yunani sampai zaman kontemporer. Dia membagi pembahasannya menjadi tiga bagian, yakni: “Pemikiran (Keadilan) Ekonomi Pra-Merkantilis”, “Pemikiran (Keadilan) Ekonomi Merkantilis”, dan Pemikiran (Keadilan) Ekonomi Pasca-Merkantilis.” Dalam bagian ini saya tidak akan mengikuti analisis teoritis-komparatif Yudi Latif ini, melainkan mau berargumentasi bahwa prinsip keadilan sosial yang ditekankan oleh para Pendiri Bangsa kita ini merupakan penemuan yang dalam filsafat politik modern disebut sebagai hasil kompromi/titik- temu perdebatan yang panjang dalam liberalisme dan sosialisme mengenai tanggung jawab sosial negara. Dalam hal ini saya mengikuti argumentasi yang digunakan Magnis- Suseno dalam bukunya Etika Politik, Bab XVII, “Tanggung Jawab Sosial Negara”.14
Menurut Magnis-Suseno, tugas negara untuk memberikan kesejahteraan bagi anggota masyarakat yang lemah, atau dalam bahasa sila kelima menyediakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, saat ini merupakan suatu tugas yang seharusnya dilakukan negara. Namun sebenarnya kesadaran ini mulai berkembang sebagai reaksi atas penolakan liberalisme atas tugas ini pada abad ke-19. Maka menjadi menarik bagi kita untuk melacak mengapa penolakan liberalisme terhadap tanggung jawab sosial negara ini harus ditolak? Penolakan ini tentu merupakan kritik sosialisme atas liberalisme yang membuat tugas negara atas kesejahteraan umum dianggap sebagai sesuatu yang seharusnya dalam etika politik modern.
Alasan liberalisme untuk menolak tanggung jawab sosial negara itu adalah karena negara diadakan untuk menjamin ruang kebebasan bagi tindakan sosial, tetapi bukan untuk mencampuri tindakan itu sendiri. Maka tugas negara dibatasi pada pemeliharaan keteraturan hidup masyarakat, perlindungan hukum dan pembelaan
13 Lih. Yudi Latif, Negara Paripurna, hlm. 542-543.
14 Lih. Magnis-Suseno, F., Etika Politik, hlm. 318-346.
7
terhadap ancaman dari luar.15 Tugas negara yang mereka tolak adalah tugas untuk menyediakan pelayanan-pelayanan bagi kehidupan masayrakat di bidang sosal, ekonomi dan kebudayaan. Liberalisme menganggap bahwa pelaksanaan tugas terakhir ini merupakan bentuk intervensi negara pada tindakan masyarakat. Mereka khususnya menentang campur tangan negara dalam kehidupan ekonomi. Liberalisme yakin bahwa anggota masyarakat yang paling cakap dan berhasil akan dengan sendirinya mengusahakan kesejahteraan umum.
Mengapa penolakan liberalisme terhadap tanggung jawab sosial harus ditolak?
Menurut Magnis-Suseno ada dua alasan untuk menolak posisi liberalisme ini. Pertama, penolakan terhadap tanggung jawab sosial negara berdasarkan kebebasan itu tidak memiliki dasar yang kuat dan sewenang-wenang. Liberalisme tidak dapat memberikan alasan mengapa prinsip subsidiaritas hanya berlaku untuk bidang keamanan, namun tidak untuk bidang kesejahteraan. Keyakinan liberalisme bahwa kesejahteraan umum dijamin melalui usah egoism masing-masing individu tidak meyakinkan dan terbukti salah dalam sejarah. Ketika kaum borjuasi mencapai kemajuan-kemajuan yang mengagumkan dalam bidang ekonomi, sains dan kebudayaan, kaum buruh industri jatuh dalam kemelaratan yang memilukan. Dalam sistem ekonomi liberal murni terjadi kesenjangan sosial yang luar biasa antara kaum yang kuat dan kaum yang lemah. Kelas- kelas sosial yang lemah jatuh ke dalam ketergantungan dan kemiskinan total. Maka argumen penolakan liberalisme terhadap tanggung jawab sosial negara atas nama kebebasan merupakan kedok ideologis yang sebenarnya hanya melayani kepentingan kaum borjuasi liberal sendiri.16
Kedua, paham negara liberal di atas jelas-jelas menyangkal prinsip solidaritas yang merupakan salau satu prinsip material dasar bagi negara. Di balik kedok ideologi kebebasan, solidaritas antar semua anggota masyarakat disangkal. Penolakan atas tuntutan solidaritas ini membuka kemungkinan sistem ekonomi kapitasli untuk
15 Magnis-Suseno menyebut ada tiga kelompok tugas negara, yakni: (1) memberikan perlindungan bagi warga negaranya, termasuk ancaman dari luar; (2) mendukung atau langsung menyediakan pelayanan kehidupan masyarakan dalam bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan; (3) menjadi wasit yang tidak memihak antara pihak-pihak yang berkonflik dalam suatu sistem yudisial. (Lih. Magnis-Suseno, Etika Politik, hlm. 316-317). Dari ketiga tugas ini, liberalisme menolak tugas kedua. Salah satu gambaran negara yang terkenal dari kaum libertarian (perspektif yang kanan dalam liberalisme) adalah negara penjaga malam, dalam arti tugas negara hanyalah menjalankan tugas melindungi warganya seperti Satpam.
16 Lih. Magnis-Suseno, Etika Politik, hlm. 320.
8
memeras tenaga kerja kaum buruh habis-habisan, karena adanya larangan campur tangan negara dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Argumen liberalisme melarang negara melindungi kaum lemah justru bertentangan dengan argumen mereka bahwa tentang tugas negara memberikan perlindungan kepada masyarakat. Dengan argumen ini negara yang dicita-citakan kaum liberal adalah negara pilih kasih. Singkatnya, paham negara liberal justru bertentangan dengan prinsip keadilan.17
Namun paham negara sosial yang dihasilkan sebagai kritik atas negara liberal yang menolak tanggung jawab sosial negara itu tidak identik dengan negara sosialis.
Negara sosialis adalah gambaran negara yang dihasilkan oleh paham sosialisme yang mencita-citak terbentuknya masyarakat yang adil dan sejahtera melalui penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi. Perbedaan antara negara sosialis dengan negara sosial adalah pada cara untuk mencapai keadaan masyarakat yang adil dan sejahtera itu. Negara sosialis memutlakkan cara untuk menghapuskan hak milik pribadi, sementara negara sosial mengakomodasikan berbagai macam sarana-sarana struktural untuk mengoptimalkan kesejahteraan dan keadilan. Sarana-sarana mana yang perlu diambil tergantung dari kecocokan masing-masing alternatif bagi masyarakat yang bersangkutan. Kecocokan itu juga harus mempertimbangkan ilmu-ilmu sosial yang tersedia.18
Dengan membedakan negara sosial dengan negara sosialis di atas, Magnis- Suseno mau menekankan bahwa konsep negara sosial, merupakan titik tengah/kompromi dari perdebatan tugas negara antara ideologi liberalisme dan sosialisme. Lalu apa saja yang menjadi substansi dari konsep negara sosial ini? Magnis- Suseno dalam hal ini menekankan bahwa ciri khas negara sosial semacam ini bukanlah hanya menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat dipergunakan oleh seluruh masyarakat (mis. Membangun sistem persekolahan, mendirikan dan membiayai rumah sakit, membangun infrastruktur, dll.), namun juga mengambil tindakan-tindakan khusus untuk meningkatkan kesejahteraan golongan-golongan sosial yang kurang mampu.
17 Lih. Magnis-Suseno, Etika Politik, hlm. 322.
18 Lih. Magnis-Suseno, Etika Politik, hlm.323-325.
9
Selain istilah “negara sosial” juga dipergunakan istilah seperti “negara sejahtera”
(welfare state) atau “negara penyedia” (bahasa Jerman Versorgungstaat).19
Dari analisis Magnis-Suseno di atas terlihat bahwa konsep negara sosial merupakan konsep negara yang muncul dari perdebatan panjang sosialisme dan liberalisme. Kalau kita kembali pada bagian historisitas sila kelima, nampak bahwa para pendiri Bangsa kita adalah para cendekiawan bangsa yang juga menemukan hal yang sama yang dihasilkan oleh perdebatan panjang dua ideologi modern liberalisme dan sosialisme tersebut. Moh. Hatta misalnya menyebut konsep “negara sosial” yang dicita- citakan tersebut sebagai “negara pengurus”. Maka kita bisa bangga dengan kemampuan para pendiri bangsa kita untuk merumuskan suatu konsep negara yang saat ini sudah dianggap sebagai konsep negara yang harus diperjuangkan di dunia kita ini.
Aktualitas Sila Kelima
Mengapa cita-cita keadilan sosial yang sudah dirumuskan sebagai mutiara terpendam oleh para Pendiri Bangsa kita dalam Pancasila, Pembukaan UUD 1945 dan pasal-pasal UUD 1945 masih tidak terwujud? Menurut saya, analisis Herry Priyono mengenai tiga poros kekuatan masyarakat: komunitas, pasar dan badan publik bisa membantu kita menjawab pertanyaaan ini. Setelah dijelaskan apa maksud masing- masing poros itu, Herry Priyono berargumentasi bahwa saat ini kekuatan pasar menjadi terlalu dominan dan masuk dalam dunia kehidupan yang lain. Herry Priyono, “Semua kata-kata luhur seperti keadilan, beradab, sejahtera, perdamaian, dsb sebagai visi sebuah ‘Indonesia‘ adalah cita-cita indah yang tidak akan pernah terjadi apabila dinamika ketiga poros itu berjalan tidak berimbang.“20
Dengan kata lain liberalisme menjadi ciri dominan proses globalisasi. Dalam dominasi liberalisme yang dihasilkan adalah brutalitas ketidakadilan dalam neo- liberalisme ekonomi. Hal ini diperparah oleh fenomena yang disebut “state-capture“, yakni suatu gejala di mana kapasitas legitim badan publik menjadi tawanan para pemilik/pengelola modal bisnis. Maka solusinya adalah bagaimana menciptakan perimbangan atas ketiga poros tadi. Dalam hal ini fenomena Jokowi – Ahok memberi
19 Lih. Magnis-Suseno, Etika Politik, hlm. 325-329.
20 Herry Priyono, “Kepemimpinan Republik Kita”, hlm. 17.
10
harapan akan figur pemimpin yang berusaha mencapai perimbangan ketiga poros tersebut. Untuk memperdalam argumentasi Herry Priyono ini silakan dibaca makalahnya yang berjudul “Kepemimpinan Republik Kita“ yang saya lampirkan dalam makalah saya ini.
Jakarta, 15 Nopember 2012
Daftar Rujukan:
Herry Priyono, B. (2002) “Tiga Poros Indonesia“ dalam: Kompas, 9 Januari 2002.
_____ (2003) “Kepemimpinan Republik Kita“, Makalah yang disampaikan pada Semiloka Nasional tentang “Rekonstruksi Kepemimpinan dari Perspektif Psikososial“, Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, Semarang, 24 Mei 2003.
_____ (2011) “Mendidik Ulang Kewargaan” dalam: Kompas, 24 Mei 2011, hlm. 6.
_____ (2011) “Pada Mulanya adalah Pancasila“ dalam: Kompas, 10 Juni 2011, hlm. 49.
Latif, Yudi (2011) Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
_____ (2011) “Kembali ke Pancasila“ dalam: Kompas, 29 Maret 2011, hlm. 15.
_____ (2011) “Mengapa Pancasila Begitu Penting?” dalam: Kompas, 13 Mei 2011, hlm. 7.
_____ (2011) “Pancasila Rumah Kita“, Naskah Pidato Politik di Taman Ismail Marzuki pada tgl. 31 Mei 2011.
Magnis-Suseno, Franz (1998) Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, Jakarta: PT Gramedia.
_____ (2011) “Tambang Emas Bagi yang Ingin Mengerti Indonesia”, Prolog dalam: Latif, Yudi (2011) Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm. xxi-xxvii.
_____ (2011) “Kekerasan di Negara Pancasila“ dalam: Kompas, 1 Juni 2011, hlm. 7.